Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGHANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karna pertolongan-Nya
Makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Makalah ini membahas tentang Hukum Ohm dan Hukum Kirchoof, baik itu rumus, kegunaan
maupun aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Dihara;pkan makalah ini dapat digunakan untuk membantu masalah dalam perhitungan-
perhitungan pada rangkaian listrik.

medan, 18 february 2016

Jupiter barus
DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN ..........................................................................................


KATA PENGANTAR ..........................................................................................
DAFTAR ISI ......................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................


A.LATAR BELAKANG .........................................................................................
B.RUMUSAN MASALAH .............................................................................
C.TUJUAN PENULISAN ..............................................................................
D.MANFAAT .........................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A.HUKUM OHM .
B.HUKUM KIRCHOFF .

BAB III PENUTUP .


A.KESIMPULAN ..
B. DAFTAR PUSTAKA .
BAB I PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Dalam dunia listrik banyak sekali yang harus di perhatikan salah satunya adalah hukum-
hukum tentang listrik,di antaranya adalah hukum ohm dan hukum kirchoff, untuk itu dalam
makalah ini akan di jelaskan ,agar dalam pengukuran arus listrik tidak terjadi
kesalahan.Dimana Hukum Ohm merupakan hukum dasar rangkaian listrik yang menyatakan
hubungan antara kuat arus dan beda potensial listrik dalam satu rangkaian listrik tertutup
pada temperatur konstan.Serta Hukum Kirchoff adalah suatu peraturan atau hukum yang
mengatur tentang jalanya arus dan jumlah tegangan dalam suatu rangkaian arus listrik yang
mempunyai lebih dari satu sumber gaya gerak listrik yang berbeda kekuatannya.jadi intinya
hukum kirchoff ini mengatur jumlah arus dan tegangan yang masuk dan yang keluar.

B.RUMUSAN MASALAH
1.Bagaimana mengetahui hukum ohm dalam kelistrikan.
2.Bagaimana mengetahui hukum kirchoff.

C.TUJUAN

Adapun tujuan yang akan dicapai:


1.Untuk mengetahui Hukum Ohm pada rangkaian listrik.
2.Untuk mengetahui Hukum Kirchoff pada rangkaian listrik.

D, MANFAAT

Agar kita bisa menambah wawasan tentang Hukum Ohm dan Hukum Kirchoff.
BAB II PEMBAHASAN

A.HUKUM OHM
Pada dasarnya sebuah rangkaian listrik terjadi ketika sebuah penghantar mampu dialiri
electron bebas secara terus menerus. Aliran yang terus-menerus ini yang disebut dengan
arus, dan sering juga disebut dengan aliran, sama halnya dengan air yang mengalir pada
sebuah pipa. Untuk menemukan arti dari ketetapan dari persamaan dalam rangkaian ini,
kita perlu menentukan sebuah nilai layaknya kita menentukan nilai masa, isi, panjang dan
bentuk lain dari persamaan fisika. Standard yang digunakan pada persamaan tersebut
adalah arus listrik, tegangan ,dan hambatan. Symbol yang digunakan adalah standar
alphabet yang digunakan pada persamaan aljabar.Standar ini digunakan pada disiplin ilmu
fisika dan teknik, dan dikenali secara internasional. Setiap unit ukuran ini dinamakan
berdasarkan nama penemu listrik. Amp dari orang perancis Andre M. Ampere, volt dari
seorang Italia Alessandro Volta, dan ohm dari orang german Georg Simon ohm.

Simbol matematika dari setiap satuan sebagai berikut R untuk resistance (Hambatan), V
untuk voltage (tegangan), dan I untuk intensity (arus), standard symbol yang lain dari
tegangan adalah E atau Electromotive force. Simbol V dan E dapat dipertukarkan untuk
beberapa hal, walaupun beberapa tulisan menggunakan E untuk menandakan sebuah
tegangan yang mengalir pada sebuah sumber ( seperti baterai dan generator) dan V bersifat
lebih umum. Satuan dan symbol dari satuan elektro ini menjadi sangat penting diketahui
ketika kita mengeksplorasi hubungan antara mereka dalam sebuah rangkaian.Yang pertama
dan mungkin yang sangat penting hubungan antara tegangan, arus dan hambatan ini
disebut hokum ohm. Ditemukan oleh Georg Simon Ohm dan dipublikasikannya pada sebuah
paper pada tahun 1827, The Galvanic Circuit Investigated Mathematically. Prinsip ohm ini
adalah besarnya arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar metal pada rangkaian,
ohm menemukan sebuah persamaan yang simple, menjelaskan bagaimana hubungan
antara tegangan, arus, dan hambatan yang saling berhubungan.

Kadang kalanya kita ingin mengetahui berapa tegangan, kuat arus, dan nilai hambatan suatu
rangkaian.Dalam hal ini pengukuran sangat perlu.Kita dapat menggunakan alat-alat
pengukur pada rangkaian listrik seperti voltmeter untuk mengukur tegangan, amperemeter
untuk mengukur besar kuat arus suatu rangkaian, serta ohmmeter untuk mengukur
hambatan.Untuk mengetahui nilai resistansi (hambatan) suatu resistor, kita dapat mngukur
dari gelang warna yang terdapat pada badan resistor, mengukurnya secara langsung,
maupun menggunakan suatu rangkaian tertutup yang terdiri dari voltmeter dan
amperemeter.
1.Arus Listrik

Arus listrik adalah gerakan atau muatan arus listrik.Arus listrik merupakan banyaknya
muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Muatan listrik bisa mengalir melalui kabel
atau penghantar listrik lainnya. Arus listrik dapat terjadi karena muatan positif yang
bergerak ataupun karena muatan negative yang bergerak.Arah arus listrik adalah arah aliran
muatan positif.
Besar kuat arus adalah:
I=Q T
Di mana :
I = kuat arus (Ampere)
Q = muatan listrik (Coulomb)
T = waktu (detik)

2.Tegangan Listrik

Tegangan listrik (kadang disebut sebagai Voltase) adalah perbedaan potensi listrik antara
dua titik dalam rangkaian listrik, dinyatakan dalam satuan volt. Besaran ini mengukur energi
potensial sebuah medan listrik untuk menyebabkan aliran listrik dalam sebuah konduktor
listrik. Tergantung pada perbedaan potensi listrik satu tegangan listrik dapat dikatakan
sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi atau ekstra tinggi.
Besarnya suatu tegangan listrik adalah :
V= I .R
Di mana :
V = tegangan listrik (volt)
I = kuat arus (ampere)
R = hambatan (ohm)

3.Hambatan Listrik

Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen
elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya.
Hambatan listrik dapat dirumuskan sebagai berikut:
R = VI
di mana :
V : Tegangan
I : Kuat arus
Satuan SI untuk Hambatan adalah Ohm (R).Resistor adalah komponen elektronik dua
saluran yang didesain untuk menahan arus listrik dengan memproduksi penurunan
tegangan diantara kedua salurannya sesuai dengan arus yang mengalirinya.Resistor
digunakan sebagai bagian dari jejaring elektronik dan sirkuit elektronik, dan merupakan
salah satu komponen yang paling sering digunakan.Resistor dapat dibuat dari bermacam-
macam komponen dan film, bahkan kawat resistansi (kawat yang dibuat dari paduan
resistivitas tinggi seperti nikel-kromium).Karakteristik utama dari resistor adalah
resistansinya dan daya listrik yang dapat diboroskan. Karakteristik lain termasuk koefisien
suhu, desah listrik, dan induktansi. Resistor dapat diintegrasikan kedalam sirkuit hibrida dan
papan sirkuit cetak, bahkan sirkuit terpadu.Ukuran dan letak kaki bergantung pada desain
sirkuit, resistor harus cukup besar secara fisik agar tidak menjadi terlalu panas saat
memboroskan daya.
Hambatan listrik (R) juga dipengaaruhi oleh pengaruh panjang penghantar (l), luas
penampang (A), dan hambatan jenis (p).

R = pl/A

Resistor aksial biasanya menggunakan pola pita warna untuk menunjukkan resistansi.
Resistor pasang-permukaan ditandas secara numerik jika cukup besar untuk dapat ditandai,
biasanya resistor ukuran kecil yang sekarang digunakan terlalu kecil untuk dapat ditandai.
Kemasan biasanya cokelat muda, cokelat, biru, atau hijau, walaupun begitu warna lain juga
mungkin, seperti merah tua atau abu-abu. Resistor awal abad ke-20 biasanya tidak diisolasi,
dan dicelupkan ke cat untuk menutupi seluruh badan untuk pengkodean warna. Warna
kedua diberikan pada salah satu ujung, dan sebuah titik (atau pita) warna di tengah
memberikan digit ketiga

Aturannya adalah badan, ujung, titik memberikan urutan dua digit resistansi dan pengali
desimal. Toleransi dasarnya adalah 20%.Resistor dengan toleransi yang lebih rapat
menggunakan warna perak (10%) atau emas (5%) pada ujung lainnya.Identifikasi empat
pita adalah skema kode warna yang paling sering digunakan.Ini terdiri dari empat pita warna
yang dicetak mengelilingi badan resistor.Dua pita pertama merupakan informasi dua digit
harga resistansi, pita ketiga merupakan pengali (jumlah nol yang ditambahkan setelah dua
digit resistansi) dan pita keempat merupakan toleransi harga resistansi. Kadang-kadang pita
kelima menunjukkan koefisien suhu, tetapi ini harus dibedakan dengan sistem lima warna
sejati yang menggunakan tiga digit resistansi. Identifikasi lima pita digunakan pada resistor
presisi (toleransi 1%, 0.5%, 0.25%, 0.1%), untuk memberikan harga resistansi ketiga. Tiga
pita pertama menunjukkan harga resistansi, pita keempat adalah pengali, dan yang kelima
adalah toleransi.
Resistor lima pita dengan pita keempat berwarna emas atau perak kadang-kadang
diabaikan, biasanya pada resistor lawas atau penggunaan khusus. Pita keempat adalah
toleransi dan yang kelima adalah koefisien suhu.Pada dasarnya semua bahan memiliki sifat
resistif namun beberapa bahan seperti tembaga, perak, emas dan bahan metal umumnya
memiliki resistansi yang sangat kecil. Bahan-bahan tersebut menghantar arus listrik dengan
baik, sehingga dinamakan konduktor.

Kebalikan dari bahan yang konduktif, bahan material seperti karet, gelas, karbon memiliki
resistansi yang lebih besar menahan aliran elektron dan disebut sebagai
insulator.Bagaimana prinsip konduksi, dijelaskan pada artikel tentang
semikonduktor.Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk
membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian. Sesuai dengan namanya
resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon .Dari hukum Ohms
diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir
melaluinya.Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan
simbol W (Omega).Tipe resistor yang umum adalah berbentuk tabung dengan dua kaki
tembaga di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk gelang kode
warna untuk memudahkan pemakai mengenali besar resistansi tanpa mengukur besarnya
dengan Ohmmeter. Kode warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh
EIA (Electronic Industries Association) seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut.
Resistansi dibaca dari warna gelang yang paling depan ke arah gelang toleransi berwarna
coklat, merah, emas atau perak. Biasanya warna gelang toleransi ini berada pada badan
resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar yang lebih menonjol, sedangkan warna
gelang yang pertama agak sedikit ke dalam. Dengan demikian pemakai sudah langsung
mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut.
Kalau anda telah bisa menentukan mana gelang yang pertama selanjutnya adalah membaca
nilai resistansinya.Jumlah gelang yang melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan
besar toleransinya.Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki 3 gelang
(tidak termasuk gelang toleransi).

Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau 2% (toleransi kecil) memiliki 4 gelang (tidak
termasuk gelang toleransi).Gelang pertama dan seterusnya berturut-turut menunjukkan
besar nilai satuan, dan gelang terakhir adalah faktor pengalinya. Warna Pita Pertama Pita
Kedua Pita ketiga (Pengali) Pita keempat (Toleransi) Pita kelima (Koefisien Suhu).
Tabel nilai gelang warna pada resistor

No Warna Gelang Nilai Pengali Toleansi

1 Hitam 0 1

2 Cokelat 1 10 1%

3 Merah 2 100 2%

4 Jingga 3 1000

5 Kuninh 4 10000

6 Hijau 5 100000

7 Biru 6 1000000

8 Ungu 7 10000000

9 Abu-abu 8 100000000

10 Emas 5%

11 Perak 10%

12 Tanpa Warna 20%

Misalnya resistor dengan gelang kuning, violet, merah dan emas.Gelang berwarna emas
adalah gelang toleransi.Dengan demikian urutan warna gelang resitor ini adalah, gelang
pertama berwarna kuning, gelang kedua berwana violet dan gelang ke tiga berwarna merah.
Gelang ke empat tentu saja yang berwarna emas dan ini adalah gelang toleransi. Dari tabel-
1 diketahui jika gelang toleransi berwarna emas, berarti resitor ini memiliki toleransi
5%.Nilai resistansisnya dihitung sesuai dengan urutan warnanya.Pertama yang dilakukan
adalah menentukan nilai satuan dari resistor ini.Karena resitor ini resistor 5% (yang biasanya
memiliki tiga gelang selain gelang toleransi), maka nilai satuannya ditentukan oleh gelang
pertama dan gelang kedua. Masih dari tabel-1 diketahui gelang kuning nilainya = 4 dan
gelang violet nilainya = 7. Jadi gelang pertama dan kedua atau kuning dan violet berurutan,
nilai satuannya adalah 47. Gelang ketiga adalah faktor pengali, dan jika warna gelangnya
merah berarti faktor pengalinya adalah 100. Sehingga dengan ini diketahui nilai resistansi
resistor tersebut adalah nilai satuan x faktor pengali atau 47 x 100 = 4.7K Ohm dan
toleransinya adalah 5%. Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada
suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya. Karena resistor bekerja
dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt.
Semakin besar ukuran fisik suatu resistor bisa menunjukkan semakin besar kemampuan
disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan
20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik
memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder.Tetapi
biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung dibadannya,
misalnya 100W5W.

Berdasarkan penggunaannya, resistor dapat dibagi:

1.Resistor Biasa (tetap nilainya), ialah sebuah resistor penghambat gerak arus, yang nilainya
tidak dapat berubah, jadi selalu tetap (konstan). Resistor ini biasanya dibuat dari nikelin atau
karbon.

2.Resistor Berubah (variable), ialah sebuah resistor yang nilainya dapat berubah-ubah
dengan jalan menggeser atau memutar toggle pada alat tersebut. Sehingga nilai resistor
dapat kita tetapkan sesuai dengan kebutuhan.Berdasarkan jenis ini kita bagi menjadi dua,
Potensiometer, rheostat dan Trimpot (Trimmer Potensiometer) yang biasanya menempel
pada papan rangkaian (Printed Circuit Board, PCB).

3.Resistor NTC dan PTS, NTC (Negative Temperature Coefficient), ialah Resistor yang nilainya
akan bertambah kecil bila terkena suhu panas. Sedangkan PTS (Positife Temperature
Coefficient), ialah Resistor yang nilainya akan bertambah besar bila temperaturnya menjadi
dingin.

4.LDR (Light Dependent Resistor), ialah jenis Resistor yang berubah hambatannya karena
pengaruh cahaya. Bila cahaya gelap nilai tahanannya semakin besar, sedangkan cahayanya
terang nilainya menjadi semakin kecil
Penerapan Hukum Ohm dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak jenis contoh penerapan hukum ohm, salahsatunya
Bola Lampu rumah yang dapat menyala karena diberi tegangan (v) sehingga listrik teraliri ke
filamen dan lampu dapat menyala.Tegangan Komponen listrik seperti lampu haruslah
disesuaikan dengan tegangan yang dibutuhkan pada lamputersebut. Jika lampu 220 V diberi
tegangan 110 V, filamen lampu akan dialiri oleh arus yang lebih kecil dari seharusnya
sehingga lampu 220 V tersebut menyaka dengan redup. Sebaliknya jika lampu 110 V diberi
tegangan 200 V, filamen lampu akan dialiri oleh arus yang terlalu besar dari yang seharusnya
sehingga lampu 110 V filamennya terbakar. Jadi intinya kita harus paham, jika kita
mempunyai alat elektronik, kita harus memperhatikan tegangan yg ada di rumah kita
dengan alat elektronik tersebut.

B. HUKUM KIRCHOFF
Gustaf Robert Kirchoff adalah seorang fisikawan jerman yang berkontribusi pada
pemahaman konsep dasar teori rangkaian listrik, spektroskopi, dan emisi radiasi benda
hitam yang dihasilkan oleh benda-benda yang dipanaskan.Dalam kelistrikan, sumbangan
utamanya adalah dua hukum dasar rangkaian, yang kita kenal sekarang dengan Hukum I dan
Hukum II Kirchoff. Kedua hukum dasar rangkaian ini sangat bermanfaat untuk menganalisis
rangkaian-rangkaian listrik majemuk yang cukup rumit.
Akan tetapi sebagian orang menyebut kedua hukum ini dengan Aturan Kirchoff, karena dia
terlahir dari hukum-hukum dasar yang sudah ada sebelumnya, yaitu hukum kekekalan
energi dan hukum kekekalan muatan listrik. Untuk memecahkan persoalan-persoalan
rangkaian yang rumit; yaitu rangkaian yang terdiri dari beberapa buah sumber tegangan
atau sumber arus serta beberapa buah hambatan/beban maka dipergunakan hukum-hukum
rangkaian, diantaranya hukum Kirchoff. Hukum Kirchoff adalah suatu peraturan atau hukum
yang mengatur tentang jalanya arus dan jumlah tegangan dalam suatu rangkaian arus listrik
yang mempunyai lebih dari satu sumber gaya gerak listrik yang berbeda kekuatannya.jadi
intinya hukum kirchoff ini mengatur jumlah arus dan tegangan yang masuk dan yang keluar.
Hukum-hukum Kirchhoff ada dua,yaitu Hukum I Kirchhoff dan Hukum II Kirchhoff.

1.Hukum Kirchoff I

Hukum I kirchhoff berbunyi sebagai berikut.

Pada rangkaian listrik bercabang, jumlah kuat arus yang masuk pada suatu titik
percabangan sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik itu
Aturan Kirchhoff yang pertama adalah suatu pernyataan tentang kekekalan muatan
listrik.Semua muatan yang memasuki titik tertentu dalam sebuah rangkaian harus keluar
dari titik tersebut karena muatan tidak dapat bertambah pada sebuah titik.

Hukum I Kirchhoff secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:


I masuk = I keluar

Gambar 1

Dari gambar 1, dengan memasang amperemeter pada masing-masing cabang dapat


dibuktikan bahwa:
I = I1 + I2 +l 3
= I

Perhatikan contoh berikut ini.


Gambar 2.

Bila P adalah titik cabangnya, maka :

i1+ i2 + i3 = i4 + i5
2.Hukum Kirchoff II
Hukum Kirchoff II ini berbunyi:
Pada rangkaian tertutup , total beda potensial nya sama dengan nol

Dirumuskan : V + IR = 0

Yang dimaksud dengan IR yaitu besarnya tegangan dari hasil kali antara besarnya arus
dengan hambatan yang dilalui.
apabila tegangan V diberi tanda positif, maka besarnya tegangan IR harus diberi tanda
negatif.
Sehingga :
+ V IR = 0

Hukum-hukum Sirkuit Kirchhoff 1.

Hukum Arus Kirchhoff

Arus yang memasuki titik percabangan sama besar dengan arus yang meninggalkan titik
tersebut.

Hukum percabangan Kirchhoff atau KCL (Kirchhoff's Current Law).

Prinsip dari kekekalan muatan listrik mengatakan bahwa:

Pada setiap titik percabangan dalam sirkuit listrik, jumlah dari arus yang masuk kedalam
titik itu sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik tersebut. atau Jumlah total arus
pada sebuah titik adalah nol.
KVL (Kirchhoff's Voltage Law)

Prinsip kekekalan energi mengatakan bahwa:


Jumlah terarah (melihat orientasi tanda positif dan negatif) dari beda potensial listrik
(tegangan) di sekitar sirkuit tertutup sama dengan nol.
Atau secara lebih sederhana, jumlah dari emf dalam lingkaran tertutup ekivalen dengan
jumlah turunnya potensial pada lingkaran itu. atau Jumlah hasil kali resistansi konduktor dan
arus pada konduktor dalam lingkaran tertutup sama dengan total emf yang ada dalam
lingkaran (loop) itu.

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari:


Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita harus memasang lampu-lampu secara seri, tetapi
dalam keadaan yang lain kita harus memasang lampu secara paralel. Kuat arus listrik dalam
suatu rangkaian tak bercabang, besarnya selalu sama. Lampu-lampu di rumah kita pada
umumnya terpasang secara paralel. Pada kenyataannya rangkaian listrik biasanya terdiri
banyak hubungan sehingga akan terdapat banyak cabang maupun titik simpul. Titik simpul
adalah titik pertemuan dua cabang atau lebih. Penyelesaian dalam masalah rangkaian listrik
yang terdapat banyak cabang atau simpul itu maka digunakan Hukum I dan II Kirchhoff.
BAB III PENUTUP

A.KESIMPULAN
1. Hukum Ohm merupakan hukum dasar rangkaian listrik yang menyatakan hubungan
antara kuat arus dan beda potensial listrik dalam satu rangkaian listrik tertutup pada
temperatur konstan.

2. Hukum Kirchoff adalah suatu peraturan atau hukum yang mengatur tentang jalanya arus
dan jumlah tegangan dalam suatu rangkaian arus listrik yang mempunyai lebih dari satu
sumber gaya gerak listrik yang berbeda kekuatannya.jadi intinya hukum kirchoff ini
mengatur jumlah arus dan tegangan yang masuk dan yang keluar.
Daftar pustaka

Edminister, A Joseph. 2005. Rangkaian Listrik. Jakarta: Erlangga

Mismail, Budiono. 1995. Rangkaian Listrik. Bandung: ITB

Nahri. 2005. Rangkaian Listrik. Jakarta: Erlangga

Sudirham, S. 2002. Analisa Rangkaian Listrik. Banndung : ITB

Tim Rangkaian Listrik. 2015. Rangkaian Listrik. Medan: UNIMED