Anda di halaman 1dari 15

1

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


Penerapan Teori Belajar Van Hiele Dalam Pembelajaran
Matematika Materi Balok

Nama Kelompok :
Yunita (1605045005)
Annisa (1605045021)
Asmariyah Athaillah (1605045025)
Alda Riyani (1605045030)
Jihan Savira S (1605045035)

Kelas : Matematika A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2017
2

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, akhirnya


penyusun dapat menyelesaikan tugas ini, yang berjudul Penerapan Teori 'Belajar
Van Hiele Dalam Pembelajaran Matematika Materi Balok.

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini masih jauh dari


kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya, hal ini dikarenakan keterbatasan
waktu, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki penyusun, oleh karena itu
penyusun sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang sifatnya membangun
untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua


pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, semoga Allah SWT,
membalas amal kebaikannya. Amin.

Dengan segala pengharapan dan doa semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Samarinda, 30 Oktober 2017

Penyusun
3

DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .......................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................... 1

C. Tujuan Penulisan ..................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Singkat Van Hiele ...................................................................... 3

B. Karakteristik Teori Belajar Van Hiele ................................................... 3

C. Tahapan Berpikir teori Van Hiele .......................................................... 4

BAB KESIMPULAN

A. Simpulan................................................................................................ 11

B. Saran ...................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA
4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar merupakan tindakan dan perilaku pesrta didik yang


kompleks.Sebagai tindakan.Maka belajar hanya dialami oleh pesrta didik
sendiri. Peserta didik adalah penentu terjadinya proses belajar. Proses belajar
terjadi berkat peserta didik mempelajari sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.
Lingkungan yang dipelajari oleh peserta didik berupa keadaan alam, benda
bendaatau hal hal yang dijadikan bahan belajar.
Tindakan belajar dari suatu hal tesebut nampak sebagai perilaku belajar
yang nampak dari luar. Pengertian dari belajar sangat beragam, banyak dari
para ahli yang mengartikan secara berbeda beda definisi dari
belajar.sebagaimana kita ketahui bahwa belajar merupakan hal yang penting
dalam bidang pendidikan. Tentu saja dalam proses belajar terdapat teori teori
yang memunculkan adanaya belajar.
Dari zaman dahulu, para ilmuan terus mengembangkan teori teori belajar
sebagai temuan mereka untuk mengembangkan pemikiran belajar mereka.Era
globalisasi telah membawa berbagai perubahan yang memunculkan adanya
teori teori belajar yang berguna menyempurnakan teori teori yang telah ada
sebelumnya.
Dengan bermunculnya teori teori yang baru akan menyempurnaan teori
teori yang sebelumnya. Berbagai teori belajar dapat dikaji dan diambil dengan
adanya teori tersebut.Tentunya setiap teori belajar memiliki keistimewaan
tersendiri.Bahkan, tak jarang dalam setiap teori belajar juga terdapat kritikan
kritikan untuk penyempurnaan teori tersebut.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, masalah yang perlu dipecahkan dan dirumuskan sebagai
berikut:
5

1. Apa pengertian teori belajar kognitif menurut Van Hiele?


2. Apa ahapan pemahaman geometri menurut Van Hiele?
3. Apa fase fase pembelajaran geometri?
4. Bagaimana pengalaman belajar sesuai tahap berpikir Van Hiele?
5. Apa teori teori pembelajaran geometri menurut Van Hiele?
6. Apa saja manfaat teori van hiele dalam pengajaran geometri?
7. Metode dan pendekatan apa yang sesuai dengan teori belajar Van Hiele?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian teori belajar kognitif menurut Van Hiele
2. Untuk engetahuitahapan pemahaman geometri menurut Van Hiele
3. Untuk mengetahui fase fase pembelajaran geometri
4. Untuk mengetahui pengalaman belajar sesuai tahap berpikir Van Hiele
5. Untuk mengetahui teori teori pembelajaran geometri menurut Van Hiele
6. Untuk mengetahui manfaat teori van hiele dalam pengajaran geometri
7. Untuk mengetahui Metode dan pendekatan apa yang sesuai dengan teori
belajar Van Hiele?
6

BAB II
PEMBAHASAN

1. Sejarah singkat Van Hielle


Van Hielle adalah seorang guru matematika bangsa Belanda yang
mengadakan penelitian dalam pengajaran geometri. Menurut Van Hielle, ada
tiga unsur utama dalam pengajaran geometri, yaitu waktu, materi
pengajaran,dan metode pengajaran yang diterapkan. Jika ketiga unsur ditata
secaraterpadu, akan dapat meningkatkan kemampuan berfikir anak kepada
tahapanberfikir yang lebih tinggi. Teori Van Hiele dikembangkan oleh Pierre
Marie Van Hiele dan Dina Van Hiele-Geldof sekitar tahun 1950-an, hingga
saat ini telah diakui secara internasional dan memberikan pengaruh yang kuat
dalam pembelajaran geometri sekolah.\

2. Karakteristik Teori belajar Van hielle

Teori Van Hiele memiliki beberapa karakteristik menurut Clement dalam


Aisyah (2007) sebagai berikut:

a. Belajar adalah proses yang tidak kontinu. Ini berarti terdapat loncatan di
dalam kurva belajar yang memperlihatkan adanya celah yang secara
kualitatif membedakan tingkatan berpikir. Siswa yang telah mencapai
suatu tingkat, dia tetap pada tingkat itu untuk suatu waktu dan seolah-olah
menjadi matang. Dengan demikian tidak akan banyak berarti apabila
memberikan sajian kegiatan yang lebih tinggi dari tingkat yang dimiliki
siswa.
b. Tingkatan Van Hiele bersifat hierarkis dan sekuensial. Untuk mencapai
tingkat yang lebih tinggi, siswa harus menguasai sebagian besar tingkat
sebelumnya. Kecepatan untuk berpindah dari suatu tingkat ke tingkat yang
lebih tinggi lebih banyak bergantung pada isi dan metode pembelajaran
dibandingkan dengan umur atau kematangan biologisnya.
7

c. Konsep yang secara implisit dipahami pada suatu tingkat menjadi eksplisit
pada tingkat berikutnya. Misalnya pada tingkat visualisasi siswa mengenal
bangun berdasarkan sifat bangun secara utuh, tetapi pada tingkat analisis,
bangun tersebut dianalisis sehingga sifat-sifat serta komponennya
ditemukan.
d. Setiap tingkatan masing-masing mempunyai simbol bahasa tersendiri dan
sistem yang mengaitkan simbol-simbol itu. Siswa tidak mudah mengerti
penjelasan guru apabila guru berbicara pada tingkat yang lebih tinggi dari
tingkat berpikir siswa. Hal ini mungkin akan memunculkan suatu masalah
apabila tingkat sajian kegiatan, serta bahan pembelajaran tidak sesuai
dengan tingkat berpikir siswa yang menggunakannya.

3. Tahapan Berpikir teori Van Hielle

Van Hielle dalam teorinya menyatakan bahwa seseorang dalam belajar


geometri akan mengikuti 5 tahap perkembangan berpikir yaitu tahap
visualisasi,analisis, deduksi informal, deduksi, dan rigor. Setiap tahap
menunjukkan karakteristik proses berpikirseseorang dalam memahami
geometri. Burger & Culpeper (1993: 141- 243) menjelasakan ke-5 tahap
perkembangan berpikir tersebut, yaitu:
a. Tahap visualisasi

Menurut Clement dan Batista (1992: 427), tahap visualisasi adalah


tahappengenalan konsep-konsep geometri dalam matematika yang di
dasarkan padakarakteristik visual atau penampakan bentuknya. Dalam hal
ini penalaran siswamasih didominasi oleh persepsinya. Pemahaman siswa
terhadap bangun-bangungeometri masih berdasarkan pada kesamaan
bentuk dari apa yang dilihatnya.Bangun geometri dikenal secara
keseluruhan bukan secara bagian-bagian. Padatahap ini siswa dapat
membedakan suatu bangun dengan lainnya tanpa harusmenyebutkan sifat-
sifat masing-masing bangun tersebut. Kemampuan berpikirsiswa masih
berdasarkan pada kesamaan bentuk secara visual. Sebagai contoh,siswa
8

dapat mengenal suatu bagun persegi panjang, karena bentuknya seperti


papan tulis . Dalam hal ini siswa belum dapat menyebutkan unsur-unsur
persegipanjang seperti panjang dan lebar. Jadi pada tahap ini siswa belum
dapatmenentukan sifat-sifat dan karakteristik bangun geometri yang
ditunjukkan.

b. Tahap Analisis
Clement& Batista (1992) dalam Husnaeni (2001: 28) menyatakan
bahwa siswa pada tahap ini mengakui dan dapat mencirikan bentuk-bentuk
bangungeometri berdasarkan sifat-sifatnya, dan sudah tampak adanya
analisis terhadapkonsep-konsep geometri. Sebagai contoh melalui
pengamatan, eksperiman,mengukur, menggambar, melipat, membuat
model dan sebagainya siswa dapatmengenali karakteristik dan
menemukan beberapa komponen yang mencirikankelas suatu bangun.
Meskipun demikian siswa belum sepenuhnya bisamenjelaskan hubungan
antara sifat-sifat tersebut. Jadi belum bisa melihathubungan antara
berbagai bangun, begitu pula dalam memahami definisi.

c. Tahap Deduksi Informal


Tahap ini dikenal dengan tahap abstraksi/relasional ( Clemen &
Batista,1992: 427). Menurut Kahfi (2000),pada tahap ini siswa sudah
dapat melihat hubungansifat-sifat dalam suatu bangun (misal dalam jajar
genjang, sisi yang berhadapansejajar berakibat sudut-sudut yang
berhadapan juga sama besar. Siswa dapatmenyusun definisi abstrak
(definisi menjadi bermakna), siswa juga dapatmenemukan sifat-sifat dari
kumpulan bangun pada tahap berpikir deduksiinformal. Ketika siswa
menemukan sifat-sifat dari berbagai bangun, merekamerasa perlu
mengorgansir sifat-sifat tersebut. Satu sifat bisa menjadi menjadiperantara
sifat-sifat lain, sehingga definisi tidak sekedar sebagai bentuk
deskripsi,akan tetapi sebagai cara pengorganisasian yang logis.Dari
kemampuan berpikir ini akan menjadi jelas mengapa persegi
adalahpersegi panjang, karena siswa dapat menemukan bahwa sifat-sifat
9

persegi adapada semua sifat-sifat persegipanjang. Perorganisasian yang


logis dari ide-ide inimerupakan ungkapan pertama dari deduksi yang
benar. Akan tetapi siswa tetapbelum memahami bahwa deduksi logis
adalah metode untuk membangunkebenaran geometri. Produk penalaran
siswa pada tahap ini adalah reorganisasidari ide-ide yang telah dipahami
sebelumnya dengan menghubung-hubungkanantara sifat-sifat bangun
dengan kelas-kelasnya (Husnaeni: 2001)

d. Tahap Deduksi
Tahap ini juga dikenal dengan deduksi formal (Clements & Batista,
1992). Siswa yang telah mencapai kemampuan berpikir tahap ini telah
dapat menyusunteorema-teorema dalam sistem aksiomatis, dapat
mengkonstruksi bukti-buktiorisinil.Husnaeni (2001) mengatakan bahwa,
siswa dapat membuat serangkaian pernyataan-pernyataanlogis yang
memenuhi untuk menarik kesimpulan yang merangkumpernyataan
tersebut. Siswa telah dapat memahami hubungan timbal balik antarasyarat
perlu dan cukup. Siswa juga berpeluang untuk mengembangkan lebih
darisatu cara pembuktian, dan menyadari perlunya pembuktian melalui
serangkaianpenalaran deduktif.

e. Rigor
Tahap rigor adalah tahap dimana siswa dapat bernalar secara
formal dalam sistem matematika, dan dapat mengkaji geometri tanpa
referensi model-model. Sasaran penalaran adalahhubungan-hubungan
antara konstruk-konstruk formal. Produk penalarannyaadalah
mengelaborasi dan membandingkan sistem-sistem aksiomatis
padageometri.

Menurut pandangan van Hiele, pembelajaran geometri hanya akan


efektifapabila sesuai dengan struktur kemampuan siswa (Husnaeni, 2001).
Dengandemikian pengorganisasian pembelajaran baik isi dan materi
maupun strategipembelajaran merupakan peran strategis dalam
mendorong kecepatan siswauntuk melalui tahap-tahap belajar geometri.
10

Van Hiele berkeyakinandalam Kahfi (2000) bahwa tingkat yang lebih


tinggi tidak diperoleh guru lewat ceramah, akan tetapi melalui pemilihan
latihan yang tepat.( DAugustine dan Smith, 1992; Clement dan Batista, 1992).

Oleh karena itu van Hiele menawarkan lima tahap pembelajaran yang
berurutan dan sekaligus merupakan peran guru dalam mengelola proses
pembelajaran, yaitu:

a. Tahap I: Inquiri
Pada tahap ini, konsep-konsep baru di geometri diperkenalkan
melaluiinteraksi antara guru dan siswa. Pertanyaan yang diajukan
diharapkan akanmendorong siswa untuk meneliti dan mengamati, tentang
perbedaan dankesamaan obyek. Tujuan kegiatan ini antara lain digunakan
untuk memperolehinformasi tentang pengetahuan awal apa yang dimiliki
siswa untuk materi yang akan dipelajari dandapat mengarahkan siswa pada
pembelajaran selanjutnya.
b. Tahap 2: Orientasi Terarah
Pada tahap ini guru mengarahkan siswa untuk meneliti karakteristik
khusus dari obyek-obyek yang dipelajari. Tujuan pembelajaran pada tahap
ini adalah agar
1) merangsangsiswa secara aktif melakukan kegiatan eksplorasi obyek-
obyek (sepertimengukur, melipat) untuk menemukan hubungan sifat-
sifat dari bentuk-bentuk bangun,
2) guru hanya mengarahkan siswa dan membimbingnya dalam kegiatan
eksplorasisehingga mendapatkan hubungan sifat-sifat dari bentuk-
bentuk geometri.
c. Tahap 3: Uraian/ penjelasan
Pada tahap ini guru memberikan kesempatan pada siswa untuk
membagi pengalamannya tentang bangun yang diamatinya dengan
menggunakan bahasanyasendiri. Pada fase ini siswa diberikan peluang
untuk menguraikanpengalamannya, mengekspresikan, dan mengubah
pengetahuan intuitif merekayang tidak sesuai dengan struktur bangun yang
11

diamati. Bobango (1993)menyatakan bahwa aktivitas siswa dalam tahap


ini adalah mengkomunikasikanpendekatan dan temuan mereka kepada
teman-temannya yang lain. Peran guru pada tahap ini adalah mengarahkan
siswa ketahap pemahaman pada obyek-obyek,ide-ide geometri, hubungan,
pola-pola dan sebagainya melalui diskusi antar siswadengan
menggunakan bahasa siswa sendiri.
d. Tahap 4: Orientasi bebas
Pada tahap ini siswa mendapatkan tugas-tugas dalam bentuk
pemecahan masalah, dimana mereka diarahkan agar dapat
menyelesaikannya masalahdengan cara mereka sendiri dalam berbagai
cara. Tahap orientasi bebas bertujuanagar siswa memperoleh pengalaman
menyelesaikan permasalahan dengan strategisendiri. Guru berperan
memfasilitasi soal-soal geometri yang memungkinkansiswa untuk
menyelesaikan permasalahan.
e. Tahap 5: Integrasi
Pada tahap ini siswa direncanakan untuk membuat revieu dan
ringkasan dari apa yang telah dipelajarinya. Dalam hal ini guru berperan
mendorong siswauntuk membuat ringkasan , dan mengkonsolidasikan
hasil pengamatan maupunpenemuan mereka yang telah didiskusikan dan
mengklarifikasi pengetahuanmereka.
Dalam penerapannya tahapan van Hielle tidak harus dilakukan
secara berurut, akan tetapi dapat dilakukan secara berulang tergantung dari
pemahamansiswa. Apabila dalam suatu tahap dianggap siswa belum dapat
memahami materi,maka pelajaran dapat diulangi pada tahap sebelumnya.

Tabel Hubungan Fase dan Kegiatan Pembelajaran

Fase Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

Fase 1. Dengan Tanya jawab guru melakukan


eksplorasiatau menggali pengetahuan
Inquiri / Informasi
/ konsep yang telahdipahami siswa
12

sebelumnya tentang sifat-sifat


bangun ruang balok.
Untuk mengarah pada tujuan
pembelajaran,pertanyaan diarahkan
pada pengertiantentang permukaan
balok yang sudah dipelajari
sebelumnya

Fase 2. Siswa dibagi dalam beberapa


kelompok kelompok, masing-masing
Orientasi Terarah
beranggotakan 4-6orang . Masing-
masing kelompok diberikan alat
peraga berupa balok.
Kemudian siswa diminta untuk
membuka balok tersebut sehingga
semua permukaannya dapat
dibabarkan menjadi bidang datar
Guru mengarahkan siswa untuk
menyalin seluruh permukaan bangun
ruang balok yang diberikan pada
kertas yang tersedia,dan meminta
masing-masing kelompok untuk
mengenali bentuk dari permukaan
bangun balok.
Fase 3 : Uraian Guru meminta siswa untuk
menjelaskan bentuk permukaan
bangun ruang balok.
Dengan menggunakan metode Tanya
jawab guru mengenalkan nama
jarring jaring untuk permukaan
13

bangun ruang yang dibentuk dari


bangun ruang jika permukaan
tersebutkembali dirangkai kembali.
Bersama-sama siswa mengidentifikasi
bentuk-bentuk permukaan dari
sbangun ruang yang dapat dirangkai
kembali menjadi jaring-jaring
Fase 4. Orientasi bebas Guru meminta siswa dalam
kelompoknya, menemukan
banyaknya jaring-jaring yang
berbeda dengan caranya sendiri
Siswa dapat menemukan sebanyak
banyaknya kemungkinan yang dapat
mereka temukan
Setiap kelompok diminta
menggambarkan berbagai jaring-
jaring balok yang ditemukannya
Fase 5. Integrasi Guru meminta setiap kelompok
melaporkan hasil jaring-jaring yang
ditemukan dan mengelompokkannya
menjadi berbagai jaring-jaringyang
berbeda untuk balok.
14

BAB III

PENUTUP

A. Kesipulan

Teori Van Hielle adalah teori belajar tentang tahap berpikir siswa dalam
pembelajaran matematika khususnya pembelajaran materi geometri. Implikasi
dari teori ini dijelaskan melalui contoh pembelajaran geometri di sekolah dasar
yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para guru khususnya guru
Sekolah Dasar sebagai salah satu pendekatan untuk mengajar geometri agar
membuat pembelajaran menjadi lebih efektif.

B. Saran

Agar pembaca makalah lebih memahami apa yang dimaksud dengan teori
belajar Van Hielle dan penerepannya pada pembelajaran matematika.
15

DAFTAR PUSTAKA

Nuraeni, E. (2008). Teori Van hiele Dan Komunikasi Matematik (Apa, Mengapa
Dan Bagaimana), hlm. 128-129 [ Online ] Tersedia di
http://eprints.uny.ac.id/6917/1/P-11%20Pendidikan%20%28Epon%20
Nuraeni%29.pdf [ Diakses Tanggal 30 Oktober 2017 ]

Ruseffendi, E.T. (1991). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan


Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.
Bandung:Tarsito

Sobel dan Maletsky. (2004). Mengajar Matematika. Jakarta:Erlangga


Suwangsih dan Tiurlina. (2010). Model Pembelajaran Matematika. Bandung:UPI
PRESS