Anda di halaman 1dari 4

BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Gambaran Umum Responden


Pada penelitian ini didapatkan sebagian besar responden dengan tingkat pendidikan
SD. Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2009 disebutkan bahwa ibu yang memiliki
pendidikan tinggi cenderung akan memiliki pengetahuan yang baik tentang konsumsi
makanan kaya gizi untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini tentunya dihararapkan sebanding
dengan penggunaan garam beryodium. Rendahnya tingkat pendidikan seseorang,
mempengaruhi tingkat pengetahaun tentang penggunaan garam beryodium yang juga
berpengaruh terhadap sikap dan perilaku mereka. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Julhadi Hasubuan (2008) di Kecamatan Siempat Kabupaten Dairi,
dimana dari hasil penelitian tersebut didapatkan rata-rata responden memiliki tingkat
pendidikan responden yang didapatkan adalah berpendidikan SD (Julhadi, 2008)

6.2 Pengetahun Pedagang Garang Tentang Garam Beryodium


Hasil penelitian yang dilakukan pada 18 pedagang garam di Desa Buahan Kaja Kecamatan
Payangan menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang. Dimana
pengetahuan kurang terutama didapatkan pada responden dengan memiliki tingkat
pendidikan SD. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di
DesaTegalalang yang dilakukan oleh Eka dan Fandy (2015) dan di daapatkan rata- rata
tingkat pengetahuan ibu rumah tangga dari total jumlah responden 85 orang memiliki
tingkat pengetahuan kurang 59 orang (69,41%), dengan persentase terbesar pada kelompok
umur 40-59 tahun yaitu 19 (79,17%). Selain itu, penelitian ini juga serupa dengan penelitian
Rosidi 2009 dimana didapatkan dari total 40 responden ibu rumah tangga didapat tingkat
pengetahuan ibu rumah tangga di desa Krajan kabupaten Temanggung dalam kategori
kurang sebesar 27 orang (67,5%) dengan persentase terbesar pada kelompok umur 40-50
tahun.
Tingkat pengetahuan yang kurang pada responden dapat dipengaruhi oleh berbagai
hal misalnya umur dan tingkat pendidikan. Pendidikan sekolah dasar tidak cukup tinggi

21
dalam menerima informasi dan gagasan baru sehingga hanya 27,8% responden yang
memiliki pengetahuan baik dan 66,7% nya memiliki pengetahuan kurang. Selain pendidikan
dan umur, sumber informasi juga turut memengaruhi pengetahuan seseorang. Bila seseorang
banyak memperoleh informasi, maka ia cenderung memiliki pengetahuan luas (Rosidi,
2009). Mayoritas penduduk Indonesia, termasuk pedagang belum mengetahui pentingnya
garam beryodium, sehingga dalam transaksi jual beli garam hampir tidak terjadi pemilihan
merek atau kualitas. Hal tersebut terjadi karena mereka tidak mengerti arti label yodium
dalam kemasan yang mereka beli..

6.3 Sikap Pedagang Garam Tentang Garam Beryodium


Pada penelitian ini didapatkan sebagian besar responden memiliki sikap baik terhadap
penggunaan garam beryodium dimana sebagian besar didapatkan pada tingkat pendidikan
SMA. Dilihat dari komponen sikap, seluruh pedagang berkeinginan untuk menjual garam
beryodium dan bersedia untuk memberi penjelasan manfaat dan akibat yang ditimbulkan bila
tidak menggunakan garam beryodium kepada pembeli.
Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Julhadi pada tahun 2008
di Kabupaten Dairi yang mendapatkan hasil sikap responden tentang garam beryodium pada
kategori baik dengan 82,35% dari 85 responden. Suraji Cahyo (2003) dalam penelitiannya
juga menyebutkan terdapat banyak faktor yang mempengaruhi atau merusak penerjemahan
sikap subyek yang sesungguhnya kedalam pernyataan sikap. Beberapa yang mungkin ada
dalam penelitiannya antara lain sulitnya menerjemahkan bahasa yang dapat memancing
respon sesungguhnya dari responden, adanya kecenderungan akan menjawab dengan
jawaban yang aman. Teori tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang ada, dimana sikap
responden yang didominasi baik, belum tentu menghasilkan perilaku penggunaan garam
beryodium yang tinggi.
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang terhadap stimulus atau obyek yang
diterimanya. Sikap belum tentu merupakan suatu tindakan namun predisposisi suatu
tindakan. Sikap dapat dipelajari yang dapat berubah sesuai dengan keadaan lingkungan
sekitar. Responden yang memiliki sikap baik dalam penggunaan garam beryodium, pada
umumnya akan mempengaruhi tindakan dalam penggunaan garam beryodium. Jika dilihat

22
berdasarkan umur, semakin tua umur seseorang maka sikap akan lebih positif karena
banyaknya pengalaman yang telah dialami. (Notoatmojo, 2010).

6.2 Perilaku Penggunaan Garam Beryodium


Pada penelitian ini didapatkan hanya sedikit responden yang memiliki garam beryodium
seluruhnya memiliki pengetahuan dan sikap yang baik tentang garam beryodium. Penelitian
ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Prawini Gusti Ayu dan Ekawati Ni Komang di
Ubud pada tahun 2013 yang mendapatkan rendahnya penggunaan garam beryodium di
masyarakat. Pada penelitan tersebut didapatkan hanya 1 dari 30 respondennya yang
menggunakan garam beryodium. Hal tersebut tentu sangat berbeda jauh dari target nasional
yaitu 90% penggunaan garam beryodium di Indonesia. Jika dibandingkan dengan capaian
Bali tahun 2015, penggunaan garam beryodium yang mencapai 75,6%, tentunya masih
sangat jauh. Rendahnya perilaku penggunaan garam beryodium di Desa Buahan Kaja
disebabkan karena mayoritas memiliki pengetahuan yang kurang. Melihat dari hasil
penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa pengetahuan dapat mempengaruhi perilaku
seseorang. Hal ini sesuai dengan teori menurut Notoatmojo (2010) yang menyatakan bahwa
perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan lebih baik daripada perilaku yang tidak
didasari dengan pengetahuan. Pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi
respon terhadap sesuatu yang datang dari luar. Seseorang dengan pendidikan tinggi akan
memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang dan akan berfikir
sejauh mana keuntungan yang mungkin mereka peroleh dari pendidikan kesehatan yang
dalam hal ini tentang penggunaan garam beryodium.
Responden yang menggunakan garam beryodium seluruhnya memiliki sikap baik
terhadap garam beryodium. Pada umumnya sikap akan memengaruhi tindakan seseorang.
Sehingga dapat diasumsikan bahwa sikap yang positif maka akan mempengaruhi tindakan
dalam menggunakan garam beryodium. Pada kenyataannya responden dengan sikap baik
seluruhnya berjumlah 9 responden (50%) namun hanya 27,8% nya yang memiliki garam
beryodium. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap yang positif akan garam beryodium
belum jaminan untuk mempengaruhi tindakan untuk menggunakan garam beryodium di
rumahnya. Kemungkinan besar hal inilah yang terjadi pada pedagang, meski mereka bersikap
positif akan garam beryodium tetapi penggunaan garam beryodium masih rendah. Hal ini

23
dipengaruhi karena kebiasaan dari orang terdahulu, harga pokok garam krosok lebih murah
dibandingkan dengan garam yodium, selera rasa, serta kemudahan mereka dalam
mendapatkan garam krosok. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan
(overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping
fasilitas juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain, misalnya produksi dan pemasaran
garam beryodium. Garam krosok cenderung lebih mudah didapat di Desa Buahan Kaja
karena berdekatan dengan Daerah Songan Bangli yang merupakan penghasil garam krosok.
Selain itu distribusi garam beryodium belum merata. Hal ini tercermin dari 18 pedagang
garam, 3 diantaranya menjual garam beryodium, namun 1 warung kehabisan persediaan
garam, sehingga saat penelitian dilakukan hanya 2 warung yang menjual garam beryodium.
Saat dilakukan studi kasus, peneliti mendapatkan 1 orang ibu rumah tangga memiliki
garam beryodium palsu, sedangkat saat penelitian tidak dijumpai garam palsu yang dijual
maupun digunakan oleh pedagang. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memperoleh garam
beryodium yang baik, masyarakat harus memperhatikan sumber distribusi garam yang dibeli
dan label kandungan yodium yang terkandung di dalamnya.

6. 5 Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih belum sempurna dan banyak terdapat
kekurangan. Hal ini disebabkan karena terdapat beberapa keterbatasan peneliti pada tahap
persiapan dan pelaksanaan penelitian. Pada tahap persiapan peneliti menggunakan kuesioner
yang sudah ada sehingga uji validitas dan reabilitas tidak dilakukan, hal ini memungkinkan
beberapa informasi sepenuhnya belum tergambar pada kuesioner.
Pada tahap pelaksanaan terdapat kendala dalam pengambilan data pada responden.
Keterbatasn waktu peneliti dalam melakukan pengambilan data merupakan faktor
penghambat. Selain itu kendala lain adalah kurang kooperatifnya beberapa responden oleh
karena sibuk melayani pembeli dehingga kondisi ini memengaruhi jawaban responden.

24