Anda di halaman 1dari 8

IDENTIFIKASI KEKUATAN DAN PELUANG ORGANISASI

TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) memiliki karakteristik yang berbeda dengan
lembaga penyiaran swasta (LPS) yang komersil. Hal ini dapat dilihat dari penyiarannya yang
bersifat independen, non komersil, bertugas sebagai pengawal kepentingan publik, dan netral.
TVRI memiliki tugas mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan melakukan tugas penyiaran
yang berdasar nilai yang kultural, merespon kebijakan dan pelayanan negara (publik policy
and publik service).

Kekuatan (Strength) yang dimiliki oleh TVRI Stasiun Sulsel sebagai lembaga penyiaran
publik, masyarakat dapat menonton siaran TVRI Stasiun Sulsel dengan nyaman karena secara
konten berbeda dengan stasiun televisi swasta yang sebagian besar isinya kurang mendidik
dan cenderung memberi contoh yang kurang baik bagi masyarakat. Sedangkan TVRI Stasiun
Sulsel sebagian besar tayangannya berisi edukasi, informasi dan sisanya hiburan. Dengan
penayangan program-program bertema pendidikan seperti ini TVRI Sulsel menjadi satu-
satunya televisi yang dapat mengajarkan masyarakat dalam pendidikan kebudayaan dan
pendidikan karakter. Hal inilah yang seharusnya dicontoh oleh stasiun TV swasta di
Makassar, yang seharusnya lebih banyak memberikan tayangan yang bersifat informatif dan
edukatif dalam porsi yang cukup. Artinya, secara keseluruhan dari isi program dan konten,
TVRI Stasiun Sulsel lebih berkualitas dibanding stasiun televisi swasta yang lain.

Kelemahan
Kurang menariknya tampilan dan program acara yang dimiliki oleh TVRI Stasiun
Sulsel. Kemudian permasalahan berikutnya adalah sebagian besar masyarakat
khususnya yang berada di kota Sulsel, belum mengenal dan familiar dengan stasiun
TVRI lokal Sulsel tersebut karena kebanyakan masyarakat lebih mengenal TVRI
Stasiun Pusat (Nasional).
Dari sisi anggaran, TVRI Stasiun Sulsel tidak dapat mengubah pola acara dengan
sistem triwulan pertama dan kedua karena berhubungan dengan anggaran yang sudah
dialokasikan secara penuh selama satu tahun, sehingga tidak mudah untuk mengganti
suatu program acara jika seandainya program tersebut kurang diterima dengan baik
oleh pemirsa atau dengan kata lain mendapat rating yang rendah.
Hal yang juga menjadi kelemahan TVRI Stasiun Sulsel adalah kurangnya promosi
baik untuk program acara on-air maupun kegiatan off-air yang seharusnya juga
menjadi fokus dalam membangun brand awareness.
Selain permasalahan utama menyangkut brand awareness TVRI Stasiun Sulsel, lalu
menyangkut pendanaan APBN yang dirasa menyulitkan, ternyata ada permasalahan
yang cukup kompleks di dalam intern TVRI Stasiun Sulsel sendiri. Dimana
kurangnya koordinasi dan sosialisasi dalam menentukan dan menetapkan target
audience antara pimpinan dan bawahan, sehingga menyulitkan tim pengembangan
usaha untuk bisa menjual produk-produk TVRI Stasiun Sulsel kepada pihak luar
untuk mencari pendapatan Non-APBN.

Ancaman
Pertumbuhan industri media digital seperti saat ini ternyata membuat perusahaan
televisi swasta gencar berimprovisasi dengan menciptakan fasilitas pendukung seperti
konten digital yang menarik untuk dilihat. Akses kedalam media sosial yang
terintegrasi dengan baik oleh developer yang menjadi rekanan para stasiun televisi
swasta, jika tidak diantisipasi akan membuat TVRI Stasiun Sulsel semakin
ditinggalkan oleh pemirsa televisi.

Kemudian banyaknya stasiun televisi lokal baru yang muncul di Sulsel menjadi
tantangan bagi TVRI Stasiun Sulsel dalam membangun awareness. Karena hal itu
berdampak pada bervariatifnya tayangan televisi swasta yang lebih fresh, lebih
menarik dari sisi kemasan dan lebih banyak unsur hiburan yang nyatanya lebih
banyak disukai oleh pemirsa televisi.

Peluang (Opportunity)
bagi TVRI Stasiun Sulsel meskipun banyak kekurangan baik dari sisi peralatan, anggaran,
dan keterbatasan SDM, tidak menyurutkan semangat dan daya kreativitas dari insan
broadcaster-nya. Dengan dukungan tim IT menjaga kualitas siaran dari sisi teknologi
informasi dengan tujuan siaran TVRI Stasiun Sulsel dapat tetap diakses dengan baik melalui
perangkat digital dan dari sisi konten akan segera dibentuknya tim kreatif yang secara khusus
menjaga isi program acara dan tampilan dilayar agar senantiasa berkualitas dan terlihat
menarik sesuai trend yang ada saat ini. Diharapkan TVRI Stasiun Sulsel dapat lebih dikenal
masyarakat dan secara tidak langsung bisa bersaing dengan stasiun tv swasta dengan menjadi
saluran televisi alternatif bagi masyarakat yang menginginkan tayangan yang berkualitas,
mencerdaskan dan tentunya aman ditonton bagi keluarga.

Serta Meluasnya daya jangkau siaran TVRI Sulsel juga didukung oleh Sistem siaran TVRI
Sulsel yang sekarang telah bersifat penyiaran digital. Televisi dengan sistem penyiaran digital
memiliki hasil siaran dengan kualitas gambar dan warna yang jauh lebih baik dari yang
dihasilkan televisi analog. TV Digital memiliki kualitas siaran berakurasi dan resolusi tinggi
sehingga masyarakat dapat membandingkan keunggulan kualitas siaran digital dengan siaran
analog serta dapat berinteraksi dengan TV Digital.
TV Digital memungkinkan penyiaran saluran dan layanan yang lebih banyak daripada
televisi analog. Penyelenggara siaran dapat menyiarkan program mereka secara digital dan
memberi kesempatan terhadap peluang bisnis pertelevisian dengan konten yang lebih kreatif,
menarik, dan bervariasi.
Matriks Profil Kompetitif

Matriks CPM (Competitive Profile Matrix) mengidentifikasi pesaing-pesaing

utama suatu perusahaan serta kekuatan dan kelemahan khusus mereka dalam

hubungannya dengan posisi strategis perusahaan sampel. Bobot dan skor bobot total,

baik dalam Matriks Profil Kompetitif (CPM) maupun Evaluasi Faktor Eksternal

(EFE), memiliki arti yang sama. Namun demikian, faktor keberhasilan penting

(critical success) dalam CPM mencakup baik isu-isu internal maupun eksternal;

karenanya, peringkatnya mengacu pada kekuatan dan kelemahan, di mana 4 = sangat

kuat, 3 = kuat, 2 = lemah, dan 1 = sangat lemah. Terdapat beberapa perbedaan utama

antara EFE dan CPM. Pertama, faktor-faktor keberhasilan penting dalam CPM lebih

luas, karena tidak mencakup data spesifik atau faktual dan mungkin bahkan berfokus

pada isu-isu internal. Faktor-faktor keberhasilan penting dalam CPM juga tidak

dikelompokkan menjadi peluang dan ancaman sebagaimana dalam EFE. Dalam CPM,

peringkat dan skor bobot total perusahaan-perusahaan pesaing dapat dibandingkan

dengan perusahaan sampel. Analisis perbandingan ini memberikan informasi strategis

internal yang penting (Fred R. David, 2011:162)


Tabel 2.2 Matriks CPM

Faktor- Perusahaan 1 Perusahaan 2 Perusahaan 3

faktor

keberhas bobot peringk skor bobot pering skor bobot pering skor

ilan at kat kat

penting

1. xx xx xx xx xx xx xx xx xx

2. xx xx xx xx xx xx xx xx xx

3. xx xx xx xx xx xx xx xx xx

4. xx xx xx xx xx xx xx xx xx

5. xx xx xx xx xx xx xx xx xx

6. xx xx xx xx xx xx xx xx xx

Total xx xx xx xx xx xx xx xx xx

Sumber: Fred R. David, 2011:162

IFE dan EFE

Analisis dan Pilihan Kerangka Kerja Perumusan Strategi

Teknik perumusan strategi dapat dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap input, tahap
pencocokan, dan tahap keputusan. Tahap input meringkas informasi dasar yang dibutuhkan
untuk merumuskan strategi. Tahap pencocokan berfokus pada menciptakan alternatif strategi
yang layak dengan mencocokan faktor eksternal dan internal kunci. Tahap keputusan
mengevaluasi secar objektif alternatif-alternatif strategi yang layak dan dengan demikian
memberikan dassr tujuan untuk memilih strategi yang layak dan dengan demikian
memberikan dasar tujuan untuk memilih strategi yang spesifik. Masing-masing tahap
mempunyai teknik perumusan strategi yang berbeda-beda seperti yang akan dijelaskan
dibawah ini:
1. TAHAP INPUT

Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan Matriks EFE (External Factor Evaluation)

Matriks IFE adalah alat analisa strategi yang dapat digunakan untuk menilai kekuatan internal
perusahaan. Matriks EFE adalah alat analisa strategi yang dapat digunakan untuk menilai
respon perusahaan terhadap peluang dan ancaman.

Tabel 3.5

Tabel Matrik
Evaluasi Faktor
Internal

Faktor-faktor Bobot Peringkat Nilai Yang Dibobot

Internal Kunci
Kekuatan:
-Kekuatan 1

-Kekuatan 2

-Kekuatan 3

-Kekuatan 4

-Kekuatan 5

Kelemahan:
-Kelemahan 1

-Kelemahan 2

-Kelemahan 3
-Kelemahan 4

-Kelemahan 5
Minimal 1,00
Jumlah 1,00 Maksimal 4,00

Sumber: David,
(2004,p219)
Tabel 3.6

Tabel Matrik
Evaluasi Faktor
Eksternal

Faktor-faktor Bobot Peringkat Nilai Yang Dibobot

Internal Kunci
Peluang:
-Peluang 1

- Peluang 2

- Peluang 3

- Peluang 4

- Peluang 5

Ancaman:
-Ancaman 1

-Ancaman 2

-Ancaman 3

-Ancaman 4

-Ancaman 5
Minimal 1,00
Jumlah 1,00 Maksimal 4,00

Sumber:
David
(2004,p163)
2. TAHAP PENCOCOKAN Matriks SWOT

Matriks SWOT adalah alat untuk mencocokkan yang penting yang membantu manajer
mengembangkan empat tipe strategi: SO (Kekuatan-Peluang/Strenghts-Opportunities), WO
(Kelemahan-Peluang/Weaknesses-Opportunities), ST (Kekuatan-Ancaman/Strenght-Threats),
WT (Kelemahan-Ancaman/Weaknesses-Threats)

Mencocokan factor eksternal dan internal kunci adalah bagian yang paling sulit dalam
mengambangkan matriks SWOT dan membutuhkan penilaia yang baik dan tidak ada
pencocokan yang terbaik.

Faktor Internal Kunci + Faktor Eksternal Kunci = Hasil Strategi


(Kekuatan/Kelemahan) (Peluang/Ancaman)

Strategi SO menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang


eksternal. Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan
memanfaatkan peluang eksternal. Strategi ST menggunakan kekuatan perusahaan untuk
menghindari atau mengurangi pengaruh dari ancaman eksternal. Strategi WT adalah taktik
defensif yang diarahkan paa pengurangan kelemahan internal dan menghindari ancaman
eksternal.

Tabel 3.7 Matriks SWOT

Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weakness)

Peluang (Opportunities) Strategi SO Strategi WO

Ancaman (Threats) Strategi ST Strategi WT

Sumber: David (2004,p290)