Anda di halaman 1dari 3

Nama : Moh Luqni Maulana Albi

Nim : 1148030142
Mata Kuliah : Sosiologi Islam
Jur/Smt/Kls : Sosiologi/VI/D

Paradigma Islam Dan Barat

Dalam ruang globalisasi seperti ini, isu-isu keagamaan dari berbagai daerah di seluruh penjuru
dunia mudah diakses oleh siapapun, di manapun dan kapanpun. Masuknya isu-isu tersebut ikut
membentuk pola dan sikap dasar umat beragama baik dalam menghadapai persoalan ekstern
maupun intern umat Islam. Dalam era yang demikian, luapan emosi-emosi keagamaan dan
tindakan kekerasan dalam beragama sangat potensial untuk muncul ke permukaan. Untuk
menghindari hal tersebut maka agama (khususnya agama Islam) dipaksa untuk tunduk pada
realitas dengan menggeser paradigma Islam.

Namun pergeseran paradigma Islam yang dilakukan oleh kaum akademisi dan intelektual Islam
akhir-akhir ini justru semakin mengarah pada paradigma rasional-nihilis yang cenderung berkiblat
pada pemikiran orientalis dan filsafat barat. Hal ini ditandai dengan menjamurnya karya-karya
akademis dan intelektual muslim yang secara radikal menyikapi dengan sinis warisan budaya dan
intelektual Islam sebagaimana Barat menyikapi sejarah kelam mereka saat bernaung di bawah
agama. Teori kritik, dalam berbagai bentuk ekspresi dan representasinya, mulai dari pemikiran
Hegel, Karl Marx, Hannah Ardent, Max Horkheimer dan Jurgen Habermas dan tokoh-tokoh
postmodern merupakan kekuatan sentral dalam tradisi kritik barat adalah alat bedah yang sering
digunakan untuk meruntuhkan nilai-nilai Islam.
Tudahan atas ketidakmampuan konsep klasik dalam menyelesaikan kasus-kasus di berbagai
bidang kehidupan secara de facto lebih dikarenakan faktor eksternal berupa hegemoni Barat dan
faktor internal berupa problem epistemologis teoritis Fikih. Hegemoni Barat dirasakan
berpengaruh besar bagi rekonstruksi doktrin Fikih klasik pada era modern. Penetrasi Barat sejak
akhir abad ke-19 terhadap dunia Islam setidaknya telah memaksa beberapa negara berpenduduk
muslim untuk mengadopsi hukum-hukum Barat, sehingga hal itu mengakibatkan munculnya
dualisme dan dikotomi hukum; hukum dalam wilayah ritual (normatif) dan kekeluargaan menurut
Fikih di satu pihak, dan hukum pidana dan commercial law yang dipinjam dari Barat di pihak lain
(historis). Penetrasi Barat ini telah berhasil menggoyahkan hukum Islam, sehingga Fikih tidak lagi
dapat diaplikasikan dalam ruang nation-state atau lebih spesifik dalam sebuah sistem politik yang
disekularkan, kecuali terbatas dalam wilayah ritual dan hukum domestik, seperti hukum waris
(succession law) dan lain sebagainya. Qishash dan hudud dianggap bertentangan dengan standar
humanisme modern dan oleh sebab itu dibutuhkan pengadopsian criminal law dari Barat. Penetrasi
Barat dalam wilayah ekonomi juga berdampak pada tersingkirnya sistem ekonomi Islam yang
ditandai dengan kapitalisme Barat.

ajaran keagamaan yang dihembuskan oleh para tokoh Reformasi itu mengabaikan pentingnya
pemupukan kesadaran yang bertalian dengan emosi, rasa, intuisi dan kepekaan estetik. Bentuk-
bentuk kegiatan spiritual yang menggunakan sarana ekstase untuk menumbuhkan pengalaman
keagamaan, juga dianggap sebagai keliru dan tidak bermanfaat. Karena Tuhan dianggap telah
menjauh dari kehidupan dan meninggalkan manusia, maka bentuk-bentuk spiritualitas
disingkirkan dalam lingkungan hidup keberagamaan. Kemungkinan bahwa manusia mampu
mentransendensikan dirinya melalui bentuk-bentuk spiritualitas tertentu, juga dipandang sebagai
tidak ada manfaatnya. Penyempitan ruang bagi kesadaran manusia, yang membatasinya pada
kesadaran yang dapat diterima penalaran dan kerangka keimanan yang formal legalistik, juga
berbahaya apalagi jika dilakukan demi pembenaran terhadap sebuah pandangan yang dianggap
rasional atau sebuah penemuan ilmiah yang belum diuji secara kritis. Memang, selama iman benar-
benar teguh, semua bentuk godaan yang dapat merusak jiwa manusia bisa saja dicegahnya.
Misalnya hedonisme dan bentuk-bentuk lain dari materialisme. Akan tetapi begitu manusia
modern bergerak lebih maju dan lebih jauh dan terseret arus globalisasi, maka semua bidang
kehidupan mulai dari ilmu pengetahuan sampai seni menjadi kian sekular dan iman akan
dihadapkan pada bahaya kehancuran (kekufuran).

Apabila kita membaca karya-karya sastra, teori-teori ilmu dan berbagai aliran pemikiran falsafah
yang berkembang di Barat sejak lebih satu setengah abad yang lalu, akan terlihat betapa persoalan
kekosongan spiritual dengan berbagai manifestasinya merupakan gambaran yang disukai dan
masalah serius yang perlu dipecahkan. Novel, puisi, pemikiran falsafah, teori ilmiah dan esai-esai
kebudayaan seakan-akan merlomba-lomba menggambarkan renggangnya hubungan manusia
dengan Tuhan, masalah alienasi dan nihilisme, manifestasinya seperti sikap anti-sosial dan
anarkisme, dan banyak lagi tema lain yang membuktikan bahwa pernyataan bahwa _Tuhan telah
mati!_ dalam Also Spracht Zarathustra karya Nietzsche bukanlah tidak berlandaskan kenyataan.
Inilah situasi yang dialami manusia setelah memasuki era modern yang dikontrol oleh sistem
globalisasi, baik di luar dirinya maupun jauh dalam lubuk jiwanya telah terjadi kerenggangan
hubungan dengan Tuhan bertukar menjadi rapatnya hubungan manusia dengan kekosongan atas
kehampaan. Ketiadaan sangkut pautnya dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama mana pun
dan juga oleh falsafah yang didasarkan atas kebajikan moral seperti yang diajarkan Plato,
Aristoteles, Kon Fu Tze, dan lain-lain, menyebabkan hancurnya ukuran nilai-nilai, serta meluasnya
proses pendangkalan dalam kebudayaan seperti yang diperlihatkan oleh homogenitas budaya Barat
dewasa ini.

Menghadapi fenomena globalisasi seperti ini, umat Islam lebih dituntut untuk mempertahankan
identitas dan reaksi timbal balik dengan fenomena tersebut atau bahkan saling melingkapi untuk
mewujudkan masyarakat yang mawaddah wa rahmah, menganalisa secara kritis tentang hal-hal
yang bermanfaat bagi masa depan umat Islam dan hal-hal justru hanya akan membawa umat Islam
ke ambang kehancuran. Di sinilah perlunya analisa kritis dalam mengkaji lebih jauh terhadap
penggeseran paradigma yang terjadi di kalangan akademisi dan intelektual muslim.
Analisa kritis terhadap penggeseran paradigma dalam Islamic studies sebagai sebuah tipe analisis
yang mempelajari bagaimana kekuasaan disalahgunakan, atau bagaimana dominasi serta
ketidakadilan dijalankan dan diproduksi melalui teks-teks dalam sebuah konteks studi agama dan
merupakan bagian dari upaya mengembalikan studi agama ke dalam akar-akar tradisinya sebagai
studi kritis. Masalah dominasi bukan sekedar masalah bagaimana suatu kelompok dominan
menyajikan teks-teks tertentu di hadapan kelompok subordinat, tetapi lebih dari itu, bagaimana
rekayasa ilmiyah diciptakan oleh sebuah rekayasa fakta melalui propaganda opini.
Menghadapi tantangan globalisasi, umat Islam harus lebih selektif dalam memahami berbagai
model paradigma yang selalu disajikan oleh Barat melalui berbagai media sehingga akan terlihat
perbedaan yang sangat mendasar dengan paradigma Islam yang telah dibangun oleh Al-Quran
dan Al-Hadith. Pada titik inilah umat Islam membangun kembali (rekonstruksi) rekonstruksi
epistemologi Islam yang berbasis Tauhid.

Sumber : http://www.islambenar.com/world-view/benturan-paradigma-respon-tehadap-
penggeseran-paradigma-islam