Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Taman Kota adalah salah satu perwujudan dari ruang terbuka kota yang sangat penting
untuk tempat mengfasilitasi publik. Banyak fungsi dari adanya Taman Kota seperti peresapan air
untuk mengurangi polusi di lingkungan Kota dan menghasilkan oksigen yang merupakan
kebutuhan utama manusia bertahan hidup. Salah satu manfaat didirikan taman di dalam kota
untuk memperindah tampilan suatu kota, memberikan efek kesehatan untuk masyarakat yang
berolahraga, berekreasi bersama keluarga tanpa menempuh jarak yang jauh untuk menikmati
hijaunya alam dan memiliki fungsi sosial untuk warga bersosialisasi sehingga terciptanya
kehidupan harmonis dan memfasilitasi masyarakat untuk beraktifitas atau berkreatifitas diruang
terbuka.

Saat ini, "Pak Wali Kota Palu Hidayat dalam pertemuan dengan seluruh lurah dan camat usai
pelaksanaan PPN meminta agar soki-soki (pondok, red.) yang dibangun di lokasi objek wisata itu
menjadi tanggung jawab semua pihak terkait," kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kota Palu Arsid Nurdin di Palu, Senin.

Selain Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palu, pengelolaan maupun pemeliharaan pondok-
pondok itu juga oleh setiap kelurahan.

Mereka yang membangun soki-soki berjumlah 46 unit adalah pihak kelurahaan. Semua bahan

1
baku untuk membangun soki-soki yang telah dicanangkan Pemkot Palu sebagai "Kampung
Kaili" di kawasan wisata tersebut, terdiri atas bambu, rotan, dan atap pohon sagu.

"Kampung Kaili" telah menjadi ikon pariwisata bukan saja Kota Palu, tetapi Provinsi Sulteng.

Wali Kota Palu Hidayat, kata Arsid, berulang kali meminta kepada semua pihak terkait untuk
menjaganya dengan baik.

Ia mengatakan masyarakat Kota Palu juga ikut memelihara fasilitas itu agar "Kampung Kaili"
menjadi aset daerah, bahkan nasional yang diharapkan menjadi objek wisata budaya yang akan
banyak dikunjungi wisatawan, termasuk dari mancanegara.

Ia mengatakan setelah PPN II yang berlangsung bersamaan dengan Pekan Budaya Indonesia
(PBI) III, setiap hari pagi dan malam tempat itu masih diserbu warga.

Warga Kota Palu antusias mengunjungi "Kampung Kaili" yang cukup unik karena selain bahan
bangunan menggunakan bahan alam dan tradisional, juga lokasinya berhadapan langsung dengan
Teluk Palu.

Untuk pengelolaan, Pemkot Palu berharap pihak kelurahan, yakni PKK, memanfaatkan sebagai
tempat menjual berbagai kuliner tradisional.

"Jadi semua kuliner yang dijual merupakan makanan/minuman tradisional khas Kaili," kata
Arsid.

Setelah taman kota direvitalisasi dan diresmikan menjadi taman tematik, remaja Palu hanya
mengetahui taman yang sering dilewati, sebagian besar remaja yang datang ke taman masih
belum mengetahui pengetahuan tentang taman tematik, belum mengetahui secara keseluruhan
lokasi taman taman tematik yang sudah diresmikan meliputi karakter taman didalamnya,
kurangnya kepedulian remaja terhadap memelihara kelestarian tanaman dan sarana prasarana,
bisa dalam bentuk mencorat coret bangunan atau tanaman, membuang sampah pada tempat
yang bukan jenisnya (organik dan non-organik), kurangnya pengetahuan remaja terhadap apa
manfaat elemen di dalam taman tersebut. Oleh karena itu sarana

prasarana taman tematik sebagai fasilitas publik belum dimanfaatkan secara keseluruhan oleh
remaja Palu beraktifitas.
Taman Tematik Palubelum menjadi daya tarik seluruh Remaja Palu, karena taman kota memiliki
pesaing seperti restoran yang bangunannya berkonsep taman. Gaya hidup sehari - hari remaja
saat ini dianggap lebih unggul berdasarkan seberapa sering mengunjungi pusat perbelanjaan atau
kuliner, hal ini terbentuk karena kemajuan kota. Padahal dalam kenyataannya, beraktifitas
diruang terbuka itu sangat mempengaruhi kualitas hidup sehat, meningkatkan kreatifitas pribadi
seseorang ketika berinteraksi langsung dengan alam yang saling membutuhkan dengan manusia.

2
Saat ini ketertarikan remaja memiliki dunianya sendiri, seperti dunia maya atau media online
bisa diakses dimana saja, sehingga sarana dan prasarana taman kota kurang dimanfaatkan. Gaya
hidup seperti ini menyebabkan seseorang mengabaikan kepedulian terhadap lingkungan, banyak
remaja yang tidak mengetahui fasilitas Taman Tematik yang seharusnya dimanfaatkan untuk
beraktifitas serta ikut serta memelihara kelestarian kota. Dibutuhkan upaya untuk
memberitahukan adanya program taman tematik kepada remaja yang belum mengetahui dan
mengajak untuk ikut berperan terhadap kelestarian Taman Tematik.

2. IdentifikasiMasalah

Berikut merupakan identifikasi masalah yang didapatkan dari latar belakang di atas, beberapa
identifikasi tersebut yakni :

1. Apa itu RT , RTH ?


2. Taman Tematik kampong kaili belum dikenal seluruh remaja kota Bandung
3. Penambahan fasilitas Taman Tematik belum dimanfaatkan seluruh remaja

kota Palu beraktifitas

4. Taman Tematik masih terancam oleh pengunjung yang kurang peduli

untuk memelihara elemen elemen taman

5. Lokasi taman Tematik belum diketahui seluruh remaja kota Palu

3. Rumusan masalah
Dilihat dari identifikasi identifikasi di atas, hasil rumusan masalah dapat disimpulkan :
Bagaimana memberikan informasi tentang adanya taman di Palu dan mengajak ikut memelihara
elemen taman kepada seluruh masyarakat di Palu ?

Diperoleh hasil yang bisa menjadi kesimpulan sementara bahwa masih banyak sarana dan
prasarana Taman Tematik yang belum diketahui remaja Bandung yang dapat dimanfaatkan
untuk beraktifitas, lokasi Taman Tematik masih belum diketahui seluruh remaja Bandung, dan
taman kota masih diduga banyak pengemis dan orang tidak waras berkeliaran yang membuat
remaja kurang nyaman. Sehingga Taman Tematik kurang dipilih remaja untuk beraktifitas
diruang terbuka dan lebih memilih beraktifitas di pusat perbelanjaan.

4. Pembatasan masalah
Penelitian makalah hanya dilakukan di Taman Tematik yang sudah diresmikan, diantaranya
Taman kampong kaili kota Palu.

3
BAB II
PEMBAHASAN

1. Ruang Terbuka
Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari ruang terbuka
hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan adalah bagian dari
ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman
dan vegetasi (endemik maupun introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan
arsitektural yang dapat memberikan manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi masyarakatnya. Ruang
terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru
(RTB) yang berupa permukaan sungai, danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan sebagai
genangan retensi. Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami yang berupa habitat liar
alami, kawasan lindung dan taman-taman nasional, maupun RTH non-alami atau binaan yang
seperti taman, lapangan olah raga, dan kebun bunga. Secara ekologis RTH dapat meningkatkan
kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara, dan menurunkan temperatur kota.
Bentuk-bentuk RTH perkotaan yang berfungsi ekologis antara lain seperti sabuk hijau kota, hutan
kota, taman botani, sempadan sungai dll. Secara sosial-budaya keberadaan RTH dapat
memberikan fungsi sebagai ruang interaksi sosial, sarana rekreasi, dan sebagai tetenger kota yang
berbudaya. Bentuk RTH yang berfungsi sosial-budaya antara lain taman-taman kota, lapangan
olah raga, kebun raya, TPU dan sebagainya.
Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk
untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan
transportasi, selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan juga menyita
lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya. Hal ini umumnya merugikan
keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Di lain pihak,
kemajuan alat dan pertambahan jalur transportasi dan sistem utilitas, sebagai bagian dari
peningkatan kesejahteraan warga kota, juga telah menambah jumlah bahan pencemar dan telah
menimbulkan berbagai ketidak nyamanan di lingkungan perkotaan. Untuk mengatasi kondisi
lingkungan kota seperti ini sangat diperlukan RTH sebagai suatu teknik bioengineering dan
bentukan biofilter yang relatif lebih murah, aman, sehat, dan menyamankan.

4
Ruang-ruang kota yang ditata terkait dan saling berkesinambungan ini mempunyai
berbagai pendekatan dalam perencanaan dan pembangunannya. Tata guna lahan, sistem
transportasi, dan sistem jaringan utilitas merupakan tiga faktor utama dalam menata ruang kota.
Dalam perkembangan selanjutnya, konsep ruang kota selain dikaitkan dengan permasalahan utama
perkotaan yang akan dicari solusinya juga dikaitkan dengan pencapaian tujuan akhir dari suatu
penataan ruang yaitu untuk kesejahteraan, kenyamanan, serta kesehatan warga dan kotanya.

2. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Secara historis pada awalnya istilah ruang terbuka hijau hanya terbatas untuk vegetasi
berkayu (pepohonan) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari lingkungan kehidupan manusia.
Danoedjo (1990) dalam Anonimous (1993) menyatakan bahwa ruang terbuka hijau di wilayah
perkotaan adalah ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas, dimana didominasi oleh tanaman
atau tumbuh-tumbuhan secara alami. Ruang terbuka hijau dapat dikelompokkan berdasarkan letak
dan fungsinya sebagai berikut :

ruang terbuka kawasan pantai (coastal open space);


ruang terbuka di pinggir sungai (river flood plain);
ruang terbuka pengaman jalan bebas hambatan (greenways);

5
ruang terbuka pengaman kawasan bahaya kecelakaan di ujung landasan Bandar Udara.

Berdasarkan fungsi dan luasan, ruang terbuka hijau dibedakan atas :

Ruang terbuka makro, mencakup daerah pertanian, perikanan, hutan lindung, hutan kota,
dan pengaman di ujung landasan Bandar Udara;
Ruang terbuka medium, mencakup pertamanan kota, lapangan olah raga, Tempat
Pemakaman Umum (TPU);
Ruang terbuka mikro, mencakup taman bermain (playground) dan taman lingkungan
(community park).

Haryadi (1993) membagi sistem budidaya dalam ruang terbuka hijau dengan dua sistem
yaitu sistem monokultur dan sistem aneka ragam hayati. Sistem monokultur hanya terdiri dari satu
jenis tanaman saja, sedang sistem aneka ragam hayati merupakan sistem budidaya dengan
menanam berbagai jenis tanaman (kombinasi antar jenis) dan dapat juga kombinasi antar flora dan
fauna, seperti perpaduan antaran taman dengan burung-burung merpati. Banyak pendapat tentang
luas ruang terbuka hijau ideal yang dibutuhkan oleh suatu kota.

Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB) melalui World Development Report (1984)


menyatakan bahwa prosentase ruang terbuka hijau yang harus ada di kota adalah 50% dari luas
kota atau kalau kondisi sudah sangat kritis minimal 15% dari luas kota. Direktorat Jendral Cipta
Karya Departemen Pekerjaan Umum, menyatakan bahwa luas ruang terbuka hijau yang
dibutuhkan untuk satu orang adalah 1,8 m2. Jadi ruang terbuka hijau walaupun hanya sempit atau
dalam bentuk tanaman dalam pot tetap harus ada di sekitar individu. Lain halnya jika ruang terbuka
hijau akan dimanfaatkan secara fungsional, maka luasannya harus benar-benar diperhitungkan
secara proporsional.
RTH perkotaan mempunyai manfaat kehidupan yang tinggi. Berbagai fungsi yang terkait
dengan keberadaannya (fungsi ekologis, sosial, ekonomi, dan arsitektural) dan nilai estetika yang
dimilikinya (obyek dan lingkungan) tidak hanya dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan
untuk kelangsungan kehidupan perkotaan tetapi juga dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas
kota. Untuk mendapatkan RTH yang fungsional dan estetik dalam suatu sistem perkotaan maka
luas minimal, pola dan struktur, serta bentuk dan distribusinya harus menjadi pertimbangan dalam
membangun dan mengembangkannya. Karakter ekologis, kondisi dan ke-inginan warga kota, serta

6
arah dan tujuan pembangunan dan perkembangan kota merupakan determinan utama dalam
menentukan besaran RTH fungsi-onal ini.
Keberadaan RTH penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas
lingkungan. Pengendalian pembangunan wilayah perkotaan harus dilakukan secara proporsional
dan berada dalam keseimbangan antara pembangunan dan fungsi-fungsi lingkungan. Kelestarian
RTH suatu wilayah perkotaan harus disertai dengan ketersediaan dan seleksi tanaman yang sesuai
dengan arah rencana dan rancangannya.

3. Fungsi Ruang Terbuka Hijau

Tanaman secara fisiologis bersifat menetralisir keadaan lingkungan yang berada di bawah
daya tampung lingkungan. Kemampuan ini dapat berasal dari kerja fotosintesis yang dapat
menyerap polutan udara; melalui proses evapotranspirasi dapat menyimpan air hujan sebagai
imbuhan untuk air tanah; sedangkan aroma yang dikeluarkan tanaman, maupun bentuk fisik
tanaman (bentuk tajuk dan pilotaxy batang yang khas) secara tidak langsung bermanfaat untuk
melindungi lingkungan dari terik matahari atau mencegah erosi dan sedimentasi. Dengan
kemampuan tersebut, maka tanaman dalam ruang terbuka hijau memiliki fungsi sebagai berikut :

- Ameliorasi iklim artinya dapat mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro. Ruang terbuka
hijau menghasilkan O2 dan uap air (H2O) yang menurunkan serta menyerap CO2 yang bersifat

7
gas rumah kaca sehingga dapat menaikkan suhu udara dan berpengaruh pada iklim mikro
setempat.
- Memberikan perlindungan terhadap terpaan angin kencang dan meredam suara. Karena
Tanaman berfungsi sebagai pematah angin (windbreak) dan peredam suara (soundbreak).
- Memberikan perlindungan terhadap terik sinar matahari. Kehadiran tanaman dalam ruang
terbuka hijau akan mengintersepsi dan memantulkan radiasi matahari untuk fotosintesis dan
transpirasi sehingga di bawah tajuk akan terasa lebih sejuk.
- Memberikan perlindungan terhadap asap dan gas beracun, serta penyaring udara kotor dan
debu.
- Mencegah erosi karena rsitektur tanaman (pilotaxi) berupa pohon akan mempengaruhi sifat
aliran batang (steam flow) air hujan yang tertampung oleh tajuk, sehingga dapat mempengaruhi
tata air dan erosi lahan.
- Merupakan sarana penyumbang keindahan dan keserasian antara struktur buatan manusia
secara alami.
- Ruang terbuka hijau berfungsi secara tidak langsung untuk memperbaiki tingkat kesehatan
masyarakat.
- Membantu peresapan air hujan sehingga memperkecil erosi dan banjir serta membantu
penanggulangan intrusi air laut. Tanaman dalam ruang terbuka hijau yang diperuntukkan untuk
mencegah intrusi air laut adalah jenis tanaman yang berkemampuan dalam menyerap,
menyimpan, dan memasok air. Sebagai sarana rekreasi dan olah raga.
- Tempat hidup dan berlindung bagi hewan dan pakan mikroorganisme.
- Sebagai tempat konservasi satwa dan tanaman lain.
- Sarana penelitian dan pendidikan.
- Sebagai pelembut, pengikat, dan pemersatu bangunan.
- Meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar ruang terbuka hijau, apabila jenis tanaman yang
ditanam bernilai ekonomi.
- Sarana untuk bersosialisasi antar warga masyarakat.
- Sebagai media pengaman antar jalur jalan.

Sesuai instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruang
Terbuka Hijau di wilayah perkotaan memuat hal-hal sebagai berikut :

8
1. Merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan penyelenggaraan ruang terbuka hijau
di kota sesuai dan tertuang dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) kota masing-
masing.

2. Bagi daerah yang telah memiliki Ruang Terbuka Hijau, maka harus mengadakan
penyesuaian dengan peraturan instruksi ini.
3. Melaksanakan pengelolaan dan pengendalian fungsi serta peranan Ruang Terbuka Hijau
dengan melarangnya untuk penggunaan dan peruntukan ruang yang lain.
4. Melaksanakan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau untuk mencapai pembangunan
berwawasan lingkungan.

4. Solusi Masalah Informasi Taman Tematik

Dalam penelitian (antarasulteng.com) telah dilakukan metode survey yang dimulai pada tanggal
01 Oktober 2017 sampai 02 Oktober 2017 dengan jumlah responden 60 orang yang 80% nya
adalah remaja di kota Palu. Dari hasil diperoleh maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
masyarakat di kota Palu khususnya remaja hanya mengetahui taman yang pernah dikunjungi dan
tidak tahu apa itu Taman Tematik dan arti dari setiap elemen didalamnya. Penelitian ini
dikhususkan pada taman kota yang sudah direvitalisasi menjadi taman tematik. Masyarakat
menganggap taman taman tematik kurang sarana untuk berteduh disaat hujan, serta kurang
informasi seputar sejarah atau makna setiap karakter yang ada di taman taman Tematik sebagai
pengetahuan umum pengunjung. Masyarakat di kota Palu hanya sekedar mengetahui lokasi
taman yang sekitar tempat tinggal atau yang sering dilewati oleh arus kendaraan, tetapi belum
mengunjungi taman taman yang sudah direvitalisasi lainnya.
Dari hasil analisa, Taman Tematik Palu harus disosialisasikan kembali, untuk memberitahukan
adanya program Taman Tematik dari Wali Kota Palu

kepada masyarakat khususnya remaja, untuk memberitahukan adanya revitalisasi sarana &
prasaran taman kota untuk mendukung kegiatan remaja berkreatifitas, diharapkan menumbuhkan
rasa kepedulian remaja terhadap alam dan memberitahukan tentang pentingnya menerapkan pola
hidup sehat dan memberitahukan akibat dari kurangnya peran masyarakat dalam memelihara
taman kota.

Meningkatkan pengunjung taman tematik Palu, diharapkan kesadaran dari remaja untuk lebih
menerapkan pola aktifitas yang lebih sehat pada kehidupan sehari hari di ruang
terbuka.Menyebarluaskan kesadaran masyarakat khususnya para remaja akan dampak dari segi
kesehatan, manfaat beraktifitas di taman tematik diharapkan dapat mewujudkan kembali kota
Palu yang bersih, hijau dan berbunga, selain itu, dengan banyaknya taman kota diharapkan dapat
membuat kota yang sehat seperti remaja yang berinteraksi dan berkreatifitas di taman.

Diperlukan sebuah media informasi melalui website tentang Taman Tematik di Palu. untuk
memberikan informasi tentang Taman Tematik kepada remaja kota Palu khususnya para pemuda
yang secara tidak langsung untuk mengajak melestarikan taman taman Tematik di Palu.

9
5. Upaya Peningkatan Kualitas dan Kuantitas RTH

a. Ruang terbuka hijau sebaiknya ditanami pepohonan yang mampu mengurangi polusi
udara secara signifikan.. Menurut penelitian di laboratorium,pohon yang baik di tanam
adalah pohon felicium, mahoni, kenari, salam, perdu dan anting anting. Upaya yang
penanaman bisa pula dilakukan warga kota di halaman rumah masing-masing. Dengan
penanaman pohon atau tanaman perdu tadi, selain udara menjadi lebih sejuk, polusi udara
juga bisa dikurangi. Untuk menutupi kekurangan tempat menyimpan cadangan air tanah,
setiap keluarga bisa melengkapi rumahnya, yang masih memiliki sedikit halaman, dengan
sumur resapan. Sumur resapan merupakan sistem resapan buatan yang dapat menampung
air hujan, baik dari permukaan tanah maupun dari air hujan yang disalurkan melalui atap
bangunan. Bentuknya dapat berupa sumur, kolam dengan resapan, dan sejenisnya.
Pembuatan sumur resapan ini sekaligus akan mengurangi debit banjir dan genangan air di
musim hujan. Salah satu contoh upaya yang baik untuk mengembalikan kualitas dan
kuantitias RTH yang dapat diterapkan di lingkungan permukiman adalah beberapa
kebijaksanaan perencanaan oleh pemerintah.

10
6. Taman kota masih terancam oleh pengunjung yang kurang untuk peduli kenyamanan di
dalam taman sangat kontras dengan kondisi di luar taman. Kendaraan pengunjung diparkir di bahu
jalan sehingga mengganggu pengguna jalan. Kemacetan pun tak terhindarkan.

Taman Kampung Kaili berbatasan jembatan kuning dan lingkar Jalan Rajamoili langsung , jalan
ini kerap macet karena bahu jalannya digunakan untuk parkir kendaraan pengunjung.

Tak hanya kemacetan, menjamurnya pedagang kaki lima (PKL) di trotoar juga membuat kondisi
di luar taman semakin semrawut. Padahal, terdapat sejumlah spanduk peringatan mengenai
larangan bagi PKL berjualan di sekitar taman.

Masalah serupa juga terjadi di taman kota lain, yaitu Taman Vatulemo di Jalan jl. Prof. Moh.
Yamin, taman ini juga ramai dikunjungi, terutama anak-anak. Sesuai dengan namanya, taman ini
dilengkapi dengan berbagai alat olaraga.

Masalah kendaraan pengunjung yang diparkir sembarangan di bahu jalan juga ditemui di taman
ini. Pedagang asongan juga marak berjualan di trotoar taman. Akibatnya, aktivitas pengguna
jalan yang melintas di sekitar taman terganggu.

Tidak hanya Taman Vatulemo dan Taman anjungan yang minim lokasi parkir. Taman tematik
lainnya pun sama. Jika tak dicarikan solusi, keberadaan taman kota berpotensi membuat kondisi
lalu lintas di Kota palu bertambah macet.

Kesadaran bersama

Kesadaran warga sangat dibutuhkan agar keberadaan taman tak menambah lokasi kemacetan di
Kota Palu khususnya.

Masyarakat masih tidak mau dan khawatir jika jauh dari kendaraannya. Jadi, mereka lebih
memilih parkir di lokasi terdekat. Inilah yang membuat kondisi jalan di sekitar taman menjadi
padat.

Solusi kemacetan di Kota palu dapat dikurangi jika warga yang menggunakan kendaraan pribadi
juga berkurang. Untuk itu, kepada masyarakat untuk membuat rencana sebelum berkeliling kota
seperti mengunjungi taman. jikakalau bisa menggunakan satu mobil bersama- sama, kenapa
harus menggunakan dua mobil.

Masyarakat kota palu agar membudayakan berjalan kaki dan menggunakan sepeda. Jika
dilakukam secara massal, langkah ini diyakini cukup efektif mengurangi kendaraan di jalan.

Pembangunan lokasi parkir tetap perlu dilakukan untuk menampung kendaraan pengunjung di
taman kota. Namun, kesadaran bersama untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi secara
berlebihan menjadi jauh lebih penting. Saatnya menjadi warga kota yang cerdas.

11
12
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk
untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan
transportasi, selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan juga menyita
lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya. Hal ini umumnya merugikan
keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Maka dari itu
perlunya keberadaan RTH untuk melestarikan dan menjaga kestabilan lingkungan perkotaan.
Untuk keberhasilan rancangan, penanaman dan kelestariannya maka sifat dan ciri serta
kriteria arsitektural dan hortikultural tanaman dan vegetasi penyusun RTH harus menjadi bahan
pertimbangan dalam menseleksi jenis-jenis yang akan ditanam. RTH perkotaan mempunyai
manfaat kehidupan yang tinggi. Berbagai fungsi yang terkait dengan keberadaannya (fungsi
ekologis, sosial, ekonomi, dan arsitektural) dan nilai estetika yang dimilikinya (obyek dan
lingkungan) tidak hanya dapat dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk kelangsungan
kehidupan perkotaan tetapi juga dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas kota. Untuk
mendapatkan RTH yang fungsional dan estetik dalam suatu sistem perkotaan maka luas minimal,
pola dan struktur, serta bentuk dan distribusinya harus menjadi pertimbangan dalam membangun
dan mengembangkannya.

13
B. Saran

Upaya yang harus dilakukan oleh Pemerintah antara lain adalah:


a. Melakukan revisi UU 24/1992 tentang penataan ruang untuk dapat lebih
mengakomodasikan kebutuhan pengembangan RTH.
b. Menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan (NSPM) untuk peyelenggaraan dan
pengelolaan RTH.
c. Menetapkan kebutuhan luas minimum RTH sesuai dengan karakteristik kota, dan indikator
keberhasilan pengembangan RTH suatu kota.
d. Meningkatkan kampanye dan sosialisasi tentangnya pentingnya RTH melalui gerakan kota
hijau (green cities).
e. Mengembangkan proyek-proyek percontohan RTH untuk berbagai jenis dan bentuk yang
ada di beberapa wilayah kota.

Upaya yang dilakukan masyarakat dan kita semua adalah tetap menjaga kebersihan
lingkungan dan senantiasa mendukung seluruh rencana pemerintah dalam merencanakan
RTH di wilayah kota kita masing-masing.

14
DAFTAR PUSTAKA

Danisworo, M, 1998, Makalah Pengelolaan kualitas lingkungan dan lansekap perkotaan di


indonesia dalam menghadapi dinamika abad XXI.
Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.
Widyastama, R. 1991. Jenis Tanaman Berpotensi untuk Penghijauan Kota.
Yunus, Hadi Sabar, (2005). Manajemen Kota: Perspektif Spasial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
http://rustam2000.wordpress.com/persepsi-masyarakat-terhadap-aspek-perencanaan-ruang-
terbuka-hijau-kota-jakarta/
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/ruang-terbuka-hijau/
http://rustam2000.wordpress.com/ruang-terbuka-hijau/
http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_content&view=article&id=44:adpu4433-
perencanaan-kota&catid=29:fisip&Itemid=74
http://perencanaankota.blogspot.com/2008/09/penyediaan-ruang-terbuka-hijau-rth-pada.html

15