Anda di halaman 1dari 16

PEMBENTUKAN SELAPUT EKSTRA EMBRIO

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Struktur Perkembangan Hewan II
Yang bibimbing oleh Dr. Umie Lestari, M.Si

Disusun oleh:
Kelompok 2
Offering G/2016

Livia Nur Cholifah (160342606203)


Mochamad Abdul Hafidh (160342606252)
Permata Windra Deasmara (160342606241)
Rizky Putri Ramadhani (160342606228)
Syifa Najla Agdhiani (160342606291)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu ciri makhluk hidup adalah bereproduksi (berkembang biak).
Reproduksi bertujuan untuk melestarikan atau mempertahankan keberadaan
atau eksistensi suatu spesies tersebut. Ada dua cara perkembangbiakan secara
umum yaitu vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan secara vegetatif
umumnya terjadi pada tumbuhan dan hewan tingkat rendah. Sedangkan
perkembangbiakan secara generative umumnya terjadi pada hewan dan
tumbuhan tingkat tinggi. Perkembangbiakan secara generatif melibatkan
individu jantandan individu betina. Individu jantan akan menghasilkan sel
kelamin jantan atau sperma. Sedangkan individu betina akan menghasilkan sel
kelamin betina atau sel telur (ovum).
Seperti organisme lainnya, manusia berkembang biak secara seksual dan
pada saat tertentu akan membentuk sel-sel kelamin (gamet). Setelah sel telur di
dalam ovarium masak, dinding rahim menebal dan banyak mengandung
pembuluh darah. Pembuahan didahului oleh peristiwa ovulasi, yaitu lepasnya
sel telur yang masak dari ovarium. Jika sperma bertemu dengan ovum akan
terjadi pembuahan. Pembuahan terjadi di oviduk. Sel telur yang telah dibuahi
akan membentuk zigot. Zigot yang terbentuk segera diselubungi oleh selaput,
kemudian menuju ke rahim. Di dalam rahim zigot menanamkan diri pada
dinding rahim yang telah menebal.
Pada saat proses embriogenesis itu ada lapisan selaput pada bagian luar
embrio. Selaput ini dikenal dengan nama selaput embrionik. Selaput terbentuk
selama perkembangan embrio dan bukan merupakan bagian dari tubuh embrio
dan letaknya di luar tubuh embrio. Memiliki fungsi sebagai media perantara
pertukaran zat serta perlindungan bagi embrio, pemberi nutrisi, proteksi dan
sekresi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah fungsi dari selaput ekstra embrional?
2. Bagaimana proses pembentukan selaput ekstraembrional?
3. Bagaimana tahap implantasi dan plasentasi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui fungsi dari selaput ekstraembrional
2. Untuk mengetahui proses pembentukan selaput ekstraembrional
3. Untuk mengetahui tahap implantasi dan plasentasi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Membran Ekstraembrionik


Membran ekstra embrional marupakan membran atau selaput seluler
yang dibentuk bersamaan dengan perkembangan embrio dan berperan
penting dalam perkembangan embrio. Membran ekstra embrional dibentuk
untuk memenuhi kebutuhan nuutrisi, sarana untuk mengeluarkan sisa
metabolisme dan perlindungan baik dari faktor fisik, kemis maupun biologis
di lingkungan mikro serta makro agar embrio yang sedang berkembang
dapat berkembang dan tumbuh dengan baik (Brotowidjojo,1991).

2.2. Membran Ekstrembrionik


Pada reptil, burung, dan mamalia, perkembangan embrio sudah
tergolong maju-telur amniote. Hal ini memungkinkan perkembangan
embrio terjadi di darat. Perkembangan ini sangat signifikan pada reptil,
burung, dan mamalia, oleh karena itu dikelompokkan sebagai vertebrata
amniote, atau amniotes. Untuk mengatasi kerusakan embrio pada hewan
darat yang termasuk vetebrata amniota, embrio amniote menghasilkan
empat membran ekstraembrionik sebagai bentuk adaptasi terhadap
lingkungannya.
Dalam perkembangan hewan amniota, pada awalnya tidak ada
perbedaan antara embrio dan ekstraembryonik. Namun, saat tubuh embrio
terbentuk, epitel di perbatasan antara embrio dan daerah ekstraembrionik
terbagi secara tidak merata mengisolasi embrio dari kuning telur dan
membagi daerah mana yang embrio dan yang ekstraembrionik.

a. Amnion dan chorion


Masalah pertama yang dihadapi embrio hewan amniota darat adalah
kekeringan. Sel embrionik akan cepat mengering di luar lingkungan air.
Untuk itu harus ada cairan pelindung embrio agar tidak mengalami
kekeringan. Oleh karena embrio dilindungi oleh cairan amnion yang
diproduksi oleh membran sel amnion. Dengan demikian, embrio tidak
mengalami kekeringan.
Masalah kedua dari embrio hewan amniota terestrial adalah
pertukaran gas. Pertukaran ini disediakan oleh chorion, membran terluar
ekstraembrionik. Pada burung dan reptil, membran ini melekat pada kulit,
memungkinkan pertukaran gas antara embrio dan lingkungan. Fungsi lain
chorion adalah untuk menjaga agar sistem imun induknya tidak menyerang
embrio.

Gambar yang menunjukkan letak amnion dan korion


Sumber : medical-dictionary.thefreedictionary.com

b. Kantung allantois dan yolk


Masalah ketiga untuk embrio terestrial adalah pembuangan zat yang
tidak dibutuhkan seperti hasil metabolisme. Allantois menyimpan limbah
kencing dan juga membantu dalam pertukaran gas. Pada reptil dan burung,
allantois berupa kantung besar, karena zat hasil metabolisme tidak
dikeluarkan ke lingkungan luar.
Pada beberapa spesies amniote, seperti ayam, lapisan mesoderm dari
allantois bergambung dengan chorion menjadi membran chorioallantoic
yang berperan penting untuk perkembangan embrio ayam dan bertanggung
jawab untuk pengangkutan kalsium dari kulit telur ke dalam embrio untuk
produksi tulang. Pada mamalia, Ukuran allantois tergantung seberapa baik
nitrogen limbah bisa dibuang oleh plasenta chorionic.
Masalah keempat adalah masalah gizi. Kantung kuning telur adalah
membran ekstraembrionik yang pertama terbentuk, karena kuning telur
merupakan media nutrisi dalam perkembangan embrio burung dan reptil.
Pembuluh darah di mesoderm mengangkut nutrisi dari kuning telur ke
dalam tubuh embrio, karena kuning telur tidak langsung masuk ke tubuh
ataupun sebaliknya. Sel endodermal mencerna proteinnya dalam kuning
telur menjadi asam amino terlarut yang kemudian bisa dilewati ke pembuluh
darah di dalam kantong kuning telur. Nutrisi lainnya, termasuk vitamin, ion,
dan asam lemak, disimpan di kantong kuning telur dan diangkut oleh
pembuluh darah pada kantung kuning telur ke embrio. Dengan keempat
membran ekstraembrionik ini, memungkinkan embrio amniota ke
berkembang di darat.

Gambar yang menunjukkan letak allantois, serta yolk sac


Sumber : wikimedia.org

2.3. Proses Pembentukan Membran Ekstraembrionik Pada Aves


Terdapat empat macam selaput ekstra embrionik, yaitu kantung
kuning telur, anmion, korion dan alantois. Keempat macam selaput ini
sebenarnya terbentuk dari dua lapis yaitu dari lapis ektoderm dengan
mesoderm somatis (somatopleura) untuk amnion dan korion serta dari lapis
endoderm dengan mesoderm splanknis (splanknopleura) untuk kantung
kuning telur dan alantois.
1. Kantung Kuning Telur (kantung yolk)
Kantung yolk adalah selaput yang menyelubungi kuning telur,
berkembang baik pada unggas tetapi relatif tidak berkembang pada
mamalia. Kantung yolk merupakan selaput ekstra embrio yang paling awal
dibentuk. Splanknopleura embrio ayam tidak membentuk suatu saluran
tertutup tetapi tumbuh diatas permukaan yolk, mengelilinginya sehingga
membentuk suatu kantung. Splanknopleura yang mengelilingi yolk awalnya
berasal dari hipoblast primer dan skunder. Bersamaan dengan melebarnya
splanknopleura ekstra embrio, pada splanknopleura intra embrio terjadi pula
lipatan-lipatan sehingga terbentuk dinding pencernaan atau usus di dalam
embrio. Bagian tengah usus tengah yang menghadap ke yolk tetap terbuka
dan pada daerah ini dinding kantung yolk berhubungan dengan dinding usus
pada tangkai yolk. Walaupun kantong yolk dihubungkan dengan usus oleh
tangkai yolk, tetapi makanan tidak dimasukkan lewat tangkai yolk. Lapisan
endoderm kantung yolk membuat lipatan masuk ke dalam yolk dengan
bantuan enzim-enzim pencernaan yolk yang telah dicerna diserap dan
dialirkan ke embrio melalui vena vitelin, vena omfalomensenterika yang
terdapat pada tangkai yolk. Selama perkembangan embrio, albumen akan
kehilangan airnya sehingga menjadi lebih kental serta volumenya
berkurang. Dengan tubuhnya alatois, albumen teerdorong ke ujung distal
dari kantung yolk. Albumen, seperti hanya yolk, dikelilingi oleh
perpanjangan splanknopleura kantung yolk (kantung albumen), yang
mengarbsorbsi dan mentransfernya melalui sirkulasi ekstra embrio ke dalam
tubuh embrio. Menjelang akhir masa inkubasi, sisa yolk beserta kantung
yolk masuk ke dalam rongga perut dan selanjutnya dinding perut menutup.
Sisa yolk sangat penting bagi anak ayam yang baru menetas, yang akan
menggunakannya sebagai makanan kemudian selama awal masa kehidupan
bebasnya.
Pada mamalia kantung kuning telur bersifat sementara. Sel telur
mamalia memiliki jumlah kuning telur sedikit sehingga peran kuning telur
sebagai sumber nutrisi digantikan oleh darah induk melalui plasenta.
Meskipun kantung kuning telur berkembang di awal perkembangan
embrional mamalia (kemudian akan mengecil dan hanya menjadi bagian
dari tali pusar), kantung kuning telur memiliki fungsi yang penting. Pada
mamalia, kantung kuning telur pada awal perkembangannya berfungsi
sebagai hematopoesis (pembentuk sel-sel darah) dan pada beberapa spesies
sebagai sumber bakal sel gamet primordial.

2. Amnion
Suatu membran tipis berasal dari somatopleura berbentuk suatu
kantung menyelubungi embrio dan berisi cairan. Amnion terdapat pada
reptilia burung dan mamalia sehingga disebut kelompok amniota. Ikan dan
amfibia tidak mempunyai amnion sehingga disebut an amniota.
Pada unggas, amnion terbentuk sebagai akibat pelipatan
somatopleura daerah kepala ke arah dorsokaudal, daerah ekor ke arah
dorsokranial, dan daerah dinding lateral ke arah dorsomedial. Di daerah
dorsal lipatan ini akan menyatu dan membentuk mesamnion atau chorionic
raphe yang pada ayam bersifat menetap. Selanjutnya somatopleura sebelah
dalam disebut amnion dan sebelah luar disebut korion. Amnion dan korion
dipisahkan oleh ruang ekstra embrionik (extraembryonic coelom). Amnion
berisi cairan amnion yang berasal dari ginjal fetus, kelenjar mulut dan alat
pernafasan. Cairan amnion ini berfungsi sebagai media untuk mengambang,
melindungi serta memungkinkan pergerakan dari tubuh dan tungkai embrio.
Pada mamalia dengan implantasi non invasive, pembentukan
amnion dan korion terjadi seperti pada unggas. Pada mamalia dengan
implantasi invasive (seperti manusia dan rodensia), pembentukan amnion
terjadi sebagai akibat peronggaan dari inner cell mass (ICM) pada saat
proses gastrulasi.

3. Korion
Korion merupakan selaput ekstra embrionik paling luar. Pada
unggas korion menempel pada pada selaput kerabang sebelah dalam setelah
hari ke 7-8 inkubasi. Korion bersama-sama dengan alantois berfungsi di
dalam pertukaran gas dan air.
Pada marnalia korion merupakan selaput ekstra embrionik yang
berhubungan dengan endometrium induk untuk membentuk plasenta.
Korion pada mamalia memiliki vili-vili yang berfungsi untuk memperluas
daerah permukaan korion untuk perlekatan dengan endometrium induk serta
kaya dengan pembuluh-pembuluh darah yang akan berfungsi di dalam
pertukaran darah dengan induk.

4. Alantois
Alantois merupakan selaput ekstra embrionik yang terbentuk dari
penonjolan dinding usus belakang yang berbentuk seperti kantung. Pada
unggas dan mamalia (kecuali manusia) alantois berkembang dan mengisi
ruang ekstra embrionik dan bagian luarnya menyatu dengan korion
membentuk korioalantois.
Pada unggas, alantois pada awalnya berbentuk kantung kecil di sisi
kanan embrio pada hari ke 3 inkubasi dan te!ah memenuhi seluruh ruang
ekstra embrionik (ruang antara amnion dan korion) pada hari ke 10 inkubasi.
Korioalantois kaya akan pembuluh darah alantois yang berkembang dari
mesodenn splanknis alantois. Pembuluh darah ini memungkinkan
korioalantois melaksanakan perannya di dalam pertukaran oksigen dan
karbon dioksida pada selaput kerabang telur. Selain itu alantois berfungsi
untuk menampung ekskresi urin embrio.

Pada embrio manusia, alantois tidak berkembang seperti pada mamalia yang
lain. Pada manusia, alantois seperti halnya dengan kantung kuning telur
bersifat rudimenter dan menjadi bagian di dalam tali pusar.
Gambar Pembentukan Selaput Ekstra embrio Aves
Sumber: Gilbert, 200

2.4. Proses Pembentukan Membran Ekstraembrionik Pada Mamalia


Pembentukan selaput ekstraembrio pada mamalia pada dasarnya sama
dengan pembentukan selaput ekstraembrio pada aves
a. Perkembangan Amnion dan Chorion
Perkembangan awal dari amnion dan chorion dimulai ketika proses
gastrulasi dan neurulasi selesai. Perkembangan awal ini dimulai dengan
adanya pelekukan somatopleura ectoderm dan mesoderm yang disebut
dengan amniotic folds. Lapisan dalam dari somatopleura membentuk
amnion sedangkan lapisan luarnya membentuk chorion.
b. Perkembangan Allantois
Alantois berkembang dari hindgut berbentuk kantong kecil,
kemudian terus berkembang hingga menjadi selaput ekdtraembrionik
yang mengelilingi embrio di luar amnion. Pada mamalia garis allantois
berfusi dengan mesoderm dari chorion membentuk allantochorion yang
nantinya menjadi sistem pembuluh darah.
c. Perkembangan Yolk Sac
Yolk sac pada mamalia terbentuk dari endoderm dan mesoderm
yang disebut splanchnopleura. Pada mamalia hanya beberapa minggu
sebagai tempat pembentukan sel darah merah pertama, menyalurkan
bahan makanan (tropoblas pada tubuh embrio).

Gambar : Selaput ekstraembrio mammalia


Sumber : www.pinterest.com

2.5. Implantasi
Pada akhir tahap perkembangan embrio, blastosis yang telah melalui
fase morula akan mulai mengalami implantasi yang terjadi di lapisan uterus.
Implantasi adalah peristiwa tertanamnya atau bersarangnya sel telur yang
telah dibuahi ke dalam endometrium, sel telur yang telah dibuahi (zigot)
akan segera menjadi blastomer, rada hari ketiga 16 blastomer disebut
morula. Pada hari keempat di dalam morula akan terbentuk rongga,
bangunan ini disebut blastula. Dua struktur penting di dalam blastula adalah:
1. Lapisan luar disebut trofoblast, yang akan menjadi plasenta
2. Emblastu (inner cell mass) yang akan menjadi janin

Pada hari ke-4 blastula masuk kedalam endrometrium dan pada hari
ke-6 menempel pada endrometrium, pada hari ke-10 seluruh blastula sudah
terbenam dalam endometrium dengan demikian implantasi sudah selesai
tempat implantasi biasanya pada dinding belakang didaerah fundus uteri.
Dinding uterus tersusun atas tiga lapisan yang berbeda yaitu :
1. Endometrium : merupakan lapisan mukosa yang melapisi dinding dalam.
2. Miometrium : merupakan lapisan tebal yang tersusun atas serabut otot.
3. Perimetrium : merupakan lapisan yang melapisi dinding luar.
Dari masa pubertas hingga menopause, dinding endometrium akan
berubah dalam siklus tertentu sekitar 28 hari dibawah pengaruh hormon
pada sel telur, Siklus tersebut disebut siklus menstruasi. Selama siklus
menstruasi, dinding endometrium melewati tiga tahapan, yaitu :
1. Follicular (proliferative phase)
2. Secretory (progestational phase)
3. Menstrual phase

Sumber : (Langmans Medical Embryologi, 2012)

Tahap proliferatif dimulai ketika fase menstruasi telah berhenti, fase


ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Selanjutnya pada fase sekretori
terjadi pada 2-3 hari setelah ovulasi, fase ini dipengaruhi oleh hormon
progesteron. Selanjutnya adalah fase menstruasi terjadi apabila tidak terjadi
fertilisasi sehingga dinding endometrium akan terkikis. Namun apabila
telah terjadi fertilisasi, endometrium memiliki peran untuk membantu
implantasi dan pembentukan plasenta. (Langman, 2012).
Implantasi ditandai dengan menempelnya blastosis dengan
permukaan epitel dinding endometrium. Penempelan ini terjadi karena
akibat dari blatosis yang bergerak bebas kemudian ditarik oleh reseptor
yang ada pada dinding endometrium karena pada sebelumnya blastosis ini
mengeluarkan sinyal untuk mencari tempat pelekatannya dengan dinding
endometrium. Kontak ini distabilkan dalam proses yang dikenal sebagai
adhesi, dimana sel tropoblas menjalin kontak dengan tonjolan mikro ada di
permukaan dari endometrium dikenal sebagai pinopodes (Lopota, dkk.,
2002). Tahap terakhir dari implantasi ini adalah invasion process, yang
merupakan penembusan embrio ke dalam lapisan lamina epitel dinding
endometrium, aktivitas ini dikontrol oleh tripoblas. Tripoblas
berdiferensiasi menjadi dua jenis yang berbeda yaitu sitotopoblas yang
merupakan sel berinti tunggal dan sinsitiotropoblas yang merupakan sel
berinti banyak. sel syncytiotrophoblast mulai menembus sel endometrium,
dan secara bertahap embrio itu ditanamkan ke dalam compactum stratum
dari endometrium (Hertig, dkk., 1956).

2.6. Plasentasi
Plasenta adalah organ ekstra embrio yang merupakan pertautan
antara jaringan embrio dan jaringan induk. Pada manusia, jaringan induk
yang ikut serta dalam pembentukan plasenta adalah endometrium uterus
bagian desidua basalis. plasenta manusia. Setelah embrio berimplantasi ke
dalam endometrium uterus, korion membentuk tonjolan-tonjolan (villi)
yang mencangkul endometrium uterus. Mula-mula villi terdapat pada
seluruh permukaan korion, lama-kelamaan villi yang terdapat di daerah
desidua kapsularis akan menyusut dan hanya villi di daerah desidua basalis
yang berkembang. Daerah korion yang villinya berkembang disebut korion
frondosum, sedangkan daerah korion yang villinya menyusut disebut korion
leave. Korion frondosum bertaut erat dengan desidua basalis membentuk
plasenta. Fungsi dari plasenta meliputi:
- Pertukaran nutrisi, gas, hormon, dll.
- Sebagai Kelenjar endokrin
- Barrier (mencegah bercampurnya darah induk dan fetus)
mencegah bakteri patogen pada darah induk masuk ke peredaran
darah fetus
- Immune protection
Pada manusia terjadi transformasi bagian vaskular intramyometrial
arteriol di insterstisium ibu yang terjadi antara minggu ke 10 dan 12
kehamilan. Transformasi ini dicapai karena terjadinya spesialisasi sel
plasenta, sitotrofoblas. Selama plasentasi, sitotrofoblas yang memiliki villi
berkembang hingga berlapis-lapis membentuk koloni di lapisan interstitium
decidua ibu, lapisan terdalam miometrium, dan pembuluh darah uterus.
Invasi ini menghasilkan formasi dari sistem vaskular yang sangat penting
untuk pertumbuhan janin

Gambar plasenta pada mamalia

Sumber : www.study.com
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Selaput ekstra embrio adalah selaput pelindung embrio yang terdiri dari
amnion, korion, allantois dan juga didukung oleh adanya kantung
kuning telur.
2. Pada reptilia dan aves pembentukan selaput ekstra embrio bersifat
homolog atau sama. Hal yang menjadi perbedaan hanyalah waktu, kondisi
lingkungan, dan spesifikasi spesies.
3. Pada mammalia proses pembentukan selaput ekstra embrio hampir sama
dengan aves hanya saja tidak disertai pembentukan cangkang dan
albumin.
Daftar Rujukan

Brotowidjoyo, W. 1991. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.


Gilbert
Hertig AT, Rock J, Adams EC. A description of 34 human ova within the fi rst 17
days of development. Am J Anat. 1956;98(3):43593.

Lopata A, Bentin-Ley U, Enders A. Pinopodes and implantation. Rev Endocr


Metab Disord. 2002;3(2): 7786. Review. No abstract available.

Saddler, T.W. 2009. Langmans Medical Embryology. Philadelphia: Lippincott


Williams & Wilkins, a Wolters Kluwer business.