Anda di halaman 1dari 20

Nama : Yunita Khilyatun N

NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

BAB VIII
KROMATOGRAFI KOLOM
PRELAB
A. Pre-lab
1. Apa yang dimaksud kromatografi?
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan
distribusi dari komponen-komponen campuran diantara dua fase, yakni fase diam dan fase
bergerak. Berdasarkan fase gerak yang digunakan, kromatogradi diklasifikasikan mnejadi dua
bagian, yakni gas kromatografi dan liquid kromatografi. Beberapa tujan penggunaan
kromatografi adalah (1) untuk mengetahui ada tidaknya senyawa tertentu dalam cuplikan (2)
menunjukkan banyaknya masing-masing komponen dalam campuran (3) untuk memperoleh
komponen dalam jumlah memadai dalam keadaan yang murni (Luktianingsih, 2012).
2. Jelaskan pengertian fase stasioner dan fase mobil!
a. fase diam
Fase diam merupakan komponen yang digunakan sebagai pemisah campuran. Fase
diam dapat berupa bahan padat atau bahan porus yang berukuran kecil. serta dapat berupa
cairan yang dilapiskan pada dinding kolom. Beberapa contoh fase diam yang sering
digunakan adalah silica gel, selulosa dan alumunium oksida (Noviyanti, 2010).
b. Fase gerak
Fase bergerak merupakan komponen yang berfungsi sebagai pembawa campuran.
Fase gerak yang digunakan dapat berupa gas atau cairan. Pada gas kromatografi, fase
bergerak yang digunakan adalah gas. Sedangkan pada liquid cromatografi, fase bergerak
yang digunakan adalah cair. Saat melewati fase gerak, setiap komponen mempunyai
kecepatan yang berbeda-beda. setelah melewati fase bergerak, barulah akan terjadi
pemisahan (Noviyanti, 2010).
3. Apa fungsi alumina pada penentuan beta karoten?
Dalam kromatografi, aluminia yang bersifat basa dapat digunakan untuk memisahkan
senyawa yang bersifat basa. Aluminia berungsi sebagai fase diam untuk mengadsopsi solute
solute yang bersifat polar. Pada penentuan beta karoten, karena beta karoten merupakan
senyaw yang bersifat non polar, maka beta karoten akan larut bersama fase gerak. Sedangkan
senyawa lain selain beta karoten akan diikat oleh fase diam berupa aluminia (Khopkar, 2008).

4. Jelaskan prinsip kromatografi adsorpsi?


Kromatografi adsorpsi menggunakan fase cair atau gas bergerak (fase mobile) ke
permukaan padat (fase stasioner). Prinsip dari kromatografi adsorpsi ialah memisahkan
komponen secara selektif berdasarkan sifat fisik adsorp dengan fase diam berupa alumina dan
fase mobile PE-aseton. Pada kromatografi adsorpsi, fasa stasionernya terdiri atas zat padat
dan fasa mobilnya terdiri atas zat gas atau zat cair (Pherman, 2008).

5. Apa yang dipisahkan pada proses kromatografi adsorbsi pada penentuan kadar beta
karoten?
Senyawa atau zat yang dipisahkan pada proses kromatografi pada kadar beta karoten
ialah pigmen beta karoten dan komponen lain. Pemisahan beta karoten berdasarkan
polaritasnya. Beta karotene bersifat non-polar, sehingga untuk memisahkan beta karoten
dari senyawa lain dilakukan menggunakan pelarut heksana, karena heksana adalah pelarut
non polar, sehingga beta karoten dapat terlarut didalamnya (Pherman, 2008).
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

B. Diagram Alir
Ekstraksi Sampel Sampel

Dihaluskan

Ditimbang 3 gram

Dimasukkan dalam erlemeyer


20 ml petroleum eter-aseton (1:1)
Erlemeyer ditutup alumunium foil

Aduk dengan shieve shaker selama 15 menit

Disaring

Filtrate dimasukkan dalam erlemeyer


100 ml petroleum eter-aseton (1:1)

Diencerkan dengan cara dikocok menggunakan shieve shaker 15 menit

Filtrate diambil 25 ml

Dimasukkan dalam corong pemisah


25 ml aquades
Dikocok

Dibiarkan hingga terjadi pemisahan

Fase eter dalam corong pemisah Lapisan bawah (air-aseton)

Dikocok Dialirkan keluar dari corong pemisah

Dibiarkan hingga terjadi pemisahan Dibuang

Fase eter lapisan bawah (air-aseton)

Dialirkan keluar dari corong pemisah

Dibuang
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Proses Pemisahan Fraksi Senyawa Menggunakan Kromatografi Kolom

Fase Eter

Ditambahkan Na2SO4 sebanyak 1 gram untuk setiap 20 ml fase eter

Dielusikan petroleum eter : aseton (10:1) ke dalam kolom

dimasukkan fase eter ke dalam kromatografi

Diencerkan dengan petroleum eter : aseton (10:1)

diberi tekanan agar fase lebih cepat melewato kolom

ditampung menggunakan erlenmeyer

dihitung absorbansi menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 450 nm

Hasil
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Pembuatan Larutan Standar Betakaroten

Beta Karoten 10 mg

diencerkan dengan petroleum eter-aseton 25 ml

dishaker hingga larut

diambil masing-masing 0,25; 0,5; 0,75; 1; 1,25 ml dan diletakkan dalam tabung reaksi

diencerkan dengan petroleum eter-aseton (10:1) pada labu takar 25 ml hingga tanda batas

dihomogenkan

masing-masing diambil 1 ml dan dimasukkan dalam labu takar 10 ml

ditambah petroleum eter-aseton (10:1) hingga tanda batas dan dihomogenkan

diukur absorbansi pada panjang gelombang 450 nm

dibuat kurva standar

dicari persamaan liner dan regresinya

dihitung kadar beta karoten

Hasil
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Tinjauan Pustaka
1. Kromatografi Kolom
Kromatografi Kolom merupakan Metode
pemisahan yang didasarkan pada pemisahan
daya adsorbsi suatu adsorben terhadap suatu
senyawa, baik pengotornya maupun hasil
isolasinya.. Prinsip dari kromatografi kolom ialah
teknik pemisahan yang didasarkan pada
peristiwa adsorpsi. Sampel yang biasanya
berupa larutan pekat diletakkan pada ujung atas
kolom. Eluen atau pelarut dialirkan secara
kontinu ke dalam kolom. Dengan adanya
gravitasi atau karena bantuan tekanan, maka
eluen/pelarut akan melewati kolom dan proses pemisahan akan terjadi. Senyawa yang lebih polar
akan terserap lebih kuat sehingga turun lebih lambat dari senyawa non polar terserap lebih lemah
dan turun lebih cepat. (Prasetyo, 2015).

2. Beta Karoten
Beta karoten merupakan pigmen atau zat kimia alami yang berwarna merah, kuning, hingga jingga
yang terdapat dalam buah-buahan dan sayuran. Beta karoten yang kita konsumsi terdiri atas 2 grup
retinil, yang di dalam usus kecil akan dipecah oleh enzim betakaroten dioksigenase menjadi retinol,
yaitu sebuah bentuk aktif dari vitamin A. Karoten dapat disimpan di hati dalam bentuk provitamin A
dan akan diubah menjadi vitamin A sesuai dengan kebutuhan tubuh.. Beta karoten merupakan
karotenoid, precursor vitamin A dan sebagai antioksidan. Beta karoten tidak larut dalam air tetapi
larut dalam pelarut non polar (Lundanes, 2013).

(Lundanes, 2013).

3. Petrolium Eter

Petrolium Eter merupakan pelarut organik non polar. Petroleum eter sangat mudah terbakar dengan
auto-ignition suhunya sebesar 288C atau 550,4F. Untuk penyimpanannya sebaiknya disimpan di
tempat terpisah dan tempat yang sejuk, berventilasi baik. petrolium eter dapat digunakan untuk
mengekstrak pigmen di dalam sampel dan sebagai fase gerak pada kromatografi kolom (Kurniawati,
dkk, 2007).

4. aseton
Aseton Dikenal sebagai propanon, dimetil keton, 2-propanon, propan-2-on, dimetilformaldehida, dan
-ketopropana, merupakan keton yang paling sederhana, digunakan sebagai pelarut polar dalam
kebanyakan reaksi organik. Aseton merupakan senyawa keton paling sederhana berbentuk cairan
yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Serta merupakan keton yang paling sederhana. Dalam
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

industri, aseton biasanya digunakan dalam pembuatan serat dan industri farmasi (Kurniawati, dkk,
2007).

5. alumina
Alumina (Al2O3) adalah bahan baku utama untuk memproduksi Aluminium, Alumina berbentuk
putih bubuk dan memiliki sifat basa dan polar. Di dalam proses industri, alumina digunakan sebagai
bahan baku untuk memproduksi alumunium. Sedangkan pada kolom, alumina digunakan sebagai
fase diam karena sifatnya yang polar, sehingga dapat mengadsorpsi beta karoten dan membentuk
pita warna di dalam kolom yang nantinya akan berfungsi dalam pemisahan beta karoten (Noviyanti,
2010).

6. Total beta karoten Pada Ubi Orange dan Wortel


Beta karotene merupakan pigmen pada bahan pangan yang biasanya memiliki warna jingga. Beta
karotene umumnya ada pada wortel dan ubi jalar. Total beta karoten pada ubi orange adalah 1,90
g/g 5,33 g/g (Sabuluntika, 2013). Sedangkan total beta karoten pada wortel adalah sekitar 50%
dari total karotenoid, yaitu 8285 mcg per 100 gram wortel. Kedua senyawa ini merupakan sumber
provitamin A dan prekursor vitamin A. (Lundanes, 2013).
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Daftar Pustaka
Khopkar, SM. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press Noviyanti, l. 2010. Modifikasi
Teknik Kromatografi Kolom Untuk Pemisahan Trigliserida dari Ekstrak Buah Merah. Surakart:
Universitas Sebelas Maret
Kurniawati, Pipin, dkk. 2007. Antioxidant And Antibacterial Activities Of Bixin Pigment From
Annato (Bixa orellana L.) Seeds. Indo Journal Chemicals 7 (1) : 88-92
Lukitaningsih, Endang. 2012. Kromatografi. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada
Lundanes, Elsa. 2013. Chromatography: Basic Principles, Sample Preparations and Related
Methods. New York: John Wiley and Sons
Noviyanti, Lenia. 2010. Modifikasi Teknik Kromatografi Kolom untuk Pemisahan Trigliserida dari
Ekstrak Buah Merah. Surakarta: Universitas Sebelas Maret
Pherman. 2008. Isolation of Chlorophyll and Carotenoid Pigments From Spinach.
http://fog.ccsf.cc.ca.us diakses pada tanggal 11 Mei 2016 Pukul 10.00
Prasetyo, Susiana, dkk. 2015. The Pre-chromatography Purification of Crude Oleoresin of
Phaleria Macrocarpa Fruit Extracts by Using 70%-v/v Ethanol. Bandung : Universitas
Parahyangan
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

BAB VIII
KROMATOGRAFI KOLOM
LAPORAN

Persamaan regresi kurva standar : Tabel Poin + Kurva


Tabel
No. Konsentrasi Absorbansi
1. 0,0004 0,004
2. 0,0008 0,052
3. 0,0012 0,100
4. 0,0016 0,140
5. 0,002 0,207

Y = 123,5x 0,0476
R2= 0,9933

Kurva

kurva standar beta karoten


0.25
y = 123.5x - 0.0476
0.2
R = 0.9933
Absorbansi

0.15

0.1

0.05

0
0 0.0005 0.001 0.0015 0.002 0.0025
konsentrasi

Perhitungan kadar beta karoten dari sampel yang dianalisis :

Y = 123,5x 0,0476
0,279 = 123,5x 0,0476
123,5x = 0,279 + 0,0476
x = 2,64 x 10-3
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Berat sampel Absorbansi


3,0006 gram 0,279

konsentrasi x Fp x V filtrat x 100/37


Kadar beta karoten =
berat sampel
2,64 x 103 x 20,83 x 100
=
3,006
= 1,835 mg/g

volume dalam labu


Faktor pengenceran =
volume keluar kolom
25
=
1,2
= 20,83
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

LKP
1. Apa yang menjadi fase stasioner dan fase mobil pada analisis beta karoten dengan
kromatografi kolom?
Fase stasioner yang digunakan pada analisis beta karoten kali ini adalah alumina.
Dimana alumina berfungsi sebagai adsorben yang akan mengikat senyawa senyawa polar yang
ada pada sampel. Sedangkan fase mobile yang digunakan adalah petroleum eter aseton (10 :
1) dan juga petroleum eter aseton (1 : 1). Petroleum eter-aseton (10:1) berfungsi untuk
mengelusi senyawa senyawa non polar dan mengekstrak betakaroten yang ada pada sampel
karena sifatnya yang sangat non polar, sehingga senyawa non polar akan ikut terlarut dalam
larutan tersebut. Sementara itu petroleum eter-aseton (1:1) berfungsi untuk memaksimalkan
proses ekstraksi, dimana senyawa non polar, dalam hal ini beta karoten yang sudah terekstrak
masih berikatan dengan senyawa semi polar. Fungsi petroleum eter-aseton (1:1) adalah untuk
memaksimalkan agar tinggal senyawa non polar yang benar benar terlarut dan bukan lagi
betakaroten yang masih berikatan dengan senyawa semi polar.

2. Komponen apa yang terelusi pada analisis beta karoten dengan kromatografi kolom?
Pada analisis ini, yang terelusi pada kromatografi kolom adalah komponen non polar atau
dalam hal ini adalah betakaroten. Kelompok karotenoid seperti betakaroten larut terhadap
pelarut non polar seperti n-heksan dan petroleum eter sehingga komponen beta karoten akan
terelusikan oleh fase mobile yang digunakan yaitu petroleum eter sehingga komponen beta
karoten akan ikut terbawa turun karena sifat kepolarannya yang sama dengan pelarut yang
digunakan (Wahyuni, 2015).

3. Komponen apa yang teradsorbsi kuat pada adsorben?


Komponen yang memiliki kepolaran yang sama dengan adsorben. Adsorben yang
digunakan pada kromatografi ini yaitu alumina yang bersifat polar seperti air maupun aquades
yang digunakan saat preparasi sampel. Komponen polar akan terikat pada adsorben karena
memiliki afinitas atau polaritas yang lebih besar dari komponen atau senyawa lainnya.
Komponen dengan tingkat kepolaran paling tinggi dalam sampel ketika dilakukan pemisahan
dengan kromatografi kolom, akan tertahan dan teradsorbsi pada fase stasioner yang digunakan.

4. Apakah analsis tersebut dapat memisahkan beta karoten dengan karotenoid lain seperti
alfa dan gama karoten?
Analisis ini tidak dapat memisahkan betakaroten dengan karotenoid lain seperti alfa dan
gamma karoten karena alfa, beta, dan gamma karoten memiliki kepolaritasan yang berdekatan
atau yang hamper sama sehingga analisis dengan kromatografi ini dgunakan untuk menentukan
total karoten dalam bahan.

5. Apa fungsi pengukuran kadar beta karoten dalam eluen dengan spektrofotometer?
Fungsinya untuk mengetahui nilai absorbansi betakaroten dimana nilai absorbansi
tersebut dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi betakaroten dalam suatu sampel.

6. Apa fungsi ekstraksi dengan petroleum eter-aseton?


Fungsi ekstraksi dengan petroleum eter-aseton adalah untuk mengeskstrak komponen non
polar dalam hal ini betakaroten yang ada pada sampel. Betakaroten yang termasuk karotenoid
akan larut dalam pelarut PE-aseton yang juga memiliki kepolaran yang sama dengan
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

betakaroten (Wahyuni, 2015). Dengan larutnya betakaroten pada pelarut maka beta karoten
akan lebih mudah dipisahkan dari sampel dengan komponen yang lain.

7. Fraksi apa saja yang terekstrak pada proses ekstraksi tersebut?


Fraksi yang terekstrak yaitu fraksi polar dan non polar. Fraksi polar berupa aquades-
aseton, tetapi fraksi tersebut tidak digunakan dalam analisis ini. Yang digunakan dalam analisis
yaitu fraksi non polar yang berupa fase eter. Fase eter yang akan dianalisis kadar beta karoten
dengan kromatografi kolom.

8. Apa fungsi penambahan akuades pada ekstrak petroleum eter-aseton?


Fungsinya yaitu untuk melarutkan komponen-komponen yang bersifat larut aquades dan
aseton yang masih tersisa, sehingga didapatkan hasil larutan yang tidak mengandung aquades
dan aseton.

9. Fraksi apa yang larut pada aseton-air dan petroleum eter?


Fraksi yang larut pada aseton-air yaitu komponen-komponen yang bersifat polar seperti
pigmen yang larut dalam air karena aseton bersifat semipolar dan air bersifat polar. Sedangkan,
fraksi yang larut pada petroleum eter yaitu komponen-komponen yang bersifat non polar seperti
betakaroten.

10. Sebutkan beberapa sumber-sumber bahan pangan yang yang tinggi beta karoten?
Sumber-sumber yang kaya akan betakaroten yaitu sayur dan buah-buahan seperti
wortel, ubi, labu siam, labu, parika orange, apricot, blewah, papaya dan manga. Sayur dan
buah-buahan tersebut tentunya berwarna orange, namun ada juga sayur-sayuran dan buah-
buahan yang merupakan sumber beta karoten walaupun tidak berwarna orange tetapi merah
dan hijau, seperti tomat, paprika merah, lobak, kubis, selada, dan semangka (Mohrman, 2012).
Selain dari tanman, sumber beta karoten juga dapat berasal dari kelompok cyanobacteria
dan alga biru-hijau seperti spirulina. Fungi yang dapat dimakan seperti Monascus purpureus juga
kaya akan betakaroten. Seelain itu, juga dapat berupa andum seperti oats (Mohrman, 2012).

Prinsip disertai literature dan Rumus


Prinsip kerja kromatografi kolom yaitu senyawa campuran yang akan dipisahkan akan
tertahan pada fase diam dan saat solven dialirkan, maka senyawa-senyawa yang kepolarannya
sesuai dengan solven akan bergerak dan terbawa oleh solven. Senyawa yang terlarut dalam solven
akan bergerak lebih cepat sedangkan senyawa yang berikatan dengan fase diam akan bergerak
lebih lambat sehingga senyawa-senyawa tersebut dapat berpisah dan membentuk fraksi
(Sastrohamidjojo, 2006).

Rumus untuk menentukan kadar beta karoten yaitu (Satriyanto, 2012):


A x Vencer x Veter K
Total Karoten (ppm) = 0.25 x M
x 1000 x 50

Keterangan: Veter = Volume eter


A = Absorbansi K = Karoten
Vencer = Volume hasil pengenceran M = Massa sampel
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Analisa Prosedur

1. Proses Ekstraksi Betakaroten dari Sampel


Siapkan alat-alat yang digunakan pada praktikum yaitu timbangan analitik untuk
menimbang berat; pipet tetes dan bulb untuk memindahkan larutan dengan volume tertentu;
labu takar berfungsi untuk mengencerkan sampel; kertas saring dan corong sebagai
penyaring sampel (memisahkan komponen natan dan supernatant); labu pemisah untuk
memisahkan komponen polar dan non-polar dengan pengocokan. Bahan-bahan yang
dibutuhkan adalah sampel wortel, Petroleum Eter-Aseton (1:1), akudes, dan Petroleum Eter-
Aseton (10:1).
Pertama-tama sampel yaitu wortel dicuci, dikupas, dan dipotong-potong. Setelah itu
wortel dihaluskan dengan mortar dan lumpang. Setelah itu sampel ditimbang dengan
timbangan analitik hingga mencapai 3 gram. Caranya adalah dengan menaruh cawan
kosong ke dalam timbangan kemudian ditekan 0. Setelah itu masukkan wortel dan timbang
sampai 3 gram. Pindahkan wortel ke dalam labu Erlenmeyer. Tambahkan petroleum eterl-
aseton 1:1 sebanyak 30ml menggunakan pipet ukur yang atasnya dipasang bulb. SIfat
petroleum eter adalah non-polar sehingga dapat mengikat dan melarutkan komponen non
polar dan aseton bersifat semi polar yang juga dapat mengkat beta karoten (proses ekstraksi
lebih optimal). Masukkan labu erlenmeyer ke dalam shaker dan biarkan selama 10 menit.
Kemudian saring larutan tersebut. Caranya adalah dengan memasang kertas saring pada
corong kemudian letakkan di atas labu Erlenmeyer. Penyaringan berfungsi untuk
memisahkan beta karoten dari komponen lain dari wortel. Saring lagi sebanyak 2 kali
sehingga dihasilkan filtrate sebanyak 90ml. Pindahkan filtrate ke dalam labu ukur.
Tambahakan PE Aseton 1:1 hingga tanda batas dengan pipet ukur yang atasnya dipasang
bulb. Homogenkan dengan cara menggojog sebanyak 12 kali. Ambil 50 ml larutan tersebut
kemudian pindahkan ke dalam labu pemisah. Masukkan akuades sebanyak 50ml ke dalam
labu pemisah. Penambahan akuades berguna untuk mengikat komponen polar pada bahan.
Kocok hingga terjadi pemisahan antara zat yang polar dan non-polar. Buka ujung labu
pemisah sesekali untuk mengeluarkan gas. Pengocokan akan menghasilkan 3 lapisan,
lapisan paling atas berwarna kuning bening yang merupakan larutan non polar, lapisan
kedua merupakan larutan semi-polar yang berwarna kuning, dan lapisan ketiga yang
merupakan larutan polar. Buang larutan pada lapisan kedua dan ketiga melalui ujung corong.
Lakukan hal ini sebanyak dua kali agar pemisahan komponen polar dan non-polar semakin
optimal. Masukkan zat yang non-polar ke dalam labu Erlenmeyer, zat ini dinamakan sebagai
fase eter sebanyak 19ml.

2. Proses Pemisahan Fraksi Senyawa Menggunakan Kromatografi Kolom


Siapkan alat-alat yang digunakan pada praktikum yaitu timbangan analitik untuk
menimbang berat; pipet tetes dan bulb untuk memindahkan larutan dengan volume tertentu;
labu takar berfungsi untuk mengencerkan sampel; kertas saring dan corong sebagai
penyaring sampel (memisahkan komponen natan dan supernatant); kolom untuk
memisahkan komponen polar dan non-polar; spektrofotometer untuk mengukur absorbansi
sampel. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah sampel wortel, Natrium sulfat, kapas,
alumina, dan Petroleum Eter-Aseton (10:1).
Fase eter dalam erlenmeyer ditambahkan dengan Natrium Sulfat. Perbandingan
natrium sulfat yang ditambahkan pada sampel sebanyak 1:5, maka 19 ml fase eter
ditambahkan dengan 0.95 gram natrium sulfat. Fungsi penambahan natrium sulfat adalah
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

untuk mengikat sisa akuades karena sifat natrium sulfat higroskopis dan polar. Kemudian
larutkan.Natrium sulfat tidak sepenuhnya terlarut karena fase eter bersifat non-polar.
Persipkan fase stasioner pada sampel, caranya adalah memasukkan kapas pada bagian
paling bawah kolom hingga ketinggian 1.5 cm, kemdian ditumpuk dengan alumina setinggi
10cm, natrium sulfat setinggi 1.5 cm, dan yang paling ats adalah 1.5cm kapas. Fungsi kapas
adalah untuk menyaring komponen, alumina berfungsi untuk mengikat komponen polar, dan
natrium sulfat untuk mengikat komponen polar lanjutan. Kemudian masukkan fase eter ke
dalam kolom yang sudah siap. Masukkan larutan PE-aseton (10:1) ke dalam kolom. Tutup
kolom dengan plastic berlubang. Masukkan pompa vakum ke dalam lubang pada plastic
agar proses pemisahan dalam kolom semakin cepat. Tunggu hingga komponennya terpisah.
Indikasi bahwa beta karoten akan turun adalah pita berwarna kuning berada di dekat keran
kolom. Siapkan gelas beker. Tampung beta karoten yang terpisahkan. Ukur berapa
volumenya. Pindahkan ke labu ukur. Tambahkan PE-Aseton (10:1) hingga tanda batas. Ukur
absorbansinya dengan spektrofotometer panjang gelombang 45nm. Cari nilai konsentrasinya
dan buat grafik persamaannya.

3. Pembuatan Larutan Standar Betakaroten


Ambil beta-karoten kemudian timbang dengan timbangan analitik sebanyak 10mg
(0.001 gram) dengan timbangan analitik. Kemudian pindahkan ke dalam labu Erlenmeyer/.
Tambahkan petroleum eter-aseton 10:1 sebanyak 25 ml. Cara mengambil dengan
menuangnya ke dalam gelas ukur, baru kemudian dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer.
Larutkan dengan menggoyang-goyangkan. Siapkan tablabu takar 25ml sebanyak 5 buah.
Masukkan campuran tadi dengan volume yang berbeda-beda yaitu: 0.25, 0.5, 0.75, 1, dan
1.25. Pada masing-masing labu ukur diisi dengan Petroleum eter-aseton (10:1) hingga tanda
batas. Homogenkan dengan cara digojog sebanyak 12 kali. Ambil dari masing-masing labu
ukur sebanyak 1ml dan pindahkan ke dalam labu ukur 10 ml. Tambahkan PE-aseton 10:1
sebanyak tanda batas. Digojog 12 kali agar homogen. Kemudian ukur absorbansinya
dengan panjang gelombang 450nm. Dengan Microsoft excel carilah persamaannya dan buat
kurva. Kemudian ukur kadar beta karoten dan catat hasilnya.
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Analisa DHP dibandingkan dengan literatur


Sampel wortel ditimbang sebesar 3 gram yang dihitung absorbansinya dan didapatkan
sebesar 0,279 Selanjutnya, dimasukkan ke dalam persamaan y=123,5x 0,0496. Didapatkan nilai
konsentrasinya sebesar 2,64 x 10-3. Selanjutnya dimasukkan pada rumus kadar beta karoten dan
didapatkan hasil 1.835 mg/g.
Menurut literatur, kadar betakaroten pada wortel berkisar 8.1 -19.3 mg/100 g atau dapat
dikatakan sebesar 0.08-0.193 mg/g (Mustafa dkk, 2012). Hal ini data hasil praktikum tidak sesuai
dengan literatur dan terjadi kesalahan positif. Faktor yang mempengaruhi kesalahan dapat berupa
kesalahan identifikasi, ekstraksi yang belum cukup, proses kromatografi yang belum sempurna,
kesalahan perhitungan, dan terjadinya isomerisasi dan oksidasi pada karoten selama proses analisa
atau penyimpanan sampel sebelum dianalisa, pengenceran yang berlebih, dan perpindahan jenis
carotene dari satu pelarut ke pelarut lain yang belum maksimal ketika proses pemisahan
(Rodriguez, 2007).

(Mustafa dkk, 2012).

Analisa Kurva Larutan Betakaroten Standar dibandingkan dengan literature


Berdasarkan kurva standart yang diperoleh, dapat dijelaskan bahwa konsentrasi berbanding
lurus dengan absorbansi. dimana peningkatan absorbansi maka otomatis juga konsentrasinya akan
meningkat. Berdasarkan hasil absorbansi dengan spektrofotometer pada kurva standar, didapatkan
persamaan Y =123,5x-0,0476 dan nilai R2=0,9933. Nilai R2 hampir mendekati 1 menunjukkan data
hasil praktikum sudah mendekati kebenaran uji. Semakin tinggi konsentrasi dari sampel uji, maka
nilai absorbansi yang dihasilkan dari pembacaan spektrofotometer juga semakin tinggi, dan semakin
banyak ulangan sampel, maka nilai R yang didapatkan akan semakin akurat. Menurut Sathya dkk
(2014), kurva standar untuk betakaroten linear, dimana semakin besar konsentrasi maka nilai
absorbansinya semakin tinggi. Pada literatur menggunakan panjang gelombang 440nm dimana
didapatkan persamaan regeresi linearnya yaitu y=0,012x+0.002 dan nilai R2=0,988. Nilai R pada
literatur juga mendekati 1 dimana sudah mendekati uji kebenaran. Hal ini dapat diakatakan bahwa
data hasil praktikum sudah sesuai dngan literatur.
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

(Sathya dkk, 2014).


Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Kesimpulan
Prinsip dari kromatografi kolom adalah memisahkan komponen secara selektif berdasarkan sifat
adsorbsi senyawa terhadap fase mobile maupun fase stasioner yang digunakan. Tujuan dari
praktikum ini adalah mampu mengidentifikasi peralatan yang diperlukan untuk analisis dengan
kromatografi kolom adsorbs, mampu mengoperasikan peralatan yang digunakan untuk analisis
dengan kromatografi kolom adsorpsi dengan benar, mengetahui prinsip dasar analisis dengan
kromatografi kolom adsorpsi, serta mengetahui prinsip dasar kromatografi kolom adsorpsi.
Adapun hasil dari praktikum, nilai absorbansi yang didapatkan dari sampel adalah 0.279 sehingga
didapatkan hasil perhitungan konsentrasi betakaroten 2,64x10-5. Sedangkan hasil perhitungan kadar
betakaroten pada sampel wortel adalah 1,835 mg/gram.
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Daftar Pustaka tambahan

Mohrman, J. 2012. Foods That Contain Beta-Carotene. [online].


(http://www.livestrong.com/article/111260-foods-contain-betacarotene/ diakses pada
tanggal 17 Mei 2016 pukul 16.03)
Mustafa, A., Leire M., dan Charlotta T. 2012. Pressurized Hot Ethanol Extraction of Carotenoids
from Carrot By-Products. Journal Molecule. Vol. 17
Rodriguez, D. B. 2007. A Guide To Carotenoid Analysis In Foods. Washington D.C: ILSI Press
Sathya, M., Sumanthi, dan John J. 2014. A Simple and Rapid Screening Technique for Grain Beta
Carotene content in Pearl Millet Through Spectrophotometric Method. African Journal of
Agricultural Research. Vol. 9 No. 5
Satriyanto, Budi dkk. 2012. Stabilitas Warna Ekstrak Buah Merah (Pandanus conoideus) Terhadap
Pemanasan Sebagai Sumber Potensial Pigmen Alami. Fakultas Teknologi Pertanian,
Universitas Brawijaya. Malang
Wahyuni, Dyah Tri dkk. 2015. Pengaruh Jenis Pelarut dan Lama Ekstraksi Terhadap Ekstrak
Karotenoid Labu Kuning dengan Metode Gelombang Ultrasonik. Jurnal Pangan dan
Agroindustri. 3(2): 390-401
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

Diagram Alir
1. Proses Ekstraksi Betakaroten dari Sampel

Wortel

Dihaluskan dan ditimbang sebanyak 3 gram

Dimasukkan erlenmeyer

30 ml petroleum
total3 eter-aseton 1:1
X
Ditutup dan dishaker selama 10 menit, kecepatan skala 3

Disaring
Residu
Dituangkan kedalam labu ukur 100 ml

30 ml petroleum
eter-aseton 1:1

Ditambahkan hingga tanda batas dan dihomogenkan

Diambil 50 ml dan dimasukkan corong pemisah

50 ml aquades
Dimasukkan pada corong pemisah dan digojog
total3
Dibiarkan sampai membentuk lapisan X

Lapisan bening bawah dibuang

Lapisan kuning dimasukkan dalam gelas ukur untuk mengukur volume

Dipindahkan ke gelas beker

Hasil
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

2. Proses Pemisahan Fraksi Senyawa Menggunakan Kromatografi Kolom

Fase eter

Dimasukkan gelas ukur untuk menghitung volume

1 gram Na2SO4

Ditambahkan tiap 20 ml fase eter

Dimasukkan dalam kolom kromatografi

Dipompa vakum
Larutan petroleum
eter-aseton (10:1)

Dielusikan ke dalam kolom

Didapatkan betakaroten dan dimasukkan labu ukur 25 ml


Larutan petroleum
eter-aseton (10:1)

Ditambahkan hingga tandabatas

Diukur absorbansi panjang gelombang 450 nm

Dihitung kadar betakaroten

Hasil
Nama : Yunita Khilyatun N
NIM :145100107111028
Kelas :D
Kelompok : D9

3. Pembuatan Larutan Standar Betakaroten

10 mg betakaroten

Dimasukkan dalam labu ukur 25 ml


Larutan petroleum
eter-aseton (10:1)

Ditambahkan hingga tanda batas dan dihomogenkan

Dishaker hingga larut

Diambil pada volume


0.25 ml, 0.5 ml, 0.75 ml, 1 ml, dan 1.25 ml

Dimasukkan masing-masing pada labu ukur 25 ml


Larutan petroleum
eter-aseton (10:1)

Ditambahkan hingga tanda batas dan dihomogenkan

Diambil 1 ml untuk masing-masing volume

Dimasukkan dalam masing-masing labu ukur 10 ml


Larutan petroleum
eter-aseton (10:1)

Ditambahkan masing-masing hingga tanda batas dan dihomogenkan

Diukur absorbansi masing-masing larutan

Dibuat kurva hubungan konsentrasi dan absorbansi

Dihitung persamaan linear

Hasil