Anda di halaman 1dari 45

UNIVERSITAS IBNU KHALDUN BOGOR

2013 /1434 H
KONSEP AKAL DALAM AL-QURAN DAN AS-SUNNAH

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Dalam Al-Quran akal memiliki kedudukan yang mulia. Hal itu terbukti kata akal
dalam Al-Quran disebutkan dalam jumlah yang banyak. Kata akal dalam Al-Quran disebut
sebanyak 49 kali1[1]. Seluruhnya dalam bentuk fiil mudhari (kata kerja yang menunjukkan saat
ini dan mada yang akan datang), kecuali satu yang berbentuk fiil madhi (kata kerja yang
menunjukkan masa lampau).2[2]
Meskipun Al-Quran tidak menyebutkan akal dalam bentuknya sebagai bagian
tertentu dari diri manusia () , yang menjadi sumber lahirnya segala perbuatan
rasional, namun Al-Quran menyebutkan akal dalam maknanya sebagai aktivitas
menggunakan akal () , yaitu seruan yang mengajak menggunakan akal sebagai jalan
menuju kebenaran (), berpikir (), memerhatikan (), memahami dan mempelajari
(), mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian (), dan semacamnya. Hal ini
mengindikasikan bahwa Al-Quran menjunjung tinggi akal dan segala makna yang terkandung di
dalamnya.
Memiliki pemahaman yang benar menjadi sangatlah penting ketika wacana keagamaan
mulai menghadapi tantangan yang baru, yaitu krisis pemikiran yang melanda umat Islam. Di
antara krisis pemikiran yang sedang dihadapi umat Islam saat ini adalah permasalahan dimana
akal digunakan semena-mena oleh manusia tanpa adanya batsan dan arahan dari al-Quran dan
as-Sunnah. Bahkan di Barat dikenal denga istilah Rasionalisme istilah ini diperkenalkan oleh
Rene Descartes yang dijuluki Bapak filsafat modern dan peletak dasar aliran rasionalisme.
Rasionalisme adalah paham yang berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan adalah rasio
atau akal. Descartes menemukan metode tentang kesangsian. Menurutnya, seluruh

1[1] awal abad ke-20

2[2] http://pelitatangerang.xtgem.com/index/__xtblog_entry/47517-kh-ihsan-dahlan-
jampes-kediri?__xtblog_block_id=1 tanggal 04 Juli 2013
pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus disangsikan termasuk pengetahuan yang dianggap
paling pasti yaitu pengetahuan tentang Tuhan. Pemikiran Descartes-lah yang kemudian menjadi
landasan filsafat modern yang menempatkan ego individual dan kemerdekaan akal manusia lebih
tinggi di atas wahyu.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sebenarnya konsep akal dalam Islam?
2. Bagaimana keududukan akal dalam al-Quran dan as-Sunnah?

II. Landasan Teori


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, akal adalah daya pikir untuk
memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya. Dalam
Eksiklopaedi bahasa Arab, lisn al-'Arb, pakar bahasa Arab kenamaan, Sbawayh,
menjelaskan bahwa akal adalah sifat; 'uqila lahu shay'un berarti dijaga atau diikat (hubisa)
akalnya dan dibatasi. U'tuqila lisnuhu idh hubisa wa muni'a l-kalm (u'tuqila lidahnya, jika ia
dibatasi dan dilarang berbicara), 'aqaltu al-ba'ir, berarti saya telah mengikat keempat kaki
unta. Ibnu Bari mengartikan akal dalam syairnya sebagai sesuatu yang memberikan
kesabaran dan wejangan (maw'izah) bagi orang yang mempunyai kebutuhan (hjah).
Sehingga dikatakan: al-'qil alladh yahbisu nafsahu wa yarudduh 'an hawh (orang berakal
adalah yang mampu mengekang hawa nafsunya dan menolaknya). Maka, kata ma'ql (masuk
akal) berarti m ta'qiluhu bi qalbika, yaitu sesuatu yang kamu nalar dengan hati/kalbumu.
Selanjutnya dijelaskan bahwa akal berarti kepastian (verification, making sure, certitude)
dalam segala perkara
Menurut tinjauan Al Quran akal adalah Hujjah atau dengan kata lain merupakan
anugerah Allah SWT. Yang cukup hebat denannya manusia dibedakan dari mahluk lain. Akal
juga merupakan alat yang dapat menyampaikan kebenaran dan sekaligus sebagai pembukti dan
pembeda antara yang haq dan yang bathil, serta apa yang ditemukannya dapat dipastikan
kebenarannya, asal saja persyaratan-persyaratan fungsi kerjanya dijaga dan tidak diabaikan.
Untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan dalil-dalil dari Al Quran sebagai bukti dari
ucapan di atas :
Artinya :
dan tiadalah sebarang Kuasa bagi seseorang untuk beriman melainkan Dengan izin Allah
(melalui undang-undang dan peraturanNya); dan Allah menimpakan azab atas orang-orang
Yang tidak mahu memahami (perintah-perintahNya). (QS Yunus: 100)

Dinamakan akal, karena dua alasan: pertama, mencegah pemiliknya (manusia) untuk
terjerumus ke dalam jurang kehancuran, kedua, pembedaan yang membedakan manusia dari
semua hewan. Makna kata akal yang berarti suatu yang terikat atau ikatan, juga diperkuat
dengan hadits Abu Bakar ketika orang-orang Arab enggan membayar zakat. Beliau berkata:
seandainya mereka enggan (membayar) kepadaku seutas tali ('iqlan) yang dulunya mereka
bayarkan kepada Rasulullah SAW, sungguh akan aku perangi mereka. Kata 'iql yang berarti
ikatan, benang atau tali, juga dikuatkan dengan hadits 'Adiy ibn Htim, dimana beliau
berkata: "Ketika turun ayat (QS. al-Baqarah: 187) sehingga menjadi jelas bagimu antara
'benang putih' dan 'benang hitam', aku segera menyiapkan benang ('iql) hitam dan benang
putih, lalu aku letakkan di bawah bantal. Kemudian aku melihatnya di malam hari, maka
tidak jelas bagiku. Lalu aku pergi ke Rasulullah SAW, aku pun menceritakan hal itu
kepada beliau. Maka beliau pun bersabda: Sesungguhnya (ayat) itu (berarti) hitamnya malam
dan terangnya siang".3[3]
Redaksi aqli dalam al-Quran terulang sebanyak 49 kali, kecuali satu, semuanya datang
dalam bentuk kata kerja seperti dalam bentuk taqilun atau yaqilun. Kata kerja taqilun terulang
sebanyak 24 kali dan yaqilun sebanyak 22 kali, sedangkan kata kerja aqala, naqilu dan yaqilu
masing-masing satu kali (Qardawi, 1998: 19). Pengertian akal dapat dijumpai dalam penjelasan
ibnu Taimiyah (2001: 18). Lafadz akal adalah lafadz yang mujmal (bermakna ganda) sebab
lafadz akal mencakup tentang cara berfikir yang benar dan mencakup pula tentang cara berfikir
yang salah. Adapun cara berfikir yang benar adalah cara berpikir yang mengikuti tuntunan yang
telah ditetapkan dalam syara. Lebih lanjut, Ibnu Taimiyah dalam bukunya yang berjudul Hukum
Islam dalam Timbangan Akal dan Hikmah juga menyinggung mengenai kesesuaian nash al-

3[3] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu, PUSTAKA
IMAM SYAFII, Jakarta, 2005, hlm. X.
Quran dengan akal, jika ada pemikiran yang bertentangan dengan akal maka akal tersebutlah
yang salah karena mengikuti cara berpikir yang salah.
Allah SWT berfirman:

Artinya:
Adakah tersembunyi serta belum jelas lagi kepada mereka: berapa banyak Kami telah binasakan
dari kamu-kaum Yang terdahulu daripada mereka, sedang mereka sekarang berulang-alik
melalui tempat-tempat tinggal kaum-kaum itu? Sesungguhnya pada Yang demikian ada tanda-
tanda (untuk mengambil iktibar) bagi orang-orang Yang berakal fikiran. (QS Thahaa: 128)

Abdurrahman As-Sadi menjelaskan, ulun nuha adalah orang-orang yang punya akal
yang sehat lagi lurus dan memiliki jiwa tegar dan konsisten.4[4] Sebagaimana telah dipaparkan
oleh Yusuf Al-Qaradhawi, sebenarnya pembicaraan akal dalam Al-Quran mencakup segala hal
yang meliputi seluruh alam semesta, manusia dengan masa depan dan masa lalunya, serta ayat-
ayat Allah Taala, baik yang tersirat maupun yang terseurat. Menurut Yusuf Al-Qaradhawi, siapa
yang tidak menggunakan akalnya dalam berbagai masalah tersebut, berarti ia tidak berusahan
mencari kebenaran, justru telah meniti jalan kesesatan.5[5]
Sulaiman bin Shalih Al-Kharasyi menyatakan, melalui Al-Quran Allah telah
mewajibkan kaum muslimin untuk menggunakan akal dan pikiran. Siapa saja yang sengaja
meninggalkan akalnya, ia akan binasa dan berdosa.6[6] Allah Swt. berfirman:
Dan mereka berkata, Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan
(peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala. Maka
mereka mengakui dosanya. Tetapi jauhlah (dari rahmat Allah) bagi penghuni neraka yang
menyala-nyala itu. (Q.S. Al-Mulk: 10-11)

4[4] Syeikh Ihsan Dahlan, dalam pengantar buku terjemahan buku kitab, kopi dan rokok, (Jogjakarta:
Pustaka Pesantren, 2009) cet. 1, hal. xv

4[5] Sebutan bagi istri seorang kiai pada masyarakat santri

5[5] Yusuf Al-Qaradhawi, Al-Aqlu wal Ilmu fil Quran, (Kairo, Maktabah Wahbah, 1996), hal. 21.

6[6] http://sirohparaguru.blogspot.com/2012/12/biografi-syekh-ihsan-dahlan-al-
jampesi.html tanggal 04 Juli 2013
III. Pembahasan
A. Manusia dan Akal
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang mempunyai mempunyai banyak kelebihan
jika dibandingkan dengan mahkluk yang lainnya. Atas kelebihan-kelebihan ini, bahkan Allah
menyatakan manusia sebagai makluk yang paling sempurna di antara mahkluk yang lain,
sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
Artinya:
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. (QS At-
Tin: 4).

Kelebihan utama yang diberikan kepada manusia sehingga ia mendapat predikat makhluk
paling sempurn adalah adanya akal yang hanya diberikan Allah kepadanya. Akal inilah yang
membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lain. Dengan akal manusia mampu
memilih, mempertimbangkan, dan mengupayakan jalan hidupnya. Dengan akal manusia dapat
mengendalikan hawa nafsunya, dan dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil,
mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak boleh dimakan, mana yang bisa dinikmati dan
mana yang tidak boleh dinikmatinya.
Akal merupakan salah satu bagian dari Nafs (Jiwa), dimana bagian-bagian lain dari jiwa
adalah Ghadab (emosi) dan Syahwat (nafsu), akal merupakan penyeimbang dalam diri manusia,
akal dinilai dapat meminimalisir kesalahan yang dilakukan manusia, akal sebagai penopang atau
sebagai panduan manusia dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, karena akal diberikan oleh
Allah kepada manusia untuk berfikir sehingga akal dapat dijadikan sebagai wadah untuk
menyimpan ilmu dimana manusia menggunakan ilmu tersebut sebagai tolok ukur dalam
memandang, memahami serta melakukan aktivitas sesuai dengan syariat dan ketentuan yang
diberikan oleh sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Dengan akal pula manusia mampu
memahami petunjuk-petunjuk menuju jalan keselamatan yang ada dalam wahyu Allah, kitab suci
al-Quran.
Akal dan wahyu mempunyai peran yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia.
Wahyu diturunkan Allah kepada manusia yang berakal sebagai petunjuk untuk mengarungi lika-
liku kehidupan di dunia ini. Akal tidak serta merta mampu memahami wahyu Allah, adalah
panca indera manusia yang menyertainya untuk dapat memahami wahyu yang diturunkan Allah.
Dengan demikian, ada hubungan yang erat antara wahyu sebagai kebenaran yang mutlak karena
berasal dari tuhan dengan perjalanan hidup manusia. Seberapa besar kapasitas akal yang
diberikan akan menentukan corak pemikiran keagamaan yang ditampilkan suatu tokoh/aliran.
Bagi yang memberikan kapasitas besar, ia akan bercorak rasional. Sebaliknya, yang memberikan
kapasitas kecil, ia akan bercorak tradisional.
Perhatian dan polemik pemikiran yang berhubungan dengan akal dan wahyu tidak hanya
melanda pemikiran Islam klasik. Dalam konteks kekinian, di Indonesia sendiri dapat dijumpai
masalah tersebut misalnya pada pemikiran Harun Nasution dan Quraish Shihab. Tak dapat
diragukan dan dipungkiri bahwa akal memiliki kedudukan dalam wilayah agama, yang penting
dalam hal ini adalah menentukan dan menjelaskan batasan-batasan akal, sebab kita meyakini
bahwa hampir semua kaum muslimin berupaya dan berusaha mengambil manfaat akal dalam
pengajaran agama dan penjelasan keyakinan agama secara argumentatif. Demikian juga dengan
Harun Nasution dan Quraish Shihab, dalam hal mereka berusaha menjelaskan akal dan wahyu
menenai fungsi, hubungan dan batasan antara keduanya. Harun Nasution yang dikenal sebagai
salah seorang tokoh pembaharuan Islam di Indonesia pada tahun 70an, adalah salah seorang
intelektual muslim Indonesia yang memberikan perhatian terhadap akal dan wahyu. Sebagai
bukti otentik bahwa Harun Nasution adalah tokoh yang mendalami konsep akal dan wahyu
adalah bukunya yang berjudul Akal dan Wahyu dalam Islam.
Dalam buku ini ia kembali mempertegas hubungan akal dan wahyu yang diakui selalu
menimbulkan persoalan-persoalan seperti fungsi dan hubungan akal terhadap wahyu dalam
memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan mengaktualkan masalah akal dan wahyu dalam Islam
ini,Harun Nasution menggugat masalah dogmatis dan kejumudan dalam berpikir yang dinilainya
sebagai sebab dari kemunduran yang dialami umat Islam dalam sejarah.7[7] Menurutnya yang
diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasikan pemahaman umat Islam yang
dinilainya dogmatis tersebut, yang menyebabkan kemunduran umat Islam karena kurangnya
mengoptimalkan potensi akal yang dimiliki. Sedemikian penting penggunaan Akal karena
menurut Harun Nasution agama atau wahyu yang di bawa oleh Nabi pada hakikatnya hanya

7[7] Kebiasan Bakri kecil yang membuat risau seluruh keluarga adalah kesukaannya berjudi.
Meski judi yang dilakukan Bakri bukan sembarang judi, dalam arti Bakri berjudi hanya untuk
membuat kapok para penjudi dan Bandar judi
memberikan dasar-dasarnya saja dan tugas akal adalah menjelaskan apa yang disampaikan
wahyu yang. Penggunaan akal dalam memahami agama disebut dengan ijtihad. Berangkat dari
pandangan tersebut, menarik untuk dikaji lebih dalam lagi bagaimana sebenarnya peranan akal
dan wahyu menurut Harun Nasution dalam memutuskan persoalan-persoalan keagamaan.
Tokoh lain yang membicarakan masalah akal dan wahyu adalah Quraish Shihab. Beliau
termasuk penerus Harun Nasution sebagai rektor IAIN pada tahun 1992-1998. dalam
bukunya Logika Agama: Kedudukan Wahyu dan Batas-batas Akal dalam Islam. Judul buku ini
mengingatkan kita pada sebuah hadis lepas dari perdebatan tentang kualitasnya -- yang
memuat relasi agama dan akal, Agama adalah akal, dan tidak ada (tidak dianggap ber- agama
siapa yang tidak memiliki akal. Sebagian ajaran agama memang dapat dimengerti oleh akal,
tapi tidak sedikit yang masih menyimpan misteri kalau kita pikirkan. Terlihat jelas bahwa
Quraish Shihab mengakui penting peranan akal dalam memahami agama/wahyu, namun di sisi
lain akal juga memiliki keterbatasan. Polemik pemikiran tentang akal dan wahyu ini telah
menjadi perbincangan yang cukup menarik di antara kalangan cendekiawan muslim di Indonesia.
Harun Nasution sangat menganjurkan umat Islam untuk berfikir dan menunjukan bahwa
akal sendiri mempunyai kedudukan yang tinggi dalam al-Quran dan al-Hadits. Sedangkan
Quraish Shihab mengingatkan akan bahayanya akal jika diberi peranan melebihi porsinya. Meski
penghormatan Islam terhadap akal sedemikian besar, bukan berarti seseorang lantas semaunya
mempergunakan akal, seseorang lantas diperbudak oleh akalnya sendiri. Hingga, setiap masalah
dihadapi hanya oleh kekuatan akalnya. Terlebih dalam masalah yang berkaitan dengan agama.
Kelompok yang berprinsip bahwa naql (wahyu/nash) tidak boleh bertentangan dengan akal. Oleh
karena itu, setiap masalah syari'at bisa dicerna oleh akal. Dan jika ada suatu nash yang nampak
(menurut mereka) bertentangan dengan akal, niscaya mereka akan mena`wilkan nash tersebut,
sehingga selaras dengan akalnya. Pola pikir semacam inilah yang akhirnya menjungkir balikkan
nash-nash yang telah dipahami dan diyakini oleh para salafu alummah dulu. Dari pola
pemahaman yang demikian, lantas lahir beragam ta`wil, yang pada hakikatnya dapat menafikan
sifat-sifat Allah, nikmat dan adzab kubur, surga dan neraka, qada dan qadar Allah.
Karena kemampuan manusia dalam menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat
Allah, manusia diangkat derajatnya melebihi malaikat. Tapi pada saat yang sama, karena tak
mampu menfungsikan akal dengan benar, manusia dapat terjerembab ke derajat yang paling
hina, lebih rendah derajatnya dibanding hewan sebagaimana firnan-Nya:
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-
ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai (QS. al-Araaf: 179).

B. Kedudukan Akal

Pada masa-masa awal, saat Nabi Muhammad SAW masih hidup, pemahaman terhadap
wahyu Allah bukan merupakan hal yang rumit. Sebab saat itu segala persoalan bisa ditanyakan
langsung kepada Nabi yang nota bene mempunyai hak otortatif untuk menafsir wahyu-wahyu
Allah. Namun setelah Nabi SAW wafat, permasalahan yang dihadapi umat Islam semakin
kompleks. Oleh karena itu, masalah-masalah yang muncul namun belum ada tuntunan
penyelesaiannya baik dalam al-Quran maupun as-Sunnah untuk mengatasinya maka muncullah
jalan ketiga yakni Ijtihad.
Di sinilah peran akal, terutama dalam memahami wahyu Allah menjadi sangat urgen.
Berkenaan dengan hal ini ada sebuah hadis yang sangat terkenal. Diceritakan pada pada saat
Nabi Muhammad SAW hendak mengirim Muadz ke Yaman, Rasulullah bertanya: Dengan
apakah engkau hendak menjalankan hukum? Muadz menjawab, Dengan kitab Allah. Lalu
Nabi bertanya lagi, Bagaimana jika engkau tak mendapat keterangan dalam kitab Allah?
Muadz menjawab, Dengan sunah Rasul. Nabi bertanya lagi,Bagaimana jika dalam sunahku
juga tak kau dapati? Muadz menjawab,Saya berijtihad dengan akal saya, dan saya tak pernah
berputus asa.
Hadits ini sering dijadikan dalil berkenaan dengan peranan ijtihad dalam hukum Islam.
Akal dalam deskripsi di atas menempati posisi yang signifikan dalam berijtihad. Namun
demikian, di sana kita juga melihat isyarat bahwa posisi akal secara hierarkis jatuh setelah al-
Quran dan Sunah. Akal menempati posisi ketiga.
Berkenaan dengan akal, Nabi Muhammad SAW bersabda; Agama adalah pengunaan
akal, tiada agama bagi orang yang tak berakal. Kemudian dalam sebuah hadis qudsi juga
disebutkan: Demi kekuasaan dan keagunganku, tidaklah kuciptakan makhluk yang lebih mulia
daripada engkau, kerna engkaulah aku mengambil dan member dan kerna engkaulah aku
menurunkan pahala dan menjatuhkan hukuman.
Urgensi kehadiran akal juga dapat dilihat dalam hadis Nabi yang memerintahkan umat
Islam untuk menuntut ilmu. Nabi SAW bersabda: Mencari ilmu wajib hukumnya bagi muslimin
dan muslimat (HR. Muslim). Perintah untuk mencari ilmu dapat dipahami bahwa manusia harus
memaksimalkan potensi akalnya. Mengutip Syeikh az-Zarnuji dalam kitab Talimul Mutaalim,
ilmu inilah yang membedakan antara manusia dan makhluk lain.8[8]

IV. Implementasi
Allah memberikan kita akal agar digunakan sebagai hujjah dalam mencari kebenaran
sesuai dengan syariat Allah, adanya akal banyak hal yang dapt dilakukan agar manusia tidak
terjerumus kedalam hal-hal yang menyesatkan, diantaranya:
1. Kajian Islami oleh para pemuda di masjid
Pemuda merupakan aset berharga dalam kehidupan bermasyarakat, pemuda sebagai
ujung tombak dalam menciptakan generasi yang beriman haryus di bimbing dan diarahka ke
jalan yang baik dan benar, oleh karenanya dengan adanya kajian Islami ini dapat membuka
wawasan ke-Islaman dan menambah pemahaman mereka terhdap Islam, sehingga akal yang
dimiliki dapat terbimbing kearah yang benar.
2. Realisasi Ilmu + akal = Budaya
Ilmu yang dimiliki harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari agar ilmu yang didapatkan
tidak mubadzir dan dapat bermanfaat bagi orang lain, diantara merealisasikan ilmu, selain itu
peranan ilmu dalam menjembatani antara idealisme dan realitas akan tercapai sesuai dengan
kaidah dan syariat, sehingga ilmu tersebut tidak hanya menjadi teoritikal semata tetapi dapat
dijadikan budaya dalam berkehidupan, diantaranya adalah:
a. Keluarga
1) Muhadharah keluarga, setiap anggota belajar memaparkan apa yang mereka dapatkan, dan
tetntunya dibimbing agar apa yang didapatkan tidak keluar dari ketentuan Islam.

8[8] Sebuatan untuk putra-putra kiai di kalangan masyarakat santri


2) Mading keluarga, dll.
b. Masyarakat
1) Study tour ulama
Mengunjungi para ulama dan meminta sedikit ilmu dari para ulama
2) Study banding Islam
Mengunjungi saudara-saudara se-Muslim dan berbagi pengalaman serta keilmuan.
3) Bedah buku, novel dll di masjid.

V. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting antara lain
1. Islam sangat mengapresiasi peran akal. Baik ayat al-Quran, adis, maupun kaidah ulama ushul
fikih dan mufasir menekankan pentingnya peran akal bagai sebagai instrument untuk memahami
ajaran-ajaran Allah, maupun sebagai instrument pengembangan peradaban. Namun demikian,
Islam menempatkan akal dengan batasan-batasan tertentu. Dihadapakan pada wahyu Allah, akal
bersifat relative sedangkan wahyu Allah bersifat muthlak.
2. Menurut jumhur ulama (mufasir) ayat al-Quran terbagi setidaknya menjadi dua kelompok:
ayat qathi yang bersifat ghairu manqulatil makna dan ayat zanni yang bersifat manqulatil
makna. Pada kelompok ayat jenis pertama akal manusia hanya bersifat tunduk, sedangkan pada
kelompok ayat kedua, akal manusia diberikan keleluasaan untuk menafsir dengan ketentuan-
ketentuan syara.

Diposkan 25th October 2013 oleh Ihsan ibadurahman


0

Tambahkan komentar

mpiuika2013
Klasik
Kartu Lipat
Majalah
Mozaik
Bilah Sisi
Cuplikan
Kronologis

1.

Oct

26

SILABUS FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


( TUGAS PRESENTASI MAKALAH MPI kls B semester 1 )
Dr. E. Bahruddin, M.Pd

1. Manusia dalam perspektif Islam (Asep Suhendar) Sabtu, 19 Oktober 2013

2. Manusia sebagai mahluk pendidikan dalam perspektif Islam

3. Dasar-dasar pendidikan Islam (Masduki)

4. Tujuan pendidikan dalam Islam (Tin Mardiyah) Sabtu, 19 Oktober 2013

5. Kurikulum dalam pendidikan Islam (Alvin)

6. Pendidik dalam pendidikan Islam (Ahmad Yani)

7. Peserta didik dalam pendidikan Islam (Tetty)

8. Metode pembelajaran dalam pendidikan Islam (Kartini)

9. Media pembelajaran dalam pendidikan Islam (N. Latifah)


10. Evaluasi pembelajaran dalam pendidikan Islam

11. Sejarah masuknya Islam ke Indonesia (Mamaturidi)

12. Surau sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Padang

13. Meunasakh dan rangkang sebagai lembagal pendidikan tradisonal di Padang

14. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia (Anshori)

15. Keluarga sebagai institusi pendidikan (Entin Rostini)

16. Sejarah lahirnya madrasah di Indonesia (Rita Nurbaeti)

17. Madrasah pasca SKB tiga Menteri

18. Konsep dan aplikasi pendidikan Jamiat al Khoirot

19. Konsep dan aplikasi pendidikan Muhammadiyah (Agus Salwono)

20. Konsep Pendidikan akal dan nafs

21. Konsep Pendidikan akhlaq (Ujang Rohmid) Sabtu, 19 Oktober 2013

22. Konsep Manusia sebagai Khalifah Allah (Mardati)

23. Konsep Ulil Albab dalam al Quran dan Hadits (Encep Syahrudin)

24. Konsep dan aplikasi pendidikan NU

25. Konsep dan aplikasi pendidikan Al Irsyad

26. Konsep dan aplikasi pendidikan PERSIS

27. Konsep dan aplikasi pendidikan PUI (Ihsan Ibadurrahman)

28. Konsep dan aplikasi pendidikan Islam Terpadu (AM. Fahmi Basyir) Sabtu, 19
Oktober 2013

29. Konsep Islamisasi ilmu pengetahuan

30. Konsep ilmu, tarbiyah, tadib dan hikmah (Ali Nugraha)

31. Konsep pendidikan Moh Nasir (Hermana)

32. Konsep Pendidikan Hamka


33. Konsep pendidikan anak usia dini dalam perspektif Islam (Agus Thohir)

34. Konsep pendidikan karakter dalam perspektif Islam (Hilman Tantowi)

SILABUS TAFSIR PENDIDIKAN ISLAM


( TUGAS PRESENTASI MAKALAH MPI kls B semester 1 )
Prof.Dr.KH. Didin Hafidhuddin MS/ Dr. Akhmad Alim, Lc.MA

1. Sumber/Landasan Pendidikan Islam (Al Quran dan Sunnah)(AM. Fahmi Basyir)


2. Tujuan Pendidikan Islam (Memahami hak Allah, Rasul dan manusia)(Agus Thohir)
3. Konsep akal dalam Al Quran dan As sunnah. (Ahmad Anshori)
4. Keutamaan ilmu dan ulama. (Ahmad Yani)
5. Konsep ilmu. (Ali Nugraha)
6. Konsep insan (Khalifah dan hamba Allah). (Asep Suhendar)
7. Konsep Ulil Al baab. (Encep Syahruddin)
8. Konsep Al Kaun (Entin Rostini)
9. Konsep pendidikan keluarga muslim (Hermana)
10. Konsep Al Mujtama Al Islami (Masyarakat Islam). (Hilman)
11. Kurikukum Pendidikan Islam. (Ilham Firdaus)
12. Metode Pendidikan Islam. (Kartini)
13. Konsep tazkiyyah al Nafs. (Mamaturidi)
14. Konsep Integrasi Ilmu. (Mardati)
15. Konsep pendidikan akhlak. (N.Latifah)
16. Konsep pendidikan tauhid. (Rita Nurbaiti)
17. Konsep pendidikan para nabi (Luqman, Ibrahim dan lain-lain).(Teti Sumarsih)
18. Konsep Pendidikan Anak. (Tin Mardiyah)
19. Konsep Pendidikan Wanita. (Ujang Masduki)
20. Islamisasi Ilmu. (Ujang Rohmid).
21. Pendidikan kader ulama. (Syaiful Hadi)
22. Pendidikan Jasmani (Ruslan Nurhadi)
23. Pendidikan Anak Yatim. (Ihsan Ibadurrahman).

Diposkan 26th October 2013 oleh Ihsan ibadurahman

Tambahkan komentar

2.

Oct

26

DAFTAR NAMA MAHASISWA MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCA SARJANA


UNIVERSITAS IBNU KHALDUN BOGOR
2013 - 2014

NO NAMA NO HP EMAIL
1 AM. Fahmi 081380434342 am_fahmibasyir@yahoo.com
Basyir
2 Agus Thohir 081326007674 / thohir86@gmail.com
085815622252
3 Ahmad Anshori 085778784787 Aanshori32@gmail.com
4 Ahmad Yani
5 Ali Nugraha 081387383567 Ali_anugrah@yahoo.com
6 Asep Suhendar 08567780540 kufrek@yahoo.com
7 De Aulia 081311333346 deauliaramadhan24@yahoo.com
Ramadhan
8 Encep 085813505116
Syahruddin
9 Entin Rostini 085218851890 Entinrostini974@yahoo.com
10 Hermana 081 768 245 78
11 Hilman 085776061782 hilmantantowi@ymail.com
12 Ilham Firdaus 081381474972 alvinrinjani@gmail.com
13 Kartini 081381188665
14 Mamaturidi
15 Mardati 081514329971 mardati@ yahoo.com
16 N.Latifah
17 Rita Nurbaiti
18 Teti Sumarsih 081315717700
19 Tin Mardiyah 081282827027 tinmardiyah@gmail.com
20 Ujang Masduki 081514560566 Masduki9930@yahoo.com
21 Ujang Rohmid 085257132619 urohmid@yahoo.com
22 Syaiful Hadi 08567930929 Syaiha_itp43@yahoo.com
23 Ruslan Nurhadi
24 Ihsan 081317367909 Ihsanibadurrahman99@gmail.com
Ibadurrahman

Diposkan 26th October 2013 oleh Ihsan ibadurahman

Tambahkan komentar

3.

Oct

25

KONSEP AKAL DALAM Al-QURAN


DAN SUNNAH

KONSEP AKAL DALAM Al-QURAN DAN SUNNAH


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Tafsir Hadits Maudhui

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS

Dr. H. Akhmad Alim, Lc., MA

Disusun oleh:

Ahmad Anshori

Jurusan:

Manajemen Pendidikan Islam

Semester 1B

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM

UNIVERSITAS IBNU KHALDUN BOGOR

2013 /1434 H
KONSEP AKAL DALAM AL-QURAN DAN AS-SUNNAH

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Dalam Al-Quran akal memiliki kedudukan yang mulia. Hal itu terbukti kata
akal dalam Al-Quran disebutkan dalam jumlah yang banyak. Kata akal dalam Al-
Quran disebut sebanyak 49 kali9[1]. Seluruhnya dalam bentuk fiil mudhari (kata kerja
yang menunjukkan saat ini dan mada yang akan datang), kecuali satu yang berbentuk fiil
madhi (kata kerja yang menunjukkan masa lampau).10[2]
Meskipun Al-Quran tidak menyebutkan akal dalam bentuknya sebagai bagian
tertentu dari diri manusia () , yang menjadi sumber lahirnya segala
perbuatan rasional, namun Al-Quran menyebutkan akal dalam maknanya sebagai
aktivitas menggunakan akal () , yaitu seruan yang mengajak menggunakan
akal sebagai jalan menuju kebenaran (), berpikir (), memerhatikan (),
memahami dan mempelajari (), mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian
(), dan semacamnya. Hal ini mengindikasikan bahwa Al-Quran menjunjung tinggi
akal dan segala makna yang terkandung di dalamnya.
Memiliki pemahaman yang benar menjadi sangatlah penting ketika wacana
keagamaan mulai menghadapi tantangan yang baru, yaitu krisis pemikiran yang melanda
umat Islam. Di antara krisis pemikiran yang sedang dihadapi umat Islam saat ini adalah
permasalahan dimana akal digunakan semena-mena oleh manusia tanpa adanya batsan
dan arahan dari al-Quran dan as-Sunnah. Bahkan di Barat dikenal denga istilah
Rasionalisme istilah ini diperkenalkan oleh Rene Descartes yang dijuluki Bapak filsafat
modern dan peletak dasar aliran rasionalisme. Rasionalisme adalah paham yang
berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan adalah rasio atau akal. Descartes
menemukan metode tentang kesangsian. Menurutnya, seluruh pengetahuan yang

9[1] Yusuf Al-Qaradhawi, Al-Aqlu wal Ilmu fil Quran, (Kairo, Maktabah Wahbah, 1996), hal. 12; dan Dr. Rajah Abdul
Hamid Al-Kurdi, Nazhariyyatul Marifah bainal Quran wal Falsafah, (Arab Saudir, Maktabah Al-Muayyad, 1992), hlm. 604.

10[2] Yusuf Al-Qaradhawi, ibid., hal. 12.


dimiliki oleh manusia harus disangsikan termasuk pengetahuan yang dianggap paling
pasti yaitu pengetahuan tentang Tuhan. Pemikiran Descartes-lah yang kemudian menjadi
landasan filsafat modern yang menempatkan ego individual dan kemerdekaan akal
manusia lebih tinggi di atas wahyu.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sebenarnya konsep akal dalam Islam?
2. Bagaimana keududukan akal dalam al-Quran dan as-Sunnah?

II. Landasan Teori


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, akal adalah daya pikir untuk
memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya. Dalam
Eksiklopaedi bahasa Arab, lisn al-'Arb, pakar bahasa Arab kenamaan, Sbawayh,
menjelaskan bahwa akal adalah sifat; 'uqila lahu shay'un berarti dijaga atau diikat
(hubisa) akalnya dan dibatasi. U'tuqila lisnuhu idh hubisa wa muni'a l-kalm (u'tuqila
lidahnya, jika ia dibatasi dan dilarang berbicara), 'aqaltu al-ba'ir, berarti saya telah
mengikat keempat kaki unta. Ibnu Bari mengartikan akal dalam syairnya sebagai
sesuatu yang memberikan kesabaran dan wejangan (maw'izah) bagi orang yang
mempunyai kebutuhan (hjah). Sehingga dikatakan: al-'qil alladh yahbisu nafsahu
wa yarudduh 'an hawh (orang berakal adalah yang mampu mengekang hawa
nafsunya dan menolaknya). Maka, kata ma'ql (masuk akal) berarti m ta'qiluhu bi
qalbika, yaitu sesuatu yang kamu nalar dengan hati/kalbumu. Selanjutnya dijelaskan
bahwa akal berarti kepastian (verification, making sure, certitude) dalam segala
perkara
Menurut tinjauan Al Quran akal adalah Hujjah atau dengan kata lain merupakan
anugerah Allah SWT. Yang cukup hebat denannya manusia dibedakan dari mahluk lain.
Akal juga merupakan alat yang dapat menyampaikan kebenaran dan sekaligus sebagai
pembukti dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, serta apa yang ditemukannya
dapat dipastikan kebenarannya, asal saja persyaratan-persyaratan fungsi kerjanya dijaga
dan tidak diabaikan.
Untuk lebih jelasnya marilah kita perhatikan dalil-dalil dari Al Quran sebagai
bukti dari ucapan di atas :
Artinya :

dan tiadalah sebarang Kuasa bagi seseorang untuk beriman melainkan


Dengan izin Allah (melalui undang-undang dan peraturanNya); dan Allah
menimpakan azab atas orang-orang Yang tidak mahu memahami
(perintah-perintahNya). (QS Yunus: 100)

Dinamakan akal, karena dua alasan: pertama, mencegah pemiliknya


(manusia) untuk terjerumus ke dalam jurang kehancuran, kedua, pembedaan yang
membedakan manusia dari semua hewan. Makna kata akal yang berarti suatu
yang terikat atau ikatan, juga diperkuat dengan hadits Abu Bakar ketika
orang-orang Arab enggan membayar zakat. Beliau berkata: seandainya mereka
enggan (membayar) kepadaku seutas tali ('iqlan) yang dulunya mereka bayarkan
kepada Rasulullah SAW, sungguh akan aku perangi mereka. Kata 'iql yang
berarti ikatan, benang atau tali, juga dikuatkan dengan hadits 'Adiy ibn
Htim, dimana beliau berkata: "Ketika turun ayat (QS. al-Baqarah: 187)
sehingga menjadi jelas bagimu antara 'benang putih' dan 'benang hitam', aku
segera menyiapkan benang ('iql) hitam dan benang putih, lalu aku letakkan di
bawah bantal. Kemudian aku melihatnya di malam hari, maka tidak jelas
bagiku. Lalu aku pergi ke Rasulullah SAW, aku pun menceritakan hal itu
kepada beliau. Maka beliau pun bersabda: Sesungguhnya (ayat) itu (berarti)
hitamnya malam dan terangnya siang".11[3]

Redaksi aqli dalam al-Quran terulang sebanyak 49 kali, kecuali satu,


semuanya datang dalam bentuk kata kerja seperti dalam bentuk taqilun atau

11[3] Dikutip dari makalah Henri Shalahuddin, MA. Makalah ini disampaikan pada acara Diskusi Sabtuan di Kantor INSISTS, jl.
Kalibata Utara II/84 Jakarta pada 28 April 2007. Lihat dalam: al-Masri, al-Imm al-Allmah Ab l-Fadl Jaml al-dn Muhammad ibn
Mukrim ibn Mansr al-Ifrqi, 2005, Lisn al-Arab, (9 jilid), Dr al-Sdir, Cetakan V, Beirut, bab: 'ayn-qf-lm.
yaqilun. Kata kerja taqilun terulang sebanyak 24 kali dan yaqilun sebanyak 22
kali, sedangkan kata kerja aqala, naqilu dan yaqilu masing-masing satu kali
(Qardawi, 1998: 19). Pengertian akal dapat dijumpai dalam penjelasan ibnu
Taimiyah (2001: 18). Lafadz akal adalah lafadz yang mujmal (bermakna ganda)
sebab lafadz akal mencakup tentang cara berfikir yang benar dan mencakup pula
tentang cara berfikir yang salah. Adapun cara berfikir yang benar adalah cara
berpikir yang mengikuti tuntunan yang telah ditetapkan dalam syara. Lebih
lanjut, Ibnu Taimiyah dalam bukunya yang berjudul Hukum Islam dalam
Timbangan Akal dan Hikmah juga menyinggung mengenai kesesuaian nash al-
Quran dengan akal, jika ada pemikiran yang bertentangan dengan akal maka akal
tersebutlah yang salah karena mengikuti cara berpikir yang salah.

Allah SWT berfirman:

Artinya:
Adakah tersembunyi serta belum jelas lagi kepada mereka: berapa banyak
Kami telah binasakan dari kamu-kaum Yang terdahulu daripada mereka,
sedang mereka sekarang berulang-alik melalui tempat-tempat tinggal
kaum-kaum itu? Sesungguhnya pada Yang demikian ada tanda-tanda
(untuk mengambil iktibar) bagi orang-orang Yang berakal fikiran. (QS
Thahaa: 128)

Abdurrahman As-Sadi menjelaskan, ulun nuha adalah orang-orang yang


punya akal yang sehat lagi lurus dan memiliki jiwa tegar dan konsisten.12[4]
Sebagaimana telah dipaparkan oleh Yusuf Al-Qaradhawi, sebenarnya pembicaraan
akal dalam Al-Quran mencakup segala hal yang meliputi seluruh alam semesta,
manusia dengan masa depan dan masa lalunya, serta ayat-ayat Allah Taala, baik
yang tersirat maupun yang terseurat. Menurut Yusuf Al-Qaradhawi, siapa yang

12[4] Abdurrahman Nashir As-Sadi,


tidak menggunakan akalnya dalam berbagai masalah tersebut, berarti ia tidak
berusahan mencari kebenaran, justru telah meniti jalan kesesatan.13[5]

Sulaiman bin Shalih Al-Kharasyi menyatakan, melalui Al-Quran Allah


telah mewajibkan kaum muslimin untuk menggunakan akal dan pikiran. Siapa saja
yang sengaja meninggalkan akalnya, ia akan binasa dan berdosa.14[6] Allah Swt.
berfirman:

Dan mereka berkata, Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau


memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang
menyala-nyala. Maka mereka mengakui dosanya. Tetapi jauhlah (dari rahmat
Allah) bagi penghuni neraka yang menyala-nyala itu. (Q.S. Al-Mulk: 10-11)

III. Pembahasan
A. Manusia dan Akal
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang mempunyai mempunyai
banyak kelebihan jika dibandingkan dengan mahkluk yang lainnya. Atas
kelebihan-kelebihan ini, bahkan Allah menyatakan manusia sebagai makluk yang
paling sempurna di antara mahkluk yang lain, sebagaimana dijelaskan dalam
firman-Nya:

Artinya:

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang


sebaikbaiknya. (QS At-Tin: 4).

13[5] Yusuf Al-Qaradhawi, Al-Aqlu wal Ilmu fil Quran, (Kairo, Maktabah Wahbah, 1996), hal. 21.

14[6] Sulaiman bin Shalih Al-Khrasyi, Naqd Ushul Aqlaniyyin, (Darul Ulum As-Sunnah), hal. 123.
Kelebihan utama yang diberikan kepada manusia sehingga ia mendapat
predikat makhluk paling sempurn adalah adanya akal yang hanya diberikan Allah
kepadanya. Akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan
Allah lain. Dengan akal manusia mampu memilih, mempertimbangkan, dan
mengupayakan jalan hidupnya. Dengan akal manusia dapat mengendalikan hawa
nafsunya, dan dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil, mana
yang boleh dimakan dan mana yang tidak boleh dimakan, mana yang bisa
dinikmati dan mana yang tidak boleh dinikmatinya.

Akal merupakan salah satu bagian dari Nafs (Jiwa), dimana bagian-bagian
lain dari jiwa adalah Ghadab (emosi) dan Syahwat (nafsu), akal merupakan
penyeimbang dalam diri manusia, akal dinilai dapat meminimalisir kesalahan
yang dilakukan manusia, akal sebagai penopang atau sebagai panduan manusia
dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, karena akal diberikan oleh Allah
kepada manusia untuk berfikir sehingga akal dapat dijadikan sebagai wadah untuk
menyimpan ilmu dimana manusia menggunakan ilmu tersebut sebagai tolok ukur
dalam memandang, memahami serta melakukan aktivitas sesuai dengan syariat
dan ketentuan yang diberikan oleh sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Dengan
akal pula manusia mampu memahami petunjuk-petunjuk menuju jalan
keselamatan yang ada dalam wahyu Allah, kitab suci al-Quran.

Akal dan wahyu mempunyai peran yang sangat penting dalam perjalanan
hidup manusia. Wahyu diturunkan Allah kepada manusia yang berakal sebagai
petunjuk untuk mengarungi lika-liku kehidupan di dunia ini. Akal tidak serta
merta mampu memahami wahyu Allah, adalah panca indera manusia yang
menyertainya untuk dapat memahami wahyu yang diturunkan Allah. Dengan
demikian, ada hubungan yang erat antara wahyu sebagai kebenaran yang mutlak
karena berasal dari tuhan dengan perjalanan hidup manusia. Seberapa besar
kapasitas akal yang diberikan akan menentukan corak pemikiran keagamaan yang
ditampilkan suatu tokoh/aliran. Bagi yang memberikan kapasitas besar, ia akan
bercorak rasional. Sebaliknya, yang memberikan kapasitas kecil, ia akan bercorak
tradisional.
Perhatian dan polemik pemikiran yang berhubungan dengan akal dan
wahyu tidak hanya melanda pemikiran Islam klasik. Dalam konteks kekinian, di
Indonesia sendiri dapat dijumpai masalah tersebut misalnya pada pemikiran
Harun Nasution dan Quraish Shihab. Tak dapat diragukan dan dipungkiri bahwa
akal memiliki kedudukan dalam wilayah agama, yang penting dalam hal ini
adalah menentukan dan menjelaskan batasan-batasan akal, sebab kita meyakini
bahwa hampir semua kaum muslimin berupaya dan berusaha mengambil manfaat
akal dalam pengajaran agama dan penjelasan keyakinan agama secara
argumentatif. Demikian juga dengan Harun Nasution dan Quraish Shihab, dalam
hal mereka berusaha menjelaskan akal dan wahyu menenai fungsi, hubungan dan
batasan antara keduanya. Harun Nasution yang dikenal sebagai salah seorang
tokoh pembaharuan Islam di Indonesia pada tahun 70an, adalah salah seorang
intelektual muslim Indonesia yang memberikan perhatian terhadap akal dan
wahyu. Sebagai bukti otentik bahwa Harun Nasution adalah tokoh yang
mendalami konsep akal dan wahyu adalah bukunya yang berjudul Akal dan
Wahyu dalam Islam.

Dalam buku ini ia kembali mempertegas hubungan akal dan wahyu yang
diakui selalu menimbulkan persoalan-persoalan seperti fungsi dan hubungan akal
terhadap wahyu dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Dengan mengaktualkan
masalah akal dan wahyu dalam Islam ini,Harun Nasution menggugat masalah
dogmatis dan kejumudan dalam berpikir yang dinilainya sebagai sebab dari
kemunduran yang dialami umat Islam dalam sejarah.15[7] Menurutnya yang
diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasikan pemahaman umat Islam
yang dinilainya dogmatis tersebut, yang menyebabkan kemunduran umat Islam
karena kurangnya mengoptimalkan potensi akal yang dimiliki. Sedemikian
penting penggunaan Akal karena menurut Harun Nasution agama atau wahyu
yang di bawa oleh Nabi pada hakikatnya hanya memberikan dasar-dasarnya saja
dan tugas akal adalah menjelaskan apa yang disampaikan wahyu
yang. Penggunaan akal dalam memahami agama disebut dengan ijtihad.

15[7] Harun Nasution, Akal dan Wahyu, (Jakarta: UI Press, 1986), cetakan ke-2, h. 7-9.
Berangkat dari pandangan tersebut, menarik untuk dikaji lebih dalam lagi
bagaimana sebenarnya peranan akal dan wahyu menurut Harun Nasution dalam
memutuskan persoalan-persoalan keagamaan.

Tokoh lain yang membicarakan masalah akal dan wahyu adalah Quraish
Shihab. Beliau termasuk penerus Harun Nasution sebagai rektor IAIN pada tahun
1992-1998. dalam bukunya Logika Agama: Kedudukan Wahyu dan Batas-batas
Akal dalam Islam. Judul buku ini mengingatkan kita pada sebuah hadis lepas
dari perdebatan tentang kualitasnya -- yang memuat relasi agama dan
akal, Agama adalah akal, dan tidak ada (tidak dianggap ber- agama siapa yang
tidak memiliki akal. Sebagian ajaran agama memang dapat dimengerti oleh akal,
tapi tidak sedikit yang masih menyimpan misteri kalau kita pikirkan. Terlihat jelas
bahwa Quraish Shihab mengakui penting peranan akal dalam memahami
agama/wahyu, namun di sisi lain akal juga memiliki keterbatasan. Polemik
pemikiran tentang akal dan wahyu ini telah menjadi perbincangan yang cukup
menarik di antara kalangan cendekiawan muslim di Indonesia.

Harun Nasution sangat menganjurkan umat Islam untuk berfikir dan


menunjukan bahwa akal sendiri mempunyai kedudukan yang tinggi dalam al-
Quran dan al-Hadits. Sedangkan Quraish Shihab mengingatkan akan bahayanya
akal jika diberi peranan melebihi porsinya. Meski penghormatan Islam terhadap
akal sedemikian besar, bukan berarti seseorang lantas semaunya mempergunakan
akal, seseorang lantas diperbudak oleh akalnya sendiri. Hingga, setiap masalah
dihadapi hanya oleh kekuatan akalnya. Terlebih dalam masalah yang berkaitan
dengan agama. Kelompok yang berprinsip bahwa naql (wahyu/nash) tidak boleh
bertentangan dengan akal. Oleh karena itu, setiap masalah syari'at bisa dicerna
oleh akal. Dan jika ada suatu nash yang nampak (menurut mereka) bertentangan
dengan akal, niscaya mereka akan mena`wilkan nash tersebut, sehingga selaras
dengan akalnya. Pola pikir semacam inilah yang akhirnya menjungkir balikkan
nash-nash yang telah dipahami dan diyakini oleh para salafu alummah dulu. Dari
pola pemahaman yang demikian, lantas lahir beragam ta`wil, yang pada
hakikatnya dapat menafikan sifat-sifat Allah, nikmat dan adzab kubur, surga dan
neraka, qada dan qadar Allah.

Karena kemampuan manusia dalam menggunakan akalnya untuk


memahami ayat-ayat Allah, manusia diangkat derajatnya melebihi malaikat. Tapi
pada saat yang sama, karena tak mampu menfungsikan akal dengan benar,
manusia dapat terjerembab ke derajat yang paling hina, lebih rendah derajatnya
dibanding hewan sebagaimana firnan-Nya:

Artinya:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan


dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-
tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-
orang yang lalai (QS. al-Araaf: 179).

B. Kedudukan Akal

Pada masa-masa awal, saat Nabi Muhammad SAW masih hidup,


pemahaman terhadap wahyu Allah bukan merupakan hal yang rumit. Sebab saat
itu segala persoalan bisa ditanyakan langsung kepada Nabi yang nota bene
mempunyai hak otortatif untuk menafsir wahyu-wahyu Allah. Namun setelah
Nabi SAW wafat, permasalahan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks.
Oleh karena itu, masalah-masalah yang muncul namun belum ada tuntunan
penyelesaiannya baik dalam al-Quran maupun as-Sunnah untuk mengatasinya
maka muncullah jalan ketiga yakni Ijtihad.
Di sinilah peran akal, terutama dalam memahami wahyu Allah menjadi
sangat urgen. Berkenaan dengan hal ini ada sebuah hadis yang sangat terkenal.
Diceritakan pada pada saat Nabi Muhammad SAW hendak mengirim Muadz ke
Yaman, Rasulullah bertanya: Dengan apakah engkau hendak menjalankan
hukum? Muadz menjawab, Dengan kitab Allah. Lalu Nabi bertanya lagi,
Bagaimana jika engkau tak mendapat keterangan dalam kitab Allah? Muadz
menjawab, Dengan sunah Rasul. Nabi bertanya lagi,Bagaimana jika dalam
sunahku juga tak kau dapati? Muadz menjawab,Saya berijtihad dengan akal
saya, dan saya tak pernah berputus asa.

Hadits ini sering dijadikan dalil berkenaan dengan peranan ijtihad dalam
hukum Islam. Akal dalam deskripsi di atas menempati posisi yang signifikan
dalam berijtihad. Namun demikian, di sana kita juga melihat isyarat bahwa posisi
akal secara hierarkis jatuh setelah al-Quran dan Sunah. Akal menempati posisi
ketiga.

Berkenaan dengan akal, Nabi Muhammad SAW bersabda; Agama adalah


pengunaan akal, tiada agama bagi orang yang tak berakal. Kemudian dalam
sebuah hadis qudsi juga disebutkan: Demi kekuasaan dan keagunganku, tidaklah
kuciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau, kerna engkaulah aku
mengambil dan member dan kerna engkaulah aku menurunkan pahala dan
menjatuhkan hukuman.

Urgensi kehadiran akal juga dapat dilihat dalam hadis Nabi yang
memerintahkan umat Islam untuk menuntut ilmu. Nabi SAW bersabda: Mencari
ilmu wajib hukumnya bagi muslimin dan muslimat (HR. Muslim). Perintah untuk
mencari ilmu dapat dipahami bahwa manusia harus memaksimalkan potensi
akalnya. Mengutip Syeikh az-Zarnuji dalam kitab Talimul Mutaalim, ilmu inilah
yang membedakan antara manusia dan makhluk lain.16[8]

16[8] al-Zarnj, Talm al-Mutaallim, (Semarang : Pustaka al-alwiyyah, tt), h. 4.


IV. Implementasi

Allah memberikan kita akal agar digunakan sebagai hujjah dalam mencari
kebenaran sesuai dengan syariat Allah, adanya akal banyak hal yang dapt
dilakukan agar manusia tidak terjerumus kedalam hal-hal yang menyesatkan,
diantaranya:

1. Kajian Islami oleh para pemuda di masjid

Pemuda merupakan aset berharga dalam kehidupan bermasyarakat,


pemuda sebagai ujung tombak dalam menciptakan generasi yang beriman
haryus di bimbing dan diarahka ke jalan yang baik dan benar, oleh karenanya
dengan adanya kajian Islami ini dapat membuka wawasan ke-Islaman dan
menambah pemahaman mereka terhdap Islam, sehingga akal yang dimiliki
dapat terbimbing kearah yang benar.

2. Realisasi Ilmu + akal = Budaya

Ilmu yang dimiliki harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari agar ilmu
yang didapatkan tidak mubadzir dan dapat bermanfaat bagi orang lain, diantara
merealisasikan ilmu, selain itu peranan ilmu dalam menjembatani antara
idealisme dan realitas akan tercapai sesuai dengan kaidah dan syariat, sehingga
ilmu tersebut tidak hanya menjadi teoritikal semata tetapi dapat dijadikan budaya
dalam berkehidupan, diantaranya adalah:

a. Keluarga

1) Muhadharah keluarga, setiap anggota belajar memaparkan apa yang


mereka dapatkan, dan tetntunya dibimbing agar apa yang didapatkan tidak
keluar dari ketentuan Islam.
2) Mading keluarga, dll.

b. Masyarakat

1) Study tour ulama

Mengunjungi para ulama dan meminta sedikit ilmu dari para ulama

2) Study banding Islam

Mengunjungi saudara-saudara se-Muslim dan berbagi pengalaman serta


keilmuan.

3) Bedah buku, novel dll di masjid.

V. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting antara lain

1. Islam sangat mengapresiasi peran akal. Baik ayat al-Quran, adis, maupun
kaidah ulama ushul fikih dan mufasir menekankan pentingnya peran akal
bagai sebagai instrument untuk memahami ajaran-ajaran Allah, maupun
sebagai instrument pengembangan peradaban. Namun demikian, Islam
menempatkan akal dengan batasan-batasan tertentu. Dihadapakan pada wahyu
Allah, akal bersifat relative sedangkan wahyu Allah bersifat muthlak.

2. Menurut jumhur ulama (mufasir) ayat al-Quran terbagi setidaknya


menjadi dua kelompok: ayat qathi yang bersifat ghairu manqulatil
makna dan ayat zanni yang bersifat manqulatil makna. Pada kelompok ayat
jenis pertama akal manusia hanya bersifat tunduk, sedangkan pada kelompok
ayat kedua, akal manusia diberikan keleluasaan untuk menafsir dengan
ketentuan-ketentuan syara.
Diposkan 25th October 2013 oleh Ihsan ibadurahman

Tambahkan komentar

4.

Oct

22

IHSAN MUHAMMAD DAHLAN


JAMPES

BAB I

PENDAHULUAN

IHSAN MUHAMMAD DAHLAN JAMPES


(Biografi, Karya, Pemikiran, Jasa dan pengaruh)

Salah satu ulama yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam di

wilayah Nusantara pada abad ke-19[1] adalah Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-

Jampesi. Namun, namanya lebih dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Jampes

(kini Al-Ihsan Jampes) di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo,

Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namanya makin terkenal setelah kitab karangannya Siraj

ath-Thalibin menjadi bidang ilmu yang dipelajari hingga perguruan tinggi, seperti

Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Dan, dari karyanya ini pula, ia dikenal sebagai

seorang ulama sufi yang sangat hebat[2].

Semasa hidupnya, Kyai dari Dusun Jampes ini tidak hanya dikenal sebagai ulama

sufi, tetapi ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu falak, fikih,
hadis, dan beberapa bidang ilmu agama lainnya. Karena itu, karya-karya tulisannya tak

sebatas pada bidang ilmu tasawuf dan akhlak semata, tetapi hingga pada persoalan fikih.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya tentunya

tidak bijak kiranya jika kita tidak mengenal pahlawan-pahlawan kita. Dan pahlawan

paling berjasa adalah pahlawan ilmu dan pengetahuan, karena ilmu dan pemiliknya

memiliki kedudukan yang tinggi.[3] Untuk itulah penulis memandang perlu untuk

membahas salah satu tokoh pendidikan Islam nusantara yang telah memberikan andil

besar terhadap perkembangan dan paradigma pendidikan Islam di Indonesia, beliau

adalah Syaikh Ihsan Ahmad bin dahlan Jampes

A. Riwayat Hidup Ihsan Ahmad Jampes

1. Biografi

Ihsan Jampes atau Syaikh Ihsan Ahmad jampes, dengan nama asli Bakri,

lahir pada tahun 1901 M. beliau adalah putra dari keluarga terpandang, bernuansa

keagamaan dan keilmuan yang tinggi. Ayahnya adalah seorang tokoh agama

bernama KH. Dahlan, seorang kiai yang tersohor pada masanya dan yang pertama

kali merintis berdirinya pondok pesantren Jampes pada tahun 1888M.[4] sedangkan

ibunya bernama Nyai[5] Artimah.

Tidak banyak yang dapat diuraikan tentang nasab Syaikh Ihsan dari jalur

ibu, yang dapat diketahui hanyalah bahwa ibu Syaikh Ihsan adalah Nyai Artimah,

putri dari KH. Sholeh Banjar melati-Kediri.


Sementara itu, dari jalur ayah, Syaikh Ihsan adalah putra KH. Dahlan putra

KH. Saleh, seorang kiai yang berasal dari Bogor Jawa Barat, yang leluhurnya masih

mempunyai keterkaitan nasab dengan Sunan Gunung jati yaitu Syarif Hidayatullah

Cirebon.

Terkait dengan nasab, yang tidak dapat diabaikan adalah nenek Syaikh

Ihsan (ibu KH. Dahlan) yang bernama Nyai Istianah. Selain Nyai Istianah ini

memiliki andil besar dalam membentuk karakter Syaikh Ihsan, pada diri Nyai

Istianah ini pula mengalir darah para kiai besar. Nyai Istianah adalah putri dari

KH. Mesir putra Kiai Yahuda, seorang ulama sakti mandraguna dari Lorog Pacitan,

yang jika urutan nasabnya diteruskan akan sampai pada Panembahan Senapati,

pendiri Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Itu dari jalur ayah. Adapun dari jalur

ibu, Nyai Istianah adalah cicit dari Syaikh Hasan Besari, seorang tokoh masyhur

dari Tegalsari Ponorogo yang masih keturunan Sunan Ampel Surabaya.[6]

2. Riwayat Pendidikan

Suatu ketika Bakri (Syeikh Ihsan) bermimpi bertemu dengan kakeknya. Dalam

mimpi tersebut, Bakri disuruh oleh sang kakek untuk meninggalkan kebiasaan

buruknya.[7]

Mimpi inilah yang kemudian membukakan pintu hatinya untuk melakukan pengem

baraan intelektualnya

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi oleh Bakri diantaranya:

a) Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri),
b) Pondok Pesantren Jamseran Solo,

c) Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang,

d) Pondok Pesantren Mangkang Semarang,

e) Pondok Pesantren Punduh Magelang

f) Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk,

g) Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang Guru Para

Ulama.

Yang unik dari perjalanan menuntut imu yang dilakukan Bakri adalah bahwa ia tidak

pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk

belajar Alfiah Ibnu Malik dari KH. Kholil Bangkalan, ia hanya menghabiskan waktu dua

bulan; belajar falak kepada KH. Dahlan Semarang ia hanya tinggal di pesantrennya

selama 20 hari; sedangkan di Peantren Jamseran ia hanya tinggal selama satu bulan.

Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan memboyong ilmu para gurunya

tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Satu lagi yang unik, di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu menyamar. Ia

tidak mau dikenal sebagai gus[8],tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai

tersohor, KH.Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri

tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi,

menghilang dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain.


2. Keterlibatan Syaikh Ihsan dalam dunia pendidikan

Pada 1926, Bakri menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah, namanya

diganti menjadi Ihsan. Dua tahun kemudian, Ihsan berduka karena sang ayah, KH.

Dahlan, dipanggil oleh Allah. Semenjak itu, kepemimpinan PP (Pondok Pesantren)

Jampes dipercayakan kepada adik KH. Dahlan, yakni KH. Kholil. Akan tetapi, dia

mengasuh Pesantren Jampes hanya selama empat tahun. Pada 1932, dengan suka rela

kepemimpinan Pesantren Jampes diserahkannya kepada Ihsan. Sejak saat itulah

Ihsan terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes.[9]

Ada banyak perkembangan signifikan di Pesantren Jampes setelah Syaikh Ihsan diangkat

sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan

pesat dari tahun ke tahun (semula 150 santri menjadi 1000 santri) sehingga PP

Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi

pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Mafatihul

Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syaikh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap

tenaganya untuk diabdikan kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi

aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jamaah, shalat malam,

mutholaah kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya

untuk santri, ternyata Syaikh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syaikh Ihsan

dikenal memiliki lmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela

kesibukannya mengajar santri, Syaikh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai

daerah yang meminta bantuannya.


3. Keterlibatan Syaikh Ihsan dan santri dalam perjuangan kemerdekaan

Pada masa revolusi fisik 1945, Syaikh Ihsan juga memiliki andil penting dalam

perjuangan bangsa. PP Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan

republik yang hendak menyerang Belanda; di Pesantren Jampes ini, mereka meminta doa

restu Syaikh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syaikh Ihsan

turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di

sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih

pp jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syaikh Ihsan membuka gerbang

pesantrenya lebar-lebar.

B. Wafat, jasa dan Warisan Syaikh Ihsan

Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, Syaikh Ihsan dipanggil oleh

Allah SWT, pada usia 51 tahun. beliau meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan

delapan putra-puteri. Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu

yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam suthur (kertas: karya-

karyanya yang abadi) maupun dalam shudur (memori: murid-muridnya). Dan inilah

warisan yang tak akan pernah habis, bahkan Rosululloh menyebutkan bahwa para nabi

tidaklah mewariskan apapun kecuali ilmu, dan barangsiapa mengambil warisan tersebut

maka dia telah mendapatakan bagian yang amat banyak.[10]

Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam

berdakwah melalui pesantren adalah:


1) Kiai Soim pengasuh pesantren di Tangir Tuban
2) KH. Zubaidi di Mantenan Blitar
3) KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap
4) KH. Busyairi di Sampang Madura
5) K. Hambili di Plumbon Cirebon
6) K. Khazin di Tegal,

dan lain-lain yang tidak dapat di telusuri satu persatu.

Sumbangan Syaikh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya

bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak

pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syaikh Ihsan, khususnya

masterpiecenya, siraj ath-Thalibin, terutama ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah

penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab- al-Halab. Sayangnya, di antara kitab-kitab

karangan Syaikh Ihsan, baru siraj ath-Thalibinlah yang mudah didapat. Itu pun baru dapat

dikonsumsi oleh masyarakat pesantren sebab belum diterjemahkan ke dalam bahasa

Indonesia.[11]

Karna salah satu karyanya pula, beliau mendapat julukan Al Ghozali kecil dari

Kediri[12]

C. Karya-karya Ihsan Ahmad Dahlan Jampes[13]

1. Tashrih al-Ibarat (syarah dari kitab Natijat al-Miqat karya KH. Ahmad Dahlan

Semarang), terbit pada 1930 setebal 48 halaman. Buku ini mengulas ilmu falak

(astronomi).

2. Siraj ath-Thalibin (syarah dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali),

terbit pada 1932 setebal 800 halaman. Buku ini mengulas tasawuf.
3. Manahij al-Imdad (syarah dari kitab Irsyad al-Ibad karya Syaikh Zainudin al-

Malibari), terbit pada 1940 setebal 1088 halaman, mengulas tasawuf.

4. Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan (adaptasi

puitik [plus syarah] dari kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayani al-Qahwah wa ad-

Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), t.t., tebal 50 halaman. Buku ini

berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

D. Pemikiran-pemikiran Ihsan Ahmad dahlan Jampes Pengaruh pemikiran Ihsan

Ahmad dahlan Jampes terhadap perkembangan intelektual atau kehidupan

keummatan Islam Indonesia

Karna keterbatasan waktu dan referensi, penulis hanya akan

mencoba mengetengahkan sebagian kecil pemikiran-pemikiran syaikh

Ihsan Ahmad Jampes dan mencoba memberikan analisa dan komentar,

pemikiran-pemikiran tersebut di antaranya;

1. Dalam kitab beliau Sirajutolibin syarah minhajul abidin, beliau

mengatakan, Bahwa saat ini banyak orang bodoh tapi berani

mengatakan dirinya bisa sampai kepada maqom makrifat,

mukasyafah dan mendapat karomat. Padahal, mereka samasekali

tidak mengerti syariat, bagaimana mungkin hal itu terjadi

(assufiyah al-maghrurin fi asrihi).17[14]

[14] Ihsn Dahln, Sirj al-Thlibn, (Singapore-Jeddah; al-Haramain,tt)

17[15] http://muntaha.wordpress.com/2008/06/15/kritik-praktik-tarekat-tasawuf-1/ tanggal


06 Juli 2013
Subhanalloh, sebuah kata-kata yang indah dan pemikiran

yang sangat cemerlang. Di tengah-tengah tradisi yang bisa

dikatakan bahwa sebagian sufi telah tersesat karna adanya

keyakinan tidak berlakunya syariat bagi para marifah, beliau

dengan tegaskatakan bahwa tidak ada maqom marifah kcuali ia

faham tentang syariah. Tentunya pemikiran seperti inilah yang

dapat merubah paradigm baru tentang faham-faham dan

pemikiran-pemikiran rancu yang menyebar, tumbuh subur di

kalangan kaum muslimin. Salah satu contoh nyata, dari pemikiran

beliau di atas adalah pemikiran dan prestasi yang di raih oleh

Ahmad Najib Afandi, kader muda Nahdlatul Ulama (NU), peraih

gelar doktor pertama bidang tasawuf di Maroko. Mantan Sekretaris

Keluarga Mahasiswa NU di Bagdad, Irak, tahun 1998 itu, menulis

desertasinya berjudul Al-Harakah Assufiyah bi Indonesia wa

Atsaruha Fi Al-Falsafat Al-Ahlak.

Terdapat beberapa hal yang menjadi sorotan disertasinya tentang kesalahan

praktik tarekat dan tasawuf akhir-akhir ini. Pertama, soal pengingkaran

keberadaan syariat sebagai modal mencapai hakekat. Hal itu, ia buktikan melalui

hasil wawancaranya dengan KH. Abdul Jalil Mustaqim, Mursyid Tarekat

Naqsabandiyah di Tulungagung, Jawa Timur, sebelum wafat yang dibuatnya menjadi

kajian khusus.

Kiai Mustaqim, kata Najib, mengatakan secara brutal menuding kiai pesantren

adalah orang-orang yang salah mendidik masyarakat karena hanya mengaji dan

sekolah. Akibatnya, tidak akan bisa mengantarkan mereka kepada Allah. Coba
bandingkan dengan anak saya yang masih SD (sekolah dasar, Red) tapi sudah bisa

menceritakan hal-hal gaib, kata Kiai Mustaqim seperti ditulis Najib.

Pernyataan Kiai Mustaqim dari hasil wawancara itulah yang kemudian

mendorongnya membuat satu kajian dengan merujuk pemikiran KH Ihsan Jampes

dalam karyanya Sirajutolibin yang mengatakan, Bahwa saat ini banyak orang

bodoh tapi berani mengatakan dirinya bisa sampai kepada maqom makrifat,

mukasyafah dan mendapat karomat. Padahal, mereka samasekali tidak mengerti

syariat, bagaimana mungkin hal itu terjadi (assufiyah al-maghrurin fi asrihi).

Sufi-sufi yang tersesat itulah judul yang digunakan Najib untuk mengkritik persoalan

yang berat itu dari kajiannya tentang kenyataan tasawuf di Indonesia abad 20.

Sementara, kesalahan praktik tasawuf yang selama ini terjadi adalah maraknya

pengajian atas nama tasawuf, mulai dari gang sempit hingga hotel berbintang dengan

nilai jual rupiah yang sangat men-dunia-kan diri mereka. Sehingga, tasawuf tidak

lagi menjadi gerakan moral dan ahlak, tapi telah menjelma sebagai ladang penggalian

materi dan popularitas.

Ironisnya, terang Najib, hal itu banyak dilakukan oleh mereka yang samasekali belum

pernah berkenalan dengan para pendiri tarekat dan pengarang kitab tasawuf.

Akhirnya, apa yang mereka sampaikan lebih bersifat wacana, bahkan polemik yang

terus mengkritik doktrin tasawuf yang mereka sendiri tidak akan mengerti.18[15]
2. Pemikiran beliau tentang Uzlah (mengasingkan diri), pengertian

tentang uzlah yang secara umum bermakna pengasingan diri dari

kesibukan duniawi. Menurut Syekh Ihsan, maksud dari uzlah di era

sekarang adalah bukan lagi menyepi, tapi membaur dalam masyarakat

majemuk, namun tetap menjaga diri dari hal-hal keduniawian. Luar

biasa, sebuah pemikiran yang luar biasa dari seorang pemikir syaikh

Ihsan Jampes. Inilah konsep yang sangat bijaksana, di saat lingkungan,

di saat masyarakat jauh dari tuntunan, bukan berarti mereka harus

ditinggalkan untuk mengasingkan diri, akan tetapi kita harus tetap ada

di tengah-tengah mereka untuk membangun dan menyadarkan mereka

ke jalan yang lurus. Dan tentunya pemikiran beliau senada dengan

konsep hijrah yang bukan berrti keharusan hijrah adalah hijrah tempat,

kan tetapi hijrah pemikiran, hijrah akidah dan hijrah pergaulan. Kita

ada di tengah masyarakatyang rusak bukan untuk ikut rusak, akan

tetapi untuk tetap istiqomah sambil membenahi ummat. Dan pemikiran

inilah yang saat ini sedang di jalankan oleh para dai ilalloh.

Membangun generasi dan membangun negeri bersama para dai.

3. Konsep zuhud diartikan sebagai tapa dunia atau menghindari harta

benda. Syekh Ihsan mengajarkan bahwa orang yang zuhud sebenarnya

adalah mereka yang dikejar harta, namun tak merasa memiliki harta itu

sama sekali. Jadi zuhud adalah tapa dunia tapi malah kaya. Nah kalau

sudah kaya lantas mencari jalan yang terbaik dalam menafkahkan

hartanya itu.
Inilah zuhud yang sebenarnya, tanpa meninggalkan harta

namun tanpa mendewakan harta. Dunia adalah keniscayaan,

untuk kehidupan juga untuk ibadah yang berhubungan dengan

materi. Ada zakat, sedekah, haji, umroh dan lain-lain.

Pemikiran beliau memberikan pemahaman kepada kita bahwa

dunia bolehdicari dan boleh di miliki, tapi ingat..!! dapatkan

dengan cara halal dan belanjakan pada yang halal.

E. Beberapa kesimpulan

Menurut Directorate General Development of Islamic

Institutions,Departemen Agama RI tahun 2000 ada sekitar 11.312 pondok

pesantren yang sudah terdaftar, dengan jumlah santri sekitar 2.737.805 santri

yang belajar di dalamnya. Hasil pendidikan pesantren sampai sekarang sudah

banyak dilihat kemanfaatannya oleh masyarakat luas maupun oleh kalangan

pengamat. Mayoritas ulama membimbing perjalanan rohani umat Islam di

Indonesia sampai sekarang adalah jebolan pesantren.

Meskipun jika dihitung perbandingan antara jumlah santri dengan

jumlah kyai yang dapat dihasilkan pesantren relatif kecil (belum tentu di

antara 100 santri ada seorang yang dapat menjadi Kyai), namun kenyataan

sosial membuktikan bahwa pesantren telah cukup besar jasanya dalam

memproduksi manusia-manusia muslim yang taat dan shaleh, yang kuat

keterikatannya dengan ajaran dan tatanan agama Islam, baik mereka itu

menjadi petani, pedagang, nelayan, pejabat dan lain sebagainya, sehingga ada
sebutan Golongan Santri yang dibedakan dengan golongan abangan atau

golongan priyayi, meskipun sekarang penggolongan semacam itu sudah kabur.

Dari perjalanan atau biografi syaikh Ihsan jampes diatas, penulis

memberikan kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

1. Banyak pahlawan-pahlawan dari kaum muslimin, yang secara

langsung maupun tidak langsung telah memberikan andil besar

bagi pendidikan, pengembangan kualitas SDM, bahkan dalam turut

serta mempertahankan kemerdekaan dan membebaskan bangsa dari

penjajahan yang ter-marginal-kan (kurang bahkan tidak di kenal

serta tidak di perkenalkan kepada masyarakat tentang keberadaan

dan jasa-jasanya) seperti syaikh Ihsan Jampes. Padahal jasa-jasa

beliau lebih banyak dan besar di banding tokoh-tokoh yang saat ini

banyak dimunculkan dan di usung yang terkadang mereka malah

termasuk penghancur ummat dari tokoh-tokoh liberal dan

sejenisnya.

2. Indonesia memiliki potensi SDM yang sangat besar dalam bidang

ilmu dan pengetahuan, sejarah dan realita membuktikan bahwa

bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas. kita lihat sebagai

contoh kecil, Syaikh Ihsan jampes, putra pribumi, seorang santri

dan kiai lokal akan tetapi karyanya sungguh luar biasa, dari

Indonesia hingga mancanegara mengagumi karya-karyanya.

Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk mengukir prestasi


dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa dalam kacamata

dunia.

3. Badallohi taala (setelah kehendak Alloh taala), keutuhan Negara

kesatuan Indonesia, kemerdekaan bangsa Indonesia, dan kemajuan

yang dicapai oleh Negara Indonesia adalah berkat peran serta

pesantren, kiai, santri, masyarakat santri juga para tokoh-tokah

agamawan Islam. Seperti yang kita ketahui, siapakah mayoritas

pembela negeri ini dari penjajahan? Siapakah perumus-perumus

kemerdekaan? Bahkan sampai saat ini pemeran-pemeran

negarawan negeri ini masih di dominasi dari para santri / alumnus

pesantren. Dan kalangan santri dan pesantrenlah yang terbukti

ampuh dalam menjaga agama dan kehormatan bangsa.

4. Pesantren terbukti mampu mencetak alumnus-alumnus yang

unggul dan mampu memberikan sumbangsig yang besar bagi

pendidikan bangsa. Sudah selayaknya kita membangun fisik dan

kesan bahwa pesantren adalah tempat persemaian pemikir dan

ilmuan. Kita juga harus menghilangkan kesan bahwa pesantren

adalah pendidikan yang tidak di akuai eksistensinya,

standarisasinya, suram masa depan alumninya dan marginalisasi

pesantren.

5. Kita harus menjadi dan melahirkan Ihsan-ihsan Jampes yang lain

untuk pendidikan saat ini. Hal ini dapat kita lakukan dengan
membangun istilah untuk pondok pesantren dengan istilah pesan

dan tren, yakni Pesan dan Tren berarti pondok pesantren

adalah Suatu Pesan Yang Bersifat Ke-kinian atau Ngetren . jadi

ilmu-ilmu pengetahuan yang di transfer di pondok pesantren pada

santri-santrinya adalah hal-hal atau perkara yang bersifat

terbaru/ngetren sesuai dengan kebutuhan zaman, tentunya sesuai

dari suatu bidang ilmu tertentu yang di pelajarinya.

DAFTAR PUSTAKA

al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih, Syarah Adab & Manfaat Menuntut Ilmu,

PUSTAKA IMAM SYAFII, Jakarta, 2005.


Dahln, Ihsn, Sirj al-Thlibn, (Singapore-Jeddah; al-Haramain,tt)

Farid, Ahmad, Ar Tarbiyyah Ala Manhaji ahlis sunnah wal jamaah, Dar

thoyyibah lian nashr wa attawzi, Riyadl, 2004 M./1425H.

Ihsan, Syeikh Ahmad , dalam pengantar buku terjemahan buku kitab, kopi dan

rokok, (Jogjakarta: Pustaka Pesantren, 2009) cet. 1.

Hasyim, Muhammad & Ahmad Athoilah, Khazanah khatulistiwa; Potret

Kehidupan dan Pemikiran Kiai-kiai Nusantara, Arti Bumi Intaran, Yogyakarta, 2009,

cet. 1