Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH DIKSI DAN GAYA BAHASA

Oleh :

Ahmad Irfan HS
Ilham Tobing
M.Gustiandar
Untung Aprizal
Dosen Pembimbing : Muzaiyanah, M.Pd

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN


FATAH PALEMBANG TAHUN AJARAN 2017-2018
PENDAHULUAN

Latar belakang

Bahasa terdiri atas beberapa tataran gramatikal antara lain kata, frase,
klausa, dan kalimat. Kata merupakan tataran terendah & kalimat merupakan tataran
tertinggi. Ketika Anda menulis, kata merupakan kunci utama dalam upaya
membentuk tulisan. Oleh karena itu, sejumlah kata dalam Bahasa Indonesia harus
dipahami dengan baik, agar ide dan pesan seseorang dapat mudah dimengerti.
Dengan demikian, kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi harus dipahami
dalam konteks alinea dan wacana. Kata sebagai unsur bahasa, tidak dapat
dipergunakan dengan sewenang-wenang. Akan tetapi, kata-kata tersebut harus
digunakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang benar.

Menulis merupakan kegiatan yang mampu menghasilkan ide-ide dalam bentuk


tulisan secara terus-menerus & teratur (produktif) serta mampu mengungkapkan
gambaran, maksud, gagasan, perasaan (ekspresif). Oleh karena itu, ketrampilan
menulis / mengarang membutuhkan grafologi, struktur bahasa, & kosa kata. Salah
satu unsur penting dalam mengarang adalah penguasaan kosa kata. Kosa kata
merupakan bagian dari diksi. Ketepatan diksi dalam suatu karangan merupakan hal
yang tidak dapat diabaikan karena ketidaktepatan penggunaan diksi pasti akan
menimbulkan ketidakjelasan makna.

Fungsi Pilihan kata atau Diksi adalah Untuk memperoleh keindahan guna
menambah daya ekspresivitas. Maka sebuah kata akan lebih jelas, jika pilihan kata
tersebut tepat dan sesuai. Ketepatan pilihan kata bertujuan agar tidak menimbulkan
interpretasi yang berlainan antara penulis atau pembicara dengan pembaca atau
pendengar, sedangkan kesesuaian kata bertujuan agar tidak merusak suasana.
Selain itu berfungsi untuk menghaluskan kata dan kalimat agar terasa lebih indah.
Dan juga dengan adanya diksi oleh pengarang berfungsi untuk mendukung jalan
cerita agar lebih runtut mendeskripsikan tokoh, lebih jelas mendeskripsikan latar
waktu, latar tempat, dan latar sosial dalam cerita tersebut.

Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1. Apakah pengertian diksi?

2. Bagaimana diksi yang tepat dan tidak tepat dalam kalimat?

3. Apa yang dinamakan gaya bahasa?

1
1.3 Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan di atas,
penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan :

1. Untuk mengetahui pengertian diksi..

2. Untuk memahami bagaimana diksi yang tepat & tidak tepat dalam kalimat.

3. Untuk mengetahui pengertian gaya bahasa.

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Diksi

Pengertian pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh
jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-
kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tapi juga
meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan. Fraseologi mencakup
persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau yang
menyangkut cara-cara yang khusus berbrntuk ungkapan-ungkapan. Gaya bahasa
sebagai bagian dari diksi berkaitan dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau
karakteristik, atau yang memiliki nilai artistik yang tinggi.

Terdapat beberapa pengertian mengenai diksi atau pilihan kata : (1) Diksi atau
pilihan kata adalah hasil dari upaya memilih kata yang tepat untuk dipakai dalam
suatu tuturan bahasa. (2) diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam
penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu
(seperti yang diharapkan).. (3) Pilihan kata atau diksi pada dasarnya adalah hasil
dari upaya memilih kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alenia, atau wacana.
Pemilihan kata dapat dilakukan bila tersedia sejumlah kata yang artinya hampir
sama atau bermiripan. (4) Diksi atau pilihan kata adalah upaya pemilihan kata yang
benar untuk mencapai suatu makna yang tepat.

Persyaratan dan Ketepatan Diksi

Ketepatan adalah kamampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang sama
pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh
penulis atau pembicara, maka setiap penulis atau pembicara harus berusaha
secermat mungkin memilih kata-kata untuk mencapai magsud tertentu. Ketepatan
tidak akan menimbulkan salah paham.

2
Ada beberapa yang perlu diperhatikan dalam pemilihan kata untuk mencapai
ketepatan pilihan katanya itu.

1. Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi. Dari kedua kata yang
mempunyai makna yang mirip satu sama lain ia harus menetapkan mana yang akan
dipergunakannya untuk mencapai magsudnya. Kalau hanya pengertian dasar yang
diinginkannnya, ia harus memilih kata yang denotatif, kalau ia menghendaki reaksi
emosional tertentu, ia harus memilih kata konotatif sesuai dengan sasaran yang
akan dicapainya itu.

2. Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim. Kata-kata


bersinonim tidak selalu memiliki distribusi yang saling melengkapi. Sebab itu, penulis
atau pembicara harus hati-hati memilih kata dari sekian sinonim yang ada, untuk
menyampaikan apa yang diinginkannya, sehingga tidak timbul interpretasi yang
berlainan.

3.Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya. Bila penulis sendiri tidak
mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya itu, maka akan membawa
akibat yang tidak diinginkan, yaitu salah paham. Kata-kata yang mirip dalam
tulisannya itu misalnya : bahwa-bawah-bawa, proposisi-preposisi, korparasi-
koperasi, dan sebagainya.

4.Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang


sesuai dengan perkembangan masyarakat. Pemkembahan bahasa pertama-tama
tampak dari pertambahan jumlah kata baru. Namun hal itu tidak berarti bahwa setiap
orang boleh menciptakan kata baru seenaknya. Kata baru biasanya muncul untuk
pertama kali karna dipakai oleh orang-orang terkenal atau pengarang terkenal. Bila
anggota masyarakat lainnya menerima kata itu, maka lama-kelamaan kata itu akan
menjadi milik masyarakat. Neologisme atau kata baru atau penggunaan sebuah kata
lama dengan makna dan fungsi yang baru termasuk dalam kelompok ini.

5. Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata-kata asing yang


mengandung akhiran asing tersebut. Perhatikan penggunaan : idiom-idiomatic,
progres-progresif, kultur-kultural, dan sebagainya.

6. Membedakan pemakaian kata penghubung yang berpasangan secara tepat.

3
Pasangan yang tepat Pasangan yang tidak tepat

antara.....dengan..... antara....dan....

tidak.....melainkan..... tidak.....tetapi....

baik.....ataupun..... baik....maupun.....

bukan.....tetapi..... bukan....melainkan....

7. Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis :
ingat akan bukan ingat terhadap; berharap, berharap akan, mengharapkan bukan
mengharap akan; berbahaya, berbahaya bagi, membahayakan sesuatu bukan
membahayakan bagi sesuatu; takut akan, menakuti sesuatu (lokatif).

8. Untuk menjamin ketepatan diksi, penulis atau pembicara harus membedakan kata
umum dan kata khusus. Kata umum digunakan untuk mengungkapkan gagasan
atau ide yang umum, sedangkan kata khusus digunakan untuk seluk beluknya atau
perinciannya. Kata khusus lebih tepat menggambarkan sesuatu dari pada kata
umum.

9.Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.

10 Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.

Fungsi Diksi

Dalam karangan ilmiah, diksi dipakai untuk menyatakan sebuah konsep,


pembuktian, hasil pemikiran, atau solusi dari suatu masalah. Adapun fungsi diksi
antara lain :

a. Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.

b. Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat.

c. Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.

d. Mencegah perbedaan penafsiran.

e. Mencagah salah pemahaman.

f. Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

4
Gaya Bahasa

Pengertian Gaya Bahasa

Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata
style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada
lempengan lilin. Keahlian dalam menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas
tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekanan dititikberatkan
pada keahlian untuk menulis indah, maka style berubah menjadi kemampuan dan
keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.

Karena perkembangan itu, gaya bahasa atau style menjadi masalah atau bagian
dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian fakta,
frasa atau klausa tertentu. Sebab itu, persoalan gaya bahasa meliputi semua hirarki
kebahasaan : pilihan kata secara individual, frasa, klausa, dan kalimat, bahkan
mencakup pula sebuah wacana secara keseluruhan.

Walaupun kata style berasal dari bahasa Latin, orang Yunani sudah
mengembangkan sendiri teori-teori mengenai style itu. Ada dua aliran yang
terkenal, yaitu :

1. Aliran Platonik: menganggap style sebagai kualitas suatu ungkapan, menurut


mereka ada ungkapan yang memiliki style, ada juga yang tidak style.

2. Aliran Aristoteles: menganggap bahwa gaya adalah suatu kualitas yang


inheren, yang ada dalam ungkapan.

Dengan demikian, aliran Plato mengatakan bahwa ada karya yang memiliki gaya
dan ada karya karya yang sama sekali tidak memiliki gaya. Sebaliknya, aliran
Aristoteles mengatakan bahwa semua karya memiliki gaya, tetapi ada karya yang
memiliki gaya yang tinggi ada yang rendah, ada karya yang memiliki gaya yang kuat
ada yang lemah, ada yng memiliki gaya yang baik ada yang memiliki gaya yang
jelek.

Bila kita melihat gaya secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah
cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian,
dan sebagainya. Dengan menerima pengertian ini maka kita dapat mengatakan
cara berpakaiannya menarik perhatian banyak orang, Cara menulisnya lain dari
pada kebanyakan orang, Cara jalannya lain dari pada yang lain, yang memang
sama artinya dengan gaya berpakaian, gaya menulis dan gaya berjalan. Dilihat
dari segi bahasa, gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Gaya bahasa
memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak dan kemampuan seseorang yang
menggunakan bahasa itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula
penilaian orang terhadapnya, semakin buruk gaya bahasa seseorang, semakin
buruk pula penilaian diberikan kepadanya.

5
Akhirnya style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan
pikiran melalui bahasa secara khas yang diperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis
(pemakai bahasa).

Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata

Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling tepat
dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya
penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat.
Dengan kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam
menghadapi situasi-situasi tertentu.

Dalam bahasa standar (baahasa baku) dapatlah dibedakan : gaya bahasa resmi
(bukan bahasa resmi), gaya bahasa tak resmi dan gaya bahasa percakapan.

a. Gaya Bahasa Resmi

Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang
dipergunakan dalm kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang digunakan oleh
mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Amanat
kepresidenan, berita negara, khotbah-khotbah mimbar, pidato-pidato yang penting,
artikel-artikel yang serius, atau esei yang membuat subyek-subyek yang penting,
semuanya dibawakan dengan bahasa resmi.

b. Gaya Bahasa Tak Resmi

Gaya bahasa tak resmi juga gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa
standar, khususnya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang
formal. Gaya ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku
pegangan, artikel-artikel mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan,
editorial, kolumnis dan sebagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya
bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.

Menurut sifatnya, gaya bahasa tak resmi ini dapat juga memperlihatkan suatu jangka
variasi, mulai dari bentuk informal yang paling tinggi (yang sudah bercampur dan
mendekati gaya resmi) hingga gaya bahasa tak resmi yang sudah bertumpang tindih
dengan gaya bahasa percakapan kaum terpelajar.

6
c. Gaya Bahasa Percakapan

Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan.


Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata
percakapan. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan gaya bahasa tak
resmi, maka gaya bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa
dalam pakaian sport. Itu berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan,
dan masih dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan ini agak longgar
bila dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan gaya bahasa tak resmi.

7
PENUTUP

Kesimpulan

Diksi atau pilihan kata adalah kemampuan seseorang dalam memilih kata untuk
mencapai penyampaian yang tepat dalam berbicara atau menulis, sehingga tidak
menimbulkan makna yang tidak dikehendaki pembicara atau penulis.
Diksi merupakan bagian penting dalam pembuatan sebuah karya ilmiah karna
karangan atau karya ilmiah yang baik bukan hanya dilihat dari isi karya ilmiah
tersebut tetapi juga dilihat dari pemilihan kata yang digunakan dalam pembuatan
karya ilmiah tersebut. Karna dilihat dalam pemilihan kata seseorang dapat menilai
kepribadian seorang penulis tersebut.

Secara umum, Gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, baik melalui bahasa,
tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat
menilai pribadi, watak dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa
itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya,
Begitu pula sebaliknya. Gaya bahasa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
segi bahasa dan segi non bahasa.

Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, gaya
bahasa resmi, gaya bahasa tidak resmi, dan gaya bahasa percakapan. Sedangkan
gaya bahasa berdasarkan nada dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gaya sederhana,
gaya mulia dan bertenaga, dan gaya menengah.

8
Saran

Dengan adanya penelitian ini penulis dapat mengetahui lebih mendalam tentang
diksi atau pemilihan kata, serta penulis berharap dengan adanya karya tulis ini dapat
bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa serta semua pihak yang membaca karya ilmiah
ini. Melalui makalah ini supaya penulis dapat memahami lebih mendalam lagi
sehingga dapat membentuk generasi yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik.

Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan
dan jauh dari kesempurnaan. Maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak, untuk dapat menulis karya ilmiah yang lebih baik lagi
kedepannya.

9
Daftar Pustaka

A, Alex dan Achmad H.P.2010.Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.


Jakarta:Penada Media group.

Mumtahanah, Fida.Makalah Diksi dan Gaya Bahasa

http://www.slideshare.net/Oki16/diksi-dan-gaya-bahasa

Nur, Imran.Makalah Penggunaan Kata Umum dan Kata Khusus

<http://www.slideshare.net/FerialImranNur7/penggunaan-kata-umum-dan-kata-
khusus>

Keraf, Gorys.2010.Diksi dan Gaya Bahasa.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

10