Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA
CAMPURAN BINER I
(KESETIMBANGAN UAP-CAIR PADA SISTEM BINER)

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
Nama : 1. Anis Wahyu Ningsih (061640421613)
2. Djulius Aman Wijaya (061640421616)
3. Letri Yose Des Mellani (061640421620)
4. M.Bagas Pratama (061640421621)
5. M.Hadiid Fadhlillah (061640421625)
6. Nabila Febiola (061640421627)
7. Rahmad Fajar (061640421630)
8. Sakinah Luthfiah (061640421632)
9. Winda Andea Utami (061640421635)
10. Muhammad Habiib Y (061640421952)
11. Ulfa Meila Anggriani (061640421961)
Kelas : 2 KIA
Dosen Pembimbing : Meilianti.S.T., M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TAHUN AKADEMIK 2016-2017
[Type text]

CAMPURAN BINER I

I. TUJUAN
1. Mengetahui dan membuktikan bahwa campuran dua buah (atau
lebih) azeotropik atau zeotropik.
2. Membuat diagram fase dua komponen.
3. Menentukan indeks bias suatu zat atau campuran dengan
menggunakan reflaktometer.
4. Mengikuti penerapannya pengetahuan ini di beberapa industri
kimia (pabrik arak dan spiritus).

II. ALAT DAN BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKAN :


1. Alat-alat yang digunakan :
- Reflaktometer 1 buah
- Erlenmeyer 100 ml 6 buah
- Gelas Ukur (Gelas piala) 100 ml
- Termometer 10 100 oC
- Seperangkat alat distilasi
- Aluminium Foil
- Pipet Ukur 10 ml, 25 ml
- Bola karet

2. Bahan Kimia yang digunakan :


- Larutan Etanol
- Larutan Aquadest
[Type text]

III. DASAR TEORI


3.1 ETANOL
Etanol (C2H5OH) (memiliki nama trivial etil alkohol) adalah turunan
senyawa organik yang memiliki dua atom karbon, dengan rantai lurus
(alifatik). Alkohol mempunyai sifat fisik tidak berwarna dan memiliki bau
khas. Dan dapat menyala bila tersulut api. Karena hal inilah etanol dapat
dijadikan sebagai bahan bakar alternatif dan diminati saat ini.
(dikutip dari : )
3.2 DISTILASI
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan Bahan
kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap
(volalitas bahan). Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga
menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk
cairan. Zat yang memiliki Titik didih lebih rendah akan menguap lebih
dahulu
3.3 AZEOTROP
Azeotrop merupakan campuran 2 atau lebih komponen pada
komposisi tertentu dimana komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya
melalui distilasi biasa. Ketika campuran azeotrop dididihkan, fasa uap
yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan fasa cairnya.
Campuran azeotrop ini sering disebut juga titil didih konstan campuran
(constant boiling mixture) karena komposisinya yang senantiasa tetap
jika campuran tersebut dididihkan.
(dikutip dari : http://majarimagazine.com/2007/11/proses-distilasi-
campuran-biner/)

Sebenarnya ada banyak cara untuk melewati titik azeotrop,


beberapa cara yang dapat kita gunakan adalah :
1. Menggunakan membran
2. Proses sorpsi (dehidrasi), dengan menyerap kadar air sisa
dari campuran etanol, setelah dilakukan distilasi
3. Distilasi, pada distilasipun terdapat tiga teknik yang dapat
digunakan, yaitu :
[Type text]

a. Menggunakan dua kolom dengan perbedaan tekanan


(kondisi operasi), yang biasa disebut pressure swing
b. Sama halnya dengan pressure swing, namun disini
tidak dilakukan perubahan kondisi operasi. Namun, pada
kolom kedua ditambahkan entrainer (solven), untuk
memecah titik azeotropnya.
c. Menggunakan distilasi ekstraktif, yaitu dengan
menambahkan pelarut (pelarut) sebelum proses distilasi
dimulai.
(Dikutip dari :
http://en.wikipedia.org/wiki/Azeotropic_distillation)

Hubungan antara titik didih campuran pada komposisi tertentu dari


campuran zat cair dengan komposisi uapnya adalah sebagai berikut :
1. Campuran Zeotropik
Bila garis kurva itu tidak menunjukkan titik maksimum ataupun
minimum pada titik didih campuran zat cair itu, maka titik didih
campuran zat cair terletak antara titik didih zat zat cair
murninya. Campuran ini disebut camouran zeotrpik. Pada
penyulingan zat cair semacam ini. Komposisi destilatnya lebih
banyak mengandung zat cair yang bertekanan uap lebih besar
dibandingkan dengan campuran. Zat cair yang sedang disuling
itu. Oleh karena itu campuran zat cair ini dapat dipisahkan
menjadi zat-zat cair murninya melalui penyulingan berkali-kali.
2. Campuran Azeotropik
a. Bila titik titik didih campuran dua zat cair yang saling
melarut menunjukkan adanya titik maksimum, maka
campuran ini disebut campuran azeotropik . pada titik
dimana garis titik titik didih mencampai maksimum, garis
titik-titik tekanan uapnya pun mencapai titik itu. Pada titik
ini campuran zat cair ini akan mendidih secara konstan.
Dengan demikian campuran zat cair semacam ini tidak dapat
dipisahkan ke dalam zat murninya secara menyulingnya. Titik
[Type text]

azeotropik campuran ini terletak lebih tinggi dari pada titik-


titik didih zat murninya.
b. Dalam hal dimana titik-titik didih campuran dua zat cair yang
saling melarut menunjukkan adanya titik minimum, terjadi
gejala yang sebaliknya dengan apa yang terjadi pada
campuran zat cair yang menunjukkan adanyatitik maksimum.
Campuran zait cair semacam ini yang juga disebut campuran
azeotropik, tidak dapat dipisahkan kedalam zat murninya
secara penyulingan.
c. Campuran Zeotropik biner
1. Benzena (titik didih 80,2 oC) dan toluena (titik didih 110,6
o
C).
2. Benzena (t.d 80,2 oC) dan heksana (t.d 69,0 oC).
d. Campuran azeotropik biner dengan titik didih maksimum.
1. Kloroform (t.d 61,2 oC) dan aseton (t.d 56,4 oC) titik didih
azeotropik
64,5 oC pada 65,5 mol % khloroform.
2. Air (t.d.100 oC) dan asam format (t.d.99,9 oC) titik didih
azeotropik
107.1 oC pada 43,5 mol % air.
e. Campuran azeotropik biner dengan titik didih minimum.
1. Isopropil akhohol (t.d 82,5 oC) dan benzina dengan titik
didih 80,2 oC, titik didih azeotropik 71,9 oC pada 39,3 mol
% isopropil alcohol.
2. Karbon tetra khlorida t.d 76,8 oC dan metanol t.d nya 64,7
o
C titik didih azeotropik 55,7 oC pada 44,5 mol % karbon
tetra khlorida.
3. Metanol t.d 64,7 oC dan benzena t.d 80,2 oC titik didi
azeotropik 58,3 oC pada 61,4 mol % metanol.
[Type text]

IV. TEORI TAMBAHAN

REFRAKTOMETER

Refraktometer atau refractometer adalah sebuah alat yang biasa


digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan atau zat terlarut.
Misalnya gula (Brix), garam (Baume), protein, dsb. Metode kerja
dari refraktometer ini dengan memanfaatkan teori refraksi cahaya. Alat
Refraktometer ini ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe, yaitu seorang ilmuan
asal German pada awal abad 20 (Sekitar tahun, 2010 an).

Konsentrasi bahan terlarut sering dinyatakan dalam satuan Brix(%) yang


merupakan pronsentasi dari bahan terlarut dalam sample (larutan air).
Kadar zat terlarut merupakan total dari semua zat atau bahan dalam air,
termasuk gula, garam, protein, asam dsb. Pada dasarnya Brix(%)
dinyatakan sebagai jumlah gram dari gula tebu yang terdapat dalam
larutan 100g gula tebu. Jadi pada saat mengukur larutan gula, Brix(%)
harus benar-benar tepat sesuai dengan konsentrasinya.

V.KESELAMATAN KERJA
Dalam percobaan ini gunakan jas praktikum dan kaca pelindung,
dan jangan menghirup zat yang digunakan. Dan pada destilasi
dilakukan dalam lemari asam.
[Type text]

VI.CARA KERJA
a. Menentukan masing-masing indeks bias dari air dan Etanol
dengan refaktometer pada suhu tertentu.
b. Buatlah campura cairan air/etanol dengan komposisi 10-20-
40-60-80 dan 90 mol %, masing-masing sebanyak 80 ml.
c. Menetukan masing-masing indeks bias dari campuran-
campuran cairan itu dengan reflaktometer pada suhu
tertentu.
d. Membuat grafik (dengan skala agak besar) hubungan antara
komposisi cairan dengan indeks biasnya.
e. Menentukan masing-masing titik didih dari air dan Etanol
(sebagai koreksinya).
f. Menentukan masing-masing titik didih dari campuran-
campuran pada point 2 dengan menggunakan modifikasi
labu didih Claisen seperti pada gambar (III).
g. Bila suhu campuran cairan yang di didihkan itu mulai tetap
(kostan), ambil lah, destilatnya sebanyak 0,5 1 ml diambil
dengan mengalirkannya ke dalam botol timbang yang dingin
h. Menentukan indeks bias cuplikan pada kondisi yang sama
seperti pengamatan pada point 3.
i. Membandingkan hasil pengamatan pada point 8 dengan
grafik yang dibuat pada point 4.
j. Membuat grafik titik didih dan titik uap campuran air dan
Etanol.
[Type text]

VII.DATA PENGAMATAN
Komposisi (ml) Titik Didih Titik Uap Indeks Bias
20 Aquadest + 80 Etanol 72,5 72,5 1,3310
40 Aquadest + 60 Etanol 76 73 1,3348
50 Aquadest + 50 Etanol 78 76 1,3350
60 Aquadest + 40 Etanol 81 78,5 1,3354
80 Aquadest + 20 Etanol 84 80 1,3375

VIII.PERHITUNGAN
PERHITUNGAN FRAKSI MOL CAMPURAN AIR DAN ETANOL
Campuran 80 % Etanol dengan 20 % air

X mol =
_________________________________

= +

= = 0,4476

X etanol = 1 0,4476 = 0,5524

Maka fraksi mol etanol = 0,5524 x 100 % = 55,24 %


Fraksi mol air = 0,4476 x 100 % = 44,76 %
[Type text]

Campuran 60 % Etanol dengan 40% air

X mol =
_________________________________

= = 0,6838

X etanol = 1 0,6838 = 0,3162


Maka fraksi mol etanol = 0,3162 x 100 % = 31,62 %
Fraksi mol air = 0,6838 x 100 % = 68,38 %

Campuran 50% Etanol dengan 50% air

X mol =
_________________________________

=
[Type text]

= = 0,7652

X etanol = 1 0,7652 = 0,2348


Maka fraksi mol etanol = 0,2348 x 100 % = 23,48 %
Fraksi mol air = 0,7652 x 100 % = 76,52 %

Campuran 40% Etanol dan 60% air

X mol =
_________________________________

= = 0,8305

X etanol = 1 0,8305 = 0,1695

Maka fraksi mol etanol = 0,1695 x 100 % = 16,95 %


Fraksi mol air = 0,8305 x 100 % = 83,05 %

Campuran 20% Etanol dan 80% air

X mol =
_________________________________
[Type text]

= = 0,929

X etanol = 1 0,929 = 0,071

Maka fraksi mol etanol = 0,929 x 100 % = 92,9 %


Fraksi mol air = 0,071 x 100 % = 7,1 %

IX.ANALISA PERCOBAAN
Pada Praktikum kali ini digunakan air dan etanol yang nantinya
akan dicampur dan dianalisis pengaruh fraksi tau komposisi zat tersebut
dalam campuran terhadap titik didih dan ditik uap. Kedua zat ini
memiliki perbedaan titik didih sampai 22 oC. Campuran zat ini didihkan
sampai menguap. Pada kolom akan terjadi kondensasi yang dibantu oleh
pendingin uap. Pada campuran ini tentu etanol akan lebih dahulu
menguap karena etanol memiliki titik didih yang lebih rendah dari air
yaitu 78oC. Pada penentuan titik didih campuran, tetesan pertama dari
destilat merupakan pertanda titik didih dari campuran tersebut. Masing-
masing campuran ini juga diukur indeks biasnya sebagai perbanding
begitupun juga dengan destilatnya. Indeks bias diukur dengan
refaktometer. Dari percobaan didapatkan titik didih dan titik uap yang
mengalami penurunan seiring dengan kenaikan fraksi mol etanol, dan
jika dihubungkan dengan grafik terlihat jika campuran ini merupakan
campuran azeotropik.
[Type text]

X.KESIMPULAN
Dari hasil percobaan, didapatkan kesimpulan bahwa :
Semakin besar fraksi mol zat dengan titik didih yang lebih rendah
dalam campuran, maka titik didih akan menurun
Campuran Air dan Etanol merupakan campuran azeotropik.
Dari Percobaan didapatkan :
Indeks bias
Etanol 96% : 1,32945
Air : 1,332

Dalam bentuk Campuran campuran Air dan Etanol


% Etanol 20 % 40 % 60% 80%
Indeks Bias 1,3375 1,3354 1,3348 1,331
Semakin banyak campuran yang mengandung air, maka titik didih
dari indeks biasnya makin tinggi.

XI.DAFTAR PUSTAKA
[Type text]

Jobsheet .Penuntun Pratikum kimia fisika. 2017.

Palembang:Politeknik Negeri Sriwijaya.


FindlayS Practical Physical Chemistry 9th edition revised by B.P. Levit .,

Longman Group Ltd, London.

http://en.wikipedia.org/wiki/Azeotropic_distillation
http://majarimagazine.com/2007/11/proses-distilasi-campuran-biner/
http://www.ucc.ie/academic/chem/

GAMBAR ALAT
A.Rangkaian Alat Destilasi

B. Gambar Peralatan Lainnya

Figure 3 : Pipet Ukur

Figure 1 : Bola Karet

Figure 2 : Pipet Tetes Figure4 : Botol Aquadest

Anda mungkin juga menyukai