Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

1. A. Latar Belakang Masalah

Pada abad ini hampir di segala sektor kehidupan terjadi perubahan yang sangat

cepat, bahkan hampir tak terduga. Supaya semua perubahan tersebut segera dapat

diketahui seseorang harus memperoleh informasi dari sumber manapun.

Kemampuan yang harus dimiliki untuk melakukan itu semua adalah kemampuan

membaca. Kemampuan membaca tersebut bukan sekadar dapat membaca,

melainkan membaca secara cepat, apalagi sumber informasi digital dan elektronis

yang sekarang ini semakin pesat.

Menurut Baldridge (1979), setiap calon cendekiawan abad modern ini dituntut

untuk membaca 850.000 kata/menit. Jika seseorang hanya mampu membaca 250

kata/menit, dalam seminggu ia harus membaca kira-kira 56 jam, artinya 8

jam/hari. Sungguh dramatis, bukankah hidup ini tidak hanya diabdikan untuk

membaca? Masih banyak tugas lain yang lebih penting daripada itu. Agar

seseorang dapat memanfaatkan waktu dengan efisien, sekali lagi seseorang perlu

memiliki keterampilan membaca cepat. Kemampuan membaca cepat ini dapat

digunakan untuk berbagai keperluan sesuai dengan tujuan dan manfaat yang

ditetapkan.

Kenyataan menunjukkan bahwa semakin berkembang karier seseorang tuntutan

untuk membaca juga semakin besar, padahal waktu yang tersedia semakin

terbatas. Semua harus berpacu dengan informasi dan gagasan yang setiap hari

membanjiri meja kerjanya. Informasi yang membanjir akan memperbudaknya


apabila ia tidak terampil membaca cepat. Sementara itu, masih terdengar keluhan

bahwa kemampuan membaca buku-buku para mahasiswa Indonesia terlalu lemah.

Mereka terlalu lama menyelesaikan pembacaan buku-buku, bahkan buku-buku

yang tipis sekalipun. Hal itu terjadi bukan hanya karena kesalahan mereka.

Sewaktu bersekolah di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar mereka memang

diajari membaca, mengenali kata, mengejanya, dan seterusnya. Ketika duduk di

bangku Sekolah Menengah Pertama mereka tidak lagi diajari cara membaca yang

benar. Salah satunya adalah cara membaca cepat yang benar.

Tampaknya terdapat berbagai sebab mengapa kemampuan membaca para siswa

kita rendah .Faktor yang dimaksud dapat berasal dari dalam maupun dari luar

siswa. Faktor dari dalam berarti faktor dari siswa. Mereka mempunyai kebiasaan

menunda atau interupsi, mengulangi pembacaan, vokalisasi dan subvokalisasi.

Sedangkan faktor dari luar misalnya dari guru. Guru kurang tepat dalam memilih

dan menggunakan media pembelajaran. Secara tidak langsung hal tersebut akan

semakin membuat kemampuan membaca para siswa semakin rendah dan ini

berarti semakin memperbesar ketidak berhasilan pembelajaran membaca cepat.

Dalam penelitian tindakan kels ini peneliti menginformasikan salah satu

mediapembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca

cepat. Media yang dimaksud adalah media teks berjalan. Dengan media tersebut

diharapkan kebiasaan-kebiasaan buruk dalam membaca cepat seperti yang sudah

disebutkan di atas dapat dihindari.

1. B. Identifikasi Masalah
Dalam penelitian ini masalah yang timbul dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca cepat bahan-bahan

pustaka yang ada.

2. Kurangnya minat dan motivasi siswa membaca cepat teks bacaan.

3. Ketidaksesuaian strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam

kegiatan pembelajaran membaca cepat.

4. Ketidaksesuaian media pembelajaran yang digunakan guru untuk dapat

meningkatkan semangat dan motivasi siswa dalam membaca cepat.

1. C. Perumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dapat

dirumuskan sebagaai berikut.

1. Mengapa kemampuan membaca cepat para siswa masih rendah?

2. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan membaca cepat para siswa?

3. Media pembelajaran apa yang dapat meningkatkan kemampuan

membaca cepat para siswa?

4. Bagaimana media teks berjalan dapat meningkatkan kemampuan

membaca cepat para siswa?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan umum penggunaan media ini adalah meningkatkan kualitas pembelajaran

Bahasa dan Sastra Indonesia sehingga berdampak pada peningkatan kompetensi

siswa. Tujuan khususnya adalah mengetahui efektivitas media dalam


pembelajaran, khususnya pembelajaran membaca cepat yang merupakan salah

satu Kompetensi Dasar yang ada dalam Kurikulum KTSP.

E. Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan berbagai manfaat bagi para

siswa dan guru, terutama guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Siswa menjadi lebih

tertarik dalam mengikuti pembelajaraan membaca cepat.

2. Dapat membangkitkan gairah dan semangat belajar siswa sehingga

pembelajaran membaca cepat lebih menunjukkan keberhasilannnya. Kebiasaan

menunda dan interupsi, serta regresi pun akan dapat dikurangi bahkan dihindari.

3. Bagi guru, kegiatan memilih atau merancang media pembelajaran yang tepat

dan inovatif akan lebih meningkatkan kreativitas mereka.

4. Guru akan lebih tertantang untuk bisa berkreasi dan berinovasi sendiri dalam

membuat media-media pembelajaran alternatif-inovatif.

5. Bagi lembaga pendidikan penelitian ini akan bisa memberikan satu kontribusi

yang cukup berarti apabila disosialisasikan dan dikembangkan di kalangan guru.

Bentuk sosialisasi tersebut misalnya pelatihan-pelatihan media pembelajaran,

simposium-simposium guru, workshop multimedia, dan sebagainya.


BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

1. A. Landasan Teori

1. 1. Pengertian Media

Secara harfiah kata media yang dalam bahasa latin disebut mediumb berarti

perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari

pengirim kepada penerima. Banyak para pakar yang memberi batasan tentang

media. Assosiation of Education and Communication Technology (AECT)


membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk

menyampaiakan pesan dan informasi. Selain itu Gagne (1970) menyatakan,

bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswayang dapat

merangsang kegiatan belajar.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa media pendidikan adalah

alat atau bahan yang digunakan dalam proses pengajaran atau pembelajaran

(2002:726). Ruseffendi (1982) menyatakan bahwa media pendidikan adalah

perangkat lunak (soft ware) dan atau perangkat keras (hard ware) yang berfungsi

sebagai alat belajar dan alat bantu belajar. Sementara itu Brown, dkk (dalam

Pengembangan Bahan dan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia:

Bahan PTBK Guru Mapel Bahasa dan Sastra Indonesia.Jakarta: Direktorat

Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan

Menengah Depdiknas, hal. 18) membuat klasifikasi media pembelajaran yang

sangat lengkap yang mencakup sarana belajar (equipment for learning) , sarana

pendidikan untuk belajar (educational media for learning), dan fasilitas belajar

(facilities forlearning). Sarana belajar mencakup tape recorder, radio, OHP, video

player, televisi, laboratorium elektronik, telepon, kamera, dan lain-lain. Sarana

pendidikan untuk belajar mencakup buku teks, buku penunjang, ensiklopedi,

majalah, surat kabar, kliping, program TV, program radio, gambar dan lukisan,

peta, globe, poster, kartun, boneka, papan planel, papan tulis, dan lain-lain.

Fasilitas belajar mencakup gedung, kelas, ruang diskusi, laboratorium, studio,

perpustakaan, tempat bermain, dan lain-lain.


Dari berbagai sumber dan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media

pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat berfungsi sebagai alat bantu

belajar siswa sehingga siswa dapat lebih mudah untuk mempelajari materi

pelajaran. Dengan kata lain, ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan

media pembelajaran akan menentukan keberhasilan pembelajaran. Hal tersebut

terjadi karena siswa akan lebih terbantu dalam mempelajari dan memahami materi

pelajaran.

1. 2. Klasifikasi Media Pembelajaran

Menurut Briggs (1986:23) mengemukakan bahwa media pembelajaran ada 13

bagian yaitu : a) objek, b) model, c) suara, d) langsung, e) rekaman, f)

audio, g) media cetak, h) pembelajaran terprogram, i) papan tulis, j) media

transparan, k) film rangkai, l) film bingkai, m) film televisi dan gambar.

Sedangkan Amir Hamzah Sulaiman (Nyoman S. Degeng 1993:5) menggolongkan

media sebagai berikut.

1. Alat-alat audio, alat-alat yang menghasilkan bunyi atau suara.

2. Alat-alat visual yaitu alat-alat yang dapat memperlihatkan bentuk atau

rupa yang kita kenal sebagai alat peraga. Alat-alat visual dibedakan

menjadi : 1) alat-alat visual dua dimensi yang dibagi-bagi menjadi alat-

alat visual dua dimensi pada bidang yang tidak transparan dan alat-alat

visual dua dimensi pada bidang transparan dan 2) Alat-alat visual tiga

dimensi.
Sementara Rudy Bratz (Arief S. Sadiman 1986:20) mengklasifikasikan media

pembelajaran, yaitu : a) media audio visual gerak, b) media audio visual diam, c)

media audio visual semi gerak, d) media visual gerak, e) media visual diam, f)

media semi gerak, g) media audio dan h) media cetak. Selanjutnya Gagne (Arief

S. Sadiman 1986:23) mengklasifikasikan media pembelajaran, yaitu a) benda

didemonstrasikan, b) komunikasi lisan, c) media cetak, d) gambar diam, e)

gambar gerak, f) film bersuara dan g) mesin belajar. Masih banyak lagi yang

dikemukakan oleh para ahli, secara umum mereka berpendapat media pendidikan

dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : visual, audio dan audio visual.

Berdasarkan uraian tentang klasifikasi media pembelajaran di atas, maka media

Baba termasuk media cetak. Media cetak biasanya diartikan sebagai bahan yang

diproduksi melalui percetakan professional atau pun produksi sendiri. Penggunaan

media cetak ada beberapa keuntungan dan kelemahannya. Keuntungan media

cetak adalah : a) media cetak relative murah; b) penggunaannya mudah; c) lebih

luwes dalam pengertian mudah digunakan, dibawa atau dipindahkan.

Kelemahannya dari media cetak adalah : a) jika tidak dirancang denan baik

membosankan; dan b) kurang memberikan suasana yang hidup.

1. 3. Fungsi Media Pembelajaran

Menurut Derek Rowtree (Imam Supardi 1987:11) fungsi media pembelajaran

sebagai berikut.

1. Membangkitkan motivasi belajar.

2. Menyediakan stimulus belajar bagi siswa.


3. Membantu siswa untuk mengulang atau mempelajari kembali pelajaran

yang telah diterima.

4. Dapat memberikan umpan balik dengan segera baik siswa maupun guru.

Sedangkan menurut Nyoman S. Degeng (1993:24) secara garis besar fungsi media

pembelajaran sebagai berikut:

1. Menghindari terjadinya verbalisme.

2. Membangkitkan minat/motivasi.

3. Menarik perhatian siswa.

4. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran.

5. Mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar.

6. Mengaktifkan pemberian rangsangan untuk belajar.

Berdasarkan fungsi-fungsi di atas selanjutnya dapat dikemukakan bahwa fungsi

media pendidikan adalah : a) mengurangi verbalisme, b) mengatasi

keterbatasan ruang, waktu dan ukuran, c) dapat memberikan umpan bai\lik dengan

segera baik siswa maupun guru dan d) mengefektifkan pemberian

rangsangan untuk belajar.

1. 4. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan salah satu sarana untuk lebih mengefektifkan

dalam proses belajar mengajar di sekolah, ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan dalam pemilihan media, yang perlu diperhatikan antara lain : tujuan,
ketepatgunaan, keadaan siswa, ketersediaan, mutu teknis dan biaya yang tersedia

dapat dijabarkan sebagai berikut.

1. Tujuan : media pendidikan yang dipilih hendaknya menunjang tujuan

pengajaran yang telah dirumuskan.

2. Ketepatgunaan : jika materi yang kita pelajari sesuai dengan tujuan yang

telah dirumuskan, maka guru harus memilih media yang sesuai.

3. Keadaan : harus sesuai keadaan, kemampuan siswa dan besar kecilnya

kelas.

4. Ketersediaan : ada atau tidaknya media yang diperlukan apabila

mungkin guru membuat sendiri.

5. Mutu teknis : harus betul-betul sesuai dan cocok untuk dugunakan

sebagai alat Bantu di sekolah.

6. Biaya : biaya yang dikeluarkan sesuai dengan hasil yang dicapai.

Sedangkan menurut Dick Caray (Arief S. Sadiman 1986:36) hal-hal yang menjadi

kriteria dalam pemilihan media pendidikan adalah sebagai berikut.

1. Kesesuaian dengan tujuan perilaku belajar.

2. Ketersediaan sumber setempat.

3. Ketersediaan dana, tenaga, fasilitas untuk membeli dan memproduksi.

4. Keluwesan, keaktifan, ketahanan media untuk waktu yang lama.

5. Efektifitas biaya dalam jangka waktu yang panjang.


Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa kriteria pemilihan media

pembelajaran perlu memperhatikan antara lain : tujuan, keadaan, ketersediaan

sumber setempat, mutu teknis dan dana.

1. 5. Media Pembelajaran Teks Berjalan

Batasan tentang media pembelajaran dijelaskan dalam Dictionary of

Education. Instructional media is devices and other materials which present a

complete body of information and are largely self-suporting rather than

supplementary in thenteaching-leraning process. Media pembelajaran adalah alat

atau materi lain yang menyajikan bentuk informasi secara lengkap dan dapat

menunjang proses belajar mengajar. Teks berjalan yang dimaksud dalam tulisan

ini adalah satu jenis media yang berupa teks yang ditulis dalam sebuah strip film.

Teks tersebut selanjutnya direkam dalam sebuah vcd kosong (blank vcd).

Penggunaannya dalam pembelajaran adalah dengan menggunakan alat bantu lain

yaitu satu unit komputer dan satu unit LCD. Seandainya tidak tersedia komputer

dan LCD guru bisa menggunakan VCD player dan satu unit TV monitor. Hanya

saja kalau menggunakan VCD player dan TV monitor maka jangkauan baca para

siswa menjadi terbatas, kecuali kalau guru menggunakan TV monitor yang cukup

besar.

Membaca cepat yang dimaksud dalam tulisan ini adalah salah satu jenis membaca

yang dilakukan secara cepat (sekitar 250 kata per menit). Tujuan kegiatan

membaca adalah agar pembaca memahami ide pokok dan detail

pentingterhadap isi teks bacaan. Soedarso (1988) menjelaskan bahwa dalam

membaca cepat terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula.Bahkan


pemahaman inilah yang menjadi pangkal tolak pembahasan, bukannya kecepatan

(hal. xiv).

Kesalahan umum yang sering dilakukan oleh seseorang dalam membaca adalah

mereka terlalu menekuni detail sehingga kehilangan ide sentralnya. Menemukan

ide pokok suatu paragraf atau bacaan adalah kunci untuk mengerti apa isi bacaan.

Lebih lanjut Soedarso menjelaskan bahwa pada hakikatnya, membaca cepat

adalah keterampilan memilih isi bahan yang harus dibaca sesuai dengan tujuan

kita, yang ada relevansinya dengan kita, tanpa membuang-buang waktu untuk

menekuni bagian-bagian lain yang tidak kita perlukan. Karena kebiasaan yang

salah yang kita bawa dari kecil ketika kita belajar membaca, cara membaca kita

menjadi lambat. Keadaan tersebut dipacu oleh beberapa kebiasaan yang salah, di

antaranya vokalisasi ,gerakan bibir, gerakan kepala, menunjuk dengan jari, regresi

dan subvokalisasi.

Vokalisasi atau membaca dengan bersuara, menggerakkan bibir, menunjuk kata

demi kata dengan jari, dan menggerakkan kepala dari kiri ke kanan, seperti

dilakukan semasa kanak-kanak, merupakan kebiasaan yang menghambat

kecepatan membaca. Dengan menggerakkan bibir ataupun bersuara

(mengucapkan kata demi kata) kecepatan membaca menjadi amat berkurang,

yaitu hanya seperempatnya jika kita membaca secara diam. Kecepatan menjadi

berkurang karena orang lebih memperhatikan pengucapannya daripada

menangkap ide yang terkandung dalam sebuah tulisan. Orang pun lebih cepat

lelah karena kegiatan lebih tertumpu pada aktivitas otot. Hal senada diperkuat

oleh Colin Rose dalam bukunya yang berjudul Accelerated Learning. Femmy
Syahrani, (dalam K.U.A.S.A.I Lebih Cepat, Buku Pintar Accelerated Learning)

penerjemah buku Rose tersebut menjelaskan bahwa kemampuan membaca cepat

dapat dimiliki apabila seseorang membaca berdasarkan cara visual murni (1999:

68). Membaca berdasarkan cara visual murni dapat disamakan maknanya dengan

membaca tanpa bersuara (vokalisasi atau subvokalisasi).

Dijelaskan oleh Rose bahwa mata menerima informasi jauh lebih cepat daripada

telinga. Oleh karena itu, kita tidak boleh mendengar perkataan dalam benak kita

ketika kita sedang membaca. Apabila hal tersebut tetap kita lakukan berarti kita

benar-benaar telah melambatkan pembacaan kita. Kita hanya dapat mendengar

perkataan sekitar 250 kata per menit, tetapi kita dapat melihat kata dengan

kecepatan 2.000 kata per menit atau lebih. Hal sama dijelaskan juga oleh

Hernowo (editor) dalam Quantum Reading: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk

Merangsang Munculnya Potensi Membaca (2005: 142). Hal yang sama juga

terjadi pula ketika seseorang menggerakkan kepala dan menunjuk teks bacaan

dengan tangan. Hal ini disebabkan gerakan mata serta proses di otak jauh lebih

cepat daripada gerakan kepala dan tangan itu. Lebih lanjut Soedarso menjelaskan

bahwa kebiasaan-kebiasaan yang melibatkan fisik itu dapat diatasi bahkan

dihilangkan asalkan pada diri siswa kita latihkan cara-cara penanggulangannya.

Waktu yang kita gunakan untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan negatif

tersebut sekitar dua minggu.

Hambatan lain yang sulit diatasi adalah regresi atau mengulangi pembacaan

beberapa kata ke belakang. Ditegaskan lagi oleh Rose (dalam K.U.A.S.A.I Lebih

Cepat Pembelajaran Accelerated Learning, karya terjemahan Femy Syahrani)


bahwa dengan membaca ulang seperti itu berarti kecepatan membaca seseorang

akan terpotong sepertiganya (1999: 68). Hal sama dijelaskan oleh Hernowo

(editor) dalam Quantum Reading: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang

Munculnya Potensi Membaca (2005: 143).Kebiasaan regresi ini disebabkan

melamun atau kurang berkonsentrasi sewaktu membaca. Dengan kata lain, secara

mental siswa mengerjakan hal lain di tempat lain sementara ia sedang membaca di

sini. Kebiasaan beregresi akan dapat dihilangkan dengan memanfaatkan media

teks berjalan. Huruf-huruf yang cepat menghilang membuat siswa bergegas

menyelesaikan pembacaan sehingga mereka tidak berkesempatan melakukan

regresi (mengulang).

Dari paparan di atas dapat kita ambil simpulan tentang manfaat menggunakan

media pembelajaran teks berjalan. Dengan media teks berjalansecara langsug

atau tidak langsung beberapa kebiasaan salah tersebut akan dapat dihilangkan atau

paling tidak dikurangi. Dengan demikian diharapkan akan terjadi peningkatan

kemampuan membaca sekaligus peningkatan keberhasilan pembelajaran

membaca cepat.

1. B. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah penggunaan media

teks berjalan dalam pembelajaran membaca cepat dapat meningkatkan hasil

belajar siswa di SMP XXXXXXXXXX.


1 Subjek Penelitian25 3.2 Seting

Peneltian..25 3.3 Faktor yang

diteliti.25 3.4 Prosedur Penelitia