Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES SCROTUM

1. Konsep penyakit

1.1 Definisi
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telahmati)
yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses
infeksi(biasanya oleh bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing
(misalnya serpihan, luka peluru, atau jarum suntik). Proses inimerupakan reaksi
perlindungan oleh jaringan untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke
bagian tubuh yang lain. Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala
berupa kantong berisinanah. (Siregar, 2004)

Abses Skrotum merupakan salah satu kasus dalam bidang urologi yang harus
segera ditangani untuk mencegah terjadinya kerusakan pada testis dan terjadinya
Fourniers gangrene. Abses Srotum adalah kumpulan purulen pada ruang diantara
tunika vaginalis parietalis dan viseralis yang berada mengelilingi Testis, Abses
skrotum,terjadi apabila terjadi infeksi bakteri dalam skrotum (burner et all, 2013)

abses skrotum adalah terbentuknya kantong berisi nanah pada jaringan kutis dan
subkutis akibat infeksi kulit skrotum yang disebabkan oleh bakteri/parasit atau
karena adanya benda asing.

1.2 Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui
beberapa cara :
a). Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang
tidak steril
b). Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain
c). Bakteri ya ng dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak
menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.

Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :

1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi


2. Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
3. Terdapat gangguan sistem kekebalan
4. Bakteri tersering penyebab abses adalah Staphylococus Aureus

1.3 Tanda dan Gejala


Dalam kasus ini abses yang terjadi adalah pada skrotum, tanda dan gejala abses
biasanya Paling sering, abses akan menimbulkan Nyeri tekan dengan massa yang
berwarna merah, hangat pada permukaan abses, dan lembut. Hingga terjadi
nekrosis pada jaringan permukaan skrotum.
Menurut Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa:

1. Nyeri
2. Nyeri tekan
3. Teraba hangat
4. Pembengkakan
5. Kemerahan
6. Demam

1.4 Patofisiologi
Terjadinya abses dikarenakan masuknya bakteri melalui luka atau infeksi di
bagian tubuh lain maupun bakteri dalam tubuh yang tidak menimbulkan
gangguan, lama kelamaan bagian yang terkena terjadi infeksi. Infeksi ini
menyebabkan sebagian sel mati dan hancur sehingga bagian tersebut berongga
berisi bakteri, sedangkan sebagian sel darah putih melakukan perlawanan dan
akhirnya mati, karena jumlah sel tersebut sedikit. Sel tersebut menjadi pus dan
akhirnya terdorong seperti benjolan yang disebut abses lalu terj adi peradangan
yang menimbulkan nyeri, membuat tidak nafsu makan. Peradangan tersebut
akhirnya pecah terjadi perdarahan sehingga menimbulkan kecemasan.
1.5 Diagnosa Keperawatan yang Sering muncul

1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi atau insisi pembedahan
2. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
3. Kerusakan Intergritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan.
4. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan luka terbuka

1.6 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


Diagnosa 1: Nyeri

1.6.1 Definisi
Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang
muncul secara aktual atau potensial kerusakan jaringan atau
menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi Studi Nyeri
Internasional): serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan
sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat
diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bula

1.6.2 Batasan karakteristik


Laporan secara verbal atau non verbal
Fakta dari observasi
Posisi antalgic untuk menghindari nyeri
Gerakan melindungi
Tingkah laku berhati-hati
Muka topeng
Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau,
menyeringai)
Terfokus pada diri sendiri
Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses
berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)
Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain
dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang)
Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah,
perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil)
Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari
lemah ke kaku)
Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada,
iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah)
Perubahan dalam nafsu makan dan minum
1.6.3 Faktor yang berhubungan
Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)

Diagnosa 2 : Intoleransi aktivitas

1.6.2 Definisi
Ketidakcukupan energu secara fisiologis maupun psikologis untuk
meneruskan atau menyelesaikan aktifitas yang diminta atau
aktifitas sehari hari.

1.6.3 Batasan karakteristik


a. melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
b. Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap
aktifitas
c. Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
d. Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.
1.6.4 Faktor yang berhubungan
Tirah Baring atau imobilisasi
Kelemahan menyeluruh
Ketidakseimbangan antara suplei oksigen dengan kebutuhan
Gaya hidup yang dipertahankan.

2.6 Perencanaan
Diagnosa 1: Nyeri

2.6.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan


NOC
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi
nyeri, mencari bantuan)
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
c. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan
tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
e. Tanda vital dalam rentang normal

2.6.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC


Pain management

a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk


lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
d. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
e. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
f. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang
ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
g. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
dukungan
h. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
i. Kurangi faktor presipitasi nyeri
j. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non
farmakologi dan inter personal)
k. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
l. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
m. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
n. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
o. Tingkatkan istirahat
p. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
q. Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration
1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
5. Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
6. Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
7. Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara
teratur
8. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama
kali
9. Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
10. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

Diagnosa 2 : Intoleransi aktivitas

2.6.2 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria) :


a. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan
darah, nadi dan RR
b. Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
2.6.3 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC
Energy Management

a. Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas


b. Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
c. Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
d. Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
e. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
f. Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
g. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
a. Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan
progran terapi yang tepat.
b. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
c. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan social
d. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
e. Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
f. Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
g. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
h. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas
i. Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
j. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

Daftar Pustaka

1. Burner.david,Ellie L Ventura,Jhon J Devlin. Scrotal Pyocele:Uncommon Urologic


Emergency.[online Apr-Jun 2012].[cited 2013 February 09th]. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3391854
2. Siregar, R,S.Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2.
Jakarta:EGC,2004.
3. Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Bruner and Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia
:Monica Ester. Edisi 8 jakarta : EGC,2001.
4. NANDA International. 2012.Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications 2012-
2014. Jakarta : EGC
5. Bulecheck, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, J. McCloskey.
2012.Nursing Interventions Classification (NIC).Fifth Edition. Iowa : Mosby Elsavier.
6. Jhonson,Marion. 2012.Iowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC). St.
Louis ,Missouri ; Mosby
Banjarmasin ..januari 2017

Preseptor akademik Preseptor klinik

(...) (..)