Anda di halaman 1dari 9

AKUMULASI UNSUR HARA MINERAL DALAM

SEL TUMBUHAN

LAPORAN

disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan yang
diampu oleh:

Dr. Hj. Sri Anggraeni, M.Si

Dr. Hj. Sariwulan Diana, M. Si

disusun oleh:

Kelompok 8

Anna Nurul Alfiyah 1405664

Rifal Firmansyah 1405063

Rima 1404937

Vidia Damayanti 1405319

Yayang Yuliani 1401308

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2017
A. Judul
Peristiwa Imbibisi pada Biji

B. Waktu Pelaksanaan
1. Hari, Tanggal : 27 September 2017
2. Waktu : 07.00 10.30 WIB
3. Tempat : Laboratorium Fisiologi Gedung JICA UPI

C. Tujuan Percobaan
Memahami pengaruh temperatur dan potensial osmosis larutan yang
diimbibisi terhadap peristiwa imbibisi yang terjadi pada biji tumbuhan.

D. Dasar Teori
Imbibisi adalah absorbsi air oleh partikel padat dengan adanya absorben tanpa
membentuk suatu larutan. Imbibisi juga disebut dengan absorbs air oleh koloid
hidrofilik (Kumar, 2017). Imbisi merupakan salah satu jenis difusi yang khas
karena pergerakan air terjadi sepanjang gradient difusi (Tim Fisiologi Tumbuhan,
2017). Substansi padat atau absorben pada imbibisi disebut dengan imbiban.
Imbibisi air meningkatkan volume imbiban yang menghasilkan tekanan imbibisi
(Kumar, 2017).
Terdapat beberapa kondisi yang diperlukan untuk terjadinya imbibisi, yaitu:
1. Adanya perbedaan potensial air antara imbiban dan cairan imbibe atau cairan
absorben;
2. Adanya tekanan antara imbiban dan cairan imbibe;
3. Meningkatnya temperatur meningkatkan imbibisi (Kumar, 2017).
Imbibisi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tekstur dari imbiban, afinitas
imbiban terhadap imbibat (yang diabsorb), suhu, tekanan, dan pH dari medium.
Imbibisi memiliki peran terhadap tumbuhan yaitu membantu dalam absorbs air
pada akar dan sel-sel tumbuhan, imbibisi meningkatkan sel dalam keadaan
lembab, dan tekanan imbibisi membantu dalam perkecambahan, pertumbuhan
kecambah di tanah, dan lainnya (Kumar, 2017). Oleh karena itu, dilakukan
percobaan imbibisi pada kacang kedelai dengan 3 jenis larutan berupa aquades,
larutan sukrosa 0,5 M, dan larutan sukrosa 1 M dengan keadaan suhu yang
berbeda yaitu pada suhu kamar, 40C dan 60C, untuk mengetahui kecepatan
imbibisi pada kacang kedelai dengan pengaruh perbedaan konsentrasi dan suhu.

E. Alat dan Bahan


1. Alat
Tabel 1. Alat yang digunakan
No Nama Alat Jumlah
1 Tabung Reaksi 9 buah
2 Penangas air 400C dan 600C Setiap suhu 1 buah
3 Timbangan 1 set
4 Baker glass 50 ml 2 buah
5 Gelas ukur 10 ml 1 buah
6 Pipet 2 buah
7 Tissue Secukupnya
8 Label Secukupnya

2. Bahan
Tabel 2. Bahan yang digunakan
No Nama Bahan Jumlah
1 Kacang Kedelai 90 biji
2 Aquades 15 ml
3 Larutan sukrosa 1 M 15 ml
4 Larutan sukrosa 0,5 M 15 ml
F. Langkah Kerja
1. 9 tabung disediakan dan di buat menjadi 3 kelompok yang masing-masing
kelompoknya terdiri dari 3 tabung. Kelompok tabung pertama diisi dengan
aquades, tabung ke dua diisi dengan sukrosa 1M dan tabung ke-3 diisi
dengan sukrosa 0,5M. Setiap tabung diisi sebanyak 5 ml dari setiap
larutan.
2. Dari setiap kelompok tabung reaksi, satu tabung ditempatkan pada suhu
kamar, pada penangas air dengan suhu 400C dan 600C.
3. 90 biji kacang kedelai dipilih yang masih dalam keadaan baik (tidak
terluka). Biji kedelai dibagi kedalam 9 kelompok dan setiap kelompoknya
ditimbang menggunakan timbangan, sehingga hasilnya bisa dicatat.
4. Setiap kelompok biji kacang dimasukkan ke dalam masing-masing
tabung.
5. Biji-biji kedelai dibiarkan terendam selama 1 jam.
6. Setelah 1 jam, setiap biji kacang di timbang kembali, dan dicatat hasil
timbangannya.

G. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil
Tabel 3. Laju Imbibisi Pada Biji-Bijian
Konsentrasi Kecepatan Imbibisi (gram/s)
No. Biji
Glukosa Kamar 40o 60o 80o
0M 1,7 X 10-4 2,6 X 10- 4,7 X 10-4 -
4

0,25 M 1,6 X 10-4 1,9 X 10- 3,9 X 10-4


1. Kedelai 4

0,75 M 1,2 X 10-4 1,4 X 10- 2,3 X 10-4


4
0M 5,6 X 10-6 2,5 X 10- 1,8 X 10-4
5

Kacang 0,25 M 2,8 X 10-6 2,2 X 10- 1,5 X 10-4


2. 5
Hijau
0,75 M 5,6 X 10-6 5,6 X 10- 8,3 X 10-5
6

0M 6,1 X 10-5 3,6 X 10- 1,2 X 10-4


4

Kacang 0,5 2 X 10-4 1,8 X 10- 2,7 X 10-4


3. 4
Tanah
1M 1,8 X 10-4 1,6 X 10- 2,7 X 10-4
4

0M 8,3 X 10-7 2,7 X 10- 1,2 X 10-4


7

Kacang 0,5 8 X 10-7 1,5 X 10- 6,6 X 10-5


4. 5
Hijau
1M 5,6 X 10-7 5,6 X 10- 4,5 X 10-5
7

0M 5,6 X 10-6 6,3 X 10- 1,1 X 10-4


5

0,5 4,4 X 10-5 5,8 X 10- 5,2 X 10-5


5. Jagung 5

1M 3 X 10-5 4,4 X 10- 8 X 10-5


5

0M 2,28 X10- 2,54 X 4,96


4
10-4 X 10-
6. Kedelai 4

0,5 1,85 X 2,13 X 4,76


10-4 10-4 X 10-
4

1M 1.12 X 1,60 X 1,87


10-4 10-4 X 10-
4

0M 47,2 X 5,55 X 11,9 X 10-5


10-5 10-5
0,25 M 3,88 X 6,67 X 9,72 X 10-5
7. Jagung
10-5 10-5
0,75 M 3,89 X 5 X 10-5 7,2 X 10-5
10-5
0M 2 X 10-4 2,7 X 10- 3,9 X 10-4
4

0,5 1,8 X 10-4 1,5 X 10- 3 X 10-4


8. Kedelai 4

1M 1,1 X 10-4 1,4 X 10- 2,4 X 10-4


4

0M 6,11 X 6,11 X 1 X 10-4


10-5 10-5
0,5 4,44 X 5 X 10-5 1,3 X 10-4
9. Cepleura
10-5
1M 3,33 X 3,61 X 1 X 10-
10-5 10-5 4
2. Pembahasan
Imbibisi merupakan salah satu proses difusi air yang terjadi pada tanaman,
dimana pada imbibisi terdapat adsorban yang membantu penyerapan.
Percobaan Imbibisi dilakukan oleh 9 kelompok pada biji kacang kedelai, biji
kacang hija, jagung, kacang tanah dan Cepleura sp.. Biji-biji kering tersebut
direndam pada berbagai macam larutan dengan konsentrasi larutan Sukrosa
0,5 M, 0,25 M, 0,75 M, 1 M dan aquadest. Pada percobaan ini juga atur suhu
yang berbeda antara lain suhu ruangan, 40, 60 dan 80 pada waterbath.
Setelah seluruh berat awal ditimbang dan dicatat teramati seluruhnya
mengalami penambahan berat dari berat semula. Penambahan hingga hampir
mencapai ini menunjukkan terjadinya proses imbibisi. Dalam praktikum ini
digunakan biji sebagai bahan karena biji merupakan cikal bakal pertumbuhan
yang membutuhkan air. Ada dua kondisi yang diperlukan untuk terjadinya
imbibisi, yaitu adanya gradien potensial air antara permukaan adsorban
dengan senyawa yang diimbibisi dan adanya afinitas antara komponen
adsorban dengan senyawa yang diimbibisi.
Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan data bahwa imbibisi tertinggi
terjadi pada jagung dengan suhu 60 dan konsentrasi 0M dan nilai imbibisi
terendah terjadi pada Cepleura sp. pada konsentrasi tertinggi yaitu 1M dan
suhu 60. Pada hasil pengamatan biji tanaman lain seperti kacang kedelai
menunjukan hasil dimana pada suhu ruangan dengan konsentrasi rendah
imbibisi yang terjadi sangat lambat sedangkan pada suhu 80 imbibisi yang
terjadi menningkat. Data serupa juga ditunjukan oleh biji tumbuhan lainya.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa imbibisi juga dipengaruhi oleh beberapa
faktor.
H. Simpulan
Dari hasil pengamatan imbibisi pada berbagai macam biji tanaman dengan
kondisi yang berbeda dapat disimpulkan bahwa kecepatan imbibisi pada medium
yang dipanaskan lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak dipanaskan (suhu
ruangan), dimana terbukti dengan rata-rata tertinggi berada pada suhu 80.
Konsentrasi larutan juga berpengaruh terhadap kecepatan imbibisi, dimana pada
rata-rata tertinggi berada pada konsentrasi 0M dan terendah terjadi pada
konsentrasi 1M. Kedua faktor tersebut membuktukan bahwa suhu dan konsentrasi
berpengaruh pada kecepatan imbibisi. Dan dari berbagai macam jenis biji yang
digunakan data yang diperoleh memiliki nilai yang berbeda-beda tetapi dengan
rata-rata yang hampir serupa, hal ini dikarenakan kebutuhan dan daya serap dari
masing-masing tumbuhan berbeda sehingga nilai imbibisi pun berbeda tetapi
dengan pola yang serupa.
DAFTAR PUSTAKA
Kumar, Srinibas. (2017). Imbibition: Conditions, Characteristics, Factors, Role and
Significance. [Online]. Diakses dari:
http://www.biologydiscussion.com/plants/imbibition/imbibition-conditions-
characteristics-factors-role-and-significance-botany/14845 pada 27 September
2017.
Tim Fisiologi Tumbuhan. (2017). Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan.
Bandung: Departemen Pendidikan Biologi, FPMIPA, Universitas Pendidikan
Indonesia.