Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MAKALAH INDIVIDU FILSAFAT ILMU

HUBUNGAN PERKEMBANGAN FILSAFAT DAN


ILMU

Oleh:
FITRIYANTI
NIM: A1L115015

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang paling luas cakupannya, bahkan
kebanyakan ilmuwan menyebutnya sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan.
Secara etimologis istilah filsafat berasal bahasa Yunani yaitu philosophia. Philo
berarti cinta atau kawan sedangkan sophia berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat
berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Filosofis merupakan orang yang
mencintai kebenaran sehingga berupaya memperoleh dan memilikinya. Seseorang
yang mempelajari filsafat diharapkan dapat berpikir komprehensif, yaitu berpikir
secara menyeluruh dan radikal atau mendalam sampai ke akar masalah. Karena
filsafat berusaha memikirkan masalah-masalah yang ada secara mendalam dengan
alasan yang benar dan teliti.

Dalam hubungannya dengan ilmu, kedua kata ini saling terkait baik secara
substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan
filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa Yunani dan
bangsa lain pada zamannya dari pandangan mitosentris menjadi logosentris.
Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain beranggapan bahwa semua kejadian di
alam ini dipengaruhi oleh para dewa. Karenanya para dewa harus ditakuti
sekaligus dihormati kemudian disembah.

Perubahan besar ini membawa implikasi yang tidak kecil. Perubahan yang
mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang
menjelaskan perubahan yang terjadi, baik di alam jagad raya (makrokosmos)
maupun alam manusia (mikrokosmos). Dari penelitian alam jagat ini muncullah
ilmu astronomi, kosmologi, fisika, kimia dan sebagainya, sedangkan dari manusia
muncul ilmu biologi, psikologi, sosiologi dan sebagainya.Ilmu-ilmu tersebut
kemudian menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan
sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya.

Berdasarkan penjelasan diatas, perlu adanya penulisan makalah ini agar


dapat menambah wawasan dan pengetahuan para pembaca dan juga penulis
khususnya mengenai hubungan perkembangan filsafat dan ilmu".
B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:


1.Bagaimana hubungan antara ilmu dan filsafat ?
2.Bagaimana hubungan perkembangan filsafat dan ilmu ?

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui:


1. Hubungan antara ilmu dan filsafat.
2. Perkembangan filsafat ilmu dalam sejarah.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sekilas tentang Filsafat dan Ilmu

1. Sekilas Tentang Filsafat

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia. Philo artinya
cinta dan Sophia artinya kebijaksanaan atau kebenaran. Filsafat adalah cinta akan
kebenaran atau kebijaksanaan.
Dari pengertian oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat
mengandung unsur-unsur:
mempelajari hakikat ketuhanan, alam semesta dan manusia sebagai
objeknya;
mengkaji hakikat objeknya dengan kebenaran sesungguhnya; dan
hakikat objek didekati sejauh dapat dicapai oleh akal manusia.

Sehingga filsafat adalah pengetahuan tentang metafisika, logika, fisika,


estetika, etika, retorika, politik, ekonomi, sosial, budaya, antropologi, dan agama.
Filsafat sebagai suatu proses dapat melalui 4 tahap berpikir, yaitu:

1) Logis yaitu berpikir dengan menggunakan logika seperti pamahaman,


kaputusan, dan argumentasi.
2) Sistematis yaitu berpikir secara sistematik sehingga ditemukan adanya
koherensi di antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya.
3) Radikal yaitu berpikir sampai ke akar masalah. Jika filsafat dimulai dari
pertanyaan apa, maka jawabannya diupayakan terus sampai pada batas
akhir jawaban dimana tidak ditemukan lagi pertanyaan.
4) Universal yaitu berpikir secara umum bukan khusus. Hal inilah yang
membedakan jangkauan antara ilmu dan filsafat. Ilmu berbicara hal-hal
yang khusus, sedangkan filsafat berbicara umum.

Selain dimaksudkan untuk memberikan jawaban atas segala sesuatu yang


dipertanyakan manusia, filsafat juga dapat dimanfaatkan untuk maksud seperti di
bawah ini.

1) Filsafat mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh atau general


terhadap suatu wujud atau ontologi, sekaligus memberikan konsep
kebenaran atau justifikasi terhadap wujud tersebut. Dari kebenaran yang
diproduksi melalui pemikiran yang maksimal, manusia akan bertindak
benar dan bijaksana, sesuai maksud philosophia, cinta kebenaran/
kebijaksanaan.
2) Untuk memperoleh kebijaksanaan, karena filsafat di samping mampu
memberikan pengertian, ia juga mampu memberikan gambaran dari suatu
pengertian di balik pengertian. Artinya filsafat tidak hanya puas dengan
suatu konsep sebelum menemukan konsep lain di balik konsep tersebut
dalam merumuskan suatu kebenaran..
3) Filsafat dapat memberikan kepuasan bagi seorang filosof karena
kemampuannya dalam menggambarkan problem kehidupan yang sedang
dan akan dihadapi.
4) Filsafat dapat dijadikan dasar pijakan untuk mengubah dunia. Jadi, filsafat
tidak hanya menjelaskan dunia, tetapi juga mengubahnya.
5) Bagi kalangan agamawan, filsafat dapat dijadikan pendukung atau penguat
terhadap keyakinan agama.

2. Sekilas Tentang Ilmu

Ilmu berasal dari bahasa Arab,alima atau yalamu yang berarti mengerahui.
Dalam KBBI,ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun
secara bersistem menurut metode rertentu, yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu. Suatu sistem dari dari berbagai pengetahuan
yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan yang dilakukan secara
teliti dengan memakai metode-metode tertentu. Jadi, ilmu adalah seluruh usaha
sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia
dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.

B. Hubungan Filsafat dan Ilmu

Filsafat sering disebut sebagai induk atau ibu dari ilmu pengetahuan atau
mater scientiarum. Ilmu-ilmu khusus (psikologi, biologi, astronomi, dsb) menjadi
anak asuh atau bagian dari filsafat.Perkembangan berikutnya, Obyek material
filsafat sangat umum, yaitu seluruh kenyataan. Ilmu-ilmu berkembang
membutuhkan obyek khusus. Ilmu-ilmu mulai berpisah dengan filsafat.
Kekhususan ilmu memberikan batasan-batasan yang tegas antarilmu (psikologi
berbeda dengan sosiologi, dsb)

Setiap ilmu memiliki dua macam objek yaitu objek material dan objek formal.
Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh
manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Sedangkan objek formalnya
adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan
induktif dan deduktif. Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan radikal
juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah
segala yang ada. Sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga
bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada
dalam kemungkinan. Adapun objek formal filsafat adalah sudut pandang yang
menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.

Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan dengan ilmu, karena ilmu
hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan fisafat mencakup
yang empiris dan non-empiris. Objek ilmu terkait dengan filsafat pada objek
empiris. Di samping itu, secara historis ilmu berasal dari kajian filsafat karena
awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada ini
secara sistematis, rasional, dan logis. Setelah berjalan beberapa lama kajian yang
terkait dengan hal yang empiris semakin bercabang dan berkembang, sehingga
menimbulkan spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang praktis. Inilah proses
terbentuknya ilmu secara berkesinambungan. Setelah itu, ilmu berkembang sesuai
dengan spesialisasi masing-masing.

C. Hubungan Perkembangan Filsafat Ilmu

Perkembangan ilmu sejalan dengan perkembangan filsafat. Belajar


perkembangan ilmu dimaksudkan untuk mengetahui sejarah perkembangan
pemikiran manusia. Dengan mengetahui perkembangan pamikiran manusia,
banyak manfaat yang dapat diperoleh. Tingkat peradaban manusia pun dapat
diketahui melalui sejarah perkembangan filsafat dan ilmu. Perkembangan filsafat
ilmu meliputi zaman Yunani kuno, zaman abad pertengahan, zaman renaissance
dan modern, dan zaman kontemporer.

1. Filsafat ilmu pada zaman Yunani kuno (abad ke-7 SM)

Seperti telah disebut di atas, berdasarkan catatan sejarah bahwa zaman Yunani
kuno merupakan titik awal berpindahnya paradigma pemikiran dari mitosentris ke
logosentris. Pada masa ini bangsa Yunani tidak lagi mempercayai mitos-mitos dan
mulai senang menyelidiki sesuatu dengan kritis. Sikap kritis ini melahirkan
beberapa filosof yang berjaya dan dikenal pada zamannya dan sesudahnya seperti
Thales, Anaximander, Heraclitos dan lain-lain. Oleh beberapa filosof pada zaman
ini filsafat diartikan sebagai bertanya secara rasional dan mencari jawaban atas
prinsip-prinsip pertama atau arkhe dari realitas. Dalam hal ini, Thales
beranggapan bahwa arkhe itu adalah air, Anaximandros mengemukakan bahwa
arkhe itu adalah tidak terbatas (to apeiron), sedangkan Heraclitos melihat bahwa
arkhe adalah api, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu terus mengalir.

Pada tahun 470 SM lahir seorang filosof dengan metode dan sistem pemikiran
yang lebih berkembang berbanding pendahulunya, Socrates, yang bisa diketahui
pemikirannya berdasarkan naskah-naskah salah seorang muridnya, Plato yang
lazimnya disebut dialog-dialog Plato. Sebagai seorang moralis, Socrates
berusaha mengembangkan sikapnya yang sangat mendasar mengenai hakikat
hidup dan kehidupan manusia. Socrates mengajarkan bahwa kebenaran dan
kepastian dapat dicapai melalui metode dialektika. Metode ini menurutnya dapat
menuntun orang untuk mempersoalkan kenyataan yang ada secara terus menerus
sampai akhirnya menemukan kepastian yang kokoh.

Berbeda dengan gurunya, Plato berkesimpulan bahwa sumber dari segala


pengetahuan adalah ide absolut. Dalam hal ini, Plato lebih menaruh perhatian
pada kualitas yang abstrak. Selain Plato, adapula Aristoteles (384-322 SM) yang
namanya tidak asing lagi di telinga para akademisi. Sebagai seorang realis, ia
mendasarkan pemikirannya pada pengalaman. Menurut Aristoteles, berdasarkan
pengalaman berulah selanjutnya subjek memberikan uraian mendasar mengenai
data-data pengetahuan itu. Ia memandang pengetahuan sebagai hubungan timbal
balik antara subjek dan objek dengan berbagai implikasinya.

2. Filsafat ilmu pada zaman abad pertengahan

Perkembangan filsafat ilmu pada abad pertengahan ditandai dengan kehadiran


para teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan.
Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah abadi agama. Ajaran
kristen merupakan problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu
tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati, sedangkan kegitan keilmuan praktis
diarahkan untuk mendukung kebenaran teologi.

Menurut Aholiab, zaman ini mengalami dua periode, yakni :

a) periode patristik (Perintis gereja). Periode patristik ini terdiri pula atas dua
tahap, yakni permulaan agama Kristen dan Filsafat Agustinus yang
melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan.
b) Periode skolastik. Periode ini berlangsung dari tahun 800-1500 M. periode
ini dibagi dalam dua tahap, yakni periode skolastik awal ditandai dengan
lahirnya metode-metode hasil dari hubungan yang rapat antara agama dan
filsafat dan periode puncak perkembangan skolastik ditandai dengan
keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles
3. Filsafat ilmu pada zaman renaissance dan modern

Renissance berarti kebangkitan kembali, yakni kembali ke pemikiran yang


bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance merupakan zaman peralihan ketika
kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern.
Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas.
Ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada zaman renaissance adalah
astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti:

Roger Bacon, yang berpendapat bahwa pengalaman atau empiris menjadi


landasan utama bagi awal dan ujian akhir untuk semua ilmu pengetahuan.
Matematika merupakan syarat mutlak untuk mengelola semua pengetahuan.
Copernicus, yang berpendapat bahwa bumi dan planet semuanya mengelilingi
matahari, sehingga matahari menjadi pusat.
Galileo Galilei, yang telah membuat teropong bintang yang terbesar pada
masa itu dan mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Ia
menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri,
melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari.

Adapun untuk zaman modern ditandai dengan penemuan berbagai bidang


ilmu. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern dirintis oleh Rene
Descartes dan terkenal sebagai bapak filsafat modern. Ia seorang ahli ilmu pasti,
penemuannya dalam ilmu ini adalah sistem koordinat yang terdiri atas dua garis
lurus X dan Y dalam bidang datar. Selain Descartes ada Isaac Newton (1642-
1727) yang terkenal dengan teori grafitasinya. Walaupun penemuannya terdiri
atas tiga buah, yakni teori grafitasi, perhitungan calculus, dan optika, Newton pun
memaksakan pandangannya ke dalam bidang kehidupan kultural yang luas dan
sampai pada bidang psikologi. Ada pula charles darwin dengan teorinya
perjuangan untuk hidup. Darwin dikenal sebagai penganut evolusi yang fanatik.
Ia mengatakan bahwa perkembangan yang terjadi pada makhluk di bumi terjadi
karena seleksi alam.

4. Filsafat ilmu pada zaman kontemporer

Perkembangan filsafat ilmu pada zaman kontemporer ditandai dengan


penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informatika
termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan
komputer, berbagai satelit komunikasi, internet dan sebagainya. Akibatnya, terjadi
spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Salah satu tokoh terkenal pada zaman ini
adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa alam itu tidak terhingga besarnya
dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah totalitasnya atau bersifat dari waktu
ke waktu. Einstein percaya akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta
ini bersifat kekal, dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam.

Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah


sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihasilkannya bidang
ilmu baru seperti bioteknologi yang dikenal dengan teknologi kloning. Demikian
pula dengan sintesis antara psikologi dengan linguistik yang menghasilkan
psikolinguistik dan juga neurolinguistik. Sintesis antara ilmu komputer dengan
linguistik menghasilkan ilmu komputasional.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, yakni


sebagai berikut:

1. Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan dengan ilmu, karena ilmu
hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan fisafat
mencakup yang empiris dan non-empiris. Objek ilmu terkait dengan
filsafat pada objek empiris. Di samping itu, secara historis ilmu berasal
dari kajian filsafat karena awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan
tentang segala yang ada ini secara sistematis, rasional, dan logis.
2. Perkembangan filsafat ilmu sejalan dengan perkembangan filsafat. Dengan
mengetahui perkembangan pemikiran manusia, banyak manfaat yang
dapat diperoleh seperti tingkat peradaban manusia dan lainnya.
Perkembangan filsafat ilmu meliputi zaman Yunani kuno, zaman abad
pertengahan, zaman renaissance dan modern, serta zaman kontemporer
.
B.Saran

Penulis menyarankan kepada para pembaca agar menambah wawasannya


tentang hubungan perkembangan filsafat dan ilmu dengan referensi lain karena
dalam makalah ini penulis hanya membatasi kajian pada beberapa hal pokok
yang mendasar saja.
DAFTAR PUSTAKA

Adian, Husaini.2005.Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke


Dominasi Sekuler-Liberal.Jakarta: Gema Insani.

Haris, Abdul dan Kivah Aha Putra.2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:
Amzah.

Ridwan, Ahmad Hasan dan Irfan Safruddin.2011. Dasar-Dasar Epistemologi


Islam.Bandung: Pustaka Setia.

Suriasumantri,Jujun S.1984.Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer .


Jakarta: Sinar Harapan.

Watloly,Aholid.2001.Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan


Epistemolog Secara Kultural .Yogyakarta: Kanisius.