Anda di halaman 1dari 9

I.

PENDAHULUAN

Allah SWT tidak membenci kecenderungan manusia dalam mencintai harta benda miliknya.
Selama mereka tidak berlebihan dalam mencintai harta benda melebihi kecintaan kepadaAllah SWT.
Berwirausaha adalah salah satu cara untuk menjemput rejeki dari Allah SWT. Manusia dalam berdagang
tentu saja memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan yang banyak, namun hal itu tentu saja harus
diiringi oleh etika dalam berusaha.
Wirausaha dahulu dikenal dengan istilah wiraswasta . Kata wiraswasta adalah terjemahan dari
sebuah kata dalam bahasa asing (Perancis) Entrepreneur yang dapat diartikan sebagai figur seseorang
yang menjalankan usaha secara mandiri, dilandasi sifat yang luhur.
Perkembangan kewirausahaan di Indonesia cukup menggembirakan. Meski pun pada
kenyataannya, penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih diminati pelamar yang datang berduyun-
duyun, namun di balik itu, ada fenomena mencengangkan. Kini banyak sekali angkatan muda yang
berminat, bahkan sangat terobsesi menerjuni bidang kewirausahaan. Kursus-kursus kewirausahan tumbuh
bak jamur di musim hujan, bisnis waralaba terus merebak, tidak saja yang global, tapi yang lokal
bertebaran di mana-mana. Klub-klub dan milis-milis entrepreneur juga bermunculan.
Terlebih lagi, ternyata sudah banyak tokoh-tokoh muda Indonesia yang menjadi pakar bisnis,
mentor-mentor kewirausahaan, konsultan-konsultan entrepreneurship yang naik ke panggung-panggung
seminar. Bisnis rumahan secara online juga mewabah baik dalam skala besar maupun bisnis retail yang
dilakukan ibu-ibu rumahtangga dengan berbagai motivasi yang berbeda.
Rasulullah SAW adalah seorang Entrepreneur Sejati. Sebagian besar kehidupannya sebelum
menjadi utusan Allah SWT , Rasulullah Muhammad SAW adalah wirausahawan yang sukses.
Keteladanan beliau dalam berdagang menjadi contoh para sahabat dalam berwirausaha.
Dari paparan sejarah Rasulullah SAW dalam berwirausaha dapat banyak sekali contoh dan teladan
yang seharusnya di terapkan dalam dunia perekonomian dan bisnis dimasa sekarang. Para wirausahawan
selayaknya mempelajari petunjuk-petunjuk dan Teladan Rasulullah SAW yang sangat gamblang sehingga
dapat dipergunakan dalam menjalankan usahanya secara bersih dan bermartabat.
Dan selayaknya kita yang hidup dijaman modern ini dapat mencontoh prilaku yang telah
disunnahkan sehingga selain meraih keuntungan dalam berusaha, memberi manfaat bagi orang yang
banyak juga mendapatkan berkah yang berlimpah dari Allah SWT atas rejeki yang kita raih.
II.SIRAH NABAWIYAH:

RASULULLAH SAW ENTREPRENEUR SEJATI


Kesuksesan Rasulullah SAW sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun
Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat
perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang pebisnis ulung. Padahal
manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu
relevan diterapkan dalam bisnis modern.
Segala peristiwa yang terkait dengan Rasulullah SAW seakan tidak terhubung sama sekali dengan
kinerja dan dunia perekonomian kita. Bahkan ada sebagian yang beranggapan bahwa ajaran Nabi
Muhammad SAW adalah faktor penghambat pembangunan dunia perekonomian dan aktifitas bisnis
modern.
Padahal jika para pelaku bisnis mau mencermati, mempelajari dan mengamati , bahwa Rasulullah
SAW telah memberikan contoh pola bisnis yang sangat luhur. Beliau mencontohkan bahwa kepercayaan
adalah modal yang paling berharga dalam usaha.
Muhammad Syafii Antonio pakar ekonomi syariah indonesia mengatakan : Rasulullah
memberikan pelajaran bahwa Bisnis harus dijalankan dengan value driven yang bermanfaat untuk semua
stake holders dan harus gesit dalam melakukan positioning di pasar global. Beliau bukan jago kandang
seraya meminta proteksi cukai dan tax holiday.
Dalam tataran individu, Rasul juga menganjurkan untuk menjadi wirausahawan yang tangguh dan
manajer terpercaya.
SEJARAH KARIR BISNIS RASULULLAH SAW
Rasulullah mendapatkan jiwa entrepreneur sejak beliau usia 12 tahun. Ketika itu pamannya Abu
Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis di Syam negeri yang meliputi Syiria, Jordan dan Lebanon
saat ini. Sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar bersama pamannya beliau ditempa untuk tumbuh
menjadi wirausahawan yang mandiri.
Ketika usia 17 tahun Muhammad telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis
pamannya. Ketika usia menginjak 20 tahun adalah merupakan masa tersulit dalam perjalanan bisnis
rasulullah SAW. Beliau harus bersaing dengan pemain senior dalam perdagangan regional. Namun
kemudian titik keemasan entrepreneurship Muhammad SAW tercapai ketika usia antara 20-25 tahun.
Muhammad SAW adalah sosok pengusaha sukses dan kaya. Di antara informasi tentang kekayaan
beliau sebelum kenabian adalah jumlah mahar yang dibayarkan ketika menikahi Khadijah Binti
khuwalaid. Konon, beliau menyerahkan 20 ekor unta muda sebagai mahar. Dalam riwayat lain, ditambah
12 uqiyah (ons) emas. Suatu jumlah yang sangat besar jika dikonversi ke mata uang kita saat ini.
Dengan demikian, Muhammad SAW telah memiliki kekayaan yang cukup besar ketika beliau
menikahi Khadijah. Dan kekayaan itu kian bertambah setelah menikah., karena hartanya digabung dengan
harta Khadijah dan terus dikembangkan melalui bisnis (perdagangan).
Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya Muhammad as a Trader mencatat bahwa Rasulullah SAW
sering terlibat dalam perjalanan bisnis ke berbagai negeri seperti Yaman,Oman dan Bahrain. Disebutkan
juga bahwa , Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis.
Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan
menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa
menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis.

Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu :
Kepuasan pelanggan (customer satisfaction)
Pelayanan yang unggul (service exellence): efisiensi, persaingan yang sehat dan kompetitif.
Kejujuran (Transparasi), dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan
prinsip kejujuran
Kejujurannya telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu,
Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-
kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya).
Beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun. Kemudian ketika usia
40 tahun beliau lebih banyak terlibat dalam perenungan perbaikan masalah sosial masyarakat sekitarnya
yang jahiliyah.
Jika kita perhatian, rentang usia beliau berbisnis selama 25 tahun ternyata lebih lama dibandingkan
dengan rentang usia kenabian beliau yang selama 23 tahun. Hal ini tentunya telah membentuk business
skill yang sangat penting bagi proses pengambilan hukum perdata dan komersial kelak dikemudian hari.
Mungkin ada sebagian yang berpendapat bahwa pengalaman beliau dalam berbisnis sebagian besar
terjadi ketika beliau belum menjadi rasul, sehingga teladan beliau tidak bisa dijadikan sunnah oleh kita.
Pendapat ini akan kehilangan pijakannya seadainya kita menelaah hukum dan sabda Rasul SAW
yang berkaitan dengan bisnis dan ekonomi. Sangat jelas sekali bahwa kejelasan Rasul SAW dalam
memutuskan masalah bisnis dan ekonomi sangat banyak dipengaruhi oleh kepiawaian dan intuisi bisnis
masa mudanya. Oleh karena itu business laws rasul yg sifatnya ijtihadi sangat banyak dipengaruhi oleh
pengalaman bisnis masa mudanya.
Dalam buku Beginilah Rasulullah berbisnis (hal.166) oleh Hepi Andi Bastono mengupas secara
mendalam citra lain seorang Muhammad SAW. Disebutkan bahwa beliau adalah sosok entrepreneur
sukses yang sangat dipercaya dan disegani rekan-rekan bisnisnya.
Beliau adalah seorang yang berhasil dalam bisnisnya tanpa menggunakan cara-cara yang tidak
baik. Beliau meyakini bahwa kesuksesan bisnis berkelanjutan hanya dapat dicapai dengan cara-cara
sehat, ungkap penulis.
Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis dilandasi oleh prinsip-prinsip yang kuat. Jika
tidak, usahanya akan rapuh dan takkan bertahan lama. Rasulullah SAW tak hanya mengajarkan
bagaimana melaksanana ibadah yang baik, tapi juga bagaimana berbisnis yang sesuai dengan nilai-nilai
Islam.
III.ETIKA WIRAUSAHA ISLAM

Dari paparan sejarah Rasulullah SAW dalam berwirausaha dapat banyak sekali contoh dan teladan
yang seharusnya di terapkan dalam dunia perekonomian dan bisnis dimasa sekarang. Para wirausahawan
selayaknya mempelajari petunjuk petunjuk yang sangat gamblang sehingga dapat dipergunakan dalam
menjalankan usahanya secara bersih dan bermartabat seperti di contohkan Rasulullah SAW.
Rasulullah kerap memotivasi para sahabat untuk berwirausaha dan mandiri.
Tidak ada yang lebih baik dari apa yang dimakan seseorang kecuali memakan makanan dari hasil
keringatnya (HR. Bukhari).
Beberapa sahabat yang berwirausaha dan meneladani pola entrepreneur Rasulullah SAW sehingga
meraih kesuksesan dalam usahanya antara lain :

Abu Bakar As Shidiq, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin memiliki usaha dagang pakaian.

Umar bin Khattab, pemimpin kaum beriman sang penakluk kekaisaran Persia dan Byzantium
memiliki usaha dagang Jagung.

Usman bin Affan, memiliki usaha dagang bahan pakaian.

Imam Abu Hanifah, memiliki usaha dagang bahan pakaian.


Ketika para pengikut nabi hijrah ke Madinah bersama-sama Nabi, mereka dinasehati oleh Rasul
agar berdagang untuk penghidupan mereka. Banyak lagi contoh yang membuktikan bahwa setiap
Muhajjir yang saleh telah melakukan berbagai jenis perdagangan untuk memenuhi nafkahnya sehari-hari.
Sangat banyak teladan etika berwirausaha yang diajarkan Rasulullah SAW, di bawah ini diambil
dari tulisan Badrudin dalam buku ETIKA Berbisnis (2001: 167-172):

Kejujuran
Dalam berbisnis tidak boleh menyembunyikan kecacatan barang, karena akan menghilangkan
keberkahan.
Dalam tataran ini Rasullah bersabda, Tidak dibenarkan seorang muslim menjual barang yang
mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya (HR Al Quzwani).

Pencatatan Utang Piutang


Dalam dunia bisnis lazim terjadi pinjam-meminjam. Alquran mengajarkan pencatatan utang
piutang yang berguna untuk mengingatkan salah satu phak yang mungkin suatu waktu lupa dan khilaf.
Hai orang-orang yang beriman, kalau kalian berutang-piutang dengan janji yang ditetapkan
waktunya, hendaklah kalian tuliskan. Dan seorang penulis di antara kalian, hendaklah menuliskannya
dengan jujur. Janganlah penulis itu enggan menuliskannya, sebagaimana telah diajarkan oleh Allah
kepadanya.
(QS al-Baqarah [2] : 282)

Orientasi Taawun
Pelaku bisnis yang Islami hendaknya tidak hanya mengejar keuntungan sebanyak banyaknya
sebagaimana yang diajarkan bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith. Namun sikap taawun (menolong
orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnisnya. Dengan kata lain dalam berbisnis bukan mencari
keuntungan semata namun hendaknya didasari oleh kesadaran-memberi kemudahan bagi orang lain.

Tidak Sumpah Palsu


Nabi Muhammad sangat intens melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu dalam
melakukan transaksi bisnisnya. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhori, ia bersabda, Dengan melakukan
sumpah palsu, barang-barang memang terjual, tetapi hasilnya tidak berkah.
Banyak dikalangan pelaku bisnis yang berani melakukan sumpah palsu yang pada gilirannya dia
tidak menyadari bahwa hasil jerih payahnya tidak mendapatkan keberkahan.

Sikap Longgar dan Ramahtamah


Dalam berbisnis hendaknya selalu bersikap ramah tamah dan murah hati terhadap mitra bisnisnya.
Hal itu selaras dengan sabda Rasulullah, Allah mengasihi orang yang bermurah hati saat menjual,
membeli, dan menagih utang (HR Bukhari).
Kemudian dalam hadits lain, Abu Hurairah memberitakan bahwa Rasulullah bersabda, Ada
seorang pedagang yang mempiutangi orang banyak. Apabila dilihatnya orang yang ditagih itu dalam
kesempitan, dia diperintahkan kepada pembantu-pembantunya, Berilah kelonggaran kepadanya, mudah-
mudahan Allah memberikan kelapangan kepada kita. Maka Allah pun memberikan kelapangan
kepadanya. Selain itu, Nabi Muhammad SAW pun mengatakan, Allah merahmati seseorang yang
ramah dan toleran dalam berbisnis (HR Bukhari dan Tarmizi).

Tidak menjelekkan bisnis orang lain


Nabi Muhammad SAW bersabda,
Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual
oleh orang lain (HR Muttafaq alaih)

Jujur dalam takaran dan timbangan


Allah berfirman dalam surah al-Muthafifin (83) ayat 1-3 : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang
yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta
dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

Islam tidak mengenal persaingan namun sinergi


Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dalam menjalin hubungan dengan mitra bisnis hendaklah
saling menguntungkan, atau dengan kata lain dilarang saling bersaing. Janganlah kamu menjual dengan
menyaingi dagangan saudaramu
(HR Muttafaq alaih).

Bisnis tidak mengganggu ibadah kepada Allah SWT


firman Allah, Orang yang tidak dilalaikan oleh bisnis lantaran mengingat Allah, serta dari
mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hari itu, hati dan pelihatan
menjadi goncang.

Pembayaran upah sebelum keringat karyawan mengering


Rasulullah bersabda, Berilah upah kepada karyawab sebelum kering keringatnya
( al-Hadist).

Pembayaran upah tidak boleh ditunda-tunda. Pembayaran upah harus sesuai dengan kerja yang
dilakukan.

Tidak memonopoli dalam bisnis


Sistem ekonomi kapitalis melegitimasi monopoli dan ologopoli dalam berbisnis. Contoh sederhana
adalah eksploitasi(penguasaan) individu atas hak milik sosial, seperti air udara dan tanah yang terkandung
didalamnya.

Bisnis tidak dalam kondisi berbahaya


Dalam hal ini, seorang pedagang atau pengusaha dilarang berbisnis dalam keadaan yang dapat
merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial. Seperti munculnya kekwatiran menjual anggur
akan di kelola untuk diolah sebagai minuman keras.

Berzakat
Setiap pengusaha dianjurkan untuk menghitung dan mengeluarkan zakat barang dagangan setiap
tahun sebanyak 2,5% sebagai salah satu cara untuk membersihkan harta yang diperoleh dari hasil usaha.

Hanya menjual barang yang halal


Jika Allah mengharamkan sesuatu untuk dimakan maka haram pula untuk diperjualbelikan.
Nabi Muhammad SAW bersabda, Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi
dan patung-patung (HR Jabir).

Segera membayar hutang


Rasulullah memuji seorang muslim yang memiliki perhatian serius dalam pelunasan utangnya
dengan sabda, Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling segera membayar hutangnya (HR Hakim)

Kelonggaran dalam piutang


Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW, Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan
membayar utang atau membebaskannya, Allah akan memberinya naungan di bawah naungan-Nya pada
hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya (HR Muslim)

Larangan riba
Bisnis yang dilaksanakan harus bersih dari unsur riba.
Firman Allah yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum
dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (al-Baqarah [2] : 278)
IV.HIKMAH :

TELADAN RASULULLAH SEBAGAI ENTREPRENEUR


Bagi kaum Muslimin, jiwa entrepreneur atau wirausaha harus dikembangkan. Apalagi ketika
tingkat kebutuhan tenaga kerja semakin tidak bisa mengimbangi kecepatan jumlah sumber daya manusia
(SDM) yang tersedia. Tenaga kerja yang ada jauh lebih banyak daripada kebutuhan. Pemerintah pun
menyadari keterbatasannya dalam hal penyediaan lapangan kerja, sehingga meng-kampanye-kan model
kewirausahaan kepada masyarakat dengan harapan dapat menolong dirinya sendiri secara ekonomi.
Berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian penghidupan, sembilan diantaranya
dihasilkan dari berdagang.
Rahasia keberhasilan berwirausaha adalah jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang
dengan para pelanggan. Berwirausaha janganlah berorientasi pada keuntungan semata, namun
mengedepankan sisi memberi manfaat bagi sesama maka akan menuai barakah dan ridha dari Allah SWT.
Dengan berpegang teguh pada prinsip ini, Nabi telah memberi contoh yang terbaik untuk menjadi
pedagang yang berhasil. Rasulullah memiliki sifat jujur, integritas, sikap baik dan kemampuan berdagang
yang luar biasa.
Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih
tinggi dari semua itu, yaitu menjaga kehormatan diri. Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang
menjadi pengusaha sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu apapun adalah
mengembangkan jiwa entrepreneur sejak awal.
Rasulullah SAW mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi,
tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya dengan etika yang tinggi dan hasil
yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian
junjungan kita, Rasullah SAW begitu fenomenal, baik dalam mencari nafkah maupun dalam
menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.
Allah dalam Al Quran juga memberikan motivasi untuk berdagang pada ayat berikut:
Tidak ada dosa atas kamu mendapatkan harta kekayaan dari Tuhanmu Bertebaranlah kamu
dimuka bumi dan carilah rahmat Allah. (Qs. Al Jumuah: 60).
Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga
kehormatan harga diri kita selaku umat Islam.
Sebagai penutup, semoga kita umat islam mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang di
contohkan Rasulullah SAW dan para sahabat ke dalam kejujuran berwirausaha dan menjadi entrepreneur
sejati. Wallahualam