Anda di halaman 1dari 3

4

Kapsul mikron atau kurang dari setengah diameter


Kapsul dapat didefinisikan sebagai rambut manusia (Yoshizawa 2002). Bahan ini
bentuk sediaan padat, dimana satu macam disebut mikrokapsul. Dalam bentuk yang
bahan obat atau lebih atau bahan inert sangat sederhana, mikrokapsul merupakan
lainnya yang dimasukkan ke dalam suatu daerah bola (sphere) yang dikelilingi
cangkang atau wadah kecil yang umumnya oleh dinding yang homogen. Bahan yang
dibuat dari gelatin yang sesuai (Ansel 1989). disalut dalam mikrokapsul disebut inti, fase
Kapsul dibuat dari campuran gelatin, zat internal, atau isi, sedangkan dindingnya
pewarna, bahan pengeruh, bahan pelentur, disebut kulit, penyalut, atau membran.
dan bahan pengawet. Gelatin yang Mikroenkapsulasi memiliki banyak
digunakan umumnya berasal dari tulang keuntungan diantaranya melindungi senyawa
hewan dan kulit babi. Untuk pembuatan aktif dari penguraian dan mengendalikan
kapsul, gelatin yang dgunakan memiliki 2 senyawa pelepasan senyawa aktif, misalnya
tipe, yaitu gelatin tipe A dan B. Gelatin tipe obat. Pelepasan obat terkendali dilakukan agar
A diperoleh dari prekusor yang ditambah penggunaan obat lebih efisien, memperkecil
asam dan memberikan titik isolistrik pada efek samping, serta mengurangi frekuensi
pH 9 sedangkan gelatin tipe B diperoleh dari penggunaan obat (Sutriyo et al. 2004).
prekusor yang ditambah basa dan memiliki Senyawa aktif yang dienkapsulasi
titik isolistrik pada pH 4.7 (Lachman 1994). umumnya mudah bereaksi dengan senyawa
Kapsul dapat dibedakan menjadi dua lain atau cenderung tidak stabil. Senyawa aktif
jenis yaitu, kapsul gelatin lunak dan kapsul hasil enkapsulasi dapat terletak ditengah-
gelatin keras. Kapsul gelatin keras lebih tengah membran dan bertindak sebagai inti
sedikit mengandung uap air dibandingkan atau tersebar diseluruh membran (Gambar 3).
dengan kapsul gelatin lunak yaitu sekitar 9- Polimer yang bisa digunakan pada proses
12%. Kapsul memiliki kemampuan dalam enkapsulasi suatu senyawa aktif adalah yang
menutup rasa dan bau, serta memberikan bersifat biokompatibel dan biodegradabel. Hal
perlindungan bahan aktif terhadap oksidasi ini dikarenakan mikrokapsul yang dihasilkan
dan kelembaban. Selain itu kapsul akan dimasukkan ke dalam tubuh. Selain itu,
memberikan tampilan elegan yang mudah polimer sebagai penyalut tidak boleh bereaksi
untuk diberikan identitas dengan melakukan secara kimia dengan senyawa aktif. Polimer
printing merk atau identitas lainnya, selain yang biasa digunakan yaitu kitosan etil
warna yang digunakan (Ansel 1989). selulosa dan maltodekstrin ( Putra 2008).
Kapsul gelatin kosong dibuat dengan Pembuatan mikrokapsul dapat dilakukan
berbagai macam ukuran, bervariasi baik secara kimia dan fisika. Metode kimia yang
panjang maupun diameternya. Pemilihan sering digunakan yaitu polimerisasi
ukuran kapsul tergantung pada berapa antarmuka, penguapan pelarut dan pemisahan
banyak isi bahan yang akan dimasukkan ke fase. Sedangkan metode fisika antara lain
dalam kapsul dan dibandingkan dengan pengeringan semprot, piringan pemutar, dan
kapasitas isi dari cangkang kapsul. pelapisan suspensi udara.

Tabel 1 Dosis obat pada berbagai ukuran


kapsul gelatin
Ukuran kapsul Dosis obat (mg)
000 650
00 390 (a) (b)
0 325
1 227 Gambar 3 Ilustrasi penyebaran senyawa
2 195 aktif tepat ditengah membran
3 130 (a), tersebar diseluruh membran
4 97 (b).
5 64
(Ansel 1989)
BAHAN DAN METODE
Mikroenkapsulasi Bahan dan Alat
Mikroenkapsulasi adalah suatu teknik Bahan-bahan yang digunakan adalah 15
untuk menyalut bahan yang berukuran buah sarang lebah Trigona spp. yang berasal
sangat kecil, dengan diameter rerata 15-20 dari Bukittinggi Padang, stok bakteri
5

Escherichia coli, cairan rumen sapi, 100 mL ke dalam labu Erlenmeyer 125 mL
maltodekstrin, media padat PYG (Peptone dan diinkubasi pada suhu 37 oC didalam
Yeast Glukose), media cair TSB (Triptone penangas air bergoyang.
Soy Broth), propilen glikol, media padat Kapsul berisi mikrokapsul propolis yang
TSA (Triptone Soy Agar), etanol 70%, telah disediakan lalu dimasukkan kedalam
media EMB (Eosin methilene blue) , dan cairan rumen tersebut dan diamati selama 0, 3,
akuades 6, 9, 12 dan 24 jam. Pengamatan didasarkan
Alat-alat yang digunakan yaitu laminar pada hancur atau tidaknya kapsul propolis.
air flow cabinet, inkubator, autoklaf, Jika kapsul hancur maka residu propolis dalam
penangas air bergoyang, rotavapor, lemari cairan rumen diambil lalu diukur aktivitas
es, autopipet, jangka sorong, jarum ose, antibakterinya. Jika kapsul tidak hancur
neraca analitik, alumunium foil, kapas, sampai jam ke 24 maka kapsul dibuka
cawan petri, dan beberapa alat gelas lainnya. kemudian diukur aktivitas antibakterinya.

Metode Penelitian Regenerasi Bakteri E. coli


Sebelum digunakan, bakteri yang akan
Ekstraksi Propolis
dipakai diregenerasikan terlebih dahulu.
Propolis diekstraksi dengan metode
Bakteri yang berasal dari kultur primer mula-
Harbone (1987) dan Matienzo & Lamonera
mula dibiakkan ke dalam agar miring.
(2004). Ekstraksi dilakukan secara maserasi
Sebanyak satu ose bakteri digoreskan ke agar
dengan pelarut etanol 70%. Sebanyak
miring lalu diinkubasi pada suhu 37 oC selama
kurang lebih 150 gram propolis yang
24 jam. Biakan ini merupakan aktivitas awal
diperoleh dari 15 buah sarang lebah Trigona
stok bakteri yang disimpan pada suhu 4-5 oC.
spp. direndam dengan etanol 70%, ditutup
lalu disimpan dalam ruangan gelap selama 1
Uji Pendahuluan Aktivitas Antibakteri
minggu. Setiap hari dilakukan pengocokan.
Uji pendahuluan aktivitas antibakteri
Setelah satu minggu, filtrat diambil dan
dilakukan dengan metode difusi sumur.
disaring serta sisanya dilakukan ekstraksi
Sebanyak satu ose bakteri dari stok biakan
kembali. Selanjutnya filtrat diambil setiap
diambil lalu diinkubasi ke dalam 10 mL media
hari selama satu minggu hingga pelarut
TSB selama 18-24 jam pada suhu 37 oC dan
jernih.
sambil dikocok menggunakan penangas air
Setelah filtrat ekstrak propolis
bergoyang. Setelah itu, dari biakan diambil
diperoleh, dilakukan pemekatan dengan
sejumlah bakteri yang disebarkan di dalam
menggunakan rotavapor pada suhu 40 oC.
cawan petri yang telah berisi media EMB
Ekstrak pekatnya ditimbang sehingga
kemudian bakteri diratakan dengan
dihasilkan rendemen. Ekstrak ini dilarutkan
menggunakan spreader. Setelah tersebar
dalam propilen glikol dengan perbandingan
merata, agar dilubangi dengan diameter 5
1:1. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas
mm. Ke dalam lubang tersebut dimasukkan
antibakteri.
ekstrak propolis sebanyak 50 L lalu
diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam.
Pembuatan Mikrokapsul Propolis
Ekstrak propolis 100% yang didapatkan
Uji Aktivitas Antibakteri Metode Difusi
ditambahkan propilen glikol dengan
Sumur
perbandingan 1:1. Ekstrak propolis ini lalu
Konsentrasi propolis yang digunakan
ditambahkan maltodekstrin dengan
yaitu 2% dan 4% b/b. Konsentrasi propolis ini
perbandingan tertentu. Campuran ini
nantinya akan digunakan untuk menguji
kemudian dimasukkan ke dalam vakum
aktivitas antibakteri dengan metode difusi
drying hingga kering dan terbentuklah
sumur. Sampel yang digunakan selain sediaan
mikrokapsul. Mikrokapsul kemudian
kapsul berisi propolis yaitu akuades sebagai
dimasukkan ke dalam kapsul berukuran 00
kontrol negatif dan ampisilin kapsul 500 mg
dan 1 sebanyak 3/4 dari tinggi kapsul dan
sebagai kontrol positif.
ditekan-tekan agar tersebar merata. Sebanyak satu ose bakteri dari stok biakan
Persiapan Cairan Rumen Sapi dan Uji diambil lalu diinkubasi ke dalam 10 mL media
Ketahanan Kapsul cair TSB selama 18-24 jam pada suhu 37 oC
Sebanyak 2 liter cairan rumen sapi dan sambil dikocok menggunakan penangas
diambil lalu disaring dengan menggunakan air bergoyang. Setelah itu dari biakan diambil
kain blacu dan ditempatkan dalam termos. sejumlah bakteri yang disebarkan di dalam
Cairan rumen ini lalu dipindahkan sebanyak cawan petri yang telah berisi media EMB,
6

kemudian bakteri diratakan dengan yang berperan sebagai antibakteri dan


menggunakan spreader. Setelah tersebar antijamur adalah golongan flavonoid, alifatik,
merata, agar dilubangi dengan diameter 5 asam aromatik, ester, dan triterpen (Hady
mm. Ke dalam lubang tersebut dimasukkan 2001). Semua senyawa tersebut mampu
residu propolis dalam cairan rumen. Setelah terekstrak dengan baik dalam alkohol 70%, hal
itu, media diinkubasi pada suhu 37 oC ini dikarenakan alkohol 70% bersifat
selama 24 jam. Daerah bening yang terlihat semipolar sehingga semua komponen aktif
disekeliling lubang menandakan adanya dengan kepolaran yang berbeda didalam
aktivitas antibakteri. Pengambilan volume propolis dapat terekstrak (Anggraini 2006).
bakteri tergantung dari absorbannya. Jika Ekstrak propolis yang diekstrak dengan
absorbannya kurang dari 1, maka bakteri alkohol 10-20% larut didalam air sedangkan
diambil 100 L, sedangkan bila lebih dari 1 bila menggunakan alkohol absolut maka
maka bakteri diambil sebanyak 50 L. ekstrak propolis yang dihasilkan lebih larut
dalam pelarut organik dan minyak. Senyawa
Analisis Statistik yang terekstrak dalam propolis akan sangat
Analisis statistik yang digunakan dalam tergantung dari pemilihan jenis pelarut yang
pengolahan data adalah rancangan digunakan (Sosnowski 1984 dalam Krell
percobaan dua faktor dalam rancangan acak 2004).
lengkap faktorial in time (Mattjik dan Propolis yang dihasilkan berwarna coklat
Sumertajaya 2002). muda dengan rendemen sebesar 10.6228%.
Yijk = + i + j + ()ij + ijk Senyawa dalam resin yang sangat berperan
Yijk = nilai pengamatan pada faktor A dalam menentukan warna propolis yaitu
taraf ke-i, faktor B taraf ke-j, dan golongan flavonoid (Woo 2004). Semakin
ulangan ke k. banyak komponen flavonoidnya maka warna
= komponen aditif dari rataan. propolis akan semakin gelap. Fatoni (2008)
i = pengaruh utama faktor A menyebutkan bahwa senyawa aktif dalam
j = pengaruh utama faktor B propolis asal Bukittinggi yang berperan
()ij = komponen interaksi faktor A dan sebagai anti bakteri yaitu flavonoid dan tanin.
faktor B Senyawa-senyawa dalam propolis akan
ijk = pengaruh acak yang menyebar tetap terjaga bila propolis yang dihasilkan
normal (0,2) ditempatkan dalam ruang gelap, tidak terkena
Data yang diperoleh dianalisis dengan sinar matahari langsung dan disimpan pada
ANOVA (Analysis of variance) pada tingkat suhu 10-11 0C. Penyimpanan lebih dari 12
kepercayaan 95% dan taraf 0.05. Uji bulan akan menghilangkan kemampuan
lanjut yang digunakan adalah uji Duncan. antibakteri sehingga propolis tidak dapat
Seluruh data dianalisis dengan digunakan lagi (Krell 2006).
menggunakan program SAS.
Mikroenkapsulasi Propolis
Gelatin dan pati merupakan salah satu
HASIL DAN PEMBAHASAN bahan yang biasa digunakan dalam teknik
penyalutan obat. Harganya yang murah dan
Rendemen Ekstrak Propolis
mudah didapat menjadikan gelatin dan pati
Propolis yang dihasilkan dari sarang
sering digunakan sebagai alternatif bahan
lebah Trigona spp. diekstraksi dengan
metode maserasi dengan menggunakan penyalut (Rahmawati 2000). Penelitian ini
menggunakan maltodekstrin sebagai penyalut
pelarut alkohol 70%. Maserasi adalah teknik
propolis. Pemilihan maltodekstrin dikarenakan
ekstraksi yang dilakukan untuk bahan yang
tidak tahan panas dengan cara perendaman strukturnya yang lebih pendek dibandingkan
didalam pelarut dengan lama waktu tertentu pati sehingga pada saat mikroenkapsulasi
menghasilkan mikrokapsul yang lebih kering,
(Anggraini 2006). Pemilihan alkohol 70%
berukuran seragam, dan tidak lengket.
dibandingkan dengan pelarut lainnya
dikarenakan pelarut ini mampu mengekstrak Maltodekstrin (MDE) merupakan gula
flavonoid yang merupakan senyawa tidak manis dan berbentuk bubuk berwarna
putih dengan sifat larut dalam air. Gula ini
terbanyak dalam propolis (Harbone 1987).
dapat dibuat dari hidrolisis pati jagung secara
Krell (2004) melaporkan bahwa ekstrak
alkohol 70% memberikan hasil yang terbaik tidak sempurna dengan bantuan asam atau
dalam beberapa penelitian karena memiliki enzim. Gula ini merupakan polimer disakarida
terdiri atas D-glukosa yang berikatan terutama
efek antibakteri dan anti jamur. Senyawa
dengan ikatan -1,4 glikosidik (Schenk &