Anda di halaman 1dari 23

SWAMEDIKASI UNTUK FLU DAN BATUK

Pendahuluan
Pengobatan sendiri atau swamedikasi adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk
tujuan pengobatan sakit tanpa resep/nasihat tenaga medis (Anderson, 1979). Penggunaan obat
dalam pengobatan sendiri merupakan perilaku kesehatan. Menurut Green et al. (1980), setiap
perilaku kesehatan dapat dilihat sebagai fungsi dari pengaruh kolektif faktor predisposisi, faktor
pemungkin dan faktor penguat. Faktor predisposisi (predisposing factors) merupakan faktor
yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku, mencakup pengetahuan, sikap, dan keyakinan.
Faktor pemungkin (enabling factors) merupakan faktor yang memudahkan suatu motivasi
terlaksana, antara lain ketersediaan dan keterjangkauan berbagai sumber daya, misalnya,
ketersediaan dana, jarak, dan transportasi. Faktor penguat (reinforcing factors) merupakan faktor
yang menentukan apakah perilaku memperoleh dukungan lingkungan sosial atau sebaliknya.
Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
penggunaan obat dalam pengobatan sendiri adalah sebagai berikut.
1) Umur balita dan umur lanjut lebih banyak mengeluh sakit dan lebih banyak mengkonsumsi obat
(Crooks dan Christopher, 1979).
2) Jenis kelamin wanita lebih sering melakukan pengobatan sendiri (Crook dan Christopher, 1979),
dan lebih banyak menggunakan obat resep dan obat bebas daripada pria (Leibowitz, 1989).
3) Orang yang berpendidikan tinggi lebih banyak menggunakan obat, lebih banyak menyimpan
obat, dan lebih besar belanja obat (Leibowitz, 1989). Ada hubungan yang bermakna antara
tingkat pendidikan dan pengobatan sendiri (Khaldun, 1995).
4) Orang dengan status ekonomi yang tinggi lebih banyak menyimpan obat dan lebih banyak
belanja obat (Leibowitz, 1989). Ada hubungan yang bermakna antara bekerja dan pengobatan
sendiri (Khaldun, 1995).
5) Lokasi yang dekat dengan sumber obat berhubungan dengan penggunaan obat yang sesuai
dengan aturan dalam pengobatan sendiri (Zaky, 1997). Diduga penduduk yang berlokasi di kota
jaraknya lebih dekat untuk menjangkau sumber penjualan obat bebas sehingga lebih mudah
mendapatkan obat daripada penduduk di desa.
6) Orang yang mengeluh demam dan atau sakit kepala lebih sesuai dengan aturan menggunakan
obat daripada keluhan lainnya. Ada hubungan yang bermakna antara ada/ tidaknya keluhan dan
pemilihan penggunaan obat atau obat tradisional dalam pengobatan sendiri (supardi, et al.,
1997).
Berkaitan dengan pengobatan sendiri, telah dikeluarkan berbagai peraturan perundangan,
antara lain pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obat
bebas dan obat bebas terbatas (SK Menkes No.2380/1983). Semua obat yang termasuk golongan
obat bebas dan obat bebas terbatas wajib mencantumkan keterangan pada setiap kemasannya
tentang kandungan zat berkhasiat, kegunaan, aturan pemakaian, dosis, dan pernyataan lain yang
diperlukan (SK Menkes No.917/ 1993). Ada batas lama pengobatan sendiri untuk keluhan
tertentu. Semua kemasan obat bebas terbatas wajib mencantumkan tanda peringatan apabila
sakit berlanjut segera hubungi dokter (SK Menkes No.386/1994). Jadi, simpulan pengobatan
sendiri yang sesuai dengan aturan adalah penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas sesuai
dengan keterangan yang wajib tercantum pada brosur atau kemasan obatnya.
Kemudian berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan (sekarang Badan Pengawas Obat dan Makanan) pada tahun
1996 menerbitkan buku Kompendia Obat Bebas sebagai pedoman masyarakat untuk melakukan
pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan. Pengobatan sendiri yang sesuai dengan
aturan dalam buku tersebut antara lain mencakup kriteria tepat golongan, yaitu menggunakan
golongan obat bebas, dan tepat obat, yaitu menggunakan kelas terapi obat yang sesuai dengan
keluhannya (Depkes, 1996).
Batuk
Badalah suatu reflek pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran
pernapasan. Obat bebas yang digunakan mengandung zat berkhasiat Gliseril Guaiakolat,
Bromheksin, Ammonium Klorida, Dekstrometorfan HBr, Difenhidramin, lama pengobatan
sendiri tidak boleh lebih dari 3 hari.
Patofisiologi batuk
Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran
nafas. Ada 4 fase mekanisme batuk, yaitu fase iritasi, fase inspirasi, fase kompresi dan fase
ekspulsi/ekspirasi. Iritasi salah satu ujung saraf sensoris nervus vagus di laring, trakea, bronkus
besar atau sera aferen cabang faring dari nervus glossofaringeal dapat menimbulkan batuk. Batuk
juga timbul bila reseptor batuk di lapisan faring dan esofagus, rongga pleura dan saluran telinga
luar dirangsang. Rangsang pada reseptor batuk dialirkan ke pusat batuk ke medula, dari medula
dikirim jawaban ke otot-otot dinding dada dan laring sehingga timbul batuk (Aditama, 1993;
Yunus 1993).

Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat
ini glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi
jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Penelitian
lain menyebutkan jumlah udara yang dihisap berkisar antara 50% dari tidal volume sampai 50%
dari kapasitas vital. Ada dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama,
volume yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan ekspirasi
yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar akan memperkecil rongga
udara yang ter-tutup sehingga pengeluaran sekret akan lebih mudah (Aditama, 1993).

Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama
0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50- 100 mmHg.
Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi
paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis
tertutup adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Kemudian,
secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar dan
menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk
(Aditama, 1993).
Batuk sebenarnya merupakan gejala gangguan pernafasan dan bukan suatu penyakit.
Batuk adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi di samping gejala pernafasan lainnya
seperti sesak nafas, berdahak dan nyeri dada.
Dalam praktek kedokteran, batuk merupakan keluhan yang paling sering membawa pasien
datang berobat. Sebenarnya batuk adalah cara tubuh menjaga agar tenggorok serta jalan nafas
tetap bersih. Pada dasarnya batuk merupakan mekanisme perlindungan tubuh khususnya saluran
nafas untuk membersihkan jalan nafas dari benda asing atau partikel yang masuk lewat
pernafasan manusia. Sehingga batuk bisa terjadi saat kondisi sehat dan sakit. Dalam kondisi
sehat, banyak partikel dan debu yang masuk ke saluran nafas sehingga kita ingin
mengeluarkannya. Pada saat tersedak makanan atau minuman, kita juga secara refleks akan
batuk. Sedangkan saat sedang sakit, akan ada peradangan di saluran nafas yang mengakibatkan
iritasi dan rangsang refleks batuk serta upaya nafas mengelurakan lendir yang lebih banyak dan
kental.
Batuk bisa dibedakan berdasarkan lamanya. Pertama batuk akut yang terjadi kurang dari
tiga minggu pada keadaan sebelumnya tidak ada keluhan, dapat terjadi iritasi, penyempitan
saluran nafas akut, dan infeksi akut virus dan bakteri.

Kedua, batuk kronik yang berlangsung lebih dari tiga minggu. Pada infeksi akut
pernafasan akibat virus sering diikuti dengan batuk lama sekitar tiga sampai delapan minggu
akibat kerusakan epitel saluran nafas, karena itu ada juga istilah batuk subakut yang berkisar tiga
sampai delapan minggu.

Ketiga, batuk berdahak atau produktif dan keempat, batuk kering atau non produktif.
Batuk produktif disebabkan sistem pernafasan perlu mengeluarkan lendir yang banyak dan
berlebihan.

Untuk pengobatan diciptakan lingkungan yang hangat, minum air hangat yang cukup,
istirahat yang cukup, makan sayur dan buah, makan makanan yang bergizi, serta mengkonsumsi
obat batuk-pilek. Jika takut dengan obat-obatan yang mengandung banyak bahan kimia, dapat
mencoba alternatif dengan terapi udara bersih.

Terapi Non Farmakologi


Penderita-penderita dengan batuk tanpa gangguan yang disebabkan oleh penyakit akut dan
sembuh sendiri biasanya tidak perlu obat (Yunus, 1993). Pada umumnya batuk
berdahak/produktif maupun tidak berdahak/non produktif dapat dikurangi dengan cara sering
minum air putih, untuk membantu mengencerkan dahak, mengurang iiritasi atau rasa gatal serta
menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang merangsang tenggorokan dan udara
malam yang dingin (BPOM RI, 2002). Menghirup uap mentol atau minyak atsiri juga dapat
meringankan batuk produktif, tatpi cara pengobatan ini tidak boleh diberikan kepada anak-anak
di bawah usia 2 tahun karaena dapat myebabkan kejanglarynx (Tjay dan Rahardja, 2002).
Terapi Farmakologi
a. Pengobatan spesifik
Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan terhadap penyebab tersebut.
Dengan evaluasi diagnostik yang terpadu, pada hampir semua penderita dapat
diketahui penyebab batuk kroniknya. Pengobatan spesifik batuk tergantung dari etiologi atau
mekanismenya :
Asma diobati dengan bronkodilator atau dengan kortikosteroid.Postnasal drip karena sinusitis
diobati dengan antibiotik, obat semprot hidung dan kombinasi antihistamin - dekongestan;
postnasal drip karena alergi atau rinitis nonalergi ditanggulangi dengan menghindari lingkungan
yang mempunyai faktor pencetus dan kombinasi antihistamin - dekongestan.
Refluks gastroesophageal diatasi dengan meninggikan kepala, modifikasi diet, antasid dan
simetidin.
Batuk pada bronkitis kronik diobati dengan menghentikan merokok. Antibiotik diberikan pada
pneumonia, sarkoidosis diobati dengan kortikosteroid dan batuk pada gagal jantung kongestif
dengan digoksin dan furosemid.
Pengobatan spesifik juga dapat berupa tindakan bedah seperti reseksi paru pada kanker paru,
polipektomi, menghilangkan rambut dari saluran telinga luar (Yunus, 1993).
b. Pengobatan simptomatik
Diberikan baik kepada penderita yang tidak dapat ditentukan penyebab batuknya maupun kepada
penderita yang batuknya merupakan gangguan, tidak berfungsi baik dan potensial dapat
menimbulkan komplikasi.
Batuk produktif
Emolliensia

Memperlunak rangsangan batuk, memperlicin tenggorokan agar tidak kering, dan melunakan
selaput lendir yang teriritasi untuk tujuan ini banyak digunakan sirup, zat-zat lendir, dan gula-
gula, seperti, drop, permen, pastilles isap.

Ekspektoransia
Memperbanyak produksi dahak (yang encer) dan demikian mengurangi kekentalannya, sehingga
mempermudah pengeluarannya dengan batuk, misalnya guaiakol, radix Ipeca, dan ammonium
klorida dalam obat batuk hitam yang terkenal.

Mukolitika

Obat ini memecah rantai molekul mukoprotein sehinggamenurunkan viskositas


mukus. Asetilsistein, karbosistein, mesna, bromheksin, dan ambroksol.

Batuk non produkttif


Usaha yang terbaik adalah dengan menekan susunan saraf pusat yang menjadi pusat batuk, yaitu
dengan obat penekan batuk. Obat-obat yang berdaya menekan rangsangan batuk:

zat-zat pereda : kodein, noskapin, dekstrometorfan.

Antihistaminika : prometazin, difenhidramin, dan d-klorfeniramin. Obat-obat ini sering kali efektif
pula berdasarkan efek sedatifnya dan terhadap perasaan menggelitik pada tenggorokan.

Anestetika lokal : pentoksiverin. Obat ini menghambat penerusan rangsangan batuk ke otak (Tjay
dan Rahardja, 2002).

Flu
Flu adalah infeksi virus, dengan gejala demam, sakit kepala, sakit otot, pilek, batuk,
kering tenggorokan, kadang-kadang disertai diare. Obat bebas yang digunakan mengandung
kombinasi zat berkhasiat analgetika/antipiretika, antihistamin, obat batuk dan dekongestan, lama
pengobatan sendiri tidak boleh lebih dari 3 hari.
Flu disebabkan oleh serangan Virus influenza tipe A atau B. Virus ditularkan melalui air
liur terinfeksi yang keluar pada saat penderita batuk atau bersin; atau melalui kontak langsung
dengan sekresi (ludah, air liur, ingus) penderita.
Patofisiologi flu

Transimisi virus flu lewat partikel udara dan lokalisasinya ditraktus respiratorius.
Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) tang membawa virus tersebut masuk ke
dalam saluran nafas. Pada dosisi infeksius 10 virus/droplet 50% orang-orang terserang dosis ini
akan menderita influenza. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus. Setelah
virus berhasil menerobos masuk ke dalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi.
Partikel-partikel virus baru ini kemudian menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan
langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus influenza dapat mengakibatkan
demam tapi tidak sehebat efek pirogen lipopoli-sakarida kuman Gram negatif (Nelwan, 2006).
Gejal flu timbul dalam waktu 24-48 jam setelah terinfeksi dan bisa timbul secara tiba-
tiba. Kedinginan biasanya merupakan petunjuk awal dari influenza. Pada beberapa hari pertama
sering terjadi demam, bisa sampai 38,9-39,4 Celsius. Banyak penderita yang merasa sakit
sehingga harus tinggal di tempat tidur; mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya,
terutama di punggung dan tungkai. Sakit kepala seringkali bersifat berat, dengan sakit yang
dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Cahaya terang bisa memperburuk sakit kepala.
Pada awalnya gejala saluran pernafasan relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa
panas di dada, batuk kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak.
Kulit teraba hangat dan kemerahan, terutama di daerah wajah. Mulut dan tenggorokan berwarna
kemerahan, mata berair dan bagian putihnya mengalami peradangan ringan. Kadang-kadang bisa
terjadi mual dan muntah, terutama pada anak-anak. Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan
menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung
sampai 5 hari. Bronkitis dan batuk bisa menetap sampai 10 hari atau lebih, dan diperlukan waktu
6-8 minggu ntuk terjadinya pemulihan total dari perubahan yang terjadi pada saluran pernafasan.
Pengobatan flu yang utama adalah istirahat dan berbaring di tempat tidur, minum banyak
cairan dan menghindari kelelahan. Tirah baring sebaiknya dilakukan segera setelah gejala timbul
sampai 24-48 setelah suhu tubuh kembali normal. Untuk penyakit yang berat tetapi tanpa
komplikasi, bisa diberikan asetaminofenn, aspirin, ibuprofen atau naproksen. Obat lainnya yang
biasa diberikan adalah dekongestan hidung dan penghirupan uap.
Berikut ini adalah fakta-fakta yang harus ditahu mengenai pengobatan dokter akan
penyakit batuk dan flu :
Penyakit influenza atau batuk flu adalah penyakit yang disebabkan virus dan belum ditemukan
obat yang ampuh ces pleng untuk membasmi tuntas ke akar-akarnya.
Pengobatan yang dilakukan adalah menekan gejala-gejala yang muncul saja, sedangkan si virus
tidak bisa dibunuh tuntas.
Penggunaan antibiotic untuk membunuh virus efektifitasnya menurun setiap saat, dalam hal ini
dosis harus selalu bertambah karena virus semakin kebal.
Penggunaan obat batuk ternyata hanya berfungsi menyamankan dengan cara menekan syaraf
untuk batuk, sedangkan virusnya sendiri tidak dibunuh, dan penyakit masih bercokol dalam
tubuh. Padahal Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh.
Penggunaan parasetamol adalah untuk menurunkan panas akibat demam yang menyertai batuk
flu. Padahal demam juga hanya symptom atau gejala peringatan dari tubuh akan adanya masalah
pada system tubuh kita.
Kesimpulannya, pengobatan flu dan batuk secara konvensional hanyalah menekan gejala
yang ada, namun asal penyakitnya tidak diatasi dengan tuntas. Selain fakta tersebut, efek
samping dari kombinasi obat batuk flu dokter (anti allergic, antibiotic dan paracetamol) adalah
sebagai berikut:
Menurunnya respon tubuh untuk meningkatkan antibody dari dalam tubuh sendiri akibat
pemakaian antibiotic yang membunuh organisme baik dan buruk sekaligus.
Pemakaian parasetamol menekan demam ternyata menurunkan kemampuan tubuh untuk
memberikan peringatan dini akan penyakit yaitu demam sehingga tubuh semakin kurang respon
akan penyakit sehingga system pertahanan tubuh alami tidak berjalan dengan baik.
Pemakaian anti allergic atau anti batuk menekan syaraf di otak agar tidak batuk, sehingga syaraf
tersebut kehilangan fungsi untuk memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan penyakit melalui
batuk.
Kerja hati dalam mengeluarkan zat kimia obat tersebut semakin keras, sehingga efektifitas dan
fungsinya semakin lama semakin menurun.
Sisa zat tambahan kimia lainnya yang tidak dapat dicerna tubuh akan mengendap dalam tubuh
dan menjadi radikal bebas yang bersifat toxin kepada tubuh. Tumpukan ini akan bertambah terus
dan menimbulkan masalah jangka panjang semacam kanker di masa depan.
Terapi Non Farmakologi

Influenza umumnya dapat sembuh sendiri oleh daya tahan tubuh. Beberapa tindakan yang
dianjurkan untuk meringankan gejala influenza antara lain:

a. Beristirahat antara 2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik berlebihan.

b. Meningkatkan gizi makanan. Makanan dengan kalori dan protein yang


tinggi akan menambah daya tahan tubuh. Makan buah-buahan segar yang banyak
mengandung vitamin.

c. Banyak minum air, teh, sari buah akan mengurangi rasa kering
ditenggorokan mengencerkan dahak dan membantu menurunkan demam.

d. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan
rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.

e. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat


kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.

f. Hidung tersumbat dapat diatasi dengan menghirup uap hangat yang


dihasilkan dari air hangat di wadah bermulut lebar (panci), ditetesi dengan
beberapa tetes minyak atsiri. Minyak atsiri yang ditambahkan bisa berupa minyak
mint (berasal dari daun menta piperita), minyak kayu putih, minyak adas, atau tea
tree oil (berasal dari penyulingan daun eucalyptus)

g. Minum minuman pelega tenggorokan/pengencer dahak dan pelancar aliran


darah seperti jahe, lemongrass/sereh, kayu manis, mint,chamomil (Depkes RI,
1997, Rasmaliah, 2004, Puspitasari, 2007).
Terapi Farmakologi

a. Antipiretik untuk mengatasi panas/demam

Parasetamol / Asetaminofen

Parasetamol mempunyai khasiat analgetik dan antipiretik, tetapi tidak antiinflamasi. Seperti
aspirin, parasetamol berefek menghambat sitesa prostaglandin di otak tetapi sedikit aktivitasnya
sebagai inhibitor prostaglandin perifer.

Farmakokinetik

Level serum.

10-20 mg/L (66-132 mol/L) kerusakan hati dapat terjadi setelah penggunaan over dosis akut
dengan konsentrasi serum > 300 mg/L (2 mmol/L) setelah 4 jam atau 45 mg/L (300 mol/L)
setelah 12 jam setelah over dosis akut dengan kerusakan hati, sedangkan keracunan
kemungkinan tidak akan terjadi bila level < 120 mg/L (800 mol/L) setelah 4 jam atau 30 mg/L
(200 mol/L) setelah 12 jam.

Absorpsi dan Distribusi.

Absorpsi cepat dari trakstus GI, konsentrasi plasma puncak tercapai pada 0.5-2 jam. Pada dosis
terapi, obat dalam bentuk tak terikat plasma protein; pada over dosis 20-50% terikat protein.

Metabolisme dan Ekskresi.

Dalam hati, parasetamol diuraikan menjadi metabolit-metabolit toksis yang diekskresi denngan
kemih sebagai konjugat glukuronida dan sulfat.

Efek samping

Efek samping antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. Pada penggunaan kronik
dari 3-4 g sehari dapat terjadi kerusakan hati, pada dosis diatas 6 g mengakibatkan necrose hati
yang tidak reversibel.

Dosis

Untuk nyeri dan demam oral 2-3 dd 0,5- 1 g, maksimum 4 g/hari, pada penggunaan kronis
maksimum 2,5 g/hari. Anak-anak 4-6 dd 10 mg/kg, yakni rata-rata usia 3-12 bulan 60 mg, 1-4
tahun 120-180 mg, 4-6 tahun 180 mg, 7-14 tahun 240-360 mg, 4-6 x sehari. Rektal 20 mg/kg
setiap kali, dewasa 4 dd 0,5-1 g, anak-anak usia 3-12 bulan 2-3 dd 120mg, 1-4 tahun 2-3 dd 240
mg, 4-6 tahun 4 dd 240 mg, dan 7-12 tahun 2-3 dd 0,5 g (Tjay dan Rahardja, 2002; Chairun,
2006).
Ibuprofen

Ibuprofen adalah NSAID yang memiliki aktivitas analgetik dan antipiretik. Ibuprofen merupakan
inhibitor non-selektif cyclo-oxygenase-1 (COX-1) dan COX-2.

Farmakokinetik

Level serum.

10 mg/L untuk efek antipiretik. Konsentrasi serum diatas 200 mg/L satu jam setelah over dosis
akut kemungkinan karena keracunan hebat.

Absorpsi

Secara cepat diabsoprsi dari traktus GI dengan bioavailabilitas diatas 80%. Kadar maksimum
dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Terikat kuat, lebih dari 99% dengan plasma protein.

Metabolisme dan Ekskresi.

Ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dosis yang diabsorpsi akan
diekskresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugasinya. Metabolit utama merupakan hasil
hidroksilasi dan karboksilasi.

Dosis

Nyeri (haid), demam, rema, permulaan 400 mg p.c/d.c, lalu 3-4 dd 200-400 mg, demam pada
anak-anak 6-12 bulan 3 dd 50 mg, 1-3 tahun 3-4 dd 50 mg, 4-8 tahun 3-4 dd 100 mg, 9-12 tahun
3-4 dd 200 mg (Wilmana, 2004; Tjay dan Rahardja, 2002; Chairun, 2006) .

b. Dekongestan nasal / pelega hidung

Dekongestan nasal dipasarkan dalam bentuk obat oral dan bentuk spray hidung. Beberapa jenis
obat dekongestan nasal:

Fenilpropanilamin (PPA)

Fenilpropanolamin adalah derivat tanpa gugus CH pada atom N dengan khasiat yang
menyerupai efedrin. Kerjanya lebih panjang; efek sentral dan efek jantung lebih ringan. Dosis
oral 3-4 dd 15-25 mg.

Efedrin
Efedrin adalah alkaloid dari tumbuhan Ephedra vulgaris. Penggunaan utamanya adalah pada
asam berkat efek bronchodilatasi kuat (2), sebagai decongestivum dan midriatikum yang kurang
merangsang dibandingkan dengan adrenalin. Resorpsinya dari usus baik, bronchodilatasi sudah
nampak dalam 15-60 menit dan bertahan 2-5 jam. Plasma t nya 3-6 jam tergantung dari pH.
Dalam hati sebagian zat dirombak; ekskresinya berlangsung lewat urin khusus secara utuh. Dosis
pada asma 3-4 dd 25-50 mg (-HCl), anak-anak 2-3 mg/kg sehari dalam 4-6 dosis. Tetes hidung
larutan-sulfat 0,5-2%, dalam tetes mata 3-4%.

Pseudoefedrin

Pseudoefedrin adalah isomer-dekstro dengan khasiat yang sama. Daya bronchodilatasi lebih
lemah, efek samping terhadap SSP dan jantung juga lebih ringan. Plasma t nya 7 jam.

Oksimetazolin

Derivat imidazolin ini bekerja langsung terhadap reseptor alfa tanpa efek atas reseptor beta.
Setelah diteteskan di hidung, adalm waktu 5-10 menit terjadi vasokontriksi mukosa yang
bengkak dan kemampatan hilang. Efeknya bertahan 5 jam. Efek sampingnya dapat berupa rasa
terbakar dan teriritasi dari selaput lendir hidung dengan menimbulkan bersin. Dosis anak-anak
daiats 12 tahun dan dewasa 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,05% (HCl) disetiap lubang hidung, anak-
anak 2-10 tahun larutan 0,025%.

Xilometazolin

Derivat imidazolin dengan daya kerja dan penggunaan sama. Derivat imidazolin khususnya
digunakan sebagai dekongestivum pada selaput lendir bengkak di hidung dan mata, pilek,
selesma, hay fever,sinusitis. Dosis nasal 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,1% (HCl), maks 6 x sehari.
Anak-anak 2-6 tahun larutan 0,05%.

Namun, ditemukan juga bentuk pelega hidung berbentuk inhaler yang berisi mentol, camphor,
metil salisilat ditambah dengan minyak atsiri seperti minyak pumilio pine.

c. Virustatika

Virustatika digunakan sebagai prevensi atau meringankan gejala penyakit, bila terjadi infeksi.

Amantadin dapat digunakan selama 10 hari bersama suntikan vaksin influenza guna melindungi
terhadap virus-A2 selama masa vaksin belum aktif (masa inkubasi 10 hari), terutama pada orang-
orang dengan daya tangkis lemah.
Zanamivir termasuk kelompok zat baru neuramidase-inhibitor yang ternyata efektif untuk
mencegah dan menangani influenza. Obat ini menghambat enzim neuramidase pada permukaan
virus. Dengan demikian, pelepasan partikel virus keluar sel tuan rumah dihindarkan, sehingga
sel-sel berdekatan dalam saluran nafas tidak ditulari. Digunakan sebagai inhalasi 1-2 dd 10 mg.

Oseltamivir 2 x 75 mg sehari selama 5 hari akan memperpendek masa sakit.

d. Antibiotika

Hanya digunakan pada orang yang beresiko tinggi dengan daya tangkis lemah, seperti penderita
bronkhitis kronis, jantung atau ginjal. Mereka mudah dihinggapi infeksi sekunder dengan
bakteri, khususnya radang paru (pneumonia), yang tak jarang berakhir fatal. Oleh karena itu, di
Eropa orang yang berisiko tinggi dianjurkan untuk setiap tahun pada permulaan musim dingin
melindungi diri dengan injeksi virus influenza.

e. Vitamin C

Vitamin C denagn dosis tinggi (3-4 dd 1000 mg) berkhasiat meringankan gejala dan
mempersingkat lamanya infeksi, berdasarkan stimulasi perbanyakan serta aktivitas limfo-T dan
makrofag pada dosis di atas 2,5 g sehari.

f. Seng-glukonat

Seng-glukonat dalam bentuk tablet hisap dengan 13,3 mg Zn yang digunakan sedini mungkin
pada permulaan infeksi 5-6 x sehari dapat mempersingkat lamanya masa sakit. Mekanisme
kerjanya diperkirakan berdasarkan blokade dari tempat-tempat di permukaan virus yang dapat
mengikat pada sel-sel tubuh atau juga atas dasar daya ion Zn untuk mneghambat pembelahan
polipeptida virus serta aktivasi limfosit (Tjay dan Rahardja, 2002).

Pengobatan Batuk Flu yang Aman


Pengobatan Herbal
1. Madu
Minum Madu akan meningkatkan kekebalan tubuh, karena penyakit batuk dan flu disebabkan
oleh virus, dengan meningkatkan kekebalan tubuh maka virus akan diusir oleh system
pertahanan tubuh alami.
Caranya sediakan bahan sebagai berikut :
a. Madu 2 sendok makan
b. Air jeruk nipis 1 sendok makan
c. Air matang 2 sendok makan
Campur ketiga komponen tersebut ke dalam cangkir, kukus, setelah dingin minum 1-2 sendok
teh untuk anak dan 1-2 sendok makan untuk dewasa, Berikan 5 kali sehari.
2. Jahe
Jahe seibu jari dicuci dan dimemarkan, rebus dengan dua gelas air hingga airnya tinggal
setengah. Setelah menjadi hangat, tambahkan madu, kemudian minum air rebusan tersebut
sekaligus.

Obat Batuk/ Flu Bebas Hanya Untuk 4 Tahun Ke Atas


Semakin muda usia anak, makin rentan anak tersebut terhadap efek samping dan bahaya
penggunaan obat bebas ini. Karena itu biasanya brosur/ label yang terdapat pada obat bebas
tersebut tidak menganjurkan penggunaan obat pada bayi/ anak bila usianya masih di bawah 2
tahun. Jika usia kurang dari 2 tahun dianjurkan mengikuti petunjuk dokter.
Kini batas minimal umur yang aman untuk penggunaan obat bebas tersebut akan dinaikkan
lagi. Pabrik Farmasi di Amerika Serikat kini bersepakat bahwa obat bebas (OTC) untuk batuk
dan flu yang mereka produksi hanya diperuntukkan untuk anak usia 4 tahun ke atas, tidak lagi
untuk 2 tahun ke atas seperti yang berlaku saat ini. Karena itu, tulisan "untuk anak usia 2 tahun
ke atas" seperti yang tertera pada banyak obat batuk dan flu berbentuk sirup yang dijual bebas
akan berganti menjadi "untuk 4 tahun ke atas".
FDA melarang anak di bawah 6 tahun menggunakan obat batuk dan obat flu bebas ketika
mereka sakit. Ada beberapa alasan mengapa obat bebas tersebut dinaikkan batasan umur
penggunaannya. Pertama, belum ada bukti ilmiah obat bebas tersebut memang sudah bermanfaat
buat anak-anak usia 6 tahun ke bawah. Ke dua, sudah banyak kejadian efek samping/ kecelakaan
yang membahayakan nyawa anak-anak karena penggunaan sembarangan obat bebas tersebut.
Hal ini diduga karena dosis anjuran pada label obat bebas tersebut menggunakan umur sebagai
patokan, bukan berat badan.
Sebenarnya flu bisa sembuh sendiri (self-limiting). Dalam 4-7 hari penyakit akan sembuh
sendiri tergantung dari daya tahan tubuh dan pola hidup seseorang, serta tidak adanya
komplikasi. Sangat dianjurkan untuk meringankan gejala flu tanpa pengobatan, yaitu dengan
beristirahat 2-3 hari, banyak minum air dan memberi asupan makanan yang tinggi kalori dan
protein. Buah dan sayuran segar yang mengandung banyak vitamin, terutama vitamin C juga
disarankan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Berkumur dengan air garam atau minum air
perasan kencur akan mengurangi rasa sakit pada tenggorokan.
Obat flu hanya meringankan gejala saja, tidak boleh digunakan secara terus menerus
dalam jangka waktu yang lama. Segera konsultasikan ke dokter apabila dalam 3 (tiga) hari tidak
sembuh atau ada gejala lain yang menyertainya. Obat ini pada umumnya dapat diperoleh tanpa
resep dokter, baik yang dijual secara bebas (bertanda lingkaran hijau) atau terbatas di apotek dan
toko obat berijin (bertanda lingkaran biru). Komposisinya sebagian besar terdiri dari kombinasi
beberapa macam obat, yaitu :
Pelega hidung tersumbat (dekongestan) : fenilpropanolamin, fenilefrin, pseudoefedrin dan
efedrin
Penghilang sakit/penurun panas (analgesik/antipiretik) : parasetamol
Pada beberapa merek, diberi tambahan :
Obat batuk berdahak (ekspektoran): ammonium klorida, bromheksin, gliseril guaiakola
Obat batuk kering (antitusif) : difenhidramin HCl, dekstrometorfan HBr
Antialergi (antihistamin) : klorfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat

Sebelum minum obat flu, perhatikan komposisinya dan disesuaikan dengan gejala yang
dirasakan. Minumlah sesuai aturan pakainya. Beberapa pilihan bentuk sediaan sudah ada di
pasaran, baik yang berbentuk tablet, kapsul maupun sirup sehingga memudahkan bila diminum
anak kecil. Minum lebih dari satu merek obat flu sangat tidak diperbolehkan, karena
komposisinya yang hampir sama dapat meningkatkan efek samping obat. Jangan lupa, bacalah
klaim peringatan pada box warning di setiap kemasan obat, karena obat flu juga mempunyai efek
yang tidak diinginkan, misalnya :
antihistamin menyebabkan kantuk sehingga tidak dianjurkan mengendarai kendaraan bermotor
atau menjalankan mesin
Tidak dianjurkan penggunaannya pada anak usia di bawah 6 tahun, ibu hamil dan menyusui,
kecuali atas petunjuk dokter
Penyakit flu sebagian besar disebabkan oleh virus. Pemahaman yang keliru bila masyarakat
memadukan obat flu dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik diindikasikan untuk infeksi karena
kuman, bila digunakan secara tidak tepat akan meningkatkan resistensi terhadap kuman dan
dapat terjadi efek samping yang tidak diinginkan. Selain itu juga akan meningkatkan biaya
pengobatan. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan antibiotik.
Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman, antara lain :
pada posisi berbaring atau tidur agar diletakkan yang nyaman, bila perlu kepala ditinggikan
untuk menghindari batuk karena berkumpulnya lendir di tenggorokan. Namun, sebaiknya batuk
jangan ditahan, karena merupakan upaya pengeluaran lendir agar tidak masuk ke paru-paru
segera beri obat penurun demam jika disertai demam dan jangan memakai pakaian tebal serta
tidak perlu diolesi dengan obat gosok
perbanyak minum air putih
Upaya pengobatan sendiri pada penyakit flu harus dilakukan secata tepat dan rasional
sehingga dapat meminimalkan biaya pengobatan, dan yang terpenting memperkecil risiko
terjadinya komplikasi penyakit.
Pengobatan sendiri mempunyai beberapa dampak positif diantaranya masyarakat dapat
mengatasi masalah kesehatannya secara dini, keberhasilannya akan mengurangi beban pusat-
pusat pelayanan kesehatan, biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah, serta memberi
kesempatan kepada banyak pihak untuk terlibat dalam bisnis obat.
Ada beberapa aspek yang perlu diwaspadai agar pengobatan sendiri dapat dilakukan
secara bermutu yaitu tepat, aman, dan rasional. Garis besarnya adalah sebagai berikut :

A. Kenali gejala penyakit atau keluhan kesehatan yang diderita.


B. Tentukan obat yang dibutuhkan untuk mengatasi keluhan tersebut :
Pilih produk dengan formula yang paling sederhana dengan memperhatikan komposisi dan dosis.
Secara umum komposisi tunggal lebih dianjurkan.
Pilih obat yang mengandung dosis efektif, serta mencantumkan komposisi dan jumlahnya.
Dianjurkan menggunakan produk generik bila tersedia.
Berhati-hatilah terhadap iklan yang melebihkan efek obat dibanding produk sejenis yang lain.
Perhatian khusus harus diberikan untuk pemberian pada anak-anak, terutama mengenaidosis,
bentuk sedian, dan rasa.
C. Perhatikan waktu penggunaan obat dengan kesembuhan atau berkurangnya keluhan penyakit,
bila dalam beberapa hari tidak terdapat perubahan sebaiknya meminta bantuan dokter atau tenaga
medis lainnya.
Unsur tertentu dari produk OTC (obat bebas) harus dihindari atau digunakan dengan
hati-hati pada pasien tertentu karena dapat memperparah masalah kesehatan yang sudah ada
sebelumnya atau dapat berinteraksi dengan pengobatan yang diresepkan yang sedang diminum
pasien. Banyak unsur dari OTC yang lebih poten yang tersembunyi dalam produk dimana
keberadaanya sebenarnya dapat tidak diharapkan. Kesadaran yang rendah akan komposisi yang
terdapat dalam produk OTC dan keyakinan dokter bahwa produk OTC adalah inefektif
atau harmless dapat membingungkan diagnosis dan mengganggu terapi.

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T.Y . 1993. Patofisiologi batuk. Cermin Dunia Kedokteran Indonesia. No. 84. Hal. 5-
7. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05PatofisiologiBatuk
084.pdf/05PatofisiologiBatuk084.html [Diakses tanggal 16 September 2008].

Amin, Z. 2006. Manifestasi klinik dan pendekatan pada pasien dengan kelainan sistem pernafasan.
Dalam: Aru W. Sudoyo [et al.], editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid ke-2. Edisi ke-4.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Hal.959-963.

Andra. 2006. Kenali batuk pada anak. http://www.majalah-


farmacia.com/rubrik/one_news_print.asp?IDNews=297 [Diakses tanggal 16 September 2008].
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2002. Infeksi saluran nafas dan
penanganannya. InfoPOM Vol. 3 Ed.2. Hal 1-
4.http://118.97.48.164:8796/public/publikasi/infopom0202.pdf [Diakses tanggal 16 September
2008].

Cerdas Memilih Obat Flu


Penyakit flu merupakan penyakit yang umum terjadi dan dapat menyerang siapa saja, baik dewasa maupun
anak-anak. Seseorang yang terkena penyakit flu biasanya merasa tidak perlu datang ke dokter dan dapat
membeli obat sendiri. Apalagi, obat flu dijual dengan bebas dan dapat diperoleh tanpa resep dokter. Obat flu
tidak hanya dijual di apotek tapi juga di toko obat bahkan di warung dengan berbagai merek. Permasalahan
yang sering timbul adalah cara pemilihan obat flu yang tepat. Masyarakat menganggap bahwa semua
kandungan obat flu sama, padahal ada beberapa perbedaan. Oleh karena itu, pada bahasan mengenai obat flu
kali ini akan dipaparkan bagaimana cara bijak untuk memilih obat flu sesuai dengan kebutuhan, sehingga
walaupun pengobatan dilakukan secara mandiri (swamedikasi), tetap rasional, tepat dan tidak berlebihan.

Sekilas Tentang Penyakit Flu


Flu merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus (coronavirus, influenza virus) pada saluran pernapasan
bagian atas. Penularan flu biasanya terjadi melalui kontak dengan sekret mukosa hidung orang yang terkena flu
(dengan memegang tangan atau gagang pintu atau gagang telepon yang terkena sekret). Pada umumnya infeksi
dapat sembuh dengan sendirinya dengan meningkatkan daya tahan tubuh melalui istirahat yang cukup, asupan
gizi dan banyak minum air. Namun demikian gejala yang ditimbulkan seringkali mengganggu aktivitas.
Untuk meringankan gejala flu dapat dilakukan swamedikasi menggunakan obat bebas yang mengandung satu
atau lebih zat yang berkhasiat dekongestan, antihistamin, antipiretik, analgesik, antitusif atau ekspektoran.
Pengobatan flu tidak memerlukan antibiotik.

Gejala flu antara lain sebagai berikut :

Sakit tenggorokan yang diikuti oleh hidung tersumbat, berair, bersin dan batuk
Menggigil, sakit kepala, lemas, nyeri otot, dan demam ringan
Gangguan pada hidung terjadi pada hari ke-2 atau ke-3 dan batuk (tidak selalu) muncul pada hari ke-4 atau
ke-5
Penanggulangan Flu
Terapi non obat
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyakit flu dapat sembuh dengan sendirinya tanpa
menggunakan obat. Terapi non obat yang dapat dilakukan untuk meredakan gejala flu diantaranya:
Peningkatan asupan cairan dengan banyak minum air, teh, sari buah. Asupan cairan dapat mengurangi rasa
kering di tenggorokan, mengencerkan dahak dan membantu menurunkan demam.
Istirahat yang cukup.
Makan makanan bergizi yaitu makanan dengan kalori dan protein tinggi yang akan menambah daya tahan
tubuh. Makan buah-buahan segar yang banyak mengandung vitamin.
Mandi dengan air hangat dan berkumur dengan air garam.
Untuk bayi, dapat dilakukan dengan membersihkan saluran hidung dengan hati-hati. Pada umumnya, anak
dengan usia di bawah 4 tahun tidak dapat mengeluarkan sekret (ingus) sendiri, oleh karena itu
membutuhkan bantuan untuk membersihkan hidung. Pada bayi, dapat dilakukan irigasi hidung dengan
menggunakan tetes larutan garam isotonik.
Terapi Obat
Apabila penyakit flu tidak membaik setelah pemberian terapi non obat, maka disarankan melakukan terapi
obat. Obat flu yang dapat diperoleh bebas bisa merupakan sediaan analgetik/antipiretik tunggal atau kombinasi
dengan beberapa zat aktif lain, yang termasuk golongan antitusif, ekspektoran, dekongestan, dan antihistamin.
Berikut akan dijelaskan kegunaan masing-masing golongan.
1. Analgesik/antipiretik
Antipiretik merupakan obat yang digunakan untuk menurunkan demam dan biasanya juga mempunyai efek
pereda nyeri (analgesik). Antipiretik/analgesik yang biasa digunakan dalam pengobatan flu antara lain
parasetamol, ibuprofen, dan asetosal. Obat flu umumnya sudah mengandung antipiretik/analgesik sehingga
tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi obat antipiretik/analgesik tunggal bersamaan dengan obat flu yang telah
mengandung antipiretik/analgesik, misalnya mengkonsumsi tablet parasetamol bersamaan dengan
mengkonsumsi obat lain yang mengandung ibuprofen atau asetosal. Oleh karena itu, perhatikan komposisi zat
berkhasiat yang terkandung dalam kedua obat tersebut.
2. Dekongestan
Dekongestan merupakan obat untuk mengurangi hidung tersumbat. Dekongestan bekerja dengan cara
menyempitkan pembuluh darah di daerah hidung sehingga melegakan hidung tersumbat karena pembengkakan
mukosa. Obat-obat yang termasuk ke dalam dekongestan antara lain fenil propanol amin (PPA), fenilefrin ,
pseudoefedrin, dan efedrin.

Hati-hati penggunaan dekongestan pada pasien hipertensi, hipertiroid, penyakit jantung koroner, penyakit
iskemia jantung, glaukoma, pembesaran kelenjar prostat, diabetes. Penggunaan pada kondisi tersebut hanya
dilakukan atas saran dokter. Sebelum menggunakan obat ini disarankan untuk membaca aturan pemakaian
pada kemasan obat terlebih dahulu.
3. Antihistamin
Antihistamin merupakan obat yang digunakan untuk mengobati batuk atau pilek akibat alergi. Obat ini efektif
untuk pilek yang disebabkan oleh alergi, namun hanya memiliki sedikit manfaat untuk mengatasi hidung
tersumbat. Oleh karena itu, pada beberapa produk antihistamin dikombinasikan dengan dekongestan. Beberapa
antihistamin yang dapat diperoleh tanpa resep dokter antara lain klorfeniramin maleat/klorfenon (CTM),
prometazin, tripolidin, dan difenhidramin. Obat flu yang mengandung antihistamin dapat menyebabkan
mengantuk, oleh karena itu, setelah menggunakan obat flu jangan menjalankan mesin atau mengendarai
kendaraan bermotor.

4. Antitusif
Antitusif merupakan obat batuk yang bekerja dengan menekan pusat batuk dan menaikkan ambang rangsang
batuk. Zat berkhasiat yang termasuk ke dalam antitusif diantaranya adalah dekstrometorfan HBr, noskapin, dan
difenhidramin HCl.

5. Ekspektoran
Ekspektoran juga merupakan obat untuk mengatasi batuk dengan meningkatkan sekresi cairan saluran napas,
sehingga mengencerkan dan mempermudah pengeluaran sekret (dahak). Cara menggunakan obat yang tepat
adalah di samping menggunakan ekspektoran, minum air dalam jumlah banyak untuk membantu
mengencerkan dahak dari saluran napas. Zat berkhasiat yang termasuk ke dalam ekspektoran diantaranya
gliseril guaiakolat, amonium klorida, bromheksin, succus liquiritiae.

Hentikan swamedikasi dan konsultasikan segera ke dokter, jika:

Demam masih timbul selama lebih dari 3 hari setelah pengobatan.


Sakit di tenggorokan bertambah parah selama lebih dari 2 hari pengobatan dan diikuti gejala lain seperti
demam, sakit kepala, mual dan muntah.
Batuk tidak membaik setelah 7-14 hari mengkonsumsi obat.
Nyeri otot tidak kunjung hilang atau bertambah parah selama 10 hari (dewasa) atau 5 hari (anak-anak)
pengobatan.
KESIMPULAN
Penyakit flu merupakan penyakit yang umum terjadi dan dapat sembuh dengan sendirinya. Gejala flu dapat
dikurangi dengan terapi non obat seperti minum air putih yang banyak atau istirahat dengan cukup. Namun,
apabila setelah dilakukan terapi non obat, gejala flu tersebut tidak kunjung sembuh dan semakin berat, maka
disarankan untuk menggunakan terapi obat. Obat flu pada umumnya mengandung zat aktif golongan
antipiretik/analgesik, antitusif, ekspektoran, dekongestan, dan antihistamin. Sebagian produk ada yang
mengandung semua zat aktif tersebut atau hanya kombinasi sebagian zat aktif. Sebaiknya jika hendak
mengkonsumsi obat flu, perhatikan terlebih dahulu komposisi zat aktif yang terkandung didalamnya dan
pastikan bahwa zat aktif yang terkandung sesuai dengan gejala yang dirasakan. Perlu diingat bahwa obat flu
hanya meredakan gejala yang timbul dan bukan mengobati, sehingga agar tidak mudah terkena flu disarankan
untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengatur pola makan sehat, berolahraga dan istirahat yang cukup.

Memilih Obat Batuk yang Tepat untuk


Pengobatan Diri Sendiri Swamedikasi
Hafshah 23 December 2016 Dispensing Leave a comment 1,806 Views

Artikel Terkait

Posisi dan Peran Apoteker dalam Keamanan Pangan


5 days ago

Beberapa Kasus Kesalahan Pemberian Obat yang Berakibat Fatal


5 days ago

Absennya Apoteker dalam Peringatan Hari Pangan Sedunia Tahun 2017


1 week ago
Majalah Farmasetika (V1N10 Desember 2016). Musim pilek dan flu adalah saat-saat dimana
Apoteker akan menemukan banyak pasien mendatangi rak-rak obat untuk mencari obat yang tepat
dalam menangani batuknya.
Pasien bebas memilih obat yang diinginkan karena terdapat banyak produk obat bebas (OTC) saat ini,
tetapi apoteker berada dalam posisi yang ideal untuk menilai dan membantu pasien dalam memilih
produk obat batuk untuk pengobatan diri sendiri atau swamedikasi, serta mendorong pasien untuk
berobat lebih lanjut jika diperlukan.

Daftar Isi [hide]


Klasifikasi Batuk
Penyebab Batuk
Obat Bebas (Over-the-Counter, OTC) untuk Menangani Batuk
o Ekspektoran (Protusif)
o Antitusif
o Dekstrometorfan
o Difenhidramin
o Kodein
o Antitusif lainnya
Peran apoteker dalam swamedikasi obat batuk
Related
Klasifikasi Batuk
Batuk adalah gejala penyakit yang paling banyak terjadi yang kemudian menyebabkan pasien merasa
perlu berobat. Selain itu, batuk merupakan gejala umum yang dikeluhkan pasien di klinik-klinik umum dan
puskesmas.

Batuk dapat digolongkan ke dalam batuk akut atau kronik dan kemungkinan disebabkan oleh paparan
terhadap iritan atau alergen, kondisi medis tertentu, atau penggunaan obat-obat tertentu. Batuk akut
biasanya berlangsung kurang dari 3 minggu. Batuk subakut berlangsung 3 hingga 8 minggu, sedangkan
batuk kronis berlangsung lebih dari 8 minggu.

Selain itu, batuk dapat dideskripsikan sebagai batuk produktif dan tidak produktif. Meskipun sebagian
besar batuk pulih dengan sendirinya, beberapa jenis batuk seperti batuk kronis dapat terasa
mengganggu dan berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup pasien dengan mengganggu tidurnya dan
menyebabkan kelelelahan, nyeri atau ketidaknyamanan pada muskuloskeletal, suara serak, sakit kepala,
gangguan saluran urin, nyeri dada, dan lesu. Pasien penderita batuk kronik harus diperiksa untuk
menemukan penyebab batuk dan mendiagnosa kondisi kesehatan yang serius.

Penyebab Batuk
Terdapat beberapa kemungkinan penyebab batuk. Pada batuk akut, penyebab yang mungkin di
antaranya infeksi saluran pernapasan atas oleh virus (pilek atau flu), terpapar alergen atau iritan, dan
pneumonia. Pada batuk subakut, penyebab yang mungkin di antaranya asma, batuk pasca infeksi, atau
sinusitis bakteri. Batuk kronis kemungkinan disebabkan oleh penyakit refluks gastroefageal, asma,
merokok, penyakit paru obstruktif kronis, penggunaan obat-obat ACEI atau betabloker, kelainan
ventricular kiri, cystic fibrosis,sarcoidosis, kanker paru, dan sebagainya.
Obat Bebas (Over-the-Counter, OTC) untuk Menangani
Batuk
Tujuan utama swamedikasi pada batuk adalah untuk meredakan batuk dan mencegah komplikasi.
Karena pengobatan batuk bersifar simptomatik, penyebab awalnya harus diidentifikasi dan diobati. Untuk
swamedikasi dan manajemen batuk, terdapat sangat banyak produk obat bebas, meliputi antitusif oral,
ekspektoran, dan antitusif topikal, yang tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, baik dalam bentuk
produk tunggal maupun kombinasi agen protusif dan antitusif.

Ekspektoran (Protusif)
Guaifenesin adalah satu-satunya ekspektoran, atau disebut juga protusif, yang disetujui oleh FDA.
Guaifenesin diindikasikan untuk pereda simptomatik batuk produktif tak-efektif akut. Meskipun
farmakokinetika guaifenesi belum jelas, agen ini diabsorpsi dengan baik pada pemberian oral, dengan
perkiraan waktu paruh sekitar 1 jam. Penggunaan guaifenesin tidak menyebabkan interaksi dengan obat
lainnya yang diketahui serta umumnya ditoleransi dengan baik. Akan tetapi, terdapat laporan beberapa
efek samping yang jarang terjadi, seperti pusing,, sakit kepala, ruam, mual, muntah, dan gangguan
pencernaan. Ekspektoran tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, meliputi obat cair, sirup, serbuk
granul, tablet, dan kapsul. Guaifenesin tidak boleh digunakan untuk mengobati batuk kronik yang
menyertai penyakit saluran pernapasan bawah kronik, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK), emfisema, dan batuk perokok.

Baca : Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UNPAD Kembali Meraih
Akreditasi A

Antitusif
Antitusif oral bebas yang disetujui FDA yang saat ini tersedia meliputi kodein, dekstrometorfan, dan
difenhidramin dalam berbagai formulasi dosis untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Dekstrometorfan
Sebagian besar obat bebas supresan mengandung dekstrometorfan, yang diindikasikan untuk menekan
batuk nonproduktif yang disebabkan oleh iritasi saluran pernapasan oleh bahan kimia atau secara
mekanis. Contoh sediaan dekstrometorfan meliputi sirup, larutan, suspensi, kapsul gel berisi cairan,
granul, dan tablet hisap. Dekstrometorfan diserap dengan baik pada pemberian obat dengan onset kerja
15 hingga 30 menit dan durasi kerja 3 hingga 6 jam. Meskipun tidak lazim, beberapa efek samping yang
pernah dilaporkan di antaranya mual, mengantuk, muntah, rasa tidak nyaman pada perut, dan konstipasi.

Berdasarkan National Institute of Drug Abuse, dekstrometorfan adalah salah satu dari dua obat batuk
yang paling banyak disalahgunakan, terutama di kalangan remaja. Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak,
obat ini dapat menyebabkan euforia dan halusinasi. Penyalahgunaan deksrometordan dapat
mengganggu fungsi motorik dan menyebabkan rasa kebas, mual, muntah, takikardia, hipertensi,
peningkatan suhu tubuh, dan kelebihan asam dalam tubuh. Tenaga kesehatan dihimbau untuk berupaya
meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hal ini.

Difenhidramin
Difenhidramin digolongkan ke dalam senyawa antihistamin nonselektif generasi pertama dengan sifat
sedasi dan antikolinergik yang kuat. Meskipun disetujui oleh FDA sebagai agen antitusif, difenhidramin
tidak disarankan digunakan sebagai antitusif first-line, namun ditemukan dalam banyak produk pereda
pilek dan alegi bersama dengan bahan aktif lainnya. Difenhidramin bekerja secara sentral di dalam
medulla untuk meningkatkan ketahanan terhadap batuk. Difenhidramin diindikasikan untuk menekan
batuk nonproduktif yang disebabkan oleh iritasi kimia atau mekanis pada saluran pernapasan. Efek
samping yang paling sering terjadi di antaranya mengantuk, depresi pernapasan, pandangan kabur,
retensi urin, dan mulut kering.
Kodein
Pada dosis antitusif, kodein digolongkan sebagai narkotika kategori 5. Kodein diindikasikan untuk
menekan batuk nonproduktif yang disebabkan oleh iritasi kimia atau mekanis pada saluran pernapasan.
Kodein bekerja secara sentral pada medulla untuk meningkatkan ketahanan terhadap batuk dan, jika
diberikan pada dosis antitusif, memiliki toksisitas dan risiko kecanduan yang rendah. Efek samping
kodein pada dosis antitusif yang paling banyak terjadi di antaranya mual, muntah, kantuk, pusing, dan
konstipasi. Obat ini harus digunakan dengan peringatan pada penderita asma, PPOK, depresi
pernapasan, dan kecanduan obat terlarang.

Antitusif lainnya
Kamfer dan mentol, dua agen antitusif topikal yang disetujui oleh FDA, dapat ditemukan dalam bentuk
salep dan obat hirup (inhalasi). Pasien harus diberikan informasi penggunaan obat ini dengan tepat dan
disarankan untuk mengikuti instruksi pabrik pembuat obat. Mentol juga digunakan pada banyak tablet
hisap pereda batuk.

Baca : Absennya Apoteker dalam Peringatan Hari Pangan Sedunia Tahun 2017
Peran apoteker dalam swamedikasi obat batuk
Sebelum merekomendasikan produk obat batuk bebas (OTC), apoteker harus memastikan apakah
swamedikasi tepat dilakukan dan harus selalu mencatat riwayat alergi pasien, riwayat kesehatan, dan
catatan pengobatan terakhir untuk memantau interaksi dan kontraindikasi obat yang mungkin terjadi.
Perempuan hamil dan menyusui serta penderita penyakit kronis harus selalu berkonsultasi dengan dokter
sebelum menggunakan obat batuk OTC.

Selama berkonsultasi, pasien harus diingatkan untuk membaca brosur informasi obat dan memeriksa
komposisinya sebelum menggunakan, terutama jika menggunakan banyak produk, untuk menghindari
pemberian obat ganda atau dosis yang berlebih. Penting bagi pasien untuk mematuhi aturan dosis dan
pemberian obat serta durasi penggunaan obat.

Penting pula bagi apoteker untuk mengingatkan keluarga atau perawat pasien untuk selalu
menggunakan alat pengukur yang terkalibrasi saat memberikan obat larutan dan untuk membaca
informasi obat sebelum memberikan obat pada anak-anak untuk memastikan ketepatan dan kesesuaian
dosis. Keluarga dan perawat hanya boleh memberikan produk obat bebas untuk anak yang diproduksi
secara khusus untuk populasi pediatric dan harus mematuhi rekomendasi produsen obat, terrutama
berkaitan dengan batas usia penggunaan obat. Jika merasa ragu terkait kesesuaian atau dosis obat,
keluarga harus selalu berkonsultasi pada dokter anak atau apoteker.

Pasien yang mengalami satu atau beberapa gejala berikut harus berkonsultasi dengan dokter dan tidak
boleh melakukan swamedikasi.

Riwayat gejala yang berkaitan dengan batuk kronik, seperti PPOK, gagal jantung kongestif, asma, dan
bronkhitis kronik

Batuk yang menghasilkan lendir berwarna atau darah

Batuk yang disebabkan oleh golongan obat tertentu

Batuk yang disertai demam >38,6oC, napas pendek, nyeri dada, berkeringat, menggigil, sakit kepala
berat, atau pembengkakan pergelangan kaki atau kaki

Batuk yang memburuk atau tidak reda setelah mengalami infeksi saluran pernapasan atas oleh virus,
seperti pilek atau flu

Batuk merupakan gejala banyak penyakit akut dan kronis sehingga swamedikasi dapat menyamarkan
identifikasi dan pengobatan penyebab dasarnya. Pasien yang mengalami batuk kronik harus disarankan
untuk berobat ke dokter, terutama jika penyebabnya tidak diketahui atau batuknya tidak membaik atau
memburuk. Dalam banyak kasus, batuk akan membaik atau berhenti jika akar penyebabnya diobati atau
dihindari.
Batuk yang kemungkinan disebabkan oleh penggunaan obat (misalnya ACEI) harus berkonsultasi
dengan dokter atau apoteker untuk memperoleh rekomendasi obat lain yang tidak menyebabkan batuk.
Harus diperhatikan bahwa ACEI menyebabkan batuk kering pada sekitar 20% pasien yang
mengonsumsinya. Selain itu, beta-adrenergik bloker sistemik dan optalmik juga dapat menyebabkan
batuk pada pasien penderita asma atau PPOK. Pasien yang mengalami batuk akibat merokok
direkomendasikan untuk mengikuti program berhenti merokok.

Sumber:

Yvette C. Terrie. Proper Use of OTC Cough Medications: Back to the Basics. .
www.pharmacytimes.com/publications/issue/2016/november2016/proper-use-of-otc-cough-medications-
back-to-the-basics