Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Permukiman tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia karena


permukiman salah satu kebutuhan pokok, tempat manusia tinggal, berinteraksi dan
melakukan segala aktivitasnnya. Permukiman berada dimanapun di permukaan
Bumi, baik di dataran rendah, dataran tinggi, pegunungan maupun perbukitan.
Umumnya permukiman dikategorikan kedalam dua bagian, permukiman perkotaan
dan permukiman perdesaan, meskipun karakteristik keduanya ada kesamaan tetapi
cenderung terjadi perbedaan diakibatkan oleh variasi kondisi geografis pada suatu
wilayah.

Pemilihan lokasi untuk pembangunan permukiman di suatu wilayah


memang perlu mempertimbangkan banyak faktor, karena tidak mungkin
masyarakat lebih memilih tempat bermukim yang sumber airnya jauh dan tanahnya
tidak subur serta kemungkinan besar didaerah yang rawan terjadi bencana seperti
longsor ataupun banjir daripada wilayah yang berada dekat dengan sumber mata
pencaharian, tanah yang subur, sumber air melimpah dan memungkinkan adanya
sarana dan prasarana yang baik yang mendukung serta membantu kegiatan
masyarakat.

Kecenderungan penduduk memilih wilayah permukiman yang mendukung


mata pencahariannya mengakibatkan terjadinya pemusatan serta penyebaran
permukiman pada suatu wilayah sehingga yang sering terlihat permukiman berdiri
berada dekat dengan sungai, pantai, wilayah pertanian, sarana umum, maupun
daerah industri. Kecenderungan pemilihan lokasi permukiman tersebut menjadi
salah satu penyebab terjadinya variasi pola permukiman.

Pola permukiman merupakan bentuk atau struktur tempat tinggal manusia


pada suatu wilayah permukiman. Salah satu penyebab terjadinya variasi pola
permukiman merupakan dampak dari ketidakmerataan penyebaran penduduk yang
arahnya kepada pemenuhan kesejahteraan masyarakat, karena pada wilayah yang
penduduknya mengelompok cenderung lebih sejahtera diakibatkan penyediaan

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 1


pemberdayaaan masyarakat serta pembangunan sarana dan prasarana juga
pemenuhan dan peningkatan kebutuhan lebih merata dibandingkan dengan
penduduk pada pola permukiman yang menyebar.

Sehubungan dengan hal tersebut penulis tertarik untuk mengetahui pola


permukiman serta ingin mengetahui terjadinya variasi pola permukiman yang
dilihat dari faktor fisik dan sosial ekonomi, hal ini berpacu dari pendapat Nasrudin
(2007) menyatakan faktor yang mempengaruhi pola permukiman di suatu wilayah,
yaitu letak permukiman, keadaan iklim, kesuburan tanah, tata air, keadaan ekonomi,
keadaan kultur penduduk (budaya) (dalam Karlina, 2012).

Desa Singapadu Kaler merupakan salah satu desa yang berada di


Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Kondisi geografis Desa Singapadu
Kaler terletak di daerah dataran rendah, yaitu pada ketinggian 129 meter dari
permukaan laut dengan kondisi topografi yang relatif datar. Permukiman Desa
Singapadu Kaler dikatergorikan ke dalam permukiman perdesaan karena penduduk
Desa Singapadu Kaler masih cenderung bermatapencaharian petani atau agraris.

Berdasarkan kondisi diatas, permukiman Desa Singapadu Kaler masih


belum diketahui secara pasti bagaimana pola permukiman serta faktor yang
berpengaruh terhadap pola permukiman, berdasarkan latar belakang tersebut,
penulis tertarik untuk melakukan penelitian di Desa Singapadu Kaler.

1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana pola permukiman di Desa Singapadu Kaler?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi pola permukiman Desa Singapadu
Kaler?

1.3.Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini terbagi kedalam dua jenis tujuan,
yaitu:

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 2


1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan menambah wawasan khususnya bagi mahasiswa
mengenai pola permukiman Desa Singapadu Kaler.
2. Tujuan Khusus
Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengajar mata kuliah
Pengantar Permukiman kepada mahasiswa.

1.4. Manfaat Penulisan


Tulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Mahasiswa/ akademisi, sehingga mampu memahami secara mendalam
mengenai Pengantar Permukiman pada khususnya sub materi pola
permukiman pedesaan serta dapat memberikan inovasi kedepannya
berdasarkan pengetahuan tersebut.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 3


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Desa

Menurut Bintarto (1983), pengertian desa adalah suatu perwujudan atau


kesatuan geografi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomi,
politik, dan kultural dalam hubungannya dan adanya pengaruh timbal balik dengan
daerah-daerah lain. Sedangkan Daljoeni (1997) lebih menekankan pengertian desa
dilihat dari segi agrarisnya. Menurutnya, desa merupakan permukiman manusia
yang letaknya di luar kota dan penduduknya bermatapencaharian di bidang agraris
dan memiliki jumlah penduduk sedikit dengan wilayah yang relatif luas, sehingga
memungkinkan adanya bidang- bidang kehidupan seperti persawahan,
perladangan, dan perkebunan.

Desa dalam undang-undang negara Indonesia merupakan kesatuan


masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul serta adat istiadat setempat
yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional di daerah kabupaten (UU No 22
Tahun 1999 bab I pasal I).

Beberapa ciri wilayah yang dapat dikategorikan sebagai desa dituliskan


Bintarto (1983) dalam bukunya berjudul Interaksi Desa-Kota dan
Permasalahannya, antara lain mempunyai wilayah dan sistem masyarakat sendiri,
kehidupannya sangat erat dan lingkungan alam dan sifat gotong royong masih
tertanam kuat pada warga masyarakat desa yang merupakan suatu paguyuban
(gemeinschaft) yaitu gaya hidup berdasarkan ikatan kekeluargaan yang kuat. Selain
itu stuktur ekonominya bersifat agraris dengan jumlah penduduk tidak terlalu
banyak dan luas daerah tidak terlalu besar.

Proses sosial di perdesaan berjalan lambat karena kehidupan bersifat


tradisional, tata pemerintahannya pun dipimpin oleh kepala desa yang dipilih oleh
masyarakat desa yang pada umumnya masih memegang norma-norma agama
secara kuat. Masyarakat sangat erat dengan alam dan kehidupan petani bergantung
pada musim. Daerah pedesaan merupakan suatu kesatuan sosial dan kesatuan kerja

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 4


dengan jumlah penduduk relatif kecil dan wilayah relative luas. Dengan ikatan
kekeluargaan masih erat dalam hidup masyarakatnya, sosial kontrol ditentukan oleh
nilai moral dan hukum internal (hukum adat). Sayangnya penduduk di perdesaan
kebanyakan berpendidikan rendah.

2.2 Pengertian Permukiman

Terdapat perbedaan pengertian antara permukiman dan perumahan.


Permukiman berasal dari kata pemukim. Dari asal katanya, terdapat tiga istilah
penting dalam permukiman yang berbeda maknanya, yaitu pemukim, permukiman,
permukiman.

- Pemukim adalah penghuni suatu tempat atau rumah. Pemukim memiliki arti
seseorang yang menghuni suatu tempat tinggal.
- Pemukiman tergolong dalam kata kerja yang sama dengan to settle.
Pemukiman memiliki arti tindakan memukimkan. Pemukiman adalah suatu
tindakan untuk memukimkan seseorang pada suatu lokasi atau tempat
tertentu.
- Permukiman, secara ilmu Bahasa kata permukiman tergolong pada kata
benda. Dalam Bahasa inggris, permukiman dikenal sebagai human
settlement, yaitu suatu kumpulan manusia baik itu berada di kota maupun
desa, lengkap dengan aspek-aspek social, spiritual dan nilai-nilai budaya
yang menyertainya.

Kawasan permukiman adalah bagian dari kawasan budidaya yang ditetapkan


dalam rencana tata ruang dan fungsi utama untuk pemukiman (SNI 03-1733-2004:
Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan). Kawasan
permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik
berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian dengan tempat kegiatan yang mendukung
perikehidupan dan penghidupan. Permukiamn adalah bagian dari lingkungan
hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai
prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain
di kawasan perkotaan maupun pedesaan.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 5


2.3 Pola Persebaran Permukiman Pedesaan
Pengertian pola dan sebaran permukiman memiliki hubungan yang sangat
erat. Sebaran permukiman membincangkan hal dimana terdapat permukiman dan
atau tidak terdapat permukiman dalam suatu wilayah, sedangkan pola permukiman
merupakan sifat sebaran, lebih banyak berkaitan dengan akibat faktor ekonomi,
sejarah dan faktor budaya. Terdapat beberapa teori menurut para ahli yang
mengklasifikasikan pola persebaran permukimanperdesaan, namun umumnya pola
persebaran permukiman dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu
mengelompok, tersebar, dan memanjang.

Haining (1982) menyatakan bahwa sumber telah memberikan sesuatu yang


mungkin merupakan teori spasial permukiman perdesaan yang paling lengkap. Ini
merupakan ekologi dari daerah asal dan dideskripsikan menjadi tiga tahap dalam
pembentukan peta permukiman. Tahap pertama, kolonisasi, melibatkan migrasi ke
daerah dari daerah sumber. Tahap kedua, tahap penyebaran, melibatkan infilling
pada daerah terjajah yang baru. Keturunan dari kolonisasi pertama dan generasi
selanjutnya meninggalkan pemukiman tua dan mendirikan peternakan sendiri yang
sering kali dekat dengan pemukiman milik orang tua. Tahap ketiga dan terakhir
adalah tahap kompetitif. Produksi yang tidak efisien dibeli oleh para petani lebih
sukses dan tanah digabung. Hudson menyarankan bahwa tiga tahap ini akan
menghasilkan urutan pola berkerumun, acak, dan seragam. Distribusi regional dari
permukiman pertanian pada satu waktu akan tergantung pada tahap dicapai dalam
proses bermukim. (dalam Karlina, 2012)

Peter Haggett (dalam Bintarto dan Hadisumarno, 1987) menjelaskan bahwa


fecture titik merupakan salah satu visualisasi data yang
mempresentasikan individu yang memiliki suatu atribut pada posisi geografis
tertentu. Pada dunia nyata persebaran data titik di permukaan bumi akan
membentuk suatu pola yang khas sesuai faktor-faktor pendukung dan pembatasnya.
Pola rumah yang diteliti dalam penelitian ini termasuk ke dalam jenis pola sebaran
titik, sebab yang dilihat adalah pola dari rumah ke rumah dalam wilayah
permukiman di lokasi penelitian. Secara garis besar terdapat tiga jenis pola sebaran
titik, yaitu mengelompok, acak, dan seragam.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 6


Rumah sebagai objek titik dalam persebarannya dipengaruhi oleh faktor-
faktor kondisi fisik dan kondisi sosial yang terdapat di dalam wilayah
permukimannya, khususnya pada permukiman yang berada di perdesaan. Sehingga
pola yang terbentuk selain dapat dianalisis dengan metode tetangga terdekat juga
dapat ditentukan dengan menganalisis ciri-ciri khusus yang terdapat di sekitar
lokasi permukiman. Bintarto (1983) mengklasifikasikan pola persebaran
permukiman desa terjadi karena faktor geografis yang berbeda. Pola-pola tersebut
antara lain:

1. Radial

Bentuk permukiman perdesaan memusat banyak ditemukan di daerah


pegunungan. Bentuk perdesaan ini terpencar menyendiri (agglomerated
rural settlement). Biasanya dihuni oleh penduduk yang berasal dari satu
keturunan.

2. Tersebar
Bentuk permukiman perdesaan yang terpencar cenderung menyendiri
(disseminated rural settelment). Biasanya perdesaan seperti ini hanya
merupakan farm stead, yaitu sebuah rumah petani yang terpencil, tetapi
lengkap dengan gudang alat mesin, penggilingan gandum, lumbung,
kandang ternak, dan rumah petani.
3. Linier
Bentuk permukiman perdesaan linier banyak ditemukan di daerah pantai,
jalan raya, dan sepanjang sungai. Bentuk pedesaan ini memanjang
mengikuti jalur jalan raya, alur sungai atau garis pantai. Pola ini
digunakan masyarakat dengan tujuan untuk mendekati prasana
transportasi (jalan dan sungai) atau untuk mendekati lokasi tempat
bekerja, seperti nelayan di pinggiran pantai. Pola persebaran permukiman
perdesaan memanjang.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 7


2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Pemukiman
1. Bentuk Permukaan Bumi (Relief)

Bentuk permukaan bumi berbeda-beda, ada gunung, pantai, dataran


rendah, dataran tinggi, dan sebagainya. Kondisi yang berbeda secara otomatis
akan membuat pola kehidupan yang berbeda, misal penduduk pantai bekerja
sebagai nelayan. Pola kehidupan yang berbeda akan menyebabkan penduduk
membuat permukiman yang sesuai dengan lingkungan tempat penduduk itu
berada.

2. Keadaan Tanah

Keadaan tanah menyangkut kesuburan/kelayakan tanah ditanami.


Seperti kita ketahui, lahan yang subur tentu menjadi sumber penghidupan
penduduk. Lahan tersebut bisa dijadikan lahan pertanian atau semacamnya.
Karena itu, penduduk biasanya hidup mengelompok di dekat sumber
penghidupan tersebut (ini jelas terlihat di desa).

3. Keadaan Iklim

Iklim memiliki unsur-unsur di antaranya curah hujan, intensitas cahaya


matahari, suhu udara, dan sebagainya yang berbeda-beda di setiap daerah.
Perbedaan iklim ini akan membuat kesuburan tanah dan keadaan alam di setiap
daerah berbeda-beda yang tentu membuat pola permukiman penduduk berbeda
pula. Sebagai contoh penduduk di pegunungan cenderung bertempat tinggal
berdekatan, sementara penduduk di daerah panas memiliki permukiman yang
lebih terbuka (agak terpencar).

4. Keadaan Ekonomi

Kegiatan ekonomi seperti pusat-pusat perbelanjaan, perindustrian,


pertambangan, pertanian, perkebunan dan perikanan akan berpengaruh pada
pola pemukiman yang mereka pilih, terutama tempat tinggal yang dekat dengan
berbagai fasilitas yang menunjang kehidupannya, karena hal itu akan
memudahkan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 8


BAB III

TINJAUAN OBJEK

3.1 Lokasi Objek

Desa Singapadu Kaler termasuk wilayah Kecamatan Sukawati, kabupaten


Gianyar, Provinsi Bali, terletak di sebelah barat kabupaten Gianyar dengan batas-
batas: di sebelah penghujung utara Desa Singakerta (kecamatan Ubud), di sebelah
barat Desa Mambal (kecamatan Abiansemal, Badung), sebelah selatan Desa
Singapadu Tengah (kecamatan Sukawati Gianyar), sebelah timur Desa Lodtunduh
(kecamatan Ubud, kabupaten Gianyar). Desa ini terdiri dari empat Banjar yaitu;
Banjar Silakarang, Banjar Kederi, Banjar Samu, dan Banjar Belang.

Gambar 1. Peta Lokasi Desa Singapadu Kaler

Sumber : www.google.co.id/maps

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 9


3.2 Sarana dan Prasarana

1. Sarana Pemerintahan dan Pelayanan Umum

Untuk melayani dan melindungi masyarakat diperlukan tersedianya sarana


pemerintahan dan pelayanan umum yang dikelola oleh negara. Adapun sarana
pemerintahan dan pelayanan umum yang terdapat di Desa Singapadu Kaler
meliputi:

a. Kantor Kelurahan
b. Pos Polisi
c. 4 buah Balai Banjar (balai pertemuan warga)
d. 4 buah Bale Agung (balai serbaguna)

Gambar 2. Kantor Kelurahan Desa Singapadu Kaler


Sumber : Dokumentasi 10 Oktober 2017

2. Sarana Pendidikan dan Pembelajaran

Tingginya presentase penduduk pada kelompok usia Pendidikan menunjukan


bahwa setiap kawasan pemukiman membutuhkan sarana Pendidikan dalam jumlah
yang cukup. Jenis-jenis sarana Pendidikan formal dan umum yang wajib tersedia
adalah sarana Pendidikan pada pra belajar hingga tingkat menengah. Adapun sarana
Pendidikan yang terdapat pada Desa Singapadu Kaler yaitu:

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 10


a. 2 Sekolah Taman Kanak-Kanak
b. 4 Sekolah Dasar
c. 1 Sekolah Menengah Kejuruan

Gambar 3. SMK Werdhi Silakumara, Singapadu Kaler

Sumber : Dokumentasi 10 Oktober 2017

3. Sarana Kesehatan

Fungsi dari sarana kesehatan adalah untuk memberikan layanan kesehatan


bagi masyarakat. Adapun sarana kesehatan pada Desa Singapadu Kaler yaitu:

a. Puskesmas
b. Tempat Praktek Dokter
c. Bidan
d. Apotek
e. Posyandu (diselenggarakan di masing-masing bale banjar)

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 11


Gambar 4. Klinik Bersaudara Desa Singapadu Kaler

Sumber : Dokumentasi 20 Oktober 2017

4. Sarana Peribadatan

Untuk memfasilitasi kehidupan rohani masyarakat, perlu disediakan


fasilitas peribadatan yang cukup dan memadai di lingkungan pemukiman dan
perumahan. Adapun sarana peribadatan pada Desa Singapadu Kaler yaitu:

a. Pura Khayangan Tiga


b. Pura Subak
c. Pura Melanting

Gambar 5. Pura Puseh Banjar Silakarang

Sumber : Dokumentasi 10 Oktober 2017

5. Sarana Perdagangan dan Niaga

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 12


Sarana perdagangan dan niaga berfungsi melayani dan menyediakan berbagai
kebutuhan sehari-hari masyarakat sekaligus sebagai tempat bekerja. Adapun
sarana perdagangan dan niaga pada Desa Singapadu Kaler yaitu:

a. Pasar Tradisional
b. Toko atau warung

Gambar 6. Pasar Tradisional Banjar Silakarang

Sumber : Dokumentasi 20 Oktober 2017

6. Prasarana

Prasarana lingkungan atau yang dikenal juga sebagai utilitas lingkungan,


diperlukan adanya prasarana lingkungan yang memadai, agar lingkungan
permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Adapun prasarana
lingkungan yang terdapat pada Desa Singapadu Kaler yaitu :

a. Prasarana jaringan jalan


b. Prasarana jaringan drainase
c. Parsarana jaringan air bersih
d. Parsarana jaringan listrik
e. Parsarana jaringan persampahan
f. Parsarana jaringan Telepon

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 13


Gambar 7. Prasarana Desa Singapadu Kaler

Sumber: www.google.co.id/maps

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 14


BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pola Pemukiman Desa Singapadu Kaler

Desa Singapadu Kaler cenderung memiliki pola pemukiman Linear.


Dilihat dari pengertian pola pemukiman linear yaitu: bentuk pedesaannya
memanjang mengikuti jalur jalan raya, alur sungai atau garis pantai. Pola ini
digunakan masyarakat dengan tujuan untuk mendekati prasana transportasi (jalan
dan sungai) atau untuk mendekati lokasi tempat bekerja, seperti nelayan di
pinggiran pantai. Pola persebaran permukiman perdesaan memanjang.

Gambar 8. Tampa katas Desa Singapadu Kaler


Sumber : www.google.co.id/earth

Gambar 8 merupakan gambar tampak atas Desa Singapadu Kaler. Pada


gambar tersebut garis yang berwarna hijau merupakan jalan raya sedangkan garis
yang berwarna biru adalah aliran sungai. Dilihat dari gambar tersebut pemukiman
Desa Singapadu Kaler membentuk suatu pola yang linear atau lurus mengikuti atau

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 15


searah dengan bentuk jalan raya dan searah dengan jalur aliran sungai.

4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permukiman Desa Singapadu


Kaler
1. Pengaruh Faktor Bentuk Permukaan Bumi (Relief) terhadap Pola
Permukiman Desa Singapadu Kaler

Desa Singapadu Kaler terletak di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar,


Bali. Dimana daerah ini merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 129
meter diatas permukaan laut. Dilihat dari relief daerahnya Desa Singapadu kaler ini
berada pada daerah yang relatif datar. Pada daerah dataran rendah dengan morfologi
landai akan memudahkan pembangunan jalan-jalan di pemukiman, sehingga daerah
seperti ini akan membentuk pola pemukiman linear mengikuti jalan. Pola ini
terbentuk secara alami dikarenakan masyarakat cenderung membangun rumah di
dekat jalan demi kemudahan transportasi.

Gambar Penduduk bermatapencaharian pedagang bermukim di pinggir jalan

Sumber : www.google.co.id/maps

Hal tersebut membuat penduduk rata-rata memiliki mata pencaharian sebagai


pedagang, dikarenakan pemukiman cenderung berada di dekat jalan akan
memudahkan transportasi sehingga jalur tersebut dapat menjadi jalur perdagangan.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 16


2. Pengaruh Faktor Keadaan Tanah dan Iklim terhadap Pola Permukiman
Desa Singapadu Kaler

Iklim di Daerah Gianyar cenderung memiliki curah hujan yang cukup tinggi
sehingga membuat keadaan tanah pada Desa Singapadu Kaler cukup subur
untuk digunakan bercocok tanam. Hal tersebut menyebabkan beberapa
penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani.

Gambar Area persawahan Desa Singapadu Kaler

Sumber : Dokumentasi 10 Oktober 2017

Desa Singapadu Kaler dilewati oleh dua jalur sungai, yang masing-masing
berada di perbatasan Timur dan perbatasan Barat Desa. Daerah yang digunakan
sebagai daerah pertanian ini adalah daerah yang berada di dekat sungai agar
lahan pertanian mereka mendapatkan irigasi air dengan baik. Para penduduk
yang berprofesi sebagai petani akan cenderung membuat pemukiman di dekat
areal persawahan mereka yang berada di dekat sungai. Sehingga hal ini
menyebabkan pola pemukiman Desa Singapadu Kaler linear mengikuti jalur
kedua sungai ini.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 17


3. Pengaruh Faktor Ekonomi terhadap Pola Permukiman Desa Singapadu
Kaler

Perekonomian Desa Singapadu Kaler dominan digerakan pada sektor


kesenian dan perdagangan. Dimana sebagian besar mata pencaharian penduduk
desa ini adalah sebagai pematung maupun penjual patung.

Mata pencaharian penduduk sebagai pematung ini muncul dikarenakan


letak Desa Singapadu Kaler yang dilewati oleh dua jalur sungai. Kedua sungai
ini memiliki jurang yang cukup dalam. Dari jurang ini penduduk setempat
menggali dan mendapatkan batu alam. Kabupaten Gianyar yang kental akan
kesenian membuat penduduk memanfaatkan batu alam ini, dipahat sedemikian
rupa sehingga menghasilkan karya seni yang bernilai jual tinggi. Dari sinilah
lahir para pematung batu padas yang kini menjadi mata pencaharian bagi
sebagian besar penduduk Desa Singapadu Kaler.

Gambar Rumah penduduk yang bekerja sebagai penjual patung

Sumber : Dokumentasi 10 Oktober 2017

Dalam memperdagangkan patung-patung ini penduduk setempat tentulah


mencari lahan yang strategis untuk perdagangan, yaitu di daerah dekat dengan
jalan. Oleh sebab itu terbentuklah pola pemukiman linear di Desa ini yang
mengikuti jalan sebagai jalur perdagangan.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 18


BAB V

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Desa Singapadu Kaler membentuk suatu pola yang linear atau lurus mengikuti
atau searah dengan bentuk jalan raya dan searah dengan jalur aliran sungai. Hal
tersebut terjadi dikarenakan beberapa faktor yaitu; faktor bentuk permukaan bumi,
faktor tanah, faktor iklim, dan faktor ekonomi. Pada daerah dataran rendah dengan
morfologi landai akan memudahkan pembangunan jalan-jalan di pemukiman,
sehingga daerah seperti ini akan membentuk pola pemukiman linear mengikuti
jalan. Pola ini terbentuk secara alami dikarenakan masyarakat cenderung
membangun rumah di dekat jalan demi kemudahan transportasi. Para penduduk
yang berprofesi sebagai petani akan cenderung membuat pemukiman di dekat areal
persawahan mereka yang berada di dekat sungai. Sedangkan para penduduk yang
berprofesi sebagai pedagang menempati lahan yang strategis untuk perdagangan,
yaitu di daerah dekat dengan jalan.

4.3 Saran

Saran dari penulis terhadap penduduk desa yaitu agar senantiasa melestarikan
kebudayaan yang dianut oleh desa setempat agar pola permukiman dan adat istiadat
setempat senantiasa lestari. Pola pemukiman di Desa Singapadu Kaler sudah cukup
tertata dan sarana prasarana juga bisa dibilang sudah lengkap, sehingga penduduk
agar selalu merawat fasilitas tersebut agar masih bisa dipergunakan di masa yang
akan datang.

Saran dari penulis untuk pemerintah adalah agar pemerintah dapat lebih
melengkapi lagi sarana-prasarana di Desa Singapadu Kaler, juga menetapkan
aturan yang tegas agar pola permukiman penduduk tidak menjadi permukiman yang
kumuh dan tetap terjaga dengan baik.

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 19


DAFTAR PUSTAKA

Sadana, Agus. S. 2014. Perencanaan Kawasan pemukiman. Yogyakarta : Graha


Ilmu.

Bintarto, R. 1983. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahnya. Jakarta : Ghalia


Indonesia.

Triana, Karlina. 2012. Pola Persebaran Rumah Perdesaan dan Kaitannya Dengan
Mobilitas Penduduk Di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Skripsi
FMIPA-UI.
UU No 22 Tahun 1999
SNI 03-1733-2004: Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan
www.google.co.id/maps

Pengantar Permukiman-Permukiman Desa Singapadu Kaler | 20