Anda di halaman 1dari 11

SEJARAH DAN PENGERTIAN LEMBAGA PERKREDITAN DESA

1. Sejarah Lembaga Perkreditan Desa di Bali


Sebuah desa mempunyai otonomi untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya
sendiri berlandaskan awig-awig, perlu adanya usaha-usaha untuk meningkatkan kemandirian
dalam mengelola keuangan dan harta kekayaan milik desa sehingga mampu menatap
perkembangan dan kemajuan pembangunan. Untuk melestarikan dan meningkatkan
kemandirian kehidupan Bali dengan segala aspeknya perlu adanya upaya-upaya untuk
memperkuat keuangan Desa Adat sebagai sarana penunjang melalui mendirikan suatu Badan
Usaha Milik Desa Adat berupa Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang bergerak dalam usaha
simpan pinjam dengan modal swadaya masyarakat (Krama Desa) sendiri. Ada beberapa
pengertian mengenai Lembaga Perkreditan Desa, antara lain:

a. Menurut Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2007, Lembaga Perkreditan
Desa (LPD) merupakan badan usaha keuangan milik desa yang melaksanakan kegiatan
usaha di lingkungan desa dan untuk krama desa. Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dapat
didirikan pada desa dalam wilayah Kabupaten/Kota, di mana dalam tiap-tiap desa hanya
dapat didirikan satu Lembaga Perkreditan Desa (LPD).
b. Menurut Keputusan Gubernur Bali Nomor 3 Tahun 2003, LPD merupakan Lembaga
Perkreditan Desa di Desa Pekraman dalam wilayah Provinsi Bali.
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Bali adalah lembaga keuangan desa yang
dimiliki oleh Desa Adat. Lembaga Perkreditan Desa (LPD) merupakan buah pikiran
Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Gagasan mendirikan LPD diilhami
keberadan Lumbung Pitih Nagari (LPN) yang merupakan lembaga simpan pinjam untuk
masyarakat adat yang sukses di Padang Sumatera Barat. LPN pada awalnya mengenal prinsip
dasar arisan yang dimanfaatkan untuk kepentingan adat seperti upacara pertunangan,
pernikahan, pengangkatan datuk dan lain-lain. Namun lama-kelamaan pengelolaan uang
dimanfaatkan untuk kegiatan produktif seperti modal usaha.

Pada saat yang sama, Pemerintah Pusat juga meluncurkan program pembentukan
lembaga kredit di pedesaan untuk mendorong pembangunan ekonomi dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat desa. Beberapa bulan kemudian digelar seminar tentang Lembaga
Keuangan Desa (LKD) atau Badan Kredit Desa (BKD) di Semarang yang dilaksanakan
Departemen Dalam Negeri pada bulan Februari 1984. Salah satu kesimpulan seminar tersebut
yaitu perlu dicari bentuk perkreditan di pedesaan yang mampu membantu pengusaha kecil
dipedesaan yang saat itu belum tersentuh oleh Lembaga Keuangan yang ada seperti bank.
Sejumlah provinsi di Indonesia sesungguhnya sudah memiliki Lembaga Perkreditan
Pedesaan yang tumbuh subur pada dekade 1980-an. Lembaga ini secara umum disebut
Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan (LDKP). Namun di setiap daerah namanya berbeda-beda
seperti di Aceh disebut Lembaga Kredit Kecamatan (LKC), di Jawa Barat disebut Lembaga
Perkreditan Kecamatan (LPK), di Jawa Tengah disebut Badan Kredit Kecamatan (BKK).

Kemudian, Bali mencoba menerjemahkan hasil keputusan seminar di Semarang


dengan mengandopsi konsep sekaa yang telah tumbuh di masyarakat Bali. Akhirnya,
terbentuklah Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Bali yang dengan tujuan untuk membantu
desa adat. Keuntungan LPD direncanakan untuk membangun kehidupan religius berikut
kegiatan upacaranya seperti piodalan, sehingga warganya tidak perlu membayar iuran wajib.

Dengan mengadopsi konsep sekaa dan desa adat yang telah tumbuh sejak lama di
dalam masyarakat Bali, Gubernur Bali kemudian meluncurkan Lembaga Perkreditan Desa
(LPD). Tujuan LPD yakni membantu desa adat dan krama desa adat dalam pembangunan
adat, budaya dan agama. Keuntungan LPD direncanakan untuk membangun kehidupan
sosial-budaya masyarakat Bali, baik untuk pembangunan fisik maupun nonfisik.

Sebagai langkah awal dibuatlah pilot project satu LPD di tiap-tiap kabupaten. Kala
itu, dasar hukum pembentukan LPD hanyalah Surat Keputusan (SK) Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I Bali No. 972 tahun 1984, tanggal 19 Nopember 1984. Sebagai
Implementasi dari Kebijakan Pemerintah Daerah Tingkat I Bali tersebut di atas, maka secara
resmi LPD beroperasi mulai 1 Maret 1985. Di setiap kabupaten didirikan sebuah LPD.
Kemudian selanjutnya diperkuat oleh Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 2 Tahun 1998.
Perda tersebut selanjutnya diubah dengan Perda No. 8/2002. Tahun 2007 diubah lagi menjadi
Perda no. 3 tahun 2007.
Integrasi LPD di dalam kehidupan dan hukum adat telah menjadi sebuah kerangka
yang sangat kuat untuk mengembangkan hubungan pelanggan dan mengelola resiko. Oleh
karena itu lembaga ini sudah menerapkan aturan, norma dan nilai yang diyakini bersama.
Lembaga keuangan binaan BPD Bali ini dikelola sepenuhnya oleh, dari, dan untuk desa
adat. Karena itu, pemberian kredit pun hanya diperuntukkan untuk krama desa adat setempat,
dan umumnya tanpa agunan (jaminan).

2. Perkembangan Lembaga Perkreditan Desa


Perkembangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Desa Pakraman di Provinsi Bali
sampai saat ini cukup pesat. Setelah 30 tahun berjalan, keberadaan LPD terbukti mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan sekaligus menyangga tumbuh dan
berkembangnya budaya Bali sebagai aset bangsa. LPD tidak saja memerankan fungsinya
sebagai lembaga keuangan yang melayani transaksi keuangan masyarakat desa tetapi telah
pula menjadi solusi atas keterbatasan akses dana bagi masyarakat pedesaan yang nota bene
merupakan kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Kesuksesan LPD ini merupakan buah dari konsep pendirian dan pengelolaan LPD
yang digali dari kearifan lokal dan kultural masyarakat Bali yang berbasis pada kebersamaan,
kekeluargaan dan kegotong-royongan. Kendati ide pendirian LPD berasal dari Pemerintah
Daerah Bali (Gubernur Prof. IB Mantra), akan tetapi sujatinya gagasan itu digali dari sesuatu
yang telah berkembang sebagai kultur dan kearifan lokal masyarakat Bali. Artinya, gagasan
LPD sesungguhnya berakar pada adat dan budaya masyarakat Bali.
Penyebab kesuksesan LPD juga berasal dari pola pengelolaan yang berbasis
komunitas dengan landasan nilai-nilai kekeluargaan dan kegotong-royongan dalam bingkai
adat dan budaya Bali. Masyarakat di Desa Pakraman menjadi pemilik sekaligus pengelola
LPD yang menjalankan tugas dan fungsinya dalam ikatan komitmen untuk mencapai
kesejahteraan dan kemajuan bersama.
Sebagai buah dari inisiatif dan pengelolaan oleh masyarakat Desa Pakraman itu lalu
hasil yang dicapai juga akhirnya dinikmati secara bersama-sama. Hasil bersama itu tidak saja
tercermin melalui manfaat ekonomi, tetapi yang jauh lebih penting adalah manfaat sosial-
budaya berupa semakin kokohnya adat dan budaya. LPD menjadi sumber utama pendanaan
kegiatan adat, budaya maupun sosial masyarakat di Desa Pakraman.
Tujuan pendirian sebuah LPD pada setiap desa adat, berdasarkan penjelasan peraturan
Daerah No.2/ 1988 dan No. 8 tahun 2002 mengenai lembaga peerkreditan desa(LPD), adalah
untuk mendukung pembangunan ekonomi perdesaan melalui peningkatan kebiasaan
menabung masyarakat desa dan menyediakan kredit bagi usaha skala kecil, untuk
menghapuskan bentuk-bentuk eksploitasi dalam hubungan kredit, untuk menciptakan
kesempatan yang setara bagi kegiatan usaha pada tingkat desa, dan unttuk meningkatkan
tingkat monetisasi didaerah pedesaan
(Government of Bali, 1988, Government of Bali, 2002).
Ada empat faktor yang saling terkait yang dapat menjelaskan pertumbuhan LPD yang
sangat cepat tersebut sebagai lembaga perantara keuangan di provinsi Bali, yaitu:
1. Pertumbuhan LPD yang cepat tersebut secara tidak langsung menunjukan bahwa
pemerintah provinsi Bali memiliki keinginan politis yang kuat untuk menyediakan
akses kredit bagi masyarakatnya melalui pendirian LPD.
2. Pertumbuhan yang sangat cepat pada portofolio nasabah dan pinjaman LPD
mengindikasikan bahwa LPD baik sebagai lembaga keungan maupun mekanisme tata
kelolanya sesuai dengan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Bali, terutama
didaerah perdesaan.
3. Karena masing - masing LPD beroperasi hanya disebuah desa adat yang wilayahnya
relatih kecil, anggota komunitas memiliki informasi yang cukup mengenai LPD dan
dapat dengan mudah mengaksesnya.
4. Jumlah tabungan menunjukan bahwa LPD bukan hanya merupakan lembaga pemberi
pinjaman (lending institution) tetapi juga sebagai lembaga tabungan (saving
institution), yang berarti LPD telah mampu berperan sebagai lembaga perantara
keuangan seperti halnya Bank umum.
LPD mengalami perkembangan yang menjanjikan, meskipun di beberapa tempat
masih ada yang belum baik perkembangannya. Kesuksesan LPD dapat dijelaskan oleh
beberapa faktor penting, yaitu:
1. PDRB (Product Domestic Regional Bruto) dan pertumbuhan ekonomi Bali
terus tumbuh di atas rata-rata nasional serta kebijakan pemerintah yang
kondusif mendukung keberadaannya melalui penerbitan perangkat hukum
berupa Perda.
2. Pemberian kredit berdasarkan karakter yang bernuansa adat.
3. Penggunaan sanksi sosial (adat) yang terintegrasi dalam awig-awig dan
perarem memaksa para nasabah untuk menaati kontrak kredit mereka dengan
cara yang khas dan unik tetapi tidak wanprestasi.
4. Penggunaan pegawai LPD dari masyarakat lokal yang perekrutannya
didasarkan pada kinerja.

Sebaliknya, LPD belum maju disebabkan beberapa faktor, yaitu:


1. Tidak siapnya sumber daya manusia dalam mengelola.
2. Tidak adanya komitmen pemangku kepentingan di desa pekraman untuk
memajukan LPD.
3. Masyarakat desa pekraman tidak kompak mendukung keberadaan LPD, ada
kesan pada saat belum maju tidak mau bersusah-susah.
4. Belum dipahaminya secara benar bahwa LPD itu adalah suatu kesatuan usaha
yang memiliki otonomi dan diskersi dalam mengelola usahanya.

LPD merupakan badan usaha keuangan milik desa Pakraman yang


melaksanakan kegiatan usaha dilingkungan desa untuk Krama desa, LPD sebagai
lembaga keuangan memiliki kegiatan atau lapangan usaha sebagai berikut:
1. Menerima /menghimpun dana dari Krama desa dalam bentuk tabungan dan
deposito.
2. Memberikan pinjaman hanya kepada Krama desa.
3. Menerima pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan maksimum sebesar
100% dari jumlah modal, termasuk cadangan dan laba ditahan, kecuali batasan
lain dalam jumlah pinjaman atau dukungan/bantuan modal.
4. Menyimpan kelebihan likuiditasnya pada BPD Bali dengan imbalan bunga
bersaing dan pelayanan yang memadai.
Fungsi dan tujuan LPD adalah untuk memberikan kesempatan berusaha bagi
para warga desa setempat, kemudian untuk menampung tenaga kerja yang ada di
pedesaan, serta melancarkan lalu lintas pembayaran, sekaligus menghapuskan
keberadaan lintah darat (rentenir). Keanggotaan LPD dari desa pekraman secara
struktural, terdiri atas berbagai banjar. Semua krama banjar yang ada di lingkungan
desa, secara otomatis merupakan penopang keberadaan LPD.
3. Sistem Pengawasan dan Bimbingan serta Tata Kelola LPD
LPD berbeda dari lembaga keuangan Mikro lain yang dikendalikan oleh
pemerintah provinsi seperti badan kredit kecamatan (BKK) di jawa tengah atau kredit
Usaha Rakyat Kecil (KURK) dijwa timur karena kepemilikan dan
pengorganisasiannya dipengarui oleh adat istiadat masyarakat Bali. Keputusan
Gubernur No. 344 / 1993 juga menyebutkan fungsi Bank BPD Bali. Dalam pasal 2
keputusan tersebut (pemerintah Bali, 1993b) dinyatakan bahwa Bank BPD Bali
memiliki 3 fungsi berkenaan dengan LPD.pertama, memberikan bimbingan teknis
dalam dua cara yaitu melalui bimbingan pasif, dan melalui bimbingan aktif yang
dilakukan dengan kunjungan langsung kelokasi LPD. Kedua, Bank BPD Bali
memiliki tugas untuk mengelola koordinasi dengan organisasi lain yang terlibat
didalam proses bimbingan dan pengawasan LPD. Ketiga, Bank BPD Bali harus
menyiapkan laporan Evaluasi triwulan tentang kinerja keuangan dan kesehatan LPD
kepada gubernur.
LPD merupakan lembaga adat milik desa adat/pakraman yang mengemban
fungsi khusus ekonomi dan keuangan di tingkat desa adat. Adapun Tata Kelola
Lembaga Perkreditan Desa, yaitu:
a. Organisasi dan Perencanaan
Berdasarkan PERDA Provinsi Bali No.8/2002, setiap LPD dikelola oleh
sebuah komite (ketua, kasir dan petugas administrasi). Deskripsi manajemen inti
dapat dijelaskan bahwa ketua bertugas mengordinasi kegiatan operasional harian
LPD, pembuatan perjanjian kontrak dengan nasabah, bertanggung jawab pada desa
adat melalui pemimpinnya (Dewan Pengawas LPD), menyusun rencana kegiatan dan
anggaran, dan memformulasikan kebijakan LPD. Petugas administrasi melakukan
tugas-tugas administrasi, baik administasi umum maupun tata buku, bertanggung
jawab kepada ketua LPD, menyusun laporan neraca dan laporan pendapatan, serta
mengelola arsip. Sedangkan kasir adalah mencatat aliran dana. Staf LPD membantu
ketua melaksanakan tugasnya dan terlibat dalam pembuatan kegiatan dan rencana
anggaran dalam keputusan pemberian kredit.
Dalam mengelola LPD, tim manajemen juga memantau perubahan situasi
makro-ekonomi, melakukan rapat formal triwulanan untuk evaluasi internal yang
melibatkan semua staf. Staf pengumpul kredit diberi pengarahan harian mengenai
tugas mereka oleh ketua LPD sebelum mereka mulai bekerja Evaluasi internal LPD
dilakukan oleh Dewan pengawas. Hal ini membenarkan pendapat bahwa struktur
organisasi LPD mampu mengimplementasikan kebijakan dan strategi LPD untuk
mencapai tujuannya. Kemampuan manajemen internal LPD memperoleh dukungan
dari pengawasan dan bimbingan yang diberikan pemerintah local pada tiap tingkatan
dan oleh bank BPD Bali.

b. Prosedur Rekruitmen
Tim manejemen inti direkrut dari desa adat local. Mereka dipilih dari anggota
komunitas desa dan ditetapkan dalam rapat desa untuk periode empat tahun. Namun
mereka dapat dipilih kembali apabila mampu bekerja dengan baik
(GovernmentofBali,2002,Articli11). Komite manajemen biasanya dibantu oleh dua
atau tiga staf yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan tabungan dan pinjaman.
Menurut pasal 11(4) Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 8/2002 bahwa salah
satu tugas penting komite inti adalah menjalankan kewenangan untuk menunjuk staf
baru atau untuk memberhentikan staf manajemen operasional LPD. Rekruitmen staf
tambahan dilakukan berdasarkan perkembangan skala usaha LPD. Pemilihan staf baru
oleh Dewan Pengawas juga didasarkan atas tes kemampuan dan sifat atau karakter
pelamar, dan masing-masing dusun di desa adat harus terwakili oleh anggota staf.
Kemudian para pelamar mengikuti tes kemampuan (motivasi, kemauan untuk
mengabdi di LPD, dan pengetahuan umum) yang diadakan oleh PLPDK. Persyaratan
umum untuk pelamar ialah memiliki minimal ijazah tingkat SMU. Singkatnya,
prosedur rekruitmen ini menggambarkan pentingnya peran institusi informal dalam
tata kelola LPD, dan menunjukkan kuatnya keterikatan LPD dengan lingkungan
sosio-kulturalnya.
Prinsip Pengaturan Operasional Prinsip ini mencakup peraturan mengenai
kecakupan modal (capital adequacy), batas jumlah peminjaman (legal lending limit),
cadangan untuk kerugian pinjaman manajemen likuiditas, dan sistem pemeringkatan
LPD. LPD harus menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential principle) dari lembaga
keuangan agar dapat menjadi lembaga keuangan yang sehat. Berdasarkan kriteria
CAMEL BPR yang diterapkan BI berdasarkan surat edaran No. 30/UUPB, 30 April
1997 (Bank BPD Bali,2000) bahwa pengaturan ini mengatur CAR, kualitas aset
produktif, aspek manajemen, pendapatan dan likuiditas.

c. Mekanisme Penyaluran Pinjaman


Dalam kaitannya dengan tingkat bunga, pada tahun 2002 tingkat bunga
pinjaman untk pinjaman berkisar antara 27 hingga 33 persen, lebih tinggi dari pada
rata rata tingkat bunga bank umum yang hanya 22 persen pertahun pada saat itu.
Peraturan desa adat juga berlaku bagi staf LPD (Oka, 1999) yang melanggar peraturan
dan salah dalam mengelola operasional harian LPD, seperti kolusi, korupsi atau
manipulasi. Sanksi sosial dapat dikenakan pada mereka. Selain itu, berdasarkan
peraturan legal formal pasal 24 peraturan Daerah No. 8 / 2002 yang menyatakan
bahwa staf LPD yang melanggar peratturan dan menyebabkan LPD menderita
kerugian keuangan haruslah mengganti kerugian tersebut, pasal 26 yang menerangkan
pasal 24 peraturan tersebut menekankan bahwa staf terpidana dapat memperoleh
hukuman maksimum 6 bulan penjara atau maksimum denda Rp 5 juta. Singkatnya,
gambaran ini menunjukan bahwa institusi informal ( seperti norma norma dan
sanksi sosial ) dan institusi formal ( peraturan legal formal ) digunakan bersama- sama
dalam tata kelola LPD.

d. Sistem Penggajian
Sistem penggajian pada LPD secara umum dimaksudkan untuk menstimulasi
kinerja yang lebih baik dari stafnya, terutama dalam mengumpulkan pinjaman dan
mempromosikan dan melayani tabungan. Diantara manjemen inti LPD, ketua
memperoleh gaji paling tinggi, diikuti oleh petugas kasir dan tenaga administrasi.
Prinsip penentuan gaji pokok yang didasarkan biaya hidup di desa di mana LPD
berada juga tercermin pada kuatnya hubungan antara LPD dan lingkungan sosio-
ekonominya.
Kondisi makro-ekonomi yang terus tumbuh dan stabil disertai dengan
liberalisasi pasar keuangan pada tingkat nasional, stabilitas politik di Bali, dukungan
dari pemerintah pada semua tingkat administrative, tingkat kohesi sosial masyarakat
Bali yang tinggi dan struktur sosial tradisional yang penting telah mendukung
pertumbuhan LPD. Tidak ada keraguan bahwa kondisi makro-ekonomi yang terus
tumbuh dan stabil dan lingkugan sosio-kultural merupakan faktor penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan LPD di Bali.
Pelatihan LPD yang kerap dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan standar
kerjanya di masyarakat, dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan
pengawasan eksternal dan internal. Dalam setiap tahun keuntungan bersih LPD
dialokasikan sebagai dana pembangungan desa pekraman sebesar 20%. Selain itu,
kegiatan nonfisik membantu kegiatan-kegiatan sosial di desa dalam bentuk pembinaan
kesenian, olahraga, dan kepemudaan rutin dilakukan. Dalam pengelolaan dana desa
tentu pernah terjadi kendala-kendala. Kendala tersebut dapat berupa kredit bermasalah
dan tingkat pengetahuan masyarakat yang kurang. Namun masalah tersebut tentu bisa
diatasi dengan menanamkan pengertian kepada masyarakat bahwa lembaga ini adalah
lembaga kepercayaan.
LPD menjalankan usahanya juga menekan pada ajaran filosofi Tri Hita
Karana yang mengacu pada menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan
Tuhan Yang Maha Esa (parhyangan), hubungan harmonis antara manusia dengan
sesamanya (pewongan) dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam di
sekitarnya (palemahan). Berdasarkan filosofi Tri Hita Karana yang secara sadar dan
nyata telah diterapkan oleh masyarakat di Bali, maka LPD juga memiliki tanggung
jawab sosial pada masyarakat tempat LPD berdiri. Tanggung jawab sosial LPD
meliputi tanggung jawab sosial yang berhubungan dengan filosofi Tri Hita Karana.
Sebaiknya untuk masa yang akan datang tanggung jawab sosial LPD dilaporkan
dalam catatan laporan keuangan LPD atau laporan pertanggungjawaban sosial LPD.
DAFTAR PUSTAKA

Suartana, I Wayan. 2009. Aristektur Pengelolaan Risiko Pada Lembaga Perkreditan Desa
(LPD). Udayana University Press: Bali.
1. Isu Penelitian
Dari beberapa lembaga keuangan nonbank di Bali, LPD merupakan lembaga nonbank
yang asetnya terbesar. Sampai dengan triwulan I tahun 2010 aset LPD telah mencapai
Rp4.432 miliar atau bertambah sebesar 25,30% dibandingkan dengan periode yang sama
tahun sebelumnya (Bank Indonesia, 2010).
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sebagai lembaga keuangan yang melakukan kegiatan
penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat beroperasi pada suatu wilayah adminitrasi
desa adat dengan dasar kekeluargaan antarwarga desa.
Sebagai lembaga desa LPD mempunyai tanggung jawab ekonomi dan sosial pada
masyarakat desa. Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 8, Tahun 2002 tentang LPD disertai
Keputusan Gubernur Bali menjelaskan bahwa keuntungan bersih LPD pada akhir tahun
pembukuan sekitar 20% untuk dana pembangunan desa dan 5% untuk dana sosial. Hal ini
menunjukkan bahwa LPD mempunyai peranan dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat desa adat.
Berdasarkan uraian pentingnya tanggung jawab sosial atau CSR pada suatu
perusahaan/lembaga dan menurut Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8, Tahun 2002
tentang LPD yang mewajibkan LPD untuk membagi labanya 20 % untuk pembangunan desa
dan 5 % untuk dana sosial, maka penelitian ini memaparkan perlunya tanggung jawab sosial
LPD berdasarkan filosofi Tri Hita Karana.
2. Motivasi Penelitian
Motivasi dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai tanggungjawab
sosial Lembaga Perkreditan Desa (LPD) berdasarkan fiolosofi Tri Hita Karana
3. Teori yang Digunakan
Corporate Sosial Responsibility (CSR) sering juga disebut pengungkapan tanggung
jawab sosial merupakan penjelasan yang mengambarkan tanggung jawab sosial
perusahaan/lembaga terhadap masyarakat. CSR merupakan proses pengkomunikasian
dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok
khusus yang berkepentingan dan masyarakat secara keseluruhan (Hackston dan Milne,
1996).
Tri Hita Karana (THK) adalah sebuah filosofi masyarakat Hindu Bali. Filosofi THK
menekankan bahwa dalam proses kehidupan menuju hidup yang sejahtera, manusia
ditekankan untuk menjaga keserasian atau keharmonisan antara manusia dengan
pencipatnya, yakni Tuhan Yang Maha Esa (parhyangan), manusia dengan
alam/lingkungannya (palemahan), dan manusia dengan sesamanya (pawongan)
sebagai suatu kesatuan yang utuh (Sudibya, 1997; Surpha, 2004; Wiana, 2004;
Windia, 2006; Ashrama, 2005; Dinas Kebudayaan Bali, 2008 dalam Dwirandra,
2011).
Pengertian LPD menurut Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 8, Tahun 2002 adalah
usaha keuangan milik desa yang melaksanakan kegiatan usaha di lingkungan desa dan
untuk krama desa. LPD merupakan lembaga keuangan milik desa pakraman yang
telah berkembang dan memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan budaya pada
anggotanya.
4. Masalah Penelitian
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk pertanggungjawaban sosial
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) berdasarkan filosofi Tri Hita Karana?
5. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif.
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap lingkungan desa pekraman
dalam kaitannya dengan upaya pertanggungjawaban sosial yang diberikan oleh Lembaga
Perkreditan Desa (LPD) dengan filosifi Tri Hita Karana.
6. Simpulan
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) merupakan lembaga keuangan milik desa pakraman
yang telah berkembang dan memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan budaya kepada
anggotanya. Sebagai lembaga keuangan milik desa adat di Bali, LPD menjalankan usahanya
juga menekan pada ajaran filosofi Tri Hita Karana yang mengacu pada menjaga hubungan
harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (parhyangan), hubungan harmonis
antara manusia dengan sesamanya (pewongan) dan hubungan harmonis antara manusia
dengan alam di sekitarnya (palemahan). Berdasarkan filosofi THK yang secara sadar dan
nyata telah diterapkan oleh masyarakat di Bali, maka LPD juga memiliki tanggung jawab
sosial pada masyarakat tempat LPD berdiri. Tanggung jawab sosial LPD meliputi tanggung
jawab sosial yang berhubungan dengan filosofi THK. Sebaiknya untuk masa yang akan
datang tanggung jawab sosial LPD dilaporkan dalam catatan laporan keuangan LPD atau
laporan pertanggungjawaban sosial LPD.