Anda di halaman 1dari 10

Makalah Wudhu Dan Tayamum

BAB I
PENDAHULUAN

Wudhu merupakan sebuah sunnah (petunjuk) yang berhukum wajib, ketika seseorang
mau menegakkan sholat. Sunnah ini banyak dilalaikan oleh kaum muslimin pada hari ini
sehingga terkadang kita tersenyum heran saat melihat ada sebagian diantara mereka yang
berwudhu seperti anak-anak kecil, tak karuan dan asal-asalan. Mereka mengira bahwa wudhu
itu hanya sekedar membasuh dan mengusap anggota badan dalam wudhu. Semua ini terjadi
karena kejahilan tentang agama, taqlid buta kepada orang, dan kurangnya semangat dalam
mempelajari Al-Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Begitu juga sama
halnya mengenai seputar tayammum dan mandi besar.
Banyak diantara kita lebih bersemangat mempelajari dan mengkaji masalah dunia,
bahkan ahli dan pakar di dalamnya. Tiba giliran mempelajari agama, dan mengkajinya,
banyak diantara kita malas dan menjauh, sebab tak ada keuntungan duniawinya. Bahkan
terkadang menuduh orang yang belajar agama sebagai orang kolot, dan terbelakang. Ini
tentunya adalah cara pandang yang keliru. Naudzu billahi min dzalik.
Makalah ini membahas masalah-masalah seputar wudhu, tayammum serta mandi
disertai dalil-dalil keterangan bersumberkan Kitab Suci Al-Quran dan Sunnah Nabi saw.
BAB II
PEMBAHASAN

1. WUDHU
A. Pengertian Wudhu
Wudhu (Arab: al-wu) adalah salah satu cara mensucikan anggota tubuh
dengan air. Seorang muslim diwajibkan bersuci setiap akan melaksanakan shalat. secara garis
umum diartikan, adalah mensucikan diri dari segala hadast kecil sesuai dengan aturan syariat
islam.[1]
B. Syarat Syarat Wudhu
Syarat syarat wudhu dibagi menjadi tiga bagian :
1. Syarat Wajib wudhu : adalah syarat yang mewajibkan orangmukallaf untuk berwudhu,
dimana apabila syarat itu atau sebagian padanya hilang, ia tidak wajib melakukan wudhu.
Adapun syarat wajib wudhu, antara lain adalah
a. Baligh (Dewasa)
b. Masuknya waktu shalat.
c. Bukan orang yang mempunyai wudhu.
d. Mampu melaksanakan wudhu.
2. Syarat Sah wudhu
Antara lain :
a. Air yang digunakan itu adalah thahur (mensucikan).
b. Orang yang berwudhu itu Mumayyiz
c. Tidak terdapat pengahalang yang dapat mengahalangi sampainya air ke anggota wudhu yang
hendak dibasuh.
3. Syarat Wajib dan Sahnya sekaligus
Adapun syarat wajib dan sahnya sekaligus, antara lain:
a. Akil
b. Sucinya perempuan dari darah haid dan nifas.
c. Tidak tidur atau lupa
4. Islam

C. Rukun Wudhu
Antara lain :
1. Niat
2. Membasuh / mengusap anggota wajib wudhu.
Dalam Al-Quran dalam surat Al-Maidah ayat 6 yang berbunyi:
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh)
kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu
sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh
perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik
(bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan
kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu,
supaya kamu bersyukur

Dari ayat diatas dapat kita simpulkan bahwa anggota wajib wudhu antara lain:
1. Seluruh bagian muka
2. Kedua tangan sampai kedua siku siku
3. kepala, baik seluruhnya maupun sebagian dari padanya
4. kedua kaki sampai dengan kedua mata kaki
3. Tertib
D. Sunnat Wudhu
Adapun sunatnya wudhu ada 10 perkara yaitu :
1. Membaca Basmallah pada permulaanya
2. Membasuh kedua telapak tangan sampai pada pergelangannya
3. Berkumur sesudah membasuh kedua telapak tangan
4. Meratakan didalam mengusap kepala
5. Mengusap bagian kedua telinga
6. Memasukan air kedalam selah selah rambut jenggot
7. Memasukan air pada selah selah jari kedua tangan dan kaki
8. Mendahulukan anggota wudhu yang kanan daripada yang kiri
9. Mengulang tiga kali pada setiap anggota yang dibasuh atau diusap
10. Sambung menyambung[2]
E. Hal hal makruh dalam Wudhu
Adapun halhal yang makruh dalam wudhu antara lain:
Berlebih lebihan dalam menuangkan air, misalnya , sampai lebih dari cukup dan ini apabila
air tersebut mubah (boleh dipakai) atau milik orang yang berwudhu itu sendiri. Jika air itu
jelas hanya tersedia untuk wudhu, seperti air yang tersedia dimasjid, maka menggunakanya
dengan berlebih lebihan adalah haram
F. Hal- hal yang membatalkan Wudhu
Ada beberapa perkara atau hal yang dapat membatalkan wudhu, diantaranya adalah:
1. Keluar sesuatu dari dua pintu (kubul dan dubur) atau salah satu dari keduanya baik berupa
kotoran, air kencing , angin, air mani atau yang lainnya.
2. Hilangnya akal, baik gila, pingsan ataupun mabuk.
3. Bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan yang bukan muhrim
4. Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan bathin telapak tangan, baik milik sendiri
maupun milik orang lain. Baik dewasa maupun anak-anak.
5. Tidur, kecuali apabila tidurnya dengan duduk dan masih dalam keadaan semula (tidak
berubah).

2. TAYAMUM
A. Pengertian Tayamum
Pengertian Tayamum secara lughat (etimologi) yaitu menyengaja, sedangkan secara
sraya (terminologi) yaitu Mendatangkan debu yang suci ke wajah dan kedua tangan sampai
sikut dengan syarat dan rukun tertentu[3]
Tayamum diperbolehkan pada tahun ke-6 Hijriyah, sebagai keringanan (rukshah)
yang diberikan kepada umat Isalam. Tayamum merupakan pengganti dari thaharah, ketika
seseorang tidak dapat mandi atau wudhu[4]. Salah satu ayat yang sering dijadikan dasar untuk
bertayamum adalah dalam firman Allah surat Al-Maidah ayat 6.
Dan salah satu hadits Nabi yang berbunyi :

( )
Artinya : Bumi dijadikan untuk-Ku sebagai mesjid dan debunya dapat mensucikan
(HR.Muslim)
Dari Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 6 tersebut telah jelas bahwa
tayamum merupakan pengganti wudhu atau mandi ketika seseorang dalam keadaan udzur,
baik seperti sedang sakit, sedang dalam perjalanan jauh ataupun tidak adanya air ketika
hendak berwudhu atau mandi.
Dalam hal ini tayamum berkedudukan hanya sebagai pengganti wudhu, oleh
karenanya tayamum tidak bisa dikiaskan dengan wudhu, sebab tayamum itu adalah bersuci
dalam keadaan darurat. Jika dimungkinkan masih bisa melaksanakan wudhu maka tidak
diperbolehkan untuk bertayamum.
B. Sebab-Sebab Diperboloehkannya Tayamum
Ada beberapa sebab yang mengakibatkan seseorang diperbolehkan untuk bertayamum,
diantaranya :
1. Tidak adanya air
Hal ini bisa disebabkan karena sudah diusahakan untuk mencari air tetapi tidak
mendapatkan air, sedangkan waktu shalat sudah masuk atau karena sedang dalam perjalanan
(musafir). Ada beberapa kriteria musafir yang diperbolehkan bertayamum, yaitu sebagai
berikut :
a. Ia yakin bahwa disekitar tempatnya itu benar-benar tidak ada air, maka ia boleh langsung
bertayamum tanpa harus mencari air terlebih dahulu.
b. Ia tidak yakin, ia menduga disana mungkin ada air, tetapi mungkin juga tidak. Pada
keadaan yang demikian, ia wajib lebih dulu mencari air di tempat-tempat yang dianggapnya
mungkin terdapat air.
c. Ia yakin ada air disekitar tempat itu. Akan tetapi menimbang situasi pada saat itu tempatnya
jauh dan dikhawatirkan waktu shalat akan habis dan banyaknya musafir yang berdesakan
mengambil air, maka ia diperbolehkan tayamum.
2. Adanya udzur
Adanya udzur seperti sakit, yang menurut prediksi dokter akan bertambah parah akan
bertambah parah atau semakin lama sembuhnya bila terkena air.
3. Ada perbedaan pendapat tentang sebab tayamum yang ke-3 ini, Imam Hanafi berpendapat
hanya ada dua yg disebutkan diatas yg merupakan sebab diperbolehkannya tayamum,
menurut Imam Syafii sebab ke-3 adalah adanya air sedikit tetapi untuk minum hewan yang
dimulyakan oleh syara, menurut Imam Malik adanya air sedikit tetapi untuk minum hewan
sekalipun anjing, dan menurut Imam Hambali sebab yang ke-3 adalah mancari air setelah
waktunya shalat tetapi tidak menemukan air.
C. Syarat-syarat tayamum
Tayamum dibenarkan apabila terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Dengan tanah yang suci dan berdebu.
Menurut pendapat Imam Syafii, tidak sah tayamum selain dengan tanah. Menurut
pendapat imam yang lain, boleh (sah) tayamum dengan tanah, pasir atau batu. Dalil pendapat
yang kedua ini adalah berdasarkan sabda Rasulullah SAW. :


Artinya : Telah dijadikan bagiku bumi yang baik, menyucikan, dan tempat sujud [5]
Perkataan bumi termasuk juga tanah, pasir dan batu.
Yang dimaksud dengan tanah (debu) yang suci disini adalah tanah murni (khalis) yang
tidak bercampur dengan barang selainnya (seperti tepung dan sebangsanya), dan bukan pula
tanah yang mustamal (yang sudah terpakai untuk thaharah).
2. Sudah masuk waktu shalat.
Tayamum disyariatkan untuk orang yang terpaksa. Sebelum masuk waktu shalat ia
belum terpaksa, sebab shalat belum wajib atasnya ketika itu.
3. Menghilangkan najis.
Menurut sebagian ulama, sebelum melakukan tayamum hendaklah ia membersihkan
diri terlebih dahulu dari najis, tetapi menurut pendapat yang lain ada juga yang mengatakan
tidak usah.
D. Rukun- rukun tayamum
1. Niat
Imam Hanafi mewajibkan niat didalam tayamum karena ainutturob (dzatiyah debu)
tidak dapat mensucikan, sehingga butuh penguat yaitu niat. Bedahalnya dengan air, Karena
menurut Imam Hanafi, bersuci dengan air tidak perlu niat. Imam Hanafi memperbolehkan
tayamum dengan niat menghilangkan hadats, karena tayamum merupakan pengganti wudhu
atau mandi, maka menurut Imam Hanafi satu kali tayamum boleh untuk melakukan beberapa
kali shalat fardu.
Sedangkan Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali sependapat bahwa satu kali
tayamum hanya dapat digunakan untuk satu kali shalat fardu dan tidak boleh di niati roful
hadats (menghilagkan hadats) tetapi istibahatish shalat (diperbolehkan melakukan sholat).
2. Mengusap wajah dengan dengan debu
3. Mengusap kedua tangan.
Menurut Imam Syafii dan Imam Hanafi mengusap kedua tangan sampaisiku-siku,
sedangkan menurut Imam Maliki dan Imam Hambali cukup dengan mengusap tangan hingga
pergelangan tangan saja.
4. Menurut Imam Hanafi dan Imam Hambali hanya ada 3 rukun-rukun tayamum yang
disebutkan diatas. Menurut Imam Maliki rukun tayamum yang ke-4 adalah Mualah (terus
menerus tanpa ada pemisah lama) antara mengusap anggota satu dengan yang lain, dan antara
tayamum dengan shalat merupakan rukun tayamum. Sedangkan menurut Imam Syafii rukun
tayamum yang ke-4 adalah tartib (mendahulukan anggota yang seharusnya diawal dan
mengakhirkan anggota yang seharusnya terakhir).
E. Sunat-suunat tayamum
1. Membaca basmallah. Dalilnya adalah hadits sunat wudhu, karena tayamum merupakan
pengganti wudhu.
2. Mengepikan debu dari telapak tangan supaya debu yang berada di telapak tangan menjadi
tipis.
3. Mendahulukan menyapu tangan kanan dari yang kiri dan memulakan bagian atas dari
bagian bawah ketika menyapu muka.
4. Merenggangkan jari-jari ketika menepukannya pertama kali ke tanah.
5. Menyela-nyela jari setelah menyapu kedua tangan
6. Dilakukan dengan tertib
7. Membaca dua kalimat syahadat sesudah tayamum, sebagaiman sesudah selesai berwudhu.
F. Batalnya tayamum
1. Semua hal yang membatalkan wudhu juga membatalkan tayamum.
2. Adanya air.
Apabila seseorang bertayamum karena tidak ada air dan bukan karena sakit atau luka,
lalu ia mendapatkan air sebelum ia melaksanakan shalat maka tayamumnya itu batal. Oleh
karena itu ada beberapa ketentuan bagi orang yang bertayamum tetapi kemudian menemukan
air, adalah sebagai berikut :
a. Jika menemukan air setelah shalat selesai, maka tidak wajib baginya untuk mengulangi
shalatnya, meskipun waktu shalat itu masih ada. Sebagaimana diteranggkan dalam hadits
berikut yang artinya :
Dua orang laki-laki melakukan suatu perjalanan dan datanglah waktu shalat,
sedangkan mereka tidak mendapakan air. Maka keduanya bertayamum dengan tanah yang
suci, lalu melaksanakan shalat. Kemudian diantara mereka menemukan air, maka seorang
dari mereka berwudhu dan mengulangi shalatnya, sedangkan yang satunya tidak mengulangi
shalatnya, kemudian mereka menghadap Nabi SAW dan menceritakan peristiwa itu. Maka
Rasulullah SAW bersabda kepada orang yang tidak mengulanginya, Engkau telah sesuai
sunnah dan memperoleh pahala dari shalatmu. Kepada orang yang berwudhu lagi
mengulangi shalatnya, Bagimu pahala dua kali.[6]
b. Jika orang yang bertayamum bukan karena sakit,lalu menemukan air sebelum ia
melaksanakan shalat, maka tayamumnya itu batal dan ia harus berwuudhu.
c. Apabila orang yang bertayamum karena junub, lalu ia menemukan air setelah shalat, maka
ia tidak wajib mengulangi wudhu melainkan harus mandi. Sebagaimana diterangkan dalam
hadits Nabi SAW berikut yang artinya :
Rasulullah SAW melakukan shalat bersama oorang-orang. Ketika beliau berpaling
dari shalatnya, ada seorang laki-laki yang memisahkan diri dan tidak ikut shalat. Maka
Rasulullah bertanya kepadanya, Kenapa kamu tidak ikut shalat bersama orang-orang?
Dia menjawab : Saya sedng junub dan tidak saya dapati air. Maka beliau bersabda :
Pakailah tanah, itu cukup bagimu. Selanjutknya diceritakan oleh Imran setelah mereka
memperoleh air, maka Rasulullah SAW memberikan setimba air kepadanya seraya bersabda :
Pergilah dan kucurkanlah ke tubuhmu (mandilah)[7].
3. Murtad.
G. Beberapa masalah yang bersangkutan dengan tayamum
1. Tayamumnya orang yang memakai perban
Menurut Syaikh Abu Syujak :Orang yang mempunyai jabiirah, yakni perban pada
anggota wudhunya, cukup mengusap perbannya itu dan dan bertayamum kemudian shalat.
Dan tidak wajib mengulangi, juga waktu meletakan perban itu dia dalam keadaan suci.
Orang yang mengalami patah tulang atau sekedar bergeser tulangnya kadang-kadang
memerlukan perban (jabiirah) dan kadang-kadang tidak memerlukan. Jika memang
pemakaian perban itu diperlukan, karena khawatir mempenggaruhi kesehatan badannya atau
anggota badannya maka orang tersebut boleh memakai perban.
Kemudian lihat situasi dan kondisi. Jika pada waktu bersuci dia boleh melepaskan
perban itu tanpa menimbulkan bahaya, maka ia wajib melepaskan perban itu. Jika tidak, harus
mengusap perban itu dengan tanah/debu, jika perban itu terletak pada anggota tayamum.
Jika perban itu tidak boleh dilepaskan, karena jika dilepaskan akan bahaya seperti
dikhawatirkan hilangnya nyawa, atau hilangnya anggota tubuh atau manfaat dari anggota
tubuh itu, atau khawatir timbul cacat yang buruk pada anggota yang kelihatan, maka orang itu
tidak diharuskan melepaskan perban itu. Tetapi ada beberapa hal yang wajib ia kerjakan
antara lain :
a. Wajib membasuh anggota yang sehat menurut madzhab yang kuat.
b. Wajib membasuh apa saja yang dapat dibasuh, termasuk kulit-kulit yang beradadi bawah
pinggiran perban, dengan meletakan kain yang telah dibasahi atau dengan memeras kain itu
untuk membasuh tempat-tempat yang dapat dibasuh.
c. Wajib mengusap perban itu dengan air. Usapan itu untuk anggota yang sehat dan tertutup
oleh perban. Dan wajib mengusap seluruh perban itu menurut Qaul dan Shahih.
d. Wajib tayamum selain mengusap perban. Inilah menurut Qaul dan Masyhur.
Kemudian seperti apa yang telah dikemukakan diatas, mengenai wajibnya membasuh
anggota yang sehatdan mengusap perban serta wajib tayamum, itu dapat dianggap cukup
setelah nmemenuhi dua syarat :
a. Anggota sehat yang tertutup oleh perban harus anggota yang tidak dapat ditinggalkan
untuk mengikat perban.
b. Meletakan perban harus dalam keadaan suci. Jika tidak, wajib mencopot dan
mengulangi memakainya dalam keadaan suci jika boleh. Jika tidak boleh, perban itu
dibiarakan dan wajib mengqadha shalat apabila sudah sembuh.
2. Bertayamum Dengan Dinding
Tanah yang baik yang dapat dipergunakan untuk tayamum adalah debu yang suci, jika
disekitar tempat tayamum itu tidak ditemukan debu, maka boleh bertayamum dengan
menggunakan dinding. Dengan catatan dinding itu berdebu dan dindingnya tidak kotor
sehingga tidah mencampuri kesucian debunya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma bahwa dia berkata: Saya
datang bersama dengan Abdullah bin Yasar bekas budak Maimunah isteri Nabi shallallahu
alaihi wa sallam. Tatkala kami bertemu dengan Abu Jahim bin Al-Harits bin Ash-Shamah Al-
Anshari maka Abu Jahim mengatakan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah datang
dari arah sumur Jamal. Kemudian ada seorang lelaki yang menemuinya dan mengucapkan
salam kepada beliau. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menjawab salamnya
hingga beliau menyentuh dinding (dengan tangannya, pen) kemudian membasuh wajah dan
kedua telapak tangannya. Baru setelah itu beliau mau menjawab salamnya. (Muttafaq
alaih) Hadits ini menunjukkan bahwa bertayamum dengan mengusap dinding diperbolehkan)

3. Mandi
A. Pengertian Mandi Besar
Mandi besar, mandi junub atau mandi wajib adalah mandi dengan menggunakan air
suci dan bersih (air mutlak) yang mensucikan dengan mengalirkan air tersebut ke seluruh
tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tujuan mandi wajib adalah untuk
menghilangkan hadas besar yang harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah sholat
B. Hal hal yang mewajibakan Mandi
1) Mengeluarkan air mani baik disengaja maupun tidak sengaja[8]
2) Melakukan hubungan seks / hubungan intim / bersetubuh
3) Selesai haid / menstruasi
4) Melahirkan (wiladah) dan pasca melahirkan (nifas)
5) Meninggal dunia yang bukan mati syahid[9]
Bagi mereka yang masuk dalam kategori di atas maka mereka berarti telah mendapat
hadas besar dengan najis yang harus dibersihkan. Jika tidak segera disucikan dengan mandi
wajib maka banyak ibadah orang tersebut yang tidak akan diterima Allah SWT .

C. Rukun rukun Mandi


Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan selama mandi karena wajib untuk
dilakukan :
1. Membaca niat : Nawaitul ghusla lirofil hadatsil akbari fardlol lillaahi taaalaa yang
artinya AKu niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar fardlu karena Allah.
2. Membilas/membasuh seluluh badan dengan air (air mutlak yang mensucikan) dari ujung
kaki ke ujung rambut secara merata.
3. Hilangkan najisnya bila ada .
D. Sunat sunat mandi
Berikut ini adalah hal-hal yang boleh-boleh saja dilakukan (tidak wajib hukum
islamnya)
1) Sebelum mandi membaca basmalah.
2) Membersihkan najis terebih dahulu.
3) Membasuh badan sebanyak tiga kali
4) Melakukan wudhu/wudlu sebelum mendi wajib
5) Mandi menghadap kiblat
6) Mendahulukan badan sebelah kanan daripada yang sebelah kiri
7) Membaca doa setelah wudhu/wudlu
8) Dilakukan sekaligus selesai saat itu juga (muamalah)
Tambahan :
Orang yang sedang hadas besar tidak boleh melakukan shalat, membaca alquran,
thawaf, berdiam di masjid, dan lain-lain.
E. Mandi sunat
1) Mandi untuk Shalat jumat
2) Mandi untuk Shalat hari raya
3) Sadar dari kehilangan kesadaran akibat pingsan, gila, dbb
4) Muallaf (baru memeluk/masuk agama islam)
5) Setelah memendikan mayit/mayat/jenazah
6) Saat hendak Ihram
7) Ketika akan Sai
8) Ketika hendak thawaf
9) dan lain sebagainya
F. Hal- hal yang haram dilakukan oleh orang yang junub sebelum melakukan Mandi
Bagi seseorang yang sedang dalam keadaan junub diharamkan melakukan suatu
perbuatan yang bersifat syariyah yang tergantung pada wudhu sebelum orang tersebut mandi
besar.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan adanya kita bersuci dengan menggunakan wudhu dan tayamum, maka kita
mendapatkan hikmah diantaranya adalah:
1. Dapat menjauhkan diri dari pada jangkitan penyakit.
2. Amalan-amalan tertentu tidak diterima Allah tanpa bersuci.
3. Kebersihan yang lahir juga akan membawa kepada kebersihan jiwa seseorang.
4. Amalan kebersihan yang dilakukan itu menjadi syiar dan identitas umat Islam di dalam
kehidupan manusia agar dengan itu umat Islam menjadi contoh dan teladan kepada manusia
seluruhnya.
5. Kebersihan dapat mencerminkan pribadi seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

Fuad, Muhammad. 2007. FIQIH Wanita Lengkap. Jombang: Lintas Media.


Hidayat. 2009. Thaharah dan Shalah bagi Musafir. . Bandung: IMTIHA
Hidayat. 2009. Thaharah dan Shalah bagi Musafir. . Bandung: IMTIHA
Mannan, Abdul. 2007. FIQIH Lintas Madzhab. Kediri: PP Al falah.
Rasjid, H. Sulaiman. 2012. Fiqh Islam. Cet.ke-55. Bandung: Sinar Baru
Drs. H. Moh. RifaI, Ilmu Fiqih Islam Lengkap, Semarang, PT. Karya Toha Putra, 1978
Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Imam Jafar Shadiq. Terjemahan, Jakarta, Dar al-
Jawad, 1984.
Shahih: (Mukhtashor Shahih Muslim.151), Shahih Imam Muslim(1/269/343), Abu
Daud(1/366/214) dan Mutafaqqun Alaih: Shahih Bukhori(1/228/130), Shahih Imam
Muslim(1/251/313), Tirmidzi(1/80/122)

DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah .

1.3 Tujuan

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Wudhu..

2.2 Tayamum

2.3 Mandi .

BAB III : PENUTUP

3.1 Kesimpulan.

DAFTAR PUSTAKA .