Anda di halaman 1dari 18

PRE PLANNING

PENYULUHAN MENGADAKAN MENGECEK KESEHATAN


Keperawatan Komunitas

Disusun Oleh :

Kelompok B1

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM

STIKBA JAMBI

Tahun 2017

1
PREPLANNING

MENGADAKAN CEK KESEHATAN GRATIS

RT 31 LRG WIDURI II KOTABARU JAMBI

A. Latar belakang
Dalam rangka pelaksanaan Praktek Keperawatan Komunitas mahasiswa Program
Studi Ilmu Keperawatan STIKBA Jambi yang diadakan di wilayah Rt 31 Lrg Widuri II
Kota Baru Jambi, Telah dilakukan pengkajian awal tentang masalah kesehatan yang
mungkin timbul di wilayah tersebut oleh mahasiswa pada tanggal 07 juni 2017 untuk
mendapatkan gambaran umum mengenai masalah kesehatan yang mungkin ada di
wilayah ini.

Dari hasil pengkajian yang dilakukan di RT 31 Lrg Widuri II Kota Baru Jambi
didapatkan data jumlah Masyarakat sebanyak 45 KK dan Jumlah data penyakit - penyakit
yang diderita oleh masyarakat diantaranya 89% warga mengalami hipertensi dan 11%
warga mengalami DM dari sini terlihat bahwa Masyarakat yang ada di RT 31 mengalami
berbagai macam penyakit yang beresiko mengancam nyawa bila tidak dikontrol dan
diatasi.

Berdasarkan fakta - fakta di atas, maka tanggung jawab perawat semakin besar
dalam upaya pencegahan kecacatan bahkan yang mengancam jiwa akibat penyakit
degeneratif yang diidap oleh masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
dengan mengadakan pemeriksaan kesehatan dan pemberian informasi guna meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang Penyakit degeneratif (Hipertensi, asam urat, jantung dan
diabetes) dan perawatannya sehingga masyarakat dapat melakukan perawatan dini secara
mandiri sebelum berkonsultasi pada pusat pelayanan kesehatan.

2
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah mengikuti pemeriksaan kesehatan masyarakat dapat mengetahui
kondisi kesehatan saat ini
2. Tujuan khusus
Setelah mengikuti kegiatan pemeriksaan kesehatan diharapkan masyarakat dapat:
a. Mengetahui kondisi kesehatan masyarakat sekarang
b. Mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan

3
C. Pelaksanaan Kegiatan
1. Topik.

Pemeriksaan Kesehatan degeneratif pada masyarakat

2. Sasaran dan Target.


Sasaran : Masyarakat Rt 31 Lrg Widuri II Kota Baru Jambi

Target : masyarakat

3. Metode.
Pemeriksaan Kesehatan

4. Media dan alat.


Tensimeter, Stetoskop, Gluco Cek, Alat cek asam urat, Stick Glukodr, Stik
Cek Asam Urat,

5. Waktu dan Tempat.


Hari/tanggal : Kamis 06 Juli 2017

Jam : 09.00 WIB s/d Selesai.

Tempat : Di Rumah Ketua RT

6. Pengorganisasian.
Penanggung Jawab : Nursulis Setiawan
Deppy Novendra

1. Moderator : Windi Purwanti

2. Fasilitator : Dede Sagita Putra


Mega Tri Utami
Windi Yuliani

4
Chandra Adiputra
Ersa Angraini
Desti Herlianda
Ratna Candra Dewi

3. Observer : M. Rivaldi

4. Setting Tempat.

: Pemeriksa/
Fasilitator

: Masyarakat

: Meja

: Observer

5
Kegiatan penyuluhan

N ACARA PELAKSANAAN WAKTU METODA


O
1 Pembukaan Penanggung Jawab 5 Menit Ceramah

2 Pemeriksaan kesehatan Pemeriksa 50 Menit Pemeriksa


dan konsultasi an/ tanya
jawab

Penutup
3. Penanggung jawab 5 Menit
Ceramah

No Kegiatan mahasiswa Kegiatan sasaran Pelaksana Waktu

1 Tahap pembukaan :

- Mengucapkan - Menjawab salam Penanggung 5 menit


salam - Memperhatikan Jawab
- Memperkenalkan - Mendengarkan
anggota dan memperhatikan
- Menjelaskan tujuan
dan kontrak pemeriksaan
kesehatan

6
2 Tahap pelaksanaan :

- Melakukan - Datang ke meja Fasilitator 45


pemeriksaan kesehatan pada tempat pemeriksaan menit
masyarakat kesehatan
- Memberikan - Mendengarkan
penjelasan hasil pemeriksaan penjelasan dan
kesehatan memperhatikan
- Menjelaskan - Mendengarkan
kondisi kesehatan dan memperhatikan
masyarakat pada saat ini
- Memberi - Mengemukakan
kesempatan pada sasaran pertanyaan
untuk bertanya
- Mendengarkan

- Memberi Informasi
dan motivasi agar sasaran
selalu rutin memeriksakan
kondisi kesehatan
3 Tahap penutupan :

- Menyimpulkan - Berpartisipasi Fasilitator 5 menit


materi bersama masyarakat dalam menyimpulkan
- Menutup dengan materi
salam - Menjawab salam

E. Uraian Tugas.

1. Penanggung Jawab.
Mengkoordinir persiapan pelaksanaan pemeriksaan kesehatan dan pendidikan
kesehatan.
2. Moderator.
Membuka acara

7
Memperkenalkan mahasiswa dan dosen pembimbing akademik dan Pendidikan.
Menjelaskan Tujuan dan Topik.
Menjelaskan kontrak waktu.
Menyerahkan kegiatan pemeriksaan kesehatan
Menutup acara.
3. Fasilitator
Melakukan pemeriksaan kesehatan
Membantu dalam menanggapi pertanyaan dari masyarakat
4. Observer.
Mengamati proses pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir.

D. Kriteria Evaluasi.
1. Evaluasi Struktur
Laporan telah dikoordinasikan sesuai perencanaan.
60% peserta menghadiri penyuluhan.
Tempat dan media serta alat penyuluhan sesuai rencana.
2. Evaluasi Proses
Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan.
Waktu yang direncanakan sesuai pelaksanaan.
75% peserta mengikuti kegiatan pemeriksaan kesehatan
3. Evaluasi Hasil.
a. Mengikuti kegiatan pemeriksaan kesehatan sampai selesai
b. Mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan
c. Mengetahui kondisi kesehatan sekarang.

8
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Hipertensi
Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih
besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar
95 mmHg (Kodim Nasrin, 2003).
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi
adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan
darah (Mansjoer,2000)
Hipertensi adalah keadaan menetap tekanan sistolik melebih dari 140 mmHg atau
tekanan diastolic lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostic ini dapat dipastikan dengan
mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang terpisah (FKUI, 2001)

B. Etiologi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar
yaitu : ( Lany Gunawan, 2001 )
a. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya,
b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain.
Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi, sedangkan 10 %
sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun hipertensi primer belum
diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa
faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi
sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
a. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na.
b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan

9
darah meningkat.
c. Stress Lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran
pembuluh darah.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan
perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun. 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer. Meskipun hipertensi primer
belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan
beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.
Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Faktor keturunan. Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah
penderita hipertensi. Ciri perseorangan. Ciri perseorangan yang mempengaruhi
timbulnya hipertensi adalah: Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ),
Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ), Ras ( ras kulit hitam lebih
banyak dari kulit putih )
b. Kebiasaan hidup. Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya
hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ), Kegemukan
atau makan berlebihan, Stress, Merokok, Minum alkohol, Minum obat-obatan
( ephedrine, prednison, epineprin )
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah :
a. Ginjal : Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor
b. Vascular : Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol,
Vaskulitis
c. Kelainan endokrin : DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme

10
d. Saraf : Stroke, Ensepalitis, SGB
e. Obat obatan : Kontrasepsi oral, Kortikosteroid

C. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : (Menurut : Edward K Chung,
1995 )
a. Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini
berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak
terukur.
b. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai
hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan
gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu :
a. Mengeluh sakit kepala, pusing
b. Lemas, kelelahan
c. Sesak nafas
d. Gelisah
e. Mual muntah
f. Epistaksis
g. Kesadaran menurun

D. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat
komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan
tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi
meliputi :
Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis
penatalaksanaan:
a. Penatalaksanaan Non Farmakologis.
1) Diet

11
Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan
tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar
adosteron dalam plasma.
2) Aktivitas.
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan
medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau
berenang.
b. Penatalaksanaan Farmakologis.
Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau
pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
1) Mempunyai efektivitas yang tinggi.
2) Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
3) Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
4) Tidak menimbulakn intoleransi.
5) Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
6) Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan
diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium, golongan penghambat
konversi rennin angitensin.

E. Pemeriksaan penunjang
a. Hemoglobin / hematokritUntuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap
volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor factor resiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal
b. Glukosa. Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat
diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi )
c. Kalium serum. Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
d. Kalsium serum. Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
e. Kolesterol dan trigliserid serum. Peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler)
f. Pemeriksaan tiroid. Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan

12
hipertensi
g. Kadar aldosteron urin/serum. Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab)
h. Urinalisa. Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.
i. Asam urat. Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
j. Steroid urin. Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
k. IVP. Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal,
batu ginjal / ureter
l. Foto dada. Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran jantung
m. CT scan. Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
n. EKG. Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung
hipertensi.

F. Komplikasi
Dalam perjalannya penyakit ini termasuk penyakit kronis yang dapat menyebabkan
berbagai macam komplikasi antara lain :
a. Stroke
b. Gagal jantung
c. Ginjal
d. Mata

13
A. DEFINISI DIABETES MELITUS
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengalirkan atau
mengalihkan (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis atau
madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume
urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah penyakit
hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan
relative insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2009).
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai
kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai
komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada
membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer dkk,
2007)

B. KLASIFIKASI
Dokumen konsesus tahun 1997 oleh American Diabetes Associations Expert
Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus, menjabarkan 4
kategori utama diabetes, yaitu: (Corwin, 2009)
1. Tipe I: Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)/ Diabetes
Melitus tergantung insulin (DMTI)
Lima persen sampai sepuluh persen penderita diabetik
adalah tipe I. Sel-sel beta dari pankreas yang normalnya
menghasilkan insulin dihancurkan oleh proses autoimun.
Diperlukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula
darah. Awitannya mendadak biasanya terjadi sebelum usia 30
tahun.
2. Tipe II: Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)/
Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Sembilan puluh persen sampai 95% penderita diabetik adalah
tipe II. Kondisi ini diakibatkan oleh penurunan sensitivitas

14
terhadap insulin (resisten insulin) atau akibat penurunan jumlah
pembentukan insulin. Pengobatan pertama adalah dengan diit
dan olah raga, jika kenaikan kadar glukosa darah menetap,
suplemen dengan preparat hipoglikemik (suntikan insulin
dibutuhkan, jika preparat oral tidak dapat mengontrol
hiperglikemia). Terjadi paling sering pada mereka yang berusia
lebih dari 30 tahun dan pada mereka yang obesitas.
3. DM tipe lain
Karena kelainan genetik, penyakit pankreas (trauma
pankreatik), obat, infeksi, antibodi, sindroma penyakit lain, dan
penyakit dengan karakteristik gangguan endokrin.
4. Diabetes Kehamilan: Gestasional Diabetes Melitus (GDM)
Diabetes yang terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak
mengidap diabetes.
C. ETIOLOGI
1. Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI)
a. Faktor genetic :
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi
suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe
I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe
antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan
gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun
lainnya.
b. Faktor imunologi :
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini
merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal
tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya
seolah-olah sebagai jaringan asing.
c. Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel pancreas, sebagai contoh
hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu
proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel pancreas.

15
2. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic
diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai
pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin
maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel
sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-
reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang
meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI
terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan
oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel.
Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan
system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu
yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi
insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price,
1995 cit Indriastuti 2008). Diabetes Melitus tipe II disebut juga Diabetes Melitus tidak
tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM)
yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih
ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada
masa kanak-kanak.
Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya
adalah:
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
d. Kelompok etnik

D. MANIFESTASI KLINIS

1. Diabetes Tipe I

16
hiperglikemia berpuasa
glukosuria, diuresis osmotik, poliuria, polidipsia, polifagia
keletihan dan kelemahan
ketoasidosis diabetik (mual, nyeri abdomen, muntah, hiperventilasi, nafas bau buah,
ada perubahan tingkat kesadaran, koma, kematian)
2. Diabetes Tipe II
lambat (selama tahunan), intoleransi glukosa progresif
gejala seringkali ringan mencakup keletihan, mudah tersinggung, poliuria,
polidipsia, luka pada kulit yang sembuhnya lama, infeksi vaginal, penglihatan kabur
komplikasi jangka panjang (retinopati, neuropati, penyakit vaskular perifer)

F. DATA PENUNJANG
1. Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa > 200 mg/dl,
2 jam setelah pemberian glukosa.
2. Aseton plasma (keton) positif secara mencolok.
3. Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat
4. Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya < 330 mOsm/I
5. Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, K normal atau
peningkatan semu selanjutnya akan menurun, fosfor sering menurun.
6. Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3
7. Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis dan hemokonsentrasi
merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
8. Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal
9. Insulin darah: mungkin menurun/ tidak ada (Tipe I) atau normal sampai tinggi
(Tipe II)
10. Urine: gula dan aseton positif
11. Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK, infeksi pernafasan dan
infeksi luka.

17
DAFTAR PUSTAKA
Suyono S. Diabetes Melitus di Indonesia. Buku ajar Ilmu Penyakit
Dalam. IV ed. Jakarta: Pusat penerbitan Ilmu Penyakit dalam FK UI;
2006.
Association AD. Hypertension Management in adults with diabetes
(position statement). 2004.

18