Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium

yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di

dalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil,

anemia, dan splenomegali. Penyakit malaria dapat berlangsung secara akut

maupun kronik juga tanpa komplikasi ataupun dengan komplikasi sistemik yang

dikenal sebagai malaria berat.4

B. Etiologi

Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium yang selain menginfeksi manusia

juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptil, dan mamalia.

Termasuk plasmodium dari famili plasmodidae. Plasmodium ini pada manusia

menginfeksi ertrosit dan mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan di

eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina.

Secara keseluruhan, ada lebih dari 100 plasmodium yang menginfeksi binatang.4

Plasmodium malaria yang sering dijumpai ialah plasmodium vivax yang

menyebabkan malaria tertiana (benign malaria) dan plasmodium falciparum yang

3
4

menyebabkan malaria tropika (maligna malaria). Plasmodium malariae pernah

juga dijumpai pada beberapa kasus meskipun jarang. Plasmodium ovale pernah

dilaporkan di Irian Jaya.4

C. Patogenesis

Patogenesis malaria sangat kompleks dan seperti pathogenesis penyakit

infeksi pada umumnya melibatkan faktor parasit, faktor penjamu, faktor social

dan lingkungan. Ketiga faktor tersebut saling terkait satu sama lain dan

menentukan manisfestasi klinis malaria yang bervasiasimulai dari yang terberat

seperti malaria serebral sampai infeksi yang paling ringan, yaitu infeksi

asimtomatik.5,6

Pada faktor parasit berbagai faktor menentukan dalam terjadinya infeksi ini

meliputi resistensi terhadap obat anti malaria, kemampuan parasit dalam

menghindari diri dari respon system imun tubuh host melalui variasi antigenic.

Faktor yang paling penting dari parasit adalah pembentukkan sitoadherens dan

pembentukan roset serta berbagai toksin dalam malaria. Sitoadherens adalah

ikatan antara eritrosit yang terinfeksi dengan endotel vascular terutama kapiler

postvenula, menyebabkan terjadinya sekuestrasi parasit pada kapiler-kapiler

organ. Hal ini menyebabkan eritrosit yang terinfeksi melekat pada kapiler-kapiler

organ tubuh, menimbulkan gangguan aliran darah local dan jika berat akan

menimbulkan iskemia dan hipoksia dengan hasik akhir adalah kegagalan organ.

Sedangkan roseting adalah ikatan antara eritrosit yang terinfeksi dengan beberapa
5

eritrosit yang tidak terinfeksi membentuk suatu gumpalan yang disebut roset.

Roseting terjadi karena eritrosit yang terinfeksi melepaskan protein tertentu yang

menimbulkan perlekatan dengan eritrosit yang tidak terinfeksi. Hal ini akan

mengakibatlkan rusaknya eritrosit lain yang normal sehingga asupan oksigen

menjadi terganggu, terjadi hipoksia organ dan terjadi gagal organ.5,6

Toksin parasit sebagian berasal dari parasit sendiri sebagian berasal dari

eritrosit terinfeksi yang pecah sewaktu proses skizogoni yang mengeluarkan

toksin seperti glycosylphosphatidylinositols (GPI), hemozosin atau yang berasal

dari antigen parasit seperti MSP-1, MSP-2, RAP-1. Toksin tersebut akan

merangsang pengeluaran NO dengan memicu enzim inducible nitric oxide

synthase (iNOS). Pengeluaran NO dalam jumlah berebihan akan mengganggu

berbagai fungsi sel tubuh. Kadar NO yang terlalu tinggi juga akan meningkatkan

sitoadherens dan sekuasterasi parasit.5

Faktor pejamu yang berperan meningkatkan infeksi malaria adalah seperti

umur, genetic, nutrisi, imunitas dan terutama peran dari mediator yang dihasilkan

oleh makrofag, limfosit, leokosit, sel endotel, trombosit akibat rangsangan dari

toksin ataupun antigen parasit. Di daerah endemis stabil, malaria berat terutama

malaria serebral umumnya diderita oleh anak-anak umur 1-4 tahun , setelah itu

hanya ditemukan anemia pada usia pubertas sedangkan pada dewasa umumnya

adalah asimtomatik. Hal ini mungkin disebabkan respon imun terhadap malaria

pada anak terbentuk lebih lambat. Di daerah endemis tidak stabil malaria berat

dapat ditemukan hampir pada semua umur. Selain itu ada beberapa penelitian

bahwa orang dewasa non-imun lebih peka terhadap malaria berat dibanding
6

dengan anak-anak non-imun, tetapi orang dewasa non-imun mampu membentuk

imunitas klinik dan parasitologis lebih cepat dibanding anak-anak non-imun.7

Faktor nutrisi mungkin berperan menentukan kepekaan dalam malaria

berat. Pada beberapa penelitian malaria berat sangat jarang ditemukan pada anak-

anak. Defisiensi besi, riboflavin, PABA mungkin mempunyai efek protektif

terhadap malaria berat karena kekurangan zat gizi tersebut akan menghambat pula

pertumbuhan parasit.5

D. Manifestasi Klinis

Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik, anemia dan

splenomegali. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium.

Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa kelesuan,

malaise, sakit kepala, sakit belakang, dingin di punggung, nyeri sendi dan tulang,

demam ringan, anoreksia, perut tak enak, diare ringan, dan kadang merasa

dingin.4

Gejala klasik yaitu terjadinya trias malaria secara berurutan: periode dingin:

mulai menggigil, diikuti dengan periode panas: penderita panas badan tinggi,

kemudian periode berkeringat: penderita berkeringat banyak dan kemudian

temperatur turun. Anemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi

malaria. Pembesaran limpa sering dijumpai pada penderita malaria, limpa akan

teraba seteah 3 hari dari serangan akut.4

Beberapa keadaan klinik dalam perjalanan infeksi malaria adalah serangan

primer dimana terdiri dari dingin, panas, dan berkeringat. Periode laten yaitu
7

periode tanpa gejala dan parasitemia. Recrudescence yaitu berulangnya gejala

klinik dan parasitemia dalam waktu 8 minggu setelah berakhirnya serangan

primer. Recurrence yaitu berulangnya gejala klinik atau parasitemia setelah 24

minggu berakhirnya serangan primer. Relapse atau rechute ialah berulangnya

gejala klinik atau yang lebih lama dari waktu diantara serangan periodik dari

infeksi primer yaitu setelah periode yang lama dari masa laten (5 tahun).4

E. Diagnosis

Diagnosis malaria sering memerlukan anamnesis yang tepat dari penderita

tentang asal penderita apakah dari daerah endemik malaria, riwayat berpergian ke

daerah malaria, riwayat pengobatan.4

Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya adanya

parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan darah

tepi 3 kali dan hasil negatif maka diagnosis malaria dapat dikesampingkan.

Pemeriksaan pada saat demam atau panas dapat meningkatkan kemungkinan

ditemukannya parasit.4

F. Tatalaksana

Secara global WHO menetapkan dipakainya pengobatan malaria dengan

memakai obat ACT. Golongan artemisin telah dipilih sebagai obat utama karena

efektif dalam mengatasi plasmodium yang resisten dengan pengobat. Selain itu

artemisin juga bekerja membunuh plasmodium dalam semua stadium termasuk

gametosis.7
8

Penggunaan golongan artemisin secara monoterapi akan mengakibatkan

terjadinya rekrudensi. ACT berupa kombinasi dosis tetap atau tidak tetap.

Kombinasi dosis tetap lebih memudahkan pemberian pengobatan, seperti Co-

Artem dan Artekin. Kombinasi ACT yang tidak tetap antara lain artesunat +

meflokuin, artesunat + amodiakin.7

Pendekatan terapi teraputik yang baru untuk anti malaria tengah

dikembangkan sebagi alternatif dari kontra indikasi obat antimalaria yang ada,

dan level resistensi Plasmodium falciparum di area endemis. Beberapa antibiotik

memiliki efek yang potensial terhadap malaria tengah dilakukan penelitian secara

in vitro dan in vivo secara intensif. Antibiotik golongan tetracycline, macrolide

dan derivatnya sedang dilakukan penelitian dalam beberapa tahun terakhir.8