Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN PERSEPSI


SENSORI NYERI

Disusun Oleh:

AGUS NURYANTO

G3A016265

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2016
A. PENGERTIAN
Gangguan kenyamanan menurut Lynda (2006) adalah keadaan
ketika individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam
berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya.
Secara umum, nyeri diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak
menyenagkan akibat terjadinya rangsangan fisik, maupun dari serabut
saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, maupun
emosional (A.Aziz, 2009). Menurut Kozier (2009) Nyeri merupakan
mekanisme fisiologis yang bertujuan untuk melindungi diri. Ketika suatu
jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan dilepasnya
bahan bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin,
histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin dan lainnya yang akan
mengakibatkan respon nyeri. Nyeri bersifat subyektif dan sangat bersifat
individual. (Sudoyo WA, Setyo Hadi B, Alwi I, dkk.2008).
Pemenuhan kebutuhan rasa nyaman nyeri dibutuhkan untuk
proses kehidupan (Potter dan Perry. 2006)

B. KLASIFIKASI
Nyeri dapat diklasifikasikan kedalam beberapa golongan berdasarkan
tempat, sifat, berat ringannya nyeri dan waktu lamanya serangan (A.Aziz,
2009) :
1. Nyeri berdasarkan tempatnya
a. Superfisial yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh misalnya
kulit
b. Visceral dalam yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh yang
lebih dalam
c. Refered pain yaitu nyeri dalam yang disebabkan karena penyakit
organ atau struktur dalam tubuh yang ditransmisikan kebagian
tubuh di daerah yang berbeda, bukan daerah asal nyeri
d. Radiasi yaitu sensasi nyeri meluas dari tempat awal cedera ke
bagian tubuh yang lain.
2. Nyeri berdasarkan sifatnya
a. Incidental pain yaitu nyeri yang timbul sewaktu waktu atau
hilang
b. Steady pain yaitu nyeri yang timbul dan menetap serta dirasakan
dalam waktu yang lama.
c. Paroxysmal pain yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi
dan kuat sekali. Nyeri biasanya menetap sekitar 10 15 menit,
lalu menghilang kemudian timbul lagi.
3. Nyeri berdasarkan berat ringannya
a. Nyeri rendah yaitu nyeri dengan intensitas rendah
b. Nyeri sedang yaitu nyeri yang menimbulkan reaksi
c. Nyeri berat yaitu nyeri dengan intensitas yang tinggi
4. Nyeri berdasarkan waktu lamanya serangan
a. Nyeri akut yaitu nyeri yang dirasakan dalam waktu yang singkat
dan berakhir kurang dari 6 bulan, sumber dan daerah nyeri
diketahui dengan jelas seperti luka operasi.
b. Nyeri kronis yaitu nyeri yang dirasakan lebih dari 6 bulan dan
polanya beragam.

C. ETIOLOGI
Penyebab nyeri menurut Mubarak, et al. 2007) adalah:
1. Trauma pada jaringan tubuh, misalnya kerusakkan jaringan akibat
bedah atau cidera.
2. Iskemik jaringan.
3. Spasmus otot merupakan suatu keadaan kontraksi yang tak disadari
atau tak terkendali, dan sering menimbulkan rasa sakit. Spasme
biasanya terjadi pada otot yang kelelahan dan bekerja berlebihan,
khususnya ketika otot teregang berlebihan atau diam menahan beban
pada posisi yang tetap dalam waktu yang lama.
4. Inflamasi pembengkakan jaringan mengakibatkan peningkatan
tekanan lokal dan juga karena ada pengeluaran zat histamin dan zat
kimia bioaktif lainnya.
5. Luka bekas operasi setelah dilakukan pembedahan.

D. PATOFISIOLOGI
Proses nyeri menurut Hidayat,A.Aziz Alimul.2008 dimulai dari stimulasi
hosiseptor oleh stimulus hoxIVS sampai terjadinya pengalaman subjektif
nyeri adalah suatu seri kejadian elektrolit dan kimia yang dibagi menjadi 4
fase, yaitu :
1. Transduksi
Stimulai Nasiseptor oleh stimulus Noxivs pada jaringan yang
kemudian akan mengakibatkan stimulasi nasiseptor dimana disini
stimulus noxivs tersebut akan dirubah menjadi potensial aksi, potensial
aksi tersebut akan ditransmisikan menuju neuron susunan saraf pusat
yang berhubungan dengan nyeri.
2. Transmisi
Tahap pertama transmisi adalah konduksi impuls dari neuron aferen
primer ke korno dossalis medula spinalis. Pada kono dorssalis ini
neuron eferen primer bersinap dengan neuron ssp. Dari sini jaringan
neuron tersebut akan naik keatas di medula spinalis menuju batang
otak dan thalamus, selanjutnya ada hubungan timbal balik antara
thalamus dan ssp yang lebih tinggi di otak yang mengurusi respon
persepsi dan afektif yang berhubungan dengan nyeri.
3. Modulasi
Sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri tersebut, tempat
modulasi sinyal yang diketahui adalah pola kornu dorsalis medula
spinalis.
4. Persepsi
Merupakan proses terakhir dimana pesan nyeri direlai menuju ke otak
dengan menghasilkan pengalaman nyeri yang tidak menyenangkan.
E. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2006), tanda dan gejala yang biasanya
muncul yaitu:
1. Menangis
2. sesak nafas
3. Ekspresi Wajah Meringis, mengeletuk gigi, atau mengigit bibir
4. Gelisah / depresi
5. Imobilisasi
6. ketegangan otot
7. menghindari percakapan
8. focus hanya pada aktivitas untuk menghilangkan nyeri
9. Gangguam tidur
10. Posisi menghindari nyeri
11. Gerakan menghindari nyeri
12. Perubahan nafsu makan
13. Tekanan darah dan Nadi meningkat
14. Pernafasan meningkat

F. PENATALAKSANAAN
1. Relaksasi
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan
stress. Teknik relaksasi memberikan individu kontrol diri ketika terjadi
rasa tidak nyaman atau nyeri stress fisik dan emosi pada nyeri. Dalam
imajinasi terbimbing klien menciptakan kesan dalam pikiran,
berkonsentrasi pada kesan tersebut sehingga secara bertahap klien
dapat mengurangi rasa nyerinya.
2. Teknik imajinasi
Biofeedback merupakan terapi perilaku yang dilakukan dengan
memberikan individu informasi tentang respon fisiologis misalnya
tekanan darah. Hipnosis diri dapat membantu mengubah persepsi nyeri
melalui pengaruh sugesti positif dan dapat mengurangi ditraksi
3. Teknik Distraksi
Teknik distraksi adalah pengalihan dari focus perhatian terhadap nyeri
ke stimulus yang lain. Ada beberapa jenis distraksi yaitu ditraksi visual
(melihat pertandingan, menonton televise,dll), distraksi pendengaran
(mendengarkan music, suara gemericik air), distraksi pernafasan (
bernafas ritmik), distraksi intelektual (bermain kartu).
4. Terapi dengan pemberian analgesic
Pemberian obat analgesic sangat membantu dalam manajemen nyeri
seperti pemberian obat analgesik non opioid (aspirin, ibuprofen) yang
bekerja pada saraf perifer di daerah luka dan menurunkan tingkatan
inflamasi, dan analgesic opioid (morfin, kodein) yang dapat
meningkatkan mood dan perasaan pasien menjadi lebih nyaman
walaupun terdapat nyeri.
5. Immobilisasi
Biasanya korban tidur di splint yang biasanya diterapkan pada saat
kontraktur atau terjadi ketidakseimbangan otot dan mencegah
terjadinya penyakit baru seperti decubitus.

G. PENGKAJIAN
Menurut Smeltzer, S.C., Bare, B.G. 2002 pengkajian nyeri sebagai berikut:
1. Kaji adanya faktor faktor yang menyebabkan nyeri:
a. Pembedahan
b. Prosedur diagnostic infasif
c. Trauma (fraktur, luka bakar)
d. Lamanya penekanan pada bagian tubuh karena imobilitas.
e. Penyakit kronis ( kanker )
2. Kaji nyeri yang berhubungan dengan:
a. P = Problem : pencetus nyeri / faktor faktor yang merangsang
nyeri?
1) Apa yang membuat nyeri bertambah buruk?
2) Apa yang mengurangi nyeri
b. Q = Quality : kualitas nyeri
1) Nyeri dirasakan seperti apa?
2) Apakah nyeri dirasakan tajam, tumpul, ditekan dengan berat,
berdenyut sperti diiris, atau tercekik?
c. R = Region : lokasi nyeri
1) Dimana nyeri tersebut?
2) Apakah nyeri menyebar atau menetap pada satu tempat?
d. S = Squerity = intensitas nyeri
1) Apakah nyeri ringan sedang atau berat?
2) Seberapa berat nyeri yang dirasakan?
e. T = Time : waktu
1) Berapa lama nyeri dirasakan?
2) Apakah nyeri terus menerus atau kadang kadang?
3. Perhitungan skala nyeri
Skala numerik digunakan untuk pasien dewasa
0 : no pain / tidak nyeri.
13 : mild = nyeri ringan tidak mengganggu aktivitas.
46 : moderate = nyeri sedang mengganggu aktivitas.
79 : severe = nyeri berat tidak bisa melakukan aktivitas.
10 : nyeri sangat berat
b. Skala ekspresi wajah
.
H. DIAGNOSA KEPERAWATA
1. Gangguam rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan ketidaknyamanan.
Menurut nanda (2014), diagnosis keperawatan untuk klien yang
mengalami nyeri atau ketidaknyamanan:
a. Nyeri akut
Berhubungan dengan:
- Trauma jaringan infeksi (cedera)
Ditandai dengan:
- Melaporkan nyeri secara verbal atau non verbal
- Menunjukan kerusakan
- Posisi untuk mengurangi nyeri
- Gerakan untuk melindungi
- Tingkah laku untuk berhati hati
- Gangguan tidur ( mata sayu, tampak lelah, sulit atau
gerakan kacau dan menyeringai)
- Fokus pada diri sendiri
b. Nyeri kronis
Berhubungan dengan:
- Ketidakmapuan psiko sosial atau fisik secara kronis
Ditandai dengan
- Perubahan berat badan
- Perubahan pola tidur
- KelelahanTakut cedera kembali
- Interksi dengan orang lain menurun
- Perubahan kemampuan dalam melakukan aktifitas

I. INTERVENSI
No Tujuan Intervensi Rasional
1 Setelah diberikan asuhan Observasi nyeri - Untuk
keperawatan x jam mengetahui tingkat
diharapkan nyeri pasien
- nyeri pasien
dapat teratasi dengan Observasi TTV - Untuk
kriteria hasil : mengetahui keada
a. Secara verbal pasien
- an umum pasien
mengatakan nyeri hilang Berikan -
atau berkurang dengan relaksasi progress Untuk
skala nyeri 0-1 (0-10) ive dan massage mengurangi nyeri
b. Pasien terlihat tidak pasien
meringis kesakitan Ajarkan
c. Tanda-tanda vital sign teknik relaksasi
pasien normal nafas dalam Teknik
- non farmakologi
dapat membantu
Berikan Pendkes mengatasi nyeri
tentang penyebab
nyeri Untuk memberikan
penjelasan dan
pengetahuan
Kolaboratif tentang nyeri
dalam pemberian
obat seperti Analgetik
anlgetik. dapat membantu
menghilangkan
- rasa nyeri
-
Daftar Pustaka

Alimul, A. (2008) .Pengantar kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan


Proses Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika.
Carpenito, Lynda Juall. (2006). Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.
Mubarak,et all (2007). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori dan Aplikasi
dalam Praktik.Jakarta:EGC.
Nanda International. (2016). Nursing Diagnoses: Definition & classification
2014-2018, Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Potter dan Perry. (2006). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan
Praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Sudoyo W. A., Setyo H. B., Alwi I., dkk. (2009). Ilmu Penyakit dalam Edisi Ke-5,
Jakarta Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
Tarwoto dan Wartonah. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika

Anda mungkin juga menyukai