Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM RESMI

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUID dan SEMISOLID

Emulsi Minyak Ikan

Penyusun :

Nama : Siti Marfuah

NIM : P2.06.30.1.15.034

JURUSAN FARMASI

POLTEKKES KEMENKES TASIKMALAYA


2016
BAB I
PENDAHULUAN

I. Tujuan : Melakukan compounding resep Emulsi Minyak Ikan


II. Dasar Teori :
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan
obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi
atau surfaktan yang cocok. (FI III )
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak
tercampur, biasanya air dan minyak, dimana cairan yang satu terdispersi
menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil,
butir-butir ini bergabung (koalesen) dan membentuk dua lapisan minyak dan
air yang terpisah (Anief,2006).
Dalam bidang farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak dan air.
Berdasarkan fase terdispersinya dikenal dua jenis emulsi, yaitu :
1. Emulsi minyak dalam air, yaitu bila fase minyak terdispersi dalam fase air
2. Emulsi air dalam minyak, yaitu bila fase air terdispersi dalam fase minyak
Komponen emulsi ada dua macam, yaitu :
a. Komponen dasar : Bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam
emulsi. Terdiri atas :
1. Fase dispers adalah zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil ke
dalam zat cair lain.
2. Fase kontinue adalah zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan
dasar (pendukung) dari emulsi tersebut.
3. Emulgator adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan
emulsi. Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka
permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada
permukaan globul-globul fase terdispersinya
b. Komponen tambahan adalah bahan tambahan yang sering ditambahkan
untuk memperoleh hasil yang baik yaitu corrigen saporis, corrigen odoris,
corrigen colouris, preservative (pengawet) dan antioksidan.
III. Resep dan Formula
R/ Emulsi minyak ikan ad 60ml (Formula Standar Hal 217)
Olei Iecoris Emulsum
Tiap 215 g mengandung : Olei Iecoris Aselli 100 g
Glycerolum 10 g
Gommi Arabicum 30 g
Oleum Cinamomi gtt IV
Aquadest add 215 g

Formula
Nama Jumlah Kegunaan

Olei Iecoris Aselli 100 g Fase minyak, sumber vitamin A & D

Glycerolum 10 g Pelarut

Gommi Arabicum 30 g Emulgator

Oleum Cinamomi gtt IV Corrigen saporis dan odoris

Aquadest Ad 100 g Fase air

IV. Monografi
1. Oleum Iecoris Aselli (FI.III : 457)
a. Pemerian : cairan kuning pucat, bau khas, rasa agak manis,tidak tengik,
rasa khas
b. Kelarutan : Sukar larut dalam etanol 95%, mudah larut dalam kloroform,
dalam eter, dan dalam eter minyak tanah.
c. Bobot per ml 0,917 gram sampai 0,924 gram.
d. Khasiat : Sumber Vitamin A dan D, fase minyak.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
2. Glycerin (FI III : 143)
a. Pemerian : Pemerian : - Warna : putih
- Rasa : Rasa tawar seperti lendir
- Bau : Hampir tidak berbau
- Bentuk : Butir, bentuk bulat (bulat telur)
b. Kelarutan :- Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol 95 %
- praktis tidak larut dalam kloroform dalam eter dan dalam
minyak lemak dan dalam minyak menguap.
c. Titik lebur : 180C
d. Titik didih : 290C
e. Massa molekular : 92,09382g/mol
f. Bobot jenis : 1,261 g/ml
g. pH larutan : 7
h. Stabilitas :
- Terhadap udara : Higroskopik dengan adanya udara dari luar (mudah
teroksidasi)
- Terhadap panas : mudah terdekomposisi dengan adanya pemanasan,
mengkristal dalam suhu rendah, kristal tidak akan mencair sampai
dengan suhu 200C akan timbul ledakan jika dicampur dengan bahan
teroksidasi.
i. Inkompatibilitas :
- seperti kromium trioksid, kalium horat, atau kalium permanganat.
- Berubah warna menjadi hitam dengan adanya cahaya atau setelah
kontak dengan ZnO dan bisulfat.
- Gliserin + kontaminan yang mengandung logam akan berubah warna
dengan penambahan fenol salisilat dan tanin.
- Asam borat membentuk kompleks gliseroborik acid (lebih kuat dari
pada asam borat)
j. Khasiat : Pelarut dan pengawet
3. Gummi Arabicum (FI.III: 279)
a. Pemerian : Hampir tidak berbau, rasa tawar seperti lendir.
b. Kelarutan : Mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang kental
dan tembus cahaya. Praktis tidak larut dalam etanol 95%.
c. Ph : 5,5 7,5
d. Khasiat : Sebagai emulgator.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

4. Oleum Cinnamomi (FI.III:454)


a. Pemerian : Cairan suling segar berwarna kuning, bau dan rasa khas.
b. Kelarutan : Larut dalam etanol 70%
c. Persyaratan kadar : Kadar aldehida jumlah dihitung sebagai
sinamilaldehida 60,0 % - 75,0 %
d. Khasiat : Karminativa, Corrigen Saporis.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat,terisi penuh, terlindung dari
cahaya, di tempat sejuk

5. Aquadestillata (FI.III : 96)


a. Rumus Kimia :H2O
b. Bobot molekul : 18,02
c. Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
d. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
e. Stabilitas : Stabil disemua keadaan fisik (padat, cair, gas)
f. Konstanta dielektrik : 78,54
g. Khasiat : Pelarut, Fase cair

6. Propilen glikol
a. Struktur Kimia : CH3 CHOH CH2OH
b. Pemerian : Cairan kental jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
rasa agak manis, higroskopis
c. Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol
(95%)P, dan dengan kloroform, larut dalam 6 bagian eter, tidak dapat
campur dengan eter minyak tanah
d. Berat jenis : 1,038 g/cm3
e. Berat molekul : 76,09
f. Stabilitas : Higroskopis dan harus disimpan dalam wadah tertutup
rapat, lindungi dari cahaya, ditempat dingin dan kering. Pada suhu
yang tinggi akan teroksidasi menjadi propionaldehid asam laktat, asam
piruvat& asam asetat. Stabil jika dicampur dengan etanol, gliserin, atau
air.
g. Titik leleh : pada suhu 185o 189oC tersuling tidak
kurang dari 95%
h. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

V. Permasalahan dan penyelesaian


a. Permasalahan
1. Terdapat dua komponen yang berbeda yaitu fase cair dan fase
minyak yang tidak dapat bersatu
2. Sediaan ini mempunyai rasa dan bau yang tidak enak.
3. Tidak tersediannya glycerolum di lab

b. Penyelesaian
1. Ditambahkan PGA yang berfungsi sebagai PGA
2. Ditambahkan Oleum Cinnamomi sebagai corigen odoris dan
saporis
3. Untuk menganti bahan glycerolum dan untuk menghilangkan rasa
pahit dan asam pada oleum iecoris maka ditambahkan pemanis
berupa propilen glikol
VI. Perhitungan bahan
100
1. Oleum Iecoris = 215 100 = 46,5 g
100
2. PGA = 30 = 14 g
215

Aquadest untuk PGA = 1,5 g/ml 14 = 21 ml


100
3. Gliserol = 10 = 4,65 g
215

4. Oleum cinamomi = 2 tetes


5. Eseens jeruk = 2 tetes
6. Aquadest ad 1000 ml

VII. Penimbangan
1. Oleum Iecoris Aselli = 46,5 gram
2. Propilengliko = 4,65 gram
3. Gummi Arabicum = 14 gram
Aquadest untuk gom = 21 ml
4. Oleum Cinnamomi = 2 tetes
5. Essens Jeruk = 2 tetes
6. Aquadest = ad 100 ml

VIII. Cara Kerja


1. Siapkan alat dan bahan lalu Timbang semua bahan
2. Kalibrasi botol 60ml, beri tanda
3. Aquadest diambil lalu letakkan pada mortir
4. Tabur PGA pada mortir yang sudah berisi aquadest, tunggu 5 menit
agar PGA menyerap air.
5. Lalu gerus secara keras sambil ditambahkan sedikit demi sedikit oleum
iecoris hingga terbentuk corpus emulsi
6. Gliserol ditambahakan, gerus homogen
7. Oleum cinamomi ditambahakan, gerus homogen
8. Masukkan ke dalam botol
9. Tambahkan aquadest hingga tanda batas. Kocok hingga homogen
10. Beri etiket dan Lakukan evaluasi sediaan
IX. Etiket dan Brosur
a. Etiket

VK-emulsion

KOMPOSISI Netto 100 ml INDIKASI


Tiap 1 sendok teh (15 ml)
Emulsi Minyak Ikan
mengandung Membantu meningkatkan daya
Oleum Iecris Aselli........... 100 g tahan tubuh dan mencegah
PGA................................. 10 g kekurangan vitamin A dan D
Glycerol...........................30 g
Oleum Cinamami.............6 gtt KONTRA INDIKASI ,
Aquadest.....................add 100 ml PERINGATAN, DAN PERHATIAN,
EFEK SAMPING DAN INTERAKSI
ATURAN PAKAI OBAT. Lihat brosur
3 kali sehari 15 ml
PT.SM-FARMA

PENYIMPANAN

b. Brosur
Dalam wadah tertutup rapat No. Reg D.77271397
HET : RP 15.000
No.Bacth : D100598
Tgl.produksi : March 16
VK-Emulsion

KOCOK DAHULU Oleum Iecoris aselli


SEBELUM DIMINUM Exp. March 20

KOMPOSISI

Tiap 15 ml mengandung :

Oleum Iecoris aselli. 46,5g

DESKRIPSI
VK-emulsion membantu meningkatkan dan memelihara
ketahanan tubuh serta memenuhikebutuhan vitamin A dan D,
menambah nafsu makan, membantu perkembangan kesehatan
anakdan pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat.

KONTRA INDIKASI
Peningkatan resiko pendarahan atau memar, mual, diare, perut
kembung.

INDIKASI
Masa pertumbuhan bagi anak untuk penyerapan vit-A dan D
yang kurang lancar bagi bayi.Menambah nafsu makan bagi
wanita hamil danmenyusui. Untuk pertumbuhan tulang dalam
nkeadaan cacat dan usia lanjut.

DOSIS
3 x 1.15ml
Simpan di tempat sejuk dan terlindung dari cahaya.

PT. SM Farma
Tasikmalaya -Indonesia
BAB II
ISI

X. Evaluasi sediaan
NO Evaluasi dan prinsip Syarat
1. Organoleptik Bau : Minyak ikan
Diperhatikan bau, rasa, dan penampilan Rasa : Amis
sediaan Penampilan : Putih
kecoklatan / kekuningan
2. Berat jenis -
3. Viscositas -
4. Penetapan pH sediaan 5
5. Volume terpindahkan 60 ml
6. Pertumbuhan mikroba Tidak ada pertumbuhan
mikroba

XI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan Emulsi minyak ikan
sebanyak 100ml, Tetapi akan dibuat 60ml karena mengoptimalkan sediaan
yang terdapat dilaboratorium. Minyak ikan berkhasiat sebagai sumber
vitamin A dan D. Dalam pembuatan emulsi ini, Fase minyak dan fase air
tidak dapat bercampur sehingga diperlukan zat pengemulsi/emulgator
untuk mencampurkan kedua fase tersebut agar salah satunya dapat
terdispersi. Emulgator yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
Gom Arab/ PGA. Tipe emulsi yang akan dibuat yaitu tipe minyak dalam
air yaitu fase minyak terdispersi didalam fase air.
Banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan ketika membuat
sediaan emulsi. Salah satunya yaitu terdapat beberapa metode membuat
emulsi menggunakan metode gom basah.
Gom basah yaitu metode yang dilakukan bila zat pengemulsi yang
akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan terlebih dahulu dalam air.
Metode ini dibuat dengan terlebih dahulu dibuat mucilago yang kental
dengan sedikit air lalu ditambah minyak sedikit demi sedikit dengan
pengadukan yang kuat, kemudian ditambahkan sisa air dan minyak secara
bergantian sambil diaduk sampai volume yang diinginkan.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah aquadest dimasukkan ke
dalam mortir lalu taburkan Gom arab tunggu sampai gom arab
mengembang. Kemudian, digerus sampai terbentuk mucilago. Dalam
pembuatan sediaan emulsi lakukan penggerusan dengan kecepatan
menggerus yang optimal agar terbentuk mucilago yang baik. Lalu
masukkan fase minyak yaitu Oleum Iecoris Aselli, gerus hingga terbentuk
corpus yang berwana putih susu. Setelah itu, tambahkan Gliserin. Tetapi
karena Gliserin tidak terdapat didalam Laboratorium, gunakan propilen
glikol sebagai pengganti yang juga memiliki khasiat sebagai pelarut dan
pengawet agar tidak tumbuh mikroba pada sediaan emulsi. Kemudian
tambahkan Oleum cinnamomi dan gerus sampai homogen. Oleum
cinnamomi berkhasiat sebagai corrigent saporis yaitu menutupi bau khas
dan tidak enak dari Oleum Iecoris Aselli. Dan yang terakhir tambahkan
essens jeruk, gerus sampai homogen. ditambahkan essens jeruk agar warna
sediaan ini lebih menarik. Setelah semua zat dimasukkan, dimasukkan ke
dalam botol. Jika kurang dari 60ml, tambahkan aquadest sampai batas
kalibrasi pada botol.
Setelah itu, dilakukan uji evaluasi pada sediaan. Hasil pengujian
secara organoleptik sediaan yaitu bau, memiliki aroma khas minyak ikan
yang bercampur Oleum cinnamoni. Lalu warna putih kecoklatan dan
kekuningan. Dengan rasa sedikit amis dari Oleum Iecoris Aselli. Sediaan
ini memiliki pH 5 dan volume terpindahkan 60ml. Dan tidak terdapat
mikroba.
BAB III
PENUTUP

XII. Kesimpulan
Setelah melakukan sediaan emulsi banyak sekali hal-hal yang
diperhatikan yaitu dalam memilih emulgator, dalam menentukan metode
yang akan dipakai sesuai dengan tipe emulsi yang akan dibuat.
Sediaan emulsi Minyak ikan yaitu berkhasiat sebagai membantu
meningkatkan dan memelihara ketahanan tubuh serta
memenuhikebutuhan vitamin A dan D, menambah nafsu makan,
membantu perkembangan kesehatan anakdan pertumbuhan tulang dan
gigi yang kuat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Farmakope Indonesia Edisi Empat 1995. DEPARTEMEN
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA.
Anonim. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga 1979. DEPARTEMEN
KESEHA TAN REPUBLIK INDONESIA.
Anonim. Formularium Nasional Edisi Kedua 1978. DEPARTEMEN
KESEHA TAN REPUBLIK INDONESIA.

Anda mungkin juga menyukai