Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam penyeleggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan
potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan
dalam kajian administrasi pendidikan. Komponen pembiayaan dan keuangan pada
tingkat satuan pendidikan merupakn komponen produksi yang menentukan proses
terlaksananya kegiatan-kegiatan proses belajar-mengajar di sekolah bersama
komponen-komponen lain. Dengan kata lain, setiap kegiatan yang dilakukan
sekolah memerlukan biaya, baik disadari maupun tidak.
Komponen keuangan dan pembiayaan ini perlu dikelola sebaik-baiknya agar
dana yang ada dapat dimanfaatan secara optimal untuk menunjang tercapainya
tujuan pendidikan. Hal ini penting, terutama dalam rangka Administrasi di
Sekolah, yang memberikan kewenangan sekolah untuk mencari dan
memanfaatkan berbagai sumber dana sesuai dengan keperluan sekolah.
Disebabkan pada umumnya dunia pendidikan selalu dihadapkan pada masalah
keterbatasan dana. Apalagi dalam berbagai kondisi perekonomian dunia yang
sedang dilanda krisis.
Berdasarkan pemikiran di atas, pengelolaan keuangan pendidikan lebih
difokuskan dalam proses merencanakan alokasi secara teliti dan penuh
perhitungan serta mengawasi pelaksanaan dana, disertai bukti-bukti secara
administratif dan fisik sesuai dengan dana yang dikeluarkan.

B. Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun membuat beberapa rumusan
masalah yang berkaitan dengan judul yang akan kami bahas, diantaranya :
1. Apa pengertian administrasi keuangan dan pembiayaan?
2. Apa yang menjadi standar pembiayaan pendidikan?
3. Bagaimana konsep dasar administrasi keuangan?
4. Apa saja sumber keuangan pendidikan?
5. Apa saja sumber-sumber dana pembiayaan pendidikan?
6. Bagaimana peran tingkat ketersediaan dana penyelenggaraan pendidikan?
7. Apa saja jenis-jenis pengeluaran pendidikan?
8. Apa fungsi dan contoh teknik penyusunan anggaran?
9. Bagaimana pengawasan keuangan pendidikan?

1
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut ;
1. Untuk mengetahui pengertian administrasi pendidikan dan pembiayaan
2. Untuk mengetahui standar pembiayaan pendidikan.
3. Untuk memahami konsep dasar administrasi keuangan
4. Untuk mengetahui sumber keuangan pendidikan
5. Untuk mengetahui sumber-sumber dana pembiayaan pendidikan
6. Untuk mengetahui peran tingkat ketersediaan dana penyelenggaraan
pendidikan
7. Untuk mengetahui jenis-jenis pengeluaran pendidikan
8. Untuk memahami pengawasan keuangan pendidikan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Administrasi Keuangan dan Pembiayaan


Administrasi keuangan sekolah adalah langkah pengolahan keuangan
sekolah mulai dari penerimaan sampai dengan bagaimana
mempertanggungjawabkan keuangan yang digunakan secara obyektif dan
sistematis. Langkah tersebut sangat penting sekali diperhatikan, karena masalah
pembiayaan adalah menjadi sarana vital bagi mati hidupnya suatu organisasi
sekolah (Burhanuddin,1994).
Selain itu Mulyono, MA. berpendapat bahwa administrasi keuangan
sekolah adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan atau
diusahakan secara sengaja dan sungguh-sungguh, serta pembinaan secara kontinu
terhadap biaya operasional sekolah sehingga kegiatan pendidikan lebih efektif dan
efisien serta membantu pencapaian tujuan pendidikan (Mulyono,2009).
Unsur biaya adalah hal yang menentukan dalam mekanisme penganggaran.
Penentu biaya sangat mempengaruhi tingkat efektivitas dan efisiensi lembaga atau
organisasi dalam mencapai tujuan tertentu. Kegiatan yang dilaksanakan dengan
biaya yang rendah dan hasilnya mempunyai kualitas yang baik, maka kegiatan
tersebut dapat dikatakan sebagai kegiatan yang dilaksanakan secara efektif dan
efisien.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa administrasi
keuangan adalah sebuah analisis terhadap sumber-sumber
pendapatan (revenue) dan penggunaan biaya (expenditure) yang diperuntukkan
sebagai pengelolaan pendidikan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai
tujuan yang telah ditentukan (Mulyono,2010).
Pengertian pembiayaan pendidikan adalah upaya pengumpulan dana untuk
membiayai operasional dan pengembangan sektor pendidikan. Pembiayaan
pendidikan yang bersifat budgetair yaitu biaya pendidikan yang diperoleh dan
dibelanjakan oleh sekolah sebagai suatu lembaga. Artinya, biaya-biaya pendidikan
yang bersifat budgetair dan non budgetair termasuk dalam pengertian biaya
pendidikan dalam arti luas. Sedangkan pengertian biaya pendidikan yang bersifat
nonbudgetair yaitu biaya-biaya pendidikan yang dibelanjakan oleh murid, atau
orangtua/keluarga dan biaya kesempatan pendidikan (Nanang Fattah, 2006).
Pembiayaan pendidikan telah diatur dalam UUD Negara Republik Indonesia
1945 (Amandemen IV) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak

3
mendapat pendidikan; setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya; pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan
dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
yang diatur dengan undang-undang; negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) serta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; pemerintah
memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat
manusia.

B. Standar Pembiayaan Pendidikan


Standar pembiayaan mencakup persyaratan minimal tentang biaya satuan
pendidikan, prosedur dan mekanisme pengelolaan, pengalokasian, dan
akuntabilitas penggunaan biaya pendidikan. Standar pembiayaan pendidikan
terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal.
1. Biaya investasi
Biaya investasi adalah biaya penyelenggaraan pendidikan yang
sifatnya lebih permanen dan jangka waktunya melebihi waktu satu tahun
yang pada umumnya berupa sarana dan prasarana, pengembangan
sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap.
Investasi yang menjadi tanggung jawab Pemerintah atau
pemerintah daerah, baik lahan maupun selain lahan, yang menghasilkan
aset fisik dibiayai melalui belanja modal dan/atau belanja barang sesuai
peraturan perundang-undangan.
Biaya investasi lahan satuan pendidikan dasar pelaksana program
wajib belajar, baik formal maupun nonformal, yang diselenggarakan oleh
Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah menjadi tanggung jawab
Pemerintah dan dialokasikan dalam anggaran pemerintah pusat dan
pemerintah daerah.
Pendanaan tambahan di atas biaya investasi lahan yang diperlukan
untuk pemenuhan rencana pengembangan satuan atau program pendidikan
yang diselenggarakan Pemerintah menjadi bertaraf internasional dan
berbasis keunggulan lokal dapat bersumber dari:

4
a.Pemerintah
b.Pemerintah Daerah
c.Masyarakat
d.Bantuan pihak asing yang tidak mengikat
e.Sumber lain yang sah.
Anggaran biaya investasi lahan satuan pendidikan yang
dikembangkan menjadi bertaraf internasional dan berbasis keunggulan
lokal harus merupakan bagian integral dari anggaran tahunan satuan
pendidikan yang diturunkan dari rencana kerja tahunan yang merupakan
pelaksanaan dari rencana strategis satuan pendidikan.
Pendanaan biaya investasi selain lahan satuan pendidikan dasar
pelaksanaan program wajib belajar, baik formal maupun nonformal, yang
diselenggarakan oleh Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
menjadi tanggung jawab Pemerintah dan dialokasikan dalam anggaran
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Biaya investasi memerlukan
dana yang relatif besar, antara lain berupa:
(a). Bangunan sekolah meliputi ruang belajar, ruang kepala sekolah, ruang
guru, ruang laboratorium, ruang perpustakaan, lapangan olahraga, tanah
dan yang sejenis, biaya pembangunannya termasuk biaya investasi karena
umur bangunan lebih dari satu tahun, bisa mencapai 20 tahun, 25 tahun,
bahkan 30 tahun.
(b). Alat peraga, alat praktik, sumber belajar, buku-buku, media belajar,
yang pada umumnya dapat dipakai lebih dari satu tahun, misalnya alat
parktik bisa mencapai 10 tahun, buku bisa mencapai 5 tahun.
(c). Pengadaan tenaga pendidik dan kependidikan. Daya tahan pemakaian
sarana-prasarana ikut menentukan besarnya biaya pemeliharaan adan
penggantian alat yang rusak.

2. Biaya Personal
Biaya personal adalah biaya pendidikan yang harus dikeluarkan
oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur
dan berkelanjutan. Biaya ini sebagaian dibebankan kepada orangtuam
yang sifatnya untuk keperluan pribadi siswa, Biaya pendidikan yang
menjadi tanggungan orangtua adalah yang bersifat untuk keperluan pribadi
siswa. Mungkin yang rasional ditanggung oleh orangtua dari jenis yang
tersebut di atas adalah: Alat perlengkapan sekolah seperti sepatu, seragam

5
sekolah, seragam olahraga, alat tulis dan buku catatan; Transpor anak dari
rumah ke sekolah; Uang saku/uang jajan, dan ekstrakurikuler terbatas.

3. Biaya Operasi
Biaya operasi adalah biaya yang diperlukan sekolah untuk
menunjang proses pembelajaran, sehingga mampu menunjang proses dan
hasil PBM sesuai yang diharapkan. Biaya operasional terdiri dari biaya
personil dan biaya nonpersonil. Biaya operasi, yang terdiri atas:
a. Biaya personalia
Pengeluaran operasi personalia yang menjadi tanggung jawab
Pemerintah atau pemerintah daerah dibiayai melalui belanja pegawai
atau bantuan sosial sesuai peraturan perundang-undangan. Biaya
personalia satuan pendidikan, yang terdiri atas:
1. Gaji pokok bagi pegawai pada satuan pendidikan;
2. Tunjangan yang melekat pada gaji bagi pegawai pada satuan
pendidikan;
3. Tunjangan struktural bagi pejabat struktural pada satuan
pendidikan;
4. Tunjangan fungsional bagi pejabat fungsional di luar guru dan
dosen;
5. Tunjangan fungsional atau subsidi tunjangan fungsional bagi guru
dan dosen;
6. Tunjangan profesi bagi guru dan dosen;
7. Tunjangan khusus bagi guru dan dosen;
8. Maslahat tambahan bagi guru dan dosen; dan
9. Tunjangan kehormatan bagi dosen yang memiliki jabatan professor
atau guru besar
Biaya personalia penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan,
baik formal maupun nonformal, oleh Pemerintah, yang terdiri atas:
1. gaji pokok bagi pegawai negeri sipil pusat;
2. tunjangan yang melekat pada gaji bagi pegawai negeri sipil pusat;
3. tunjangan struktural bagi pejabat struktural bagi pegawai negeri
sipil pusat di luar guru dan dosen; dan
4. tunjangan fungsional bagi pejabat fungsional bagi pegawai negeri
sipil pusat di luar guru dan dosen.
b. Biaya nonpersonalia.

6
Pengeluaran operasi nonpersonalia yang menjadi tanggung jawab
Pemerintah atau pemerintah daerah dibiayai melalui belanja barang
atau bantuan sosial sesuai peraturan perundang-undangan.
Pendanaan tambahan di atas biaya nonpersonalia yang diperlukan
untuk pemenuhan rencana pengembangan satuan atau program
pendidikan yang diselenggarakan pemerintah daerah sesuai
kewenangannya menjadi bertaraf internasional dan/atau berbasis
keunggulan lokal dapat bersumber dari:
a.Pemerintah;
b.Pemerintah daerah;
c.Masyarakat
d.Bantuan pihak asing yang tidak mengikat; dan/atau
sumber lain yang sah.
(http://www.bsnp-indonesia.org/standards-pembiayaan.php)

C. Konsep Dasar Administrasi Keuangan


Sebelum kita memaparkan tentang keuangan pendidikan, sebaiknya kita
memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu sektor yang sangat penting
dan menentukan pembangunan suatu bangsa.
Menurut J. Hallak (1969) dalam Analisis Biaya Pendidikan biaya dalam arti
yang umum yaitu dalam bentuk moneter/uang. Sementara STEPPES, biro
perencanaan, Depdikbud (1989) menyatakan bahwa konsep biaya dalam
pendidikan terdiri dari seluruh biaya yang dikeluarkan dan dimanfaatkan dalam
penyelenggaraan pendidikan baik oleh pemerintah, perorangan dan masyarakat
untuk mndapatkan pendidikan.
Dalam kaitan ini Zymelman (1975) dengan jelas mengatakan bahwa
pembiayaan pendidikan tidak hanya menyangkut analisis sumber-sumber dana,
tetapi juga menyangkut penggunaan dana-dana itu secara efisien. Makin efisien
sistem pendidikan, semakin kecil dana yang diperlukan untuk pencapaian tujuan-
tujuan pendidikan itu. Oleh karena itu dengan pengelolaan dana secara baik akan
membantu meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan. Artinya dengan
anggaran yang tersedia dapat mencapai tujuan pendidikan yang lebih produktif,
efektif, efisien dan relevan antara kebutuhan di bidang pendidikan dengan
pembangunan dan masyarakat (link and match).
Ketersediaan dana merupakan salah satu syarat untuk dapat dilakukannya
berbagai kegiatan pendidikan. Bersama-sama dengan unsur-unsur administrasi

7
pendidikan lainnya, seperti manusia/personil, fasilitas, dan teknologi pendidikan,
dana berfungsi untuk kemudian menghasilkan keluaran tertentu yang menunjang
keberhasilan tujuan penyelenggaraan pendidikan. Apabila dana yang diperlukan
sudah cukup tersedia, maka dituntut adanya pengelolaan yang cermat terhadap
sumber-sumber dana. Artinya selain memikirkan berapa jumlah dana yang
mencukupi kebutuhan pendidikan, perlu pula dipikirkan dana itu diperoleh.
Secara sederhana pengelolaan dana pendidikan itu mencakup 2 aspek, yaitu
1) Dimensi penerimaan atau sumber dana
2) Dimensi pengeluaran atau alokasi dana
Dimensi penerimaan antara lain bersumber dari: penerimaan umum pemerintah,
penerimaan khusus pemerintah yang diperuntukkan bagi pendidikan, iuran
sekolah, dan sumbangan-sumbangan masyarakat. Sedangkan dimensi pengeluaran
meliputi: pengeluaran modal/kapital atau anggaran pembangunan (Capital
outlay/ependiture).
Berdasarkan uraian di atas, pengelolaan keuangan pendidikan lebih difokuskan
dalam proses merencanakan alokasi secara teliti dan penuh perhitungan, serta
mengawasi pelaksanaan penggunaan dana, baik untuk biaya operasional maupun
biaya kapital, disertai bukti-bukti secara administratif dan fisik (material) sesuai
dengan dana yang dikeluarkan (Tim Dosen Administrasi Pendidikan,2003).

D. Sumber Keuangan Pendidikan


Sumber penerimaan pendidikan meliputi sebagai berikut:
a. Hasil penerimaan pemerintah umum
Yang termasuk ke dalam golongan ini yaitu semua penerimaan pemerintah dari
pajak, pajak pendidikan dari perusahaan-perusahaan, dan iuran-iuran
pembangunan daerah.
b. Penerimaan pemerintah khusus untuk pendidikan
Yang termasuk dalam golongan ini adalah antara lain bantuan atau pinjaman
luar negeri, seperti bantuan dari Badan Internasional PBB (UNICEP atau
UNESCO), pinjaman bank dunia. Bantuan yang bersumber dari luar negeri ini
mencakup bantuan teknik dan bantuan modal berupa pinjaman dan hibah. Dana
yang diperoleh khusus untuk pendidikan ini diberikan kepada pendidikan dasar,
menengah, pendidikan tinggi, dan pendidikan luar sekolah. Di samping itu juga
diperlukan untuk kegiatan perencanaan pendidikan, kegiatan penelitian,
pengelolaan pendidikan, dan beasiswa untuk belajar di luar negeri.
c. Iuran sekolah

8
Termasuk dalam golongan ini adalah sumbangan pembinaan pendidikan (SPP)
atau BP3, yaitu bantuan dana yang diterima dari peserta didik atau orang tua siswa
pada setiap bulan yang di setorkan ke kantor dinas pendidikan.
d. Sumbangan-sumbangan sukarela dari masyarakat
Termasuk dalam golongan ini adalah sumbangan-sumbangan swasta,
perorangan atau keluarga, badan-badan sukarela dan kelompok. Sumbangan
perorangan atau keluarga siswa tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga tanah,
tenaga dan bahan bangunan untuk mendirikan sekolah.

E. Sumber- Sumber Dana Pembiayaan Pendidikan


Berdasarkan Peraturan Mendiknas Nomor 19 Tahun 2007, sekolah
dewasai ini diharuskan untuk menyusun pedoman pengelolaan dana (investasi dan
operasional) yang mengacu pada standar pembiayaan. Pedoman ini mengatur:
Sumber pemasukan, pengeluaran, dan jumlah yang dikelola.
Penyusunan dan pencairan anggaran serta penggalangan dana di luar dana
investasi dan operasional.
Kewenangan dan tanggung jawab kepala sekolah dalam membelanjakan
anggaran pendidikan sesuai dengan peruntukannya. Pembukuan semua
penerimaan dan pengeluaran serta penggunaan anggaran untuk dilaporkan kepada
komite sekolah serta institusi di atasnya. Pedoman tersebut diputuskan oleh
komite sekolah dan ditetapkan oleh kepala sekolah dan harus disetujui oleh
institusi di atasnya. Pedoman ini juga harus disosialisasikan kepada seluruh warga
sekolah untuk menjamin tercapainya pengelolaan dana secara transparan dan
akuntabel.
Sumber dana sekolah dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama:
pemerintah (pusat dan daerah), orang tua peserta didik, dan kelompok-kelompok
masyarakat.
1. Pemerintah Pusat
Pemerintah pusat membantu keuangan sekolah melalui beberapa cara, antara
lain mencakup yang berikut.
Hibah (grant) dan dana bantuan biaya operasional kepada sekolah.
Membayar gaji guru.
Membantu sekolah untuk mengadakan proyek penggalangan dana
dengan menyediakan bantuan teknis termasuk bahan dan
perlengkapan.

9
Ikut mendanai pembangunan dan rehabilitasi bangunan sekolah.
Pemerintah juga melakukan kontribusi tidak langsung kepada
sekolah. Misalnya, melalui pelatihan kepala sekolah dan guru,
menyiapkan silabus dan bahan, serta melakukan pengawasan.
2. Pemerintah Daerah
Di negara kita, urusan pendidikan dasar dan menengah dilimpahkan
kepada Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah bertanggung jawab untuk
membangun sekolah, membayar gaji guru, menyediakan sarana fisik,
fasilitas ruang kelas, dan peralatan kantor sekolah dengan dana yang berasal
dari APBD dan APBN. Daerah yang memiliki pendapatan asli daerah yang
tinggi, akan memiliki peluang lebih besar untuk membantu pemenuhan
kebutuhan dana penyelenggaraan sekolah.
3. Orang Tua Peserta didik
Kontribusi orang tua kemungkinan merupakan keharusan karena
pemerintah belum mampu mendanai seluruh kebutuhan dasar dana sekolah.
Hal ini umumnya terjadi di negara-negara berkembang seperti negara kita.
Namun, di negara maju yang pemerintahnya dapat membangun fasilitas
pendidikan yang baik, menyediakan guru yang cakap, dan menyediakan
dana untuk berbagai program sekolah, orang tua peserta didik masih
berkehendak untuk menyumbang dana atau berbagai peralatan yang
diperlukan sekolah. Mereka ingin agar anak-anak mereka memasuki dunia
nyata dengan bekal pendidikan terbaik yang dapat mereka peroleh. Mereka
ingin anak-anak mereka memiliki keunggulan ketika memasuki dunia kerja.
Cara orang tua berkontribusi kemungkinan mencakup yang berikut.
Membayar biaya pendidikan yang ditentukan secara resmi.
Memberi kontribusi kepada komite sekolah.
Membayar sumbangan untuk membangun fasilitas tertentu, seperti
perumahan bagi guru.
Orang tua kemungkinan menyumbangkan tenaga dan keterampilan
tertentu dalam berbagai kegiatan seperti pekerjaan bangunan atau
membantu dalam pelatihan olah raga, atau bahkan mungkin dapat
menggantikan guru yang tidak hadir.
Membayar guru atas tambahan pelajaran di luar jam sekolah.
Membayar pembelian buku pelajaran, alat tulis, sepatu dan seragam
sekolah, meja dan kursi, perpustakaan, dan dana kegiatan olah raga.

10
Mendanai kesejahteraan anak-anak mereka, seperti uang transpor,
uang makan, dan sebagainya.
Kita perlu berasumsi bahwa semua orang tua dapat memberikan
kontribusi yang sama, apakah itu sifatnya finansial atau dalam bentuk-
bentuk kontribusi lainnya. Tingkat penghasilan orang tua di daerah
perkotaan dan daerah pedesaan tampaknya cukup berbeda, seperti halnya
juga ukuran keluarga. Diperlukan pendekatan yang sensitif oleh kepala
sekolah. Kepala sekolah harus mampu mengetahui perbedaan keadaan orang
tua peserta didik dan kemudian memberi kelonggaran bagi peserta didik
yang orang tuanya kurang beruntung secara ekonomi. Jika di satu pihak
kepala sekolah harus menetapkan target yang cukup ambisius untuk
menggalang dana bagi sekolah, di lain pihak kepala sekolah juga perlu
menerima keadaan bahwa tidak semua orang dapat berkontribusi dalam
kadar yang sama.
Dalam upaya mendorong orang tua berkontribusi, Anda akan perlu
menargetkan upaya Anda itu pada mereka yang memiliki sarana, tetapi tidak
termotivasi. Untuk melayani keluarga yang kurang mampu, Anda perlu
menyiapkan dana dukungan beasiswa bagi mereka yang menunjukkan
kemampuan akademik.

4. Kelompok Masyarakat
Kelompok-kelompok masyarakat seringkali termasuk sebagai sumber
penting pendanaan sekolah. Kelompok-kelompok ini dimobilisasi untuk
melaksanakan tugas dari para tokohnya (utamanya informal) di masyarakat,
seperti kaum ulama. Di Indonesia, banyak sekolah (swasta) yang dibangun
dan diselenggarakan oleh kelompok-kelompok masyarakat. Cara yang Anda
identifikasi dalam memobilisasi dana kemungkinan mencakup yang berikut.
Memobilisasi kelompok-kelompok masyarakat dalam proyek
pengembangan sekolah.
Melibatkan tokoh masyarakat dalam memobilisasi massa untuk
berpartisipasi secara efektif dalam proyek-proyek sekolah.
Mengumpulkan dana untuk sekolah-sekolah di suatu wilayah.
Melibatkan kelompok-kelompok masyarakat dan mantan peserta
didik dalam proyek swakarsa penggalangan dana.
Memungut pajak khusus pendidikan dari warga masyarakat.

11
Di dalam masyarakat kemungkinan ada orang-orang yang juga
memutuskan untuk membantu satu atau beberapa sekolah dengan dana
dalam jumlah cukup besar. Adakalanya ada saja pengusaha yang ingin
mendermakan sesuatu bagi satu atau lebih sekolah. Kontribusi seperti ini
hendaknya disambut dengan baik dan bahkan sebaiknya didorong. Namun,
pemerintah seyogianya perlu bersikap tegas terhadap yayasan yang
menyelenggarakan sekolah semata-mata untuk memperoleh keuntungan
finansial. Dewasa ini kecenderungan seperti itu telah semakin menggejala.
Fungsi sosial pendidikan telah mulai memudar berganti dengan penekanan
pada fungsi keuntungan ekonominya, khusus bagi para pengelolanya.

5. Peserta didik
Para peserta didik kemungkinan merupakan sumber penggalangan dana
sekolah yang baik, jika mereka tahu manfaatnya bagi diri mereka sendiri dan
bagi sekolah. Berikut adalah cara-cara pelibatan peserta didik Anda yang
dapat dipertimbangkan:
Pengumpulan dana melalui kegiatan seperti pertanian, memelihara
ayam petelur, membuat kerajinan tangan, dan lain-lain.
Kegiatan pengumpulan dana; misalnya melalui konser musik, tari,
olahraga, pameran, bazar, atau turnamen.

6. Yayasan
Ada sekolah yang didirikan oleh lembaga keagamaan atau lembaga lain
yang bukan berdasarkan ideologi tertentu yang merupakan organisasi non
pemerintah. Masing-masing memiliki tujuan spesifik dalam mendirikan dan
mengoperasikan sekolahnya yang juga bertujuan untuk menghasilkan
lulusan yang cerdas dan beradab. Yayasan ini memberikan dukungan
finansial kepada sekolah dalam berbagai bentuk, seperti bangunan, peralatan,
dan sumber daya manusia. Kemungkinan yayasan ini menyimpan dana di
bank, yang kemudian diinvestasikan dalam bentuk saham, dan lain-lain.
Hasil yang diperoleh digunakan untuk menyediakan dana pengoperasian
sekolah (http://www.mbs-sd.org/isi.php?id=103).

F. Peran Tingkat Ketersediaan Dana Penyelenggaraan Pendidikan


Tingkat ketersediaan dana penyelenggaraan adalah jumlah dana yang
tersedia dibandingkan dengan kebutuhan, apakah lebih rendah, sesuai, atau lebih

12
tinggi. Kondisi itu ada pengaruhnya terhadap tingkat keberhasilan pendidikan di
sekolah, misalnya di SMP.
1) Peran Ketersediaan Biaya untuk Ketenagaan
Sistem pembelajaran yang saat ini masih banyak digunakan adalah sistem
tatap muka antara guru dengan siswa. Bila proses belajar seperti ini berarti
guru masih menduduki peran yang strategis. Dengan demikian penyediaan
dana untuk rekrutmen guru yang berkualitas, kesejahteraan guru, serta
pengembangan profesi akan sangat menentukan tingkat keberhasilan proses
pembelajaran. Tentu saja hal tersebut harus diikuti dengan komitmen pada
masing-masing individu. Bila dana untuk pengadaan guru kurang, berarti
kebutuhan guru tidak terpenuhi. Begitu pula bila guru ada tetapi
kualifikasinya tidak terpenuhi atau bahkan terjadi missmatch, maka akan
terjadi penurunan kualitas hasil pendidikan. Biaya pengadaan guru sampai
kepada penggajian, adalah termasuk biaya investasi, karena tidak hanya
berlaku satu tahun, tetapi terus-menerus, sedangkan untuk pengembangan
tenaga, masuk dalam biaya operasional. Dengan demikian dana untuk
menyangkut kebutuhan tenaga meliputi:
(a). Biaya rekrutmen dan pendidikan latihan,
(b). Gaji upah, termasuk honor kelebihan jam mengajar,
(c). Insentif untuk kesejahteraan, dan
(d). Penyediaan sumber bahan dan alat pembelajaran sesuai bidang studinya.

2) Peran Ketersediaan Dana untuk Pengadaan dan Pemanfaatan Sarana


Prasarana
Dana untuk pengadaan sarana dan prasarana terbagi dalam dua
jenis biaya, yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Yang termasuk
biaya investasi adalah pengadaan bangunan (ruang kelas, ruang kantor/TU,
ruang kepala sekolah, ruang wakil kepala sekolah, ruang guru, ruang lab,
ruang perpustakaan, gudang, kamar kecil, lapangan olahraga, ruang praktik)
dan pengadaan sarana (buku, alat peraga, alat praktik, dan perabot),
sedangkan yang termasuk biaya operasional adalah biaya
perawatan/pemeliharaan, bahan dan ATK, serta bahan habis pakai. Fungsi
dari pengadaan sarana-prasarana adalah fungsi penunjang yaitu menunjang
proses belajar-mengajar. Bila sarana dan prasarana didayagunakan dengan
baik, maka akan menunjang keberhasilan proses pembelajaran dan
selanjutnya akan berpengaruh terhadap mutu hasil pembelajaran. Tetapi

13
sebaliknya bila sarana-prasarana tak dimanfaatkan dengan baik maka tidak
banyak berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan. Dana yang
diperlukan untuk bidang sarana-prasarana antara lain: bangunan, perabot,
alat peraga, alat praktik, dan buku, pemeliharaan sarana-prasarana, dan
termasuk penggantian alat yang rusak.

3) Peran Ketersediaan Dana untuk Biaya Operasional


Bila sudah tersedia tenaga, sarana, dan prasarana, maka yang
menjadi masalah adalah bagaimana kinerja tenaga kependidikan, serta
bagaimana sarana dan prasarana dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pemanfaatan secara optimal sumberdaya pendidikan akan sangat tergantung
kinerja tenaga kependidikan dan ketersediaan dana operasional yang
menunjang proses pembelajaran. Sebagai contoh laboratorium IPA akan
berpengaruh atas mutu pembelajaran IPA bila guru dan siswa mau
memanfaatkan kegiatan laboratorium atau praktikum IPA secara optimal
dan didukung oleh ketersediaan bahan habis pakai. Perpustakaan akan
bermanfaat sebagai sumber belajar bila di dalamnya tersedia berbagai buku
sumber dan buku lain untuk memperluas wawasan dan guru mau
memanfaatkan perpustakaan dengan melibatkan siswa. Dana untuk biaya
operasional dibutuhkan untuk antara lain untuk menunjang:
(a). Proses belajar-mengajar,
(b). Proses penilaian,
(c). Pengadaan bahan praktik dan habis pakai,
(d). Pembinaan kesiswaan, dan
(e). Pelaksanaan supervisi.
Dengan demikian ketersediaan dana, minimal untuk menunjang
keterlaksanaan standar pelayanan minimal sangat diperlukan, karena
penyelenggaraan pendidikan tanpa tersedia dana secara memadai akan
berpengaruh terhadap mutu hasil pendidikannya. Dalam kaitan dengan
ketersediaan dana operasional yang sangat terbatas maka perlu dilakukan
prioritas:
a. Pengadaan sarana dititikberatkan pada pengadaan sarana yang langsung
berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran, misalnya buku
pelajaran yang ditunjang dengan alat peraga dan alat praktik.
b. Pembinaan ketenagaan sebaiknya dititikberatkan pada pembinaan
profesi/kompetensi tenaga kependidikan.

14
c. Biaya operasional dititikberatkan pada usaha menunjang proses
pembelajaran, yang berpengaruh langsung pada peningkatan mutu
pendidikan. Biaya yang diperlukan untuk proses pembelajaran belum tentu
tersedia secara memadai, baik untuk biaya investasi maupun untuk biaya
operasional. Namun yang diharapkan adalah biaya untuk pelayanan minimal
dapat tersedia secara bertahap, bahkan suatu saat dapat mencapai tingkat
ideal. (http://drssuharto.wordpress.com/2008/03/04/pokok-pokok-pikiran-
dalam-merancang-biaya-satuan-pendidikan/).

G. Jenis-Jenis Pengeluaran Pendidikan


Dimensi alokasi secara garis besar digolongkan ke dalam dua jenis
pengeluaran, yaitu pengeluaran rutin yang sifatnya berulang (recurrent
expenditure) dan pengeluaran kapital/modal (capital expenditure).
Pengeluaran rutin atau berulang adalah biaya yang digunakan secara berkala
dalam suatu masa tertentu (bulanan atau tahunan) seperti gaji guru, gaji
pengelola, upah pegawai,, pembelian bahan-bahan ATK, biaya pemeliharaan
gedung, halaman sekolah, dan dana-dana operasional.
Dana yang dipergunakan dalam kegiatan rutin ini memerlukan
pengelolaan yang baik, terutama bagi lembaga pendidikan swasta (swadana)
atau tidak terdapat bantuan pemerintah. Untuk ini perlu dikuasai prinsip-
prinsip pengelolaan kas, pengelolaan utang, dan pengelolaan barang/
fasilitas. Pengelolaan kas terutama menyangkut hal-hal sebagai berikut:
(1) Penentuan jumlah uang tunai kas yang diperlukan agar tidak berlebihan
dan juga tidak terlampau kecil,
(2) Pengendalian aliran-aliran uang tunai, baik yang masuk ke sekolah
maupun yang dikeluarkan oleh sekolah. Sedangkan pengelolaan utang
menyangkut syarat-syarat dan sanksi-sanksi yang dikenakan jika meminjam
dana dari pihak luar baik jangka panjang ataupun janga pendek. Dalam hal
ini perlu diperhitungkan masak-masak berapa jumlah uang yang
layak/rasional untuk diinventarisasikan dalam pendidikan.
Demikian pula dengan biaya modal atau aktivas tetap yang dipergunakan
untuk mendirikan bangunan sekolah, pembelian tanah, sarana pendidikan
lainnnya, kantin, poliklinik, sarana olah raga(sport hall) yang relatif besar,
memerlukan pengelolaan dengan baik (Tim Dosen Administrasi
Pendidikan,2003).

15
H. Fungsi dan Contoh Teknik Penyusunan Anggaran
Disamping memberikan semacam kerangka operasional dalam biaya dan
waktu kegiatan yang dilaksanakan, anggaran berfungsi:
1). Dapat dijadikan alat untuk mendelegasikan wewenang dalam pelaksanaan
suatu rencana. Anggaran dirancng dengan mencantumkan penanggung jawab
suatu kegiatan tertentu(penetapan pimpinan proyek). Jadi, jika anggaran
disetujui oleh yang berwenang, maka pendelegasian fungsi itu juga disetujui,
2). Dapat menjadi alat pengawasan dan penilaian suatu penampilan
(performnce). Dengan membandingkan pengeluaran biaya suatu kegiatan
dengan alokasi anggaran dan tingkat penggunaannya, merupakan pedoman
sederhana untuk mengetahui sampai dimana tingkat efektifitas dan efisiensi
kegiatan yang bersangkutan. Apabila anggaran dirancang dengan benar, maka
anggaran itu akan menjadi alat pengumpul data tentang hasil dan besarnya biaya
suatu program.
Contoh Bentuk-bentuk penganggaran
a. Bentuk penganggaran butir per butir (line item budget)
Bentuk ini paling banyak digunakan dan dikateorikan sebagai yang
konvensional dan tradisional. Meskipun memudahkan dalam pengawasan
pengeluaran biaya. Tetapi sistem ini tidak membantu dalalm pengambilan
keputusan seperti dalam mengevaluasi harga dalam hubungannya dengan
pancapaian suatu program. Kelemahan lainnya yaitu,
1). Tidak dapat menunjukkan hubungan antara masukan program dan
pengeluaran,
2). Tidak dapat berfungsi sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan, karena tidak memberikan analisis untung rugi(cost benefit analysis)
dari berbagai alternatif,
3). Lebih mengarahkan perhatian pada pembukuan, dan tidak terhadap
tujuan suatu program.
b. Anggaran program (program budget)
Bentuk ini lebih menekankan pada hasil suatu program yang telah
ditetapkan. Pada anggaran butir per butir program, biaya dihitung berdasarkan
jenis butir(items) yang akan dibeli, sedangkan dalam program biaya dihitung
berdasarkan jenis program. Misalnya dalam anggaran butir per butir disebutkan
Gaji guru, sedangkan dalam anggaran program disebutkan gaji guru untuk
percobaan pengajaran IPA. Keuntungan bentuk ini antara lain :

16
1). Mengorganisasikan sejumlah besar pengeluaran menjadi rencana logis
dan konkrit.
2). Merangsang perencanaan tahunan ganda dan reevaluasi periodik dari
pelaksanaan rencana,
3). Menghindari sentrlisasi yang berlebihan, dimana keputusan menumpuk di
tingkat atas.
c. Anggaran berdasarkan hasil (parformance budget)
Sesuai dengan artinya anggaran ini menekankan hasil daripada keterincian
alokasi anggaran. Dalam bentuk ini pekerjaan dalam suatu program dipecah dalam
bentuk beban kerja dan unit penampilan yang dapat diukur. Hasil pengukuran ini
dipergunakan untuk menghitung masyukan dana dan tenaga yang diperlukan
untuk mencapai tujuan program. Anggaran berdasarkan hasil ini merupakan alat
manajemen yang dapat mengidentifikasi secara jelas satuan dari hasil suatu
program dan sekaligus merinci butir per butir kegiatan yang harus dibiayai.
Bentuk ini menuntut akuntansi yang teliti dan pemroses data yang akurat. Hal ini
mengakibatkan sistem ini menjadi relatif mahal terutama bagi lembaga yang
kecil/belum berkembang.

I. Pengawasan Keuangan Pendidikan


Yang dimaksud dengan pengawasan keuangan adalah suatu pemeriksaan
yang terutama ditujukan pada masalah keuangan (transaksi, dokumen, buku,
daftar, serta laporan), antara lain untuk memperoleh kepastian bahwa transaksi
keuangan dilakukan sesuai undang-undang, peraturan, keputusan, instruksi untuk
menilai kewajaran yang diberikan oleh laporan keuangan.
Sedangkan proses pengawasan adalah serangkaian tindak dalam
melaksanakan pengawasan. Langkah-langkah pengawasan baik fungsional
maupun melekat (pengawasan atasan langsung) menurut Stoner(1987):
a. Penetapan beberapa jenis standar/patokan yang dipergunakan berupa
ukuran kuantitas, kualitas, biaya dan waktu
b. Membandingkan atau mengukur kenyataan yang sebenarnya terhadap
standar
c. Mengidentifikasi penyimpangan dan sekaligus pengambilan koreksi
Cara mempertanggungjawabkan keuangan
Beberapa prinsip yang dijadikan pegangan dalam kegiatan
mempertanggungjawabkan keuangan yang dilakukan oleh atasan langsung
meliputi:

17
Diusahakan secara singkat dan dilaksanakan pada setiap akhir pekan.
Periksa terlebih dahulubuku kas umum dalam hubungannya dengan
buku yang lain setiap akhir bulan.
Diperingatkan kepada bendaharawan mengenai: pengiriman SPJ(surat
pertanggung jawaban) bulanan.
Diperiksa pengurusan barang inventaris dan penyimpanan dokumen
pertinggal keuangan sewaktu-waktu.
Diadakan pemeriksaan kas dengan menyusun berita acara
pemeriksaan kas setiap akhir triwulan secara teratur.Atasan langsung
bendaharawan bertanggung jawab atas kerugian keuangan Negara.
Dilaporkan dengan segera (paling lambat satu minggu) jika terjadI
kerugian yang diderita oleh negara karena penggelapan atau perbuatan
lain, kepada sekretaris jenderal depdiknas c.q kepala biro keuangan
dengan tembusan kepada inspektur jendrel Depdiknas dan BPK

Dalam rangka mempertanggung jawabkan keuangan negara ini, ada


sembilan jenis buku yang harus disediankan, yaitu: buku kas umum, buku bank,
buku kas posisi, buku surat perintah membayar uang(SPMU), buku panjar kerja,
buku menghitung pajak orang/pajak penjualan(MPO/PPn), buku penerbitan cek,
buku inventaris, buku pembantu lain apabila mempergunakan buku kas yang
umum tidak tabelaris. (pedoman pengelolaan keuangan di lingkungan
depdikbud, 1982).

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan materi yang telah kami uraikan dalam pembahasan,
kami dapat disimpulkan , yaitu :

1. Administrasi keuangan adalah sebuah analisis terhadap sumber-sumber


pendapatan (revenue) dan penggunaan biaya (expenditure) yang
diperuntukkan sebagai pengelolaan pendidikan secara efektif dan efisien
dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dan pembiayaan
pendidikan adalah upaya pengumpulan dana untuk membiayai operasional
dan pengembangan sektor pendidikan
2. Standar pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi,
dan biaya personal.
3. Menurut Depdikbud (1989) menyatakan bahwa konsep biaya dalam
pendidikan terdiri dari seluruh biaya yang dikeluarkan dan dimanfaatkan
dalam penyelenggaraan pendidikan baik oleh pemerintah, perorangan dan
masyarakat untuk mndapatkan pendidikan.
4. Sumber penerimaan pendidikan meliputi hasil penerimaan pemerintah
umum, penerimaan pemerintah khusus untuk pendidikan, dan iuran
sekolah.
5. Berdasarkan Peraturan Mendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang standar
pembiayaan. Pedoman ini mengatur: Sumber pemasukan, pengeluaran,
dan jumlah yang dikelola penyusunan dan pencairan anggaran serta
penggalangan dana di luar dana investasi dan operasional.
6. Peran tingkat ketersediaan dana penyelenggaraan pendidikan, yaitu jumlah
dana yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan, apakah lebih rendah,
sesuai, atau lebih tinggi. Kondisi itu ada pengaruhnya terhadap tingkat
keberhasilan pendidikan di sekolah, misalnya di SMP. Peran tingkat
ketersediaan dana penyelenggaraan yakni Peran Ketersediaan Biaya untuk
Ketenagaan, Peran Ketersediaan Dana untuk Pengadaan dan Pemanfaatan
Sarana Prasarana, Peran Ketersediaan Dana untuk Biaya Operasional.
7. Jenis-jenis pengeluaran pendidikan secara garis besar digolongkan ke
dalam dua jenis pengeluaran, yaitu pengeluaran rutin yang sifatnya
berulang (recurrent expenditure) dan pengeluaran kapital/modal (capital
expenditure).

19
8. Fungsi teknik penyusunan anggaran yaitu dapat dijadikan alat untuk
mendelegasikan wewenang dalam pelaksanaan suatu rencana, dapat
menjadi alat pengawasan dan penilaian suatu penampilan
(performnce).Contoh bentuk-bentuk penganggaran yaitu bentuk
penganggaran butir per butir (line item budget) , dan anggaran program
(program budget), anggaran berdasarkan hasil (parformance budget).
9. Pengawasan keuangan pendidikan adalah suatu pemeriksaan yang
terutama ditujukan pada masalah keuangan (transaksi, dokumen, buku,
daftar, serta laporan), antara lain untuk memperoleh kepastian bahwa
transaksi keuangan dilakukan sesuai undang-undang, peraturan, keputusan,
instruksi untuk menilai kewajaran yang diberikan oleh laporan keuangan.

A. Kritik dan Saran


Dalam penulisan makalah ini terdapat beberapa kendala seperti
sumber atau referensi khususnya dari buku sulit didapat. Oleh karena itu,
kami berharap kritik dan saran dari pembaca, agar menyempurnakan
makalah yang kami buat.

20