Anda di halaman 1dari 6

Metode Perencanaan SDM dengan menggunakan Peramalan merupakan suatu cara untuk

melakukan prediksi yang lebih menitikberatkan secara kuantitatif, yaitu jumlah SDM yang
dibutuhkan organisasi/perusahaan.

Metode ini hanya dapat digunakan apabila organisasi/ perusahaan memiliki data kuantitatif yang
lengkap sesuai dengan variabel yang akan dipergunakan dalam memprediksi.

Variabel pertama adalah jumlah SDM selama beberapa tahun sebagai prediktor, dan variabel lain
sebagai kriterium, seperti variabel/data produksi dan penjualan, laba, volume dan beban kerja, dan
lain-lain.

Dengan menggunakan variabel yang bersifat skala ukur rasio atau interval (kuantitatif), maka
prediksi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan statistik yang relevan.

Prediksi tentang jumlah (kuantitatif) berupa permintaan (demand) melalui perhitungan statistik,
jika diterapkan sebagai keputusan, pada dasarnya merupakan keputusan yang memiliki tingkat
keakuratan tinggi (certainty).

TEKNIK-TEKNIK METODE KUANTITATIF

1) Tehnik Rata-Rata Bergerak (Moving Average)

2) Tehnik Eksponen Penentu (Exponential Smoothing)

3) Tehnik Proyeksi Kecenderungan (Trend Pojection)

4) Tehnik Regresi (Regression)

5) Tehnik Program Hubungan Linear (Linear Programming).

6) Model Perkiraan Hambatan (Actuarial Model)

7) Tehnik Matrik Peluang (Probability Matrix)

8) Tehnik Simulasi (Simmulation)

9) Model Markov dengan Urutan Prioritas (First-Order Markov Model).

10) Model Semi Markov (Semi-Markov Model).

KARAKTERISTIK PERHITUNGAN KUANTITATIF

1) Metode kuantitatif cocok digunakan untuk perusahaan berskala besar dan menengah, karena
jumlah dan jenis jabatan/pekerjaan cukup banyak dan bervariasi, sehingga kebutuhan SDM akan
cukup besar. Untuk permintaan SDM biasanya dilakukan secara berkala, misalnya 3 atau 4 tahun
sekali, dengan tidak menutup kemungkinan setiap tahun terjadi permintaan SDM yang tiba-tiba di
luar perencanaan, karena beberapa sebab atau alasan, khususnya terdapatnya jabatan atau
pekerjaan yang kosong yang harus segera diisi.
2) Metode kuantitatif memerlukan atau hanya dapat digunakan apabila data kuantitatif dari
variabel lain diasumsikan berkorelasi dengan atau berpengaruh pada prediksi permintaan SDM, dan
harus tersedia lengkap selama beberapa tahun (masa lalu).

3) Prediksi permintaan SDM secara kuantitatif hanya akurat dilakukan dalam kondisi lingkungan
bisnis normal.

4) Penggunaan di lingkungan perusahaan multi nasional cenderung harus menghadapi hambatan


berupa karakteristik budaya yang berbeda-beda antar negara tempat perusahaan budaya yang
melakukan operasional bisnis. Hal lain adanya iklim bisnis, yaitu kondisi ekonomi atau moneter suatu
negara.

5) Tehnik perhitungan kuantitatif memiliki keterbatasan umum, karena secara rasional keberhasilan
bisnis tidak sekedar ditentukan oleh jumlah eksekutif sebagai pelaku bisnis yang mempunyai
wewenang dalam pembuatan keputusan, tetapi ditentukan oleh kualitas dan sifat kompetitifnya.

6) Tidak ada tehnik di dalam metode kuantitatif dan juga metode kualitatif yang terbaik. Setiap
tehnik dan metode memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Banyak organisasi/perusahaan tidak sepenuhnya menggunakan Metode Kuantitatif dalam


Perencanaan SDM dalam memprediksi permintaan SDM, karena untuk menentukan kualifikasi
dengan metode kuantitatif rendah kemampuannya, untuk mengisi jabatan manajerial tidak
tergantung hanya pada kecukupan jumlahnya, tetapi juga kualitasnya.

Di samping metode kuantitatif, perlu digunakan juga Metode Kualitatif dalam Perencanaan SDM
untuk prediksi permintaan SDM dengan menetapkan kualifikasi SDM yang dibutuhkan.

Metode Kualitatif merupakan proses memprediksi permintaan SDM di masa mendatang dengan
mempergunakan pengalaman, keyakinan, intuisi, keahlian mengestimasi jumlah dan kualifikasi SDM
tanpa menggunakan data kuantitatif, artinya tidak dianalisis dengan menggunakan perhitungan
statistik.

CONTOH METODE PERAMALAN

1. TEHNIK RATA-RATA BERGERAK (MOVING AVERAGE)


Tehnik rata-rata bergerak menggunakan variable sumber daya manusia (SDM) yang
dipekerjakan di lingkungan sebuah perusahaan/organisasi, yang diperoleh dari hasil
pencatatan (dokumentasi) selama beberapa tahun yang lalu.

Tahun pencatatan harus cukup lama, agar rata-rata (mean) yang diperoleh cukup akurat
untuk dijadikan prediksi permintaan (demand) SDM sebuah perusahaan, baik dari sumber
internal maupun ekstenal di masa yang akan datang.
Data dari variable SDM itu merupakan data kuantitatif, antara lain berupa data promosi
jabatan (vertikal), pindah (horizontal), rekrutmen (pengangkatan/penarikan) pekerja baru,
data pensiun, berhenti atau diberhentikan, data SDM yang aktif setiap tahunnya

Data tersebut selama beberapa tahun lalu dapat dihitung rata-ratanya dengan
mempergunakan statistik tendensi sentral yang disebut rata-rata hitung, namun
keakuratannya cenderung lebih rendah dari statistic ratarata bergerak

Keakuratan rata-rata bergerak, karena data setiap tiga tahun dijumlahkan dan dihitung
rata-ratanya dengan dibagi tiga, sehingga rata-rata yang diperoleh tidak dilakukan pada data
mentah, tetapi dari data yang telah diberi makna berupa rata-rata hitung setiap tiga datum
secara akumulasi.

CONTOH PERHITUNGAN . TABEL 01. RATA-RATA HITUNG UNTUK MEMPREDIKSI


PERMINTAAN SDM

Keterangan : PSN = Pensiun . KLR = Keluar/Berhenti


PRO = Promosi Jabatan (vertical).
PDH = Pindah internal (horizontal)

Data selama 10 tahun Pensiun = 173 orang. Keluar = 335 orang. Promosi = 229 orang dan Pindah =
407 orang
Dari data tersebut dilakukan perhitungan Rata-Rata Hitung sebagai berikut :

Rata-rata Pensiun = 173 orang : 10 = 17,3 = 18 orang


Rata-rata Keluar = 335 orang : 10 = 33,5 = 34 orang
Rata-rata Promosi = 229 orang : 10 = 22,9 = 23 orang
Rata-rata Pindah = 407 orang : 10 = 40,7 = 41 orang

Prediksi tidak dilakukan untuk tahun 2000 sebagai tahun berjalan

Prediksi untuk tahun 2001 sebagai berikut : dari data tersebut berarti rata-rata setiap tahun terjadi
kekosongan

Pensiun + Keluar = 18 + 34 = 52 orang yang diprediksi harus diisi (demand) dengan pekerja baru
(sumber eksternal)

Promosi + Pindah = 23 + 41 = 64 orang yang diprediksi sebagai permintaan (demand) dari sumber
internal.

Prediksi tahun berikutnya harus dilakukan dengan memasukkan lebih dahulu rata-rata pensiun,
keluar, promosi, dan pindah ke kolom tambahan tahun 2001. kemudian dengan mengabaikan data
tahun 2000 yang belum ada dapat dihitung kembali ratarata hitung dengan ukuran n = 11. demikian
seterusnya untuk tahun 2002, 2003, dan lainnya.

TABEL 02. RATA-RATA BERGERAK UNTUK MEMPREDIKSI PERMINTAAN SDM

selama 10 tahun pada kedua table tersebut menunjukkan perbedaan sebagai berikut :

1) Rata-rata hitung pensiun dan keluar 17,3 + 33,5 = 50,8 = 51 orang, sedangkan rata-rata
bergerak menunjukkan 41,17 = 42 orang sebagai prediksi yang lebih akurat, maka berarti
kemungkingan kekeliruan pada rata-rata hitung sebesar 51 42 = 9 orang, sebagai kelebihan
SDM yang dipekerjakan. Seandainya untuk rata-rata bergerak ditoleransi penambahan
sebesar 10 persen berarti sebanyak 4,2 = 5 orang, sehingga permintaan SDM baru sebagai
pengganti berjumlah 47 orang, yang menunjukkan tetap terdapat kelebihan prediksi SDM
dengan ratarata hitung sebanyak 51 47 = 4 orang.
2) Rata-rata hitung promosi dan pindah 22,9 + 40,7 = 63,6 = 64 orang, sedangkan rata-rata
bergerak menunjukkan 49,80 = 50 orang sebagai prediksi yang lebih akurat, maka berarti
kemungkinan kekeliruan prediksi pada rata-rata hitung sebesar 64 50 = 14 orang, sebagai
kelebihan SDM yang dipekerjakan. Seandainya untuk rata-rata bergerak ditoleransi
penambahan 10 persen berarti 5,0 = 5 orang, sehingga permintaan SDM yang baru sebagai
pengganti berjumlah 55 orang, ini menunjukkan tetap terdapat kelebihan prediksi SDM
dengan rata-rata hitung sebanyak 64 55 = 9 orang.
3) Kegiatan membandingkan ini dapat dilakukan menurut level SDM, misalkan untuk level III :
rata-rata hitung pensiun dan keluar 5,8 + 12,4 = 18,2 = 19 orang, sedangkan rata-rata
bergerak menunjukkan 14,88 = 15 orang, ini berarti terjadi kemungkinan kekeliruan prediksi
pada rata-rata hitung sebanyak 19 15 = 4 orang, sebagai kelebihan SDM yang dipekerjakan.
Seandainya untuk rata-rata bergerak ditoleransi penambahan 10 persen berarti 1,5 = 2
orang, sehingga berjumlah 15 + 2 = 17 orang, tetapi tetap terjadi kelebihan SDM yang
dipekerjakan pada level III sebanyak 2 orang.
4) Selanjutnya untuk prediksi tahun 2001 dan seterusnya data hasil perhitungan tahun 2000
tersebut dapat dimasukkan menjadi data yang kesebelas, kemudian dihitung dengan
menjumlahkan data tahun 1998 + 1999 + 2000, kemudian dibagi 3 sehingga diperoleh 9
datum rata-rata hitung yang dihitung secara bergerak. Jumlah sembilan datum rata-rata itu
dibagi sebelas, untuk mendapatkan prediksi tahun 2001.
5) Dari data total table 02 terlihat untuk pensiun dan keluar data ratarata 41,17 = 42 orang
dijadikan sebagai data kesebelas untuk tahun 2000 setelah data kesepuluh tahun 1999
sebesar 51 orang. Kemudian jumlahkan data 3 tahun (1998+1999+2000) = 69 + 51 + 42 =
162, lalu dibagi 3 = 54,00. kemudian dijumlahkan dengan delapan rata-rata bergerak di
atasnya menjadi 411,7 + 54,00 = 465,70. berikutnya dibagi 11 (sebelas) yakni 465,70 : 11 =
42,3 = 43 orang sebagai prediksi SDM yang akan pensiun dan keluar pada tahun 2001. untuk
itu kalau akan ditoleransi sebesar 10 persen, maka jumlahnya menjadi sebanyak 4,3 = 5
orang, sehingga prediksi SDM pensiun dan keluar yang haru diganti dengan SDM baru adalah
43 + 5 = 48 orang. Demikian seterusnya untuk setiap tahun berikutnya 2002, 2003, di mana
sebaiknya memprediksi tidak lebih dari tiga s/d lima tahun.
TUGAS MANAJEMEN SUMBER DAYA
MANUSIA
TUJUAN MENGHITUNG SDM DENGAN PENDEKATAN KUANTITATIF

Disusun Oleh : 1. NENI ERAWATI (A1B116136)

2. LUSI ARDIANSI (A1B116109)

3. NI PUTU DAMAYANTI (A1B116140)

4. NI MADE AYU S W (A1B116138)

5. NI MADE AYIK D (A1B116137)

6. LALU RENDY F (A1B116106)

7. NANDA HALIDAZIA M (A1B116133)

UNIVERSITAS MATARAM

2017/2018