Anda di halaman 1dari 24

BAB III

STROKE PASCA INFEKSI VIRUS VARICELLA ZOSTER DITINJAU

DARI ISLAM

3.1. Pandangan Islam Terhadap Stroke

Stroke adalah sindroma klinis dengan gejala berupa gangguan fungsi otak

secara fokal maupun global yang dapat menimbulkan kematian atau kecacatan

yang menetap lebih dari 24 jam, tanpa penyebab lain kecuali gangguan vaskular.

Stroke pada prinsipnya terjadi secara tiba-tiba karena gangguan pembuluh darah

otak (perdarahan atau iskemik), bila karena trauma maka tak dimasukkan dalam

kategori stroke, tapi bila gangguan pembuluh darah otak disebabkan karena

hipertensi, maka dapat juga disebut stroke dan menimbulkan gejala lain yaitu :

perubahan tingkat kesadaran, kesulitan berbicara atau memahami orang lain,

kesulitan menelan, kehilangan koordinasi, kehilangan keseimbangan, kejang dan

kelemahan pada salah satu bagian tubuh (WHO, 2006).

Faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit ini yaitu usia,

jenis kelamin (laki-laki lebih banyak dari perempuan), hipertensi, serta merokok

yang dapat memperberat penyakit ini (Yew dan Cheng, 2015). Penyebab stroke

merupakan multifaktorial sehingga dapat dikiaskan sebagai salah satu di antara

cobaan Allah SWT seperti dinyatakan dalam Al-Quran. Sebagai berikut:


Artinya:

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira
kepada orang-orang yang sabar, (Q.S Al-Baqarah (2):155)

Pada ayat yang lain, Allah SWT berfirman:

Artinya:

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,
(Q.S Al-Mulk (67):2)

Berdasarkan dua ayat di atas dapat diketahui manusia di dalam hidup akan

diberikan ujian oleh Allah SWT. Sebagai manusia diharuskan untuk menghadapi

cobaan yang ada dengan sabar dan ikhlas.

Sakit sesungguhnya memberikan pelajaran yang sangat berharga. Terdapat

5 keutamaan ketika seorang muslim diberi ujian sakit oleh Allah SWT, yaitu:

1. Dihapuskan segala dosa-dosa yang pernah diperbuat sepanjang tidak syirik

kepada Allah SWT. Sakit merupakan ujian sekaligus cobaan bagi orang-orang

yang beriman di mana sakit merupakan penguji keimanan. Allah SWT

menjanjikan kepada orang yang sakit apabila ia bersabar dan berikhtiar dalam

sakitnya, Allah SWT akan menghapus dosa-dosanya sebagaimana sabda

Rasulullah SAW, yaitu:

3
- -





.
Artinya :

Dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah dari Nabi SAW. Bersabda : Tidak
menimpa kepada seorang muslim yang berupa kepayahan, kesakitan, duka cita,
penyakit, kesempitan, bahkan duri yang menusuk diri orang itu kecuali Allah
akan mengampuni kesalahan orang itu.

(HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

2. Diangkat derajatnya. Sesungguhnya sakit adalah ujian kesabaran dari Allah

SWT. Rasulullah SAW bersabda:







Artinya:

Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu
melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.(HR.
Muslim)

3. Menambah pahala. Sakit yang diderita akan bernilai pahala apabila seseorang

selalu sabar menghadapinya. Allah SWT berfirman:

3
Artinya:

Katakanlah (Muhammad), Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman!


Bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini
akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yan
bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.
(Q.S Az-Zumar (39):10)

Rasulullah SAW bersabda:








Artinya:

Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula.
Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan
kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan
meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka
kepadanya. (HR. At-Tirmidzi)

4. Dikabulkan doa.

5. Bila ikhlas surga jaminannya. Artinya menerima dengan penuh ikhlas penyakit

yang diderita semata-mata sebagian ujian dan mohon diberi kekuatan. Oleh

karena itu, perbanyaklah berdoa dan berzikir menyebut asma Allah SWT

sebanyak-banyaknya ketika sakit (Al-Haritsi, 2003). Allah SWT berfirman dalam

Al-Quran:

3
Artinya:

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira
kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa
musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (sesungguhnya
kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang
memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orangorang
yang mendapat petunjuk. (Q.S Al-Baqarah (2):155-157)

Penyakit stroke ini dapat berulang atau kambuh karena dipengaruhi oleh

faktor modifikasi yaitu hipertensi, merokok, sickle cell disease, serta faktor yang

tidak dapat dimodifikasi yang merupakan sunatullah yaitu usia, jenis kelamin, dan

riwayat keluarga (Yew dan Cheng, 2015). Pada dasarnya faktor pencetus

terjadinya stroke adalah faktor modifikasi yang berasal dari pola hidup yang

kemudian didukung dengan faktor yang tidak dapat dimodifikasi yaitu usia di

mana dengan bertambahnya usia maka terjadi penurunan elastisitas pembuluh

darah serta dipengaruhi oleh jenis kelamin.. Untuk menghindari kekambuhan dan

menjaga kesehatan, diperlukan pengaturan pola hidup yang benar. Di dalam

Islam, telah diatur pola hidup Islami yang terdiri dari tidur, makan dan olahraga

yang seimbang sehingga tercipta tubuh yang sehat (Thawil, 2007).

Selain penyebab stroke yang paling umum seperti arteriosklerosis,

hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, stroke juga dapat disebabkan oleh

virus. Virus dapat menyebabkan transient ischemic attack dan stroke. Virus yang

dimaksud adalah virus varicella zoster. virus varicella zoster yang telah reaktivasi

memiliki kemampuan untuk menyerang arteri serebral yang pada akhirnya akan

menyebabkan stroke iskemik ataupun stroke hemoragik (Nagel et al., 2010).

3
Virus ini memiliki sifat neurotropik yang dapat menginfeksi arteri serebral

secara langsung tanpa memunculkan manifestasi klinis terlebih dahulu pada kulit.

Sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan stroke (Nagel et al., 2015).

Di Dalam ajaran Islam, takdir dilihat dari segi kemutlakan dan tidaknya,

taqdir terbagi dua, yaitu:

1. Taqdir Mubram yaitu suatu ketentuan yang bersifat pasti dan tak dapat

diubah oleh siapapun, seperti, manusia pasti mati, manusia terlahir sebagai

laki-laki atau perempuan, dan sebagainya.

2. Taqdir muallaq, yaitu suatu ketentuan berdasarkan situasi dan kondisi,

seperti kalau seseorang rajin belajar, maka ia akan pandai, jika malas ia

akan bodoh. Orang yang rajin bekerja dan cerdas ia akan kaya, yang malas

berusaha maka akan miskin

Taqdir bukan semacam satu skenario, tetapi merupakan alternatif-alternatif

yang telah ditetapkan Allah. Allah dapat saja merubah takdir-Nya yang lalu

kemudian menetapkan takdir-Nya yang baru jika menghendaki. Karena itulah

manusia diperintahkan untuk berikhtiar dan berdoa. Saat suatudaerah terjangkat

wabah virus, mereka yang sudah di dalam agar tidak segera keluar dan masih

berada di luar agar agar tidak memassukinya. Mereka berkata: apakah hal

demikian bukan berarti lari dari takdir Allah. Nabi menegaskan, lari dari satu

takdir kepada takdir yang lain (Zuhroni, 2010).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang menderita

penyakit stroke untuk segera berikhtiar mencari pengobatan untuk

menyembuhkan penyakit yang diderita dan hendaklah berobat kepada ahlinya.

Pencegahan yang dapat dilakukan pada orang dengan stroke yaitu pemberian

3
obat-obatan, pengaturan pola makan dan olahraga dalam meningkatkan imunitas

agar tak terserang virus sebagai salaah satu faktor resiko terjadinya stroke. Selain

berikhtiar, mencari pengobatan yang baik dan melakukan pencegahan, dianjurkan

pula untuk memohon kesembuhan atas penyakit yang dideritanya kepada Allah

SWT, karena Dialah Yang Maha Penyembuh.

3.2. Upaya Pengobatan untuk Mencegah Penyakit Stroke

Menurut WHO (World Health Organization), sehat adalah suatu keadaan

kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan

bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Pola hidup Islami merupakan

suatu preventif yang dapat mewujudkan insan yang sehat baik fisik maupun psikis

(Thawil, 2007).

Dalam Islam, berobat dibedakan menjadi 2 sesuai dengan tujuannya yaitu

sebagai preventif (pencegahan) dan kuratif (mengobati). Anjuran untuk

melakukan pengobatan sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Artinya :
Berobatlah kamu sekalian (bila sakit) karena sesungguhnya Allah Taala
mendatangkan suatu penyakit kecuali mendatangkan pula obatnya, kecuali satu
penyakit yaitu penyakit tua (pikun) (HR. At-Tirmidzi).

Demikian pula yang dinyatakan dalam hadits Nabi:

3
Artinya :
Sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit melainkan
menurunkan pula obatnya baik obat yang telah diketahui oleh orang maupun
yang belum diketahui ( HR. Al-Hakim).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda:

Artinya:
Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan izin Allah,
penyakit itu akan sembuh (HR. Muslim).
Stroke merupakan salah satu penyakit yang mengancam jiwa apabila tidak
diobati.

Pada zaman dahulu, para mutadayyin (orang yang taat menjalankan

agama) menolak untuk mencari pengobatan untuk kesembuhan karena dianggap

melawan takdir Allah SWT. Hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam di

mana dalam Islam, dianjurkan untuk mencari pengobatan apabila sakit, sesuai

dengan sabda Rasulullah SWT: (Muhadi dan Muadzin, 2009)

Artinya:
Dari Jabir bin Abdillah RA. Dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:
Setiap penyakit ada obatnya. Apabila penyakit telah bertemu dengan obatnya,
maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa dan
Maha Agung (HR.Muslim).

Berdasarkan hadits di atas, Rasulullah SAW menyarankan untuk berobat

apabila seseorang tertimpa penyakit. Sebagai seorang muslim, dianjurkan untuk

mencari pengobatan. Selain itu dianjurkan pula dalam mencari pengobatan

hendaknya kepada ahlinya. Hal ini juga berlaku pada penyakit stroke.

Dalam haditsnya, Rasulullah SAW menegaskan:

3
Artinya:
Perbuatan yang baik adalah bertanya kepada orang yang ahli dan sesudah itu
mengerjakan nasihatnya (HR. Abu Daud).

Setiap muslim yang sakit hendaknya meyakini bahwa usaha penyembuhan

dilakukan dengan berbagai cara pengobatan, namun penyembuhan yang utama

adalah berserah diri kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya:
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku (QS. Asy-Syuara
(26):80)

Dalam ajaran agama Islam sebagai ketentuan berobat, hendaklah tidak berobat

dengan yang haram sebagaimana dinyatakan pada hadits Rasulullah di bawah ini

(Zuhroni, 2010):

Artinya:
Dari Abu Darda, Rasulullah SAW berkata: Sesungguhnya Allah menurunkan
penyakit dan obat, dan Dia jadikan bagi tiap-tiap penyakit itu ada obatnya, maka
berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram (HR. Al-
Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan Al-Quran, dijelaskan bahwa Allah tidak akan mempersulit umat-Nya

terutama dalam hal pengobatan, sebagaimana kutipan dalam firman Allah SWT:

3
Artinya:
Allah tidak ingin menyulitkan kamu (QS. Al-Maidah (5):6)

Dalam keadaan yang mendesak atau darurat, seseorang boleh melakukan

hal yang diharamkan, segala hal yang pada mulanya diharamkan tetapi karena

sangat diperlukan dan sifatnya darurat untuk meringankan kesulitan-kesulitan

yang melanda, maka hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan menjadi hilang

unsur keharaman ataupun kemakruhannya untuk sementara waktu selama keadaan

darurat atau kebutuhan itu berlaku. Semua yang dilarang Islam, selain kufur, zina

dan membunuh diperbolehkan melakukannya ketika darurat (Zuhroni, 2010).

Unsur-unsur diberlakukannya hukum darurat, yaitu:

1. Kondisi darurat yang dihadapi, syaratnya:

a. Bahaya yang dihadapi besar

b. Bahaya tersebut sedang berlangsung

2. Perbuatan yang dilakukan untuk mengatasi kondisi darurat, syaratnya:

a. Perbuatan tersebut lazim (pasti bisa) untuk mengatasi darurat

b. Perbuatan tersebut relevan dengan bahaya yang dihadapi

3. Objek darurat, disyaratkan terjadinya atas diri atau harta sendiri atau harta

orang lain.

4. Orang yang berada dalam kondisi darurat, syaratnya:

a. Orang tersebut tidak mempunyai kewajiban syari yang lain untuk mengatasi

bahaya atau kondisi darurat

b. Orang tersebut tidak mempunyai unsur kesenjangan untuk menciptakan

3
kondisi darurat (Zuhroni, 2010).

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam menganjurkan

berobat apabila sakit kepada ahlinya agar dapat beraktivitas dan beribadah dengan

sempurna guna menciptakan kemaslahatan agama. Pengobatan dilakukan dengan

cara yang dihalalkan, tidak boleh dengan yang haram kecuali pada keadaan

darurat dan sangat terpaksa dengan batas tertentu, maka yang diharamkan akan

menjadi halal untuk sementara.

Ada beberapa pendapat tentang hukum berobat dalam Islam, yaitu:

1. Wajib dalam beberapa kondisi

a. Jika penyakit tersebut diduga kuat mengakibatkan kematian, maka

menyelamatkan jiwa adalah wajib.

b. Jika penyakit itu menjadikan penderitanya meninggalkan perkara wajib padahal

dia mampu berobat, dan diduga kuat penyakitnya bisa sembuh, berobat semacam

ini adalah untuk perkara wajib, sehingga hukum berobat menjadi wajib.

c. Jika penyakit itu menular kepada yang lain, mengobati penyakit menular adalah

wajib untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.

d. Jika penyakit diduga kuat mengakibatkan kelumpuhan total, atau memperburuk

penderitanya, dan tidak akan sembuh jika dibiarkan, lalu mudharat yang timbul

lebih banyak daripada maslahatnya.

2. Mustahab/Sunnah

Jika tidak berobat berakibat lemahnya badan tetapi tidak sampai membahayakan

diri dan orang lain, tidak membebani orang lain, tidak mematikan dan tidak

menular, maka berobat menjadi sunnah baginya.

3. Mubah/boleh

3
Sakitnya tergolong ringan, tidak melemahkan badan dan tidak berakibat seperti

kondisi hukum wajib dari Sunnah untuk berobat, maka boleh baginya berobat atau

tidak berobat.

4. Makruh dalam beberapa kondisi

a. Jika penyakitnya termasuk yang sulit disembuhkan, sedangkan obat yang

digunakan diduga kuat tidak bermanfaat, maka lebih baik tidak berobat karena hal

itu diduga kuat akan sia-sia dan membuang harta.

b. Jika seseorang bersabar dengan penyakit yang diderita, mengharap balasan

surga dari ujian ini, maka lebih utama tidak berobat, dan para ulama membawa

hadits Ibnu Abbas dalam kisah seorang wanita yang bersabar atas penyakitnya

kepada masalah itu.

c. Jika seseorang fajir/rusak, dan selalu zhalim menjadi sadar dengan penyakit

yang diderita, tetapi jika sembuh ia akan kembali menjadi rusak, maka saat itu

lebih baik tidak berobat.

d. Seseorang yang telah jatuh kepada perbuatan maksiat, lalu ditimpa suatu

penyakit, dan dengan penyakit itu dia berharap kepada Allah SWT mengampuni

dosanya dengan sebab kesabarannya

5. Haram

Jika berobat dengan sesuatu yang haram atau dengan cara yang haram maka

hukumnya haram, seperti berobat dengan khamr/minuman keras, atau sesuatu

yang haram lainnya (Ali, 2008).

Hukum dasar berobat adalah mubah bagi setiap muslim, karena pada

dasarnya berobat sudah menjadi sunnatullah. Jika sakit, pasti akan berupaya

untuk mencari pengobatan. Hukum dasar ini dapat berubah menjadi wajib apabila

3
seseorang terkena penyakit yang gawat dan sudah ditemukan obat yang diyakini

dapat menyembuhkan penyakit tersebut, yang apabila ditinggalkan akan

mengancam keselamatan jiwanya atau dapat melumpuhkan salah satu anggota

badannya (Ali, 2008).

Islam adalah agama samawi (langit) yang diturunkan oleh Allah SWT,

melalui utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW yang ajaran-ajarannya terdapat

dalam Al-Quran dan al-Sunnah dalam bentuk perintah-perintah, larangan-larangan

dan petunjuk petunjuk untuk kebaikan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Islam menjelaskan tentang maqashid al-Syariat yang berarti makna dan tujuan

yang dikehendaki syarak dalam mengsyariatkan suatu hukum bagi kemaslahatan

umat manusia. Kemaslahatan ini menyangkut kemaslahatan yang komprehensif

bagi umat manusia, sekaligus menghindarkan dari mafsadah (hal-hal yang

merusak), baik di dunia maupun akhirat. Kemaslahatan yang ingin di tuju dan

diciptakan dalam syariat Islam tersebut meliputi lima pemeliharaan yang paling

urgen (al-Kulliyyat al-Khams). Lima kemaslahatan tersebut disebut pula al-

Dharuriyyat al-Khams. Dharuriyyah adalah sesuatu yang harus

dibangun/ditegakkan dalam rangka menciptakan kemaslahatan agama dan dunia,

jika tidak ada maka bangunan kemaslahatan dunia tidak tercipta secara stabil,

justru akan terjadi kerusakan atau kehancuran atau mengancam kehidupan, di sisi

lain ketiadaannya akan menjadikannya kehilangan kenikmatan dan keselamatan

dan akan kembali mendapatkan kerugian yang nyata. Imam al-Syathibi

menyebutkan lima kemaslahatan tersebut meliputi hifdz al-Din (memelihara

agama), hifdz al-Nafs (memelihara jiwa), hifdz al-Nasl (memelihara keturunan

3
(kehormatan)), hifdz al-Aql (memelihara akal) dan hifdz al-Maal (memelihara

harta) (Zuhroni, 2010).

Pencegahan pada herpes zoster agar tidak beresiko berlanjut menyebabkan

terjadinya stroke dilakukan dengan cara pemberian farmakoterapi seperti antivirus

(Breuer et al., 2014). Sedangkan tatalaksana ketika sudah terjadi stroke yaitu bisa

berupa antrombolisis intravena, teknik endovaskular, antitrombotik, dan

neuroprotektor. Semua terapi stroke di sesuaikan dengan jenis strokenya dan

bertujuan untuk menghilangkan trombus ataupun emboli yang terjadi sehingga

sumbatan dapat hilang dan oksigen dapat mencapai ke otak pada stroke iskemik

(Patted et al., 2014).

Upaya pengobatan untuk mencegah terjadinya stroke iskemik akut

dilakukan guna mencapai 5 kemaslahatan dalam Islam. 5 kemaslahatan tersebut

terdiri dariagama, akal, jiwa, keturunan dan harta. Sebagai manusia diwajibkan

untuk menjaga 5 kemaslahatan tersebut. Orang dengan stroke iskemik cenderung

untuk mengalami kekambuhan sehingga akan menyulitkan dalam mengerjakan

kewajiban beribadah (hifdz al-Din), selain itu apabila terjadi penurunan kesadaran

akan mengakibatkan orang tersebut tidak dapat menjaga akal serta mengancam

jiwanya (hifdz al-Nafs dan hifdz al-Aql). Apabila seseorang terkena stroke iskemik

pada usia muda, dapat mengganggu sistem reproduksi yang akan mempengaruhi

keturunannya (hifdz al-Nasl). Pencegahan penyakit stroke iskemik secara dini

dapat mengurangi pengeluaran dana untuk berobat sebagaimana tujuan

kemaslahatan yaitu menjaga harta (hifdz al-Maal). Namun seiring dengan

perkembangan ilmu pengetahuan, ditemukan bahwa infeksi virus varicella dapat

3
menyebabkan stroke. Terapi antiviral dapat mengurangi resiko terjadinya stroke

dimasa depan (Breuer et al.,2014).

Dalam hal ini, wajib hukumnya kaum muslimin yang menderita penyakit

stroke untuk mencari pengobatan karena penyakit stroke dianggap salah satu

penyakit yang apabila tidak diobati, akan bertambah parah dan mengancam jiwa

penderita. Dalam berobat perlu diperhatikan halal dan haramnya kandungan zat

yang dipakai untuk pengobatan. Batasan kehalalan bergantung pada sifat

bahannya, pengaruh makanan pada bahan-bahannya, proses pembuatannya dan

pengaruh pada penggunanya. Namun apabila dalam keadaan yang darurat serta

tidak ada lagi obat lain yang dpaat menyembuhkannya, maka obat yang haram

dapat menjadi halal dan dapat digunakan dalam batas tertentu (Ali, 2008).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terapi stroke sangat

penting untuk kelangsungan hidup pasien (Patted et al., 2014).

Dengan dilakukannya terapi pada stroke, diyakini dapat tetap menjaga

nilai-nilai kemaslahatan yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Apabila stroke

ini tidak diterapi, akan menyebabkan kesulitan bagi pasien dalam hal beraktivitas

terutama untuk menjalankan kewajiban-kewajiban Islam seperti meninggalkan

sholat akibat penurunan kesadaran yang terjadi sehingga tujuan kemaslahatan

agama tidak terpenuhi. Selain itu, penyakit stroke dapat menyebabkan kematian

apabila tidak dilakukan pengobatan. Jika hal ini sampai terjadi, dapat diartikan

bahwa hal ini bertentangan dengan tujuan kemaslahatan yaitu menjaga jiwa.

Menjaga jiwa dalam Islam dapat didefinisikan sebagai menjaga keadaan jiwa agar

tetap sehat dan tentram. Penyakit stroke iskemik ini pada dasarnya membutuhkan

pengobatan segera yang bertujuan untuk mencegah kekambuhan penyakit ini

3
sehingga dapat mengurangi dana untuk berobat. Apabila seseorang menunda-

nunda untuk berobat, maka pada saat dia berobat, terapi yang harus dilakukan

pasti akan menumpuk dan ini akan menyebabkan pengeluaran dana yang jauh

lebih besar. Dalam ajaran Islam, seorang muslim diharuskan untuk menjaga harta

(hifdz al-Maal), maksudnya adalah menjaga harta agar dipergunakan sebaik-

baiknya. Dalam kasus penyakit ini, apabila seseorang mau berobat lebih awal dan

melakukan preventif (pencegahan), maka pengeluaran hartanya pun akan lebih

minimal.

3.3 Stroke Pasca Infeksi Virus Varicella Zoster Ditinjau Dari Islam

Varicella zoster virus (VZV) adalah herpesvirus yang merupakan

penyebab dari 2 penyakit berbeda yaitu varicella (juga dikenal cacar air) dan

herpes zoster (juga dikenal sebagai shingles). VZV merupakan anggota dari

keluarga alphaherpesviridae, seperti herpes simplex virus (HSV) tipe 1 dan 2,

cytomegalovirus (CMV), Epstein--Barr virus (EBV), human herpesvirus 6 (HHV-

6), human herpesvirus 7 (HHV-7), dan human herpesvirus 8 (HHV--8) (Brooks et

al., 2016). Virus varicella zoster adalah virus DNA untai ganda, anggota family

alphaherpesviridae dengan kapsid berdiameter 150-200 nm (ikosahedral), genom

125-240 kbp, berselubung/berenvelop yang merupakan lapisan terluar yang

mengandung glikoprotein virus, dan (Gambar 1). Virus mengkode lebih dari 35

protein pada virion. Virus varicella zoster tergolong virus neuropatik atau

neuroder-matotropik (Twersky dan Schmader, 2009; Nagel et al., 2015).

Zuhroni (2010) menjelaskan bahwa makhluk merupakan segala sesuatu

yang diciptakan Allah SWT, atau segala sesuatu selain Allah SWT adalah

3
makhluk. Alam semesta dengan segala isinya, mencakup benda, flora, fauna,

manusia, bakteri, virus, planet, galaksi, dan sebagainya adalah makhluk ciptaan

Allah SWT. Keistimewaan makhluk yang diberikan oleh al-Khaliq (Pencipta)

kepada makhluk-Nya, antara lain setiap makhluk diberi dan dianugerahi sifat

tersendiri yang berbeda dengan jenis lainnya, serta diciptakan keseimbangan demi

keberlangsungan hidupnya secara keseluruhan. Menurut AlQuran, semua

makhluk (dalam hal ini selain manusia) seluruhnya diperuntukkan bagi manusia,

seperti disebutkan dalam ayat al-Quran:

Artinya:
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan Nya tujuh langit. dan Dia
Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S. al Baqarah (2): 29).

Allah SWT menciptakan alam semesta sebagai tempat hidup makhluk-

makhluk ciptaan-Nya. Alam insani yang merupakan tempat hidup manusia,

berbeda sekali dengan alam hewani dan makhluk lainnya di dunia ini. Perbedaan

alam insani ini terletak pada keadaan, kejadian, dan penghidupannya. Pokok

keutamaan hidup manusia adalah diturunkannya Agama, memiliki akal, jiwanya,

hartanya, dan keturunannya. Bagi alam yang lain, tidak terdapat kelima pokok

kehidupan tersebut. Oleh sebab itu tidak ada bagi mereka keteraturan hidup

(Daradjat et al., 1984).

Manusia diberi kelebihan oleh Allah SWT berupa potensi dan daya

psikologisnya, berbeda dengan lingkungannya yang tidak punya alternatif dan

3
pilihan bebas, demikian pula malaikat, jin, iblis, dan setan adalah makhluk

monoton, hanya punya satu kecenderungan saja. Manusia dalam pandangan Islam

tersusun atas dua unsur, jasmani dan rohani. Tugas manusia dibumi ini adalah

sebagai khalifah (menguasai dan mengelola) bumi, serta melestarikan alam

(rahmatan lil Alamin), sebagai mandataris Tuhan di bumi (Zuhroni, 2010). Hal

ini ditegaskan dalam ayat al-Quran:

Artinya :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (Q.S. al Baqarah
(2): 30).
Manusia memiliki akal sebagai anugerah yang tidak dimiliki oleh makhluk

lain. Dengan adanya akal, segala anggota manusia, gerak, dan diamnya, semuanya

berarti dan berharga. Akal ini dapat digunakan untuk berpikir dan memperhatikan

segala benda dan barang yang ada di alam ini, sehingga benda-benda dan barang-

barang yang halus serta tersembunyi, dapat dipikirkan guna dan manfaatnya. Jika

akal manusia digunakan dengan semestinya, maka tidak ada benda atau barang di

dunia ini yang sia-sia bagi manusia (Daradjat et al., 1984). Akal dapat membantu

manusia memanfaatkan seluruh sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan

3
hidupnya, melalui akal manusia dapat menyadari tanda-tanda kebesaran Allah.

Seperti firman Allah SWT dalam ayat al-Quran:

Artinya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imron
[3] : 190-191).

Akal, dari segi bahasa yang telah diindonesiakan, berasal dari kata al-

aql. Dengan kekuatan akal, orang mendapatkan ilmu, dan ilmu yang digunakan

serta dimiliki oleh manusia bergantung pada kekuatan akalnya. Selain itu, akal

adalah al-hijr, yang berarti menawan atau mengikat. Kata tersebut dari segi

bahasa pada mulanya berarti tali pengikat, penghalang. Al-Quran

menggunakannya bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang

terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Orang yang berakal adalah orang yang

mampu mengikat atau mengendalikan hawa nafsu (Suaidi, 2011).

Akal adalah penerang dan berfungsi bagaikan mata. Oleh sebab itu ilmu

pengetahuan tidak akan mungkin didapatkan tanpa bantuan akal dan juga metode-

metode terkait dengannya. Akal manusia hendaknya selalu dijaga kejernihan dan

ketajamannya yang fitrah dengan didikan yang baik, agar akal terhindari dari

3
segala penyakit dan pengaruh buruk yang akhirnya mengacaukan fungsinya (Az

Zahrani, 2005).

Haerudin (2012) mengungkapkan bahwa manusia sebagai makhluk

ciptaan Allah SWT wajib menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya. Hal ini

didukung oleh firman Allah SWT:

Artinya :
Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah
menimpakan kemurkaan kepada orang orang yang tidak mempergunakan
akalnya (Q.S. Yunus (10): 100).

Ayat tersebut menekankan bahwa manusia wajib mendayagunakan seluruh

potensi yang dimiliki untuk senantiasa beramar maruf dan nahi munkar. Menebas

segala kebodohan dan kemafsadatan serta menegakkan kejeniusan dan

kemasalahatan. Akal sangat dekat dengan potensi intelegensi dan kreativitas.

Tanpa menggunakan akal pikirannya dengan baik, mustahil manusia akan kreatif,

maju, dan dinamis. Mendayagunakan segenap potensi akal pikiran manusia adalah

bagian terbesar dari kemaslahatan dan peradaban (Haerudin, 2012).

Ilmu pengetahuan merupakan hasil kerja akal manusia yang berpikir untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya. Ilmu pengetahuan bukanlah musuh atau lawan

dari iman, melainkan penunjuk jalan yang membimbing ke arah keimanan

(Daradjat et al., 1984). Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam

ajaran Islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat al-Quran yang memandang

orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia di samping hadits-hadits nabi

yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Di

dalam al-Quran, kata ilmu dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali,

3
ini bermakna bahwa ajaran Islam sangat kental dengan nuansa keilmuan.

Ghulsyani menyatakan salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang

lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), al-Quran dan al-

sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan,

serta menempatkan orang orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi (SPI,

2012).

Zuhri (2012) mengungkapkan bahwa ilmu adalah cahaya dan petunjuk,

sedangkan kebodohan adalah kegelapan dan kesesatan. Hal ini sesuai dengan

firman Allah SWT:

Artinya :
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan
kepadamu banyak dari isi Alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula
yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan
kitab yang memberikan keterangan yang sangat jelas. Dengan kitab itulah Allah
menunjukki orang orang yang mengikuti keridhaan Nya ke jalan keselamatan,
dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang orang dari gelap gulita
kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin Nya, dan menunjuki
mereka ke jalan yang lurus (Q. S. Al Maidah (5): 15 16).

Kewajiban umat muslim dalam menuntut ilmu juga didukung oleh hadits

berikut:

3

Artinya:
Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat (HR. Ibnu Abdil
Bari).

Selain menjadi kewajiban, menuntut ilmu dalam Islam juga merupakan

suatu cara untuk beribadah kepada Allah dan mendapatkan pahala menuju surga,

seperti apa yang dikatakan Rasulullah dalam hadits berikut ini:

Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w bersabda: Barang siapa
yang menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan
memudahkan jalannya menuju surga (HR. Muslim).

Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa kita wajib menuntut ilmu.

Kegiatan dan kesibukan seseorang dalam menuntut ilmu memiliki keutamaan

yang sangat besar, dan orang yang melakukannya pada dasarnya sedang dalam

perjalanan menuju jannah (surga) (Zuhri, 2012).

Akal dan Ilmu Pengetahuan adalah dua hal yang saling terkait satu dengan

lainnya. Imam Ghazali berpendapat bahwa akal bagaikan pondasi dan ilmu

pengetahuan adalah bangunannya. Sebuah fondasi membutuhkan bangunan agar

dapat berfungsi sebagaimana dirinya, dan sebuah bangunan pun tidak akan

mampu kokoh dan bertahan tanpa adanya pondasi. Semua ilmu, baik ilmu kuno

maupun yang telah termodifikasi, semuanya hadir untuk kepentingan manusia dan

juga kebaikan semua manusia, selama manusia dapat mempergunakannya dalam

kebaikan (Az-Zahrani, 2005).

3
Stroke pasca infeksi virus varicella zoster merupakan sebuah kemajuan

ilmu pengetahuan dalam dua hal yang dulunya dianggap tak berkaitan ternyata

penelitian-penelitian terbaru membuktikan dan menjelaskan mekanisme

keterkaitan antara infeksi virus varicella zoster sebagai faktor resiko terjadinya

stroke. Kemajuan ilmu pengetetahuan ini karena kerja akal manusia dalam

melahirkan Ilmu Pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Kemajuan ilmu pengetahuan tentang stroke pasca infeksi virus varicella zoster ini

juga sangat berguna untuk pengobatan baik kuratif maupun pada pemilihan

tatalaksana pada terapi kuratif. Allah SWT memang menurunkan penyakit beserta

obatnya, tetapi obat tersebut tidak diturunkan dalam bentuk langsung pakai. Perlu

proses pengolahan melalui proses pemikiran, hingga akhirnya sumber daya yang

diberikan Allah SWT dapat benar-benar berguna dan dimanfaatkan untuk

kebutuhan pengobatan khususnya. Hal ini sesuai dengan hadits:

Artinya :
Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan
menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh yang yang bisa mengetahuinya
dan tidak diketahui oleh orang yang tidak bisa mengetahuinya. (HR. Ahmad,
Ibnu Majah, dan Al Hakim).

Oleh karenanya sekiranya terapi ini dapat menjadi halal dengan tujuan untuk

memenuhi tujuan syariat Islam seperti yang diuraikan diatas, mengingat terapi ini

memberikan hasil yang baik tanpa adanya efek samping yang buruk pada

penderita kanker.

Dari semua pembahasan sebelumnya dalam hal perkembangan dunia

pengobatan, manusia dituntut untuk terus berikhtiar dan mencari yang terbaik

3
untuk dirinya. Maka pengembangan viroterapi dengan HSV ini merupakan salah

satu bentuk ikhtiar manusia untuk mencari metode pengobatan yang terbaik,

mengingat metode pengobatan yang telah ada mengalami banyak kemunduran

dalam hal penyembuhan penyakit kanker saat ini.