Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Jaringan lunak merupakan jaringan yang menghubungkan, menyokong


atau mengelilingi struktur dan organ tubuh. Jaringan lunak termasuk otot, tendon,
ligamentum, fascia, saraf perifer, jaringan serabut, lemak, dan pembuluh darah.
Tumor jaringan lunak dapat bersifat jinak atau ganas, dan berbagai lesi borderline.
Rasio tumor jinak dan ganas 100:1.1

Sebagian besar tumor jaringan lunak muncul tanpa penyebab, meskipun


radiasi, luka bakar, atau paparan racun terlibat. Tumor jaringan lunak dapat
muncul di lokasi manapun, meskipun sekitar 40% terjadi pada ekstremitas bawah,
terutama femur. Insiden umumnya meningkat dengan bertambahnya usia,
walaupun 15% muncul pada anak-anak. Sarkoma tertentu cenderung muncul
dalam kelompok usia tertentu, misalnya, rabdomiosarkoma pada anak-anak,
sarkoma sinovial pada dewasa muda, dan liposarkoma dan histiocytoma fibrosa
malignant pada masa dewasa.2

Prognosis pada pasien dengan tumor jaringan lunak dipengaruhi oleh


beberapa faktor yaitu lain tipe histologis tumor, derajat deferensiasinya, dan luas
anatomik, yang dinyatakan dalam stadium.3

1
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M

Umur : 59 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Sopir Truk

Alamat : Kaliwungu, kendal

No. RM : 488278

Ruang : Anggrek 2.1

Tanggal masuk : 6 November 2015

A. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Benjolan di perut sebelah kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan benjolan di perut sebelah kanan.
Awalnya benjolan tidak dirasakan, kemudian benjolan mulai
bertambah besar sejak 6 bulan yang lalu. Pasien tidak pernah merasa
sakit di benjolannya (+). Keluhan mual (-), muntah (-), gangguan BAB
(-). Nyeri saat batuk (-), Nyeri saat mengejan (-), penurunan berat
badan (-)
Pasien kemudian dibawa keluarganya ke Poli bedah umum RSUD
Tugurejo Semarang.

2
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat sakit serupa :(-)
Riwayat darah tinggi :(+)
Riwayat deabitus mellitus : (-)
Riwayat alergi obat : (-)
Riwayat operasi : pada tahun 1977 pasien pernah
operasi usus buntu
4. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat tumor : (-)
Riwayat Hipertensi : (-)
Riwayat DM : (-)
5. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien bekerja sebagai sopir. Biaya pengobatan ditanggung oleh BJPS

B. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum tampak sakit ringan

Kesadaran Compos mentis

Tanda Vital Tensi : 124/82 mmHg


Nadi : 86x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
Respiratory rate : 20x/menit
Suhu : 36.7 0C (axiller)
Status Gizi BB = 47 Kg ; TB = 155 cm; IMT = 21
Kesan : Normoweight
Kepala Bentuk mesocephal, jejas (-)
Mata Konjungtiva pucat (-/-),sklera ikterik (-/-),pupil bulat, central,
reguler, isokor, refleks cahaya (+/+), perdarahan (-),
subkonjungtiva bledding (-/-), racoon eyes (-/-)
Hidung Nafas cuping hidung (-/-), sekret (-), lesi (-)

3
Telinga Discharge (-/-), lesi (-/-)
Mulut Sianosis (-), Tenggorokan : T1-T1, faring hiperemis (-)
Leher Simetris, pembesaran limfonodi (-), penggunaan oto bantu
nafas (-)
Thorax Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostal (-),
pernafasan thorakoabdominal, sela iga melebar (-),
pembesaran KGB axilla (-/-)
Jantung :
Inspeksi Iktus kordis tidak tampak
Palpasi Iktus kordis teraba di SIC V linea midclavicula sinistra, kuat
angkat.
Perkusi Batas jantung kanan atas SIC II linea parasternalis dextra.
Batas jantung kanan bawah SIC IV linea parasternalis dextra.
Batas jantung kiri atas SIC II linea parasternalis sinistra.
Batas jantung kiri bawah SIC IV linea media clavicularis
sinistra.
Auskultasi Bunyi jantung I-II murni,intensitas normalreguler, bising (-)
Pulmo :
Depan
Inspeksi :
Statis Normochest, simetris
Dinamis Pengembangan dada kanan = kiri, sela iga tidak melebar,
retraksi intercostal (-)
Palpasi : Pergerakan dada kanan = kiri, fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor
Auskultasi
Kanan Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan (-)
Kiri Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan (-)
Belakang :
Inspeksi statis Normochest, simetris

4
Dinamis Pengembangan dada kanan = kiri, sela iga tidak melebar,
retraksi intercostal (-)
Palpasi : Pergerakan dada kanan = kiri, fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : Sonor
Auskultasi
Kanan Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan (-)
Kiri Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan (-)
Abdomen
Inspeksi Luka (-) , distensi (-), luka bekas operasi (+), massa (+) regio
iliaca dextra
Auskultasi Bising usus (+) normal
Perkusi Timpani pada seluruh lapang abdomen
Palpasi Nyeri tekan (-)
Genitourinaria Sekret (-), radang (-)
Ekstremitas
Superior Inferior
Capp Refill < 2 / <2 < 2 / <2
Akral dingin -/- -/-
Sianosis - /- -/-
Edema - -

5
Status Lokalis
Regio Abdomen

Inspeksi : Tampak massa, warna kulit sama dengan sekitar di regio


iliaca dextra

Palpasi :
- Teraba 1 massa dengan konsistensi kenyal
- Permukaan rata
- Perabaan hangat sama dengan suhu sekitar
- Nyeri tekan (-)

6
- Batas tegas dengan ukuran 4x3x3 cm
- Dapat digerakkan
- Menonjol ketika batuk (-)
- Berdenyut (-)
Auskultasi : Bising usus di massa (-)

II. RESUME
Pasien datang dengan keluhan benjolan di perut sebelah kanan. Awalnya
benjolan tidak dirasakan, kemudian benjolan mulai bertambah besar sejak 6
bulan yang lalu. Pasien tidak pernah merasa sakit di benjolannya (+). Keluhan
mual (-), muntah (-), gangguan BAB (-). Nyeri saat batuk (-), Nyeri saat
mengejan (-), penurunan berat badan (-). Riwayat dahulu pasien pernah
operasi usus buntu pada tahun 1977.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan massa pada regio abdomen iliaca dextra
Pasien kemudian dibawa keluarganya ke Poli bedah umum RSUD Tugurejo
Semarang.

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematologi darah
rutin :
Hemoglobin 15.30 11,7 15,5 g/dl
Leukosit H11.52 3.6 12 ribu
Eritrosit 3.953 3,6 5,2 juta
Hematokrit 35.60 35 47 %
Trombosit 331 150 440 ribu
MCV 89.00 87-100 L
MCH 29.3 26-34 pg
MCHC 32.9 32 36 g/dl
RDW 12.30 11.5 14.5 %
Limfosit L22.30 25-40 %
Monosit H11.00 2-8 %

7
Eosinofil 2.10 2-4%
Basofil 0.60 0-1 %
Neutrofil 69.00 50-70%
Elektrolit
Kalium 4.60 3.5-5.0 mmol/L
Natrium 139 135-145 mmol/L
Chlorida 103 85.0-105 mmol/L
Calsium 9.9 8.1- 10.4 mg/dL
Clotting Time 6 : 00 3-8 (menit:detik)
Bleeding Time 1: 00 1-3 (menit:detik)
Kimia Klinik
GDS 97 70 110 mg/dl
Ureum 24.0 10-50 mg/dl
Kreatinin 1.16 0.65- 0.98 mg/dl

III. ASSESMENT
Diagnosis Banding :
1. Soft Tisue Tumor
2. Abses dinding abdomen
3. Hernia Incisional
4. Kista ateroma

IV. INITIAL PLAN

Ip Dx: Soft Tisue Tumor


Ip Tx Medika Mentosa :
- Infus RL 20tpm
- Injeksi Cefotaxim
S2 dd I
- Injeksi Ketorolac
S3 dd I

Ip Tx Non Medika Mentosa :

8
- Konsul ke Sp.B untuk dilakukan tindakan pembedahan (Exici dan
explorasi)
Ip Mx :
- KU/TV
- Perawatan luka

Ip Ex :
- Menjelaskan mengenai penyakit pasien

- Menjelaskan mengenai tatalaksana dari penyakit pasien

- Menjelaskan mengenai komplikasi tindakan pembedahan dan


prognosis

V. PROGNOSIS
Qua at vitam : dubia ad bonam
Qua at fungsionam : dubia ad bonam
Qua at sanam : dubia ad bonam

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Soft tissue atau jaringan lunak merupakan semua jaringan nonepitel
selain tulang, tulang rawan, otak dan selaputnya, sistem saraf pusat, sel
hematopoietik, dan jaringan limfoid. Tumor jaringan lunak umumnya
diklasifikasikan berdasarkan jenis jaringan yang membentuknya, termasuk
lemak, jaringan fibrosa, otot dan jaringan neurovaskular. Namun, sebagian
tumor jaringan lunak tidak diketahui asalnya.2 Tumor (berasal dari tumere
bahasa Latin, yang berarti "bengkak"), merupakan salah satu dari lima
karakteristik inflamasi. Namun, istilah ini sekarang digunakan untuk
menggambarkan pertumbuhan jaringan biologis yang tidak normal.
Pertumbuhannya dapat digolongkan sebagai ganas (malignant) atau jinak
(benign). Tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumor (STT) adalah suatu
benjolan atau pembengkakan abnormal yang disebabkan pertumbuhan sel
baru.4

B. Anatomi dan Histologi


Menurut jaringan embrional manusia terdapat 3 lapisan, yaitu :
1. Ektoderm : berkembang biak menjadi epitel kulit dengan
adneksanya, neuroektoderm, yaitu sel otak dan saraf.
2. Endoderm : berkembang menjadi epitel mukosa, kelenjar, parenchim
organ visceral.
3. Mesoderm : berkembang menjadi jaringan ikat, jaringan lemak, tulang
rawan, tulang, otot polos, otot serat lintang, jaringan hematopoietik (sum-
sum tulang dan jaringan limfoid), pembuluh darah, dan pembuluh limfe.2

10
a. Jaringan lemak
Jaringan lemak adalah jenis jaringan ikat khusus yang terutama
terdiri atas sel lemak (Adiposit). Pada pria dewasa normal, jaringan lemak
merupakan 15-20% dari berat badan, pada wanita normal 20-25% dari
berat badan.5

b. Jaringan fibrosa
Jaringan ikat Fibrosa (Fibrosa) tersusun dari matriks yang
mengandung serabut fleksibel berupa kolagen dan bersifat tidak elastis.
Fibrosa ditemukan pada tendon otot, ligamen, dan simfisis pubis.
Fungsinya antara lain sebagai penyokong dan pelindung, penghubung
antara otot dan tulang serta penghubung antara tulang dan tulang.6

c. Otot
Otot adalah sebuah jaringan dalam tubuh dengan kontraksi sebagai
tugas utama. Otot diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu otot lurik, otot
polos dan otot jantung. Otot menyebabkan pergerakan suatu organisme
maupun pergerakan dari organ dalam organisme tersebut.7
- Otot lurik
Otot lurik bekerja di bawah kehendak (otot sadar) sehingga
disebut otot volunteer. Pergerakannya diatur sinyal dari sel saraf
motorik. Otot ini menempel pada kerangka dan digunakan untuk
pergerakan.
- Otot polos
Otot yang ditemukan dalam intestinum dan pembuluh darah
bekerja dengan pengaturan dari sistem saraf tak sadar, yaitu saraf
otonom.
- Otot jantung
Kontraksi otot jantung bersifat involunter, kuat dan berirama.5

11
d. Pembuluh darah
Terdapat 3 jenis pembuluh darah, yaitu:
a. Arteri
Suatu rangkaian pembuluh eferen yang setelah bercabang akan
mengecil dengan fungsi mengangkut darah bersama nutrient dan
oksigen ke jaringan.
b. Kapiler
Jalinan difus saluran-saluran halus yang beranastomosis secara
luas dan melalui dinding pembuluh inilah terjadi pertukaran darah dan
jaringan.
c. Vena
Bagian konvergensi dari kapiler ke dalam system pembuluh-
pembuluh yang lebih besar yang menghantar produk metabolism (CO2
dan lain-lain) kea rah jantung.5

e. Saraf perifer
Komponen utama dari susunan saraf tepi adalah serabut saraf,
ganglia, dan ujung saraf. Serabut saraf adalah kumpulan serat saraf yang
dikelilingi selubung jaringan ikat. Tumor pada serabut saraf neurofibroma.
Pada serat saraf tepi, sel penyelubung yaitu sel schwann. Tumor pada
penyeluubung sel saraf tepi yaitu schwannoma.5

C. Patofisiologi Soft Tisssue Tumor

Pada umumnya tumor-tumor jaringan lunak atau Soft Tissue


Tumors (STT) adalah proliferasi jaringan mesenkimal yang terjadi di jaringan
nonepitelial ekstraskeletal tubuh. Dapat timbul di tempat di mana saja,
meskipun kira-kira 40% terjadi di ekstermitas bawah, terutama daerah paha,
20% di ekstermitas atas, 10% di kepala dan leher, dan 30% di badan.

12
Tumor jaringan lunak tumbuh centripetally, meskipun beberapa tumor
jinak, seperti serabut luka. Setelah tumor mencapai batas anatomis dari
tempatnya, maka tumor membesar melewati batas sampai ke struktur
neurovascular. Tumor jaringan lunak timbul di lokasi seperti lekukan-lekukan
tubuh.

Proses alami dari kebanyakan tumor ganas dapat dibagi atas 4 fase yaitu
::
1. Perubahan ganas pada sel-sel target, disebut sebagai transformasi.

2. Pertumbuhan dari sel-sel transformasi.

3. Invasi lokal.

4. Metastasis jauh.8

D. Klasifikasi Soft Tissue Tumor

Tabel Klasifikasi soft tissue tumor berdasarkan jenis jaringan 2

No. Soft tissue tumor

Lipoma
1. Tumor Jaringan Lemak
Liposarkoma

Fasilitis Nodularis
Fibromatosis
Tumor dan Lesi Mirip-Tumor pada Fibromatosis
2.
Jaringan Fibrosa Superfisialis
Fibromatosis Profunda
Fibrosarkoma

Histiositoma Fibrosa

3. Tumor Fibriohistiositik Dermatofibrosarkoma


Protuberans
Histiositoma Fibrosa

13
Maligna

Rabdomioma
4. Tumor Otot Rangka
Rabdomiosarkoma

Leiomioma
Leiomiosarkoma
5. Tumor Otot Polos
Tumor otot polos dengan
potensi keganasan tidak
jelas

Hemangioma
Limfangioma
6. Tumor Vaskular Hemangioendotelioma
Hemangioperisitoma
Angiosarkoma

Neurofibroma
Schwannoma
7. Tumor Saraf Perifer
Tumor ganas selubung
saraf perifer

Tumor Sel Granular


Sarkoma Sinovium
8. Tumor yang Histogenesisnya Tidak Jelas Sarkoma bagian lunak
alveolus
Sarkoma Epitelioid

Tabel Klasisikasi Tumor Jaringan Lunak Berdasarkan Pertumbuhan Jinak


dan Ganas 9

CLASSIFICATION: HISTOGENIC CLASSIFICATION SCHEME


FOR BENIGN AND MALIGNANT SOFT TISSUE TUMORS

Tissue formed Benign soft tissue tumor Malignant soft tissue


tumor (histogenesis)

Fat Lipoma Liposarkoma

14
Fibrous tissue Fibroma Fibrosarkoma

Skeletal muscle Rabdomioma Rabdomiosarkoma

Smooth muscle Leiomioma Leiomyosarkoma

Synovium Synovioma Sarkoma sinovial

Blood vessel Hemangioma Angiosarkoma;


hemangiopericytoma malignant

Lymphatics Lymphangioma Lymphangiosarkoma

Nerve Neurofibroma Neurofibrosarkoma

Mesothelium Benign mesothelioma Malignant mesothelioma

Tissue histiocyte Benign fibrous Malignant fibrous


histiocytoma histiocytoma

Pluripotent None recognized Malignant


mesenchymoma

Uncertain None recognized Ewing's sarkoma;


sarkoma; epithelioid alveolar soft parts
sarcoma

1. Tumor Jaringan Lemak

a. Lipoma

1) Definisi
Lipoma adalah suatu tumor (benjolan) jinak yang berada
dibawah kulit yang terdiri dari lemak. Jenis yang paling sering adalah
yang berada lebih ke permukaan kulit (superficial). Biasanya lipoma
berlokasi di kepala, leher, bahu, badan, punggung, atau lengan. Jenis
yang lain adalah yang letaknya lebih dalam dari kulit seperti dalam
otot, saraf, sendi, ataupun tendon.4

2) Prevalensi

15
Biasanya lipoma dijumpai pada usiia 40-70 tahun. Lipoma
adalah tumor jaringan lunak yang paling umum dengan prevalensi
sebesar 2,1 per 1.000 orang.4

3) Etiologi
Idiopati.4

4) Gambaran Klinis
Lipoma berbentuk seperti benjolan dengan diameter 2-10 cm,
terasa kenyal dan lembut. Serta bergerak bebas di kulit (free mobility
of overlying skin), namun overlying skin ini secara khas normal.
Sering terdapat pada leher, lengan dan dada. Tetapi bisa muncul di
bagian tubuh manapun. Pada umumnya orang-orang tidak menyadari
jika mereka mengidap lipoma sampai benjolannya tumbuh besar dan
terlihat.4

Lipoma bersifat lunak pada perabaan, dapat digerakkan, dan


tidak nyeri. Pertumbuhannya sangat lambat dan jarang sekali menjadi
ganas. Lipoma kebanyakan berukuran kecil, namun dapat tumbuh
hingga mencapai lebih dari diameter 6 cm. Memiliki batas dengan
jaringan yang tidak nyata. Kapsul yang membungkus merupakan
pseudokapsul yang berasal dari jaringan normal yang terdesak oleh
pertumbuhan jaringan tumor. Oleh karena berasal dari jaringan
lemak yang tidak rata maka akan muncul gambaran pseudolobulated
pada palpasi. Oleh karena sifat sel lemak yang lunak seperti cairan
maka sering dikatakan sebagai pseudokistik.4

16
5) Jenis-jenis Lipoma

Melalui mikroskop, lipoma terdiri atas sel-sel adiposit yang


sudah dewasa berbentuk lobus-lobus, dan diliputi oleh kapsul fibrous.
Yang adakalanya, suatu lipoma tidak berkapsul menyusup ke dalam
otot.4

Empat jenis lain lipoma :

1. Angiolipoma

Angiolipoma varian membentuk dengan co-existing


perkembangbiakan vaskuler. Angiolipoma menyebabkan nyeri dan
pada umumnya muncul tidak lama sesudah pubertas.

2. Pleomorphiclipoma

Pleomorphiclipoma adalah varian lain di mana bizarre, sel


raksasa multinucleated adalah admixed dengan adipocytes. Terjadi
sebagian besar pada laki-laki usia 50 70 tahun.

3. Adipocytes

17
Sepertiga varian, sel gelendong lipoma, mempunyai
gelendong langsing sel yang admixed di dalam suatu bagian yang
dilokalisir muncul adipocytes.

4. Adenolipoma

Adenolipoma ditandai oleh kehadiran kelenjar di dalam


tumor yang gemuk, jenis ini sering ditempatkan terletak di atas
proximial bagian-bagian dari empedu.4

6) Diagnosis
Walaupun lipoma dapat didiagnosa dengan pemeriksaan
klinis, namun untuk menegakkan diagnosis secara pasti dibutuhkan
biopsi dan pemeriksaan histopatologi. CT Scan, MRI juga bisa
dilakukan untuk mengetahui tentang lipoma. Kadar kolesterol
umumnya normal , walaupun lipoma seharusnya menjadi tumor dari
jaringan lemak.4

7) Terapi
Untuk suatu lipoma, sebenarnya tidak ada perawatan pada
umumnya. Namun jika lipoma tersebut sudah mengganggu,
menyakitkan atau bertambah besar, penatalaksanaan dapat berupa :
1. Steroid Injection
Perawatan ini mengecilkan lipoma tetapi tidak dengan
sepenuhnya menghilangkan tumor itu. Tetapi ini mungkin tidak
berguna untuk lipoma yang sudah berukuran besar.
2. Liposuction
Perawatan ini menggunakan suatu jarum dan suatu
semprotan besar untuk memindahkan lipoma yang besar. Tindakan
ini dilakukan dalam keadaan pasien terbius lokal. Liposuction
biasa dilakukan untuk menghindari suatu jaringan parut yang

18
besar. Namun masih tetap sukar untuk memindahkan keseluruhan
lipoma dengan menggunakan tehnik ini.
3. Surgical Removal
Perawatan ini dilakukan dengan operasi lebih besar yaitu
lipoma dipindahkan dengan memotong lipoma tersebut. Pasien
yang menjalani tehnik ini dilakukan pembiusan secara local
maupun general anesthesia. Dan biasanya lipoma hilang setelah
pembedahan.4
Indikasi pembedahan pada lipoma antara lain :
1. Alasan kosmetik
2. Untuk mengevaluasi histologi (adakah keganasan pada jaringan)
sehingga dapat menyingkirkan kemungkinan liposarkoma.
3. Jika menimbulkan gejala yang mengganggu
4. Jika berkembang menjadi lebih dari 5 cm.4

b. Liposarkoma
1) Definisi
Liposarkoma adalah neoplasma ganas adiposit. Berbeda
dengan lipoma, sebagian besar liposarkoma timbul di jaringan lunak
dalam atau visera. Ekstremitas bawah dan abdomen sering menjadi
tempat timbulnya tumor ini.2

2) Prevalensi
Dengan kejadian tahunan sebesar 2,5 kasus per juta penduduk,
liposarkoma adalah sarkoma jaringan lunak yang paling umum.
Tumor ini biasanya timbul pada orang dewasa, dengan insidensi
puncak pada dekade kelima dan keenam.2

3) Etiologi
Terdapat kelainan translokasi pada kromosom band 12q13
translokasi kromosom yang paling umum adalah fusi FOS-CHOP gen

19
, yang mengkode faktor transkripsi yang diperlukan untuk diferensiasi
adiposit.2

4) Gambaran Klinis

Liposarkoma biasanya bermanisfestasi sebagai lesi yang


batasnya relatif tegas. Gejala berupa adanya suatu benjolan dibawah
kulit yang tidak terasa sakit, hanya sedikit penderita yang mengeluh
sakit. Rasa sakit muncul akibat perdarahan atau nekrosis dalam tumor
dan bisa juga karena penekanan pada saraf-saraf tepi.2

5) Klasifikasi
WHO mengklasifikasikan liposarkoma menjadi 5 kategori : 2

20
6) Diagnosis

Liposarkoma biasanya bermanisfestasi sebagai lesi yang


batasnya relatif tegas. Pada ekstremitas, liposarkoma dapat muncul
dalam, nyeri, massa membesar. Liposarkoma tumbuh baik perlahan-
lahan selama bertahun-tahun atau cepat selama kurun waktu singkat,
dan dapat mencapai ukuran yang sangat besar. Muncul mayoritas
pada ukuran yang lebih dari 5 cm. Diagnosis pasti tergantung pada
konfirmasi histologis.2

7) Terapi

Pada sarkoma jaringan lunak seperti liposarkoma


penatalaksanaan bukan hanya tumornya saja yang diangkat, namun
juga dengan jaringan sekitarnya sampai bebas tumor menurut kaidah
yang telah ditentukan, tergantung dimana letak tumor ini.
Tindakannya berupa operasi eksisi luas. Penggunaan radioterapi dan
kemoterapi hanyalah sebagai pelengkap. Untuk tumor yang
ukurannya besar, setelah operasi ditambah dengan radioterapi. Setelah
penderita operasi harus sering kontrol untuk memonitor ada tidaknya
kekambuhan pada daerah operasi ataupun metastase.2

9) Prognosis

Prognosis liposarkoma sangat dipengaruhi oleh subtipe


histologis tumor. Varian miksoma dan berdiferensiasi baik cenderung
tumbuh relative lebih lambat dan memiliki prognosis yang lebih baik
daripada varian pleomorfik dan sel bulat yang lebih agresif.
Kekambuhan local dan metastasis hematogen, terutama ke paru,
merupakan gambaran tumor yang agresif.2

21
22
E. Stadium Klinik pada Sarkoma Jaringan Lunak

G, Histologic Grade

GX Grade cannot be assessed

G1 Well differentiated

G2 Moderately differentiated

G3 Poorly differentiated

G4 Undifferentiated

T, Primary Tumor Size

TX Primary size cannot be assessed

T0 No evidence of primary tumor

T1 Tumor less than 5 cm

T1a Superficial tumor

T1b Deep tumor

T2 Tumor 5 cm or greater

T2a Superficial tumor

T2b Deep tumor

N, Regional Nodes

NX Regional nodes cannot be assessed

N0 No regional lymph node metastasis

N1 Regional lymph node metastasis

M, Distant Metastasis

MX Presence of distance metastasis cannot be assessed

M0 No distant metastasis

M1 Distant metastasis present

23
BAB III

KESIMPULAN

1. Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit dan
tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak
adalah yang berasal dari jaringan embrional mesoderm yaitu jaringan ikat,
otot,pembuluh darah dan limfe, jaringan lemak, dan selaput saraf.

2. Tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumor (STT) adalah suatu benjolan
atau pembengkakan abnormal yang disebabkan pertumbuhan sel baru.
3. Etiologi dari tumor jaringan lunak bisa disebabkan oleh kondisi genetik,
radiasi, lingkungan karsinogen, infeksi, dan trauma.

4. Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis yaitu tumor jinak biasnya


tumbuh lambat, tidak cepat membesar, bila diraba terasa lunak dan bila
tumor digerakan relatif mudah digerakan. Sedangkan pertumbuhan kanker
jaringan lunak relatif cepat membesar, berkembang menjadi benjolan yang
keras, dan bila digerakan agak sukar serta dapat menyebar ke seluruh
terutama paru-paru.

5. Pada dasarnya prinsip penatalaksanaan untuk tumor jinak jaringan lunak


adalah eksisi yaitu pengangkatan seluruh jaringan tumor. Tapi
penatalaksanaan berbeda pada sarcoma jaringan lunak yaitu dengan
tambahan kemoterapi.

6. Prognosis dari sarkoma jaringan lunak bergantung pada : staging, lokasi


serta besar tumor, respon tumor terhadap terapi, umur serta kondisi
kesehatan dari penderita, dan penemuan pengobatan baru.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Snell, Richard S. Anatomi Klinik ed. 6. EGC, Jakarta, 2006

2. Widjosono, Garitno, Sistem Endokrin : Buku Ajar Ilmu Bedah. Editor


Syamsuhidayat R.Jong WB, Edisi Revisi, EGC, Jakarta, 1997

3. Schteingert David E., Penyakit Kelenjar Tiroid, Patofisiologi, Edisi


Keempat, Buku Dua, EGC, Jakarta, 1995

4. Liberty Kim H, Kelenjar Tiroid : Buku Teks Ilmu Bedah, Jilid Satu,
Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta, 1997

25