Anda di halaman 1dari 33

BAB 6

PROPRIOSEPSI DAN VISION


Konsep : Proprioception dan vision merupakan komponen penting dari kontrol
motorik

APLIKASI

Ketika anda mengambil sebuah segelas air dan meminumnya, kedua aspek baik
Proprioceptive (penangkap stimulus yang dihasilkan dalam organisme)dan sistem
sensorial visual akan memainkan perannya ketika anda melakukan tindakan
tersebut. Vision ( penglihatan) akan membantu anda untuk mengathui letak dari
gelas ketika anda meriahnya denan tangan serta jari-jari anda. Sedangkan
proprioception akan berperan ketika anda mengangkat gelas, menggerakkkannya
ke mulut tanpa harus terlepas dari tangan anda. Tanpa infrmasi sensorik yang
disediakan oleh dua sistem sensorik kunci ini, maka anda akan mengalami
kesulitan bahkan ketika harus melakukan sebuah gerakan yang sederhana seperti
meminum air dari sebuah gelas. Anda melakukan berbagai macam gerakan setiap
hari, seperti memasukkan kunci pintu anda ke lubang kunci, menhindari agar
tidak bertabrakan dengan orang disekitar anda ketika berjalan di jalan, serta
mengemudikan mobil dengan lancar karena semua informasi yang disediakan
oleh Proprioception dan penglihatan anda akan digunakan untuk mengendalikan
sistem kontrol motorik. Serupa dengan hal tersebut, aktivitas-aktivitas adalam
olah raga juga membutuhkan dan memanfaatkan peran yang dimainkan oleh
sistem sensorik penglihatan (vision) serta proprioception. Sebagai contohnya,
untuk menangkap bola, maka anda harus melihat dimanakah bolanya, waktu
kedatangannya di tangan anda, posisi tangan anda anda di udara serta ketika anda
menutup jari-jari anda di bagian-bagian bola ketika telah berada di tangan anda.

Contoh-contoh tersebut dapat membantu kita dalam megilustrasikan mengapa


proprioception dan vision dapat membuat sistem kontrol motorik melakukan
sebuah gerakan secara efektif. Tanpa ketersediaan informasi dari sistem sensorik
tersebut, maka keberhasilan kita dalam melakukan gerakan pada berbagai area
skill-skill motorik maka akan berkurang secara drastis.

1
2

PEMBAHASAN

Salah satu cirri utama dalam berbagai teori mengenai sistem kontrol motorik
adalah peran yang dimainkan oleh informasi sensorik akan mengontrol gerakan.
Reseptor sensorik yang terletak di berbagai bagian tubuh manusia akan
menyediakan informasi tersebut. Dua jenis sumber informasi sensorik yang paling
penting dan mempengaruhi pengendalian pergerakan serta koordinatnya adalah
proprioception dan vision (penglihatan).

PROPRIOCEPTION DAN KONTROL MOTORIK

Proprioception, yang kadangkala disebut dengan kinestesis, mengacu pada sensasi


dan persepsi kita terhadap anggota tubuh dan bagian kepala. Meskipun seringkali
hal tersebut dianggap sebagai salah satu dari keempat indera dasar kita,
proprioception menyediakan informasi sensorik terhadap sistem syaraf mengenai
karakteristik-karakteristik pergerakan seperti arah, lokasi dalam ruang,
keceepatan, serta aktivasi otot. Dalam sebuah model closed loop (aliran tertutup)
mengenai bagaimana mekanisme pengendalian sebuah gerakan, feedback dari
proprioception memainkan sebuah peran yang sangat penting, sedangkan dalam
aliran terbuka, syaraf pusat mengendalikan pergerakan tanpa melibatkan
feedback proprioception. Pertanyaan pertanyaan seperti apakah kita dapat
mengedalikan pergerakan tanpa feedback proprioception, dan peran apakah yang
dimainkan oleh feedback proprioception dalam mengontrol pergerakan serta
letaknya telah memancing banyak ilmuwan untuk menyelidikinya selama
bertahun-tahun.

Para ilmuwan telah melakukan berbagai percobaan untuk menentukan peran dari
proprioception dalam mengendalikan sebuah gerakan serta letaknya. Kita akan
mendiskusikan beberapa hal mengenai hal ini lalu kita akan membahas mengenai
pemikiran-pemikiran saat ini mengenai permasalahan ini.

MENYELIDIKI PERAN DARI PROPRIOCEPTION.

Proprioception merupakan sumber penting dari feedback. Ketika sebuah gerakan


dilakukan dalam sebuah kontrol aliran tertutup, maka informasi yang disediakan
3

oleh proprioception akan dapat membuat kita dapat melakukan koreksi terhadap
gerakan yang kita lakukan. Namun ketika sebuah gerakan dilakukan dalam
kontrol aliran tertbuka, seperti halnya pada pergerakan yang membutuhkan
kecepatan dan ketepatan, maka feedback yang disediakan oleh proprioception
akan tetap ada namun kita tidak akan bisa menggunakannyakarena adanya batasan
waktu.

Peneliti telah menggunakan beberapa teknik untuk menyelidiki peran


proprioception dalam mengontrol sebuah gerakan. Kita akan membahas empat
teknik yang berhubungan dengan proprioception dalam diskusi kali ini. Tiga dari
teknik tersebut melibatkan obervasi terhadap gerakan setelah terjadi
deafferentation dalam cara tertentu. Hal ini berarti bahwa jalur proprioception
ke arah sistem syaraf pusat tidak tersedia. Sedangkan yang keempat akan
melibatkan observasi dari pergerakan ketika tendon dari otot dilibatkan dalam
pengontrolan pergerakan, sehingga akan mendistorsi feedback proprioception
yang biasanya diterima dari proprioceptor otot dan tendon .

PEMBEDAHAN DEAFFERENTATION

Salah satu cara yang digunakan untuk meneliti peran dari proprioception dalam
mengontrol pergerakan adalah dengan melakukan observasi terhadap pergerakan
hewan atau manusia melalui Pembedahan deafferentation, yang berarti bahwa
jalur neural yang berhubungan dengan pergerakan yang ingin diselidiki akan
dihilangkan melalui operasi. Beberapa studi telah melaporkan bahwa prosedur
pembedahan deafferentation ini juga telah diaplikasikan terhadap monyet. Dua
buah studi penelitian klasik yang menggunakan metode investigasi ini akan
berfungsi sebagai contoh bagaimana peneliti dalam menggunakan teknik ini untuk
menyelidiki proprioception.

Taub dan Berman (1963,1968) melakukan observasi terhadap monyet sebelum


dan sesudah melakukan operasi dimana observasi tersebut dilakukan ketika subjek
4

melakukan skill-skill motorik yang terbiasa dilakukannya, seperti memanjat,


meraih, dan menggenggam. Taub dan Berman secara konsisten menemukan
bahwa monyet yang telah menjalani operasi tersebut masih dapat melakukan skill-
skill motoriknya meskipun tingkatan presisinya menjadi berkurang dibandingkan
sebelumnya.

Taub dan Berman memperhatikan skill-skill motorik yang biasa dilakukan oleh
monyet tersebut. Apa yang akan terjadi dengan eksperimen ini ketika yang diteliti
adalah skill yang baru dipelajari? Bizzi dan rekannya di MIT menggunakan
pendekatan ini pada penelitain yang dilakukannya. Mereka melatih monyet untuk
menudingkan tangannya ketika sebuah lampu dinyalakan beberapa kali. Monyet
tersebut dapat melihat cahaya, namun tangan mereka tidak dapat melakukan
apapun. Setelah mereka belajar untuk menudingkan tangannya secara akurat
terhadap cahaya yang datang, lalu monyet tersebut akan dioperasi sehingga tidak
ada informasi feedback proprioception yang tersedia ketika monyet akan
melakukan gerakan yang diajarkan. Ketika monyet sekali lagi disuruh untuk
menunjuk cahaya yang datang, ternyata mereka masih dapat memposisikan
tangannya dengan tepat meskipin telah mengalami operasi. Bahkan, mereka dapat
melakukan gerakan menunjuk dengan tepat dari posisi awal dari posisi awal yang
diajarkan dalam latihan.

Operasi deafferentation dengan menggunakan subjek manusia untuk keperluan


eksperimen tidak dapat kita lakukan dan hal ini sangatlah jelas alasannya.
Meskipun demikian, beberapa orang melakukan operasi ini karena trauma tertentu
yang dialaminya atau dikarenakan permasalahan yang disebabkan oleh penyakit
yang dideritanya. Sebagai contohnya, pasien pengidap rheumatoid arthritis yang
menjalani operasi deafferentation pada tangannya tidak akan memiliki reseptor
persendian lagi. Salah satu contoh dalam menggunakan pendekatan ini dalam
melakukan studi mengenai proprioception adalah salah satu eksperimen yang
dilakukan oleh Kelso, Holt dan Flatt beberapa tahun yang lalu (1980). Pasien yang
menghilangkan persendian metacarpophalangeal dan menggantikannya dengan
implant dari karet silicon yang fleksibel masih dapat melakukan pergerakan
jarinya dengan tepat. Pada setiap percobaan, partisipan akan menggerakkan jari
5

mereka ke dalam posisi tertentu yang telah ditentukan dan akan


mengembalikannya ke posisi semula. Hasil penelitian meemperlihatkan bahwa
pasien mengalami sedikit kesulitan dalam melakukan gerakan yang memiliki titik
awal yang berbeda dengan titk awal yang mereka lakukan. Selain itu mereka juga
mengalami kesulitan jika harus melakukan gerakan yang berasal dari titik awal
yang baru.

DEAFFERENTATION YANG DIAKIBATKAN OLEH


POLYNEUROPATHY SENSORIK

Observasi terhadap karakteristik-karakteristik pergerakan dari mereka yang tidak


memiliki polyneuropathy sensorik akan menggunakan sebuah teknik non operaso
dalam meneliti deafferentation pada manusia. bagi mereka yang tidak memiliki
polyneuropathy sensorik, mereka tidak akan memiliki serabut myelinated besar
dalam tubuhnya, yang mengakibatkan hilangnya semua informasi sensorik kecuali
kemampuan untuk merasakan rasa sakit dan perubahan suhu namun jalur
motoriknya masihlah utuh. Salah satu contoh dari strategi penelitian ini adalah
eksperimen yang dilakukan oleh Blouin et al (1993). Mereka membandingkan
seorang pasien yang tidak memiliki polyneuropathy sensorik dengan partisipan
normal untuk melakukan gerakan menunjuk yang melibatkan penggerakkan
bagian lengan. Dalam ebberapa percobaan, partisipan dapat melihat ruangan yang
akan digunakan untuk melakukan percobaan, namun pada percobaan lainnya,
mereka akan melakukannya tanpa adanya informasi visual yang tersedia.
Hasilnya, sebagaimana yang diperlihatkan pada gambar 6.1 , ketika mereka masih
menggunakan penglihatan, maka pasien akan melakukan gerakan yang akurat
sebagaimana pada partisipan normal, namun ketika tidak ada informasi visual
yang mereka miliki maka mereka tidak akan mampu melakukan gerakan dengan
tepat dikarenakan hilangnya feedback visual.

Vision/Penglihatan yang mendominasi Sistem Sensorik Perseptual Kita


Dari semua sistem sensorik, kami cenderung untuk menggunakan dan
paling mempercayai vision/penglihatan. Sebagai contoh, ketika kamu pertama
6

mempelajari untuk menekan atau memainkan piano, kamu secara tidak diragukan
merasa bahwa jika kamu tidak dapat melihat jari-jarimu memencet masing-masing
kunci, kamu tidak dapat menampilkan secara akurat. Penari pemula dan pasien
stroke mempelajari untuk berjalan memiliki masalah yang mirip. Mereka sering
beraksi seperti jika mereka tidak dapat menampilkan aktivitas jika mereka tidak
dapat melihat kaki mereka.
Pengalaman anekdot ini mengilustrasikan tendensi kita untuk memberikan
vision/penglihatan sebuah peran yang mendominasi ketika kita menampilkan
keterampilan motorik. Bukti penelitian empiris juga mendukung fenomena ini.
Contoh terbaik adalah sebuah eksperimen klasik oleh Lee dan Aronson (1974)
bahwa hal ini sering mengacu pada seperti eksperimen ruang bergerak. Peserta
berdiri di sebuah ruang dimana dindingnya dapat bergerak ke atas atau ke bawah,
demikian juga ke depan atau ke belakang. Walaupun, lantai tak berubah dan tidak
bergerak. Peneliti mengamati peserta untuk mencatat respon postural mereka pada
gerakan dinding. Ketika dinding bergerak, anak-anak dan orang dewasa membuat
penyesuaian korelasi postur yaitu menjaga dengan memelihara postur mereka
dalam sebuah ruang utuh yang bergerak pada arah tertentu. Karena lantai tidak
bergerak, proprioseptor mereka tidal menandakan bahwa tubuh mereka
kehilangan stabilitas. Hanya sistem visual mereka mendeteksi banyak kehilangan
keseimbangan.
Eksperimen ruang bergerak menunjukkan prioritas khusus yang kami
tetapkan pada vision/penglihatan dalam aktivitas harian kami. Pada eksperimen
itu, ketika sistem proprioseptif dan visual memberikan informasi yang
bertentangan pada system kegelisahan pusat, orang memberikan perhatian pada
vision/penglihatan sambil mengabaikan propriosepsi. Hasilnya adalah bahwa
mereka memulai penyesuaikan postural yang tidak perlu.
Pada bagian berikutnya, kami akan melihat pada beberapa tipe
keterampilan motorik untuk melihat peran yang dimainkan vision/penglihatan
ketika orang menampilkannya. Beberapa dari keterampilan ini termasuk dalam
bab 5, dimana kami menganggap karakteristik penampilan yang memberikan
wawasan ke dalam bagaimana sistem kontrol motorik mengoperasikan untuk
mempertinggi penampilan. Meskipun vision/penglihatan dideskripsikan seperti
7

dikaitkan dalam kontrol keterampilan ini, peran spesifik yang dimainkan oleh
vision/penglihatan tidak didiskusikan. Hal ini akan menjadi bermanfaat untuk
membuat koneksi antara diskusi keterampilan ini dalam bagian berikutnya dengan
apa yang kamu peljari dari bab 5 tentang kontrol keterampilan ini.

Vision/Penglihatan dan Tujuan Penggunaan


Sebuah tugas tujuan penggunaan memerlukan seseorang untuk
menggerakkan satu atau dua lengan di atas sebuah jarak yang ditentukan pada
sebuah target. Pada pengaturan pada dunia nyata, aksi ini diperlukan ketika
seseorang meletakkan kunci ke dalam lubang kunci, menempatkan pena dalam
tempat pena, mengetik papan kunci, atau memainkan piano. Perkiraan
laboratorium dari tipe aksi ini secara khusus menhubungkan pegangan seseorang
sebuah jarum tulis pada sebuah poin permulaan dan kemudian menggerakkannya
untuk memukul sebuah target seakurat mungkin. Pada beberapa eksperimen
peserta harus memukul target sambil bergerak secepat mungkin, sedangkan di sisi
lain mereka harus bergerak pada kecepatan yang spesifik.

Peran vision/penglihatan berdasarkan fase gerakan tujuan. Vision/penglihatan


dikaitkan pada cara yang berbeda pada waktu yang berbeda selama gerakan
tujuan. Bukti penelitian telah menunjukkan bahwa ada tiga fase yang jelas dari
penampilan sebuah gerakan tujuan penggunaan (lihat gambar 6.3). Peran
vision/penglihatan memainkan dalam kontrol gerakan yang berbeda pada masing-
masing fase.
Fase pertama adalah fase persiapan gerakan, yang mulai segera ketika
seseorang telah membuat keputusan untuk menampilkan sebuah aksi tujuan
penggunaan. Disini, orang menggunakan vision/penglihatan untuk menentukan
karakteristik gerakan yang diperlukan oleh situasi, seperti arah dan jarak anggota
tubuh yang harus berpindah dan orientasi spasial target serta ukuran. Fase kedua,
fase penerbangan awal, termasuk permulaan gerakan anggota tubuh nyata dalam
arah umum dari target. Fase ini bersifat balistik secara khusus. Vision/penglihatan
memainkan peran minor disini, meskipun vision/penglihatan memperoleh
pemindahan anggota tubuh awal dan informasi velositas yang digunakan
8

kemudian untuk tujuan koreksi kesalahan. Fase ketiga adalah fase penghentian,
yang hanya dimulai sebelum dan pada akhir ketika target dipukul. Jika individual
memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan umpan balik visual dan
membuat modifikasi gerakan, vision/penglihatan memainkan sebuah peran kritis
dalam memberikan informasi yang dia perlukan untuk membuat perubahan ini
sehingga anggota tubuh akan memukul target.

Koordinasi gerakan vision/penglihatan dan tangan dalam tujuan penggunaan.


Ketika seseorang membuat sebuah gerakan tujuan dengan tangan,
bagaimana mata dan tangan bekerja bersama-sama untuk membawakan aksi ini.
Peneliti telah menjawab pertanyaan ini dengan menganalisa gerakan mata dan
tangan seseorang ketika dia menampilkan sebuah tugas tujun penggunaan. Untuk
analisis gerakan mata, karakteristik ketertarikan adalah titik pandangan, yang
merupakan lokasi yang spesifik dalam lingkungan dimana visian/penglihatan
pusat difokuskan pada beberapa gerakan partikuler. Untuk menilai koordinasi
gerakan vision/penglihatan dan tangan, peneliti memperhitungkan hubungan
antara waktu dan/atau lokasi penghentian titik pandangan dengan waktu dan/atau
lokasi gerakan tangan. Jika titik pandangan dan gerakan tangan digabungkan
secara sementara atau secara spasial selama gerakan tujuan, titik pandangan
seharusnya berada pada sebuah lokasi yang spesifik pada proporsi yang konsisten
dari waktu gerakan total dan/atau jarak gerakan tangan.
9

Sebuah contoh bukti penelitian yang baik yang menunjukkan


penggabungan antara gerakan vision/penglihatan dan tangan adalah sebuah
eksperimen oleh Helsen, Ellion, Starkes, dan Ricker (1998). Peserta didudukkan
pada meja dan disuruh menggerakkan jari-jri penunjuk mereka 40cm ke kanan
dari sebuah lokasi permulaan di depan mereka ke target 1cm sampai 2 cm secepat
mungkin. Hasil menunjukkan bahwa kedua titik pandangan dan gerakan tangan
cenderung pada dibawah tembakan target dan kemudian membuat satu koreksi
atau lebih untuk memukul target. Analisis titik pandangan dan gerakan jari-jari
mereka menunjukkan bahwa peserta secara khusus memulai gerakan mata secara
maksimal 70 mdetik sebelum mereka mulai menggerakkan tangan mereka dari
lokasi permulaan. Gerakan mata awal menggerakkan titik pandangan sangat dekat
pada target, setelah mereka membuat sebuah gerakan mata kedua untuk
mengkoreksi di bawah tembakan pertama. Gerakan tangan awal dipindahkan kira-
kira 95 persen dari jarak total, setelah salah satu atau dua akselerasi tambahan
dibuat untuk sampai pada target. Titik pandangan secara khusus sampai pada
target 450 mdetik sebelum jari-jari, yang akan memperbolehkan untuk koreksi
gerakan tangan dalam penerbangan berdasarka umpan balik visual. Dalam istilah
penggabungan antara gerakan mata dan tangan, peneliti menemukan bukti untuk
penggabungan berdasarkan waktu sebagai penyempurnaan gerakan mata awal
yang bertepatan dengan waktu akselerasi puncak dan velositas gerakan lengan.
Bukti untuk penggabungan spasial ditunjukkan oleh titik pandangan secara
konsisten yang berhenti pada target ketika gerakan tangan berada pada 50 persen
jarak gerakan total.
Hasil eksperimen ini, dan yang lainnya seperti ini (misalnya Helsen,
Starkes, & Buekers, 1997), mendukung pentingnya vision/penglihatan dalam tiga
fase penampilan sebuah tugas tujuan yang dideskripsikan lebih awal. Bagian
gerakan nyata dari tugas tujuan hanya berkaitan dengn fase kedua dan ketiga ini,
dan sering disebut sebagai model kontrol anggota tubuh dua fase untuk gerakan
yang diarahkan secara visual. Seperti hasil Helsen dan kawan-kawannya (1998)
menunjukkan, fase penerbangan awal adalah gerakan balistik yang disiapkan dari
informasi yang dideteksi secara visual sebelum inisiasi gerakan. Fase ini berlanjut
untuk kira setengah jarak pertama pada target. Kemudian, fase penghentian
10

dimulai dimana umpan balik visual digunakan untuk mengkoreksi lintasan dan
kecepatan gerakan lengan sehingga target akan terpukul.

Jumlah waktu yang diperlukan untuk membuat umpan balik visual


berdasarkan koreksi gerakan. Sebuah faktor penting yang mempengaruhi peran
penglihatan dalam sebuah gerkan tujuan adalah jumlah ketersediaan waktu untuk
menggunakan umpan balik visual untuk membuat koreksi gerakan ketika gerakan
dalam kemajuan. Koreksi dapat terjadi hanya ketika seseorang memiliki waktu
yang cukup untuk mendeteksi dan memodifikasi gerakan. Hal ini berarti ada
sebuah keperluan waktu gerakan total minimal agar penampil dapat menggunakan
umpan balik visual untuk mengkoreksi kesalahan gerakan sebelumnya pada
penyempurnaan gerakan.
Pertanyaan penting disini adalah, berapa jumlah minimal waktu yang
diperlukan untuk koreksi gerakan untuk membawakan pada dasar umpan balik
visul? Peneliti telah mencoba untuk menjawab pertanyaan ini sejak akhir abad ke
sembilan belas (misalnya, Woodworth, 1899). Upaya yang paling kuat untuk
menyelidiki pertanyaan ini terjadi pada bagian terakhir abad kedua puluh, dimulai
dengan sebuah eksperimen yang berpengaruh oleh Keele dan Posner pada tahun
1968. Sayangnya, semua upaya penelitian ini tidak memberikan kita dengan
sebuah jawaban yang tepat untuk pertanyaan (lihat Carlton, 1992, untuk sebuah
tinjauan unggul dari penelitian ini). Bagian masalah adalah bahwa prosedur
eksperimental yang berbeda telah dihasilkan dalam sebuah varietas waktu
memperkirakan untuk pemrosesan umpan balik visual.
Prosedur eksperimental yang paling umum telah menjadi untuk menyuruh
orang menampilkan gerakan tujuan penggunaan dengan waktu gerakan tujuan
yang berbeda. Pada beberapa percobaan, cahaya hanya akan keluar saat orang
mulai bergerak, sedangkan pada percobaan yang lain cahaya menetap. Logika
untuk prosedur ini adalah bahwa jika umpan balik visul diperlukan, keakuratan
tujuan akan menurun dengan cahaya yang keluar karena seseorang tidak dapat
melihat target dan oleh karena itu tidak akan dapat menggunakan umpan balik
visual. Ketika peserta tidak tahu ketika cahaya akan nyala atau padam, jumlah
waktu untuk memproses umpan balik visual diperkirakan terjadi antara 190
11

sampai 260 mdetik. Walaupun, eksperimen selanjutnya menggunakan teknik


cahaya nyala atau padam yang sama, tetapi peserta tahu ketika mereka akan
menampilkan di bawah kondisi masing-masing (misalnya, Zelaznik, Hawkins, &
Kisselburgh, 1983; Elliott & Allard, 1985). Pengetahuan kemajuan ini
mengindikasikan bahwa umpan balik visual dapat digunakan dalam kurang lebih
100 mdetik.
Prosedur eksperimen yang lain telah menunjukkan peneliti untuk
menyimpulkan bahwa umpan balik visual dapat diproses dalam jumlah waktu
yang lebih cepat atau lebih lambat daripada hal yang diperkirakan oleh prosedur
lampu nyala atau padam. Hal ini telah menyimpulkan beberapa prosedur sebagai
pengubah informasi visual dengan menyuruh seseorang memakai kaca mata
prisma (misalnya Smith & Bowen, 1980, memperkirakan waktu untuk menjadi
kira-kira 150 mdetik); menggerakkan lokasi target setelah seseorang memulai
sebuah gerakan ke sebuah target (misalnya Brenner & Smeets, 1997,
memperkirakan waktu untuk menjadi kira-kira 110 mdetik); dan mencegah umpan
balik visual untuk bagian-bagian jarak ke target (misalnya Spijkers & Lochner,
1994, memperkirakan waktu untuk menjadi kira-kira 135 mdetik).
Meskipun hal ini tidak mungkin untuk menetapkan sebuah jumlah waktu
minimal yang tepat yang diperlukan untuk menggunakan umpan balik visual
untuk mempertinggi korelasi gerakan, hal ini memunculkan bahwa sebuah
perkiraan 100 sampai 160 mdetik bersifat beralasan untuk tugas tujuan
penggunaan sederhana. Bagaimana baiknya generalisasi ini pada keterampilan
yang lain tidak diketahui pada waktu ini, meskipun beberapa peneliti telah
menyelidiki pertanyaan penggunaan tugas ini yang diperlukan seseorang untuk
menghadang sebuah objek yang bergerak, seperti penangkapan atau pemukulan
bola (misalnya Bootsma & van Wieringen, 1990). Meskipun perkiraan waktu
berkaitan lagi pada prosedur yang digunakan pada eksperimen, perkiraan 100
sampai 160 mdetik akan menangkap perkiraan waktu yang dilaporkan pada
eksperimen ini.
Pada istilah model tiga fase dari sebuah gerakan tujuan penggunaan yang
dideskripsikan lebih awal, jumlah waktu minimal yang diperlukan untuk membuat
koreksi umpan balik visual mendasar menetapkan sebuah batas waktu untuk
12

situasi untuk model ini yang dapat dipakai. Jika gerakan anggota tubuh lebih cepat
daripada jumlah waktu minimal, hanya dua fase model pertama yang
mendeskripsikan gerakan. Pada situasi ini fase penerbangan awal menjadi satu-
satunya fase penerbangan; gerakan harus berakhir pada akhir fase ini tanpa
kemungkinan kesalahan gerakan yang dimodifikasi. Sehingga, gerakan
keseluruhan akan menjadi di bawah kontrol putaran terbuka, yang berarti bahwa
keakuratan gerakan akan bergantung pada kualitas persiapan sebelum inisiasi
gerakan.
Apakah persoalan ini tentang waktu minimal yang diperlukan untuk
menggunakan umpan balik visual dari beberapa konsekuensi pada penampilan
keterampilan yang lain daripada tugas tujuan penggunaan yang ditampilkan di
laboratorium? Jika kita mengeneralisasikan gagasan tujuan penggunaan pada
keterampilan yang mengkaitkan tujuan lengan untuk menangkap sebuah bola,
atau untuk memukul sebuah bola, atau tujuan kaki untuk melangkah pada
sebuah langkah anak tangga, kemudian masalah waktu minimal menjadi relevan
pada keterampilan olahraga dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh,
iya atau tidak seseorang akan memiliki waktu untuk menyesuaikan gerakan
tangan awalnya untuk menangkap sebuah bola akan bergantung pada kecepatan
bola. Jika kecepatan bola terlalu cepat untuk diikuti banyak modifikasi gerakan,
keberhasilan penangkapan bola akan bergantung pada posisi tangan awal. Sama
halnya, jika seseorang memanjat anak tangga dengan kecepatan yang terlalu cepat
untuk diikuti penyesuaian posisi kaki ketika kaki berada pada penerbangan, resika
jatuh meningkat.

Vision/Penglihatan dan Prehensi/Kemampuan Memegang


Pada bab 5, kami mempertimbangkan bukti yang menunjukkan bahwa
prehensi/kemampuan memegang dan tujuan penggunaan adalah aksi yang
berbeda. Sebuah perbedaan penting antara mereka adalah tujuan manipulasi objek
dari aksi prehensi/kemampuan memegang. Meskipun karakteristik target
mempengaruhi kontrol dari kedua tujuan penggunaan dan prehensi/kemampuan
13

memegang, kontak dengan target tidak menghentikan aksi prehensi/kemampuan


memegang. Apakah seseorang berniat untuk melakukan dengan objek setelah hal
ini tersentuh adalah sebuah komponen prehensi/kemampuan memegang yang
penting. Tetapi, karena kemiripan antara dua aksi, vision/penglihatan dikaitkan
dalam kontrol prehensi/kemampuan memegang pada beberapa cara yang mirip
pada peran ini dalam kontrol tujuan penggunaan.
Seperti pada tujuan penggunaan, vision/penglihatan memberikan informasi
yang lebih dulu pada inisiasi gerakan, seperti jarak ke objek dan tentang
karakteristik peraturan yang penting dari objek, seperti bentuknya, tekstur, dan
konteks lingkungan dimana objek dilokasikan. Sistem kontrol motorik
menggunakan informasi ini untuk memulai fase perpindahan dari
prehensi/kemampuan memegang, selama tangan dan jari-jari yang mana mulai
untuk membentuk karakteristik genggaman yang diperlukan ketika objek disentuh
dan dimanipulasi. Kemudian, kemiripan pada tujuan penggunaan,
vision/penglihatan dapat memainkan sebuah peran penting dalam pemberian
informasi pada CNS ketika anggota tubuh berada pada penerbangan untuk
membuat modifikasi gerakan yang diperlukan sebagai pendekatan tangan dan
genggaman objek. Saat merupakan hal tujuan penggunaan, seseorang dapat
membuat lengan yang dalam penerbangan ini dan modifikasi gerakan tangan
hanya jika ada waktu yang cukup untuk melakukannya juga.
Salah satu pertanyaan peneliti telah menyelidiki tentang vision/penglihatan
dan prehensi/kemampuan memegang yang berkaitan pada penggunaan
vision/penglihatan monokuler (misalnya satu mata) melawan vision/penglihatan
binokuler (misalnya dua mata) untuk menggapai dan memegang sebuah objek.
Bukti penelitian (misalnya Goodale & Servos, 1996; Marotta, Kruyer, & Goodale,
1998; Servos, 2000) telah menunjukkan bahwa sistem kontrol motorik
mengoperasikan lebih efektif dan lebih efisien ketika hal ini menerima informasi
visual dari dua mata. Meskipun seseorang dapat menggapai dan mengambil objek
ketika penggunaan satu tangan saja yang tersedia, aksi prehensi/kemampuan
memegang dibawakan kurang efisien daripada ketika mereka menggunakan kedua
mata. Ketidak efisienan ini muncul karena sebuah masalah fase persiapan yang
dihasilkan dari vision/penglihatan monokuler yang menunjukkan pada sebuah
14

peremehan jarak ke objek dan ukuran mereka sebelum insiasi gerakan. Bukti
untuk masalah ini adalah velositas puncak yang lebih rendah dan celah pegangan
yang lebih kecil (misalnya jarak antara jempol dan jari-jari pada posisi
genggaman) selama fase pemindahan. Menariknya, ketika seseorang tidak
diijinkan untuk menggunakan vision/penglihatan binokuler, dan harus meraih dan
memeganng sebuah objek menggunakan vision/penglihatan monokuler, merekan
akan menggerakkan kepala mereka pada sebuah pemikiran bahwa mempertinggi
mereka untuk memperoleh informasi yang lebih akurat tentang ukuran sebuah
objek dan jarak ke objek (lihat Marotta, Kruyer, & Goodale, 1998).
Pertanyaan lain ketertarikan tentang kontrol motorik dan
prehensi/kemampuan memegang berkaitan pada peran vision/penglihatan pusat
dan veriveral. Pemahaman yang masih berlaku dari peran ini adalah bahwa
masing-masing membuat kontribusi yang spesifik pada aksi prehensi/kemampuan
memegang. Sebagai contoh, penelitian oleh Sivak dan MacKenzie (1990)
menunjukkan bahwa vision/penglihatan veriveral memberikan CNS dengan
informasi tentang konteks lingkungan dan anggota tubuh yang bergerak. Ketika
mereka memblok penggunaan vision/penglihatan veriveral peserta, yang berarti
mereka dapat melihat hanya vision/penglihatan pusat untuk menggapai dan
memegang sebuah objek, organisasi dan kontrol fase pemindahan terpengaruh
tetapi bukan fase genggaman.
15

SEBUAH PANDANGAN YANG LEBIH DEKAT

Waktu untuk Menyentuh: Variabel Optik Tau

Dalam situasi dimana seseorang bergerak ke arah sebuah objek untuk membuat kontak dengannya, atau
objek bergerak ke arah seseorang, seperti ketika seseorang menangkap atau memukul sebuah bola yang
dilempar, vision/penglihatan memainkan sebuah peran yang penting dalam menentukan kapan untuk
memulai aksi dan membuat kontak dengan objek. Informasi visual yang penting pada situasi ini adalah
waktu untuk menyentuh, yaitu jumlah waktu yang ditetap sampai objek menyentuh seseorang (atau
sebaliknya) dari sebuah jarak tertentu (lihat Bootsma & Peper, 1992). Waktu untuk menyentuh ditentukan
berdasarkan kecepatan perubahan relatif dari ukuran gambar objek pada retina mata. Saat seseorang
mendekati objek, atau sebaliknya, objek menghasilkan sebuah gambar retinal yang lebih besar secara
meningkat. Ketika gambar ini mencapai sebuah ukuran kritis tertentu, hal ini menggerakkan aksi yang
diperlukan oleh situasi.

Pada awal tahun 1970an, David Lee (1974) memberikan bukti bahwa waktu untuk menyentuh
ditentukan oleh sebuah variable optic, yang di namai tau (). Dia juga menunjukkan bahwa tau dapat
diperhitungkan secara matematikdengan keterkaitan ukuran objek, jarak objek dari seseorang, dan sudut
yang berkaitan pada orang dengan ukuran dan jarak objek. Dalam istilah matematik, tau adalah kebalikan
kecepatan perubahan yang relative dari sudut visual yang berkaitan dengan objek yang bergerak,
memberikan kecepatan pendekatan objek yang konstan.

Manfaat kontrol motorik dari variable tau adalah fungsi perkiraannya, yang diikuti inisiasi aksi dan
objek yang menyentuh terjadi secara otomatis pada waktu menyentuh yang spesifik tanpa memperhatikan
kecepatan objek atau orang. Ketika mengendarai sebuah mobil, sebagai contoh, inisiasi pengemudi dan
jumlah aksi pengereman untuk menghindari tabrakan dengan mobil lain tidak bergantung pada pengetahuan
kognitif pengemudi dari jarak dan velositas mobil yang lain. Lebih dari itu, dengan menentukan waktu
menyentuh pada beberapa jarak dan velositas, kecepatan perubahan ukuran gambar retinal dari mobil yang
lain memberikan informasi yang diperlukan oleh pengemudi untuk menentukan tipe pengereman, atau
deselerasi, yang diperlukan oleh situasi.
16

Vision/Penglihatan pusat memberikan informasi yang spesifik pada objek itu


sendiri, seperti ukuran dan bentuk objek. Ketika peneliti memblok penggunaan
vision/penglihatan pusat peserta, yang berarti mereka hanya dapat menggunakan
vision/penglihatan veriveral untuk mencapai dan memegang sebuah objek,
masalah terjadi dengan kedua fase pemindahan dan fase genggaman.

Vision/Penglihatan dan Penulisan Tangan


Sebuah jumlah yang banyak dari bukti penelitian mengindikasikan bahwa
vision/penglihatan memainkan sebuah peran penting dalam kontrol aksi penulisan
tangan. Sebuah contoh yang bagus dari peran ini diberikan oleh Smith dan Silvers
(1987), yang menunjukkan bukti bahwa seseorang yang disuruh untuk menulis
dengan mata tertutup menambahkan goresan ekstra pda beberapa huruf,
menghilangkan goresan dari beberapa huruf, dan menggandakan beberapa huruf.
Dan jika umpan balik visual terlambat ketika seseorang sedang menulis, bahwa
orang membuat banyak kesalahan, termasuk pengulangan dan penambahan huruf.
Pada dasar penelitian mereka sendiri dan juga yang lainnya, Smith dan
Silvers mengajukan bahwa vision/penglihatan menampilkan dua fungsi yang jelas
dalam kontrol penulisan tangan. Satu fungsinya adalah untuk membantu penulis
17

mengontrol susunan kata-kata spasial keseluruhan pada sebuah garis horizontal.


Kita lihat sebuah contoh fungsi ini pada gambar 6.4, dimana sampel penulisan
tangan diambil dari orang yang menulis tanpa ketersediaan vision/penglihatan
menunjukkan deviasi yang jelas dari sebuah garis horizontal. Fungsi kedua untuk
vision/penglihatan adalah untuk membantu penulis menghasilkan pola penulisan
tangan yang akurat, seperti goresan yang sesuai dan huruf yang dibutuhkan untuk
bahan penulisan. Lagi, bukti hal ini dilihat dalam gambar 6.4. Orang yang menulis
tanpa ketersediaan vision/penglihatan menambahkan atau menghilangkan goresan,
menambah huruf ekstra, menghapus huruf, dan membalik huruf.

Vision/Penglihatan dan Tenaga Penggerak


Meskipun ahli ilmu pengetahuan dalam sebuah varietas bidang telah
mempelajari tenaga penggerak, studi peran vision/penglihatan dalam kontrol
18

tenaga penggerak tidak memiliki sejarah yang panjang. Vision/penglihatan


memainkan sebuah peran khusus yang penting dalam tenaga penggerak ketika
seseorang yang bergerak memiliki tujuan penghalangan atau penghindaran
persentuhan dengan objek. Mahasiswa sekarang secara umum setuju bahwa
informasi visual berkaitan dengan kontrol aksi ini adalah waktu untuk menyentuh,
yang ditentukan oleh variabel optic tau.
Dalam hal apa telah menjadi sebuah eksperimen klasik yang menunjukkan
waktu untuk menyentuh ini berpengaruh bagi sebuah kemampuan
lomotor/penggerak yang memerlukan sentuhan objek, Lee, Lishman, dan
Thomson (1982) memfilmkan tiga pelompat panjang wanita yang terampil secara
tinggi selama pendekatan mereka pada papan pendaratan. Dengan menganalisa
perubahan panjang langkah saat masing-masing atlet mendekati dan menyentuh
papan pendaratan untuk satu seri enam lompatan panjang, peneliti mengamati
beberapa karakteristik pola cara berjalan penting. Kami akan menjelaskan
penggunaan hasil ini dari salah satu atlet ini (seorang penampil tingkat Olimpik)
yang ditunjukkan pada gambar 6.5.
Pada awalnya, panjang langkah atlet, meningkat pada kecepatan konstan
secara relatif untuk langkah kelima dan keenam yang pertama. Langkah ini
konsisten secara relatif melalui enam lompatan. Kemudian, pada langkah keenam
terakhir, sesuatu yang berbeda mulai terjadi. Atlet membuat penyesuaian panjang
langkah sehingga dia dapat memukul papan secara akurat. Pada kenyataannya, dia
membuat hampir 50 persen dari penyesuaian ini pada langkah terakhir. Setengah
gambar yang lebih rendah menenjukkan mengapa dia harus membuat sebuah
penyesuaian ini. Saat atlet berlari ke bawah lintasan, ketidakkonsistenan yang
kecil pada masing-masing langkah memiliki efek kumulatif, sehingga ketika di
melakukan lima langkah dari papan kesalahan standar meningkat 37 cm. Jika dia
tidak menyesuaikan panjang langkahnya pada langkah yang tetap, dia akan gagal
memukul papan pendaratandengan sebuah jarak yang panjang.
Karakteristik panjang langkah ini menunjukkan penulis untuk
mendeskripsikan lompat panjang lari atas sebagai yang terdiri dari dua fase: fase
akseleratif awal, dimana seorang atlet menghasilkan pola langkah stereotipik,
yang diikuti oleh sebuah fase pengenolan dalam, dimana atlet memodifikasi pola
19

langkah untuk mengurangi kesalah yang terakumulasi. Mereka menyimpulkan


bahwa sorang pelompat panjang mendasarkan proses koreksi selama fase kedua
pada informasi visual yang diperoleh dalam kemajuan langkah ini. Hal ini berarti
bahwa system visual mengambil informasi waktu untuk menyentuh dari papan
dan mengarahkan sistem kontrol lokomotor/penggerak untuk membuat modifikasi
panjang langkah yng sesuai untuk langkah yang tetap sampai bersentuhan dengan
papan pendaratan.

SEBUAH PANDANGAN YANG LEBIH DEKAT

Isyarat Visual Dapat Membantu Berjalan bagi Orang dengan Penyakit Parkinson

Satu dari gangguan gerakan primer terjadi pada orang yang memiliki penyakit Parkinson adalah kelambatan
cara berjalan (misalnya cara berjalan hipokinesia). Dua pertanyaan yang telah menarik peneliti dan therapis
fisik tentang masalah cara berjalan ini. Salah satunya, apa hitungan karakteristik gerakan bagi kelambatan?
Dua kemungkinannya adalah irama, yang akan berarti bahwa kesulitan berkaitan dengan ritme, atau
ketukan, kecepatan berjalan, dan panjang langkah, yang akan berarti bahwa kelambatan dikarenakan
langkah yang lebih pendek daripada orang normal. Jawaban untuk pertanyaan penting untuk pertanyaan
kedua: Apakah ada sebuah strategi rehabilitasi yang akan membantu pasien meningkatkan kontrol
kecepatan cara berjalan?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Morris, Iansek, Matyas, dan Summers (1994) membandingkan
cara berjalan pasien Parkinson dengan kontrol dengan umur yang sesuai (60-85 tahun) untuk instrusi untuk
berjalan sepanjang jalan sepanjang 12 m pada sebuah kecepatan nyaman dan pada kecepatan cepat.
Hasil menunjukkan:
Pasien Parkinson berjalan lebih lambat daripada peserta kontrol pada kedua kecepatan, dan memiliki
panjang langkah yang lebih pendek, tetapi irama yang mirip.
Kemudian, peneliti memberikan isyarat visual untuk pasien Parkinson dengan menempatkan kardus
potongan-potongan yang dilaminasi 50 cm per 50 cm pada jalur jalan pada kesesuaian interval panjang
langkah rata-rata dari peserta kontrol untuk masing-masing kecepatan. Pasien diintruksikan untuk berjalan
di atas masing-masing tanda lantai seperti mereka berjalan sepanjang jalur jalan. Hasil menunjukkan:
Velocitas pasien dan panjang langkah mirip pada kontrol untuk kedua kecepatan.
Peneliti menyimpulkan dari hasil mereka bahwa pengaturan panjang langkah adalah kunci kekurangan
pada kelambatan cara berjalan untuk pesien dengan penyakit Parkinson. Dan, isyarat visul dapat menjadi
sebuah strategi rehabilitasi yang efektif untuk membantu pasien mengatur kecepatan cara berjalan.
Dengan penerangan hasil ini, hal ini menarik untuk dicatat bahwa beberapa peneliti (misalnya
Melntosh, Brown, Rice, & Thaut, 1997) telah memberikan bukti untuk menunjukkan keefektivan stimulasi
pendengaran ritmik, yang berkaitan pada penanaman sebuah nada pada interval yang spesifik pada musik
untuk memberikan sebuah jarak langkah untuk pasien Parkinson. Kecepatan berjalan dapat dibedakan
dengan menggunakan musik dari tempo yang berbeda.
20

Hal ini layak dicatat bahwa penggunaan informasi waktu untuk menyentuh
untuk mengatur cara berjalan tidak bergantung pada keahlian seseorang.
Meskipun peserta dalam studi lompatan panjang Lee dan penulis diterampilkan
secara tinggi, pelompat panjang yang baru juga telah menunjukkan penyesuaian
panjang langkah yang mirip yang konsisten dengan pengaruh tau (Berg, Wade, &
Greer, 1994).
Peneliti telah menemukan bahwa tipe cara berjalan yang lain juga
menghubungkan penyesuaian selama tenaga penggerak pada dasar informasi
visual waktu untuk menyentuh. Beberapa contoh adalag aktivitas
lokomotor/penggerak seperti ini: berjalan dengan jarak yang diberikan dan
melangkah pada target dengan kaki yang spesifik (Laurent & Thomson, 1988);
berlari dan melangkah pada target, seperti yang orang lakukan ketika
menyeberangi sebuah sungai pada bebatuan (Warren, Young, & Lee, 1986);
melakukan lari ke atas pada batu loncatan dan kuda-kuda ketika menampilkan
loncatan pada senam wanita (Meeuwsen & Magill, 1987). Pada semua aktivitas
ini, orang menyesuaikan panjang langkah pada dasar informasi waktu untuk
menyentuh seperti mereka dekat target.
Vision/penglihatan menentukan informasi kritis yang mempengaruhi
bagaimana orang menampilkan tipe aksi lokomotor/penggerak harian yang lain.
Sebagai contoh, ketika kita perlu untuk berjalan melewati sebuah jalan pintu atau
memanjat anak tangga, lebih baik menentukan waktu untuk menyentuh,
vision/penglihatan mempengaruhi penampilan melalui penggunaan informasi
tubuh yang diskala tentang ukuran bagian tubuh yang spesifik dalam relasi pada
ukuran jalan pintu atau anak tangga. Seseorang memutuskan bagaimana
menghadapkan tubuhnya untuk berjalan melalui sebuah jalan pintu yang terbuka
pada dasar informasi yang dirasakan secara visual yang berkaitan pada proporsi
luas bahunya pada luas pintu yang terbuka. Warren dan Whang (1987)
melaporkan bukti yang mengindikasikan bahwa sebuah jalan pitu perlu menjadi
1.3 waktu lebih luas daripada luas bahu seseorang untuk seseorang untuk
memutuskan bahwa dia akan berjalan melaluinya tanpa melakukan putaran pada
bahunya. Untuk memanjat anak tangga, hubungan antara tinggi langkah anak
21

tangga dan panjang kaki seseorang memberikan informasi tubuh yang diskala
yang diperlukan untuk memutuskan bahwa sebuah langkah anak tangga dapat
dipanjat oleh orang normal, gerakan langkah ke depan. Peneliti telah
menunjukkan bahwa sebuah langkah anak tangga diputuskan untuk dapat dipanjat
pada pemikiran ini jika tinggi anak tangga sama atau kurang dari 88 persen dari
panjang kaki seseorng (Warren, 1994; Mark & Vogele, 1987). Jika proporsi
melampaui jumlah itu, orang akan menggunakan pola gerakan yang berbeda untuk
memanjat langkah anak tangga.
Akhirnya, sebuah situasi kontrol tenaga penggerak yang orang hadapi pada
umumnya adalah keperluan untuk bergerak dengan aman di atas sebuah rintangan
pada jalur mereka. Orang dapat mengerjakan varietas strategi penghindaran ketika
berjalan atau berlari untuk menyelesaikan tujuan ini. Patla dan rekannya telah
melaporkan beberapa studi dimana mereka menyelidiki peran vivion/penglihatan
yang dimainkan pada strategi seseorang dalam memilih untuk bergerak di atas
rintangan (misalnya Patla, Rietdyk, Martin, & Prentice, 1996). Seperti pada situasi
lompatan panjang yang dideskripsikan lebih awal, vision/penglihatan memberikan
informasi perkiraan yang menentukan pada sistem kontrol motorik tipe alterasi
pola langkah yang akan diperlukan untuk melangkah di atas atau pada sebuah
objek. Informais primer ditentukan oleh ketinggian, luas, dan bentuk objek.
Sebagai tambahan, perkiraan tentang bagaimana kepadatan atau kerapuhan objek
juga penting. Sebagai contoh, orang akan meningkatkan ketinggian kaki utama
mereka, yang meningkatkan jumlah jarak ruang jari-jari kaki, lebih untuk sebuah
objek yang dirasakan untuk menjadi rapuh daripada untuk sebuah objek yang
dirasa untuk menjadi rapuh.

Vision/penglihatan dan Melompat dari Ketinggian


Melompat dari sebuah balkon ke lantai adalah keterampilan yang lain untuk hasil
eksperimental yang telah mendukung pandangan bahwa variabel optic tau
menggerakkan aksi persiapan yang spesifik sehingga seseorang dapat mencapai
sebuah tujuan aksi. Dalam sebuah eksperimen oleh Sidaway, MeNittGray, dan
Davis (1989), orang melompat dari tiga ketinggian yang berbeda: 0.72 m, 1.04 m,
dan 1.59 m. Penulis menginstruksikan peseta untuk mendarat dengan kedua
22

telapak kaki pada sebuah pelat yang kuat pada lantai, dan untuk mengarahkan
perhatian visual mereka ke arah pelat kuat ini sepanjang lompatan.
Sebuah karakteristik unik eksperimen ini adalah bahwa peneliti megukur
aktivitas EMG dari rektus femoris sehingga mereka dapat menilai permulaan
aktivitas pada otot agonis ini pada relasi pada jarak seseorang yaitu dari
pendaratan pada lantai. Logika disini adalah bahwa berdasarkan peran varibel
optik tau sebagai mekanisme pemicu untuk permulaan aksi tertentu, seharusnya
ada yang menjadi sebuah hubungan yang spesifik antara tau dan permulaan
aktivitas rektus femoris, tanpa memperhatikan ketinggian lompatan. Hasil dari
eksperimen ini mendukung perkiraan ini. Sehingga, variabel optik tau menengahi
kontrol permulaan aktivitas otot yang diperlukan untuk lompatan dari ketinggian
yang berbeda, mengindikasikan bahwa vision/penglihatan memainkan sebuah
peran kritis dalam kontrol penampilan keterampilan ini.

Vision/penglihatan dan Penangkapan


Dalam banyak cara, Penangkapan sebuah objek seperti aksi prehensi/kemampuan
memegang yang didiskusikan lebih awal. Walaupun, ada dua perbedaan yang
penting. Pertama, menangkap menghubungkan sebuah objek yang bergerak;
prehensi/kemampuan memegang secara khusus menghubungkan sebuah objek
yang seimbang. Kedua, penggenggaman objek pada aksi penangkapan mengakhiri
aksi: prehensi/kemampuan memegang secara khusus menghubungkan melakukan
sesuatu dengan objek yang dipegang. Meskipun padam beberapa situasi olahraga,
seperti baseball dan softball, ada kesempatan dimana seorang pemain harus
memindahkan bola dari sarung tangan setelah menangkap dan melempar bola,
situasi ini adalah olahraga yang unik dan situasi yang spesifik dan tidak akan
termasuk dalam diskusi penangkapan ini.
Tiga fase mencirikan penangkapan sebuah objek. Pertama, orang harus
menggerakkan lengan dan tangan ke arah objek yang akan datang. Kemudian, dia
23

harus membentuk tangannya untuk menangkap objek. Akhirnya, jari-jari harus


menggenggam objek.
Williams dan McCririe (1988) memberikan bukti penelitian yang
menunjukkan fase penangkapan denga studi mereka pada anak laki-laki berusia 11
tahun yang mencoba untuk menangkap bola dengan satu tangan (gambar 6.6).
Sebuah analisis gerakan aksi penangkapan menunjukkan tanpa gerakan lengan
untuk penerbangan bola pertama 160 sampai 240 mdetik. Kemudian, lengkungan
siku-siku secara bertahap mulai dan dilanjutkan secara lambat dn secara seragam
untuk kira-kira 80 persen penerbangan bola. Kira-kira pada waktu yang sama, jari-
jari mulai memperluas. Tangan mulai untuk menarik dari bola ynag akan datang
sampai kira-kira satu setengah waktu penerbangan bola telah berlalu. Kemudian
lengan bagian atas dipercepat sekitar bahu, yang menghasilkan dalam tangan yang
dipindahkan ke posisi spasial yang diperlukan untuk penghadangan bola. Anak
laki-laki yang menangkap bola memulai aksi pemposisian final 80 mdetik lebih
awal daripada anak laki-laki yang gagal menangkapnya. Pada saat 75 persen
penerbangan bola telah lengkap (113 mdetik sebelum menyentuh), masing-masing
anak laki-laki yang berhasil memiliki bolanya dan jari-jarinya pada sebuah
keadaan yang siap untuk penangkapan bola.
Hasil ini mengindikasikan bahwa vision/penglihatan memberikan
informasi kemajuan yang memungkinkan sistem kontrol motorik pada
pengaturan lengan, tangan dan jari-jari secara spasial dan sementara, sebelum
bola sampai sehingga individual dapat menangkap bola. Hal ini secara khusus
layak dicatat disini bahwa orang mendasarkan aksi penggenggaman pda informasi
visual diperoleh sebelum bola secara nyata membuat sentuhan dengan tangan,
lebih baik pada umpan balik yang diperoleh setelah bola telah memukul tangan.
Perluasan keterlibatan propriosepsi selama tahap sebelum bola menyentuh tidak
dipahami dengan baik. Walaupun, kita tahu bahwa umpan balik proprioseptif dan
taktil/peraba menjadi berkaitan setelah sentuhan karena penangkap perlu untuk
membuat penyesuaian untuk memegang. Bukti penelitian juga menunjukkan
bahwa baik vision/penglihatan pusat maupun veriveral dioperasikan ketika
seseorang mengambil informasi kritis untuk penangkapan sebuah objek.
24

Vision/penglihatan objek dan penangkapan. Penangkapan sebuah objek, seperti


sebuah bola, adalah sebuah aksi yang kompleks yang telah menantang peneliti
pada upaya-upaya mereka untuk memahami bagaimana sistem kontrol visual dan
motorik berinteraksi untuk mempertinggi orang untuk berhasil menangkap sebuah
objek yang bergerak. Hasil upaya-upaya penelitian ini telh menidentifikasikan
beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan yang berkaitan
secara khusus pada pengamatan visual objek.
Satu faktornya adalah jumlah waktu kontak visual dengan objek yang
bergerak. Bukti penelitian mengindikasikan bahwa kontak visual konstan
diperlukan selama dua periode waktu yang kritis pada penerbangan objek: bagian
awal penerbangan dan periode waktu hanya sebelum menyentuh dengan tangan.
Berapa banyak waktu yang diperlukan selama masing-masing periode waktu ini
tidak ditetapkan, dan secara tidak diragukan lagi bergantung pada situasi.
Beberapa peneliti telah melaporkan bukti yng mengindikasikan bhwa pengamatan
25

penerbangan awal seharusnya melanjutkan penggapaian bola puncaknya


(Amazeen, Amazeen, Post. & Beek, 1999), meskipun yang lain telah
mengindikasikan bahwa hanya penerbangan 300mdetik pertama yang penting
(misalnya Whiting, Gill, & Stephenson, 1970). Titik penting disini adalah bahwa
kontak visual dengan objek diperlukan untuk sejumlah waktu selama fase
penerbangan awal yang cukup untuk mendpatkan informasi untuk menentukan
perkiraan arah dan jarak penerbangan.
Pada istilah kontak visual dengan objek selama porsi penerbangan
akhirnya, bukti penelitian mengindikasikan bhwa periode waktu antara 200
sampai 300 mdetik sebelum kontak tangan bersifat kritis untuk keberhasilan
penangkapan (Savelsbergh, Whiting, Pijpers, & van Santvoord, 1993), meskipun
jumalah yang tepat dari situasi, khususnya panjang waktu objek yang berada
dalam penerbangan dan velositasnya (lihat Bennett, Davids, & Craig, 1999).
Keperluan untuk melihat bola selama porsi akhir penerbangannya adalah untuk
mendapatkan informasi waktu untuk menyentuh yang spesifik untuk pemposisian
spasial akhir dari tangan dan jari-jari, dan waktu penutupan jari-jari selama
penggenggaman objek.
Bagaimana tentang kontak visual dengan objek dalam penerbangan antara
dua periode waktu ini? Bukti penelitian, secara primer dari Elliott dan rekannya
(misalnya Elliott, Zuberec, & Milgram, 1994) mengindikasikan bahwa kontak
visual yang berkelanjutan dengan bola selama periode waktu ini tidaklah penting.
Studi Elliott dan kawan-kawannya (1994) menunjukkan bahwa orang dapat
menangkap bola yang memiliki waktu penerbangan 1 detik dengan melihat
singkat secara terputus-putus potret (maksimal 20 mdetik) dari bola setiap 80
mdetik dari penerbangannya. Sayangnya, hasil ini sungguh mirip pada hal itu
yang melaporkan untuk orang yang berjalan pada balok keseimbangan dan
melintas sebuah tangga horizontal (Assaiante, Marchand, & Amblard, 1989).
Sehingga, orang dapat menggunakan sampel visual dari karakteristik penerbangan
bola untuk mendapatkan informasi yang mereka perlukan untuk menangkap bola.
Kemampuan ini untuk menggunakan terputus-putus informasi yang dideteksi
secara visual untuk menangkap sebuah objek membantu kita memahami
bagaimana sebuah penjaga gawang hoki es dapat menangkap sebuah kepingan
26

atau seorang penjaga gawang sepak bola dapat menangkap bola meskipun dia
harus mengikuti jejaknya secara visual melalui beberapa pasang kaki pada
jalannya ke gawang.
Pada akhirnya, sebuah teori kontrol motorik yang berkaitan dengan
pertanyaan adalah, apakah orang menggunakan tau sebagai dasar penentuan
waktu untuk menyentuh ketika penangkapan sebuah objek? Meskipun ada debat
yang hebat tentang jawaban pada pertanyaan ini (lihat Abernethy & Burgess-
Limerick. 1992, untuk diskusi yang lebih lengkap untuk persoalan ini), ada
jumalah bukti penelitian yang signifikan yang mengindikasikan bahwa variabel
optik tau dikaitkan pada pemecahan masalah waktu untuk menyentuh ketika
penangkapan sebuah objek (Abernethy & Burgess-Limerick, 1992; Bootsma &
Peper, 1992). Ketika sebuah objek bergerak secara langsung ke arah seseorang,
sudut diciptakan pada mata seseorang dengan ujung atas dan bawah dari objek
yang meningkat pada ukuran pada jalur nonlinier saat objek mendekati seseorang.
Kenonlinieran mengacu pada kelambatan yang terlihat dari sudut ini meningkat
ketika bola lebih jauh dari orang dan peningkatan tajam pada ukuran saat
mendekat pada orang. Hal ini adalah laju perluasan sudut anguler ini, yang sering
mengacu pada sebagai penjulangan, bahwa sistem visual digunakan untuk
menentukan kapan tabrakan objek dengan orang akan terjadi. Untuk aksi
penangkapan, perluasan optik ditetapkan ketika karakteristik gerakan yang sesuai
untuk lengan, tangan, dan jari-jari akan ditempatkan untuk menangkap objek.
Untuk objek yang tidak bergerak secara langsung ke arah orang tetapi
memerlukan orang untuk berlari untuk menangkap mereka, tau juga memberikan
dasar visual untuk waktu penangkapan, meskipun matematika untuk
memperhitungkan tau jelas lebih kompleks.

Vision/penglihatan tangan dan penangkapan. Sebuah pertanyaan penting yang


berkaitan dengan penangkapan adalah: Haruskan seseorang dapat melihat
tangannya selama penerbangan sebuah bola agar berhasil menangkap bola?
Pada salah satu eksperimen pertama menyelidiki pertanyaan ini, Smyth dan
Marriott (1982) meletakkan sebuah layar pada peserta sehingga mereka dapat
melihat bola yang akan datang, tetapi bukan tangan mereka, mereka rata-rata 17.5
27

tangkapan keluar dari 20 bola yang dilempar. Walaupun, ketika mereka tidak
dapat melihat tangan mereka, mereka dapat menangkap sebuah rata-rata 9.2 bola
keluar dari 20 bola yang dilempar. Yang lebih penting, ketika mereka tidak dapat
melihat tangan mereka, peserta secara khusus membuat kesalahan pemposisian
tangan: mereka tidak dapat mendapatkan tangan mereka ke dalam posisi spasial
yang benar untuk menghadang bola. Tetapi ketika mereka dapat melihat tangan
mereka, kesalahan khusus mereka berkaitan dengan penggenggaman: mereka
mendahulukan lengkungan jarijari yang terlalu awal mereka perlu untuk
menggenggam bola.
Ketertarikan seperti Smyth dan Marriott mungkin menghasilkan,
penelitian sejak pekerjaan mereka menunjukkan bahwa pengalaman adalah
sebuah faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan seseorang
ketika dia tidak dapat melihat tangan mereka. Kita mungkin mengharapkan ini,
seperti Davids (1988) berpendapat, karena penggunaan vision/penglihatan
veriveral yang efektif adalah fungsi umur dan pengalaman. Karena kita
menggunakan vision/penglihatan veriveral untuk melihat tngan kita saat kita
mencoba untuk menangkap sebuah objek yang akan datang, hal ini logis untuk
berharap bahwa keperluan kita untuk melihat tangn kita untuk menangkap sebuah
bola akan bergantung pada umur dan pengalaman kita.
28

SEBUAH PANDANGAN YANG LEBIH DEKAT


Penggunaan Penjulangan pada Televisi dan Bioskop: Sebuah Ilustrasi Penggunaan
Tau Kita
Pada tinjauan persoalan mereka yang berkaitan untuk menentukan informasi visual yang
orang gunakan pda waktu pendekatan objek yang akan datang, Abernethy dan Burgess-
Limorick (1992) menegaskan bahwa jika metode yang berdasarkan tau untuk
pengambilan waktu untuk menyentuh bersemangat, pengamat harus menjadi yang
pertama dan terlebih dahulu menjadi sensitif pada informasi yang diberikan oleh
perluasan optik atau penjulangan (hal.366). Mereka pergi untuk mendeskripsikan
beberapa studi penelitian yang mendukung perkiraan ini. Meskipun studi ini penting
untuk menetapkan dukungan spesifik pada tau, kami dapat menemukan bukti kesensitifan
kami pada penjulangan dari sebuah pengalaman sehari-hari yang umum.
Pernahkah kamu melihat sebuah program televise atau bioskop dan mengalami
ilusi sebuah objek yang beterbangan keluar dari layar secara langsung pada kamu? Karena
televise dan bioskop adalah media dua dimensional, pencipta efek visual menjalankan
konsep penjulangan untuk menciptakan kualitas tiga dimensional dari sebuah objek yang
bergerak dari kejauhan dan kemudian beraksi saat jika hal ini beterbangan keluar layar
secara langsung pada penonton. Ilusi ini diciptakan dengan membuat objek tampak kecil
pada layar dan kemudian membuatnya mempeluar secara nonlinier pada ukuran (misalnya
secara perlahan pada pertama kemudian secra cepat). Perubahan ini pada rata-rata
perluasan menciptakan ilusi optik bahwa objek akan beterbangan keluar layar dan
menghantammu. Secara tidak diragukan kamu telah mengamati ilusi penjulangan ini, dan
telah merespon secara nyata pada hal ini dengan menggerakkan kepalamu untuk
menghindari objek menghantammu. Apa yang menjadi ketertarikan khusus tentang reaksi
tingkah laku ini yang terjadi meskipun kamu tahu hal ini tidak mungkin untuk objek
untuk beterbangan keluar secara fisik dari layar dan menghantammu. Poin penting disini
adalah bahwa objek tidak membuat jarak dan perubahan velositas, hanya ukuran yang
berubah. Hal ini adalah perubahan ukuran yang mendasar, dan rata-rata perluasan
nonlinier, yang merupakan dasar untuk tau memberikan sebuah arti untuk orang untuk
waktu pendekatan dari sebuah objek yang akan datang.

Fishman dan Schneider (1985) melaporkan bukti empiris yang mendukung


pengaruh pengalaman. Penggunaan prosedur eksperimental yang sama seperti pad
Smyth dan Marriott, mereka termasuk peserta yang telah memiliki setidaknya
pengalaman lima tahun dalam regu universitas baseball atau softball. Hasil dari
eksperimen ini (gambar 6.7) menunjukkan bahwa ketika jumlah penangkapan
menurun ketika orang tidak dapat melihat tangan mereka, tipe kesalahan tidak
29

bergantung pada apakah iya atau tidak peserta dapat melihat tangan mereka.
Walaupun, untuk penangkap bola yang tidak berpengalaman, kesalahan
pemposisian lebih bersar daripada kesalahan pemegangan yang terjadi ketika
mereka tidak dapat melihat tangan mereka.
Penelitian tambahan menyelidiki persoalan ini telah membimbing peneliti
untuk penerimaan umum dari pengaruh pengalaman sebaik tingkat keterampilan
pada keperluan untuk seseorang untuk melihat tangannya ketika penangkapan
bola (lihat Bennett, Davids, & Craig, 1999). Penangkap yang lebih berpengalaman
dan terampil tidak perlu melihat tangan mereka; penangkap yang kurang
berpengalaman dan keterampilan rendah memerlukan vivion/penglihatan tangan
mereka. Alasan untuk perbedaan ini muncul untuk menghubungkan pada
kemampuan seseorang untuk menggunakan umpan balik proprioseptif untuk
menangkap sebuah objek yang bergerak. Orang yang kurang berpengalaman,
keterampilan rendah, memerlukan umpan balik visual untuk memposisikan lengan
dan tangan mereka secara spasial, dan untuk menggenggam objek secara efektif.
Pada istilah membantu seseorang meningkatkan keterampilan penangkapan
mereka, hubungan anatara pengalaman dan keperluan akan vision/penglihatan
tangan ini mendukung bahwa orang pemula dan yang lebih kurang terampil
seharusnya latihan menangkap secara primer pada situasi dimana mereka dapat
melihat tangan mereka selama penerbangan bola, dari titik dimana bola
meninggalkan tangan pelempar sampai bola dipegang.

Vision/penglihatan dan Pemukulan sebuah Objek yang Bergerak


Dua eksperimen menyelidiki pemukulan sebuah objek yang bergerak
mengilustrasikan bagaimana vision/penglihatan berkaitan dalam aksi ini.
Vision/penglihatan dan pemukulan baseball. Eksperimen yang paling umum
dikutip berkaitan dengan peran vision.penglihatan dalam pemukulan baseball
ditampilkan beberapa tahun yang lalu oleh Hubbard dan Seng (1954).
Menggunakan teknik fotografis, mereka menemukan bahwa pemain baseball
profesional mengikuti jejak bola hanya pada satu titik, dimana waktu yang mereka
membuat ayunan mereka. Titik ini tidak bersamaan dengan titik dimana pemukul
membuat sentuhan dengan bola. Masing-masing pemukul cenderung
30

mengsinkrongkan permulaan langkah ke depan dengan pelepasan bola dari tangan


pelempar. Dan, yang lebih penting, durasi ayunan pemukul sungguh konsisten
dari ayunan ke ayunan, mengindikasikan bahwa ini merupakan inisiasi ayunan
yang disesuaikan pemukul berdasarkan pada kecepatan lemparan yang akan
datang. Menariknya, penemuan ini menyetujui secara tepat dengan pengharapan
dari sebuah strategi mendasar tau untuk pemukulan. Yaitu, inisiasi aksi
pemukulan yang terjadi pada waktu yang kritis untuk menyentuh.

SEBUAH PANDANGAN YANG LEBIH DEKAT


Lihat Bola Sepenuhnya pada Pemukulmu!
Instruksi yang biasa diberikan pelatih ketika mengajar pemukulan dalam baseball adalah
untuk menjelaskan pemain, Lihat bola sepenuhnya pada pemukulmu!. Penerangan ini,
hal ini menarik untuk dicatat bahwa penelitian (misalnya Bahill dan LaRitz, 1984)
mengindikasikan bahwa pemukul mungkin tidak pernah melihat pemukul yang memukul
bola. Jika mereka lakukan, hal ini karena mereka telah melompat pada fokus visual
mereka dari beberapa titik pada penerbangan bola ke pemukul titik sentuhan. Mereka
tidak mengikuti jejak bola secara visual secara berkelanjutan sepenuhnya pada sentuhan
pemukul karena hal ini sebenarnya sebuah ketidakmungkinan fisik. Pemukul umumnya
mengikuti jejak bola pada titik tertentu dan kemudian melompat secara visual ke sebuah
titik dimana mereka memperkirakan bola akan berada pada sentuhan pemukul.
Hal ini layak untuk dicatat bahwa pemukul yang lebih terampil melihat bola untuk
jumlah waktu yang lebih panjang daripada pemain yang kurang terampil. Pemula
cenderung memiliki ayunan pemukul gerakan inisiasi yang mempengaruhi posisi kepal
mereka dan menarik kepala mereka keluar posisi untuk melihat bola/wilayah sentuhan
pemukul.
Dari sebuah sudut pandang instruksi, karakteristik ini mendukung bahwa hal ini
bermanfaat untuk menyusuh seseorang, Lihatlah bola sepenuhnya pada pemukulmu.
Meskipun orang tidak dapat benar-benar melakukan itu, instruksi ini mengarahkan
perhatian visual seseorang sehingga orang mengikuti jejak bola untuk selama mungkin
secara fisik., dan menjaga kepalanya pada posisi untuk melihat bola/wilayah sentuhan
pemukul.

Beberapa penemuan Hubbard dan Seng telah menjadi lebih diverifikasi


atau diperluas pada penelitian dilaporkn sejak studi mereka. Sebagai contoh, tiga
puluh tahun kemudian, Bahill dan LaRitz (1984) menggunakan teknologi yang
lebih canggih pada mata monitor secara dekat dan gerakan kepala dari pemain
31

baseball liga utama dan beberapa rekan-rekan pemain baseball. Studi dilakukan
pada sebuah situasi laboratorium bahwa respon pemain tiruan pada bola-cepat
yang tinggi dan diluar yang dilempar oleh pelempar dengan tangan kiri pada
pemukul dengan tangan kanan. Pemain liga utama mengikuti jejak bola secara
visual lebih panjang daripada yang dilakukan pemain universitas. Pemain
universitas mengikuti jejak bola pada sebuah titik kira-kira 9 kaki di depan pelat,
dimana titik pelacakan visual mereka mulai jatuh di belakang bola. Pemain liga
utama menjaga pada bola sampai bola mencapai sebuah titik kira-kira 5.5 kaki di
depan pelat sebelum terjatuh di belakang dalam pelacakannya. Juga, tanpa
memperhatikan kecepatan lemparan, pemain liga utama mengikuti pola pelacakan
visual yang sama dan sangat konsisten pada setiap cara berdiri/stan ynag dia ambil
untuk mempersiapkan untuk lemparan. Posisi kepalanya berubah kurang dari satu
derajat menyilang semua lemparan. Menariknya, dia membuat gerakan kepala
ringan ketika pelacakan bola, tetapi tidak pernah menggerakkan tubuhnya.

Vision/penglihatan dan penyerangan tenis meja. Dalam sebuah studi dari lima
pemain atas tenis meja di Belanda, Bootsma dan van Wieringen (1990)
ditunjukkan dari hasil analisis gerakan bahwa pemain tidak dapat mengandalkan
secara lengkap pada produksi gerakan yang konsisten. Pemain tampaknya untuk
kompensasi untuk perbedaan dalam waktu inisiasi ayunan mereka agar memukul
bola secepat dan dengan seakurat mungkin. Sebagai contoh, ketika waktu untuk
menyentuh menjadi lebih pendek pada inisiasi ayunan, pemain dikompensasikan
dengan penerapan yang lebih kuat selama pukulan. Dan bukti yang menudkung
bahwa beberapa pemain ini membuat penyesuaian yang sangat baik untuk ayunan
mereka ketika mereka sedang bergerak. Sehingga, sedangkan informasi visual
mungkin menggerakkan inisiasi ayunan dan memberikan informasi tentang
karakteristik pentingnya, vision/penglihatan juga memberikan informasi bahwa
pemain dapat menggunakan untuk membuat penyesuaian kompensator pada
ayunan yang diinisiasi, meskipun hal ini sangat ringan dalam istilah waktu dan
kuantitas ruang.
32

RINGKASAN

Propriosepsi dan vision/penglihatan adalah sumber umpan balik yang penting


yang berkaitan pada kontrol gerakan. Untuk menyelidiki peran yang dimainkan
oleh umpan balik proprioseptif dalam kontrol gerakan, peneliti telah
menggunakan beberapa teknik eksperimental untuk memindahkan umpan balik
proprioseptif. Metode yang paling langsung yang berkaitan dengan deaferensiasi
bedah. Ketika hewan telah dideafferen setelah melakukan pembelajaran sebuah
keterampilan, mereka melanjutkan untuk menampilkan keterampilan tertentu,
meskipun dengan pembatasan penampilan kemampuan yang jelas. Manusia yang
telah dideafferen dikarenakan pembedahan penggantian tulang sendi atu
neuropathi, atau yang telah meniru deafferensiasi dari sebuah prosedur blok saraf,
menunjukkan karakteristik yang mirip. Sebagai tambahan, peneli telah
menggetarkan tendon otot agonis selama gerakan untuk memutarbalikkan umpan
balik proprioseptif. Hasil pendekatan ini telah menunjukkan bahwa umpan balik
proprioseptif penting dalam pengkontrolan derajat presisi pada gerakan anggota
tubuh, untuk waktu permulaan perintah motorik, dan pada koordinasi tubuh dan
segmen anggota tubuh.
Vision/penglihatan cenderung untuk mendominasi sebagai sebuah sumber
informasi sensorik pada kontrol yang dikoordinasikan, gerakan suka rela.
Tendensi ini diilustrasikan dengan baik oleh situasi dimana vision/penglihatan dan
umpan balik proprioseptif memberikan informasi yang bertentangan, seperti pada
eksperimen ruang yang bergerak. Penelitian dengan tugas tujuan penggunaan
telah menunjukkan bahwa sistem kontrol motorik memerlukan jumlah waktu
minimal untuk menggunakan umpan balik visual untuk memodifiksi sebuah
gerakan yang akan pergi. Kami telah menjelaskan peran vision/penglihatan yang
dimainkan dalam kontrol gerakan dengan pendiskusian sebuah varietas
keterampilan motorik dan mendeskripsikan bagaimana informasi visual penting
untuk menampilkan keterampilan ini: keterampilan tujuan penggunaan,
prehensi/kemampuan genggaman, penulisan tangan, keterampilan
lokomotor/penggerak, melompat dari ketinggian, penangkapan sebuah bola, dan
33

pemukulan sebuah bola baseball dan bola tenis meja. Salah stu dari peran yang
konsisten untuk vision/penglihatan pada keterampilan ini adalah untuk
memberikan informasi konteks sebelum inisiasi gerakan untuk memungkinkan
sistem kontrol motorik untuk menetapkan gerakan anggota tubuh dan tubuh pada
penyesuaian dengan karakteristik posisi anggota tubuh dan tubuh awal dan
karakteristik lingkungan penampilan. Untuk keterampilan yang memerlukan
gerakan anggota tubuh yang akurat, vision/penglihatan memberikan informasi
koreksi kesalahan untuk memastikan bahwa seorang individual mmebuat gerakan
secara akurat.