Anda di halaman 1dari 233

Penulis :

Drs. Mardjani, MT.; 081553894658; mardjani2006@yahoo.co.id

Penelaah :
Ch. Wawan D.; 081233072105; chandrakusuma@yahoo.com

Copyright 2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronika,
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
KATA SAMBUTAN

Peran guru professional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai


kunci keberhasilan belajar siswa. Guru professional adalah guru yang kompeten
membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan
pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen
yang menjadi focus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru.

Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP)


merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan
hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi
guru (UKG) untuk kompetensi pedagogik dan professional pada akhir tahun
2015. Hasil UKG menunjukkan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru
dalam penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompok-
kan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG
diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru pasca UKG melalui program Guru
Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen
perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Guru
Pembelajar dilaksanakan melalui pola tatap muka, daring (online), dan campuran
(blended) tatap muka dengan online.

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan


(PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK
KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah
(LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggungjawab dalam mengembang-
kan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru sesuai
bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut
adalah modul untuk program Guru Pembelajar (GP) tatap muka dan GP online
untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini
diharapkan program GP memberikan sumbangan yang sangat besar dalam
peningkatan kualitas kompetensi guru.

Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan Guru Mulia Karena
Karya.

Jakarta, Februari 2016


Direktur Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan

Sumarna Surapranata, Ph.D


NIP 195908011985031002

i
ii
DAFTAR ISI

Halaman
PENDAHULUAN 1
A. Latar belakang 1
B. Tujuan Pembelajaran 2
C. Peta Kompetensi 3
D. Ruang Lingkup 7
E. Saran Cara Penggunaan Modul 9

Kegiatan Pembelajaran 1 : Sistem Kemudi 10


A. Tujuan 10
B. Indikator Pencapaian Kompetensi 10
C. Uraian Materi 10
D. Aktifitas Pembelajaran 33
E. Latihan / Tugas 33
F. Rangkuman 36
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 36
H. Kunci Jawaban 36

Kegiatan Pembelajaran 2: Memperbaiki Roda 38


A. Tujuan 38
B. Indikator Pencapaian Kompetensi 38
C. Uraian Materi 38
D. Aktifitas Pembelajaran 61
E. Latihan / Tugas 61
F. Rangkuman 64
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 64

Kegiatan Pembelajaran 3: Sistem Suspensi 66


A. Tujuan 66
B. Indikator Pencapaian Kompetensi 66
C. Uraian Materi 66
D. Aktifitas Pembelajaran 88

iii
E. Latihan / Tugas 89
D. Rangkuman 92
E. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 92
F. Kunci Jawaban 93

Kegiatan Pembelajaran 4: Wheel Alignment 94


A. Tujuan 94
B. Indikator Pencapaian Kompetensi 94
C. Uraian Materi 94
D. Aktifitas Pembelajaran 121
E. Latihan/Tugas 121
F. Rangkuman 123
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut 123
H. Kunci Jawaban 124

Penutup 125
Evaluasi 126
A. Kunci Jawaban 140
Glosarium 142
Daftar Pustaka 143

iv
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. 1: Geometri Kemudi Ackermann 10
Gambar 1. 2: Komponen Utama Sistem Kemudi 13
Gambar 1. 3: Pitman-Arm 13
Gambar 1. 4: Relay Rod 13
Gambar 1. 5: Rack End ( Long Tie Rod ) 14
Gambar 1. 6: Tie Rod 14
Gambar 1. 7: Steering Linkage 14
Gambar 1. 8: Knuckle Arm 15
Gambar 1. 9: Steering Knuckle 15
Gambar 1. 10: Idler Arm 15
Gambar 1. 11: Mobil BMW Seri 327 Tahun 1939 16
Gambar 1. 12: Jenis Kemudi Rack & Pinion 16
Gambar 1. 13: Komponen Jenis Kemudi Rack & Pinion 18
Gambar 1. 14: Pinion Tengah Tie Rod Pinggir 18
Gambar 1. 15: Pinion Pinggir Tie Rod Tengah 19
Gambar 1. 16: Pinion Pinggir Tie Rod Pinggir 19
Gambar 1. 17: Jenis Kemudi Recirculating Ball 20
Gambar 1. 18: Konstruksi Kemudi Worm & Roll 21
Gambar 1. 19: Kemudi Worm & Roll dan Nama Komponen 21
Gambar 1. 20: Kontak Gigi di Tengah 21
Gambar 1. 21: Kontak Gigi di Pinggir 22
Gambar 1. 22: Komponen Kemudi Recirculating Balls 22
Gambar 1. 23: Pasangan Mur dan Baut Perantara bola baja 23
Gambar 1. 24: Hydraulic Power Steering 24
Gambar 1. 25: Sistem Kemudi dengan Hydraulic Power Steering 25
Gambar 1. 26: Pompa Power Steering 25
Gambar 1. 27: Unit Penekan Pompa Power Steering 26
Gambar 1. 28: Konstruksi Katup Pengatur Aliran 26
Gambar 1. 29: Keluar dan Masuknya Aliran Cairan 27

v
Gambar 1. 30: Konstruksi Aliran Fluida saat Lurus 27
Gambar 1. 31: Konstruksi Aliran Fluida saat Belok 28
Gambar 1. 32: Katup Pengatur Volume 28
Gambar 1. 33: Katup Pengatur pada Putaran 650 - 1250 RPM 29
Gambar 1. 34: Katup Pengatur pada Putaran 1250 - 2500 RPM. 29
Gambar 1. 35: Katup Pengatur pada Putaran di atas 2500 RPM 30
Gambar 1. 36: Katup Pengatur pada Tekanan Lebih 30
Gambar 1. 37: Komponen Steering Linkage Kemudi Recirculating Balls 31
Gambar 1. 38: Sambungan Kemudi Prinsip Achermann 32
Gambar 1. 39: Prinsip Achermann saat Belok 32
Gambar 2. 1: Roda dari Piringan Kayu 39
Gambar 2. 2: Roda Mobil Sekarang 39
Gambar 2. 3: Peleg Baja 40
Gambar 2. 4: Peleg Aluminium Paduan 41
Gambar 2. 5: Macam-macam Offset Peleg 42
Gambar 2. 6: Peleg Terbagi 42
Gambar 2. 7: Komponen Peleg Terbagi 43
Gambar 2. 8: Mur-Baut Roda Truck 43
Gambar 2. 9: Mur Roda Model Tirus 43
Gambar 2. 10: Mur Roda Model Rata 44
Gambar 2. 11: Urutan Pengencangan Mur Roda 44
Gambar 2. 12: Memikul Beban Kendaraan 45
Gambar 2. 13: Meredam Guncangan 45
Gambar 2. 14 Meneruskan Gaya Gerak 46
Gambar 2. 15: Meneruskan Pengemudian 46
Gambar 2. 16: Konstruksi Ban Bias 46
Gambar 2. 17: Nama Bagian Ban Bias 47
Gambar 2. 18:Nama Bagian Ban Radial 48
Gambar 2. 19: Struktur Ban 49
Gambar 2. 20: Bagian Bead Area 50
Gambar 2. 21: Kode dan Ukuran Ban Radial 50
Gambar 2. 22: Ban Tube Type 52
Gambar 2. 23: Ban Tubeless 52
Gambar 2. 24: Macam-macam Valve Stem Tubeless 52

vi
Gambar 2. 25: Kode Ply Rating pada Ban 53
Gambar 2. 26: Tread Wear Indicator ( TWI ) 54
Gambar 2. 27: Tanda TWI pada Ban 54
Gambar 2. 28: Mengukur Kedalaman Grove ( Alur Ban ) 54
Gambar 2. 29: Pola Telapak Ban Directional 55
Gambar 2. 30 Pola Telapak Ban Symmetric 55
Gambar 2. 31: Pola Telapak Ban Assymmetric 56
Gambar 2. 32: Konstruksi RFT 57
Gambar 2. 33: Tanda Stempel pada Ban Baru 58
Gambar 2. 34: Tanda Titik pada Ban Baru 58
Gambar 2. 35: Mesin Tyre Changer 59
Gambar 2. 36 Cara Melonggarkan Bead 59
Gambar 2. 37 Memasang Roda pada Mesin 59
Gambar 2. 38 Melepas Bead dari Peleg 59
Gambar 2. 39: Peleg Terpasang pada Mesin 60
Gambar 2. 40 Melumasi Bead dengan Lubricant 60
Gambar 3. 1: Sistem Suspensi 66
Gambar 3. 2: Sistem Suspensi Depan 67
Gambar 3. 3: Suspensi Dependen ( Aksel Rigid ) 68
Gambar 3. 4: Suspensi Rigid Aksel Canggah 68
Gambar 3. 5: Suspensi Rigid Aksel Kepalan Tinju 69
Gambar 3. 6: Aksel Rigid Berpegas Coil 69
Gambar 3. 7: Aksel Rigid dengan Lengan Panhard 70
Gambar 3. 8: Aksel Rigid Berpegas Daun 71
Gambar 3. 9: Gaya Memanjang dari Kendaraan 71
Gambar 3. 10: Gaya Kesamping dari Kendaraan 72
Gambar 3. 11: Aksel De-Dion 72
Gambar 3. 12: Sistem Suspensi Independent 73
Gambar 3. 13: Suspensi Mc Pherson Strut 74
Gambar 3. 14: Suspensi Mc Pherson dengan Lengan L 75
Gambar 3. 15: Suspensi Double Wishbone 76
Gambar 3. 16: Suspensi Wishbone "Honda" 76
Gambar 3. 17: Suspensi Double Wishbone Berpegas Coil 77
Gambar 3. 18: Suspensi Double Wishbone Berpegas Coil 78

vii
Gambar 3. 20: Suspensi Trailing Arm 79
Gambar 3. 21: Suspensi Semi-Trailing Arm 80
Gambar 3. 23: Massa Terpegas dan Tak Terpegas 81
Gambar 3. 24: Pegas Daun 82
Gambar 3. 25: Pegas Daun Terpasang pada Mobil 82
Gambar 3. 26: Pegas Coil ( Coil Spring ) 83
Gambar 3. 27: Pegas Puntir ( Torsion Bar ) 84
Gambar 3. 28: Pegas Torsi Terpasang pada Mobil 84
Gambar 3. 29: Prinsip Kerja Stabilisator 85
Gambar 3. 30: Pemasangan Stabilisator pada Mobil 86
Gambar 3. 31: Ujung Stabilisator di Ikat pada Bodi 86
Gambar 3. 32: Gerakan Mobil tanpa Shock Absorber 87
Gambar 3. 33: Gerakan Mobil Dengan Shock Absorber 87
Gambar 3. 34: Prinsip Kerja Shock Absorber 88
Gambar 3. 35: Penampang Shock Absorber 88
Gambar 4. 1: Sudut Camber pada mobil 95
Gambar 4. 2: Camber apositif pada kendaraan. 96
Gambar 4. 3: Camber Negatif 96
Gambar 4. 4: Camber Nol 96
Gambar 4. 5: Rolling camber 97
Gambar 4. 6 : Scrub Radius 97
Gambar 4. 7: Letak beban pada bearing dalam 98
Gambar 4. 8: Letak beban pada bearing luar 99
Gambar 4. 9: Reaksi camber nol 99
Gambar 4. 10: Sudut Caster pada Mobil 100
Gambar 4. 11: Caster Positif 101
Gambar 4. 12: Caster Negatif 102
Gambar 4. 13: Gaya yang bekerja pada caster 102
Gambar 4. 14 : Roda saat belok 103
Gambar 4. 15: Caster terlalu besar 104
Gambar 4. 16: Toe roda depan dan toe rodabelakang 105
Gambar 4. 17: Toe-In ( Toe Positif ) 105
Gambar 4. 18: Toe-Out 106
Gambar 4. 19: Reaksi rolling camber positif 107

viii
Gambar 4. 20 : Koreksi Toe-In 107
Gambar 4. 21 : Mobil Penggerak belakang dan Mobil Penggerak depan 108
Gambar 4.22 : Satuan Toe 108
Gambar 4. 23: Sudut Ackermann 109
Gambar 4. 24: Prinsip Ackermann saat belok 109
Gambar 4. 25 Toe Out On Turns ( TOOT ) 110
Gambar 4. 26 Sudut King-Pin 111
Gambar 4. 27: Posisi spindle saat belok 112
Gambar 4. 28: Macam-macam Offset 112
Gambar 4. 29: Pengaruh Offset Positif 113
Gambar 4. 30 : Proses dan hasil pengereman pada offset positif 113
Gambar 4. 31: Proses dan hasil pengereman pada offset Negatif 114
Gambar 4. 32: Geometric Centerline 115
Gambar 4. 33: Thrustline 115
Gambar 4. 34: Thrust angle 116
Gambar 4. 35: Gerak bebas roda kemudi 117
Gambar 4. 36: Pemeriksaan sambungan kemudi 117
Gambar 4. 37: Pemeriksaan karet pelindung debu pada rack & pinion 117
Gambar 4. 38: Menyamakan panjang tie rod kiri dan kanan 118
Gambar 4. 39: Kelurusan roda kemudi terhadap roda depan 118
Gambar 4. 40: Pemeriksaan karet stabilisator 118
Gambar 4. 41: Pemeriksaan kerja sock absorber 119
Gambar 4. 42: Pemeriksaan ball joint dan bushing 119
Gambar 4. 43: Menentukan keausan pada bearing daan ball joint 120
Gambar 4. 44: Ban aus akibat tekanan angin 120
Gambar 4. 45: Bodi mobil miring 120

ix
x
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sistem Kemudi atau Steering System adalah merupakan komponen
kendaraan yang berfungsi untuk merubah arah gerak kendaraan melalui roda
depan, dengan cara memutar roda kemudi.Sistem kemudi pada kendaraan
merupakan komponen penting , adapun sistem kemudi terdiri dari beberapa
komponen utama yaitu , roda kemudi, poros kemudi , roda gigi kemudi dan
sambungan kemudi atau steering linkage . Dan masing-masing komponen
sistem kemudi mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Sistem kemudi jika ditinjau
dari bentuk roda gigi kemudinya ada beberapa jenis , diantaranya yaitu sistem
kemudi Rack & Pinion , sistem kemudi Worm &Roll dan sistem kemudi
Recirculating Ball atau bola bersirkulasi.

Roda adalah merupakan komponen kendaraan yang paling berat karena


harus menopang semua beban kendaraan dan mengarahkan laju kendaraan
dan memperlambat laju kendaraan jika diinginkan dengan melakukan
pengereman. Roda terdiri dari ban dan peleg yang dipasang menjadi satu.
Jika ditinjau dari konstruksinya ban itu sendiri jenisnya ada yang dinamakan
ban Bias dan ban Radial, sedangkan ban radial dalam penggunaannya ada
dua jenis , yaitu Tube type dan Tubeless. Dalam penggunaannya jenis Tube
type harus menggunakan ban dalam , sedangkan untuk jenis tubeless dalam
penggunaannya tidak harus menggunakan ban dalam.

Peleg dalam penggunannya merupakan pasangan ban, peleg harus kuat


dan mudah perawatannya dan harus mampu menyerap panas. Oleh karena
itu peleg pada kendaraan terbuat dari logam, yaitu ada yang terbuat dari baja
dan ada yang terbuat dari aluminium paduan atau aloy.
Sistem suspensi adalah merupakan bagian kendaraan yang menghubungkan
bodi kendaraan dengan roda. Konstruksinya dibuat sedemikian rupa sehingga
kendaraan dapat berjalan dengan nyaman dan aman. Sistem suspensi yang
digunakan pada mobil ada dua jenis jika dikelompokan menurut jenisnya,
yaitu suspensi aksel rigid ( kaku ) dan suspensi independen ( bebas ).
Suspensi rigid maupun suspensi independen juga bermacam-macam
modelnya, masing-masing model mempunyai kelebihan dan kekurangan

1
sendiri-sendiri dan digunakan pada jenis kendaraan yang berbeda juga.
Sebagai contoh suspensi independen yang banyak digunakan pada
kendaraan penumpang adalah jenis suspensi Wishbone dan suspensi Mc
Pherson. Dua jenis suspensi tersebut yang paling banyak digunakan pada
kendaraan penumpang yang ada di sekitar kita. Pada dasarnya sistem
suspensi terdiri dari komponen utama , yaitu : pegas , shock absorber ,
lengan-lengan ( control arm ) dan stabilisator.
Wheel Alignment merupakan pengetahuan tentang sudut sudut yang
ada pada posisi kemiringan roda maupun posisi kemiringan sumbu putar
kemudi ( steering axis ). Kemiringan pada roda maupun sumbu putar kemudi (
steering axis ) bisa di lihat dari depan roda maupun dari samping roda serta
dari atas roda. Adapun yang dipelajari pada wheel alignment adalah : sudut
camber , sudut caster , Toe , sudut kingpin , set back , dan thrust angle.Data
spesifikasi sudut-sudut wheel alignment yang ada pada mobil berbeda satu
dengan mobil lainnya. Oleh karena itu untuk melakukan penyetelan wheel
alignment pada mobil harus selalu melihat data spesifikasinya dan
menyesuaikannya. Jika melakukan penyetelan jauh dari data spesifikasi,
maka hasilnya bisa berdampak pada jalannya kendaraan , pengemudiannya
dan stabilitasnya maupun kenyamanan mobil itu sendiri.

B. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan dapat :
1. Menelaah sistem kemudi pada mobil
2. Mendiagnosis kerusakan sistem kemudi pada mobil
3. Memperbaiki sistem kemudi pada mobil
4. Menelaah peleg dan ban
5. Mendiagnosiskerusakan peleg dan ban
6. Memperbaiki peleg dan ban
7. Menelaah sistem suspensi
8. Mendiagnosis kerusakan sistem suspensi
9. Memperbaiki sistem suspensi
10. Menelaah wheel alignment
11. Mendiagnosis kesalahan wheel alignment
12. Melaksanakan wheel alignment

2
C. Peta Kompetensi
PETA KOMPETENSI GURU
Program Keahlian : Teknik Otomotif
Paket Keahlian : Teknik Kendaraan Ringan (043)

Kompetensi
Grade Guru Paket Indikator Pencapaian Kompetensi
Keahlian

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


mekanisme kerja mekanisme mekanisme katup
katup katup
Merawat
Merawat berkala Menelaah prinsip Menelaah minyak
berkala sistem
sistem kerja sistem pelumas
pelumasan dan
pelumasan dan pelumasan dan
pendinginan
pendinginan pendinginan

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


sistem kerja sistem sistem
pemasukan dan pemasukan dan pemasukan dan
pembuangan pembuangan pembuangan
1
Menelaah prinsip Merawat berkala
Merawat berkala kerja sistem sistem pengapian
sistem pengapian konvensional dan
pengapian konvensional dan elektronis
elektronis

Menelaah prinsip Merawat berkala


Merawat berkala
kerja sistem sistem bahan
sistem bahan
bahan bakar bakar bensin
bakar bensin
bensin

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


sistem bahan kerja sistem sistem bahan
bakar Diesel bahan bakar bakar Diesel

3
Diesel

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


sistem kopling kerja kopling kopling

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


transmisi manual kerja transmisi transmisi manual
manual

Merawatberkala Menelaah prinsip Merawat berkala


transmisi kerja transmisi transmisi
otomatis otomatis otomatis

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


poros propeller, kerja poros poros propeller,
gardan dan aksel propeller, gardan gardan dan aksel
roda dan aksel roda roda

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


sistem kemudi kerja sistem sistem kemudi
2
kemudi

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


sistem rem kerja sistem rem sistem rem

Merawat berkala Menelaah Merawat berkala


roda kodefikasi peleg peleg dan ban
dan ban

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


sistem supensi kerja sistem sistem suspensi
suspensi

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


sistem kerja sistem sistem
penerangan, penerangan, penerangan,
tanda dan tanda dan tanda dan
pengaman pengaman pengaman

4
Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala
sistem kerja sistem
penghapus/ penghapus/pemb penghapus/
pembersih kaca ersih kaca pembersih kaca

Merawat berkala Menelaah prinsip Merawat berkala


sistem starter kerja sistem sistem starter
dan pengisian starter dan dan pengisian
pengisian
Menelaah blok Mendiagnosis Memperbaiki
Memperbaiki
motor dan kerusakan blok blok motor dan
blok motor dan
mekanisme motor dan mekanisme
mekanisme
engkol mekanisme engkol
engkol
engkol
Memperbaiki Menelaah kepala Mendiagnosis Memperbaiki
kepala silinder silinder dan kerusakan kepala kepala silinder
dan mekanisme mekanisme katup silinder dan dan mekanisme
katup mekanisme katup katup
Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
Memperbaiki
3 pemasukan dan kerusakan sistem sistem
sistem
pembuangan pemasukan dan pemasukan
pemasukan dan
pembuangan dan
pembuangan
pembuangan
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
sistem pelumasan dan kerusakan sistem sistem
pelumasan dan pendinginan pelumasan dan pelumasan dan
pendinginan pendinginan pendinginan
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
4 sistem rem rem kerusakan sistem sistem rem
rem
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
sistem penerangan, kerusakan sistem sistem
5
penerangan, tanda dan penerangan, penerangan,
tanda dan pengaman tanda dan tanda dan

5
pengaman pengaman pengaman
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
sistem penghapus/ kerusakan sistem sistem
penghapus/ pembersih kaca penghapus/ penghapus/
pembersih kaca pembersih kaca pembersih kaca
Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
Memperbaiki pengapian kerusakan sistem sistem
sistem konvensional dan pengapian pengapian
pengapian elektronis konvensional dan konvensional
6 elektronis dan elektronis
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
sistem starter starter dan kerusakan sistem sistem starter
dan pengisian pengisian starter dan dan pengisian
pengisian
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
sistem kemudi kemudi kerusakan sistem sistem kemudi
kemudi
Memperbaiki Menelaah peleg Mendiagnosis Memperbaiki
roda dan ban kerusakan peleg peleg dan ban
dan ban
7
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
sistem suspensi suspensi kerusakan sistem sistem suspensi
suspensi.
Melaksanakan Menelaah wheel Mendiagnosis Melaksanakan
Wheel Alignment aligment kesalahan wheel wheel aligment
aligment
Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
Memperbaiki
bahan bakar kerusakan sistem sistem bahan
sistem bahan
bensin bahan bakar bakar bensin
bakar bensin
bensin
8
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
sistem bahan bahan bakar kerusakan sistem sistem bahan
bakar Diesel Diesel bahan bakar bakar Diesel

6
Diesel
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
system kopling kopling kerusakan sistem sistem kopling
kopling
Memperbaiki Menelaah Mendiagnosis Memperbaiki
transmisi transmisi kerusakan transmisi
9
transmisi
Memperbaiki Menelaah poros Mendiagnosis Memperbaiki
poros propeller,gardan kerusakan poros poros
propeller,gardan dan aksel roda propeller,gardan propeller,gardan
dan aksel roda dan aksel roda dan aksel roda
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
sistem Air Air Conditioning kerusakan sistem sistem Air
Conditioning (AC) Air Conditioning Conditioning
(AC) (AC) (AC)
Memperbaiki Menelaah sistem Mendiagnosis Memperbaiki
10
assesoris audio video dan kerusakan pada sistem audio
sistem tambahan sistem audio video dan
(GPS, dsb) video dan sistem sistem
tambahan (GPS, tambahan
dsb) (GPS, dsb)

D. Ruang Lingkup
Sistem Kemudi
Fungsi sistem kemudi
Komponen utama sistem kemudi
Sistem kemudi Rack & Pinion
a. Rangkaian jenis kemudi Rack & Pinion
b. Komponen-komponen kemudi jenis rack & pinion
c. Macam-macam konstruksi rack & pinion
d. Perbandingan bervariasi gigi kemudi jenis rack & pinion
Sistem kemudi worm & roll dan recirculating ball
a. Konstruksi dan nama-nama bagian worm & roll

7
b. Nama komponen gigi kemudi recirculating ball
c. Konstruksi gigi kemudi recirculating ball
Power steering
a. Fungsi power steering
b. Hydraulis power steering
c. Komponen power steering
Memperbaiki Roda
Peleg dan ukuran kode
Offset peleg
Ban
Tread patern
Fungsi ban
Konstruksi ban
Ply rating
a. TWI ( tread wear indicator )
b. Hydroplaning
c. Roling resistance
d. RFT ( run flat tire )
Memperbaiki Sistem Suspensi
Sistem suspensi dependen
Sistem suspensi independen
Suspensi Mc Pherson
Suspensi Wishbone
Pegas
a. Stabilisator
b. Shock absorber
Melaksanakan Wheel Alignment
Camber
Caster
Toe
Sudut king pin
a. Sudut belok dan Toe Out On Turn
b. Offset pada suspensi
c. Set-back

8
d. Thrust angle
e. Pemeriksaan sistem kemudi
f. Pemeriksaan susoensi
g. Pemeriksaan roda
h. Pemeriksaan bodi

E. Saran Cara Penggunaan Modul


Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal, dalam menggunakan modul
ini maka langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain :
1. Bacalah dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada
masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, peserta
diklat dapat bertanya pada instruktur pengampu kegiatan belajar.
2. Kerjakan setiap tugas formatif (soal latihan) untuk mengetahui seberapa
besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas
dalam setiap kegiatan belajar.
3. Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-
hal berikut:
Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang berlaku.
Pahami setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.
Sebelum melaksanakan praktikum, identifikasi (tentukan) peralatan dan bahan
yang diperlukan dengan cermat.
Gunakan alat sesuai prosedur pemakaian yang benar.
Untuk melakukan kegiatan praktikum yang belum jelas, harus meminta ijin guru
atau instruktur terlebih dahulu.
Setelah selesai, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula
Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan
belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada instruktur yang mengampu
kegiatan pembelajaran yang bersangkutan.

9
Kegiatan Pembelajaran 1 : Sistem Kemudi

A. Tujuan
Setelah belajar materi kegiatan belajar 1 ini peserta diharapkan:
1. mampu menelaah sistem kemudi
2. Mampu mendiagnosis kerusakan sistem kemudi
3. Mampu memperbaikisistem kemudi

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Menelaah sistem kemudi pada kendaraan
2. Mendiagnosis kerusakan sistem kemudi
3. Memperbaiki sistem kemudi.
C. Uraian Materi
1. Sistem Kemudi

Pengaturan kemudi konvensional adalah untuk memutar roda depan dengan


menggunakan roda kemudi tangan yang dioperasikan didepan pengemudi,
melalui kolom kemudi, yang berisi sambungan universal atau juga menjadi
bagian dari desain kolom kemudi. Pengaturan lain kadang-kadang
ditemukan pada berbagai jenis kendaraan, misalnya, kemudi dengan
pengaruran roda belakang. Kendaraan yang menggunakan kemudi roda
belakang seperti Forklift, buldoser dan lain-lain..
Tujuan dasar dari kemudi adalah untuk memastikan bahwa roda yang
menunjuk pada arah yang diinginkan.

Gambar 1. 1: Geometri Kemudi Ackermann

10
Fungsi Sistem Kemudi
Sistem kemudi pada kendaraan berfungsi untuk : Merubah arah gerak
kendaraan melalui roda depan, dengan cara memutar roda kemudi
sehingga tercapai tujuan pengemudi sesuai keinginannya.
a. Komponen utama sistem kemudi dan fungsinya :
1) STEERING WHEEL berfungsi untuk mengendalikan arah roda depan
melalui lengan penghubung .
2) STEERING COULUMN berfungsiuntuk meneruskan arah putaran
dari kemudi ke steering gear . Steering column atau batang kemudi
merupakan tempat daripada poros utama atau yang bisa juga disebut
main shaft. Steering column terdiri dari main shaft yang mempunyai
fungsi untuk meneruskan putaran dari steering wheel ke steering
gear, dan column tube yang berfungsi untuk mengikat main shaft ke
body. Ujung atas poros utama dibuat meruncing dan bergerigi, dan
steering wheel diikatkan ditempat tersebut dengan sebuah mur.
Steering column juga merupakan mekanisme penyerap energi yang
menyerap gaya dorong dari pengemudi pada saat tabrakan. Ada dua
tipe steering column yaitu :
a) Model Collapsible
Model ini mempunyai keuntungan : Apabila kendaraan
berbenturan / bertabrakan dan steering gear box mendapat
tekanan yang kuat, maka main shaft column atau bracket akan
runtuh sehingga pengemudi terhindar dari bahaya.
Kerugiannya adalah : Main shaft nya yang kurang kuat, sehingga
hanya digunakan pada mobil penumpang atau mobil ukuran kecil.
Konstruksinya lebih rumit.
b) Model Non collapsible
Model ini mempunyai keuntungan : Main shaftnya lebih kuat
sehingga banyak digunakan pada mobil-mobil besar atau mobil-
mobil kecil, Konstruksinya sederhana.
Kerugiannya adalah : Apabila berbenturan dengan keras,
kemudinya tidak dapat menyerap goncangan sehingga
keselamatan pengemudi relatif kecil.

11
3) STEERING GEAR ( Gearbox steering ) berfungsi untuk
memungkinkan roda depan dapat diarahkan sesuai dengan arah
putaran kemudi yang diinginkan atau Steering Gear berfungsi untuk
mengarahkan roda depan dan juga berfungsi sebagai gigi reduksi
untuk meningkatkan momen agar pengemudian menjadi lebih ringan.
Untuk itu diperlukan perbandingan reduksi yang disebut
perbandingan Steering Gear, Perbandingan yang semakin besar
akan menyebabkan kemudi menjadi semakin ringan, tetapi jumlah
putarannya akan bertambah banyak, untuk sudut belok yang sama.
Steering gear ada beberapa type dan yang paling banyak di gunakan
adalah type recirculating ball dan rack and pinion. Tipe yang pertama
( recirculating ball ) digunakan pada mobil penumpang ukuran
sedang sampai besar dan mobil komersial. Sedangkan tipe kedua (
rack and pinion ), digunakan pada mobil penumpang ukuran kecil
sampai sedang.
4) STEERING LINGKAGE berfungsi sebagai penghubung untuk
memindahkan tenaga putar dari steering wheel ke roda depan.
Steering linkage terdiri dari rod dan arm yang meneruskan tenaga
gerak dari steering gear ke roda depan. Walaupun mobil bergerak
naik dan turun, gerakan roda kemudi harus diteruskan ke roda-roda
depan dengan sangat tepat setiap saat. Ada beberapa tipe steering
linkage dan konstruksi joint yang dirancang untuk tujuan tersebut.
Steering linkage untuk suspensi rigid
Steering linkage untuk suspensi independent
Bentuk yang tepat sangat mempengaruhi kestabilan pengendaraan.

12
Gambar 1. 2: Komponen Utama Sistem Kemudi
o Pitman Arm

Gambar 1. 3: Pitman-Arm
Pitman arm meneruskan gerakan gigi kemudi ke relay rod atau
drag link. Berfungsi untuk merubah gerakan putar steering column
menjadi gerakan maju mundur.
o Relay Rod

Gambar 1. 4: Relay Rod


Relay rod dihubungkan dengan pitman arm dan tie rod end kiri
serta kanan. Relay rod ini berfungsi untuk meneruskan gerakan
pitman arm ke tie rod.

13
o Rack End ( Long tie rod )

Gambar 1. 5: Rack End ( Long Tie Rod )


Long Tie rod dipasangkan pada tie rod untuk menghubungkan tie
rod dengan gigi rack pada kemudi rack & pinion , relay roda dan
lain-lain yang berfungsi untuk meneruskan gerakan rack ke tie
rod.
o Tie Rod

Gambar 1. 6: Tie Rod

Ujung tie rod yang berulir dipasang pada ujung rack end ( long tie
rod ) pada kemudi rack & pinion, atau ke dalam pipa penyetelan
pada recirculating ball, dengan demikian jarak antara joint- joint
dapat disetel.

Gambar 1. 7: Steering Linkage

14
o Knuckle arm

Gambar 1. 8: Knuckle Arm

Knuckle arm berfungsi meneruskan gerakan tie rod atau drag link
ke roda depan melalui steering knuckle.

o Steering knuckle

Gambar 1. 9: Steering Knuckle

Steering knuckle untuk menahan beban yang diberikan pada


roda-roda depan dan berfungsi sebagai poros putaran roda.
Berputar dengan tumpuan ball joint atau king pin dari suspension
arm

o Idler arm

Gambar 1. 10: Idler Arm


Pivot dari idler arm dipasang pada body dan ujung lainnya
dihubungkan dengan relay rod dengan swivel joint. Arm ini
memegang salah satu ujung relay rod dan membatasi gerakan
relay rod pada tingkat tertentu

15
2. Sistem Kemudi Rack & Pinion

Rack & pinion dirancang memiliki kelebihan sangat besar yaitu kemudi
langsung bereaksi menggerakkan roda apabila roda kemudi diputar.
Kerugiannya adalah bahwa hal itu tidak ada penyetelan pada gigi
kemudinya, sehingga ketika terjadi keausan pada gigi kemudi , satu-
satunya jalan adalah menggantinya.

Gambar 1. 11: Mobil BMW Seri 327 Tahun 1939

BMW mulai menggunakan sistem kemudi Rack & pinion di tahun 1930-
an, dan banyak produsen Eropa lainnya mengadopsi teknologi tersebut.
Mobil Amerika mengadopsi kemudi rack & pinion dimulai dengan Ford
Pinto pada tahun 1974.

a. Rangkaian Jenis Kemudi Rack & Pinion

Gambar 1. 12: Jenis Kemudi Rack & Pinion

16
17
b. Komponen Komponen Kemudi Jenis Rack & Pinion

Gambar 1. 13: Komponen Jenis Kemudi Rack & Pinion

Cara kerja :
Dengan memutar roda kemudi , maka putaran tersebut diteruskan oleh
coulumn dan Pinion akan berputar, kemudian rack akan bergerak ( ke
kiri dan ke kanan ).

c. Macam Macam Konstruksi Kemudi Rack Dan Pinion


Pinion tengah tie rod pinggir :

Gambar 1. 14: Pinion Tengah Tie Rod Pinggir

Keuntungan :
Jika terjadi tabrakan , keamanan lebih baik karena tidak terhubung
langsung dengan batang kemudi
Produksi lebih efisien untuk dibuat kemudi kiri atau kanan.

18
Kerugian :
Kontak gigi kecil
Pemegasan tidak baik, karena tie rod pendek
Pemakaian tempat besar

Pinion Pinggir Tie Rod Tengah :

Gambar 1. 15: Pinion Pinggir Tie Rod Tengah

Keuntungan :
Kontak gigi besar
Pemegasan baik, tie rod yang panjang pada waktu pemegasan terjadi
perubahan geometri roda kecil
Pemasangan tie rod bebas / tidak terikat dengan tinggi lengan suspensi

Kerugian :
Konstruksi rumah lebih kuat, karena rumah menahan gaya radialdan tie rod
Pemakaian tempat besar

Pinion pinggir tie -rod pinggir

Gambar 1. 16: Pinion Pinggir Tie Rod Pinggir

19
Keuntungan:
Kontak gigi besar( pinion miring terhadap rak )
Harga murah
Memerlukan sedikit tempat
3. Sistem Kemudi Worm & Roll dan Kemudi Recirculating Balls
Desain sistem kemudi yang lebih tua menggunakan dua jenis utama, yaitu
jenis Worm & Roll ( Cacing dan rol ) dan jenis Screw & Nut atau jenis
Recirculating balls. Kedua jenis ditingkatkan dengan mengurangi gesekan,
untuk screw & nut itu adalah mekanisme bola bersirkulasi, yang masih
ditemukan di truk dan kendaraan angkutan lainnya. Kolom kemudi
merupakan sekrup besar yang berpasangan dengan mur dan dibatasi oleh
bola sirkulasi. Jika sekrup atau baut yang merupakan kolom kemudi
diputar, maka mur menggerakkan gigi sektor yang menyebabkan sektor
berputar terhadap sumbu. Bola bersirkulasi ini mengurangi gesekan yang
cukup besar dengan menempatkan bantalan bola besar antara baut dan
mur, di kedua ujung pipa pada mur keluar bola antara dua lubang internal
yang menyalurkan ke kotak yang menghubungkan mereka dengan ujung
pipa sehingga mereka "diresirkulasi"
a. Rangkaian sistem kemudi Recirculating balls

Gambar 1. 17: Jenis Kemudi Recirculating Ball

20
Gambar 1. 18: Konstruksi Kemudi Worm & Roll
b. Konstruksi Dan Nama Nama Bagian Worm Dan Rol

Gambar 1. 19: Kemudi Worm & Roll dan Nama Komponen

c. Kontak Gigi Worm Dan Roll

Rol pada posisi tengah :Celah kontak gigi kecil

Gambar 1. 20: Kontak Gigi di Tengah

21
Rol pada posisi pinggir :Celah kontak gigi besar.

Gambar 1. 21: Kontak Gigi di Pinggir

Saat penyetelan : Roll harus pada posisi tengah

d. Nama Komponen Gigi Kemudi Jenis Recirculating Ball

Gambar 1. 22: Komponen Kemudi Recirculating Balls

Cara kerja :

Perubahan gesek : Gerak putar baut kemudi ( Roda kemudi ) dirubah


menjadi gerak lurus memanjang mur kemudi, diteruskan menjadi gerak
ayunan lengan pitman ( melalui sektor ).

22
Fungsi Bola

Pasangan mur baut dengan perantara peluru

Gambar 1. 23: Pasangan Mur dan Baut Perantara bola baja


Dengan adanya bola gesekan menjadi kecil dan Mur dapat bergerak turun
dengan sendirinya , jadi fungsi bola berguna untuk memperkecil gesekan.

4. Power Steering ( Penguat Tenaga Kemudi )


Power steering membantu meringankan pengemudi untuk mengarahkan
kendaraan dengan memutar rroda kemudi. Sebagai kendaraan telah menjadi
lebih berat dan jika beban kendaraan beralih ke roda depan, terutama
menggunakan sudut geometri negatif ( sudut camber negatif ), bersama
dengan peningkatan lebar ban dan diameter, upaya yang diperlukan untuk
memutar roda kemudi mereka telah meningkat beratnya. Untuk meringankan
pengemudian ini produsen mobil telah mengembangkan sistem power
steering, ada dua jenis sistem power steering yaitu hydraulic power steering (
HPS ) dan elektronik power steering ( EPS ).
Hydraulic Power steering (HPS) menggunakan tekanan hidrolik yang
diberikan oleh pompa , minyak didorong untuk membantu gerakan memutar
roda kemudi.
Elektronik Power Steering ( EPS ) , adalah jenis power steering yang dalam
bekerjanya menggunakan motor listrik untuk membantu meringkan
pengemudian. Elektronik power steering (EPS) lebih efisien daripada power
steering hidrolik, karena power steering motor listrik hanya perlu untuk
memberikan bantuan ketika roda kemudi diputar, sedangkan pompa hidrolik
harus bekerja atau berjalan terus-menerus.
Adapun yang mempengaruhi beratnya power steering adalah sebagai berikut
Kecepatan rendah ( Contoh : parkir )
Kesalahan penyetelan geometri roda ( sudut camber negatif ).
Tekanan ban rendah

23
Ukuran ban ( lebar ban )
Perbandingan gigi kemudi yang tinggi
Kerusakan pada sistem pompa

a. Fungsi Power Steering


Dari uraian di atas kita tahu bahwa Power Steering ( Penguat tenaga
kemudi ) adalah peralatan tambahan pada sistem kemudi yang berfungsi
untuk meringankan kerja pengemudian pada mobil. Maksudnya
pengemudian pada saat mobil berjalan pelan atau pada saat manuver
melakukan parkir. Dan pada saat mobil dengan kecepatan tinggi
berfungsi menjaga keamanan kemudi artinya roda kemudi seakan
terkunci dan tidak mudah untuk berbelok, karena didalam pompa power
steering terdapat komponen yang mengatur hal tersebut.

b. Hydraulis Power Steering

Seperti dijelaskan bahwa dalam bekerjanya hydraulis power steering


menggunakan media fluida , yaitu oli hidrolis atau yang dikenal dengan
istilah power steering fluida dan bisa juga menggunakan ATF atau
automatic transmision fluid.

Gambar 1. 24: Hydraulic Power Steering

Hydraulic power steering masih banyak digunakan pada saat ini,


khususnya untuk mobil penumpang, adapun untuk mobil kecil atau yang
dikenal dengan city car banyak yang sudah menggunakan elektronik
power steering.

24
Gambar 1. 25: Sistem Kemudi dengan Hydraulic Power Steering
5. Komponen Power Steering
a. Pompa Power Steering
Pompa power steering berfungsi untuk membangkitkan tekanan hidrolis
pada sistem power steering. Tekanan tersebut tercipta karena mesin
mobil hidup dan menggerakkan pompa power steering, adapun cara
bekerjanya pompa power steering tersebut , adalah sebagai berikut :
Rotor berputar bersama-sama pulley yang digerakkan oleh mesin
mobil melalui belt.
Bersamaan dengan berputarnya rotor, maka baling-baling akan
mengembang untuk menghisap fluida, dan seterusnya ditekan ke out
put dengan cara baling-baling mengecil sehingga terciptalah tekanan
pada fluida.

Gambar 1. 26: Pompa Power Steering

25
Gambar 1. 27: Unit Penekan Pompa Power Steering

b. Katup pengatur aliran


Katup pengatur aliran mempunyai fungsi untuk mengatur aliran tekanan
hidrolis ke saluran yang diinginkan, agar pada saat belok kekiri maupun
kekanan pengemudian bisa menjadi ringan. Dan mengatur aliran kapan
saat menekan serta kapan saat mengembalikan hidrolis ke reservoir.
Konstruksi katup pengatur aliran ini memungkinkan untuk mengatur aliran
hidrolis yang bertekanan ke sisi kiri dan bersamaan pula mengatur aliran
bertekanan rendah ke sisi kanan dan sebaliknya.

Gambar 1. 28: Konstruksi Katup Pengatur Aliran

26
Gambar 1. 29: Keluar dan Masuknya Aliran Cairan

Aliran fluida pada sistem power steering di saat jalan lurus , adalah aliran
fluida seperti mengalir pada sirkuit tertutup yaitu dari reservoir ke pompa
kemudian diteruskan oleh katup pengatur aliran ke reservoir. Adapun pada
saat belok ke kiri atau kekanan alirannya sebagai berikut : Aliran fluida dari
reservoir masuk ke pompa power steering, kemudian ditekan ke katup
pengatur aliran dan diteruskan tekanan fluida ke silinder kemudi kiri atau
kanan. Dari silinder kemudi kiri atau kanan fluida yang bertekanan rendah
dialirkan kembali ke reservoir. Dengan adanya batang torsi pada poros gigi
rack, dimungkinkan bahwa apabila kemudi dibelokkan dan roda kemudi
diam maka posisi katup pengatur aliran akan memosisikan netral seperti
pada saat jalan lurus. Hal ini agar sistem kemudi dengan power steering
nyaman dan aman untuk dikendalikan.

Gambar 1. 30: Konstruksi Aliran Fluida saat Lurus

27
Gambar 1. 31: Konstruksi Aliran Fluida saat Belok

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa power steering pada saat
belok diam kedudukan katup seperti keadaan lurus.

c. Katup Pengatur Volume Sebanding Putaran Mesin


Semakin tinggi putaran mesin, semakin tinggi kecepatan kendaraan
akibatnya semakin besar tekanan pada pompa power steering. Semakin
tinggi putaran mesin , semakin tinggi kecepatan kendaraan, efeknya
maka semakin kecil kontak ( gesekan ) roda terhadap jalan. Oleh karena
itu maka pada pompa power steering out put tekanan fluida yang
digunakan harus direduksi agar tekanan maupun volumenya dapat di atur
sedemikian rupa sesuai dengan keperluannya. Hal tersebut diperlukan
penurunan tekanan fluida yang membantu power steering dengan jalan
menurunkan volume fluida yang dihasilkan oleh pompa untuk membantu
penguat tenaga kemudi, maka pompa power steering dilengkapi dengan
Katup Pengatur Volume yang sebanding putaran mesin.

Gambar 1. 32: Katup Pengatur Volume

28
Cara kerja katup pengatur Volume
Putaran rendah ( 650 1250 rpm )

Gambar 1. 33: Katup Pengatur pada Putaran 650 - 1250 RPM

Tekanan pompa P1 di depan katup A dan P2 di belakang katup A


Setelah Fluida melewati lubang 1 dan lubang 2 ada perbedaan
tekanan antara P1 dan P2
P1 lebih besar daripada tekanan P2 katup A bergerak mundur dan
lubang menuju reservoar membuka sehingga sebagian fluida kembali
ke reservoar

Putaran sedang ( 1250 2500 rpm )

Gambar 1. 34: Katup Pengatur pada Putaran 1250 - 2500 RPM.


Tekanan pompa P1 bekerja di belakang katup B
Setelah tekanan P1 melebihi gaya pegas B, dan katup B bergerak ke
depan mempersempit lubang 2, akibatnya P2 rendah
Perbedaan tekanan P1 dan P2 menjadi bertambah besar dan katup A
terdorong ke belakang sehingga memperbesar lubang ke reservoar.

29
Putaran Tinggi ( Di Atas 2500 rpm )

Gambar 1. 35: Katup Pengatur pada Putaran di atas 2500 RPM


Setelah putaran melebihi 2500 rpm katup B terdorong ke depan
menutup lubang 2

Tekanan P2 ditentukan oleh jumlah fluida yang lewat lubang 1

Minyak yang menuju rumah gigi kemudi hanya lewat lubang 1 denan
volume terbatas 3,3 liter / menit

Katup tekanan lebih :

Gambar 1. 36: Katup Pengatur pada Tekanan Lebih


Katup tekanan lebih terletak di dalam katup A
Apabila tekanan P2 melebihi 80 Bar, katup tekanan lebih ( katup
bola ) membuka untuk menurunkan tekanan
Apabila tekanan P2 turun katup A lebih terdorong ke kiri untuk
membuka lubang ke reservoar

30
d. Sambungan Kemudi

1) Macam-macam sambungan kemudi

Sambungan kemudi pada gigi kemudi jenis recirculating balls berbeda


dengan sambungan kemudi pada gigi kemudi model rack & pinion.
Akan tetapi prinsipnya sama , yaitu meneruskan gaya putar dari
gearbox steering ke roda depan dengan arah kiri dan kanan.

2) Sambungan kemudi ( steering linkage ) pada kemudi


recirculating balls
Gambar 1.37 merupakan komponen-komponen sambungan kemudi
atau steering linkage pada jenis kemudi recirculating balls dan worm
& roll. Sambungan jenis ini sangat baik untuk meredam getaran pada
pengemudian, sehingga pengemudi merasa nyaman, selain itu dapat
mengimbangi kerja sistem suspensi.

Gambar 1. 37: Komponen Steering Linkage Kemudi Recirculating Balls

3) Sambungan Kemudi Lengan Trapesium

Sambungan kemudi jenis lengan trapesium yang digunakan pada


mobil sekarang, yang mana sambungan jenis ini diciptakan oleh
Achermann sehingga sambungan kemudi tersebut dikenal dengan
istilah Ackermann steering geometri.

Ackermann steering geometri adalah pengaturan geometris hubungan


dengan kemudi mobil atau kendaraan lain yang dirancang untuk
memecahkan masalah roda pada saat belok, baik itu roda dalam
maupun roda bagian luar dalam hal menelusuri lingkaran dengan jari-

31
jari yang berbeda atau sudut belok berbeda untuk roda kiri dan kanan
pada saat mobil berbelok.

Hal ini ditemukan oleh orang Jerman pada saat pembangunan kereta
yang bernama Georg Lankensperger di Munich pada tahun 1817,
kemudian dipatenkan oleh agennya di Inggris, Rudolph Ackermann
(1764-1834) pada tahun 1818 untuk kereta kuda.

Gambar 1. 38: Sambungan Kemudi Prinsip Achermann

Gambar 1. 39: Prinsip Achermann saat Belok

32
D. Aktifitas Pembelajaran

Peserta diklat membaca dengan seksama uraian materi, jika ada yang
kurang jelas peserta dapat bertanya/mendiskusikan dengan fasilitator.
Peserta mengerjakan tugas dan latihan untuk mengetahui tingkat
pemahaman materi yang dibahas.
Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian melaksanakan tugas
yang ada.
Selain itu peserta perlu mengidentifikasi peralatan keselamatan kerja yang
layak digunakan pada saat pelatihan di bengkel agar terhindar dari
kecelakaan .

E. Latihan / Tugas
Soal
1. Gambar di bawa ini adalah sistem kemudi jenis apa ?

a. Rack & Pinion


b. Recirculating ball
c. Cacing dan roll
d. Worm & nut

2. Nama komponen di bawa ini adalah . . . .

33
a. Pompa power steering
b. Gear box steering
c. Gigi rack
d. Gigi pinion

3. Gambar berikut adalah . . . .

a. Tie rod
b. Long tie rod
c. Knuckle arm
d. Pitman arm

4. Apa yang terjadi jika tie rod aus ?


a. Gerak bebas ( speeling ) roda kemudi menjadi besar
b. Setir menjadi ringan pada saat belok
c. Sudut belok roda kemudi menjadi lebih besar
d. Sudut belok roda kemudi menjadi kecil

5. Penyetelan pre load yang terlalu kencang menyebabkan . . . .


a. Setir / kemudi menjadi lebih berat pada saat belok
b. Setir menjadi lurus dan stabil pada saat jalan lurus
c. Setir menjadi lebih stabil pada saat kecepatan tinggi
d. Tie rod akan cepat aus dan rusak jika sering berbelok

6. Apa yang terjadi jika long tie rod aus ?


a. Gerak bebas ( speeling ) roda kemudi menjadi besar
b. Setir menjadi ringan pada saat belok
c. Sudut belok roda kemudi menjadi lebih besar
d. Sudut belok roda kemudi menjadi kecil

34
7. Mengapa pada saat penyetelan speeling pada sistem kemudi
recirculating ball pada posisi gigi ditengah ?
a. Agar celah gigi sektor dan gigi mur pada saat jalan lurus masih ada.
b. Agar pada saat belok tidak mengunci gigi kemudinya
c. Agar pada saat belok setirnya tidak berat
d. Agar pada saat kecepatan tinggi stabil.

35
F. Rangkuman
1. Materi tentang Sistem Kemudi terdiri dari : (a) Sistem Kemudi Rack &
Pinion dan Sistem Kemudi Recirculating ball , dalam sistem kemudi ini
membahas tentang kemudi manual , yang mana fungsi sistem kemudi
adalah merubah arah gerak kendaraan melalui roda depan, dengan cara
memutar roda kemudi sehingga tercapai tujuan pengemudi sesuai
keinginannya. (b) nama komponen dan fungsinya , gearbox steering
berfungsi memungkinkan roda depan dapat diarahkan sesuai dengan arah
putaran kemudi yang diinginkan, sambungan kemudi untuk meneruskan
gaya dari roda kemudi ke roda depan.

2. Materi power steering terdiri dari : (a) Pompa yaitu untuk membangkitkan
tekanan pada fluida untuk membantu meringkan pengemudian, (b) katup
pembagi aliran yaitu mengatur kemana aliran fluida yang bertekanan
tersebut diarahkan.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Peserta pelatihan setelah menyelesaikan proses pembelajaran dalam modul
ini diharapkan mempelajari kembali materi/bagian-bagian yang belum dikuasai
dari modul ini sampai tuntas untuk dipahami secara mendalam. Setelah itu
hendaknya pengetahuan dari modul ini bisa dikembangkan dengan
sendirinya sebagai bekal dalam melaksanakan tugas keprofesian
guru/pendidik, dan untuk bekal dalam mencapai hasil pelaksanaan uji
kompetensi guru dengan ketuntasan minimal materi 80%.
Setelah mentuntaskan modul ini maka selanjutnya guru berkewajiban
mengikuti uji kompetensi. Dalam hal uji kompetensi, jika hasil tidak dapat
mencapai batas nilai minimal ketuntasan yang ditetapkan, maka peserta uji
kompetensi wajib mengikuti diklat sesuai dengan grade perolehan nilai yang
dicapai.

H. Kunci Jawaban
1. (a) Rack & Pinion
2. (a) Pompa power steering

36
3. (a) Tie rod
4. (a) Gerak bebas ( speeling ) roda kemudi menjadi besar
5. (a) Setir / kemudi menjadi lebih berat pada saat belok
6. (a) Gerak bebas ( speeling ) roda kemudi menjadi besar
7. (a) Agar celah gigi sektor dan gigi mur pada saat jalan lurus masih ada.

37
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: MEMPERBAIKI
RODA

A. Tujuan
Setelah belajar materi kegiatan belajar 2 ini pesertadiharapkan:
1. mampu menelaah peleg dan ban
2. mampu mendiagnosis kerusakan peleg dan ban
3. mampu memperbaiki peleg dan ban

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Menelaah peleg dan ban
2. Mendiagnosis kerusakan peleg dan ban
3. Memperbaiki peleg dan ban

C. Uraian Materi
1. Roda

Sebuah rodaadalah komponen melingkar yang dimaksudkan untuk


berputar pada bantalan poros. Roda adalah salah satu komponen utama
kendaraan atau mobil. Roda dalam hubungannya dengan as roda,
memungkinkan benda yang berat dapat dipindahkan dengan mudah.
Sebuah roda sangat mengurangi gesekan dengan memfasilitasi gerakan
dengan rolling bersama-sama dengan penggunaan as roda.

Sejarah Roda
Penemuan roda jatuh di Neolitik akhir, dan dapat dilihat dalam
hubungannya dengan kemajuan teknologi lainnya yang memunculkan
awal Zaman Perunggu.
9500-6500 SM: Aceramic Neolitik

6500-4500 SM: Keramik Neolitik ( Halafian ), roda kayu awal (


piringan dengan lubang untuk as roda )

4500 SM: penemuan roda tembikar, mulai dari Chalcolithic (Ubaid


periode)

4500-3300 SM: Chalcolithic, kendaraan roda awal, domestikasi kuda

38
3300-2200 SM: Awal Zaman Perunggu

2200-1550 SM: Bronze Age Tengah, penemuan roda spoked dan


kereta.

Gambar 2. 1: Roda dari Piringan Kayu


Pada awalnya roda awal adalah piringan kayu sederhana dengan lubang
untuk as roda. Karena struktur kayu, satu potong batang horizontal pohon
tidak akan cocok, karena tidak memiliki kekuatan struktural untuk
mendukung tekanan yang relevan.

Gambar 2. 2: Roda Mobil Sekarang

Roda sekarang terdiri dari pelek dan ban, yang merupakan komponen
utama mobil dengan segala tuntutan sesuai dengan teknologi kendaraan
masa kini. Pelek terbuat dari logam sedangkan ban terdiri dari bahan
terbanyak adalah karet , kawat baja, karbon dan nilon atau polyester.

2. Peleg ( Velg )

RIM adalah tepi luar peleg yang memegang ban. Kebanyakan orang
menyebut RIM istilah lain dari peleg.

Peleg adalah bagian dari roda yang berfungsi untuk menerima berat dan
semua beban kendaraan serta gaya yang ditimbulkan oleh kondisi jalan.
Oleh karena itu pelek dituntut harus :

Kuat dan ringan

39
Dapat memindahkan panas dengan baik ( akibat dari rem dan
gesekan ban)
Perawatan mudah

a. JenisJenis Pelek Menurut Bahannya

1) Pelek Baja (besi)

Gambar 2. 3: Peleg Baja

Pelek ini dibuat dari baja yang dipres (dari lembaran baja yang
digulung dan dipres)

Sifat-Sifatnya :

a) Daya tahan pemakaian tinggi

b) Tingkat kualitas pelek dapat dibuat seragam

c) Perawatan sangat mudah

d) Murah

2) Pelek Alumunium Paduan

Kebanyakan pelek jenis ini dibuat dari paduan aluminium dan


magnesium. Jenis pelek ini selain tampilannya bagus dan menarik
juga menyerap panas lebih baik. Selain hal tersebut diatas , pelek
aluminium paduan ini mempunyai sifat lainnya , yaitu :

Ringan dapat memberikan kenyamanan pada kendaraan

Memerlukan mur khusus untuk pengikatan roda

Kekencangan mur / baut roda perlu diperiksa berkala (1500 km


pertama harus diperiksa)

40
Gambar 2. 4: Peleg Aluminium Paduan

b. Ukuran kode peleg


Sebuah peleg tertera kode sebagai berikut : 7 x 17 ; 4 x 114.3 dan
ET+40.

Angka 7 pada rangkaian kode 7 x 17 merupakan lebar peleg dalam


satuan inci sementara angka 17 merupakan diameter peleg dalam satuan
inci. Arti angka 7 x 17 berarti peleg memiliki lebar 7 inci dengan
diameter 17 inci.

Sedangkan rangkaian kode 4 x 114.3 pada peleg merupakan kode untuk


menunjukkan jumlah baut , yaitu 4 buah baut dan 114.3 merupakan kode
untuk PCD (Pitch Circle Diameter) yaitu diameter pola lingkaran posisi
baut dalam satuan milimeter.

c. Offset Peleg
Adapun kode ET merupakan ukuran offset peleg. Peleg memiliki dua
tanduk yaitu tanduk luar dan tanduk dalam. Jika dudukan baut peleg
berada tepat di tengah-tengah antara tanduk luar dan tanduk dalam (
centerline) berarti peleg memiliki offset 0. Posisi dudukan baut peleg
semakin ke arah luar berarti peleg memiliki offset positif demikian pula
sebaliknya jika posisi dudukan roda cenderung lebih ke arah dalam
berarti negatif. Jadi jika pada peleg tertulis ET +40 itu artinya posisi
dudukan baut roda pada peleg bergeser ke luar sejauh 40 mm.

41
Gambar 2. 5: Macam-macam Offset Peleg
d. Peleg Terbagi

Dikatakan peleg terbagi karena pada peleg ini ada ring pengunci sebagai
pengunci pada saat memasang atau mengganti ban.

Peleg terbagi kebanyakan digunakan pada kendaraan berat, seperti truck


dan bus. Oleh karena itu peleg terbagi harus kuat dan mampu menahan
beban berat, sehingga bahannya terbuat dari baja. Peleg terbagi
mempunyai kelebihan dalam penggantian ban , yaitu penggantian ban
sangat mudah dengan cara melepas ring penguncinya terlebih dahulu.

Gambar 2. 6: Peleg Terbagi

Dalam pemasangan ring pengunci pastika bahwa ring mengunci dengan


sempurna, karena apabila ring penguncinya tidak sempurna dalam
mengunci kemungkinannya akan terlepas pada saat memompa angin
bannya.

42
Gambar 2. 7: Komponen Peleg Terbagi

Gambar 2. 8: Mur-Baut Roda Truck

e. Mur , Baut dan Pemasangan Roda (Peleg)

Untuk memasang peleg atau roda pada hub mobil maka diperlukan mur
sebagai penguncinya. Akan tetapi ada beberapa mobil yang
menggunakan baut untuk mengunci roda, contohnya : Mercedes , dan
BMW serta Peugeot.

Ada dua jenis mur yang digunakan pada pengikatan yaitu bentuk rata dan
kerucut atau tirus.

Gambar 2. 9: Mur Roda Model Tirus

43
Gambar 2. 10: Mur Roda Model Rata

Gambar 2. 11: Urutan Pengencangan Mur Roda

Mengapa demikian ?

Untuk mencegah ketidaklurusan posisi roda dan penyimpangan


penyimpangan sudut-sudut roda. Artinya agar peleg bisa menempel rata
pada hub., dan momen kekencangan mur / baut roda antara 8 12 KgM.

3. Ban

Ban adalah peranti yang menutupi velg suatu roda. Ban adalah bagian
penting dari kendaraan darat, dan digunakan untuk mengurangi getaran
yang disebabkan ketidakteraturan permukaan jalan, melindungi roda dari
aus dan kerusakan, serta memberikan kestabilan antara kendaraan dan
tanah untuk meningkatkan percepatan dan mempermudah pergerakan.

Ban merupakan bagian dari kendaraan yang langsung berhubungan


dengan jalan. Dan berfungsi untuk menjamin kendaraan berjalan nyaman
dan aman dengan mengurangi hambatan hambatan gelinding ( rolling
resistance ) roda.

44
a. Fungsi Ban
1) Fungsi Utama Ban
Menahan beban

Gambar 2. 12: Memikul Beban Kendaraan


Dalam hal menahan beban, yang paling berpengaruh adalah
tekanan angin, karena angin dalam ban berfungsi untuk
menopang berat kendaraan dan muatan.

Meredam guncangan
Tekanan angin dan tipe ban (radial/ bias) sangat berpengaruh
dalam meredam guncangan awal sebelum diredam lagi oleh
suspensi. Ban tipe radial mampu meredam guncangan lebih baik
daripada ban tipe bias.

Gambar 2. 13: Meredam Guncangan

Meneruskan tenaga dari mesin


Ban berfungsi untuk meneruskan gaya gerak dan pengeraman ke
permukaan jalan, hal ini berkaitan dengan kinerja traksi dan
pengereman. Yang berpengaruh dalam hal ini adalah pattern atau
kembangan telapak ban.

45
Gambar 2. 14 Meneruskan Gaya Gerak

Meneruskan fungsi kemudi


Ban sangat penting dalam mengontrol arah kendaraan, hal ini
akan menentukan kemampuan bermanuver dan kestabilan dalam
berkendara.

Gambar 2. 15: Meneruskan Pengemudian

b. Konstruksi Ban
1) Ban Bias ( Diagonal )
Ban bias adalah ban yang dibuat dengan susunan dua atau lebih
benang yang melingkar dari bead ke bead dengan membentuk
sudut 40 derajat hingga 65 derajat terhadap garis tengah
lingkaran ban. Ban dengan struktur bias adalah yang paling
banyak dipakai pada kendaraan angkutan, karena ban konstruksi
ini hanya mengandalkan kekuatan menahan beban berat.

Gambar 2. 16: Konstruksi Ban Bias

46
Gambar 2. 17: Nama Bagian Ban Bias

Kode dan ukuran ban bias.


Kode Ukuran ban bias berbeda dengan kode ukuran ban
konstruksi Radial, contoh kode ukuran ban bias adalah 7.50 16
8PR , artinya angka 7.50 dari rangkaian kode 7.50 16 8PR
merupakan lebar ban dalam satuan inchi , 16 merupakan diameter
RIM dalam satuan inchi kemudian kode 8PR adalah bahwa
lapisan karkas pada ban tersebut kekuatannya setara dengan 8
lapisan jika lapisan karkasnya terbuat dari cotton. Jadi kode ban
bias 7.50 16 8PR adalah ban tersebut mempunyai lebar 7.5
inchi dan diameter untuk RIM 16 inchi serta mempunyai kekuatan
beban pikul setara 8 lapisan karkas.

2) Ban Radial
Ban radial adalah sejenis desain banotomotif. Rancangan ban
radial pertama dipatenkan pada tahun 1915 oleh Arthur W.
Savage, seorang produsen ban yang sukses dan seorang
penemu di San Diego, California. Paten Savage telah kadaluarsa
pada tahun 1949. Ban radial biasanya digunakan untuk mobil
berpenumpang dan truk ringan dan jarang digunakan untuk
kendaraan berat seperti tronton atau kendaraan berat lainnya.
Ban radial memiliki konstruksi carcass cord membentuk sudut 90
derajat terhadap keliling lingkaran ban. Jadi dilihat dari samping

47
konstruksi cord adalah dalam arah radial terhadap pusat atau
crown dari ban. Bagian dari ban berhubungan langsung dengan
permukaan jalan diperkuat oleh semacam sabuk pengikat yang
dinamakan "Breaker" atau "Belt". Ban Radial memiliki jalinan
plycord yang membentang dari satu bibir ban ke bibir ban
sampingnya. Jalinan antara Plycord juga di perkuat oleh sabuk
kawat baja.

Gambar 2. 18:Nama Bagian Ban Radial

Nama dan Fungsi Bagian Ban Radial

Tread adalah lapisan karet luar bagian telapak ban yang berfungsi
untuk melindungi carcass ban terhadap keausan , benturan,
kerusakandan tusukan obyek dari luar yang dapat merusak ban.
Tread dibuat banyak pola yang disebut Pattern, yang langsung
berhubungan dengan permukaan jalan dan menghasilkan tahanan
gesek yang memindahkan gaya gerak dan gaya pengereman
kendaraan ke permukaan jalan.
Breaker dan Belt adalah bagian lapisan benang ( pada ban Bias
terbuat dari tekstil, sedangkan pada ban Radial terbuat dari kawat
baja ) yang diletakkan di antara tread dan carcass / casing yang
memperkuat daya rekat keduanya . Berfungsi untuk melindungi
serta meredam benturan yang terjadi pada Tread agar tidak
langsung diserap oleh Carcass / Casing.

48
Carcass / Casing adalah lapisan benang pembentuk ban dan
merupakan rangka ban yang keras, berfungsi untuk menahan
udara yang bertekanan tinggi, tetapi harus cukup flexibel untuk
meredam perubahan beban dan benturan. Carcass terdiri dari ply
( layer ) dari tire cord yang direkatkan menjadi satu dengan karet.
Bead adalah bundelan kawat yang disatukan oleh karet yang
keras dan berfungsi berfungsi untuk mencegah robeknya ban dari
rim oleh karena berbagai gaya yang bekerja. Udara bertekanan di
dalam ban mendorong bead keluar pada rim peleg dan tertahan
kuat disana. Bead dilindungi dari kerusakan karena gesekan
dengan peleg dengan jalan memberinya lapisan karet keras yang
disebut Chafer strip.

Sidewall adalah lapisan karet yang menutup bagian samping ban


dan berfungsi untuk melindungi carcass terhadap kerusakan dari
luar.Di sidewall tercantum nama pabrik pembuat, ukuran ban, dan
informasi lainnya.
Inner Liner adalah pengganti ban dalam dan terbuat dari
campuran karet yang kedap udara.

Gambar 2. 19: Struktur Ban

49
Gambar 2. 20: Bagian Bead Area

a) Kode Ukuran ban Radial


Ban mempunyai bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan
penggunanya. Bahasa ban yang berupa serangkaian angka dan
huruf menunjukkan data-data spesifikasi, merek dan tipe, yang
universal dan sudah disepakati oleh semua produsen ban di
seluruh dunia.
Sebagai contoh ada ban dengan kode seperti pada gambar 2.31 ,
Ban Radial dengan kodenya, yaitu : 205 / 65 R 15 94 H
Angka 205 dari rangkaian kode 205 / 65 R 15 94 H merupakan
lebar ban dalam satuan milimeter , kemudian angka 65 adalah
aspek rasio ban dalam satuan prosentase terhadap lebar ban, dan
huruf R merupakan konstruksi Radial serta angka 15 merupakan
diameter RIM dalam satuan inchi kemudian angka 94 merupakan
load index atau indek beban dalam satuan KG maksimum
sedangkan huruf H merupakan kode simbol indek kecepatan
(speed index ) dalam satuan KM / jam.

Gambar 2. 21: Kode dan Ukuran Ban Radial

50
b) Indeks ( Simbol ) Kecepatan dan Indeks Beban
Indeks kecepatan adalah simbol huruf mulai dari J sampai dengan
Z yang telah disepakati bersama seluruh produsen ban untuk
menunjukkan batas kecepatan maksimum yang aman, yang juga
berhubugan dengan indeks beban. Tabel di bawah ini
memberikan informasi nilai indeks beban dan simbol kecepatan
untuk masing-masing simbol atau nilai.

Simbol Kecepatan (simbol and kecepatan maksimum dalam km/jam)


J K L M N P Q R S T H V W Y
KmH 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 210 240 270 300
Keterangan: Simbol ZR berarti aman dipacu lebih dari 240km/jam

Indeks Beban (simbol and beban maksimum dalam Kg)

LI Kgs LI Kgs LI Kg LI Kg LI Kg LI Kg

69 325 81 462 93 650 93 650 105 925 117 1285


70 335 82 485 94 670 94 670 106 950 118 1320
71 345 83 487 95 690 95 690 107 975 119 1360
72 355 84 500 96 710 96 710 108 1000 120 1400
73 365 85 515 97 730 97 730 109 1030 121 1450
74 375 86 530 98 750 98 750 110 1060 122 1500
75 387 87 545 99 775 99 775 111 1090 123 1550
76 400 88 560 100 800 100 800 112 1120 124 1600
77 412 89 582 101 825 101 825 113 1150 125 1650
78 425 90 600 102 850 102 850 114 1180 126 1700
79 437 91 615 103 875 103 875 115 1215 127 1750
80 450 92 630 104 900 104 900 116 1250 128 1800

c) Jenis jenis Ban Menurut Penggunaannya


Dalam penggunaannya ban dibagi menjadi 2 , yaitu menggunakan
ban harus memakai ban dalam dan satunya dalam penggunaannya
tidak harus menggunakan ban dalam.

51
Tube Type
Ban tube type adalah ban yang memiliki ban dalam, artinya dalam
penggunaannya harus memakai ban dalam. Jenis ban ini paling
banyak terdapat jenis ban motor. Adapun untuk mobil jenis ban ini
banyak digunakan pada kendaraan angkutan. Keunggulan dari jenis
ban ini antara lain, harga ban lebih murah ketimbang ban tubeless,
biaya tambal lebih murah ketimbang ban tubeless, dan bisa memakai
peleg jenis apa saja .

Gambar 2. 22: Ban Tube Type

Ban Tubeless
Ban tubeless lebih keras dibanding ban biasa, hal tersebut karena
struktur karet lebih tebal dan padat. Tujuannya adalah pada saat
dipasang pada peleg tidak akan bocor ban tersebut melalui pori-
pori ban. Adapaun pada ban tubeless peleg sudah terpasang cop
pentil seperti pada gambar 2.39 : valve stem terpasang pada
peleg.

Gambar 2. 23: Ban Tubeless

Gambar 2. 24: Macam-macam Valve Stem Tubeless

52
d) PR ( Ply Rating )
Ply Rating adalah ukuran kekuatan ban bias. Semakin tinggi
angka rating (selalu bilangan genap), semakin tinggi tekanan
angin yang dapat ditahan. Dari tekanan angin itulah, kemampuan
mengangkat beban bisa ditentukan dari tabel beban vs tekanan
angin.
Angka yang ditulis di depan Ply Rating bukan menunjukkan
jumlah lapisan yang sebenarnya, tetapi menunjukkan angka
kekuatan dari ban. Hal ini tergantung dari jenis bahan yang
digunakan sebagai lapisannya

Gambar 2. 25: Kode Ply Rating pada Ban

Contoh : Sebuah ban bias tertulis kode 8 PR ( 8 Ply Rating )


bahan dari polyester atau nylon dan lapisanya berjumlah 4 lapisan
( 4 ply ), akan tetapi kekuatannya sama dengan 8 plies ( ply ) jika
bahannya terbuat dari cotton.

e) TWI ( Tread Wear Indicators )


Ban merupakan komponen yang sangat vital bagi suatu
kendaraan, untuk itu diperlukan ban yang kondisinya masih bagus
agar ban dapat berfungsi dengan baik dan keselamatan dapat
dicapai. Untuk mengetahui kondisi keausan , maka pada ban
diberi tanda yang digunakan memeriksa keausan pada ban
berupa tanda atau tulisan TWI.
Tinggi TWI umumnya 1,5 s/d 2 mm diukur dari dasar telapak ban (
lihat gambar 2.40 )

53
Gambar 2. 26: Tread Wear Indicator ( TWI )

Gambar 2. 27: Tanda TWI pada Ban

Gambar 2. 28: Mengukur Kedalaman Grove ( Alur Ban )

f) Pola Telapak Ban


Saat ini merek dan pola telapak ban begitu bervariasi, memilih
ban yang tepat untuk memenuhi kebutuhan berkendaraan sangat
diperlukan. Pada dasarnya, pola telapak ban hanya terbagi
menjadi tiga golongan utama, yakni Searah (Directional), Simetris
(Symmetric), dan Asimetris (Asymmetric).
Ketiga golongan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda
untuk memenuhi kebutuhan pengemudi yang berbeda-beda.

54
1) Searah ( Directional )
Ban searah memiliki ciri telapak searah yang menyerupai anak
panah atau pola kembangannya berbentuk huruf "v".

Gambar 2. 29: Pola Telapak Ban Directional


Karakteristik
Menepis air dengan sempurna untuk pengendalian yang lebih
baik di permukaan basah maupun kering.
Performa dan pengereman yang lebih baik.
Biasanya tersedia dalam ukuran besar (15" keatas) dan
memiliki indeks kecepatan yang tinggi.
Dan sangat cocok untuk Pengemudi yang menyukai performa
dan kecepatan tinggi.
2) Simetris ( Symmetric )
Ban simetris biasanya memiliki telapak dengan desain RIB
yang berkesinambungan atau blok. Kedua sisinya, baik sisi
dalam maupun sisi luar memiliki fitur dan kegunaan yang
sama. Pada umumnya ban dengan pola simetris memiliki alur
yang menyerupai gelombang.

Gambar 2. 30 Pola Telapak Ban Symmetric

55
Karakteristik
Nyaman dan sangat hening atau tidak berisik
Alur utama untuk menepis air
Dan sangat cocok untuk Pengemudi yang menyukai
kenyamanan dan keheningan dalam berkendara.
3) Asimetris ( Assymmetric )
Ban asimetris memiliki pola yang unik untuk membedakan
kedua bagian sisinya. Bagian luar ban biasanya memiliki
desain alur yang lebih besar untuk menepis air dan
meningkatkan pengendalian pada jalan basah. Sedangkan
bagian dalam ban memiliki alur yang lebih kecil guna
memperluas bidang yang bersentuhan dengan jalan sehingga
ban lebih stabil.

Gambar 2. 31: Pola Telapak Ban Assymmetric

Karakteristik
Pengendalian yang baik di jalan basah maupun kering.
Pengendalian yang baik pada saat membelok pada kecepatan
tinggi.
Dan sangat cocok untuk Pengemudi yang menyukai performa
tinggi.

g) RFT ( Run-Flate Tire )


Hampir semua pabrik ban secara berkala selalu
meningkatkan performa produk-produknya baik dari segi
kenyamanan maupun keselamatan. Karena menurut penelitian
dan data dari perusahaan ban bahwa 80% dari kecelakaan
yang terjadi erat hubungannya dengan ban dan tekanan angin
yang kurang. RFT singkatan dari Run Flat Tyre. Ban runflat

56
bisa berjalan dengan aman pada kecepatan tertentu walau
tanpa angin. Ban runflat telah dikembangkan guna menjamin
keselamatan si pengemudi pada saat ban mengalami bocor
dan habis anginnya secara tiba-tiba. Ban-ban konvensional
atau biasa akan kempes cepat dan tidak dapat lagi menopang
kendaraan ketika sudah tidak ada lagi angin di dalam ban dan
akan rusak bila pengemudi meneruskan perjalanan
kendaraan.

Gambar 2. 32: Konstruksi RFT

Ban RFT secara umum dapat dipakai dalam keadaan tekanan


0 (nol) sejauh 80 Km dengan kecepatan maksimum 80
km/jam, karena pada ban RFT konstruksinya dibuat
sedemikian rupa untuk mendukung kekuatan ban pada saat
tekanan angin nol. Pada ban RFT bagian sisi dalam sidewall
terdapat karet penguat , sehingga mampu menahan beban
kendaraan.

h) Pemasangan Ban Baru


Untuk ban baru baik konstruksi radial maupun bias terdapat
beberapa tanda ( stempel ) bulat berwarna, yaitu warna putih ,
warna kuning dan warna merah. Dalam pemasangan ban baru
pada peleg , ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan
dalam pemasangannya.

57
o Peleg .
Pastikan bahwa peleg dalam kondisi bersih dan kondisi
baik tidak bengkok maupun oleng.
o Ban.
Ban harus diperhatikan tanda stempel dari pabrik, berupa
tanda bulatan warna putih, warna merah dan warna
kuning.
Tanda bulatan warna kuning harus tepat pada lubang
tempat valve stem atau cop pentil, karena pada tanda
bulatan kuning tersebut adalah posisi ban yang paling
ringan.

Gambar 2. 33: Tanda Stempel pada Ban Baru

Gambar 2. 34: Tanda Titik pada Ban Baru

58
Gambar 2. 35: Mesin Tyre Changer

Gambar 2. 36 Cara Melonggarkan Bead

Gambar 2. 37 Memasang Roda pada Mesin

Gambar 2. 38 Melepas Bead dari Peleg

59
Gambar 2. 39: Peleg Terpasang pada Mesin

Gambar 2. 40 Melumasi Bead dengan Lubricant

60
D. Aktifitas Pembelajaran
Peserta diklat membaca dengan seksama uraian materi, jika ada yang
kurang jelas peserta dapat bertanya/mendiskusikan dengan fasilitator.
Peserta mengerjakan tugas dan latihan untuk mengetahui tingkat
pemahaman materi yang dibahas.
Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian melaksanakan tugas
yang ada.
Selain itu peserta perlu mengidentifikasi peralatan keselamatan kerja yang
layak digunakan pada saat pelatihan di bengkel agar terhindar dari
kecelakaan .

E. Latihan / Tugas
Soal
1. Gambar berikut menunjukkan konstruksi ban . . . .

a. Radial
b. Bias / diagonal
c. Semi radial
d. Rotasi

2. Ban ukuran 185/70 R14 , apa arti angka 185 ?


a. Lebar ban dalam satuan mm
b. Diameter ban dalam satuan mm
c. Lebar ban dalam satuan inchi
d. Diameter ban dalam satuan inchi

3. Pelek ukuran 5Jx14 , apa arti angka 14 ?


a. Diameter pelek dalam satuan inchi
b. Lebar pelek dalam satuan inchi

61
c. Diameter pelek dalam satuan mm
d. Lebar pelek dalam satuan inchi

4. Dalam pemakaiannya ban jenis tubeless adalah . . . .


a. Tanpa menggunakan ban dalam
b. Harus menggunakan ban dalam
c. Menggunakan gas nitrogen
d. Menggunaka gas biasa

5. Perhatikan gambar di bawah ini. Ban tersebut aus karena . . . .

a. Tekanan angin kurang


b. Tekanan angin lebih
c. Toe terlalu positif
d. Toe terlalu negatif

6. Gambar berikut adalah jenis pola telapan ban . Apa jenis pola telapak
tersebut ?

a. Rib
b. Lug
c. Rib Lug
d. Kombinasi

7. Mengapa ban tersebut dikatakan radial ?


a. Karena batiknya ( kembangannya )

62
b. Karena lebarnya
c. Karena konstruksi karkasnya dianyam tegak lurus
d. Karena daya cengkeramannya

8. Ban dengan ukuran 5.50 13, apa arti angka 5.50 ?


a. Lebar ban ( inchi )
b. Tinggi ban ( mm )
c. Tinggi Ban ( inchi )
d. Diameter pelek ( inchi )

9. Ban dengan kode ukuran 7.50 16 , apa arti angka 16 ?


a. Tanda ban bias
b. Indek ban
c. Tinggi ban ( inchi )
d. Diameter pelek ( inchi )

10. Perhatikan gambar berikut !

Pola telapak ban diatas adalah . . . .


a. Symetris
b. Asymetris
c. Directional
d. Multi dyrectional

63
F. Rangkuman
1. Materi Peleg terdiri dari : (a) Konstruksi peleg ,yaitu peleg terbagi dan
peleg utuh (b) Bahan peleg ,terbuat dari baja dan ada yang terbuat dari
aluminium paduan, ukuran dan kode peleg untuk mengetahui berapa
ukuran dan offset peleg
2. Mareti Ban terdiri dari : (a) Konstruksi ban , yaitu ban radial dan
konstruksi ban bias (b) ukuran dan kode ban , 205 / 65 R 15 H 89 yaitu
lebar ban ukuran 205 mm , apek rasio 65% dan diameter peleg 15 inchi ,
kecepatan maksimum ( H ) adalah 210 Km/jam serta mempunyai indek
beban 89 adalah maksimum 582 Kg, (c) Tread patern adalah pola telapak
ban
3. Materi RFT terdiri dari : (a) fungsi Run Flat Tire , yaitu jenis ban yang
aman karena mobil masih bisa berjalan dengan kecepatan 80 Km/jam
dengan jarak 80 Km walaupun tekanan angin ban nol.(b) Konstruksi RFT
yaitu ada tambahan karet penguat disidewallnya sehingga mampu
menahan beban yang tinggi walapun tekanan angin nol.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Peserta pelatihan setelah menyelesaikan proses pembelajaran dalam modul
ini diharapkan mempelajari kembali materi/bagian-bagian yang belum
dikuasai dari modul ini sampai tuntas untuk dipahami secara mendalam.
Setelah itu hendaknya pengetahuan dari modul ini bisa dikembangkan
dengan sendirinya sebagai bekal dalam melaksanakan tugas keprofesian
guru/pendidik, dan untuk bekal dalam mencapai hasil pelaksanaan uji
kompetensi guru dengan ketuntasan minimal materi 80%.
Setelah mentuntaskan modul ini maka selanjutnya guru berkewajiban
mengikuti uji kompetensi. Dalam hal uji kompetensi, jika hasil tidak dapat
mencapai batas nilai minimal ketuntasan yang ditetapkan, maka peserta uji
kompetensi wajib mengikuti diklat sesuai dengan grade perolehan nilai yang
dicapai.

A. Kunci Jawaban
1. (a) Radial
2. (a) Lebar ban dalam satuan mm
3. (a) Diameter pelek dalam satuan inchi
4. (a) Tanpa menggunakan ban dalam

64
5. (a) Tekanan angin kurang
6. (a) RIB
7. (c) Karena konstruksi karkasnya dianyam tegak lurus
8. (a) Lebar ban ( inchi )
9. (d) Diameter pelek ( inchi )
10. (c) Asymetris

65
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: SISTEM SUSPENSI

A. Tujuan
Setelah belajar materi kegiatan belajar 3 ini peserta diharapkan:
1. Mampu menelaah sistem suspensi.
2. Mampu mendiagnosis kerusakan sistem suspensi
3. Mampu memperbaikisistem suspensi.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Menelaah sistem suspensi pada kendaraan
2. Mendiagnosis kerusakan sistem suspensi
3. Memperbaiki sistem suspensi
C. Uraian Materi

1. Sistem Suspensi

Suspensi adalah kumpulan komponen kendaraan yang berfungsi


meredam kejutan, getaran yang terjadi pada kendaraan akibat
permukaan jalan yang tidak rata yang dapat meningkatkan
kenyamanan berkendara dan pengendalian kendaraan. Sistem
suspensi kendaraan terletak di antara bodi (rangka) dengan roda.

Gambar 3. 1: Sistem Suspensi


Untuk itu maka suspensi harus dapat :
Mengantar gerakan roda
Memungkinkan roda tetap menapak pada jalan
Mengabsorsi dan meredam getaran bodi akibat kondisi jalan

66
Meneruskan gaya pengemudian dan pengereman.
Ada dua jenis utama suspensi yaitu :
Sistem suspensi dependen atau sistem suspensi poros kaku ( aksel
rigid)
Sistem suspensi independen atau sistem suspensi bebas.

Gambar 3. 2: Sistem Suspensi Depan

a. Sistem suspensi dependen atau aksel rigid


Sistem Suspensi dependen adalah roda dalam satu poros dan
dihubungkan dengan poros kaku ( aksel rigid ), poros kaku tersebut
dihubungkan ke bodi dengan menggunakan pegas, peredam kejut
dan lengan kontrol ( control arm ). Awalnya semua kendaraan
menggunakan sistem ini. Sampai sekarang sebagian besar
kendaraan berat seperti truck, masih menggunakan sistem ini,
sedangkan kendaraan niaga umumnya menggunakan sistem ini pada
roda belakang.

Suspensi tersebut mempunyai sikap saling mempengaruhi sikap roda


kiri atau kanan serta badan mobil apabila salah satu roda memegas.
Salah satu keuntungan suspensi tipe rigid ini adalah kontruksinya
yang sederhana dan kuat.

67
Gambar 3. 3: Suspensi Dependen ( Aksel Rigid )

Macam Macam konstruksi Suspensi Aksel Rigid

Bahan aksel rigid umumnya dibuat dari baja yang diperkuat dengan
proses perlakuan panas (temper). Yang menjadi perhatian penting
adalah tidak boleh memanaskan aksel sampai temperatur tertentu
yang menyebabkan struktur bahan berubah, sehingga kekuatan aksel
menjadi berkurang.

1) Aksel Canggah

Aksel dibuat menyerupai canggah yang dihubungkan King Pin


dengan spindel. Aksel semacam ini sering digunakan pada mobil
berat ( truk dan bus ) serta mobil jeep.

Gambar 3. 4: Suspensi Rigid Aksel Canggah

2) Aksel Kepalan Tinju

Pada suspenssi jenis ini aksel dibuat menyerupai kepalan tinju


yang dihubungkan oleh King-Pin dan Spindel. Aksel semacam ini

68
sering digunakan pada mobil berat yaitu truck dan bus dan aksel
dibuat dari baja profil I.

Gambar 3. 5: Suspensi Rigid Aksel Kepalan Tinju

Ujung aksel berbentuk seperti kepalan tinju yang dihubungkan


oleh king pin dengan spindel.

3) Aksel Pipa Rigid Berpegas Koil

Konstruksi aksel rigid dengan pegas koil lebih rumit karena harus
dilengkapi dengan lengan melintang ( lateral rod / panhard rod )
dan lengan memanjang, tetapi pemegasan lebih nyaman dan
suspensi menjadi lebih ringan.

Gambar 3. 6: Aksel Rigid Berpegas Coil

Penahan Gaya Memanjang


Lenganlengan berfungsi untuk mengantar gerakan roda ( pegas
koil tidak dapat menerima beban horisontal ) arah memanjang
dan melintang. Karena pegas koil tidak dapat menahan gaya
horisontal arah memanjang dan melintang yang menyebabkan

69
kedudukan pegas berubah-ubah. Untuk itu tugas ini dipikul oleh
lengan memanjang.

Pada saat terjadi pengereman, pada aksel terjadi puntiran dan


pergeseran arah memanjang. Untuk mengatasi hal tersebut perlu
dua jenis lengan yaitu lengan memanjang bawah dan atas (
lengan torsi ).

Penahan gaya melintang

Gambar 3. 7: Aksel Rigid dengan Lengan Panhard

Penahan gaya melintang dengan batang Panhard ( Panhard rod


).Salah satu ujungnya dipasang pada aksel ujung yang lain
dipasang pada rangka/bodi. Batang panhard harus dibuat
sepanjang mungkin, untuk menghindari geseran arah ke samping
(sifat jalan yang tidak aman).

4) Aksel Rigid Berpegas Daun

Pegas daun yang dipakai pada suspensi ini adalah pegas daun
yang berlapis yang dibentuk setengah elips. Lapisan pegas
berbentuk elips berfungsi agar pemegasan terjadi bertahap sesuai
berat / beban mobil dan gaya yang ditimbulkan oleh roda.

70
Gambar 3. 8: Aksel Rigid Berpegas Daun

Tidak dibutuhkan lengan lengan, karena pegas daun dapat


meneruskan beban / gaya memanjang dan melintang. Tiga gaya (
gaya samping, gaya memanjang, gaya tegak ) harus dapat
ditahan dengan lembut oleh sistem suspensi dan
kelengkapannya. Tiga gaya tersebut timbul ketika pengereman,
reaksi penggerak dan pemegasan.

Penahan Gaya Memanjang


Gaya memanjang Fb, terjadi ketika pengereman dan reaksi
penggerak. Gaya Fb harus dapat ditahan oleh Fb Gaya Fb
adalah gaya reaksi yang timbul dari pegas daun.

Gambar 3. 9: Gaya Memanjang dari Kendaraan

Gaya reaksi penggerak dan pengereman.

Bila aksel mendapat gaya pengereman dan reaksi penggerak,


aksel akan terpuntir dan menekuk pegas sehingga berbentuk
huruf S, bagian ini mudah patah. Oleh karena itu untuk
menghindari patah pada pegas daun perlu penggantung ayun.

71
Penahan gaya samping

Gambar 3. 10: Gaya Kesamping dari Kendaraan

Pegas diikat kuat oleh dua buah klem U pada aksel sehingga
tidak bisa bergeser ke samping ketika terjadi gaya kesamping Fs.
Gaya kesamping terjadi ketika mobil berbelok dan memegas.

5) Aksel De Dion

Kedua Roda dihubungkan tetap melalui aksel pipa arah melintang.


Rumah differensial dipasang langsung pada bodi, dengan
demikian massa tak berpegas menjadi ringan. Poros aksel
dihubungkan oleh dua arah penghubung universal (universal joint)
yang memungkinkan dapat bergerak aksial.

Gambar 3. 11: Aksel De-Dion

72
b. Suspensi Independen

Antara roda dalam satu poros tidak terhubung secara langsung,


masing-masing roda (kiri dan kanan) terhubung ke bodi atau rangka
dengan lengan suspensi (suspension arm), pegas dan peredam kejut.
Guncangan atau getaran pada salah satu roda tidak memengaruhi
roda yang lain. Pada umumnya kendaraan penumpang menggunakan
sistem ini pada semua poros rodanya, sedangkan kendaraan niaga
umumnya menggunakan sistem ini pada roda depan sedangkan pada
poros roda belakang menggunakan sistem suspensi dependen.

Gambar 3. 12: Sistem Suspensi Independent


Pada suspensi model bebas (independent suspension ), masing-
masing pada roda kiri dan kanan bergerak bebas ( independen ).
Roda kiri dan kanan tidak dihubungkan secara langsung pada axle
tunggal. Kedua roda dapat bergerak secara bebas tanpa saling
mempengaruhi. Biasanya suspensi model bebas ini digunakan pada
roda depan mobil penumpang dan truck kecil. Sekarang suspensi
model bebas digunakan juga pada roda belakang mobil penumpang.
Perbedaan besar antara suspensi depan dan belakang disebabkan
roda depan dapat membelok. Ketika kendaraan membelok atau
melalui jalan yang tidak rata, roda-rodanya menerima gaya dari
permukaan jalan. Suspensi berfungsi menyerap gaya-gaya ini agar
kendaraan berjalan sesuai dengan arah yang diinginkan. Disamping
itu untuk mencegah roda bergoyang, bergerak ke arah depan,
belakang, samping, secara berlebihan, atau merubah kemiringan
roda, hal ini akan mempengaruhi kestabilan kendaraan. Karena faktor
inilah suspensi model bebas sering digunakan pada roda depan.

73
1) Suspensi Tipe Mc Pherson
Suspensi tipe ini banyak digunakan pada roda depan. Konstruksi
dari suspensi tipe strut adalah : lower arm, strut bar, stabilizer bar
dan strut assembly. Ujung lower arm dipasang pada suspension
member melalui bushing karet dan dapat bergerak naik turun.
Ujung lainnya dipasang ke steering knuckle arm melalui ball joint.
Sebagai bagian dari suspension linkage, shock absorber
berfungsi menyerap kejutan dari jalan dan menopang berat
kendaraan. Bagian atasnya dipasang pada fender apron melalui
bantalan karet dan bearing. Bagian bawah strut diikat dengan
baut pada steering knuckle.

Gambar 3. 13: Suspensi Mc Pherson Strut

2) Suspensi Mc Pherson Strut dengan Lower arm L type

Ada beberapa macam bentuk lower arm yang digunakan untuk


menopang roda dan bodi kendaraan. Diantaranya adalah bentuk
lower arm berbentuk L. bentuk ini ada yang digunakan pada
kendaraan yang mesinnya di depan dan penggeraknya roda
depan. Lower arm bentuk L ini diikat pada body pada dua tempat
melalui bushing dan ke steering knuckle melalui ball joint.
Keuntungannya dapat menahan gaya dari arah samping maupun
arah depan belakang sehingga tidak perlu menggunakan strut bar.

74
Gambar 3. 14: Suspensi Mc Pherson dengan Lengan L

3) Suspensi Double Wishbones

Bagi banyak perancang suspensi, suspensi Double


Wishbones atau istilah lainnya A-arms adalah suspensi
paling ideal. Suspensi indipenden ini dapat digunakan untuk
roda depan dan belakang. Selain itu, Double Wishbones juga
memiliki kontrol camber yang hampir sempurna. Selama
lebih dari 40 tahun, inilah suspensi yang banyak dipakai
pada mobil-mobil sports dan sedan-sedan berpengendalian
terbaik. Suspensi ini memiliki kekuatan yang kokoh karena
ada 2 lengan, bagian atas dan bawah, dengan begitu
tekanan dari samping atas maupun depan dapat teredam
dengan baik. Suspensi Double Wishbones sangat popular
pada mobil-mobil Amerika.

75
Gambar 3. 15: Suspensi Double Wishbone

Pada dasarnya, suspensi Double Wishbones selalu menjaga roda


tegak lurus pada permukaan jalan dan meminimalkan pergerakan
roda. Kemampuan ini berujung pada pengendalian kendaraan
yang stabil.

4) WishboneSistem Honda ( Suspensi Lengan Melintang )


Suspensi ini tergolong Suspensi Wishbone atau lengan
menlintang yang dikembangkan dari suspensi Mac Pherson oleh
Honda.

Ada dua sistem suspensi, yaitu Wishbone suspension untuk


semua aksel ( aksel depan dan belakang ), dan Mc Pherson strut
untuk aksel depan + Wishbone suspension belakang , dulu
semua mobil Honda all wishbone suspension.

Gambar 3. 16: Suspensi Wishbone "Honda"


Keuntungan dari suspensi Wishbone terletak pada kemampuan
sudut camber depan yang mengikuti lengkungan permukaan jalan
sehingga memberikan traksi maksimum di kecepatan tinggi dan di

76
permukaan jalan yang bergelombang. Masalahnya, suspensi
wishbone ini membutuhkan tempat yang luas jadi mobil dengan
suspensi ini cenderung panjang bagian depannya.

a) Suspensi Double Wishbone Dengan Pegas Koil

Suspensi model bebas ini banyak digunakan pada roda depan


mobil penumpang dan truck kecil. Konstruksinya adalah roda
dipasang pada body melalui dua lengan suspensi ( upper dan
lower arm ). Shock absorber dan pegas koil dipasang diantara
kedua arm tersebut di atas, steering knuckle dan frame. Salah
satu ujung arm dipasang pada body atau frame melalui
bushing, dan ujung lainnya pada steering knuckle melaui ball
joint. Bagian atas shock absorber diikat pada body atau frame,
dan bagian bawahnya ke lower arm. Pegas koil terletak
diantara lower arm dan body

Gambar 3. 17: Suspensi Double Wishbone Berpegas Coil

b) Suspensi Double Wishbone Dengan Pegas Torsi

Torsion Bar Salah satu ujung batang terpasang pada sasis


sementara ujung lainnya melekat pada tuas lengan suspensi,
dengan baut penyetel torsi tegak lurus dengan lengan yang
melekat pada lengan suspensi, spindle, atau poros. Baut
penyetel torsi dapat bervariasi untuk menyesuaikan tinggi

77
kendaraan. Beberapa keuntungan sistem ini adalah daya
tahan, dan penyesuaian tinggi mobil.

Pegas batang torsi (torsion bar) digunakan pada kendaraan


yang tidak menggunakan pegas koil ataupun pegas daun pada
suspensi depan. Pegas digantikan oleh pegas torsi yang
berbentuk seperti pipa bulat memanjang. Pegas batang torsi
(torsion bar) bekerja secara puntiran karena batang torsi
dibuat dari baja yang mempunyai elastisitas tinggi.

Gambar 3. 18: Suspensi Double Wishbone Berpegas Coil

Dan kerjanya apabila roda-roda depan menerima kejutan dari


permukaan jalan dan diteruskan ke lower arm maupun upper
arm melalui knuckle kemudi. Gaya yang diterima lower arm
ditahan dengan kemampuan puntiran pegas torsi yang
dipasangkan antara lower arm dengan rangka (frame). Untuk
mendapatkan proses pemegasan (puntiran) yang halus pada
pegas torsi, maka peredam getaran dipasangkan untuk
memperhalus proses pemegasan yang dipasangkan antara
lower arm dengan frame kendaraan.

Pada suspensi Wishbone, lengan atas dibuat lebih pendek


daripada lengan bawah, supaya saat pemegasan :

Jarak roda tidak berubah ( keausan ban berkurang )

Tumpuan roda saat pemegasan ( belok ) baik

78
c) Suspensi Trailing-Arm

Suspensi ini biasanya digunakan pada roda belakang mobil kecil denga
penggerak roda depan. Pada jenis ini bagian belakang lengan suspensi
dihubungkan dengan jalan dilas pada axle beam. Saat roda-roda
bergerak dengan arah yang berlawanan (satu arah ke atas dan yang
satu ke bawah), gerakan puntiran dari ujung lengan suspensi
diteruskan kedalam gerakan puntiran axle beam belakang. Puntiran
dari axle beam belakang dan stabilisator menghasilkan gaya reaksi
yang berlawanan dengan puntiran lengan suspensi.
Lengan memanjang mengantar gerakan roda dan menahan gaya
memanjang / melintang. Dan penggunaannya pada Aksel belakang
tanpa penggerak roda.

Gambar 3. 19: Suspensi Trailing Arm

d) Suspensi Semi-Trailing Arm

Pada umumnya jenis ini memiliki konstruksi yang sederhana dan tidak
memerlukan banyak tempat. Biasanya jenis ini digunakan pada
kendaraan roda belakang dan mobil penumpang. Jenis ini dirancang
untuk meningkatkan kekakuan dengan memperlihatkan beban dari
samping dan memperkecil alignment yang terjadi pada saat roda
bergerak ke atas dan bawah.

79
Gambar 3. 20: Suspensi Semi-Trailing Arm

2. Pegas Dan Stabilisator

a. Pegas

Pegas berfungsi untuk menghilangkan getaran karoseri yang


ditimbulkan oleh pukulan jalan pada roda. Selain itu juga menjamin
roda tetap menapak pada jalan. Pemegasan pada kendaraan
dihasilkan oleh : ban, pegas suspensi dan pegas tempat duduk.

Gambar 3. 21: Pemegasan


Massa tak terpegas ( A ), meliputi :Roda, rem, aksel dan setengah
pegas bagian bawah.

Massa terpegas ( B ) ,meliputi :Bodi dan semua komponen yang


melekat pada bodi, penumpang barang dan setengah pegas bagian
atas.

Kendaraan semakin nyaman jika massa tak terpegas semakin


ringan.

80
Gambar 3. 22: Massa Terpegas dan Tak Terpegas

Ada 3 macam pegas yang umum digunakan pada sistem suspensi,


yaitu pegas daun, coil dan batang torsi. Pegas coil atau coil spring
bila dibandingkan dengan pegas yang lainnya memiliki tahanan atau
redaman kejutan yang lebih baik dan tidak terjadi gesekan antara
pegas (defleksi) yang menyebabkan getaran pada body. Didalam
sistem suspensi pegas merupakan kawan dari shock absorber yang
keduanya menjadi komponen utama pada sistem suspensi. Pegas
mempunyai fungsi untuk menyerap kejutan, getaran, dan oskilasi
yang diterima dari permukaan jalan yang tidak rata, sehingga tidak
diteruskan ke bodi. Selain itu pegas juga mempunyai fungsi untuk
meningkatkan kemampuan cengkeraman roda-roda terhadap jalan.

1) Pegas Daun

Pegas ini biasanya dibuat dari plat baja yang memiliki ketebalan
3 6 mm. susunan pegas daun terdiri atas 3 10 lembar plat
yang diikat menjadi satumenggunakan baut atau klem pada
bagian tengahnya. Pada ujung plat terpanjang dibentuk mata
pegas untuk pemasangannya. Sementara itu bagian belakang
dari plat baja paling atas dihubungkan dengan kerangka
menggunakan ayunan yang dapat bergerak bebas saat panjang
pegas berubah-ubah karena pengaruh perubahan beban.
Pegas daun biasanya digunakan pada kendaraan angkutan
seperti pick-up, truck, dan ada beberapa mobil penumpang yang
juga menggunakan pegas tipe ini. Pegas ini mempunyai
keuntungan kontruksinya lebih sederhana, dapat meredam
getaran sendiri, lebih kuat dan juga berfungsi sebagai lengan

81
penyangga (tidak memerlukan lengan memanjang dan
melintang). Pada pegas tipe ini biasanya yang paling banyak
terjadi kerusakan adalah bushingnya.

Gambar 3. 23: Pegas Daun

Pemasangan pegas daun : yaitu pegas daun dipasang diatas


poros roda belakang dan pegas daun dipasang dibawah poros
roda belakang. Kebanyakan pegas daun dipasang tepat
ditengah-tengah panjang pegas tersebut sehingga bagian depan
dan belakang sama panjang. Tetapi ada juga pemasangan pegas
daun yang tidak tepat ditengah, yaitu bagian depan lebih pendek
dari bagian belakang, getaran yang timbul ketika kendaraan
direm atau meluncur dapat dikurangi. Saat kendaraan berat tidak
menerima beban berat maka yang digunakan saat itu pegas
primer, sedangkan saat diberi beban berat maka pegas primer
dan sekunder akan bekerja bersama-sama.

Gambar 3. 24: Pegas Daun Terpasang pada Mobil

82
2) Pegas Koil

Pegas Koil atau sering disebut juga coil spring dan sering juga
disebut per keong atau pegas ulir dan pegas spiral.. Pegas
sepiral ini terdiri atas sebuah uliran batang baja dalam bentuk
melingkar seperti rumah siput atau keong. Pegas ini memiliki
ketahanan sangat baik terhadap beban kejut, dan ketika terjadi
defleksi tidak akan menimbulkan gesekan. Namun pegas spiral
tidak memiliki sifat meredam beban kejut, sehingga dalam
pemakaiannya selalu dirangkaikan dengan peredam kejut (shock
absorber) serta memerlukan dudukan pegas yang dipasang
dikedua ujung pegas spiral.
Pada saat pemegasan, batang pegas koil menerima beban puntir
dan lengkung. Pegas koil ini terbuat dari batang baja khusus dan
berbentuk spiral. Pegas ini banyak digunakan pada kendaraan
kecil kecil terutama kendaraan yang mementingkan kenyamanan
penumpang, sebagai contoh adalah mobil sedan. Pegas coil
memeliki kelebihan dapat menyerap getaran atau kejutan lebih
besar (baik) daripada pegas daun dan pegas batang torsi, dan
lengkah pemegasan panjang. Tetapi memiliki kerugian tidak
dapat meredam dirinya sendiri, tidak dapat menerima gaya
horizontal. Pegas koil dapat digunakan pada suspensi
independen dan axle rigid.

Gambar 3. 25: Pegas Coil ( Coil Spring )

83
3) Pegas Batang Torsi ( Puntir )

Hampir sama dengan kedua pegas sebelumnya, pegas ini dibuat


dari batang baja tetapi bersifat elastis terhadap puntiran. Dengan
puntiran inilah pegas ini dapat menyerap kejutan dan getaran
yang diakibatkan oleh permukaan jalan. Konstruksi pegas batang
torsi sangatlah sederhana, ringan dan tidak banyak memakan
tempat. Namun demikian pegas ini kurang begitu kuat untuk
menahan beban yang berat. Salah satu ujung pegas ini dipasang
pada rangka yang tidak mendapat puntiran.

Gambar 3. 26: Pegas Puntir ( Torsion Bar )

Gambar 3. 27: Pegas Torsi Terpasang pada Mobil

b. Stabilisator :

Stabilisator atau Stabilizer bar merupakan komponen utama pada


sistem suspensi yang berfungsi untuk mengurangi kemiringan
kendaraan akibat gaya sentrifugal saat kendaraan membelok atau

84
mengurangi efek rolling bodi kendaraan dan memperbaiki sifat jalan
belok kendaraan. Untuk suspensi depan, stabilizer bar biasanya
dipasang pada ke dua lower arm melalui bantalan karet dan linkage.
Pada bagian tengah ke frame pada dua tempat melalui bushing.

Gambar 3. 28: Prinsip Kerja Stabilisator

Cara kerja :

Pada saat salah satu roda terpegas ( misal : pada saat kendaraan
belok ), maka bagian melintang stabilisator menerima beban
puntir karena gaya pada kedua sisi memanjang berlawanan arah.
Karena salah satu sisi stabilisator berhubungan langsung dengan
bodi, maka gaya Fa menarik bodi ke bawah, gaya Fb mengangkat
bodi ke atas, sehingga kecenderungan Rolling berkurang.

Konstruksi pemasangan stabilisator.

Cara pertama : Lengan melintang diikat pada body dengan


ditahan atau diklem dengan besi berlapis karet atau bushing dan
kedua ujung lengan memanjang diikat pada suspensi
menggunakan baut.

85
Gambar 3. 29: Pemasangan Stabilisator pada Mobil

Cara kedua : Lengan melintang diikat pada suspensi dengan


ditahan atau diklem dengan besi berlapis karet atau bushing dan
kedua ujung lengan memanjang diikat pada body menggunakan
baut.

Gambar 3. 30: Ujung Stabilisator di Ikat pada Bodi


3. Peredam Getaran ( Shock Absorber )
Shock Absorber (shock breaker) yang jika diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia berarti peredam kejut, merupakan salah satu
komponen utama dalam sistem suspensi, Shock absorber berkolaborasi
dengan pegas (spring.

86
Tanpa Peredam Getaran

Gerakan oksilasi mobil pada saat berjalan seperti gelombang dan relatif
membutuhkan waktu yang lama untuk berhenti. Sehingga membuat
pengemudi dan penumpang merasa tidak nyaman dan tidak aman pula.

Gambar 3. 31: Gerakan Mobil tanpa Shock Absorber


Dengan Peredam Getaran

Dengan peredam getaran atau shock absorber terlihat bahwa gerakan


oskilasi mobil tersebut relatif cepat berhenti dan gerakan oksilasi itu
maksimal 1,5 kali kemudian berhenti. Dengan demikian akan membuat
penumpang maupun pengemudi merasa nyaman dan aman.

Gambar 3. 32: Gerakan Mobil Dengan Shock Absorber

a. Fungsi Peredam Getaran :

Di dalam suspensi terdapat pegas yang berfungsi untuk menyerap


kejutan dan getaran agar tidak diteruskan ke body kendaraan. Apabila
suspensi kendaraan hanya terdapat pegas saja tanpa shock
absorber, maka kendaraan akan bergerak naik turun dalam waktu
yang lama, sehingga bukannya kenikmatan yang didapat tetapi
ketidaknyamanan. Untuk meredam atau melawan oskilasi ( gerak naik

87
turun ) yang disebabkan oleh pegas saat menyerap kejutan dari jalan
dipasanglah shock absorber didalam suspensi kendaraan.

Gambar 3. 33: Prinsip Kerja Shock Absorber

b. Cara Kerja Shock Absorber


Pada saat kompresi / turun (gambar 3.48), maka piston bergerak
turun dan katup tarik terbuka sehingga minyak dapat mengalir dengan
lancar, sehingga tidak terjadi peredaman.
Pada saat naik (expansi), maka piston juga bergerak naik dan katup
tarik tertutup, katup tekan membuka. Sehingga minyak akan melalui
orifice (lubang kecil) pada katup tekan, pada saat inilah terjadi
peredaman oskilasi yang diakibatkan oleh pegas.

Gambar 3. 34: Penampang Shock Absorber

D. Aktifitas Pembelajaran

Peserta diklat membaca dengan seksama uraian materi, jika ada yang
kurang jelas peserta dapat bertanya/mendiskusikan dengan fasilitator.
Peserta mengerjakan tugas dan latihan untuk mengetahui tingkat
pemahaman materi yang dibahas.

88
Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian melaksanakan tugas
yang ada.
Selain itu peserta perlu mengidentifikasi peralatan keselamatan kerja yang
layak digunakan pada saat pelatihan di bengkel agar terhindar dari
kecelakaan .

E. Latihan / Tugas
Soal-soal

1. Jenis suspensi di gambar bawah ini adalah . . . .

a. Suspensi aksel rigid


b. Suspensi Wishbone
c. Suspensi Mc. Pherson
d. Suspensi Dedion

2. Suspensi di bawa ini adalah jenis . . . .

a. Suspensi Mc. Pherson


b. Suspensi aksel rigid
c. Suspensi dedion
d. Suspensi Wishbone

89
3. Suspensi berikut di bawa ini adalah . . . .

a. Suspensi wishbone
b. Suspensi Mc. Pherson
c. Suspensi aksel rigid
d. Suspensi Dedion

4. Fungsi ball joint suspensi adalah . . . .


a. Sebagai sendi pada saat mobil mengayun dan belok
b. Untuk meredam getaran pada mobil
c. Agar pengemudian mobil menjadi ringan
d. Agar mobil stabil pada saat jalannya berkelok-kelok

5. Fungsi shock absorber adalah . . . .


a. Meredam getaran akibat kondisi permukaan jalan
b. Meredam pada saat jalannya mobil berbelok
c. Supaya mobil stabil pada saat berjalan pada kecepatan tinggi
d. Supaya mobil nyaman pada saat berjalan lambat maupun cepat

6. Fungsi pegas pada mobil adalah . . . .


a. Mengurangi dan meredam getaran akibat permukaan jalan
b. Supaya mobil berjalan bisa mengayun-ayun sehingga nyaman
c. Mengurangi oleng pada saat mobil berbelok pada kecepatan tinggi
d. Supaya pada saat mobil berjalan setir menjadi ringan

7. Yang tidak termasuk komponen Suspensi adalah :


a. Shock absorber
b. Pegas Coil
c. Control arm
d. Long tie-rod

90
8. Suspensi yang digunakan pada Truk dan Bus adalah :
a. Rigid bagian belakang, independent bagian depan
b. Rigid bagian belakang, rigid bagian depan
c. Rigid bagian depan, independent bagian belakang
d. Independent bagian depan, independent bagian belakang

9. Yang berfungsi untuk meredam getaran pada komponen Suspensi


adalah :
a. Shock absorber
b. Pegas Coil
c. Control arm
d. Ball joint

10. Perhatikan gambar di bawah ini, apa nama komponen yang ditunjukkan
angka 1 pada gambar ?

1
1
a. Upper arm
b. Mc Pherson
c. Lower arm
d. Double Wishbone

91
D. Rangkuman

a. Materi suspensi terdiri dari : (a) suspensi aksel rigid ( dependen ) yaitu
jenis suspensi kaku yang banyak digunakan pada mobil angkutan, (b)
suspensi Mc Pherson Strut yaitu jenis suspensi independen yang banyak
digunakan mobil penumpang karena konstruksi lebih sederhana, mudah
perawatannya , (c) suspensi double wishbone yaitu suspensi yang
menggunakan 2 lengan yaitu lengan ata dan lengan bawah ( upper arm
dan lower arm ) merupaka suspensi yang lebih sempurna akan tetapi
perawatannya lebih rumit.
b. Materi pegas dan stabilisator terdiri dari : (a) macam-macam pegas yaitu
pegas daun , pegas koil dan pegas puntir ( batang torsi ), (b) stabilistor
yang berfungsi untuk menstabilkan mobil setelah belok agar tidak terjadi
rolling atau melewati jalan yang bergelombang.
c. Shoc absorber terdiri dari : (a) fungsi shock absorber yaitu untuk
meredam getaran yang ditimbulkan oleh permukaan jalan terhadap roda
yang diteruskan ke bodi , (b) macam-macam shock absorber yaitu
monotube , twintube dan jenis sock aksorber gas.

E. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Peserta pelatihan setelah menyelesaikan proses pembelajaran dalam modul


ini diharapkan mempelajari kembali materi/bagian-bagian yang belum
dikuasai dari modul ini sampai tuntas untuk dipahami secara mendalam.
Setelah itu hendaknya pengetahuan dari modul ini bisa dikembangkan
dengan sendirinya sebagai bekal dalam melaksanakan tugas keprofesian
guru/pendidik, dan untuk bekal dalam mencapai hasil pelaksanaan uji
kompetensi guru dengan ketuntasan minimal materi 80%.
Setelah mentuntaskan modul ini maka selanjutnya guru berkewajiban
mengikuti uji kompetensi. Dalam hal uji kompetensi, jika hasil tidak dapat
mencapai batas nilai minimal ketuntasan yang ditetapkan, maka peserta uji
kompetensi wajib mengikuti diklat sesuai dengan grade perolehan nilai yang
dicapai.

92
F. Kunci Jawaban
1. (a)Suspensi aksel rigid
2. (a) Suspensi Mc. Pherson
3. (a) Suspensi wishbone
4. (a) Sebagai sendi pada saat mobil mengayun dan belok
5. (a) Meredam getaran akibat kondisi permukaan jalan
6. (a) Mengurangi dan meredam getaran akibat permukaan jalan
7. (d) Long tie-rod
8. (b) Rigid bagian belakang, rigid bagian depan
9. (a) Shock absorber
10. (c) Lower arm

93
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: WHEEL
ALIGNMENT

A. Tujuan
Setelah belajar materi kegiatan belajar 4 ini peserta diharapkan mampu
menyetel wheel alignment.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Menyetel wheel alignment pada kendaraan

C. Uraian Materi

Wheel Alignment

Wheel alignment (kelurusan roda) adalah suatu penyetelan yang meliputi


komponen suspensi dan steering, roda dan rangka kendaraan. Produsen
pembuat kendaraan menentukan sudut penyetelan whell alignment ini
berdasarkan kontruksi kendaraan dan kegunaannya. Saat semua sudut
telah sesuai dengan spesifikasinya, maka mobil atau kendaraan telah setel
dengan tepat, dan merupakan kompromi yang baik antara gesekan yang
kecil, usia pemakaian roda relatif lama, stabilitas mobil di jalan dan kontrol
steering oleh pengemudi juga baik.
Kecelakaan berkendara, berjalan melewati jalan yang bergelombang
(guncangan di jalan) , serta perbaikan komponen dapat membuat beberapa
sudut menyimpang dari spesifikasi. Pada saat hal tersebut terjadi, maka
akan dapat mempengaruhi dalam pengontrolan kendaraan. Saat inilah mobil
perlu untuk di setting ulang, untuk mendapatkan sudut yang tepat sesuai
dengan spesifikasi pabrik mobil.

94
1. Camber

Camber angle adalah sudut yang dibentuk oleh roda kendaraan yaitu sudut
antara sumbu vertikal roda yang digunakan untuk kemudi dengan sumbu
vertikal kendaraan bila dilihat dari depan atau belakang. Hal ini digunakan
dalam desain kemudi dan suspensi. Jika bagian atas roda keluar dari bagian
bawah maka disebut camber positif, jika bagian atas roda ke dalam dari
bagian bawah maka disebut camber negatif.

Pada mobil dengan suspensi double wishbone, sudut camber dapat disetel
(disesuaikan) menurut spesifikasi pabrik atau tetap (tidak bisa disetel) , tapi
suspensi Mc Pherson strut, biasanya tidak bisa disetel. Dengan meniadakan
penyetelan camber yang tersedia dapat mengurangi kebutuhan
pemeliharaan, tetapi jika mobil diperbaiki dengan melepas atau mengganti
salah satu komponen suspensi, contoh penggantian lower arm maka sudut
camber akan berubah. Perubahan sudut camber yang berlebihan dapat
menyebabkan peningkatan keausan ban dan kenyamanan dalam
pengemudian.

Gambar 4. 1: Sudut Camber pada mobil

Dianjurkan untuk melakukan penyelarasan (spooring) mobil setelah 5000km


pertama, karena semua suspensi bisa disetel untuk diatur sudut-sudutnya.

a. Camber Positif ( + )
Apabila roda kendaraan bagian atas miring keluar terhadap garis vertikal
jika dilihat dari depan kendaraan, maka dinamakan sudut camber positif (
+ ).

95
Gambar 4. 2: Camber apositif pada kendaraan.

b. Camber negatif ( - )

Gambar 4. 3: Camber Negatif

Bagian roda miring ke dalam jika dilihat dari depan kendaraan, sehingga
garis vertikal dengan garis tengah roda membentuk sudut ( sudut
negatif )

c. Camber Nol ( 0 )

Gambar 4. 4: Camber Nol

Garis tengah roda sejajar dengan garis vertikal jika dilihat dari depan
kendaraan disebut camber nol.

96
Di sisi lain, untuk maksimum percepatan pada saat kendaraan jalan lurus,
traksi yang paling besar akan dicapai ketika sudut camber adalah nol dan
menapak rata di jalan.

d. Fungsi Camber
Fungsi Camber positif ( + )

Gambar 4. 5: Rolling camber


Perpanjangan garis tengah sumbu roda akan bertemu pada permukaan
jalan di titik 0 sehingga roda akan cenderung menggelinding
mengelilingi titik 0 dan hal tersebut dinamakan rolling camber.

Dengan adanya rolling camber, gaya untuk memutar kemudi menjadi


lebih ringan oleh karena itu hampir semua jenis kendaraan angkutan
menggunaan camber positif.

Maka kesimpulannya Camber positif menyebabkan pengemudian


menjadi ringan.

Fungsi Camber negatif ( - )

Gambar 4. 6 : Scrub Radius


Pada camber negatif jarak titik kontak ban terhadapjalan ( 1 ) dengan
perpanjangan titik sumbu putar kemudi (steering axis) terhadap jalan ( 2 )

97
semakin makin jauh, maka Rolling camber mengarah ke dalam ke titik 0.
Dengan adanya arah rolling camber ke dalam dan jarak titik ( 1 ) dengan
titik ( 2 ) menyebabkan gaya ke samping besar, sehingga Camber negatif
menyebabkan pengemudian semakin berat. Pengemudian yang relatif
berat pada kendaraan berjalan dengan kecepatan tinggi sangat
diperlukan, karena kendaraan pada kecepatan tinggi pengemudian
menjadi ringan.

e. Pengaruh camber terhadap beban dan getaran


Camber Positif

Gambar 4. 7: Letak beban pada bearing dalam


Gaya sejajar sumbu spindel ( Fs ) yang mengarah ke roda menyebabkan
reaksi roda menekan ke arah bantalan ( bearing ) sebelah dalam sehingga
reaksi keausan bantalan berkurang.
Letak beban kendaraan pada spindel mendekati bantalan dalam
menyebabkan getaran ditimbulkan spindel diteruskan ke sistem kemudi
menjadi kecil. Bantalan roda bagian dalam dibuat lebih besar
Beban yang diterima pada Camber positif dapat mengurangi efek keausan
bantalan.
Camber Negatif ( - )
Gaya sejajar sumbu spindel ( Fs ) yang mengarah keluar dari roda
menyebabkan roda ingin lepas dari pengikatannya, sehingga reaksi
keausan bantalan ( bearing ) sebelah luar pada roda bertambah besar.
Letak beban kendaraan pada sumbu spindel mendekati bantalan luar,
menyebabkan gaya pada spindel diteruskan ke sistem kemudi bertambah.

98
Gambar 4. 8: Letak beban pada bearing luar

Jadi Camber negatif menyebabkan efek keausan bantalan roda bertambah


dan getaran yang dirasakan pada roda kemudi besar.

Camber Nol ( 0 )

Gambar 4. 9: Reaksi camber nol

Pada camber nol apabila berkendaraan di atas jalan yang berbatu atau
jalan yang tidak rata, maka getaran yang ditimbulkan besar karena Gaya B
dari roda akan langsung diteruskan ke sambungan kemudi dan kemudian
ke roda kemudi sehingga menjadi bergetar.
Jadi Camber nol menyebabkan getaran pada roda kemudi besar dan tidak
stabil tergantung jarak titik A terhadap sumbu putar kemudi. Dan untuk
mengatasi hal tersebut maka diperlukan sistem suspensi yang bagus,
sehingga getaran yang ditimbulkan tidak akan sampai pada roda kemudi.

2. Caster

99
Sudut caster merupakan sudut yang dibentuk dari sumbu vertikal roda
dengan sumbu putar kemudi pada mobil, sepeda motor, dan sepeda. Untuk
mobil balap kadang-kadang sudut caster disesuaikan untuk mengoptimalkan
penanganan karakteristik mobil dalam situasi pengemudian tertentu.
Kemiringan sumbu putar kemudi ( steering axis ) terhadap garis tengah roda
vertikal jika dilihat dari samping kendaraan , kemiringan sumbu putar kemudi
ini berlaku untuk semua kendaraan.

Gambar 4. 10: Sudut Caster pada Mobil


Dalam konteks sepeda dan sepeda motor, caster lebih sering disebut
sebagai "Trail ". Ketika suspensi depan kendaraan sejajar, caster
disesuaikan untuk mencapai aksi meluruskan sendiri dari kemudi, yang
mempengaruhi stabilitas untuk mendapatkan garis lurus kendaraan.

c. Macam-macam Sudut Caster


Sudut caster yang umun digunakan pada mobil kendaraan, baik mobil,
sepeda motor maupun sepeda adalah Sudut caster positif. Akan tetapi
pada kenyataannya pada mobil hal tersebut bisa berubah sudut caster
menjadi nol atau caster negatif. Hal itu dikarenakan ada kerusakan
komponen sistem suspensi atau perbaikan komponen suspensi, dan
apabila mobil telah melakukan perbaikan sistem suspensi seharusnya
setelah perbaikan dilakukan penyelarasan atau penyetelan kembali
sudut wheel alignmennya.

100
Caster Positif
Caster positif adalah kemiringan sumbu putar kemudi ( steering axis )
bagian atas miring ke belakang terhadap garis vertikal roda , apabila
roda dilihat dari samping kendaraan.
Apabila sumbu putar kemudi miring maka garis yang ditarik dari sumbu
putar kemudi memotong permukaan jalan sedikit di depan telapak
kontak ban di trotoar. Tujuan dari ini adalah untuk memberikan tingkat
self-centering untuk kemudi dan roda caster berada di sekitar trail di
belakang sumbu kemudi. Hal ini membuat mobil lebih mudah untuk
mendorong dan meningkatkan stabilitas arahnya (mengurangi
kecenderungan untuk melayang). Sudut caster yang berlebihan akan
membuat kemudi lebih berat dan kurang responsif.

Gambar 4. 11: Caster Positif

Caster Negatif
Caster Negatif apabila sumbu putar kemudi ( steering axis ) bagian atas
berada di depan garis vertikal dari sumbu tengah roda jika dilihat dari
samping kendaraan. Caster negatif tersebut hampir tidak mungkin
diterapkan pada kendaraan atau mobil. Hal ini sangat berbahaya pada
kendaraan yang berjalan pada kecepatan tinggi , maka mobil bisa terasa
melayang , stabilitas pengemudian tidak ada.

101
Gambar 4. 12: Caster Negatif

d. Fungsi Sudut Caster


Dari uraian diatas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa Sudut Caster
positif membuat pengemudian stabil dan roda bisa mengambil sikap
lurus dengan sendirinya. Hal ini dikarenakan gaya yang bekerja pada
suspensi dengan caster positif pada saat jalan lurus.
Gaya penggerak F bekerja pada titik A dan menarik roda ( yang
digerakkan ) di titik B. Tahanan gelinding roda memberikan perlawanan
(reaksi) yang arahnya berlawanan (Fr). Dengan demikian reaksi gaya
gelinding roda yang ditarik akan selalu segaris dan arahnya berlawanan
dengan arah gaya penggerak.Saat jalan lurus, caster berfungsi
menggerakkan roda tetap stabil dalam posisi lurus walau roda kemudi
dilepas

Gambar 4. 13: Gaya yang bekerja pada caster

102
Pada saat belok kekiri untuk caster positif, maka :
Spindle roda kiri bergerak turun
Badan mobil kiri bergerak naik menyebabkan camber berubah ke
arah positif.
Spindle roda kanan bergerak naik
Badan mobil kanan bergerak turun dan menyebabkan camber
berubah ke arah negatif
Begitu juga sebaliknya, apabila roda dibelokkan kekanan.
Jadi dari uraian diatas maka pada saat belok kiri maupun belok kanan
maka camber akan berubah kearah positif dan roda satunya menjadi
camber negatif, sehingga mobil berbelok dengan roda menahan gaya
sentrifugal beban kendaraan dan mobil tidak akan selip terlempar keluar
dari radius jalan.

Gambar 4. 14 : Roda saat belok

e. Pengaruh Caster Terhadap Pengemudian


Caster positif
Penyetelan caster positif yang benar akan memberikan keuntungan :
Roda tetap stabil dalam posisi lurus
Keausan ban rata dan ban menjadi lebih awet.

Penyetalan Caster Positif Terlalu Besar

103
Gambar 4. 15: Caster terlalu besar
Makin besar penyetelan caster positif, makin panjang jarak caster atau
trail, makin besar kemampuan roda kembali pada posisi lurus.
Kemudi terasa berat saat dibelokkan
Getaran pada roda kemudi terasa besar jika lewat jalan yang kasar atau
tidak rata.
Besar sudut caster berkisar antara 10 sampai dengan 100dan perbedaan
yang diijinkan antara roda kiri dan kanan : ( 30 menit )

3. Toe
Selisih jarak antara roda bagian depan dengan roda bagian belakang jika
dilihat dari atas kendaraan, atau kemiringan sikap roda terhadap garis
memanjang kendaraan ( geometric centerline ) jika dilihat dari atas kendaraa.
Hampir semua kendaraan roda empat atau lebih mempunyai Toe dan hampir
semuanya bisa dilakukan penyelarasan atau penyetelan. Toe mudah sekali
berubah, perubahan ini dikarenakan banyak faktor antara lain :
Perubahan kondisi rangka atau bodi
Kerusakan pada komponen sistem suspensi independen
Perbaikanpada komponen sistem suspensi independen
Kerusakan pada komponen sambungan-sambungan kemudi
Pergantian pada komponen sambungan kemudi

104
Gambar 4. 16: Toe roda depan dan toe rodabelakang

Perubahan tersebut jika tidak dengan segera dilakukan penyelarasan atau


penyetelan sesuai spesifikasi pabrik pembuat kendaraan , maka ban mobil
tersebut akan cepat aus selain pengemudian kurang baik.

a. Toe In ( Toe Positif )

Selain Toe nol atau roda kiri dan roda kanan paralel , ada juga yang jarak
roda depan bagian depan dengan roda depan bagian belakang. Kondisi
toe yang demikian itu dinamakan Toe Positif ( + ) dan hampir semua
kendaraan kategori kendaraan angkutan menggunakan spesifikasi toe
positf dan besarnya tergantung dari data spesifikasi masing-masing merk
mobil. Toe juga dapat digunakan untuk mengubah sifat penanganan
kendaraan. Toe-in biasanya akan mengakibat kan berkurangnya
oversteer, membantu menstabilkan mobil dan meningkatkan stabilitas
kecepatan tinggi.

Gambar 4. 17: Toe-In ( Toe Positif )

Sebuah kendaraan dengan sistem penggerak roda belakang


"mendorong" ban pada aksel depan menggelinding sepanjang jalan.

105
Dengan adanya Rolling resistance Ban menyebabkan sedikit ada tarikan
yang mengakibatkan gerakan lengan suspensi ke belakang terhadap
bushingnya. Karena itu, sebagian besar kendaraan dengan penggerak
roda belakang menggunakan spesifikasi Toe positif ( toe-in ) untuk
mengkompensasi gerakan tersebut, yang memungkinkan ban untuk
berjalan dengan kecepatan roda sejajar satu sama lain. Adapun Toe
positif adalah jarak roda depan bagian depan lebih pendek dari pada
jarak roda depan bagian belakang

b. Toe-Out ( Toe-Negatif )

Toe Negatif atau toe out adalah jika jarak roda depan bagian depan lebih
panjang dari pada roda depan bagian belakang, atau roda bagian depan
miring keluar terhadap geometri centerline jika dilihat dari atas
kendaraan. Untuk roda bagian depan biasanya dikondisikan dalam
spesifikasi toe out, jika kendaraan berpenggerak depan. Hal ini bertujuan
untuk mengkompensasi perubahan pada steering linkage dan roda ketika
kendaraan bergerak. Ketika kendaraan bergerak, toe akan menurun
dikarenakan roda meluruskan kembali pada saat akselerasi dan steering
linkage melentur sedikit demi sedikit. Penyetelan toe-out biasanya akan
mengakibatkan berkurangnya understeer, membantu membebaskan
mobil terutama saat belok tajam memasuki tikungan.

Gambar 4. 18: Toe-Out

Perubahan toe terjadi ketika pada tie rod kemudi berubah panjang atau
terinstalasi pada sudut yang salah. Hal ini akan menarik atau menekan
knuckle arm (lengan kemudi) dan roda membentuk sudut atau ukuran toe
yang baru.

106
c. Fungsi Toe
Sebagai Koreksi Camber ( Saat Jalan Lurus )
Pada saat kendaraan berjalan lurus , reaksi rolling camber positif
menyebabkan roda menggelinding ke arah luar oleh sambungan kemudi
( steering linkage ) roda dipaksa bergerak lurus ke arah jalannya
kendaraan. Akibatnya roda menggelinding dengan ban menggosok
pada permukaan jalan.

Gambar 4. 19: Reaksi rolling camber positif

Reaksi toe-in mengakibatkan roda menggelinding ke arah dalam,


sehingga efek rolling camber ke arah luar dapat diatasi sehingga roda
dapat menggelinding lurus tanpa terjadi ban menggosok pada permukaan
jalan, sehingga dapat :

Menghemat ban / keausan ban merata .


Pengemudian stabil / tidak timbul getaran.

Gambar 4. 20 : Koreksi Toe-In

107
Sebagai Koreksi Gaya Penggerak

Gambar 4. 21 : Mobil Penggerak belakang dan Mobil Penggerak depan

d. Ukuran Toe
Ukuran Toe tiap tiap kendaraan berbeda lebih tepatnya bisa melihat
buku manual.

Gambar 4.22 : Satuan Toe


Ukuran Satuan Toe
Ada 2 satuan Toe yang umum dipakai di Indonesia , yaitu satuan derajat
dan satuan milimeter.

4. Sudut Belok dan Toe Out On Turns.


a. Sudut Belok

108
Sudut belok adalah sudut roda untuk membelokkan kendaraan, dalam hal ini
dilayani oleh sistem sambungan kemudi. Dan sambungan kemudi ( steering
linkage ) yang umum digunakan pada kendaraan adalah sambungan Kemudi
Lengan Trapesium yang dikenal dengan prinsip Ackermman.

Gambar 4. 23: Sudut Ackermann

Lengan kemudi Trapesium ( prinsip Ackermann ), dimana pada saat belok


sudut belok roda kiri tidak sama dengan sudut belok roda kanan.

Gambar 4. 24: Prinsip Ackermann saat belok

Dengan prinsip Acherman didapatkan titik pusat lingkaran belok semua roda
yang terpusat sehingga kendaraan dapat membelok dengan baik tanpa
menimbulkan gesekan antara ban dengan permukaan jalan .

5. Toe Out On Turns ( TOOT )


Toe Out On Turns adalah pengaturan toe relatif dari roda depan, pada saat
berbelok ke kiri, atau berbelok kanan. Ketika kendaraan melakukan sebuah
belokkan,setiap roda harus memutar dengan gerakan menggelinding dengan

109
benar, yang harus bebas dari ban menggosok pada permukaan jalan. Karena
roda belakang tetap, pusat putaran akan terletak di suatu tempat di
sepanjang garis tengah poros belakang, tergantung pada seberapa jauh roda
kemudi diputar dari posisi lurus ke depan. Keselarasan otomatis yang benar
ini diperoleh dengan menggunakan prinsip Ackerman.

Gambar 4. 25 Toe Out On Turns ( TOOT )

Dan pengukuran Toe out on turns adalah pada saat roda dibelokkan sebesar
20 (derajat) untuk roda dalam, kemudian di baca sudut belok untuk roda
luarnya. Ketentuannya adalah sudut belok roda luar harus lebih kecil dari
sudut belok roda dalam (20).

6. Sudut King Pin


a. Definisi
Sudut king-pin adalah : Kemiringan sumbu king pin ( Steering axis )
terhadap garis vertikal jika dilihat dari depan kendaraan. Pada wheel
alignment sudut king pin merupakan sudut analisa , jadi bukan sudut
utama dari sistem wheel alignment. Oleh karena itu pada sudut king pin
tidak ada penyetelan dan tidak diperbolehkan merubah sudut king pin.

110
Gambar 4. 26 Sudut King-Pin
b. Fungsi Sudut King Pin
Pada saat roda kemudi diputar untuk belok kanan suspensi terangkat ke
atas dan saat belok kiri juga terangkat. Gerakan ke atas suspensi
diteruskan ke body kendaraan dengan menahan beban kendaraan.

Pada saat roda kemudi di dilepas ( tidak dipegang ) , maka dengan


adanya gaya grafitasi menyebabkan gaya balik bodi akan kembali turun ,
sehingga roda kemudi kembali ke posisi lurus.

Jadi Sudut king ping berfungsi untuk mengembalikan sikap roda ke


posisi lurus setelah membelok.

111
Gambar 4. 27: Posisi spindle saat belok

7. Offset
a. Difinisi Offset :
Jarak antara titik temu, garis tengah roda terhadap permukaan jalan dengan
titik temu perpanjangan garis sumbu king pin terhadap permukaan jalan
disebut OffSet .

Gambar 4. 28: Macam-macam Offset

b. Pengaruh jarak offset


Offset positif

112
Gambar 4. 29: Pengaruh Offset Positif

Jarak offset diperlukan saat roda dibelokkan agar supayaban tidak


menggosok pada permukaan jalan, karena roda akan bergerak
mengelilingi sumbu putar kemudi (steering axis).

Pada kendaran hanya diperlukan sedikit offset, jika offset besar


pengemudian terasa berat dan getaran cukup kuat

Offset Positif Saat Di Rem


Pada kondisi jalan yang jelek / koefisien gesek roda kiri dan kanan
tidak sama, kendaraan akan cenderung membelok saat di rem.

Gambar 4. 30 : Proses dan hasil pengereman pada offset positif

113
Offset Negatif Saat Di Rem
Pada saat kendaraan lewat pada jalan yang jelek atau bila koefisien
gesek tidak sama , maka sifat pengereman dapat dikurangi. Sehingga
pada saat dilakukan pengereman kendaraan cenderung lurus
walaupun gaya pengereman kiri dan kanan berbeda.

Gambar 4. 31: Proses dan hasil pengereman pada offset Negatif

8. Thrust Angle
Thrust angle mengacu pada semua keempat roda dan hubungan mereka
satu sama lain , selain hubungan keempat roda ke garis tengah imajiner yang
membentang dari masing-masing pasang roda di tengah-tengah kendaraan.
Istilah "thrust line" mengacu pada arah di mana roda belakang yang
menunjuk artinya garis arah gerak roda belakang ke depan. Thrust angle
dapat disesuaikan pada kendaraan dengan suspensi belakang disesuaikan
yaitu dengan penyetelan toe roda belakang. Pada kendaraan yang tidak
memiliki suspensi belakang dengan penyetelan toe, thrust angle dapat
dikompensasikan dengan menyelaraskan roda depan ke roda belakang.

114
Gambar 4. 32: Geometric Centerline

Pada kendaraan dengan Suspensi Independent Belakang atau IRS, hanya


melakukan keselarasan roda depan saja dianggap prosedur yang tidak
memadai.
Thrust line mungkin dalam posisi yang sama adalah seperti geometris "garis
tengah" (centerline) kendaraan, namun ada variasi berbeda. Idealnya thrust
line dan geometric centerline kendaraan harus sama. Centerline yang ditarik
melalui titik tengah antara setiap pasangan roda, namun thrust line biasanya
dalam posisi tegak lurus dari poros belakang pada mobil suspensi axel rigid,
atau dengan suspensi independen belakang ( IRS ) , adalah garis yang
diperoleh membelah sudut ujung roda belakang pada kendaraan.

Gambar 4. 33: Thrustline

115
Gambar 4. 34: Thrust angle

Situasi yang ideal adalah di mana thrust line dan centerlines bertepatan.
Namun, mengingat ukuran kendaraan, toleransi selama pembuatan, tekanan
operasional, dan pemakaian komponen, maka hal tersebut jarang terjadi. Jika
penyimpangan sangat kecil, maka tindakan perbaikan biasanya tidak perlu.
Namun, penyimpangan besar dapat menimbulkan kekhawatiran yang cukup
besar ketika kendaraan sedang berjalan.

Kesimpulannya bahwa apabila dari perhitungan faktor Toe roda belakang


didapatkan hasil thrust angle positif berarti arah gerak roda belakang ke
kanan, begitu juga sebaliknya apabila dari perhitungan didapatkan hasil
negatif maka arah gerak roda belakang ke arah kiri.

9. Hal-hal yang diperhatikan sebelum melakukan spooring

a. Pemeriksaan sistem kemudi


Periksa kebebasan gigi kemudi, luruskan roda dan gerakkan roda
kemudi ke kiri dan ke kanan sambil memperhatikan roda mulai
bergerak

116
Gambar 4. 35: Gerak bebas roda kemudi
Jika ada kebebasan yang benar atau tidak ada kebebasan setel
kebebasan gigi kemudi
Periksa sambungan kemudi, karet penutup debu dan sebagainya
Gerakkan roda kemudi dan perhatikan kelonggaran pada joint-joint
sambungan kemudi.

Gambar 4. 36: Pemeriksaan sambungan kemudi

Gambar 4. 37: Pemeriksaan karet pelindung debu pada rack & pinion
Jika ada joint yang longgar maka ganti joint
Jika keret penutup debu rusak ganti karet penutup debu
Periksa komponen sambungan kemudi dari kerusakan / kebengkokan
Jika ada yang bengkok maka perbaiki / ganti komponen sambungan
kemudi
Periksa panjang tie rod kiri dan kanan

117
Gambar 4. 38: Menyamakan panjang tie rod kiri dan kanan

Jika panjang tie-rod tidak sama maka setel panjang tie rod ( tie rod
kanan / kiri harus sama )
Periksa kelurusan roda kemudi terhadap roda depan
Luruskan roda dan perhatikan posisi roda kemudi. Jika pemasangan
roda kemudi tidak simetris, tepatkan pemasangan roda kemudi hingga
simetris.

Gambar 4. 39: Kelurusan roda kemudi terhadap roda depan

b. Pemeriksaan suspensi
Periksa bantalan karet dan klem pengikatan satabilisator, bila ada yang kendor /
rusak maka perbaiki / ganti

Gambar 4. 40: Pemeriksaan karet stabilisator

Periksa peredam getaran ( sock absorber ), bila oli bocor harus ganti
sock absorber
Dan jika bantalan karetnya longgar / rusak, karet harus diganti

118
Periksa bekerjanya, tekan mobil kemudi lepas dan perhatikan geraknya naik /
turun

Gambar 4. 41: Pemeriksaan kerja sock absorber


Bila geraknya lebih dari dua kali kondisinya jelek

Periksa ball joint dan bantalan karet


Angkat mobil dan gerakkan roda dengan tangga

Gambar 4. 42: Pemeriksaan ball joint dan bushing

Jika terdapat kelonggaran, pastikan dimana kelonggaran /


kekocakan tersebut terjadi.
Tekan pedal rem kaki dan gerakkan roda dengan kiri-kanan
dan atas-bawah.

119
Gambar 4. 43: Menentukan keausan pada bearing daan ball joint

Kelonggaran terjadi pada bantalan roda ganti / setel bantalan


roda
Kekocakan terjadi pada joint / bantalan suspensi maka ganti /
perbaiki
c. Pemeriksaan roda
Jika keausan ban melebihi batas maka ganti bannya dengan
ukuran yang sama. Jika keausan ban masih dalam batas
toleransi, keausan ban kiri dan kanan harus sama
Perilksa tekanan ban

Gambar 4. 44: Ban aus akibat tekanan angin


Beri tekanan ban yang sesuai dengan petunjuk
d. Pemeriksaan body
Perilksa kemiringan body dan tinggi body

Gambar 4. 45: Bodi mobil miring

120
D. Aktifitas Pembelajaran
Peserta diklat membaca dengan seksama uraian materi, jika ada yang
kurang jelas peserta dapat bertanya/mendiskusikan dengan fasilitator.
Peserta mengerjakan tugas dan latihan untuk mengetahui tingkat
pemahaman materi yang dibahas.
Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kemudian melaksanakan tugas
yang ada.
Selain itu peserta perlu mengidentifikasi peralatan keselamatan kerja yang
layak digunakan pada saat pelatihan di bengkel agar terhindar dari
kecelakaan .

E. Latihan/Tugas
Soal-soal
1. Salah satu fungsi Toe adalah . . . .
a. Mengoreksi sudut camber
b. Mengoreksi sudut caster
c. Mengoreksi sudut king pin
d. Mengoreksi thrust angle

2. Fungsi camber positif adalah . . . .


a. Kemudi menjadi ringan
b. Kemudi menjadi lincah
c. Kemudi menjadi lebih sensitif
d. Kemudi menjadi lurus

3. Fungsi sudut caster adalah . . . .


a. Jalannya mobil stabil lurus pada saat jalan lurus
b. Mobil stabil lurus kembali setelah berbelok
c. Jalannya mobil stabil pada saat melewati jalan gelombang
d. Jalannya mobil tetap stabil walaupun kondisi tekanan ban kurang

4. Apa yang dimaksud dengan Camber ?

121
a. Kemiringan sumbu putar kemudi jika dilihat dari depan kendaraan
b. Kemiringan roda jika dilihat dari atas kendaraan
c. Kemiringan control arm atas dan bawah
d. Kemiringan roda terhadap garis vertical jika dilihat dari depan
kendaraan

5. Apa yang dimaksud dengan Camber Negatif ?


a. Kemiringan sumbu putar kemudi bagian atas miring ke belakang jika
dilihat dari samping
b. Kemiringan sumbu putar kemudi bagian atas miring ke depan jika
dilihat dari samping
c. Kemiringan roda bagian atas keluar jika dilihat dari depan
d. Kemiringan roda bagian atas kedalam jika dilihat dari depan

6. Selisih jarak roda depan bagian depan dengan roda depan bagian
belakang disebut :
a. Toe
b. Camber
c. Caster
d. SAI / KPI / King pin

7. Kemiringan roda terhadap garis memanjang kendaraan jika dilihat dari


atas disebut :
a. Toe
b. Camber positif
c. Camber negative
d. SAI / KPI / Sudut King Pin

8. Apa yang dimaksud dengan Caster ?


a. Kemiringan sumbu putar kemudi terhadap garis vertikal jika dilihat
dari samping
b. Kemiringan sumbu putar kemudi terhadap garis vertikal jika dilihat
dari depan
c. Kemiringan roda terhadap garis vertikal jika dilihat dari depan

122
d. Kemiringan roda terhadap garis memanjang kendaraan jika dilihat
dari atas

9. Sebutkan apa saja satuan Toe ?


a. derajat
b. millimeter
c. inchi
d. derajat dan millimeter

10. Ketidaklurusan roda kiri dan kanan jika dilihat dari samping disebut ?
a. Toe
b. Set back
c. Thrust angle
d. Caster

F. Rangkuman
1. Materi wheel alignment terdiri dari : (a) Camber, caster , toe , toe out on
turn, sudut kingpin, thrust anggle dan set back. (b) fungsi camber adalah
agar pengemudian ringan dan stabil, fungsi caster adalah membuat
mobil stabil lurus dan tidak mudah slip, fungsi toe adalah untuk koreksi
rolling camber dan koreksi gaya penggerak dan fungsi king pin untuk
mengembalikan setir ke posisi lurus dengan sendirinya setelah belok.
2. Materi pemeriksaan komponen sebelum melakukan spooring terdiri dari :
(a) pemeriksaan sistem kemudi, pemeriksaan roda, dan pemeriksaan
suspensi serta pemeriksaan bodi.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Peserta pelatihan setelah menyelesaikan proses pembelajaran dalam modul
ini diharapkan mempelajari kembali materi/bagian-bagian yang belum
dikuasai dari modul ini sampai tuntas untuk dipahami secara mendalam.
Setelah itu hendaknya pengetahuan dari modul ini bisa dikembangkan
dengan sendirinya sebagai bekal dalam melaksanakan tugas keprofesian

123
guru/pendidik, dan untuk bekal dalam mencapai hasil pelaksanaan uji
kompetensi guru dengan ketuntasan minimal materi 80%.
Setelah mentuntaskan modul ini maka selanjutnya guru berkewajiban
mengikuti uji kompetensi. Dalam hal uji kompetensi, jika hasil tidak dapat
mencapai batas nilai minimal ketuntasan yang ditetapkan, maka peserta uji
kompetensi wajib mengikuti diklat sesuai dengan grade perolehan nilai yang
dicapai.

H. Kunci Jawaban

1. (a) Mengoreksi sudut camber


2. (a) Kemudi menjadi ringan
3. (a) Jalannya mobil stabil lurus pada saat jalan lurus
4. (d) Kemiringan roda terhadap garis vertical jika dilihat dari depan
kendaraan
5. (a) Kemiringan roda bagian atas kedalam jika dilihat dari depan
6. (a) Toe
7. (a) Toe
8. (a) Kemiringan sumbu putar kemudi terhadap garis vertikal jika
dilihat dari samping
9. (d) derajat dan millimeter
10. (b) Set back

124
PENUTUP

A. Kesimpulan
Modul diklat dengan judul Memperbaiki sistem kemudi , Memperbaiki
roda, Memperbaiki sistem suspensi dan melaksanakan wheel alignment
ini memuat materi tentang:
Sistem kemudi dengan sub judul: kemudi jenis Rack & pinion , kemudi jenis
Worm & roll , kemudi jenis Recirculating ball, Power steering , steering linkage.
Roda dengan sub judul : Peleg , Ban , Konstruksi ban, hydroplaning , Kode dan
ukuran , tread patern , tread wear indicator , Run flat Tire.
Sistem suspensi dengan sub judul : suspensi dependen, suspensi De-Dion ,
suspensi Mc Pherson, Suspensi Double Wishbone, Suspensi semi trailing,
suspensi trailing, multilink suspension, pegas dan stabilisator, sock absorber
Wheel alignment dengan su judul : Camber , caster , Toe , Sudut belok dan Toe
out no turn ( TOOT ), sudut king pin, offset , thrust angle , set-back.
.
B. Tindak Lanjut
Diharapkan setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu: menelaah
sistem kemudi, mendiagnosis kerusakan sistem kemudi, memperbaiki
sistem kemudi, menelaah peleg dan ban pada mobil, mendiagnosis
kerusakan peleg dan ban , memperbaiki peleg dan ban pada mobil.
Menelaah sistem suspensi pada kendaraan, mendiagnosis kerusakan
sistem suspensi, memperbaiki sistem suspensi. Dan menelaah wheel
alignment, mendiagnosis kesalahan wheel alignment serta melaksanakan
wheel alignment pada kendaraan ringan.
Dan penulis sadar bahwa isi dari modul diklat ini masih jauh dari
sempurna, jauh dari harapan bapak/sdr/i sebagai pengguna
modul,olehkarena itu penulis mengharapkan kritik, saran yang sifatnya
membangun guna penyempurnaan modul ini.

125
EVALUASI
Soal :
Waktu : 60 menit

1. Gambar di bawa ini adalah sistem kemudi jenis apa ?

1. Rack & Pinion


2. Recirculating ball
3. Cacing dan roll
4. Worm & nut

2. Nama komponen di bawa ini adalah . . . .

a. Pompa power steering


b. Gear box steering
c. Gigi rack
d. Gigi pinion

126
3. Gambar berikut adalah . . . .

a. Tie rod
b. Long tie rod
c. Knuckle arm
d. Pitman arm

4. Apa yang terjadi jika tie rod aus ?


a. Gerak bebas ( speeling ) roda kemudi menjadi besar
b. Setir menjadi ringan pada saat belok
c. Sudut belok roda kemudi menjadi lebih besar
d. Sudut belok roda kemudi menjadi kecil

5. Penyetelan pre load yang terlalu kencang menyebabkan . . . .


a. Setir / kemudi menjadi lebih berat pada saat belok
b. Setir menjadi lurus dan stabil pada saat jalan lurus
c. Setir menjadi lebih stabil pada saat kecepatan tinggi
d. Tie rod akan cepat aus dan rusak jika sering berbelok

6. Apa yang terjadi jika long tie rod aus ?


a. Gerak bebas ( speeling ) roda kemudi menjadi besar
b. Setir menjadi ringan pada saat belok
c. Sudut belok roda kemudi menjadi lebih besar
d. Sudut belok roda kemudi menjadi kecil

7. Mengapa pada saat penyetelan speeling pada sistem kemudi


recirculating ball pada posisi gigi ditengah ?
a. Agar celah gigi sektor dan gigi mur pada saat jalan lurus tetap
ada.
b. Agar pada saat belok tidak mengunci gigi kemudinya
c. Agar pada saat belok setirnya tidak berat

127
d. Agar pada saat kecepatan tinggi stabil.

8. Mengapa ban tersebut dikatakan radial ?


a. Karena batiknya ( kembangannya )
b. Karena lebarnya
c. Karena konstruksi karkasnya dianyam tegak lurus
d. Karena daya cengkeramannya

9. Suspensi yang digunakan pada Truk dan Bus adalah :


a. Rigid bagian belakang, independent bagian depan
b. Rigid bagian belakang, rigid bagian depan
c. Independent bagian depan, independent bagian belakang
d. Mc Pherson bagian depan, rigid bagian belakang

10. Yang tidak termasuk komponen Suspensi adalah :


a. Shock absorber
b. Pegas Coil
c. Long tie-rod
d. Ball joint

11. Apa yang dimaksud dengan Camber ?


a. Kemiringan sumbu putar kemudi jika dilihat dari depan
kendaraan
b. Kemiringan sumbu putar kemudi jika dilihat dari samping
kendaraan
c. Kemiringan control arm atas dan bawah
d. Kemiringan roda terhadap garis vertical jika dilihat dari depan
kendaraan

12. Ban dengan ukuran 5.50 13, apa arti angka 5.50 ?
a. Lebar ban ( mm )
b. Lebar ban ( inchi )
c. Tinggi Ban ( inchi )
d. Diameter pelek ( inchi )

128
13. Ban ukuran 5.00 13 , apa arti angka 13 ?
a. Seri ban
b. Tanda ban bias
c. Tinggi ban ( inchi )
d. Diameter pelek ( inchi )

14. Mengapa ban tersebut dikatakan Bias ( diagonal ) ?


a. Karena konstruksi karkasnya dianyam miring dari Bead ke
Bead
b. Karena konstruksi telapaknya
c. Karena lebarnya
d. Karena daya cengkeramannya

15. Apa yang dimaksud dengan Camber Negatif ?


a. Kemiringan sumbu putar kemudi bagian atas miring ke
belakang jika dilihat dari samping
b. Kemiringan sumbu putar kemudi bagian atas miring ke depan
jika dilihat dari samping
c. Kemiringan roda bagian atas keluar jika dilihat dari depan
d. Kemiringan roda bagian atas kedalam jika dilihat dari depan

16. Ban Tubelles adalah ban yang bagaimana ?


a. Ban yang harus menggunakan ban dalam
b. Ban tanpa ban dalam
c. Ban Bias
d. Ban yang tipis

17. Apabila tekanan angin pada ban kurang, apa akibatnya ?


a. Kemudinya oleng
b. Ausnya bagian luar
c. Ausnya bagian tengah
d. Ausnya bagian pinggir

129
18. Untuk apa ban diberi tanda TWI ?
a. Batas akhir pemakaian
b. Ausnya kelihatan
c. Supaya ban tidak gundul
d. Supaya habisnya rata

19. Selisih jarak roda depan bagian depan dengan roda depan bagian
belakang disebut :
a. Toe
b. Caster
c. SAI / KPI / King pin
d. Set Back

20. Kemiringan roda terhadap garis memanjang kendaraan jika dilihat


dari atas disebut :
a. Toe
b. Camber positif
c. Caster positif
d. SAI / KPI / Sudut King Pin

21. Bila tekanan angin pada ban terlalu keras, apa akibatnya ?
a. Kemudi oleng
b. Ausnya bergelombang
c. Ausnya rata
d. Ausnya bagian tengah

22. Apa yang dimaksud dengan Caster ?


a. Kemiringan sumbu putar kemudi terhadap garis vertikal jika
dilihat dari samping
b. Kemiringan sumbu putar kemudi terhadap garis vertikal jika
dilihat dari depan
c. Kemiringan roda terhadap garis vertikal jika dilihat dari depan
d. Kemiringan roda terhadap garis memanjang kendaraan jika
dilihat dari atas

130
23. Sebutkan apa saja satuan Toe ?
a. derajat
b. millimeter
c. derajat dan millimeter
d. derajat, millimeter dan inchi

24. Ketidaklurusan roda kiri dan kanan jika dilihat dari samping disebut
?
a. Toe
b. Set back
c. Thrust angle
d. Caster

25. Apa yang dimaksud dengan Caster positif ?


a. Kemiringan sumbu putar kemudi bagian atas miring
kebelakang jika dilihat dari samping
b. Kemiringan sumbu putar kemudi terhadap garis vertikal jika
dilihat dari depan
c. Kemiringan roda jika dilihat dari atas
d. Kemiringan roda bagian atas keluar jika dilihat dari depan

26. Ditinjau dari konstruksinya , ban ada berapa macam ?


a. 1
b. 2
c. 3
d. 4

27. Masih soal nomor 26, apa saja jenisnya ?


a. Ban buatan pabrik dan vulkanisir
b. Ban Radial
c. Ban Bias
d. Radial dan Bias

131
28. Mengapa roda perlu di balancing ?
a. supaya ausnya rata
b. supaya awet
c. supaya tidak menarik kesalah satu sisi
d. kemudi tidak shimmy

29. Kemiringan roda bagian atas kearah luar terhadap garis vertical jika
dilihat dari depan adalah :
a. Caster positif
b. Caster negative
c. Camber positif
d. Camber negative

30. Kemiringan sumbu putar kemudi terhadap garis vertikal jika dilihat
dari depan adalah :
a. Caster positif
b. Caster negative
c. SAI / KPI / Sudut king pin
d. Camber positif

31. Garis arah gerak roda belakang terhadap garis tengah kendaraan
disebut :
a. Toe
b. Camber
c. Set Back
d. Thrust angle

32. Sudut King pin ditambah sudut Camber disebut :


a. Side offset
b. Toe out on turns
c. Axle offset
d. Included angle

132
33. Apabila ada ban dengan ukuran 185 / 65 SR 14, apa arti angka 185
/ 65 ?
a. 185 = aspek rasio, 65 = lebar ban ( mm )
b. 185 = lebar ban ( mm ), 65 = aspek rasio
c. 185 = aspek rasio, 65 = lebar ban ( inchi )
d. 185 = lebar ban , 65 = aspek rasio ( mm )

34. Soal nomor 33. Apa arti angka 14 ?


a. Diameter pelek ( inchi )
b. Diameter pelek ( mm )
c. Diameter ban bagian luar
d. Indek beban

35. Soal nomor 33. Apa arti kode SR ?


a. S = Shimmy, R = Radial
b. S = Indek kecepatan, R = Radial
c. SR = Semi Radial
d. S = Indek kecepatan, R= rotasi

36. Apa yang dimaksud dengan Aspek Rasio ?


a. Perbandingan antara tinggi dan lebar ban
b. Perbandingan antara lebar dan tinggi ban
c. Perbandingan antara lebar dan diameter ban
d. Perbandingan antara lebar dan tekanan ban

37. Keausan ban yang dikarenakan Camber Negatif adalah ;


a. aus sebelah dalam
b. aus ditengah
c. aus disebelah luar
d. aus sebelah luar dan dalam

38. Apa fungsi sudut King Pin ?


a. untuk membuat mobil stabil lurus
b. untuk mengurangi keausan ban

133
c. untuk mengembalikan kemudi ke posisi lurus setelah belok
d. untuk mebuat mobil tidak mudah selip pada saat belok

39. Jika sebuah mobil dengan data Toe roda depan kiri : +2mm dan
kanan : 0mm, bagaimana roda kemudi saat jalan lurus ?
a. miring kekiri
b. miring kekanan
c. miring kiri dan kanan
d. mobil miring ke kiri ( lari kea rah kiri )

40. Sebuah mobil hasil pengukuran Camber roda depan kiri = 0, kanan
= 30 menit. Cenderung kemana arah jalannya mobil ?
a. lurus bila kemudi dilepas
b. Kekiri bila kemudi dilepas
c. kekanan bila kemudi dilepas
d. kekiri dan kekanan terasa dikemudi
41. Sebuah mobil dengan data Caster sebelah kiri lebih kecil dibanding
roda kanan, cenderung kemana arah jalannya mobil ?
a. ke kiri c. ke kiri dan kekanan
( melayang )
b. ke kanan d.
belok sulit kembali
42. Gambar berikut yang dimaksud dengan Sudut Camber adalah garis
thd garis vertical

1
2

134
0
a. 1 - 0 - 2
b. 2 - 0 - 3
c. 1 0 - 3
d. 2 0 - 1

43. Gambar soal no 42, Sudut King Pin adalah yang ditunjukkan oleh garis :
a. 1 2 - 3
b. 1 0 - 3
c. 1 0 - 2
d. 20- 3

44. Perhatikan gambar potongan ban di bawah ini ! Yang dimaksud dengan
Belt adalah nomor berapa ?
3

2
4

a. 1, b. 2, c. 3, d. 4,

135
45. Soal nomor 44, yang dimaksud dengan Tread adalah :
a. 1
b. 2
c. 3
d. 4

46. Soal nomor 44, yang dimaksud dengan Beads yaitu angka nomor :
a. 2
b. 3
c. 4
d. 5

47. Perhatikan gambar berikut ! Mengapa kalau mengencangkan mur / baut


roda harus silang seperti pada gambar dibawah ini ?

a. Agar mur/baut tidak rusak


b. Supaya tidak lepas
c. Agar velg tidak rusak
d. Agar velg menempel dengan rata pada hub

48. Berapakah ukuran kekerasan pengencangan mur/baut roda pada mobil ?


a. 6 7 kgm
b. 8 12 kgm
c. 12 14 kgm

136
d. 14 16 kgm

49. Ban Run Flat ( RFT ) yaitu ban dengan tingkat keamanan paling tinggi,
secara teori jika ban tersebut tekanannya 0 psi tapi masih bisa berjalan
sejauh :
a. 60 Km dengan kecepatan maksimum 60 Km / jam
b. 70 Km dengan kecepatan maksimum 70 Km / jam
c. 80 Km dengan kecepatan maksimum 80 Km / jam
d. 90 Km dengan kecepatan maksimum 90 Km / jam

50. Mengapa RFT tersebut bisa berjalan sejauh itu dengan kecepatan itu
pula ?
a. Karena side wall bagian dalam ada tambahaan karet penguatnya
b. Karena karet yang digunakan untuk ban tersebut keras
c. Karena kawat baja untuk belt sangat kuat
d. Karena side wallnya ada tambahan kawat baja sebagai penguatnya

51. Apa pengaruhnya jika tekanan angin pada ban kurang ?


a. Keausan ban tidak rata, hanya pada telapak bagian tengah saja
b. Tahanan gelindinnya menjadi besar
c. Setir menjadi lebih stabil
d. Daya cengkeraman ( traksi ) menjadi besar

52. Yang membuat mobil stabil lurus kembali setelah belok adalah sudut :
a. King pin. b. Caster. c. Camber. d. Toe.

53. Yang membuat mobil stabil lurus waktu jalan lurus walaupun setir tidak di
pegang adalah sudut :
a. King pin. b. Caster. c. Camber. d. Toe.

137
54. Perhatikan gambar di bawah ini, jenis suspensi apakah gambar
tersebut ?

1
1
a. De-dion
b. Mc Pherson
c. Dual link system
d. Double Wishbone

55. Perhatikan gambar soal no 54. Komponen yang ditunjukkan dengan


angka 1 adalah :
a. Strutbar
b. Stabilisator
c. Crossmember
d. Control arm

56. Perhatikan gambar di bawah ini ! Garis yang ditunjukkan angka 1


adalah :

138
1

a.Sumbu putar kemudi


b.Garis balljoint
c.Garis Camber
d.Garis suspensi

57. Gambar Soal no 56. Yang ditunjukkan angka 2 adalah :


a. Lower arm
b. Uper arm
c. Idler arm
d. Steering Knuckle

139
A. Kunci Jawaban
1. (a) Rack & Pinion
2. (a) Pompa power steering
3. (a) Tie rod
4. (a) Gerak bebas ( speeling ) roda kemudi menjadi besar
5. (a) Setir / kemudi menjadi lebih berat pada saat belok
6. (a) Gerak bebas ( speeling ) roda kemudi menjadi besar
7. (a) Agar celah gigi sektor dan gigi mur pada saat jalan lurus tetap ada.
8. (c) Karena konstruksi karkasnya dianyam tegak lurus
9. (b) Rigid bagian belakang, rigid bagian depan
10. (c) Long tie-rod
11. (d) Kemiringan roda terhadap garis vertical jika dilihat dari depan
kendaraan
12. (b) Lebar ban ( inchi )
13. (d) Diameter pelek ( inchi )
14. (a) Karena konstruksi karkasnya dianyam miring dari Bead ke Bead
15. (d) Kemiringan roda bagian atas kedalam jika dilihat dari depan
16. (b) Ban tanpa ban dalam
17. (d) Ausnya bagian pinggir
18. (a) Batas akhir pemakaian
19. (a) Toe
20. (a) Toe
21. (d) Ausnya bagian tengah
22. (a) Kemiringan sumbu putar kemudi terhadap garis vertikal jika dilihat dari
samping
23. (c) derajat dan millimeter
24. (b) Set back
25. (a) Kemiringan sumbu putar kemudi bagian atas miring kebelakang jika
dilihat dari samping
26. (b)2
27. (d) Radial dan Bias
28. (d) kemudi tidak shimmy
29. (c) Camber positif

140
30. (c) SAI / KPI / Sudut king pin
31. (d) Thrust angle
32. (d) Included angle
33. (b) 185 = lebar ban ( mm ), 65 = aspek rasio
34. (a) Diameter pelek ( inchi )
35. (b) S = Indek kecepatan, R = Radial
36. (a) Perbandingan antara tinggi dan lebar ban
37. (a) aus sebelah dalam
38. (c) untuk mengembalikan kemudi ke posisi lurus setelah belok
39. (a) miring kekiri
40. (c) kekanan bila kemudi dilepas
41. (a) ke kiri
42. (b) 2 - 0 - 3
43. (c) 1 0 2
44. (d)4
45. (c)3
46. (d)5
47. (d) Agar velg menempel dengan rata pada hub
48. (b) 8 12 kgm
49. (c) 80 Km dengan kecepatan maksimum 80 Km / jam
50. (a) Karena side wall bagian dalam ada tambahaan karet penguatnya
51. (b) Tahanan gelindinnya menjadi besar
52. (a) King pin
53. (b) Caster
54. (b) Mc Pherson
55. (d) Control arm
56. (a) Sumbu putar kemudi
57. (d) Steering Knuckle

141
GLOSARIUM

IRS : Independen Rear Suspension


TOOT : Toe Out On Turn
RFT : Run Flat Tire
SUV : Sport Utility Vehicle
TWI : Tread Wear Indicator
PR : Ply Rating
PCD : Pitch Circle Diameter

142
DAFTAR PUSTAKA

https://miningundana07.wordpress.com/2010/01/16/factor-produksi/
www.vintage-car.athallah.biz/2015/06/istilah-penting-dalam-ban
https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_suspensi_(kendaraan)
Bridgestone Data Book, PT. Bridgestone Tire Indonesia, 2007
Modul Sistem Kemudi, PPPPTK VEDC Malang, 2010.
Modul Geometri Roda, PPPPTK VEDC Malang, 2010.

143
144
Penulis :
Aris Dwi Cahyono No HP : 08123306634

Penelaah :
Dr. Sihkabudin, M.Pd.

Copyright 2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronika, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikandan Kebudayaan
KATA SAMBUTAN
Peran guru professional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai
kunci keberhasilan belajar siswa. Guru professional adalah guru yang kompeten
membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan
pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen
yang menjadi focus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah
dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru.
Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP)
merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan
hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi
guru (UKG) untukkompetensi pedagogik dan profesional pada akhir tahun 2015.
Hasil UKG menunjukkan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam
penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan
menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG
diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru pasca UKG melalui program Guru
Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen
perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Guru
Pembelajar dilaksanakan melalui pola tatap muka, daring (online), dan campuran
(blended) tatap muka dengan online.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikdan Tenaga Kependidikan
(PPPPTK), Lembaga Pengembngan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK
KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah
(LP2KS) merupakan Unit PelaksanaTeknis di lingkungan Direktorat Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam
mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru
sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang
dikembangkantersebutadalahmoduluntuk program Guru Pembelajar (GP) tatap
mukadan GP online untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi.
Dengan modul ini diharapkan program GP memberikan sumbangan yang sangat
besar dalam peningkatan kualitas kompetensi guru.
Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan Guru Mulia Karena
Karya.

Jakarta, Februari 2016


Direktur Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan

Sumarna Surapranata, Ph.D


NIP. 195908011985031002

i
ii
DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN .............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. v
PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Tujuan ...................................................................................................... 2
C. Peta kompetensi ...................................................................................... 3
D. Ruang lingkup .......................................................................................... 3
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KONSEP DASAR KOMUNIKASI ................. 5
A. Tujuan ...................................................................................................... 5
B. Indikator pencapaian Kompetensi ............................................................ 5
C. Uraian materi ........................................................................................... 6
1. Konsep Dasar Komunikasi .............................................................................. 6
2. Berkomunikasi sesuai dengan potensi, lingkungan dan kemampuan peserta
didik ............................................................................................................. 28
3. Rangkuman .................................................................................................. 48
PENUTUP ......................................................................................................... 50
A. Kesimpulan ............................................................................................ 50
B. Tindak Lanjut ......................................................................................... 51
C. Evaluasi ................................................................................................. 52
D. Kunci Jawaban ....................................................................................... 56
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 57

iii
iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Proses penyampaian pernyataan kepada orang lain ......................... 6


Gambar 2. Proses komunikasi ............................................................................ 8
Gambar 3. Komunikasi Kelompok ..................................................................... 10
Gambar 4. Proses Terjadinya Komunikasi ........................................................ 11
Gambar 5. Jendela Johari ................................................................................. 14
Gambar 6. Tahapan proses merespon ............................................................. 17
Gambar 7. Hurier Model ................................................................................... 18
Gambar 8. Model kontak mata .......................................................................... 22
Gambar 9. Contoh perilaku anggota tubuh ....................................................... 26
Gambar 10 Contoh daya tarik komunikator ....................................................... 30
Gambar 11 Strategi meningkatkan komunikasi ................................................. 32

v
vi
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan
kualitas pengajaran yang pada akhirnya berperan dalam meningkatkan mutu
pendidikan nasional. Pendidik berperan sebagai pengelola pembelajaran, selaku
fasilitator yang berusaha menciptakan pembelajaran yang efektif,
mengembangkan bahan ajar dengan baik, penggunaan media yang tepat, dan
pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, serta meningkatkan kemampuan peserta
didik dalam pembelajaran tersebut untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Hal
ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengelolaan pembelajaran baik di
dalam atau di luar kelas. Untuk memenuhi hal tersebut diatas seorang pendidik
harus mampu memotivasi peserta didik dan dapat memberikan rangsangan
kepada peserta didik agar mau belajar. Pendidik yang mampu melaksanakan
perannya sesuai dengan yang disebutkan diatas disebut sebagai seorang
pendidik profesional dan memiliki kompetensi pedagogik. Berasarkan
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang kualifikasi akademik dan
kompetensi pendidik menyebutkan bahwa guru harus memiliki kualifikasi
kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Adapun Kompetensi pedagogik yang dimaksud dalam tulisan ini antara lain
kemampuan komunikasi terhadap peserta didik secara mendalam dalam
penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik. Menurut Peraturan Pemerintah
tentang pendidik bahwa kompetensi pedagogik pendidik merupakan
kemampuan pendidik dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik minimal
meliputi: pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman
terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum, silabus, perancangan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis,
pemanfaatan teknologi informatika dalam pembelajaran, evaluasi hasil belajar,
serta mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya.

1
Oleh karena kemampuan komunikasi efektif, empatik, dan santun, baik lisan
maupun tulisan dengan peserta didik harus dikuasai oleh seorang pendidik baik
dalam menjelaskan konsep komunikasi, strategi mengimplementasikan, dan
aplikasi dalam proses pembelajaran

B. Tujuan

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan dapat :


1. Memahami berbagai strategi berkomunikasi yang efektif, empatik, dan
santun, secara lisan, tulisan, dan/atau bentuk lain.
2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta
didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi kegiatan/ permainan yang
mendidik yang terbangun secara siklikal dari (a) penyiapan kondisi
psikologis peserta didik untuk ambil bagian dalam permainan melalui
bujukan dan contoh, (b) ajakan kepada peserta didik untuk ambil bagian,
(c) respons peserta didik terhadap ajakan guru, dan (d) reaksi guru
terhadap respons peserta didik, dan seterusnya.

2
C. Peta kompetensi

BIDANG KEAHLIAN : PEDAGOGIK POSISI MODUL

KODE UNIT
NAMA UNIT KOMPETENSI WAKTU
KOMPETENSI

PED0100000-00 Pengembangan Peserta Didik 4 JP

PED0200000-00 Teori Belajar dan Prinsip Pembelajaran 8 JP


yang mendidik

PED0300000-00 Pengembangan Kurikulum 8 JP

PED0400000-00 Pembelajaran Yang Mendidik 10 JP

PED0500000-00 Pemanfaatan Teknologi Informasi dan 2 JP


Komunikasi dalam Pembelajaran

PED0600000-00 Pengembangan potensi peserta didik 4 JP

PED0700000-00 Komunikasi efektif 2 JP

PED0800000-00 Penilaian dan evaluasi pembelajaran 5 JP

PED0900000-00 Pemanfaataan hasil penilaian dan 4 JP


evaluasi pembelajaran

PED0100000-00 Tindakan reflektif untuk peningkatan 8 JP


kualitas pembelajaran.

D. Ruang lingkup
Modul ini akan membahas tentang komunikasi efektif, empatik, dan santun,
secara lisan maupun tulisan dengan peserta didik, bagaimana seorang pendidik
memilih strategi komunikasi dengan peserta didik, dan mengimplementasikan
cara berkomunikasi sesuai potensi, lingkungan dan kemampuan peserta didik,
serta melakukan komunikasi efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik
dengan bahasa yang khas dalam interaksi kegiatan/ permainan yang mendidik
yang terbangun secara siklikal dari (a) penyiapan kondisi psikologis peserta didik
untuk ambil bagian dalam permainan melalui bujukan dan contoh, (b) ajakan
kepada peserta didik untuk ambil bagian, (c) respons peserta didik terhadap
ajakan guru, dan (d) reaksi guru terhadap respons peserta didi

3
4
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: KONSEP DASAR
KOMUNIKASI

A. Tujuan
Setelah mempelajari materi ini diharapkan peserta dapat;
1. Memahami berbagai strategi berkomunikasi yang efektif, empatik, dan
santun, secara lisan, tulisan, dan/atau bentuk lain.
2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik
dengan bahasa yang khas dalam interaksi kegiatan/ permainan yang mendidik
yang terbangun secara siklikal dari (a) penyiapan kondisi psikologis peserta didik
untuk ambil bagian dalam permainan melalui bujukan dan contoh, (b) ajakan
kepada peserta didik untuk ambil bagian, (c) respons peserta didik terhadap
ajakan guru, dan (d) reaksi guru terhadap respons peserta didik, dan seterusnya.

B. Indikator pencapaian Kompetensi

1. Komunikasi efektif dengan peserta didik dijelaskan secara visual.

2. Komunikasi empatik dengan peserta didik dijelaskan secara visual.

3. Komunikasi santun dengan peserta didik dijelaskan visual.

4. Komunikasi secara lisan dengan peserta didik dijelaskan melalui peragaan.

5. Komunikasi tulisan dengan peserta didik dijelaskan sesuai kaidah bahasa


Indonesia (EYD)

6. Komunikasi dengan bahasa tubuh didemonstrasikan melalui peragaan

7. Strategi komunikasi dengan peserta didik ditentukan berdasarkan budaya


setempat.

8. Strategi komunikasi dengan peserta didik ditentukan berdasarkan mata


pelajaran yang diampu.

9. Komunikasi dilakukan untuk penyiapan kondisi psikologis peserta didik agar


ambil bagian dalam permainan melalui bujukan dan contoh sesuai mata
pelajaran yang diampu

10. Komunikasi dilakukan untuk mengajak peserta didik agar ambil bagian
dalam kegiatan pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu

11. Komunikasi dilakukan agar peserta didik merespon ajakan guru dalam
kegiatan pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu

5
12. Komunikasi oleh guru dilakukan untuk merespon peserta didik secara
lengkap & relevan sesuai dengan pertanyaan & perilaku siswa

C. Uraian materi

1. Konsep Dasar Komunikasi


a. Konsep Komunikasi

Kata komunikasi berasal dari bahasa Inggris communication, secara etimologis


atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicates. Istilah ini
bersumber dari kata communis yang memiliki makna berbagi atau menjadi milik
bersama yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau
kesamaan makna. Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses
penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.

Gambar 1. Proses penyampaian pernyataan kepada orang lain

Ruben dan Steward (2005) mendefinisikan tentang komunikasi manusia adalah:


Human communication is the process through which individuals in relationships,
group, organizations and societiesrespond to and create messages to adapt to
the environment and one another. Dapat diartikan bahwa komunikasi manusia
adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan,
kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan
untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain. Ada beberapa ahli
berpendapat tentang komunikasi;

6
1) Evertt M. Rogers (1976) menyatakan bahwa komunikasi sebagai proses
yang didalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber
kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya. Pendapat
senada dikemukakan oleh Theodore Herbert yang mengatakan bahwa
komunikasi merupakan proses yang didalamnya menunjukkan arti
pengetahuan yang dipindahkan dari seseorang kepada orang lain biasanya
dengan maksud mencapai beberapa tujuan khusus

2) Wilbur Schramm dalam Suranto (2005) mengungkapkan bahwa komunikasi


merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima
dengan bantuan pesan. Pengirim dan penerima memiliki beberapa
pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang
dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima.

3) Mulyana (2000: 61-69) mengungkapkan pengertian komunikasi dalam


pandangan:

a) Komunikasi sebagai tindakan satu arah adalah komunikasi sebagai


suatu proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan,
misalnya tenaga pendidik kepada peserta didik baik langsung
melalui suatu t a t a p muka ataupun tidak langsung melalui suatu
media. Komunikasi yang terjadi berorientasi pada pesanadalah a
message-centered philosophy of communication. Sedangkan
keberhasilan komunikasi seperti ini terletak pada penguasaan fakta
atau informasi dan pengaturan mengenai cara-cara penyampaian
fakta atau informasi tersebut.

b) Komunikasi sebagai interaksi merupakan suatu proses sebab-akibat


atau aksi-reaksi secara bergantian baik verbal ataupun non-verbal.
misalnya seseorang menyampaikan informasi kepada pihak penerima
yang kemudian memberikan respon atas informasi yang diterimanya
itu untuk kemudian pihak pertama bereaksi lagi setelah menerima
respon atau umpan balik dari orang atau pihak kedua, dan
seterusnya. Komunikasi demikian berorientasi pada pembicara: a
speaker-centered philosophy of communication dan mengabaikan
kemungkinan seseorang bisa mengirim dan atau menerima informasi
pada saat yang sama. Di sini unsur umpan balik (feed-back)
menjadi cukup penting. Bagaimana pihak pengirim dan penerima
suatu informasi bisa silih berganti peran karena persoalan umpan balik.

c) Komunikasi sebagai transaksi merupakan suatu proses yang


bersifat personal karena makna atau arti yang diperoleh pada
dasarnya bersifat pribadi. Penafsiran atas suatu informasi melalui
proses penyandian (encoding process) dan melalui penyandian
kembali (decoding process) dalam peristiwa komunikasi baik atas

7
perilaku verbal ataupun atas perilaku non-verbal bisa amat bervariasi.

Gambar 2. Proses komunikasi


Sebagai contoh dalam komunikasi akan melibatkan penafsiran yang
bervariasi dan pembentukan makna yang lebih kompleks. Komunikasi
tidak membatasi pada kesengajaan atau respons yang teramati
melainkan pula mencakup spontanitas, bersifat simultan dan
kontekstual. Komunikasi ini berorientasi pada arti baru yang terbentuk:
a meaning-centered philosophy of communication.

Berdasarkan beberapa definisi para ahli diatas dapat disaring bahwa :

a) Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses penyampaian


informasi. Dilihat dari sudut pandang ini keberhasilan komunikasi
tergantung kepada desain pesan atau informasi dan cara
penyampaiannya. Menurut konsep ini pengirim dan penerima pesan
tidak menjadi komponen utama yang menentukan keberhasilan
sebuah komunikasi.

b) Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang


kepada orang lain. Pengirim pesan atau dengan istilah lain
komunikator memiliki peran yang paling menentukan dalam
keberhasilan komumikasi, sedangkan komunikan atau penerima pesan
hanya sebagai objek yang pasif.

c) Komunikasi diartikan sebagai proses penciptaan arti terhadap gagasan


atau ide yang disampaikan. Pemahaman ini menempatkan tiga
komponen yaitu pengirim, pesan, dan penerima pesan pada posisi

8
yang seimbang. Proses ini menuntut adanya proses encoding oleh
pengirim dan decoding oleh penerima, sehingga informasi memiliki
makna.

b. Tujuan Komunikasi
1) Untuk mempelajari dunia luar seperti berbagai objek, peristiwa dan orang
lain. Informasi tentang dunia luar diperoleh melalui mass-media, dan pada
akhirnya data yang diperoleh didiskusikan, dipelajari, diinternalisasi
melalui komunikasi dalam pembelajaran. Nilai-nilai, sistem kepercayaan,
dan sikap nampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh pertemuan
interpersonal daripada dipengaruhi media atau bahkan sekolah.

2) Untuk memelihara hubungan dan mengembangkan kedekatan atau


keakraban. Melalui komunikasi kita berkeinginan untuk menjalin rasa cinta
dan kasih sayang. Di samping cara demikian dapat juga mengurangi
rasa kesepian atau rasa depresi, komunikasi bertujuan membagi dan
meningkatkan rasa bahagia yang akhirnya mengembangkan perasaan
positif tentang diri kita sendiri. Kita diajari tidak boleh iri, dengki, dendam,
saling fitnah dan saling bunuh; kita semua akan mati dan tentu saja orang
lain yang akan menguburkan kita.

3) Melalui komunikasi seorang pendidik mencoba mencapai tujuan


pembelajaran dengan cara berinteraksi dengan peserta didik; membagi
informasi atau gagasan, melakukan tukar pengalaman, mendorong dan
saling membentuk sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang efektif
berdasarkan persepsi yang diperoleh selama pembelajaran.

c. Jenis-jenis Komunikasi
Dilihat dari jenisnya komunikasi dapat dibedakan menjadi; komunikasi
intrapersonal, interpersonal, kelompok, dan komunikasi masa.
1) Komunikasi intrapersonal merupakan Komunikasi didalam diri individu yang
berfungsi agar adanya kreativitas imajinasi, suatu pemahaman untuk bisa
mengendalikan diri, dan adanya kedewasaan untuk bisa mengambil
keputusan sesuai dengan kapasitasnya
2) Komunikasi interpersonal merupakan Komunikasi yang terjadi antara dua
orang dengan ciri adanya kontak secara langsung dan adanya percakapan
3) Komunikasi kelompok adalah Komunikasi yang terjadi karena interaksi tatap
muka dengan tujuan untuk saling berbagi informasi atau menyelesaikan
suatu permasalahan. Sehingga setiap anggota dapat saling mengetahui
karakteristik pribadi anggotanya

9
Gambar 3. Komunikasi Kelompok

4) Komunikasi masa merupakan Komunikasi yang ditujukan untuk


menyampaikan pesan kepada orang banyak dengan harapan orang lain
akan mengikuti pesan yang disampaikan.

d. Bentuk Komunikasi berdasarkan ada dan tidaknya media


Menurut bentuknya komunikasi dapat dibedakan menjadi komunikasi
langsung dan komunikasi tidak langsung;

1) Komunikasi langsung adalah komunikasi yang dilakukan melalui tatap


muka (face to face) dan dapat juga dilakukan melalui telepon. Dengan kata
lain komunikasi langsung merupakan salah satu cara berinteraksi antara
seseorang dengan orang lain secara langsung
2) Komunikasi tidak langsung adalah komunikasi yang dilakukan biasanya
melalui perantara, pengirim pesan akan menyampaikan pesannya melalui
surat atau fax.

e. Model Proses Komunikasi


Secara sederhana komunikasi dapat dipahami sebagai suatu proses atau aliran
mengenai suatu pesan atau informasi bergerak dari suatu sumber (komunikator)

10
hingga penerima (komunikan) dan berlangsung dinamis. P enyimpangan yang
terjadi dalam komunikasi pada dasarnya merupakan hambatan. Bagan dibawah
ini menggambarkan terjadinya sebuah proses komunikasi :

KONTEK/LINGKUNGAN

Pesan Pesan Pesan Pesan

SUMBER PENGKO- SALURAN PENGKO- PENERIMA


DEAN DEAN

UMPAN BALIK

Gambar 4. Proses Terjadinya Komunikasi

Tujuan sebuah proses komunikasi adalah menyampaikan suatu pesan atau


informasi dari komunikator kepada penerima setepat mungkin; apapun bentuk
dan cara penyampaiannya. Fakta dilapangan yang sering terjadi bahwa sebuah
pesan atau informasi itu berubah arti (distorsi) sampai penerima. Sedangkan
distorsi disebabkan karena akibat gangguan (noise) dalam proses komunikasi.
Dalam komunikasi distorsi tidak boleh terlalu banyak dan sering terjadi karena
akan menjadikan komunikasi tidak efektif.
Untuk meminimalisasi distorsi yang terjadi dalam sebuah proseskomunikasi
perlu mencermati 8 komponen yaitu:
1) Konteks (lingkungan) merupakan sesuatu yang kompleks antara dimensi
fisik, sosial -psikologis dan dimensi temporal saling mempengaruhi satu
sama lain. Kita mesti memahami bahwa kenyamanan ruangan, peranan
seseorang dan tafsir budaya serta hitungan waktu, merupakan contoh dari
sekian banyak unsur lingkungan komunikasi.

2) Komponen sumber-penerima menunjukkan bahwa keterlibatan pendidik


dan peserta didik dalam berkomunikasi sama yaitu mereka sebagai
penyampai pesan dan juga penerima. Sebagai sumber dalam
berkomunikasi menunjukkan bahwa Anda mengirim pesan. Pengirim pesan
berarti berbicara, menulis, memberikan isyarat tubuh atau tersenyum.
Selain sebagai pengirim pesan, juga menerima pesan. Pada saat Anda
berbicara dengan orang lain, Anda berusaha untuk memperoleh
tanggapan: dukungan, pengertian, simpati, dan sebagainya; dan pada saat
Anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal, Anda menjalankan fungsi
penerima dalam berkomunikasi.

11
3) Encoding dan decoding; seseorang yang akan mengawali proses
komunikasi paswti akan mengemas sebuah pesan yang dituangkan
kedalam gelombang suara atau kedalam selembar kertas. Kode-
kode yang dihasilkan ini terjadi melalui proses pengkodean
(enkoding). Bagaimana suatu pesan terkodifikasi, amat tergantung
pada keterampilan, sikap, pengetahuan dan sistem sosial budaya
yang mempengaruhi. Artinya keyakinan dan nilai-nilai yang dianut memiliki
peranan dalam menentukan tingkat efektivitas sumber komunikasi. Proses
kodifikasi (pengkodean) dipihak sumber komunikasi hingga pesan itu
terkodekan, pada dasarnya mengandung unsur penafsiran subjektif atas
simbol-simbol yang terdiri dari perspektif sosial budaya yang bisa
menimbulkan distorsi bahkan makna yang berlainan. Sebelum suatu pesan
itu disampaikan atau diterimakan dalam berkomunikasi kita berusaha
menghasilkan pesan simbol-simbol yang akan diterjemahkan lebih dahulu
kedalam ragam kode atau simbol tertentu oleh sipenerima melalui
mendengarkan atau membaca.

4) Kompetensi Komunikasi; mengacu pada kemampuan Anda


berkomunikasi secara efektif. Kompetensi ini mencakup pengetahuan
tentang peran lingkungan dalam mempengaruhi isi dan bentuk pesan
komunikasi. Suatu topik pembicaraan dapat dipahami karena hal itu
layak dikomunikasikan pada orang tertentu dalam lingkungan tertentu
akan tetapi bisa tidak layak untuk orang dan lingkungan yang lain.
Kompetensi komunikasi juga mencakup kemampuan tentang tatacara
perilaku non-verbal seperti kedekatan, sentuhan fisik, dan suara keras.

5) Pesan dan Saluran: pesan sebenarnya merupakan produk fisik dari


proses kodefikasi. Jika seseorang itu berbicara maka pembicaraan itu
adalah pesan. Jika seseorang itu menulis maka tulisan itu adalah
pesan. Bila kita melakukan suatu gerakan maka gerakan itu adalah
pesan. Pesan itu dipengaruhi oleh kode atau kelompok simbol yang
digunakan untuk mentransfer makna atau isi dari pesan itu sendiri dan
dipengaruhi oleh keputusan memilih dan menata kode dan isi tersebut.
Menurut Sendjaja (1994) mengutip pendapat Reardon bahwa
kendala utama dalam berkomunikasi seringkali lambang atau simbol
yang sama mempunyai makna yang berbeda. Kurangnya kecermatan
dalam memilih kode atau mentransfer makna dan menata kode serta
isi pesan dapat memunculkan sumber distorsi komunikasi. Saluran
merupakan medium; lewat mana suatu pesan itu berjalan. Saluran
dipilih oleh sumber komunikasi. Sedangkan sumber komunikasi dapat
dibedakan berdasarkan jaringan otoritas dan pelaksanaan yang disebut
formal dan saluran informal biasanya digunakan untuk meneruskan
pesan-pesan pribadi atau pesan-pesan sosial yang menyertai pesan-
pesan yang disampaikan secara formal.

12
6) Umpan balik secara efektif adalah suatu cara yang dapat
dipertimbangkan untuk menghindari dan mengoreksi terjadinya
distorsi. Umpan balik merupakan pengecekan sejauh mana
keberhasilan yang dicapai dalam mentransfer makna pesan antara
komunikator dan komunikan. Setelah si-penerima pesan melaksanakan
pengkodean kembali, maka yang bersangkutan sesungguhnya telah
berubah menjadi sumber. Maksudnya bahwa yang bersangkutan
mempunyai tujuan tertentu, yakni untuk memberikan respon atas
pesan yang diterima, dan ia harus melakukan penkodean sebuah
pesan dan mengirimkannya melalui saluran tertentu kepada pihak
yang semula bertindak sebagai pengirim. Umpan balik menentukan
apakah suatu pesan telah benar -benar dipahami atau belum dan
adakah suatu perbaikan patut dilakukan.

7) Gangguan merupakan komponen yang mendistorsi sebuah pesan.


Gangguan dapat terjadi pada kedua belah pihak baik penyampai atau
penerima pesan dalam komunikasi. Hal ini dapat berupa fisik,
psikologis dan semantik atau kebahasaan. Misalnya desingan suara
mobil, pandangan atau pikiran yang sempit dan penggunaan istilah
yang menimbulkan arti yang berbeda-beda, merupakan contoh dari
masing-masing jenis gangguan yang dapat mendistorsi pesan yang
dimaksudkan dalam komunikasi.

8) Efek Komunikasi pada setiap peristiwa komunikasi selalu mempunyai


konsekuensi atau dampak atas satu atau lebih yang terlibat. Dampak
itu berupa perolehan pengetahuan, sikap-sikap baru atau memperoleh
cara-cara/gerakan baru sebagai refleksi siko-motorik.

f. Persepsi dan Hubungan Interpersonal


Dalam setiap komunikasi yang melibatkan dua orang atau beberapa orang
akan ditemukan beragam pribadi yang harus dikenali yaitu diri kita sendiri dan
orang lain yang menjadi partner komunikasi. Sedangkan untuk mengenali
orang lain bukanlah perkara mudah dan sederhana. Hal itu akan berhubungan
dengan proses psikologis yaitu persepsi. Persepsi merupakan proses internal
dalam diri seseorang yang memungkinkan ia memilih, mengorganisasikan, dan
menafsirkan rangsangan dari lingkungan sehingga dapat mempengaruhi
perilaku yang bersangkutan.
Proses persepsi melibatkan penginderaan atas suatu objek yaitu melalui
penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan;
kemudian perhatian atas sesuatu objek/pesan tersebut dapat menarik

13
perhatian; dan interpretasi. Karena itu persepsi merupakan inti
komunikasi sedangkan penafsiran (interpretasi) merupakan inti persepsi
(Mulyana, 2000). Secara teoritik persepsi baik terhadap lingkungan fisik
ataupun terhadap lingkungan sosial (termasuk lingkungan masyarakat atau
organisasi seperti halnya sekolah) tidak akan akurat dan banyak memiliki
keterbatasan untuk dijadikan perolehan pengetahuan/informasi. Dalam
memahami suatu objek dan mempersepsi orang lain, kita harus membuat
kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap, yaitu informasi yang
hanya diperoleh melalui kelima indera kita. Maka, ketika kita berkomunikasi, kita
akan mendasarkan persepsi terhadap orang lain atas perilaku komunikasinya
yang dapat kita amati.
Tubbs dan Moss dalam Mulyana, 1996: 13 dalam bukunya human
communication : kontek-konteks komunikasi mengungkapkan bahwa Jendela
Johari adalah salah satu model inovatif untuk memahami tingkat-tingkat
kesadaran dan penyingkapan diri dalam komunikasi dalam pelatihan. Model ini
menawarkan suatu cara melihat kesaling-bergantungan hubungan antara
intrapersonal dan hubungan interpersonal. Model Jendela Johari digambarkan
dalam empat kuadran yang mirip empat kaca pada sebuah jendela seperti
gambar di bawah ini.

Diketahui diri sendiri Tidak diketahui diri sendiri


1 1

Terbuka Gelap
Diketahui orang lain 1 2
1

Tersembunyi Tidak DIketahui


Diketahui orang lain 3 4
1

Gambar 5. Jendela Johari

Kuadran pertama disebut kuadran terbuka. Tahap ini mencerminkan


keterbukaan Anda pada dunia secara umum. Kuadran ini mencakup semua
aspek diri Anda yang Anda ketahui dan diketahui oleh orang lain. Kuadran ini

14
menjadi dasar dalam berkomunikasi antar dua orang.
Kuadran kedua adalah kuadran gelap meliputi semua hal mengenai diri Anda
yang dirasakan orang lain tetapi tidak anda rasakan. Contoh Anda terlalu
memonopoli percakapan tanpa Anda sadari.
Kuadran ketiga, kuadran tersembunyi. Kuadran ini menentukan kebijaksanaan.
Kuadran ini dibangun oleh semua hal yang Anda lebih suka tidak
membeberkannya kepada orang lain. Misalkan permasalahan perceraian orang
tua Anda, gaji Anda, perasaan Anda pada sahabat sekamar.
Kuadran keempat, sering disebut kuadran tak terketahui. Kuadran gelap tidak
Anda ketahui meskipun diketahui orang lain. Kuadran ini mewakili segala
sesuatu tentang diri Anda yang belum pernah ditelusuri oleh Anda atau oleh
orang lain. Anda hanya dapat menduga bahwa hal ini ada atau menyadarinya
dalam retrospeksi.
a. Tahapan hubungan interpersonal berlangsung dalam beberapa tahap mulai
tahap interaksi awal sampai tahap pemutusan (dissolution). Seorang kawan
yang akrab tidak begitu saja terjadi setelah adanya pertemuan untuk
menumbuhkan keakraban dilakukan secara bertahap. Terdapat lima tahapan
yang dikemukakan DeVito (1986) dimana tahapan ini dapat menjadi dasar
dalam menjalin hubungan. Kelima tahap itu adalah kontak, keterlibatan,
keakraban, perusakan dan pemutusan.
1) Tahap pertama kita membuat kontak, ada beberapa macam persepsi alat
indra Anda melihat, mendengar dan Pada tahap ini Anda mengikat diri
Anda lebih jauh. Anda mengikatkan diri untuk lebih mengenal orang lain.
Anda mungkin membina hubungan primer, sehingga orang lain itu
menjadi sahabat baik atau kekasih Anda. Komitmen ini dapat menjadi
berbagai bentuk, perkawinan, membantu orang itu atau mengungkapkan
rahasia besar Anda. Tahap ini hanya disediakan untuk sedikit orang paling
banyak empat orang karena jarang sekali orang memiliki lebih dari empat
orang sahabat.
2) membaui seseorang. Beberapa peneliti, dalam tahap ini selama
empat menit pertama (interaksi awal), Anda akan memutuskan apakah
ingin melanjutkan hubungan ini atau tidak. Pada tahap ini penampilan
fisik begitu penting, karena dimensi fisik begitu terbuka untuk diamati

15
secara mudah. Namun demikian, kualitas-kualitas lain, seperti bersahabat,
kehangatan, keterbukaan, dan dinamisme juga terungkap dalam tahap ini.
Jika Anda menyukai orang tersebut maka akan berlanjut ketahap kedua.
3) Dalam tahap berikutnya merupakan penurunan hubungan ketika ikatan
diantara kedua pihak melemah.
4) Pada tahap perusakan, Anda mulai merasa bahwa hubungan ini mungkin
tidaklah seperti yang Anda pikirkan sebelumnya. Anda berdua menjadi
semakin jauh, makin sedikit waktu senggang yang Anda lalui bersama dan
apabila Anda berdua bertemu Anda saling berdiam diri tidak lagi banyak
mengungkapkan diri. Jika tahap perusakan ini berlanjut Anda memasuki
tahap pemutusan.
5) Tahap pemutusan adalah pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua
pihak. Jika bentuk ikatan itu adalah perkawinan pemutusan hubungan
dilambangkan dengan perceraian walaupun pemutusan hubungan aktual
dapat berupa hidup terpisah. Dalam bentuk materi inilah tahap ketika harta
kekayaan dibagi dan pasangan suami istri saling berebut hak
pemeliharaan anak.

g. Mendengarkan dan Berbicara


1) Mendengarkan

Mendengarkan dan berbicara merupakan hal yang utama dalam


berkomunikasi secara interpersonal. Pendengar aktif adalah mendengar
untuk mengerti apa yang dikatakan dibalik pesan itu. Apabila terjadi
kekurangan dalam proses mendengarkan maka yang terjadi adalah ketidak-
mengertian bahasa yang digunakan dalam menerjemahkan pesan yang
disampaikan, kurangnya waktu untuk menerjemahkan pesan dalam bentuk
kata-kata, atau mengabaikan isyarat nonverbal yang mengiringi pesan
verbal.

16
Gambar 6. Tahapan proses merespon

Seseorang yang mendengarkan dengan aktif harus dapat mengetahui juga


pesan yang diterima secara keseluruhan dan dari sudut pandang yang
berbeda dari apa yang dikatakan seseorang. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan untuk mendengarkan secara aktif, yaitu:
a) Mendengarkan dengan menangkap ungkapan nonverbal sebaik
isyarat verbal. Pada saat mendengarkan dengan aktif, penerima akan
mendapat umpan balik dengan menguraikan sendiri kata-kata
tentang pesan yang disampaikan oleh sumber.
b) Penerima pesan mengecek kembali (perception check) yaitu apa
yang terkandung dalam sebuah pesan yang diterimanya untuk
mengerti pesan apa yang sesungguhnya.
c) Gambaran perilaku (behavior descriptions) ini merupakan
gambaran individu yang sangat spesifik. Kegiatan pengamatan
kepada orang lain tanpa membuat keputusan atau mengeneralisasi
tentang apa latarbelakang dan sifat-sifatnya.

Teknik mendengarkan efektif dapat membantu para komunikator


mempunyai informasi yang akurat. Pastikan bahwa kualitas informasi yang
baik tidak hanya merupakan tantangan dalam mendengarkan. Keduanya
baik pengirim maupun penerima harus memastikan bahwa mereka
mempunyai kualitas ketepatan dari informasi yang benar. Brownell,
1994 menyatakan bahwa efektivitas mendengarkan dapat dimengerti
melalui indikator perilaku: seseorang merasa berhubungan dengan

17
mendengarkan secara efektif dalam enam unsur yang dikenal;
HURIER Model (Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting,
Evaluating, and Responding).

Hearing (Paying Understanding Remembering


careful attentions (comprehending (Being able to recall
to what us being the message the massage being
said) being sent) sent)

Effective listening

Responding Evaluating (Not Interpreting ( not


(replying to the immediately reading
sender letting him passing anythinginto the
or her know you judgement on the message the
are paying massage being sender is
attention) sent) communicating)

Gambar 7. Hurier Model

2) Ketrampilan Berbicara

Ketrampilan verbal dalam berbicara merupakan kemampuan


mengekspresikan bahan pembicaraan dalam bahasa kata-kata. Tidak
ada aturan yang mengikat atau standar dalam penggunaannya, baik
menyangkut panjang kata -kata maupun rincian uraian yang aka
disampaikan. Semuanya tergantung pada unsur tingkat pengalaman,
panjang pembicaraan, materi pembicaraan, serta waktu yang tersedia.
Dalam berbicara tidak baik mengunakan kata-kata jargon yaitu kata-
kata yang dibuat dan digunakan untuk kalangan tertentu saja sehingga
orang lain tidak mengerti. Untuk menghindari kata-kata jargon dalam
komunikasi disarankan untuk mengunakan kata-kata yang pendek,

18
sederhana, dan langsung pada sasaran. Sedangkan teknik yang dapat
digunakan dalam meningkatkan effektifitas penampilan berbicara verbal
adalah sebagai berikut:
a) Percaya diri: adalah keyakinan pada kemampuan dan penilaian diri
sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif.
Hal ini termasuk kepercayaan atas kemampuannya menghadapi
lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas
pendapatnya.
b) Ucapkan kata-kata dengan jelas dan perlahan-lahan, berikan
penekanan dan pengulangan untuk hal-hal yang dianggap
penting.
c) Berbicaralah dengan wajar sebagaimana biasanya, jangan
terkesan seperti penyair atau sedang berdeklarasi.
d) Hindari suara monoton, gunakan tekanan dan irama tertentu untuk
menampilkan poin-poin tertentu seperti marah dengan nada tinggi,
sedih dengan suara memelas, tetapi hindarkan kesan seperti
pemain drama.
e) Menarik napas dalam-dalam, dua sampai dua kali untuk
mengurangi ketegangan. Atur napas secara normal jangan
terkesan seperti yang sedang dikejar-kejar.
f) Hindari sindrom em, ah, anu, apa dan sebagainya. Jika terpojok
dan kehabisan bicara.

g) Membaca paragraf yang dianggap penting dari teks tulisan.


Jangan merasa malu dengan hal ini karena pendengar akan
berfikir bahwa kita akan menekankan poin pembicaraan.

h) Siapkan air minum (terutama mereka yang sering kali kehabisan


napas jika berbicara).

h. Komunikasi Nonverbal dan Bahasa Tubuh


1) Konsep Dasar Bahasa Tubuh
Menurut David Cohen dalam buku bahasa tubuh dalam pergaulan
menjelaskan tentang bahasa tubuh merupakan bentuk topeng-topeng
yang mengungkapkan bahwa bahasa tubuh juga menyingkapkan
topeng-topeng kita. Manusia belajar menggunakan topeng sejak kecil
dan banyak diantara kita dapat melakukannya dengan baik. Banyak

19
isayarat-isyarat nonverbal tentang perasaan yang bersifat sangat
halus dan terjadi hanya sekilas. Dapat diilustrasikan seperti seseorang
mencoba menguraikan pola dari selendang yang dipakai seseorang
yang sedang lewat. Untuk dapat memaknai itu diperlukan keahlian dan
latihan.
Untuk dapat menerobos topeng yang kita pakai adalah apa yang disebut
oleh para ahli psikologi sebagai isyarat yang bocor, isyarat yang
sebenarnya tidak ingin kita berikan namun tidak dapat terkontrol.
Mengatur ekspresi wajah sangat mudah dilakukan. Jika anda tidak ingin
tampak sedih, anda dapat berpura-pura. Lebih sulit mengatur nada suara
kita atau gerakan tubuh, mereka ini sering bocor. Pelajari mereka dan
anda akan segera tahu banyak tentang apa yang sedang dipikirkan orang
lain.
Cara seseorang berbicara mencerminkan kepribadiannya. Beberapa
orang bicaranya keras dan tanpa henti; orang lainnya sukar dimengerti
dan beberapa sangat diam. David Cohen tidak menyetujui anggapan
bahwa orang dengan kepribadian tertentu cenderung memiliki gaya tubuh
tertentu yang tidak akan sama dengan orang lain. Beberapa penelitian
yang baik tentang kepribadian, menunjukkan kontras antara ekstravert,
yang ceria, ramah, cepat, tidak teliti, suka humor, tidak sabar dan memiliki
metabolisme yang tinggi dengan introvert yang teliti banyak cemas,
lamban, dan kurang kemampuan dalam sosialisasi. Kepribadian yang
satu tidak lebih baik dari kepribadian lainnya. Mereka adalah gaya, tapi
gaya yang terungkap melalui bahasa tubuh.
Dalam hubungan antar pribadi, banyak orang merasa berada dibawah
tekanan untuk tidak menunjukkan perasaan mereka. Kita hidup melalui
suatu periode perubahan sosial yang kompleks, membuat banyak dari
kita merasa lebih aman bersembunyi dibalik kedok.
Dalam kamus komunikasi dari Onong U. Effendy bahwa Kinesic
Communication atau komunikasi kial atau komunikasi kinesik adalah
komunikasi yang dilakukan dengan gerakan anggota tubuh; salah satu
jenis komunikasi nonverbal.
Peter Clayton dalam buku bahasa tubuh dalam pergaulan sehari-hari
mengungkapkan bahwa apa yang disebut dengan bahasa tubuh ? saya

20
telah mengajukan pertanyaan ini kepada orang yang tak terhitung
banyaknya. Jawaban yang mereka berikan tanpa kecuali sesuatu yang
sejalan dengan komunikasi nonverbal yang menurut hemat saya tidak
salah sejauh ini. Akan tetapi, jawaban itu tidak benar-benar menjelaskan
kebenaran alami dari bahasa tubuh. Selama bertahun-tahun saya
berusaha untuk menyingkat pengertian ini menjadi beberapa kalimat
sederhana.
Alo Liliweri dalam buku komunikasi verbal dan nonverbal menjelaskan
bahwa bahasa tubuh adalah gerakan ; tubuh yang merupakan sebagian
perilaku nonverbal dapat disampaikan melalui simbol komunikasi kepada
orang lain. Perilaku itu sangat bergantung dari erat tidaknya hubungan
dengan orang lain. Dalam bagian ini akan diuraikan komunikasi nonverbal
gerak tubuh atau yang disebut kinesik.

2) Bentuk-bentuk bahasa tubuh


Bentuk dan tipe umum dari bahasa tubuh meliputi tiga yakni : 1) kontak
mata, 2) ekspresi wajah, 3) gerakan anggota tubuh. Agar jelasnya
diuraikan secara singkat sebagai berikut :

a) Kontak mata
Kontak mata juga mengacu pada sesuatu yang disebut dengan gaze
yang meliputi suatu keadaan penglihatan secara langsung antar
orang disaat sedang berbicara. Kontak mata sangat menentukan
kebutuhan psikologis dan membantu kita memantau efek komunikasi
antar pribadi. Melalui kontak mata anda dapat menceritakan kepada
orang lain suatu pesan sehingga orang akan memperhatikan kata
demi kata melalui tatapan. Misalnya pandangan yang sayu, cemas,
takut, terharu, dapat mewarnai latar belakang psikologis anda.
Jumlah dan cara-cara penataan mata berbeda dari seseorang
dengan orang yang lainnya, dari budaya yang satu kebudaya lain.
Berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 50-60 persen orang akan
memandang orang lain disaat melakukan percakapan. Bagi
pembicara digunakan 40 persen dan bagi pendengar kira-kira 70
persen penglihatan. Pertanyaannnya kapankah anda suka melihat

21
orang lain ketika anda sedang berbicara ? mata anda seolah-olah
membuat kontak yang semakin besar dan lelusa dalam melakukan
kontak mata seperti waktu berdiskusi sehingga akan saling
memberikan reaksi dan seterusnya. Kontak mata sebagai simbol
komunikasi nonverbal mempengaruhi perilaku, kepercayaan dalam
berkomunikasi. Ingatlah bahwa ketika melakukan kontak mata, orang
lain langsung dapat mengukur sejauh mana kemampuan anda dalam
melakukan komunikasi. Beberapa contoh dibawah ini berkaitan
dengan perilaku kontak mata diberbagai etnik/bangsa di dunia;
seorang guru akan mengunakan bahasa tubuh mata pada para
murid-muridnya di sekolah, tingkah laku seorang anak akan menjadi
sinyal guru atau pertanda bahwa murid tersebut tidak atau belum
melakukan apa yang ditugaskan, jika seorang anak belum atau tidak
mengerjakan penugasan yang diberikan guru maka ada
kecenderungan memiliki pandangan mata yang berbeda ketika murid
tersebut bertatap muka.

Gambar 8. Model kontak mata

Aparat kepolisisan menggunakan bahasa tubuh mata pada para supir


dijalanan baik pengemudi motor maupun mobil dapat menjadi sinyal atau
pertanda kelengkapan surat-surat yang mereka miliki, jika para

22
pengemudi tidak memiliki surat-surat yang lengkap maka ada
kecenderungan memiliki pandangan mata yang berbeda ketika bertemu
dengan para aparat kepolisisian dalam suatu operasi di jalan, dan
biasanya aparat kepolisisan dapat melihat perbedaan pandangan mata
para pengemudi yang merasa bersalah atau tidak bersalah. Begitu pun
kontak mata menjadi pertanda bagi para penjahat atau orang-orang yang
merasa bersalah dari aspek hukum baik dalam kasus pencurian,
perampokan, pembunuhan dan para pelaku kriminal lainnya. Cenderung
memiliki kontak mata yang berbeda ketika melihat aparat kepolisian.
Kalau dilihat dari perbedaan budaya ketika memandang orang lain bukan
pada tempatnya dapat berakibat fatal. Misalnya ketika seorang wanita
Jepang dengan seorang pria Amerika yang sedang ertatap muka, sang
wanita harus menunduk tetapi sang pria terus memandang dengan
penasaran. Setibanya di asrama mahasiswa, sang pria marah-marah dan
mengejek wanita orang yang tidak bersahabat. Sang wanita tersinggung
dan menangis histeris. Setelah diselidiki ternyata dalam budaya Jepang
hanya wanita kurang baik yang boleh memandang seorang pria di
tempat umum, hal demikian tidak terjadi di Amerika.

b. Ekspresi wajah
Ekspresi wajah meliputi pengaruh raut wajah yang dipergunakan untuk
berkomunikasi secara emosional atau bereaksi terhadap suatu pesan.
Wajah setiap orang selalu menyatakan hati dan perasaannya. Wajah
ibarat cermin dari pikiran, dan perasaan. Melalui wajah orang juga bisa
membaca makna suatu pesan. Pernyataan wajah menandai masalah
ketika : 1). ekspresi wajah tidak merupakan tanda perasaan 2). ekspresi
wajah yang dinyatakan tidak seluruhnya merupakan tanda pikiran dan
perasaan. Dengan demikian penampilan wajah sangat tergantung pada
orang yang menanggapi atau menafsirkannya. Ekspresi wajah dari
budaya yang lain memandang berbeda.
Ekspresi wajah juga dapat kita lihat ketika kita memandang
seseorang yang dianggap sebagai orang yang polos/lugu atau dianggap
kejam/dingin. Hal ini didasari ada sebuah ekspresi wajah yang nampak
pada orang yang bersangkutan tidak menunjukkan sebuah perubahan

23
seperti yang dilakukan oleh orang lain ketika mendengar atau mengetahui
suatu peristiwa baik kesedihan maupun kegembiraan, keanehan atau
kelayakan.

c. Gestures
Gestures merupakan bentuk perilaku nonverbal pada gerakan tangan,
bahu, jari- jari. Kita sering menggunakan gerakan anggota tubuh secara
sadar maupun tidak sadar untuk menekankan suatu pesan. Ketika anda
berkata : pohon itu tinggi, atau rumahnya dekat; maka anda pasti
menggerakkan tangan untuk menggambarkan deskripsi verbalnya. Pada
saat anda mengatakan : letakkan barang itu! Lihat pada saya! Maka yang
bergerak adalah telunjuk yang menunjukkan arah. Ternyata manusia
mempunyai banyak cara dan bervariasi dalam menggerakkan tubuh dan
angota tubuhnya ketika mereka sedang berbicara. Mereka yang cacat
bahkan berkomunikasi hanya dengan tangan saja.

d. Penggunaan Gerakan Tubuh


Mungkin anda juga perlu mengetahui dan mengerti bagaimana gerak
tubuh dipergunakan dalam komunikasi nonverbal. Tanpa diobservasi
sekalipun, ternyata setiap gerakan tubuh mengkomunikasikan fungsi
tertentu. Ekman dan Friesen mengkategorikannya sebagai emblem,
illustrator, affect display, regulator, adaptor.
1) Emblem
Emblem merupakan terjemahan pesan nonverbal yang melukiskan
suatu makna bagi suatu kelompok sosial. Tanda V menunjukkan
suatu tanda kekuatan dan kemenangan yang biasanya dipakai
dalam kampanye presiden di Amerika Serikat. Atau di Indonesia
dipakai untuk menunjukkan kemenangan Golkar. Emblem harus
dipelajari melalui proses yang mungkin saja merupakan bentuk lain
dari arbitrary, iconic dalam perlambangan saja
2) Ilustrator
Ilustrator merupakan tanda-tanda nonverbal dalam komunikasi. Tanda
ini merupakan gerakan anggota tubuh yang menjelaskan atau
menunjukkan contoh sesuatu. Seorang ibu melukiskan bahwa Aris,

24
putranya yang sekolah di SMA Negeri , mempunyai tinggi badan
tertentu, memiliki kegemaran dan lain-lain . Sang ibu menaik
turunkan tangannya.

3) Adaptor
Adaptor merupakan gerakan anggota tubuh yang bersifat spesifik.
Pada mulanya gerakan ini berfungsi untuk menyebarkan atau
membagi ketegangan anggota tubuh, misalnya meliuk-liukan tubuh,
memulas tubuh, menggaruk kepala, loncatan kaki. Ada beberapa
jenis adaptor yaitu : (1) self adaptor misalnya menggaruk kepala untuk
menunjukkan kebingungan; (2) alter adaptors; geraka nadaptor yang
diarahkan kepada orang lain, mengusap-usao kepala orang lain
sebagai tanda kasih sayang; (3) obyek adaptor; adalah gerakan
adaptor yang diarahkan kepada obyek tertentu.
Gerakan adaptor sebenarnya gerakan seseorang yang
menggambarkan perilaku ikonik dan intrinsic yang kadang-kadang
secara sadar dilakukan terhadap dirinya sendiri; kecuali untuk
orang lain maka adaptor bertujuan menumbuhkan interaksi
dan komunikasi.
4) Regulator
Regulator adalah gerakan yang berfungsi mengarahkan, mengawasi,
mengkoordinasi interaksi dnegan seksama. Sebagai contoh, kita
menggunkan kontak mata sebagai tanda untuk memperhatikan orang
lain yang sedang berbicar dan mendengarkan orang lain. Regulator
merupakan tanda utama yang bersifat interaktif, bentuknya ikonik
dan intrinsik.

(e). Affect Display


Perilaku affect display selalu menggambarkan perasaan dan emosi.
Wajah merupakan media yang paling digunakan untuk menunjukkan
reaksi terhadap pesan yang direspon. Bentuk affect display bersifat
intrinsik yang digunaka nuntuk fungsi interaktif dan informatif.
Beberapa contoh perilaku gerakan anggota tubuh dapat terlihat
sebagai berikut. Kalau di Amerika atau di Eropa continental anda

25
boleh menggunakan tanda V sebagai lambang kemenangan (Victory)
yang dipopulerkan Winston Churchill maka di Afrika Selatan V tidak
boleh anda gunakan. Di Afrika Selatan pun anda diharapkan tidak
memasukkan ibu jari diantara telunjuk dan jari tengah. Isyarat-isyarat
tangan sebaiknya dihindari jika anda bertemu dengan orang
argentina; di Australia ibu jari yang diacungkan merupakan isyarat
yang kasar, dalam pertemuan dengan orang Australia berdirilah tegak
dan gunakan tangan secara sederhana.

Gambar 9. Contoh perilaku anggota tubuh

Di Austria sebaiknya anda menghindari berbicara dengan tangan


dimasukan kedalam saku; sebaiknya di belanda anda boleh
melambaikan tangan bagi orang yang jauh. Yang tidak boleh
dilakukan di belanda adalah mengunyah permen karet atau berdiri
dengan tangan di saku bagi mereka hal itu menggambarkan
kesombongan dan keangkuhan.
Di Chili waktu bercakap sambil duduk merupakan terbaik, namun
hindari isyarat tangan karena hanya pelayan restoran yang dipanggil
dengan lambaian tangan. Tidak hanya tangan di kolombia jangan
menaruh kaki di atas meubel dianggap kurang ajar, karena di
kolombia orang memanggil orang lain dengan melembaikan jari- jari
tangan atau seluruh tangan dan telapaknya mengahadap ke bawah.
Sama dengan di afrika selatan maka di Costarica jangan

26
mengepalkan tangan dengan ibu jari tersembul diantara telunjuk dan
jari tengah. Pada waktu makan kedua tangan harus ada di tatas meja.
Di Elsavador jangan menunjuk seseorang dengan jari tangan atau
mengarahkan kaki kearah orang lain. Hanya teman akrab yang
dipanggil dengan tangan. Di Inggris isyarat berlebihan seperti
menepuk punggung atau merangkul bahu dengan lengan harus
dihindari.

e. Jenis-Jenis Komunikasi Nonverbal


Menurut Jandt (1998: 99) sebagaimana yang dikutip Yosal Iriantara
dalam bukunya Komunikasi Antarpribadi komunikasi nonverbal terbagi
secara sempit dan luas. Secara sempit komunikasi nonverbal sebagai
penggunaan secara intensional seperti dalam penggunaan simbol
nonlisan untuk mengkomunikasikan pesan tertentu. Dari perspektif ini,
komunikasi nonverbal merujuk pada tindakan sumber dan atribut-atribut
yang tak sepenuhnya bersifat verbal. Sedangkan secara luas
komunikasi nonverbal mengacu pada unsur-unsur lingkungan yang
dipergunakan manusia dalam berkomunikasi, seperti warna dinding
tempat percakapan berlangsung (Iriantara, 2014: 2.5). Fitur nonverbal
mempengaruhi makna dari kata-kata kita.
Jenis-jenis komunikasi verbal menurut Jandt (1998) dalam (Iriantara,
2014: 2.9-2.110) adalah sebagai berikut;
1) Proxemics (Kedekatan), Istilah ini berasal dari Edward Hall yang
mengambilnya dari kata Proximity (kedekatan) untuk menunjukan
adanya ruang atau tetorial baku dan ruang personal yang kita
gunakan dalam berkomunikasi.
2) Kinesics (Kinesik), Istilah ini digunakan untuk menunjukan gerak-
gerik atau sikap tubuh (gestures), gerak tubuh (body movement),
ekspresi wajah, dan kontak mata.
3) Chronemics (Kronemik), Istilah ini berkaitan dengan waktu. Ada
yang memandang waktu itu berjalan linier atau mengikuti garis
lurus yang bergerak dari titik awal menuju titik akhir.
4) Paralanguage (Parabahasa), Istilah ini menunjuk pada unsur-unsur
nonverbal sauara dalam percakapan verbal.

27
5) Kebisuan, Istilah ini dipandang agak membingungkan karena
membisu dipandang tidak berkomunikasi. Namun sebenarnya,
dalam kebisuan orang mengkomunikasikan sesuatu.
6) Haptics, Istilah ini berkaitan dengan penggunaan sentuhan dalam
berkomunikasi.
7) Tampilan Fisik dan Busana, Istilah ini menunjukan pesan nonverbal
dapat juga berupa tampilan fisik dan busana yang dikenakan.
8) Olfactics, Istilah ini berkaitan dengan penggunaan indera
penciuman dalam berkomunikasi nonverbal. Bukan hanya bau
wangi parfum, tetapi juga bau badan berpengaruh terhadap
komunikasi.
9) Oculesics, Istilah ini menunjuk pada pesan yang disampaikan
melalui mata.

Dengan demikian, komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan-


pesan nonverbal merupakan bagian dari setiap bentuk komunikasi
manusia. Tanpa ada pesan nonverbal, kita akan merasakan komunikasi
berlangsung hambar dan dingin karena fungsi komunikasi nonverbal yang
amat penting dalam kegiatan komunikasi.

2. Berkomunikasi sesuai dengan potensi, lingkungan dan


kemampuan peserta didik
Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan atau planning dan manajemen
untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut
strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja
melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.
Demikian pula dengan strategi komunikasi yang merupakan perpaduan antara
perencanaan komunikasi dengan menajemen komunikasi untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan
bagaimana operasional praktis yang harus dilakukan, dalam arti bahwa
pendekatan bisa berbeda-beda sewaktu-waktu tergantung pada situasi dan
kondisi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan
komunikasi yaitu;

28
a. Mengenali sasaran komunikasi

Sebelum melakukan komunikasi seseorang perlu mengetahui dan


memahami siapa saja yang akan menjadi sasaran komunikasi tersebut.
Sudah tentu ini tergantung pada tujuan komunikasi apakah agar komunikan
hanya sekedar mengetahui ataukah agar komunikan melakukan tindakan
tertentu. Apapun tujuan, metode, dan banyaknya sasaran, pada diri
komunikan perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
1) Kerangka referensi seseorang terbentuk dalam dirinya sebagai hasil
dari perpaduan pengalaman, pendidikan, cita-cita, gaya hidup, norma
hidup, status sosial, ideologi, dan lain-lain.
2) Situasi dan kondisi: faktor situasi ini terjadi pada saat komunikan akan
menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator. Sedangkan yang
dimaksud kondisi adalah keadaan fisik dan psikis komunikan pada saat
ia sedang menyampaikan atau menerima pesan komunikasi.
Komunikasi kita tidak akan efektif jika komunikan sedang marah, sedih,
bingung, sakit, atau lapar.
3) Pemilihan media komunikasi dapat dilakukan karena ada berbagai
macam media komunikasi mulai dari yang tradisional sampai dengan
modern. Untuk mencapai sasaran komunikasi kita bisa memilih salah
satu atau menggabungkan beberapa media untuk mencapai tujuan
yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang
akan dipergunakan. Peran media sangatlah penting untuk membantu
proses komunikasi.
4) Penentuan tujuan berkomunikasi sangat penting bagi komunikator
dalam berkomunikasi karena akan digunakan sebagai dasar untuk
menentukan teknik yang akan diambil.
5) Peranan komunikator dalam komunikasi yang harus memperhatikan
beberapa faktor :
a) Daya tarik sumber
Seorang komunikator akan berhasil dalam komunikasi jika mampu
mengubah sikap, opini, dan perilaku komunikan melalui mekanisme
daya tarik, yakni ketika pihak komunikan merasa bahwa
komunikator ikut serta dengannya.

29
Gambar 10 Contoh daya tarik komunikator

b) Kredibilitas sumber
c) Faktor kedua yang bisa menyebabkan komunikasi berhasil adalah
kepercayaan komunikan pada komunikator. Kepercayaan ini banyak
bersangkutan dengan profesi keahlian yang dimiliki seorang
komunikator.
Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran banyak ditentukan oleh
keaktifan antara pendidik dan peserta didik dalam bentuk timbal balik
berupa pertanyaan, jawaban pertanyaan atau berupa perbuatan baik
secara fisik maupun secara mental. Adanya umpan balik ini
memungkinkan pembelajar mengadakan perbaikan-perbaikan cara
komunikasi yang pernah dilakukan. Keefektifan komunikasi dapat
mengambarkan kemampuan orang dalam menciptakan suatu pesan
dengan tepat, yaitu pengirim pesan dapat mengetahui bahwa penerima
pesan mampu menginterprestasikan sama dengan apa yang
dimaksudkan oleh si pengirim.

Selain itu keefektifan pembelajaran sangat ditentukan oleh adanya


perhatian dan minat pebelajar. Ini sesuai dengan model AIDA
singkatan dari Attention (perhatian ), Interest (minat), Desire (hasrat),
dan Action (kegiatan) . Maksudnya agar terjadi kegiatan pada diri
pebelajar sebagai komunikan, maka terlebih dahulu harus dibangkitkan
perhatian dan minatnya kemudian dilanjutkan dengan penyajian bahan.
Dengan demikian timbul hasratnya untuk melaksanakan kegiatan,
sehingga walaupun persepsinya tidak terlalu sama dalam menerima

30
pesan tetapi perbedaannya tidak terlalu banyak. Karena secara
psikologis setiap orang akan menanggapi dan memberi makna yang
berbeda-beda sesuai dengan karakternya masing-masing.

Komunikasi yang jelas dalam sebuah pembelajaran adalah salah satu


syarat bahwa pembelajaran berlangsung efektif. Jadi bila kita ingin
menjadi pendidik yang efektif, marilah kita bersama-sama memperbaiki
kemampuan kita berkomunikasi kepada peserta didik dalam setiap
pembelajaran. Ada beberapa komponen dalam komunikasi
pembelajaran yang efektif yaitu : penggunaan terminologi yang tepat,
presentasi yang berkesinambungan dan sistematis, sinyal transisi atau
perpindahan topik bahasan, tekanan pada bagian-bagian penting
pembelajaran, kesesuaian antara tingkah laku komunikasi verbal
dengan tingkah laku komunikasi nonverbal.

b. Strategi meningkatkan komunikasi

Dalam proses belajar mengajar di sekolah, berbagai pendekatan yang


digunakan guru dalam mendidik para pelajar. Ada kalanya guru bagaikan
seorang bos atau raja yang hanya mengarah dan memerintah pelajar
menurut kehendaknya. Ada juga guru mengajak para pelajar bersama-
sama menyelesaikan topik yang dibincangkan. Namun kesemua kaedah itu
berguna dan bermanfaat sesuai dengan keadaan. Seorang guru yang
ditakuti pada dasarnya dianggap tidak berhasil dalam menjalankan
komunikasi efektif, karena tanpa komunikasi yang baik, hasil yang dituai
juga tidak akan memuaskan. Minimal lima strategi yang dapat
dikembangkan dalam upaya untuk menciptakan/mambangun komunikasi
efektif dalam pembelajaran atau proses belajar mengajar, seperti disebutkan
berikut ini:
1) Respect adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran
pesan yang kita sampaikan. Seorang pendidik harus bisa menghargai
setiap peserta didik yang dihadapinya. Rasa hormat dan saling
menghargai merupakan syarat mutlak dalam berkomunikasi dengan
orang lain. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap
saling menghargai dan menghormati maka kita dapat membangun
kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan

31
efektivitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan
sebagai tim.

Gambar 11 Strategi meningkatkan komunikasi

2) Menurut Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and


Influence People, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip
dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan
penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang psikolog yang sangat terkenal
William James juga mengatakan bahwa Prinsip paling dalam dari sifat
dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai. Berikan sebuah
penghargaan yang tulus kepada masingmasing peserta didik. Sehingga
peserta didik dapat membedakan antara perlakuan yang tulus dan tidak
tulus. Ketika memberikan penghargaan maka Anda sebagai seorang
pendidik akan dihargai oleh peserta didik.
3) Emphaty, kemampuan menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang
dihadapi orang lain. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi didunia
pendidikan. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan,
perilaku, dan keinginan dari peserta didik. Rasa empati akan
menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan
membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam
membangun sebuah suasana kondusif di dalam proses belajar-mengajar.

32
Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita
perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita.
Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada
halangan psikologi atau penolakan dari penerima.
4) Audible berarti dapat didengarkan atau bisa dimengerti dengan baik.
Sebuah pesan harus dapat disampaikan dengan cara atau sikap yang
bisa diterima oleh si penerima pesan. Raut muka yang cerah, bahasa
tubuh yang baik, kata-kata yang sopan, atau cara menunjuk, termasuk ke
dalam komunikasi audible.
5) Clarity adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak
menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran. Clarity dapat
pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita
perlu mengembangkan sikap terbuka, sehingga dapat menimbulkan rasa
percaya dari penerima pesan. Karena tanpa keterbukaan akan timbul
sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan
antusiasme peserta didik dalam proses belajar-mengajar. Perjelas
maksud Anda dalam mengajar sesuatu, sampaikan secara sistematis dan
teratur, gunakan alat bantu peraga jika memang diperlukan. Semakin
peserta didik merasakan mendapat banyak ilmu dari Anda, maka peserta
didik akan semakin terpacu untuk terus menghadiri dan memperhatikan
pelajaran yang Anda sampaikan. Dengan cara seperti ini peserta didik
tidak akan menganggap lagi proses belajar-mengajar sebagai formalitas
tetapi akan mengganggapnya sebagai sebuah kebutuhan pokok bagi
kehidupannya.
6) Humble atau rendah hati adalah menghargai orang lain, mau mendengar,
menerima kritik, tidak sombong, dan tidak memandang rendah orang lain.
Seperti yang disampaikan Wilbur Schramm dalam Suranto (2005), the
condition of success in communication, yakni kondisi yang harus
dipenuhi jikakita menginginkan agar suatu pesan yang membangkitkan
tanggapan yang kita kehendaki dengan memperhatikan:
a) Pesan harus dirancang dan disampaikan dengan menarik.

b) Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada


pengalaman antara komunikator dan komunikan, sehingga
dimengerti.

33
c) Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan.

d) Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh


kebutuhan komunikan.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana bisa menarik


perhatian komunikan. Dengan mendapatkan perhatian komunikan maka kita
juga akan membuat komunikan tertarik untuk mengetahui isi pesan yang
disampaikan. Penyajian pesan agar menarik, jelas pada awalnya, tergantung
pada packaging pesan sesuai dengan media yang akan digunakan. Saat
menggunakan media cetak misalnya, pesan yang disampaikan haruslah
disajikan dengan menarik. Baik dari segi isi maupun tampilan secara
keseluruhan.
Untuk menjadikan sebuah komunikasi akan menjadi lebih effektif maka perlu
memperhatikan beberapa hal;
a) Berikan kesan bahwa anda antusias berbicara dengan mereka. Ketika
anda memberikan kesan bahwa anda sangat antusias berbicara dengan
mereka dan peduli kepada mereka, anda membuat perasaan mereka
lebih positif dan percaya diri.
b) Ajukan pertanyaan terbuka tentang minat mereka dan galilah sedetail
mungkin sehingga akan membantu mereka memperoleh perspektif baru
tentang diri mereka sendiri dan tujuan hidup mereka.
c) Beradaptasi dengan bahasa tubuh dan perasaan mereka Rasakan
bagaimana perasaan mereka pada saat ini dengan mengamati bahasa
tubuh dan nada suara. Dari sudut pandang ini anda dapat menyesuaikan
kata-kata, bahasa tubuh, dan nada suara anda sehingga mereka akan
merespon lebih positif.
d) Tunjukkan rasa persetujuan: Katakan kepada mereka apa yang anda
kagumi tentang mereka dan mengapa Salah satu cara terbaik untuk
segera berhubungan dengan orang adalah dengan menjadi jujur dan
memberitahu mereka mengapa anda menyukai atau mengagumi
mereka. Jika menyatakan secara langsung dirasakan kurang tepat
cobalah dengan pernyataan tidak langsung. Kedua pendekatan tersebut
bisa sama-sama efektif.

34
e) Dengarkan dengan penuh perhatian semua yang mereka katakan
Jangan terlalu berfokus pada apa yang akan Anda katakan selanjutnya
selagi mereka berbicara. Sebaliknya, dengarkan setiap kata yang
mereka katakan dan responlah serelevan mungkin. Hal ini menunjukkan
bahwa anda benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan dan
anda sepenuhnya terlibat di dalam suasana bersama dengan mereka.
Juga pastikan untuk bertanya setiap kali ada sesuatu yang tidak
mengerti pada hal-hal yang mereka katakan.
f) Beri mereka kontak mata yang lama kontak mata yang kuat
mengkomunikasikan kepada orang lain bahwa anda tidak hanya terpikat
oleh mereka dan apa yang mereka katakan tetapi juga menunjukkan
bahwa anda dapat dipercaya. Ketika dilakukan dengan tidak berlebihan
mereka juga akan menganggap anda yakin pada diri anda sendiri karena
kesediaan anda untuk bertemu mereka secara langsung.
g) Ungkapkan diri anda sebanyak mungkin Salah satu cara terbaik untuk
mendapatkan kepercayaan seseorang adalah dengan mengungkapkan
diri secara terbuka. Bercerita tentang kejadian atau pengalaman yang
menarik dari hidup anda atau hanya menggambarkan contoh lucu dari
kehidupan normal sehari-hari.
h) Berikan kesan bahwa anda berdua berada di tim yang sama Gunakan
kata-kata seperti kami, kita untuk segera membangun sebuah ikatan.
Bila anda menggunakan kata-kata tersebut anda membuatnya tampak
seperti anda dan mereka berada di tim yang sama, sementara orang lain
berada di tim yang berbeda.
i) Berikan mereka senyuman terbaik anda Ketika anda tersenyum pada
orang, anda menyampaikan pesan bahwa anda menyukai mereka dan
kehadiran mereka membawa anda kebahagiaan. Tersenyum pada
mereka akan menyebabkan mereka sadar ingin tersenyum kembali pada
anda yang secara langsung akan membangun hubungan antara anda
berdua.
j) Menawarkan saran yang bermanfaat Kenalkan tempat makan yang
pernah anda kunjungi, film yang anda tonton, orang-orang baik yang
mereka ingin temui, buku yang anda baca, peluang karir atau apa pun
yang terpikirkan oleh anda. Jelaskan apa yang menarik dari orang-

35
orang, tempat atau hal-hal tersebut. Jika anda memberi ide yang cukup
menarik perhatian mereka, mereka akan mencari anda ketika mereka
memerlukan seseorang untuk membantu membuat keputusan tentang
apa yang harus dilakukan selanjutnya.
k) Beri mereka motivasi Jika orang yang anda hadapi lebih muda atau
dalam posisi yang lebih sulit dari anda, mereka mungkin ingin
mendengar beberapa pengalaman . Jika anda ingin memiliki hubungan
yang sehat dengan orang tersebut maka tentu saja tidak ingin tampak
seperti anda memiliki semuanya. Yakinkan mereka bahwa mereka dapat
melampaui masalah dan keterbatasan mereka, sehingga mereka akan
berharap menjadikan anda sebagai teman yang enak untuk diajak
bicara.
l) Tampil dengan tingkat energi yang sedikit lebih tinggi dibanding orang
lain Umumnya, orang ingin berada disekitar orang-orang yang akan
mengangkat mereka, bukannya membawa mereka ke bawah. Jika anda
memiliki tingkat energi yang lebih rendah daripada orang lain maka
mereka secara alami akan menjauh dari Anda. Untuk mencegah hal ini
terjadi tunjukkan dengan suara dan bahasa tubuh anda bahwa anda
memiliki tingkat energi yang sedikit lebih tinggi sehingga mereka akan
merasa lebih bersemangat dan positif berada di sekitar Anda. Namun
jangan juga anda terlalu berlebihan berenergik sehingga menyebabkan
orang-orang tampak seperti tidak berdaya.
m) Sebut nama mereka dengan cara yang menyenangkan telinga mereka
nama seseorang adalah salah satu kata yang memiliki emosional yang
sangat kuat bagi mereka. Tapi hal itu belum tentu seberapa sering anda
menyebutkan nama seseorang namun lebih pada bagaimana anda
mengatakannya. Hal ini dapat membiasakan menyebutkan nama
seseorang untuk satu atau dua menit sampai anda merasakan adanya
emosional yang kuat.
n) Tawarkan untuk menjalani hubungan selangkah lebih maju Ada
beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk memajukan persahabatan
anda dengan seseorang : tawaran untuk makan dengan mereka,
berbicara sambil minum kopi, melihat pertandingan olahraga, dll.
Meskipun jika orang tersebut tidak menerima tawaran anda mereka

36
akan tetap tersanjung bahwa anda ingin mereka menjalani persahabatan
ketingkat yang lebih dalam. Di satu sisi mereka akan memandang anda
karena anda memiliki keberanian untuk membangun persahabatan
bukan mengharapkan persahabatan yang instan.

b. Ketahui tujuan
Tujuan kita berkomunikasi akan sangat menentukan cara kita
menyampaikan informasi tentu komunikasi kita bersifat pengumuman. Tetapi
bila kita bermaksud membeli atau menjual barang komunikasi kita akan
bersifat negosiasi. Lain pula cara kita berkomunikasi apabila tujuan kita
untuk menghibur, membujuk, atau sekedar basa-basi.

c. Perhatikan Konteks
Konteks disini bisa berarti keadaan atau lingkungan pada saat
berkomunikasi. Pada saat berkomunikasi konteks sangat berperan dalam
memperjelas informasi yang disampaikan. Formalitas dalam konteks tertentu
juga dapat mempengaruhi cara berkomunikasi seseorang. Gaya komunikasi
atasan dan bawahan dilingkungan dunia kerja bahkan komunikasi antar
sesama atasan maupun sesama bawahan pasti berbeda. Apabila orang-
orang ini bertemu di luar kantor gaya komunikasi diantara mereka akan
sangat lain dengan gaya pada saat mereka berada dikantor. Mengirim bunga
kepada orang yang berulang tahun atau kepada orang yang kita kasihi akan
berbeda maknanya bila disampaikan kepada orang yang sedang berduka.
Bahkan jenis bunga yang disampaikanpun membawa pesan atau kesan
tersendiri.

d. Pelajari Kultur
Kultur atau budaya, habit atau kebiasaan orang atau masyarakat juga perlu
diperhatikan dalam berkomunikasi.

f. Pahami Bahasa
Karena bahasa menunjukkan bangsa artinya bahasa dapat menjadi identitas
suatu bangsa. Dengan memahami bahasa orang lain berarti berusaha
menghargai orang lain. Tetapi memahami bahasa disini tidak berarti harus
memahami semua bahasa yang dipakai oleh mitra bicara kita. Yang lebih
penting adalah memahami gaya orang lain berbahasa. Untuk memperjelas

37
pesan yang hendak disampaikan dalam berkomunikasi gunakanlah kalimat-
kalimat sederhana yang mudah dipahami. Kalimat panjang dan kompleks
seringkali mengaburkan makna. Kepiawaian dalam menggunakan kalimat-
kalimat yang sederhana dan tepat dalam berbahasa akan sangat
mempengaruhi efektifitas komunikasi kita.

1. Melaksanakan Komunikasi dalam Pembelajaran (Melaksanakan


komunikasi efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik dengan
bahasa yang khas dalam interaksi kegiatan/permainan yang mendidik)

a. Proses Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses bukan sesuatu yang bersifat statis. Komunikasi
memerlukan tempat yang dinamis sehingga menghasilkan perubahan dalam
usaha mencapai hasil yang melibatkan interaksi bersama dalam suatu
kelompok. Pengirim pesan melakukan encode yaitu memformulasikan pesan
yang akan disampaikannya dalam bentuk code yang sedapat mungkin dapat
ditafsirkan oleh penerima pesan. Penerima pesan kemudian menafsirkan atau
men-decode code yang disampaikan oleh pengirim pesan. Jika dilihat dari
prosesnya komunikasi dibedakan atas komunikasi verbal dan komunikasi
nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan bahasa
baik bahasa tulis maupun bahasa lisan. Sedangkan komunikasi nonoverbal
adalah komunikasi yang menggunakan isyarat, gerak gerik, gambar, lambing,
raut muka, dan sejenisnya.
Menurut Endang Lestari G (2003) dalam bukunya yang berjudul Komunikasi
yang Efektif ada dua model proses komunikasi yaitu :

1) Model linier

Model ini menggambarkan sebuah proses yang hanya terdiri dari dua garis
lurus dimana proses komunikasi berawal dari komunikator dan berakhir pada
komunikan. Berkaitan dengan model ini ada yang dinamakan Formula
Laswell. Formula ini merupakan cara untuk menggambarkan sebuah
tindakan komunikasi dengan menjawab pertanyaan: who, says what, in wich
channel, to whom, dan with what effect.

38
2) Model sirkuler

Model ini ditandai dengan adanya 39unsur39 umpan balik (feedback). Pada
hakekatnya model sirkuler ini merupakan proses komunikasi yang berlangsung
dua arah. Melalui model ini dapat diketahui efektif dan tidaknya suatu
komunikasi, karena komunikasi dikatakan efektif apabila terjadi umpan balik
dari pihak penerima pesan.

Proses komunikasi dapat berlangsung satu arah dan dua arah. Komunikasi yang
efektif adalah komunikasi yang terjadi adanya arus informasi dua arah, yaitu
dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Dalam proses
komunikasi yang baik akan terjadi tahapan pemaknaan terhadap pesan
(meaning) yang akan disampaikan oleh komunikator, kemudian komunikator
melakukan proses encoding, yaitu interpretasi atau mempersepsikan makna dari
pesan tadi, dan selanjutnya dikirim kepada komunikan melalui channel yang
dipilih. Pihak komunikan menerima informasi dari pengirim dengan melakukan
proses decoding, yaitu menginterpretasi pesan yang diterima, dan kemudian
memahaminya sesuai dengan maksud komunikator. Sinkronisasi pemahaman
antara komunikan dengan komunikator akan menimbulkan respon yang disebut
dengan umpan balik.

b. Desain Pesan dalam Pembelajaran

Pembelajaran merupakan sebuah proses komunikasi yang dilakukan secara


sengaja dan terencana, karena memiliki tujuan yang telah ditetapkan terlebih
dahulu. Agar pesan pembelajaran yang ingin ditransformasikan dapat sampai
dengan baik, maka perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut;
Malcolm sebagaimana disampaikan oleh Abdul Gaffur dalam handout kuliah
Teknologi Pendidikan PPs UNY (2006) menyarankan agar pendidik perlu
mendesain pesan pembelajaran tersebut dengan memperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut :
1) Kesiapan dan motivasi.

Kesiapan disini mencakup kesiapan mental dan fisik. Untuk mengetahui


kesiapan peserta didik dalam menerima belajar dapat dilakukan dengan
pree tes 39atau tes prasyarat. Ada dua jenis motivasi yaitu internal dan
eksternal, yang dapat ditumbuhkan dengan pemberian penghargaan,

39
hukuman, serta deskripsi mengenai keuntungan dan kerugian dari
pembelajaran yang akan dilakukan.
2) Alat Penarik Perhatian

Pada dasarnya perhatian manusia adalah sangat flrksibel dan cenderung


sering berubah-ubah. Sehingga dalam mendesain pesan belajar, pendidik
harus pandai-pandai membuat daya tarik guna mengendalikan perhatian
peserta didik pada saat belajar. Sedangkan penarik perhatian dapat
dilakukan melalui: warna, efek , pergerakan/perubahan, humor, kejutan,
ilustrasi verbal dan visual, serta sesuatu yang aneh.
3) Partisipasi aktif peserta didik

Pendidik harus mampu dan berusaha untuk membuat peserta didik aktif
dalam proses pembelajaran. Salah satu cara untuk menumbuhkan keaktifan
peserta didik dapat melakukan rangsangan-rangsangan berupa : 40tanya
jawab, praktik dan latihan, drill, membuat ringkasan, kritik dan komentar,
serta pemberian tugas proyek.
4) Pengulangan

Agar peserta didik dapat menerima dan memahami materi dengan baik,
maka penyampaian materi sebaiknya dilakukan berulang kali.
5) Umpan Balik

Dalam proses pembelajaran sebagaimana yang terjadi pada komunikasi


perlu adanya umpan balik yang tepat dan sesuai. Sehingga Umpan balik
tersebut dapat memotivasi dan memberikan semangat bagi peserta didik.
Umpan balik yang diberikan dapat berupa : informasi kemajuan belajar
peserta didik, penguatan terhadap jawaban benar, meluruskan jawaban
yang keliru, komentar terhadap pekerjaan peserta didik, dan dapat pula
melakukan umpan balik yang menyeluruh terhadap performansi peserta
didik.
6) Materi relevan degan peserta didik

Agar materi pelajaran yang diterima peserta belajar tidak menimbulkan


kebingungan atau bias dalam pemahaman, maka sedapat mungkin harus
dihindari materi-materi yang tidak relevan dengan yang dibicarakan. Dalam
mendesain pesan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : materi yang

40
disajikan hanyalah informasi yang penting, memberikan outline materi,
memberikan konsep-konsep kunci yang akan dipelajari, membuang
informasi distraktor, dan memberikan materi untuk diskusi.

2. Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran

Komunikasi yang efektif terjadi apabila terdapat aliran informasi dari dua arah
antara komunikator dengan komunikan dan informasi tersebut sama-sama
direspon dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut memahaminya. Ada
5 aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif, yaitu :
a) Kejelasan dalam berkomunikasi harus menggunakan bahasa dan
mengemas informasi secara jelas sehingga mudah diterima dan dipahami.

b) Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar


dan kebenaran informasi yang disampaikan.

c) Konteks atau sering disebut dengan situasi, adalah bahasa dan informasi
yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana
komunikasi itu terjadi.

d) Alur bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur
atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat
tanggap

e) Komunikasi tidak hanya berhubungan dengan bahasa saja tetapi perlu


memperhatikan tatakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus
menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik
dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak
menimbulkan kesalahan persepsi. (Endang Lestari G : 2003)

Menurut Santoso Sastropoetro dalam (Riyono Pratikno : 1987) berkomunkasi


efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki
pengertian yang sama tentang suatu pesan, atau sering disebut dengan the
communication is in tune. Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, harus
dipenuhi beberapa syarat :
a) menciptakan suasana komunikasi yang menguntungkan

b) menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti

c) pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi


pihak komunikan

41
d) pesan dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat
menguntungkan

e) pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan.

Dalam sebuah proses pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika


pesan yang merupakan materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik
dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif
dari peserta didik. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung
dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang
pendidik. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung
secara informal antara dua orang individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati
ke hati, karena diantara keduabelah pihak terdapat hubungan saling
mempercayai. Komunikasi antar pribadi akan berlangsung efektif apabila pihak
yang berkomunikasi menguasai keterampilan komunikasi antar pribadi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu
keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan
peserta didik. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat
tergantung dari kedua belah pihak. Keberhasilan pengajar dalam mengemban
tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan
komunikasi ini.
Sokolove dan Sadker seperti dikutip IGAK Wardani (2005) dalam bukunya
membagi keterampilan antar pribadi dalam pembelajaran menjadi tiga kelompok,
yaitu :
a) Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan peserta didik. Kemampuan
yang berkaitan dengan penciptaan iklim yang positif dalam proses belajar
mengajar. Pendidik mampu memotivasi peserta didik untuk dapat
mengungkapkan perasaan atau masalah yang dihadapinya tanpa merasa
dipaksa atau dipojokkan. Iklim semacam ini dapat ditumbuhkan oleh
pendidik dengan dua cara yaitu menunjukkan sikap memperhatikan dan
mendengarkan dengan aktif. Untuk menumbuhkan iklim semacam ini
pendidik harus bersikap : memberi dorongan positif, bertanya yang tidak
memojokkan, dan fleksibel.
b) Kemampuan menjelaskan perasaan yang diungkapkan peserta didik.
Apabila peserta didik telah bebas mengungkapkan problem yang

42
dihadapinya selanjutnya tugas pendidik adalah membantu mengklarifikasi
ungkapan perasaan mereka tersebut. Untuk kepentingan ini, pendidik perlu
menguasai dua jenis keterampilan, yaitu merefleksikan dan mengajukan
pertanyaan inventori. Pertanyaan inventori adalah pertanyaan yang
menyebabkan orang melacak pikiran, perasaan dan perbuatannya sendiri,
serta menilai kefektifan dari perbuatan tersebut. Pertanyaan inventori dapat
digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu pertanyaan yang menuntut peserta
didik untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, pertanyaan yang
menggiring peserta didik untuk mengidentifikasi pola-pola perasaan, pikiran,
dan perbuatannya, dan pertanyaan yang menggiring peserta didik untuk
mengidentifikasi konsekuensi/akibat dari perasaan, pikiran, dan
perbuatannya.
Agar dapat merefleksikan ungkapan perasaan peserta didik secara efektif,
pengajar perlu mengingat hal-hal berikut :
a) Hindari prasangka terhadap pembicara atau yang dibicarakan.

b) Perhatikan dengan cermat semua pesan verbal maupun nonoverbal dari


pembicara.

c) Lihat, dengar, dan rekam dalam hati, kata-kata/perilaku khas yang


diperlihatkan pembicara.

d) Bedakan/simpulkan kata-kata/pesan yang bersifat emosional.

e) Beri tanggapan dengan cara memparaphrase kata-kata yang diucapkan,


menggambarkan perilaku khusus yang diperlihatkan, dan tanggapan
mengenai kedua hal tersebut.

f) Jaga nada suara, jangan sampai berteriak, menghakimi, atau seperti


memusuhi.

g) Meminta klarifikasi terhadap pertanyaan atau pernyataan yang


disampaikan.

h) Mendorong Peserta didik untuk Memilih Perilaku Alternatif.

Komunikasi dan interaksi didalam kelas dan diluar kelas sangat menentukan
efektivitas dan mutu pendidikan. Pendidik mempunyai peran untuk menjelaskan
sedang peserta didik yang bertanya, berbicara dan mendengarkan yang terjadi
silih berganti, semuanya itu merupakan bagian dari pendidikan yang penting
serta berlaku dalam kehidupan. Bertanya pun harus jelas serta menggunakan

43
bahasa yang baik dan benar, supaya diperoleh jawaban yang baik dan benar
pula. Mereka yang pandai mendengarkan sangatlah beruntung karena dapat
belajar dan mendapatkan informasi lebih banyak. Peserta didik hendaknya diberi
motivasi untuk bertanya tentang sesuatu yang belum jelas atau masih
memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dengan demikian pendidik dipacu untuk
senantiasa mengikuti perkembangan dan peserta didik memahami semua materi
yang dibahas.
Keberhasilan pendidikan salah satu faktornya tidak lepas dari keberhasilan
proses pembelajaran. Ketika proses pembelajaran didukung oleh kemampuan
pendidik dalam memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi dan berkontribusi
serta keterlibatan dalam pembelajaran. Jika proses pembelajaran sangat menarik
maka peserta didik akan merasa senang dan merasa perlu mengikuti proses
belajar mengajar. Secara tidak langsung pendidik akan meningkatkan
kemampuan berkomunikasi serta dapat membaca pikiran atau gagasan peserta
didik. Jika dalam pembelajaran terjadi komunikasi yang efektif antara pengajar
dengan peserta didik, maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran tersebut
berhasil.

3. Teknik bertanya

Teknik bertanya dan memberikan motivasi merupakan bagian penting dalam


kegiatan pembelajaran. Ketika seseorang mengajukan pertanyaan maka harus
sesuai dengan materi yang telah diberikan kepada peserta didik, jika pertanyaan
yang diajukan keluar dari materi akan membuat peserta didik mengalami
kesulitan akibatnya, peserta didik akan mencap dirinya tidak berada dalam
pelajaran tersebut. Untuk itu agar tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai
pendidik mestinya mempunyai kemampuan untuk menentukan strategi yang
tepat terutama dalam mengajukan pertanyaan kepada peserta didik sesuai
materi yang telah diajarkan sebelumnya, gunanya untuk mengukur sejauh mana
kemampuan peserta didik dalam mendapat materi yang diajarkan, bagi peserta
didik yang mempunyai kemampuan yang kurang maka pendidik harus terampil
menentukan strategi dengan memberikan motivasi dan semangat sehingga
kesulitan peserta didik dapat teratasi.
Mengajukan pertanyaan yang tepat adalah jantung komunikasi efektif dan
pertukaran informasi. Dengan menggunakan pertanyaan yang tepat dalam

44
situasi tertentu, Anda dapat meningkatkan berbagai macam keterampilan
komunikasi: misalnya, Anda dapat mengumpulkan informasi yang lebih baik dan
belajar lebih banyak, Anda dapat membangun hubungan yang lebih kuat, lebih
efektif mengelola orang dan membantu orang lain untuk belajar juga.
Ada beberapa beberapa teknik pertanyaan umum yang dapat Anda gunakan
untuk meningkatkan keterampilan komunikasi Anda.
a. Teknik Pertanyaan tertutup dan terbuka

Sebuah pertanyaan tertutup biasanya digunakan untuk menggali informasi yang


sifatnya singkat. Dalam pertanyaan tertutup pada umumnya responden tidak
diberikan banyak pilihan jawaban. Berikut adalah beberapa contoh pertanyaan
tertutup.
1) Apa pekerjaan Anda?
2) Di mana Anda tinggal?
3) Apakah Anda setuju dengan keputusan tersebut?
4) Apakah Anda suka politik?
Sedangkan pertanyaan terbuka biasanya digunakan untuk menggali informasi
yang lebih luas. Biasanya pertanyaan ini dimulai dengan apa, mengapa, dan
bagaimana. Sebuah pertanyaan terbuka memungkinkan respon untuk
memberikan jawaban yang luas, responden bebas mengutarakan pendapat,
gagasan atau pengetahuannya mengenai sesuatu. Berikan adalah beberapa
contoh pertanyaan terbuka.
1) Apa masalah yang Anda hadapi?
2) Apa yang akan Anda lakukan, bila masalah tersebut menimpa Anda?
3) Bisakah Anda jelaskan bagaimana langkah-langkah membangun usaha?
4) Apa saja hambatan dalam memulai sebuah usaha?
5) Bisakah Anda menjelaskan mengapa Anda lebih memilih bisnis online?
Dalam komunikasi yang efektif, pertanyaan terbuka lebih efektif penggunaannya
untuk membuka ruang hubungan yang lebih dalam dan terbuka. Meskipun begitu
pertanyaan tertutup tetap bisa digunakan , hanya saja kita harus tahu kapan
seharusnya pertanyaan tersebut diajukan.
b. Teknik Pertanyaan retoris

Pertanyaan retoris adalah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban dari


responden. Biasanya pertanyaan retoris digunakan oleh presenter atau public

45
speaker dalam presentasi atau pidato atau para penulis untuk mencapai efek
yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar. Berikut adalah contoh dari
pertanyaan retoris
1) Apakah mungkin kita bisa menjadi pendidik yang hebat dan disukai
peserta didik? jika kita tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan efektif?

2) Apakah kita mau mengambil resiko dengan membiarkan diri kita


terjerumus dalam narkoba?

3) Apakah kita bisa jadi penulis yang lebih baik, jika kenyataannya kita
jarang menulis?

c. Teknik Pertanyaan Menggali (Probing Question)

Pertanyaan menggali adalah pertanyaan yang diarahkan untuk mendorong


responden untuk menambah kualitas dan kuantitas pertanyaan. Pertanyaan jenis
ini biasanya digunakan untuk mencari tahu informasi yang lebih detail tentang
suatu hal atau sekedar untuk memahami pernyataan yang telah dibuat oleh
responden. Berikut adalah contoh pertanyaan menggali
Masih adakah hal-hal yang perlu saya lakukan untuk mengoptimalkan pekerjaan
ini?
Bisakah Anda jelaskan apa yang Anda maksud dengan kebebasan finansial
Pertanyaan menggali baik untuk mendapatkan klarifikasi untuk memastikan Anda
memiliki seluruh cerita atau informasi secara menyeluruh dan untuk menggali
informasi dari orang yang mencoba untuk memberikan informasi yang terbatas.
d. Pertanyaan Evaluasi

Pertanyaan evaluasi adalah pertanyaan yang menghendaki jawaban dengan


cara memberikan penilaian atau tanggapan mengenai suatu isu. Berikut adalah
contoh pertanyaan evaluasi?
1) Menurut Anda bagaimana kerja KPK saat ini dalam memberantas
korupsi?

2) Bagaimana pendapat Anda tentang program membangun desa yang


dikembangkan oleh Bapak Bupati?

e. Pertanyaan aplikatif

Pertanyaan aplikatif adalah pertanyaan yang menghendaki jawaban agar


responden dapat menerapkan pengetahuan yang mereka miliki. Berikut adalah
contoh pertanyaan aplikatif.

46
1) Bisakah Anda menjelaskan cara penggunaan alat ini?

2) Anda sudah bertahun-tahun belajar tentang presentasi, sekarang bisakah


Anda menjelaskan pada saya bagaimana cara terbaik untuk membuka
presentasi?

Demikianlah beberapa teknik mengajukan pertanyaan yang efektif. Untuk hasil


yang terbaik pastikan bahwa Anda selalu memberi ruang cukup bagi responden
untuk memberikan jawaban yang terbaik. Di samping itu Anda juga harus
menjadi pendengar yang baik, supaya Anda memahami jawaban yang mereka
berikan.
f. Tipe-tipe pertanyaan
Tipe-tipe pertanyaan yang pendidik dan peserta didik ajukan dalam kegiatan
pembelajaran seharusnya merujuk pada tujuan kognitif dan afektif dari
pembelajaran yang dilakukan. Dalam perencanaan pembelajaran seorang
pendidik semestinya mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan
ditanyakan kepada peserta didik sebagai bagian dari penilaian awal dan akhir
pembelajaran. Pendidik seyogianya pula mengembangkan alternatif pertanyaan
sebagai pelengkap dalam kerangka perencanan strategi pembelajaranya.
Sebelum pendidik mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan
tujuan pembelajaran kepada peserta didik, mereka sebaiknya
mencobakan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk
dijawab sendiri. Apakah kedalaman materinya waktu yang diperlukan
untuk berfikir dan menjawab pertanyaan yang diberikan sesuai dengan
harapan? Hal itu dimaksudkan untuk menjadi panduan para pendidik
dalam memformulasikan tujuan pembelajaran yang tepat dan proporsional.
Sehingga akan membantu proses pembelajaran khususnya dalam
mengantisipasi masalah-masalah yang dihadapi pendidik dalam kegiatan
pembelajaran. Karena sangat tidak mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut
diajukan oleh peserta didik ketika pembelajaran berlangsung dan pendidik
mengalami kesulitan bahkan tidak sanggup menjawabnya.
Dalam sebuah pembelajaran pertanyaan yang ditujukan kepada peserta didik
seharusnya memperhatikan tingkat kesukaran pertanyaan tersebut. Tingkat
kesukaran pertanyaan semestinya disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki
oleh peserta didik yang bersangkutan. Peserta didik yang mempunyai

47
kemampuan rendah sebaiknya terlebih dahulu diberi pertanyaan yang berkaitan
dengan pengetahuan tentang fakta dan keterampilan. Kemudian mereka diberi
pertanyaan yang mempunyai tingkat kognitif yang lebih tinggi; misalkan
pengetahuan tentang konsep atau prinsip. Sebaliknya para peserta didik yang
mempunyai kemampuan diatas rata-rata sebaiknya diberi pertanyaan-pertanyaan
yang tingkat kognitifnya berkategori sedang dan tinggi. Ketika pertanyaaan
diberikan kepada peserta didik, pendidik sebaiknyamemberi kesempatan kepada
semua peserta didik terlibat mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Pertimbangaan pula bahwa respon pendidik terhadap jawaban peserta didik
harus proporsional. Karena respon pendidik terhadap jawaban peserta didik yang
tidak tepat akan membuat peserta didik yang bersangkutan tidak termotivasi
dalam kegiatan Tanya jawab.
Jenis pertanyaan yang diberikan sebaiknya bervariasi, baik model, bentuk,
maupun tingkat kesukarannya. Strategi pemberian pertanyaan dalam
pembelajaran akan meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar selama
diberikan secara efektif dan proposional. Pemberian pertanyaan oleh pendidik
semestinya dipersiapkan secara matang dan tidak bersifat spontan. Respon
pendidik terhadap jawaban peserta didik harus bijaksana dan proporsional agar
peserta didik nyaman dan mendapat manfaat respon dari pendidik tersebut.

3. Rangkuman

a. Komunikasi secara umum merupakan suatu proses penyampaian


penerimaan pesan antar dua orang atau lebih. Pesan yang disampaikan dapat
berupa komunikasi lisan, komunukasi tulisan, komunikasi verbal, komunikasi non
verbal. Komunikasi tulisan suatu proses penyampaian pesan komunikasi dengan
menggunakan kata-kata dalam bentuk tulisan yang memilki makna tertentu. Jadi
dapat dikatakan bahwa komunikasi tulisan adalah kegiatan komunikasi yang
menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili
komunikasi lisan termasuk kedalamnya adalah menulis dan membaca.

b. Komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran sangat berdampak


terhadap keberhasilan pencapaian tujuan. Komunikasi dikatakan efektif apabila
terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan
informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku

48
komunikasi tersebut. Jika dalam pembelajaran terjadi komunikasi yang efektif
antara pengajar dengan peserta, maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran
tersebut berhasil. Sehubungan dengan hal tersebut, maka para pendidik, atau
instruktur pada lembaga-lembaga pendidikan harus memiliki kemampuan
komunikasi yang baik. Kemampuan komunikasi yang dimaksud dapat berupa
kemampuan memahami dan mendesain informasi, memilih dan menggunakan
saluran atau media, serta kemampuan komunikasi antar pribadi dalam proses
pembelajaran.

c. Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi


pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta
didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan
tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik.
Pengajar adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya
komunikasi yang efektif dalam pembelajara

49
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dengan menguasai dan mengembangkan beberapa strategi dan teknik


berkomunikasi secara otomatis akan meningkatkan kemampuan anda untuk
berhubungan dengan berbagai macam orang.

2. Seorang pendidik bisa menciptakan dan mengembangkan komunikasi yang


efektif. Salah satu pengembanganya adalah materi pembelajaran harus bisa
diterima dan mudah dipahami oleh peserta didik. Implementasinya seorang
pendidik dalam komunikasi bisa mendapatkan umpan balik yang positif.

3. Dalam komunikasi pendidikan, seorang pengajar harus mempunyai


komunikasi pribadi yang baik karena ini akan sangat berpengaruh untuk
menciptakan hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didiknya.
Seorang pendidik juga harus mempunyai peranan yang penting untuk bisa
mengendalikan kondisi kelas yang sehat karena ini menjadi tolak ukur
keberhasilan dalam menciptakan komunikasi pendidikan yang efektif.

4. Bahasa tubuh merupakan bagian yang sangat penting dalam komunikasi


manusia yang merupakan bagian komunikasi nonverbal untuk dapat
menyampaikan pesan-pesannya sendiri. Kita bahkan bisa memahami
maksud komunikasi seseorang melalui bahasa tubuhnya. Hal lain yang
penting dari bahasa tubuh dalam komunikasi umumnya dan komunikasi
antar pribadi khususnya adalah membantu efektivitas komunikasi kita.

5. Mengembangkan wawasan pendidik dan sekolah tentang kehidupan anak


sehari-hari. Wawasan, inisiatif, pengelaman, dan kreatifitas orang tua harus
diperhatikan pendidik untuk menjalin kerjasama yang positif sehingga
pengalaman anak di sekolah dapat terintergrasikan secara bermakna dan
relevan ke dalam kehidupan sehari-harinya.

50
B. Tindak Lanjut
Mohon untuk merenungkan kelebihan dan kekurangan materi kegiatan
pembelajaran 1 sampai kegiatan pembelajaran 3 ini.
1. Bagaimanakah pemahaman saudara tentang berkomunikasi secara
efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik?

2. Jika ada materi yang masih dirasakan kurang bagaimana upaya


saudara mengatasi kekurangannya?

3. Jika sudah menguasai, bagaimanakah pemanfaatan materi untuk


meningkatkan profesionalisme saudara?

51
C. Evaluasi
1. Komunikasi sebagai proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang
dikirimkan dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah
perilakunya adalah definisi komunikasi menurut.;
a. Wilbur Schramm
b. Mulyana
c. Sudjana
d. Evertt M. Rogers
2. Untuk memelihara hubungan dan mengembangkan kedekatan atau
keakraban. Melalui komunikasi kita berkeinginan untuk menjalin rasa cinta
dan kasih sayang adalah;
a. Prinsip komunikasi
b. Tujuan Komunikasi
c. Pengertian komunikasi
d. Alat komunikasi
3. Dibawah ini merupakan Jenis-jenis komunikasi;
a. Komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi
kelompok, komunikasi masa
b. Komunikasi intrapersonal, komunikasi internasisonal, komunikasi
kelompok, komunikasi masa
c. Komunikasi intrapersonal, komunikasi ekstrapersonal, komunikasi
kelompok, komunikasi masa
d. Komunikasi intrapersonal, komunikasi ekstrapersonal, komunikasi
intrapersonal, komunikasi masa
4. Bagan dibawah ini yang menggambarkan sebuah proses komunikasi
adalah:
a.

52
b.

c.

d.

5. Lima tahapan hubungan interpersonal yang dikemukakan DeVito (1986)


berlangsung dalam beberapa tahap yaitu;
a. kontak, pendekatan, keakraban, perusakan dan pemutusan
b. kontak, pendekatan, keakraban, kerja sama dan pemutusan
c. kontak, keterlibatan, keakraban, pemulihan dan pemutusan
d. kontak, keterlibatan, keakraban, perusakan dan pemutusan
6. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mendengarkan efektif adalah :
a. Mendengarkan dengan menangkap ungkapan nonverbal sebaik isyarat
verbal.
b. Penerima pesan mengecek kembali (perception check) yaitu apa
yang terkandung dalam sebuah pesan yang diterimanya untuk
mengerti pesan apa yang sesungguhnya.
c. Memandang dengan kondisi yang ada terhadap lingkungannya
d. Gambaran perilaku (behavior descriptions) ini merupakan
gambaran individu yang sangat spesifik. Kegiatan pengamatan
kepada orang lain tanpa membuat keputusan atau mengeneralisasi
tentang apa latar belakang dan sifat-sifatnya.
Pernyataan yang di atas yang benar adalah:
a. 1,2,3
b. 2,3,4
c. 1,2,4
d. 1,3,4

53
7. Brownell menyatakan bahwa efektivitas mendengarkan dapat dimengerti
melalui indikator perilaku: seseorang merasa berhubungan dengan
mendengarkan secara efektif dalam enam unsur yang dikenal HURIER
Model
a. Hearing, Understanding, Remembering, Interupting, Evaluating, and
Responding.
b. Handling, Understanding, Remembering, Interpreting, Evaluating, and
Responding
c. Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting, Evaluating, and
Responding
d. Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting, Evaluating, and
researching
8. Teknik yang dapat digunakan dalam meningkatkan effektifitas penampilan
berbicara verbal adalah sebagai berikut:
a. Percaya diri, ucapan kata-kata dengan jelas dan berlahan, berbicara
wajar, menghindari suara monoton, mengatur nafas, membaca
paragraf yang dianggap penting, hindari sindrom(em,ah,anu,apa,dll).
b. Percaya diri, ucapan kata-kata dengan jelas dan berlahan, berbicara
wajar, menghindari tatapan peserta, mengatur nafas, membaca
paragraf yang dianggap penting, hindari sindrom(em,ah,anu,apa,dll).
c. Percaya diri, ucapan kata-kata dengan jelas dan berlahan, berbicara
wajar, menghindari suara monoton, mengatur nafas, membaca
paragraf yang dianggap penting, mengucapkan (em,ah,anu,apa,dll)jika
lupa yang akan disampaikan.
d. Percaya diri, ucapan kata-kata dengan jelas dan berlahan, berbicara
wajar, menghindari suara monoton, menahan nafas, membaca
paragraf yang dianggap penting, hindari sindrom(em,ah,anu,apa,dll).
9. Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi yang efektif:
a. Respect, emphaty, audible, Clearity, humble
b. Respect, emphaty, audible, Clarity, numble
c. Respect, aphatis, audible, Clarity, humble
d. Respect, emphaty, audible, Clarity, humble

54
10. Ada 5 aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang
efektif dalam pembelajaran, yaitu :
a. Kejelasan, ketepatan, konteks, alur, dan budaya
b. Kejelasan, Kecepatan, konteks, alur, dan budaya
c. Kejelasan, ketepatan, konteks, alur, dan konteks
d. Kejelasan, ketepatan, kecepatan, alur, dan konteks

11. Ada beberapa beberapa teknik pertanyaan umum yang dapat Anda
gunakan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi Anda.
a. Teknik Pertanyaan tertutup dan terbuka, teknik pertanyaan storitoris,
teknik pertanyaan menggali, teknik pertanyaan evaluatif, teknik
pertanyaan aplikatif
b. Teknik Pertanyaan tertutup dan terbuka, teknik Pertanyaan stories,
teknik pertanyaan mencari, teknik pertanyaan evaluatif, teknik
pertanyaan aplikatif
c. Teknik Pertanyaan tertutup dan terbuka, teknik Pertanyaan retoris,
teknik pertanyaan menggali, teknik pertanyaan evaluatif, teknik
pertanyaan aplikatif
d. Teknik Pertanyaan tertutup dan terbuka, teknik Pertanyaan retoris,
teknik pertanyaan menggali, teknik pertanyaan evaluatif, teknik
pertanyaan edukatif
12. Ekspresi wajah, mata, anggota badan adalah bagian dari komunikasi :
a. Verbal
b. Nonverbal
c. Langsung
d. Tidak langsung

55
D. Kunci Jawaban
1. D. Evertt M. Rogers
2. B. Tujuan Komunikasi
3. A. Komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal,
komunikasi kelompok, komunikasi masa
4. B.

5. D. Kontak, keterlibatan, keakraban, perusakan dan pemutusan


6. C. 1,2,4
7, C Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting,
Evaluating, and Responding
8. A. Percaya diri, ucapan kata-kata dengan jelas dan berlahan, berbicara
wajar, menghindari suara monoton, mengatur nafas, membaca
paragraf yang dianggap penting, hindari
sindrom(em,ah,anu,apa,dll).
9. D. Respect, emphaty, audible, Clarity, humble
10. A. Kejelasan, ketepatan, konteks, alur, dan budaya
11. C. Teknik Pertanyaan tertutup dan terbuka, teknik Pertanyaan
retoris, teknik pertanyaan menggali, teknik pertanyaan evaluatif,
teknik pertanyaan aplikatif
12. B Nonverbal

56
DAFTAR PUSTAKA
Brownell Pearson Education, Inc. Boston, 2005, pp. 400 Listening:
Attitudes, Principles, and Skills - http://www.jknirp.com/skills.htm
diakses 8 Agustus 2015 pkl. 13.00
Blake, Reed H. Haroldsen, Edwin O. 2003, Taksonomi Konsep
Komunikasi, Surabaya, Papyrus
Clayton, Peter, 2003, Bahasa Tubuh dalam Pergaulan Sehari-hari.
London, Part of Octopus Publishing Group Ltd.
Cohen, David, 1992, Bahasa Tubuh dalam Pergaulan, London, Sheldon
Press, SPCK. Effendy, Onong U. 1989, Kamus Komunikasi,
Bandung, Mandar Maju
Devito, Joseph A. (1996). Human Communication. Alih bahasa oleh
Maulana, Agus. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Jakarta:
Professional Books.
Devito, Joseph A. (1992). The Interpersonal Communication Book. Sixth
Edition. New York: Harper Collins Publishers.
Everett M. Rogers and Rekha Agarwala (1976) Communication in
Organizations free press
Gafur, Abdul. (2006). Handout Kuliah Landasan Teknologi Pendidikan.
PPs UNY. Yogyakarta
http://cai.elearning.gunadarma.ac.id/webbasedmedia diakses 15 juli
2015 pkl. 12.00
http://grandmall10.wordpress.com/2010/10/20/peran-komunikasi-
terhadap-lancarnya-proses-belajar-mengajar/ diakses pada tgl.12
Februari 2015 pkl.19.00.
http://yogoz.wordpress.com/2011/02/12/komunikasi-pembelajaran/#more,
diakses pada 11 Maret 2015, pkl.20.00.
Iriantara, Yosal. 2014. Komunikasi Antarpribadi.Tangerang: Universitas
Terbuka
Lestari G, Endang dan Maliki, MA. (2003). Komunikasi yang Efektif.
Lembaga Administrasi Negara. Jakarta.
Liliweri, Alo. 1994, Komunikasi Verbal dan Nonverbal. Bandung, PT. Citra
Aditya Bakti
Mulyana, Deddy. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru
Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya.Bandung: PT. Remaja
osdakarya.
Mulyana, Deddy. (2000). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.

57
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi akademik dan
kompetensi pendidik
Pratikno, R. (1987). Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Remadja Karya.
Bandung
Ruben, Brent D,Steward, Lea P, 2005, Communication and Human
behaviour ,USA:Alyn and Bacon
Sendjaja, Djuarsa; dkk. (1994). Teori Komunikasi, Jakarta: universitas
Terbuka.
Suranto. (2005). Komunikasi Perkantoran. Media Wacana.
Yogyakarta
Tubbs, Stewart L.; Moss, Sylvia; Editor Mulyana, Deddy. (1996). Human
Communication: Konteks-Konteks Komunikasi.Buku Kedua.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Wardani, IGAK. (2005). Dasar-Dasar Komunikasi dan Keterampilan Dasar
Mengajar. PAU-DIKTI DIKNAS. Jakarta.

58