Anda di halaman 1dari 10

Beberapa Persoalan Seputar Gadai

Menahan Barang Dagangan Sebagai Gadai


Jika seseorang membeli emas dari kami, namun masih ada sebagian yang belum dibayar,
lantas kami menahan sebagian emas tersebut sebagai gadai atas kekurangan yang belum
terbayar. Apakah hal ini diperbolehkan?

Jawab:
Tidak boleh menjual emas dengan dibayar perak melainkan kontan. Dengan demikian,
gambaran tersebut (dalam pertanyaan) tidak boleh.

Kebun Dimanfaatkan Penerima Gadai


Di sebagian perdesaan di Mesir marak pergadaian lahan-lahan pertanian. Gambarannya,
seseorang yang butuh uang meminjam uang dari orang lain. Sebagai imbalannya, pemilik
uang (kreditur) mengambil lahan pertanian milik orang yang meminjam sebagai barang
gadaian. Orang yang meminjami mengambil tanah tersebut, memanfaatkan buah-buahannya
atau apa yang dihasilkan dari kebun tersebut. Adapun pemilik tanah tidak mengambil hasil
bumi itu sama sekali. Selanjutnya, tanah pertanian berada di bawah pengelolaan yang
mengutangi sampai yang berutang melunasi pinjamannya. Apa hukum pergadaian tanah
pertanian tersebut, yaitu mengambil hasil buminya, halal ataukah haram?

Jawab :
Barang siapa mengutangi atau meminjami, ia tidak boleh mensyaratkan kepada orang yang
berutang suatu manfaat atau faedah sebagai imbalan atas peminjamannya tersebut,
berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabi Shalallahu
alaihi wasallam bersabda (artinya), Setiap utang yang mendatangkan suatu manfaat itu
adalah riba.
Hadits lemah, lihat Irwaul Ghalil no. 1398. Namun tentang maknanya, ulama menerimanya.

Para ulama telah sepakat menyepakati hal tersebut, di antara contoh manfaat tersebut adalah
apa yang telah disebutkan dalam pertanyaan, yaitu pergadaian sebuah tanah oleh orang yang
berutang kepada yang meminjami, lalu pemanfaatannya diserahkan kepada pemiutang hingga
pengembalian pinjaman yang menjadi kewajiban pemilik tanah.
Demikian pula dalam hal tanggungan, tidak boleh bagi orang yang meminjami (kreditur)
untuk memetik hasil bumi atau memanfaatkannya sebagai imbalan atas tempo yang diberikan
kepada orang yang punya tanggungan (debitur). Sebab, maksud gadai adalah jaminan demi
memperoleh utang atau pinjaman, bukan sebagai imbalan pemberian utang.

Bukan pula imbalan atas pemberian tangguh atau jangka waktu pelunasan. Allah Subhanahu
wataala -lah yang memberi taufik, semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi
Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dan keluarganya.
Zakat pada Barang yang Tergadai
Apa hukum zakat pada harta milik saya yang digadaikan, apakah wajib atas saya
menzakatinya ataukah tidak?

Jawab:
Kita harus mengetahui dahulu apakah harta yang digadaikan itu harta zakat atau bukan. Kalau
itu termasuk harta zakat, keberadaannya sebagai barang gadaian tidak menghalanginya untuk
dizakati.

Sebagai contoh, seorang wanita menggadaikan perhiasannya kepada seseorang. Hal itu tidak
menghalanginya untuk mengeluarkan zakat perhiasannya, karena perhiasan itu wajib
dizakati. Apabila ia menggadaikannya, pergadaian tersebut tidak menggugurkan kewajiban
zakatnya, karena pergadaian tidak memindahkan kepemilikan harta.

Adapun jika barang gadaian tersebut bukan harta yang wajib dizakati, misalnya seseorang
menggadaikan rumahnya, maka rumah tidak ada zakatnya, baik dia gadaikan maupun tidak,
selama tidak diperdagangkan.

Apabila rumah itu disiapkan untuk diperdagangkan, tidak mungkin/boleh digadaikan. Sebab,
seseorang yang sering jual beli rumah tidak mungkin menjadikannya sebagai barang gadaian,
bahkan mesti menjadi barang lepas yang bisa dia pakai untuk jual beli. (Ibnu Utsaimin)
Gadai Konvensional
Bagaimana halnya dengan gadai konvensional?

Jawab :
Dalam praktik gadai konvensional tedapat beberapa hal yang tidak sejalan dengan syariat. Di
antaranya, nasabah diharuskan membayar sewa modal atau bunga. Ini termasuk riba yang
diharamkan dalam agama.

Terdapat pula pasal, Tidak laku/lebih rendah dari taksiran dibeli pemerintah, kerugian
ditanggung kantor pegadaian. Ini juga tidak sesuai syariat. Menurut syariat, segala kerugian
pada barang gadai ditanggung pemberi gadai, termasuk dalam hal ini ketika tidak laku, maka
kerugian tetap dalam tanggungan pegadai.

Di samping itu, ada biaya asuransi. Asuransi itu sendiri tidak sesuai dengan ajaran Islam,
sebagaimana telah dijelaskan dalam edisi 16 dan 29.

Gadai Motor, Bolehkan Dimanfaatkan?


Bolehkah benda gadai berupa motor atau mobil kita manfaatkan dengan kita membayar
bahan bakarnya?

Jawab :
Sebatas yang kami ketahui, jika barang tersebut adalah barang gadaian dari sebuah piutang,
tidak boleh dimanfaatkan walaupun kita yang membayar bahan bakarnya. Sebab, pemakaian
itu sendiri sudah punya nilai. Buktinya, ada penyewaan sepeda motor dan mobil. Dengan
demikian, penggadai/penerima gadai/murtahin dengan piutangnya telah mengambil manfaat,
maka itu riba.

Tidak dapat pula dikiaskan antara mobil atau motor dan punggung unta atau sapi yang dapat
ditunggangi karena murtahin memberi makan kepadanya. Hewan adalah makhluk hidup yang
sangat tergantung pada kebutuhan hidup berupa makanan. Oleh karena itu, siapa yang
memberi makan, dia yang memanfaatkan, baik pegadai maupun penggadai. Sebaliknya,
benda mati tidak membutuhkan makanan. Seandainya dua belah pihak tidak memedulikan
barang tersebut, tidak begitu bermasalah.
Menggadaikan BPKB
Apakah penyerahan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) sudah berarti qabdh
terhadap kendaraan bermotor yang dijadikan gadai?

Jawab:
Ini termasuk masalah kontemporer yang insya Allah akan kami tanyakan kepada para ulama.
Namun, untuk kehati-hatian, kami memandang bahwa hal itu belum termasuk qabdh. Sebab,
pada kenyataannya ada orang yang menggadaikan BPKB di suatu tempat, lantas ia
menggadaikan kendaraan bermotornya di tempat yang lain.
Ada pula penjualan kendaraan bermotor tanpa BPKB. Atas dasar itu, untuk qabdh kendaraan
bermotor harus benar-benar kendaraan tersebut diserahkan kepada murtahin/penerima
gadai. Wallahu alam.

Hukum Gadai Syariah

Soal :
Ustadz, apa hukumnya gadai syariah, baik yang ada di pegadaian syariah maupun di
berbagai bank syariah sekarang? (Lusi, Yogya).
Jawab :
Gadai syariah merupakan produk jasa gadai (rahn) yang diklaim dilaksanakan sesuai syariah,
sebagai koreksi terhadap gadai konvensional yang haram karena memungut bunga
(riba). Gadai syariah berkembang pasca keluarnya Fatwa DSN MUI No 25/DSN-
MUI/III/2002 tentang rahn, Fatwa DSN MUI No 26/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn emas,
dan Fatwa DSN MUI No 68/DSN-MUI/III/2008 tentang rahn tasjily. Sejak itu marak
berbagai jasa gadai syariah, baik di Pegadaian Syariah maupun di berbagai bank syariah.
Gadai syariah tidak menghapus bunga, melainkan mengganti bunga itu dengan biaya simpan
atas dasar akad ijarah (jasa). Jadi dalam gadai syariah ada dua akad : Pertama, akadrahn,
yaitu akad utang (qardh) oleh rahin (nasabah) kepada murtahin (bank/pegadaian syariah)
dengan menggadaikan suatu harta tertentu sebagai jaminan utang. Kedua, akad ijarah, yaitu
akad jasa di mana murtahin menyewakan tempat dan memberikan jasa penyimpanan kepada
rahin.
Di Pegadaian Syariah, biasanya platfon utang yang diberikan maksimal 90 persen dari nilai
taksiran, dengan jangka waktu utang maksimal 4 bulan. Besarnya biaya simpan Rp 90 untuk
setiap kelipatan Rp 10.000 dari nilai taksiran per sepuluh hari. Ini sama dengan 0,9 persen per
10 hari = 2,7 persen per 30 hari = 10,8 persen per 120 hari (4 bulan).

Misal: Jono menggadaikan laptop kepada Pegadaian Syariah, dengan nilai taksiran Rp 1 juta.
Plafon utang maksimal sebesar 90 persen (Rp 900.000). Biaya simpan Rp 90 untuk setiap
kelipatan Rp 10.000 dari nilai taksiran per 10 hari, sama dengan 10,8 persen dari nilai
taksiran untuk 120 hari. Jika jangka waktu utang 4 bulan (120 hari), maka biaya simpannya
sebesar =10,8 persen x Rp 1.000.000 = Rp 108.000. Jadi, pada saat jatuh tempo jumlah uang
yang harus dibayar Jono sebesar Rp 900.000 + Rp 108.000 = Rp 1.008.000. (Yahya
Abdurrahman, Pegadaian Dalam Pandangan Islam, hlm. 130-131).
Menurut kami, gadai syariah ini adalah akad yang batil (tidak sah) dan haram hukumnya,
dengan tiga alasan sebagai berikut : Pertama, terjadi penggabungan dua akad menjadi satu
akad (multi akad) yang dilarang syariah, yaitu akad gadai (atau akad qardh) dan
akad ijarah (biaya simpan). Diriwayatkan oleh Ibnu Masud RA, bahwasanya Nabi SAW
telah melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan. (HR Ahmad, hadis sahih). Menurut
Imam Taqiyuddin Nabhani, yang dimaksud dua kesepakatan dalam satu kesepakatan
adalah adanya dua akad dalam satu akad, misalnya menggabungkan dua akad jual beli
menjadi satu akad, atau menggabungkan akad jual-beli dengan akad ijarah. (Al Syakhshiyah
Al Islamiyah, 2/308).
Kedua, terjadi riba walaupun disebut dengan istilah biaya simpan atas barang gadai dalam
akad qardh(utang) antara Pegadaian Syariah dengan nasabah. Padahal qardh yang menarik
manfaat, baik berupa hadiah barang, uang, atau manfaat lainnya, adalah riba yang hukumnya
haram. Sabda Rasulullah SAW,Jika seseorang memberi pinjaman (qardh), janganlah dia
mengambil hadiah. (HR Bukhari, dalam kitabnya At Tarikh Al Kabir). (Taqiyuddin
Nabhani, Al Syakhshiyah Al Islamiyah, 2/341).
Ketiga, terjadi kekeliruan pembebanan biaya simpan. Dalam kasus ini, dikarenakan pihak
murtahin (pegadaian syariah) yang berkepentingan terhadap barang gadai sebagai jaminan
atas utang yang diberikannya, maka seharusnya biaya simpan menjadi kewajiban murtahin,
bukan kewajiban rahin (nasabah). (Imam Syaukani, As Sailul Jarar, hlm. 275-276; Wablul
Ghamam Ala Syifa` Al Awam, 2/178; Imam Shanani,Subulus Salam, 3/51). Sabda
Rasulullah SAW, Jika hewan tunggangan digadaikan, maka murtahin harus menanggung
makanannya, dan [jika] susu hewan itu diminum, maka atas yang meminum harus
menanggung biayanya. (HR Ahmad, Al Musnad, 2/472). (Imam Syaukani, Nailul Authar,
hadis no 2301, hlm. 1090).
Berdasarkan tiga alasan di atas, gadai syariah yang ada sekarang baik di Pegadaian Syariah
maupun di berbagai bank syariah, menurut kami hukumnya haram dan tidak sah. Wallahu
alam

Pertanyaan : Apabila seorang kakek mewakafkan perpustakaan untuk keluarganya ataupun


anak cucu keturunannya, namun setelah sekian lama perpustakaan tersebut terbengkalai atau
tidak dimanfaatkan lagi oleh pihak keluarga, lalu bagaimana menurut anda dan harus di
kemanakan buku buku tersebut? Lalu bagaimana jika keluarga tersebut meninggal dunia,
dan tidak ada keturunan ataupun cucu yang masih hidup?

Jawab : Apabila tidak ada satupun keluarga yang mau menggunakan ataupun memanfaatkan
perpustakaan tersebut, sebaiknya diadakan musyawarah bersama oleh keluarga tersebut
apakah ingin dijual, ditukar dengan sesuatu yang lebih bermanfaat lagi, ataupun diserahkan
kepada masyarakat. Namun, kalau menurut saya apabila terjadi hal yang demikian, apabila
dari keluarganya sendiri hidupnya sudah berkecukupan, lebih baik buku buku / perpustakaan
tersebut diserahkan kepada yang membutuhkan.
Apabila keluarga wakif / keturunan wakif meninggal dunia dan tidak ada satupun
yang hidup, maka harta wakaf tersebut dikembalikan kepada tujuan wakaf pada umumnya,
yaitu dimanfaatkan untuk menegakkan agama Allah SWT atau untuk keperluan sosial, Jadi
perpustakaan tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat ataupun keperluan sosial lainnya.

2. Pertanyaan : Bagaimana menurut anda jika terdapat sebuah tempat parkir yang biasanya
berada di dekat mall mall ataupun supermarket yang tidak dikenakan biaya. Namun,
memberikan karcis yang bertuliskan APABILA KARCIS HILANG, AKAN DIKENAKAN
DENDA SEBESAR RP 15.000,00 lalu dari pihak tukang parkirnya sendiri juga tidak
bertanggung jawab apabila ada barang yang hilang. Bagaimana sebaiknya menurut anda dan
apa hukumnya?

Jawab: Sebenarnya saya tidak setuju dengan berlakunya sistem parkir yang seperti hal
tersebut, dilihat dari sisi muamalahnya juga kurang baik. Dengan adanya sistem seperti hal
tersebut akan merugikan salah satu pihak, terutama bagi pihak pemarkir sendiri, itu akan
terasa lebih dirugikan jika karcisnya hilang ataupun helm/ motor yang hilang. Dan saya yakin
di dalam islam tidak menerapkan prinsip seperti hal tersebut. Seyogyanya tempat parkir itu
kan memudahkan penempatan kendaraan bagi para pengendara motor ataupun mobil dalam
menempatkan kendaraannya, bukan mempersulit. Seyogyanya dari pihak si tukang parkir
sendiri menjamin barang titipan tersebut meskipun tidak di kenakan biaya. Jadi, kalau
menurut saya apabila terdapat tempat parkir yang seperti itu.
Apabila khawatir akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan, jadi sebaiknya (kalau
bisa) mencari tempat parkir yang lain saja yang dekat lokasinya dengan tempat tersebut yang
lebih aman dan terjamin kendraannya, meskipun harus membayar.
Namun melihat kondisi tersebut, apabila sudah terlanjur, mau tidak mau kita harus mentaati
peraturan yang telah dibuat dari pihak si tukang parkir. Karena hal ini juga dapat mendorong
kita untuk lebih bersikap hati hati menjaga barang yang kita miliki agar tidak hilang, serta
mendorong kita untuk menjadi orang yang amanah, yaitu dengan adanya karcis yang tidak
boleh hilang tersebut, maka sebisa mungkin kita menjaga sebaik - baiknya agar tidak hilang.

3. Pertanyaan: Bagaimana menurut anda tentang Jual-Beli Online? Lalu bagaimana


hukumnya?
Jawab: Terjadi perbedaan pendapat mengenai hal ini, ada yang membolehkan dan ada yang
melarangnya. Dibolehkan karena seiring dengan perkembangan zaman proses jual beli ini
mengalami modifikasi, seperti halnya sistem JB online. Sistem ini tidak mengharuskan
kehadiran antara penjual dan pembeli di satu tempat dengan adanya barang disertai dengan
transaksi (ijab dan qabul). Namun dengan canggihnya tekhnologi, proses jual beli yang
tadinyamengharuskan cara manual bisa saja dilakukan via internet. Jual beli sistem
online ini mempermudah kita untuk membeli sesuatu yang kita inginkan tanpa kita harus
mendatangi tempat penjualan tersebut, dan tidak pula memakan waktu untuk membelinya.
Hukum jual beli melalui alat elektronik sah, apabila sebelum transaksi kedua belah
pihak sudah melihat mabi (barang yang diperjualbelikan) atau telah dijelaskan baik
sifat maupun jenisnya, serta memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun jual beli
lainnya. Muhammad bin Ahmad al-Syatiri, dalam karyanya menyebutkan:







Artinya:Yang diperhitungkan dalam akad-akad adalah subtansinya, bukan bentuk
lafalnya. Dan jual beli via telpon, telegram dan semisalnya telah menjadi alternatif utama
dan dipraktikkan
Sedangkan sebagian juga mengatakan bahwa sistem jual beli ini diharamkan karena
ditakutkan terdapat unsur gharar/ penipuan. Karena tidak sedikit masyarakat yang ditipu
akibat adanya sistem jual beli online. Rasulullah SAW juga melarang hal tersebut,
sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis:




Artinya: Rasulullah saw melarang jual beli yang didalamnya terdapat
penipuan. (HR.Muslim)

Kalau menurut saya, jual beli online sah sah saja dan hukumya juga boleh, karena
dengan adanya jual beli online ini juga dapat memudahkan kita untuk membeli barang yang
kita inginkan tanpa harus pergi ke sebuah tempat untuk membelinya, dan dengan adanya jual
beli online ini juga dapat membantu kita apabila kita tidak mempunyai waktu untuk membeli
barang tersebut. Membeli buku mislanya dengan adanya JB online ini, kita dapat
mendapatkan buku yang kita inginkan tanpa menghabiskan banyak waktu. Jadi pintar
pintarnya kita untuk memilah milah jasa penjualan system online tersebut.
Jual beli online diperbolehkan asalkan tidak melanggar syariat islam, dan terdapat
adanya kesepakatan yang jelas antara si penjual dan pembeli. Untuk itu jual beli online ini
harus ada sanksi hukum/ aturan hukum yang jelas mengenai jual beli ini, agar tidak mudah
terjadi yang namanya penipuan dalam sistem jual beli ini.

4. Pertanyaan: Bolehkan jika kita berjualan di masjid? Bagaimana hukumnya?


Lalu bagaimana hukumnya jika kita membeli suatu barang kepada orang non muslim?
Jawab: Tidak boleh, karena masjid tempat untuk beribadah kepada Allah SWT bukan
sebagai tempat untuk berjualan, sebagaimana sabda Nabi SAW yaitu:
Wahai sahabatku, masjid ini sebagai tempat ibadah, bukan sebagai transaksi
Haram hukumnya berjualan di masjid sebagaimana sabda Nabi SAW:





Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, Jika kamu melihat orang menjual atau
membeli di mesjid maka katakanlah, Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada
daganganmu
Jadi jelas bahwa jual beli di masjid ittu diharamakan.
Lalu mengenai membeli barang kepada non muslim sah - sah saja/ tidak masalah dan
hukumnya boleh.
Karena di dalam syarat - syarat sah ijab dan qabul tidak disebutkan harus beragama
islam, kalaupun disebutkan harus beragama islam, pasti akan menyulitkan. Sedangkan kita
tahu bahwa toko toko besar itu kebanyakan yang memilki adalah orang non- muslim, jadi
memang sangat sulit sekali untuk dihindarkan.
Untuk itu, tidak diharuskan pelaku jual beli itu harus islam, Jadi kesimpulannya boleh, jika
kita membeli barang pada orang non-muslim.

5. Pertanyaan: Saya meminjam sebatang emas sekitar 24 tahun yang lalu, namun baru bisa
mengembalikannya sekarang, Sedangkan kita tahu bahwa harga emas zaman dulu dengan
jaman sekarang berbeda. Lalu bagaimana apakah saya harus mengembalikan emas sesuai
dengan harga yang dulu, ataukah emas yang harga sekarang? Lalu bagaimana jika kita
meminjam uang sebesar Rp 20.000,00 pada zaman dulu yang dinilai sangat berharga sekali
dibanding dengan sekarang yang nilainya turun. Apakah kita juga harus mengembalikannya
sesuai dengan harga tersebut atau bagaimana?

Jawab: Apabila kita meminjam emas sebesar 3 gram, yaharus dikembalikan 3 gram.

Jadi mengembalikannya ya sesuai dengan harga sekarang, meskipun harga yang sekarang
lebih mahal. Namun apabila kita meminjam uang sebesar Rp 5.000,00 pada zaman dulu, ya
mengembalikannya juga Rp 5.000,00 meskipun uang Rp 5.000,00 dinilai sekarang tidak
bergarga. Jadi tetap kita harus mengembalikannya uang itu sesuai dengan nilainya. Namun
apablila si peminjam uang itu sendiri tulus dan ikhlas ingin mengembalikan uang itu lebih,
diperbolehkan.
Pertanyaan: Asalamualaikum wr.wb. Saya mau tanya. Kalo minjam uang dengan jaminan,
trus peminjam meninggal dunia, bagaimana hukum barang jaminan itu?

Terima kasih.

Jawaban:
Mas Amir Munawir yang dimuliakan Allah Swt. Dalam istilah fiqh, meminjam uang dengan
jaminan dinamakan gadai (rahn). Akad gadai sudah sah bila pihak peminjam (rahin) sudah
menyerahkan barang yang digadaikan kepada pemberi hutang (murtahin), dan murtahin
sudah menyerahkan uangnya kepada rahin.

Akad yang demikian itu sudah sah dan memiliki ketetapan hukum (luzum), sehingga tidak
bisa dibatalkan disebabkan kematian salah satu pihak yang bertransaksi (baik peminjam/rahin
maupun pemberi pinjaman/murtahin).

Jika peminjam wafat, maka akad gadai bisa dilanjutkan oleh ahli warisnya. Artinya, ahli
waris (misalnya anak) dapat menebus barang yang digadaikan bapaknya menggunakan harta
warisan sang bapak (tirkah).

Setelah peristiwa Perang Tabuk, Rasulullah SAW pernah berhutang 30 sha gandum kepada
seorang Yahudi bernama Abu Syahm, dengan jaminan berupa baju perang yang nilainya
setara dengan 400 dirham. Kemudian, setelah itu Rasulullah SAW wafat dan akad gadainya
dilanjutkan oleh ahli waris beliau, Siti Fatimah. Siti Fatimah menebus baju perang
Rasulullah SAW dengan membayar 30 sha gandum kepada Abu Syahm, sesuai kesepakatan
akad gadai antara Rasulullah SAW dengan si Yahudi.