Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA

ABSORPSI PERKUTAN OBAT SECARA IN VITRO

Disusun oleh: Kelompok 4

Nama NPM
Pria Gutama 260110130041
Yunike Karunia P. 260110130073
Susan Susanti 260110130074
Ghiza F. Syifa 260110130075
Citra Ayu A. 260110130076
Rizki Pundari 260110130077
Nuni Nurul Husna 260110130078
Evariani Dwi W. 260110130079
Uly Aulia 260110130080
Mega Hijriawati. 260110130121

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016
I. TUJUAN
Mempelajari absorpsi obat secara perkutan secara in vitro.

II. PRINSIP

1. Difusi pasif menyangkut senyawa yang larut dalam komponen penyusun


membran. Penembusan terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi atau
elektrokimia tanpa memerlukan energi, sehingga mencapai keseimbangan
dikedua sisi membran. Waktu yang diperlukan untuk mencapai keseimbangan
tersebut mengikuti hukum difusi Fick (Syukri, 2002).
2. Derajat ionisasi tergantung pada dua faktor, (persamaan Henderson
Hasselbach) yaitu:

a. Tetapan ionisasi dari suatu senyawa atau pKa

b. pH cairan dimana terdapat molekul zat aktif


Untuk asam : pH = pKa + log


Untuk basa : pH = pKa + log

Karakteristik fisiko-kimia sebagian besar molekul (polaritas, ukuran molekul,


dan sebagainya) merupakan hambatan penembusan transmembran oleh
mekanisme pasif secara filtrasi dan difusi. Pengikutsertaan proses aktif dapat
menjelaskan perjalanan obat yang kadang-kadang melintasi membran sel
dengan sangat cepat (Underwood, 2002).

3. Absorpsi perkutan adalah masuknya obat atau zat aktif dari luar kulit ke
dalam jaringan kulit dengan melewati membrane sebagai pembatas. Membran
pembatas ini adalah stratum corneum yang bersifat tidak permeable terutama
zat larut air, dibandingkan terhadap zat yang larut dalam lemak. Ada dua
tahap dalam absorpsi perkutan, yaitu pelepasan zat aktif dari pembawa untuk
diabsorbsi di atas permukaan stratum corneum dan difusi molekul zat aktif ke
dalam lapisan bawah kulit (Troy, 2006).

III. TEORI DASAR

Absorbsi perkutan dapat didefinisikan sebagai absorpsi obat ke dalam stratum


corneum ( lapisan tanduk ) dan berlanjut obat menembus lapisan dibawahnya serta
akhirnya obat masuk ke dalam sirkulasi darah. Kulit merupakan perintang yang
paling efektif terhadap penetrasi perkutan obat atau senyawa eksternal. Absorpsi obat
secara perkutan dipengaruhi oleh sifat fisikokimiawi obat dan pembawa serta kondisi
kulit pada pemakain obat secara topikal. Obat berdifusi dalam pembawanya dan
kontak dengan permukaan kulit ( stratum corneum dan setum ) serta obat selanjutnya
menembus epidermis ( Syukri, 2002 ).

Fungsi Kulit - Secara umum kulit mempunyai fungsi. Fungsi kulit adalah sebagai
berikut..
Fungsi Proteksi. Kulit berfungsi dalam menjaga bagian dalam tubuh terhadap
gangguan fisik yang berada diluar tubuh. Seperti gesekan, tekanan, tarikan,
dan zat-zat kimia terutama yang bersifat iritan. Gangguan yang bersifat panas
seperti sengatan UV, radiasi, gangguan infeksi luar terutama kuman maupun
jamur.
Fungsi Absorbsi. Kulit lebih mudah menyerap yang menguap dari pada
benda cair atau padat, begitu pun yang larut seperti lemak.
Fungsi Ekskresi. Kelenjar-kelenjar kulit akan mengeluarkan zat-zat yang
tidak berguna sebagai hasil dari metabolisme dalam tubuh yang berupa asam
urat, NaCl, ammonia dan urea.
Fungsi Persepsi. Kulit yang mengandung ujung-ujung saraf sensorik di
dermis dan subkutis. Terhadap rangsangan panas yang diperankan oleh badan-
badan ruffini didermis dan subkutis
Fungsi Pengaturan suhu tubuh
Fungsi Pembentukan Pigmen. Sel pembentuk pigmen (melanosoit yang
terletak pada lapisan basal dan sel yang berasal dari rigi saraf.
Fungsi Keratinisasi. Pada lapisan epidermis dewasa terdapat tiga lapisan
yaitu lapisan melanosoit, keratinosit, dan sel langerhans

Bagian-Bagian Lapisan Kulit

1. Kulit Ari (Epidermis)


Kulit ari adalah bagian terluar yang sangat tipis Fungsi kulit ari (epidermis)
adalah melindungi tubuh dari berbagai zat kimia yang terdapat diluar tubuh,
melindungi tubuh dari sinar UV, melindungi tubuh dari bakteri .
Di Permukaan kulit ari (epidermis) terdapat pori-pori yang merupakan tempat
kelenjar minyak dan yang ditumbuhi rambut, kecuali pada kulit ari (epidermis) yang
terdapat di telapak tangan dan kaki tidak tumbuhi rambut. Kulit ari (epidermis) pada
telapak tangan dan kaki terdapat empat lapisan. Lapisan-lapisan pada telapak tangan
dan kaki adalah sebagai berikut...
Stratum Korneum adalah lapisan kulit yang paling luar. Stratum korneum,
lapisan yang paling tebal di telapak kaki dan paling tipis pada dahi, pipi dan
pelupuk mata
Stratum Granulosum adalah lapisan yang mengandung dua atau empat
lapisan sel yang disatukan oleh desmodom. Sel-sel ini mengandung granula
keratohialin yang memiliki pengaruh dalam pembentukan keratin pada lapisan
atas epidermis.
Stratum Lusidum adalah lapisan yang mengandung dua sampai tiga lapisan
sel yang tidak memiliki inti yang biasanya terdapat pada kulit yang tebal yaitu
telapak tangan dan tumit kaki.
Stratum Germinalis adalah lapisan sel yang mengandung satu lapisan sel
piral yang secara aktif yang membelah diri secara mitosis untuk menghasilkan
sel-sel yang berpindah ke dalam lapisan-lapisan atas epidermis dan akhirnya
ke permukaan kulit.

2. Kulit Jangat (Dermis)


Kulit jangant atau dermis adalah lapisan kedua dari kulit. Batas dengan
epidermis dilapisi dari membran basalis. Dermis atau lapisan jangat lebih tebal dari
pada epidermis. Dermis mempunyai serabut yang elastik dengan memungkinkan kulit
dapat merenggang pada saat orang tersebut bertambah gemuk, dan kulit dapat
bergelambir disaat orang menjadi kurus.

3. Jaringan Ikat Bawah Kulit (Hypodermis)


Jaringan ikat bawah kulit berada dibawah dermis. Jaringan ini tidak memiliki
pembatas yang jelas dengan dermis, sebagai patokan dalam batasannya adalah
mulainya terdapat sel lemak. Pada lapisan kulit ini banyak terdapat lemak. Fungsi
lapisan lemak adalah untuk melindungi tubuh dari benturan, sebagai sumber energi
cadangan dan menahan panas tubuh.
Penetrasi Obat melalui kulit dapat terjadi dengan dua cara :
1. Rute transdermal : yaitu difusi obat menembus stratum corneum
2. Rute transfolikuler : yaitu difusi obat melewati pori kelenjar keringat dan
sebum
Sebelum obat dapat memberikan efek, obat perlu dilepaskan dari basisnya
setelah obat kontak dengan stratum corneum maka obat akan menembus epidermis
dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik secara difusi pasif. Laju absorbs melintasi
kulit tidak segera tunak tetapi selalu teramati adanya waktu laten. Waktu laten
mencerminkan perbedaan penembusan senyawa kebgaian dalam struktur tanduk dan
pencapaian gradient difusi ( Syukri, 2002 ).
Hambatan utama dari sistem penghantaran obat transdermal adalah sifat
halangan intrinsic dari kulit. Halangan ini dapat secara kimiawi di modifikasi dengan
tujuan menurunkan resistensi difusi menggunakan peningkat penetrasi. Strategi
penggunaan peningkat penetrasi memungkinkan lebih banyak obat dapat diberikan
melalui sistem penghantaran transdermal ( Agoes, 2008 ).
Faktor yang mempengaruhi absorbs kuat yaitu penetrasi dan cara pemakaian ,
temperature, dari kulit, dan sifat fisikokimia obatnya, pengaruh dari sifat dasar salep ,
lama pemakaian, kondisi atau keadaan kulit ( Ansel, 1989 ).
Absorpsi melalui kulit ( permukaan ) bila obat digunakan secara topikal maka
obat akan keluar dari pembawanya dan berdifusi ke permukaan jaringan kulit. Ada 3
jalan masuk yang utama melalui daerah kantong rambut, melalui kelenjar keringat
dan kantong rambut ( Lachman, 1989 ).

IV. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Sel difusi tipe horizontal (side by side) atau sel difusi tipe vertical
Spektrofotometer
2. Bahan
Asam salisilat
Membran Milipore yang diimpregnasi dengan isopropyl miristat (atau
kulit tikus)
V. PROSEDUR

Awalnya, dibuat salep asam salisilat 4 % dengan menghaluskan serbuk asam


salisilat yang sudah diteteskan beberapa tetes etanol menggunakan mortir dan
stamper, lalu dicampur dengan vaselin dan ditimbang sebanyak 20 gram. Ditentukan
panjang gelombang maksimum asam salisilat dan dibuat kurva baku asam salisilat.
Selanjutnya, rambut pada tikus (yang telah dikorbankan) dipotong dengan electric
clipper secara hati-hati agar stratum korneum tidak tergores. Kemudian, kulit tikus
bagian dorsal (punggung) dipisahkan dengan hati-hati menggunakan pisau bedah.
Jika ada lemak subkutan, dibuang dengan scalpel. Kulit bagian punggung dipotong
berbentuk lingkaran sesuai dengan bentuk dan luas kontak sel difusi. Lalu, kulit tikus
direndam pada larutan dapar fosfat untuk proses hidrasi membran selama 30 menit.
Kulit yang telah direndam, diambil dan ditempatkan diantara kompartemen donor dan
aseptor. Untuk mencegah kebocoran, dipasang ring karet atau silikon diantara
kompartemen donor dan aseptor. Setelah itu, sel difusi dipasang dengan
mengencangkan mur hingga terbentuk suatu system sel side by side (tipe vertikal).

Larutan donor asam salisilat ditempatkan pada kompartemen donor.


Kemudian, magnetic stirrer dimasukkan dan dibiarkan berputar di dalam alat Sel
difusi tipe horizontal (side by side). Lakukan pengukuran transfort obat ke
kompartemen aseptor pada rentang waktu 5, 10, 15, 45 dan 60 menit. Lalu, dibuat
profil hubungan antara kumulatif transfort terhadap waktu dan ditentukan flux
berdasarkan nilai slope pada daerah linier berdasarkan persamaan Q(t) = flux x luas
membrane x waktu. Dilakukan penentuan lag time, flux asam salisilat dari donor ke
aseptor dan ditentukan luas area difusi.
VI. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
6.1 Data Pengamatan
1. Pembuatan Kurva Baku Asam Salisilat dalam dapar fosfat pH 7,4

Konsentrasi Absorbansi Absorbansi 2 Absorbansi Rata-rata


(g/mL) 1 3 Absorbansi
10 0.2972 0.2967 0.2961 0.296667
20 0.4958 0.494 0.4944 0.494733
30 0.7824 0.7803 0.7818 0.7815
40 0.987 0.99 0.9915 0.9895
50 1.1958 1.1985 1.2016 1.198633

Kurva Baku Asam Salisilat dalam


1.2
dapar fosfat pH 7,4
1.198633
1.1
1
0.9895 y = 0.023x + 0.0626
0.9 R = 0.9965
Absorbansi (A)

Absorbansi
0.8
0.7815
0.7 Linear (Absorbansi)
0.6
0.5 0.494733 lamda max 296nm
0.4
0.3
0.296667
0.2
0 20 40 60
Konsentrasi (ppm)

Gambar 1. Kurva Baku Asam Salisilat dalam dapar fosfat pH 7,4


2. Penentuan transport obat ke kompartemen aseptor mengacu pada
kurva baku dengan persamaan y = 0.023x + 0.0626

Waktu Absorbansi Absorbansi Absorbansi Rata-rata


(menit) 1 2 3 Absorbansi
5 0.042 0.0412 0.0411 0.0414
10 0.0525 0.0529 0.053 0.0528
15 0.0663 0.0664 0.0665 0.0664
30 0.0708 0.0714 0.0709 0.0710
45 0.0872 0.0873 0.0874 0.0873
60 0.1004 0.1004 0.1018 0.1009

Waktu X x.faktor total obat faktor % Kadar


total obat
(menit) (g/mL) pengenceran dalam media koreksi
dalam
( g/mL)
media+faktor
koreksi ( g)
5 -0.09207 - - -7.825866319 - -0.00164409
0.460345078 7.825866319 0.368276062
10 -0.04263 - - -3.991590547 - -
0.213136146 3.623314485 0.187839555 0.000838569
15 0.016529 0.082644628 1.404958678 1.217119123 0.057276194 0.000255697
30 0.036683 0.183413078 3.118022329 3.175298523 0.149425813 0.00066708
45 0.107438 0.537190083 9.132231405 9.281657218 0.436783869 0.001949928
60 0.166449 0.832245904 14.14818037 14.58496424 0.686351258 0.003064068
% Kadar Asam Salisilat
0.004
y = 0.0009x - 0.0027
0.003 R = 0.9869

0.002
% terabsorpsi
0.001
Linear (% terabsorpsi)
0
0 2 4 6 8
-0.001

-0.002

Gambar 2. Kurva % Kadar Asam Salisilat

6.2 Perhitungan
1. Pembuatan Larutan Baku

0,05
Konsentrasi Larutan Baku = 50 mL x 1000 = 1000 ppm

2. Pengenceran Larutan Baku


V1 . N1 = V2 . N2 V1 . N1 = V2 . N2 V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 1000 = 50. 25 V1 . 1000 = 40 . 25 V1 . 1000 = 30 . 25
V1 = 1,25 mL V2 = 1 mL V2 = 1,5 mL

V1 . N1 = V2 . N2 V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 1000 = 20 . 50 V1 . 50 = 10 . 25
V2 = 1 mL V2 = 5 mL
Konsentrasi Asam Salisilat
Y = ax + b
Dimana : Y = absorbansi
X = konsentrasi
a = 0,023
b = 0,0626
4
Faktor Pengenceran = 0,8 = 5

Salep asam salisilat = 20 g x 4% = 800.000 g


= 11,9/20 x 800.000 = 476.000 g

Untuk t = 5 menit
Y = ax + b
0.0414 = 0,023X + 0,0626
0.0414 0,0626
X= 0,023

X = -0.09207 ppm

Dikali faktor pengenceran:


X = -0.09207 g/mL x 5 = -0.460345078 g/mL
X = -0.460345078 g/mL x 17 mL
X = -7.825866319 g

Jadi,
7.825866319 g
% kadar = 100 % = 0.00164409 %
476.000 g

0,8
Faktor Koreksi = 7.825866319 g =
17

0.368276062 g
Untuk t = 10 menit
Y = ax + b
0.0528 = 0,023X + 0,0626
0.0528 0,0626
X= 0,023

X = -0.04263 ppm

Dikali faktor pengenceran:


X = -0.04263 g/mL x 5 = -0.213136146 g/mL
X = -0.213136146 g/mL x 17 mL
X = -3.623314485 g

Jadi,
-3.623314485 g + -0.368276062 = -3.991590547 g
3.623314485 g
% kadar = 100 % = 0.000838569 %
476.000 g

0,8
Faktor Koreksi = 3.991590547 g = 0.187839555 g
17

Untuk t = 15 menit
Y = ax + b
0.0664 = 0,023X + 0,0626
0.0664 0,0626
X= 0,023

X = 0.016529 ppm

Dikali faktor pengenceran:


X = 0.016529 g/mL x 5 = 0.082644628 g/mL
X = 0.082644628 g/mL x 17 mL
X = 1.404958678 g
Jadi,
1.404958678 g + -0.187839555 = 1.217119123 g
1.217119123 g
% kadar = 100 % = 0.000255697 %
476.000 g

0,8
Faktor Koreksi = 1.217119123 g = 0.057276194 g
17

Untuk t = 30 menit
Y = ax + b
0.0710 = 0,023X + 0,0626
0.0710 0,0626
X= 0,023

X = 0.036683 ppm

Dikali faktor pengenceran:


X = 0.036683 g/mL x 5 = 0.183413078 g/mL
X = 0.183413078 g/mL x 17 mL
X = 3.118022329 g

Jadi,
3.118022329 g + 0.057276194 = 3.175298523 g
3.175298523 g
% kadar = 100 % = 0.00066708 %
476.000 g

0,8
Faktor Koreksi = 3.175298523 g = 0.149425813 g
17

Untuk t = 45 menit
Y = ax + b
0.0873 = 0,023X + 0,0626
0.0873 0,0626
X= 0,023

X = 0.107438 ppm

Dikali faktor pengenceran:


X = 0.107438 g/mL x 5 = 0.537190083 g/mL
X = 0.537190083 g/mL x 17 mL
X = 9.132231405 g
Jadi,
9.132231405 g + 0.149425813 g = 9.281657218 g
9.281657218 g
% kadar = 100 % = 0.001949928 %
476.000 g

0,8
Faktor Koreksi = 9.281657218 g = 0.436783869 g
17

Untuk t = 60 menit
Y = ax + b
0.1009 = 0,023X + 0,0626
0.1009 0,0626
X= 0,023

X = 0.166449 ppm

Dikali faktor pengenceran:


X = 0.166449 g/mL x 5 = 0.832245904 g/mL
X = 0.832245904 g/mL x 17 mL
X = 14.14818037 g

Jadi,
14.14818037 g + 0.436783869 g = 14.58496424 g
14.58496424 g
% kadar = 100 % = 0.003064068 %
476.000 g
0,8
Faktor Koreksi = 14.58496424 g = 0.686351258 g
17

Penentuan Lag Time

Dari persamaan : y = 0.0009x - 0.0027

Lag time: saat y = 0, maka:

y = 0.0009x - 0.0027

0 = 0.0009x - 0.0027

0.0027 = 0.0009x

0.0027
X= 0.0009

X = 3 menit

Jadi, lag time-nya adalah 3 menit.

VII. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini diujikan absorpsi obat secara perkutan dengan tujuan
untuk mengetahui pengaruh stratum korneum (lapisan tanduk) sebagai penghalang
absorpsi secara perkutan. Untuk mencapai tempat kerja suatu obat di jaringan atau
organ, obat tersebut harus melewati berbagai membran sel. Pada umumnya membran
sel mempunyai struktur lipoprotein yang bertindak sebagai membran lipid yang
semipermeabel. Kelarutan molekul obat dalam lipid inilah yang merupakan faktor
utama absorbsi obat dalam tubuh.
Adapun bahan aktif yang digunakan adalah asam salisilat. Pertama dibuat
salep asam salisilat 4% dengan menghaluskan serbuk asam salisilat yang sudah
diteteskan beberapa tetes etanol menggunakan mortir dan stamper, lalu dicampur
dengan vaselin dan ditimbang sebanyak 20 gram. Ditentukan panjang gelombang
maksimum asam salisilat dan dibuat kurva baku asam salisilat. Didapatkan panjang
gelombang asam salisilat sebesar 296 nm. Pada praktikum kali ini, dibuat variasi
konsentrasi asam salisilat standar sebesar 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm dan 50
ppm.
Setelah semua variasi konsentrasi selesai dibuat maka dilakukan pengukuran
serapan/absorbansi dengan spektroskopi sinar UV. Pada saat pengukuran sampel
dengan spektrofotometer ultraviolet, kuvet yang akan digunakan dikalibrasi terlebih
dahulu. Pertama, kuvet diisi dengan aquadest, kemudian disesuaikan nilai
absorbansinya hingga menunjukkan angka nol. Tujuan melakukan kalibrasi adalah
untuk menghindari kesalahan perhitungan konsentrasi. Setelah itu, kuvet dibilas
dengan larutan yang akan dihitung konsentrasinya sebanyak tiga kali, sehingga kuvet
hanya berisi larutan uji tanpa pengotor. Adanya pengotor dapat menyamarkan
perhitungan konsentrasi karena pengotor dapat memberikan absorbansi. Sebelum
dimasukkan ke dalam spektrofotometer ultraviolet, kuvet dibersihkan menggunakan
kertas tissue bersih. Jika tidak dibersihkan, mungkin pengotor yang berasal dari
praktikan. Untuk melakukan pengukuran dengan metode spektrofotometri UV,
sampel dimasukkan ke dalam kuvet. Alat spektrofotometri yang digunakan memiliki
dua tempat kuvet (double beam). Kuvet pertama berfungsi untuk tempat blanko.
Kuvet kedua berfungsi untuk tempat sampel. Sampel kemudian diukur
absorbansinya. Pengukuran absorbansi hendaknya dimulai dari sampel yang
konsentrasinya kecil agar tidak mempengaruhi pengukuran konsentrasinya lainnya,
maka dilakukan pengukuran dari sampel dengan konsentrasi 10 ppm. Setiap akan
mengganti sampel dengan konsentrasi yang berbeda, kuvet hendaknya dibilas dengan
larutan sampel agar tidak ada sisa sampel yang sebelumnya yang dapat
mempengaruhi nilai dari absorbansi.
Pengukuran absorbansi dari asam salisilat dengan spektrofotometer UV-Vis
dilakukan pada panjang gelombang maksimum karena pada panjang gelombang
maksimum, kepekaannya juga maksimum karena pada panjang gelombang
maksimum tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah
yang paling besar. Di sekitar panjang gelombang maksimum juga, bentuk kurva
absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert Beer terpenuhi. Selain itu,
jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan
ulang panjang gelombang akan kecil sekali ketika digunakan panjang gelombang
maksimum. Panjang gelombang maksimum yang didapat dari percobaan dan
digunakan untuk pengukuran asam salisilat adalah 296 nm.
Setelah dilakukan pengukuran absorbansi dengan berbagai variasi konsentrasi
standar asam salisilat, maka dari data yang ada dibuat kurva yang merupakan
hubungan antara absorbansi (sumbu y) dengan konsentrasi (sumbu x). Pada
konsentrasi 10 g/mL, absorbansi sampel rata-rata adalah 0,296667 , pada
konsentrasi 20 g/mL, absorbansinya 0,494733 , pada konsentrasi 30 g/mL,
absorbansi sampel 0,7815 , pada konsentrasi 40 ppm, absorbansi 0,9895 dan pada
konsentrasi 50 g/mL, absorbansinya 1,198633.
Dari data absorbansi dan konsentrasi asam salisilat, persamaan regresi linear
yang didapat dari hasil pengukuran adalah y = 0,023X + 0,0626 dengan r = 0,9965
dimana y merupakan absorbansi dan x merupakan konsentrasi, nilai r yang didapat
menunjukkan bahwa kurva yang didapat memiliki korelasi yang tinggi (hubungan
sangat kuat dan positif). Persamaan regresi linear yang diperoleh ini selanjutnya akan
digunakan untuk mencari konsentrasi asam salisilat sampel yang telah diukur
absorbansinya dengan spektrofotometer UV.
Selanjutnya disiapkan kulit tikus sebagai membran difusi. Rambut pada tikus
(yang telah dikorbankan) dipotong dengan electric clipper secara hati-hati agar
stratum korneum tidak tergores. Kemudian kulit tikus bagian dorsal (punggung)
dipisahkan dengan hati-hati menggunakan pisau bedah. Lemak subkutan dibuang
dengan scalpel. Kulit bagian punggung dipotong berbentuk lingkaran sesuai dengan
bentuk dan luas kontak sel difusi.
Lalu dilakukan uji difusi suatu obat dengan menggunakan metode difusi tipe
vertikal yang merupakan percobaan pada uji difusi terhadap suatu zat tertentu dimana
dibuat suatu mekanisme kerja layaknya difusi didalam membrane sel tubuh manusia.
Metode pengujian transport dengan sel difusi tipe vertikal mempunyai beberapa
keuntungan yaitu membutuhkan volume kompartemen donor yang lebih kecil,
membutuhkan luas membran transport lebih kecil, dan kemungkinan kebocoran
membran kulit asli lebih kecil. Sedangkan kerugiannya adalah tidak adanya
pengadukan dikompartemen donor dan pengadukan di kompartemen reseptor kadang-
kadang kurang homogen. Pada pelaksanaan uji difusi, kulit tikus direndam pada
larutan dapar fosfat untuk proses hidrasi membran selama 30 menit. Kulit yang telah
direndam, diambil dan ditempatkan diantara kompartemen donor dan aseptor.
Dipasang ring karet atau silikon diantara kompartemen donor dan aseptor untuk
mencegah kebocoran. Setelah itu, sel difusi dipasang dengan mengencangkan mur
yang ada sehingga terbentuk suatu sistem sel side by side (tipe vertikal). Salep asam
salisilat ditempatkan pada kompartemen donor dengan konsentrasi 4% sebanyak 11,9
gram. Kemudian magnetic stirer dijalankan pada kecepatan 120 rpm pada sisi donor
dan aseptor. Pada alat diisi buffer fosfat sebanyak 17 ml lalu dilakukan pengukuran
transport obat ke kompartemen aseptor pada rentang waktu 5, 10, 15, dan 45 menit di
mana diambil larutan sebanyak 0,8 ml dari alat lalu dimasukkan kedalam vial dan
ditambahkan larutan buffer fosfat kedalam vial sebanyak 3,2 ml untuk setiap rentang
waktu tersebut.
Pada tahapan ini larutan sampel yang ada pada masing-masing vial dilakukan
pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometri UV pada panjang gelombang
maksimum yakni 296 nm. Alasan memilih panjang gelombang maksimum adalah
karena panjang gelombang maksimum memiliki kepekaan maksimal karena terjadi
perubahan absorbansi yang paling besar dan pada panjang gelombang maksimum,
bentuk kurva absorbansi terhadap konsentrasi memenuhi hukum Lambert-
Beer. Pengukuran diawali dari vial menit ke 5, lalu menit ke 10, lalu menit ke 15 dan
terakhir menit ke 45. Langkah pertama yaitu mengnolkan blanko yaitu pelarut, dan
setelah itu melakukan pengukuran absorbansi sampel dengan cara di ambil 3 mL
larutan buffer fosfat kemudian disesuaikan nilai absorbansinya hingga menunjukkan
angka nol. Kemudian, dimasukkan laritan sampel menit ke 5 ke dalam kuvet dan
diukur absorbansinya, sehingga didapatkan konsentrasi sampel. Setelah semua
cuplikan sampel diukur absorbansinya, maka hasil absorbansi yang didapat diplotkan
ke dalam persamaan regresi linier untuk dicari konsentrasi pada masing-masing
cuplikan sampel.
Nilai X yang didapatkan dari persamaan regresi linear sebagai konsentrasi
sampel, dikalikan terlebih dahulu dengan faktor pengenceran. Besarnya faktor
pengenceran yaitu 5x karena setiap 0,8 mL larutan sampel yang diambil dari alat
ditambahkan 3,2 mL larutan buffer fosfat, hal ini bertujuan sampel yang dimasukkan
ke dalam kuvet saat melakukan analisis spektrofotometri tidak boleh terlalu sedikit.
X . faktor pengenceran
Lalu persen kadar dapat ditentukan dengan rumus 100 %.
kadar asam salisilat awal

Setelah itu harus ditentukan juga faktor koreksi pada setiap menit pengambilan
sampel yang akan ditambahkan pada saat menghitung persen kadar di menit
selanjutnya. Faktor koreksi ini perlu dicari karena larutan yang berada di alat selalu
dilakukan pengantian larutan, dalm praktikum ini yaitu selalu dilakukan penggantian
larutan buffer fosfat sebesar 0,8 mL dalam alat pada rentang waktu yang telah
ditentukan.
Dari hasil pengujian absorbansi asam salisilat, diperoleh persen kadar asam
salisilat yang terabsorbsi yaitu pada t = 5 menit -0.00164409%, t = 10 menit -
0.000838569% , t = 15 menit 0.000255697%, t = 30 menit 0.00066708%, t =
45 menit 0.001949928% dan t = 60 menit 0.003064068%.
Dari data pengamatan terlihat bahwa data yang didapatkan tersebut sesuai
dengan literature bahwa nilai absorbansinya naik seiring dengan pertambahan waktu.
Hal ini didasari karena semakin lama waktunya, maka absorbansinya semakin tinggi,
karena seharusnya semakin banyak obat yang terabsorpsi. Cara pemberian juga dapat
mempengaruhi kecepatan absorbsi obat yang berpengaruh juga terhadap onset dan
durasi. Pada literature dijelaskan bahwa onset paling cepat adalah intraperitonial,
intramuscular, subkutan, peroral. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian obat melalui
subkutan memiliki keuntungan yakni absorbsi yang terjadi relatif cepat, sedangkan
kerugian pada subkutan adalah hanya digunakkan untuk obat yang tidak mengiritasi
jaringan.

VIII. KESIMPULAN
Absorpsi perkutan adalah masuknya obat atau zat aktif dari luar kulit ke dalam
jaringan kulit dengan melewati membrane sebagai pembatas. Menurut literatur, nilai
absorbansinya naik seiring dengan pertambahan waktu. Hal ini didasari karena
semakin lama waktunya, maka absorbansinya semakin tinggi. Dari hasil pengujian
absorbansi asam salisilat, diperoleh persen kadar asam salisilat yang terabsorbsi yaitu
pada t = 5 menit -0.00164409%, t = 10 menit -0.000838569% , t = 15 menit
0.000255697%, t = 30 menit 0.00066708%, t = 45 menit 0.001949928% dan t
= 60 menit 0.003064068%. Dari data pengamatan dan hasil terlihat bahwa data
yang didapatkan tersebut sesuai dengan literatur.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Goeswin. (2008). Pengembangan Sediaan Farmasi. Bandung: Penerbit ITB.


Ansel, Howard C. (1989).Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
Lachman, L., Lieberman, H.A., and Kanig, J.L. (1994). Teori dan Praktik Industri
Farmasi, 643-705, diterjemahkan oleh Suyatmi, S. Jakarta : UI Press.
Syukri, Y. (2002). Biofarmasetika. Yogyakarta : UII Press.
Troy. (2006). Remingtons The Science and Practice of Pharmacy. Baltimore
Maryland: Lippincott Williams & Wilkins.
Underwood A.L. & Day, R.A. (2002). Analisis Kimia Kuantitatif, diterjemahkan oleh
Iis Sopyan. Jakarta: Erlangga..