Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Meningkatnya arus pembangunan memberikan dampak yang cukup besar

pada pertumbuhan penduduk. Peningkatan jumlah penduduk tersebut selalu

berbanding lurus dengan pertumbuhan di berbagai sektor penunjang kehidupan

lainnya seperti sektor pemukiman dan perumahan yang tumbuh semakin cepat.

Dengan adanya perkembangan tersebut, ternyata memberikan dampak juga

terhadap kesenjangan lingkungan seperti terjadinya Sanitasi Lingkungan. Sanitasi

lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan,

pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebaginya. Akibat adanya

pembuangan kotoran atau limbah secara terus-menerus utamanya ke badan

perairan, maka perairan akan tercemar dan akan berdampak pada keseimbangan

ekologi perairan bahkan dapat mengancam nyawa manusia itu sendiri. Bahan

organik terlarut dapat menghabiskan oksigen dalam limbah serta akan

menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap pada penyediaan air besih, selain itu

akan lebih berbahaya bila bahan tersebut merupakan bahan beracun.

Bahan organik adalah bahan dari tanah yang merupakan suatu sistem

kompleks dan dinamis yang bersumber dari sisa tanaman atau binatang yang

terdapat dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk karena

dipengaruhi faktor biologi, kimia dan fisika. Komponen bahan organik yang

penting adalah C dan N. Bila jumlah C organik dalam tanah dapat diketahui maka

kandungan bahan organik tanah juga dapat dihitung. Kandungan bahan organik

merupakan salah satu indikator tingkat pencemran lingkungan.


Penentuan kadar C-organik suatu sampel dapat dilakukan dengan

menggunakan metode spektrofotometer UV-Vis. Spektrofotometer UV-Vis

merupakan metode yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan panjang

gelombang tertentu oleh suatu atom atau molekul. Jumlah oksigen yang

dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen. Bertdasarkan uraian tersebut,

maka perlu dilakukan percobaan tentang Penentuan Nilai C-Organik suatu Sampel

Air Limbah Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-Vis.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada perobaan Penentuan Nilai C-Organik suatu

Sampel Air Limbah Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-Vis, yaitu

bagaimana menentukan nilai C-Organik dalam sampel air Limbah menggunakan

Metode Spektrofotometri UV-Vis?

C. Tujuan

Tujuan dilakukannya percobaan Penentuan Nilai C-Organik suatu Sampel

Air Limbah Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-Vis, yaitu untuk

menentukan nilai C-Organik dalam sampel air Limbah menggunakan Metode

Spektrofotometri UV-Vis.

D. Manfaat

Manfaat dilakukannya percobaan Penentuan Nilai C-Organik suatu

Sampel Air Limbah Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-Vis, yaitu dapat

menentukan nilai C-Organik dalam sampel air Limbah menggunakan Metode

Spektrofotometri UV-Vis.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha atau

kegiatan pemukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan

asrama. Beberapa bentuk dari air limbah ini berupa tinja, air seni, limbah kamar

mandi dan juga sisa kegiatan dapur rumah tangga. Jumlah air limbah yang

dibuang akan selalu bertambah dengan meningkatnya jumlah penduduk dengan

segala kegiatannya. Apabila jumlah air yang dibuang berlebihan melebihi dari

kemampuan alam untuk menerimanya maka akan terjadi kerusakan lingkungan.

Lingkungan yang rusak akan menyebabkan menurunnya tingkat kesehatan

manusia yang tinggal pada lingkungannya itu sendiri sehingga oleh karenanya

perlu dilakukan penanganan air limbah yang seksama dan terpadu baik itu dalam

penyaluran maupun pengolahannya (Wulandari, 2014).

Karbon merupakan komponen utama penyusun biomassa tanaman melalui

proses fotosintesis. Adanya peningkatan karbondioksida di atmosfer secara global

telah menyebabkan timbulnya masalah lingkungan. Hutan tanaman selain

diharapkan mampu menggantikan peran utama hutan alam dalam menyediakan

kebutuhan bahan baku kayu bagi industri perkayuan di Indonesia, dikarenakan

semakin menurunnya potensi kayu dari hutan alam. Kondisi fisik areal gambut

yang memiliki massa karbon sangat tinggi menyebabkan kegiatan pemanenan

kayu harus dilakukan secara hati-hati dan menggunakan perencanaan pemanenan

kayu yang matang dan benar (Yuniawati dan Sona, 2014).

C-Organik menggambarkan keadaan bahan organik pada tanah. Selain

ketinggian tempat, kedalaman tanah juga mempengaruhi besar atau kecilnya nilai
beberapa aspek kesuburan (COrganik, NTotal dan PTersedia). Kadar C-

Organik cenderung menurun seiring pertambahan kedalaman tanah dikarenakan

kebiasaan petani yang memberikan bahan organik dan serasah yang jatuh pada

permukaan tanah. pengaruh bahan organik terhadap ketersediaan hara fosfat di

dalam tanah melalui hasil pelapukkannya, yaitu asamasam organik dan CO2.

Bahan organik merupakan salah satu sumber Posfor bagi tanah (Sipahutar dkk.,

2014).

Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota tehnik analisi spektroskopik yang

memakai sumber radiasi REM ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-

780 nm) dengan memakai instrument spektrofotometer. Spektrofotometer UV-Vis

melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis sehingga

spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dari pada

kualitatif (Andari, 2013).

Larutan artificial K2Cr2O7 merupakan larutan standar yang biasa

digunakan untuk menentukan kadar Cr+6 dalam suatu sampel. Krom merupakan

logam berat, biasanya terdapat dalam dua keadaan oksidasi yaitu Cr(III) dan

Cr(VI). Dua spesies tersebut mempunyai perbedaan dalam hal sifatsifat kimia,

bioavailabilitas dan toksisitasnya. Krom(III) merupakan nutrisi essensial yang

sangat penting untuk metabolism gula dan beberapa reaksi enzim. Sedangkan

krom(VI) sangat beracun, sangat aktif dalam air pada berbagai pH dan bersifat

karsinogenik. Krom (VI) dalam bentuk kromat maupun dikromat sangat toksik

yaitu dapat menyebabkan kanker kulit dan saluran pernafasan (Sunardi, 2012).
III. METOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Instrumen Spektroskopi dengan percobaan Penentuan Nilai C-

Organik suatu Sampel Air Limbah Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-

Vis dilaksanakan pada hari Senin, 29 Oktober 2017 pada pukul 13.00-15.25

WITA dan bertempat di Laboratorium Kimia Analitik, Jurusan Kimia, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan Penentuan Nilai C-Organik suatu

Sampel Air Limbah Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-Vis adalah

tabung reaksi, labu takar 100 mL dan 50 mL serta pipet tetes.

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan Penentuan Nilai C-Organik suatu

Sampel Air Limbah Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-Vis adalah

K2Cr2O7 1 N, H2SO4 pekat, glukosa p.a. dan sampel air Limbah (limbah air rumah

makan dan air pelelangan).


C. Prosedur Kerja

1. Pembuatan Larutan Standar

Glukosa

100 ppm 150 ppm 500 ppm 1000 ppm 1250 ppm

- dipipet masing-masing 2,5 mL dan


dimasukkan ke dalam tabung reaksi
berbeda
- ditambahkan 1,5 mL K2Cr2O7
- ditambahkan 3,5 mL H2SO4 pekat
- dikocok
- diukur nilai absorbansnya
menggunakan spektrofotometer UV-
Vis (= 651 nm)

Hasil Pengamatan

2. Pembuatan Larutan Blanko

Akuades

- Dipipet 2,5 mL dan dimasukkan ke


dalam tabung reaksi
- ditambahkan 1,5 mL K2Cr2O7 1 N
- ditambahkan 3,5 mL H2SO4 pekat
- dikocok
- diamati perubahan yang terjadi

Larutan Blanko
3. Preparasi Sampel

Sampel air limbah organik

- dipipet 2,5 mL dan dimasukkan ke


dalam tabung reaksi
- ditambahkan K2Cr2O7 1,5 mL
- ditambahkan H2SO4 pekat 3,5 mL
- dikocok dan diamati perubahan
warnanya
- diukur absorbansnya menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada
panjang gelombang 600 nm

Hasil Pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Data Pengamatan

Tabel 1. Data Hasil Pengukuran Absorbans Larutan Standar

Konsentrasi Larutan
No. Abs 1 Abs 2 Rata-Rata
Standar (ppm)
1 0 0 0 0
2 100 0.184 0.171 0.17750
3 150 0.106 0.447 0.27650
4 500 0.197 0.480 0.33850
5 1000 0.364 0.446 0.40500
6 1250 0.439 0.561 0.50000

2. Grafik Hubungan Konsentrasi dengan Absorbans

a. Untuk Absorbans 1

0.6
0.5 y = 0.00013x + 0.10417
R = 0.82474
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500

b. Untuk Absorbans 2

0.8

0.6

0.4

0.2
y = 0.00012x + 0.24326
R = 0.43648
0
0 1000 2000 3000 4000
c. Untuk Absorbans Rata-Rata

0.6
0.5
0.4
0.3
0.2 y = 0.00012x + 0.17371
0.1 R = 0.67498
0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500

d. Pengukuran Absorbans Sampel

Sampel Abs 1 Abs 2 Abs 3 Abs rata-rata


A 0.155 0.464 0.604 0.30575
B 0.181 0.531 0.534 0.31150

3. Analisis Data

Dari Kurva Kalibrasi standar di dapatkan kurva dengan nilai R2 paling

tinggi, yaitu pada grafik 1 dengan persamaan linear (y = 0.00013x + 0.10417)

dimana (y) menyatakan nilai pengukuran absorbansi (x) menyatakan kadar C-

Organilk dalam sampel.

a. Diketahui : y = 0.30575 (sampel A)

a = 0,00013

b = 0,10417

Ditanyakan : x = ........?

Penyelesaian:

yA1 = ax b

0.30575 = 0,00013x 0,10417

0,00013x = 0.30575 + 0,10417


x = 0,25917 = 3153,2308
0,00013

b. Diketahui :y = 0.31150 (sampel B)

a = 0,00013

b = 0,10417

Ditanyakan : x = ........?

Penyelesaian:

yB1 = ax b

0.31150 = 0,00013x 0,10417

0,00013x = 0.31150+ 0,10417

x = 0,41567 = 3197,4615
0,00013

B. Pembahasan

Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik

kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa

humus hasil humufikasi maupun senyawa hasil mineralisasi, termasuk mikroba

heterotrofik dan ototrofik yang terlibat. Bahan organik biasanya disusun dari

komponen karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) bersama-sama dengan

nitrogen (N). Seringkali juga ditemukan adanya fosfor (P), belerang (S), dan besi

(Fe). Pencemar bahan organik biasa bersumber dari usaha berskala makro atau

mikro yang membuang begitu saja limbahnya ke lingkungan seperti dijumpai di

Rumah Makan atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Salah satu parameter yang
digunakan untuk mengidentifikasi tingkat pencemaran suatu air, yaitu KOT

(Karbon Oksigen Total).

Metode KOT (Karbon Oksigen Total) ini menjadikan parameter jumlah C-

organik yang terlarut dalam sampel untuk menidentifikasi tingkat pencemaran.

Bilamanana kandungan C-Organik tinggi, maka air tersebut tercemar karena

kandungan bahan organiknya sangat banyak. Nilai C-organik penting untuk

mikroorganisme tidak hanya sebagai unsur hara, tetapi juga sebagai pengkondisi

sifat fisik tanah yang mempengaruhi karakteristik agregat dan air tanah. C-organik

tanah juga digunakan untuk menentukan dosis asam-asam organik dan apabila

ditambahkan ke dalam tanah akan meningkatkan kandungan senyawa organik

dalam tanah yang dicirikan dengan meningkatnya kadar C organik tanah.

Syarat larutan yang akan dianalisis menggunakan spekrofotometer UV-Vis

adalah larutan harus homogen dan tidak mengandung zat-zat pengotor. Selain itu,

sampel yang akan dianalisis adalah larutan yang berwarna. Kemudian sampel air

limbah dan larutan standar direaksikan. Berdasarkan pengamatan terlihat

perubahan warna dari bening menjadi merah. Perubahan warna ini terjadi karena

kalsium kromat merupakan oksidator kuat yang dapat mereduksi logam-logam

berat. Langkah selanjutnya adalah mereaksikan larutan yang telah dibuat di awal

dengan kalium dikromat (K2Cr2O7) dan asam sulfat (H2SO4) pekat. Kalium

dikromat berfungsi sebagai penyedia oksigen dan asam sulfat berfungsi sebagai

katalis yang mempercepat terjadinya reaksi. Larutan yang telah dipersipkan

kemudian dianalisis menggunakn spektrofotometer UV-Vis.


Percobaan ini akan mengidentifikasi nilai C-organik antara glukosa

(larutan standar) dengan kedua sampel, yakni air rumah makan (sampel 1) dan air

pelelangan (sampel 2). Tahapan pertama yaitu mengukur absorbansi larutan

glukosa dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis ( = 651 nm) dengan dua

kali pengujian. Konsentrasi larutan glukosa yang digunakan adalah 100, 150, 500,

1000 dan 1250 ppm. Diperoleh data absorbansi pertama berturut-turut 0.184,

0.106, 0.197, 0.364 dan 0,439 Abs. Sedangkan data absorbansi kedua berturut-

turut 0.171, 0.447, 0.480, 0.446 dan 0.561 Abs. Dari kedua data absorbansi

tersebut diperoleh nilai absorbasi rata-rata, yakni 0.1775, 0.2765, 0.3385, 0.405

dan 0.5 Abs.

Tahapan kedua absorbansi kedua sampel dalam tiga plot berbeda. Untuk

sampel 1 (air rumah makan) nilai absorbansinya, yaitu 0.155, 0.464 dan 0.604

Abs dengan absorbansi rata-rata sebesar 0.30575 Abs. Sedangkan untuk sampel 2

(air pelelangan) nilai absorbansinya, yaitu 0.181, 0.531 dan 0.534 Abs dengan

absorbansi rata-rata sebesar 0.3115 Abs. Dari data absorbansi rata-rata kedua

sampel dimasukan kedalam persamaan regresi linear larutan standar 1 yaitu y =

0,00013x + 0,10417 untuk mengetahui nilai C-organik kedua sampel. Berdasarkan

data yang diperoleh, nilai C-organik untuk sampel 1 (air rumah makan) sebesar

3153,2308 sedangkan sampel 2 (air pelelangan) sebesar 3197,4615. Dari data

tersebut dapat disimpulkan nilai C-organik terbesar terdapat pada sampel air

pelelangan yang berarti sampel air pelelangan yang paling tercemar dibanding

sampel rumah makan.


V. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam

penentuan nilai C-organik dalam sampel air limbah (air rumah makan dan air

pelelangan) menggunakan metode spektrofotometri UV-Vi diperoleh hasil bahwa

niali C-organik terbesar diperoleh dari air pelelangan dengan nilai sebesar

3197,4615 sedangkan untuk air limbah rumah makan sebesar 3153,2308. Hal ini

menunjukan bahwa air pelelangan yang paling tercemar.


LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMEN SPEKTROSKOPI

PERCOBAAN II

PENENTUAN NILAI C-ORGANIK SUATU SAMPEL AIR LIMBAH

MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETER UV-Vis

NAMA : RIZAL SUHARDIMAN

STAMBUK : F1C1 15 098

KELOMPOK : IV (EMPAT)

ASISTEN : BENI SAPUTRA


LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017