Anda di halaman 1dari 34

SKENARIO 3

GIGI TIRUAN PADA ANAK

Pasien anak perempuan usia 9 tahun datang diantar oleh ibunya ke RSGM
UNEJ mengeluh gigi 65 dan 55 sakit jika digunakan untuk makan, sehingga
pasien merasa tidak nyaman bila mengunyah makanan. Gigi anterior rahang atas
dan bawah tidak ada maloklusi. Pemeriksaan ektra oral tidak ada kelainan. Hasil
pemeriksaan intra oral tampak gigi 65 dan 55 tersebut karies profunda perforasi.
Pada gambaran radiografi gigi 65 dan 55 tampak radiolusen pada apeks gigi dan
terlihat adanya perforasi bifurkasi, sehingga gigi tersebut tidak dapat dilakukan
perawatan. Sedangkan gigi 25 dan 15 agenisi. Dokter akan melaksanakan
perawatan untuk mengembalikan fungsi kunyah.

1
STEP 1
ANALYZING UNFAMILLIAR WORDS

1. Gigi tiruan pada anak


Merupakan protesa yang terbuat dari landasan sayap, clusp dari
resin akrilik dengan retensi bahan logam ataupun kawat. Alat ini dapat
berguna sebagai space maintainer dan juga fungsi dari gigi yang
digantikan. Biasanya diindikasikan untuk tanggal premature dimana benih
giginya masih lama erupsi ataupun keadaan agenisi.

2. Agenisi
Merupakan keadaan tidak adanya benih gigi yang dapat terjadi
pada satu atau lebih gigi yang disebabkan oleh faktor genetic maupun
lingkungan.

3. Maloklusi
Keadaan dimana hubungan atau relasi dari rahang atas dan rahang
bawah tidak harmonis.

2
STEP 2
ANALYZING PROBLEMS

1. Bagaimana rencana perawatan yang sesuai dengan scenario?


2. Apa saja fungsi dari gigi tiruan pada anak?
3. Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari penggunaan gigi tiruan pada
anak?
4. Apa saja faktor faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dari
penggunaan gigi tiruan pada anak?
5. Bagaimana tahapan pembuatan gigi tiruan pada anak?
6. Bagaimana desain dari gigi tiruan yang sesuai dengan scenario?

3
STEP 3
BRAINSTORMING

1. Bagaimana rencana perawatan yang sesuai dengan skenario?


Rencana perawatan yang sesuai adalah menggunakan gigi tiruan
sebagian lepasan. Dimana pada scenario telah dijelaskan bahwa gigi 55
dan 65 merupakan gigi yang indikasi ekstraksi. Kemudian dokter gigi juga
ingin mengembalikan dari fungsi pengunyahan gigi 15 dan 25 yang
agenisi. Maka dari itu dibutuhkan sebuah protesa gigi tiruan untuk
menggantikan fungsi gigi 15 dan 25.
Dipilih menggunakan gigi tiruan lepasan, karena gigi tetangga dari
15 dan 25 belum erupsi sempurna maka merupakan kontraindikasi dari
gigi tiruan cekat. Selain itu gigi tiruan lepasan pada anak lebih mudah
dibersihkan untuk mengontrol plak rongga mulut. Penggunaan gigi tiruan
lepasan pada anak harus disesuaikan dengan pertumbuhan dan
perkembangan rahang dan juga gigi pada anak tersebut.

2. Apa saja fungsi dari gigi tiruan pada anak?


Adapun fungsi dari gigi tiruan pada anak adalah:
- Mengembalikan fungsi estetik
- Penyaluran beban kunyah yang merata
- Mencegah terjadinya maloklusi
- Mengembalikan fungsi bicara
- Mencegah migrasi gigi tetangga
- Mencegah kontak premature pada relasi gigi permanen
- Mempertahankan jaringan rongga mulut
- Mencegah pertumbuhan rahang yang tidak optimal

3. Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari penggunaan gigi tiruan pada
anak?

4
Adapun indikasi dari dari penggunaan gigi tiruan pada anak adalah:
- Kehilangan gigi sulung secara premature
- Pasien yang kooperatif
- Agenisi
Sedangkan kontraindikasi dari penggunaan gigi tiruan pada anak
adalah:
- Pasien yang tidak kooperatif
- Keadaan ekonomi yang tidak mencukupi
- Pasien yang kehilangan semua gigi
- Gigi pengganti yang akan erupsi
- Adanya keterbelakangan mental

4. Apa saja faktor faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dari


penggunaan gigi tiruan pada anak?
Adapun faktor yang perlu dipertimbangkan dari penggunaan gigi
tiruan pada anak adalah:
- Apakah anak tersebut mau beradaptasi mengenai perubahan
keadaan rongga mulutnya
- Tingkat kooperatifan anak dan dukungan orang tua
- Kemampuan dokter gigi
- Usia pasien
- Adanya pembuatan gigi tiruan secara berkala mengikuti pola
perkembagan dan pertumbuhan rahang dan gigi anak
- Ada atau tidaknya gigi pengganti

5. Bagaimana tahapan pembuatan gigi tiruan pada anak?


Secara garis besar tahapan pembuatan gigi tiruan pada anak adalah
sebagai berikut:
- Menanyakan kesiapan pasien dan orang tua serta inform
concern

5
- Melakukan tindakan persiapan seperti ekstraksi. Pada tindakan
ekstraksi maka untuk melakukan tahap berikutnya harus
menuggu proses penyembuhan dari luka ekstraksi.
- Membuat cetakan anatomis
- Mengecor dengan gips keras
- Desain gigi tiruan
- Coba pada model
- Memperbaiki desain dan menghaluskan
- Flasking
- Curing
- Finishing dan polishing
- Insersi
- KIE

6. Bagaimana desain dari gigi tiruan yang sesuai dengan scenario?


Berikut desain gigi tiruan yang sesuai dengan scenario:

6
STEP 4
MAPPING

Anak 9 th

IO Penunjang
- KPP 55, 65 - Agenisi 15, 25

Rencana
Perawatan
Indikasi &
Kontraindikasi
Gigi Tiruan Sebagaian
Lepasan Faktor yang
mempengaruhi

Desain GT Tahapan KIE


Pembuatan

7
STEP 5

LEARNING OBJECTIVES

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai rencana


perawatan sesuai pada scenario.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai indikasi dan
kontraindikasi penggunaan gigi tiruan pada anak.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai tahapan
pembuatan gigi tiruan pada anak.
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai faktor faktor
yang mempengaruhi keberhasilan dari penggunaan gigi tiruan pada anak.

8
STEP 7
LO 1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai rencana
perawatan dan fungsinya sesuai pada skenario
Rencana Perawatan
Hal yang pertama dilakukan adalah membuat daftar prioritas
kebutuhan dan kegawatannya. Masalah pasien pada umumnya dapat
dikelompokkan sesuai keterkaitannya dengan keluhan utama, komplikasi-
komplikasi medik yang potensial dan berbagai kondisi atau penyakit oral
yang ada. Langkah berikutnya ialah membuat daftar berbagai kemungkinan
solusi dan implikasinya dalam rencana perawatan untuk setiap masalah.
Kemudian memilih kemungkinan solusi terbaik untuk setiap masalah
tersebut dengan tetap mempertimbangkan kepentingan pasien, pertimbangan
teknis, dan kebutuhan perawatan dental yang lain.

Tahapan selanjutnya ialah menyusun solusi masalah pasien tersebut


berdasarkan Skala prioritasnya mulai dari perawatan simptomatik,
pengendalian penyakit, diikuti dengan perawatan aktif dengan prosedur
restoratif. Selanjutnya memilih cara pendekatan perencanaan perawatan yang
tepat sesuai dengan yang dikehendaki pasien mulai dari perawatan darurat,
pengendalian penyakit, perawat an menyeluruh, terbatas atau perawatan yang
sifatnya sementara.

Berdasarkan skenario, hal yang pertama kali dilakukan adalah


ekstraksi gigi 55 dan 65, dimana kedua gigi tersebut sudah tidak dapat
dipertahankan. Kemudian dokter ingin mengembalikan fungsi mastikasi dari
gigi 15 dan 25. Berdasarkan hal tersebut maka dibutuhkan protesa gigi tiruan
untuk menggantikan fungsi dari kedua gigi tersebut. Pada dasarnya gigi
tiruan dibagi menjadi 2 macam, yaitu lepasan dan juga cekat.

9
Namun, pasien berumur 9 tahun dan gigi 14 belum erupsi secara
sempurna maka diindikasikan untuk menggunakan gigi tiruan sebagian
lepasan. Dimana pembuatan gigi tiruan cekat hanya dapat digunakan bila
hilangnya gigi tiap daerah tak bergigi tidak seluruhnya dan pada ke dua sisi
daerah yang tidak begigi masih dibatasi gigi asli sehingga memenuhi syarat
sebagai gigi pendukung. Apabila alat cekat tidak dapat dipakai karena
kurangnya retensi (tidak memenuhi syarat sebagai gigi pendukung), maka
gigi tiruan sebagian lepasan menjadi pilihan dokter gigi.

Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan dapat disesuaikan dengan


pertumbuhan gigi. Selama periode pertumbuhan, gigi tiruan memerlukan
penyesuaian secara periodik dan terus-menerus, ketika gigi tiruan sudah tidak
sesuai lagi dengan pertumbuhan rahang karena terlalu kecil, maka
pemeriksaan dan perawatan harus dihentikan. Pembuatan gigi tiruan baru
merupakan perawatan yang dianjurkan dokter gigi untuk menyesuaikan
dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang. Gigi tiruan
sebagian lepasan perlu dibuat ulang mengikuti pola pertumbuhan dan erupsi
gigi tetap. Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan memegang peranan
penting dalam perawatan gigi anak, oleh karena perawatan tersebut akan
memulihkan fungsi mastikasi, bicara, posisi gigi, estetik wajah, dapat
mencegah kebiasaan buruk, serta sekaligus memelihara dan mempertahankan
gigi yang tersisa serta jaringan pendukungnya.

Fungsi Pembuatan GT pada anak


1. Pelestarian Jaringan Mulut yang Masih Tinggal

Pemakaian geligi tiruan sebagian lepasan berperan dalam mencegah atau


mengurangi efek yang timbul karena kehilangan gigi.

2. Pencegahan migrasi gigi

10
Bila sebuah gigi dicabut atau hilang, gigi tetangganya dapat bergerak
memasuki ruang kosong tadi. Migrasi seperti ini pada tahap selanjutnya
menyebabkan renggangnya gigi-gigi lain. Dengan demikian terbukalah
kesempatan makanan terjebak disitu, sehingga mudah terjadi akumulasi olak
interdental. Hal ini menjurus kepada peradangan jaringan periodontal serta
dekalsifikasi permukaan proksimal gigi.

Membiarkan ruang bekas gigi begitu saja akan mengakibatkan pula terjadinya
overerupsi gigi antagonis dengan akibat serupa. Bila overerupsi ini sudah
demikian hebat sehingga menyentuh tulang alveolar pada rahang lawannya, maka
akan terjadi kesulitan untuk pembuatan protesa di kemudian hari.

3. Peningkatan Distribusi Beban Kunyah

Hilangnya sejumlah besar ggi mengakibatkan bertambah beratnya beban oklusal


pada gigi yang masih tinggal. Keadaan ini akan memperburuk kondisi
periodontal,apa lagi bila sebelumnya sudah ada penyakit periodontal. Akhirnya
gigi menjadi goyang dan miring, terutama ke labial untuk gigi depan atas. Bila
perlekatan periodontal gigi-gigi ini kuat, beban berlebih tadi akan menyebabkan
abrasi berlebih pula pada permukaan oklusalatau insisal atau merusak restorasi
yang dipakai. Pembuatan restorasi pada kasus seperti ini menjadi rumit dan perlu
waktu lama.

Overerupsi gigi pada keadaan tertentu dapat pula mengakibatkan terjadinya


kontak oklusi premature atau interfensi oklusal. Pola kunyah jadi berubah, karena
pasien berusaha menghindari kontak premature ini. Walaupun beban oklusal
sekarang jadi berkurang, pengubahan pola ini mungkin saja menyebabkan
disfungsi otot-otot kunyah.

11
LO 2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai indikasi
dan kontraindikasi penggunaan gigi tiruan pada anak
Indikasi penggunaan gigi tiruan pada anak

Kehilangan gigi sulung sebelum waktunya yang diakibatkan oleh karies,


yang dapat mengenai gigi anterior, kaninus dan molar sulung.
Avulsi gigi yang disebabkan oleh trauma
Congenital absence (agenesis) yang diakibatkan oleh kelainan genetik.
Biasanya hal ini berhubungan dengan sindrom dengan salah satu
manifestasinya hipodontia, oligodontia atau anodontia
Dentinogenesis imperfect
Amelogenesis imperfecta.
Adanya celah pada palatum yang harus ditutup, karena biasanya celah
pada palatum ini disertai dengan agenisi gigi anterior.
Amelogenesis dan dentinogenesis
Karies multiple yang diindikasikan pencabutan
Pasien kooperatif, tidak ada keluhan jika dilakukan perawatan
Secara radiografis, mempunyai gambaran gtigi tetap pengganti yang
diperkirakan akan erupsi lebih dari enam bulan.
Gigi penyangga tidak mampu mendukung alat prostodonti cekat, akibat
adanya resorpsi akar, trauma atau karies luas yang melibatkan pulpa
Usia di atas 2,5 tahun merupakan anjuran dan persyaratan untuk
menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan

Kontraindikasi penggunaan gigi tiruan pada anak

Pasien tidak kooperatif. Memiliki prognosis buruk


Pada saat dilakukan foto rontgen gigi permanen pengganti sudah hamper
erupsi

12
Kesehatan umum pasien tidak baik, seperti pada anak yang memiliki
penyakit jantung dan asma

LO 3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai


tahapan pembuatan dan desain gigi tiruan pada anak
Apabila memang diperlukan penggunaan RPD pada anak, maka RPD
harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang diperlukan
dalam penggunaan RPD (Removable partial denture) pada anak adalah; (1)
Stabil dan kuat untuk daya kunyah; (2) Dapat memperbaiki estetik: (3)
Dapat mencegah migrasi gigi tetangga ke daerah kosong dan mencegah
extrusi gigi lawan; (4) Mudah dibersihkan; (5) Mudah pemasangannya dan
mudah melepaskannya; (6) Sayap landasan tidak boleh menekan
mucobuccalfold; dan (7) Tidak boleh terlalu tebal.

Menurut Rao terdapat 2 hal penting yang harus diperhatikan pada


penggunaan RPD pada anak, yaitu: (1) Lamanya penggunaan RPD, hal ini
tergantung dari tujuan penggunaan apakah sebagai space maintainer atau
sebagai pengganti gigi yang hilang; (2) Adanya perubahan lengkung
rahang pada anak secara fisiologis, sehubungan dengan pertumbuhan dan
perkembangan anak.

Terdapat keuntungan dan kerugian pada penggunaan RPD pada anak.


Keuntungan penggunaan RPD pada anak adalah; (1) Alat mudah dipasang
dan dilepas serta prosedur pemeliharaan yang relatif mudah; (2) Dapat
memudahkan pembersihan gigi tetangga; (3) Dapat memperbaiki profit
dan estetik. Kerugiannya penggunaan RPD pada anak adalah; (1) RPD
mudah patah dan hilang; (2) Diperlukan kooperasi antara anak dan orang
tua dalam penggunaan dan pemeliharaannya di rumah, sebab apabila

13
kebersihan mulut anak tidak terjaga maka akan dapat mengakibatkan
keadaan patologis seperti meningkatnya karies dan gingivitis. Bila tidak
ada kooperasi anak, orang tua dan dokter gigi, maka hasil yang diinginkan
tidak akan terjadi bahkan akan mengakibatkan ganguan mastikasi, bicara
dan estetik.
Berikut merupakan prosedur pelaksanaan pembuatan gigi tiruan
sebagian lepasan:
a.Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi.
Daerah tak bergigi pada suatu lengkung gigi dapat bervariasi, anatara lain
dalam hal panjang, macam, jumlah dan letaknya. Semua ini akan
mempengaruhi rencana pembuatan disain gigi tiruan, baik dalam bentuk
sadel, konektor maupun pendukungnya.
b.Menentukan macam dukungan dari setiap sadel.
Bentuk daerah tidak bergigi ada dua macam yaitu daerah tertutup
(paradental) dan daerah berujung bebas (free end). Bentuk sadel
dibagi menjadi dua yaitu sadel tertutup dan berujung bebas. Terdapat tiga
pilihan untuk dukungan sadel tertutup, yaitu dukungan gigi, mukosa, atau
kombinasi.Sebaliknya untuk sadel berujung bebas dukungan pada
umumnya berasal dari mukosa. Dukungan terbaik untuk gigi tiruan
sebagian lepasan diperoleh dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai
berikut antara lain keadaan jaringan pendukung, panjang dan jumlah sadel
serta keadaan rahang.
c.Menentukan jenis penahan.
Penahan yang akan dipilih dapat ditentukan dengan memperhatikan faktor-
faktor berikut:
1.Dukungan sadel
Dukungan sadel berkaitan dengan indikasi macam cangkolan yang akan
dipakai dan gigi penyangga yang diperlukan.
2.Stabilitas gigi tiruan

14
Berhubungan dengan jumlah dan macam gigi pendukung yang ada dan
yang akan dipakai.
3.Estetika
Berhubungan dengan bentuk dan tipe cangkolan dan lokasi gigi
penyangga.
d.Menentukan jenis konektor.
Konektor yang dipakai biasanya berbentuk pelat, yaitu pada gigi tiruan
dari resin.

Macam RPD pada anak


Yang digunakan pada rahang atas dapat terbuat dari akrilik dengan retensi
lawat, akrilik dengan retensi logam cor, sedangkan yang dipakai untuk
rahang bawah dapat terbuat dari akrilik dengan retensi kawat, akrilik
dengan etensi logam cor dengan oclusal rest akrilik dan dengan kawat
retensi yang disolder pada lingual bar. Kompcsisi RPD pada anak terdiri
landasan, clasp (cangkolan) fulcrum dan gigi artifisial. Landasan pada
RPD anak disarankan harus meliputi daerah palatal dengan sayap bukal
pendek. Untuk psnggunaan dalam waktu lama disarankm pemakaian
lingual bar.

Prosedur Pembuatan RPD Pada Anak


Persiapan scbelum pencetakan rahang. Sebelum melakukan pembuatan
RPD sebelumnya dilakukan pemeriksaan klinis dan rencana perawatan
pada anak. Pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan extra dan intra oral,
rencana perawatan serta pemeriksaan radiografi intra oral untuk melihat
erupsi gigi pengganti dan ada tidaknya benih gigi dan kondisi rahang atas
dal rahang bawah. Rencana perawatan meliputi restorasi gigi penyangga
apabila diperlukan,terutama restorasi bagian aproximal .Karies aproximal
yang tidak di restorasi dapat menyebabkan pergerakan gigi kearah karies
dan selanjutnya dapat menyebabkan penyempitan ruangan.

15
Pencetakan Rahang
Terlebih dahulu pada anak diterangkan apa yang akan dilakukan dan yang
dilakukan sekarang, diharapkan anak dapat menjadi "helper" pada
prosedur pencetakan rahang. Ditambahkan wax pada pinggiran sendok
cetak. Digunakan Fast setting alginate untuk anak dengan usia < 6 tahun,
sedangkan untuk anak dengan usia > 6 tahun dapat digunakan sendok
cetak pabrik. Anak diminta untuk bernafas melalui mulut, dan dilakukan
pencetakan. Setelah alginat mengeras, maka alginate dikeluarkan dari
mulut dan dilakukan pengecoran dengan gips batu untuk selanjutnya
dibuat model kerja.
Desain Cangkolan
Cangkolan yang digunakan adalah yang berdiameter 0,028 s/d 0,030.
Beberapa tipe clasp seperti tipe C, Adam dan Circumferential terlihat pada
gambar 1. Umumnya untuk menambah retensi digunakan labial
bow.Disarankan cangkolan tidak dipasang pada gigi kaninus.

Gambar Gambar 1. Tipe Claps pada RPD.

16
Gambar 2a. Hilangnya Gigi Anterior2, 2b. Gigi Tiruan pada regio
Anterior.
Oklusi sentrik dan pemilihan gigi ortifisial
Gigitan sentrik dilakukan dengan menggunakan wax. Anak diminta untuk
menggigit sentrik pada wax yang dilunakan untuk selanjutnya dilakukan
articulator mounting dan penyusunan gigi artifisial. Pemilihan gigi
artifisial disesuaikan dengan warna dan ukuran yang sesuai dengan gigi
anak.
Insersi dan Instruksi Pada Anak Dan Orang Tua
Setelah prosedur laboratorim selesai maka dilakukan insersi/pemasangan
RPD pada mulut anak. Pemasangan ini memerlukan kerja sauna antar anak
dan dokter gigi. Dengan menggunakan cermin kepada anak dan orang tua
diperlihatkan cara mernasang dan membuka RPD. Kemudian diberikan
instruksi (sebaiknya tertulis) pada orang tua dan anak. Instruksi :yang
harus diberikan pada anak.
Desain Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Pada Anak

Disain gigi tiruan sebagian lepasan pada anak sama dengan prinsip dasar
pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan pada orang dewasa. Perbedaan yang
harus diperhatikan dalam pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan pada
anak adalah waktu pemakaian yang disesuaikan dengan usia pertumbuhan
dan perkembangan gigi .

17
Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan memerlukan beberapa tahap :

1. Menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi.

Daerah tak bergigi pada suatu lengkung gigi dapat bervariasi, anatara lain dalam
hal panjang, macam, jumlah dan letaknya. Semua ini akan mempengaruhi rencana
pembuatan disain gigi tiruan, baik dalam bentuk sadel, konektor maupun
pendukungnya.

Klasifikasi gigi tiruan pada periode gigi campuran adalah sebagai berikut :

Kelas I : Kehilangan gigi posterior rahang atas satu sisi

Kelas II : Kehilangan gigi posterior rahang bawah satu sisi

Kelas III : Kehilangan gigi posterior rahang atas dua sisi

Kelas IV : Kehilangan gigi posterior rahang bawah dua sisi

Kelas V : Kehilangan gigi anterior-posterior rahang atas

Kelas VI : Kehilangan gigi anterior-posterior rahang bawah

Kelas VII : Kehilangan satu atau lebih gigi susu/ gigi tetap anterior

Kelas VIII : Kehilangan semua gigi susu

Pada kasus kehilangan gigi kelas VII, akan membutuhkan pemakaian gigi tiruan
lepasan . Menurut penelitian bahwa kehilangan gigi anterior pada periode gigi
campuran akan mengakibatkan gangguan dalam proses erupsi gigi tetap.
Tanggalnya gigi tersebut akan mengakibatkan migrasi gigi tetangga ke arah yang
hilang.

2. Menentukan macam dukungan dari setiap sadel.

18
Bentuk daerah tidak bergigi ada dua macam yaitu daerah tertutup (paradental)
dan daerah berujung bebas (free end). Bentuk sadel dibagi menjadi dua yaitu
sadel tertutup dan berujung bebas.

Menentukan macam-macam dukungan dari setiap sadel. Terdapat 3 (tiga) macam


jenis dukungan gigi tiruan, yaitu:

a.Tooth borne

Dukungan gigi tiruan diperoleh dari gigi tetangga / gigi yang masih dapat
dijadikan sebagai pendukung.

b. Mucose/tissue borne

Dukungan gigi tiruan diperoleh dari mukosa.

c.Mucosa and tooth

Dukungan gigi tiruan diperoleh dari gigi dan mukosa.

Dukungan terbaik untuk protesa sebagian lepasan hanya dapat diperoleh bila
factor-faktor berikut ini diperhatikan dan dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut
adalah kejadian jaringan pendukung, panjang sadel, jumlah sadel, dan keadaan
rahang yang akan dipasangi geligi tiruan.

1. Keadaan jaringan pendukung

2. Panjang sadel

3. Jumlah sadel

4. Keadaan rahang

3. Menentukan jenis penahan.

Penahan yang akan dipilih dapat ditentukan dengan memperhatikan faktor-faktor


berikut:

19
1) Dukungan sadel

Dukungan sadel berkaitan dengan indikasi macam cangkolan yang akan dipakai
dan gigi penyangga yang diperlukan.

2) Stabilitas gigi tiruan

Berhubungan dengan jumlah dan macam gigi pendukung yang ada dan yang akan
dipakai.

3) Estetika

Berhubungan dengan bentuk dan tipe cangkolan dan lokasi gigi penyangga.

Menentukan macam retainer / penahan yang digunakan dalam pemakaian gigi


tiruan. Terdapat 2 (dua) macam jenis yang retainer yang dapat digunakan sesuai
kebutuhan desain gigi tiruan.

a. Direct Retainer

Merupakan bagian dari cangkolan GTS yang berguna untuk menahan terlepasnya
gigi tiruan secara langsung. Direct retainer ini dapat berupa klamer/cengkeram
dan presisi yang berkontak langsung dengan permukaan gigi pegangan. Ciri khas
cangkolan tuang oklusal adalah lengan-lengannya berasal dari permukaan oklusal
gigi dan merupakan cangkolan yang paling sesuai untuk kasus-kasus gigi tiruan
dukungan gigi karena konstruksinya sederhana dan efektif.

Fungsi direct retainer adalah untuk mencegah terlepasnya gigi tiruan ke arah
oklusal. Prinsip desain cangkolan yaitu pemelukan, pengimbangan, retensi,
stabilisasi, dukungan, dan pasifitas. Macam-macam cangkolan menurut Ney,
yaitu:

1. Akers clasp

2. Roach clasp

20
3. Kombinasi Akers-Roach

4. Back Action clasp

5. Reverse back Action clasp

6. Ring clasp

7. T clasp

8. I clasp

9. Compound clasp / Embrasure clasp.

b. Indirect Retainer

Indirect Retainer adalah bagian dari GTS yang berguna untuk menahan
terlepasnya gigi tiruan secara tidak langsung. Retensi tak langsung diperoleh
dengan cara memberikan retensi pada sisi berlawanan dari garis fulkrum tempat
gaya tadi bekerja. Retensi itu dapat berupa lingual bar atau lingual plate bar.

4. Menentukan jenis konektor.

Menentukan macam konektor yang akan digunakan sesuai desain dan kebutuhan
bagi pasien pemakai gigi tiruan. Terdapat 2 (dua) jenis konektor yang dapat
dipilih sesuai kebutuhan dan desain:

a. Konektor Utama

Merupakan bagian dari GTSL yang menghubungkan komponen-komponen yang


terdapat pada satu sisi rahang dengan sisi yang lain atau bagian yang
menghubungkan basis dengan retainer.Fungsi konektor utama adalah
menyalurkan daya kunyah yang diterima dari satu sisi kepada sisi yang lain.
Syarat konektor utama adalah:

1. Rigid

21
2. Tidak mengganggu gerak jaringan

3. Tidak menyebabkan tergeseknya mukosa dan gingiva

4. Tepi konektor utama cukup jauh dari margin gingiva

5. Tepi dibentuk membulat dan tidak tajam supaya tidak menganggu


lidah dan pipi.

Konektor utama dapat berupa bar atau plate tergantung lokasi, jumlah gigi yang
hilang, dan rahang mana yang dibuatkan. Pada rahang atas dapat berupa single
palatal bar, U-shaped palatal connector, antero-posterior palatal bar dan palatal
palate. Pada rahang bawah dapat berupa lingual bar dan lingual plate.

b. Konektor minor

Konektor minor merupakan bagian GTSL yang menghubungkan konektor utama


dengan bagian lain, misalnya sandaran oklusal. Biasanya diletakkan pada daerah
embrasur gigi dan harus berbentuk melancip ke arah gigi penyangganya. Fungsi
konektor minor adalah meneruskan tekanan oklusal / beban oklusi ke gigi
peganggan, membantu stabilisasi dengan menahan gaya pelepasan,
menghubungkan bagian-bagian GTS dengan konektor utama, menyalurkan efek
penahan, sandaran dan bagian pengimbangan kepada sandaran serta mentransfer
efek retainer/klamer serta komponen gigi lain ke gigi tiruan.

Dasar pertimbangan pemilihan konektor adalah :

1. Pengalaman pasien

2. Stabilisasi

3. Bahan geligi tiruan

Khusus untuk kasus berujung bebas, hal-hal berikut ini perlu diperhatikan:

22
1. Perlu adanya penahan tak langsung

2. Desain cengkram harus dibuat sedemikian sehingga tekanan kunyah yang


bekerja pada gigi penahan jadi seminimal mungkin

3. Perlu dilakukan pencetakan ganda agar keseimbngan penerimaan beban


kunyah antara gigi dan mukosa dapat dicapai

4. Sandaran oklusal hendaknya diletakkan menjauhi daerah tak bergigi

5. Dalam pembun hal ini harus mudatan deasain perlu dipikirkan kemungkinan
perlunya pelapisan atau penggantian basis di kemudian hari dan hal ini harus
mudah dilakukan.

Sebelum gigi tiruan sebagian lepasan dipasang dalam mulut anak, sebaiknya
persiapan dalam mulut dilakukan terlebih dahulu. Persiapan mulut ini
bertujuan untuk mendapatkan keadaan mulut yang mampu mendukung dan
memberikan retensi pada gigi tiruan sebagian lepasan, serta memelihara sisa gigi
dan jaringan pendukungnya. Persiapan mulut ini dapat meliputi berbagai cabang
kedokteran gigi, antara lain :

1. Persiapan bedah

Gigi yang tidak dapat dipertahankan lagi sebaiknya harus dilakukan pencabutan
sebelum pembuatan gigi tiruan .

2. Persiapan konservasi dan endodontik

Perawatan konservasi dilakukan untuk memperbaiki gigi yang karies atau untuk
melindungi gigi penyangga pada pasien yang rentan karies, serta untuk
memperoleh bentuk mahkota gigi yang dapat mendukung gigi tiruan agar cukup
retensi . Selain itu, perawatan konservasi dapat mengurangi resiko akumulasi plak
pada gigi yang mengalami karies . Perawatan endodontik akan memungkinkan
pemeliharaan gigi yang dapat menjadi penyangga gigi tiruan yang akan dibuat .

23
3. Persiapan periodontik

Pasien anak sering membutuhkan prosedur periodontik terutama untuk penderita


gingivitis karena adanya karang gigi dan akumulasi plak. Kebersihan mulut anak
perlu diperhatikan, agar mendapatkan hasil yang baik dalam perawatan .

Dokter gigi perlu memberikan penjelasan yang dapat dimengerti


anak sebelum melakukan pencetakan rahang karena anak-anak belum
memiliki pengalaman mengenai tahap pencetakan . Hasil yang optimal dapat
diperoleh dengan mengetahui beberapa pertimbangan dalam pencetakan , antara
lain:

1. Pemilihan sendok cetak

Pencetakan pada anak menggunakan sendok cetak ukuran kecil. Berbagai macam
ukuran sendok cetak yang cocok pada anak sudah tersedia dan dapat digunakan
dalam berbagai macam keadaan . Sendok cetak kaku yang berlubang telah
tersedia dalam berbagai ukuran yang sesuai untuk anak-anak . Ukuran yang telah
dianjurkan untuk pencetakan adalah jarak anatara gigi dan sendok cetak sekitar 3
mm, dengan perluasan distal yang cukup.

2. Pemilihan bahan cetak

Pemilihan bahan cetak akan menentukan keberhasilan suatu pencetakan. Bahan


cetak yang sebaiknya digunakan adalah alginat, dapat digunakan jenis regular
setting maupun fast setting. Alginat yang digunakan untuk anak-anak biasanya
yang masa pengerasannya relatif pendek. Perlu diperhatikan perbandingan air dan
bubuk sesuai dengan petunjuk dari pabrik untuk mendapatkan hasil yang optimal .

3. Mengatasi refleks mual

Pasien pada umumnya akan merasa mual pada saat melakukan pencetakan, oleh
karena itu perlu penanganan yang tepat untuk mencegah atau mengontrol refleks
mual. Refleks mual pada anak dapat dicegah dengan menggunakan bahan cetak

24
yang memiliki rasa, meminta anak berkumur dengan air hangat yang berisi cairan
anastetik sehingga memberikan rasa kebal, anak diminta bernafas teratur, atau
juga mengalihkan perhatian anak pada hal-hal lain sampai pencetakan selesai
dilakukan . Kelebihan bahan cetak sebaiknya dihindari agar tidak mengalir ke
orofaring. Anak dapat juga dialihkan perhatiannya dengan memberikan sedikit
bahan cetak yang belum mengeras pada jarinya. Anak diinstruksikan untuk
bernapas melalui hidung serta menundukkan kepalanya ke depan. Penggunaan
suction atau penyedot saliva untuk membuang saliva dapat digunakan untuk
mencegah refleks mual pada anak.

4. Pencetakan rahang bawah

Pencetakan rahang bawah biasanya dilakukan dahulu untuk menghindari rasa


mual dan rasa takut anak. Dokter gigi berdiri di samping kanan depan anak saat
menyiapkan sendok cetak. Jari tangan diletakkan di daerah molar sendok cetak
dan ibu jari di bawah rahang bawah, pada posisi tersebut anak tidak akan dapat
merubah posisi sendok cetak, demikian juga dengan pergerakan badan atau kepal.
Anak diminta untuk mendorong lidahnya keluar untuk mendapatkan kontraksi
otot milohioid. Hasil cetakan jika sudah baik tidak terdapat cacat atau rusak maka
dilanjutkan dengan pencetakan rahang atas.

5. Pencetakan rahang atas

Posisi dokter pada pencetakan rahang atas yaitu berdiri di samping kanan
belakang anak, kemudian sendok cetak dimasukkan. Penekanan dengan jari
tengah atau telunjuk kedua tangan pada daerah posterior sendok cetak dan ibu jari
berada di atas arkus zigomatikus. Penekanan pada sendok cetak yang berada
dalam mulut anak pada rahang atas maupun rahang bawah adalah pada bagian
posterior terlebih dahulu kemudian pada daerah anterior.

Gigi tiruan pada anak terdiri atas landasan gigi tiruan, cangkolan dan elemen gigi
tiruan. Landasan pada umumnya dibuat dari resin akrilik karena mudah

25
dimodifikasi mengikuti pertumbuhan dan perkembangan gigi serta erupsi gigi.
Landasan sebaiknya dibuat transparan dan cukup kuat saat dipakai maka. Gigi
tiruan rahang atas didisain dari landasan akrilik, tetapi gigi tiruan sebagian rahang
bawah dapat dirancang dari konektor logam untuk menambah retensi yang lebih
baik. Landasan gigi tiruan sebagian lepasan dibuat menutupi permukaan
palatal/lingual gigi-gigi yang ada dan daerah interdental dengan tujuan
mendapatkan stabilitas dan retensi .

Cangkolan dibuat dari kawat logam tahan karat dan diperlukan untuk
mendapatkan retensi serta dukungan dari gigi atau jaringan lunak. Jenis cangkolan
yang digunakan pada gigi tiruan sebagian lepasan antara lain cangkolan Adam,
cangkolan bola, dan cangkolan sirkumferensial. Cangkolan suatu gigi tiruan perlu
dirancang dengan akurat, karena jika tidak akan mempengaruhi terhadap
peningkatan aktivitas karies .

Disain gigi tiruan perlu diperhatikan faktor-faktor di bawah ini :

1. Garis fulkrum merupakan garis khayal yang membagi dua daerah tidak bergigi
dan berfungsi untuk menentukan tempat dan arah cangkolan, selain itu perluasan
landasan gigi tiruan harus memperhatikan nilai beban kunyah di sebelah kanan
dan kiri garis fulkrum.

2. Arah pemasangan cangkolan pada gigi kaninus dari mesial ke distal, cara
tersebut disesuaikan dengan bererupsinya gigi insisif tetap dan bergesernya gigi
kaninus sulung ke arah distal. Cangkolan tidak menempel pada gigi dan diberi
jarak 0,5 mm, dengan tujuan tidak menghambat pertumbuhan.

3. Pemakaian pada rahang bawah dalam jangka waktu yang panjang sebaiknya
dibuat lingual bar dari logam dengan arah 2 mm lebih ke lingual dari jaringan
lunak.

26
4. Perkembangan alveolar akan berjalan ke arah lateral, maka disain landasan
dibuat sampai 1/3 forniks atau kurang lebih sejajar dengan puncak alveolar
(alveolar crest), dengan tujuan agar tidak menghambat pertumbuhan.

5. Perluasan sayap bukal pada rahang atas dibuat rendah dan warna harus sesuai
dengan jaringan sekitarnya. Landasan akrilik pada rahang atas harus menutupi
seluruh bagian palatum dengan tujuan untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi.

6. Jurusan pemasangan gigi tiruan memudahkan pasien dalam pemakaian.

7. Kesehatan jaringan yang tersisa dalam pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan
lebih ditujukan untuk memelihara dan mempertahankan jaringan yang tersisa.

8. Faktor estetis berpengaruh pada penampilan, maka harus disesuaikan dengan


kepribadian pasien, antara lain dalam hal warna gigi, bentuk gigi, penyusunan
gigi, dimensi vertikal, panjang dan lebar gigi.

Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak dapat dilihat dari
pertimbangan berdasarkan usia, dapat digolongkan sebagai berikut :

1. Usia 2,53 tahun

Cangkolan pada gigi kaninus sulung tidak boleh memberikan tekanan, hal ini
ditujukan untuk memberikan kesempatan rahang bergerak ke anterior. Cangkolan
untuk gigi molar sulung harus dibuat dengan tangan cangkolan harus mengelilingi
permukaan terluar gigi. Hal ini ditujukan karena mahkota gigi molar sangat
pendek. Selain itu pada rahang atas perluasan landasan harus menutupi palatum
sampai batas daerah getar atau vibrating line. Perluasan ke arah bukal atau labial
pada umumnya pendek tidak melebihi sampai ke forniks. Pada rahang bawah
dianjurkan menggunakan lingual bar yang ditempatkan 2 mm dari jaringan lunak.

2. Usia 5,5 6 tahun

27
Cangkolan yang digunakan adalah cangkolan Adam dan cangkolan C. Cangkolan
C harus dilepas dari landasan pada saat erupsi gigi incisivus tetap dan gigi molar
pertama dan dilakukan perbaikan. Gigi molar pertama yang telah bererupsi
seluruhnya dapat dijadikan gigi sandaran untuk perawatan selanjutnya. Landasan
yang digunakan berupa tissue conditioner pada bagian labial dan bukal dengan
tujuan agar pertumbuhan rahang tidak terhambat.

3. Usia 7 8 tahun

Usia 78 tahun terjadi pertumbuhan pada daerah anteroposterior, sehingga


panjang landasan harus pendek dan sesuai dengan warna jaringan lunak, selain itu
digunakan tissue conditioner pada daerah pertumbuhan. Cangkolan C digunakan
untuk gigi molar pertama tetap.

4. Usia 12 tahun

Erupsi gigi telah lengkap, kecuali gigi molar ketiga, selain itu pertumbuhan
rahang berjalan lambat, sehingga untuk penyesuaian gigi tiruan sebagian lepasan
dapat lebih mudah.

Memberikan informasi dan instruksi-instruksi khusus pada pasien maupun


orang tua, yaitu:
a.Instruksi pada anak
Anak diberi penjelasan dengan bahasa yang sederhana, sehingga anak
dapat memberikan kerjasama yang baik, selain itu anak dianjurkan untuk

28
memberitahukan kepada orang tuanya jika ada keluhan pada pemakaian
gigi tiruan.
Memberikan motivasi terutama pada anak usia 2 5 tahun agar gigi tiruan
tidak dilepas dari dalam mulut tanpa sepengetahuan orang tua.
Pemasangan gigi tiruan pertama kali dilakukan oleh dokter dengan
menggunakan cermin untuk melihat cara memasang dan melepas gigi
tiruan, setelah itu anak dapat mencoba sendiri. Gigi tiruan sebagian
lepasan sebaiknya dilepas pada saat berolah raga dan pada saat malam
hari, gigi tiruan direndam dalam air dan dibersihkan setiap hari dengan
bantuan orang tua.
Instruksi pada pasien

Pada pemasangan GTSL, anak dan orangtuanya harus diberitahu cara


memasang, melepaskan dan memeliharanya.
Pemasangan dilakukan di depan kaca, sehingga pasien dapat melihatnya,
kemudian pasien diminta untuk mencoba memasang sendiri di depan
operator dan orangtuanya.
Pasien diinstruksikan untuk terus menjaga kebersihan mulutnya dan dokter
gig juga melakukan oral profilaksis.
Apabila pasien berolahraga, berenang, hendaknya GTSL dilepas dan
disimpan pada kotak kokoh.
GTSL dilepas saat akan tidur
Apabila terjadi keluhan atau kerusakan pada GTSL harus segera ke dokter
gigi, tidak perlu menunggu jadwal kontrol yang ditetapkan.
Penggunaan sikat gigi yang lunak untuk menghilangkan sisa- sisa
makanan dan dental plak.
Kontrol setiap 4-6 bulan sekali

Kontrol

29
Setiap kontrol dilakukan pemeriksaan keutuhan GTSL, kondisi gigi
penyangga dan gingivanya.
Apabila dirasa perlu, dapat dilakukan aplikasi florida topical untuk
mencegah karies dan dekalsifikasi gigi
Pemeriksaan foto rontgen untuk melihat reaksi jaringan pada pemasangan
alat dan melihat perkembangan pertumbuhan gigi permanen.
Scalling dengan hati-hati pada gigi yang memiliki karang gigi.
Pengangkatan debris dan pembersihan poket

b.Instruksi orang tua


Orang tua diharapkan ikut melihat pada saat anak memasang dan
melepas gigi tiruan, selain itu jika anak tidak memakai gigi tiruan karena
ada keluhan rasa sakit pada gusi maka orang tua diharapkan segera untuk
menghubungi dokter gigi untuk mengatasi masalah yang dikhawatirkan
mengganggu pemakaian gigi tiruan tersebut.

LO 4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai


faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari penggunaan
gigi tiruan pada anak
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemakaian gigi tiruan pada anak yaitu:

Kooperatifan pasien (Motivasi Anak)

Motivasi pada pasien anak di dasarkan pada tingkat kekooperatifan anak


dalam menghadapi rencana perawatan yang kan dilakukan oleh dokter berupa
pemasangan gigi tiruan lepasan. Pada pasien anak jenis gigi tiruan yang di
gunakan yaitu simple removable acrylic dengan pemasan gum-fitted dan clasp
pada sebelah molar dua sulung sebagai retensi dengan pertimbangan estetiknya.

Pemilihan alat dan bahan yang digunakan

30
Pembuatan gigi tiruan pada anak prinsipnya sama dengan pembuatan gigi
tiruan pada orang dewasa. Yang harus di perhatikan adalah bagaimana pemilihan
alat dan bahan yang di gunakan pada pasien anak sehingga tidak menyebabkan
penyakit dan menghambat tumbuh kembang pasien anak. Selain itu, penerapan
gigi tiruan pada anak juga mengkombinasikan perawatan prostodontik dan
orthodontik, sehingga pada konstruksi klamer pada gigi tiruannya ada yang
bersifat retentive dan penggerak dari gigi. Prinsip tesebut harus diperhatikan
dengan baik agar lengkung rahang tetap terjaga dan tidak terjadi malposisi dari
gigi setelah perawatan dilakukan.

Usia
Pengaruh lanjutnya usia pada perawatan prostodontik harus selalu
menjadi bahan pertimbangan. Proses menua mempengaruhi toleransi
jaringan, kesehatan mulut, koordinasi otot, mengalirnya saliva, ukuran
pulpa gigi serta panjang mahkota klinis. Usia juga menentukan bentuk,
warna serta ukuran gigi seseorang.
Pada orang lanjut usia, lebih sering pula dijumpai berbagai
penyakit seperti hipertensi, jantung dan diabetes mellitus. Bila pada orang
usia muda lebih sering dijumpai karies dentis, maka pada kelompok usia
lanjut penyakit periodontalah yang sering dijumpai. Kemampuan adaptasi
penderita usia muda terhadap gigi tiruan biasanya lebih tinggi dibanding
penderita usia lanjut. Pada usia di atas empat puluh tahun, adaptasi
biasanya mulai berkurang.
Hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum menggunakan RPD
(Removable partial denture) pada anak. Menurut Nanda (1976) (dalam
Mathewson) menyarankan bahwa sebelum menggunakan RPD pada anak
terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan/ditanyakan pada anak
dan orang tua. Hal-hal tersebut yaitu; (1) Apakah anak mau beradaptasi
dengan perubahan dalam mulut sehubungan dengan penggunaan RPD;

31
(2)Apakah memang dengan perggunaan RPD dapat mencegah migrasi gigi
tetangga ke daerah yang kosong; (3) Tipe gigi tiruan apa yang cocok
dengan anak; (4) Apakah ada gangguan bicara pada anak sehubungan
dengan kehilangan gigi anterior; (5) Apakah erupsi gigi pengganti
memang masih lama; dan (6) Apakah ada riwayat trauma.

32
DAFTAR PUSTAKA

Andajani, T. 1993. Penanggulangan Kerusakan Gigi yang Parahdengan


Gigi Tiruan Tumpang.Volume 2. Hal 571-580. Jakarta: Majalah Ilmiah
Kedokteran Gigi: USAKTI.
Barnes,.Idan Walls, A: Gerodontology, George Warman Publications
(UK) Ltd., 1994 Bricker, S.L., Langlais, R.P., and Miller, C.S.: Oral Diagnosis,
Oral Medicine, and Treatment Planning. 2nd.Ed., Lea &Febiger, Philadelphia,
1994.
Cameron A. Pediatric dentistry. 3rded. Philadelphia: Mosby; 1998. p. 269-
71.
Gunadi, H.A. 1995. Buku Ajar IlmuGeligiTiruanSebagianLepasan.Jilid 1.
Hal 12, 30-50, 108-111 Jakarta: Hipokrates
Haslinda Z. 2001. Bagaimana Mempersiapkan Gigi Yang Tinggal
untuk Menerima Gigitiruan Sebagian Lepasan. Dentika Dental Journal.
Heartwell, C.M. and Rahn, A.O. 1986. Glossary of Prosthodontics.Fourth
edition. Philadelphia: Lea and Febriger.
Mathewson RJ, Primosch RE. Fundamentals of pediatric dentistry. 3rd ed.
Chicago; Quintesence Publishing; 1995. h. 340-8.
McDonald, R.E. and D.R. Avery, 2000.Dentistry forThe Child and
Adolescent. 7th ed. Saint Louis: Mosby.
Pinkham JR. pediatric Dentistry: infancy through adolescence. 3nd ed.
Philadelphia: WB Saunders Co.; 2005. p. 358-60.
Richard, R. 2005. Pediatric in Dentistry 3rd Edition. Oxford University
Press

Satish R. Removable partial dentures in children. In: Finn SB. Clinical


pedodontics. 4th ed. Philadelphia: WB Saunders Co.; 2003. p. 271-83.
Suherna, Inne., dkk. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Anak. Bandung.
Bagian Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

33
Suryatenggara, Freddy, et al. 2012. Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan,
Jilid 1. Jakarta : Hipokrates

Thomas B. In: Stewart KE. Pediatric dentistry scientific foundation and


clinical practice. St. Louis: CV. Mosby Co; 1982. p. 268.

34