Anda di halaman 1dari 40

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN NABIRE

NOMOR : ................. TAHUN .....

TENTANG

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN NABIRE


TAHUN 2007 2027

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI NABIRE

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 1


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Menimbang: 1. Bahwa untuk terwujudnya pembangunan di Kabupaten Nabire
dengan memanfaatkan ruang wilayah secara efisien, serasi
dan seimbang, sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan
kemampuan daya dukung wilayah yang berbasis pada
pengurangan risiko bencana alam, perlu disusun Rencana Tata
Ruang Wilayah;
2. Bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan
antar sektor, daerah, dan mayarakat, maka Rencana Tata
Ruang Wilayah merupakan arahan lokasi investasi
pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, masyarakat,
dan/atau dunia usaha;
3. Bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 47
Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional,
yang dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Papua, maka Rencana Tata Ruang Wilayah tersebut
perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah;
4. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada
huruf a, b dan c serta sebagai pelaksanaan Undang-Undang No.
26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dipandang perlu
menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire
yang berbasis pengurangan risiko bencana.

Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar


Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor
104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043);
2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara tahun 1967
Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian
(Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3274);
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya (Lembaran
Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3419);
5. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan
(Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 78, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3427);
6. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Benda Cagar
Budaya (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3470);
7. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469);
8. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 2


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Lembaran Negara Nomor 3501);
9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699);
10. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 129, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3881);
11. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3888);
12. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus Bagi Provinsi Papua;
13. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 94,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 1226);
14. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;
15. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4377);
16. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004
Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389);
17. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional;
18. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4433);
19. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4437);
20. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4444);
21. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang;
22. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana;
23. Peratutan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara
Tahun 1969 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor
2831);
24. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan
(Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 37, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3293)

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 3


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
25. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang
Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 39,
Tambahan Lembaran Negara 3294);
26. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi
Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Tahun
1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3373);
27. Peraturan Pemerintah No. 52 Tahun 1996 tentang
Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Nabire;
28. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 1996 tentang
Pembentukan Limapuluh Tiga Distrik di Wilayah Kabupaten
Daerah Tingkat II Jayawijaya, Sorong, Manokwari, Nabire,
Merauke, Jayapura, Yapen Waropen, Fak-Fak, Biak Numfor,
Kotamadya Daerah Tingkat II Jayapura, Kabupaten Puncak
Jaya, dan Kabupaten Paniai Dalam Wilayah Provinsi Daerah
Tingkat I Irian Jaya;
29. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang
Pemanfaatan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman
Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam (Lembaran
Negara Tahun 1995 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3550);
30. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang
Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Cara Peran
Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara
Tahun 1996, Nomor 104);
31. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang RTRW
Nasional (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 96, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3721);
32. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1998 tentang
Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang
Kehutanan kepada Daerah (Lembaran Negara Tahun 1998
Nomor 106);
33. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan
Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara
tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3776);
34. Peraturan pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1999
Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838);
35. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi
(Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 143, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4156);
36. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4385);
37. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 4


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4593);
38. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan
Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan
Umum;
39. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung;
40. Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1990 tentang
Penggunaan Tanah Bagi Kawasan Industri
41. Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1993 tentang Koordinasi
Pengelolaan Tata Ruang Nasional;
42. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang
Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata
Ruang di Daerah;
43. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah;
44. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang
Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan
Tata Ruang Daerah;
45. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 134 Tahun 1998
tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Daerah tentang RTRW
Provinsi dan RTRW Kabupaten/Kota;
46. Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 2 Tahun 1999 tentang
Izin Lokasi;
47. Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor
1456.K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan
Karst;
48. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah
(Kimpraswil) Nomor 327/KPTS/M/2002 tentang Penetapan
Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang;
49. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
327 Tahun 2002 tentang Penetapan 6 (enam) Pedoman Bidang
Penataan Ruang.

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 5


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
DENGAN PERSETUJUAN
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN NABIRE

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERATURAN DAERAH KABUPATEN NABIRE TENTANG


RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN
NABIRE TAHUN 2007 - 2027

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan :
(1) Kabupaten adalah Kabupaten Nabire;
(2) Provinsi adalah Provinsi Papua;
(3) Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Nabire yang terdiri
dari Bupati beserta perangkat daerah kabupaten lainnya sebagai badan
eksekutif kabupaten;
(4) Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Papua yang terdiri dari
Gubernur beserta perangkat daerah provinsi lainnya sebagai badan eksekutif
provinsi;
(5) Bupati adalah Bupati Nabire;
(6) Gubernur adalah Gubernur Provinsi Papua;
(7) Dewan adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Nabire;
(8) Distrik adalah wilayah yang merupakan bagian dari Kabupaten Nabire
setingkat kecamatan yang dikepalai oleh seorang Kepala Distrik;
(9) Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
(10) Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire;
(11) Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang
udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya
hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya;
(12) Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik
direncanakan maupun tidak, yang mewujudkan adanya hirarki dan keterkaitan
pemanfaatan ruang;
(13) Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 6


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(14) Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses penyusunan Rencana Tata
Ruang untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kualitas
manusianya dengan pemanfaatan ruang yang secara struktural
menggambarkan ikatan fungsi lokasi yang terpadu bagi berbagai kegiatan;
(15) Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan struktur dan pola
pemanfaatan ruang;
(16) Struktur Pemanfaatan Ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk
lingkungan secara hirarkis dan saling berhubungan satu dengan lainnya;
(17) Pola Pemanfaatan Ruang adalah tata guna tanah, air, udara dan sumber
daya alam lainnya dalam wujud penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan
tanah, air, udara dan sumber daya alam lainnya;
(18) Pemanfaatan Ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan
pembangunan yang memanfaatkan ruang, menurut jangka waktu yang
ditetapkan didalam rencana tata ruang;
(19) Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah suatu proses usaha agar
rencana pemanfaatan ruang oleh instansi sektoral, Pemerintah Daerah,
Swasta, serta masyarakat umumnya sesuai dengan Renana Tata Ruang yang
ditetapkan;
(20) Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan
aspek administratif dan/atau aspek fungsional;
(21) Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya yang
penetapannya berdasarkan karakteristik fisik, biologi, sosial budaya dan
ekonomi dengan mempertahankan keberadaannya;
(22) Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam
dan sumberdaya buatan;
(23) Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam,
sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan;
(24) Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama
pertanian termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi
kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi;
(25) Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
sosial, dan kegiatan ekonomi;
(26) Kawasan Tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional
mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan;
(27) Kawasan Risiko Bencana adalah kawasan yang berdasarkan analisis
kebencanaan berpotensi tinggi mengalami bencana alam yang meliputi
bencana gempa bumi, tsunami dan longsor;
(28) Kawasan Rentan Bencana adalah kawasan yang dinilai berpeluang
mengalami bencana dilihat dari aspek kependudukan, penggunaan lahan, dan
distribusi obyek-obyek vital;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 7


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(29) Kawasan Risiko Bencana adalah kawasan yang berpotensi mengalami
bencana alam berdasarkan aspek mitigasi dan sosial ekonomi;
(30) Visi Pembangunan adalah suatu pandangan ke depan yang menggambarkan
arah dan tujuan yang ingin dicapai serta akan menyatukan komitmen seluruh
pihak yang terlibat dalam pembangunan kabupaten;
(31) Tujuan Pembangunan adalah nilai-nilai dan kinerja yang mesti dicapai
dalam pembangunan kabupaten dalam rangka mencapai visi yang telah
ditetapkan;
(32) Strategi Pengembangan adalah langkah-langkah penataan ruang dan
pengelolaan kabupaten yang perlu dilakukan untuk mencapai visi
pembangunan kota yang telah ditetapkan;
(33) Kawasan Strategis adalah kawasan yang memiliki fungsi dan spesifikasi
khusus yang penanganannya perlu diutamakan (prioritas) dalam pelaksanaan
pembangunan;
(34) Wilayah Pengembangan selanjutnya disingkat WP, adalah wilayah yang
secara geografis berada dalam satu pelayanan pusat sekunder;
(35) Sempadan Pantai adalah daerah sepanjang pantai yang diperuntukkan bagi
pengamanan dan pelstarian pantai;

BAB II
RUANG LINGKUP

Pasal 2
(1) Ruang lingkup Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Nabire mencakup strategi pelaksanaan pemanfaatan
ruang wilayah kabupaten dalam batas-batas ruang daratan, ruang lautan dan
ruang udara menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku;
(2) Lingkup RTRW Kabupaten Nabire Tahun 2007-2027
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
(a) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire Tahun 2007-2027
memiliki kedalaman sebagai rencana umum (master plan);
(b) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire Tahun 2007-2027
mencakup seluruh wilayah Kabupaten Nabire seluas 13.397,59 Km2 yang
terdiri dari 22 distrik;
(c) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire Tahun 2007-2027
disusun dengan mengacu kepada pedoman penyusunan rencana tata
ruang wilayah kabupaten yang ada.
Pasal 3
Rencana Tata Ruang Wlilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, meliputi:

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 8


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(1) Tujuan pemanfaatan ruang wilayah untuk peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan yang diwujudkan
melalui strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah untuk tercapaianya
pemanfaatan ruang yang bekualitas dengan berbasis mitigasi bencana alam;
(2) Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah;
(3) Rencana pengembangan sistem sarana dan prasarana
wilayah;
(4) Arahan manajemen risiko bencana dan indikasi program
pembangunan;
(5) Rencana pengendalian dan peran serta masyarakat dalam
penataan ruang.

BAB III
TUJUAN , SASARAN, DAN FUNGSI, VISI DAN MISI

Bagian Pertama
Tujuan dan Sasaran

Pasal 4
Tujuan Penyusunan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire Tahun
2007-2027 adalah sebagai berikut:
(1) Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam
secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat;
(2) Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan antar
wilayah serta keserasian antar sektor melalui pemanfaatan ruang kawasan
secara serasi, selaras dan seimbang serta berkelanjutan dengan
memperhatikan tingkat risiko bencana alam yang meliputi gempa bumi,
tsunami, longsor dan banjir;
(3) Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan mencegah timbulnya
dampak negatif terhadap lingkungan;
(4) Meningkatkan fungsi dan peran Kabupaten Nabire dalam
pengembangan wilayah yang lebih luas, berupa pengembangan kawasan
budidaya dan non budidaya serta aspek-aspek strategis dalam mewujudkan
fungsi yang nyata sebagai satu kesatuan dengan wilayah-wilayah sekitarnya.

Pasal 5
Sasaran yang akan dicapai dalam Penyusunan Revisi RTRW Kabupaten Nabire 2007
- 2027 ini antara lain:
(1) Terkendalinya pembangunan di wilayah kabupaten baik yang
dilakukan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat;
(2) Terciptanya keserasian antara kawasan lindung dan kawasan
budidaya;
(3) Tersusunnya rencana dan keterpaduan program-program
pembangunan di wilayah kabupaten;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 9


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(4) Terdorongnya minat investasi masyarakat dan dunia usaha di
wilayah kabupaten;
(5) Tersusunnya arahan indikasi program pembangunan dan arahan
pengembangan kawasan-kawasan prioritas;
(6) Terkoordinasinya pembangunan antar wilayah dan antar sektor
pembangunan.

Bagian Kedua
Fungsi, Visi Dan Misi

Pasal 6
(1) RTRW Kabupaten Nabire terbagi dalam dua fungsi meliputi:
(a) Fungsi Umum; dan
(b) Fungsi Khusus.
(2) Fungsi umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
mencakup:
Pasal 1 Sebagai matra keruangan dari pembangunan daerah;
Pasal 1 Sebagai dasar kebijaksanaan pokok dalam pemanfaatan ruang
wilayah Kabupaten Nabire sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah
secara berkelanjutan;
Pasal 1 Sebagai perwujudan keterpaduan, keterkaitan, keserasian dan
keseimbangan antar kawasan dan antar sektor di dalam wilayah
Kabupaten Nabire maupun dengan wilayah-wilayah lain disekitarnya;
Pasal 1 Sebagai pedoman dan pemberi kejelasan dalam mengalokasikan
investasi pembangunan di Kabupaten Nabire, baik yang dilakukan oleh
pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat;
Pasal 1 Sebagai pedoman untuk penyusunan rencana-rencana yang lebih
detail serta rencana rinci tata ruang kawasan dalam wilayah yang
menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Nabire;
Pasal 1 Sebagai dasar dalam memberikan arahan bentuk peran serta
masyarakat lokal dalam pemanfaatan rencana tata ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang;
Pasal 1 Sebagai dasar dalam pemberian izin lokasi pembangunan skala
besar.
(3) Fungsi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
mencakup:
(a) Sebagai arahan untuk pembangunan fisik kawasan berbasis bencana;
(b) Sebagai arahan untuk melakukan manajeman risiko bencana alam;
(c) Sebagai peringatan dini bagi Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten
Nabire terhadap kemungkinan bencana alam yang akan terjadi dalam
bentuk zonasi-zonasi kawasan rentan bencana alam.

Pasal 7
Visi Kabupaten Nabire adalah:
Terwujud Nabire Baru, yang Ditandai Dengan Masyarakatnya yang

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 10


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Kenyang, Sehat dan Pintar dengan Berlandaskan Iman dan Takwa, serta di
Dukung Infrastruktur yang memadai

Pasal 8
Misi pembangunan Kabupaten Nabire adalah:
(1) Pemenuhan kebutuhan dasar;
(2) Peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan;
(3) Peningkatan derajat kesehatan;
(4) Pemberdayaan ekonomi rakyat;
(5) Pembangunan infrastruktur di distrik-distrik dan desa;
(6) Peningkatan iman dan takwa;
(7) Pemasyarakatan teknologi anti gempa dan upaya menghindari
bencana gempa.

BAB IV
KEDUDUKAN MATERI DAN JANGKA WAKTU RENCANA

Pasal 9
RTRW berkedudukan sebagai:
(1) RTRW Kabupaten Nabire mengacu kepada RTRW Nasional dan
RTRW Provinsi Papua;
(2) RTRW Kabupaten Nabire menjadi dasar pertimbangan dalam
penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Rencana Umum Tata
Ruang Kota (RUTRK) pada lingkup wilayah perencanaan yang lebih kecil;
(3) RTRW Kabupaten Nabire merupakan pedoman untuk pelaksanaan
pengawasan dan pengendalian pembangunan sesuai dengan indikasi
program-program pembangunan yang dialokasikan.

Pasal 10
Materi RTRW mencakup:
(1) Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah;
(2) Strategi dan arahan struktur ruang dan pemanfaatan ruang;
(3) Rencana umum tata ruang wilayah yang berbasis mitigasi bencana;
(4) Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah.

Pasal 11
(1) Jangka waktu RTRW adalah selama 20 (dua puluh) tahun dari
tahun 2007-2027;
(2) RTRW dapat ditinjau kembali dan/atau disempurnakan dalam
jangka waktu perencanaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila
strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten perlu ditinjau
dan/atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Papua atau dinamika pembangunan;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 11


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(3) Peninjauan kembali dan/atau penyempurnaan RTRW sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dalam jangka waktu perencanaannya dilakukan
minimal 5 tahun sekali.

BAB V
STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG

Bagian Pertama
Umum

Pasal 12
Struktur dan pola pemanfaatan ruang Kabupaten Nabire dikelompokkan atas:
(a) Umum; dan
(b) Khusus

Pasal 13
Struktur dan pola pemanfaatan ruang umum sebagaimana dimaksud pada Pasal 12
huruf a meliputi:
(a) Rencana pola pemanfaatan ruang merupakan bentuk
pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten, menggambarkan ukuran/luas, fungsi
(budidaya atau lindung), serta karakter kegiatan manusia dan/atau alam di
dalamnya;
(b) Pemanfaatan ruang yang mengakomodasikan instrumen mitigasi
bencana;
(c) Pemanfaatan Kawasan Budidaya dan pelestarian Kawasan
Lindung diserasikan untuk meningkatkan perekonomian wilayah di satu sisi
dan keberlanjutan pembangunan di sisi yang lain.

Pasal 14
Struktur dan pola pemanfaatan ruang khusus sebagaimana dimaksud pada Pasal 12
huruf b meliputi:
(a) Pemanfaatan ruang secara terbatas dilakukan untuk Kota Distrik
Wanggar, Napan, dan Distrik Topo, dengan peruntukkan kawasan pertanian
lahan kering, permukiman kepadatan rendah, dan teknologi bangunan tahan
gempa;
(b) Pemanfaatan ruang secara sangat terbatas dilakukan untuk
kawasan jasa perdagangan, perkantoran dengan kepadatan rendah di Kota
Distrik Nabire;
(c) Koridor sepanjang pantai yang berfungsi sebagai perlindungan
dari bencana tsunami dimanfaatkan sebagai sabuk pengamanan pantai atau
Buffer Zone.

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 12


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Bagian Kedua
Struktur Pemanfaatan Ruang

Pasal 15
Struktur pemanfaatan ruang mencakup:
(a) Satuan Wilayah Pengembangan;
(b) Pusat-pusat pengembangan wilayah;
(c) Sistem jaringan.

Pasal 16
(1) Satuan Wilayah Pengembangan sebagaimana dimaksud pada pasal 15
huruf a meliputi:
(a) Wilayah Pengembangan Nabire mencakup wilayah Distrik Nabire dan
Wanggar dengan Pusat Pengembangan terletak di Nabire;
(b) Wilayah Pengembangan Uwapa mencakup wilayah Distrik Uwapa,
dengan Pusat Pengembangan terletak di Uwapa;
(c) Wilayah Pengembangan Yaur mencakup Wilayah Distrik Yaur dan Teluk
Umar dengan pusat pengembangan terletak di Kota Yaur;
(d) Wilayah Pengembangan Mapia mencakup Wilayah Distrik Sukikai, Mapia,
Kamu Kamu Utara dengan pusat pengembangan terletak di Kota
Mapia;
(e) Wilayah Pengembangan Napan mencakup Wilayah Distrik Napan, Siriwo,
Makimi dengan pusat pengembangan terletak di Kota Napan.
(2) Setiap Satuan Wilayah Pengembangan sebagaimana dimaksud pada
pasal 15 huruf a ditetapkan hirarki kota berdasarkan kedudukan, peranan dan
fungsi kota.

Pasal 17
Pusat-pusat pengembangan wilayah sebagaimana dimaksud pada pasal 15 huruf b
meliputi:
(a) Kota Nabire sebagai Pusat Wilayah Pengembangan Nabire berfungsi sebagai
klaster dengan kegiatan prioritas berupa distribusi, perdagangan, industri,
jasa dan pariwisata
(b) Kota Topo sebagai Pusat Wilayah Pengembangan Uwapa berfungsi sebagai
Pusat Sekunder Nabire;
(c) Kota Kwatisore sebagai Pusat Wilayah Pengembangan Yaur berfungsi sebagai
Cluster dengan kegiatan prioritas perkebunan, dan marine culture;
(d) Kota Bomomani sebagai Pusat Wilayah Pengembangan Mapia berfungsi
sebagai klaster dengan kegiatan prioritas perkebunan, Social Forestry;
(e) Kota Napan sebagai Pusat Wilayah Pengembangan berfungsi sebagai klaster
dengan kegiatan prioritas perkebunan, pertanian, pertambangan, dan marine
culture.

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 13


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Pasal 18
(1) Sistem jaringan sebagaimana dimaksud pada pasal 15 huruf
c mencakup transportasi, telekomunikasi, kelistrikan,air bersih dan sanitasi;
(2) Sistem jaringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi sistem jaringan primer dan jaringan sekunder.

Bagian Ketiga
Pola Pemanfaatan Ruang

Pasal 19
Pola pemanfaatan ruang meliputi:
(a) Kawasan lindung;
(b) Kawaan budidaya;
(c) Kawasan perdesaan dan perkotaan;
(d) Kawasan strategis;
(e) Kawasan risiko bencana.

Pasal 20
(1) Kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada Pasal 19 huruf a
meliputi :
(a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya;
(b) Kawasan perlindungan setempat;
(c) Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya.
(2) Peta rencana kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), digambarkan pada Lampiran 1.

Pasal 21
(1) Pemanfaatan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada Pasal
19 huruf b, dimanfaatkan sebagai kawasan hutan produksi, kawasan
pertanian, kawasan pertambangan, kawasan perindustrian, kawasan
pariwisata, dan kawasan permukiman;
(2) Peta rencana kawasan budidaya sebagaimana yang dimaksud pada
ayat (1), digambarkan pada lampiran 2.

Pasal 22
Pengelolaan kawasan perdesaan dan perkotaan sebagaimana dimaksud pada Pasal
19 huruf c, diarahkan untuk menjaga dan mengoptimalkan fungsinya masing-
masing, serta mensinergikan pertumbuhan dan perkembangannya secara
berimbang, sehingga tercapai pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang
berkelanjutan.

Pasal 23
(1) Kawasan strategis sebagaimana dimaksud pada Pasal 19
huruf d, adalah kawasan yang akan berdampak besar, baik itu dalam arti
positif maupun negatif;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 14


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(2) Peta rencana kawasan Strategis sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (1), digambarkan pada lampiran 3.

Pasal 24
(1) Kawasan risiko bencana sebagaimana dimaksud pada
Pasal 19 huruf e, adalah kawasan yang memiliki potensi kerugian akibat
bencana alam di suatu wilayah yang meliputi gempa, tsunami, tanah longsor
dan banjir.
(2) Peta risiko bencana atau disebut juga peta multi
bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), digambarkan pada Lampiran
4.

Pasal 25
(1) Dalam menganalisis zona risiko bencana gempa sebagaimana
dimaksud pada Pasal 24 ayat (1), akan menggunakan 4 (empat) parameter
yaitu tingkat kerawanan bencana gempa bumi, jenis penggunaan lahan,
jumlah penduduk per distrik, dan jumlah obyek vital yang terdapat di setiap
distrik;
(2) Peta risiko bencana gempa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), digambarkan pada Lampiran 5.

Pasal 26
(1) Tsunami sebagaimana dimaksud pada Pasal 24 ayat (1), adalah gelombang
yang ditimbulkan oleh pergerakan kerak bumi yang secara tiba-tiba;
(2) Dalam menganalisis zona risiko tsunami sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), menggunakan 4 (empat) parameter adalah tingkat kerawanan bencana
tsunami, jenis penggunaan lahan, jumlah penduduk per distrik dan jumlah
obyek vital yang terdapat di setiap distrik;
(3) Peta risiko bencana tsunami sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
digambarkan pada Lampiran 6.

Pasal 27
(1) Longsor sebagaimana dimaksud pada Pasal 24 ayat (1), adalah pergerakan
suatu masa bantuan, tanah atau rombakan material penyusun lereng (yang
merupakan percampuran tanah dan batuan) menuruni lereng;
(2) Dalam menganalisis zona risiko longsor sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), menggunakan 4 (empat) parameter adalah tingkat kerawanan bencana
tsunami, jenis penggunaan lahan, jumlah penduduk per distrik dan jumlah
obyek vital yang terdapat di setiap distrik;
(3) Peta risiko bencana longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
digambarkan pada Lampiran 7.

Pasal 28
Banjir sebagaimana dimaksud pada Pasal 24 ayat (1), adalah aliran air di
permukaan tanah (surface) yang relatif tinggi dan tidak dapat ditampung oleh

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 15


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
saluran drainase atau sungai, sehingga melimpah ke kanan dan kiri serta
menimbulkan genangan/aliran dalam jumlah melebihi normal dan mengakibatkan
kerugian pada manusia.
BAB VI
STRATEGI DAN ARAHAN STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN
RUANG WILAYAH

Bagian Pertama
Strategi Pengembangan Wilayah

Pasal 29
(1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 ditetapkan
strategi pengembangan wilayah.
(2) Strategi pengembangan wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan:
(a) Pengembangan sarana dan prasarana wilayah;
(b) Pengembangan aktivitas ekonomi unggulan;
(c) Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru;
(d) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia;
(e) Percepatan pengembangan industri berbasis agro.
(3) Strategi pengembangan wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dirinci dalam arahan struktur dan pola pemanfaatan ruang.

Bagian Kedua
Arahan Struktur Pemanfaatan Ruang Wilayah

Paragraf 1
Umum

Pasal 30
(1) Arah pengembangan Kabupaten Nabire memperhatikan:
(a) Kabupaten Nabire sebagai pendukung Kawasan Pengembangan
Ekonomi Terpadu (Kapet) Biak;
(b) Potensi Kabupaten Nabire;
(c) Permasalahan Kabupaten Nabire terutama berkenaan dengan
bencana gempa, tsunami, banjir dan longsor;
(d) Kondisi fisik dasar, penggunaan lahan dan kecenderungan
perkembangannya, daya-dukung lahan dan daya-dukung lingkungan;
(e) Kecenderungan perkembangan fisik kawasan terbangun,
perkembangan pembangunan jaringan jalan, dan perkembangan
pembangunan jaringan prasarana wilayah;
(f) Kecenderungan tumbuhnya pusat-pusat pelayanan/aktifitas baru;
(g) Kebijakan pembangunan yang ada.
(2) Perkembangan Kabupaten Nabire diarahkan ke:

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 16


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(a) Kawasan Budidaya yang potensial untuk dikembangkan menjadi
sentra-sentra produksi pertanian, perkebunan. kehutanan,
pertambangan, pariwisata, dan perindustrian;
(b) Kawasan yang masih terbatas aksesnya ke pusat-pusat kegiatan
ekonomi;
(c) Kawasan yang masih terbatas ketersediaan sarana dan prasarana
pelayanannya;
(d) Kawasan yang potensial untuk membuka akses ke kabupaten di
sekitar.

Paragraf 2
Fungsi dan Peran Wilayah

Pasal 31
(1) Lokasi yang sesuai untuk pengembangan tanaman pangan
dan hortikultura meliputi distrik Mapia, Kamu, Ikrar, Yaur, Wanggar, Nabire,
dan Napan. Distrik lainnya dapat digunakan untuk pengembangan tanaman
lahan kering;
(2) Fungsi kawasan industri di kabupaten Nabire sebagaimana
yang dimaksud pada Pasal 29 huruf a, khususnya diarahkan untuk
mendukung pengembangan KAPET Biak;
(3) Pengembangan industri di Kabupaten Nabire diarahkan
untuk industri yang mengolah produk-produk pertanian, perkebunan,
perikanan, dan hasil hutan.
(4) Dengan mempertimbangkan kondisi sebagian wilayah
Kabupaten Nabire yang berisiko bencana, maka kawasan permukiman,
perkantoran dan fasilitas umum lainnya diarahkan berlokasi ke area-area yang
lebih aman.

Paragraf 3
Hirarki Kota

Pasal 32
Peningkatan peran wilayah dilakukan melalui penyediaan fasilitas perkotaan
berdasarkan hierarki kota sebagai berikut:
(1) Jangkauan Kota Jenjang I (Orde 1), jenjang I atau pusat
utama di Kabupaten Nabire adalah Kota Nabire. Pusat utama ini memiliki
jangkauan pelayanan seluruh wilayah Kabupaten Nabire. Kandidat
desa/kelurahan yang menjadi Pusat Orde I adalah kelurahan yang akan
menjadi ibukota Kabupaten. Kota Nabire merupakan kota dengan kemampuan
pelayanan untuk melayani seluruh wilayah;
(2) Jangkauan Kota Jenjang II (Orde 2), untuk jenjang II di
Kabupaten Nabire adalah desa/kelurahan yang saat ini berfungsi sebagai
pusat distrik, di luar Distrik Nabire. Jangkauan pelayanannya meliputi distrik-
distrik yang saling terkait;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 17


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(3) Jangkauan Kota Jenjang III (Orde 3) untuk kota dengan
jenjang III di Kabupaten Nabire meliputi desa/kelurahan diluar ibukota
Kabupaten dan ibukota distrik. Jangkauan pelayanannya meliputi desa-desa
yang saling terkait.

Paragraf 4
Pengembangan Sarana dan Prasarana Wilayah

Pasal 33
Pengembangan sarana dan prasarana wilayah yang terdapat di Kabupaten Nabire
meliputi:
(a) Prasarana transportasi;
(b) Fasilitas umum dan;
(c) Utilitas.

Transportasi
Pasal 34
(1) Pengembangan prasarana transportasi sebagaimana yang
dimaksud pada pasal 33 huruf a, mencakup:
(a) Pengembangan transportasi darat;
(b) Pengembangan transportasi laut dan;
(c) Pengembangan transportasi udara.
(2) Rencana Sistem Prasarana Transportasi sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (1) diarahkan pada penentuan fungsi jalan, rencana
pembangunan jalan dan jembatan, rencana lokasi terminal sesuai dengan
kelas pelayanan sebagai terminal wilayah dan terminal sub-wilayah, rencana
pembangunan/pengembangan pelabuhan, dan rencana
pembangunan/pengembangan bandar udara;
(3) Berdasarkan lingkup pelayanannya sebagaimana dimaksud
pada Pasal 33 huruf a, sistem transportasi dibagi atas 2 (dua) kategori:
sistem transportasi regional dan sistem transportasi lokal.
(4) Fungs utama pengembangan transportasi regional Kabupaten
Nabire sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), adalah untuk melayani
perpindahan orang dan barang serta diarahkan untuk dapat melayani
kebutuhan transportasi secara cepat, efektif, efisien, lancar, aman, dan
murah.
(5) Titik berat pengembangan sistem transportasi regional di
Kabupaten Nabire sebagaimana dimaksud pada ayat (4), adalah:
(a) Memperlancar arus pergerakan barang, orang, dan jasa ke luar wilayah
Nabire;
(b) Mengembangkan sarana dan prasarana transportasi yang dapat
menghubungkan sentra-sentra produksi dengan sentra-sentra koleksi
dan distribus;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 18


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(c) Mengembangkan prasarana dan sarana yang dapat menghubungkan kota-
kota kabupaten, sehingga berada dalam satu sistem pergerakan terpadu.
(6) Pengembangan sistem transportasi lokal Kabupaten Nabire
sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) ditujukan untuk melayani jaringan
pergerakan antar desa, antar distrik, dan antar pusat-pusat pengembangan
wilayah. Tiap pusat desa diharapkan mampu menjadi titik simpul pergerakan;

(7) Peta rencana sistem transportasi wilayah di Kabupaten Nabire


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), digambarkan pada Lampiran 8.

Pasal 35
(1) Pengembangan transportasi darat sebagaimana dimaksud pada
pasal 34 ayat (1) huruf a diarahkan pada:
(a) Pengembangan jaringan jalan;
(b) Pengembangan simpul transportasi.
(2) Pengembangan jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a, dilakukan dengan mengembangkan jalan arteri dan kolektor.
(3) Sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka dikembangkan
jaringan jalan arteri primer yang menghubungkan Kabupaten Nabire dengan
wilayah eksternalnya, yang terdiri dari dua poros:
(a) Poros barat timur yang menghubungkan ibukota Kabupaten Nabire (Kota
Nabire) dan kota orde 1 di Kabupaten Nabire (Topo) dengan wilayah
eksternalnya, seperti ke arah barat laut menuju Kwatisore hingga ke
Manokwari;
(b) Poros selatan melalui Distrik Mapia ke arah tenggara menuju Enarotali
(Paniai, yang selanjutnya bisa terhubung hingga ke Jayapura) dan
jangka panjang melalui Distrik Sukikai mengarah lebih ke selatan lagi
menuju Timika.
(4) Sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka dikembangkan jalan arteri dan
kolektor untuk menghubungkan antar kawasan di wilayah internal Kabupaten
Nabire sebagai berikut:
(a) Jaringan jalan arteri sekunder, yang menghubungkan Kota Nabire dan
kota orde 1 (Kota Topo) dengan kota-kota orde 2 di setiap WP (ibukota-
ibukota distrik);
(b) Jaringan jalan kolektor primer untuk menghubungkan antar kota-kota orde
2 di masing-masing WP, termasuk jaringan jalan baru;
(c) Jaringan jalan kolektor sekunder untuk menghubungkan antara kota-kota
orde 3 dengan kota orde 2 di masing-masing WP serta antar kota orde 3
di masing-masing WP.
(d) Untuk mendukung operasionalisasi transportasi darat, terminal regional
dialokasikan merata di tiap WP, dengan terminal utama direncanakan di
Kota Nabire, sedangkan terminal pendukung dialokasikan di empat pusat
sekunder (ibukota Distrik Yaur, ibukota Distrik Napan, ibukota Distrik
Mapia dan Topo).
(5) Secara khusus, perlu dilakukan pembangunan jaringan jalan baru dengan
menitikberatkan pada poros-poros (arteri) penghubung antar pusat WP, dan

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 19


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
didukung dengan pengembangan jaringan jalan kolektor dan lokal yang
menghubungkan antar desa atau distrik;
(6) Pengembangan simpul transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b dilakukan dengan meningkatkan terminal regional di alokasikan di
setiap wilayah pengembangan, terminal utama di Kota Nabire dan terminal
pendukung dialokasikan di empat pusat-pusat sekunder (ibukota distrik Yaur,
ibukota distrik Napan, ibukota Distrik Mapia dan Topo);
(7) Rencana jaringan jalan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2),
digambarkan pada Lampiran 9.

Pasal 36
(1) Pengembangan transportasi laut sebagaimana dimaksud pada Pasal 34 ayat
(1) huruf b, diarahkan untuk pengembangan pelabuhan laut dan
pengembangan jaringan transportasi laut;
(2) Pelabuhan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan pada
Pelabuhan Samabusa direncanakan menjadi pelabuhan utama di Kabupaten
Nabire dan Pelabuhan Kimi dikembangkan dengan dilengkapi PPI (Pendaratan
dan Pelelangan Ikan);
(3) Pelabuhan Kimi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan untuk
menunjang aktivitas perdagagan antar pulau, serta pelayanan angkutan
penumpang di Kabupaten Nabire;
(4) Sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) untuk mendukung kelancaran
operasional dan kelestarian fungsi serta keamanan pelabuhan perlu dilakukan
upaya berikut:
(a) Minimasi sedimentasi, antara lain dengan mengendalikan pembuangan
limbah dari aktivitas di hulu sungai menuju perairan sungai yang
akhirnya bermuara ke perairan laut di sekitar kedua pelabuhan tersebut,
serta dengan cara pengerukan berkala;
(b) Upaya pengamanan keselamatan pantai dari kemungkinan aberasi akibat
hantaman ombak, antara lain melakukan pelestarian keberadaan hutan
bakau dan pembuatan tanggul;
(c) Meningkatkan aksesibilitas penumpang dan barang antara pelabuan
dengan kawasan-kawasan sentra produksi dan pusat-pusat aktivitas di
Kabupaten Nabire;
(d) Meningkatkan berbagai fasilitas pendukung pelabuhan, seperti fasilitas
pergudangan.
(5) Pengembangan jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), untuk pelabuhan menjadi nasional, regional maupun lokal
(6) Peta rencana transportasi laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
digambarkan pada Lampiran 10.

Pasal 37
(1) Pengembangan transportasi udara sebagaimana dimaksud pada pasal 34
ayat (1) huruf c diarahkan pada:
(a) Pengembangan bandar udara dan;
(b) Pengembangan jaringan transportasi udara.

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 20


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(2) Pengembangan bandar udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
sehubungan dengan adanya kerusakan akibat gempa dan keterbatasan
panjang runway diarahkan untuk:
(a) Pengembangan bandar udara Nabire di Kabupaten
Nabire;
(b) Pengembangan Kaladiri SP C (alternatif 1), Kaladiri SP
2 (alternatif 2), dan Yaro (alternatif 3) di Distrik Wanggar.
(3) Peta rencana sistem transportasi udara sebagaimana yang dimaksud pada
ayat (2), dapat dilihat pada lampiran 11.

Pasal 38
(1) Pengembangan fasilitas umum sebagaimana dimaksud pada Pasal 33 huruf
b, yang mencakup:
(a) Fasilitas pendidikan;
(b) Fasilitas kesehatan;
(c) Fasilitas perdagangan;
(d) Fasilitas peribadatan;
(e) Fasilitas olah raga dan ruang terbuka hijau;
(f) Fasilitas rekreasi dan kebudayaan;
(g) Fasilitas umum lainnya seperti kantor pemerintahan,
balai pertemuan, kantor polisi, kantor pos.
(2) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, prediksi fasilitas pendidikan
Tahun 2008 - 2027 dapat dilihat pada Lampiran 12;
(3) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, diprediksi fasilitas kesehatan
Tahun 2008 - 2027 dapat dilihat pada Lampiran 13;
(4) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, diprediksi fasilitas
perdagangan Tahun 2008 - 2027 dapat dilihat pada Lampiran 14;
(5) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, diprediksi fasilitas
peribadatan Tahun 2008 - 2027 dapat dilihat pada Lampiran 15;
(6) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e diprediksi fasilitas olah raga
dan ruang terbuka hijau Tahun 2008 - 2027 dapat dilihat pada Lampiran 16;
(7) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, diprediksi fasilitas rekreasi
dan kebudayaan Tahun 2008 - 2027 dapat dilihat pada Lampiran 17;
(8) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, diprediksi fasilitas umum
lainnya Tahun 2008 - 2027 dapat dilihat pada Lampiran 18.

Pasal 39
(1) Pengembangan utilitas sebagaimana dimaksud pada Pasal 33 huruf c
mencakup:
(a) Irigasi;
(b) Telekomunikasi
(c) Energi listrik,
(d) Air bersih,
(e) Limbah cair,
(f) Sampah.
(2) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, pengembangan Sistem irigasi

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 21


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
sederhana telah dibangun di Distrik Wanggar dan Napan;
(3) Peta rencana prasarana pengairan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dapat dilihat pada Lampiran 19;
(4) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, pengembangan
telekomunikasi dimaksudkan untuk penambahan jumlah jaringan hingga
mendekati pedalaman, terutama menara pemancar bagi pihak swasta
(seluler);
(5) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, sumber air bersih bersumber
dari air permukaan (air terjun Sikura-kura) dan air resapan (dari sungai
Nabire dan Sunagi Kurwo) yang terletak di Distrik Nabire;
(6) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, sumber terbesar penghasil
limbah cair tersebut berasal dari permukiman penduduk;
(7) Mengingat relatif lebih tingginya biaya untuk infrastruktur sewerage, serta
wilayah Kabupaten yang masih rendah kepadatan penduduknya sebagaimana
dimaksud pada ayat (6), maka penanganan air limbah dapat menggunakan
septic tank pribadi;
(8) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, penanganan sampah sampai
pada saat ini belum menjadi persoalan yang kompleks.

Bagian Ketiga
Arahan Pola Pemanfaatan Ruang

Paragraf 1
Pengelolaan Kawasan Lindung

Pasal 40
(1) Kawasan lindung di Kabupaten Nabire sebagaimana dimaksud pada Pasal
20, berada di Distrik Nabire, Nabire Selatan, Sukaikai, Sukikai Selatan, Mapia
Barat, Mapia Tengah, Kamu Selatan, Kamu Tengah, Kamu Utara, Dogiyai,
Yaur, Yaro dan Teluk Umar;
(2) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya
sebagaimana dimaksud pada Pasal 19 ayat (1) huruf a meliputi kawasan
hutan lindung dan hutan bakau;
(3) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan
pada berada di setiap distrik, namun luas terluas terdapat di Distrik Mapia,
Kamu dan Ikrar;
(4) Kawasan hutan bakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan pada
pesisir pantai utara (Distrik Yaur, Wanggar, Nabire dan Distrik Napan).

Pasal 41
(1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada Pasal
20 ayat (1) huruf b antara lain:
(a) Sempadan pantai, diarahkan sepanjang tepian pantai yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter
dari titik pasang tertinggi ke arah darat;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 22


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(b) Sempadan sungai, diarahkan sekurang-kurangnya 100 meter di kiri
kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada
di luar permukiman;
(c) Kawasan sekitar danau, diarahkan dataran sepanjang tepian
danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi
fisik danau/waduk antara 5-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah
darat;
(d) Kawasan sekitar mata air, diarahkan sekurang-kurangnya dengan jari-
jari 200 meter di sekitar mata air.
(2) Sebagiamana dimaksud pada ayat (1), lokasi kawasan perlindungan
setempat di Kabupaten Nabire adalah sekitar sungai yang ada di wilayah ini

Pasal 42
(1) Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya sebagaimana
dimaksud pada Pasal 20 ayat (1) huruf C meliputi:
(a) Taman nasional laut adalah Taman Nasional Teluk Cendrawasih
terletak di sepanjang pantai barat daya tepatnya di distrik Teluk Umar
dan Distrik Yaur;
(b) Kawasan suaka alam terletak di distrik Uwapa, Mapia dan Kamu.
(2) Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilarang dialihhfungsikan dan/atau digunakan untuk
kegiatan budidaya.

Paragraf 2
Pemanfaatan Kawasan Budidaya

Pasal 43
(1) Kawasan Budidaya sebagaimana dimaksud pada Pasal 21
ayat (1), merupakan kawasan di luar kawasan lindung, yang mempunyai
fungsi utama budidaya, antara lain seperti kawasan hutan produksi,
pertanian, pertambangan, perindustrian, pariwisata, dan permukiman.
(2) Kawasan budidaya yang berada di Kabupaten Nabire
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi Distrik Makimi, Napan,
Wapoga, Uwapa, Wanggar, Yaro, Kamu Timur, dan Teluk Kimi.
(3) Arahan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), perlu untuk memperhatikan sebagai berikut:
(a) Potensi sumberdaya alam dan kesesuaian lahan, seperti potensi pertanian,
perkebunan, perikanan, dan sebagainya;
(b) Lingkungan buatan, yang tercermin dari pola penggunaan lahan dan
sebaran pusat-pusat aktivitasnya;
(c) Zonasi rawan bencana, meliputi rawan gempa, rawan tsunami, rawan
banjir, rawan longsor, rawan aberasi pantai, dan sebagainya;
(d) Sinergitas, keterkaitan, dan kemungkinan konflik antar penggunaan lahan;
(e) Ketersediaan prasarana wilayah, seperti aksesibiltas, ketersediaan fasilitas
umum dan fasilitas social, serta jaringan utilitas;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 23


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(f) Keseimbangan pertumbuhan wilayah;
(g) Kelestarian fungsi ekosistem keseluruhan.

Pasal 44
(1) Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud pada Pasal 21
ayat (1) meliputi:
(a) Kawasan hutan produksi terbatas;
(b) Kawasan hutan produksi tetap;
(c) Kawasan hutan produksi konservasi.
(2) Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi Distrik Napan, Yaro, Teluk Makimi dan Uwapa.

Pasal 45
(1) Kawasan hutan produksi terbatas sebagaimana dimaksud pada
Pasal 44 huruf a, diperuntukan bagi hutan terbatas, dimana eksploitasi hanya
melalui tebang pilih dan tanam;
(2) Kawasan hutan produksi tetap sebagaimana dimaksud pada Pasal
44 huruf b, diperuntukkan bagi hutan produksi tetap, dimana eksploitasi
melalui tebang pilih atau tebang habis dan tanam;
(3) Kawasan hutan produksi konversi sebagaimana dimaksud pada
Pasal 44 huruf c, diperuntukkan bilamana diperlukan dapat dialihfungsikan.
(4) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk menjaga kelestarian
fungsi dan mengoptimalkan produktivitas ekonomi dari kawasan hutan
produksi tetap dan hutan produksi terbatas perlu diupayakan sebagai berikut:
(a) Adanya masukan teknologi (misalnya berupa peningkatan pengetahuan
dan metoda) secara kontinyu mengenai pemilihan tanaman yang sudah
memenuhi persyaratan untuk ditebang dan yang banyak diminati di
pasaran;
(b) Adanya masukan teknologi secara kontinyu dalam hal perawatan
tanaman, sehubungan dengan teridentifikasikannya sebagian wilayah
Kabupaten Nabire sebagai kawasan yang rawan gempa dan rawan
longsor;
(c) Adanya masukan teknologi secara kontinyu dalam hal jenis dan kualitas
bibit yang akan ditanam kembali di kawasan hutan produksi tersebut;
(d) Adanya aktivitas pengawasan dan pemantauan secara kontinyu dalam
seluruh proses, mulai dari proses pemilihan tanaman yang akan
ditebang, penanamannya kembali, dan pemeliharaan kawasan hutan
tersebut dari kemungkinan longsor dan penebangan liar.

Pasal 46
Kawasan budidaya pertanian sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 ayat (1)
meliputi:

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 24


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(a) Kawasan tanaman pangan;
(b) Kawasan perkebunan;
(c) Kawasan perikanan.

Pasal 47
(1) Sebagaimana dimaksud pada Pasal 46 huruf a, Kawasan
tanaman pangan diarahkan untuk memproduksi tanaman pangan (tanaman
pangan lahan basah untuk kawasan tanaman pangan lahan basah, serta
tanaman pangan lahan kering, seperti palawija dan hortikultura untuk
kawasan tanaman lahan kering);
(2) Sebagaimana dimaksud pada Pasal 46 huruf b, kawasan
perkebunan yang dominan dikembangkan di Kabupaten Nabire adalah kakao,
kelapa, kopi dan melinjo;
(3) Kawasan perkebunanan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), meliputi Distrik Napan, Wapoga, Makimi dan Teluk Makimi;
(4) Peta rencana pengembangan kawasan pertanian dan
perkebunan digambarkan pada Lampiran 20;
(5) Kawasan perikanan sebagaimana dimaksud pada Pasal 46
huruf c, diarahkan untuk perikanan perairan pesisir dan budidaya air tawar;
(6) Pengembangan budidaya perikanan air tawar sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) diarahkan berlokasi di distrik Makimi, Kamu dan
Ikrar;
(7) Pengembangan budidaya perikanan perairan pesisir
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diarahkan di perairan Kampung
Wainame, Kampung Arui, Kampung Mambor, Sima, Kampung Yaur, dan
Kampung Napan;
(8) Peta rencana pengembangan perikanan digambarkan pada
Lampiran 21.

Pasal 48
(1) Potensi pertambangan sebagaimana dimaksud pada Pasal
21 ayat (1) yaitu berupa emas, marmer, granit, kuarsa, dan batubara;
(2) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka lokasi-lokasi
pertambangan antara lain:
(a) Emas terdapat Distrik Napan, Siriwo, Wapoga, Yaur, Yaro, Wanggar,
Nabire dan Nabire Barat;
(b) Marmer terdapat pada Distrik Yaur, Yaro, Nabire dan Nabire Barat.
(c) Granit terdapat pada Distrik Yaur dan Yaro;
(d) Kuarsa terdapat pada Distrik Yaur dan Yaro;
(e) Batubara terdapat pada Distrik Sukikai dan Makimi;
(3) Peta arahan pengembangan kawasan pertambangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digambarkan pada Lampiran 22.

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 25


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Pasal 49
(1) Kawasan industri sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 ayat
(1), diarahkan bagi pengolahan produk-produk pertanian, perkebunan,
perikanan, dan hasil hutan;
(2) Pengembangan kawasan industri sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) lebih diprioritaskan mengarah ke distrik Uwapa.

Pasal 50
(1) Kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud pada Pasal 21
ayat (1) diarahkan untuk lebih dioptimalkan fungsinya. Pengembangan Taman
Laut Nasional tidak hanya sebatas pada pengembangan wisata bahari
melainkan juga menjadi eko-edukasi wisata bahari;
(2) Pengembangan wisata bahari sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dikembangkan pada Kawasan Pantai Teluk Umar, Pulau Anggrameos,
Simor, Pulau Kumbur, Pulau Pepaya, Pulau Nusi, Pulau Moor, Pulau Babi, Kali
Gedodan beberapa Pulau Kecil lainnya di Teluk Sarera.

Pasal 51
(1) Kawasan permukiman sebagaimana dimaksud pada Pasal 21
ayat (1), dengan mempertimbangkan kondisi sebagian wilayah Kabupaten
Nabire yang risiko bencana diarahkan berlokasi ke area-area yang relatif lebih
aman meliputi kawasan yang didominasi oleh lingkungan hunian dengan
fungsi utama sebagai tempat tinggal;
(2) Pola pengembangan kawasan permukiman sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), sebaiknya menggunakan pola KASIBA dan LISIBA
guna meminimasi risiko bencana alam.
(3) Peta arahan pengembangan kawasan permukiman
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), digambarkan pada Lampiran 23.

Paragraf 3
Pengelolaan Kawasan Perdesaan dan Perkotaan

Pasal 52
(1) Kawasan perdesaan dan perkotaan sebagaimana dimaksud
pada Pasal 22, diarahkan untuk menjaga dan mengoptimalkan fungsinya,
masing-masing, serta mensinergikan pertumbuhan dan perkembangannya
secara berimbang, sehingga tercapai pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan yang berkelanjutan;
(2) Pengembangan kawasan pedesaan sebagaiamana dimaksud
pada ayat (1) meliputi desa mandiri energi, desa mandiri pangan, dan kota
terpadu mandiri;
(3) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdapat beberapa
wilayah pengembangan (WP) kawasan perdesaan dan perkotaan diantaranya:

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 26


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(a) Kawasan di wilayah pengembangan Yaur meliputi
distrik Yaur dan Teluk Umar diprioritaskan intuk pengembangan
perkebunan;
(b) Kawasan di wilayah pengembangan Mapia meliputi
distrik Mapia, Sukikai, Ikrar dan Kamu diprioritaskan untuk
pengembangan perkebunan dan kehutanan;
(c) Kawasan di Wilayah Pengembangan Napan meliputi
distrik Napan, Makimi, Siriwo diprioritaskan untuk pengembangan
perkebunan, pertanian, pertambangan, dan marine culture;
(d) Kawasan di wilayah pengembangan Nabire meliputi
meliputi Nabire, Wanggar, dan Uwapa diprioritaskan untuk
pengembangan perdagangan, industri, jasa dan pariwisata;
(e) Kawasan perkotaan yang termasuk dalam kategori
kota-kota orde 2 ini juga perlu menyediakan informasi yang bisa diakses
oleh kota-kota orde 3, yang selanjutnya informasi tersebut dapat diakses
pula oleh kawasan perdesaan di sekitarnya, dengan jenis informasi yang
serupa dengan yang berlaku di WP Yaur;
(f) Di WP ini juga direncanakan akan dikembangkan
aktivitas industri, khususnya industri yang mengolah hasil pertanian,
perkebunan, perikanan, dan hutan;
(g) Jasa dan pariwisata merupakan aktivitas lainnya
yang akan dikembangkan di WP Nabire.

Paragraf 4
Kawasan Strategis

Pasal 53
(1) Sebagaimana dimaksud pada Pasal 23, kawasan strategis di
Kabuputen Nabire meliputi:
(e) Wilayah Bencana Utama yaitu kawasan yang
termasuk pada zonasi rawan bencana yang tinggi meliputi Distrik Napan,
Siriwo dan sebagian Distrik Nabire sebelah timur;
(f) Wilayah Bencana Sekunder, yaitu kawasan yang
termasuk pada zonasi rawan bencana yang Sedang. Meliputi Distrik
Wanggar, Siriwo dan sebagian Distrik Uwapa;
(g) Kawasan Pusat Wilayah Pengembangan Nabire
kawasan ini akan menjadi pusat pengembangan wilayah Nabire dengan
sarana dan prasarana yang paling lengkap;
(h) Kawasan Cagar Alam Laut, darat dan Hutan Lindung
kawasan ini diharapkan mampu menjadi buffer dari kegiatan budidaya
yang ada di wilayah Nabire serta hutan lindung akan sangat berperan
menegurangi risiko terjadinya bencana banjir dan longsor di daerah
perbukitan;
(i) Kawasan pesisir pantai dan pulau-pulau kecil yang
tersebar di 4 (empat) Distrik meliputi Distrik Yaur, Distrik Wanggar,

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 27


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Distrik Nabire dan Distrik Napan merupakan potensi untuk
pengembangan perikanan laut dan pariwisata maritim yang dapat
dikembangkan dan menjadi aset bagi Kabupaten Nabire;
(2) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka strategi
penanganannya meliputi:
(a) Meningkatkan aksesibilitas ke kawasan kepulauan;
(b) Meningkatkan kerjasama dengan pihak investor;
(c) Membangun tempat pelelangan ikan dan industri pengolahan ikan;
(d) Memberikan bantuan permodalan dan alat-alat penangkapan ikan yang
lebih maju;
(e) Mengeluarkan kebijakan yang menekankan pada batas pemanfaatan
perairan di Kabupaten Nabire.
(f) Membantu pengembangan perikanan budidaya.
(3) Peta rencana pengembangan kawasan strategis
digambarkan pada Lampiran 3.

Paragraf 5
Kawasan Risiko Bencana

Pasal 54
(1) Kawasan risiko bencana sebagaimana dimaksud pada Pasal 24
ayat (1) meliputi:
(a) Kawasan risiko bencana vulkanik/gempa;
(b) Kawasan risiko tsunami;
(c) Kawasan risiko bencana longsor;
(d) Kawasan risiko banjir
(2) Arahan kawasan risiko bencana sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) melalui:
(a) Manajemen risiko bencana diperlukan di Kabupaten Nabire mengingat
kondisi wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana;
(b) Manajemen risiko bencana sebagaimana dimaksud dilakukan melalui
pengaturan ruang atau spasial, sistem informasi dan keteknikan,
pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat serta
pembentukan kelembagaan yang menanganinya;
(3) Kawasan risiko bencana vulkanik/gempa bumi tinggi
sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi Distrik Nabire
Barat, dan sebagian Distrik Nabire;
(4) Kawasan dengan tingkat risiko tsunami tinggi sebagaimana
yang dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi distrik-distrik yang berbatasan
langsung dengan laut (kawasan pesisir) khususnya Distrik Wanggar, sebagian
besar Nabire Barat, dan sebagaian kecil Distrik Nabire dan Distrik Uwapa;
(5) Kawasan yang memiliki potensi risiko bencana longsor tinggi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi Distrik Wanggar,
Distrik Nabire Barat dan sebagian distrik Nabire Uwapa dan Topo;
(6) Kawasan yang memiliki potensi risiko bencana banjir tinggi

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 28


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, meliputi Distrik Wanggar,
Distrik Nabire Barat, sebagian Distrik Nabire dan sebagian kecil Distrik Yaro
dan Distrik Yaur.

BAB VII
PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

Pasal 55
(1) Pengendalian Pemanfaatan Ruang diselenggarakan melalui
kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap Pemanfaatan Ruang;
(2) Pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), di
kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan pedesaan, kawasan perkotaan,
dan kawasan tertentu dilaksanakan melalui kegiatan pengawasan, penertiban,
dan pendayagunaan mekanisme perizinan terhadap pemanfaatan ruang dan
lokasi pembangunan, termasuk terhadap penguasaan, penggunaan, dan
pemanfaatan tanah, air, udara dan sumber daya alam lainnya;
(3) Pengendalian Pemanfaatan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
dilakukan oleh Bupati dengan memperhatikan aspek keikutsertaan
masyarakat;
(4) Sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penertiban terhadap pemanfaatan
ruang termasuk terhadap penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah,
air, udara dan sumber daya alam lainnya di kawasan lindung, kawasan
budidaya, dan kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu
yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk
pengenaan sanksi pidana, sanksi perdata, dan sanksi administratif sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 56
(1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud Pasal 55
ayat (1), termasuk terhadap penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan
tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya di kawasan lindung, kawasan
budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu
diselenggarakan dalam bentuk pelaporan, pemantauan, dan evaluasi; secara
rutin oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) yang di bentuk
oleh Bupati;
(2) BKPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan pengawasan
Pemanfaatan Ruang yang berhubungan dengan program, kegiatan
pembangunan, pemberian izin Pemanfaatan Ruang dan kebijakan yang
berkaitan dengan Pemanfaatan Ruang;
(3) Masyarakat berhak melaporkan adanya temuan di lapangan yang berkaitan
dengan penyelengaraan pemanfaatan tata ruang yang tidak sesuai dengan
rencananya;
(4) Tata cara pelaporan ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

BAB VIII

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 29


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
WEWENANG

Pasal 57
(1) Bupati menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten;
(2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), terdapat hal-hal yang dapat diselesaikan di wilayah
Kabupaten, maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur.

Pasal 58
(1) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1), termasuk
pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya
yang berskala besar dan berdampak penting;
(2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah bekonsultasi dengan Dewan;
(3) Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam
ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten.

BAB IX
EVALUASI DAN REVISI RENCANA

Pasal 59
(1) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire tahun 2007-2027 dapat
ditinjau kembali dan/atau disempurnakan dalam jangka waktu
perencanaannya, sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Papua atau dinamika pembangunan;
(2) Peninjauan kembali dan/atau penyempurnaan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Nabire 2007-2027 dalam jangka waktu perencanaannya dilakukan
minimal 5 tahun sekali.

BAB X
HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT

Bagian Pertama
Hak

Pasal 60
Dalam kegiatan penataan ruang wilayah Kabupaten Nabire, masyarakat berhak:
(1) Berperan serta dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang;
(2) Mengetahui secara terbuka Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire,
rencana tata ruang kawasan, rencana rinci tata ruang kawasan;
(3) Menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat
dari penataan ruang;

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 30


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(4) Memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai
akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata
ruang.

Pasal 61
(1) Untuk mengetahui rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
selain masyarakat mengetahui Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Nabire dari Lembaran Kabupaten Nabire, masyarakat mengetahui rencana
tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengumuman atau penyebarluasan
oleh Pemerintah Kabupaten Nabire selain melalui media cetak juga melalui
tempat-tempat yang memungkinkan masyarakat mengetahui dengan mudah;
(2) Pengumuman atau penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
diketahui masyarakat dari penempelan/pemasangan peta rencana tata ruang
yang bersangkutan pada tempat-tempat umum dan kantor-kantor yang
secara fungsional menangani rencana tata ruang tersebut.
Pasal 62
(1) Dalam menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai
akibat penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 pelaksanaannya
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atau
kaidah yang berlaku;
(2) Untuk menikmati dan memanfaatkan ruang beserta sumberdaya alam yang
terkandung di dalamnya, menikmati manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan
dilaksanakan atas dasar pemilikan, penguasaan, atau pemberian hak tertentu
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun atas hukum
adat kebiasaan yang berlaku atas ruang pada masyarakat setempat.

Pasal 63
(1) Hak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian terhadap perubahan
status semula yang dimiliki oleh masyarakat sebagai akibat pelaksanaan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire diselenggarakan dengan cara
musyawarah antara pihak yang berkepentingan;
(2) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka penyelesaiannya dilakukan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Kedua
Kewajiban

Pasal 64
Dalam kegiatan penataan ruang wilayah Kabupaten Nabire, masyarakat wajib:
(1) Berperan serta dalam memelihara kualitas ruang;
(2) Berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam proses perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;
(3) Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan.

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 31


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Bagian Ketiga
Peran Serta Masyarakat

Pasal 65
(1) Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 64 dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan
kriteria, kaidah, baku mutu, dan aturan-aturan penataan ruang yang
ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan;
(2) Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), yang dipraktekkan masyarakat secara turun menurun dapat diterapkan
sepanjang memperhatikan faktor-faktor daya dukung lingkungan, astetika
lingkungan, lokasi, dan struktur pemanfaatan ruang serta dapat menjamin
pemanfaatan ruang yang serasi, selaras dan seimbang.

Pasal 66
Dalam pemanfaatan ruang di daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 65, peran
serta masyarakat dapat berbentuk:
(1) Pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara berdasarkan
peraturan perundang-undangan, agama, adat, atau kebiasaan yang berlaku;
(2) Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan wujud struktural
dan pola pemanfaatan ruang di kawasan perdesaan dan perkotaan;
(3) Penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Nabire;
(4) Konsolidasi pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumberdaya alam lainnya
untuk tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas;
(5) Perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Nabire;
(6) Pemberian masukan untuk penetapan lokasi pemanfaatan ruang; dan/atau
kegiatan menjaga, memelihara, dan meningkatkan kelestarian fungsi
lingkungan hidup.

Pasal 67
(1) Tata cara peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang di daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
(2) Pelaksanaan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikoordinasikan oleh Kepala Daerah termasuk pengaturannya pada Tingkat
Kecamatan sampai dengan Desa/Kelurahan;
(3) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
secara tertib sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Nabire;

Pasal 68
Dalam pengendalian pemanfaatan ruang, peran serta masyarakat dapat berbentuk:

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 32


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Nabire,
termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang
yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang; dan/atau
(2) Bantuan pemikiran atau pertimbangan untuk penertiban kegiatan
pemanfaatan ruang dan peningkatan kualitas pemanfaatan ruang.

Pasal 69
Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah dan
kawasan di daerah disampaikan secara lisan atau tulisan mulai dari tingkat
Desa/Kelurahan ke Kecamatan kepada Kepala Daerah dan pejabat yang
berwenang.

BAB XI
KETENTUAN PIDANA

Pasal 70
(1) Setiap orang dan/atau pejabat yang mempergunakan ruang dan/atau
memberi izin bertentangan dengan peruntukkannya dikenakan sanksi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
(2) Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 40 dan/atau Pasal 41
dan/atau Pasal 42 dan/atau Pasal 43 dan/atau pasal 45, dan/atau pasal 46,
dan/atau Pasal 47 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam)
bulan dan/atau denda minimal Rp. 500.000.000,- (Lima Ratus Juta Rupiah);
(3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah pelanggaran;
(4) Pelanggaran tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (2), apabila
dilakukan dan/atau atas nama Badan Hukum, tuntutan dan sanksi pidana
dikenakan kepada pengurusnya, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama;
(5) Pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), yang
mengakibatkan pencemaran dan rusaknya lingkungan hidup dikenakan pidana
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang
pengelolaan Lingkungan Hidup.

BAB XII
PENYIDIKAN

Pasal 71
(1) Selain oleh pejabat penyidik umum, penyidikan atas tindak pidana
sebagaimana dimaksud pada Pasal 70 dilakukan oleh Pejabat Penyidik
Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah yang pengangkatannya
ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Dalam melaksanakan tugas penyidikan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:
(a) Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak
pidana;
(b) Melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian dan

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 33


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
melakukan pemeriksaan;
(c) Menyuruh berhenti seseorang Tersangka dan memeriksa tanda pengenal
diri Tersangka;
(d) Melakukan penyitaan benda dan/atau surat;
(e) Mengambil sidik jari dan memotret Tersangka;
(f) Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai Tersangka
atau saksi;
(g) Mendatangkan orang ahli dalam hubungannya dengan pemeriksaan
perkara;
(h) Mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk
dari Penyidik bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peritiwa tersebut
bukan merupkana tindak pidana dan selanjutnya melalui Penyidik
memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum, tersangka, atau
keluarganya;
(i) Melakukan tindakan lain menurut hukum yang dapat
dipertanggungjawabkan.
(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil membuat berita acara setiap tindakan dalam
hal:
(a) Pemeriksaan tersangka;
(b) Pemasukan rumah;
(c) Penyitaan barang;
(d) Pemeriksaan saksi;
(e) Pemeriksaan tempat kejadian.

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 72
(1) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Rencana tata ruang wilayah
kabupaten nabire tahun 2007-2027 tidak lagi menjadi acuan dalam penataan
ruang wilayah dalam penataan ruanga wilayah Kabupaten Nabire;
(2) Hal-hal yang merupakan pelaksanaan dari peraturan daerah ini ditetapkan
oleh Bupati.

Pasal 73
(1) Peraturan Daerah ini dapat disebut sebagai Peraturan Daerah RTRW
Kabupaten Nabire 2007-2027;
(2) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Ditetapkan di : Nabire
Pada Tanggal : .....................................
BUPATI NABIRE

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 34


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Drs. ANSELMUS PETRUS YOUW

PENJELASAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH


KABUPATEN NABIRE
NOMOR : .......... TAHUN ..............

TENTANG

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 35


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN NABIRE
TAHUN 2007 2027

Penjelasan Pasal demi Pasal

Pasal 1 : Sudah Jelas

Pasal 2 : Sudah Jelas

Pasal 3 : Sudah Jelas

Pasal 4 : Sudah Jelas

Pasal 5 : Sudah Jelas

Pasal 6 : Sudah Jelas

Pasal 7 : Sudah Jelas

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 36


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Pasal 8 : Sudah Jelas

Pasal 9 : Sudah Jelas

Pasal 10 : Sudah Jelas

Pasal 11 : Sudah Jelas

Pasal 12 : Sudah Jelas

Pasal 13 : Sudah Jelas

Pasal 14 : Sudah Jelas

Pasal 15 : Sudah Jelas

Pasal 16 : Sudah Jelas

Pasal 17 : Sudah Jelas

Pasal 18 : Sudah Jelas

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 37


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Pasal 19 : Sudah Jelas

Pasal 20 : Sudah Jelas

Pasal 21 : Sudah Jelas

Pasal 22 : Sudah Jelas

Pasal 23 : Sudah Jelas

Pasal 24 : Sudah Jelas

Pasal 25 : Sudah Jelas

Pasal 26 : Sudah Jelas

Pasal 27 : Sudah Jelas

Pasal 28 : Sudah Jelas

Pasal 29 : Sudah Jelas

Pasal 30 : Sudah Jelas

Pasal 31 : Sudah Jelas

Pasal 32 : Sudah Jelas

Pasal 33 : Sudah Jelas

Pasal 34 ayat (2) :


Rencana Sistem Prasarana Transportasi adalah sebagai berikut:
(1) Penentuan fungsi jalan, yang meliputi penentuan jaringan jalan arteri, jalan
kolektor dan jalan lokal baik primer maupun sekunder;
(2) Rencana pembangunan jalan dan jembatan, yang meliputi pembangunan
jalan/jembatan baru untuk membuka kawasan terisolasi atau untuk
meningkatkan kemampuan pemasaran hasil-hasil produksi;
(3) Rencana lokasi terminal sesuai dengan kelas pelayanan sebagai terminal
wilayah dan terminal sub-wilayah;
(4) Rencana pembangunan/pengembangan pelabuhan sesuai dengan rencana
tata ruang dan kelayakannya;
(5) Rencana pembangunan/pengembangan bandar udara, sesuai dengan
rencana tata ruang dan kelayakannya.

Pasal 35:
Orientasi pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Nabire antara lain:

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 38


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
(1) Pengembangan jaringan jalan baik peningkatan jalan maupun pembangunan
jalan baru harus senantiasa terkait dengan pengembangan ruas jalan regional
yang sudah ada;
(2) Pengembangan jaringan jalan harus terkait pula dengan sebaran kawasan
permukiman perdesaan maupun perkotaan sehingga mampu meningkatkan
aksesibilitasnya, terutama berkaitan dengan pengembangan pusat
permukiman inter-regional dan pusat pengembangan permukiman lokal, serta
pengembangan Kota Nabire;
(3) Pengembangan jaringan jalan harus memperhatikan pula adanya sebaran
kawasan-kawasan yang akan diprioritaskan dalam kurun waktu perencanaan;
(4) Pola pengembangan jaringan jalan di wilayah ini sebaiknya diarahkan
membentuk pola GRID terutama di wilayah yang datar guna memudahkan
proses evakuasi bila terjadi bencana.

Pasal 36 : Sudah Jelas

Pasal 37 : Sudah Jelas

Pasal 38 : Sudah Jelas

Pasal 39 : Sudah Jelas

Pasal 40 : Sudah Jelas

Pasal 41 : Sudah Jelas

Pasal 42 : Sudah Jelas

Pasal 43 : Sudah Jelas

Pasal 44 : Sudah Jelas

Pasal 45 : Sudah Jelas

Pasal 46 : Sudah Jelas

Pasal 47 : Sudah Jelas

Pasal 48 : Sudah Jelas

Pasal 49 : Sudah Jelas

Pasal 50 : Sudah Jelas

Pasal 51 : Sudah Jelas

Pasal 52 : Sudah Jelas

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 39


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027
Pasal 53 : Sudah Jelas

Pasal 54 : Sudah Jelas

Pasal 55 : Sudah Jelas

Pasal 56 : Sudah Jelas

Pasal 57 : Sudah Jelas

Pasal 58 : Sudah Jelas

Pasal 59 : Sudah Jelas

Pasal 60 : Sudah Jelas

Pasal 61 : Sudah Jelas

Pasal 62 : Sudah Jelas

Pasal 63 : Sudah Jelas

Pasal 64 : Sudah Jelas

Pasal 65 : Sudah Jelas

Pasal 66 : Sudah Jelas

Pasal 67 : Sudah Jelas

Pasal 68 : Sudah Jelas

Pasal 69 : Sudah Jelas

Pasal 70 : Sudah Jelas

Pasal 71 : Sudah Jelas

Pasal 72 : Sudah Jelas

Pasal 73 : Sudah Jelas

Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Nabire 40


Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2007-2027