Anda di halaman 1dari 17

JENIS-JENIS AUDIT SEKTOR PUBLIK

Dalam UU No. 15 Tahun 2004 tentang SPKN, terdapat tiga jenis audit keuangan negara, yaitu
audit keuangan, audit kinerja, dan audit dengan tujuan tertentu,

A. AUDIT KEUANGAN

Audit keuangan adalah audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan
keyakinan yang memadai (reasonable assurance), apakah laporan keuangan telah disajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia.

B. AUDIT KINERJA (PERFORMANCE AUDIT)

Audit kinerja dapat dilaksanakan oleh external auditor maupun internal auditor. Sesuai
amanat UU No. 15 Tahun 2004 dan PP No. 60 Tahun 2008. UU No. 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara memberikan mandat dan
kewenangan kepada BPK sebagai lembaga pemeriksa eksternal untuk melaksanakan audit
kinerja. Di sisi lain, PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah juga
memberikan kewenangan pada Aparat Pengawas Intern Pemerintah untuk melaksanakan audit
kinerja, sebagai suatu bentuk pengawasan. Dengan demikian, auditor eksternal dan auditor
internal perlu berkoordinasi dalam melaksanakan audit kinerja. Jangan sampai terjadi
overlapping. Keduanya harus menjaga hubungan dan komunikasi yang harmonis agar tercipta
konfigurasi audit kinerja yang baik.

Audit kinerja. Audit kinerja saat ini merupakan genderang perang bagi Kementerian dan
lembaga setelah keluan Keterbukaan Informasi Publik (KIP), Kementerian dan Lembaga
Pemerintah sangat komitmennya untuk meningkatkan praktik dan kapasitasnya di bidang audit
kinerja. Bagaimana perkembangan audit sektor publik? Apa manfaat yang bisa diperoleh?
Bagaimana Pendekatan digunakan?
Setelah pemerintah mengeluarkan UU KIP No 14 Tahun 2008 serta memuat dalam
lembaran negara Republik Indonesia. Masyarakat berkeingan mengetahui sejauman uang negara
yang berasl dari sektor pajak yang dibayar warga negara Republik Indonesia yang taat pajak
apakah dikelola dengan baik Dalam arti, apakah uang negara digunakan untuk memperoleh
sumber daya dengan hemat (spend less), digunakan secara efisien (spend well), serta dapat
memberikan hasil optimal yang membawa manfaat bagi masyarakat (spend wisely).

"Audit kinerja merupakan metamorfosis dari audit intern (internal audit) yang kemudian
berkembang menjadi audit operasional (operational audit) dan selanjutnya menjadi audit
manajemen (management audit). Audit manajemen berfokus pada penilaian aspek ekonomi dan
efisiensi. Audit manajemen kemudian dilengkapi dengan audit program (program audit) yang
bertujuan untuk menilai efektivitas. Koalisi antara audit manajemen dan audit program inilah
yang disebut sebagai audit kinerja (performance audit)."
Audit kinerja merupakan salah satu jenis audit yang dilakukan sebagai pengembangan
diri audit keuangan. Audit kinerja untuk menilai tingkat keberhasilan kinerja suatu
Kementerian/Lembaga Pemerintah, untuk memastikan sesuai atau tidaknya sasaran yang
kegiatan yang menggunakan anggaran. Oleh karena audit kinerja (performence audit merupakan
perluasan dari audit keuangan yang meliputi : ekonomi, efisien dan efektifitas, maka auditor
yang akan melaksanakan kegiatan harus memperoleh informasi tentan organisasi, meliputi
struktur organisasi, prosedur kerja dan sistem informasi dan pelaporan keuangan dan kegiatan
kepada manajemen.
Berikut adalah jenis - jenis audit kinerja:

1. Audit Program (Audit Efektivitas)


Audit program mencakup penentuan atas :
1. Tingkat pencapaian hasil program yang diinginkan atau manfaat yang telah ditetapkan
oleh undang-undang atau badan lain yang berwenang.
2. Efektivitas kegiatan entitas, pelaksanaan program, kegiatan, atau fungsi instansi yang
bersangkutan
3. Tingkat kepatuhan entitas yang diaudit terhadap peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan pelaksanaan program/kegiatannya.
Contoh pelaksanaan audit program antara lain :
1. Menilai tujuan program, baik yang baru maupun yang sudah berjalan, untuk menentukan
apakah tujuan tersebut sudah memadai dan tepat/relevan
2. Menentukan tingkat pencapaian hasil program yang diinginkan.
3. Menilai efektivitas program dan/atau unsur program secara sendiri sendiri
4. Mengidentifikasi faktor yang menghambat pelaksanaan kinerja yang baik dan
memuaskan
5. Menentukan apakah manajemen telah mempertimbangkan alternatif - alternatif lain untuk
melaksanakan program tersebut yang mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik
dengan biaya rendah.

2. Audit Ekonomi dan Efisiensi (Management and Operational Audit)


Audit ekonomi dan efisiensi berfungsi untuk:

1. Apakah entitas telah memperoleh, melindungi, dan menggunakan sumber dayanya


(seperti karyawan, gedung, ruang, dan peralatan kantor) secara hemat dan efisien.
2. Apa yang menjadi penyebab timbulnya pemborosan dan efisiensi.
3. Apakah entitas tersebut telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan penghematan dan efisiensi
Audit Operasional

Audit operasional merupakan penelahaan secara sistematik aktivitas operasi organisasi dalam
hubungannya dengan tujuan tertentu. Dalam audit operasional, auditor diharapkan melakukan
pengamatan yang obyektif dan analisis yang komprehensif terhadap operasional-operasional
tertentu.
Tujuan audit operasional adalah untuk :
1. Menilai kinerja, kinerja dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan, standar-standar, dan
sasaran-sasaran yang ditetapkan oleh manajemen
2. Mengidentifikasikan peluang dan
3. Memberikan rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Pihak-pihak yang
mungkin meminta dilakukannya audit operasional adalah manajemen dan pihak ketiga.
Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta dilaksanakannya audit
tersebut.

Audit Manajemen
Pengertian manajemen audit tersirat dalam definisi kalangan akademisi. Berikut beberapa
definisi menurut Holmes dan Overmyer (1975) :
Manajemen audit mencakup penelitian dan evaluasi atas semua fungsi dari Manajemen, untuk
memastikan bahwa pelaksanaan operasi perusahaan telah dijalankan dengan cara yang efektif
dan efisien.
Dari definisi yang dikumpulkan maka diperoleh beberapa karakteristik pemeriksaan manajemen
yaitu:
1. Memberikan informasi tentang efektifitas , efisiensi dan ekonomisasi operasional
perusahaan kepada manajemen.
2. Penilaian efektivitas, efisiensi dan ekonomisasi didasarkan pada standar-standar tertentu.
3. Audit diarahkan kepada operasional sebagian atau seluruh struktur organisasi.
4. Audit ini dapat dilakukan oleh akuntan maupun bukan akuntan.
5. Hasil audit manajemen berupa rekomendasi perbaikan kepada manajemen.
C. DENGAN TUJUAN TERTENTU
Audit (pemeriksaan) dengan tujuan tertentu adalah pemeriksaan yang tidak termasuk
dalam pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja/audit operasional. Sesuai dengan
definisinya, jenis audit ini dapat berupa semua jenis audit selain audit keuangan dan audit
operasional. Dengan demikian dalam jenis audit tersebut termasuk diantaranya audit ketaatan
dan audit investigatif
1. Audit Keaatan
Audit ketaatan adalah audit yang dilakukan untuk menilai kesesuaian antara
kondisi/pelaksanaan kegiatan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kriteria yang digunakan dalam audit ketaatan adalah peraturan perundang-undangan
yang berlaku bagi auditi. Perundangundangan di sini diartikan dalam arti luas, termasuk
ketentuan yang dibuat oleh yang lebih tinggi dan dari luar auditi asal berlaku bagi auditi
dengan berbagai bentuk atau medianya, tertulis maupun tidak tertulis.
2. Audit Investigatif
Audit investigatif adalah audit yang dilakukan untuk membuktikan apakah suatu
indikasi penyimpangan/kecurangan apakah memang benar terjadi atau tidak terjadi. Jadi
fokus audit investigatif adalah membuktikan apakah benar kecurangan telah terjadi.
Dalam hal dugaan kecurangan terbukti, audit investigatif harus dapat mengidentifikasi
pihak yang harus bertanggung jawab atas penyimpangan/kecurangan tersebut

Sedangkan menurut pihak yang mengaudit, audit dibagi menjadi 2:


1. Audit Internal
Audit intern adalah audit yang dilakukan oleh pihak dari dalam organisasi auditi.
Pengertian organisasi auditi dalam hal ini harus dilihat dengan sudut pandang yang tepat.
Organisasi auditi misalnya adalah pemerintah daerah, kementerian negara, lembaga
negara, perusahaan, atau bahkan pemerintah pusat. Sebagai contoh, untuk pemerintah
daerah, maka audit intern adalah audit yang dilakukan oleh aparat pengawasan intern
daerah yang bersangkutan (Bawasda). Sedangkan pada organisasi kementerian negara
audit intern dilakukan oleh inspektorat jenderal departemen dan dalam organisasi
pemerintah pusat audit intern dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP). Audit intern dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan fungsi
pengawasan dalam manajemen. Jadi pelaksanaan audit intern lebih diarahkan pada upaya
membantu bupati/walikota/gubernur/menteri/presiden meyakinkan pencapaian tujuan
organisasi.
2. Audit Eksternal
Audit ekstern adalah audit yang dilakukan oleh pihak di luar organisasi auditi.
Dalam pemerintahan Republik Indonesia, peran audit ekstern dijalankan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK). BPK menjalankan audit atas pengelolaan keuangan negara
(termasuk keuangan daerah) oleh seluruh organ pemerintahan untuk dilaporkan kepada
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun demikian, dengan merujuk pembahasan di
atas, maka untuk menentukan apakah suatu audit merupakan audit ekstern atau intern
harus merujuk pada lingkup organisasinya. Sebagai contoh, audit yang dilakukan oleh
BPKP terhadap departmen/lembaga merupakan audit ekstern bagi departemen/lembaga
yang bersangkutan, namun merupakan audit intern dilihat dari sisi pemerintah RI.

PROFIL BPK
A. Tugas dan Fungsi BPK berdasarkan UUD 1945
BPK merupakan salah satu lembaga pengawasan eksternal dan sebagai suatu lembaga
negara yang memiliki posisi sangat tinggi sesuai UU 1945. Tugas BPK adalah
pemberantasan KKN, memelihara transparansi dan akuntabilitas seluruh aspek keungan
negara, untuk memeriksa semua asal-usul dan besarnya penerimaan negara dari mana pun
sumbernya. BPK memiliki tugas untuk memeriksa untuk apa uang negara dipergunakan
pada tiga lapis pemerintahan di Indonesia yaitu pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.
Keuangan negara Indonesia tercermin pada APBN, APBD, BUMN, BUMD, yayasan, dana
pensiun, perusahaan yang terkait dengan kedinasan, serta bantuan atau subsidi kepada
lembaga sosial milik swasta.
B. Struktur Organisasi BPK
Berdasarkan keputusan Ketua BPK No. 34/K/I-VIII.3/6/2007 tanggal 15 Juni 2007
Gambaran mengenai struktur organisasi BPK adalah sebagai berikut :
Terdiri dari 1 orang ketua merangkap anggota, 1 orang wakil ketua merangkap anggota, dan
7 orang anggota BPK dimana 7 orang anggota ini dibagi untuk melakukan pembinaan atas
suatu lingkup pemeriksaan, evaluasi, pembangunan, pendidikan dan latihan pemeriksaan
keuangan negara, serta satu Direktorat Utama Pembinaan dan Pengembangan Hukum
Pemeriksaan Keuangan Negara dan 7 auditorat Utama Keuangan Negara.
C. Visi, Misi dan Tujuan Strategis BPK
Visi BPK
Menjaga lembaga pemeriksa keuangan negara yang bebas, mandiri dan profesional serta
berperan aktif dalam mewujudkan tata kelola keuangan negara yang akuntabel dan
transparan.
Misi BPK
Memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara dalam rangka mendorong
terwujudnya akuntabilitas dan transparansi keuangan negara, serta berperan aktif dalam
mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih dan transparan.
Tujuan Strategis BPK :
1. Mewujudkan BPK RI sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara yang independen
dan professional
2. Memenuhi semua kebutuhan dan harapan pemilik kepentingan
3. Mewujudkan BPK RI sebagai pusat regulator di bidang pemeriksaan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara
4. Mendorong terwujudnya tata kelola yang baik atas pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara.
5. Peranan BPK Sekarang dan Mendatang
Peningkatan peran BPK telah dimulai sejak beberapa tahun lalu sebelum terbitnya UU
No. 15 tahun 2006 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara. Peran BPK sekarang dan mendatang antara lain :
a. Membantu masyarakat dan pengambil keputusan untuk melakukan alternatif
pilihan masa depan
b. Mendalami kebijakan dan masalah public
c. Melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi bagi peningkatan efektivitas
dan efisiensi kebijakan pemerintah serta ketaatan atas aturan lingkungan hidup
dan pembangunan berkelanjutan.
D. Landasan Operasional BPK menurut UU Nomor 15 tahun 2006 adalah sebagai
berikut :

a. BPK terdiri dari 9 orang yaitu satu orang ketua merangkap anggota, satu orang wakil
ketua merangkap anggota dan tujuh orang anggota. Anggota BPK menjabat selama 5
tahun dan hanya dapat menjabat selama dua periode.
b. Ketua dan wakil ketua BPK dipilih dari dan oleh anggota.
c. Untuk melakanakan tugasnya BPK dibantu oleh Pelaksana BPK yang terdiri dari
Sekretariat Jenderal, Unit Pelaksana Tugas Pemeriksaan, Unsur Penunajgn, Perwakilan
BPK, dan pejabat lain sesuai dengan kebutuhan.
d. Pelaksanaan tugas dan fungsi BPK sepenuhnya dibiayai dari APBN yang besarnnya
ditetapkan oleh DPR.
e. Pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara di lingkungan BPK diperiksa oleh
kantor akuntan publik yang ditunjuk oleh DPR atas usul Menteri Keuangan.

E. Kedudukan dan Wewenang BPK


BPK setelah amandemen UUD 1945 Lembaga Negara/Penyelenggara. Wewenang BPK :

a. Menentukan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan,


menentukan waktu dan metode pemeriksaan serta menyajikan laporan pemeriksaan.
b. Meminta keterangan dan/atau dokumen yang wajib diberikan oleh setiap orang dan
atau unit organisasi yang mengelola keuangan negara.
c. Menetapkan standar pemeriksaan keuangan negara dan kode etik pemeriksaan.
d. Menilai dan/atau menetapkan jumlah kerugian negara yang diakibatkan oleh perbuatan
melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dilakukan oleh bendahara dan/atau
pengelola keuangan negara.
e. Memberikan keterangan ahli dalam proses peradilan mengenai keuangan
Kewenangan BPK dalam melakukan audit terdiri atas seluruh kekayaan negara tanpa
kecuali penafsiran BPK secara luas atas kewenangannya dalam melakukan pemeriksaan
dilegitimasi oleh perubahan ketiga UUD 1945 terutama pasal 23E, 23F dan 23G.yang
berbunyi sebagai berikut:

a. Pasal 23E (1) untuk memeriksa dan tanggungjawab tentang keuangan negara
diadakansuatu badan pemeriksa keuangan yang bebas dan mandiri. (2) hasil
pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada DPR, DPD, DPRD sesuai dengan
kewenangannya.(3) hasil pemeriksaan tersebut ditindak lanjuti oleh lembaga
perwakilan dan atau badan sesuai dengan Undang-undang.
b. Pasal 23F berbunyi (1) Anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan
pertimbangan DPD dan diresmikan oleh presiden.(2) pimpinan BPK dipilih dari dan
oleh anggota.
c. Pasal 23G berbunyi (1) BPK berkedudukan di ibu kota negara, dan memiliki
perwakilan di tiap provinsi. (2) ketentuan lebih lanjut tentang BPK diatur dalam
Undang-undang.
KONSEPSI AUDIT EKSTERNAL PEMERINTAH

Sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara, pasal 30 dan 31 menyatakan bahwa Presiden menyampaikan rancangan undang-undang
tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada DPR berupa laporan keuangan yang
telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambat-lambatnya enam bulan setelah
tahun anggaran berakhir. Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi Laporan
Realisasi APBN, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan yang dilampiri
dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. Seperti halnya untuk pemerintah
pusat, untuk kalangan pemerintah daerah, Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan rancangan
peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan
keuangan yang telah diperiksa oleh BPK.

Bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD harus disusun dan
disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang disusun oleh suatu komite
standar yang independen dan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah setelah terlebih dahulu
mendapat pertimbangan dari BPK. Pasal 33 undang-undang tersebut mengamanatkan bahwa
pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara diatur dalam undang-
undang tersendiri.

Sebagai implementasi amanat undang-undang tersebut, pemeriksaan (audit) oleh BPK


diatur lebih lanjut dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pasal 2 ayat (1) undang-undang tersebut
menyatakan bahwa pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan oleh BPK meliputi
pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara dan pemeriksaan atas tanggung jawab keuangan
negara.

Hal-hal yang mengatur secara rinci tentang BPK diatur dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Dalam undang-undang
tersebut antara lain diatur tentang kedudukan dan keanggotaan, tugas dan wewenang BPK,
pemilihan dan pemberhentian anggota dan pemimpin BPK, hak keuangan/administratif dan
protokoler, tindakan kepolisian, kekebalan, larangan, kode etik, kebebasan, kemandirian dan
akuntabilitas, pelaksana BPK, anggaran, dan ketentuan pidana bagi anggota BPK yang
memperlambat atau tidak melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung unsur pidana,
termasuk penyalahgunaan kewenangan.

Sumber hukum dari kewenangan BPK untuk memeriksa keuangan negara tersebut adalah
Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 23 E UUD 1945
menyebutkan bahwa untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara
diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri. Hasil pemeriksaan keuangan
negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD),
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sesuai dengan kewenangannya. Hasil
pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai dengan
undang-undang.

Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa di kalangan pemerintah, audit yang dilaksanakan
oleh BPK menunjukkan bahwa audit dilaksanakan oleh auditor di luar organisasi pemerintah.
Organisasi pemerintah, pada dasarnya ada tiga lapisan, yakni pemerintah pusat yang dalam
operasionalnya tergambar pada adanya APBN, pemerintah provinsi ada APBD Provinsi, dan
pemerintah kabupaten/kota yang ada APBD Kabupaten/Kota. Penanggung jawab APBN adalah
presiden dan memertanggungjawabkannya kepada DPR. Di tingkat provinsi, penanggung jawab
APBD-nya adalah gubernur yang dan memertanggungjawabkannya kepada DPRD Provinsi.
Selanjutnya, di tingkat kabupaten/kota, penanggung jawab APBD Kabupaten/Kota adalah
bupati/walikota dan memertanggungjawabkannya kepada DPRD Kabupaten/Kota.

Baik pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota, laporan pertanggungjawabannya


berupa laporan keuangan yang sebelum disampaikan kepada DPR/DPRD terlebih dahulu
diperiksa/diaudit oleh BPK. Pemeriksaan oleh BPK yang keberadaannya di luar pemerintah
menunjukkan bahwa auditnya dilakukan oleh pihak eksternal. Dengan demikian maka BPK
merupakan auditor eksternal.
Jika kita perhatikan, audit BPK terhadap laporan keuangan atau laporan
pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN/APBD ditujukan untuk menilai hasil akhir dari
pengelolaan keuangan pemerintah. Tujuan auditnya adalah untuk menilai apakah laporan
keuangan telah sesuai dengan:

1. standar standar akuntansi pemerintah dan


2. kinerja pemerintah telah sesuai dengan yang diharapkan secara ekonomis, efisien, dan
efektif. Di luar kedua jenis audit tersebut, BPK juga melakukan audit lain sebagaimana
dikelompokkan sebagai audit dengan tujuan tertentu.

Pemeriksaan BPK dilakukan sesuai dengan standar pemeriksaan. Dalam penulisan laporan
hasil pemeriksaan, BPK selalu menyatakan di dalam laporannya bahwa pemeriksaan telah
dilakukan sesuai dengan standar pemeriksaan. Standar pemeriksaan merupakan patokan bagi
para pemeriksa dalam melakukan tugas pemeriksaannya. Standar pemeriksaan BPK diatur dalam
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2007 tentang
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara. Standar pemeriksaan yang dimaksud antara lain
mengatur:

1. tanggung jawab manajemen entitas yang diperiksa;


2. tanggung jawab pemeriksa; dan
3. tanggung jawab organisasi pemeriksa dalam setiap pelaksanaan tugas pemeriksaan.

BPK, baik sebagai institusi pemeriksa maupun para pemeriksanya, dalam melaksanakan
penugasan pemeriksaan juga wajib menaati kode etik. Untuk ini setiap anggota BPK dan
pemeriksanya wajib:

a. mematuhi peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku;


b. mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan;
c. menjunjung tinggi independensi, integritas dan profesionalitas; dan
d. menjunjung tinggi martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas BPK. Kode etik yang
berlaku di BPK diatur dalam Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
Nomor 2 Tahun 2007 tentang Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.
PERSAMAAN ANTARA AUDIT EKSTERNAL DAN AUDIT INTERNAL
PEMERINTAH

Dari uraian pada bab-bab terdahulu dapat diketahui beberapa persamaan antara audit
eksternal dan audit internal di kalangan pemerintah. Beberapa persamaan tersebut, keduanya
sama-sama:

1. melakukan pembandingan antara fakta-fakta yang dijumpai di pihak auditi dengan


kriterianya;
2. bertujuan untuk memberikan rekomendasi guna perbaikan operasi manajemen auditi;
3. dilakukan oleh orang-orang yang kompeten;
4. berpedoman pada standar audit; dan
5. perilaku auditornya harus taat pada kode etik profesi. Di bawah ini diuraikan beberapa
persamaan tersebut.

Untuk auditor eksternal yang melakukan audit atas kewajaran laporan keuangan, jika
laporan keuangan telah disusun sesuai dengan standar akuntansinya, auditor memberi opini wajar
tanpa pengecualian. Hal ini menunjukkan bahwa praktik manajemen dalam menyusun laporan
keuangan telah baik dan dapat diteruskan untuk periode berikutnya. Sebaliknya jika laporan
keuangan tidak sesuai dengan standar akuntansi secara material atau signifikan, berarti
manajemen telah salah dalam menerapkan standar tersebut. Dalam hal ini auditor memberi opini
tidak wajar. Jika keadaannya demikian, maka manajemen harus melakukan perbaikan dalam
penyususunan laporan keuangan.

Auditor internal yang melakukan audit kinerja akan menemukan kenyataan apakah auditi
telah melaksanakan program dan atau kegiatannya secara ekonomis, efisien, dan efektif (3E).
Jika auditi telah memenuhi tiga aspek tersebut, berarti auditi telah melaksanakan tugas dan
fungsinya secara baik. Jika demikian, auditor tidak perlu menyampaikan temuan dan
rekomendasi untuk perbaikannya. Dengan demikian auditi dapat meneruskan pelaksanaan
program dan kegiatannya pada periode berikutnya. Namun jika auditor masih menemukan
kekurangan pada salah satu atau seluruh aspek 3E tersebut, berarti auditi dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsinya masih ada kekurangan. Untuk ini auditor menyampaikan temuan
disertai dengan rekomendasinya.
a. Bertujuan Memberikan Rekomendasi untuk Perbaikan
Nilai tambah yang dapat diberikan oleh auditor dan sangat bermanfaat bagi auditi
adalah temuan dan rekomendasinya. Dengan adanya rekomendasi sebagaimana diuraikan
di atas, auditi dapat melakukan perbaikan. Tanpa temuan audit, mungkin penyimpangan
yang ada tidak diketahui oleh manajemen auditi. Hal ini dapat terjadi karena rutinitasnya,
manajemen auditi tidak dapat mengenali kekurangan yang ada pada lembaganya sendiri.
Sebaliknya, dengan melakukan audit secara profesional dan independen, auditor akan
mampu mengenali kekurangan-kekurangan yang ada.
b. Dilakukan oleh Orang-Orang yang Kompeten
Baik audit eksternal maupun internal, semuanya dilakukan oleh orang-orang yang
kompeten, profesional, dan independen. Standar 2200 dari standar audit APIP
mensyaratkan bahwa auditor harus mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan
kompetensi lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Standar
pemeriksaan BPK juga menyatakan bahwa Pemeriksa secara kolektif harus memiliki
kecakapan profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas pemeriksaan.
c. Berpedoman pada Standar Audit
Baik audit eksternal maupun internal, auditornya dalam melaksanakan tugas audit
harus selalu berpedoman pada ketentuan yang diatur dalam standar audit. Pada dasarnya,
auditor dalam melaksanakan audit harus menerapkan berbagai prosedur yang sesuai
dengan keadaannya. Seluruh prosedur yang ditempuh harus dalam rangka meyakinkan
bahwa fakta-fakta memang sesuai dari kriterianya, atau sebaliknya. Dengan standar yang
demikian, maka simpulan, temuan, dan hal-hal penting yang dijumpai auditor dapat
diandalkan kebenarannya.
d. Taat pada Kode Etik Profesi
Tentang independensi auditor, kode etik BPK menyatakan bahwa Untuk
menjamin independensi dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, pemeriksa wajib:

1. bersikap netral dan tidak memihak;


2. menghindari terjadinya benturan kepentingan dalam melaksanakan kewajiban
profesionalnya;
3. menghindari hal-hal yang dapat memengaruhi independensinya;
4. memertimbangkan informasi, pandangan, dan tanggapan dari pihak yang
diperiksa dalam menyusun opini atau laporan pemeriksaan; dan (e) bersikap
tenang dan mampu mengendalikan diri.

Senada dengan kode etik BPK, untuk APIP kewajiban independensi diatur dalam
Kode Etik APIP yang diterbitkan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
Kode etik tersebut menetapkan hal-hal yang seharusnya dilakukan dalam setiap
melaksanakan penugasan audit. Setiap terjadi pelanggaran terhadap kode etik, auditor
dikenakan sanksi.

PERBEDAAN ANTARA AUDIT EKSTERNAL DAN AUDIT INTERNAL


PEMERINTAH

Dari uraian pada bab-bab terdahulu diketahui ada dua perbedaan antara audit eksternal dan
audit internal di kalangan pemerintah. Dua perbedaan tersebut berkaitan dengan: (a) pelaksana
auditnya; dan (b) strategi pelaksanaannya. Di bawah ini diuraikan perbedaan-perbedaan tersebut.

A. Perbedaan Pelaksana Auditnya


Perbedaan yang paling mudah dilihat antara audit eksternal dan audit internal di
lingkungan pemerintah adalah pelaku auditnya. Seperti telah diuraikan di atas, audit
eksternal dilakukan oleh auditor dari luar organisasi auditi, sedangkan audit internal
dilakukan oleh auditor dari dalam organisasi auditi. Secara mudah dapat dikemukakan
bahwa jika auditornya adalah BPK, maka audit tersebut adalah audit eksternal. Sedangkan
jika auditornya adalah inspektorat jenderal atau nama lain, maka audit tersebut adalah audit
internal.
Termasuk di dalam audit internal adalah audit pada institusi pemerintah oleh BPKP.
Sekalipun BPKP tidak berada pada organisasi kementerian, lembaga, atau pemerintah
daerah, namun BPKP berada di lingkungan pemerintah, yakni di bawah presiden. Dengan
demikian audit yang dilakukan oleh BPKP masih tergolong audit internal.

B. Perbedaan Strategi Pelaksanaannya


Perbedaan kedua antara audit eksternal dan audit internal di lingkungan pemerintah
adalah dalam strategi pelaksanaan auditnya. Yang dimaksud strategi pelakssanaan audit di
sini lebih cenderung berkaitan dengan penetapan sasaran auditnya. Sasaran audit dari
auditor internal lebih bersifat pembenahan dari dalam organisasi, dilakukan selama proses
kegiatan berlangsung, sebelum terjadi penyimpangan. Sedangkan audit eksternal
memberikan penilaian akhir atas hasil-hasil yang telah dicapai oleh auditi. Audit eksternal
menilai output terhadap hasil kegiatan auditi, sedangkan internal membantu manajemen,
baik sebelum, selama, maupun setelah kegiatan dilakukan.
Seperti telah dikemukakan di atas, audit internal dapat dilakukan dalam bentuk audit,
reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas
dan fungsi organisasi. Seluruh jasa yang diberikan oleh auditor internal ditujukan untuk
memberikan keyakinan memadai bahwa kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan tolok
ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam
mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Dengan demikian audit internal ikut membantu
manajemen untuk memberikan jaminan bahwa target-target kinerja yang telah ditetapkan
dapat tercapai secara 3E.
PERAN AUDIT INTERNAL (APIP) DAN AUDIT EKSTERNAL

APIP sebagai PENJAMIN MUTU (quality assurance)

a. audit;

b. reviu;

c. evaluasi;
Audit
d. pemantauan; dan Ekstern

Outcome

Input Proses
Output

PEMETAAN WILAYAH-PENGAWASAN BERBASIS RISIKO

1. HAS* 2. SKP* 3. IM* 4. HES* **

Anda mungkin juga menyukai