Anda di halaman 1dari 51

menghitung spora dan jamur

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI


Menghitung Jumlah Spora Atau Sel
dan Mengukur ukuran mikroorganisme

Disusun oleh:

Nama : Kas Andika Putri


NPM : E1J012133
Hari, tanggal, jam praktikum : Rabu, 24 April 2013 (12.00-14.00)
Dosen pembingbing : Ir.Djamilah,MP
Pelatih (coass) : Muhimmatul Husna

Laboratorium Ilmu Hama Penyakit Tanaman


Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
2013

A.TUJUAN PRATIKUM
1. Mahasiswa dapat menghitung spora dengan menggunakan haemocytometer
2. Mahasiswa dapat mengukur sel menggunakan Skala micrometer okuler(SMOK) dan Skala
micrometer obyektif.

B.DASAR TEORI
Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari mikroorganisme
(organism hidup yang ukurannya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata biasa) atau mikroba.
Oleh karena itu objek kajiannya biasanya adalah alga miskroskopik, protozoa, archaea dan virus.
Virus dimasukkan dalam obyek kajian walaupun sebenarnya ia tidak sepenuhnya dapat dianggap
sebagai mahluk hidup. (Black, 2005)
Mikroorganisme adalah mikroba atau organisme yang berukuran sangat kecil sehingga
untuk mengamatinya diperlukan alat pembesar. Mikroorganisme seringkali bersel tunggal
meskipun beberapa protista bersel tunggal masih dapat terlihat oleh mata telanjang dan ada
beberapa spesies multisel yang tidak dapat terlihat oleh mata telanjang. Mikroorganisme biasanya
dianggap mencakup semua prokariota, protista dan alga renik. Fungi terutama yang berukuran
kecil dan tidak membentuk hifa, dapat pula dianggap sebagai bagiannya meskipun banyak yang
tidak menyepakatinya.
Haemocytometer adalah alat untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam volume
tertentu cairan, dan dengan demikian menghitung konsentrasi sel dalam cairan secara keseluruhan
Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur berdasarkan konsentrasi sel (jumlah sel per
satuan isi kultur) ataupun destilasi sel (berat kering dari sel-sel persatuan isi kultur). Dua parameter
ini tidak selalu sama karena berat kering sel rata-rata bervariasi pada tahap berlainan dalam
pertumbuhan kultur, kedua para meter tersebut juga tidak bermakna sama dalam penelitian
mengenai biokimia mikroorganisme atau gizi mikroorganisme. Densitas sel adalah kuantitas yang
lebih bermakna, sedangkan dalam penelitian mengenai inaktivitas mikroorganisme, kosentrasi sel
adalah kuantitas yang bermakna (Pratiwi, 2008).
Mikroba berukuran sangat kecil dan untuk mengetahuinya digunakan mikrometer.
Mikrometer merupakan kaca berskala dan dikenal 2 jenis micrometer yaitu mikrometer okuler dan
mikrometer objektif. Mikrometer okuler dipasang pada lensa okuler mikroskop, sedangkan
micrometer objektif berbentuk slide yang ditempatkan pada meja preparat mikroskop. Jarak antar
garis skala pada mikrometer okuler tergantung pada perbesaran lensa objektif yang digunakan
yang menentukan lapang pandang mikroskop. Jarak ini dapat ditentukan dengan mengkalibrasi
antara mikrometer okuler dan objektif. Mikrometer objektif memiliki skala yang telah diketahui,
menjadi tolak ukur untuk menentukan ukuran skala micrometer okuler. 1 skala micrometer objektif
= 0,01 mm / 10 m.
Kalibrasi dilakukan dengan menghimpitkan skala mikrometer objektif dan okuler pada
perbesaran yang diinginkan. Skala ke nol (garis pertama) kedua mikrometer disimpulkan menjadi
1 garis kemudian dilihat pada skala ke berapa kedua jenis mikrometer tersebut bertemu/berhimpit
kembali. Dari hasil tersebut dapat diketahui satu satuan panjang pada skala mikrometer okuler itu
berdasarkan beberapa jumlah skala kecil mikrometer objektif yang berada di antara garis yang
berhimpit tadi. (Muslim, 2011)
Pertumbuhan adalah penambahan secara teratur semua komponen sel suatu
jasad.Pembelahan sel adalah hasil dari pertumbuhan sel. Pada jasad bersel tunggal
(uniseluler),pembelahan atau perbanyakan sel merupakan pertambahan jumlah individu. Misalnya
pembelahansel pada bakteri akan menghasilkan pertambahan jumlah sel bakteri itu sendiri. Pada
jasad berselbanyak (multiseluler), pembelahan sel tidak menghasilkan pertambahan jumlah
individunya, tetapihanya merupakan pembentukan jaringan atau bertambah besar jasadnya. Dalam
membahaspertumbuhan mikrobia harus dibedakan antara pertumbuhan masing-masing individu
sel danpertumbuhan kelompok sel atau pertumbuhan populasi (Suharjono, 2006).
Kecepatan pertumbuhan merupakan perubahan jumlah atau massa sel per unit
waktu.Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang
berturut-turutdisebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pada
fase kematianeksponensial tidak diamati pada kondisi umum pertumbuhan kultur bakteri, kecuali
bila kematiandipercepat dengan penambahan zat kimia toksik, panas atau radiasi (Sofa, 2008).

C.BAHAN DAN ALAT


1. Menghitung jumlah spora atau sel
1. Bahan : 1 cawan biakan Saccharomyces.sp
2. Alat : 1 unit Haemocytometer,1 buah jarum ent,1 buah gelas penutup,1 buah pipet tetes, 1 unit
mikroskop
2. Mengukur mikroorganisme
1. Bahan : 1 cawan biakan khamir(Saccharomyces sp),10 aquades,100 ml alkohol 70%
2. Alat: 1 set mikrometer(objektif dan okuler),1 buah pipet tetes,1 buah jarum ent,1 buah gelas
objek,1 buah gelas penutup,1 unit mikroskop
D.CARA KERJA
1. Menghitung jumlah spora atau sel
1. Sel dipanen dari biakan dengan cara menuang 5 ml aquades kedalam cawan biakan sambil
digosokan batang gelas bentuk L kemudian suspensi sel dipipet dan daimsukkan dalam gelas
erlenmeyer 50 ml.Pemanenan diulangi lagi sampai mendapatkan 20 ml suspensi atau sampai sesuai
yang dibutuhkan.
2. Haemocytometer dibersihkan dengan menggunakan alcohol sampai benar-benar bersih, kemudian
dikeringkan. Perlu diingat bahwa kotak pada haemocitometer ukurannya sangat kecil sehingga
kemasukan satu butir debu saja sudah cukup menyumbat kotak.
3. Suspensi spora dikocok kemudian dipipet dan diteteskan pada haemoytometer tepat pada ruang
hitungnya, sebanyak satu tetes.
4. Tetesan suspensi ditutup menggunakan gelas penutup dan dijaga agar tidak menjadi gelembung
udara dala kotak-kotak haemocytometer.
5. Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop dan dihitung jumlah sel dalam setiap kotak.
Jika antar kotak jumlahnya tidak seragam, ulangi langkah ke 3(dikocok lagi)
6. Pada praktikum dihitung dari 3-9(ganjil) kotak ruang hitung, kemudian dirata-rata dan dihitung
jumlah sel setiap koloninya.

2.Mengukur mikroorganisme
1. Gelas objek dibersihkan menggunakan alkohol 70% sampai bebas debu dan lemak, kemudian
ditetesi aquades.
2. Sel dipanen dari biakan dengan cara menuang 5 ml aquades kedalam cawan biakan sambil
digosokan batang gelas bentuk L kemudian suspensi sel dipipet dan daimsukkan dalam gelas
erlenmeyer 50 ml.Pemanenan diulangi lagi sampai mendapatkan 20 ml suspensi atau sampai sesuai
yang dibutuhkan.
3. Massa sel diambil menggunakan jarum ose,kemudian diletakkan di atas gelas obyek kemudian
ditutup dengan gelas penuup dan dijaga agar tidak timbul gelembung udara.
4. Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran dimana obyek terlihat paling
jelas.
5. Micrometer okuler diasang dalam lensa okuler untuk mengukur obyek dengan menggunakan skala
yang ada dalam micrometer okuler, dengan cara menggeser-geser meja benda pada mikroskop
dam memutas lensa okuler sampai tepat pada obyek yang di ukur.
6. Pada praktikan dilakukan pengukuran panjang 5 sel dan lebar 5 sel kemudian ukuran sekala dicatat
pada table pengamat.
7. Setelah selesai mengukur obyek denga sekala okuler, preparat diambil dari menja benda kemudian
diganti dengan micrometer obyektif untuk kalibrasi skala micrometer. Harus diingat bahwa
pembesaran lensa mikroskop yang digunakan hars sama antara pengukuran selnya.
8. Skala micrometer okuler (SMOK) diatur supaya berimpit dengan skala micrometer obyektif
(SMOB), dengan cara menggeser-geser mejabenda pada mikroskop dan memutar lensa okuler.
9. Setelah garis skala masing-msing ada yang saling berimpit, dilakukan kalibrasi dengan cara
membandingkan kesetaraan SMOK danSMOB, yaitu denganmenghitung jumlah SMOK dan
jumlah SMOB.
10. Dalam praktikum kalibrasi atau penyetaraan dilakukan sebanyak 5 kali,untuk mendapatkan ukuran
1SMOK: x smob
11. Kemudian dihitung ukuran sel menurut ukuran mikrometer obyektif( 1SMOB= 10 m).

E.DATA HASIL PRATIKUM


1.Menghitung Spora Atau Sel
Gambar Keterangan Gambar
Kotak 1= 6 sel
Kotak 2= 4 sel
Kotak 3= 6 sel
Kotak 4= 10 sel
Kotak 5= 8 sel
Kotak 6= 3 sel
Kotak 7= 5 sel
Kotak 8= 5 sel
Kotak 9= 5 sel
Perhitungan :52/9=5,77 sel
Jumlah spora dalam satu cawan
=416,6 juta sel
2.Mengukur Mikroorganisme
Obyek sel Pengamatan Ukuran Sel(SMOK)
Ulangan Panjang Sel Lebar Sel
1 63 27
2 19 4
3 9 5
Obyek mikromter Skala Yang Berimpit
Ulangan SMOK SMOB
1 20-45 2
2 45-70 3
3 70-90 3

F.PERHITUNGAN dan PEMBAHASAN


1.Perhitungan
Menghitung Spora Atau Sel
Rata-rata kotak kecil berisi =5,77 sel
Volume satu kotak kecil =0,05mm x 0,05mm x 0,1mm

0,05mm x 0,05mm x 0,1mm =5,77 sel


25 x 10-5 mm3 =5,77 sel
1 mm3 =5,77 sel/25x10-5
=5,77 x 105/25 sel
1 mm3 = 23080 sel
Jadi dalam 1 ml suspensi =1 cm3x23080 sel
=10 mm x 10 mm x 10 mm x23080 sel
=23.080.000 sel
=23,08 juta sel
=23,08x106 sel
Maka pada hasil panen 20 ml suspensi atau dalam satu cawan berisi
20 x 23,08.106 sel =461,6 . 106
=46,16 . 107
=461,6 juta sel

Mengukur Mikroorganisme
Ukuran rata rata panjang sel =63+19+9 / 3 = 30,33 SMOK
Ukuran rata rata lebar sel =27+4+5 /3 = 12 SMOK
Kaliberasi mikrometer 1. 25 SMOK = 2 SMOB
2. 25 SMOK = 3 SMOB
3. 20 SMOK = 3 SMOB
70 SMOK = 8 SMOB
1 SMOK = 8/70 SMOB =0,1142 SMOB
Ukuran rata rata panjang sel =30,33 x 1,142 m = 34,637 m =34,64 m
Ukuran rata rata lebar sel = 12 x 1,142 m = 13,70 m
Jadi ukuran rata rata sel = 34,64 m x 13,70 m

2.Pembahasan
Pada praktikum ini kami melkukan acara dengan judul menghitung jumlah spora dan
mengukur sel.pada bagian meghitung jumlah sel kami melakukuan pengamatan menggunakan
bahan biakan saccharomyces sp,dan menggunakan alat haemocytometer,pipet
tetes,mikroskop,gelas penutup objek. Haemocytometer adalah perangkat awalnya dirancang untuk
penghitungan sel darah . Sekarang juga digunakan untuk menghitung jenis sel serta partikel
mikroskopis lainnya.
Dalam menghitung ini kami meghitung sel dalam 9 kotak,setelah diamati masing-masing kotak
berisi:Kotak 1 =6 sel,Kotak 2 =4 sel,kotak 3 = 6 sel,kotak 4 = 10 sel,kotak 8 = 0 sel,kotak 7 = 5
sel, kotak 8 = 5 sel,dan kotak 9=5 sel
Dari hasil perhitungan didapatkan jumlah rata-rata sel pada setiap kotak : 5,77 sel,
Volume satu kotak kecil itu yaitu 0,05mm x 0,05 mm x 0,1 mm.dari maka dihitung dari hasil itu
didapatkan dalam 1 mm3 terdapat 23080 sel.dari jumlah sel dalam 1 mm3 itu didapatkan dalam 1
ml suspensi terdapat 23,08 juta sel atau 23,08 x 106 sel.
Maka pada hasil panen 20 ml suspensi atau dalam satu cawan berisi 20 x 23,08 .106 sel
=46,16 x 10 7 sel atau sama dengan 416,6 juta sel
Pada kegiatan mengukur ukuran sel kami menggunakan biakan khamir,alkohol,kemudian
alat alatnya yaitu mikrometer(obyektif dan okuler),pipet tetes,gelas obyek,gelas penutup,dan 1 unit
mikroskop.sebelummelakukan pengamatan atau pengukuran terhadap sel,kami melkukan kalibrasi
terlebih dahulu.
Kalibrasi dilakukan dengan menghimpitkan skala mikrometer objektif dan okuler pada
perbesaran yang diinginkan. Skala ke nol (garis pertama) kedua mikrometer disimpulkan menjadi
1 garis kemudian dilihat pada skala ke berapa kedua jenis mikrometer tersebut bertemu/berhimpit
kembali. Dari hasil tersebut dapat diketahui satu satuan panjang pada skala mikrometer okuler itu
berdasarkan beberapa jumlah skala kecil mikrometer objektif yang berada di antara garis yang
berhimpit tadi. (Muslim, 2011)
Setelah melakukan kalibrasi,didapatkan hasilnya 25 SMOK,2 SMOB: 25 SMOK,3
SMOB:20 SMOK,3 SMOB .dari hasil itu didapatkan hasil 1 SMOK yaitu 0,1142 SMOB.
Kemudian kami mengukur ukuran sel nya dengan 3 kali pengulangan,dari hasil
pengukuran yang kami lakukan itu didapatkan panjang selnya berturut-turut yaitu 63,19,9 dan rata
rata nya 30,33 SMOK. Kemudian ukuran lebar sel nya berturut turut yaitu 27,4,5 dan rata rata nya
yaitu 12 SMOK.
Dari hasil tersebut didapatkan ukuran rata rata panjang sel nya setelah dikalikan dengan
kalibrasi mikrometer yaitu 30,33 x 1,142 m =34,637 m atau 34,64 m,dan ukuran rata rata
lebar sel nya yaitu 12 x1,142 m =13,70 m
Jadi dari hasil itu didapatkanlah ukuran rata rata sel yaitu 34,64 m x 13,70 m

G .KESIMPULAN
Kecepatan pertumbuhan merupakan perubahan jumlah atau massa sel per unit
waktu.Pertumbuhan mikroba dalam suatu medium mengalami fase-fase yang berbeda, yang
berturut-turutdisebut dengan fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian
Haemocytometer adalah alat untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam volume
tertentu cairan, dan dengan demikian menghitung konsentrasi sel dalam cairan secara keseluruhan
Dari percobaan di dapatkan hasil pada cawan berisi sebanyak 461,6 juta sel dan ukuran
rata rata sel 34,64 m x 13,70 m
H.DAFTAR BACAAN
o A
o Muslim, Ahmadi. 2011. Menghitung jumlah bakteri. Bandung:erlangga
Pratiwi, 2008. Seleksi dan Karakterisasi Mikroba Antagonis.Depok:UI
o
o Purnomo, Bambang Ir MP. 2013. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Bengkulu: lab ilmu hama dan
penyakit tanaman. Universitas Bengkulu.
o Sofa, 2008. Dasar Dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta
Suharjono, 2006. Karakteristik dan pertumbuhan sel.Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Brawijaya. Malang.
haemacytometer

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mikroorganisme adalah mikroba atau organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk

mengamatinya diperlukan alat pembesar. Mikroorganisme seringkali bersel tunggal meskipun

beberapa protista bersel tunggal masih dapat terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies

multisel yang tidak dapat terlihat oleh mata telanjang. Mikroorganisme biasanya dianggap

mencakup semua prokariota, protista dan alga renik. Fungi terutama yang berukuran kecil dan

tidak membentuk hifa, dapat pula dianggap sebagai bagiannya meskipun banyak yang tidak

menyepakatinya (Tria, 2012).

Penghitungan jumlah bakteri hidup terbagi atas dua, yaitu secara (tidak langsung) Misalnya

perhitungan pengurangan jumlah substrat dan secara langsung. Penghitungan mikroba secara

langsung antara lain:

1. Plate Count (hitungan cawan)


Plate count atau viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup

dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan

dan lingkungan yang sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan

merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut (Mikapin,

2012).

2. Turbidimetri

Turbidimetri merupakan metode yang cepat untuk menghitung jumlah bakteri dalam suatu larutan

menggunakan spektrofotometer. Bakteri menyerap cahaya sebanding dengan volume total sel

(ditentukan oleh ukuran dan jumlah). Ketika mikroba bertambah jumlahnya atau semakin besar

ukurannya dalam biakan cair, terjadi peningkatan kekeruhan dalam biakan. Kekeruhan dapat

disebut optical density (absorbsi cahaya, biasanya diukur pada panjang gelombang 520 nm 700

nm). Untuk mikroba tertentu, kurva standar dapat memperlihatkan jumlah organisme/ml

(ditentukan dengan metode hitungan cawan) hingga pengukuran optical density (ditentukan

dengan spektrofotometer) (Mikapin, 2012).

3. Hemasitometer

Hemasitometer adalah metode perhitungan secara mikroskopis. Ruang hitung terdiri dari 9 kotak

besar dengan luas 1 mm. Satu kotak besar di tengah, dibagi menjadi 25 kotak sedang dengan

panjang 0,05 mm. Satu kotak sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Dengan demikian satu

kotak besar tersebut berisi 400 kotak kecil. Tebal dari ruang hitung ini adalah 0,1 mm. Sel bakteri

yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut sehingga jumlah bakteri per satuan

volume dapat diketahui (Mikapin, 2012).

Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah adalah untuk melakukan perhitungan spora dengan menggunakan

alat haemacytometer.


TINJAUAN PUSTAKA

Hemasitometer adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan sel secara

cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang rendah. Bentuknya terdiri dari 2 counting

chamber dan tiap chamber-nya memiliki garis-garis mikroskopis pada permukaan kaca. Luas total

dari chamber adalah 9 mm2. Chamber tersebut nantinya akan ditutup dengan coverslip dengan

ketinggian 0.1 mm di atas chamber floor (Rio, 2012).

Spora tumbuhan yang berkembang biak dengan spora antara lain paku, jamur, ganggang dan

suplir. Spora terdapat pada daun tumbuhan bagian belakang, berbentuk serbuk dan disimpan di

dalam kotak spora yang disebut sporangium.

Jamur merupakan tumbuhan yang berkembang biak dengan spora. Kita tahu jamur tidak pernah

berbunga apalagi berbiji, sebab biji baru ada apabila ada bunga yang dapat dibuahi dengan cara

penyerbukan. Bentuk spora serupa dengan biji, namun bentuknya sangat kecil sehingga tidak dapat

dilihat dengan mata telanjang. Spora dapat dilihat dengan bantuan alat yang disebut dengan

mikroskop. Spora ini berasal dari sel yang berubah fungsi menjadi alat perkembangbiakan.

Perkembangbiakan pada jamur yang tumbuh liar di kebun terjadi pada saat spora jatuh ke tanah

yang lembab dan subur. Spora yang jatuh tersebut berubah menjadi alat perkembangbiakan dan

mengisap makanan, sampai akhirnya tumbuh menjadi tumbuhan jamur yang baru (Mikapin,

2012).

Haemocytometer adalah perangkat awalnya dirancang untuk penghitungan sel darah. Sekarang

juga digunakan untuk menghitung jenis sel serta partikel mikroskopis lainnya. Hemositometer ini

ditemukan oleh Louis-Charles Malassez dan terdiri dari tebal kaca slide mikroskop dengan

lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah kamar. Ruang ini diukir dengan laser-terukir
grid garis tegak lurus. Perangkat ini dibuat dengan hati-hati sehingga daerah yang dibatasi oleh

garis diketahui, dan kedalaman ruang ini juga diketahui. Oleh karena itu mungkin untuk

menghitung jumlah sel atau partikel dalam volume tertentu cairan, dan dengan demikian

menghitung konsentrasi sel dalam cairan secara keseluruhan (Mikapin, 2012).

Prinsip dari perhitungan Petroff-Hauser yaitu melakukan perhitungan dengan pertolongan kotak-

kotak skala, di mana dalam setiap ukuran skala seluas 1 mm2 terdapat 25 buah kotak besar dengan

luas 0,04 mm2, dan setiap kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil. Alat haemocytometer digunakan

di bawah mikroskop, sisinya mempunyai ukuran 0,05 mm. Sedangkan satu kotak sedang

berukuran nilai 0,2 mm. Dan tebal nya adalah 0,1 mm. Jumlah sel per ml sampel dapat dihitung

sebagai berikut:

Jumlah sel dalam 25 kotak besar = Jumlah sel per kotak besar 25 kotak

Jumlah sel per mm3 sampel = Jumlah sel dalam 25 kotak besar (1/0,02)

Jumlah sel per ml sampel = Jumlah sel per mm3 sampel 103 = Jumlah sel per kotak besar 25

kotak (1/0.02)x 10^3

Jumlah sel per ml sampel = Jumlah sel per kotak besar 25 kotak 50 103

Jumlah sel per mL sampel = jumlah sel per kotak besar x 1,25 x 106

Misalnya : didapatkan jumlah mikroba yang mau dihitung 12 sel mikroba, maka jumlah sel per ml

sampel adalah: 12 1,25 106 = 1,5 107 (Mikapin, 2012).

Biasanya sebelum mikroorganisme diperiksa perlu diencerkan, jika kepadatan tinggi sel akan

membuat tidak mungkin menghitung. Kebutuhan untuk pengenceran adalah kerugian, karena

setiap pengenceran menambahkan ketidakakuratan untuk pengukuran. Keuntungan metode ini

adalah menjadi murah dan cepat, membuat metode perhitungan ini yang lebih disukai dalam
percobaan biologis cepat dalam yang perlu hanya ditentukan apakah kultur sel telah tumbuh seperti

yang diharapkan (Rio, 2012).

Haemocytometer Neubour memiliki kelemahan dan kelebihan dalam penggunaannya dalam

proses perhitungan bakteri secara langsug. Kelebihannnya antara lain ialah cepat dalam

menghasilkan data dan tak perlu menunggu lama, serta datanya atau jumlah selnya langsung

didapat pada saat itu juga setelah menghitung menggunakan rumusnya dan menghemat biaya.

Sedangkan kelemahannya ialah tidak dapat membedakan antara sel yang mati dengan yang hidup

karena perhitungannya secara keseluruhan dan data yang dihasilkan tidak akurat karena setiap

pengamat memiliki mata yang berbeda-beda dan terdapat keterbatasan dalam melihat serta

menghitung sel yang ada dalam kamar Haemocytometer Neubour. Sebaiknya menggunakan alat

yang lebih canggih lagi dalam perhitungan jumlah sel karena setiap peralatan elektronik memilki

kesensitifan yang tinggi dibandingkan dengan mata manusia, seperti alat particle count (Alex,

2013).


BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan

Bahan yang digunakan adalah alkohol, pathogen cendawan dan aquades.

Alat

Alat yang digunakan adalah haemachytometer, mikroskop, vortex, tabung reaksi, gelas beker dan

jarum ent.

Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung

Mangkurat Banjarbaru. Pada hari Kamis tanggal 5 Desember 2013 pukul 10.00-12.00 Wita.

Prosedur Kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Membersihkan alat haemachytometer dengan tissue yang sudah diberi alkohol.

3. Setelah itu haemachytometer ditutup dengan cover glass yang sudah dibersihkan.

4. Lakukan pengenceran dengan tabung reaksi 106.

5. Masukkan air aquades kedalam botol yang berisi pathogen cendawan kemudian digoyang-

goyang dengan jarum ent agar spora terangkat.


6. Mengisi tabung reaksi dengan 1 ml larutan pathogen cendawan yang sudah terisi 9 ml air

aquades sebelumnya.

7. Kemudian divortex selama 15-30 detik agar memisahkan atau memecah spora, lakukan terus

hingga pada tabung 106.

8. Mengambil 1 ml larutan dari tabung reaksi pengenceran pada tabung ke 106 dengan

menggunakan pipet isap.

9. Meneteskan larutan tadi pada alat haemachytometer 1 tetes.

10. Amati dengan menggunakan mikroskop hitung berapa jumlah sel dalam satu kotak.

11. Gunakan rumus :

Jumlah sel per ml sampel = jumlah sel per kotak besar x 1,25 x 106.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil dari praktikum yang telah dilakukan adalah:

Tabel 1. Pengamatan Spora Dengan Haemachytometer

No. Gambar Keterangan

Pathogen cendawan

Memasukkan air pada isolat cendawan

Mengoyangkan pathogen agar homogen


dengan air dan spora terangkat

Mengambil 1 ml larutan (isolat


cendawan)

Tabel 1.Lanjutan
Melakukan pengenceran

Menghomogenkan dengan
menggunakan vortex

Mengambil larutan setelah


pengenceran

Meneteskan pada cover glass


haemachytometer

Amati dengan mikroskop

Pembahasan
Penghitungan konsentrasi sel pada heamacytometer ini bergantung pada volume dibawah

coverslip. Pada chamber terdapat 9 kotak besar berukuran 1 mm2 dan kotak-kotak kecil, di mana

satu kotak besar sama dengan 25 kotak kecil sehingga satu kotak besar tersebut memiliki volume

sebesar 0.0001 ml. Adapun kotak yang paling kecil berfungsi untuk mempermudah perhitungan

sel. Kelebihan perhitungan sel dengan menggunakan haemacytometer adalah dapat menghitung

jumlah sel yang hidup maupun yang mati, tergantung dari pewarna yang digunakan. Misalnya,

bila pewarna trypan blue dicampukan ke dalam larutan sel maka sel yang hidup tidak akan

berwarna dan sel yang mati akan berwarna biru. Kelebihan lainnya adalah morfologi sel dapat

diamati, dapat mengevaluasi homogenitas dan data mendeteksi kontaminasi

Pada praktikum sebelum mikroorganisme diperiksa perlu diencerkan, jika kepadatan tinggi sel

akan membuat tidak mungkin menghitung. Kebutuhan untuk pengenceran adalah kerugian, karena

setiap pengenceran menambahkan ketidakakuratan untuk pengukuran. Keuntungan metode ini

adalah menjadi murah dan cepat, membuat metode perhitungan ini yang lebih disukai dalam

percobaan biologis cepat dalam yang perlu hanya ditentukan apakah kultur sel telah tumbuh seperti

yang diharapkan, setelah melakukan pengenceran maka teteskan larutan spora cendawan pada

slide glass yang berada pada haemachytometer setelah itu lakukan pengamatan dengan

menngunakan mikroskop dan kemudian lakukan perhitungan spora cendawan.

Melakukan perhitungan spora cendawan dengan pertolongan kotak-kotak skala, di mana dalam

setiap ukuran skala seluas 1 mm2 terdapat 25 buah kotak besar dengan luas 0,04 mm2, dan setiap

kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil. alat haemacytometer digunakan di bawah mikroskop.

Sisinya mempunyai ukuran 0,05 mm. sedangkan satu kotak sedang berukuran nilai 0,2 mm. dan

tebalnya adalah 0,1 mm. Jumlah sel per mL dapat di hitung sebagai berikut :

Jumlah sel dalam 25 kotak besar = jumlah sel per kotak besar x 25 kotak
Jumlah sel per mm3 sampel = jumlah sel dalam 25 kotak besar x (1/0,02)

Jumlah sel per ml sampel = jumlah sel per mm3 sampel x 103

= jumlah sel per kotak besar x 25 kotak x (1/0,02) x 10^3

Jumlah sel per mL sampel = jumlah sel per kotak besar x 1,25 x 106

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan didapat bahwa jumlah sel per kotak besar adalah adalah

10 sel, yang diamati pada mikroskop, jadi perhitungannya adalah :

Jumlah sel per mL sampel = 10 x 1,25 x 106

= 12,5 x 106

= 1,25 x 107

= 12.500.000

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum yang telah dilakukan adalah sebagai

berikut:

1. Haemacytometer adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan sel

secara cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang rendah.

2. Penghitungan konsentrasi sel pada haemacytometer ini bergantung pada volume dibawah

coverslip. Pada chamber terdapat 9 kotak besar berukuran 1 mm2 dan kotak-kotak kecil, di mana

satu kotak besar sama dengan 25 kotak kecil sehingga satu kotak besar tersebut memiliki volume

sebesar 0.0001 ml.

3. Kelebihan perhitungan sel dengan menggunakan haemacytometer adalah dapat menghitung

jumlah sel yang hidup maupun yang mati, tergantung dari pewarna yang digunakan.

4. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan didapat bahwa jumlah sel per kotak besar adalah

adalah 10 sel, yang diamati pada mikroskop, jadi total perhitungannya adalah 1,25 x 107 atau

12.500.000.


DAFTAR PUSTAKA

Alex. 2013. Laporan perhitungan Mikroba. http://Alexchemistry.blogspot.com


Diakses pada tanggal 6 Desember 2013.

Mikapin .2012. Tes Jurnal Praktikum Mikrobiolgi Jilid VI (Penghitungan Jumlah Mikroba Dengan
Ruang Hitung). Artikel Teknis Kimia.

Rio, Sapni. 2012. Langkah Metode Couning Cell. http://idwikipedia.org/wiki/ Langkah


Metoder Couning Cell html. Diakses pada tanggal 6 Desember 2013.
Tria Ardi Puspa Laga. 2012. Laporan Praktikum Mikrobiologi Menghitung Jumlah Sel.
Laboratorium Ilmu Hama Dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu.

haemacytometer

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mikroorganisme adalah mikroba atau organisme yang berukuran sangat kecil sehingga

untuk mengamatinya diperlukan alat pembesar. Mikroorganisme seringkali bersel tunggal

meskipun beberapa protista bersel tunggal masih dapat terlihat oleh mata telanjang dan ada

beberapa spesies multisel yang tidak dapat terlihat oleh mata telanjang. Mikroorganisme biasanya

dianggap mencakup semua prokariota, protista dan alga renik. Fungi terutama yang berukuran

kecil dan tidak membentuk hifa, dapat pula dianggap sebagai bagiannya meskipun banyak yang

tidak menyepakatinya (Tria, 2012).


Penghitungan jumlah bakteri hidup terbagi atas dua, yaitu secara (tidak langsung) Misalnya

perhitungan pengurangan jumlah substrat dan secara langsung. Penghitungan mikroba secara

langsung antara lain:

1. Plate Count (hitungan cawan)

Plate count atau viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme

hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media

pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung

dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut

(Mikapin, 2012).

2. Turbidimetri

Turbidimetri merupakan metode yang cepat untuk menghitung jumlah bakteri dalam suatu

larutan menggunakan spektrofotometer. Bakteri menyerap cahaya sebanding dengan volume total

sel (ditentukan oleh ukuran dan jumlah). Ketika mikroba bertambah jumlahnya atau semakin besar

ukurannya dalam biakan cair, terjadi peningkatan kekeruhan dalam biakan. Kekeruhan dapat

disebut optical density (absorbsi cahaya, biasanya diukur pada panjang gelombang 520 nm 700

nm). Untuk mikroba tertentu, kurva standar dapat memperlihatkan jumlah organisme/ml

(ditentukan dengan metode hitungan cawan) hingga pengukuran optical density (ditentukan

dengan spektrofotometer) (Mikapin, 2012).

3. Hemasitometer

Hemasitometer adalah metode perhitungan secara mikroskopis. Ruang hitung terdiri dari 9

kotak besar dengan luas 1 mm. Satu kotak besar di tengah, dibagi menjadi 25 kotak sedang dengan

panjang 0,05 mm. Satu kotak sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Dengan demikian satu

kotak besar tersebut berisi 400 kotak kecil. Tebal dari ruang hitung ini adalah 0,1 mm. Sel bakteri
yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut sehingga jumlah bakteri per satuan

volume dapat diketahui (Mikapin, 2012).

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah adalah untuk melakukan perhitungan spora dengan

menggunakan alat haemacytometer.


TINJAUAN PUSTAKA

Hemasitometer adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan sel

secara cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang rendah. Bentuknya terdiri dari 2

counting chamber dan tiap chamber-nya memiliki garis-garis mikroskopis pada permukaan kaca.

Luas total dari chamber adalah 9 mm2. Chamber tersebut nantinya akan ditutup dengan coverslip

dengan ketinggian 0.1 mm di atas chamber floor (Rio, 2012).

Spora tumbuhan yang berkembang biak dengan spora antara lain paku, jamur, ganggang

dan suplir. Spora terdapat pada daun tumbuhan bagian belakang, berbentuk serbuk dan disimpan

di dalam kotak spora yang disebut sporangium.

Jamur merupakan tumbuhan yang berkembang biak dengan spora. Kita tahu jamur tidak pernah

berbunga apalagi berbiji, sebab biji baru ada apabila ada bunga yang dapat dibuahi dengan cara

penyerbukan. Bentuk spora serupa dengan biji, namun bentuknya sangat kecil sehingga tidak dapat

dilihat dengan mata telanjang. Spora dapat dilihat dengan bantuan alat yang disebut dengan

mikroskop. Spora ini berasal dari sel yang berubah fungsi menjadi alat perkembangbiakan.

Perkembangbiakan pada jamur yang tumbuh liar di kebun terjadi pada saat spora jatuh ke tanah

yang lembab dan subur. Spora yang jatuh tersebut berubah menjadi alat perkembangbiakan dan

mengisap makanan, sampai akhirnya tumbuh menjadi tumbuhan jamur yang baru (Mikapin, 2012).

Haemocytometer adalah perangkat awalnya dirancang untuk penghitungan sel darah.

Sekarang juga digunakan untuk menghitung jenis sel serta partikel mikroskopis lainnya.

Hemositometer ini ditemukan oleh Louis-Charles Malassez dan terdiri dari tebal kaca slide

mikroskop dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah kamar. Ruang ini diukir

dengan laser-terukir grid garis tegak lurus. Perangkat ini dibuat dengan hati-hati sehingga daerah
yang dibatasi oleh garis diketahui, dan kedalaman ruang ini juga diketahui. Oleh karena itu

mungkin untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam volume tertentu cairan, dan dengan

demikian menghitung konsentrasi sel dalam cairan secara keseluruhan (Mikapin, 2012).

Prinsip dari perhitungan Petroff-Hauser yaitu melakukan perhitungan dengan pertolongan

kotak-kotak skala, di mana dalam setiap ukuran skala seluas 1 mm2 terdapat 25 buah kotak besar

dengan luas 0,04 mm2, dan setiap kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil. Alat

haemocytometer digunakan di bawah mikroskop, sisinya mempunyai ukuran 0,05 mm.

Sedangkan satu kotak sedang berukuran nilai 0,2 mm. Dan tebal nya adalah 0,1 mm. Jumlah sel

per ml sampel dapat dihitung sebagai berikut:

Jumlah sel dalam 25 kotak besar = Jumlah sel per kotak besar 25 kotak

Jumlah sel per mm3 sampel = Jumlah sel dalam 25 kotak besar (1/0,02)

Jumlah sel per ml sampel = Jumlah sel per mm3 sampel 103 = Jumlah sel per kotak besar 25

kotak (1/0.02)x 10^3

Jumlah sel per ml sampel = Jumlah sel per kotak besar 25 kotak 50 103

Jumlah sel per mL sampel = jumlah sel per kotak besar x 1,25 x 106

Misalnya : didapatkan jumlah mikroba yang mau dihitung 12 sel mikroba, maka jumlah sel

per ml sampel adalah: 12 1,25 106 = 1,5 107 (Mikapin, 2012).

Biasanya sebelum mikroorganisme diperiksa perlu diencerkan, jika kepadatan tinggi sel

akan membuat tidak mungkin menghitung. Kebutuhan untuk pengenceran adalah kerugian, karena

setiap pengenceran menambahkan ketidakakuratan untuk pengukuran. Keuntungan metode ini

adalah menjadi murah dan cepat, membuat metode perhitungan ini yang lebih disukai dalam

percobaan biologis cepat dalam yang perlu hanya ditentukan apakah kultur sel telah tumbuh seperti

yang diharapkan (Rio, 2012).


Haemocytometer Neubour memiliki kelemahan dan kelebihan dalam penggunaannya

dalam proses perhitungan bakteri secara langsug. Kelebihannnya antara lain ialah cepat dalam

menghasilkan data dan tak perlu menunggu lama, serta datanya atau jumlah selnya langsung

didapat pada saat itu juga setelah menghitung menggunakan rumusnya dan menghemat biaya.

Sedangkan kelemahannya ialah tidak dapat membedakan antara sel yang mati dengan yang hidup

karena perhitungannya secara keseluruhan dan data yang dihasilkan tidak akurat karena setiap

pengamat memiliki mata yang berbeda-beda dan terdapat keterbatasan dalam melihat serta

menghitung sel yang ada dalam kamar Haemocytometer Neubour. Sebaiknya menggunakan alat

yang lebih canggih lagi dalam perhitungan jumlah sel karena setiap peralatan elektronik memilki

kesensitifan yang tinggi dibandingkan dengan mata manusia, seperti alat particle count (Alex,

2013).
BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan

Bahan yang digunakan adalah alkohol, pathogen cendawan dan aquades.

Alat

Alat yang digunakan adalah haemachytometer, mikroskop, vortex, tabung reaksi, gelas

beker dan jarum ent.

Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas

Lambung Mangkurat Banjarbaru. Pada hari Kamis tanggal 5 Desember 2013 pukul 10.00-12.00

Wita.

Prosedur Kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Membersihkan alat haemachytometer dengan tissue yang sudah diberi alkohol.

3. Setelah itu haemachytometer ditutup dengan cover glass yang sudah dibersihkan.

4. Lakukan pengenceran dengan tabung reaksi 106.

5. Masukkan air aquades kedalam botol yang berisi pathogen cendawan kemudian digoyang-goyang

dengan jarum ent agar spora terangkat.


6. Mengisi tabung reaksi dengan 1 ml larutan pathogen cendawan yang sudah terisi 9 ml air aquades

sebelumnya.

7. Kemudian divortex selama 15-30 detik agar memisahkan atau memecah spora, lakukan terus

hingga pada tabung 106.

8. Mengambil 1 ml larutan dari tabung reaksi pengenceran pada tabung ke 106 dengan menggunakan

pipet isap.

9. Meneteskan larutan tadi pada alat haemachytometer 1 tetes.

10. Amati dengan menggunakan mikroskop hitung berapa jumlah sel dalam satu kotak.

11. Gunakan rumus :

Jumlah sel per ml sampel = jumlah sel per kotak besar x 1,25 x 106.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil dari praktikum yang telah dilakukan adalah:

Tabel 1. Pengamatan Spora Dengan Haemachytometer

No. Gambar Keterangan

Pathogen cendawan

Memasukkan air pada isolat cendawan

Mengoyangkan pathogen agar homogen


dengan air dan spora terangkat

Mengambil 1 ml larutan (isolat


cendawan)

Tabel 1.Lanjutan
Melakukan pengenceran

Menghomogenkan dengan
menggunakan vortex

Mengambil larutan setelah


pengenceran

Meneteskan pada cover glass


haemachytometer

Amati dengan mikroskop

Pembahasan
Penghitungan konsentrasi sel pada heamacytometer ini bergantung pada volume dibawah

coverslip. Pada chamber terdapat 9 kotak besar berukuran 1 mm2 dan kotak-kotak kecil, di mana

satu kotak besar sama dengan 25 kotak kecil sehingga satu kotak besar tersebut memiliki volume

sebesar 0.0001 ml. Adapun kotak yang paling kecil berfungsi untuk mempermudah perhitungan

sel. Kelebihan perhitungan sel dengan menggunakan haemacytometer adalah dapat menghitung

jumlah sel yang hidup maupun yang mati, tergantung dari pewarna yang digunakan. Misalnya, bila

pewarna trypan blue dicampukan ke dalam larutan sel maka sel yang hidup tidak akan berwarna

dan sel yang mati akan berwarna biru. Kelebihan lainnya adalah morfologi sel dapat diamati, dapat

mengevaluasi homogenitas dan data mendeteksi kontaminasi

Pada praktikum sebelum mikroorganisme diperiksa perlu diencerkan, jika kepadatan

tinggi sel akan membuat tidak mungkin menghitung. Kebutuhan untuk pengenceran adalah

kerugian, karena setiap pengenceran menambahkan ketidakakuratan untuk pengukuran.

Keuntungan metode ini adalah menjadi murah dan cepat, membuat metode perhitungan ini yang

lebih disukai dalam percobaan biologis cepat dalam yang perlu hanya ditentukan apakah kultur sel

telah tumbuh seperti yang diharapkan, setelah melakukan pengenceran maka teteskan larutan spora

cendawan pada slide glass yang berada pada haemachytometer setelah itu lakukan pengamatan

dengan menngunakan mikroskop dan kemudian lakukan perhitungan spora cendawan.

Melakukan perhitungan spora cendawan dengan pertolongan kotak-kotak skala, di mana

dalam setiap ukuran skala seluas 1 mm2 terdapat 25 buah kotak besar dengan luas 0,04 mm2, dan

setiap kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil. alat haemacytometer digunakan di bawah mikroskop.

Sisinya mempunyai ukuran 0,05 mm. sedangkan satu kotak sedang berukuran nilai 0,2 mm. dan

tebalnya adalah 0,1 mm. Jumlah sel per mL dapat di hitung sebagai berikut :

Jumlah sel dalam 25 kotak besar = jumlah sel per kotak besar x 25 kotak
Jumlah sel per mm3 sampel = jumlah sel dalam 25 kotak besar x (1/0,02)

Jumlah sel per ml sampel = jumlah sel per mm3 sampel x 103

= jumlah sel per kotak besar x 25 kotak x (1/0,02) x 10^3

Jumlah sel per mL sampel = jumlah sel per kotak besar x 1,25 x 106

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan didapat bahwa jumlah sel per kotak besar adalah adalah

10 sel, yang diamati pada mikroskop, jadi perhitungannya adalah :

Jumlah sel per mL sampel = 10 x 1,25 x 106

= 12,5 x 106

= 1,25 x 107

= 12.500.000
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum yang telah dilakukan adalah sebagai

berikut:

1. Haemacytometer adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan sel secara

cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang rendah.

2. Penghitungan konsentrasi sel pada haemacytometer ini bergantung pada volume dibawah

coverslip. Pada chamber terdapat 9 kotak besar berukuran 1 mm2 dan kotak-kotak kecil, di mana

satu kotak besar sama dengan 25 kotak kecil sehingga satu kotak besar tersebut memiliki volume

sebesar 0.0001 ml.

3. Kelebihan perhitungan sel dengan menggunakan haemacytometer adalah dapat menghitung

jumlah sel yang hidup maupun yang mati, tergantung dari pewarna yang digunakan.

4. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan didapat bahwa jumlah sel per kotak besar adalah adalah

10 sel, yang diamati pada mikroskop, jadi total perhitungannya adalah 1,25 x 107 atau 12.500.000.
DAFTAR PUSTAKA

Alex. 2013. Laporan perhitungan Mikroba. http://Alexchemistry.blogspot.com


Diakses pada tanggal 6 Desember 2013.

Mikapin .2012. Tes Jurnal Praktikum Mikrobiolgi Jilid VI (Penghitungan Jumlah Mikroba Dengan
Ruang Hitung). Artikel Teknis Kimia.

Rio, Sapni. 2012. Langkah Metode Couning Cell. http://idwikipedia.org/wiki/ Langkah


Metoder Couning Cell html. Diakses pada tanggal 6 Desember 2013.
Tria Ardi Puspa Laga. 2012. Laporan Praktikum Mikrobiologi Menghitung Jumlah Sel. Laboratorium
Ilmu Hama Dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu.

KUANTITAS MIKROBA , HITUNGAN MIKROSKOPIS LANGSUNG.


Posted on 1:07:00 AM by Net Tv

Laporan Praktikum
Mikrobiologi dasar dan lingkungan

Nama :

Nim :

Kelompok : 10

Hari/Tanggal : 7,Maret 2014

Waktu :13:00

PSP :Emil Wahdi

Asisten :Ramadhani

:Ivone

KUANTITASI MIKROBE , HITUNGAN


MIKROSKOPIS LANGSUNG
TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN

Organisme mikroskopis adalah organisme yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan
mikroskop. Salah satunya adalah bakteri yang merupakan organisme mikroskopis. Keadaan bakteri di
alam ini ada yang bersifat menguntungkan dan ada yang bersifat merugikan bagi kepentingan
manusia. Bakteri yang menguntungkan dan merugikan bagi kepentingan organisme perlu
dipelajari supaya bakteri yang menguntungkan, keberadaannya (kapasitas jumlahnya) dapat
diperbanyak sedangkan untuk bakteri yang merugikan (patogen) jumlah populasinya dapat ditekan
dan dapat dilakukan tindakan pencegahan atau antisipasi infeksi bakteri tersebut . (Umam, 2008).

Setelah kita mempelajari bagaimana menumbuhkan suatu koloni bakteri pada minggu sebelumnya,
tentu harus mengatahui kuantitas dan kualitas dari bakteri tersebut. Dalam hal ini yang akan dibahas
adalah bagaimana mengetahui kuantitas dari suatu bakteri. Ada berbagai cara untuk menghitung
jumlah sel bakteri, Terdapat dua metode penghitungan bakteri yaitu metode hitungan mikroskopis
langsung (direct microscopis count) dan metode hitungan tak langsung (indirect count) dengan
hitungan cawan, baik dengan metode penyebaran maupun metode penuangan.
Dalam praktikum ini kita akan mengamati banyaknya koloni dalam suatu bakteri dengan
menggunakan Mikroskop cahaya yang mempunyai perbesaran maksimum 1000 kali. Mikroskop
cahaya mempunyai kaki yang berat dan kokoh dengan tujuan agar dapat berdiri dengan stabil.
Mikroskop cahaya memiliki tiga sistem lensa, yaitu lensa obyektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa
obyektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop. Lensa okuler pada mikroskop
bias berbentuk lensa tunggal (monokuler) atau ganda (binokuler). Pada ujung bawah mikroskop
terdapat tempat dudukan lensa obyektif yang bisa dipasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung
mikroskop terdapat meja mikroskop yang merupakan tempat preparat. Sistem lensa yang ketiga
adalah kondensor. Kondensor berperan untuk menerangi obyek dan lensa-lensa mikroskop yang lain.

Sedangkan media yang akan kita gunakan untuk menghitung bakteri secara langsung kita
menggunakan Hemasitometer, yaitu suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan
sel/bakteri secara cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang rendah. Hemasitometer
pada mulanya diperuntukkan untuk menghitung sel darah, yang ditemukan oleh Louis-Charles
Malassez.

Penghitungan konsentrasi sel pada hemasitometer ini bergantung


pada volume dibawah coverslip.Pada chamber terdapat 16 persegi besar yang memiliki persegi-
persegi kecil di dalamnya, di mana sisi persegi kecil besarnya 0,05 mm. Jika di atas bagian yang diasah
tadi diletakkan sebuah kaca penutup, maka akan terbentuk ruangan yang tingginya 0,1 mm. Sehingga
volume dari satu persegi kecil adalah 0,05*0,05*0,1 mm3=25.10-5 mm3.

Kelebihan perhitungan sel dengan menggunakan hemasitometer adalah dapat menghitung jumlah sel
yang hidup maupun yang mati, tergantung dari pewarna yang digunakan.Misalnya, bila pewarna
trypan blue dicampukan ke dalam larutan sel maka sel yang hidup tidak akan berwarna dan sel yang
mati akan berwarna biru. Kelebihan lainnya adalah morfologi sel dapat diamati, dapat
mengevaluasi homogenitas dan data mendeteksi kontaminasi.( Hansen, 2003).

Tujuan

Menghitung Jumlah sel pada sampel menggunakan teknik hitungan mikroskopis secara
langsung

Alat dan Bahan

Alat

Mikroskop,Hemocytometer,cover glass,counter, pipet tetes.

Bahan

Suspensi Yeast/Khamir, Air Sulingan, Tisu, Alchol

Metode
Persiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akan kita pergunakan/kitaperlukan,selanjutnya
Suasana steril harus diciptakan dari awal praktikum hingga akhir praktikum tujuanya agar medium dan
bakteri yang akan kita amatiti tidak terkontaminasi. Terlebih dahulu, tangan dicuci dengan sabun dan
dibilas dengan air hingga bersih. Tangan dikeringkan dan kemudian tangan dan meja dibasahi dengan
alcohol 70% hingga tangan dan area kerja steril serta kering. Haemocytometer dibasahi pula dengan
alcohol 70% hingga Haemocytometer tersebut steril. Mikroskop dihidupkan dan diatur cahayanya,
jangan terlalu terang dan jangan terlalu gelap,mainkan kondensor sesuai kebutuhan.
Haemocytometer diletakkan di atas meja objektif. Lalu kamar-kamarnya dicari dan diamati di bawah
mikroskop dengan menggunakan perbesaran mikoskop 4x10. Putar knop kasr dan halus hingga
mencapai focus, Jika kamarnya telah ditemukan, khamir diletakkan di atas Haemocytometer dengan
mikropipet dengan volume tertentu yang kita kehendaki. Kemudian khamir diamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran yang lebih besar yaitu 10x10 agar lebih jelas terlihat. Jumlah khamir
yang berada di kotak kecil di dalam kamar kaca dihitung dengan menggunakan bantuan alat
penghitung. Perhitungan dilakukan secara diagonal maupun acak tersetruktur. Setelah dihitung,
jumlah khamir dicatat dan perhitungan dilakukan.

Data dan Hasil Pengamatan

Dari pengamatn yang kami lakukan pada tanggal 7,Maret 2014 di peroleh hasil seperti di bawah ini

Titik 1 Titik 2
sebanyak sebanyak
105 57

Titik5
sebanyak
128

Titik 4 Titik 3
Dengan sebanyak sebanyak perhitungan
97 91
Total
=105+57+128+97+91=478

X= 95,6

Jumlah sel/ml =X.25.

=95,6
= 2390 sel/

Pembahasan
Proses sterilisasi sangat penting dibutuhkan sebelum memulai maupun mengakhiri sebuah
pekerjaan di laboratorium,Khususnya apabiala kita ingin melakukan percobaan berupa pengamatan
mikro organism,tahap pertama yang mesti dilakukan Alkohol 70% disemprotkan pada tangan dan
meja, bahkan tangan pun sebelumnya harus dicuci dengan sabun terlebih dahulu. Hal tersebut
berfungsi untuk membunuh mikroorganisme yang tak diinginkan agar mendapatkan pengukuran yang
akurat. Setelah itu, Haemocytometer dibasahi dengan alcohol 70% untuk membersihkan alat tersebut
dari kotoran maupun mikroorganisme, karena pada saat diamati di bawah mikroskop alat harus bersih
dan steril agar pengamatan terlihat jelas oleh mata dan mempermudah perhitungan mikroba pada
saat kita menghitung.

Tersedia banyak teknik di dalam laboratorium untuk mengukur pertumbuhan mikroba . Alat-
alat yang ada tersebut berkisar dari peralatan yang masih sederhana seperti sebuah kaca objek dengan
olesan yang diwarnai. Selain itu, terdapat pula metode-metode yang lain dalam pengukuran
pertumbuhan mikroba, misalnya dengan metode hitung cawan, pengukuran kekeruhan dari suatu
suspensi, pengukuran dengan menggunakan membran atau filter molecular dan penentuan berat.
Suatu bakteri juga dapat dihitung secara elektronik yaitu dengan cara memasukkan biakan melalui
lubang yang sangat kecil pada alat penghitung partikel counter. Alat penghitung tersebut dapat
dipakai secara rutin untuk memecah sel darah, namun dapat pula disesuaikan untuk memecah bakteri
(Volk 1993).

Hemasitometer adalah suatu ruang kaca dengan sisi yang menjulang dan kaca penutup yang
akan menahan cairan tepat 0.1 mm dari atas lantai ruang kaca. Ruang hitung memiliki total luas
permukaan . Penghitungan konsentrasi sel pada hemasitometer didasarkan pada volume di bawah
kaca penutup. Satu kotak besar memiliki volume 0,0001 ml (panjang x lebar x tinggi = 0,1 cm x 0,1 cm
x 0,01 cm = 0,0001 cm3 = 0,0001 ml). Hemasitometer diisi oleh gaya kapiler. Satu tetes dari larutan
campuran sel yang terlarut dengan baik dipipet pada ujung tepi dari hemasitometer dan kemudian
perlahan-lahan dibuang kelebihannya supaya cairan tertarik masuk ke dalam ruang oleh gaya kapiler.

Khamir adalah mikroorganisme eukariotik bersel tunggal yang tergolong fungi. Berukuran
antara 5 dan 20 mikron. Khamir termasuk organisme uniseluler yang bersifat aerob. Tetapi jenis
khamir fermentatif dapat hidup secara anaerob meski pertumbuhannya lambat.

Umumnya khamir tumbuh pada makanan yang banyak mengandung gula dan ber pH rendah, seperti
sirup dan buah-buahan. Karenanya khamir sering digunakan dalam proses fermentasi. Khamir
memiliki sekumpulan enzim zymase yang berperan pada fermentasi senyawa gula. Proses fermentasi
ini digunakan dalam proses pembuatan roti, tape dan anggur. Namun sifat ini juga dapat merugikan,
karena khamir sangat menyukai buah-buahan, sehingga dapat menyebabkan kerusakan yang tidak
diinginkan sehingga buah tidak dapat dikonsumsi maupun diolah lebih lanjut.
Khamir/Ragi, seperti kebanyakan jamur, respirasi secara aerobik, tetapi tanpa udara mereka
memperoleh energi dengan fermentasi gula dan karbohidrat untuk memproduksi etanol dan karbon
dioksida. Ketika ragi diberikan dengan baik gula dan oksigen, koloni tumbuh hingga 20 kali lebih cepat
melalui pembelahan sel daripada tanpa oksigen.

Khamir berkembang biak dengan pembelahan sel dengan cara pembentukan tunas. Bagi kebanyakan
khamir,tunas dapat berkembang dari setiap bagian permukaan sel induk (pertunasan polar) tetapi
bagi beberapa spesies hanya pada bagian tertentu saja. Pada khamir dengan pertunasan bipolar
pembentukan tunas terbatas pada dua bagian sel yang berlawanan dan sel berbentuk jeruk atau
bentuk apikulat.

Khamir kurang tahan terhadap suhu tinggi dibandingkan dengan kapang, Suhu optimum untuk
pertumbuhannya adalah 20-38 oC. Dan pada suhu 100oC yeast dan sporanya dapat mati. karena itu
pemanasan menjadi cara yang efektif untuk membunuh khamir. Khamir banyak digunakan dalam
industri pangan, terutama dari genus Saccharomyces.

Setelah, khamir diteteskan pada kamar bagian atas Haemocytometer dengan volume
tertentu menggunakan mikropipet,. Lalu ditutup bagian kamar yang sudah diletakkan khamir dengan
kaca tipis. Perbesaran 4x10 pada mikroskop akan menghasilkan gambar yang buram, sehingga
diperlukan perbesaran yang lebih yaitu 10x10. Perbesaran 100 kali, tentu akan menghasilkan gambar
yang terlihat jelas terutama pada bagian kamar Haemocytometer. Gambar yang terlihat jelas
tersebut didapatkan dengan mengatur kenop mikro yang ada pada bagian samping mikroskop
sehingga gambar terlihat focus dan tentu dengan bantuan cahaya yang sedikit redup. Satu kotak
besar yang menyusun kamar, terdapat 16 kotak kecil didalamnya sehingga kotak kecil dalam kamar
berjumlah 400 buah. Setelah khamir yang berhamburan pada kamar Haemocytometer terlihat jelas,
maka dilakukan perhitungan dengan menggunakan alat bantu perhitungan jumlah mikroorganisme
yang sedang diamati di bawah mikroskop. Khamir akan memecah dan membentuk sel atau bulatan-
bulatn kecil yang memisah satu sama lain. Lalu ada juga yang bergabung dari dua sampai tiga sel
menjadi satu sel saja membentuk koloni, namun jika koloni tersebut masih terlihat gabungan
beberapa sel, koloni tersebut tetap dihitung tiga sel, bukan satu sel. Perhitungan pun juga
berdasarkan pengambilan sampel secara acal yaitu dengan cara menghitung titik kiri atas, titik kanan
atas, titik tengah, titik kiri bawah, dan titik kanan bawah.

Perhitungan mendapatkan hasil titik kiri atas, titik kanan atas, titik tengah, titik kiri bawah, dan titik
kanan bawah berturut-turut terdapat khamir sebanyak 105,57,128,97,91. Perhitungan dilakukan
denga rumus seperti perhitungan pada data dan hasil pengamatan, yaitu

Jumlah sel per ml= = Jumlah sel.25.

Jumlah sel yang telah dihitung dalam percobaan ialah 478 sel. Sedangkan 25 yaitu jumlah kotak
besar yang ada di kamar Haemocytometer. Setelah melakukan perhitungan, terdapat 2390 sel/ sel
khamir pada Haemocytometer .

Simpulan
Berdasarkan data dan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa praktikan dapat megetahui cara
perhitungan mikroba secara langsung. Terdapat kurang lebih 2390 sel/ sel khamir yag terdapat di
kamar Haemocytometer yang kita amati
Daftar Pustaka
-2008. Mikroskop dan Penggunaannya. Diambil pada tanggal 12 Maret 2014, dari

http://hafidhamr.com/2008/06/05/macam-macam-mikroskop/trackback

-Hansen, 2003, Hemacytometer, http://www.animal.ufl.edu/hansen/protocols/


hemacytometer.htm. Tanggal akses: 5 November 2011.

-Kurniawan Sodikin .2010, Haemocytometer. [terhubung


http://www.sodiycxacun.web.id/2010/08/haemocytometer.html#axzz1ZS1O7adR. [14 Maret 2014:
16 :50]

-Volk. 1993. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Erlangga.

Laporan Praktikum Mikrobiologi Acara 6 Menghitug dan Mengukur Sel

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI


Acara 6
Menghitung dan Mengukur Sel

Nama : Muhammad Arif Abdullah Humam


NPM : E1J012004
Kelompok : 1 (Satu)
Jadwal Praktikum : Senin, Shift 4 (14.00-15.40)
Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Tunjung Pamekas, M.Sc.
Coach : Fretty Aritonang

Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman


Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
2013

Tujuan Praktikum
Mahasiswa dapat menghitung spora dengan menggunakan haemocytometer.
Mahasiswa dapat menghitung jumlah spora dan sel menggunakan Skala micrometer okuler
(SMOK) dan Skala micrometer obyektif (SMOB).
Dasar Teori
Mikrobiologi adalah suatu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang mikroorganisme
dan interaksi mereka dengan organisme lain dan lingkungannya. (Singleton.2006)
Sejarah tentang mikroba dimulai dengan ditemukannya mikroskop oleh Leeuwenhoek (1633-
1723). Mikroskop temuan tersebut masih sangat sederhana, dilengkapi satu lensa dengan
jarak fokus yang sangat pendek, tetapi dapat menghasilkan bayangan jelas yang
perbesarannya antara 50-300 kali. (Skou, dan Sogaard Jensen. 2007)
Mikroba ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup.
Jasad tersebut dapat hidup hamper di semua tempat di permukaan bumi. Mikroba mampu
beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin hingga lingkungan yang relative panas,
dari ligkungan yang asam hingga basa. Berdasarkan peranannya, mikroba dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu mikroba menguntungkan dan mikroba merugikan
(Afriyanto 2005).
Penentuan jumlah angka mikroorganisme sangat penting dilakukan untuk menetapkan
keamanan suatu sediaan farmasi dan makanan. Berbagai metode telah dikembangkan untuk
menghitung jumlah mikroorganisme. Metode tersebut menghitung jumlah sel, massa sel, atau
isi sel yang sesuai dengan jumlah sel. Terdapat empat macam cara umum untuk
memperkirakan besar populasi mikroorganisme, yaitu perhitungan langsung, pengukuran
langsung, perhitungan tidak langsung dan perkiraan tidak langsung (Harmita 2006).
Perhitungan langsung (direct count) untuk jumlah sel atau biomassa mikroorganisme dan sel
dihitung langsung di bawah mikroskop atau dengan perhitungan partikel elektronik
(electronic particle counter). Pengukuran langsung (direct measurement) untuk biomassa
mikroorganisme, massa sel dapat ditentukan dengan menimbang atau mengukur berat seluruh
sel, dan biomassa dapat dikorelasikan dengan jumlah sel dengan membandingkan pada kurva
standar. Perhitungan tidak langsung (indirect count) untuk jumlah sel, mikroorganisme dalam
sampel dikonsentrasikan dan ditanam pada media yang sesuai, pertumbuhan mikroorganisme
contohnya pembentukan koloni dalam pelat agar, digunakan untuk memperkirakan jumlah
mikroorganisme yang terdapat di dalam sampel. Perkiraan tidak langsung (indirect estimate)
untuk biomassa mikroorganisme, biomassa mikroorganisme diperkirakan dengan mengukur
komponen biokimia sel mikroorganisme yang relative konstan, seperti protein, adenosine
trifosfat (ATP), lipopolisakarida (LPS), murein dan klorofil. Biomassa juga dapat
diperkirakan secara tidak langsung dengan mengukur kekeruhan. Perkiraan tidak langsung
biomassa mikroorganisme dapat dikorelasikan dengan jumlah sel dengan membandingkan
dengan kurva standar (Harmita 2006).
Haemocytometer awalnya adalah perangkat yang dirancang untuk penghitungan sel darah.
Sekarang juga digunakan untuk menghitung jenis sel serta partikel mikroskopis lainnya.
Haemocytometer ini ditemukan oleh Louis-Charles Malassez dan terdiri dari tebal kaca slide
mikroskop dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah kamar. Ruang ini
diukir dengan laser-terukir grid garis tegak lurus. Perangkat ini dibuat dengan hati-hati
sehingga daerah yang dibatasi oleh garis diketahui, dan kedalaman ruang ini juga diketahui.
Oleh karena itu mungkin untuk menghitung jumlah sel atau partikel dalam volume tertentu
cairan, dan dengan demikian menghitung konsentrasi sel dalam cairan secara
keseluruhan.(Wiki, 2013).
Mikroba berukuran sangat kecil dan untuk mengetahuinya digunakan mikrometer.
Mikrometer merupakan kaca berskala dan dikenal 2 jenis micrometer yaitu mikrometer
okuler dan mikrometer objektif. Mikrometer okuler dipasang pada lensa okuler mikroskop,
sedangkan micrometer objektif berbentuk slide yang ditempatkan pada meja preparat
mikroskop. Jarak antar garis skala pada mikrometer okuler tergantung pada perbesaran lensa
objektif yang digunakan yang menentukan lapang pandang mikroskop. Jarak ini dapat
ditentukan dengan mengkalibrasi antara mikrometer okuler dan objektif. Mikrometer objektif
memiliki skala yang telah diketahui, menjadi tolak ukur untuk menentukan ukuran skala
micrometer okuler. 1 skala micrometer objektif = 0,01 mm / 10 m.
Kalibrasi dilakukan dengan menghimpitkan skala mikrometer objektif dan okuler pada
perbesaran yang diinginkan. Skala ke nol (garis pertama) kedua mikrometer disimpulkan
menjadi 1 garis kemudian dilihat pada skala ke berapa kedua jenis mikrometer tersebut
bertemu/berhimpit kembali. Dari hasil tersebut dapat diketahui satu satuan panjang pada
skala mikrometer okuler itu berdasarkan beberapa jumlah skala kecil mikrometer objektif
yang berada di antara garis yang berhimpit tadi. (Muslim, 2011).

Bahan dan Alat


Alat : 1unit haemocitometer, 1 buah jarum ent, 1 buah mikrometer objektif, 1 buah
mikrometer okuler 1 buah gelas penutup, 1buah pipet tetes, 1 unit mikroskop.
Bahan : 25 ml suspense sel spora

Cara Kerja
Mengukur mikroorganisme
Gelas objek dibersihkan menggunakan alcohol 70% sampai bebas debu dan lemak,
kemudian ditetesi aquades.
Massa sporangium diambil menggunakan jarum ent kemudian diletakkan didalam tetesan
air di atas gelas obyek kemudian ditutup dengan gelas penuup dan dijaga agar tidak timbul
gelembung udara.
Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran dimana obyek terlihat
paling jelas.
Micrometer okuler dipasang dalam lensa okuler untuk mengukur obyek dengan
menggunakan skala yang ada dalam micrometer okuler, dengan cara menggeser-geser meja
benda pada mikroskop dam memutas lensa okuler sampai tepat pada obyek yang di ukur.
Pada praktikan dilakukan pengukuran panjang dan lebar 3 sporangium.
Setelah selesai mengukur obyek dengan skala okuler, preparat diambil dari menja benda
kemudian diganti dengan micrometer obyektif untuk kalibrasi skala micrometer. Harus
diingat bahwa pembesaran lensa mikroskop yang digunakan hars sama antara pengukuran
selnya.
Skala micrometer okuler (SMOK) diatur supaya berimpit dengan skala micrometer obyektif
(SMOB), dengan cara menggeser-geser mejabenda pada mikroskop dan memutar lensa
okuler.
Setelah garis skala masing-msing ada yang saling berimpit, dilakukan kalibrasi dengan cara
membandingkan kesetaraan SMOK danSMOB, yaitu denganmenghitung jumlah SMOK dan
jumlah SMOB.
Dalam praktikum kalibrasi atau penyetaraan dilakukan sebanyak 2 kali, kemudian dihitung
ukuran sel menurut ukuran micrometer obyektif.

Menghitung mikroorganisme

Haemocitometer dibersihkan dengan menggunakan alcohol sampai benar-benar bersih,


kemudian dikeringkan. Perlu diingat bahwa kotak pada haemocitometer ukurannya sangat
kecil sehingga kemasukan satu butir debu saja sudah cukup menyumbat kotak.
Suspensi spora dikocok kemudian dipipet dan diteteskan pada haemocitometer tepat pada
ruang hitungnya, sebanyak satu tetes.
Tetesan suspense ditutup menggunakan gelas penutup dan dijaga agartidak menjadi
gelembung udara dala kotak-kotak haemocytometer.
Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop dan dihitung jumlah sel dalam setiap
kotak. Jika antar kotak jumlahnya tidak seragam, ulangi langkah ke-2 (dikocok lagi)
Pada praktikum dihitung dari 5 kotak(ruang hitung), kemudian dirata-rata dan dihitung
jumlah selnya setiap koloni.
Data Hasil Pengamatan
Mengukur sel
Obyek Ulangan SMOK
Mikrometer 1 34-46 = 12
2 30-34 = 4
3 30-32 = 2
Total 3 18
Rata-rata 18/3 = 6 SMOK

Obyek Ulangan SMOK SMOB Perbandingan


Mikrometer 1 40-80 = 40 21 21/40 = 0,525
2 10-100 = 90 19 19/90 = 0,21
Total 2 130 40 0,735

Rata-rata 130/2 = 65 40/2 = 20 0,735/2 = 0,37

Mengitung sel
Obyek Kotak kecil Jumlah sel
Sel spora mikoriza 1 6
25
36
48
55
Total 5 kotak 30
Rata-rata 30/5 = 6 sel

Hasil Perhitungan dan Pembahasan


Mengukur Sel
Pada percobaan ini, diawali dengan mengganti lensa okuler mikroskop dengan micrometer
okuler, kemudian letakkan sebuah kaca objek ke meja preparat, lalu teteskan setetes suspensi
yang berisi mikroba ke kaca objek, lalu menutupnya dengan kaca penutup. Setelah diamati,
terdapat beberapa unit sel mikoriza didalam nya, kemudian diukur berdasarkan skala
micrometer okuler (SMOK) yang terlihat langsung, pertama, didapat ukuran diameter sel
sebesar 12 SMOK,kemudian diulangisampai 3 kali pengukuran, dan didapat hasil selanjutnya
yaitu, 4 SMOK dan 2 SMOK. Kemudian hasilnya dirata-ratakan, yaitu (12+4+2)/3=18/3=6
SMOK. Karena SMOK tidak diketahui satuan umumnya, maka SMOK disesuaikan dengan
Skala micrometer objektif (SMOB) dengan cara pengkalibrasian. Pengkalibrasian ini diawali
dengan meletakkan micrometer objektif keatas meja preparat mikroskop(setelah dipastikan
micrometer okuler tetap terpasang), kemudian melihat garis-garis pada kedua micrometer
yang berhimpit dan mencatatnya, dilakukan 2 kali,pertama didapat hasil 40 SMOK = 21
SMOB. Maka, 1 SMOK = 21/40 SMOB = 0,525 SMOB. Kemudian hasil kalibrasi yang
kedua ialah 90 SMOK = 19 SMOB. Sehingga, 1 SMOK = 19/90 SMOB = 0,21. Rata-rata
hasil nya, 1 SMOK = (0,525+0,21)/2 = 0,735/2 = 0,3675 => 0,37 SMOB.
Langkah selanjutnya, diameter rata-rata sel dijadikan dalam SMOB, yaitu, 6 SMOK = 6x0,37
SMOB = 2,22 SMOB maka, jari-jari sel tersebut = x 2,22 = 1,11. Kemudian, dihitung luas
sel dengan cara menghitung luas lingkaran(karena pada pengamatan, sel berbentuk
lingkaran), hasilnya => .r2 = 3,14 x 1,11 x 1,11 = 3,87 SMOB2. 1 SMOB = 0,01 mm=
10m, maka, 3,87 SMOB2 = 3,87.102m2 = 387m2 = 3,87.10-4mm2.
Menghitung Sel
Ada beberapa cara perhitungan secara langsung, antara lain adalah dengan membuat preparat
dari suatu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang
hitung (counting chamber). Praktikum ini menggunakan perhitungan secara langsung.
Penghitungan koloni secara langsung, dilakukan agar mengetahui secara langsung juga.
Penghitungan ini belum tentu akurat, karena hanya berdasarkan pada mikroba yang ada.
Mikroba yang ada pada media ataupun sampel yang terhitung tidak hanya mikroba yang
hidup, mungkin saja mikroba yang mati juga terhitung.
Penghitungan ini menggunakan Haemocytometer. Alat ini memiliki ruang atau kamar-kamar
yang nantinya menjadi Ruang hitung, terdiri dari 9 kotak besar dengan luas 1 mm . Satu
kotak kecil luasnya 0,0025 mm2 = 25.10-4mm (terlihat pada Haemocytometer) . Tebal dari
ruang hitung ini adalah 0,1 mm=10-1mm . Sehingga, volume satu kotak kecil = 25.10-4mm2
x 10-1mm = 25.10-5mm3 = 0,00025mm3. Sel spora yang tersuspensi akan memenuhi
volume ruang hitung tersebut sehingga jumlah spora per satuan volume dapat diketahui.
Setelah dipastikan alat ini steril, kaca penutup diletakkan di atas Haemocytometer.
Peletakkan ini beguna dalam menjaga mikroba yang akan dihitung pada ruang alat tetap
bentuknya dan tidak terkontaminasi. Kemudian suspensi diteteskan sekali dengan pipet tetes.
Suspensi ini akan bergerak mengalir ke permukaan alat dan akan mengisi ruang alat ini.
Ruang yang terisi dengan mikroba pada yang terletak pada ruang atau kotak kecil dapat
langsung dihitung dengan menghitung jumlah sel pada masing-masing kotak kecil, lalu
ditentukan rata-ratanya. Hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan volume suspense.
Hasil praktikum memperoleh bahwa jumlah mikroba dalam suspensi ini pada kotak kecil
yang ke-1 terdapat 6 sel, kotak-2 ada 5 sel, kotak-3 ada 6 sel, kotak-4 ada 8 sel, dan kotak-5
ada 5 sel, tak ditemukan sel pada kotak lainnya, sehingga didapat rata-rata sel ialah sel.
Kemudian, dihitung jumlah sel per mm3 nya, yaitu 24.000 sel/mm3. Jadi, dalam 1mm3
suspensi, ter dapat 24.000 sel, namun, apabila dikonversi dalam satuan mL (cm3) =
10mmx10mmx10mmx24000sel = 2,4.107 sel/mL sehingga, dapat diduga bahwa dalam 25mL
suspensi tersebut terdapat => 25 mL x 24.107sel/mL = 6.108 sel(600juta sel).

Kesimpulan
Mengukur sel mikroba secara langsung belum tentu akurat, karena dapat terjadi kesalahan
dalam pengamatan dan penghitungan ukuran sel dandalam melakukan kalibrasi skala
micrometer.
Menghitung sel mikroba secara langsung menggunakan Haemocytometer juga belum tentu
akurat, karena sel yang terlihat belum tentu sel yang hidup ataupun berhimpit, dan dalam
penghitungan jumah sel pada masing-masing kotak kecil dapat terjadi kesalahan, sehingga
jumlah sel sebenarnya belum tentu sesuai dengan yang ada pada pengamatan, hanya
mendekati.
Semakin tinggi perbesaran mikroskop, semakin teliti pengukuran dan penghitungan, karena
dapat memisahkan sel yang berhimpit, sehingga, dapat memperkecil resiko kesalahan dalam
pengukuran maupun penghitungan.

Daftar Bacaan
Afriyanto,Eddy. Pakan Ikan dan Perkembangannya. 2005. Penerbit Kanisius. Jakarta
Harmita. Buku Ajar Analisis Hayati Edisi Ketiga. 2006. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta
Muslim, Ahmadi. Menghitung jumlah bakteri. file:///X:/menghitung-perhitungan-jumlah-
bakteri_26.html. Diakses pada tanggal 24 April 2013.
Purnomo, Bambang Ir MP. Penuntun Praktikum Mikrobiologi. 2013. Laboratorium Ilmu
Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Bengkulu. Bengkulu
Singleton,Paul. Dictionary of Microbiology And Molecular Biology Third Edition.2006. John
wiley & Sons Inc. England
Skou Torben dan Sogaard Jensen Gunnar. Microbiology.2007. Forfattern Og Systime.
England
Wikipedia. Hemocytometer. http://id.wikipedia.org/wiki/Hemocytometer. 2013. Diakses
pada tanggal 24 April 2013.

TES JURNAL 6
PENGHITUNGAN JUMLAH MIKROBA DENGAN RUANG HITUNG


(Sumber :http://www.samyakinternational.com)


1. Apakah tujuan percobaan kali ini ?
- Mahasiswa mampu melakukan pengamatan mikroba pada alat hemasitometer dengan
bantuan mikroskop.
- Mahasiswa mampu melakukan perhitungan jumlah mikroba dengan menggunakan ruang
hitung.
2. Apa yang Anda ketahui mengenai perhitungan jumlah bakteri ?
Penghitungan jumlah bakteri hidup terbagi atas dua, yaitu secara (tidak langsung) Misalnya
perhitungan pengurangan jumlah substrat dan secara langsung. Penghitungan mikroba secara
langsung antara lain:
1. Plate Count (hitungan cawan)
Plate count / viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup
dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media
pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh
dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi
tersebut.
2. Turbidimetri
Turbidimetri merupakan metode yang cepat untuk menghitung jumlah bakteri dalam suatu
larutan menggunakan spektrofotometer. Bakteri menyerap cahaya sebanding dengan volume
total sel (ditentukan oleh ukuran dan jumlah). Ketika mikroba bertambah jumlahnya atau
semakin besar ukurannya dalam biakan cair, terjadi peningkatan kekeruhan dalam biakan.
Kekeruhan dapat disebut optical density (absorbsi cahaya, biasanya diukur pada panjang
gelombang 520 nm 700 nm). Untuk mikroba tertentu, kurva standar dapat memperlihatkan
jumlah organisme/ml (ditentukan dengan metode hitungan cawan) hingga pengukuran optical
density (ditentukan dengan spektrofotometer).
3. Hemasitometer
Hemasitometer adalah metode perhitungan secara mikroskopis. Ruang hitung terdiri dari 9
kotak besar dengan luas 1 mm. Satu kotak besar di tengah, dibagi menjadi 25 kotak sedang
dengan panjang 0,05 mm. Satu kotak sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Dengan
demikian satu kotak besar tersebut berisi 400 kotak kecil. Tebal dari ruang hitung ini adalah
0,1 mm. Sel bakteri yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut sehingga
jumlah bakteri per satuan volume dapat diketahui.

3. Apa yang Anda ketahui mengenai Hemasitometer ?

Hemasitometer adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan sel
secara cepat dan dapat digunakan untuk konsentrasi sel yang rendah. Hemasitometer pada
mulanya diperuntukkan untuk menghitung sel darah, yang ditemukan oleh Louis-Charles
Malassez.
Penghitungan konsentrasi sel pada hemasitometer ini bergantung
pada volume dibawah coverslip. Pada chamber terdapat 16 persegi besar yang memiliki
persegi-persegi kecil di dalamnya, di mana sisi persegi kecil besarnya 0,05 mm. Jika di atas
bagian yang diasah tadi diletakkan sebuah kaca penutup, maka akan terbentuk ruangan yang
tingginya 0,1 mm. Sehingga volume dari satu persegi kecil adalah 0,05*0,05*0,1 mm3=25.10-
5
mm3.
Kelebihan perhitungan sel dengan menggunakan hemasitometer adalah dapat menghitung
jumlah sel yang hidup maupun yang mati, tergantung dari pewarna yang digunakan. Misalnya,
bila pewarna trypan blue dicampukan ke dalam larutan sel maka sel yang hidup tidak akan
berwarna dan sel yang mati akan berwarna biru. Kelebihan lainnya adalah morfologi sel dapat
diamati, dapat mengevaluasi homogenitas dan data mendeteksi kontaminasi.(id.wikipedia.org)
Hemasitometer yang akan digunakan dalam percobaan adalah tipe Neubauer-Improved.

4. Apa saja kelemahan dan kelebihan dari metode perhitungan bakteri secara
langsung ?
Keuntungan metode ini ialah pelaksanaannya cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan.
Namun mempunyai kelemahan sebagai berikut:
Sel-sel mikroba yang telah mati tidak dapat dibedakan dari sel yang hidup. Karena itu
keduanya terhitung. Dengan kata lain hasil yang diperoleh ialah jumlah total sel yang ada di
dalam populasi. Pada beberapa macam sel eukariotik, penambahan zat warna tertentu
(misalnya biru metilen sebanyak 0,1 %) pada sampel yang akan dihitung dapat membedakan
sel hidup dari sel mati. Pada sel khamir misalnya baik sel hidup maupun sel mati akan
menyerap biru metilen namun hanya sel hidup mampu mereduksi zat warna tersebut secara
enzimatik menjadi tidak berwarna; jadi sel-sel mati akan tampak biru.
Sel-sel yang berukuran kecil sukar dilihat di bawah mikroskop, seperti bakteri karena
ketebalan hemasitometer tidak memungkinkan digunakannya lensa obyektif celup minyak,
sehingga kalau tidak teliti tidak terhitung. Hal ini biasanya diatasi dengan cara mewarnai sel
sehingga menjadi lebih mudah dilihat.
Untuk mempertinggi ketelitian, jumlah sel di dalam suspensi harus cukup tinggi, minimal
untuk bakteri 106 sel/mL. Hal ini disebabkan dalam setiap bidang pandang yang diamati harus
terdapat sejumlah sel yang dapat dihitung
Tidak dapat digunakan untuk menghitung sel mikroba di dalam bahan yang banyak
mengandung debris atau ekstrak makanan, karena hal tersebut akan mengganggu dalam
perhitungan sel.
Kelemahan lain adalah sulitnya menghitung sel yang berukuran sangat kecil seperti bakteri
karena ketebalan hemasitometer tidak memungkinkan digunakannya lensa obyektif celup
minyak. Hal ini biasanya diatasi dengan cara mewarnai sel sehingga menjadi lebih mudah
dilihat. Kadang-kadang sel cenderung bergerombol sehingga sukar membedakan sel-sel
individu. Cara mengatasinya ialah mencerai-beraikan gerombolan sel-sel tersebut dengan
menambahkan bahan anti gumpal seperti dinatrium etilen diamin tetraasetat dan Tween 80
sebanyak 0,1 %.

5. Bagaiman cara menghitung sel mikroorganisme dengan ruang hitung ?


Karena letak mikroorganisme tidak beraturan maka perlu dilakukan perjanjian supaya tidak
terjadi perhitungan dua kali, yaitu :
Sel-sel pada sisi kanan dan bawah tidak dihitung pada kotak yang sedang
diamati/dihitung.
Sel-sel pada sisi kiri dan atas tetap dihitung pada kotak yang sedang diamati/dihitung.
6. Bagaiman metode perhitungan untuk percobaan kali ini ?
Prinsip dari perhitungan Petroff-Hauser yaitu melakukan perhitungan dengan pertolongan
kotak-kotak skala, di mana dalam setiap ukuran skala seluas 1 mm2 terdapat 25 buah kotak
besar dengan luas 0,04 mm2, dan setiap kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil. Alat
haemocytometer digunakan di bawah mikroskop, sisinya mempunyai ukuran 0,05 mm.
Sedangkan satu kotak sedang berukuran nilai 0,2 mm. Dan tebal nya adalah 0,1 mm. Jumlah
sel per mL sampel dapat dihitung sebagai berikut:
Jumlah sel dalam 25 kotak besar = Jumlah sel per kotak besar 25 kotak
Jumlah sel per mm3 sampel = Jumlah sel dalam 25 kotak besar (1/0,02)
Jumlah sel per ml sampel = Jumlah sel per mm3 sampel 103
= Jumlah sel per kotak besar 25 kotak (1/0.02)x 10^3
Jumlah sel per ml sampel = Jumlah sel per kotak besar 25 kotak 50 103


Misalnya : didapatkan jumlah mikroba yang mau dihitung 12 sel mikroba, maka jumlah sel per
ml sampel adalah: 12 1,25 106 = 1,5 107.
7. Apa tujuan dilakukannya scrub pada NA miring yang berisi biakan dan tujuan
penggunaan air steril ?
Hal ini dimaksudkan agar spora Aspergillus niger dapat lepas dan tersuspensi dalam air
steril.
Penggunaaan air steril untuk membuat suspensi spora dimaksudkan agar tidak terdapat
mikrooba lain yang terlarut dalam suspensi. Tersuspensinya spora dalam air steril ditandai
dengan berubahnya warna air steril dari jernih menjadi keruh.

8. Apa tujuan dilakukannya pembersihan hemasitometer menggunakan alkohol


Sebelum dilakukan pengamatan, terlebih dahulu harus dibersihkan hemasitometer dan cover
glass dengan menggunakan alkohol. Hal ini dimaksudkan agar hemasitometer bersih dari
debu dan kuman yang dapat mengganggu perhitungan.

9. Mengapa setelah membilas, hemasitometer tidak boleh dilap dengan menggunakan


tisu biasa ?
Setelah dibilas dengan alkohol, hemasitometer dikeringkan dengan menggunakan tisu lensa.
Pada saat pengeringan, tisu lensa tidak boleh digosok-gosokkan pada permukaan
hemasitometer. Hal ini bertujuan agar garis-garis yang terdapat pada hemasitometer tidak
hilang.

10. Setelah dilakukan 2 hal di atas, apa lagi yang harus dilakukan sebelum
pengamatan ?
Permukaan lensa objektif dan lensa okuler pada mikroskop harus dibersihkan terlebih dahulu
dengan menggunakan tisu lensa. Hal ini bertujuan untuk membersihkan debu dan kotoran
yang dapat mengganggu proses penghitungan mikroba.

11. Berpakah besar pengamatan yang digunakan untuk pengamatan pada


hemasitometer ?
400 kali
12. Apa sebenarnya tujuan dilakukan pengenceran ?
Pengenceran ini dilakukan untuk memenuhi syarat penghitungan statistik, yaitu jumlah
mikroba yang dihitung tidak boleh lebih dari 100 dengan demikian, kesalahan penghitungan
dapat diminimalkan.
13. Langkah Kerja !
a. Dituangkan air steril sebanyak 5 mL pada media agar miring yang telah ditumbuhi koloni
Aspergilus niger hingga seluruh bagian media agar miring yang ditumbuhi koloni terbasahi.
b. Digaruk (scrubbing) koloni Aspergilus niger pada media agar miring yang telah terbasahi
dengan menggunakan kawat ose hingga air steril dalam tabung terlihat keruh.
c. Dibersihkan permukaan ruang hitung (hemasitometer) dengan secarik kertas lensa yang
telah dibasahi dengan setetes air suling. Dibersihkan juga kaca tutup ruang hitung sampai tidak
lagi tertinggal sisa-sisa minyak pada permukaannya.
d. Diambil suspensi Aspergilus niger secukupnya dengan menggunakan pipet tetes dan
diletakkan pada tepi kaca tutup, maka dengan sendirinya tetesan tersebut akan mengalir ke
bawah kaca tutup dan mengisi ruang hitung.
e. Ditutup ruang hitung dengan kaca penutup dan diletakkan di atas pentas mikroskop dengan
hati-hati
f. Diamati jumlah sel kapang dengan obyektif 400 kali.
g. Dilakukan perhitungan jumlah sel kapang dalam 5 persegi besar (80 persegi kecil) sebanyak
dua kali (duplo), yaitu pada bagian atas dan bawah hemasitometer. Jika jumlah sel kapang
dalam 1 persegi kecil > 10 sel dan dalam 1 persegi besar > 100 sel, maka suspensi kapang
perlu diencerkan.
h. Pengenceran 1:10 dilakukan dengan cara 1 mL suspensi Aspergilus niger diambil dengan
menggunakan pipet ukur 1 mL dan diletakkan pada labu takar 10 mL. Kemudian, ditambahkan
air steril hingga batas labu takar dan digoyang hingga suspensi kapang homogen.
i. Langkah 4 sampai 7 diulangi.
j. Dihitung jumlah rata-rata sel kapang dari dua kali perhitungan tersebut.