Anda di halaman 1dari 51

TEKNIK PENYEMENAN

CEMENTING
JILID 1
a cementing line

b
CEMENTING pin 2 LUMPUR PENDORONG
HEAD c
pin 1

permukaan lumpur

casing yang sudah


tersemen sebelumnya
top plug

casing yg
mau disemen bottom
plug

foot collar
dinding
lubang
SEMEN
shoe track
SEMEN

casing shoe

DISUSUN OLEH : IR. KASWIR BATU


CEPU, 1999
KATA PENGANTAR i

Penyemenan merupakan faktor yang sangat penting dalam operasi pemboran.


Keberhasilan suatu operasi pemboran sangat tergantung kepada keberhasilan
penyemenan sumur.

Buku Teknik Penyemenan ini merupakan Jilid I, yang berisikan tentang fungsi dari
penyemenan, komponen-komponen bubur semen, dan parameter-parameter atau sifat-
sifat dari bubur semen, dan metda penyemenan.

Untuk mendalami teknik penyemenan lebih lanjut, dapat dibaca pada buku Teknik
Penyemenan Jilid II.

Buku ini dapat merupakan pegangan bagi pekerja pemboran dan mahasiswa di Jurusan
Teknik Perminyakan, karena isinya merupakan hal-hal yang harus dikuasai.

Buku0buku Teknik Penyemenan saat ini sulit didapat yang sudah berbahasa Indonesia.
Sedangkan kebutuhan pengetahuan tentang teknik penyemenan sangat diperlukan bagi
pekerja pemboran dan mahasiswa di Jurusan Teknik Perminyakan. Itulah sebabnya
penulis berusaha membuat buku-buku dibidang pemboran minyak dan gas bumi,
maupun panas bumi.

Mudah-mudahan yang Maha Kuasa memberikan kekuatan dan waktu kepada penulis
untuk lanjutan buku ini dan untuk membuat buku-buku Teknik Pemboran untuk topik-
topik yang lain.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi diri penulis sendiri.

Cepu, Desember 1995


Hormat dari penulis.
ii
PENGUMUMAN

Bersama ini kami khabarkan bahwa telah terbit Buku-buku Teknik Pemboran sebagai
berikut:

1. Teknik Pencegahan Semburan Liar ( Well Control ) Jilid I


2. Teknik Pencegahan Semburan Liar ( Well Control ) Jilid II
3. Teknik Pencegahan Semburan Liar ( Well Control ) Jilid III
4. Teknik Pencegahan Semburan Liar ( Well Control ) Jilid IV
5. Teknik Pencegahan Semburan Liar ( Well Control ) Jilid V
6. Teknik Pencegahan Semburan Liar ( Well Control ) Jilid VI
7. Teknik Pencegahan Semburan Liar (Well Control) Latihan Soal-soal dan
Kuncinya
8. Peralatan Pencegahan Semburan Liar ( BOP ) Jilid I
9. Lumpur Pemboran Jilid I
10. Lumpur Pemboran Jilid II
11. Hirdolika Pemboran Jilid I
12. Hidrolika Pemboran Jilid II
13. Peralatan Pemboran Jilid I
14. Peralatan Pemboran Jilid II
15. Perhitungan Teknik Pemboran Jilid I
16. Perhitungan Teknik Pemboran Jilid II
17. Perhitungan Teknik Pemboran Jilid III
18. Fishing Jilid I
19. Fishing Jilid II
20. Casing Jilid I
21. Cementing Jilid I
22. Pemboran Lurus Jilid I
23. Pemboran Berarah Jilid I
24. Mud Loss Jilid I
25. Pipa Terjepit Jilid I
iii
26. Pemboran Lepas Pantai ( Offshore Drilling ) Jilid I
27. Latihan Soal Teknik Pemboran Jilid I
28. Latihan Soal Peralatan Pemboran Jilid I

Bagi anda yang berminat untuk mempunyai buku-buku tersebut diatas dapat
menghubungi:

IR. KASWIR BADU


---------------------
Jl. Dumai No. 154 Nglajo Cepu
Telp. : 0296. 422130
HP : 08155033761
Rek : BNI cabang Cepu 252000005733.901

Harga buku perbuah adalah Rp. 40.000,-

Terima kasih atas perhatiannya.

Hormat penulis.
------------------
iv
DAFTAR ISI
HAL
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI .. iv
DAFTAR GAMBAR .. vi

I. PENDAHULUAN 1

II. FUNGSI PENYEMENAN . 3

III. BUBUR PENYEMENAN 10


3.1. Bubuk Semen 11
3.1.1. Komponen Bubuk Semen ... 11
3.1.2. Klasifikasi Bubuk Semen .. 12
3.2. Sifat-sifat Bubur Semen 15
3.2.1. Strength . 15
3.2.2. Water Cement Ratio 15
3.2.3. Berat Jenis 17
3.2.4. Thickening Time 21
3.2.5. Filtration Properties . 21
3.2.6. Perforating Qualities 22
3.2.7. Permeabilitas Semen .. 22
3.2.8 Sulfate Resistance . 22
3.3. Additive 23
3.3.1. Extender .. 23
3.3.2. Retarder .. 30
3.3.3. Accelerator . 32
3.3.4. Filtration Loss Additive . 36
3.3.5. Lost Circulation Additive .. 37
3.3.6. Friction Reducer 38
3.3.7. Contamination Additive . 38
v
DAFTAR ISI ( LANJUTAN )
Halaman
3.3.8. Weight Material 39
3.4. Semen Khusus
40
3.5. Pengaruh Temperatur dan Tekanan
Terhadap Semen .. 42

PENUTUP . 44

DAFTAR PUSTAKA 45
vi
DAFTAR GAMBAR Hal.

GB. 1 Semen Menahan Cairan Corosif 4


GB. 2 Semen Mencegah Hubungan Antar Formasi 5
GB. 3 Mengisi Annulus Yang Tidak Penuh 6
GB. 4 Semen Menyumbat Perforasi Ynag Salah 7
GB. 5 Semen Menutup Perforasi Yang Melewatkan Air 8
GB. 6 Semen Menyumbat Formasi Yang Tidak Produktif 9
GB. 7 Semen Sebagai Fondasi Whipstock 10
1
I. PENDAHULUAN

Penyemenan pada sumur minyak dan gas maksudnya adalah pendorongan bubur semen
( cemen slury ) ke dalam lubang sumur, kemudian dibiarkan di sana sampai bubur
semen tersebut mengeras.

Pendorongan bubur semen ke dalam sumur melalui casing, bubur semen keluar dari
casing shoe dan kemudian bubur semen terus naik annulus antara casing dengan
dinding lubang ataupun annulus antara casing dengan casing, dan dibiarkan bubur
semen mengeras di sana. Penyemenan casing seperti ini disebut dengan Primaru
Cementing.

Adakalanya pendorongan bubur semen adalah dengan menggunakan drill pipe atau
tubing ke dalam lubang, bubur semen keluar dari casing shoe dan naik ke annulus
antara casing dengan dinding lubang sampai ke permukaan.

Penyemenan ada juga yang dilakukan secara bertingkat, dengan kata lain penyemenan
tidak sekaligus. Penyemenan annulus bagian bawah bubur semen keluar melalui casing
shoe, dan penyemenan kolom annulus diatasnya melalui suatu sambungan yang disebut
dengan dual stage cementing collar.

Penyemenan dengan menggunakan drill pipe serta penyemenan bertingkat ini di


kelompokkan juga ke dalam Primary Cementing.

Selain penyemenan-penyemenan yang disebutkan di atas masih terdapat penyemenan-


penyemenan dalam bentuk lain. Seperti penyemenan untuk memperbaiki primary
cementing, memperbaiki casing yang bocor, menutup lubang perforasi, menutup
formasi sebelum pembelokan lubang ( sebagai landasan alat pembelok lubang) dan lain-
lain. Penyemenan-penyemenan ini dikelompokkan ke dalam Secondary Cementing.
2
Bubur semen atau cement slurry merupakan campuran dari tepung semen, air dan
additive. Untuk mendapatkan ikatan penyemenan yang baik, maka ditambahkan bahan-
bahan tertentu ke dalam bubur semen. Bahan-bahan yang ditambahkan ini disebut
dengan additive.

Kadang-kadang penyemenan menggunakan semen khusus, kalau penyemenan dengan


bahan-bahan yang biasa menemukan kegagalan. Semen khusus mempunyai
keistimewaan, dan tentu harga bahannya akan mahal.
3
II. FUNGSI PENYEMENAN

Fungsi penyemenan ditinjau dari Primary Cementing dan Secondary Cementing.


Fungsi Primary Cementing adalah sebagai berikut:
- Melekatkan casing dengan formasi.
- Melindungi casing dari berkarat.
- Mencegah hubungan formasi-formasi di belakang casing.
- Melindungi casing dari tekanan formasi.
- Menutup zone-zone atau formasi-formasi yang membahayakan operasi
pemboran selanjutnya.

Fungsi Secondary Cementing adalah sebagai berikut:


- Memperbaiki primary cementing yang tidak baik, atau tidak sempurna.
- Memperbaiki casing yang bocor.
- Menutup lubang perforasi yang salah.
- Menutup lubang terbuka yang tidak diinginkan.
- Sebagai landasan bagi peralatan pembelokan lubang.

Dengan mengisi ruang annulus dengan semen maka casing akan kokoh di dalam
lubang.
Casing yang berada didepan formasi mengandung cairan yang bersifat korosif, seperti
magnesium sulfat, barium chlorida, kalau tidak disemen akan berkarat, dan lama
kelamaan casing bocor. Ini akan merugikan dalam dunia perminyakan. Dengan adanya
semen diantara casing dengan dinding lubang, maka cairan formasi yang korosif tidak
kontak dengan casing, tapi kontak dengan semen. Disini perlu juga diperhatikan bahwa
semen yang ditempatkan didepan formasi yang mengandung cairan korosif harus tahan
terhadap cairan tersebut.
Gambarannya dapat dilihat pada gambar 1.
Dibelakang casing bisa terdapat formasi-formasi yang mempunyai tekanan yang
berbeda-beda. Bila formasi-formasi ini mengandung fluida maka kalau tidak terdapat
semen dibelakang casing yang mengisolasi formasi-formasi ini, maka fluida dari formasi
4
yang satu dapat mauk ke dalam formasi yang lain. Lubang, semen akan mengisolasi
formasi-formasi tersebut. Sehingga fluida dari formasi tertahan oleh semen.
Gambarannya dapat dilihat pada gambar 2.

LUMPUR SEMEN

FORMASI YG FORMASI YG
MENGANDUNG MENGANDUNG
CAIRAN COROSIF CAIRAN COROSIF

CASING CASING

SEBELUM DISEMEN SESUDAH DISEMEN

Gb.1. Semen Menahan Cairan Korosif

Kalau terdapat formasi yang membahayakan operasi pemboran, seperti formasi lebah
(zone loss), formasi bertekanan tinggi, formasi shale yang mudah runtuh, dan formasi
yang berbahaya yang lain, sebaiknya setelah menembus formasi tersebut, dipasang
casing, dan disemen. Sehingga formasi tersebut tidak mempengaruhi operasi pemboran
selanjutnya.
5

CASING CASING

LUMPUR

FORMASI 2 FORMASI 2 SEMEN

FORMASI 1 FORMASI 1

KALAU TIDAK DISEMEN SETELAH DISEMEN

Gb.2. Semen Mencegah Hubungan Antar Formasi

Selesai penyemenan dilakukan pengujian terhadap hasil penyemenan yang telah


dilakukan. Apabila hasil penyemenan tidak baik atau kurang sempurna, maka dilakukan
penyemenan ulang dengan jalan menekankan bubur semen ke bagian yang tidak
sempurna tadi, melalui lubang perforasi yang sudah dibuat sebelumnya. Gambarannya
dapat dilihat pada gambar 3.
6

BUBUR SEMEN

ANNULUS
ANNULUS

CASING
CASING
DINDING
DINDING LUBANG
LUBANG
PUNCAK PERFORASI
SEMEN

ANNULUS TIDAK PENUH ANNULUS DIPENUHI DENGAN SEMEN

Gb.3. Mengisi Annulus Yang Tidak Penuh

Apabila casing bocor, perlu menyumbat dengan jalan menekankan bubur semen ke
bagian yang bocor tersebut, melalui lubang perforasi yang sudah dibuat sebelumnya.
Sehingga tidak terjadi aliran dari formasi.

Kesalahan perforasi dapat juga terjadi, sehingga terproduksi fluida formasi yang tidak
dikehendaki. Untuk ini perforasi yang salah itu harus disumbat dengan semen dengan
jalan menekankan bubur semen ke formasi yang salah tersebut, agar menghindari
terproduksinya fluida yang tidak diinginkan itu.
Gambarannya dapat dilihat pada gambar 4.
7

CASING CASING
TUBING TUBING

SEMEN SEMEN

PACKER PACKER
PERFORASI PERFORASI

MINYAK MINYAK

AIR AIR

Minyak dan gas terproduksi bersama SEMEN

Setelah perforasi yang salah disemen, air


tidak terproduksi lagi secara bebas.

Gb.4. Semen Menyumbat Perforasi Yang Salah

Di awal produksi suatu sumur, produksi air masih kecil. Tetapi setelah sumur
berproduksi cukup lama, air berproduksi cukup besar, karena permukaan air dengan
minyak naik ( WOC naik). Untuk mengurangi produksi air yang cukup banyak itu maka
lubang perforasi yang mengeluarkan air tersebut disemen kembali.
Gambarannya dapat dilihat pada gambar 5.
8

CASING CASING CASING


TUBING TUBING TUBING

SEMEN SEMEN SEMEN

PACKER PACKER PACKER


PERFORASI PERFORASI PERFORASI

MINYAK MINYAK MINYAK

AIR AIR

AIR

DIAWAL PRODUKSI AIR TIDAK MINYAK DAN AIR TERPRODUKSI SEMEN


IKUT TERPRODUKSI SECARA BERSAMA - SAMA KARENA PERFORASI YANG MELEWATKAN
BEBAS WOC SUDAH NAIK AIR DISEMEN, SEHINGGA SUDAH
TERHALANG.

Gb.5. Semen Menutup Perforasi Yang Melewatkan Air

Setiap sumur tidak selalu berhasil dalam menemukan minyak atau gas, dan mungkin
yang ditemukan hanya air asin. Lubang yang telah dibuat tidak boleh dibiarkan terbuka
begitu saja, sehingga harus disemen untuk mencegah kemungkinan menyemburkan air
asin di kemudian hari.
Gambaran tentang yang disebutkan tadi dapat dilihat pada gambar 6.
9

TUBING

SEMEN

DINDING
LUBANG

FORMASI TIDAK FORMASI TIDAK


PRODUKSI PRODUKSI

SUMUR DRY HOLE FORMASIYANG TIDAK PRODUKTIF


DISMBAT DENGAN SEMEN

Gb.6. Semen Menyumbat Formasi Yang Tidak Produktif

Untuk pemboran berarah atau disebut dengan directional drilling dilakukan pembelokkan
dari pembelokan dari sumbu vertikal. Bila alat yang digunakan adalah whipstock dan
dasar lubang lunak, maka dasar lubang harus disemen dahulu untuk langganan bagi
whipstock. Kalau tidak whipstock akan terperosok ke dasar lubang.
Untuk jelasnya lihat gambar 7.

10

LUMPUR

RANGKAIAN PEMBORAN

WHIPSTOCK

SEMEN

Gb.7. Semen Sebagai Fondasi Whipstock

III. BUBUR SEMEN (CEMENT SLURY)

Bubur semen terdiri dari:


- Zat cair
- Bubuk semen
- Additive.
Zat cair yang digunakan pada umumnya adalah air, dan ada juga yang menggunakan
minyak pada semen khusus.
Tujuan dari zat cair disini adalah agar bubur semen yang terjadi dapat dipompakan.

11
Bubuk semen merupakan padatan yang mempunyai sifat menyemen. Dan additive
merupakan bagian yang ditambahkan untuk mendapatkan sifat-sifat semen yang
diinginkan.
Sifat-sifat dari bubur semen yang dibuat harus disesuaikan dengan kondisi formasi yang
akan disemen, agar hasil penyemenan sesuai dengan yang inginkan.

3.1. Bubuk semen.


Bubuk semen ditempatkan dalam karung atau sack. Berat dari 1 (satu) sack semen
adalah 94 lbs pada umumnya. Sedangkan berat jenis dari bubuk semen adalah berkisar
antara 3.1 sampat 3.2 gr/cc.
Bubuk semen yang dipakai dalam penyemenan sumur minyak atau gas berbeda dengan
semen yang digunakan untuk bangunan. Sumur minyak mempunyai karakteristik-
karakteristik tertentu, sehingga bubur semen harus mempunyai sifat-sifat tertentu,
sehingga mana komponen-komponennya harus disesuaikan pula.
American Petroleum Institute telah membuat standar dari bubuk semen yang digunakan
untuk menyemen sumur minyak dan gas bumi.

3.1.1. Komponen Bubuk Semen


komponen bubuk semen terdiri dari oksida-oksida calcium, silicate, besi dan aluminium.
Komponen bubuk semen tersebut adalah sebagai berikut:
- Tri Calcium Silicate.
- Di Calcium Silicate.
- Tri Calcium Aluminate.
- Tetra Calcium Alumino Ferrite.

3.1.1.1. Tri Calcium Silicate


- Rumus kimianya adalah 3Ca0 Si02
- Kodenya adalah C3S
- Komponen ini memberikan strength yang besar.

12
3.1.1.2. Di Calcium Silicate.
- Rumus kimianya 2Ca0 Si02.
- Kodenya adalah C2S.
- Komponen ini tidak tahan terhadap sulfate. Sulfate merupakan cairan formasi
yang korosif, yang dapat menyebabkan casing berkarat.

3.1.1.3. Tri Calcium Aluminate


- Rumusnya kimianya adalah 3Ca0 A1203
- Kodenya adalah C3A
- Komponen ini tidak tahan terhadap sulfate. Sulfate merupakan cairan formasi
yang korosif, yang adapt menyebabkan casing berkarat,akibat dari sulfate
terhadap semen yang mempunyai tri calcium aluminate yang berprosentase
besar akan melunakkansemen. Oleh sebab itu tri calcium aluminate yang
dicampurkan tidak lebih besar dari 3%.

3.1.1.4. Tetra Calcium Alumino Ferrite


- Rumus kimianya adalah 4Ca0 A1203 Fe203
- Kodenya adalah C4AF

- Komponen ini memberikan panas hidrasi yang rendah.


3.1.2. Klasifikasi Bubuk Semen.
American Petroleum Institute ( API ) dan American Society for Testing Material (ASTM),
telah membuat strandard bubuk semen yang digunakan untuk sumur minyak dan gas.
Di sini yang diberikan adalah klasifikasi oleh API saja.

Standardisasi oleh API tersebut adalah sebagai berikut:


a. Kelas A.
- Semen ini dapat digunakan sampai kedalaman 6.000 ft
- Tidak tahan terhadap sulfate.
- Semen ini sama dengan semen untuk bangunan.
-
13
b. Kelas B
- Dapat digunakan dari permukaan sampai 6.000 ft
- Bubuk semen ini tahan terhadap sulfate, tersedia untuk tingkat moderate
sampai tinggi.
c. Kelas C
- Dapat dipakai sampai kedalaman 6.000 ft
- Mempunyai strength awal yang tinggi.
- Tersedia semen yang tahan terhadap sulfate dan juga yang tidak tahan
terhadap sulfate.
- Semen yang tahan terhadap sulfate adalah dari tingkat moderate sampai
tinggi.

d. Kelas D
- Digunakan untuk kedalaman 6.000 ft sampai 10.000 ft
- Digunakan untuk temperatur dan tekanan formasi yang moderate sampai
tinggi.
- Tersedia untuk semen yang tidak tahan terhadap sulfate. Dan yang tahan
terhadap sulfate dari tingkat moderate sampai tinggi.

e. Kelas E
- Digunakan untuk kedalaman 6.000 ft sampai 14.000 ft.
- Digunakan untuk temperatur dan tekanan yang tinggi.
- Tersedia tipe yang tidak tahan terhadap sulfate, dan yang tahan terhadap
sulfate untuk tingkat tinggi.

f. Kelas F.
- Digunakan untuk kedalaman 10.000 ft sampai 16.000 ft.
- Utnuk menyemen formasi dengan temperatur dan tekan yang sangat tinggi.

14
g. Kelas G.
- Semen kelas G merupakan semen dasar, yang dapat dipakai sampai
kedalaman 8.000 ft.
- Kalau diinginkan untuk kondisi yang lain maka dapat ditambah dengan
additive yang sesuai.
- Tersedia untuk ketahanan terhadap sulfate untuk tingkat moderate sampai
tinggi.

h. Kelas H.
- Semen kelas H juga merupakan semen dasar, sama seperti semen kelas G.
- Tersedia untuk tingkat moderate sulfate resistance.

Kelas semen dari A sampai F merupakan semen yang tidak ditambahi dengan additive
dalam penggunaannya, sedangkan untuk kelas G dan H ditambahi dengan additve bila
diperlukan.

3.2. Sifat-sifat Bubur Semen


Bubur semen yang dibuat harus disesuaikan sifat-sifatnya dengan keadaan, formasi
yang akan disemen.
Sifat-sifat bubur semen yang dimaksud adalah sebagai berikut:
- Strength
- Water Cement ratio
- Berat Jenis
- Thickening Time
- Filtration Properties
- Permeabilitas
- Perforating qualities.
- Sulfate Resistance.

15
3.2.1 Strength
Bubur semen setelah ditempatkan pada tempat yang diinginkan harus mempunyai
strength tertentu. Sebetulnya strength dari semen yang diinginkan sama dengan
strength dari formasi yang akan disemen, maka umumnya diambil suatu patokan bahwa
bila strength dari semen mencapai 500psi dengan waiting on cement 24 jam, maka
strength semen sudah cukup baik. Dan pemboran sudah dapat dilanjutkan.

Waiting On Cement (WOC) diukur diwaktu plug diturunkan sampai plug dapat dibor
kembali.

3.2.2. Water Cement Ratio


water Cement Ratio adalah perbandingan air yang dicampurkan dengan bubuk semen di
waktu membuat bubur semen.

Air yang dicampurkan tidak boleh terlalu banyak dan tidak boleh kurang, karena akan
memberikan ikatan semen yang tidak baik dengan formasi.

Batasannya diberikan dalam bentuk kadar maksimum air dan kadar minimumnya. Kadar
minimum air adalah jumlah air yang dicampurkan tanpa menyebabkan consistency dari
bubur semen lebih dari 30 poise.
Kalau air yang ditambahkan lebih kecil dari kadar minimumnya, gesekan-gesekan di
annulus diwaktu memompakan bubur semen akan menjadi besar dan menaikkan
pressure di annulus. Bila formasi yang dilalui tidak tahan maka formasi bisa rekah.

Kadar maksimum dari air yang dicampurkan dicari sebagai berikut: Bila diambil dalam
tabung bubur semen sebanyak 250 ml, didiamkan selama 2 jam terjadilah air bebas
pada bagian atas dari tabung. Air bebas ini tidak boleh lebih dari 2,5 ml. Kalau air
dicampurkan melebih maksimumnya, tentu pemisahan air bebas setelah 2 jam akan
lebih dari 2,5 ml. Akibatnya akan terbentuk kantong-kantong air di dalam semen.
Diwaktu semen mengeras air akan keluar sehingga timbul rongga-rongga di dalam
semen. Hal ini tidak diinginkan karena menyebabkan semen mempunyai permeabilitas.
16
Jadi air yang dicampurkan dalam membuat bubur semen harus berada antara kadar
minimum dan kadar maksimum.
Menurut Allen T.O dan Robert A.P jumlah air yang dicampurkan untuk kelas-kelas
semen tertentu, yang disesuaikan dengan berat jenis, temperatur dan kedalaman
tertentu pula. Untuk jelasnya lihat tabel-1

TABEL 1
WATER CEMENT RATIO

Kelas WCR Berat Jenis Kedalaman Temperatur


Semen gl/sk ppg ft Statis, F
A 5.2 15.6 0 - 6000 80 170
B 5.2 15.6 0 - 6000 80 170
C 6.3 14.8 0 - 6000 80 170
D 4.3 16.3 6000 12000 170 260
E 4.3 16.3 6000 - 14000 170 290
F 4.3 16.3 10000 - 16000 230 320
G 5.0 15.8 0 - 8000 80 200
H 4.3 16.3 0 - 8000 80 200

Pada tabel 2 tertera juga tentang kadar maksimum dan kadar minimum air yang
ditambahkan.

TABEL 2
Kadar Maksimum dan Kadar Minimum Air

Kelas Kadar Maks. Berat Jenis Kadar Min. Berat Jenis


Semen air, gl/sk ppg air, gl/sk ppg
A 5.5 15.39 3.9 16.89
B 7.9 13.92 6.32 14.80
C 4.4 16.36 3.15 17.84
17
Akibat lain pengurangan jumlah air yang dicampurkan adalah sebagai berikut:
- Berat Jenis serta compressive strength naik.
- Viskositas bubur semen naik.
- Volume bubur semen berkurang.

3.2.3. Berat Jenis


Berat Jenis dari bubur semen sangat penting juga diperhatikan. Karena sangat
berpengaruh terhadap tekanan bubur semen. Bila formasi tidak sanggup menahan
tekanan pendorong bubur semen, maka formasi akan rekah, akibatnya bubur semen
akan masuk ke dalam rekahan yang terjadi.

Berat jenis bubur semen tergantung kepada bubuk semen, air yang dicampurkan serta
additive.
Secara rumus dapat dituliskan sebagai berikut:

Gbk + Gw + Ga
BJ = ------------------- (3-1)
Bs Vbk + Vw + Va

Dimana :
BJ = Berat Jenis bubur semen
bs
Gbk = berat bubuk semen
Gw = berat air
Ga = berat additive
Vbk = volume bubuk semen
Vw = volume air yang dicampurkan.
Va = volume additive yang dicampurkan.
18
Contoh soal
Untuk membuat bubur semen diperlukan air 5,2 ga/sak. Bubuk semen yang diperlukan
adalah 500 sak. Berapa gallon air yang diperlukan.

Penyelesaian
Air yang diperlukan adalah : WCR x Jumlah sak semen
: 5.2 gal/sak x 500 sak
: 2600 gal.

Contoh
Bubur semen dibuat dari air (5.2 gal/sak, 8.4 ppg), dan tepung semen (SG=3.1, 94
lg/sak). Berapakan berat jenis bubur semen yang terjadi?

Penyelesaian
Berat Jenis : 5.2 gal/sak x 8.4 lb/gal
: 43.68 lb/sak
Berat tepung semen : 94lb/sak

Berat Jenis tepung semen : 3,1 x 8.33 ppg


: 25.823 ppg
volume tepung semen : 94 lb / sak = 3.64 gal/sak
25.823 lb/sak
volume air : 5.2 gal/sak
volume bubur semen yang terjadi : 5.2 gal/sak + 3.64 gal/sak
: 8.84 gal/sak

Berat jenis bubur semen yang terjadi:


Berat bubur semen yang terjadi 137.68 lb/sak
---------------------------------------- = ----------------- = 15.57 ppg
Volume bubur semen yang terjadi 8.84 gal/sak
19
Secara tabulasi:

Komponen Volume, gal / sak Berat, lbs /sak


Air 5.2 43.68
Tepung 3.64 94.00
Semen
Bubur 8.84 137.68
Semen

137.68
Berat jenis bubur semen = -------- = 15.57
8.84

Bubur semen sering memakai bantonite sebagai additive. Komposisinya dalam % berat
tepung semen.

Contoh:

Bubur semen dibuat dari air (5.2 gal/sak, 8.4 ppg), dan tepung semen (SG=3.1, 94
lb/sak). Serta bentonite (SG= 2.61 ; 2%). Berapakah berat jenis bubur semen yang
terjadi?

Penyelesaian.
Berat air : 5.2 gal/sak x 8.4 lb/sak
: 43.68 lb/sak
Berat tepung semen : 94 lb/sak
Berat bentonite : 0.02 x 94lb/sak = 1.88 lb/sak
Berat bubur semen yang terjadi :
43.68 lb /sak + 94 lb/sak + 1.88 lb/sak = 139.56/lb/sak.
Berat jenis tepung semen : 3.1 x 8.33 ppg
: 25.823 ppg
20
Volume tepung semen : 94 lb/sak
----------------- = 3.64 gal/sak
25.823 lb/sak
Berat Jenis bentonite : 2.6 x 8.33 ppg
: 21.658 ppg
Volume bentonite : 1.88 lb/sak
---------------- = 0.087 gal/sak
21.568 lb/sak
Volume air : 5.2 gal/sak

Volume bubur semen yang terjadi:


5.2 gal/sak + 3.64 gal/sak + 0.087 gal/sak = 8.927 gal/sak
Berat Jenis bubur semen yang terjadi :
Berat bubur semen yang terjadi 139.56 lb/sak
---------------------------------------- = ----------------- = 15.63 ppg
Volume bubur semen yang terjadi 8.927 gal/sak

Secara Tabulasi
Komponen Volume, gal / sak Berat, lbs / sak
Air 5.2 43.68
Tepung 3.64 94.00
Semen
Bentonite 0.087 1.88
Bubur semen 8.927 139.56

139.56
Berat jenis bubur semen = ------------------ = 15.63 ppg
8.927

21
3.2.4. Thickening Time
thickening Time adalah waktu yang diperlukan bagi bubur semen untuk mencapai
consistency 100 Uc. Consistency 100 Uc merupakan batasan bagi bubur semen untuk
dapat dipompakan lagi. Sehingga thickerning time sering juga disebut dengan
pumpability.

Sifat bubur semen ini sangat perlu, karena waktu pemompaan bubur semen harus selalu
lebih kecil dari thickening time. Kalau tidak bubur semen tidak akan sampai ke tempat
penempatannya, dan akan mengeras di dalam casing. Hal ini merupakan kejadian yang
sangat fata, dan tidak boleh terjadi.

Untuk sumur-sumur yang dalam atau dengan kata lain untuk kolom semen yang sangat
panjang, tentu waktu pemompaan bubur semen akan lama, untuk keadaan seperti itu
perlu untuk memperpanjang thickening time. Sebaliknya untuk sumur yang dangkal
perlu untuk memperpendek thickerning time. Kalu tidak pengerasan bubur semen akan
sangat lama, dan ini merupakan kehilangan waktu.

Untuk memperpanjang atau memperpendek thickening time adalah dengan jalan


menambahkan additive ke dalam bubur sumur.

3.2.5. Filtration Properties


karena bubur semen terdiri dari padatan dan cairan, cairan dari bubur semen dapat
masuk ke dalam formasi-formasi permeable yang dilewatinya. Cairan atau umumnya air
yang masuk ini disebut dengan filtrat. Filtrat ini tidka boleh terlalu banyak. Sebab akan
membuat bubur semen kekurangan air. Kondisi seperti ini disebut dengan Flash Set.

Bila bubur semen mengalami flash set maka akibatnya sama seperti kalau air yang
dicampurkan membuat bubur semen lebih kecil dari kadar minimumnya, yang mana
akan menyebabkan friksi di annulus naik, pressure loss naik dan tekanan bubur semen
di annulus naik. Bila hal ini terjadi maka formasi akan pecah bila formasi tidak tahan.

22
Jadi dapat disimpulkan bila formasi yang akan dilalui oleh bubur semen merupakan
formasi yang porous dan permeable, maka perlu penambahan additive yang sesuai
sebelum bubur semen dipompakan, atau dengan kata lain sebelum dilakukan
penyemenan.

3.2.6. Perforating Qualities


semen yang keras atau dengan kata lain semen yang mempunyai strength yang besar
tidak baik diperforasi, semen akan remuk. Sehingga dianjurkan untuk melakukan
perforasi di saat semen belum keras betul.

Disarankan juga, untuk kolom semen yang akan diperforasi jangan digunakan semen
yang mempunyai strength awal yang tinggi.

Kalau semen yang diperforasi pecah dan remuk, maka pada daerah batas minyak
dengan air atau batas minyak dengan gas akan terproduksi fluida yang tidak kita
ingingkan.

Yang umum adalah cepat terproduksi air. Agar semen tidak mempunyai strength awal
yang tinggi dapat ditambahkan additive yang sesuai.

3.2.7. Permeabilitas Semen


semen diinginkan tidak mempunyai permeabilitas. Kalau semen mempunyai
permeabilitas, fungsi dari semen tidak terpenuhi atau semen tidak berfungsi.
Permeabilitas semen dapat naik karena air yang dicampurkan dalam bentuk bubur
semen terlalu banyak. Dan permeabilitas semen dapat juga naik karena berlebihan
menambah additive.

3.2.8. Sulfate Resistance, Corrosion Resistance


adanya formasi yang mengandung cairan-cairan perusak semen, seperti Na2S04;
MgS04; MgC12. Semen akan lunak bila kena cairan-cairan diatas. Kalau semen lunak,
berarti semen tidak berfungsi dalam hal menahan cairan formasi menuju casing, dan
23
casing akan berkarat. Oleh sebab itu dipilih semen yang tahan terhadap cairan yang
disebutkan di atas.

Cairan garam sulfate ataupun MgC12 diatas tidak melunakkan semen untuk temperatur
tinggi. Jadi persoalan pelunakan semen sangat kritis untuk formasi-formasi dangkal.

Melunaknya semen dikarenakan cairan garam di atas bereaksi dengan lime dan senyawa
alumina. Karena itu tri calcium aluminate tidak boleh lebih dari 3%.

3.3. Additive
Additive merupakan bahan-bahan yang ditambahkan dalam membuat bubur semen,
untuk mendapatkan sifat-sifat bubur semen sesuai dengan yang diinginkan. Bubur
semen yang dibuat dari bubuk semen dan air saja disebut dengan neat cement.

3.3.1 Exteder
Extender adalah addiitive untuk menaikkan volume dari bubur semen. Pada umumnya
penambahan extender diiringi dengan penambahan air. Kenaikkan volume tidak
seimbang dengan kenaikkan berat bubur semen, sehingga akan cepat penurunan berat
jenis bubur semen.

Bahan-bahan yang termasuk sebagai extender adalah:


- Bentonite
- Pozzolan
- Diatomaceous Earth
- Gilsonite

Bentonite
Bentonite merupakan bermineral clay. Sifat utamanya adalah dapat menghisap air
dengan banyak, sehingga volume bubur semen yang terjadi bisa naik sampai 10 kali.
Akibatnya berat jenis bubur semen dapat turun lebih besar.

24
Penambahan bentonite harus diiringi dengan penambahan air. Untuk 2x bentonite kira-
kira penambahan air adalah 1.3 gallon per sack.

Pengaruh lain akibat penambahan bentonite adalah:


- Yield semen naik
- Biaya lebih murah
- Perforating qualities baik.
- Compressive strength semen menurun
- Permeabilitas semen naik.
- Viskositas bubur semen naik.

Untuk temperatur 230 derajat F ke atas penambahan bentonite sangat drastis


menurunnya strength semen dan menaikkan permeabilitas semen.

Pada tabel berikut terlihat pengaruh penambahan bentonite terhadap compressive


strength.
Tabel 3
Pengaruh Penambahan Bentonite Terhadap Compressive Strength
During Time Temperatur % Bentonite Compressive
Jam F Strength, psi
12 100 0 1035
12 100 4 375
12 100 8 155
12 100 12 75

25
Tabel 3
Pengaruh Penambahan Bentonite Terhadap Compressive Strength
During Time Temperatur % Bentonite Compressive
Jam F Strength, psi
24 120 0 3595
24 120 4 1380
24 120 8 610
24 120 12 510

Pozzolan
Pozzolan merupakan extender yang tidak terlalu banyak menurunkan compressive
strength semen. Sedangkan penambajan pozzolan terhadap bubur semen adalah sama
dengan penambahan bentonite.

Umumnya campuran bubuk semen pozzolan adalah 50% berbanding 30% dan biasanya
bentonite 2%. Pengaruh campuran pozzolan bubuk semen dan bentonite terhadap
compressive strength adalah seperti tabel 4.

Untuk prosentase bentonite yang selain 2%, pengaruhnya terhadap compressive


strength adalah seperti pada tabel 5.

26
Tabel 4
Compressive Strength Semen Campuran Bubuk Semen Pozzolan
dan Bentonite 50% : 50% : 50%

Compressive strength, psi


Temperatur derajat F
During time
Jam 60 80 100 120 140 160 180
6 NS NS 110 235 380 660 830
12 25 120 295 490 685 1250 1520
18 60 195 445 660 880 1565 2000
24 100 350 600 815 1125 2300 2880
72 375 880 1210 1460 2145 3000 3105
CATATAN:
NS= Not Set = tidak melekat.

Tabel 5. Pengaruh penambahan pozzolan dengan perbandingan 50% : 50%


dengan bubuk semen terhadap compressive strength untuk prosentase
bentonite tertentu.

Compressive strength, psi


Temperatur derajat F

Bentonite
% 80 100 140
2 350 600 1125
4 225 390 600
6 150 300 550
8 100 220 425

Semen (bubur semen) yang dibuat dari campuran bubuk semen dan pozzolan disebut
dengan pozzolan cement.

27
Pada tabel dibawah ini diperlihatkan jumlah air yang diperlukan untuk perbandingan
pencampuran tertentu, dan berat jenis serta yield yang dihasilkannya.

Tabel 6. Sifat-sifat bubur semen pada pozzolan cement

Pozzolan Bubuk Bentonite Air Berat jenis Yield


% Semen % gal/sack slurry, ppg cuft / sack
0 100 0 5.20 15.60 1.17
50 50 2 5.75 14.15 1.26
50 50 4 6.95 13.60 1.43
50 50 6 7.66 13.30 1.53
50 50 8 8.37 13.10 1.64

Selain pozzolan cement ada juga semen yang dibuat dari pencampuran pozzolan dengan
tanpa bubuk semen. Di pasaran dikenal dengan nama Pozmix-140 cement, umumnya
keluaran Halliburton. Semen ini berat lime 10% sampai 15% dari pozzolan. Campuran
ini memberikan thickening time 3 sampai 4 jam, untuk range temperatur 140 derajat
400 derajat F.

Kebaikannya adalah strength tidak turun untuk temperatur di atas 230 derajat F.

Diatomaceous Earth
Bahan ini berasal dari silika suatu sedimen. Diatomiceous Earth mempunyai surface area
yang besar, sehingga memerlukan banyak air dalam pembuatan bubur semen.
Umumnya dicampurkan antara 10% sampai 40% dari berat bubuk semen. Di pasaran
sering disebut dengan:
- Diecel D, buatan Phillips Pet. Co
- Letepoz 2, buatan Dowell Schlumberger.
Dalam halaman berikut ini ditabelkan sifat-sifat Diatomaceous Earth Cement.

28
Tabel 7 sifat-sifat Diatomaceous Earth Cement.

Dia. Earth Air Berat Jenis Yield


gal / sack ppg Cuft / sack
0 5.2 15.60 1.18
10 10.2 13.20 1.92
20 13.5 12.40 2.42
30 18.2 11.70 3.12
40 25.6 11.00 4.19

Gilsonite
Gilsonite tidak memerlukan banyak air. Sehingga menurunkan compressive strength
semen akan lebih kecil dibandingkan dengan extender yang lain, untuk pengukuran
berat jenis yang sama.

Penambahan air adalah 2 gal per 59 lb gilsonite. Pada halaman berikut ini diperlihatkan
pengaruh penambahan gilsonite terhadap compressive strength semen.

Tabel 8 Pengaruh Gilsonite terhadap Compressive Strength


Gilsonite Bentonite
lb/sk. Bk % 80 F 100 F 140 F
0 0 2315 2740 6825
25 0 1250 1660 2725
50 0 730 960 1675
0 4 485 830 1805
25 4 365 605 1210
50 4 275 485 890

29
Expended Perlite
Expended merupakan extender yang berasal dari vulkanik. Umumnya ditambahkan juga
bentonite 2% sampai dengan 6% untuk mencegah pemisahan air.
Pada umumnya juga penambahan perlu penambahan air yang banyak, dibawah tekanan
expended perlite bertindak sebagai spons. Sehingga bubur semen akan mempunyai
berat jenis yang lebih besar dan volume yang lebih kecil untuk kondisi bertekanan
dibandingkan dengan kondisi di permukaan.
Dengan tabel berikut ini dapat dilihat hubungan penambahan expanded perlite.

Tabel 9 sifat-sifat bubur semen Perlite Semen.

Bentonite WCR Berat Jenis, Yiled Berat jenis Yield


% gal /sack ppg ft / sack ppg ft3 / sack
Tekanan atmosfir 3000 psi
Satu sack bubuk semen dan 1 cuft perlite
0 11.5 12.3 2.53 13.4 2.32
2 12.5 12.1 2.68 13.2 2.46
4 13.7 12.0 2.85 12.9 2.64

Satu sack bubuk semen dan cuft perlite


0 8.5 12.3 1.87 14.1 1.77
2 9.5 13.0 2.02 13.7 1.91
4 10.7 12.7 2.19 13.4 2.09

Satu sack bubuk semen dan cuft perlite 30


0 7.0 14.0 1.55 14.6 1.49
2 8.0 13.7 1.69 14.1 1.64
4 9.2 13.2 1.86 13.1 1.81

30
3.3.2. Retarder
Retarder adalah additive berfungsi untuk memperlambat atau memperpanjang
thickening time. Hal ini diperlukan untuk penyemenan sumur bertemperatur tinggi, atau
untuk sumur yang dalam atau kolom penyemenan yang panjang. Atau bila air banyak
yang terisap oleh penambahan additive lain sehingga thickening time berkurang.
Sebagaimana telah disebutkan di halaman terdahulu bhawa bila thickening time lebih
kecil dari waktu pemompaan bubur semen, maka bubur semen akan mengeras sebelum
sampai ke tempat yang diinginkan.

Bahan-bahan yang bertindak sebagai retarder sebagai berikut:


- Calcium Ligno Sulfonate
- Modified Lignin.
- CMHEC
- Garam (NaCl)

Calcium Ligno Sulfonate


Pengaruh Calcium Sulfonate terhadap thickening dapat dilihat pada tabel berikut.
Dimana bentonite adalah 12%, untuk kedalaman tertentu. Kalau secara normal
thickening time akan berkurang untuk pertambahan temperatur. Temperatur akan naik
dengan bertambahnya lubang.

Modified Lignin
Modified lignin adalah retarder untuk temperatur yang tinggi. Dan juga dapat sebagai
additive untuk menurunkan viskositas dari bubur semen.

Bahan ini terutama digunakan untuk:


- Pozzolan lime.
- Semen kelas D dan E.

Modified lignin tidak perlu menambahkan air yang banyak. Bahan ini dianjurkan untuk
kedalaman 12000 ft ke atas atau untuk temperatur 260 derajat F lebih.
31
Pada tabel berikut ini diperlihatkan modified lignin sebagai retarder untuk kedalaman
12000 ft sampai 18000 ft untuk penyemenan casing dan squeeze cementing dalam
keadaan statis maupun saat dinamis, untuk semen kelas D atau F. dengan kenaikan
kedalam sumur dan penambahan berbagai harga modified lignin didapatkan thickening
time bubur semen antara tiga sampai empat jam.
CMHEC
CMHEC adalah singkatan dari Carboxy Methyl Hidroxy Ethyl Cellulose. Bahan ini
digunakan untuk temperatur yang ekstrim. CMHEC memerlukan banyak air dalam
pencampurannya.

Tabel 12 Thickening Time Bubur Semen dengan penambahan Modified Lignin.


(Catatan untuk penyemenan casing)

Kedalaman Temperatur F Retarder Thickening


ft % Jam
Statis dinamis
12000 - 14000 260-290 172-206 0.2 34
14000 - 16000 290-320 206-248 0.3 0.5 34
16000 - 18000 320-350 248-300 0.7 1.0 3-4
Diatas 18000 350 ke atas 3000 ke atas 1.0 ke atas 34

12000 - 14000 260-290 231-242 0.6 0.8 34


14000 16000 290-320 242-271 0.8 1.0 34
Di atas 16000 320 ke atas 271 ke atas 1.0 ke atas 34

Garam (NaCl)
Konsentrasi NaCl yang dicampurkan harus lebih besar dari 5%. Kalau 1.5 sampai 3%
NaCl mempercepat thickening time. NaCl berguna untuk memeperbaiki ikatan semen
untuk menyemen formasi garam.

32
Untuk formasi shale digunakan juga air garam agar formasi shale tidak menghisap air
dari bubur semen. Sebab formasi shale menghisap air tawar.

Additive ini dapat pula menaikkan berat jenis bubur semen. Umumnya digunakan 3.1 lb
untuk setiap gallon air.

3.3.3. Accelerator
To accelerator maksudnya mempercepat. Accelerator artinya adalah additive untuk
mempercepat thickening time. Pada umumnya accelerator ditambahkan bila menyemen
sumur yang dangkal. Kalau tidak ditambahkan accelerator akan terlalu lama menunggu
bubur semen menjadi keras.

Bahan-bahan yang bertindak sebagai accelerator adalah:


- Calcium Chlorida
- Natrium Chlorida
- Desified Cement

Calcium Chlorida (CaCI2)


2% CaCI2 dapat melipat-duakan compressive strength semen dalam tempo 24 jam,
pada temperatur 120 derajat F. umumnya Calcium Chlorida yang ditambahkan berkisar
antara 2% sampai 4%. Diatas 4% strength semen bisa menjadi turun. Pengaruh
penambahan CaCI2 terhadap thickening time adalah seperti pada tabel berikut.
Terlihat pada tabel untuk kedalaman tertentu, dengan penambahan Calcium Chlorida
(kenaikan prosentase Calcium Chlorida) maka thickening time bubur semen turun.

Pengaruh thickening time terhadap compressive untuk 2% penggunaan akan


memperkecil thickening time, akan tetapi penambahan 4% Calcium Chlorida lebih sedikit
kenaikan compressive strengthnya dibandingkan dengan penambahan 4%.

Hal ini dapat terlihat pada tabel 14, untuk percobaan dengan memakai bubuk semen
kelas A, dengan penambahan Calcium Chlorida dua dan empat persen.
33
Tabel 13
Pengaruh Calcium Chlorida terhadap Thickening Time Bubur Semen

Thickening Time, jam menit


% CaCI2 Kedalaman, ft
2000 4000 6000
0 4,00 3,48 2,32
2 3,15 2,30 1,47
4 2,38 1,55 1,05

Tabel 14
Pengaruh Calcium Chlorida terhadap Compressive Strength Bubur Semen
Compressive Strength, psi
Curing Time % CaCI2 Temperatur derajat F
Jam 60 80 100 120
6 0 NS 45 385 905
12 0 65 365 830 1660
18 0 185 915 1525 3060

Natrium Chlorida (NaCl)


Natrium Chlorida atau garam dapur, dapat bertindak sebagai retarder dan dapat juga
sebagai accelerator, hal ini tergantung kepada konsentrasi garamnya. Penambahan NaCl
akan menurunkan thickening time prosentase penambahan NaCl 2 dan 4% adalah
seperti pada tabel 15.

Pengaruh penambahan NaCl terhadap compressive strength untuk tekanan, temperatur


dan waktu tertentu dilihat pada tabel 16. Dimana untuk penambahan NaCl untuk
tekanan temperatur dan waktu yang sama akan menaikkan compressive strength
semen.

34
Tabel 14
Pengaruh Calcium Chlorida terhadap Compressive Strength Bubur Semen
(lanjutan)
Compressive Strength, psi
Curing Time % CaCI2 Temperatur derajat F
Jam 60 80 100 120
24 0 430 1250 1805 3815
48 0 1040 1398 3490 5990
6 2 115 300 1015 1800
12 2 505 1055 2400 3260
18 2 750 1325 3075 4210
24 2 1580 2415 3910 5475
48 2 3050 4385 6340 6525
6 4 155 360 970 1445
12 4 610 1005 2090 2715
18 4 900 1395 2885 3635
24 4 1620 2385 3490 3665
48 4 2850 3715 4990 4830

Desified Cement
Desified cemen maksudnya bubur semen yang dikurangi WCR nya. Dengan
mengurangi air yang dicampurkan dalam membuat bubur semen, maka dihasilkan
semen yang padat.
Dengan demikian akan didapatkan berat jenis bubur semen yang lebih besar dan
thickening bubur semen yang lebih kecil.

35
Tabel 15
Pengaruh Sodium Chlorida
Terhadap Thickening Time Bubuk Semen

Thickening Time, jam, menit


Prosentase Kedalaman, ft
NaCl, % 1000 2000 4000 6000
0 4.40 4.12 2.30 2.25
2 3.05 2.27 1.52 1.13
4 3.05 2.35 1.35 1.20

Tabel 16
Pengaruh Sodium Chlorida terhadap
Compressive Strength Bubur Semen

Curing Compressive Strength, psi


Time % NaCl Tekanan dan Temperatur, psi, F
Jam 60 ; 14,7 80 ; 14,7 95 ; 800 110 ; 1600
12 0 80 560 800 1120
24 0 615 1905 2080 2925
12 2 290 960 1590 2600
24 2 1230 2260 3200 3420
12 4 280 1145 1530 2575
24 4 1390 2330 3150 3400

Pengurangan air yang dicampurkan dalam membuat bubur semen boleh dilakukan kalau
sudah memakai frictin loss reducer. Kalau tidak akan menyebabkan gesekan di annulus
besar. Jadi dengan kata lain bila mengurangi air yang dicampurkan dalam membuat
bubur semen harus diiringi oleh penambahan friction reducer, agar tidak banyak
gesekan di annulus.
36
Tabel 17 dibawah ini memperlihatkan penambahan friction reducer bila air yang
dicampurkan dikurangi, dan memperlihatkan berat jenis bubur semen yang dihasilkan
dan juga yield bubur semen.

Tabel 17
Sifat-sifat bubur semen Desified cement

Air Frictin Berat jenis Yield


gal / sack reducer (5) ppg cuft / sack
5,20 0,00 15,6 1,18
4,75 0,75 16,0 1,12
4,24 1,00 16,5 1,05
3,78 1,00 17,0 0,99
3,38 1,00 17,5 0,93
3,02 1,00 18,00 0,89

3.3.4. Filtration Loss Additive


Karena bubur semen mengandung cairan di dalamnya, bila bubur semen melewati
formasi yang porous dan permeable, maka air yang terdapat dalam bubur semen akan
terisap ke daam formasi tersebut. Hal ini akan menyebabkan bubur semen kekurangan
air. Akibatnya sudah diuraikan pada halaman terdahulu. Agar air dari bubur semen tidak
banyak terisap oleh formasi maka dilakukan beberapa cara, caranya adalah sebagai
berikut:
- Menambahkan material-material yang membentuk film yang dapat menutup
permukaan formasi yang porous dan permeable.
- Menambahkan material-material yang bila bertemua dengan air akan
membetuk emulasi, yang dapat menghambat aliran masuk ke dalam formasi
tersebut.
- Menambahkan material-material yang dapat menyumbat pori-pori formasi.
37
Material-material yang ditambahkan tersebut umumnya adalah bentonite, latex, CMHEC
dan organic polymer.

Bentonite
Bentonite bila ditambahkan ke dalam bubur semen akan membentuk filter cake yang
bertindak sebagai film dalam menutupi permukaan formasi yang porous dan permeable.

Latex
Latex bila ditambahkan dalam bentuk bubur semen akan membentuk film. Selain dari itu
akan menjadikan semen mempunyai sifat perforating qualities yang baik, penahan
korosi dan kontaminasi.

CMHEC
Carboxyl Methyl Hidrocyl Cellulose (CMHEC), juga merupakan bahan yang dapat
membentuk film yang tipis pada permukaan formasi yang porous dan permeable, bila
ditambahkan dalam pembuatan bubur semen.
Karena CMHEC bertindak sebagai retarder, maka dianjurkan untuk menambahkan
natrium silicate, bila tidak diinginkan thickening time yang lama. Ini dilakukan untuk
temperatur dibawah 170 derajat F. Untuk temperatur di atas 170 derajat F tidak perlu.
Karena pengaruh retarder tidak merugikan.

3.3.5 Lost Circulation Additive

Material yang sering dipakai untuk mengurangi atau menanggulangi lost circulation pada
lumpur, juga dipakai untuk mengatasi lost circulation pada semen.
Bahan-bahan itu antara lain:
- Raw cotton
- Bagasse
- Wood fiber
- Cellophase.
- Asphalt
38
- Sawdust
- Mica
- Dan lain-lain..

Gilsoite kadang-kadang digunakan juga, begitu juga perlite. Gilsonite dpandang sebagai
bahan yang terbaik. Biasanya 5 sampai 25lb, ditambahkan tiap sack bubuk semen.

3.3.6. Friction Reducer


Bahan ini digunakan untuk mengurangi tahana terhadap aliran bubur semen sampai ke
tempat yang di inginkan.
Diusahakan aliran berbentuk turbulent, denganjalan memperbesar Reynold number.

Additive sebagai friction reducer ini antara lain adalah organic dispersant, yang dapat
menyebabkan aliran turbulent pada rate yang rendah.
Selain itu dapat digunakan garam, calcium lignosulfonate dan cellulose material yang
bermolekul tinggi.

3.3.7. Contamination Additive


Additive ini dicampurkan guna menghindari kontaminasi bubur semen dengan lumpur.
Bahan ini antara lain adalah:
- Mud Kil
- Adtivated Charcoal.

Mud Kil.
Mud-Kil adalah suatu bahan yang dapat menetralkan quobracho, tannine yang mana
kimiawi-kimiawi ini bertindak sebagai retarder pada bubur semen.
39
Activated Charcoal
Activated Charcoal adalah bahan untukmenghindari kontaminasi dengan lumpur. Bahan
ini akan bertindak menghalangi pengaruh zat kimia perawat lumpur terhadap bubur
semen.
Umumnya activated charcoal yang ditmabahkan berkisar antara 3% sampai 5%. Kalau
lebih dari 5% maka bahan ini bertindak sebagai accelerator terhadap bubur semen.
Bahan ini tidak digunakan untuk retarder cement, karena akan memperpendek
thickening time bubur semen.

3.3.8. Weight Materials.


Weight Material ditambahkan dalam membuat bubur semen bila akan menyemen
formasi bertekanan tinggi.
Untuk menaikkan berat jenis bubur semen ditambahkan dalam pembuatan bubur semen
antara lain:
- Ilmenite
- Barite
- Pasir
- Densified cement
- Garam (NaCl)

Ilmenite
Ilmenite merupakan bahan yang terbaik sebagai weight material. Material ini adalah
inert solid dan tidak memberikan pengaruh terhadap thickening time. Rumus kimia solid
dari Ilmenite adalah FeTi03, mempunyai SG 4,7. Distribusi ilmenite dalam bubur semen
dapat merata atau uniform. Berat Jenis bubur semen yang terjadi dapat mencapai 22
ppg.

Barite.
Barite merupakan bahan yang paling umum digunakan untuk menaikkan berat jenis
bubur semen, maupun lumpur pemboran. Bubur semen menjadi 18ppg. Kata lain untuk
barite adalah barium sulfate.
40
Dalam penambahan barite, perlu diiringi dengan penambahan air untuk membasahi
partikelnya, karena barite mempunyai surface area yang besar.
Air ini dapat juga melarutkan retarder dari bubur semen. Sehingga thickening time-nya
jadi singkat. Penambahan air yang banyak dapat menurunkan compressive strength dari
semen.

Pasir
Pasir yang digunakan untuk menaikkan berat jenis bubur semen umumnya adalah Pasir
ottawa (Ottawa sand). Berat jenis yang terjadi dapat mencapi 18 ppg. Biasanya
digunakan untuk menyemen lubang untuk pemasangan whipstock SG dari ottawa sand
adalah 2,6 sehingga untuk menaikkan berat jenis bubur semen diperlukan pasir yang
banyak.

Densified Cement
Bubur semen yang dikurangi air dalam pembuatannya akan memberikan berat jenis
bubur semen yang lebih tinggi. Dalam pembuatannya harus diiringi dengan
menambahkan friction reducer 0,75 sampai 1% berat bubuk semen.

Sodium Chlorida (Natrium Chlorida)


Untuk menaikkan berat jenis bubur semen yang kecil saja, dapat ditambahkan natrium
chlorida. Kenaikkan yang diperoleh 0,5 ppg sampai 1 ppg.

3.4. Semen Khusus


Semen khusus mempunyai keistimewaan jika dibandingkan dengan semen-semen yang
telah dijelaskan sebelumnya.
Harganya lebih mahal. Oleh sebab itu semen khusus baru digunakan bila penyemenan
dengan semen-semen lain gagal.
Semen yang termasuk semen khusus antara lain:
- Diesel Oil Cement
- Resin Cement.
41
- Gypsum Cement.
- Hight temperature cement.
- Quick setting cement.

Diesel Oil Cemen (DOC)


Diesel Oil Cement adalah bubur semen yang dibuat dari campuran bubuk semen dengan
minyak diesel (kerosine) dan surfce active agent. Bubur semen yang terjadi tidak
bersifat menyemen dan tidak mengeras.
Bila bubur semen ketemu dengan air, maka minyak diesel akan terdorong oleh air,
sehingga sekarang bubur semen merupakan campuran antara bubuk semen dengan air
dan dapat bersifat mengeras. Jadi bubur semen ini mempunyai thickening time yang
tidak terbatas. Atau waktu pemompaan nya tidak terbatas.
Semen ini baik untuk menutup formasi gas atau air, dimana semen jenis lain gagal
hasilnya.

Resin Cement.
Resin Cement merupakan pencampuran bubuk semen dengan resin atau damar dan air.
Keisitimewaan semen ini adalah bubur semen dapat menembus mud cake, sehingga
ikatan semen formasi sangat baik.
Berhubung harga damar atau resin mahal, maka semen ini jarang digunakan.

Hight Temperature Cement.


Dari istilahnya terlihat bahwa semen ini baik digunakan untuk menyemen formasi yang
mempunyai formasi yang mempunyai temperatur tinggi.
Dimana pada temperatur 400 derajat F masih memberikan strength yang baik. Yang
mana semen yang lain untuk temperature yang mencapai 350 derajat ke atas, strength
semen akan turun.
Hight temperature cement merupakan pencampuran bubuk semen. Dengan
penambahan HR-12,s emen ini dapat digunakan sampai temperatur 400 derajat F.

42
Quick Setting Cement
Quick setting cement merupakan semen yang sangat cepat mengeras. Semen ini dibuat
dari pencampuran bubuk semen dengan Plaster of Paris (CaS04 H2O), dengan
perbandingan 1:1. Semen ini baik digunakan untuk menutup formasi yang menimbulkan
blowout dan lost circulation.

Keistimewaan lain adalah bahwa semen ini mempunyai kekerasan awal (early strength)
yang tinggi. Kekurangannya adalah bahwa semen ini hanya dapat menyemen formasi
yang dangkal.

Gypsum Cement
Gypsum cement merupakan semen yang dibuat dari pencampuran gypsum (CaS04
2H2O) dengan bubuk semen.

Semen ini mempunyai sifat sebagai berikut:


- Cepat mengeras
- Mengembang setelah ditempatkan.
Oleh sebab itu semen ini baik untuk blowout dan circulation.

3.5. Pengaruh Temperatur dan Tekanan Terhadap Semen


kenaikan temperatur dan tekanan akan menaikkan compressive strength dari semen.
Akan tetapi untuk temperatur di atas 230derajat F, compressive strength dari semen
turun.

Penurunan strength dari semen disebut dengan strength retrogession dapat pula terjadi
karena penambahan air diwaktu pembuatan bubur semen terlalu banyak.
Selain dari itu additive yang terlalu banyak dapat menyebabkan strength restrogression
pula. Contohnya bentonite yang ditambahkan terlalu banyak akan menyebabkan
strength semen turun.

43
Itulah sebabnya bentonite harus dibatasi dan bentonite jangan digunakan untuk
temperature yang lebih dari 230 derajat F. strength semen akan naik dengan
bertambahnya waktu. Hal ini berlangsung sampai waktu setahun atau lebih. Setelah itu
dari semen akan konstan.
44
PENUTUP

Syukur Alhmdulillah penulis telah dapat menyelesaikan buku Teknik Penyemenan Jilid I
ini tanpa halangan yang berarti.

Semoga dengan mempelajari buku ini pembaca menguasai:


- Kegunaan penyemenan
- Komponen-komponen bubur semen
- Sifat-sifat bubur semen
- Additive-additive yang diperlukan
- Serta semen khusus.

Pada buku Penyemenan Jilid II pembaca akan dapat mempelajari kelanjutan jilid I ini.
Terutama tentang cara-cara penyemenan untuk sumur migas dan peralatan-
peralatannya.

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan dan kemampuan kepada penulis.

Terima kasih atas perhatian pembaca.

Cepu, April 1998


Hormat Penulis
45
DAFTAR PUSTAKA

1. Anon : A Guisde to Oil and Well Cemen and


Cementing Additives, Petroleum Equipment
and Services, 1968
2. Baker Line : Service Catalog. A Baker Tools Company,
San Antonii, 1981
3. Bambang, T : Teknik Pemboran II, Patra, ITB, Bandung,
1970
4. Brantly, J.E. : Rotary Handing Handbook, New York,
1961
5. Craft and Holden : Well Design Drilling and Production, New
Jersey, 1962
6. Dowell Schlumberger : Cementing Technology, 1983
7. Halliburton : Sales and Services Catalog, Halliburton
Company, Duncan, 1983
8. K. Smith, Dwight : Cementing, AJME, New York, 1976
9. Kaswir Badu : Pipa Selubung dan Penyemenan, PPT
Migas, Cepu, 1987
10. Nel J. Adam : Drilling Engineering, Penn Well Books,
PennWell Publishing Company, Tulsa,
Oklahoma, 1985