Anda di halaman 1dari 4

PENGERTIAN SALAH NALAR

Gagasan, pikiran, kepercayaan, simpulan yang salah, keliru, atau cacat.


Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan.
Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang
kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau salah tulis misalnya. Ada pula kesalahan yang
terjadi karena ketidaktahuan, disamping kesalahan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu.
Kesalahan yang kita persoalkan disini adalah kesalahan yang berhubungan dengan proses
penalaran yang kita sebut salah nalar. Pembahasan ini akan mencakup dua jenis kesalahan
menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan
informal dan karena materi dan proses penalarannya yang merupan kesalahan formal.

2.2 MACAM-MACAM SALAH NALAR


Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya. Oleh karena itu, dalam
berkomunikasi perlu untuk kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat
sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan. Ada beberapa macam salah nalar, yaitu
sebagai berikut :

1. Generalisasi yang Terlalu Luas


Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukunggeneralisasi tidak
seimbang dengan besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil menjadi
salah. Selain itu, salah nalar jenis ini terjadi dikarenakan kurangnya data yang dijadikan dasar
generalisasi, sikap menggampangkan, malas untuk mengumpulkan dan menguji data secara
memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas.
Premis adalah kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan simpulan di dalam
logika. Sementara itu yang dimaksud dengan generalisasi adalah perihal membuat suatu
gagasan lebih sederhana dari pada yang sebenarnya. Contoh Generalisasi yang terlalu luas
sebagai berikut:
a) Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati.
b) Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.
Ada dua bentuk kesalahan generalisasi yang biasa muncul. Dua bentuk kesalahan tersebut
adalah sebagai berikut:

a. Generalisasi Sepintas
Kesalahan ini terjadi dikarenakan penulis membuat generalisasi berdasarkan data atau
evidensi yang sangat sedikit.
Contoh: Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar.
Pernyataan tersebut tidaklah benar karena kejeniusan atau tingkat intelegensi yang tinggi
bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan belajar anak. Masih banyak faktor penentu lain
yang terlibat seperti: motivasi belajar, sarana prasarana belajar, keadaan lingkungan belajar,
dan sebagainya.

b. Generalisasi Apriori
Salah nalar ini terjadi ketika seorang penulis melakukan generalisasi atas gejala atau
peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya. Kesalahan corak penalaran ini
sering ditimbulkan oleh prasangka. Karena suatu anggota dari suatu kelompok, keluarga, ras
atau suku, agama, negara, organisasi, dan pekerjaan atau profesi, melakukan satu atau
beberapa kesalahan, maka semua anggota kelompok itu disimpulkan sama. Contoh: semua
pejabat pemerintah melakukan tindakan korupsi. Benarkah pernyataan tersebut? Silahkan
Anda jawab.
2. Kerancuan Analogi
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan
anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang
lain. Analogi adalahpersamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan,
kiasan.
Contoh dari kerancuan analogi adalah sebagai berikut:
a) Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan
baik.
b) Pada hari senin Patriana kuliah mengendarai sepeda motor. Pada hari selasa Patriana
kuliah juga mengendarai sepeda motor. Pada hari rabu patriana kuliah pasti mengendarai
sepeda motor.
c) Rektor harus memimpin universitas seperti jenderal memimpin devisi.

3. Kekeliruan kausalitas (sebab-akibat)


Kekeliruan kausalitas terjadi karena kekeliruan menentukan dengan tepat sebab dari suatu
peristiwa atau hasil (akibat) dari suatu peristiwa atau kejadian.
Contoh dari kekeliruan kausalitas (sebab-akibat) adalah sebagai berikut:
a) Saya tidak bisa berenang karena tidak ada satupun keluarga saya yang dapat berenang.
b) Saya tidak dapat mengerjakan ujian karena lupa tidak sarapan.

4. Kesalahan Relevansi
Kesalahan ini akan terjadi jika antar premis tidak punya hubungan logika dengan kesimpulan.
Misalnya, bukti peristiwa atau alasan yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang
konklusi. Jadi, perlu berhati-hati, ketika sebuah argumen bergantung pada premis yang tidak
relevan dengan konklusi, maka tidak mungkin dibangun kebenarannya. Terdapat beberapa
jenis kesesatan relevansi yang umum dikenal, berikut penjelasannya:

a) Argumentum ad hominem: terjadi jika kita berusaha agar orang lain menerima atau
menolak suatu usulan, tidak berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alasan yang
berhubungan dengan kepentingan si pembuat usul.
b) Argumentum ad verecundiam: terjadi karena orang yang mengemukakannya adalah
orang yang berwibawa dan dapat dipercaya, jadi bukan terjadi karena penalaran logis.
c) Argumentum ad baculum (menampilkan kekuasaan): terjadi apabila orang menolak atau
menerima suatu argumen bukan atas dasar penalaran logis, melainkan karena ancaman atau
terror (bisa juga karena faktor kekuatan/kekuasaan).
d) Argumentum ad populum (menampilkan emosi): artinya ialah ditujukan untuk
massa/rakyat. Pembuktian secara logis tidak diperlukan, dan mengutamakan prinsip
menggugah perasaan massa sehingga emosinya terbakar dan akhirnya akan menerima sesuatu
konklusi tertentu. Contoh sederhananya seperti demonstrasi dan propaganda.
e) Argumentum ad misericordian (menampilkan rasa kasihan): disebabkan karena adanya
rasa belas kasihan. Maksudnya, penalaran ini ditunjukkan untuk menimbulkan belas kasihan
sehingga pernyataan dapat diterima, dan biasanya berhubungan dengan usaha agar suatu
perbuatan dimaafkan.
f) Post hoc propter hoc: terjadi karena orang menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal
bukan. Pada suatu urutan peristiwa, orang menunjukkan apa yang terjadi lebih dahulu adalah
penyebab peristiwa yang terjadi sesudahnya, padahal bukan.
g) Petitio principii: berarti mengajukan pertanyaan dengan mengamsusikan kebenaran dari
apa yang berusaha untuk dibuktikan, dalam upaya untuk membuktikannya. Dikenal dengan
pernyataan berupa pengulangan prinsip dengan prinsip.
h) Argumentum ad ignorantiam (argumen dari keridaktahuan): kesalahan terjadi ketika
berargumen bahwa proposisi adalah benar hanya atas dasar bahwa belum terbukti salah, atau
bahwa itu adalah salah karena belum terbukti benar.
i) Ignorantia elenchi: terjadi karena tidak adanya hubungan logis antara premis dan
konklusif.
5. Penyandaran Terhadap Prestise Seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya
karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya.
Agar tidak terjadi salah nalar karena faktor penyebab ini, maka perlu di patuhi rambu-rambu
sebagai berikut:
a) Orang itu diakui keahliannya oleh orang lain.
b) Pernyataan yang dibuat berkenaan dengan keahliannya, dan relevan dengan persoalan
yang dibahas.
c) Hasil pemikirannya dapat diuji kebenarannya.
Hal tersebut mengindikasikan kita sebagai penulis tidak boleh asal mengutip semata-mata
karena orang tersebut merupakan orang terpandang, terkenal atau kaya raya dan baik status
sosial ekonominya.

2.3 MENGAPA SALAH NALAR TERJADI


Salah nalar sering terjadi karena disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga
mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
Contoh penyebab yang salah nalar adalah sebagai berikut:
a) Hendra mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam
leluhurnya.
b) Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

2.4 FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA SALAH NALAR


Terjadinya salah nalar, disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan
anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang
lain.
Contoh: Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan
baik.
2. Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas
yang diembannya.
Contoh: Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas
penyuluhannya memiliki enam orang anak
2.5 CARA MENGATASI DAN MENGHINDARI SALAH NALAR
Ada beberapa cara untuk mengatasi dan menghindari salah nalar. Cara-cara tersebut adalah
sebagai berikut:
a) Memilih kata dengan baik;
b) Harus mengetahui teori dasar dalam berpikir;
c) Sering membaca buku agar memiliki wawasan yang luas;
d) Memikirkan perkataan atau kalimat sebelum diucapkan;
e) Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar;
f) Jangan menyimpulkan premis dengan cepat;
g) Dapat berkomunikasi dengan baik;
h) Tidak cepat menafsirkan atau menarik kesimpulan sebelum dikaji terlebih dahulu
kebenarannya; dan lain-lain.