Anda di halaman 1dari 46

NIGELLA SATIVA OIL COTHERAPY TO

PREVENT DIABETIC KIDNEY DISEASE STUDY:


NO CKD STUDY

DIAJUKAN OLEH:
Dr.dr.Akrom, M.Kes. & Dr.dr.Titiek Hidayati, M.Kes.

i
DAFTAR ISI
KULIT MUKA I
HALAMAN JUDUL Ii
LEMBAR PENGESAHAN Iii
DAFTAR ISI Iv
Abstrak v
I PENDAHULUAN 1
II TINJAUAN PUSTAKA 8
III METODE PENELITIAN 45
Daftar Pustaka 55

ii
Ringkasan

Penyakit ginjal diabetik merupakan porsi terbesar penyakit ginjal kronik (PGK), bersifat
progresif dan sering berakibat vatal. PGK membutuhkan perawatan rutin, berbiaya tinggi dan
jangka panjang. Pusat informasi dan kajian obat UAD (PIKO) UAD sebagai salah satu pilar
mewujudkan visi UAD dalam bidang pengembangan obat herbal terpanggil melakukan
penelitian berkelanjutan untuk menghasilkan produk herbal pencegah PGK. Uji fase 1 sediaan
MBJH terstandar menunjukkan bahwa MBJH aman dan ditoleransi dengan baik pada relawan
sehat. Hasil uji fase 2 sediaan MBJH menunjukkan bahwa MBJH efektif meningkatkan
pencapaian target terapi penurunan gula darah dan HbA1c serta menurunkan kejadian protein
uria. Perlu dilakukan uji klinik fase 3 sediaan MBJH pada pasien DM yang berisiko mengalami
PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan keamanan sediaan MBJH
sebagai koterapi nefroprotektor pada pasien DM rawat jalan di Puskesmas. Data-data hasil
penelitian ini penting secara praktis klinik sebagai bukti ilmiah (evidence base) koterapi obat
herbal MBJH, pengurusan paten produk fitofarmaka dan persyaratan pengurusan HKI serta
untuk dipublikasikan dalam jurnal terakreditasi ataupun jurnal internasional bereputasi.
Penelitian Nigella sativa oil cotherapy to prevent diabetic kidney disease (NO CKD)
study adalah prospektif trial klinik double blind 24 bulan MBJH pada 209 pasien DM rawat
jalan di Puskesmas Jetis I, Bantul. Sebanyak 209 pasien DM rawat jalan dengan terapi
hipoglikemik standar dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 105 pasien sebagai kelompok perlakuan
mendapatkan terapi tambahan 2x2 KLMBJH dan 104 yang lain sebagai kelompok control
mendapatkan plasebo. Outcome primer adalah kenormalan parameter kadar gula darah, profil
lipid dan kholesterol, parameter normal fisiologi ginjal, kualitas hidup, efek samping serta
kejadian serangan iskemia jantung, stroke, gagal ginjal, atau rawatan rumah sakit akibat
perkembangan penyakit dasar atau reaksi obat atau sediaan MBJH maupun meninggal. Data
demografi, life style dan riwayat pengobatan serta tanda klinis diambil dari rekam medic
menggunakan form pengambilan data. Dilakukan pemeriksaan parameter klinik fisiologi
jantung, ginjal, hepar, imunologi, stres oksidative, biomarker CVD dan renal desease serta
parameter farmakokinetika. Dilakukan analisis uji beda rata-rata untuk data berskala rasio
dengan one way anova (t test) satu dan dua jalan dengan tingkat signifikansi 95%.
Hasil penelitian diharapkan dapat menunjukkan efektivitas, keamanan dan mekanisme
kerja biomolekuler farmakodinamik dan farmakokinetika sediaan MBJH sebagai koterapi
nefroprotektor. Keluaran yang ditarget adalah publikasi 1 jurnal internasional bereputasi/th, 1
jurnal nasional terakreditasi/th, HKI, paten, paten sederhana, merek dagang dan buku ajar
berisbn.
Kata kunci: MBJH; uji klinik fase lII; kadar gula plasma sewaktu (GDS); diabetes mellitus;
CKD/PGK.

3
BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Penyakit ginjal kronik menjadi salah satu masalah utama kesehatan masyarakat di
Indonesia dan dunia. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO)
memperkirakan jumlah penderita DM di Indonesia akan meningkat hingga tiga kali lipat dan
pada 2030 mencapai 21,3 juta orang akibat peningkatan jumlah obesitas di masyarakat (IDF,
2006; WHO, 2000; Arambepola, 2007; Jia, 2002; Khan, 2005; Yajnik, 2002). Penyakit PGK
membutuhkan biaya perawatan besar, jangka panjang, dan sering berakibat fatal. Indonesia
merupakan salah satu negara dengan penderita diabetes mellitus terbanyak di dunia. Sebagai
salah satu pusat studi di UAD, PIKO (Pusat informasi dan Kajian Obat) terpanggil untuk
mengatasi permasalahan nasional kesehatan masyarakat tsb. PIKO telah melakukan serangkaian
penelitian untuk menghasilkan teknologi berbasis obat herbal untuk pencegahan penjakit ginjal
diabetik. Pasien DM, hipertensi, dislipidemi tunggal atau kombinasi yang dikenal dengan
sindroma metabolik (SM) merupakan faktor risiko utama kejadian penyakit ginjal kronik.
Peningkatan insidensi DM, hipertensi dan dislipidemi di Indonesia maka insidensi penyakit
kardiovaskuler dan PGK meningkat tajam. Insidensi dan prefalensi DM meningkat pesat di Asia.
Pada SM terjadi stress oksidatif dan inflamasi kronik pada pembuluh darah dan organ
vital (Amstrong, 2011; Pitsavos, 2006). Kondisi kelebihan berat badan, dislipidemia,
hiperglikemia dan hipertensi memicu reaksi peroksidasi, glikasi dan terjadinya jejas seluler yang
akan menghasilkan radikal bebas dan senyawa prooksidan (Anwar, 2004; Misra, 2001; Raji,
2001; Kaplan, 2009). Adanya ledakan oksidatif pada mitokhondria akibat meningkatnya aktivitas
makrofag menghasilkan reactive oxygen superfamily (ROS) yang akan semakin memberatkan
stres oksidatif dan reaksi inflamasi yang ditimbulkannya (Bajak, 2005; Grun, 2005). Dalam
jumlah yang berlebihan ROS dan NO membangkitkan stres oksidatif dan menekan proliferasi
limfosit sehingga sel CD4Th jumlah dan aktifitasnya menurun (Fehervari, 2004; Nelson, 2004;
Van der veen, 2001) dan secara umum menurunkan respon imun adaptif dan meningkatkan
reaksi inflamasi sehingga bersifat destruktif (Gao et al., 2003). Inflamasi progresif dan masif
akibat stres oksidatif pada SM bersifat destruktif (Abbas, 2004; Baratawidjaja, 2004; Kresno,
2001; Tomasi, 2003). Inflamasi kronik progresif merupakan mekanisme patofisiologi sebagaian

4
besar penyakit kardio vaskuler dan penyakit ginjal kronik (Abbas, 2004; Sartika, 2006;Van der
veen, 2001; Corthay, 2009; Fehervari, 2004). Strategi umum untuk menekan laju kerusakan
akibat inflamasi pada DM, adalah pemberian agen imunomodulator (Amstrong, 2011; Stocker,
2004) dan peningkatan jumlah dan aktifitas CD4Th untuk menghambat reaksi inflamasi berlebih
(Fonseca, 2008; Jiang, 2004; Shahab, 2007). Inflamasi progresif dan masif akibat stres oksidatif
bersifat destruktif (Van de veen, 2001; Corthay, 2009). Strategi umum untuk menekan laju
progresifitas SM adalah pemberian antioksidan untuk mengurangi free radical dan peningkatan
jumlah dan aktifitas Treg untuk menghambat reaksi inflamasi berlebih (Fonseca, 2008). Minyak
biji jinten hitam (MBJH) banyak mengandung asam lemak tak jenuh yaitu asam linoleat dan
linolenat serta minyak atsiri dengan zat aktif timokuinon, nigelin dan nigelon (Akrom, 2013;
Farrah et.al., 2004; Nickavar et.al., 2003). Asam lemak tak jenuh maupun timokuinon
merupakan antioksidan kuat dan imunomodulator (Akrom, 2013; Iddamaldeniya, 2006, 2003;El
sayed & Fukuhima, 2003; Mousa et.al., 2004; Randhawa et al., 2002). Pemberian MBJH yang
mengandung timokuinon terbukti mampu meningkatkan enzim antioksidatif glutation s
transferase (GST) dan meningkatkan jumlah Treg pada tikus SD yang diinduksi DMBA
sehingga mampu menghambat reaksi inflamasi yang berlebihan (Akrom, 2013;Mousa et.al,
2004; el-Aziz et.al., 2005). Lebih jauh telah dibuktikan adanya hubungan antara kadar GST
dengan tingkat kerusakan sel yang menunjukkan bahwa GST sebagai reparasi sel dan pencegah
destruksi sel (Akrom, 2013). Telah dibuktikan juga mekanisme antiinflamasi minyak N sativa
(crude fixed oil) dan timokuinon pada leukosit rongga peritoneal tikus yaitu melalui
penghambatan jalur siklooksigenase dan 5-lipooksigenase (Randhawa et.al., 2002; Salem &
Hossain, 2000;Haq et.al., 1999). Aktifitas sebagai antioksidan dan antiinflamasi MBJH diduga
mampu mencegah kejadian sindroma metabolik. Uji klinik menunjukkan bahwa dosis 300 500
mg/hari serbuk BJH yang diberikan bersama obat standar pada pasien SM terbukti dapat
memperbaiki profil kholesterol darah, menurunkan persentase HbA1C dan menurunkan tekanan
darah baik pada pasien menopuse maupun non menopause (Ibrahim et al., 2013; Najmi et al.,
2012, 2013; Shah et al., 2012).
Telah dilakukan uji fase I sediaan MBJH yaitu sediaan minyak biji jinten hitam (MBJH)
terstandar yang banyak mengandung asam lemak tak jenuh yaitu asam linoleat dan linolenat
serta minyak atsiri dengan zat aktif timokuinon, negelin dan nigelon (Akrom, 2013; Farrah et.al.,
2004; Nickavar et.al., 2003). Asam lemak tak jenuh maupun timokuinon merupakan

5
imunomodulator dan antioksidan (Akrom, 2013; Iddamaldeniya, 2006, 2003; El Sayed &
Fukuhima, 2003; Mousa et.al., 2004; Randhawa et al., 2002). Pemberian MBJH yang
mengandung timokuinon terbukti mampu meningkatkan enzim antioksidatif glutation s
transferase (GST) dan meningkatkan jumlah Treg pada tikus SD yang diinduksi DMBA sehingga
mampu menghambat reaksi inflamasi yang berlebihan (Akrom, 2013;Mousa et.al, 2004; el-Aziz
et.al., 2005). Telah dibuktikan juga mekanisme antiinflamasi MBJH (crude fixed oil) dan
timokuinon pada leukosit rongga peritoneal tikus yaitu melalui penghambatan jalur
siklooksigenase dan 5-lipooksigenase (Randhawa et.al., 2002; Salem & Hossain, 2000; Haq
et.al., 1999). Dari hasil uji fase 1 diketahui bahwa imunax bersifat aman, pemberian imunax
selama 20 hari pada relwan sehat dapat ditoleransi atau tidak menimbulkan efek samping dan
diterima baik dari sisi rasa dan bau (Akrom, 2015). Uji klinik menunjukkan bahwa dosis 300
500 mg/hari serbuk BJH yang diberikan bersama obat standar pada pasien SM terbukti dapat
memperbaiki profil kholesterol darah, menurunkan persentase HbA1C dan menurunkan tekanan
darah baik pada pasien menopuse maupun non menopause (Ibrahim et al., 2013; Najmi et al.,
2012, 2013; Shah et al., 2012). Pada uji klinik fase II sediaan MBJH dosis 1.5 atau 3 ml/hari
selama 2 hari pada pasien rawat jalan di puskesmas efektif meningkatkan pencapaian target
terapi gula darah HbA1c. Berdasarkan data-data hasil penelitian yang sudah dilakukan, peneliti
menduga kuat bahwa MBJH potensial sebagai koterapi nefroprotektor pada pasien berisiko
tinggi (DM, dislipidemia, hipertensi dan obesitas) baik melalui mekanisme antioksidan maupun
melalui mekanisme imunomodulator. NO CKD Study ini merupakan penelitian praklinik dan
klinik untuk membuktikan efektifitas, keamanan, mekanisme kerja dan kajian farmakoekonomi
koterapi MBJH sebagai nefroprotektor jangka panjang pada pasien berisiko tinggi (DM,
hipertensi, dislipidemia) penyakit ginjal kronik (PGK) baik di puskesmas maupun di rumah sakit.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana efektifitas pemberian jangka panjang dosis 1 atau 2 ml/hari MBJH
sebagai terapi tambahan pada pasien DM terhadap pencegahan kejadian penyakit
ginjal kronik (PGK) di puskesmas atau rumah sakit?
2. Bagaimana keamanan pemberian jangka panjang dosis 1 atau 2 ml/hari MBJH
sebagai terapi tambahan pada pasien DM, hipertensi atau dislipidemia rawat jalan di
Puskesmas atau rumah sakit ?

6
3. Bagaimana mekanisme farmakodinamik biomolekuler antioksidatif dan
imunomodulator pemberian jangka panjang dosis 1 atau 2 ml/hari MBJH sebagai
terapi tambahan nefroprotektor pada pasien rawat jalan DM, dislipidemia atau
hipertensi di puskesmas atau rumah sakit?
4. Bagaimana hasil kajian farmakoekonomi koterapi MBJH pada pasien berisiko tinggi
CKD dalam mencegah kejadian CKD?

C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan prototype sediaan
imunomodulator antioksidan MBJH; mengetahui efektifitas MBJH terstandar sebagai
suplemen agen imunomodulator antioksidan. Secara kusus penelitian ini bertujuan:
1. Mengetahui efektifitas pemberian jangka panjang dosis 1 atau 2 ml/hari MBJH
sebagai terapi tambahan pada pasien DM terhadap pencegahan kejadian penyakit
ginjal kronik (PGK) di puskesmas atau rumah sakit.
2. Mengetahui keamanan pemberian jangka panjang dosis 1 atau 2 ml/hari MBJH
sebagai terapi tambahan pada pasien DM, hipertensi atau dislipidemia rawat jalan di
Puskesmas atau rumah sakit.
3. Mengetahui mekanisme farmakodinamik biomolekuler antioksidatif dan
imunomodulator pemberian jangka panjang dosis 1 atau 2 ml/hari MBJH sebagai
terapi tambahan nefroprotektor pada pasien rawat jalan DM, dislipidemia atau
hipertensi di puskesmas atau rumah sakit.
4. Mengetahui hasil kajian farmakoekonomi koterapi MBJH pada pasien berisiko tinggi
CKD dalam mencegah kejadian CKD.

D. Manfaat, Urgensi dan Kontribusi Penelitian


Tersedianya data tentang mekanisme kerja imunomodulator MBJH sangat diperlukan
untuk pengembangan lebih lanjut bahan alam tersebut. Mengingat bahwa minyak lemak tak
jenuh dan timokuinon yang merupakan zat aktif utama minyak biji jinten hitam merupakan
senyawa potensial sebagai antioksidan dan imunomodulator maka penelitian ini sangat penting
untuk dilakukan. Kegiatan penelitian seperti ini penting untuk dilakukan di Indonesia mengingat
Indonesia memiliki kekayaan alam berupa tanaman atau tanaman obat yang potencial sebagai
imunomodulator herbal yang melimpah yang siap dikembangkan menjadi produk-produk
fitokimia terstandart. Penelitian ini paling tidak akan memberikan manfaat sebagai berikut:

7
- Manfaat Teoritik : Memberikan informasi tentang mekanisme farmakodinamik serta
melengkapi informasi manfaat biji jinten hitam sebagai tanaman obat yang disebut dalam hadist
Nabi SAW, sehingga bangunan pengetahuan atau ilmu tentang sindroma metabolik tentang
khasiat obat biji jnten hitam lebih komprehensif sebagai bahan ajar.
- Manfaat Metodologik : Metode uji klinik bisa memberikan gambaran farmakodinamik lebih
realistis dan relevan dengan sistem enzim dan perkembangan genetik fenomena imunologi dan
stres oksidatif sindroma metabolik.
- Manfaat Praktis: mendapatkan prototipe produk yang dapat dikembangkan lebih lanjut
sebagai produk yang dimungkinkan memiliki nilai ekonomi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1.Penyakit Ginjal Kronik (PGK)
(a). Definisi PGK (end stage renal disease).
Gagal ginjal adalah penyakit yang ditandai dengan adanya penurunan fungsi ginjal. Penyakit
gagal ginjal dibedakan menjadi gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronik (KDIGO, 2013).
Penyakit gagal ginjal akut biasanya terjadi oleh karena adanya hipoksia pra renal yang berakhir
pada iskemia jaringan ginjal sehingga menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubulus ginjal dan
menghambat atau mengganggu fungsi penyaringan oleh glomerulus atau glomerulus filtration
rate (GFR) menurun yang bersifat sementara atau reversible (Levey et al., 2003). Pengertian
gagal ginjal kronik adalah abnormalitas struktur dan fungsi ginjal selama lebih dari 3 bulan yang
berimplikasi pada kesehatan penderita (KDIGO, 2013). Kriteria diagnosis gagal ginjal kronik
adalah sbb (1) Kerusakan ginjal dengan atau tanpa penurunan GFR yang dapat diketahui dari
adanya gambaran kelainan secara histopatologis atau adanya marker kerusakan ginjal, termasuk
didalamnya adalah adanya albuminuria, adanya kerusakan struktur yang dinyatakan melalui
pemeriksaan imaging, gangguan elektrolit dan abnormalitas lain yang mencirikan adanya
kelainan tubulus, abnormalitas susunan darah atau susunan urin pada test mikroskopis, riwayat
transplantasi ginjal dan (2) GFR <60 ml/min/1.73 m2, dengan atau tanpa kerusakan ginjal

8
(KDIGO, 2013; Levey et al., 2003, Stevens et al., 2006). Berbeda dengan gagal ginjal akut, pada
gagal ginjal kronik kerusakan struktur ginjal atau penurunan GFR bersifat irreversibel.
KDIGO (2013) merekomendasikan pembagian atau klasifikasi penyakit ginjal kronik
berdasarkan kausa, nilai GFR dan albuminuria (KDIGO, 2013). Berdasarkan nilai GFR,
penyakit ginjal kronik dibagi menjadi 6 klas, yaitu klas G1, G2, G3a, G3b, G4 dan G5.
Berdasarkan klasifikasi dari KDIGO 2013, yang termasuk penyakit ginjal kronik terminal
adalah klasifikasi G5 yaitu penyakit ginjal yang ditandai dengan GFR< 15ml/menit/1,73 m2
dengan atau tanpa hemodialisis. Klasifikasi penyakit ginjal yang didasarkan pada GFR menurut
KDIGO 2013 ini berbeda dengan klasifikasi penyakit ginjal kronik yang didasarkan pada klirens
kreatinin maupun kadar kreatinin serum. Berdasarkan klasifikasi terdahulu, penyakit ginjal
kronik terminal (ESDR/ GKT) didefinisikan sebagai gagal ginjal kronik dengan penurunan
fungsi filtrasi glomerulus yang dinyatakan dengan kliren kreatinin <5 ml/menit dan kadar
kreatinin serum lebih dari atau sama dengan 10 mg/dL sehingga membutuhkan bantuan
hemodialisis secara rutin (Mitch et al., 1990).
(b). Patogenesis dan manifestasi klinik Penyakit ginjal kronik terminal
Manifestasi klinik penyakit ginjal kronik biasanya merupakan manifestasi dari adanya kerusakan
struktur ginjal atau gangguan fungsi filtrasi ginjal, antara lain adanya keluhan penurunan jumlah
kencing yang dikeluarkan, kencing berwarna lebih tua, adanya darah pada kencing, peningkatan
ureum atau kreatinin serta anemia yang kadang-kadang membutuhkan hemodialisis. Pada
keadaan dimana terjadi gangguan fungsi filtrasi dari ginjal biasanya diikuti dengan kenaikan
kadar kreatinin dan ureum darah. Penyakit gagal ginjal kronik yang membutuhkan tindakan
hemodialisis rutin atau transplantasi organ ginjal disebut dengan PGKT atau end stage renal
disease (ESRD). Progresifitas penyakit ginjal diakibatkan oleh 3 hal yaitu glomerulosklerosis,
fibrosis tubulointerstisial dan sklerosis vaskular. Semua bentuk penyakit ginjal kronik
berhubungan dengan kerusakan tubulointerstisial yang nyata. Pada penyakit ginjal kronik lanjut
terjadi kelainan tubulointerstisial, dapat menyebabkan atropi tubulus dan atau obstruksi, bahkan
mengakibatkan kehilangan nefron (Fliser, 2010; Levey, 2007; Davison, 2005; Remuzi & Bertani,
1998).
Stres pada renal oleh berbagai sebab termasuk rokok merupakan pemicu terjadinya reaksi
inflamasi yang mendorong terjadinya gangguan homeostasis hemodinamik, struktur dan fungsi
tubulus. Mekanisme patofisiologi terjadinya respon inflamasi akibat stres dan faktor-faktor yang

9
terlibat, baik sel imun, mediator inflamasi maupun growth hormon, serta bagaimana mekanisme
perbaikan disajikan pada Gambar 2. Dua mekanisme perbaikan yang dilakukan oleh ginjal ada 2
yaitu restorasi hemodinamik dan reparasi integritas dan fungsi tubulus (Kasal et al., 2012; Kim
et al, 2011; Lee et al., 2010; Chalmer and Kaskei, 2006; Imberti et al., 2007; Kaysen and
Eiserich, 2004).
(c). Epidemiologi Penyakit Ginjal Kronik Terminal (end stage renal diseases)
Gagal ginjal kronik sering juga disebut penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan penyakit kronik
yang menjadi salah satu permasalahan utama kesehatan di masyarakat (Schoolwerth et al., 2006;
Kher, 2002). Penyakit ginjal kronik telah mengalami epidemik, senantiasa terjadi penambahan
kasus baru yang semakin meningkat dari tahun ketahun sementara kasus lama masih dalam
perawatan dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang besar dan kualitas hidup rendah
(Murtagh et al., 2007; Scott et al., 2007; Nelson & Lotfy., 1999; Wu et al., 2004; 2003; Moist et
al., 2008).
Di Amerika terjadi kenaikan tajam penderita penyakit ginjal kronik dan penyakit ginjal
kronik terminal, kasus baru penyakit ginjal kronik terminal pada tahun 1978 kurang lebih sebesar
14.500 sedangkan pada tahun 2002 naik menjadi 100.359 (Schoolwerth et al., 2006). Kasus baru
PGKT pada tahun 2004 di Amerika serikat sebesar 104.000, naik 1,5% dari tahun 2003
sedangkan penderita yang mendapatkan dialisis sebanyak 336.000 atau naik sebesar 3-4 % dari
tahun 2003. Pada tahun 2004 di Amerika serikat prevalensi penderita yang mendapatkan
transplantasi ginjal lebih dari 136.000 atau naik 5-9 % dari tahun 2003. Pada tahun 2006 jumlah
penderita PGK di Amerika sebanyak 19,2 juta atau 11% dari populasi dewasa sedangkan yang
mengalami PGKT sebesar 0,22% populasi (Schoolwerth et al., 2006).
Rata-rata umur insidensi penderita PGKT di Amerika adalah 64,6 tahun. Pada warga kulit
hitam angka kejadian PGKT oleh karena diabetika mulai meningkat pada kelompok umur 30-39
tahun, sedangkan pada warga kulit putih besarnya angka kejadian PGKT adalah sama pada
semua kelompok umur. Di Amerika angka kejadian PGKT pada kaum laki-laki lebih tinggi
dibandingkan pada wanita (Schoolwerth et al., 2006; ESRD Incidence Study Group, 2006).
Penyakit ginjal kronik terminal dapat mengakibatkan prematuritas dalam kesakitan dan kematian
serta penurunan kualitas hidup serta mahal dalam perawatannya. Angka kematian akibat PGKT
di Amerika serikat mencapai 71.000 pada tahun 2000 dan diperkirakan akan meningkat
mencapai 352.000 pada tahun 2030 (Tonelli et al., 2006; Schoolwerth et al., 2006). Insidensi

10
PGKT di Taiwan adalah tertinggi. Telah terjadi kenaikan tajam insidensi chronic kidney disease
(CKD/PGK) di Taiwan dari 1,99 % pada tahun 1996 menjadi 9,83 % pada tahun 2003. Angka
insidensi PGK di Taiwan tahun 2003 adalah sebesar 135 tiap 10.000 orang per tahun. Faktor-
faktor yang berhubungan dengan kejadian PGK di Taiwan adalah umur (OR=13,95 untuk di atas
75 tahun dibandingkan 20 tahun), diabetes melitus, hipertensi, hiperlipidemi dan jenis kelamin
wanita (Kuo et al., 2007).
Di Jepang telah terjadi kenaikan tiga kali lipat pengguna renal replacement therapy
(RRT) antara 1983-2000, sehingga jumlah pengguna RRT pada tahun 2000 mencapai lebih dari
31.000 orang (Wakai et al., 2004). Di Jepang kejadian ESRD pada kelompok laki-laki lebih
besar dibandingkan pada kelompok wanita. Insidensi ESRD di Jepang tertinggi terjadi pada
kelompok umur 80-84 tahun yaitu sebesar 1432 tiap 1 juta penduduk untuk laki-laki dan 711 tiap
1 juta penduduk untuk wanita (Wakai et al., 2004).
Penelitian epidemiologi multi negara oleh The ESRD incidense Study Group menunjukkan
bahwa insiden PGKT di negara-negara Asia dan negara berkembang lainnya adalah lebih tinggi
dibandingkan negara di Eropa, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan insidensi PGKT di
Australia dan New Zealand. Gambaran Age-and sex standardized incidense rates (ASR) PGKT di
Malaysia pada berbagai kelompok yaitu kelompok umur 0 -14 tahun adalah 96 tiap 1 juta
penduduk, 15-29 tahun adalah 26 tiap 1 juta penduduk, 30-44 tahun adalah 77 tiap 1 juta
penduduk dan 45-64 tahun adalah 306 tiap 1 juta penduduk (The ESRD Incidense Study Group,
2006).
Sebagaimana di negara-negara berkembang lainnya, insidensi dan prevalensi PGKT di
Indonesia juga belum diketahui dengan pasti. Besarnya insidensi PGKT di Indonesia
diperkirakan sebesar 100-150 orang tiap 1 juta penduduk pertahun. Besarnya prevalensi PGKT
di Indonesia diperkirkan sebesar 200 250 orang tiap 1 juta penduduk pertahun (Bakri, 2005).
Besarnya insidensi dan prevalensi PGK dan PGKT di Yogyakarta juga belum diketahui.
(d). Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian PGK. Dari hasil penelitian, faktor-faktor yang
diduga berhubungan dengan kejadian dan progresifitas penyakit PGK antara lain umur, jenis
kelamin, etnik, berat lahir rendah, berat badan, status sosial ekonomi dan kondisi keluarga
(Hallan et al., 2006; Shidler et al., 1998), merokok, tekanan darah, kholesterol darah, alkohol
dan obat terlarang lainnya, obat analgetika & NSAID, hiperurisemia dan diabetes (Agarwal and

11
Andersens., 2005; Kasiske & Klinger, 2000; Mcclelan & Flanders, 2003; Haroun et al., 2003;
Schwartz et al., 1999; Sietsma et al., 2000). Sedangkan yang menjadi penanda utama PGK
adalah CRP, pro-BNP , hemoglobin, GFR dan albuminuria (Mcclelan & Flanders., 2003).
Berdasarkan sifat dapat atau tidaknya faktor-faktor risiko PGK untuk diubah, faktor risiko PGK
dibagi menjadi tiga yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko yang dapat diubah
dan faktor risiko yang dapat diobati. Faktor risiko PGK yang dapat diubah melalui pendidikan
antara lain merokok, minum alkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang lainnya, perilaku
hidup tak sehat, paparan zat-zat toksik dan penyalah gunaan obat-obatan analgetik (Fored, 2003;
Schawrtz et al., 1999). Termasuk dalam faktor risiko PGK yang dapat diobati adalah tekanan
darah tinggi, kencing manis, infeksi hepatitis C, dislipidemia dan proteinuria (Bergman et al.,
2005; Chen et al., 2004; Retnakaran et al., 2006; Romani et al., 2011; Remuzzi et al., 2002),
sedangkan faktor risiko yang tidak dapat diubah dan diobati adalah jenis kelamin, ras atau etnik
dan umur (Fored, 2003).
Berdasarkan peran atau aktifitas faktor risiko dalam mekanisme patogenesis PGKT, faktor risiko
PGKT dibedakan menjadi (i) faktor risiko suseptibilitas dan inisiasi meliputi: umur, riwayat
keluarga, etnik, jenis kelamin, DM, sindroma metabolik, ekskresi albumin normal tinggi,
dislipidemia, nefrotoksin, penyakit ginjal primer, penyakit urologi, infeksi penyakit
kardiovaskuler; (ii) faktor risiko pemacu atau progresi: penurunan jumlah nefron, proteinuria,
SBP>130 mmHg, konsumsi diet tinggi protein, obesitas, anemia, dislipidemia, merokok,
nefrotoksin dan penyakit kardiovaskuler (Lin et al., 2014;Chang et al., 2012; Taal & Brenner,
2006)
Akhir-akhir ini mulai terjadi kecenderungan baru penyakit ginjal yaitu banyak anak muda usia
mulai dijangkiti PGK. Sejak tahun 2005, kurang lebih 25 persen dari penderita penyakit ginjal
yang menjalani terapi hemodialisis di RS PKU berusia kurang dari 40 tahun. Penyakit ginjal
kronik di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh hipertensi dan diabetes, sedangkan di negara
Eropa diakibatkan oleh diabetes dan hipertensi. Kondisi hiperurisemia dibuktikan dalam
beberapa penelitian klinis berhubungan dengan kejadian hipertensi dan penurunan fungsi ginjal.
Penurunan kadar ureum pada prediabetes yang disertai dengan hipertensi atau prehipertensi
dengan penurunan fungsi ginjal dengan obat penurun asam urat (allopurinol 2x 300 mg pagi/
malam atau konsumsi buah sirsak 2 kali 100 mg) dilaporkan terjadi penurunan tekanan darah
menjadi lebih terkontrol serta perbaikan fungsi ginjal (Sja'bani et al., 2014; Pasalic et al., 2011).

12
Upaya promotif preventif perlu dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi hiperurisemia.
Penelitian klinis menunjukkan peran asam urat pada hipertensi. Hiperurisemia diduga terlibat
dalam progresi PGK melalui mekanisme hipertensi glomeruler, disfungsi endotel, dan efek
proinflamasi (Lin et al., 2014; Chang et al., 2012; Taal & Brenner, 2006).
2. Sindroma metabolik, stres oksidatif, inflamasi dan Penyakit Ginjal kronik diabetik

Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik dengan ciri klinis kadar gula darah melebihi
nilai normal (Semiardji, 2004; WHO, 1999; Grundy, 2004). Pada tahun 1998 the World Health
Organization mengajukan nama metabolic sindrom yang didefinisikan dengan adanya 2 atau
lebih abnormalitas metabolik (pada pasien diabetes) atau resistensi insulin dengan 2 atau lebih
gejala (Isomaa et al, 2001): hipertensi dengan perlakuan atau tekanan darah >160 / >90 mmHg,
Trigliserida 150 mg/dL, HDL <35 mg/dL pada laki-laki, atau <40 mg/dL pada perempuan,
Rasio lingkar pinggang >0.90 pada laki-laki atau >0.85 pada wanita dan Mikroalbuminuria.
Resistensi insulin, hipertensi, obesitas abdominal dan peningkatan marker inflamasi dianggap
sebagai karakteristik yang mencolok dari sindrom metabolik (Pitsavos, 2006; (Marti, 1998;
Adriansjah dan Adam, 2006; IDF, 2005).
Suatu hipotesis menyatakan bahwa penyebab primer DM atau Sindrom Metabolik adalah
resistensi insulin (Shahab, 2007). Menurut pendapat Tenebaum (2003) penyebab sindrom
metabolik adalah : (i) gangguan fungsi sel dan hipersekresi insulin untuk mengkompensasi
resistensi insulin. Hal ini memicu terjadinya komplikasi makrovaskuler (Mis.komplikasi
jantung). (ii) Kerusakan berat sel menyebabkan penurunan progresif sekresi insulin, sehingga
menimbulkan hiperglikemia. Hal ini menimbulkan komplikasi mikrovaskuler (Mis: nephropathy
diabetica) (Anggraeni, 2007). Hipotesis lain juga menyatakan bahwa penyebab primer SM
adalah resistensi insulin (RI). RI berkorelasi dengan timbunan lemak visceral yang dapat
ditentukan dengan mengukur lingkar pinggang atau waist to hip ratio. Hubungan antara RI dan
PKV diduga dimediasi oleh terjadinya stress oksidatif yang menimbulkan disfungsi endotel yang
akan menyebabkan kerusakan vaskuler dan pembentukan atheroma. Hipotesis lain karena
perubahan hormonal yang mendasari terjadinya obesitas sentral. Suatu studi membuktikan
bahwa individu yang mengalami kadar kortisol dalam serum (yang disebabkan oleh stress
kronik) mengalami obes sentral, RI dan dislipidemia. Para peneliti juga mendapatkan bahwa
ketidakseimbangan aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal yang terjadi akibat stress akan

13
menyebabkan terbentuknya hubungan antara gangguan psikososial dan infark miokard
(Tjokroprawiro, 2006; Semiardji, 2004; Widjaya et al., 2004).
Patofisiologi SM masih menjadi kontroversi, namun hipotesis yang paling banyak diterima
adalah resistensi insulin. Obesitas merupakan komponen utama kejadian DM maupun SM,
namun mekanisme yang jelas belum diketahui secara pasti (Furukawa, et al, 2004). Pada keadaan
diabetes, stres oksidatif menghambat pengambilan glukosa di sel otot dan sel lemak serta
menurunkan sekresi insulin oleh sel- pankreas. Stres oksidatif secara langsung mempengaruhi
dinding vaskular sehingga berperan penting pada patofisiologi terjadinya diabetes tipe 2 dan
aterosklerosis (Ceriello, 2004). Dari beberapa penelitian diketahui bahwa akumulasi lemak pada
obesitas dapat menginduksi keadaan stress oksidatif yang disertai dengan peningkatan ekspresi
Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphatase (NADPH) oksidase dan penurunan ekspresi
enzim antioksidan (Sartika, 2006; Mahan, 2003). Pada kultur sel adiposa, peningkatan kadar
asam lemak meningkatkan stres oksidatif melalui aktivasi NADPH oksidase sehingga
menyebabkan disregulasi sitokin proinflamasi IL-6 dan MCP-1. Akumulasi peningkatan stres
oksidatif pada sel adiposa dapat menyebabkan disregulasi adipokin dan keadaan SM. Furukawa
dkk (2004) menunjukkan bahwa kadar adiponektin berhubungan terbalik dengan stres oksidatif
secara sistemik.
Secara global insiden SM meningkat dengan cepat. Data epidemiologi menunjukkan
bahwa prevalensi SM Di dunia adalah 20-25 % (Fattah, 2006) dan senantiasa mengalami
peningkatan (Adriansyah & Adam, 2006 ; National Center for Health Statistics; Flegal et
al,1998). Faktor risiko SM antara lain adalah gaya hidup (pola makan, konsumsi alkohol, rokok,
dan aktivitas fisik), sosial ekonomi dan genetik serta stress (Arief, 2008; Susenas 2004). Hasil
penelitian Esmaillzadeh (2006) di Tehran Iran diperoleh bahwa konsumsi sayur dan makanan
tinggi serat dihubungkan dengan rendahnya risiko kejadian sindrom metabolic (Pitsavos, 2006;
Suyono, 2001). Esposito et al menunjukkan bahwa Mediterranien diet yang kaya buah dan
sayur, menurunkan marker inflamasi dan disfungsi endotel. Konsumsi 5 porsi sayur dan buah
sehari direkomendasikan untuk mengurangi risiko penyakit kronis (Esmaillzadeh et al, 2006
;Esposito et al, 2004; Lipoeto, 2002).
(b).Stres oksidative dan Peranan Antioksidan Pada Kejadian Penyakit Ginjal kronik
diabetik

14
Secara normal, tubuh mempunyai strategi yang sistematis untuk menghambat pembentukan
radikal bebas, atau untuk mempercepat degradasi senyawa tersebut. Sistem ini dapat dibagi
menjadi dua kelompok besar, yaitu sistem pertahanan preventif seperti enzim superoksida
dismutase; copper zinc-superoxid dismutase (Cu, Zn-SOD) dan manganese superoxide dismutase
(Mn-SOD), katalase, dan glutation peroksidase dan sistem pertahanan melalui pemutusan reaksi
radikal seperti -tokoferol (vitamin E), vitamin C, dan vitamin A. Jenis radikal bebas sangat
reaktif dan dapat menyebabkan berbagai kerusakan adalah radikal bebas oksigen seperti anion
superoksida (O2-), radikal hidroksi (OH-), hidrogen peroksida (H2O2), serta lipid peroksida
(Nguyen et al., 2009). Radikal bebas oksigen dapat bermuatan positif, negatif, atau netral.
Hemoglobin merupakan salah satu antioksidan dalam tubuh karena dapat berikatan dengan
radikal bebas. Peningkatan jumlah hemoglobin yang mengalami glikasi menimbulkan stres
oksidatif oleh karena menurunnya kemampuan hemoglobin berikatan dengan radikal bebas dan
memperantarai terjadinya kerusakan ginjal (Selvaraj et al.,2008). Beberapa radikal bebas
digunakan oleh sistem imun sebagai senjata toksik yang oleh fagosit digunakan untuk
membunuh bakteri dan virus. Radikal bebas yang merusak tubuh ini umumnya dapat dinetralisir
oleh antioksidan. Senyawa yang tergolong dalam kelompok antioksidan ini akan menyerahkan
satu atau lebih elektronnya kepada radikal bebas sehingga menjadi molekul yang normal kembali
dan menghentikan kerusakan yang ditimbulkan (Kaysen et al., 2004).
Respon tubuh terhadap injuri akibat stres oksidatif, hipoksia maupun infeksi adalah reaksi
inflamasi. Adanya ledakan oksidatif pada mitokhondria akibat meningkatnya metabolisme
seluler karena meningkatnya aktivitas sel makrofag dapat menghasilkan reactive oxygen species
(ROS). Senyawa ROS yang terbentuk akibat ledakan oksidatif tersebut kemudian dapat
membangkitkan INOS dan kemudian memacu pembentukan nitrat oksida (NO). Dalam jumlah
yang tidak berlebihan senyawa NO maupun ROS memegang peran fisiologis penting pada proses
signaling dalam sel, termasuk signaling pada makrofag dan monosit sehingga memacu respon
inflamasi (Rajpathak et al., 2008; Ohkita et al., 2008; Murphy et al., 2005).
Seiring dengan penurunan kapasitas antioksidan tubuh, akibat paparan radikal reaktif juga
terjadi peningkatan konsentrasi malondialdehid (MDA) yang menunjukkan adanya kerusakan sel
akibat oksidan. Peningkatan kadar ROS, bersama dengan penurunan aktivitas enzim antioksidan,
menghasilkan ketidakseimbangan kapasitas oksidan/antioksidan yang berakibat pada kerusakan
sel. Ketidakseimbangan kapasitas oksidan/antioksidan ini tetap dipertahankan lama setelah

15
penarikan diri dari nikotin dan kondisi ini menjadi lebih buruk dengan usia yang semakin tua.
Peningkatan kadar ROS yang diinduksi nikotin pada janin dan neonatus sebagai konsekuensi dari
ibu perokok akan mengakibatkan tidak hanya kerusakan pada DNA mitokondria tetapi juga
kerusakan pada DNA nukleus. Ada kemungkinan nikotin dan ROS mengakibatkan perubahan
pada kapasitas mitokondria untuk memberikan energi dan untuk berpartisipasi dalam mekanisme
homeostatik dan mengubah "program" yang mengontrol pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan
(Maritz & Harding, 2011). Gambar 7 menjelaskan tentang mekanisme biomolekuler stress
oksidatif serta keterlibatan sitokin dan mediator inflamasi pada fase inisiasi maupun pada fase
resolusi.
Stres oksidatif dan kerusakan jaringan atau seluler merangsang respon imun inflamasi
sebagai sistem pertahanan alamiah. Oksidan dan stres oksidatif yang berlebihan memacu
munculnya respon inflamasi kronik berlebihan dan destruktif. Inflamasi melibatkan interaksi
komplek antara komponen seluler dan protein terlarut sistem imun (cytokines, chemokines,
adhesion and co-stimulatory molecules) sebagai respon adanya injuri atau trauma seluler
maupun jaringan akibat paparan infeksi, nefrotoksik, hipoksia, stress oksidatif maupun autoimun.
Inflamasi kronik telah terbukti secara epidemiologi dan laboratorik sebagai salah satu faktor
risiko kejadian penyakit degeneratif, aterosklerosis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),
autoimun dan glomerulosklerosis. Kenaikan protein inflamasi dalam sirkulasi, protein C reaktif
(CRP) plasma dan amiloid A merupakan prediktor utama penyebab semua kematian dan
kematian akibat kardiovaskuler pada pasien PGKT. Meskipun pada awalnya reaksi inflamasi
merupakan sistem pertahanan untuk membebaskan tubuh dari pathogen namun begitu apabila
reaksi inflamasi berlebihan maka dapat bersifat destruktif yang diperankan oleh limfosit dan
kolagen sehingga dapat berakhir sebagai PGKT, diabetes mellitus dan aterosklerosis. Enam
tahapan patofisiologi PGKT yaitu : (i) hypefiltration glomerular, (ii) memburuknya proteinuria,
(iii) menurunnya sitokin dan kemokin secara tajam, (iv) inflamasi jaringan nephron, (v) tubular
epithelial-mesenchymal transition (EMT),dan (vi) fibrosis dan pembentukan jaringan parut
nephron. Mekanisme patofisiologi kejadian PGKT lainnya adalah hilangnya fungsi penyaringan
dan akumulasi penumpukan metabolit proinflamasi serta produk akhir metabolism glukosa,
peningkatan stress oksidatif sebagai akibat berkurangnya antioksidan (Zn, Se, vitamins C and E)
dan infeksi (Liu, 2006; Chalmer and Kaskei., 2006).

16
Bukti ilmiah laboratorik terbaru menunjukkan bahwa radikal reactive merupakan induktor
aktivasi jalur signaling Wnt/-catenin, yaitu jalur signaling untuk aktivasi proses EMT (Zou et
al., 2013). Nikotin terbukti mengaktivasi jalur signaling Wnt3a yang kemudian diikuti
peningkatan ekspresi aktin, vimentin, matrix metalloproteinases-9, dan kolagen tipe I pada otot
polos dan sebaliknya terjadi penurunan ekspresi E-cadherin, seiring dengan perubahan struktur
glomerulus dan tubulus renalis dengan peningkatan jaringan ikat fibrosa yang merupakan ciri
khas pada EMT (Zou et al., 2013; Chen et al., 2004; Liu, 2006). Selain itu nikotin juga terbukti
menstimulasi pelepasan transforming growt factor (TGF-1). Secara in vitro TGF-(1) terbukti
berperan pada proses EMT akibat paparan nikotin melalui aktivasi jalur wnt3a//-catenin (Jensen
et al., 2012).
Secara in vitro sudah dibuktikan bahwa inflamasi berhubungan dengan kalsifikasi vaskuler.
Sitokin proinflamasi, terutama TNF memegang peranan penting pada kalsifikasi vaskuler. TNF-
alpha juga terbukti menstimulasi ekspresi bone morphogenetic protein 2 (BMP2) pada sel
mesensimal. Pada hewan uji DM yang diinduksi streptozocin menyebabkan respon inflamasi
pembuluh darah yang dicirikan dengan peningkatan ekspresi TNF-alpha, IL-1b dan IL-8 (Fliser,
2010).
Ischemia renal injury (IRI) mengaktivasi respon inflamasi sehingga sel endotel aktif, adesi
lekosit dan jebakan serta sumbatan aliran darah. Inflamasi pasca iskemia ginjal memicu aktivasi
molekul adesi lekosit, toll like receptor (TLR) dan menurunkan aktivitas faktor transkripsi,
kesemua faktor-faktor tersebut berkontribusi terhadap kerusakan integritas endothelium
pembuluh darah ginjal. Molekul-molekul adesi seperti integrin dan selektin sepanjang proses
inflamasi bersama dengan sitokin proinflamasi menyebarkan cedera seluler tidak hanya secara
lokal di sel-sel epitel tubulus ginjal tetapi juga ke berbagai jaringan jauh yang memiliki fenotipik
genomic serupa. Meskipun sitokin TNF dan intercellular adhesion molecule (ICAM)-1
dihilangkan namun gagal memperbaiki respon inflamasi pasca acute kidney injury (AKI).
Pemberian sitokin -melanocyte-stimulating hormone (-MSH), sitokin antiinflamasi dan
antiapoptosis terbukti dapat melindungi ginjal dari kerusakan akibat reaksi inflamasi berlebihan.
Pemberian Treg adoptif pada hewan uji dengan perlakuan IRI terbukti dapat memperbaiki reaksi
inflamasi dan mencegah kerusakan ginjal (White and Hassoun, 2012).
(c). Antioksidan dan kejadian Penyakit ginjal kronik

17
Senyawa-senyawa yang mampu menghilangkan, membersihkan, menahan pembentukan,
ataupun meniadakan efek spesies oksigen reaktif disebut antioksidan (Zhu et al., 2005).
Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan
elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu sama sekali dan dapat memutus
reaksi berantai dari radikal bebas. Antioksidan merupakan senyawa penting dalam menjaga
kesehatan tubuh karena berfungsi sebagai penangkap radikal bebas yang banyak terbentuk di
dalam tubuh (Zhu et al., 2005).
Antioksidan adalah bahan kimia yang dapat memberikan sebuah elektron yang sangat
diperlukan oleh radikal bebas sehingga dapat menetralkan radikal bebas. Jenis antioksidan
disajikan pada (Tabel 8). Semakin banyak antioksidan yang digunakan untuk melindungi
membran lemak, sel-sel, protein, dan DNA dalam batas-batas yang tidak membahayakan, maka
akan semakin berkurang kemampuan radikal bebas itu untuk menyerang dan menimbulkan
kerusakan. Penyakit diabetes mellitus, hipertensi dan hiperkholesterolemia merupakan keadaan
yang banyak menghasilkan radikal bebas sehingga tubuh mengalami stres oksidatif dan
membutuhkan banyak antioksidan (Chen et al., 2004; Kang et al., 2003).
Berdasarkan asalnya ada tiga macam antioksidan antara lain antioksidan yang dibuat oleh
tubuh kita sendiri yang berupa enzim antara lain superoksida dismutase, glutation peroksidase
dan katalase. Antioksidan alami yang dapat diperoleh dari tanaman atau hewan yaitu tokoferol,
vitamin C, -karoten, flavonoid, dan senyawa fenolik. Antioksidan sintetik, yang dibuat dari
bahan-bahan kimia yaitu Butylated Hydroxyanysole (BHA), BHT(butylated hydroxytoluene),
TBHQ (tertiary butyl hydroquinone), PG (propyl gallate), dan NDGA (nordihydroguaiaretic
acid) yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah kerusakan lemak (Hu, 2011; Zhu et al.,
2005). Pemberian agen antioksidan berhubungan dengan perbaikan fungsi endotel dan aktivasi
endotelin (Ohkita et al., 2008).
Tubuh mempunyai suatu antioksidan endogen untuk melawan radikal bebas, seperti Ko-
enzim Q-10 dan glutation, termasuk IGF-1 namun antioksidan yang dihasilkan sering tidak
cukup untuk melawan radikal bebas yang beredar di dalam tubuh dalam jumlah yang besar
misalnya kondisi sindroma metabolic (Chen et al., 2004; Kang et al., 2003), oleh karena itu
diperlukan masukan antioksidan dari luar tubuh (Selvaraj et al., 2008; Baylis, 2006; Zhu et al.,
2005). Senyawa yang dihasilkan oleh polusi, asap rokok, kondisi stres, bahkan oleh sinar
matahari akan berinteraksi dengan radikal bebas yang ada di dalam tubuh. Secara tidak langsung,

18
senyawa radikal tersebut bersifat merusak sel sehingga menyebabkan terjadinya suatu penyakit
seperti kardiovaskuler, hipertensi, liver, kanker, gagal ginjal dan penyakit degeneratif lainnya
(Hu, 2011).
Mengkonsumsi antioksidan setiap hari pada kelompok obesitas, dislipidemia, hipertensi dan
DM atau perokok akan mengurangi peluang munculnya penyakit degeneratif dan kardiovaskuler
termasuk gagal ginjal (Ishizawa, 2011). Melalui faktor transkripsi Nfkb senyawa radikal bebas
atau reactive oxygen superfamily mengaktivasi respon inflamasi dan proliferasi sel. Agen
antioksidan antara lain vitamin C, vitamin E, -karoten, zink, selenium, asam amino, sayur hijau,
bunga kol, sayuran kuning, buah-buahan, polong-polongan, padi-padian, serta tumbuhan obat,
selain berinteraksi langsung dengan radikal bebas, antioksidan tersebut akan merangsang respon
kekebalan tubuh. Vitamin A, C dan E merupakan antioksidan kuat dari golongan vitamin yang
dimanfaatkan secara klinis. Vitamin E merupakan antioksidan yang berperan dalam mencegah
oksidasi dan peroksidasi asam lemak tidak jenuh dan fosfolipid membran (Murray et al, 2003).
Stres oksidatif kronik pada sindroma metabolik, hipertensi atau DM dapat menurunkan imunitas
ginjal akibat apoptosis podosit. Pemberian agen antiinflamasi dan antiproliferasi sel,
pentoksifilin, terbukti dapat mencegah kejadian PGK pada penderita DM melalui perbaikan
fungsi endotelin dan endothelium glomerulus (Badri et al., 2011; Fliser, 2010; Zoccali, 2007).

3. Respon Imun, inflamasi dan Peran Limfosit Treg CD4CD25Foxp3


Leukosit atau sel darah putih dan komponen seluler darah lainnya, eritrosit maupun
trombosit, mempunyai fungsi utama dalam sistem pertahanan. Untuk mengungkapkan keadaan
kesehatan tubuh melalui sel-sel leukosit perlu diperhatikan mengenai jumlah dan morfologinya
(Subowo, 1993). Batas normal sel darah putih berkisar dari 4000 sampai 10.000 / mm 3 (Wilson,
2002). Pada kasus infeksi dan pada penderita kanker biasanya ada peningkatan jumlah sel darah
putih karena sel kanker maupun patogen merupakan suatu benda asing (nonself) sehingga akan
membangkitkan respon imun. Hal ini akan memicu terjadinya respon imun yang diperantarai
terutama oleh sel limfosit T.. Dan limfosit T juga akan memicu respon imun limfosit B yang
akan menghasilkan antibodi (Baratawidjaja, 2006). Bangkitnya respon imun banyak
membutuhkan komponen seluler sistem imun termasuk limfosit T sehingga memacu aktivitas
proliferasi pada organ-organ limfoid termasuk limpa. Organ limpa merupakan jaringan limfoid
terbesar, disamping sebagai jaringan retikuloendotelial yang berperan sebagai pembersihan darah

19
yang rusak, juga berperan sebagai gudang penyedia komponen seluler pada respon imun spesifik
untuk menyediakan kecukupan limfosit T CD4Th sebagai pengatur respon imun (Baratawidjaja,
2006).
4. Minyak biji jinten hitam sebagai imunomodulator atau antioksidan Nefroprotektor
4.1.Kandungan zat aktif dan efek farmakologis
Di masyarakat Indonesia dan negara lainnya di dunia jinten hitam dimanfaatkan untuk
mengobati berbagai macam penyakit (Sangat, 2000). Kandungan biji jinten hitam antara lain
minyak tak menguape (25-40%) berupa minyak tak jenuh dan jenuh, minyak menguap (atsiri)
hingga 1, 5% (terdiri dari karven 40-60%, d-limonena, simena dan terpen-terpen, zat pahit
nigelon, dan timokinon), glukosida saponin dan glukosida beracun melantin (Sangat, 2000;
Randhawa and Al-Ghamdi, 2002). Minyak jinten hitam juga banyak mengandung minyak
aromatik, trace elemen, enzim, asam lemak, vitamin dan mineral, termasuk juga omega 3 dan
omega 6. Minyak jinten hitam empirik dan laboratorik memiliki efek sebagai kemopreventif
(Mabrouk et al., 2002), antioksidan (Akrom,2013), hipoglikemik, hipolipidemik, antihipertensi,
hepatoprotektif, antiviral, antibakteri (Akrom et al, 2015), antiinflamasi dan imunostimulan
(Massadeh et al, 2007; Iddalmadeniya et al., 2006; Iddalmadeniya et al., 2003; Nickavar et al.,
2003; Mansour et al., 2001; Sangat, 2000).
4.2.MBJH sebagai antioksidan
Nigellone adalah bentuk polimer dari timokuinon yang memiliki kemampuan
menghambat kerja enzim siklooksigenase dan lipooksigenase pada metabolisme arakhidonat,
sehingga diduga dapat dimanfaatkan sebagai analgetik, antiinflamasi dan antikanker (Calegero
et al, 2007; Basu et al., 2004; Banerjee et al., 2002). Lipooksigenase mengkatalisis pembentukan
leukotrien dari asam arakhidonat, dimana leukotrien berfungsi sebagai mediator inflamasi dan
alergi. Timokuinon juga memiliki efek sebagai antioksidan, antiinfeksi dan antihistamin
(Mursito, 2002). Disamping itu kandungan aktif jinten hitam juga menstimulasi sistem
imun (Akrom et al., 2007; Hidayati & Akrom, 2006; Salem and Hossain, 2000). Telah dilaporkan
bahwa minyak jinten hitam (crude fixed oil) dan senyawa aktifnya yaitu timokuinon
menghambat jalur siklooksigenase dan 5-lipooksigenase dari metabolisme arakhidonat pada
leukosit rongga peritoneal tikus (Randhawa and Al-Ghamdi, 2002). Mekanisme efek analgesik
dan antiinflamasi ini nampaknya terkait dengan penghambatan sintesis eicosanoid dan
kemopreventif (Randhawa and Al-Ghamdi, 2002; Al Ghamdi et.al., 2001). Timokuinon juga

20
mangurangi insidensi dan tumour multiplicity tumor lambung yang diinduksi benzo-a-pyrene
pada mencit. Ekstrak etanolik jinten hitam juga menunjukkan efek sitotoksik terhadap sel kanker
seperti Hep G2, Molt 4 dan sel karsinoma paru lewis (Randhawa and Al-Ghamdi, 2002). Ekstrak
jinten hitam juga mempunyai efek antibakteri baik secara in vito maupun in vivo (Mashhadian &
Rakhshandeh, 2005).
4.3.MBJH sebagi imunomodulator
Sebagai imunomodulator, kandungan bioaktif jinten hitam memiliki aktivitas yang luas.
Kandungan bioaktif jinten hitam dapat menurunkan reaksi inflamasi sebagai respon terhadap
asma dan bahan toksik (Plumbum) (Massadeh et al., 2007), menurunkan sekresi histamin oleh
mast cell (El-Dakhakhny et al., 2000), meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag in vivo pada
hamster yang diinduksi streptozotocin (Fararh et al., 2004). Timokuinon terbukti dapat
menurunkan reaki inflamasi pd bronkhus mencit, menurunkan IgE dan IgG spesifik-OVA,
menurunkan IL-5, IL-4, IL-13 dan meningkatkan IFN pada mencit yang diinduksi ovalbumin
(El-Gazzar et al., 2006), sedangkan peneliti yang sama pernah meneliti tentang efek minyak
menguap jinten hitam dapat menurunkan leukotrien (El-Gazzar et al., 2006). Pemberian ekstrak
jinten hitam pada limfosit dan sel mononuclear secara in vitro dapat meningkatkan produksi IL-
1b dan TNF tetapi tidak berefek pada IL-4 dan IL-8 (Haq et al., 1999). Pada mencit Balb C
yang diinfeksi virus CMV dapat meningkatkan aktivitas CD4, kadar IFN tetapi menurunkan
aktivitas sel NK (Salem & Hossain, 2000). Akrom (2013) melaporkan bahwa pemberian MBJH
yang mengandung timmokuinon dosis 6,8, 68 atau 136 mg/kgBB/hari terbukti meningkatkan
jumlah limfosit CD4, CD8 dan CD4CD25 sehingga mampu menekan karsinogenesis dan reaksi
inflamasi yang berlebihan pada tikus SD yang diinduksi DMBA. Sebelumnya Akrom (2012)
juga telah menunjukkan bahwa kandungan BJH memiliki efek antihematotoksik pada tikus SD
yang diinduksi DMBA dosis besar.
Tabel 8. Hasil uji klinik terapi tambahan BJH berbagai dosis pada pasien SM
Pengarang, jurnal Sediaan dosis & metode Uji Keterangan
Shah, A., Khan, G.M., Badshah, A., 2x250 mg/hari serbuk BJH. It was found that the addition of Nigella
Shah,S.U., Shah, K.U., Mirza, S.A., Clinical trial pd penderita seeds provide beneficial effects in all the
2012. Nigella sativa provides sindroma metabolic. clinical and biochemical parameters for the
adults treatment panel-III of metabolic
protection against metabolic
disorders especially in fasting blood sugar,
syndrome, African Journal of low density lipoproteins and high density
Biotechnology Vol. 11(48), pp. lipoproteins. No sign of toxicity of the
10919-10925 plant appeared in the Group II.

Ibrahim,R.M., Hamdan, N.S., 1x1 gram kapsul berisi serbuk The treatment group showed slight
Ismail1, M., Saini, S.M., Rashid, reduction with no significant difference in

21
S.N.A., Latiff, L.A., Mahmud, R., biji jinten hitam. Trial klinik body weight changes of the respondents.
2013. Protective Effects of Nigella tercontrol However, significant (p<0.05)
sativa on Metabolic Syndrome in improvement was observed in total
Menopausal Women, Advanced cholesterol (TC), triglycerides (TG), low
Pharmaceutical Bulletin, 2014, x(x), density lipoprotein cholesterol (LDL-C),
xxx-xxx high density lipoprotein cholesterol (HDL-
C), and blood glucose (p<0.05).
Najmi, A, Nasiruddin, M., Khan, 1x 500 mg kapsul serbuk biji Nigella sativa can be used as add on drug
R.A., Haque, S.F., 2012. jinten hitam therapy in metabolic syndrome patients
Therapeutic Effect Of Nigella with poor glycemic control. Nigella sativa
Sativa In Patients Of Poor Glycemic is safe and an effective remedy in patients
Control, Asian Journal of of metabolic syndrome.
Pharmaceutical and Clinical
Research
Vol 5, Suppl 3,
Shahzad F. Haque , M. Nasiruddin, Parallel group, interventional, Nigella sativa oil was found to be effective
A. Najmi, 2011. Indigenous herbal randomized, open-labeled, as add-on therapy in patients of insulin
product Nigella sativa proved activecontrol and comparative resistance syndrome, and proved effective
effective as an Anti-obesity therapy study. Medication plus Nigella in alleviating the obesity. Further Nigella
in metabolic syndrome, Int J Med sativa oil 2.5 ml twice daily sativa oil has
Res. ; 1(3):173-176 for a period of six weeks. significant favorable effects on
hyperglycemia and dyslipidemia
Mohtashami, R., Amini, M., Pd populasi sehat. 2.5 ml Administration of 5 ml Black seed oil daily
Huseini, F.H., Ghamarchehre, M., Black seed oil and the other to healthy subjects for two months had
Sadeqhi, Z., Hajiagaee, R., Huseini, group received similarly 2.5 beneficial effects on improving glycemic
F.A., 2011. Blood Glucose Lowering
ml mineral oil two times a profile without any adverse effects.
Effects of Nigella Sativa L. Seeds
Oil in Healthy Volunteers: a day.
Randomized, Double-Blind,
Placebo-Controlled Clinical Trial,
Journal of Medicinal Plants,
Volume 10, No. 39,

E. Landasan Teori
Kandungan aktif dari biji jinten hitam antara lain minyak atsiri (nigelon, timokuinon, dan
timohidrokuinon), alkaloid (nigelicin, nigelidin, nigelimin N-oxide), saponin, asam lemak tak
jenuh (linoleat, linolenat, dan oleat), asam lemak jenuh, asam aminoasam amino dan mineral-
mineral (kalsium, potasium dan sodium) ((El sayed & Fukuhima, 2003; Mousa et.al., 2004;
Randhawa et al., 2002; Iddamaldeniya, 2006, 2003; Akrom, 2007) bersifat sebagai antioksidatif
dan imunomodulator. Pemberian ekstrak etanol N.sativa selama 14 hari pada tikus yang
diinduksi dengan DMBA (7,12-di-methylbenz(a)anthracene) dapat menurunkan marker
tumorigenesis melalui mekanisme imunomodulator yaitu peningkatan kadar TNF sebagai
faktor pemacu apoptosis dan mekanisme antioksidan yaitu menurunkan fragmentasi DNA
(Mousa et.al, 2004; el-Aziz et.al., 2005). Pemberian ekstrak etanol BJH dapat melindungi
kerusakan dna spleenosit akibat stres oksidatif karena radiasi sinar Ro (Rastogi et al, 2010).

22
Timokuinon juga bersifat antioksidan dan antiinflamasi. Lebih jauh telah ditunjukkan mekanisme
aktifitas antioksidatif kandungan BJH yaitu melalui peningkatan enzim antioksidan yaitu
glutation s transferase (GST) dan SOD (Akrom, 2013).
Kandungan BJH sebagai imunomodulator telah banyak dilaporkan. Minyak N sativa
(crude fixed oil) dan senyawa aktifnya yaitu timokuinon menghambat jalur siklooksigenase dan
5-lipooksigenase dari metabolisme arachidonat pada leukosit rongga peritoneal tikus (Randhawa
et.al., 2002). Mekanisme efek analgesik dan antiinflamasi ini nampaknya terkait dengan
penghambatan sintesis eikosanoid dan peningkatan aktivitas respon imun seluler (Randhawa et
al., 2002; Salem & Hossain, 2000;Haq et.al., 1999). Telah dilaporkan juga bahwa kandungan
BJH dapat meningkatkan aktifitas fagositosis, sekresi sitokin dan ROI oleh makrofag (Akrom et
al., 2007; 2008), meningkatkan aktifitas proliferasi dan jumlah limfosit CD4 dan CD8 (Akrom et
al., 2007; 2008; Akrom, 2011; 2012; 2013). Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dibuktikan
bahwa konsumsi BJH oleh penderita kanker dapat meningkatkan jumlah sel T (Salem, 2005) dan
bersifat antihematotoksik (Akrom et al., 2010). Akrom (2013) membuktikan bahwa pemberian
MBJH yang mengandung timokuinon setara dengan dosis 6,8, 68 dan 136 mg/kgbb mampu
menghambat karsinogenesis dengan menurunkan reaksi inflamasi melalui peningkatan jumlah
Treg. Limfosit Treg salah satu komponen utama sistem imun dan bertanggung jawab terhadap
respon imun seluler spesifik terutama untuk pengendalian reaksi inflamasi yang berlebihan dan
bersifat destruktif. Jumlah Treg dapat ditingkatkan jumlahnya dengan pemberian minyak biji
jinten hitam yang mengandung timokuinon.
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit akibat gangguan metabolisme glukosa
dalam tubuh dimanaakan menghasilkan banyak radikal bebas akibat reaksi peroksidasi atau
glikasi yang akan berakibat pada adanya injury seluler (Armstrong et al., 2011; Grune, T., 2005;
Tomasi et al., 2003). Penumpukan radikal bebas pada sindroma metabolik mengakibatkan
terjadinya stres oksidatif dan menimbulkan reaksi inflamasi yang bersifat kronik dan destruktif
yang bersifat patologis pada organ vital yang dapat tercemin pada gambaran darah tepi.
Pemberian imunax yang mengandung MBJH terstandar timokuinon setara dengan kandungan
timokuinon 6,8 atau 136 mg/kgbb dapat menghambat terjadinya progresifitas DM melalui
mekanisme antioksidan yaitu peningkatan enzim antioksidan endogen dan menghambat reaksi
inflamasi yang berlebihan melalui peningkatan jumlah Treg. Pemberian MBJH selama 14 hari
terbukti tidak menggangu fungsi hepar dan fungsi ginjal (Akrom, 2013). Pemberian MBJH

23
selama 21 hari pada tikus SD yang dipapar DMBA terbukti dapat memperbaiki parameter fungsi
hepar dan ginjal atau bersifat nefroprotektor dan hepatoprotektor (Akrom, 2013). Pemberian
imunax selama 20 hari pada relawan sehat aman dan dapat ditoleransi.
F. Hipotesis

1. Pemberian MBJH dosis 1 atau 2 ml/hari jangka panjang sebagai terapi tambahan
pada pasien DM, hipertensi atau dislipidemia rawat jalan i puskesmas atau rumah
sakit adalah efektif untuk pencegahan kejadian penyakit ginjal kronik (PGK)
2. Pemberian MBJH dosis 1 atau 2 ml/hari jangka panjang sebagai terapi tambahan
pada pasien DM, hipertensi atau dislipidemia rawat jalan di Puskesmas atau rumah
sakit adalah aman.
3. Mekanisme farmakodinamik biomolekuler sediaan MBJH sebagai pencegah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit ginjal kronik adalah meningkatkan efektifitas pencapaian
target terapi obat standar dan melalui respon antiinflamasi dengan menurunkan
sitokin proinflamsi TNF-a, IL-,1, TGF-b, meningkatkan jumlah CD4CD25Treg,
meningkatkan kadar Hba1c, HDL dan antioksidan (SOD, katalase, ekspresi Nrf2,
GST,) serta meningkatkan produktifitas sel pankreas, sensitifitas reseptor insulin.
4. Terapi tambahan MBJH pada pasien berisiko tinggi CKD adalah memiliki benefisitas
yang tinggi secara farmakoekonomi dalam pencegahan CKD.

24
BAB III

METODE PENELITIAN
A.Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental praklinik pada tikus SD dan
uji klinik fase 1 dengan desain prospektif randomized controlled trial open label.

Kapsul lunak minyak Biji Jinten hitam terstandar dengan timokuinon

Uji farmakodinamik in vivo:mekanisme Uji profile farmakokinetika


antioksidan-imunomodulator timokuinon in vivo Tahap I

Uji klinik Randomized controlled clinical trial open label pada 209
pasien DM dengan 3 vaiasi dosis (2x1, 2x2 dan 2x3 KLMBJH/hari)

1.Outcome primer: manifestasi klinis (pengukuran berat badan,


vital sign, ADR); 2. Pengamatan darah rutin, urin rutin, kimia Tahap II
darah fungsi ginjal, fungsi kardiovaskuler & fungsi hepar . 3. Profil farmakokinetika
Data keamanan ; 4.Uji respon imun: jumlah CD4th. timokuinondan asam
CD4CD25Foxp3, IL-21; IL-17; IL-1, TGF-b ; 5. Uji mekanisme lemak berdasarkan dosis
antiDM: kadar insulin, KLF-14 dan DPPH-4; 6. uji mekanisme pemberian
antiaterogenik: amiloid, fibrin;

Sediaan kapsul lunak MBJH sebagai koterapi agen hipoglikemik


Tahap
nefroprotektor PGKdiabetik pasien DM III

Keluaran/ tahun I: 2 publikasi ilmiah jurnal internasional;


1 t HKI, 1paten prototipe produk, 1 paten sederhana;
2 buku ajar berisbn ; bahan ajar;

Gambar 1. Tahapan penelitian efek imunomodulator - kemopreventif MBJH .

25
Tujuan, desain, Kegiatan serta keluaran penelitian disajikan pada Tabel 1
Tabel 1. Tujuan dan Metode penelitian prospektif RCT double blinding
Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020
Tujuan 1..profil farmakokinetika dan akfifitas 1..Doasis efektif dan aman MBJH 1..Efektifitas & keamanan Sediaan
nefoprotektor Sediaan kapsul lunak sebagai nefroprotektor pasien DM. kapsul lunak MBJH terstandarisasi
MBJH in vivo pada tikus Diabetik. 2. Profile farmakokinetika biomarker sebagai agen koterapi nefroprotektor
2.Mekanisme antioksidan nefroprotektor MBJH pada pasien pada pasien Diabetes melitus.
MBJH in vivo 3. Mekanisme iantioksidan dan 2.Mekanisme antioksidan
3.Mekanisme imunomodulator munomodulator nefroprotektor MBJH nefroprotektor MBJH
nefroprotektor MBJH in vivo 3.Mekanisme imunomodulator
4. Pilot test nefroprotektor MBJH
Desain Uji Randomized controlled clinical trial Uji Randomized controlled clinical Uji prospektif Randomized controlled
double blind MBJH in vivo trial open label (fase I) MBJH (pilot clinical trial open label MBJH (8
test) bulan)
Subjek 50 tikus SD 210 Pasien diabetes mellitus rawat 210 Pasien diabetes mellitus rawat
jalan di Puskesmas Jetis I jalan di Puskesmas Jetis I
Intervensi dosis 1x1; 2x2 dan 2x3 KL MBJH in dosis 1x1; 2x2 dan 2x3 KL MBJH dosis 1x1; 2x2 dan 2x3 KL MBJH
vivo
Parameter & 1.Manifestasi klinik dan tanda vital: (i) 1.Manifestasi klinik dan tanda vital: 1.Manifestasi klinik dan tanda vital:
Variabel Out Hematologi rutin, (ii) urin rutin, (iii) Hematologi rutin, urin rutin, kimia Hematologi rutin, urin rutin, kimia
come kimia darah fungsi hepar (SGOT, SGPT, darah fungsi hepar (SGOT, SGPT, darah fungsi hepar (SGOT, SGPT,
albumin, bilirubin, feritin), (iv) kimia albumin, bilirubin, feritin), kimia albumin, bilirubin, feritin), kimia darah
darah fungsi ginjal (ureum, kreatinin, darah fungsi ginjal (ureum, kreatinin, fungsi ginjal (ureum, kreatinin,
albuminuria/proteinuria), (v) endokrin albuminuria/proteinuria), endokrin albuminuria/proteinuria), endokrin dan
dan metabolism (IGF-1, GDS, GDPP, dan metabolism (IGF-1, GDS, GDPP, metabolism (IGF-1, GDS, GDPP,
HbA1c, profil lipid, insulin). HbA1c, profil lipid, insulin). HbA1c, profil lipid, insulin).
Biomarker stres oksidative & sistem Biomarker stres oksidative & sistem Biomarker stres oksidative & sistem
antioksidan (HIF, SOD, GST, Nrf2, antioksidan (HIF, SOD, GST, Nrf2, antioksidan (HIF, SOD, GST, Nrf2,
MDA, NO, eNOS). MDA, NO, eNOS). MDA, NO, eNOS).
Biomarker respon imun (IL-1, Tnf-aR, Biomarker respon imun (IL-1, Tnf-aR, Biomarker respon imun (IL-1, Tnf-aR,
IFN-g, CD4, CD4CD25Foxp3, IL-17, IFN-g, CD4, CD4CD25Foxp3, IL-17, IFN-g, CD4, CD4CD25Foxp3, IL-17,
TGF-b) TGF-b) TGF-b)
2.profil farmakokinetika timokuinon 2.ADR/AE:mual, muntah, alergi, 2.ADR/AE:mual, muntah, alergi, syok,
atau asam lemak (kadar timokuinon syok, diare diare
dalam darah, t1/2 dan kadar puncak, 3. kejadian darurat, perawatan ke RS, 3. kejadian darurat, perawatan ke RS,
serta onset) meninggal meninggal
3. Parameter ketoksikan (meninggal,
hepatotoksik, nefrotoksik, imunotoksik)
Hasil/output Produk kapsul lunak MBJH terstandart; Produk kapsul lunak MBJH Produk kapsul lunak MBJH terstandart;
Data efektifitas hipoglikemik terstandart; Data efektifitas hipoglikemik
KLMBJH; data keamanan KLMBJH; Data efektifitas hipoglikemik KLMBJH; data keamanan KLMBJH;
mekanisme antioksidan nefroprotektor KLMBJH; data keamanan KLMBJH; mekanisme antioksidan nefroprotektor
MBJH; mekanisme imunomodulator mekanisme antioksidan nefroprotektor MBJH; mekanisme imunomodulator
nefroprotektor MBJH MBJH; mekanisme imunomodulator nefroprotektor MBJH
nefroprotektor MBJH
Penelitian tahap I (tahun 2018):
Tujuan penelitian tahap I adalah mengetahui aktifitas nefroprotektor, mekanisme
farmakodinamik biomolekuler dan profil farmakokinetika pada hewan uji tikus model nefropati
diabetik. Target penelitian tahap satu adalah (i) diperoleh data aktifitas dan mekanisme
farmakodinamik biomolekuler nefroprotektor MBJH baik melalui mekanisme antioksidatif
ataupun mekanisme imunomodulator pada nefropati diabetik; (ii) data dosis efektif aktifitas
nefroprotektor MBJH pada nefropati diabetik; (iii). Diperoleh data profil farmakokinetik
biomarker zat aktif MBJH sebagai nefroprotektor.

26
Metode penelitian pada tahap I adalah eksperimental laboratorium in vivo. Desain penelitian
tahap pertama adalah pre and post controlled design. Dosis MBJH diberikan 3 peringkat dosis
setara dengan 2x1, 2x2 dan 2x3 KLMBJH pada manusia. Hewan uji yang digunakan adalah tikus
wistar denagn induktor nefropati diabetik adalah streptozotosin.Tiga puluh ekor tikus wistar
dibagi secara acak menjadi 5 kelompok dimana kelompok perlakuan (2x1,2x2 dan 2x3) KL
MBJH/hari.
Bahan dan alat
Seanyak 50 tikus wistar diperoleh dari balai pom jakarta. Hewan uji dirawat pada lab uji
praklinik yang terstandar iso dengan memperhatikan kesejahteraan hewan uji dan tatacara
perawatan hewan uji yang baik sebagaimana ditetapkan dalam kesepakatan dunia dengan
menerapkan prinsip etika kebinatangan. Semua bahan kimia yang digunakan standar analisis dari
sigma.Soft capsul MBJH disiapkan oleh pabrik farmasi dengan sertifikat GMP dan iso
internasional dengan kadar timokuinon berkisar 2.5 3 % vol/volum sejumlah 30250 biji.
Nicotinamide (NA), streptozotocin (STZ), p-nitrophenyl -D-glucopyranoside (pNPG), dan -
glucosidase dibeli dari Sigma-Aldrich, St. Louis, MO, USA. Rat TNF-, rat TGF-b, rat IFN-g,
rat IL-6, and rat IL-1 ELISA kits dibeli dari eBioscience (San Diego, CA USA). Rat insulin
ELISA kit dibeli dari Mercodia AB (Uppsala, Sweden). TBARS, Glutathione, dan Glycogen
assay kits dibeli dari Cayman chemical company (Ann Arbor, MI, USA). Semua bahan kimia
yang lain bergrade analitik dibeli dari Sigma and Merck Chemical Co.

Uji efektifitas/aktifitas dan mekanisme nefroprotektor


Pembagian kelompok dan induksi streptozotosin (zcelik, D., et al., 2012). Sebanyak 30 ekor
hewn uji sesuai dengan kriteria dibagi secara acak menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol
(6 ekor), kelompok diabetik tipe 2 terdiri dari 6 ekor diaman hewan uji diinduksi streptozotosin
60 mg IP. Kelompok perlakuan dimana hewan uji mendapatkan MBJH setelah diinduksi
streptozotosin (GDS>3x kadar GDS pra perlakuan)
Kelompok kontrol: non-diabetic, tak diberi MBJH, tikus menerima 0.9 % w/v saline melalui
gastric gavage. Kelompok perlakuan: hewan uji diberi setara 2x1, 2x2 atau 2x3 KL MBJH
melalui gastrik tube. Kelompok diabetik: diabetes diinduksi pd tikus dengan dosis tunggal injeksi
I.P. (60 mg/kg) streptozotocin (Sigma, St. Louis, MO, USA) setelah hewan uji dipuasakan 16
jam. Kadar gula diperiksa 2 hari atau 3 minggu setelah injeksi streptozotosin Hewan uji dengan

27
kadar gula darah 3x lebih tinggi dari kadar GDS sebelum injeksi dimasukkan dlm kelompok
perlakuan, hewan uji menerima MBJH 3 variasi dosis setelah diinduksi streptozotosin.
A.Uji mekanisme farmakodinamik biomolekuler
Uji antioksidan dan analisis peroksidas lipid dilakukan di departemen patologi klinik dan
Biokimiawi UGM. Pemberian perlakuan dilakukan selama 8 minggu setelah diinjeksi
streptozotosin.
1.Pengukuran fisiolog ginjal dan biokimia darah
1.1.Pemeriksaan biokimiawi darah dan fisiologis ginjal meliputi gula darah serum, HbA1c,
trigliserid,
Kadar gula darah diukur pada hari ke-1, 21 dan 42 dengan menggunakan glucose test reagent
strips dan glukometer dari Accu-Check Active, Roche, Germany. Pada hari pengukuran kadar
GDS juga dilakukan pengumpulan urin 24 jam dann dilakukan pengukuran mikroalbuminuria.
Dengan menggunakan Micral urine test strips (Micral test II urine strips, Roche Diagnostics
GmbH, Germany). Kadar HbA1c juga diukur dengan menggunakan strip khusus untuk HbA1c.
Glycated hemoglobin (HbA1c) diukur dari sampel darah komplit yang diambil pada saat hewan
uji didekapitasi, menggunakan quantitative immunoturbidimetric latex (Sentinel Diagnostic,
Milan, Italy). Kadar TG, kholesterol total, LDL dan HDL, total protein, alkaline phosphatase
(ALP), alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), urea dan creatinine
dianalisa dengan analis biokimiawi otomatis Beckman-700, Fullerton, CA, USA.

1.2. Pemeriksaan fisiologi ginjal: mikroalbuminuria (zcelik, D., et al., 2012)


Creatinine clearance diestimasi dari konsentrasi creatinin serum dan urin yang ditentukan dengan
menggunakan HPL.. Pemeriksaan aktifitas Urinary N-acetylglucosamine (NAG) diukur dengan
colorimetric assay (Roche), dan hasilnya dinyatakan sebagai ratio urinary NAG activityto
creatinine ratio.
1.2. Pemeriksaan kadar insulin
Kadar insulin diperiksa dengan menggunakan metode elisa. Antibodi insulin (santa cruz).
Penetapan kadar insulin
Kadar insulin serum dikuntifikasi dengan Elisa kit rat insulin ELISA kit (Mercodia AB,
Uppsala, Sweden) dengan prosedur sebagaimana anjuran pabrik. Resistensi Insulin (IR/RI)
dihitung menurut model penilaian homeostasis (HOMA) dengan rumus.

28
2.Pemeriksaan biomarker aktivitas antioksidan dan stres oksidatif.
2.1.Aktivitas antioksidative secara umum diamati melalui pengukuran beberapa biomarker.
Dilakukan pada hari ke-1, 21 dan 42. Parameter yang diamati antara lain kadar MDA, kadar
SOD, kadar GST, kadar katalase, kadar NO, ekspresi eNOS, Nrf2 dan HIF (hipoxia induction
factor). Penetapan kadar MDA dan GSH serum dengan kit (Cayman chemical company, Ann
Arbor, MI, USA) dengan prosedur sesuai dari pabrik.
2.2..Pemeriksaan semiquantitative pewarnaan Immunoperoxidase.
Metode skoring digunakan untuk menetapkan aktivitas/ekspresi peroksidase jaringan secara
imunologis. Jenis skoringnya negatif/tanpa ekspresi (), lemah (+), moderate (++) dan kuat (++
+). The expression of MT was evaluated by counting immunopositive cells in tubules, glomeruli
and interstitium in ten randomly selected areas across the whole kidney using a 40 objective.
2.3.Pemeriksaan peroksidasi ginjal dan analisis antioksidan
Ginjal yang akan diuji dicuci 2x dengan salin dingin, diletakkan dalam botol kaca, dilabel dan
disimpan dalam freezer (70 C) selama tidak lebih 10 jam. Setelah ditimbang, setengah sampel
ginjal ditaruh dalam es, diris dalam potongan tipis dan dihomogenisasi selama 2 menit pada
5,000 rpm dalam 1:5w/v es dingin 50 mM, pH 7.4 TrisHCl buffer menggunakan homogenizer
glass Teflon. Masih dalam es, homogenat ditambah dengan 4-L/mL butylhydroxytoluol
dan segera dilakukan penetapan kadar malondialdehyde (MDA) dan GSH-Px serta aktivitas
enzim lainnya.
2.4.Penilaian peroksidasi lipid dan kadar protein
Peroksidasi lipid ditetapkan dengan mengukur MDA di homogenat jaringan sebagaimana
dilakukan peneliti sebelumnya. Kadar MDA dinyatakan micromole per gram protein.
Kandungan protein ginjal ditetapkan dengan metode Lowry et al. dengan bovine serum albumin
sebagai standard.
2.5.Penetapan Glutathione Peroxidase
Aktivitas GSH-Px diukur secara spectrophotometri pada suhu 37 C panjang gelombang at
0412 nm sebagaimana anjuran Lawrence and Burk, dinyatakan dalam internasional unit/gram
protein.
3.Pemeriksaan Biomarker respon imunitas .
3.1. Pemeriksaan respon imun umum

29
Pemeriksaan respon imun umum dilakukan dengan pemeriksaan jumlah CD4Th,
CD4CD25Foxp3Treg, ekspresi IFN-, ekspresi TNF-a, IL-1, TGF-b, IL-17 dan IL-10 dengan
menggunakan flowcytometri. Kadar sitokin di serum ditetapkan dengan metode elisa dengan kit
komersial antara lain kadar TNF-, rat IL-6, dan rat IL-1 (eBioscience, San Diego, CA USA)
sesuai intruksi dari pabrik.
3.2.Pemeriksaan respon imun lokal di ginjal
Pemeriksaan respon imun lokal dilakukan pada podosit. Apoptosis podocyte dinilai dengan
metode the transferase-mediated dUTP nick-end labeling (TUNEL) method menggunakan the
ApopTag In Situ Apoptosis Detection Kit (Millipore, Billerica, MA). Hasil pemeriksaan
apoptosis podosit dinyatakan dalam podosit apoptosis/glomerulus minimal pada 20 glomerulus
yang diambil secara acak. Sebagai kontrol positif adalah Slides yang diberi praperlakuan 20,000
units/ml DNase.
3.3.Immunostaining
Procedures pemeriksaan imunostinng mengikuti petunjuk dari pabrik. Penentuan pewarnaan
imunokimiawi spesifik potongan jaringan diinkubasi sesuai dengan prosedur sebagaimana yang
diintruksikan oleh pabrik sebagaimana prosedur sebelumnya. Serum tanpa antibodi primer
sebagai kontrol negatif.
Potongan jaringan berparafin diberi perlakuan sebagaimana prosedur pada umumya kemudian
diinkubasi dengan antibodi poliklonal rabit anti-rat MCP-1 (l:100 dilution; Boster Biological
Technology, Wuhan, Hubei,China), mouse anti-rat CD68 (l: 200 dilution; Boster Biological
Technology, Wuhan, Hubei, China) dan TGF-1 polyclonal antibody (l: 100 dilution; Santa Cruz,
Texas, USA), pada suhu 37C selama 30 min. Kontrol negatif diinkubasi dengan PBS pada suhu
37C selama 30 menit tanpa diberi antibodi. Kemudian ditambahkan antibodi sekunder pada
potongan jaringan tsb dan diinkubasi kembali. Potongan jaringan tsb kemudian dicat dengan
reagen kromogen DAB (Beijing ZhongshanJinqiao Biotechnology Co., Ltd, Beijing, China) dan
counterstained dengan hematoxylin, setelah itu sediaan dibaca dengan the CM-2000B
biomedicine image analysis system (Beihang, Beijing, China). Lima lapang pandang secara
random dipilih dengan menggunakan perbesaran tinggi (X400), dan jaringan atau sel yang
berwarna coklat dihitung sebagai positif adanya protein yang diperiksa. Dihitung rerata jumah
sel yang positif tiap 2 mm2 dan dihitung proporsinya.
4.Pemeriksaan makro, histopatologi dan imunohisto ginjal serta Biomolekuler

30
4.1. Berat badan dan berat ginjal
Erat badan hewan uji ditimbang dan dicatat seminggu sekali selama masa penelitian. Pada akhir
penelitian hewan uji dikorbankan dengan menggunakan anastesi eter. Dilakukan pembedahan
untuk pengambilan ginjal kiri, kemudin ditimbang dan dicatat berat ginjal tiap hewan uji.
4.2.Analisis histologis
Sampel jaringan ginjal difiksasi dalam larutan 10 % pH7-buffered formalin, kemudian
diembeding dalam paraffin wax, dipotong dalam irisan setebal 5-m, dan dicat dengan Periodic
Acid Schiff (PAS). Taringan kemudian diamati dengan mikroskop cahaya tanpa dikenalkan asal
kelompok hewan uji (pembacaan secara acak).
4.3..Imunohistokimiawi
Analisis Immunohistochemical dilakukan sebagaimana telah dilakukan oleh peneliti
sebelumnya.. Potongan ukuran jaringan ginjal dalam formalin diletakkan pada slides berlapis
gelatin, dilakukan enghilangan wax dan kemudian direhidrasi. Pengecatan Immunoperoxidase
dilakukan menggunakan Histostain-Plus Bulk Kits (Zymed Lab-SA Detection System, Zymed
Laboratories, S. San Francisco, CA, USA), termasuk menggunakan rabbit polyclonal MT
antibody (Santa Cruz Biotech; sc-11377, 1:100 dilution).
4.4. Quantitative real-time RT-PCR.
Total RNA diekstraksi dari kortek renal menggunakan reagen TRIZOL(Invitrogen). Total RNA
(1g) direverse transcrib cDNA menggunakan kit the high-capacity reverse transcription kit
(Applied Biosystems, Monza, Italy). Ekspresi mRNA CB1, nephrin, podocin,ZO-1, transforming
growth factor-1(TGF-1), connective tissue growth factor (CTGF), dan fibronectin dianalisis
dengan TaqMan real-time PCR menggunakan predeveloped TaqMan reagents (Applied
Biosystems;CB1: Mm00432621;nephrin: Mm00497828; podocin: Mm00499929;ZO-1:
Mm01320537;TGF-1:Mm00441724;CTGF: Mm00515790; fibronectin: Mm01256744).
Fluorescence tiap cycle dianalisis secara kuantitatif dan ekspresi gen distandarisasi kenormalan
relatif terhadap ekspresi HPRT. Sebagai kontrol atau referens endogen digunakan WT-1, a
podocyte-specific gene, untuk evaluasi ekspresi nephrin, podocin, dan ZO-1 mRNA.
5. Pemeriksaan histopatologi dan imunokimiawi pankreas
Dilakukan pemeriksaan ekspresi p53, caspase-3 dan Nrf-2 pada jaringan pangkreas.
Uji daya hambat MBJH pada GP- dan -glucosidase

31
Pemeriksaan daya hambat tergadap GP-alfa dan alpa glukosidase menggunakan prosedur yang
telah dilakukan sebelumnya. Secara ringkas prosedur pemeriksaanya adalah, 50 L sample atau
standard dicampur dengan 100 L -glucosidase (0.1 U/mL) dalam phosphate
buffer (0.1 M, pH 6.9) dan diinkubasi pada 37 C selama 10 min. Reaksi akan segera
ditunjukkan ketika ditambahkan p-Nitrophenyl -D-Glucoside (p-NPG, 50 L) dalam phosphate
buffer (0.1 M, pH 6.9) dan diincubasai kembali pada 37 C selama 30 min. Reaksi diterminasi
dengan NaCO3 (1 M, 50 L). Senyawa p-nitrophenol yang dilepas dari p-NPG dengan adanya
-glucosidase dapat dideteksi pada panjang gelombang 405 nm using microplate reader (Sunrise,
Austria). Phosphate buffer (50 L) digunakan sebagai kontrol. Pembacaan Blanko (tanpa
substrate) dikurangkan dari sampel yang dibaca dan persentase penghambatan -Glucosidase
(GI) dihitung dengan menggunakan rumus: GI (%)= [(Acontrol Asample)/Acontrol] 100 .
Pengukuran kandungan glikogen di hepar
Tkandungan glycogen hepar diukur dengan glycogen assay kit (Ann Arbor, MI, USA) dengan
prosedur yang diintruksikan oleh pabrik.
B.Penelitian profile farmakokinetika
Uji profil farmakokinetika biomarker zat aktif MBJH dilakukan in vivo pada hean uji. Dilakukan
pengukuran kadar timokuinon dalam darah atau metabolit timokuinon, dihitung kadar
timokuinon serum rata-rata, t1/2, kadar puncak dan waktu eliminasi. Pengukuran kadar
dilakukan dengan menggunakan HPLC.

Penelitian tahap II pada tahun II dan III


A.Desain Penelitian
Trial klinik open label 3 peringkat dosis MBJH pada pasien DM rawat jalan di PKM Jetis I,
Bantul, DIY.
B.Subjek Penelitian
Jumlah sampel yang ditetapkan pada penelitian ini adalah 209 pasien berisiko tinggi penyakit
ginjal kronik yaitu diabetes mellitus. Subjek penelitian sejumlah 209 pasien DM ditetapkan
berdasarkan hasil penelitian pendahuluan. Hasil penelitian pendahuluan diketahui bahwa pasien
DM rawat jalan di Puskesmas Jetis yang mengalami gangguan fungsi ginjal dini (kadar kreatinin
serum >1,3 mg/dl) sebagai keluaran = 40%, dengan menggunakan rumus besar sampel pada epi
info untuk beda proporsi uji kohort/RCT antara kelompok terpapar dengan yang tak terpapar

32
dengan nilai =90%, =95% dan keluaran pada kelompok perlakuan/terpapar sebesar 20%
maka jumlah minimal sampel keseluruhan adalah 174. Guna mengantisipasi pasien yang
mengalami lost of follow up atau drop out jumlah sampel minimal ditambah 20% sehingga
menjadi 209 pasien.
Relawan yang memenuhi syarat sebagai subjek adalah pasien yang didiagnosis DM tipe 2
dengan kriteria sbb: sudah menjalani terapi obat hipoglikemik paling tidak 3 bulan, mendapatkan
terapi obat hipoglikemik metformin atau glibenklamid atau keduanya atau golongan OHO
lainnya, laki-laki dan wanita berumur 18 60 th dan bersedia menjadi subjek (mengisi inform
consent). Kriteria eklusi subjek antara lain: pasien DM dengan kehamilan, pasien DM dengan
riwayat alergi MBJH, sedang menggunakan obat NSAID, sedang menjalani terapi anti TBC,
gangguan fungsi hati kronik (sirosis hepatis), gangguan fungsi ginjal bawaan, penderita
hipertiroid atau penderita kanker. Dari sejumlah 401 pasien DM di Pukesmas Jetis yang
menjalani rawat jalan dibuat daftar untuk kemudian dilakukan penelusuran riwayat sakit dan
riwayat pengobatan sebagai dasar seleksi sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Pasien yang
sesuai dengan kriteria inklusi dan lolos seleksi dari kriteria eklusi ditetapkan sebagai calon
subjek. Calon subjek kemudian dikumpulkan untuk diberikan penjelasan tentang latar belakang,
maksud, tujuan, manfaat umum dan khusus penelitian serta konsekuensi sebagai subjek uji.
Calon subjek yang bersedia menjadi relawan uji kemudian diminta mengisi form inform consent
dan membubuhkan tanda tangan dengan didampingi saksi.

C.Randomisasi
Sebanyak 210 subjek yang sesuai kriteria yang telah ditetapkan dibagi dalam 3 kelompok secara
acak sederhana dengan perbandingan 1:1:1. Pasien yang terpilih sebagai relawan uji dibuat daftar
sesuai abjadiyah. Penempatan pertama kali untuk masing-masing kelompok uji ditetapkan
dengan cara undian dimana kelompok yang mendapatkan huruf A sebagai kelompok perlakuan I,
B sebagai kelompok perlakuan II dan C sebagai kelompok perlakuan III. Anggauta kelompok
ditetapkan dengan menggunakan urutan berselisih 2 dari daftar pasien yang telah ditetapkan.
Kelompok perlakuan mendapatkan 2x1, 2x2 dan 2x3 KLMBJH selama 12 bulan. Randomisasi
yang digunakan adalah randomisasi acak sederhana. MBJH diberikan dalam dosis yaitu 2x1,
2x2 dan 2x3 soft capsul dberikan selama 26 bulan pada 210 subjek pasien DM/hipertensi yang
dibagi dalam 3 kelompok, masing-masing terdiri 70 pasien.

33
D.Intervensi dan Out come Penelitian
Bahan uji adalah MBJH yang terstandarisasi dengan kadar timokuinon dalam bentuk soft
capsul=SC atau kapsul lunak (KL). Pemberian MBJH dilakukan secara oral dengan variasi 3
dosis (2x1, 2x2 dan 2x3 KLMBJH) selama 12 bulan. Untuk intervensi ini dibutuhkan KL MBJH
sejumlah 30.250 biji.

E.Variabel Penelitian dan definisi variable operasional


Variabel bebas penelitian adalah sediaan MBJH 2x1 ml per oral selama 24 bulan. Variabel
terikat adalah jumlah sel lekosit, jumlah limfosit, eritrosit dan trombosit serta kadar Hb dan
hematokrit. Variabel terkendali adalah jenis kelamin, umur, status kehamilan, riwayat fungsi
hepar dan riwayat gangguan fungsi ginjal.
F. Prosedur kerja
1. Prosedur kerja :
a. Mekanisme rekruitmen Subjek penelitian dan mekanisme randomisasi. Seleksi
calon subjek dilakukan secara acak dengan menetapkan kriteria inklusi dan eklusi sesui tertulis
pada protokol yang telah disyahkan oleh komite etik UAD. Calon subjek penelitan yang
memenuhi kriteria inklusi dan menyatakan bersedia sebagai calon subjek kemudian dilakukan
interview untuk melacak adanya riwayat gangguan fungsi hepar, riwayat gangguan fungsi
ginjal, status kehamilan serta penelusuran riwayat sakit dan pengobatan pada rekam medik.
Wawancara dilakukan oleh tenaga terlatih dan dipandu dengan kuesioner yang telah diuji
falidasinya. Pasien-pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi dan lolos kriteria eklusi
kemudian dilakukan randomisasi sederhana untuk di tempatkan pada kelompok perlakuan atau
kelompok kontrol. Setelah ditempatkan pada kelompok, masing-masing subjek menjalani
pemeriksaan fisik dan hematologi pra perlakuan. Pemeriksaan subjek dilakukan di Puskesmas
Jetis I oleh tenaga medis profesional terlatih.
b. Perlakuan dan pengambilan data .
(1) Persiapan dan pengelompokan subyek uji
Pemberian bahan uji diberikan untuk 10 hari sebagaimana pemberian obat hipoglikemik.
Aderensi pasien dalam inum obat hipoglikemik dan bahan uji dinilai real count melalui
kunjungan rumah. Pada hari kesepuluh (pada saat cek/control pasien diingatkan agar membawa

34
sediaan bahan uji dan obat yang tersisa) dilakukan penilaian aderensi pasien dalam minum obat
dengan menghitung sisa obat.
(2). Pemeriksaan outcome klinik (hematogram, tanda vital) sebagaimana dijelaskan pada
protokol dan penelitian sebelumnya. Tanda vital diperiksa oleh dokter penanggung jawab yang
sudah terlatih. Pemeriksaan hematogram dan kimia darah dilakukan dengan metode
spektrofotometri.
(3). Pemeriksaan biomarker stres oksidatif dan respon antioksidan (MDA, NO, eNOS,
Nrf2, GST, SOD). Pemeriksaan biomarker stres oksidatif dan mekanisme antioksidan MBJH
dilakukan dengan metode spektrofotometri dan Elisa atau flowcytometri sebagaimana dijelaskan
oleh Peneliti sebelumnya (Akrom, 2014).
(4). Pemeriksaan parameter biomarker respon imun jumlah limfosit CD4Th dan
hitung jenis lekosit.
Darah tepi diambil dari vena cubiti oleh tenaga analis yang sudah terlatih dengan
prosedur sebagai mana tertera dalam protokol yang telah direview komite etik penelitian UAD.
Dari darah yang sudah terkumpul kemudian dilakukan pemeriksaan jumlah CD4Th secara
flowcytometry dan hitung jenis lekosit dengan metode spectrometer dengan alat hematoanalyzer
oleh Lab. yang sudah tersertifikasi (Akrom, 2016).
D.Analisis Data
Data gambaran demografi dan klinik subjek disajikan secara deskriptif. Analisis bivariat
untuk menguji uji beda rata-rata jumlah CD4Th dan hitung jenis lekosit menggunakan ANOVA
satu jalan dengan tingkat kepercayaan 95%.
III. Penelitian Tahap III
A.Desain Penelitian
Penelitian open label controlled clinical trial prospektif dengan 2 peringkat dosis MBJH seting
epidemiologi pelayanan primer.
B.Subjek Penelitian
Jumlah sampel yang ditetapkan pada penelitian ini adalah 209 pasien berisiko tinggi penyakit
ginjal kronik yaitu diabetes mellitus. Subjek penelitian sejumlah 209 pasien DM ditetapkan
berdasarkan hasil penelitian pendahuluan. Hasil penelitian pendahuluan diketahui bahwa pasien
DM rawat jalan di Puskesmas Jetis yang mengalami gangguan fungsi ginjal dini (kadar kreatinin
serum >1,3 mg/dl) sebagai keluaran = 40%, dengan menggunakan rumus besar sampel pada epi

35
info untuk beda proporsi uji kohort/RCT antara kelompok terpapar dengan yang tak terpapar
dengan nilai =90%, =95% dan keluaran pada kelompok perlakuan/terpapar sebesar 20%
maka jumlah minimal sampel keseluruhan adalah 174. Guna mengantisipasi pasien yang
mengalami lost of follow up atau drop out jumlah sampel minimal ditambah 20% sehingga
menjadi 209 pasien.
Relawan yang memenuhi syarat sebagai subjek adalah pasien yang didiagnosis DM tipe 2
dengan kriteria sbb: sudah menjalani terapi obat hipoglikemik paling tidak 3 bulan, mendapatkan
terapi obat hipoglikemik metformin atau glibenklamid atau keduanya atau golongan OHO
lainnya, laki-laki dan wanita berumur 18 60 th dan bersedia menjadi subjek (mengisi inform
consent). Kriteria eklusi subjek antara lain: pasien DM dengan kehamilan, pasien DM dengan
riwayat alergi MBJH, sedang menggunakan obat NSAID, sedang menjalani terapi anti TBC,
gangguan fungsi hati kronik (sirosis hepatis), gangguan fungsi ginjal bawaan, penderita
hipertiroid atau penderita kanker. Dari sejumlah 401 pasien DM di Pukesmas Jetis yang
menjalani rawat jalan dibuat daftar untuk kemudian dilakukan penelusuran riwayat sakit dan
riwayat pengobatan sebagai dasar seleksi sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Pasien yang
sesuai dengan kriteria inklusi dan lolos seleksi dari kriteria eklusi ditetapkan sebagai calon
subjek. Calon subjek kemudian dikumpulkan untuk diberikan penjelasan tentang latar belakang,
maksud, tujuan, manfaat umum dan khusus penelitian serta konsekuensi sebagai subjek uji.
Calon subjek yang bersedia menjadi relawan uji kemudian diminta mengisi form inform consent
dan membubuhkan tanda tangan dengan didampingi saksi.

C.Randomisasi
Sebanyak 210 subjek yang sesuai kriteria yang telah ditetapkan dibagi dalam 3 kelompok secara
acak sederhana dengan perbandingan 1:1:1. Pasien yang terpilih sebagai relawan uji dibuat daftar
sesuai abjadiyah. Penempatan pertama kali untuk masing-masing kelompok uji ditetapkan
dengan cara undian dimana kelompok yang mendapatkan huruf A sebagai kelompok perlakuan I,
B sebagai kelompok perlakuan II dan C sebagai kelompok perlakuan III. Anggauta kelompok
ditetapkan dengan menggunakan urutan berselisih 2 dari daftar pasien yang telah ditetapkan.
Kelompok perlakuan mendapatkan 2x1, 2x2 dan 2x3 KLMBJH selama 12 bulan. Randomisasi
yang digunakan adalah randomisasi acak sederhana. MBJH diberikan dalam dosis yaitu 2x1 atau

36
2x2 MBJH dan plasebo 2x3 soft capsul dberikan selama 26 bulan pada 210 subjek pasien
DM/hipertensi yang dibagi dalam 3 kelompok, masing-masing terdiri 70 pasien.
D.Intervensi dan Out come Penelitian
Bahan uji adalah MBJH yang terstandarisasi dengan kadar timokuinon dalam bentuk soft
capsul=SC atau kapsul lunak (KL). Pemberian MBJH dilakukan secara oral dengan variasi 3
dosis (2x1, 2x2 dan 2x3 KLMBJH) selama 12 bulan. Untuk intervensi ini dibutuhkan KL MBJH
sejumlah 30.250 biji.

E.Variabel Penelitian dan definisi variable operasional


Variabel bebas penelitian adalah sediaan MBJH 2x1 ml per oral selama 24 bulan. Variabel
terikat adalah jumlah sel lekosit, jumlah limfosit, eritrosit dan trombosit serta kadar Hb dan
hematokrit. Variabel terkendali adalah jenis kelamin, umur, status kehamilan, riwayat fungsi
hepar dan riwayat gangguan fungsi ginjal.
F. Prosedur kerja
1. Prosedur kerja :
a. Mekanisme rekruitmen Subjek penelitian dan mekanisme randomisasi. Seleksi
calon subjek dilakukan secara acak dengan menetapkan kriteria inklusi dan eklusi sesui tertulis
pada protokol yang telah disyahkan oleh komite etik UAD. Calon subjek penelitan yang
memenuhi kriteria inklusi dan menyatakan bersedia sebagai calon subjek kemudian dilakukan
interview untuk melacak adanya riwayat gangguan fungsi hepar, riwayat gangguan fungsi
ginjal, status kehamilan serta penelusuran riwayat sakit dan pengobatan pada rekam medik.
Wawancara dilakukan oleh tenaga terlatih dan dipandu dengan kuesioner yang telah diuji
falidasinya. Pasien-pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi dan lolos kriteria eklusi
kemudian dilakukan randomisasi sederhana untuk di tempatkan pada kelompok perlakuan atau
kelompok kontrol. Setelah ditempatkan pada kelompok, masing-masing subjek menjalani
pemeriksaan fisik dan hematologi pra perlakuan. Pemeriksaan subjek dilakukan di Puskesmas
Jetis I oleh tenaga medis profesional terlatih.
b. Perlakuan dan pengambilan data .
(1) Persiapan dan pengelompokan subyek uji
Pemberian bahan uji diberikan untuk 10 hari sebagaimana pemberian obat hipoglikemik.
Aderensi pasien dalam inum obat hipoglikemik dan bahan uji dinilai real count melalui

37
kunjungan rumah. Pada hari kesepuluh (pada saat cek/control pasien diingatkan agar membawa
sediaan bahan uji dan obat yang tersisa) dilakukan penilaian aderensi pasien dalam minum obat
dengan menghitung sisa obat.
(2). Pemeriksaan outcome klinik (hematogram, tanda vital) sebagaimana dijelaskan pada
protokol sesuai penelitian sebelumnya.
(3). Pemeriksaan biomarker stres oksidatif dan respon antioksidan (MDA, NO, eNOS,
Nrf2, GST, SOD) sebagaimana dijelaskan pada protokol sesuai penelitian sebelumnya
(4). Pemeriksaan parameter biomarker respon imun jumlah limfosit CD4Th dan hitung
jenis lekosit.
Darah tepi diambil dari vena cubiti oleh tenaga analis yang sudah terlatih dengan
prosedur sebagai mana tertera dalam protokol yang telah direview komite etik penelitian UAD.
Dari darah yang sudah terkumpul kemudian dilakukan pemeriksaan jumlah CD4Th secara
flowcytometry dan hitung jenis lekosit dengan metode spectrometer dengan alat hematoanalyzer
oleh Lab. yang sudah tersertifikasi (Akrom, 2008).
(5). Penilaian benefisitas koterapi MBJH sebagai nefroprotektor pada pasien berisiko
tinggi dalam mencegah kejadian PGK pasien rawat jalan di puskesmas atau rumah sakit.
D.Analisis Data
Data gambaran demografi dan klinik subjek disajikan secara deskriptif. Analisis bivariat
untuk menguji uji beda rata-rata jumlah CD4Th dan hitung jenis lekosit menggunakan ANOVA
satu jalan dengan tingkat kepercayaan 95%.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas. A.K., Litchman, A.H., 2004. Basic Immunology: Function and disorder and the immune system,
Scond edition, Elsevier, Shang hai
Adrianjah, H dan Adam, J., 2006. Sindroma Metabolik:Pengertian, Epidemiologi, dan Criteria
Diagnosis. Informasi laboratorium prodia No.4/2006.
Akrom, 2013. Mekanisme kemoprefentif ekstrak heksan BJH pada tikus SD diinduksi
DMBA:kajian antioksidan dan imunomodulator, Disertasi, Program Doktor Ilmu
Kedokteran dan kesehatan FK UGM, Yogyakarta

38
Akrom, 2013. EFEK PEMBERIANK MINYAK BIJI JINTEN HITAM SELAMA 21 HARI
TERHADAP GAMBARAN FUNGSI HEPAR, GINJAL DAN GAMBARAN
DARAH TEPI TIKUS SD, Laporan Penelitian Mandiri, LPP UAD, Yogyakarta
Akrom, 2012. GAMBARAN HISTOPATOLOGI JARINGAN MAMAE DAN PROSENTASE
JUMLAH MONOSIT SERTA NETROFIL DARAH TEPI PADA TIKUS SD YANG
DIINDUKSI DMBA (DIMETHYLBENZANTRACENE) SETELAH MENDAPAT
MINYAK BIJI JINTEN HITAM, Laporan penelitian Mandiri, LPP UAD, Yogyakarta
Akrom, 2012. PENGEMBANGAN FRAKSI KAYA TIMOKUINON MINYAK BIJI JINTEN
HITAM SEBAGAI HERBAL TERSTANDAR AGEN IMUNOMODULATOR
HEMATOPROTEKTOR UNTUK PENDERITA KANKER DENGAN
KEMOTERAPI, Laporan Penelitian Hibah Bersaing, LPP UAD, Yogyakarta
Akrom, 2011. PENGARUH PEMBERIAN MINYAK BIJI JINTEN HITAM TERHADAP JUMLAH LIMFOSIT T SITOLITIK
(CTL) PADA TIKUS SD YANG DIINDUKSI DMBA (DIMETHYLBENZANTRACENE), LPP UAD,
Yogyakarta
Akrom, 2004. Efek ekstrak etanol Herba meniran (Phyllanthus niruri L) Terhadap Respon Imun
Seluler Mencit Galur SWISS Jantan Selama Diinfeksi Plasmodium Berghei : Studi
imunomodular fitokimia, Tesis, Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta
Akrom, Khoiri, N., Suhana, Y., Mustofa, 2007. Pengaruh pemberian ekstrak etanol biji Jinten
hitam (N.sativa Lour) terhadap aktivitas fagositosis dan sekresi ROI makrofag
mencit jantan galur Balb C secara in vitro, Seminar Nasional Tanaman Obat dan
obat tradisional, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat
Tradisional Badan Litbang Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Solo, 10-11 Juli
2007
Akrom, Mustofa, Mubarika, S., Setyanto, HNE., 2013. The chemopreventive and
immunomodulator effect of black seed oil on SD rat induced by DMBA, Proceeding
enhacing International collaborative research on education, sciencees and humanities,
Naga City, Philipines, June 19-21, 2013
Akrom, Mustofa, Marsetyawan HNE, Mubarika, 2010. Immunostimulatory and antihematotoxic
effect of ethanolic extract and crude oil of black seed (Nigella sativa, L.) in female
rats induced by 7.12-dimethylbenz () anthracene (DMBA), Seminar nasional dan
Konggres IKAFI, Yogyakarta, 17-20 September 2010
Akrom, Nurani, L.N., Hidayati, T., 2007. Kajian aktivitas imunomodulator agen kemopreventif
isolate aktif ekstrak N.sativa pada kanker payudara akibat paparan DMBA pada tikus
putih, Laporan Penelitian, LPP UAD, Yogyakarta
Akrom, Nurani, L.N., Hidayati, T., 2008. Kajian aktivitas imunomodulator agen kemopreventif
isolate aktif ekstrak N.sativa pada kanker payudara akibat paparan DMBA pada tikus
putih, Laporan Penelitian, LPP UAD, Yogyakarta
Akrom, Wijaya, A., Djannah, S.N., 2007. Effect of the ethanolic extract of Nigella sativa on
phagocytosis activity of macrophage male swiss mice during infection of Listeria
monocytogenes, The 4th International Eijkman Conference, Bali, 15-18 November
2007
Al Ghamdi MS, 2001. The antiinflamator, analgesic and antipyretic activity of Nigella sativa, 55
: 379-382. Departemen of Pharmacology King Faisal University Collage of Medicine.
www.elseiver.com. Desember 2002
Almatsier, S., 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

39
Angraeni, D., 2007. Mewaspadai Adanya Sindrom Metabolic. (Online). (http://labcito.co.id.,
diakses 24 Desember 2008]
Anwar, T., 2004. Faktor risiko penyakit jantung koroner. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. (online) (http://library.usu.ac.id/download/fk/gizi-bahri10.pdf ,
Diakses 1 Januari 2009)
Arambepola, C. et al, 2007. Gender Differential of Abdominal Obesity Among the Adults in the
District of Colombo, Sri Langka. Preventive Medicine 44 (2007) 129-134. (online,
www.sciencedirect.com Diakses 18 Desember 2006)
Arief, I. 2008. mencegah obesitas dengan mengurangi waktu nonton tv. artikel.(online)
(www.pjnhk.go.id./view/808/31, diakses 1 Januari 2009)
Armstrong, D., Gadoth, N., Gobel, H.H., 2011. Oxidative Stress in Applied Basic Research and
Clinical Practice: Oxidative Stress and Free Radical Damage in Neurology,
HUMANA Pres, Springer New York Dordrecht Heidelberg London
Awad, E.M., 2005. In vitro decreases of the fibrinolytic potential of cultured human
fibrosarcoma cell line, HT1080, by Nigella sativa oil., Phytomedicine, 12(1-2):100-7
Badary OA, Abd-Ellah MF, El-Mahdy MA, Salama SA, Hamada FM, 2007. Anticlastogenic
activity of thymoquinone against benzo(a)pyrene in mice, Food Chem Toxicol,
45(1):88-92
Badary OA, Al-Shabanah OA, Nagi MN, Al-Rikabi AC, Elmazar MM, 1999. Inhibition of
benzo(a)pyrene-induced forestomach carcinogenesis in mice by thymoquinone, Eur J
Cancer Prev.,8(5):435-40
Badary OA, Gamal El-Din AM, 2001. Inhibitory effects of thymoquinone against 20-
methylcholanthrene-induced fibrosarcoma tumorigenesis., Cancer Detect
Prev.,25(4):362-8
Bajak, E.Z., 2005. Genotoxic stress:novel biomarkers and detection methods uncovering RNAs
role in epigenetics of carcinogenesis, Dissertation, Karolinska University Press,
Sweden
Baratawidjaja, K.G. 2004. Imunologi Dasar. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
BPS. 2005. Laporan Hasil Susenas 2004
Bray, GE., Ryan, DH. 2006. Overweight and The Methabolic Sindrome: from Bench to Bedside.
Springer Science.
Burits M and Bucar F, 2000. Antioxidant activity of Nigella sativa essential oil. Phytother Res;
14 (5): 323-8
Ceriello A, Motz E. Is Oxidative Stress the Pathogenic Mechanism Underlying Insulin
Resistance, Diabetes and CVD?, Arterioscler Thromb Vac Bio 2004 ; 24 : 816-823.l
Corthay, A., 2009. How do Regulatory T Cells Work?, Scandinavian Journal of Immunology 70,
326336
Curiel, T.J., 2007. Tregs and rethinking cancer immunotherapy, J. Clin. Invest., 117(5): 1157-74
Deliver, P.J. and Roit, I.M., 2000. The immune system, NEJM, 343(2): 108-17
Denardo, D.G. and Coussens, L.M., 2007. Balancing immune response:crosstalk between
adaptive and innate immune cells during breast cancer progression, Breast Cancer
Res., 9: 212
El Aziz, M. A., Hassan, H. A., Mohammed, M.H., Meki, A. R., 2005. The Biochemical and
morphological alterations following administration of melatonin, retinoic acid and

40
Nigella sativa in mammary carcinoma:an animal model, int. J. Exp Pathol, Dec,
86(6):383-96
El-Dakhakhny M, Barakat M, El-Halim MA, Aly SM, 2000. Effects of Nigella sativa oil on
gastric secretion and ethanol induced ulcer in rats., J Ethnopharmacol., 72(1-2): 299-
304
El Gazzar M, El Mezayen R, Marecki JC, Nicolls MR, Canastar A, Dreskin SC., 2006. Anti-
inflammatory effect of thymoquinone in a mouse model of allergic lung inflammation.
Int Immunopharmacol, 6(7): 1135-42
El Gazzar M, El Mezayen R, Nicolls MR, Marecki JC, Dreskin SC, 2006. Downregulation of
leukotriene biosynthesis by thymoquinone attenuates airway inflammation in a mouse
model of allergic asthma. Biochim Biophys Acta, 1760(7):1088-95
El-Mahdy MA, Zhu Q, Wang QE, Wani G, Wani AA., 2005.Thymoquinone induces apoptosis
through activation of caspase-8 and mitochondrial events in p53-null myeloblastic
leukemia HL-60 cells., Int J Cancer, 117(3): 409-17.
El-Rayes, B.F., Ali, S., Heilbrun, L.K., Lababidi, S., Bouwman, D., Vischer, D., Philip, P.A.,
2003. Cytochrome P450 and Glutathione Transferase Expression in human breast
cancer, Clinical Cancer research, 9:1705-09
El Sayed, I., and Fukushima S., 2003. Chemopreventive potential of volatile oil from black
cumin (Nigella sativa L) seeds against rat colon carcinogenesis. J., of Nutrit and
Cancer. 45 (2):195-202
Farah, I.O., and Begum, R.A., 2003. Effect of Nigella sativa (N. sativa L.) and oxidative stress
on the survival pattern of MCF-7 breast cancer cells., Biomed Sci Instrum, 39:359-64
Fararh, K.M., Atoji Y, Shimizu Y, Shiina T, Nikami H, Takewaki T, 2004. Mechanisms of the
hypoglycaemic and immunopotentiating effects of Nigella sativa L., oil in
streptozotocin-induced diabetic hamsters, Res Vet Sci, 77(2):123-9
Fehervari, Z. and Sakaguchi, S., 2004. CD4Tregs and Immune control, J.Clin Invest, 114
(9):1209-17
Fonseca, V., 2008. Therapeutic Strategies METABOLIC SYNDROME, CLINICAL
PUBLISHING OXFORD, Oxford Centre for Innovation Mill Street, Oxford OX2 0JX,
UK
Fouda, AM, Daba MH, Dahab GM, Sharaf El-Din OA, 2008. Thymoquinone ameliorates renal
oxidative damage and proliferative response induced by mercuric chloride in rats.,
Basic Clin Pharmacol Toxicol,103(2):109-18
Gali-Muhtasib, H., Diab-Assaf, M., Boltze, C., Al-Hmaira, J., Hartig, R., Roessner, A.,
Schneider-Stock, R., 2004. Thymoquinone extracted from black seed triggers
apoptotic cell death in human colorectal cancer cells via a p53-dependent mechanism,
Int J Oncol.,25(4):857-66
Gali-Muhtasib, H., Kuester, D., Mawrin, C., Bajbouj, K., Diestel, A., Ocker, M., Habold, C.,
Foltzer-Jourdainne, C., Schoenfeld, P., Peters, B., Diab-Assaf, M., Pommrich, U.,
Itani, W., Lippert, H., Roessner, A., Schneider-Stock, R.., 2008. Thymoquinone
triggers inactivation of the stress response pathway sensor CHEK1 and contributes to
apoptosis in colorectal cancer cells, Cancer Res.;68(14): 5609-18
Gali-Muhtasib H, Roessner A, Schneider-Stock R, 2006. Thymoquinone: a promising anti-cancer
drug from natural sources, Int J Biochem Cell Biol., 38(8):1249-53

41
Gao, J., Mitchell, L.A., Lauer,F.T., Burchiel, S.W., 2008. p53 and ATM/ATR Regulate 7,12-
Dimethylbenz[a]anthracene-Induced Immunosuppression, Molecular Pharmacology,
Vol. 73, No. 1
Grune, T., 2005. Free Radicals and Diseases: Gene Expression, Cellular Metabolism and
Pathophysiology, IOS Press, Amsterdam Berlin Oxford Tokyo Washington, DC
Gu, D., Reynolds K, Wu X, Chen J, Duan X, Reynolds RF, Whelton PK, He J, 2005. Prevalence
of The Metabolic Syndrome and Overweight Among Adults in China. Lancet
365:13981405
Hadju, V., 2003. Bahan Bacaan Mata Kuliah Dietetik Masyarakat. Makassar. Jurusan Gizi FKM
Unhas.
Haq, A., Lobo, P.I., Al Tufail, M., Rama, N., R., Al Sedairy, S., T., 1999. Immunomodulatory
effect of Nigella sativa proteins fractionated by ion exchange chromatography, Int. J.
Immunopharmacol,. 21(4):283-95
Hayens, B., et al, 2003. Buku Pintar Menaklukkan Hipertensi. Jakarta: Ladangpustaka &
Intimedia.
Hidayati, T.and Akrom, 2006. Pengaruh ekstrak etanol jintan hitam terhadap aktivitas fagositosis
makrofag mencit Swiss yang diinfeksi P.berghei secara in vitro, prosiding seminar
nasional farmakoterapi, Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UAD,
Yogyakarta : 14 Januari 2006
Hidayati, T. dan Akrom, 2009. The effect of Nigella Sativa seed extract on the reactive oxygen
intermediates (ROI) secretion and phagocytosis activity by macrophages in DMBA-
induced female SD rat, Seminar internasional, Yogyakarta, 17-18 januari 2009
Ibrahim,R.M., Hamdan, N.S., Ismail1, M., Saini, S.M., Rashid, S.N.A., Latiff, L.A., Mahmud,
R., 2013. Protective Effects of Nigella sativa on Metabolic Syndrome in Menopausal
Women, Advanced Pharmaceutical Bulletin, 2014, x(x), xxx-xxx
Iddalmadeniya, S.S., Thabrew, M.L., Wickramasinghe, S.M.D.N., Ratnatunge, N.,
Thammitiyagodage, M.G., 2006. A long-term investigation of the anti-
hepatocarcinogenic potential of an indigenous medicine comprised of Nigella sativa,
Hemidesmus indicus and Smilax gabra, J. Carcinog, 8(1):6
Iddalmadeniya, S.S., Thabrew, M.L., Wickramasinghe, S.M.D.N., Ratnatunge, N.,
Thammitiyagodage, M.G., 2003. Protections against diethylnitrosoamine-induced
hepatocarcinogenic by an indigenous medicine compromised comprised of Nigella
sativa, Hemidesmus indicus and Smilax gabra, J. Carcinog, 2(1):6
IDF. 2005. The IDF Concencus Worldwide Definition of the Metabolic Syndrome.(online)
(www.idf.org, diakses 20 Januari, 2009)
Inoue, S. Zimmet P. Caterson I. 2000. The Asia Pasific Perspective: Redefining Obesity and Its
Treatment. Health Communication. Australia.
Isomaa B et al. Cardiovascular morbidity and mortality associated with the metabolic syndrome.
Diabetes Care. 2001;24:683-689.
Jia, WP. KS Xiang, L. Chen, JX Lu, YM. Wu. Epidemiological Study on Obesity and Its
Comorbidities in Urban Chinese Older than 20 Years of Age in Shanghai China.
Obesity Reviews, 2002 ; 3:157165
Jiang, H. and Chess, L., 2004. An integrated view of suppressor T cell subsets in
immunoregulation, J.Clin. Invest., 114(9):1198-208

42
Khan, N., Sharma, S., Sultana, S., 2003. Nigella sativa (black seed) ameliorates potassium
bromated-induced early events of carcinogenesis: diminution of oxidative stress,
Human & Experimental Toxicology, 22:193-203
Khan R, Buse J, Ferrannini E, Stern M. The metabolic Syndrome: Time for a Critical Appraisal:
Join Statement from the American Diabetes Association and the European
Association for the Study of Diabetes. Diabetes Care 2005; 28: 2289-2304
Kaplan, N.M. Smoking and hypertension. 2009 (online) (www.patient/autor/content.do?
topickey=hiperten5360 diakses 6 November 2009).
Kim, B.J et al. Association of Smoking status, Weight Changes, and incident Metabolic
syndrome in Men : A 3-Year Follow-Up Study. Diabetes care, 2007 (32:7)
Kim, D.M. et al. National Prevalence of Obesity: Prevalence of Obesity in Korea. Obesity
Review (2005) 6, 117-121.
Kresno, S.B., 2001. Imunologi : Dignosis dan Prosedur Laboratorium . Ed. Keempat. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia

Kusmana, D., 2007. Rokok & kesehatan jantung. (online) (http://www.kardiologi-


ui.com/newsread.php?id=312 , diakses 29 Desember 2008)
Lipoeto, N., 2002. Consumption of Minangkabau Traditional Food and Cardiovascular Disease
in west sumatra, indonesia. Monash university
Mabrouk, G.M., Moselhy, S.S., Zohny, S.F., Ali, E.M., Helal, T.E., Amin, A.A., Khalifa, A.A.,
2002. Inhibition of methylnitrosourea (MNU) induced oxidative stress and
carcinogenesis by orally administered bee honey and Nigella grains in Sprague
Dawely rats., J Exp Clin Cancer Res.,21(3):341-46
Majalah Farmacia, 2007. Stress Oksidatif, Faktor Penting Penyulit Vascular. (online)(
www.combiphar.com/ahp, diakses 2 Januari, 2009)
Marquezine G., F, Oliveira CM, Pereira AC, Krieger JE, Mill JG, 2008 Metabolic Syndrome
Determinants in An Urban Population from Brazil: Social Class and Gender-Specific
Interaction. Int J Cardiol 129:259265
Mansour, M.A., Ginawi, O.T., El-Hadiyah, T., El-Khatib, A.S., Al-Shabanah, O.A., Al-Sawaf,
H.A., 2001. Effects of volatile oil constituents of Nigella sativa on carbon
tetrachloride-induced hepatotoxicity in mice: evidence for antioxidant effects of
thymoquinone., Res Commun Mol Pathol Pharmacol.,110(3-4): 239-51
Mashhadian, N.V., & Rakhshandeh, H., 2005, Antibacterial and antifungal effects of N.sativa
Extracts against S. aureus, P. araginosa and C. albicans, Pak J Med Sci, 21:147-52
Massadeh, A.M., Al-Safi, S.A., Momani, I.F., Al-Mahmoud, M., Alkofahi, A.S., 2007. Analysis
of cadmium and lead in mice organs: effect of Nigella sativa L. (Black Cumin) on the
distribution and immunosuppressive effect of cadmium-lead mixture in mice., Biol
Trace Elem Res, 115(2):157-67
Mbarek, L.A., H. Ait Mouse, H.I., Elabbadi, Bensalah,M., Gamouh, A., Aboufatima, R.,
Benharref, A., Chait, A., M. Kamal, M., Dalal, A., and Zyad, A., 2007. Anti-tumor
properties of blackseed (Nigella sativa L.) extracts, Braz J Med Biol Res, 40(6):839-47
a
Meiyanto , E., Sugiyanto, and R. Murwanti. 2004. Efek Anti Karsinogenesis Ekstrak Etanol
Tanaman Daun Dewa (Gynura procumbens (Luor) Merr) pada kanker Payudara Tikus
yang diinduksi dengan Dimetilbenz(a)antrazena (DMBA). Penelitian Hibah Bersaing,
6-12

43
Meiyantob, E., Susilowati, Sitarina, Arifin, I., 2004, Efek Antimutagenik ekstrak etanolik daun
Gynura procumbens (Lour.) Merr. Pada kanker payudara tikus terinduksi DMBA
melalui induksi enzim GST hepar dalam seminar Perhimpunan Biokimia dan Biologi
Molekuler Indonesia Yogyakarta
Misra, A., et al., 2001. High Prevalence of Diabetes, Obesity and Dyslipiddaemia in Urban Slum
Population in Northern India. International Journal of Obesity. Nov.2001.Vol 25,
No.11:1722-1729.
Misra, A. and Khurana, L., 2008. Obesity and the metabolik syndrome in developing countries. J
Clin Endocrinol Metab, November 2008, 93(11):S9S30. (online) (
http://jcem.endojournals.org, diakses 14 April 2009).
Misra A, Sharma R, Pandey RM, Khanna N., 2001. Adverse Profile of Dietary Nutrients,
Anthropometry and Lipids in Urban Slum Dwellers of Northern India. Eur J Clin
Nutr 55:727734.
Mohtashami, R., Amini, M., Huseini, F.H., Ghamarchehre, M., Sadeqhi, Z., Hajiagaee, R.,
Huseini, F.A., 2011. Blood Glucose Lowering Effects of Nigella Sativa L. Seeds Oil
in Healthy Volunteers: a Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Clinical
Trial, Journal of Medicinal Plants, Volume 10, No. 39,
Mousa, D., Dilsiz, N.,, Gumushan, H., 2004. Antitumor activity of an ethanol extract of Nigella
sativa seeds, Biologia-Bratislava, 59(6):735-40
Mulyasih, A.B., and Akrom, 2009. The Effect Chemoprevention of the ethanolic ectract seed
Nigella sativa L. IN DMBA induced female Sprague Dawley rat and thin layer
chromatogrphi profile, seminar internasional, Yogyakarta, 17-18 Januari 2009
Musa, D., Dilsiz, N., Gumushan, H., 2004. Antitumor activity of an etanol extract of Nigella
sativa seeds, Biologia-Bratislava, 59(6):735-40
Najmi, A, Nasiruddin, M., Khan, R.A., Haque, S.F., 2012. THERAPEUTIC EFFECT OF
NIGELLA SATIVA IN PATIENTS OF POOR GLYCEMIC CONTROL, Asian
Journal of Pharmaceutical and Clinical Research Vol 5, Suppl 3, 2012
Najmi, A., Nasiruddin, M., Khan, R.A., Haque,S.F., 2013. Indigenous Herbal Product Nigella
Sativa Proved Effective As An Antihypertensive In Metabolic Syndrome, Asian
Journal of Pharmaceutical and Clinical Research Vol 6, Issue 1,
Nelson,B.H., 2004. IL-2, Regulatory T Cells, and Tolerance, The J.Immunol., 172: 39833988.
NHLBI. 1998. Clinical Guidelines on the Identification, Evaluation, and Treatment of
Overweight and Obesity in Adults: The Evidence Report. (Online),
(www.nhlbi.nih.gov/guidelines/obesity/ob_gdlns.htm, diakses Desember 2008)
Nickavar, B., Mojab, F., Javidnia, K., Amoli, M., A., 2003. chemical composition of the fixed
and volatile oils of Nigella sativa L. from Iran, J. Naturforsch, 58(9-10): 629-31
Parhizkar, S., Latiff,L.A., Rahman, S.A., Hanachi, P., Dollah, M.A., 2011. Metabolic Impact of
Nigella sativa extracts on Experimental Menopause Induced Rats, Journal of Applied
Pharmaceutical Science 01 (09); 38-42
Parhizkar, S., Latiff1, L.A., Rahman, S.A., Dollah, M.A., 2011, Preventive effect of Nigella
sativa on metabolic syndrome in menopause induced rats, Journal of Medicinal Plants
Research Vol. 5(8), pp. 1478-1484
Parslow, T.G., Stites, D.P., Terr, A.I., Imboden, J.B., 2003. Med. Immunol., tenth edition, Boston
Pitsavos, C. et al, 2006. Diet, Exercise and Metabolic Syndrome. The Review of Diabetic
Studies: DOI 10. 1900?RDS.2006.3.118 (online), (www. The-RDS.org, dikases 10
Desember 2008)

44
Raji A, Seely EW, Arky RA, Simonson DC, 2001. Body Fat Distribution and Insulin Resistance
in Healthy Asian Indians and Caucasians. J Clin Endocrinol Metab 86:53665371
Randhawa, M.A., and Al-Ghamdi, M.S., 2002, A review of the pharmaco-therapeutic effects of
Nigella sativa, Pakistan J.Med. Res., 41: 2
Sangat, H.M., Zuhud, E.A.M., dan Damayanti, E.K., 2000. Kamus Penyakit dan Tumbuhan Obat
Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Sartika, Cyntia R. 2006. Penanda Inflamasi, Stress Oksidatif dan Disfungsi Endotel pada
Sindroma Metabolik. Forum Diagnosticum. Prodia Diagnostics Educational
Services. No. 2.
Shah, A., Khan, G.M., Badshah, A., Shah,S.U., Shah, K.U., Mirza, S.A., 2012. Nigella sativa
provides protection against metabolic syndrome African Journal of Biotechnology
Vol. 11(48), pp. 10919-10925,
Shahab, A. 2007. Sindrom Metabolik. Media informasi Ilmu Kesehatan dan Kedokteran.
(online), (http:/ alwia.com, diakses 24 Januari 2009)
Shahzad F. Haque , M. Nasiruddin, A. Najmi, 2011. Indigenous herbal product Nigella sativa
proved effective as an Anti-obesity therapy in metabolic syndrome, Int J Med Res. ;
1(3):173-176
Soeharto, I. , 2004. Penyakit Jantung Koroner dan Serangan Jantung. Jakarta: Gramedia..
Stelmach et al. How income and education contribute to risk factors for cardiovaskuler diseases
in elderly in a former communist country. Public Health (2004) 118, 439-449.
Stibich, M., 2007. Age and High Blood Pressure. (online), (www.Medical Review Board
about.com, diakses 3 November, 2009)
Stocker R, Keaney JF. Role of Oxidative Modification in Atheroclerosis, Physiol Rev, 2004 ; 84 :
1381-1478.
Suhardjo. 1989. Sosio Budaya Gizi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. IPB Bogor.
Suyono, A, 2001. Serat Benteng Terhadap Aneka Penyakit. (online),
(http://www.suyono.wordpress.com, diakses 29 September 2008)
Targher, G., dkk., 1999. Cigarette Smoking and Insulin Resistance in Patients with Noninsulin-
Dependent Diabetes Mellitus. Journal of clinical Endocrinology and metabolism.
(online), (www.jcem.endojournals.org, diakses 22 Februari 2009)
Tjokroprawiro A. 2006. New Approach in The Treatment of T2DM and Metabolic Syndrome.
The Indonesian Journal of Internal Medicine. 38:160-166.
Tomasi, A., Ozben, T., Skulachev, V.P., 2003. FREE RADICALS, NITRIC OXIDE, AND
INFLAMMATION:MOLECULAR, BIOCHEMICAL, AND CLINICAL
ASPECTS, /OS P r e s s, Amsterdam Berlin Oxford Tokyo Washington, DC
Van der veen, R.C., 2001. Nitric oxide and T helper cell immunity, Iternational
immunopharmacology,1, 1491-500
Vermunt et al. Effects of Sugar Intake on Body Weight: A Review. Obesity Reviews (2003) 4, 91
99
Wamala, S.P. et al. Determinat of Obesity in relation to socioeconomic status among middle
aged Swedish women. Preventive Medicine Vol 26 Issue 5, September 1997, page
734-744
WHO. 2000. Obesity: Preventing and Managing the Global Epidemic. Geneva.
Widjaya A, et al, 2004. Obesitas dan Sindrom Metabolik. Forum Diagnosticum. 4:1-16
Yajnik, 2002. The lifecycle Effects of Nutrition and Body Size on Adult Adiposity, Diabetes and
Cardiovascular Disease. Obes Rev 3:217224

45
Zhang, N., Wang,X., Mao, S., Zhao, F., 2011. Astragaloside IV Improves Metabolic Syndrome
and Endothelium Dysfunction in Fructose-Fed Rats, Molecules, 16, 3896-3907;

46