Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN OBSERVASI

MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM


TANAMAN MELON ( Cucumis melo L.)

Disusun oleh :

1. Putri Sulhana El-Fiesha B. (15/378256/PN/14062)


2. Edwin Pradana (15/379663/PN/14117)
3. Ina Hidayati (15/379666/PN/14120)
4. Puspita Sary Rahayu (15/379670/PN/14124)
5. Rizka Untesa Putri (15/379671/PN/14125)
6. Laras Bika Hartanti (15/379693/PN/14147)

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Melon adalah salah satu tanaman buah dari famili Cucurbitaceae. Tanaman
melon termasuk dalam divisio Spermatophyta karena termasuk dalam tumbuhan berbiji.
Sub-divisio Angiospermae karena tanaman ini berbiji tertutup atau biji di dalam daun
buah, kelas Dicotyledoneae karena memiliki dua daun lembaga, sub-kelas Sympetalae
karena daun mahkota bunganya berlekatan (Daryono et al., 2015). Buah melon
merupakan komoditas holtikultura yang telah banyak dikembangkan di Indonesia, baik
dalam skala kecil maupun agribisnis (Anindita, 2009). Kandungan gizi melon cukup
tinggi diantaranya mengandung serat, mineral, beta karoten, dan vitamin C. Terdapat
jenis melon yang memiliki daging buah berwarna hijau, kuning dan jingga. Warna daging
buah kuning dan jingga yang menunjukan kandungan beta karoten tinggi dan provitamin
A (Fukino et al., 2004). Berdasarkan data Kementrian Pertanian (2015) produksi buah
melon di Indonesia 150.347 ton dan rata-rata hasil 18,37 ton/ha. Kebutuhan buah melon
diperkirakan meningkat, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya
pendapatan dan perubahan pola makan masyarakat Indonesia yang semakin
membutuhkan buah segar sebagai salah satu menu gizi sehari-hari.
Tanaman memerlukan persyaratan tumbuh agar dapat berproduksi secara
optimum dan dapat menghasilkan buah dengan kualitas yang baik. Syarat tumbuh
tersebut meliputi kondisi tanah, iklim dan ketinggian tempat. Jenis tanah yang baik
berupa tanah liat berpasir, gembur, dan memiliki banyak unsur hara berupa N, Fe, P, K,
Ca, Mg, S, Br, Mn dan Zn (Prajnanta, 2008 cit. Daryono et al., 2015). Tanaman melon
tumbuh optimum pada curah hujan antara 1500-2500 mm/tahun. Suhu untuk
pertumbuhan tanaman melon antara 25-30oC (Sobir dan Siregar, 2010 cit. Daryono et al.,
2015). Ketinggian tempat yang optimal berkisar 200-900 dpl. Ketinggian tempat
mempengaruhi tekstur dan rasa manis daging buah. Melon yang ditanam pada dataran
menengah memiliki kualitas tekstur yang lebih baik, daging buah yang tebal dengan
rongga buah yang kecil dan rasa yang lebih manis (Prajnanta, 2008 cit. Daryono et al.,
2015).
Buah melon (Cucumis melo L.) memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan
masih memerlukan pengembangan terutama pada peningkatan hasil. Usaha untuk
meningkatkan produksi buah melon selain memastikan syarat tumbuh yang sesuai juga
perlu teknik budidaya yang tepat. Budidaya tanaman melon dapat dipelajari dari observasi
kepada petani yang menanam melon. Hasil observasi digunakan untuk mengetahui
perbandingan budidaya oleh petani dengan teori sehingga diketahui teknik budidaya yang
tepat dan meningkatkan produksi.

B. Tujuan
1. Mengetahui teknik budidaya tanaman melon (Cucumis melo L.) dari teori dan
hasil observasi.
II. HASIL OBSERVASI

Melon ( cucumis melo L ) merupakan tanaman semusim atau setahun (annual)


yang bersifat menjalar atau merambat dengan perantaraan alat pemegang berbentuk pilin.
Tanaman melon terdiri dari 2 daun lembaga sehingga dimasukkan dalam kelas tumbuhan
berbiji belah (dikotil). Bentuk perakaran melon berupa perakaran tunggang terdiri atas
akar utama (primer) dan akar literal (sekunder). Tanaman melon biasanya memiliki masa
panen sekitar 3 bulan setelah dilakukannya penanaman (Astuti, 2007).
Berikut merupakan klasifikasi tanaman melon;
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Family : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis melo L. (Rohmawati, 2007).
Saat ini melon sering digunakan sebagai buah untuk terapi kesehatan karena
mempunyai khasiat antara lain : membantu system pembuangan, anti kanker, menurunkan
resiko stroke dan penyakit jantung, mencegah penggumpalan darah (Tjahjadi, 2000).
Tanaman melon merupakan tanaman yang memerlukan sinar matahari. Apabila pada awal
pertumbuhan kekurangan sinar matahari maka bisa mengalami etiolasi. Namun apabila
tanaman melon sudah berbuah, jika kekurangan sinar matahari maka akan mempengaruhi
terhadap rasa buah melon itu sendiri (Tjahjadi, 2000).
Syarat Pertumbuhan Tanaman Melon adalah sebagai berikut (Astuti, 2007):
1. Iklim
Perlu penyinaran matahari penuh selama pertumbuhannya. Pada kelembaban yang
tinggi tanaman melon mudah diserang penyakit. Suhu optimal antara 25-300C. Angin
yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman melon. Hujan terus menerus
akan merugikan tanaman melon. Tumbuh baik pada ketinggian 300-900 m dpl.
2. Media Tanam
Tanah yang baik ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organic
seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari sifat-sifat
tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan bahan organik,
maupun pemupukan. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah, pH
tanah 5,8-7,2.

Pada tanggal 14 Oktober 2017, kelompok kami melakukan sebuah observasi


pertama ke Padukuhan Cilikan, Kelurahan Umbulmartini, Kecamatan Ngemplak, Sleman,
Yogyakarta. Kami bertemu dengan seorang petani bernama Bapak Haridadi (56th), beliau
merupakan seorang petani melon yang memiliki luas lahan sebesar 1000 m. Sebagai
seorang petani tanaman semusim, tentu banyak suka duka yang ia alami. Adapun tanaman
semusim ialah tanaman yang hanya memerlukan satu kali siklus hidupnya kurang dari satu
tahun. Contoh tanaman semusim ialah tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai
atau tanaman hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Tanaman semusim
seperti melon ini kalo berhasil panen nyenengin banget mba, tapi kalo gagal kayak gini
yaudah deh! jawabnya pasrah ketika kami menanyakan apa alasan beliau memilih
komoditas tanaman semusim ini.
Dalam melakukan budidaya tanaman semusim tentunya ada beberapa hal yang
harus dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara kami dengan Pak Hariadi, ia menjelaskan
kepada kami mengenai hal pertama yang beliau lakukan dalam budidaya tanaman
semusim, mulai dari pengolahan lahan.
a. Persiapan Lahan

Beliau melakukan pembajakkan lahan sebanyak dua kali (pengolahan sempurna),


selain pembajakkan yang dilakukan, juga dilakukan penambahan unsur-unsur hara yaitu
dengan pemberiaan pupuk kandang dan kimia dengan perbandingan 3:1. Jarak tanam yang
ia gunakan ialah 65-75 cm. Sebelum dilakukan pemeliharaan, Pak Hariadi menggunakan
mulsa terlebih dahulu, kemudian mulsa tersebut dilubangi dan dipasang ajir untuk tempat
bersanggah tanaman melon tersebut. Khusus pada sistem tanam yang dirambatkan, seawal
mungkin dilakukan pemasangan lanjaran dari bilah bambu ukuran panjang 175 200cm
dan lebar 3-4cm, dipasang berjajar dekat batang tanaman melon.
b. Pembibitan

Bapak dari tiga anak ini melakukan penyemaian benih melon terlebih dahulu
selama 12 hari. Penyemaian ini dilakukan untuk meminilisir kemungkinan benih yang
kurang baik atau tidak tumbuh. Varietas melon yang digunakan ialah varietas Hibrida
Sunny Red. Dengan luas lahan sebesar 1000 meter persegi, banyaknya populasi dalam
luasan tersebut dapat mencapai 1200 tanaman melon. Setelah dilakukan pembibitan, bibit
segera dipindah tanam ke lahan. Bibit tanaman melon siap untuk ditanam saat berumur 10
14 hari setelah semai. Kriteria bibit yang siap tanam adalah jika bibit tersebut sudah
memiliki 2 3 pasang daun yang berwarna hijau segar.
c. Pemangkasan

Pemeliharaan yang dilakukan untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan


tanaman melon sendiri cukup rumit. Setelah 75 hari masa tanam, barulah melon dapat di
panen. Menurut Pak Hariadi, hampir setiap hari selama 35 hari beliau akan selalu
mengecek sawahnya. Hal tersebut dikarenakan Pak Hariadi harus memastikan bagaimana
pertumbuhan tanaman melonnya satu per satu. Tanaman melon merupakan salah satu
tanaman yang cukup sensitif mengenai pertumbuhannya. Setiap satu tanaman melon,
harus dijaga mulai dari jumlah bunga hingga jumlah daunnya. Untuk memaksimalkan
buah yang akan tumbuh pada tanaman melon tersebut, maka setiap satu tanaman hanya
difokuskan untuk menumbuhkan satu buah saja. Selama 35 hari pemeliharaan Pak Hariadi
harus memastikan jumlah maksimal daun tiap satu tanaman ialah 23 helai, sehingga perlu
adanya eliminasi daun tertentu untuk memaksimalkan pertumbuhannya. Dalam pemilihan
calon buah juga perlu ketelitiaan, calon buah biasanya dilih mulai dari percabangan ke
8,9,dan 10. Kemudian dipilih pertumbuhan dari calon buah mana yang terbaik, setelah
terlihat maka calon buah yang lainnya di eliminasi sehingga hanya tersisa satu calon buah
tiap satu tanaman. Dengan demikian dapat dihasilkan buah dengan ukuran yang optimum
karena pasokanhara dari sumber ke lubuk adalah sesuai kapasitas kebutuhan buah dan
menghasilkan buah yang bagus dan bernilai ekonomi tinggi.
Observasi kedua kami lakukan pada tanggal 25 Oktober 2017 di daerah yang sama.
Saat observasi kedua kami melakukan wawancara dengan Ibu Rokhistin dan Bapak Budi
Sutopo. Pasangan suami istri ini merupakan petani melon yang sudah cukup
berpengalaman mengenai komoditas ini memiliki luas lahan sebesar 1200 meter persegi.
Kebetulan Pak Budi merupakan mantan pegawai di sebuah perusahaan eksport-import
buah bagian lapangan, khususnya budidaya itu sendiri. Cara budidaya yang dilakukan
oleh Pak Budi hampir sama dengan yag dilakukan Pak Hariadi. Hanya saja dalam
praktiknya Pak Hariadi lebih teliti dalam penggunaan pupuknya.
d. Pemupukan

Pada pengeloaan tanah yang pertama beliau menggunakan pupuk ZA sebanyak


100kg, phonska 50 kg, dan KCL 50kg. Sedangkan pupuk susulannya bergantung
kebutuhan tanaman sendiri. ada 2 jenis pupuk susulan yang biasa digunakan. Yang
Pertama KNO merah yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan dan KNO putih
untuk mempercepat pembuahan (generatif). Pemeliharaan lain yang dilakukan ialah
dengan memberikan pupuk NPK Pak Tani dengan cara dikocor setelah 2-3 hari setelah
tanah. Kemudian disemprot insektisida sebanyak empat hari sekali menggunakan dafonil
atau antacol ( untuk insektisida) dan reagen ( untuk fungi).
Setelah 2 minggu penanaman mulsa dibuka untuk dlakukan penyiangan sekaligus
pemupukan. Menurut pengalaman Pak Budi cara pemupukan yang paling efektif ialah
dengan dialur pada pinggiran mulsa dan disekitar tanaman melon tersebut. Menurut Pak
Budi kualitas buah melon dapat dilihat dari net ( jaring-jaring pada kulit buah), semakin
tebal dan bagus maka kualitas melon tersebut juga akan semakin bagus. Cara pemilihan
calon buahnya pun sama, hanya saja biasanya Pak Budi menyisakan 25-27 daun untuk
setiap tanamannya.
Pemupukan bertujuan untuk menyediakan hara-hara yang dibutuhkan tanaman
bagi pertumbuhan tanman dan peoduksi buah yang berkualitas tinggi, yang tidak dapat
disediakan oleh tanah pada lokasi penanaman. Mengacu pada hal tersebut maka dosis tepat
pupuk tergantung pada tingkat kesuburan tanah. Pupuk utama yang harus disediakan
adalah pupuk Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) (Isnaini, 2007).
e. Penanganan OPT

Penanganan pengendalian OPT dilakuan dengan cara disemprot insektisida


sebanyak empat hari sekali menggunakan dafonil atau antacol ( untuk insektisida) dan
reagen (untuk fungi). Adapun macam bakteri ataupun cendawan pengganggu melon
adalah: Layu Bakteri, Penyakit Busuk Pangkal Batang (gummy stem bligt), kutu,
kumbang, ulat, uret dll.
f. Panen dan Pasca Panen

Total waktu pengerjaan pada budidaya tanaman melon menghabiskan waktu


kurang lebih 65-75 hst. Adapun harga jual buah melon bervariasi, mulai dari Rp. 1000
Rp. 12.000, hal tersebut tergantung pada berat satu buahnya. Untuk melon dengan berat
kurang dari 1kg hanya dihargai Rp. 1.000- Rp. 6.000. Melon dengan berat kira-kira 1 kg
dihargai dengan harga Rp. 6.000 Rp. 8.000. Sedangkan untuk melon dengan berat lebih
dari 1 kg dihargai dengan harga Rp. 8.000 Rp. 12.000. Kualitas A, B, dan C dibedakan
pada kuantitas dan kualitas buah.
Secara ekonomi, budidaya melon memberikan untung yang menjanjikan. Dari
perhitungan 2 narasumber, biaya yang dihabiskan untuk satu tanaman melon, mulai dari
pembibitan hingga panen ialah Rp. 5000 / tanaman, sehingga dibutuhkan sekitar Rp.
6.000.0000 untuk biaya produksinya. Akan tetapi dengan harga pasca panen yang tinggi
pula, petani dapat untung hingga 3-4x lipatnya.
III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada dasarnya proses budidaya tanaman melon ( Cucumis melo L.) hamper sama
dengan tanaman semusim pada umumnya, berupa persiapan lahan maksimum, persemaian
12 hari hingga pindah tanam, pemberian pupuk NPK dan pestisida/insektisida yang sedikit
berkala, perairan yang minimum, dan adanya perawatan berupa pemangkasan daun dan buah
(selain pada ruas 8,9,10) agar laju asimilat terfokus pada 1 buah yang maksimum.

B. Saran

Masih sedikit petani yang belum mengerti potensi menjanjikan dari tanaman melon,
dengan mengesampingkan sangat intensifnya perawatan dan sangat rawan/ sensitif terhadap
faktor air. Melon memiliki keuntungan yang besar apabila dibudidayakan dengan teknik
budidaya yang tepat, sehingga diperlukan penyuluhan dan sosialisasi terhadap minat
penanaman tanaman hortikultura khususnya melon.
Daftar Pustaka

Anindita, K.A. 2009. Variasi fenotipe dan pembentukan warna buah melon (Cucumis melo
L.) kultivar Melodi Gama 1. Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
hal 1.

Astuti., 2007., Budidaya Melon, PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Daryono, B.S., A.R. Ibrohim dan S.D. Maryanto. 2015. Aplikasi teknologi budidaya melon
(Cucumis melo L.) Kultivar Gama Melon Basket di lahan karst Pantai Porok
Kabupaten Gunungkidul D.I.Yogyakarta. Biogenesis 3(1): 39-46.

Fukino N., Kunisiha M., Matsumoto S.. 2004. Characterization of recombinant inbred lines
derived from crosses in melon (Cucumis melo L.) PMAR No.5 Haruke No.3. Breesing
Science. 54:141-145.

Isnaini Muallisin. (2007). Model Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Kota


Yogyakarta. Diakses dari http:// www.jogjakota.go.id, pada tanggal 15
Desember 2011 pukul 20.00 WIB.

Kementrian Pertanian. 2015. Statistik Produksi Hortikultura Tahun 2014.


<http://hortikultura.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2016/02/Statistik-Produksi-
2014.pdf>. Diakses 25 Oktober 2017.

Rohmawati, U,Agus Karyanto,A., dan Hadi, M.S. . 2007. Evaluasi Status Unsur Hara
Nitrogen, Fosfor, Dan Kalium Dengan Teknik Uji Cepat Dan Karakter Morfofisiologi
TanamanMelon (Cucumis meloL.).Unila.Lampung.

Tjahjadi, N. 2000. Bertanam Melon. Kanisius, Yogyakarta.


LAMPIRAN