Anda di halaman 1dari 39
MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KP 482 TAHUN 2016 TENTANG PENETAPAN ALUR-PELAYARAN, SISTEM RUTE, TATA CARA BERLALU. LINTAS DAN DAERAH LABUH KAPAL SESUAI DENGAN KEPENTINGANNYA DI PELABUHAN PALEMBANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, Membaca. Menimbang surat Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor UM.002/44/12/DJPL-16 tanggal 13 Juni 2016 perihal Penyampaian Rancangan Keputusan — Menteri Perhubungan (RKM) tentang ——Penetapan Penyelenggaraan Alur-Pelayaran Pelabuhan Palembang dan Alur-Pelayaran Barat Surabaya; a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian, Menteri Perhubungan — wajib menetapkan alur-pelayaran, sistem rute, tata cara berlalu lintas dan daerah labuh kapal sesuai dengan kepentingannya di pelabuhan; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Penetapan Alur-Pelayaran, Sistem Rute, Tata Cara Berlalu Lintas dan Daerah Labuh Kapal Sesuai Dengan Kepentingannya di Pelabuhan Palembang; Mengingat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4849); Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, ‘Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5070) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2015 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 193, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5731); Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5093); Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5108) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5109); Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1979 tentang Pengesahan Peraturan International tentang Pencegahan Tubrukan di Laut Collision Regulation 1972; 10. ql. 12. 13. 14, 15. 16. Keputusan Presiden Nomor 65 Tahun 1980 tentang Pengesahan International Convention for The Safety of Life at Sea 1974; Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8); Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang Kementerian Perhubungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 73); Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 30 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Distrik Navigasi; Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 Tahun 2011 tentang Sarana Bantu Navigasi- Pelayaran; Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 26 ‘Tahun 2011 tentang Telekomunikasi Pelayaran; Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 68 Tahun 2011 tentang Alur-Pelayaran di Laut (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 380); Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 36 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 629); Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 311); Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 57 ‘Tahun 2015 tentang Pemanduan dan Penundaan Kapal (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 390}; Menetapkan PERTAMA KEDUA. KETIGA KEEMPAT 17. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 189 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 27); MEMUTUSKAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG PENETAPAN ALUR PELAYARAN, SISTEM RUTE, TATA CARA BERLALU LINTAS DAN DAERAH LABUH KAPAL. SESUAI DENGAN KEPENTINGANNYA DI PELABUHAN PALEMBANG. Menetapkan Alur-Pelayaran Pelabuhan Palembang sebagaimana tercantum dalam peta laut Indonesia dan dibatasi oleh titik koordinat geografis dalam Lampiran I, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini. Menetapkan Sistem Rute Pelayaran Pelabuhan Palembang sebagaimana tercantum dalam Lampiran Il, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini Menetapkan Tata Cara Berlalu Lintas di Alur- Pelayaran Pelabuhan Palembang — sebagaimana tercantum dalam Lampiran Il, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini. Menetapkan Daerah Labuh Kapal __ sesuai kepentingannya di wilayah perairan Pelabuhan Palembang sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini. KELIMA KEENAM KETUJUH KEDELAPAN KESEMBILAN : KESEPULUH Alur-pelayaran, Sistem Rute, Tata Cara Berlalu Lintas Dan Daerah Labuh Kapal Sesuai Dengan Kepentingannya sebagaimana dimaksud dalam Diktum PERTAMA, Diktum KEDUA, Diktum KETIGA dan Diktum KEEMPAT wajib dimuat dalam Peta Laut dan Buku Petunjuk Pelayaran, serta dilengkapi dengan posisi koordinat Sarana Bantu Navigasi- Pelayaran sebagaimana tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini. Pengawasan terhadap keselamatan dan keamanan pelayaran dilaksanakan oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas Il Palembang sesuai tugas dan fungsinya serta melaporkan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut. Pengawasan terhadap _penyelenggaraan __alur- pelayaraan Pelabuhan Palembang dilaksanakan oleh Distrik Navigasi Kelas II Palembang. Pemeliharaan alur-pelayaran Pelabuhan Palembang dilakukan oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas Il Palembang secara berkala atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. Penyelenggaraan Alur-Pelayaran pada Pelabuhan Palembang dievaluasi paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun untuk mengetahui kesesuaian terhadap kondisi alur-pelayaran. Direktur Jenderal Perhubungan Laut melakukan pembinaan dan pengawasan teknis _terhadap pelaksanaan Keputusan ini. KESEBELAS : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Juli 2016 MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd IGNASIUS JONAN Salinan Keputusan ini disampaikan kepada: 1 2 3. 4. Kepala Staf TNI Angkatan Laut 5. 6. 7. 8. ae 1 1 12, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman; Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; Menteri Badan Usaha Milik Negara; Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal, dan Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan; Gubernur Sumatera Selatan; Walikota Palembang; Kepala Dinas Hidro-Oceanografi TNI Angkatan Laut; 0. Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Selatan; 1. Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Palembang; 2. Kepala Distrik Navigasi Kelas II Palembang. Salinan sesuai dengan aslinya Lampiran I Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor _ Tahun 2016 tentang Penetapan Alur Pelayaran, Sistem Rute, Tata Cara Berlalu Lintas dan Daerah Labuh Kapal sesuai Dengan Kepentingannya Di Pelabuhan Palembang ALUR PELAYARAN PELABUHAN PALEMBANG Alur-Pelayaran Pelabuhan Palembang, pada posisi koordinat: No KOORDINAT No KOORDINAT TA” [OF 1TS6.2" LS |10FSS20.7F BT [IB | 021156." LS | 104°5527.2" BT BA [OR I741.4°LS | 104°S520.7° BT [2B | OB 1741.4 LS | 104°S5 27.2 BT [3A oa" 1912.4" LS | 104°5509.2" BT [3B | 02°19'13.6" LS | 104°55'15.6" BT GA | OPOPS7.T LS | 1045428 BT |B | 0221591" LS | 10454286" BT SA [OPITDAT LS | 10FS427.4 BT [SB | 0227218" LS | 1045430.6 BT GA | OFITSTF LS | 105446." BT | 6B | 02°2260.6" LS | 1045448." BT 7x | OaFa7 TLS | 10FSSIET" BT [7B | 02°2426.0" LS | 10455312" BT (aA | OP2SS0.8 LS | 10FSC15.6 BT [8B | 02°258.4 LS | 104°S6 16.8" BT A | ORDER. LS | 1OFSSTST BT [OB | O22EOR.S LS | 104°5619.5° BT | ion [02°27'35.4°LS | 104°56'26.1 BT | 10B | 02°2734.9" LS | 104°5629.6" BT TIA [0227408 18 | 104°5626.5° BT | 11B | 02°2741.0" LS | 104°5629.8" BT T2A | 02°2908.5° LS | 10456219" BT | 128 | 02°2908.7° LS | 104°5625.4" BT [iaa [Or a0 16.5" TS | 104°5623.1" BT | 13B | 02°29718.5" LS | 104°5626.5" BT T4A [0230075 LS | 104°5636.7" BT | 14B | 02°30'06.5" LS | 104°56'40.1" BT TSA |OF3036.7 LS | 104°5635.4 BT [ISB | 02°3028.2°LS | 104°5698.7° BT {6A | 0230S. LS | 10FS622.7" BT | 16B | 02°S0S7.S"LS | 1045625. BT TR [OPSTIO LS | 10FS620.9 BY |17B | OFSTIS.4 LS | 1645694.5" BT TSA | OPSTSLF LS | 10F5629.9" BT | 18B | OFSTSI-G LS | 1045692. BT TOA [OPSSO7-H LS | 10FS628.7 BT | 198 | 023208." LS | 104°S092.1" BT DOA | ORPSTGO.S LS | 104°S6 16.9" BT | 208 | OFSTATO'LS | 104°5621.6" BT TIA | OPSTSLO LS | 104°5S 16,7" BT | 21B | 02°3750.5° LS | 104°5620.2" BT Baa | 02°3342.3" LS | 104°S617.9° BT | 22B | 02°33'42.3" LS | 104°56'21.4" BT Sk | OF GTS LS | 10755206 BT [ISB | OFITTSS 1S | 107S629.8" BT | 24K [OPSSSOS LS | 1OFSTIAT BT | 248 | 023582" LS | 10FS7 17.4 BT BA OPIS IBT LS | 1OFSTIS.8 BT | 258 | O2SC19.0" LS | 104°57 19.1" BT EA [OFISSS.S LS | lOPSTOBA BT | 26B | 0236965" LS | 10FS7O7.S' BT | BIR | OPSOSAT 1S | OP SCTTT BT | 27B | 02°96S7.S LS | 1045639. BT BBA | OBST 09.5" LS | 10486369" BT [BBA | 02°37 0.7" LS | 104°5630.2" BT No KOORDINAT No KOORDINAT Q9A | 02°37°42.6" LS | 104°5614.8" BT | 29B | 02°3743.9" LS | 104°56'18.1" BT BOA | OPSSOLE LS | 10FSS1S.7" BT | SOB | 02°38'00.9° LS | 104°5617.2" BT BIA [0240037 LS | 10456402" BT [SIB | 02°4008.0" LS | 10456436" BT | BIA | 02°40°08.3" LS | 104°5640.7" BT | 52B | 02°40'08.2" LS | 104°56'44.3" BT Baa |OPATSLS LS | 10FS844.9" BT | 33B | O24TS1.7 LS | 10456484" BT [Sak | 0247 45.0" LS | 1OPSOaS.S BT | 34B | OD4T 43.4" LS | 1040515" BT BSA | OP4TSO.F LS | 1045724 BT | SSB | 024757.3" LS | 10457 28.1" BT B6A | 02°43 11.1" LS | 104°5728.0" BT | 36B | 02"43'11.0" LS | 104°57'31.5° BT BIN [OR4F 165° LS | 10497309" BT |I7B | 02°44'16.6" LS | 104°57 33.6" BT ‘BBA | 02°4508.6" LS | 10457 24.2 BT | 38B | 02°45'08.9" LS | 104°S7 27.8" BT 0A | 024816.1° LS | 10457224" BT | S9B | 024517.4° LS | 1045725.7" BT OA | 0245480 LS | 10457 10.2" BT | 40B | 02°4549.3" LS | 104°5713.5" BT TIA [OP4SSON LS | 1OKS7OLS BT | 41B | 0246029" LS | 104°5704.2" BT aaa [0247016 LS | 104°5550.6" BT | 428 | 02°4703.9" LS | 104°55S3.1° BT GA |OPATSLT LS | 10FSSIS. BT [4B | 02°4752.8" LS | 104°5516.4" BT aaa | 02°51'S2.7" LS | 104°S941.1" BT | 44B | 02°S1'S4.1" LS | 104°53'44.4" BT ZK | OPSTOS.T 1S | 104°SS30.1" BT | ASB | 02°SF08.2" LS | 1045S42.6° BT [a6A | 02°S505.7" LS | 104°S400.5" BT | 46B | 02°55'05.3" LS | 104°54'04.0" BT FIR | OPSSDLT 1S | 10FSIST.T BT | 47B | 02°S5'23.3° LS | 104°5400.9" BT GBA | 02°5043.8 LS | 104°5316.5" BT | 48B | 02°56'45.1" LS | 104°53'19.1" BT FOR | OFS656.0" 18 | 1045305.1" BT | 49B | 02°56S8.5" LS | 104°5306.6" BT SOA | OPSSS5.8 LS | 104°S248.8" BT [SOB | 02°S7'02.5"LS | 104°5248.6" BT Sik [OPSESTT IS | 10P52U5.7 BT | SIB | 02°S700.6" LS | 1045295.6° BT SQA [OPSTODA LS | 10°S206.6" BT | S28 | 0257045" LS | 104°5208.1" BT SIA [OPSTITS LS | 10FSTS4.2 BT | S3B | O2S718S" LS | 104°5156.8 BT BR [OPSBALT IS | 104129. BT | S4B | 02°S822.2" LS | 1045192. BT BEA | OFSSSES"1S | 1OFSTIO.L BT | SSB | O258S9.0LS | 1OFSTI7.S BT | 6K [OPED ISS 1S | 104°9NS8.7 BT | SOB | OFSTTS.S LS | 1044959.7" BT BTA | OPSTALT' 1S | 1074849.6 BT | S7B | 0259248" IS | 104°48'49.0" BT SEA | O2STOG. TLS | 10F4S04,T BT | S8B | O2STOTE LS | TOPABOS.2" BT | BOA | ODSHSIS 1S | 1044056.F BT | SOB | 02°S856.8" LS | 1044656.2° BT GOA | OFSSSS.0 LS | 1044632.0° BT | 6OB | 02°S859.3" LS | 104°4693.6" BT GIA | OFS52E.8 1S | 1OFASISO BT [CIB | O2°SS1.6 LS | 10474549.8" BT 2. Ketentuan kedalaman, lebar dan panjang Alur Pelayaran a. kedalaman minimal pada saat surut terendah adalah -3,8 meter LWS dan perencanaan kedalaman minimal alur pelayaran kedepan adalah -9 meter LWS, Jebar alur pelayaran minimal 80 meter di Selat Jaran dan maksimal 300 meter di wilayah Upang; untuk panjang alur adalah 56,3 NM (Nautical Miles) atau 104,242 KM (kilometer), sehingga ukuran draft kapal yang dapat melalui alur pelayaran Pelabuhan Palembang pada saat kedalaman di atas disesuaikan dengan pasang surut. PETA ALUR PELAYARAN PELABUHAN PALEMBANG ul -o1- MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. IGNASIUS JONAN NIP. 19620620 198903 2 001 23 Lampiran II Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor Tahun 2016 tentang Penetapan Alur Pelayaran, Sistem Rute, Tata Cara Berlalu Lintas dan Daerah Labuh Kapal sesuai Dengan Kepentingannya Di Pelabuhan Palembang SISTEM RUTE ALUR PELAYARAN PELABUHAN PALEMBANG Sistem rute yang ditetapkan adalah One Way Route (rute satu arah)secara bergantian, Two Ways Route (rute dua arah) dan In-shore Traffic Zone dengan perincian sebagai berikut: a. sistem rute dua arah atau rute satu arah bergantian di sepanjang alur pelayaran Sungai Musi, kecuali bagian alur pelayaran yang dijelaskan pada butir b dan c dibawah, ditentukan berdasarkan LOA kapal yang berpapasan atau menyusul sebagai berikut: LOA @m) [231 <30 | a '30 sd 100 a 100 sd 120 a a 0_[_30 sd 160 | 100 sd 120 | 120 sa 150 150 sd 180 120 sd 150 150 sd 180 @ = Boleh berpapasan atau menyusul, sebagai Rute Dua Arah X = Tidak boleh berpapasan/menyusul, sebagai Rute Satu Arah Bergantian b. tidak ada pembatasan LOA kapal pada rute dua arah bagian alur ambang luar mulai Pelampung suar MPMT sampai dengan wilayah Sungsang. c. pada bagian alur pelayaran di wilayah Sudimara dan wilayah Pulau Salah Nama, ketentuan LOA kapal yang boleh berpapasan atau menyusul sebagai berikut LOA (mj $30 30 sd 100 [100 sd 120 120 sd. 150 [150 sd 180 B 100 sd 120 | 130sd 150] 150 sd 180 >< oe] a lB -24- d. Inshore traffic zone atau zona lalu lintas tepi ditetapkan disepanjang kanan dan kiri alur palayaran yang memungkinkan untuk dilayari kapal-kapal dengan draft relatif dangkal, termasuk untuk kapal pelayaran rakyat. MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. IGNASIUS JONAN Salinan-sesuai dengan aslinya ‘le: BIRO HUKUM yy - », SRLLESTARI RAHAYU Pembina Utama Muda (IV/c) NIP.-19620620 198903 2 001 -25- Lampiran II Keputusan Menteri_ Perhubungan Republik Indonesia Nomor Tahun 2016 tentang Penetapan Alur Pelayaran, Sistem Rute, Tata Cara Berlalu Lintas dan Daerah Labuh Kapal sesuai Dengan Kepentingannya Di Pelabuhan Palembang TATA CARA BERLALU LINTAS DI ALUR PELAYARAN SUNGAI MUSI ‘Tata cara berlalu lintas di alur pelayaran Pelabuhan Palembang adalah sebagai berikut: 1. Pemanduan a. setiap kapal berukuran tonase kotor GT 500 atau lebih yang berlayar diperairan wajib pandu, wajib menggunakan pelayanan jasa pemanduan kapal; mesin penggerak utama dan alat navigasi harus dalam kondisi baik dan normal untuk olah gerak kapal; mengibarkan bendera “G” pada siang hari dan menyalakan lampu putih merah pada malam hari apabila kapal sedang menunggu petugas pandu; mengibarkan bendera “H” pada siang hari dan menyalakan lampu putih merah pada malam hari apabila petugas pandu diatas kapal; mengibarkan bendera “Q” pada siang hari dan menyalakan lampu putih merah pada malam hari bagi kapal yang baru tiba dari luar negeri, petugas-petugas pandu hanya diperbolehkan naik ke kapal untuk membawa kapal apabila kapal telah dinyatakan bebas dari penyakit menular oleh petugas karantina kesehatan (free practique) dan bendera kuning telah diturunkan, 2. Komunikasi a. pemilik operator kapal atau nakhoda wajib memberitahukan rencana kedatangan kapalnya kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Palembang dengan mengirimkan telegram radio nakhoda (master cable) melalui Stasiun Radio Pantai dengan tembusan kepada perusahaan angkutan laut dan agen umum dalam - 26 - waktu paling lama 48 (empat puluh delapan) jam sebelum kapal tiba di pelabuhan; b. komunikasi sebelum kapal masuk dan atau keluar wajib melaporkepada stasiun VTS Palembang dengan radio VHF pada channel 67 dan 68; c. komunikasi antara petugas pandu/kapal/motor petugas pandu dapat menggunakan Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Inggris dengan radio VHF pada channel 12; d. komunikasi dengan kapal sebelum petugas pandu naik ke atas kapal wajib dilakukan oleh nakhoda dengan memberikan keterangan kepada petugas pandu antara lain kondisi, sifat, cara, data, karakteristik dan lain-lain yang berkaitan dengan kemampuan oleh gerak kapal. 3. Proses Kapal Masuk a. dalam kondisi normal 1) kecepatan kapal di sckitar pelampung suar menuju pelampung suar pengenal disarankan dengan maneuvering speed, sampai motor petugas pandu dapat merapat di kapal untuk menaikan petugas pandu; 2) setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman schingga dapat mengambil tindakan yang tepat dan berhasil guna untuk menghindari tubrukan dan dapat diberhentikan dalam suatu jarak yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada; 3) setiap tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan, jika keadaan mengijinkan, harus tegas dilakukan dalam waktu yang cukup lapang dan benar-benar memperhatikan syarat- syarat kepelautan yang baik; 4) jika kondisi dermaga sedang penuh atau nakhoda memutuskan untuk berlabuh terlebih dahulu, kapal dapat berlabuh di areal labuh yang sudah disediakan; 5) _jika proses administrasi kelengkapan dokumen selesai dan sudah tersedia posisi tambat untuk kapal di dermaga, petugas VTS Palembang akan menginformasikan ke kapal bahwa petugas pandu akan naik dan memandu kapal hingga tambat di pelabuhan; 6) kapal disarankan berlayar mengikuti ketentuan koridor alur pelayaran yang ditetapkan pada Lampiran I dan arah haluan -27- pada lampiran ini serta Peta Alur Pelayaran Sungai Musi atau mengikuti zona Jali lintas tepi (in-shore traffic zona) sesuai dengan draft dan kepentingannya untuk menghindar dan mendahulukan kapal draft dalam; pada setiap saat melintasi garis atau wilayah wajib lapor atau setelah kapal berlabuh atau sandar, kapal wajib melapor kepada stasiun VTS Palembang. dalam kondisi angin diatas normal dan atau kabut dan atau hujan deras dan atau gelombang tinggi: 1) 2) kecepatan kapal disekitar Pelampung Suar Pengenal (MPMT) disarankan menggunakan maneuvering speed; untuk memasuki alur pelayaran, kapal menggunakan sarana navigasi visual, ¢lektronik (radar/GPS/AIS) dan peralatan navigasi lainnya secara baik dan tepat guna 4, Tindakan Menghindari Tubrukan a. pengaturan tindakan untuk menghindari tubrukan meliputi: 1) 2) 3) 4) setiap tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan, jika keadaan mengizinkan, harus tegas, dilakukan dalam waktu yang cukup lapang dan benar-benar memperhatikan syarat- syarat kepelautan yang baik; setiap perubahan haluan dan atau kecepatan untuk menghindari tubrukan, jika keadaan mengizinkan, harus cukup besar sehingga segera menjadi jelas bagi kapal lain yang sedang mengamati dengan penglihatan atau dengan radar; serangkaian perubahan kecil dari haluan dan atau kecepatan hendaknya dihindari; jika ada ruang gerak yang cukup, perubahan haluan saja mungkin merupakan tindakan yang paling berhasil guna untuk menghindari situasi saling mendekati terlalu rapat, dengan ketentuan bahwa perubahan itu dilakukan dalam waktu yang cukup dini, bersungguh-sungguh dan tidak mengakibatkan terjadinya situasi saling mendekati terlalu rapat; tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan dengan kapal lain harus sedemikian rupa sehingga menghasilkan pelewatan dengan jarak yang aman, hasil guna tindakan itu -28- harus dikaji dengan seksama sampai kapal yang lain itu pada akhirnya terlewati dan bebas sarna sekali; jika diperlukan untuk menghindari tubrukan atau memberikan waktu yang lebih banyak untuk menilai keadaan, kapal harus mengurangi kecepatannya atau menghilangkan kecepatannya sarna sekali dengan memberhentikan atau menjalankan mundur sarana penggeraknya. pengaturan tata cara berlalu lintas kapal yang menggunakan layar meliputi: yy 2) bilamana dua kapal sedang saling mendekat sedemikian rupa sehingga akan mengakibatkan bahaya tubrukan, salah satu dari kedua kapal itu harus menghindari kapal yang lain sebagai berikut: a) bilamana masing-masing mendapatkan angin di lambung yang berlainan, maka kapal yang mendapat angin di lambung kiri harus menghindari kapal yang lain; b) bilamana kedua-duanya mendapat angin di lambung yang kanan maka kapal yang ada diatas angin harus menghindari kapal yang ada di bawah angin; ) _ jika kapal mendapat angin di lambung kiri melihat sebuah kapal di atas angin dan tidak dapat menentukan dengan pasti apakah kapal lain itu mendapat angin lambung kiri atau kanan, maka kapal itu harus menghindari kapal lain itu. untuk memenuhi ketentuan ini, sisi atas angin harus dianggap sisi yang berlawanan dengan sisi tempat layar utama berada, atau bagi kapal dengan layar segi empat, adalah sisi yang berlawanan dengan sisi tempat layar membujur itu berada. pengaturan penyusulan, meliputi: 1) 2) setiap kapal yang sedang menyusul kapal lain harus menghindari kapal lain yang sedang disusul; kapal harus dianggap menyusul bilamana sedang mendekati kapal lain dari arah yang lebih besar dari pada 22,5 derajat dibelakang arah melintang, yakni dalam suatu kedudukan sedemikian sehingga terhadap kapal yang sedang disusul itu pada malam hari kapal hanya dapat melihat penerangan buritan, tetapi tidak satupun dari penerangan-penerangan lambungnya; 29 - 3) bilamana kapal dalam keadaan ragu-ragu apakah ia sedang menyusul kapal Jain atau tidak, kapal itu harus beranggapan bahwa demikianlah halnya dan bertindak sesuai dengan itu; 4) setiap perubahan baringan antara kedua kapal yang terjadi kemudian tidak akan mengakibatkan kapal yang sedang memotong dalam pengertian aturan-aturan ini atau membebaskannya dari kewajiban untuk menghindari kapal yang sedang disusul itu sampai kapal tersebut dilewati dan bebas sama sekali, pengaturan tata cara berlalu lintas kapal dalam situasi berhadap- hadapan, meliputi: 1) bilamana dua kapal tenaga sedang bertemu dengan haluan- haluan berlawanan atau hampir berlawanan sehingga akan mengakibatkan bahaya tubrukan, masing-masing _harus, mengubah haluannya ke kanan sehingga masing-masing akan berpapasan di lambung kirinya; 2) situasi demikian itu harus dianggap ada bilamana kapal melihat kapal lain tepat atau hampir di depan dan pada malam hari kapal ita dapat melihat penerangan-penerangan tiang kapal lain tersebut terletak segaris atau hampir segaris dan/ atau kedua penerangan lambung serta pada siang hari kapal itu mengamati gatra (aspek) yang sesuai mengenai kapallain tersebut; 3) bilamana kapal dalam keadaan ragu-ragu atas terdapatnya situasi demikian, kapal itu harus beranggapan bahwa situasi itu ada dan bertindak sesuai dengannya. dalam pengaturan tata cara berlalu lintas kapal dalam situasi memotong, bilamana dua kapal tenaga sedang berlayar dengan haluan saling memotong sedemikian rupa sehingga akan mengakibatkan bahaya tubrukan, kapal yang mendekati kapal lain di sisi kanannya harus menghindar, dan jika keadaan mengizinkan, harus menghindarkan dirinya memotong didepan kapal lain itu. Dalam pengaturan tata cara tindakan kapal menghindari, setiap kapal yang diwajibkan menghindari kapal lain, sedapat mungkin melakukan tindakan secara dini dn tegas untuk tetap bebas sama sekali. Dalam pengaturan tanggung jawab antara kapal meliputi: -30- 1) kapal bermesin yang sedang berlayar harus menghindari: a) kapal yang tidak terkendalikan; b) kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas; ¢) _ kapal yang sedang menangkap ikan; d) kapal layar. 2) kapal layar yang sedang berlayar harus menghindari: a) kapal yang tidak terkendalikan; bj) kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas; ©) kapal yang sedang menangkap ikan 3) kapal yang sedang menangkap ikan sedapat mungkin harus menghindari: a) _ kapal yang tidak terkendalikan; b) _kapal yang olah geraknya terbatas. 4) setiap kapal, kecuali kapal yang tidak dapat dikendalikan atau kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, jika keadaan mengizinkan harus menghindarkan dirinya merintangi jalan aman sebuah kapal yang terkendala oleh saratnya. 5) kapal yang terkendala oleh saratnya harus berlayar dengan kewaspadaan khusus dengan benar-benar memperhatikan keadaannya yang khusus itu Larangan a, kapal dilarang memasuki alur pelayaran dengan under keel clearance (UKC) kurang dari 10% dari draft, kecuali atas izin syahbandar; kapal ikan dilarang menangkap ikan di alur pelayaran; kapal dilarang masuk perairan wajib pandu tanpa mendapatkan pemanduan dari petugas pandu; petugas pandu dilarang meninggalkan kapal yang dipandu dalam kondisi dan situasi: 1) kapal kandas; 2) kapal tubrukan; 3) kerusakan mesin/kemudi; 4) keadaan lain yang mengganggu lalu lintas kapal. larangan kapal untuk melakukan menyusul kapal lain pada ukuran LOA tertentu sesuai dengan ketentuan system rute; kapal yang sandar/tender dengan kapal lain yang sedang sandar di terminal umum/khusus hanya diizinkan satu kapal saja yang -31- sandar/tender di kapal yang sedang sandar di dermaga atas pertimbangan keluar/masuk. Koordinat Garis Haluan Masuk keselamatan kapal yang akan berolah gerak POSISL KOORDINAT. ARAH qeueseseaeee se |SEELINTANGES BUJUR HALUAN Ambang Luar 02°12'00.0" LS | 104°55'24.0" BT 180°00 Tanjung Buyut 02°17'41.4" LS | 104°55'24.0" BT. 187°00" Tanjung Buyat | 02°19'13.0"LS | 104°55'12.4" BT |_195*00" Sungsang 02°21'58.7" LS | 104°54'27.5" BT 171°00" Sungsang 02°22'22.7" LS | 104°54'29.2" BT 148°00" Pulau Payung 02°22'51.4” LS | 104°54'47,5" BT 156°00" Pulau Payung _ 02°24'25.9" LS | 104°55'31.1" BT 154°00 Parit 12 02°25'43.2" LS | 104°56'07.3" BT 162°00" Parit 12 02°25'51.3" LS | 104°56'09.9" BT. 170°00" Parit 10 02°27'35.2" LS | 104°S6'27.7" BT. 178°00" Parit 10 02°27'40.9" LS | 104°56'27.9" BT 183°00" Selatan Kertapati__| 02°2908.6" LS | 104°56'23.8" BT |_173°00" Selatan Kertapati___| 02°29'18.8" LS | 104°56’25.0" BT 165°00" Utara Kramat 02°30'07.1" LS | 104°56'38.2" BT | 184°00" Utara Kramat | 02°30'27.4" LS | 104°56'36.9" BT 203°00" Kramat 02°30'S6.8" LS | 104°56'24.5" BT 185°00" Kramat 1.02°31'15.8" LS | 104°56'22.8" BT. 167°00" Selatan Kramat | .02°31'52.0" LS | 104°56’30.9" BT 182°00" Selatan Kramat__ [02°32'08.3" LS | 104°56'30.2" BT 197°00" Utara Pulau |02°32'40.4" LS | 104°56'20.1" BT 188°00" Singgris { 21 | Utara Pulau 02°32'S0.9" LS | 104°56'18.6" BT | 179°00" Singgris { 22_| Pulau Singaris OFSSAT LS | 10F SSIS. SBT | 16700" 23 |Pulau Singgris | 02°33'54, | 104°56'22.4" BT | 157°00" 24 | Sudimara |.02°35'59.1 104°57'15.6" BT. 175°00 25 | Sudimara [02°36'18.5" LS | 104°5717.2" BT | 213°00" 26 _| Sudimara_ | 02°36'34.8" LS | 104°57'06.5" BT. 232°00" 27 _| Pegajahan 02°36'56.2" LS | 104°56'38.8" BT. 216°00" 28 | Pegajahan (02°37'10,1° LS | 104°5 L 29 | Kertajaya 02°37'43.3" LS | 104°56'16.6" BT | _183°00" ‘30_| Kertajaya 02°38'1.4"LS_| 104°56'15.6" BT | 168°00"_| [BL 12°40103.4" LS | 104°56'4 1.7" 167°20" 32 02°40'08.3" LS | 104°56'42.3" BT. 172°00" 33 02°4131.8° LS 6.8" BT | _177°00" 34 (02"41'44,2° LS | 104°56'50,0° BT | _165°00" 35 02°42'58.2" LS | 104°57'26.4" BT | 154°00" 36. 02°43'11.1" LS | 104°57'29.6" BT. 178°00" 37 02°44'16.5" LS | 104°57'31.9" BT. 180°00" 38 02°45'08.7" LS | 104°57'25.8" BT. 182°00" 39_| Upang. (02°45'16.7" LS | 104°57'23.9" BT_| _200°49° 40_| Upang Selatan 02°45'49.8" LS | 104°57'08.5" BT. 239°00" Tar Upang Selatan 02°46'02.5" LS | 104°56'59.1" BT. 221°00" 42 | Pulau Timbul 02°47'02.7" LS | 104°55'51.9" BT. 218°00" |" | elem) [a3 | Selat Jaren [02*47'52.0" LS | 104°S515.0" BT 44_| Pulau Burung (02°51'53.5" LS | 104°53'42.9" BT | 45_| Pulau Burung [.02°52'08.4" LS | 104°53'41.0" BT -32- ie _ POSISI KOORDINAT ARAH NO eave Nias LINTANG BUJUR HALUAN | 46_| Sungai Kumbany (02°55'05.5" LS | 104°54'02.1" BT | 172°45" ‘47 _| Sungai Kumbang _ | 02°55'22.4" LS | 104*53'59.1" BT | 204°00" 48_|Prajen ~/02"56'44.1" LS | 104°53'17.7" BT | 219°00" 49 |P. Salahnama (02°56'51.3" LS | 104°53'13.0" BT | _234°00" 50 | P. Salahnama (02°56'57.1" LS | 104°53'05.8" BT | _249°00" 51 _|P. Salahnama, ~['02°57'00.1" LS | 104°52'58.1" BT | 264°00" (52_[P. Salahnama _ (02°57°00.9" LS | 104°52'48.7" BT | _278°00" 53_| P. Salahnama (02°56'59.1" LS | 104°52'25.7" BT | _263°00" 54 | P. Salahnama (02°57'00.0" LS | 104*52'16.1" BT |_248°00" '55_|P. Boran; (02°57'03.8" LS | 104°52'07.4" BT | 232°00" 56 _|P. Borang (02°57'09.7" LS | 104°52°00.6" BT | 216°00" |57_|P. Borang (02°57 18.4" LS | 104°51 55.5" BT | 200°00" 58 _| Sungai Lais 02°58'20.3" LS | 104°51'32.9" BT | _226°00" 59 _| Sungai Lais 8°38.6" LS | 104°51'17.7" BT | 241°00" 60 | Sungai Gerong (02°59'23.4" LS | 104°40'59.6" BT | _268°00" 61_| Hoktons —__[02°59'25.2" LS | 104°48'49.0" BT | 28800" 62 | Pusri_ (02°5908.0" LS | 104°48'03.6" BT [_281°00" | 63 _| Boom Baru (02°58'55. 104°46'56.3" BT | 266°00" | 64 | Boom Baru (02°58'57.8" LS | 104°46'33.0" BT | 232°00" 6. Posisi Pilot Boarding Ground pada titik kordinat 02°12'00.0" LS / 104°55'24.0" BT. MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. IGNASIUS JONAN “Pembina: Utama Muda (IV/c} NIP>19620620 198903 2 001 33 - Lampiran IV Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor Tahun 2016 tentang Penetapan Alur Pelayaran, Sistem Rute, Tata Cara Berlalu Lintas dan Daerah Labuh Kapal sesuai Dengan Kepentingannya Di Pelabuhan Palembang DAERAH LABUH KAPAL SESUAI DENGAN KEPENTINGANNYA, 1. Daerah labuh kapal untuk menunjang pelabuhan: a, daerah labuh kapal Zona-A untuk kapal yang akan sandar di dermaga pelabuhan Boom Baru Palembang, dengan LOA < 100 meter pada titik koordinat sebagai berikut: KOORDINAT No LUAS LINTANG BUJUR ‘02° 5858.30" LS_ | 104° 47° 01.76" BT 02°59 00.86"LS [10447 01.27" BT | | one | 72.677 m? 02° 59' 06.44" LS | 104° 47° 30.18" BT 02° 59° 03.88" LS | 104° 47° 30.67" BT b. daerah labuh kapal Zona-B untuk kapal yang akan sandar di dermaga Pusri dengan LOA<100 meter pada titik koordinat sebagai berikut: KOORDINAT NO ee LUAS LINTANG BUJUR 1 [02° 59° 06.89" LS | 104° 47' 46.29" BT 2 | 02°59 10.25" LS | 104° 48" 03.10" BT + 129.714 m? 3 02° 59' 20.76" LS_ | 104° 48' 30.77" BT 4 02° 59° 11.69" LS_ | 104° 47' 45.37" BT c. daerah labuh kapal Zona-C untuk kapal yang akan sandar di dermaga Pusri dengan 100 100 meter dan kapal tanker pada titik koordinat s berikut: KOORDINAT No LUAS LINTANG BUJUR 1 | 02°09'00.0"LS 104°58'00.0" 2 [02°09'00.0° LS | 104°59°30.0" 6.768.485 m? 3 [02°08'18.0"LS | 104°58'39.0" BT '4 |02°10'18,0" LS 104°57°09,0" BT koordinat sebagai berikut: daerah labuh kapal Zona-2 untuk kapal kergo, kapal pelayaran rakyat (kapal dengan LOA < kapal curah kering dan 100 meter) pada titik KOORDINAT NO. LUAS LINTANG BUJUR 02°11'36.0" LS 104°56'18.0" BT 02°10'18,0" LS 104°57'09,0" BT 6.990.261 m2 3 [02°10'18.0" LS 104°58'39.0" BT | [4 | 02°1136.0" Ls 104°57'48.0" BT -37- c. daerah labuh karantina pada titil koordinat sebagai berikut: KOORDINAT NO LUAS LINTANG BUJUR T [O02 1018,0°LS | 104°58'39,0" BT 02°11'36.0" LS 104°57'48.0" BT | 3.550.498 m? 3 | 02°11'36.0" LS 1045918.0"BT | d. daerah labuh kapal menungu perbaikan pada titik koordinat sebagai berikut: KOORDINAT i No ae LUAS LINTANG BUJUR 7 [02°1018,0°LS | 104*58'30,0" BT 2 [O2°1018.0"LS | 105°0009.0" BT | 3.439.635 m? [3 [02°1136.0"Ls \4°59'18.0" BT l e. daerah labuh STS pada titik koordinat sebagai berikut: KOORDINAT NO. — LUAS LINTANG | BUJUR T | 02°10'18,0° LS 104°58'39,0" BT 2 | 02°10'18.0" LS 105°00'09.0" BT 6.768.395 m? 3 | 02°09'00.0" LS 105°01'00.0" BT 4 [02°09:00.0"LS 104°59'30.0" BT f, daerah tambat tongkang pada titik koordinat sebagai berilcut: KOORDINAT | NO LUAS | LINTANG BUJUR 1 [o2*11'44.1° Ls 104°56'18.0" BT 2 | 0211441" LS 104°59'30.0" BT 1.186.067 m? 3 [02°11 50.7"LS | 104° 56" 18.0" BT ot | 4 [02°11 50.7°LS | 104° 59° 30.0" BT MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. IGNASIUS JONAN *SRILESTARI RAMAYU Pembina Utama Muda (IV/o) NIP. 19620620 198903 2 001 -38- Lampiran V Keputusan Menteri_ Perhubungan Republik Indonesia Nomor Tahun 2016 tentang Penetapan Alur Pelayaran, Sistem Rute, Tata Cara Berlalu Lintas dan Daerah Labuh Kapal sesuai Dengan Kepentingannya Di Pelabuhan Palembang PENEMPATAN SARANA BANTU NAVIGASI PELAYARAN (SBNP} DI ALUR PELAYARAN PELABUHAN PALEMBANG SBNP POSISI KOORDINAT NAMA WARNA | DSI_| _LINTANG BUJUR 1 | Pelampung Suar Putih | 1280 | O3*1144.1"Ls | 104°55'23.1" BT MPMT 2 | Pelampung SuarNo.i_| Hijau | 1282 |02°1156.2" LS | 104°65'10.1" BT 3__|Pelampung Suar No.2_| Merah | 1281 | 02°11’56.2" LS | 104°55'36.0" BT 4__|Pelampung Suar No.3_| Hijau _| 1350 | 02°15'36.4" LS | 104°55'10.1" BT 5 | Pelampung Suar No.4 | Merah | 1320 |02°1459.0"LS | 104°S536.0" BT 6 __|Pelampung SuarNos | Hijau | - [02 1711.8" LS | 1045515." BT 7 [Pelampung Suar No.6_| Merah | 1351 | 02°1822.3" LS | 104°S536.0° BT 8 __|Pelampung Suar No.7 | Hijau | - | 02°18'26.6" LS | 104°65'12.7" BT 9 |Pelampung Suar No.8 | Merah | 1370 [02°2049.1"LS | 104°S501.6" BT 10_|Pelampung Suar No.9 | Hijau | 1360 [02°2022.3"LS | 104°S439.2" BT [11 _|Pelampung Suar No.10 | Merah | 1390 | 02°22'00.4" LS | 104°5433.3" BT [127 |Pelampung Suar No.14 | Merah | 1410 | 02°2410.0" LS | 104°55'37.4" BT 13_|Ramsu No.24Kramat | Merah | 1420 [02°31'12. | 104°56'26.3" BT 14 |Ramsw No. 52 Singgris | Merah | 1421 | 02°3415.2" LS | 104°S6'43.8" BT 15 | Ramsu No.34 Merah | 1422 [02°36'26.0° LS |104°5723.2" BT Sudimara 16 | Ramsu No.35 Hijau | 1424 | 02°37 01.1" LS | 104°56'25.2" BT Pegajahan | 17_| RamsuNo.39 P. Ayam | Hijau | 1425 | 02°3053.4" LS | 104°5634.6" BT 18__| RamsuNo.46 Upang Merah | 1423 | 02°43'37.4"LS | 10457242 BT 19 | Pelampung Suar No.52 | Merah | 1430 | 02°45'23.6" LS | 104°S729.7" BT 20_| Pelampung Suar No.53 | Hijau = | 02°47'50.3" LS | 104°55'11.9" BT [21 | RamsuNo.58 Kumbang | Merah | 1470 | 02°55'14.3" LS | 104°5408.3" BT 33” [RamsuNo.60 § Banjar_| Merah | 1480 |02°5702.5" LS | 104°S313." BT 33_|RamsuNo.65 P. Borang| Hijau_| 1481 [02°5657.8" LS | 104°S203.6" BT 24 | Pelampung Suar No.66 | Merah _| 1502 [02°5816.7" LS | 104°S1'42.1" BT [2a_|Pelampung Suar No.67 | Hijau_| 1501 | 02°5748.7" LS | 104°S134.4" BT |26_| Pelampung Suar No.68 | Merah | 1504 | 02°58'32.2" LS | 104°51'32.7" BT 27 | Pelampung Suar No.69 | Hijau | 1503 | 02°5758.1" LS | 104°S120.7" BT 28 | Ramsu No.71 8 Lais Hijau | 1490 | 02°5824.2" LS | 104°5104.2° BT 29_|Pelampung SuarNo.73 | Hijau [~~ | 02°59'13.8" LS | 104°40°57.2" BT 30_|Pelampung Suar No.75 | Hijau_| 1505 | 02°59'16.4" LS | 104°49'18.1" BT. [31 | Pelampung Suar No.77 | Hijau = | 02°58'53.6" LS | 104°46'33.5" BT 32_[RamtunP.PayungA | Putih_| 1365 | 02°21'15.9" LS | 104°5523.0° BT a SBNP. POSISI KOORDINAT NAMA WARNA [ DSI_|~_LINTANG BUJOR 32_|Ramtun P.PayungA | Putih | 1365 | 02°21'15. 104°55'23.0" BT 33. |Ramtun P.PayungB | Putih | 1366 | 02°21°25. 104°55'23.0" BT 34 | Ramtun SungsangA | Putih | 1991 [02°27'32.5"LS | 104°54'16.4" BT 35_|Ramtan SungsangB | Putih | 1392 | 02°3241.1"LS | 104°6413.9" BT 36 | Ramtun Parit 12 A “Putih [1411 LS | 104°5623.5" BT 37_| Ramtun Parit 12 B Putih | 1412 | 02°2626.3" LS | 104°56'26.9° BT 38 |Ramtun Selat Jaran A | Putih | 1455 |02°4842.1" LS | 104°54'37.0" BT | 39 | Ramtun Selat JaranB | Putih | 1457 [02°4848.1" LS | 104°5452.9" BT Hesuai dengan aslinya BIRO HUKUM NIP. 19620620 198903 2 001 MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. IGNASIUS JONAN

Anda mungkin juga menyukai