Anda di halaman 1dari 8

RINGKASAN MATERI KULIAH

SAP III
DASAR PENGENAAN PAJAK DAN CARA MENGHITUNG PPN

3.1 Dasar Pengenaan Pajak


Dasar pengenaan pajak (DPP) merupakan jumlah tertentu sebagai dasar untuk
menghitung PPN. Dasar Pengenaan Pajak terdiri atas harga jual, nilai penggantian, nilai
ekspor, nilai impor, dan nilai lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak.

Harga Jual

Harga Jual adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan BKP, tidak termasuk PPN yang
dipungut berdasarkan Undang-Undang PPN dan potongan harga yang dicantumkan dalam
faktur pajak. Harga Jual merupakan DPP untuk penyerahan BKP. Harga Jual dapat diperoleh
dengan menjumlahkan harga pembelian bahan baku, bahan pembantu, alat-alat pelengkap
lainnya ditambah dengan biaya-biaya seperti penyusutan barang modal, bunga pinjaman dari
bank, gaji dan upah tenaga kerja, manajemen, serta laba usaha yang diharapkan. Termasuk
biaya dalam harga jual adalah biaya pengangkutan, biaya pengiriman, biaya pemeliharaan,
biaya asuransi, biaya garansi, biaya bantuan teknik, biaya pemasangan dan instalasi, dan
biaya-biaya lain yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha menghasilkan sampai
dengan penyerahan BKP.

Penggantian

Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan JKP, tidak termasuk PPN dan
potongan harga yang di cantumkan dalam faktur pajak. Nilai penggantian merupakan
taksiran biaya untuk mengganti biaya yang dikeluarkan guna mendapatkan profesi,
keterampilan, dan pengalaman yang memberikan kegiatan pelayanan dalam arti jasa
tersebut.

1
Nilai Impor

Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan Bea Masuk
ditambah pungutan lainnya yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan Pabean untuk impor BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut
berdasarkan undang-undang PPN. Penentuan nilai impor BKP didasarkan pada undang-
undang Pabean yang menggunakan Dasar Pengenaan Bea Masuk yaitu cost (harga faktur),
insurance (biaya asuransi antar daerah Pabean), dan freight (ongkos angkut atau pengapalan
antar daerah Pabean) atau di singkat dengan CIF (Cost, Insurance, Freight). Rumus
menghitung nilai import sebagai DPP adalah Nilai Import = CIF + Bea Masuk + Pungutan
Lain yang Sah

Nilai Ekspor

Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh eksportir. Nilai Ekspor tercantum dalam dokumen terpenting yang
dapat dijadikan sebagai faktur pajak untuk ekspor yaitu Pemberitahuan Ekspor Barang
(PEB), yang tidak difiat muat oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Berapapun nilai
ekspor yang tercantum dalam dokumen ekspor (PEB), tidak ada penghitungan PPN karena
tariff PPN untuk barang ekspor adalah 0 % (nol persen).

Nilai Lain Sebagai Dasar Pengenaan PPN

Nilai Lain adalah jumlah yang ditentukan sebagai DPP nilai lain tersebut ditetapkan
sebagai berikut:

Berdasar Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 567/KMK.04/2000 tanggal 26


Desember 2000 jo Keputusan Menteri Keuangan Nomor 251/KMK.03/2002 tanggal 31 Mei
2002 telah ditetapkan Nilai Lain sebagai DPP untuk beberapa penyerahan BKP dan JKP
yaitu:

1. Untuk pemakaian sendiri dan pemberian cuma cuma BKP atau JKP adalah harga
jual atau penggantian, tidak termasuk laba kotor

2
2. Untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah harga jual rata-rata
3. Untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata perjudul film
4. Untuk persediaan BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan adalah
harga pasar wajar
5. Untuk aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual belikan yang masih
tersisa pada saat pembubaran perusahaan adalah harga pasar wajar.
6. Untuk penyerahan jasa biro perjalanan/pariwisata adalah 10% dari jumlah tagihan
atau jumlah yang seharusnya ditagih
7. Untuk jasa pengiriman paket adalah 10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang
seharusnya ditagih
8. Untuk anjak piutang adalah 5% dari service charge, provisi dan diskon
9. Untuk penyerahan kendaraan bermotor bekas sebagai barang dagangan adalah 10%
dari Harga Jual
10. Untuk penyerahan BKP dana tau JKP dari Pusat ke Cabang atau sebaliknya dan
penyerahan BKP dana tau JKP antar Cabang adalah Harga Jual atau Penggantian
setelah dikurangi laba kotor
11. Untuk penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang adalah
harga lelang.

3.2 Transaksi yang Belum Termasuk PPN dan yang Sudah Termasuk PPN
Contoh 1:

Harga Satuan Jumlah Harga


No Nama Barang Unit
(Rp.) (Rp.)
1 Disp. Concentric EMG (Green) 1 Box 4.500.000,00 4.500.000,00
2 Disp. Concentric EMG (Blue) 1 Box 4.500.000,00 4.500.000,00
3 Disp. Concentric EMG (Yellow) 1 Box 4.500.000,00 4.500.000,00
4 Disp. Concentric EMG (Violet) 1 Box 4.500.000,00 4.500.000,00

Sub Total : 18.000.000


Terbilang : Discount 25%: 4.500.000
Empat belas juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah. DPP: 13.500.000
PPN 10%: 1.350.000
Total: 14.850.000

Contoh diatas apabila harga DPP belum include (termasuk) PPN dan cara menghitungnya
adalah:

3
DPP = 13.500.000
PPN = (10/100) x DPP
= 1.350.000

Jumlah pembayaran yang harus diterima oleh penjual adalah 13.500.000 + 1.350.000
= 14.850.000

Jurnal ketika transaksi:

Kas Rp 14.850.000
Penjualan Rp 13.500.000
Pajak Keluaran Rp 1.350.000

Contoh 2:

Harga Satuan Jumlah Harga


No Nama Barang Unit
(Rp.) (Rp.)
1 Disp. Concentric EMG (Green) 1 Box 4.500.000,00 4.500.000,00
2 Disp. Concentric EMG (Blue) 1 Box 4.500.000,00 4.500.000,00
3 Disp. Concentric EMG (Yellow) 1 Box 4.500.000,00 4.500.000,00
4 Disp. Concentric EMG (Violet) 1 Box 4.500.000,00 4.500.000,00

Sub Total : 18.000.000


Terbilang : Discount 25%: 4.500.000
Dua belas juta dua ratus tujuh puluh dua ribu tujuh DPP: 13.500.000
ratus dua puluh tujuh rupiah.
PPN 10%: 1.227.273
Total: 12.272.727
Contoh diatas apabila DPP sudah termasuk PPN dan cara menghitungnya adalah:

DPP = 13.500.000
PPN = (100/110) x DPP
= 1.227.273

4
Jumlah pembayaran yang harus diterima oleh penjual adalah 13.500.000 1.227.273
= 12.272.727

Jurnal ketika transaksi:

Kas Rp 13.500.000
Penjualan Rp 12.272.727
Pajak Keluaran Rp 1.227.273

3.3 Penyerahan Kepada Pemungut PPN


Sedikit menyimpang dari mekanisme yang secara umum berlaku, apabila PKP
menyerahkan BKP dan/atau JKP kepada Pemungut PPN, PKP yang bersangkutan tidak
memungut PPN dan PPnBM. PPN dan PPnBM yang terutang atas penyerahan tersebut akan
dipungut dan disetorkan ke kas negara oleh Pemungut PPN.

Pemungut PPN dan PPnBM

Pengertian Pemungut Pajak Pertambahan Nilai menurut Undang-Undang PPN 1984


adalah bendaharawan pemerintah, badan, atau instansi pemerintah yang ditunjuk oleh
Menteri Keuangan untuk memungut, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang oleh
Pengusaha Kena Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena
Pajak kepada bendahara pemerintah, badan, atau instansi pemerintah tersebut. Menurut
ketentuan yang berlaku saat ini, yang ditetapkan sebagai Pemungut PPN dan PPnBM adalah:

1. Bendaharawan Pemerintah dan Kantor Perbendaharaan Negara (KPPN)

Bendaharawan pemerintah adalah Bendaharawan atau Pejabat yang


melakukan pembayaran yang dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, yang terdiri dari
Bendaharawan Pemerintah Pusat dan Daerah baik Propinsi, Kabupaten, atau Kota.

5
Bendaharawan Pemerintah KPPN yang melakukan pembayaran atas
penyerahan BKP dana atau JKP oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah,
wajib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan PPnBM yang terutang.
Pemungutan PPN dan PPnBM dilakukan pada saat dilakukan pembayaran oleh
Bendaharawan Pemerintah atau KPPN kepada PKP Rekanan Pemerintah. PPN dan
PPnBM tidak dipungut dalam hal:

a. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah)


dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah;
b. Pembayaran untuk pembebasan tanah;
c. Pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang menurut ketentuan
perundang-undangan yang berlaku, mendapat fasilitas PPN tidak dipungut
dan/atau dibebaskan dari pengenaan PPN;
d. Pembayaran atas penyerahan Bahan Bakar Minyak dan Bukan Bahan Bakar
Minyak oleh PT (PERSERO) PERTAMINA;
e. Pembayaran atas rekening telepon;
f. Pembayaran atas jasa angkutan udara yang diserahkan oleh perusahaan
penerbangan; atau
g. Pembayaran lainnya untuk penyerahan barang atau jasa yang menurut
ketentuan perundang-undangan yang berlaku tidak dikenakan PPN.

2. Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Tertentu

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah badan usaha yang seluruh atau
sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung
yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Yang dimaksud badan usaha
tertentu meliputi:

1. Badan usaha milik negara yang dilakukan restrukturisasi oleh Pemerintah, dan
restrukturisasi tersebut dilakukan melalui pengalihan saham milik negara
kepada BUMN lainnya.
2. Badan usaha yang bergerak dibidang pupuk, yang telah dilakukan
restrukturisasi oleh Pemerintah yaitu PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT
Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Kalimantan Timur, dan PT
Pupuk Iskandar Muda.

6
3. Badan usaha tertentu yang dimiliki secara langsung oleh badan usaha milik
negara yaitu PT Telekomunikasi Selular, PT Indonesia Power, PT
Pembangkitan Jawa-Bali, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, PT Elnusa
Tbk, PT Krakatau Wajatama, PT Rajawali Nusindo, PT Wijaya Karya Beton
Tbk, PT Kimia Farma Apotek, PT Badak Natural Liquefaction, PT Kimia
Farma Trading&Distribution, PT Tambang Timah, PT Terminal Petikemas
Surabaya, PT Indonesia Comnets Plus, Bank Syariah Mandiri, Bank BRI
Syariah, dan Bank BNI Syariah.

PPN dan PPnBM yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP oleh rekanan
kepada BUMN dipungut, disetor, dilaporkan oleh BUMN dan Badan Usaha tertentu.
PPN dan PPnBM tidak dipungut dalam hal:

a. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta


rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah;
b. Pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang menurut ketentuan
perundang-undangan yang berlaku, mendapat fasilitas Pajak PPN tidak
dipungut dan/atau dibebaskan dari pengenaan PPN;
c. Pembayaran atas penyerahan Bahan Bakar Minyak dan bukan Bahan Bakar
Minyak oleh PT PERTAMINA (Persero);
d. Pembayaran atas rekening telepon;
e. Pembayaran atas jasa angkutan udara yang diserahkan oleh perusahaan
penerbangan; atau
f. Pembayaran lainnya untuk penyerahan barang dan/atau jasa yang menurut
ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan tidak dikenai PPN atau
PPN dan PPnBM.

3. Kontraktor kontrak kerja sama pengusahaan minyak dan gas bumi, dan
kontraktor atau pemegang kuasa/pemegang izin pengusahaan sumber daya
panas bumi

PPN dan PPnBM tidak dipungut dalam hal:

a. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta


rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah;

7
b. Pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang menurut ketentuan
perundang-undangan yang berlaku, mendapat fasilitas Pajak PPN tidak
dipungut dan/atau dibebaskan dari pengenaan PPN;
c. Pembayaran atas penyerahan Bahan Bakar Minyak dan bukan Bahan Bakar
Minyak oleh PT PERTAMINA (Persero);
d. Pembayaran atas rekening telepon;
e. Pembayaran atas jasa angkutan udara yang diserahkan oleh perusahaan
penerbangan; atau
f. Pembayaran lainnya untuk penyerahan barang dan/atau jasa yang menurut
ketentuan perundang-undangan di bidang perpajakan tidak dikenai PPN atau
PPN dan PPnBM.

Dalam hal PPN dan PPnBM tidak dipungut oleh pemungut, kewajiban
penyetoran dan pelaporan dilakukan sendiri oleh rekanan.