Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Dalam suatu negara terdapat wilayah kewenangan pemerintah dan ada pula wilayah
kewenangan warga negara. Dimana antara wilayah-wilayah ini bertindak diwilayahnya
masing-masing dan tidak boleh diganggu karena masing-masing mempunyai hak dan
kewajiban sendiri. Peradilan Tata Usaha Negara baru hadir pada negara Republik Indonesia
tahun 1986 hal ini terjadi karena adanya perpindahan konsep negara dari negara penjaga
malam (Nachtwakerstaat) menjadi negara dengan konsep negara kesejahteraan
(Welfarestate).Pada saat konsep negara dari negara penjaga malam (Nachtwakerstaat) negara
hanya menjaga keamanan dan kenyamanan warga negara, dimana negara hanya melihat apa
yang terjadi didalam masyarakat (Nachtwakerstaat). Konsep ini berubah pada tahun 1986
dimana negara bukan lagi sebagai negara penjaga malam tetapi berubah konsep menjadi
negara dengan konsep negara kesejahteraan (Welfarestate). Hal ini membuat negara tidak
hanya sekedar menjaga keamanan saja tetapi juga harus memberikan kesejahteraan kepada
warga negaranya, sehingga pemerintah harus menerobos batas-batas yang ada untuk masuk
kedalam kehidupan warga negara agar dapat memberikan kesejahteraan bagi warga negara.
Dengan adanya perubahan konsep ini akan menibulkan kepentingan warga negara yang
dirugikan oleh negara yang dianggap melakukan pelanggaran atau melakukan perbuatan
melawan hukum. Untuk melawan negara maka warga negara yang merasa dirugikan oleh
negara dalam hal ini pejabat tata usaha negara dapat menuntut pemerintah didalam bidang
peradilan yakni peradilan tata usaha negara.
Fungsi dan Kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara. Peradilan Tata Usaha Negara
berfungsi untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi antara warga negara dengan
pemerintah dalam hai ini Pejabat Tata Usaha Negara. Warga negara yang merasa
kepentingannya dirugikan maka berhak menuntut dalam Peradilan Tata Usaha Negara.
Kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara dapat dilihat dalam Undang-undang Nomor 5
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara diterangkan dalam Pasal 47 jo pasal 1(4) jo
pasal 1(3) jo pasal 3(1) yakni Pengadilan Tata Usaha Negara berwenang memeriksa,
memutus, dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara. Syarat adanya ketentuan sebuah
Peradilan Tata Usaha Negara adalah:
a. Harus ada aturan hukum yang abstrak yang sudah ada sebelumnya, dalam hal ini
peraturan perundang-undangan atau peraturan lainnya.

Page 1
b. Harus ada perselisihan yang konkrit, maksudnya perselisihan ini dibawa ke
Pengadilan Tata Usaha Negara.
c. Dalam membawa perkara minimal ada 2 pihak yang berpekara dalam hal ini 1 warga
negara dan 1 lagi Pejabat Tata Usaha Negara.
d. Salah satu pihak yang berpekara haruslah Pejabat Tata Usaha Negara.
e. Perkaranya dalam ranah bidang Hukum Administrasi Negara atau Hukum Publik.
Maksud Perbuatan Melawan Hukum Perbuatan Melawan Hukum dalam Hukum
Administrasi Negara dibedakan menjadi 2 yaitu Perbuatan Melawan Hukum
(Onrechtmatigedaad) dan Perbuatan Melawan Undang-undang (Onwetmatigedaad).
Lebih luas perbuatan melawan hukum dibandingkan perbuatan melawan undang-undang hal
ini dikarenakan kalau melawan undang-undang adalah hanya yang tertulis saja sedangkan
perbuatan melawan hukum terdiri dari peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis.
Perbuatan Melawan Hukum Oleh Pemerintah (Onrechtmatige Overheids daad) terdapat 2
bidang yang diatur didalamnya seperti Hukum Perdata dan Hukum Publik. Sengketa
Pemerintah dengan warga negara dalam bidang hukum Privat/ Perdata diselesaikan di
Pengadilan Umum/ Pengadilan Negeri. Kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara
menyelesaikan sengketa hukum dalam bidang hukum publik.
Pembatasan Kewenangan PTUN. Terdapat pembatasan Langsung terhadap perkara
yang tidak dapat diterima oleh PTUN yakni dalam Pasal 2 Undang-undang Nomor 5 Tahun
1986 Mengenai apa yang tidak termasuk dengan keputusan TUN, pasal 49 Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1986 Mengenai sebuah sengketa TUN dalam tertentu, ketentuan tentang
sengketa di lingkungan Peradilan Militer. Pembatasan tidak langsung menurut Pasal 49 Jo
Pasal 51 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986. Pembatasan langsung yang bersifat
sementara Pasal 142 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986. Kekhususan dari Peradilan Tata
Usaha Negara. Terdapat beberapa kekhususan dari Peradilan Tata Usaha Negara
dibandingkan dengan peradilan yang ada di Indonesia sebelumnya. Pertama, adanya tenggang
waktu hal ini diatur dalam pasal 53 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 dikatakan bahwa
gugatan dapat diajukan hanya dalam waktu 90 hari terhitung sejak saat diterimanya atau
diumumkannya keputusan badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Kedua, adanya asas hakim
aktif hal ini diatur dalam pasal 62-63 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 dikatakan bahwa
didalam sengketa Tata Usaha Negara hakim berperan aktif untuk membantu pihak yang
lemah. Dalam hal ini pihak yang lemah adalah warga negara karena melawan Pejabat Tata
Usaha Negara yang memiliki kekuasaan. Ketiga, adanya proses dismissal atau kewenangan
untuk menolak perkara hal ini diatur dalam pasal 62 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986,

Page 2
dalam proses ini ketua PTUN berhak untuk menyaring sengketa Tata Usaha Negara yang
dapat diterima maupun tidak diterima. Proses dismissal ini merupakan prinsip hakim aktif
dimana dengan menghentikan gugatan akan mengirit waktu dan biaya dalam perkara
sehingga tidak merugikan warga negara. Keempat, adanya Asas Presumptio Justae Causa
artinya Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh badan/ pejabat TUN harus tetap dianggap
benar sampai Pengadilan memutuskan yang sebaliknya. Kelima, Sengketa Tata Usaha Negara
tidak mengenal Rekonvensi maksudnya tidak ada gugat balik terhadap Surat Keputusan Tata
Usaha Negara. Alasan adanya prinsip ini adalah tidak mungkin menggugat badan/ pejabat
TUN keputusan yang dikeluarkan oleh pejabat itu sendiri.
Masalah Gugatan Dimulai dari Persiapan Gugatan adalah adanya pokok sengketa
dimana objek sengketanya yaitu Surat Keputusan Tata Usaha Negara. Salah satu pihaknya
setidaktidaknya pejabat Tata Usaha Negara, yang mana Keputusan Tata Usaha Negara yang
digugat tidak boleh melebihi 90 hari sejak tersebut Keputusan dikeluarkan dan didalam hal
ini akan dijelaskan mengenai pengadilan yang berwenang memeriksa perkara tersebut.
Pengajuan Gugatan dilakukan oleh seorang kuasa, bila dipandang perlu memanggil para
pihak, membayar biaya pengadilan, dan pengakomodir tentang membayar biaya pengadilan,
dan penetapan pengkabulan permohonan gugatan, juga tidak boleh lebih dari tenggat waktu
yang ada. Proses Pemeriksaan didalamnya terdapat Pemeriksaan Internal seperti dalam pasal
62 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 hakim bersifat aktif, kewenangan menyaring
perkara termasuk gugatan atau tidak oleh Ketua Pengadilan TUN untuk menolong yang
lemah yakni warga negara. Obyek Gugatan Syarat Surat Keputusan Tata Usaha Negara yang
dibuat oleh pihak Pejabat Tata Usaha Negara yang dapat digugat ke Pengadilan Tata Usaha
Negara harus lah mempunyai beberapa syarat yaitu:
a. Kongkrit Maksudnya adalah menunjuk sebuah objek yang jelas dan nyata.
b. Individual Harus menyebutkan secara jelas siapa orang yang dituju.
c. Final Surat ini punya kekuatan untuk langsung dilaksanakan, surat keputusan yang
masih menunggu persetujuan tidak bisa digugat karena belum final.
d. Menimbulkan akibat hukum Harus merugikan warga negara, karena apabila tidak
merugikan maka untuk apa digugat.
Tenggang Waktu Gugatan Dalam mengajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha
Negara yang ada batas waktu menurut Pasal 55 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 adalah
90 hari sejak diterbitkannya Surat Keputusan atau diumumkannya Surat Keputusan. Dalam
PTUN dikenal adanya daluwarsa yang terdapat pada Keputusan Fiktif di ayat 2 dijelaskan
jika jangka waktu sebuah keputusan itu sudah lewat maka hasil keputusannya ialah ditolak.

Page 3
Dan di ayat 3 jika tidak ditentukan jangka waktu sebuah keputusan TUN oleh Badan / Pejabat
TUN maka Badan/ Pejabat TUN tersebut dianggap menolak dengan jangka waktu 4 bulan
sejak diterimanya permohonan tersebut kepada Badan / Pejabat TUN yang bersangkutan.
Proses Internal Pasal 62 Undang - undang Nomor 5 Tahun 1986
Istilah yang dikenal adalah Rapat Permusyawaratan Pemeriksaan oleh Ketua PTUN, proses
ini disebut Proses Dismissal. Adanya Proses Dismissal untuk menyaring gugatan yang masuk
kepada PTUN apakah perkara yang diajukan merupakan benar dapat diperiksa di PTUN.
Apabila perkara tidak memenuhi persyaratan misalkan melebihi tenggang waktu maka
perkara akan ditolak. Proses Dismissal ini ada untuk menguatkan posisi penggugat karena
akan sia-sia apabila terus dimajukan perkaranya sedangkan perkara tersebut tidak termasuk
kewenangan PTUN. Apabila penggugat tidak menerima putusan dismissal maka dapat
mengajukan gugatan perlawanan kepada ketua PTUN. Untuk mengajukan proses ini
prosesnya sama dimana harus diberikan kepada pengadilan. Perkara perlawanan ini
diselesaikan dengan proses acara cepat dimana prosesnya singkat waktunya hanya 14 hari
setelah keputusan dibuat, dan diputuskan oleh hakim tunggal. Apabila gugatan dikabulkan
maka Surat Keputusan dari Ketua PTUN akan gugur demi hukum dan akan dilanjutkan
dengan pemeriksaan acara biasa. Apabila diteruskan maka Surat Keputusan dari Ketua PTUN
dinyatakan benar maka perkara akan dihentikan dan tidak ada upaya hukum lainnya.

2. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah makalah ini sebagai berikut :
1. Apa pengertian Peradilan Tata Usaha Negara?
2. Bagaimana analisis Putusan Tata Usaha Negara tingkat pertama?
3. Bagaimana pertimbangan hukumnya Hakim memutus perkara?

3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :
1. Untuk mengetahui pengertian dari Peradilan Tata Usaha Negara.
2. Untuk mengetahui analisa Putusan Tata Usaha Negara Tingkat Pertama.
3. Untuk mengetahui pertimbangan hukumnya Hakim memutuskan perkara.

Page 4