Anda di halaman 1dari 9

PENETAPAN KADAR CRP SECARA KUALITATIF

Oleh :
Nama : Rizqi Nahriyati
NIM : B1A015088
Rombongan : III
Kelompok : 3
Asisten : Risa Umami

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOBIOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

C-Reactive Protein (CRP) yang merupakan protein yang disintesis di hati sebagai
respon terhadap berbagai rangsang inflamasi (Susanto & Adam, 2009). Respon
inflamatori sering kali sangat kuat untuk menghentikan penyebaran agen-agen
penyebab penyakit seperti virus, bakteri dan fungi. Responnya dimulai dengan
pelepasan sinyal kimiawi dan mengaktifasi dengan pembersihan oleh sel monosit.
Jika sistem ini tidak cukup kuat menahan penyakit maka sistem komplemen dan
respon imun akan bekerja (Ganong, 1983).
C-Reactive Protein (CRP) adalah suatu indikator peradangan yang dini dan lebih
dapat diandalkan dibanding reaktan-reaktan fase akut serum lainnya. Dari diagnosis
banding pneumonia bacterial versus virus, CRP serum dilaporkan bermanfaat karena
kadarnya meningkat secara dramatik pada infeksi bakteri (Speiser & Smith, 1996).
Biasanya CRP ditemukan dalam konsentrasi rendah dalam serum, yang kadarnya
cepat meningkat dalam beberapa jam setelah infeksi, kerusakan jaringan. Di samping
bersifat imunosupresif, CRP dapat meningkatkan fagositosis, menghambat fungsi
trombosit dan mengaktivasi komplemen. Fungsinya tidak diketahui, tetapi telah
disarankan bahwa CRP mencegah terjadinya autoimunitas terhadap antigen
intraseluler yang dikeluarkan oleh jaringan rusak (Tizard, 1982).
Pemeriksaan CRP dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan
CRP secara kualitatif bertujuan untuk mendeteksi keberadaan CRP dalam sampel
tanpa mengetahui besarnya kadar CRP. Contoh pemeriksaan CRP secara kualitatif
yaitu metode aglutinasi. Pemeriksaan CRP secara kuantitatif bertujuan untuk
mengetahui besarnya kadar CRP dalam sampel, contohnya menggunakan metode
ELISA (Enzim Linked Immunosorbent Assay) (Rose & Oss, 1979).
1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum acara penetapan kadar CRP secara kualitataif adalah
untuk mendeteksi keberadaan CRP dalam serum darah dan mengetahui kadar CRP
dalam serum darah.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah antihuman CRP
antibodi (berisi reagen lateks) 40 l, serum sampel 40 l, kontrol positif
(tutup merah), kontrol negatif (tutup biru).
Alat yang digunakan adalah mikropipet 100 l, plate CRP, dan batang
pengaduk.

2.2 Cara Kerja

1. Reagent dihangatkan hingga mencapai temperatur kamar, antihuman CRP


antibodi dikocok pelan-pelan sampai homogen.
2. Dipipetkan pada plate CRP di tempat yang berbeda, yaitu:
a. Serum sampel sebanyak 40 l
b. R+ : kontrol positif sebanyak 1 tetes (40 l)
c. R- : kontrol negatif sebanyak 1 tetes (40 l)
d. Reagent latex CRP masing-masing 1 tetes (40 l)
3. Dicampur dengan pengaduk berbeda dan cairan dilebarkan sepanjang sisi
lingkaran, digoyang selama 2 menit.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Gambar 1. Hasil Uji CRP Gambar 2. Hasil Uji CRP


kontrol pada Plate CRP sampel pada Plate CRP

Interpretasi:
(+) Terjadi aglutinasi, kadar CRP >12 mg/L.
(-) Tidak terjadi aglutinasi, kadar CRP <12 mg/L.
3.2 Pembahasan

Cara kerja CRP, yaitu pertama hangatkan reagent hingga mencapai temperature
kamar, kocoklah antihuman CRP antibody pelan-pelan sampai homogen. Pipetkan
pada plat CRP di lingkaran yang berbeda yaitu lingkaran pertama serum sampel
sebanyak 1 tetes (40 l), lingkaran pertama reagen positif (kontrol positif) sebanyak
1 tetes, lingkaran pertama reagen negatif (kontrol negatif) sebanyak 1 tetes,
kemudian masing-masing lingkaran diberi reagen lateks CRP sebanyak 1 tetes dan
campur dengan batang pengaduk berbeda dan lebarkan cairan sepanjang sisi-sisi
lingkaran dan digoyang selama 2 menit. Interpretasi hasil aglutinasi menunjukkan
adanya CRP pada serum lebih dari 12 mg/L (Baratawidjaya, 2002).
Berdasarkan hasil praktikum menunjukkan bahwa reagen kontrol positif yang
diuji pada plate 1 terbentuk gumpalan-gumpalan putih (aglutinasi) sehingga
menunjukkan hasil positif dan dapat diketahui bahwa kontrol mengandung
konsentrasi CRP dalam keadaan di atas kadar normal. Plate ke-2 yang ditetesi
dengan reagen kontrol negatif menunjukkan tidak terbentuknya aglutinasi. Plate ke-1
sampai ke-5 yang ditetesi dengan sampel serum menunjukkan tidak terbentuknya
gumpalan-gumpalan putih (tidak terjadi aglutinasi). Hasil negatif diartikan bahwa di
dalam plasma tidak mengandung konsentrasi CRP yang menandakan tidak terjadinya
peradangan infeksi atau kerusakan jaringan. Menurut Speicher & Smith (1996),
konsentrasi CRP dalam keadaan normal adalah 0,0008-0,004 g/L atau 0,08-4 mg/dL,
sedangkan keadaan peradangan akut konsentrasinya kira-kira 0,4 g/l atau 40 mg/dL
dengan waktu respon CRP yaitu antara 6-10 jam. Keadaan peradangan akut akan
terjadi aglutinasi bila diadakan uji CRP dengan mencampurkan serum dengan reagen
CRP. Aglutinasi ini terjadi karena antigen pada serum terikat pada suatu partikel
yaitu pada partikel lateks CRP. Reaksi aglutinasi ini termasuk reaksi sekunder
imunologik humoral.
CRP merupakan salah satu protein fase akut non spesifik yang dihasilkan oleh
hati dan kadar dalam darah meningkat pada inflamasi sebagai akibat respon imun
non spesifik. Bakteri umumnya menyebabkan penyakit yang lebih berat akibat
inflamasi yang lebih luas sehingga lebih banyak melepaskan sitokin interleukin (IL)-
6 yang merupakan sitokin yang menginduksi sintesis CRP. Pneumonia derajat berat
sering berhubungan dengan penyebab bakteri namun sampai saat ini belum diketahui
apakah terdapat kesesuaian antara jumlah leukosit serta kadar CRP dengan berat
ringannya pneumonia tersebut (Pramana, 2015). Hs-CRP (High Sensitivity C-
Reaktive Protein) adalah suatu protein yang diproduksi oleh hati yang akan
meningkat pada kondisi inflamasi dan juga meningkat pada keadaan infeksi atau
injury, seperti arthtritis rematoid dan penyakit pembuluh darah. Peningkatan hs-CRP
yang dalam jangka waktu lama mengindikasikan terjadinya suatu proses peradangan
kronik (Gansareng, 2015). CRP sebagai marka atau penanda untuk respon inflamasi
yang merupakan protein fase akut yang disintesis dan dihasilkan oleh hati. CRP
secara dramatis akan meningkat saat terinfeksi tetapi dapat menurun ketika mendapat
perlakuan medis. Terdapat data yang bertentangan mengenai apakah CRP bisa atau
tidak untuk digunakan sebagai biomarka infeksi atau sepsis (Jeschke et al., 2013).
Adanya peradangan memicu terjadinya reaksi inflamasi. Makrofag yang berada
dalam sinovium mensintesa Interleukin-6, untuk merangsang pembentukan CRP.
Dalam keadaan normal tubuh tidak akan membentuk CRP, tetapi apabila ada proses
inflamasi dan kerusakan jaringan, CRP akan meningkat bahkan sampai 100 kali dari
normal. Apabila terjadi penyembuhan atau perbaikan pada sel-sel yang mengalami
inflamasi atau kerusakan, maka kadar CRP akan normal kembali setelah 2 minggu.
(Pribadi & Ernawati, 2010). Menurut Soebandrio et al., (1990), kadar CRP normal
adalah 0,07-8,2 mg/dl dan kadar tertinggi tercapai setelah lebih kurang 3 hari.
Menurut Handojo (1982), fungsi biologis CRP yaitu sebagai berikut:
1. Berperan opsonin
Berfungsi untuk mengikat mikroba untuk proses fagositos lebih normal.
2. Dapat mengikat polisakarida didinding sel bakteri.
3. Maengaktifkan lomplemen jalur klasik dan jalur alternatife.
Jalur klasik yaitu C1 yang berikatan dengan antibody baru dengan antigen
sedangkan jalur alternatif molekul C3 berperan mengikat antigen.
4. CRP dapat mengdetoksikasi bahan endogen.
Mengdetoksikasi untuk menurunkan daerah racun.
5. Mencegah auto imunitas terhadap antigen intraseluller.
Aglutinasi (penggumpalan) merupakan salah satu cara yang digunakan untuk
menetapkan kadar CRP. Aglutinasi menunjukkan bahwa adanya infeksi bakteri atau
peradangan yang terbentuk karena interaksi Ag-Ab yang terjadi langsung setelah
pengikatan awal atau sesudah reaksi primer yang terikat pada satu partikel. Reaksi
aglutinasi merupakan reaksi antar Ag dan Ab yang terdapat dipermukaan sel
sehingga dibentuk anyaman melalui ikatan silang antara sel-sel itu dengan perantara
antibodi. Reaksi aglutinasi dipakai untuk determinasi kuman dan untuk mengetahui
tipe dari sel-sel tertentu, selain itu, dapat dipakai untuk penentuan antibodi di dalam
serum bahkan titernya. Serum yang mengandung Ag CRP jika ditambahkan Ab CRP
dalam latex maka akan terbentuk kompleks Ag-Ab, sedangkan apabila serum tidak
mengandung Ag CRP maka tidak terbentuk kompleks Ag-Ab. Adanya ikatan antara
antigen dan antibodi dapat diketahui dengan adanya reaksi aglutinasi, namun serum
darah yang diketahui berasal dari orang yang sakit yang diharapkan mampu
menghasilkan aglutinasi karena kadar CRP naik, memiliki kemungkinan lain dimana
tidak terdapat aglutinasi dari serum darah tersebut karena kadar CRP nya telah
menurun atau tingkat infeksi dan peradangannya tidak terlalu tinggi (Bellanti, 1993).
Banyak manfaat dari uji CRP untuk mengetahui berbagai macam penyakit akibat
infeksi maupun peradangan dilihat dari peningkatan konsentrasinya. CRP serum
bermanfaat untuk membedakan kolitis ulseratif dari penyakit Crohn dan Lupus
eritematosus sistemik dalam diagnosis bakteri Pneumonia, sebaliknya dari artritis
reumatoid memperlihatkan sedikit atau tidak ada respon CRP kecuali ada penyakit
infeksi berulang. Pada infark miokard, suatu peningkatan tajam kadar CRP serum
biasanya sejajar dengan luasnya enfark. Pada pasien luka bakar, peningkatan CRP
serum berkaitan dengan beratnya luka bakar. Penurunan kadar CRP serum dapat
menunjukkan terapi yang berhasil pada pielonefretis akut. Peningkatan mendadak
kadar CRP serum merupakan ginjal (Speicher & Smith, 1996).
Penetapan kadar CRP sangat berguna karena dapat digunakan untuk mengetahui
perbaikan atau pengurangan keadaan peradangan atau infeksi dengan cepat
(Soebandrio et al., 1990). Menurut Speicher & Smith (1996), uji CRP memiliki
beberapa manfaat diantaranya yaitu untuk mengetahui berbagai macam penyakit
akibat infeksi maupun peradangan dengan melihat peningkatan konsentrasinya.
Peranan CRP dalah sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen dan CRP
berperan pada pertahanan nonspesifik karena dengan bantuan Ca dapat mengikat
berbagai molekul yang terdapat pada banyak bakteri dan jamur (Supardi & Sukamto,
1999).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Keberadaan CRP dalam serum darah menunjukkan hasil yang negatif (tidak
terdeteksi) karena tidak terjadinya aglutinasi.
2. Hasil negatif menunjukkan bahwa kadar CRP dalam serum darah adalah kurang
dari 12 mg/l.
DAFTAR REFERENSI

Baratawidjaya, K.G. 2002. Imunologi Dasar Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas


Kedokteran UI.
Bellanti, J. A. 1993. Imunologi III. Yogyakarta : UGM Press.
Ganong, W. F. 1983. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Gansareng, D., Bolang, A. S. L., & Mayulu, N. Hubungan Antara Ketebalan Lemak
Triceps (Klt) dan Kadar High Sensitivity C-Reactive Protein (Hs-Crp) pada
Mahasiswa Obes dan Tidak Obes di Fakultas Kedokteran Univerisitas Sam
Ratulangi Manado. Jurnal e-Biomedik. 3(1), pp. 291-296.

Handojo, I. 1982. Serologi Klinik. Surabaya: Fakultas Kedokteran UNAIR.


Jeschke, M. G., Finnerty, C. C., Kulp, G. A., Kraft, R., & Herndon, D. N. 2013. Can
We Use C-Reactive Protein Levels to Predict Severe Infection or Sepsis in
Severely Burned Patients?. Int. J. Burn Trauma. 3(3), pp. 137-143.
Pramana, Kissinger Puguh & Ida Bagus Subanda. 2015. Hubungan Jumlah Leukosit
Kadar C-Reactive Protein dengan Derajat Keparahan Pneumonia pada
Anak. Jurnal ilmiah kedokteran. 46 (2), pp. 77-81.
Pribadi F.W., & Ernawati, D. A. 2010. Efek Catechin terhadap Kadar Asam Urat, C-
reactive Protein (CRP) dan Malondialdehid Darah Tikus Putih (Rattus
norvegious) Hiperurisemia. Mandala of Health. 4(4), pp. 1-8.
Rose, N.R, F Milgrom, and C.J.V Oss. 1979. Principles of Imunology. New York:
Macmillan Publishing Co. Inc.
Soebandrio, A, Suharto, dan Sujudi. 1990. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi
Revisi. Jakarta: UI Press.
Speicher, E.C & Smith J.W.Jr. 1996. Pemilihan Uji laboratorium yang Efektif.
Jakarta: ECG.
Supardi, I. & Sukamto. 1999. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan
Pangan. Bandung: Alumni.
Susanto, H.K.,& Adam J.M.F. 2009.Plasminogen Activator Inhibitor-1 and High
Sensitivity C-Reactive Protein in Obesity. The Indonesian Journal of
Medical Science. 2(1), pp. 23-31.
Tizard, S. 1982. Pengantar Imunologi Veteriner. Surabaya: Airlangga University
Press.