Anda di halaman 1dari 32

KODE ETIK PEMERIKSA BPK DAN

PERBANDINGANNYA DENGAN ETIKA PROFESIONAL


AKUNTAN PUBLIK (Dengan Kasus dan Artikel terkait)

Tugas Kelompok
Mata Kuliah: Audit Keuangan Negara Lanjutan
Dibimbing oleh:
Dr. Yuskar, S.E., MA, CA, Ak dan Nini Syofriyeni, SE, M.Si, CA, Ak

Oleh: Kelompok 3
Gina Havieza Elmizan 1520532042
Fajri Ardiansyah 1620532013

MAGISTER ILMU AKUNTANSI


KELAS AKUNTANSI PEMERINTAHAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2017
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki berbagai macam kementerian
untuk mengelola keuangan negara dari penerimaan pajak maupun non pajak.
Berbagai kementerian ini, yang mendapatkan pendanaan tersebut, perlu dikendalikan
setiap pemanfaatan dananya minimal sekali setahun. Hal ini merupakan perwujudan
dari tanggung jawab kementerian terhadap pemegang saham terbesar di negara ini,
yakni masyarakat NKRI. Melalui rapat evaluasi anggaran yang diadakan setiap tahun,
berbagai kementerian berusaha menunjukkan kemampuan pengelolaan dana
masyarakat di hadapan para wakil masyarakat di Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia (DPR RI).
Untuk membantu peran DPR RI dalam mengawasi pengelolaan dana
masyarakat NKRI, ia dibantu oleh badan independen, yakninya Badan Pemeriksa
Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) melalui Undang-Undang Nomor (UU No.)
15 tahun 2006. Dalam melaksanakan tugasnya, BPK RI mengacu pada standar
akuntansi dan juga kode etik yang telah disepakati bersama dengan Ikatan Akuntansi
Indonesia Kompartemen Akuntansi Sektor Publik (IAI-KASP). Ia dipercaya oleh
segenap akademisi, politisi, dan praktisi akuntansi untuk dapat membentuk suatu
standar penyusunan / pemeriksaan akuntansi pada sektor publik atau pemerintahan.
Dalam kaitan IAI-KASP dengan BPK RI, segenap anggota IAI KASP tidak
hanya menentukan berbagai standar akuntansi sektor publik, namun juga kode etik
profesional akutan sektor publik berserta profesi terkait seperti pendidik, auditor,
konsultan, serta seluruh penata keuangan di pemerintahan. Dalam melaksanakan
auditnya, BPK RI mengacu pada Peraturan BPK RI No. 2 tahun 2011 tentang Kode
Etik Badan Pemeriksa Keuangan. Akan tetapi, IAI-KASP pun melakukan
penyusunan kode etik akuntan publik, yang tentunya terdapat persamaan dan
perbedaan dengan kode etik BPK RI.
Kedua kode etik ini memiliki urgensi tujuan tersendiri, namun pada dasarnya
akan tetap memiliki nilai universal yang dapat menjadi pijakan keselarasan teori.
Pembahasan kode etik menjadi topik yang selalu dikemukakan saat terjadi
perselisihan antara fakta dan kondisi idealnya. Oleh karena itu, berdasarkan latar
belakang tersebut, pemakalah mengangkat judul Kode Etik Pemeriksa BPK dan

1
Perbandingannya Dengan Etika Profesional Akuntan Publik (Dengan Kasus dan
Artikel Terkait).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, pemakalah menulis rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana kode etik Pemeriksa BPK?
2. Bagaimana perbandingan kode etik tersebut dengan Etika Profesional
Akuntan Publik?
3. Bagaimana pembahasan kasus terkait dengan kode etik tersebut?
4. Bagaimana contoh artikel terkait dengan kode etik tersebut?

2
BAB II. LANDASAN TEORI

A. Kode Etik BPK RI


Kode etik BPK RI diatur dalam Peraturan BPK RI No. 2 tahun 2011.
Peraturan ini merupakan penggantu dari Peraturan BPK No. 2 tahun 2007 yang
dinyatakan sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan organisasi.
Peraturan tersebut merupakan turunan lanjutan dari Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) UU
No. 15 tahun 2006.
Peraturan BPK RI ini terdiri atas 7 bab dan 17 pasal serta penjelasan. Berikut
adalah susunan bab dan pasal dalam peraturan tersebut:
1. Bab I : Ketentuan Umum
a. Pasal 1: Berisi penjelasan-penjelasan mengenai definisi 12 istilah yang ada
dan akan disebut berulang kali dalam peraturan ini. Istilah-istilah tersebut
terdiri atas:
(iiv) Pihak-pihak terkait : Badan Pemeriksa Keuangan, Anggota BPK,
Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya
(v-vi) Tindakan/Dokumen sesuai Tugas BPK RI : Pemeriksaan dan
Hasil Pemeriksaan
(vii-xii) Koridor/Prinsip Kerja BPK RI : Kewajiban, Larangan, Integritas,
Independensi, Profesionalisme, dan Kode Etik BPK
2. Bab II : Tujuan dan Ruang Lingkup
a. Pasal 2: Tujuan dari kode etik ini adalah untuk memberikan pedoman yang
wajib ditaati oleh Anggota BPK, Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya
untuk mewujudkan BPK yang berintegritas, independen, dan profesional
demi kepentingan negara.
b. Pasal 3: Kode Etik ini berlaku bagi Anggota BPK, Pemeriksa, dan
Pelaksana BPK Lainnya.
3. Bab III
a. Pasal 4: Terdiri atas 2 ayat, yang membahas mengenai Nilai Dasar yang
menjadi acuan kode etik, yakni integritas, independensi dan profesionalime.
b. Pasal 5: menjelaskan bagaimana perwujudan kode etik dalam sikap, ucapan,
dan perbuatan Anggota BPK, Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya, di

3
kehidupan sehari-hari, selaku individu, anggota masyarakat ataupun warga
negara.
4. Bab IV: bab ini memiliki 4 bagian, yakni:
a. Bagian Kesatu: berisi tentang kewajiban dan larangan untuk anggota BPK,
pemeriksa, dan pelaksana BPK lainnya, selaku individu dan anggota
masyarakat
(1) Anggota BPK, Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya wajib:
(a) mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap
manusia;
(b) menghormati perbedaan dan menjaga kerukunan hidup
bermasyarakat;
(c) bersikap jujur dan bertingkah laku sopan; dan
(d) menjunjung tinggi nilai moral yang berlaku dalam masyarakat.
(2) Anggota BPK, Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya dilarang:
(a) menunjukkan keberpihakan dan dukungan kepada kegiatan-
kegiatan politik praktis;
(b) memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain dan/atau
masyarakat;
(c) melakukan kegiatan baik secara sendiri-sendiri maupun dengan
orang lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan
keuangan negara; dan
(d) melakukan kegiatan yang dapat menguntungkan kelompoknya
dengan memanfaatkan status dan kedudukannya baik langsung
maupun tidak langsung.
b. Bagian Kedua: berisi kewajian dan larangan bagi Anggota BPK, Pemeriksa,
dan Pelaksana BPK Lainnya Selaku Warga Negara
(1) Anggota BPK, Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya wajib:
(a) mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia Tahun 1945 serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
(b) mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
dan
(c) menjaga nama baik, citra, dan kehormatan bangsa dan negara.
(2) Anggota BPK, Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya dilarang:
4
(a) menjadi anggota organisasi yang dinyatakan dilarang secara sah di
wilayah Republik Indonesia dan organisasi lain yang
menimbulkan keresahan masyarakat; dan
(b) menjadi perantara dalam pengadaan barang dan/atau jasa di
lingkungan pemerintah.
c. Bagian Ketiga: berisikan kewajiban dan larangan bagi Anggota BPK selaku
Pejabat Negara
(1) Anggota BPK selaku Pejabat Negara wajib:
(a) melaksanakan sumpah atau janji yang diucapkan ketika mulai
memangku jabatannya;
(b) menjaga rahasia negara atau rahasia jabatan;
(c) mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi,
seseorang, dan/atau golongan;
(d) menghindari terjadinya benturan kepentingan;
(e) menunjukkan sikap kemandirian dalam pengambilan keputusan;
(f) bertanggung jawab, konsisten, dan bijak; dan
(g) menerapkan secara maksimal prinsip tata kelola pemerintahan
yang baik dan bersih.
(2) Anggota BPK selaku Pejabat Negara dilarang:
(a) memanfaatkan status, kedudukan, dan peranannya selaku pejabat
negara untuk kepentingan pribadi, seseorang, dan/atau golongan;
(b) memanfaatkan hasil pemeriksaan untuk kepentingan pribadi,
seseorang, dan/atau golongan;
(c) memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi,
seseorang, dan/atau golongan;
(d) menjalankan pekerjaan dan profesi lain yang dapat mengganggu
independensi, integritas, dan profesionalismenya selaku Anggota
BPK;
(e) mengungkapkan temuan pemeriksaan yang masih dalam proses
penyelesaian kepada pihak lain di luar BPK;
(f) mempublikasikan hasil pemeriksaan sebelum diserahkan kepada
lembaga perwakilan;
(g) memberikan asistensi dan jasa konsultasi terhadap kegiatan entitas
yang menjadi obyek pemeriksaan; dan
5
(h) memerintahkan dan/atau mempengaruhi dan/atau mengubah
temuan pemeriksaan, opini, kesimpulan, dan rekomendasi hasil
pemeriksaan yang tidak sesuai dengan fakta dan/atau bukti-bukti
yang diperoleh pada saat pemeriksaan, sehingga temuan
pemeriksaan, opini, kesimpulan, dan rekomendasi hasil
pemeriksaan menjadi tidak obyektif.
d. Bagian Keempat: berisi kewajiban dan larangan bagi Pemeriksa dan
Pelaksana BPK Lainnya selaku Aparatur Negara
(1) Pemeriksa dan Pelaksana BPK Lainnya selaku Aparatur Negara
wajib:
(a) bersikap jujur, tegas, bertanggung jawab, obyektif, dan konsisten
dalam mengemukakan pendapat berdasarkan fakta pemeriksaan;
(b) menjaga kerahasiaan hasil pemeriksaan kepada pihak yang tidak
berkepentingan;
(c) mampu mengendalikan diri dan bertingkah laku sopan, serta saling
mempercayai untuk mewujudkan kerja sama yang baik dalam
pelaksanaan tugas;
(d) menunjukkan sikap kemandirian dalam melaksanakan tugas
pemeriksaan, menghindari terjadinya benturan kepentingan;
(e) menyampaikan hasil pemeriksaan yang mengandung unsur pidana
sesuai dengan prosedur kepada Pimpinan BPK;
(f) melaksanakan tugas pemeriksaan secara cermat, teliti, dan akurat
sesuai dengan standar dan pedoman yang telah ditetapkan;
(g) memberikan kesempatan kepada pihak yang diperiksa untuk
menanggapi temuan dan kesimpulan pemeriksaan serta
mencantumkannya dalam laporan hasil pemeriksaan;
(h) meningkatkan pengetahuan dan keahliannya; dan
(i) melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar dan pedoman
pemeriksaan.
(2) Pemeriksa dan Pelaksana BPK Lainnya selaku Aparatur Negara
dilarang:
(a) meminta dan/atau menerima uang, barang, dan/atau fasilitas
lainnya baik langsung maupun tidak langsung dari pihak yang
terkait dengan pemeriksaan;
6
(b) menyalahgunakan dan melampaui wewenangnya baik sengaja atau
karena kelalaiannya;
(c) menghambat pelaksanaan tugas pemeriksaan untuk kepentingan
pribadi, seseorang, dan/atau golongan;
(d) memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan
atau jabatannya untuk kepentingan pribadi, seseorang, dan/atau
golongan;
(e) memaksakan kehendak pribadi kepada pihak yang diperiksa;
(f) menjadi anggota/pengurus partai politik;
(g) menjadi pengurus yayasan, dan/atau badan-badan usaha yang
kegiatannya dibiayai anggaran negara;
(h) memberikan asistensi atau jasa konsultasi atau menjadi
narasumber dalam bidang pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara;
(i) mendiskusikan pekerjaannya dengan pihak yang diperiksa di luar
kantor BPK atau di luar kantor atau area kegiatan obyek yang
diperiksa;
(j) melaksanakan pemeriksaan terhadap pejabat pengelola keuangan
negara yang memiliki hubungan pertalian darah dan semenda
sampai derajat ketiga;
(k) melaksanakan pemeriksaan pada obyek dimana Pemeriksa pernah
bekerja selama 2 (dua) tahun terakhir;
(l) merubah tujuan dan lingkup pemeriksaan yang telah ditetapkan
dalam program pemeriksaan tanpa persetujuan Penanggung Jawab
Pemeriksaan;
(m) mengungkapkan laporan hasil pemeriksaan atau substansi hasil
pemeriksaan kepada media massa dan/atau pihak lain, tanpa ijin
atau perintah dari Anggota BPK;
(n) mengubah temuan atau memerintahkan untuk mengubah temuan
pemeriksaan, opini, kesimpulan, dan rekomendasi hasil
pemeriksaan yang tidak sesuai dengan fakta dan/atau bukti bukti
yang diperoleh pada saat pemeriksaan, opini, kesimpulan, dan
rekomendasi hasil pemeriksaan menjadi tidak obyektif; dan
(o) mengubah dan/atau menghilangkan bukti hasil pemeriksaan.
7
5. Bab V: bab ini berisi tentang hukuman kode etik, yang memuat berbagai potensi
pelanggaran kode etik dan hukuman yang sesuai. Bab ini terdiri atas tiga bagian,
dari pasal 10-14.

6. Bab VI: bab ini mengenai ketentuan peralihan, yang terdapat pada Pasal 15. Isi
pasal tersebut adalah mengenai pelaporan indikasi pelanggaran dan tahap apa
yang diterapkan sesuai peraturan ini, termasuk keberadaan Majelis Kehormatan
Kode Etik BPK RI
7. Bab VII: berisikan ketentuan penutup. Pasal 16 berisikan pencabutan Peraturan
BPK yang lama yakni No. 2 tahun 2007. Pasal 17 menegaskan waktu awal
penerapan peraturan ini adalah sejak ditandatangani/disahkan, yaitu 7 Oktober
2011.

B. Etika Profesional Akuntan Publik menurut Kode Etik IAI-KASP


Aturan etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen
Akuntan Sektor Publik (IAI-KASP) penting bagi setiap profesional di bidang
akuntansi sektor publik. Perilaku Etis Auditor diatur dengan Prinsip Dasar berikut:
1. Integritas
Dengan integritas, profesi auditor akan dapat dipercayai untuk menjunjung tinggi
kebenaran dan kejujuran, serta bertindak adil berdasarkan kebenaran.
2. Objektivitas
Prinsip ini mewajibkan auditor untuk tidak memihak, sehingga dapat menjaga
independensi profesinya. Selain itu, prinsip objektifitas mejadi dasar bagi auditor
untuk mengambil keputusan berdasarkan seluruh bukti yang tersedia, dan bukan
karena pengaruh, pendapat atau prasangka pribadi maupun dari orang lain.
3. Kompetensi dan Kehati-hatian
Kompetensi auditor diharapkan dapat melakukan suatu audit dengan memiliki
dasar keilmuan dan pengalaman yang diperlukan, atau jika menggunakan
bantuan tenaga ahli, harus melaksanakan tugasnya secara hati-hati dan teliti.
4. Kerahasiaan
Auditor diharapkan dapat menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperolehnya
dalam melakukan tugasnya. Kerahasiaan harus dijaga sampai kapanpun bahkan
ketika auditor telah berhenti berkerja pada instasinya, kecuali jika ada kasus
hukum yang mewajibkan informasi tertentu dari auditor tersebut.
8
5. Ketepatan Bertindak
Auditor diharuskan untuk bertindak dengan tepat untuk mempertahankan
reputasinya secara pribadi ataupun kelembagaan. Selain itu, profesi akuntan
sektor publik diharapkan dapat menahan diri dari tindakan yang dapat
mendiskreditkan lembaga profesi atau dirinya sebagai auditor profesional.
6. Standar Teknis dan Profesional
Auditor harus melakukan audit sesuai dengan standar audit yang berlaku, yang
meliputi standar teknis dan professional yang relevan yang ditetapkan oleh Ikatan
Akuntan Indonesia dan Pemerintah Republik Indonesia.

Selain ke enam prinsip dasar di atas, berikut adalah panduan umum lainnya
pada Aturan Etika IAI-KASP:

1. Governance
Auditor diharapkan mendukung penerapan good governance pada organisasi atau
instansi tempay ia bekerja, yang meliputi prinsip: tidak mementingkan diri sendiri,
integritas, objektivitas, akuntabilitas, keterbukaan, kejujuran, dan kepemimpinan.
2. Pertentangan Kepentingan
Beberapa hal yang dapat mengindikasikan adanya pertentangan kepentingan yang
dihadapi oleh sector publik, seperti:
a. Adanya tekanan dari atasan/rekan kerja
b. Adanya tekanan dari pihak luar seperti keluarga atau relasi
c. Adanya tuntutan untuk bertindak yang tidak sesuai dengan standar
d. Adanya tuntutan loyalitas kepada organisasi / atasan yang bertentangan
dengan standar profesi
e. Adanya publikasi informasi yang bias sehingga menguntungkan instansinya
f. Adanya peluang untuk memperoleh keuntungan pribadi atas beban instansi
tempat ia bekerja/auditee
3. Fasilitas & Hadiah
Auditor dapat menerima fasilitas/hadiah dari pihak-pihak yang memiliki/akan
memiliki hubungan kontraktual dengannya dengan mengacu dan memperhatikan
seluruh peraturan perundang-undangan mengenai tindak pidana korupsi, dengan
melakukan tindakan-tindakan berikut:
a. Menerima fasilitas/hadiah yang normal dan masuk akal

9
b. Meyakinkan diri bahwa besarnya pemberian tidak menimbulkan persepsi
masyarakat bahwa auditor akan terpengaruh oleh pemberian tersebut.
c. Mencatat semua tawaran pemberian fasilitas/hadiah yg diterima dan ditolak
dan melaporkan catatan tersebut
d. Menolak tawaran-tawaran fasilitas/hadiah yang meragukan

4. Pemberlakuan Aturan Etika bagi Auditor yang Bekerja di Luar Negeri


Pada dasarnya auditor harus menerapkan aturan yang paling keras apabila auditor
dihadapkan pada dua aturan berbeda yang berlaku ketika ia bekerja di luar negeri,
yaitu aturan etika profesinya di Indonesia dan aturan etika yang berlaku di luar
negeri.

C. Perbandingan Kode Etik BPK RI dengan Etika Profesional Akuntan Publik menurut
IAI-KASP
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kode etik BPK RI dan pedoman
etika profesional menurut IAI-KASP memang terlihat berbeda secara kasat mata.
Kode etik BPK RI merunut secara jelas dan rinci mengenai apa saja perilaku yang
didukung secara etis, dan apa saja perilaku yang dikatakan non etis. Sedangkan kode
etika profesional akuntan publik menurut IAI-KASP memberi koridor etis melalui
prinsip dasar yang bersifat universal. Dengan kata lain, lebih tepat dikatakan bahwa
peraturan kode etik BPK RI lebih bersifat rule-based, sedangkan prinsip dasar etika
menurut IAI-KASP bersifat lebih principal-based. Sifat dasar aturan ini yang menjadi
dasar rasional bahwa peraturan etika BPK RI lebih runut dan ramai memperlihatkan
tindakan mana yang etis ataupun tidak. Sedangkan prinsip dasar etika menurut IAI-
KASP memberikan koridor tindakan yang lebih luas, asalkan tidak melanggar
prinsip-prinsip tersebut.
Secara strukturnya, peraturan BPK RI no. 2 tahun 2011 terlebih dahulu
menjelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam usaha penegakan etika profesional
akuntan publik pada peran BPK RI sebagai auditor, sebagai anggota masyarakat,
sebagai perjabat publik dan sebagai aparatur negara. Berbeda dengan prinsip etika
profesional akuntan publik IAI-KASP secara lebih umum, tidak membatasi peran
akuntan sektor publik namun lebih membebaskan para profesional untuk bertindak,
asalkan tidak melanggar hal-hal prinsip. Prinsip dasar yang enam tersebut (yakni
integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian, kerahasiaan, ketepatan
1
0
bertindak, serta standar teknis dan profesional) dilengkapi dengan prinsip umum
tambahan sejumlah empat (yakni governance, pertentangan kepentingan, fasilitas &
hadiah, dan pemberlakuan aturan etika bagi auditor yang bekerja di luar negeri)
menjadi koridor untuk setiap anggota IAI-KASP dalam beretika.
Selain luasnya cakupan aturan dan sifat dari aturan yang diterbitkan tersebut,
kedua aturan ini berbeda dari keanggotaan yang diwajibkan untuk mematuhi aturan
tersebut. Anggota BPK RI yang sangat terikat dengan peraturan kode etik adalah
aparatur negara, yang mana ia harus bertanggung jawab atas hasil pemeriksaannya di
hadapan wakil rakyat. Di lain pihak, anggota IAI-KASP tidak hanya mengatur auditor
negara yang ada di BPK RI, namun termasuk keseluruhan anggota IAI-KASP yang
berada di lingkup akademis, profesional, ataupun konsultan. Dengan demikian,
cakupan IAI-KASP yang lebih luas menjadikan aturan etisnya pun bersifat sangat
luas dan umum agar dapat diterapkan secara bersama.
Perbedaan kedua aturan tersebut juga terdapat pada sifat penegakannya.
Peraturan kode etik BPK RI bersifat mengikat dan memaksa. Hal ini dikarenakan
oleh sifat badan BPK RI sendiri, yang merupakan bagian resmi dari aparatur negara
yang harus mempertanggungjawabkan hasil kerjanya di hadapan wakil rakyat.
Sehingga, aturan kode etik tersebut juga mewajibkan adanya Majelis Kehormatan
BPK RI, yang akan menjadi pengawas pelaksanaan tugas BPK RI dari segi etisnya.
Aturan ini juga merupakan bagian dari dasar hukum yang kuat untuk menjadi bahan
pertanggungjawaban di mata hukum dan kepercayaan publik.
Untuk prinsip dasar etika profesional menurut IAI-KASP, aturan kode etiknya
tidak memberikan aturan hukum secara kuat. Hal ini karena sifat dari badan IAI-
KASP yang tidak berpayung hukum. Keanggotaan IAI-KASP mengikat secara
profesional, bahwa setiap profesi akuntan sektor publik (baik di dunia akademis,
profesional ataupun konsultan) menyepakati prinsip-prinsip dasar tersebut.
Pelanggaran atas kode etik IAI-KASP tidak berpayung hukum kuat, namun lebih
berasaskan ke kepercayaan publik.
Untuk persamaan kedua aturan ini, dapat dilihat dari tujuannya. Peraturan
Kode Etik BPK RI bertujuan untuk mengatur tindakan aparat di BPK RI agar lebih
etis dan mampu menegakkan martabat dan tingkat kepercayaan publik terhadap
aparatur negara. Di lain pihak, prinsip dasar dan prinsip tambahan pada kode etik IAI-
KASP mengikat pada tindakan setiap profesional akuntan sektor publik dengan tujuan

1
1
yang sama pula, yakni untuk meningkatkan martabat dan tingkat kepercayaan publik
terhadap profesi akuntan sektor publik di setiap lini masyarakat.

BAB III. JURNAL DAN ARTIKEL

A. Contoh Jurnal Terkait Kode Etik Akuntan

PENGARUH INDEPENDENSI, PROFESIONALISME,


STRUKTUR AUDIT, DAN ROLE STRESS TERHADAP
KINERJA AUDITOR BPK RI PERWAKILAN PROVINSI BALI

I Gede Bandar Wira Putra1


Dodik Ariyanto2

PENDAHULUAN

Pengelolaan keuangan negara yang dilakukan dengan baik akan

berdampak pada suksesnya pembangunan nasional. Demi tercapainya hal tersebut,

pengawasan terhadap pengelolaan keuangan negara harus terbebas dari

penyimpangan dan berjalan sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Badan

Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) merupakan lembaga

independen yang memiliki tanggung jawab dalam pengawasan pengelolaan

keuangan negara. UU Nomor 15 tahun 2006 menyebutkan bahwa korupsi, kolusi

dan nepotisme dapat diatasi melalui lembaga yang independen dalam

melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara. Sampai tahun 2012

1
2
Kemendagri mencatat sedikitnya 173 kepala daerah tingkat I dan tingkat II di

Indonesia terbelit perkara korupsi (http://situs-berita-terbaru.blogspot.com).

Banyaknya kasus korupsi, membuat masyarakat menuntut BPK RI meningkatkan

kinerjanya untuk dapat menindaklanjuti penyimpangan terhadap anggaran negara.

Beberapa fenomena independensi auditor BPK saat ini tengah menjadi perhatian

di masyarakat. Kasus suap terhadap auditor BPK RI Jawa Barat oleh pejabat

Pemerintah Kota Bekasi dan kasus suap BPK RI Sulawesi Utara oleh walikota

Tomohon merupakan tindakan yang tidak etis sehingga membuat auditor BPK RI

diragukan independensinya. Fenomena tersebut mendorong peneliti

untuk meneliti kembali variabel independensi terhadap kinerja auditor.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, rumusan masalah

penelitian ini antara lain.

1) Apakah independensi secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja

auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali?

2) Apakah profesionalisme secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja

auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali?

3) Apakah struktur audit secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja

auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali?

4) Apakah konflik peran secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kinerja

auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali?

5) Apakah ketidakjelasan peran secara signifikan berpengaruh negatif terhadap

kinerja auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali?

1
3
Pernyataan standar umum kedua dalam SPKN menyebutkan organisasi

pemeriksa dan pemeriksa harus mempertahankan independensinya saat

melakukan audit. Hal ini dilakukan agar pendapat audit dan rekomendasi yang

diberikan atas hasil pemeriksaan tidak memihak pada pihak manapun. Dari

pernyataan tersebut terlihat bahwa independensi menghasilkan pemeriksaan

auditor yang terbebas dari pengaruh pihak manapun. Penelitian yang dilakukan

oleh Nurmala (2008), Wibowo (2009), dan Shinta (2011) menunjukkan bahwa

independensi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Berdasarkan

penjelasan diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H1: Independensi secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

Tanggung jawab pemeriksa dalam Pendahuluan Standar Pemeriksaan

SPKN menyatakan pemeriksa harus mempertahankan profesionalisme dalam

melayani kepentingan publik. Dengan demikian, pelaksanaan pemeriksaan

keuangan dengan sikap profesional akan meningkatkan kinerja auditor BPK RI.

Penelitian yang dilakukan oleh Pawitra (2010) dan Ristya (2011) menunjukkan

Profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja auditor BPK RI.

Berdasarkan hal ini sebaiknya pihak BPK RI memberikan perhatian kepada

variabel profesionalisme auditor. Berdasarkan penjelasan diatas dapat dirumuskan

hipotesis sebagai berikut.

H2 : Profesionalisme secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja

auditor.

Struktur audit membantu auditor dalam melakukan audit lebih terarah,

sehingga dapat meningkatkan kinerja auditor. Staf audit yang tidak mengetahui

1
4
struktur audit akan mengalami kesulitan dalam audit. Hal ini mempengaruhi

koordinasi sehingga dapat mengganggu kinerja auditor. Hasil penelitian Fanani

(2008) dan Eriani (2010) menunjukkan bahwa Kantor Akuntan Publik yang

menggunakan struktur audit meningkatkan kinerja auditor. Berdasarkan

penjelasan diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H3 : Struktur Audit secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

Menurut Fanani (2008), konflik peran timbul karena peran dalam organisasi

bertentangan dengan etika profesional yang ada. Perintah yang bertentangan

dengan etika profesional membuat dilema karena individu harus memilih salah

satunya untuk dilaksanakan. Konflik peran menimbulkan rasa tidak nyaman

dalam bekerja sehingga kinerja akan menurun. Hasil penelitian Wilay (1987)

menunjukkan konflik peran berhubungan dengan hasil pekerjaan. Selanjutnya

Fisher (2001) melakukan penelitian dan hasilnya menunjukkan konflik peran

berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor dan kepuasan kerja. Hasil ini

didukung penelitian Fanani (2008), Agustina (2009) dan Lutfi (2011) yang

menunjukkan konflik kerja berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H4 : Konflik Peran secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor.

Menurut Senatra (1980), Ketidakjelasan peran terjadi apabila pekerja tidak

dapat melaksanakan perannya akibat kurangnya informasi mengenai peran

tersebut (Senatra, 1980). Penelitian yang dilakukan Fried (1998), Fisher (2001),

Agustina (2009) dan Lutfi (2011) menunjukkan bahwa ketidakjelasan peran

berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor. Ketidakjelasan peran menimbulkan

1
5
penurunan motivasi kerja sehingga dapat menurunkan kinerja auditor.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H5 : Ketidakjelasan Peran secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kinerja

auditor

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali JL. D.I

Panjaitan, Renon, Denpasar.

Populasi dan Sampling

Populasi yang digunakan adalah auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali yang

masih bekerja di tahun 2012 yaitu sebanyak 41 auditor. Penelitian ini menggunakan

seluruh populasi yang ada atau menggunakan metode sampel jenuh dipertimbangkan

dari ketersediaan waktu dan jumlah yang memungkinkan untuk dilakukan penelitian

secara keseluruhan.

Tabel 1 Profil Responden

Jabatan Fungsional Auditor Jumlah (orang) Persentase


Auditor Ahli Muda 16 39,03%
Auditor Terampil 6 14,63%
Auditor Ahli Pertama 19 46,34%
Total 41 100%
Sumber : BPK RI Perwakilan Provinsi Bali 2012.

Sumber Data

Data primer yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu hasil kuesioner dan

struktur organisasi BPK RI Perwakilan Provinsi Bali sedangkan data sekunder yang

digunakan yaitu jumlah auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali.

16
Instrumen Penelitian

Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan

kuesioner yang disebar langsung ke Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali.

Teknik Analisis Data

Pengujian diawali dengan menguji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen

penelitian yang digunakan. Menurut Sugiyono (2009:178), nilai pearson corellation

positif dan lebih dari 0,30 dengan tingkat signifikansi 0,05 maka instrumen dinilai

valid. Ghouzali (2011:147) menyatakan instrumen yang diuji menggunakan uji

statistik Cronbach Alpha mendapatkan nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,70

maka instrumen dinilai reliabel. Setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas,

dilakukan uji asumsi klasik untuk membuktikan data terbebas dari masalah

normalitas, heteroskedastisitas, dan multikolinearitas.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan regresi linear berganda dengan

persamaan sebagai berikut.

= + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 4X4 + 5X5 + ................................................. (1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Responden Penelitian

Dari 41 kuesioner yang disebarkan, jumlah kuesioner yang digunakan dalam

penelitian ini adalah 37 buah, sedangkan 4 buah kuesioner tidak digunakan karena

tidak lengkap diisi. Ringkasan kuesionar penelitian dapat dilihat pada Tabel berikut.

Analisis Model Regresi

Hasil regresi menunjukkan nilai Adjusted R2 = 0,783 = 78,3 persen. Hal ini

berarti bahwa 78,3 persen variasi dari variabel kinerja auditor BPK RI Perwakilan

Provinsi Bali dipengaruhi oleh variabel independensi, profesionalisme, struktur audit,

17
konflik peran dan ketidakjelasan peran. Sedangkan sisanya sebesar 21,7 persen

dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

Hasil regresi juga menunjukkan nilai Fhitung = 26,229 yang berarti lebih besar

dari Ftabel = (0,05)(5)(30) = 2,53 dan tingkat signifikansi dari uji F sebesar 0,000 yang

berarti lebih kecil dari 5% sehingga mengindikasikan variabel independensi,

profesionalisme, struktur audit, konflik peran dan ketidakjelasan peran berpengaruh

secara serempak terhadap kinerja auditor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali pada

tingkat signifikansi 5%.

Pengujian Hipotesis

1) Uji H1 : Independensi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

Hasil penelitian ini menunjukkan nilai signifikansi t pada variabel independensi

sebesar 0,000 yang berarti dibawah 5 persen dan thitung = 4,095 > ttabel = 1,70 sehingga

hipotesis pertama diterima. Diterimanya hipotesis menunjukkan penelitian ini

mendukung independensi secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja

auditor. independensi auditor BPK RI yang

dijunjung tinggi akan membuat kinerja auditor lebih baik dalam melaksanakan

kewajibannya mengawasi pengelolaan keuangan negara. Hasil ini mendukung hasil

penelitian Nurmala (2008), Wibowo (2009), Purba (2009) dan Shinta (2011) yang

menunjukkan bahwa independensi auditor berpengaruh positif terhadap kinerja

auditor.

2) Uji H2 : Profesionalisme berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

Hasil penelitian ini menunjukkan nilai signifikansi t pada variabel

profesionalisme sebesar 0,238 yang berarti diatas 5 persen dan thitung = 1,203 < ttabel =

1,70 sehingga hipotesis kedua ditolak. Dengan demikian penelitian ini tidak dapat

menunjukkan pengaruh profesionalisme secara signifikan terhadap kinerja auditor.

18
Hasil ini mendukung hasil penelitian Ariani (2009) dan Rahayu (2012) yang

menunjukkan bahwa profesionalisme tidak terbukti berpengaruh terhadap kinerja

auditor.

Menurut Sejati (2007), salah satu kriteria profesionalisme auditor adalah

ketepatan waktu. Jika laporan keuangan tidak dapat diselesaikan tepat waktu, maka

informasi dalam laporan keuangan tersebut tidak akan dapat memberikan manfaat

secara maksimal. Standar audit yang dilaksanakan sepenuhnya berdampak pada

bertambahnya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan laporan keuangan.

Laporan audit yang dilaporkan tidak tepat pada waktunya dapat berpengaruh pada

menurunnya profesionalisme auditor. Kondisi ini dapat muncul sewaktu-waktu dan

menimbulkan dilema bagi auditor untuk memilih antara laporan audit yang berkualitas

dan laporan audit yang tepat pada waktunya. Hal tersebut membuat profesionalisme

tidak terbukti berpengaruh terhadap kinerja

auditor. Standar umum dalam SPKN menyatakan menerapkan kemahiran profesional

secara cermat dan seksama memungkinkan pemeriksa untuk mendapatkan keyakinan

yang memadai bahwa salah saji material atau ketidakakuratan yang signifikan dalam

data akan terdeteksi. Keyakinan mutlak tidak dapat dicapai karena sifat bukti dan

karakteristik penyimpangan. Pemeriksaan yang dilaksanakan menurut Standar

Pemeriksaan mungkin tidak akan mendeteksi salah saji material atau ketidakakuratan

yang signifikan, baik karena kesalahan, kecurangan, tindakan melanggar hukum, atau

pelanggaran aturan. Pernyataan tersebut mengindikasikan keyakinan yang didapatkan

auditor dari profesionalisme belum tentu dapat mendeteksi salah saji material atau

ketidakakuratan dalam laporan keuangan sehingga profesionalisme auditor belum

dapat dibuktikan pengaruhnya terhadap kinerja auditor BPK RI Perwakilan Provinsi

Bali.

19
3) Uji H3 : Struktur audit berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

Hasil penelitian ini menunjukkan nilai signifikansi t pada variabel struktur audit

sebesar 0,040 yang berarti dibawah 5 persen dan thitung = 2,148 > ttabel = 1,70 sehingga

hipotesis ketiga diterima. Diterimanya hipotesis menunjukkan penelitian ini

mendukung struktur audit secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja

auditor. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Fanani (2008) dan Eriani (2010)

yang menunjukkan bahwa struktur audit berpengaruh positif terhadap kinerja auditor.

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara telah menjelaskan bagaimana langkah-

langkah penentuan audit dan prosedur rangkaian logis dalam melaksanakan audit

atas laporan keuangan negara. Prosedur audit yang sistematis dan rinci membantu

auditor dalam melaksanakan audit sehingga struktur audit terbukti membantu auditor

BPK RI dalam meningkatkan kinerjanya

4) Uji H4 : Konflik peran berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor.

Hasil penelitian ini menunjukkan nilai signifikansi t pada variabel konflik peran

sebesar 0,011 yang berarti dibawah 5 persen dan thitung = -2,705 < -ttabel = - 1,70

sehingga hipotesis keempat diterima. Diterimanya hipotesis menunjukkan penelitian

ini mendukung konflik peran secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kinerja

auditor. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Fisher (2001), Fanani (2008),

Agustina (2009) dan Lutfi (2011) yang menunjukkan bahwa konflik peran

berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor. Peran ganda dalam BPK RI dapat terjadi

akibat perannya profesinya yang diatur oleh kode etik dan standar profesi dan disisi

lain sebagai anggota organisasi yang patuh pada wewenang dan kebijakan organisasi.

Terjadinya konflik antara kedua peran tersebut dapat menurunkan kinerja auditor BPK

RI.

5) Uji H5 : Ketidakjelasan peran berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor.

20
Hasil penelitian ini menunjukkan nilai signifikansi t pada variabel

ketidakjelasan peran sebesar 0,153 yang berarti diatas 5 persen dan thitung = - 1,465 > -

ttabel = -1,70 sehingga hipotesis kelima ditolak. Dengan demikian, penelitian ini teidak

dapat menunjukkan pengaruh ketidakjelasan peran secara signifikan terhadap kinerja

auditor. Hasil ini mendukung penelitian Fanani (2008) dan Wisesa (2011) yang

menunjukkan bahwa ketidakjelasan peran tidak berpengaruh signifikan terhadap

kinerja auditor. Peran auditor BPK RI telah jelas diungkapkan dalam setiap

perundang-undangan yang ada. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun

2006 telah menjelaskan kedudukan, tugas, dan wewenang auditor BPK RI sedangkan

Peraturan BPK RI no 2 Tahun 2007 Tentang Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan

telah menjelaskan kewajiban dan tanggung jawab auditor BPK RI. Hal ini membuat

ketidakjelasan peran tidak terjadi diantara auditor BPK RI sehingga penelitian ini

menunjukkan tidak adanya pengaruh ketidakjelasan peran terhadap kinerja auditor

BPK RI Perwakilan Provinsi Bali.

SIMPULAN DAN SARAN

Hasil dari penelitian ini menunjukkan variabel independensi dan struktur audit

secara signifikan berpengaruh positif terhadap kinerja auditor, variabel konflik peran

secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor, sedangkan

profesionalisme dan ketidakjelasan peran tidak terbukti berpengaruh secara signifikan

terhadap kinerja auditor.

Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan auditor BPK RI Perwakilan

Provinsi Bali lebih meningkatkan independensinya, menerapkan struktur audit dengan

lebih baik, serta menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan adanya konflik peran

sehingga meningkatkan kinerja auditor BPK RI. Keterbatasan dalam penelitian ini

adalah hanya mengambil obyek yang terbatas yaitu di Kantor BPK RI Perwakilan

21
Provinsi Bali. Penelitian selanjutnya dapat digeneralisasi dengan meneliti seluruh

Kantor BPK RI di Indonesia.

B. Contoh Artikel Terkait Kode Etik Akuntan Sektor Publik

ETHICAL CODE IN THE PUBLIC ACCOUNTING PROFESSION

Anton Jamnik

Theology Faculty of University in Ljubljana, Slovenia

Introduction

Kode Perilaku Profesional American Institute of Certified Public Accountants (AICPA)


adalah sumber utama panduan untuk akuntan dalam praktik publik. Kode serupa,
dikeluarkan oleh Institute of Management Accountants (IMA) dan Institute of Internal
Auditor (IIA), mengatur akuntan dan auditor dalam praktik swasta. Kode AICPA
(selanjutnya disebut Kode Etik) dirancang untuk melayani banyak tujuan:

1. Pesan bahwa CPA profesional memiliki kewajiban untuk melayani masyarakat (Collins &
Schulz, 1995)

2. Suatu cara untuk menganugerahkan legitimasi ke badan profesional, yaitu AICPA (Preston
et al., 1995)

3. Melindungi kepentingan umum atau klien di mana profesional memberikan layanan khusus
yang tidak dapat diukur atau dinilai dengan mudah sesuai kualitasnya (Preston et al., 1995,
hal 508; Neale, 1996)

4. Menyediakan mekanisme penyaringan untuk membatasi jumlah profesional bagi mereka


yang bersedia dan mampu mematuhi Kode Etik dan tidak menarik bagi mereka yang tidak
mematuhinya (Neale, 1996).

Dalam sisa bab ini, pertama, kita membahas secara singkat jenis layanan yang disediakan
oleh CPA. Yang sangat penting dalam pembahasan etika adalah layanan audit etika sebagai
area yang berkembang. layanan jaminan yang perusahaan akuntan publik mulai tawarkan
dalam beberapa tahun terakhir. Kedua, kami memberikan diskusi singkat tentang Pedoman
Perilaku Profesional AICPA dengan fokus pada prinsip-prinsipnya, namun juga contoh
peraturannya. Ketiga, program penegakan etika profesional yang rumit dibahas, di mana
kasus ilustratif dan statistik deskriptif tentang tindakan disiplin AICPA selama periode 20

22
tahun disediakan. Bab ini diakhiri dengan bagian penutup dimana beberapa pengamatan
tentang masalah etika kontroversial yang dihadapi profesi dibahas.

Jasa Akuntansi Publik

Berbagai bidang layanan yang disediakan oleh CPA dalam praktik publik dengan beberapa
penekanan pada layanan audit etika. CPA dalam praktik publik menyediakan layanan ini:

1. Audit services

2. Compilation and review services

3. Attestation services

4. Management advisory services, including internal audit services

5. Tax services

6. Assurance services, including ethics audit services

Tujuan dari layanan audit adalah untuk menambahkan kredibilitas laporan


keuangan klien dengan mengeluarkan laporan mengenai penyajian laporan keuangan secara
keseluruhan.

Kompilasi adalah penyajian informasi keuangan, berupa laporan keuangan, tanpa


CPA yang mengungkapkan pendapat mereka. Sebuah kajian dimana CPA hanya melakukan
prosedur terbatas dan hanya dapat memberikan jaminan terbatas bahwa laporan keuangan
tidak memerlukan modifikasi material.

Pernyataan Standar untuk Keterlibatan Atestasi, Standar Atestasi (AT Bagian 100)
mendefinisikan keterlibatan pembuktian sebagai "satu di mana praktisi terlibat untuk
menerbitkan atau menerbitkan komunikasi tertulis yang mengungkapkan sebuah kesimpulan
tentang keandalan pernyataan tertulis yang merupakan tanggung jawab pihak lain.

Layanan konsultasi manajemen, termasuk layanan audit internal, sering disebut


sebagai layanan konsultasi. Sebagian besar konsultasi terkait dengan operasi internal atau
perencanaan untuk klien. Seorang praktisi telah mengembangkan keahlian dalam urusan klien
dan mungkin juga seorang ahli dalam industri klien.

Layanan pajak berhubungan dengan perusahaan, bisnis lain, dan individu. Layanan
hanya dapat dibatasi pada persiapan pengembalian pajak federal, negara bagian, dan daerah,
namun sering menyertakan saran mengenai merger dan akuisisi, perencanaan pajak untuk

23
minimisasi pajak atau perencanaan perumahan, dan perwakilan dalam audit pajak dari
Internal Revenue Service.

Layanan jaminan, termasuk layanan audit etika ditentukan oleh komite khusus
AICPA sebagai "layanan profesional independen yang meningkatkan kualitas informasi, atau
konteksnya, untuk para pengambil keputusan" (Palfais, 1996). Layanan jaminan dapat
mencakup audit dan pengesahan, namun juga mencakup layanan non-tradisional lainnya.

AICPA's Code of Professional Conduct

Berbagai langkah diperlukan untuk menyiapkan CPA untuk layanan ini. Langkah-
langkah ini meliputi pendidikan, sertifikasi, perizinan, dan praktik, tetapi juga
kemampuan mental dan komitmen untuk melaksanakan tanggung jawab seseorang
dengan penuh perhatian dan ketekunan. Untuk memandu perilaku, AICPA telah
menerapkan Kode yang memiliki empat komponen:

1. Principles of professional conduct

2. Rules of conduct

3. Interpretations of rules of conduct

4. Rulings by the Professional Ethics Division of the AICPA and its Trial Board.

Principle and AICPA Directive

1. RESPONSIBILITIES - In carrying out their responsibilities as professionals, members should exercise


sensitive professional and moral judgments in all their activities.
2. THE PUBLIC INTEREST - Members should accept the obligation to act in a way that will serve the
public interest, honor the public trust, and demonstrate commitment to professionalism.
3. INTEGRITY - To maintain and broaden public confidence, members should perform all professional
responsibilities with the highest sense of integrity.
4. OBJECTIVITY AND INDEPENDENCE - A member should maintain objectivity and be free of conflicts
of interest in discharging professional responsibilities. A member in public practice should be
independent in fact and appearance when providing auditing and other attestation services.
5. DUE CARE - A member should observe the profession's technical and ethical standards, strive
continually to improve competence and the quality of services, and discharge professional responsibility
to the best of the member's ability.
6. SCOPE AND NATURE OF SERVICES - A member in public should observe the Principles of the Code
of Professional Conduct in determining the scope and nature of services to be provided

24
Ada enam prinsip dalam Kode Etik ini. Prinsip-prinsip dan arahan AICPA yang terkait
dengannya tercantum dalam tabel 14.1. Mereka memberikan landasan dasar perilaku etis dan
profesional yang diharapkan CPA. Namun, karena sifat konseptualnya, prinsip-prinsip ini
tidak dapat dilaksanakan. Namun demikian, ini menunjukkan pentingnya kepentingan umum
(Prinsip 1 dan 2) dan karakteristik moral CPA yang diperlukan dalam praktik publik (Prinsip
3-6).

Enforcement of the Code of Conduct

Pelanggaran Kode Etik bisa beragam dan banyak. Daftar dan pembahasan rinci tentang
pelanggaran ini berada di luar cakupan bab ini. Berikut adalah beberapa contohnya:

CPA terlibat untuk menyiapkan laporan keuangan perusahaan dan kemudian mengaudit
laporan keuangan yang sama - sebuah pelanggaran terhadap peraturan independensi.

Seorang praktisi menyiapkan pengembalian pajak palsu atas nama kliennya.

Seorang praktisi tidak memiliki keterampilan teknis yang diperlukan untuk melakukan
pekerjaan yang diperlukan untuk sebuah pertunangan - pelanggaran kompetensi.

CPA tidak melepaskan dokumen ke klien - pelanggaran terhadap persyaratan Peraturan


501-1.

Hukuman atas pelanggaran Kode Etik berkisar dari rekomendasi agar anggota
melakukan tindakan perbaikan atau perbaikan, sampai pengusiran permanen dari AICPA.
Misalnya, anggota yang telah melanggar Kode Etik ini dapat direkomendasikan oleh Divisi
Etika Profesional untuk mengikuti kursus pendidikan profesional berkelanjutan. Jika anggota
tidak mematuhi rekomendasi tersebut, Divisi Etika dapat merujuknya ke Majelis Percobaan
untuk melakukan persidangan. Dewan Pengadilan dapat menunda anggota hingga dua tahun
atau mengeluarkannya karena melanggar Kode Etik. Dalam kasus, di mana kejahatan yang
dapat dihukum penjara selama lebih dari satu tahun telah terjadi, anggota tersebut secara
otomatis diskors atau diakhiri keanggotaan AICPA. Hukuman serupa dapat dikenakan untuk
mengajukan pengembalian pajak penghasilan palsu atas nama klien.

Dewan akuntan publik negara bagian telah dibentuk untuk menerapkan undang-
undang akuntansi negara. Badan ini umumnya dikenai tanggung jawab untuk mengawasi
profesi akuntansi di negara mereka. Akibatnya, mereka memiliki mekanisme dimana keluhan
terhadap CPA didokumentasikan, diselidiki, dan diadili. Keluhan ini "dapat berasal dari
berbagai sumber, termasuk klien, pihak ketiga seperti pemerintah federal, negara bagian dan

25
lokal, dan CPA lainnya, terutama akuntan penerus dan auditor. Dewan negara harus
menyelidiki setiap keluhan untuk menilai kelebihannya dan, jika perlu , tentukan tindakan
perbaikan yang tepat "(Rubel, 1997).

Menurut standar profesional AICPA dan ketentuan manual JEEP (AICPA, 1997),
ada dua metode yang berbeda dalam menangani pelanggaran anggota. Yang pertama adalah
penangguhan atau penghentian keanggotaan tanpa pendengaran, yaitu tindakan disiplin
otomatis. Yang kedua adalah proses tindakan disiplin AICPA dimana ketentuan dibuat untuk
sidang.

Sanksi otomatis umumnya merupakan hasil tindakan pengadilan atau tindakan pemerintah
lainnya (misalnya, Securities and Exchange Commission) terhadap CPA. Segera setelah
pemberitahuan diterima oleh sekretaris AICPA, pemberitahuan penghentian sementara atau
pemberhentian dikirim secara otomatis ke anggota melalui surat tercatat atau yang telah
disertifikasi. Jika anggota tidak mengajukan banding, maka tindakan tersebut dianggap final
dan dipublikasikan dalam Surat CPA. Namun, jika anggota mengajukan banding secara
tertulis, maka Dewan Percobaan meneruskan banding ke komite ad hoc untuk sebuah
keputusan. Jika permohonan banding diberikan, maka kasus tersebut diteruskan ke Divisi
Etika untuk tindakan yang tepat. Jika tidak, keputusan otomatis ditegaskan dan
dipublikasikan dalam Surat CPA.

Kasus yang tidak mengakibatkan penangguhan otomatis atau penghentian keanggotaan


adalah pelanggaran Kode yang telah dibawa ke perhatian masyarakat negara atau AICPA
melalui keluhan yang dibuat oleh individu, klien, atau CPA lainnya. JEEP memproses kasus-
kasus ini. Anggota dapat mengaku bersalah dan / atau mengundurkan diri dari keanggotaan
AICPA dan negara bagian. Dalam kasus ini, Dewan Percobaan dapat merekomendasikan
penerimaan pengunduran diri anggota, namun mengharuskan anggota tersebut untuk sidang
dengar pendapat di kemudian hari. Jika anggota tidak mengaku bersalah atau Dewan
Pengadilan tidak menerima pengunduran diri anggota, sebuah panel dibentuk oleh Majelis
Hakim untuk menyelidiki kasus tersebut. Dewan Percobaan dapat memilih untuk tidak
menerima pengunduran diri anggota karena keseriusan pelanggaran. Mereka mungkin merasa
bahwa, untuk melayani kepentingan umum, anggota harus diusir secara publik.

Illustrative Disciplinary Actions

Kasus 353 terjadi pada tahun 1990. Individu tersebut ternyata telah melanggar Kode AICPA
dengan membantu persiapan pengembalian pajak palsu dan telah menghalangi keadilan

26
dengan membohonginya (yaitu, sumpah palsu). Informasi tersebut berasal dari keyakinan di
pengadilan dan secara otomatis mengakibatkan penghentian keanggotaan AICPA.

Controversial Ethical Issues in the Accounting Profession

Seperti yang telah dibahas di bagian sebelumnya, profesi akuntansi telah mengembangkan
kode etik dan memiliki program disipliner yang rumit untuk menerapkan Kode Etik ini.

Kritikus menuduh bahwa tekanan klien, yang menyebabkan masalah etika untuk profesinya,
sebagian disebabkan oleh profesional yang telah meninggalkan legitimasi karakter etis yang
menjadi norma pada awal 1900-an. Kritikus mendukung tuduhan ini dengan mencatat bahwa,
pada awal 1900-an, hampir tidak ada audit umum atau standar akuntansi, sementara saat ini
ada seperangkat standar dan peraturan yang rumit. Kritikus mengklaim bahwa CPA hari ini
bergantung pada "mengikuti peraturan" daripada berfokus pada penyajian informasi
akuntansi terbaik, paling adil, atau paling jelas. Karena keahlian teknis telah menjadi batu
penjuru praktik CPA, legitimasi teknik telah menggantikan legitimasi karakter (Abbott, 1988,
hal 190). Bahkan dalam keahlian teknis ini, para kritikus berpendapat bahwa beberapa CPA
telah mengabaikan akuntansi kreatif klien mereka di mana pendapatan telah dimanipulasi
dalam beberapa kasus. Misalnya, Lomas Financial Corporation telah mengajukan tuntutan
sebesar $ 300 juta terhadap auditornya, dengan menuduh bahwa dua mitra audit
berkolaborasi dengan manajemen Lomas Financial Corporation untuk menyembunyikan
praktik keuangan berisiko yang menyebabkan kegagalan perusahaan (MacDonald, 1997).

Dalam kasus lain, perubahan teknologi informasi yang cepat telah membawa
pengetahuan CPA sebagai pertanyaan. Teknologi informasi baru juga telah mengubah
kebutuhan masyarakat akan layanan CPA. Misalnya, sementara laporan keuangan tradisional
yang diaudit dikeluarkan tiga atau empat bulan setelah penutupan tahun anggaran klien,
teknologi baru telah memungkinkan untuk menyediakan informasi secara on line dan secara
real time. Seperti disebutkan sebelumnya, profesi tersebut telah merespons dengan
mengembangkan layanan WebTrustsm untuk menanggapi kebutuhan ini.

Mungkin tantangan etika yang paling signifikan terhadap profesinya adalah masalah
independensi. Telah diduga bahwa auditor secara sistematis melanggar peraturan
independensi Kode Etik. Kode Etik ini jelas dalam arahnya kebutuhan akan kemerdekaan,
tidak hanya pada kenyataannya yang tidak teramati, tapi juga dalam penampilan yang dapat
diamati oleh pihak ketiga. Auditor sebenarnya bisa melakukan independensi dari klien
meskipun dia memiliki kepentingan finansial di perusahaan. Namun, untuk memastikan

27
independensi dalam penampilan, auditor dilarang memiliki kepentingan langsung seperti
kepemilikan saham di klien atau kepentingan tidak langsung signifikan seperti kepemilikan
saham di klien oleh kerabat dekat CPA.

Isu etika kontemporer lainnya yang dihadapi profesi mencakup kerahasiaan,


kepercayaan masyarakat, dan melayani kepentingan umum.

Kerahasiaan - CPA dipercayakan dengan sejumlah besar informasi dari klien. Itu

auditor dilarang membagikan informasi ini kepada orang lain, kecuali menanggapi perintah
pengadilan dan situasi luar biasa lainnya. Misalnya, auditor dapat memberikan rasio
keuangan kepada kelompok perdagangan industri asalkan informasi klien tertentu tidak
diungkapkan. Namun, auditor tidak dapat menggunakan informasi rahasia untuk kepentingan
pribadi atau kepentingan finansial lainnya seperti saham diperdagangkan berdasarkan
informasi orang dalam yang dikumpulkan selama audit berlangsung.

Keyakinan publik - Profesi ini memungkinkan CPA untuk beriklan, namun melalui
peraturan etika membatasi jenis iklan kepada perusahaan yang meningkatkan kepercayaan
publik. Misalnya, biaya dan komisi kontinjensi tidak diperbolehkan untuk layanan fungsi
rujukan dari atestest (yaitu audit, kompilasi dan ulasan), namun diperbolehkan untuk layanan
konsultasi manajemen. Biaya kontinjensi dan komisi rujukan dilarang sama sekali sampai
tahun 1988 ketika mendapat tekanan dari Federal Trade Commission, dewan AICPA memilih
untuk mengubah peraturan tersebut (Mintz, 1990). Meskipun demikian, kritikus berpendapat
bahwa periklanan telah membantu mengubah akuntan publik dari sebuah profesi ke bisnis
(Mason, 1994).

Melayani kepentingan umum - Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, profesi baru-


baru ini mulai menerima tanggung jawab untuk merencanakan audit untuk mendeteksi
kecurangan dan tindakan ilegal lainnya (Auditing Standards Board, 1997). Perlu lebih banyak
dilakukan untuk memperjelas tanggung jawab CPA kepada publik. Misalnya, apakah CPA
terlibat dalam peluit peluit saat tindakan ilegal atau kecurangan terdeteksi dilakukan oleh
klien? Seperti yang dikritik oleh para kritikus, pada saat ini, "penyelesaian konflik antara
klien akuntan, di satu sisi, dan masyarakat umum, di sisi lain, biasanya diimbangi dengan
klien. Sistem hukum mendukung hasil ini, di paling tidak untuk saat ini "(Epstein &
Spalding, 1993, hal. 271). Yang lain berpendapat bahwa sumber masalah ini adalah bobot
yang ditempatkan pada kerahasiaan dengan mengorbankan kepentingan umum (Collins dan
Schulz, 1995).

28
Conclusion

Profesi akuntansi telah mengembangkan Kode Etik yang lengkap dengan pendidikan
berkelanjutan dan program penegakan hukum yang efektif. Namun, masih banyak yang harus
dilakukan agar akuntan lebih responsif terhadap harapan masyarakat untuk meningkatkan
kepercayaan masyarakat. Sementara profesi tersebut telah muncul dalam tanggapannya
terhadap audiensi Kongres dan rekomendasi komisi swasta dalam dua dekade terakhir, lebih
banyak dibutuhkan untuk terus membangun profesi yang lebih dapat dipercaya. Hal ini
sangat mendesak mengingat perubahan cepat yang dipupuk oleh era teknologi informasi.

29
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Dalam jurnal 1, independensi dan struktur audit secara signifikan berpengaruh

positif terhadap kinerja auditor, variabel konflik peran secara signifikan

berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor, sedangkan profesionalisme dan

ketidakjelasan peran tidak terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja

auditor.

2. Dalam jurnal 2, Profesi akuntansi telah mengembangkan Kode Etik yang lengkap
dengan pendidikan berkelanjutan dan program penegakan hukum yang efektif.
Namun, masih banyak yang harus dilakukan agar akuntan lebih responsif terhadap
harapan masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat

30
DAFTAR REFERENSI

Badan Pemeriksa Keuangan RI. 2011. Undang-Undang No. 2 Tahun 2011 mengenai Kode
Etik BPK RI. Disahkan tanggal 7 Oktober 2011

Hazazi, Zaky. 2015. Kode Etik IAI KASP. Diterbitkan online tanggal 9 Januari 2015.

Jamnik, Anton. Ethical Code in The Public Accounting Profession. Theology Faculty of
University in Ljubljana, Slovenia

Putra, I Gede Bandar Wira dan Ariyanto, Dodik. 2013. Pengaruh Independensi,
Profesionalisme, Struktur Audit, Dan Role Stress Terhadap Kinerja Auditor Bpk Ri
Perwakilan Provinsi Bali. Universitas Udayana Bali