Anda di halaman 1dari 17

TUGAS

ANALISIS BATUBARA

PENGARUH ASH FUSION TEMPERATURE (AFT)


DAN MINERAL MATTER TERHADAP
PEMBENTUKAN SLAGGING DAN FOULING PADA
BOILER

Diajukan untuk memenuhi syarat tugas mata kuliah Analisis Batubara


pada Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya

Oleh

Maudy Handayani
(03021181520027)

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Saat ini harga bahan bakar terus meningkat naik dan untuk ketersediaan
bahan bakar fosil juga terbatas, maka banyak perusahaan berusaha untuk
menekan pemakaian bahan bakar tanpa mengganggu proses produksinya. Ada
beberapa cara yang dilakukan diantaranya adalah menaikkan efisiensi baik
tenaga kerja maupun mesin-mesin pembangkitnya, semisal untuk mesin boiler.
Untuk mendapatkan efisiensi yang optimal sangat dipengaruhi oleh proses
pembakaran yang sempurna. Proses pembakaran yang sempurna itu juga
dipengaruhi oleh kualitas bahan bakar yang digunakan baik atau tidak serta
perlakuan terhadap batubara saat dimasukkan dalam proses pembakaran.
Pada umumnya bahan bakar komersial mengandung sejumlah ash yang
menjadi pertimbangan dalam desain dan operasi yang spesifik. Ash akan
menurunkan nilai kalor bahan bakar dan membuat fuel storage menjadi berat,
maka diperlukan peralatan yang besar untuk mengumpulkan, memindahkan dan
membuang ash. Peralatan tersebut mengindikasikan biaya yang juga
dibutuhkan dan secara langsung berhubungan dengan ash dalam batubara.
Peristiwa penumpukan ash pada dinding boiler ini disebut dengan
slagging. Walaupun dalam porsi yang kecil,slagging dapat menjadi besar
pengaruhnya terhadap kerja boiler. Selain slagging, akibat dari ash adalah
terbentuknya Fouling. Terbentuknya fouling disebabkan oleh pembentukan
sulfat alkali, terutama CaSO4 dan Na2SO4, yang dimana kandungan tersebut
ikut terbawa bersama dengan fly ash. Jenis depositnya biasanya sangat
berhubungan dengan penggunaan batubara dan air yang dibawanya.
Ash dapat dilepaskan dalam bentuk leburan atau dalam keadaan plastis.
Akibatnya akan berpengaruh pada dinding furnace dan permukaan panas
lainnya. Akumulasi dari endapan ash pada dinding furnace akan mempengaruhi
perindahan panas, menurunkan absorbsi panas, menunda pendinginan flue
gasdan meningkatkan temperature keluar furnace.
2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh ash fusion temperature (AFT) dan mineral matter
yang terkandung dalam batubara terhadap potensi timbulnya slagging &
fouling pada boiler?
2. Bagaimana pengaruh slagging & fouling terhadap performa furnace?

3. Tujuan Penelitian
1. Penelitian ini bertujuan untuk :
Mengetahui kualitas batubara yang melalui analisis proksimat yang
terdiri atas: kandungan zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed
Carbon), kadar air (moisture), kandungan abu (ash analysis) dan nilai
kalor (calorific value) & analisisi ultimasi yang terdiri atas : Sulfur (S),
Karbon (C), Nitrogen (N2), Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2).
2. Mengetahui pengaruh ash dari batubara campuran terhadap potensi
timbulnya slagging & fouling pada boiler.
3. Menghitung Performa Boiler saat timbul slagging dan setelah slagging
dibersihkan melalui proses sootblowing.

4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat :
1. Memberikan kontribusi yang berarti dalam pengetahuan tentang potensi
terbentuknya slagging & fouling pada boiler, sehingga selanjutnya dapat
digunakan untuk pemilihan jenis batubara yang tepat pada pembangkit
tenaga.
2. Mendukung program pemerintah yang saat ini sedang menggalakkan
penggunaan batubara untuk keperluan operasi PLTU Percepatan di
beberapa daerah.
TINJAUAN PUSTAKA

1. Boiler
Boiler adalah alat yang digunakan untuk menghasilkan uap panas (steam)
pada suhu dan tekanan tertentu. Steam tersebut digunakan untuk mengalirkan
panas menuju suatu proses. Sistem kerja pada boiler terdiri dari: sistem air
umpan, sistem steam, dan juga sistem bahan bakar. Pada sistem air
umpan menyediakan air untuk proses pada boiler secara otomatis sesuai dengan
kebutuhan steam yang diinginkan. Pada sistem steam memiliki fungsi yaitu
untuk mengumpulkan serta mengontrol produksi steam yang terjadi didalam
boiler. Steam dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Untuk
keseluruhan sistem, tekanan steam diatur menggunakan valve dan diatur oleh
sensor tekanan. Pada sistem bahan bakar pada boiler adalah peralatan yang
digunakan untuk menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang
dibutuhkan pada proses boiler. Peralatan yang digunakan pada sistem bahan
bakar bergantung dari jenis bahan bakar yang digunakan pada sistem.

Gambar 1. Diagram Skematik Boiler


Air yang disuplai ke dalam boiler untuk diubah menjadi steam disebut
air umpan. Dua sumber air umpan adalah kondensat atau steam yang
mengembun kembali setelah proses dan air make up (air baku yang sudah
diolah sedemikian rupa sesuai dengan memiliki persyaratan air umpan untuk
boiler) yang berasal dari pengadaan air bersih. Untuk mendapatkan efisiensi
boiler yang lebih tinggi digunakan economizer untuk memanaskan awal air
umpan menggunakan limbah panas pada gas buang.

2. Batubara
Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik,
utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses
pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hydrogen dan
oksigen.Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika
dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.Analisis
unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus
dan C240H90O4NS untuk antrasit.

Gambar 2. Rumus kimia Batubara


Reaksi pembentukan batubara dapat diperlihatkan sebagai berikut :

5(C6H10O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

Cellulosa lignit gas metana air

3. Slagging dan Fouling

Salah satu masalah utama pada boiler adalah terjadinya pembentukan


deposit dan kerak pada permukaan perpindahan panasnya. Keberadaan
deposit dan kerak pada permukaan perpindahan panas akan menurunkan
kapasitas penyerapan panasnya. Deposit dapat berasal dari pembentukan
jelaga, abu pembakaran dari bahan bakar padat maupun cair, dan pembakaran
tidak sempurna bahan bakar, sedangkan pembentukan kerak disebabkan oleh
kondisi air yang tidak bagus. Permasalahan pembentukan deposit ini dapat
disebut sebagai Slagging dan fouling.

Gambar 3. Slagging
Slagging dan fouling adalah fenomena menempel dan menumpuknya abu
batu bara yang melebur pada pipa penghantar panas (heat exchanger tube)
ataupun dinding boiler. Kedua hal ini sangat serius karena dapat memberikan
dampak yang besar pada operasional boiler, seperti masalah penghantaran
panas, penurunan efisiensi boiler, tersumbatnya pipa, serta kerusakan pipa
akibat terlepasnya clinker. Keseluruhan masalah yang timbul tadi sering pula
disebut dengan clinker trouble.

Gambar 4. Fouling

Fenomena menempelnya abu ini terutama dipengaruhi oleh suhu melebur


abu (ash fusion temperature, AFT) dan unsur unsur dalam abu. Selain kedua
faktor tadi, evaluasi terhadap masalah ini juga dapat diketahui melalui
perhitungan rasio terhadap beberapa unsur tertentu dalam abu.
Penilaian terhadap Slagging & fouling ini perlu dilakukan secara
menyeluruh dengan melibatkan berbagai faktor, karena terkadang hasilnya
tidak akurat apabila hanya mendasarkan diri pada satu aspek saja. Karena
terdapat banyak faktor yang terlibat dalam penilaian tersebut, maka disini hanya
akan dijelaskan metode evaluasi yang umum dilakukan.
4. Kualitas Batubara
Mutu dari batubara akan sangat penting dalam menentukan peralatan yang
dipergunakan. Untuk menentukan kualitas batubara, beberapa hal yang harus
diperhatikan adalah : High heating value (kcal.kg), Total moisture (%), Inherent
moisture (%), Volatile matter (%), Ash content (%), Sulfur content (%), coal size
(%), Hardgrove grindability index (<3mm, 40mm, 50mm), Fixed carbon (%),
Phosposrus/chlorine (%), Ultimate analysis : (carbon, hydrogen, oxygen,
nitrogen, sulfur, ash), ash fusion temperature.

a. High Heating Value (HHV)


High heating value sangat berpengaruh terhadap pengoperasian alat,
seperti : pulverizer, pipa batubara, wind box, burner. Semakin tinggi high
heating value maka aliran batubara setiap jamnya semakin rendah sehingga
kecepatan coal feeder harus disesuaikan.

b. Moisture Content
Kandungan moisture mempengaruhi jumlah pemakaian udara
primernya, pada batubara dengan kandungan moisture tinggi akan
membutuhkan udara primer lebih banyak guna mengeringkan batubara tersebut
pada suhu keluar mill tetap.

c. Volatile Matter
Kandungan volatile matter mempengaruhi kesempurnaan pembakaran
dan intensitas nyala api. Kesempurnaan pembakaran ditentukan oleh :
Fixed Carbon
Fuel Ratio = ---------------------
Volatile Matter
Semakin tinggi fuel ratio maka carbon yang tidak terbakar semakin banyak.
c. Ash Content dan Komposisi
Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang
bakar dan daerah konveksi dalam bentuk abu terbang atau abu dasar. Sekitar
20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. Semakin tinggi
kandungan abu dan tergantung komposisinya mempengaruhi tingkat pengotoran
(fouling), keausan dan korosi peralatan yang dilalui.

d. Sulfur Content
Kandungan sulfur berpengaruh terhadap tingkat korosi sisi dingin yang
terjadi pada elemen pemanas udara, terutama apabila suhu kerja lebih rendah
dari letak embun sulfur, disamping berpengaruh terhadap efektifitas
penangkapan abu pada peralatan electrostatic precipator.

f. Coal Size
Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus dan butir kasar.
Butir paling halus untuk ukuran <3mm, sedang ukuran paling kasar 50mm. butir
paling halus dibatasi dustness dan tingkat kemudahan diterbangkan angin
sehingga mengotori lingkungan. Tingkat dustness dan kemudahan beterbangan
masih ditentukan pula oleh kandungan moisture batubara.

g. Hardgrove Grindability Index (HGI)


Kapasitas mill (pulverizer) dirancang pada Hardgrove grindability index
tertentu, maka untuk HGI lebih rendah kapasitasnya lebih rendah dari nilai
patoknya untuk menghasilkan fineness yang sama.

h. Ash Fusion Characteristic


Ash Fusion Characteristic akan mempengaruhi tingkat fouling, slagging
dan operasi blower.
METODOLOGI

Metode yang digunakan pada penulisan karya tulis ini menggunakan


metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang bersumber dari
kepustakaan berupa Jurnal Prosiding, Skripsi, Jurnal Artikel, Website dan Literatur
lainnya.

PEMBAHASAN

Terbentuknya slagging dan fouling adalah dua hal yang saling berkaitan,
sebab terjadinya slagging dan fouling berawal dari reaksi saat pembakaran
batubara. Pada setiap pembakaran batubara selalu menghasilkan abu, baik abu
dasar (bottom ash) maupun abu terbang (fly ash), bottom ash membentuk slagging
sedangkan fly ash membentuk fouling.

1. Reaksi Pembakaran batubara


Proses pembakaran batubara akan berlangsung dengan baik jika tersedia
udara dalam jumlah yang cukup. Proses pembakaran batubara merupakan ilmu
kompleks karena adanya variasi kondisi fisika maupun kimia batubara, tetapi
biasanya reaksi pembakaran batubara digambarkan dengan reaksi oksidasi karbon
menghasilkan karbon mono-oksida atau karbon dioksida:

2C + O2 2CO2 atau C + O2 = CO2

Gas CO yang terbentuk dapat bereaksi dengan oksigen membentuk gas CO2 sesuai
reaksi :
2CO + O2 2CO2

Gas CO2 yang terbentuk dapat pula bereaksi dengan karbon membentuk gas CO

CO2 + C 2CO
Dan reaksi pembentukan uap air :

2H + O2 H2O

Diikuti dengan reaksi

C + H2O CO + H2

Setelah ada nyala api, pembakaran batubara dimulai dari penguapan air, diikuti
penyalaan zat terbang. Selain unsur hydrogen dan karbon unsur-unsur lain yang
terdapat di dalam batubara juga mengalami oksidasi, misalnya unsur sulfur (S) dan
Nitrogen.

S + O2 SO2(g)

Diikuti dengan reaksi

2SO2(g) + O2 2SO3(g).

2 N + O2 2NO(g)

diikuti dengan reaksi

2NO + O2 2NO2(g)

Adanya uap air di udara terbuka akan bereaksi dengan gas-gas hasil pembakaran
membentuk asam sulfat atau asam nitrat yang merupakan sumber terjadinya korosi
dan hujan asam. Reaksi-reaksi yang mungkin terlibat dalam pembentukan asam ini
adalah :

2SO2(g) + H2O H2SO3 dan


SO3(g) + H2O H2SO4 (asam Sulfat)
Atau
2SO2(g) + O2 + 2H2O 2 H2SO4
NO2 + NO + H2O + O2 2HNO3
Atau
2 NO + 3/2O2 + H2O 2HNO3.
Atau dengan reaksi :
Fe + H2SO4 FeSO4 + H2

Dan akan sangat mungkin ferro sulfat teroksidasi membentuk ferri sulfat :

4FeSO2 + 2H2SO4 + O2 2Fe2(SO4)3 + 2H2O

Sesuai persamaan reaksi di atas, maka terlihat bahwa terdapat gas SO3 yang sangat
mudah bereaksi dengan H2O membentuk H2SO4 (asam sulfat), pada jaringan alat
yang terdiri dari Fe (besi) akan bereaksi dengan H2SO4 membentuk FeSO4, FeSO4
ini bereaksi dengan uap (O2) yang menghasilkan 2Fe2(SO4)3 yang dapat menempel
di dinding, kemudian abu akan lengket sangat kuat oleh adanya Fe2(SO4)3 pada
dinding atau pipa-pipa sebagai korosi yang diawali oleh slagging atau fouling .

2. Pengukuran Index slagging dan Fouling

Slagging adalah keadaan dimana abu batubara meleleh di zone pembakaran


akibat dari suhu operasi yang melebihi titik leleh abu (spherical temperature).
Untuk abu batubara yang sifatnya light slagging dan moderate slagging dapat
dicegah dengan cara soot-blower, tetapi untuk heavy slagging ash mengharuskan
operasi boiler di hentikan. Fouling terutama disebabkan oleh adanya interasksi
antara uap natrium dan kalium dengan oksida belerang, membentuk garam dengan
titik leleh rendah ( 400 0C) yang kemudian membentuk semi-fluida, yang lengket
di dalam boiler. Partikel abu dan batubara dapat mengendap di permukaan semi-
fluida ini yang lama-kelamaan bisa menebal, mengganggu aliran gas dan
menimbulkan korosi (tabel 1.)
Penentuan indeks slagging suatu abu batubara dimaksudkan untuk
memperkirakan derajat pembentukan endapan lelehan terak di dinding tungku suatu
boiler. Nilai indeks slagging tergantung pada jenis batubaranya, dan dapat dihitung
dari kandungan oksida asam, oksida basa, dan kadar sulfurnya.
Indeks slagging dihitung dari persamaan:

Indeks slagging (R) = Nisbah basa/asam x kadar sulfur.

Indeks slagging dan tipe slagging untuk batubara bituminous dan batubara lignit
dapat dihitung dan kemudian dikelompokkan atas tipe low, medium,high dan severe
(tabel 2.)
Penentuan Index Fouling. Fouling adalah endapan yang terjadi
disuperheater atau reheater. Endapan ini sulit dibersihkan dari susunan pipa yang
rapat. Fouling ini merupakan sumber terjadinya korosi dan menghambat aliran gas.
Endapan fouling biasanya bersifat lengket, sehingga dengan terbentuknya endapan
alkali, partikel abu terbang akan muda melekat di permukaannya. Selain itu
endapan alkali ini juga bersifat dapat pengabsorb gas sulfur oksida dari aliran gas,
akibatnya dinding pipa akan muda terkorosi. Nilai indeks fouling memberikan
gambaran kecenderungan abu batubara untuk mengakibatkan terjadinya fouling dan
korosi di permukaan konveksi. Seperti halnya indeks slagging, indeks fouling juga
dapat dihitung dari data komposisi abunya.

Indeks Fouling (Rf ) = Nisbah basa/asam x kadar alkali total (Na2O) batubara

Indeks fouling dan tipe fouling untuk batubara bituminous dan batubara lignit
dapat dihitung dan kemudian dikelompokkan atas tipe low, medium,high dan severe
(tabel 3.)

Peristiwa fouling terjadi terutama karena tingginya kadar alkali di dalam abu
batubara. Garam-garam natrium dan kalium, akan tervolatisasi selama pembakaran,
kemudian terkondensasi pada partikel abu terbang dan boiler membentuk lapisan
yang lengket. Benturan partikel-partikel tersebut dapat membentuk endapan pada
dinding dan selanjutnya membentuk sinter. Akhirnya menjadi keras dan menempel
dengan sangat kuat. Harga fouling index sampai 0,5 masih dalam toleransi yang
dibolehkan.
Pada dasarnya, semakin rendah kadar alkali didalam abu batubara, semakin
rendah pula kecenderungan untuk terjadinya fouling. Kandungan alkali pada abu
batubara biasanya dinyatakan sebagai Na2O . Abu batubara dengan alkali lebih
rendah dari 0.1% dianggap sebagai non fouling, bila kandungan alkalinya antara 0.1
0.4% biasanya dapat menimbulkan tumbuhnya fouling tetapi masih bisa
dikendalikan dengan soot-blowing secara berkala, abu batubara dengan kandungan
alkali di atas 0.5% cenderung membentuk fouling dan menghasilkan sinter sehingga
sulit dihilangkan.

KESIMPULAN

Fenomena Slagging dan Fouling adalah fenomena terjadinya penumpukan


kerak akibat pembakaran batubara, pada permukaan heat exchanger. Fenomena ini
sangat merugikan bagi proses pembakaran di boiler, karena akan mengurangi
efisiensi pertukaran panas. Penyebab terjadinya fenomena ini adalah karena
kualitas batubara, terutama pada parameter AFT (Ash Fusion Temperature)
memiliki nilai yang relatif rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan
peningkatan kualitas batubara untuk meningkatkan nilai AFT. Metode yang bisa
dilakukan untuk meningkatkan parameter tersebut adalah dengan Coal Blending
(Pencampuran batubara) dan mengurangi kadar sulfur pada batubara yang
digunakan. Kemudian meminimalkan terbentuknya slagging dan fouling dapat
dilakukan dengan soot-blowing secara berkala.
DAFTAR PUSTAKA

Aji. 2011. Studi Pengaruh Kandungan Batubara terhadap Pembakaran dan


Potensi Pembentukan Slagging berdasarkan Abu Dasar. (Online)
https://www.scribd.com/doc/61679069/Studi-Pengaruh-Kandungan-
Batubara-Terhadap-Pembakaran-Dan-Potensi-Pembentukan-Slagging-
Berdasarkan-Abu-Dasar (Di akses pada Tanggal 15 September 2017)

Amaliyah, Novriany dan Muhammad Fachry. 2011. Analisis Komposisi Batubara


Mutu Rendah terhadap Pembentukan Slagging dan Fouling pada Boiler.
Jurnal Prosiding. Vol. 5 Hal 1-2. http://download.portalgaruda.org/
article.php?article=148936&val=2170 (Di akses pada Tanggal 16 September
2017)

Prameswari, Windha Ayu. 2017. Analisa Pembentukan Slagging dan Fouling


Pembakaran Batubara pada Boiler B 0201B Pabrik 3 Unit UBB di PT
Petrokimia Gresik. http://repository.its.ac.id/2808/1/2414106005-
Undergraduate_theses.pdf. Skripsi. Surabaya : Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh November. (Di akses pada Tanggal 16 September
2017)
LAMPIRAN

Tabel 1.
Parameter empirik untuk perkiraan sifat abu

Parameter Rumus kimia

Nilai silika SiO2 x 100/(SiO2 + Fe2O3 + CaO +MgO)


Nisbah basa/asam Total basah/total asam
Total basa Fe2O3 + CaO +MgO + K2O + Na2O
Total asam SiO2 + Al2O3 + TiO2
Nisbah silika/alumina SiO2/ Al2O3
Nisbah feri/lime Fe2O3/CaO
Dolomite (CaO+MgO) x 100/total basa
Nisbah feri/dolomite Fe2O3/(CaO+MgO)
Sumber : Pengantar dan Preparasi Batubara (Arief S. Sudarsono)

Tabel 2.

Indeks slagging dan tipe slagging

Indeks
Indeks Indeks
Slagging Tipe Tipe Tipe
Slagging Slagging
Rs- Slagging Slagging Slagging
Rs-lignitik Rviskositas
bituminous

<0.6 Low >1340 Low >1340 Low


0.6 2.0 Medium 1230 1340 Medium 1230 1340 Medium
2.0 2.6 High 1150 1230 High 1150 1230 High
>2.6 Severe <1150 Severe <1150 Severe
Sumber : Pengantar dan Preparasi Batubara (Arief S. Sudarsono)
Tabel 3.

Indeks fouling dan tipe fouling

Indeks Indeks
Tipe Tipe
fouling fouling
fouling fouling
Rf-bituminous Rf-lignitik
<0.2 Low <0.30 Low
0.2 0.5 Medium 0.30 0.45 Medium
0.5 1.0 High 0.45 0.60 High
>1.0 Severe >0.60 Severe
Sumber : Pengantar dan Preparasi Batubara (Arief S. Sudarsono)