Anda di halaman 1dari 11

Patofisiologi

Tuberkulosis Primer
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru,
dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut sarang primer atau afek
primer. Sarang primer ini mugkin timbul di bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang
reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus
(limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional dikenal sebagai
kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut(Amin &
Bahar, 2014; PDPI, 2006):
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang ghon, garis fibrotik,
kalsifikasi di hilus), dan 10% diantaranya dapat reaktivasi lagi karena kuman yang
dormant.
3. Komplikasi dan Menyebar dengan cara :
a) Perkontinuitatum, yaitu menyebar kesekitarnya
b) Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya.
c) Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Kejadian penyebaran ini sangat
bersangkutan dengan daya tahan, tubuh, jumlah dan virulensi basil. Sarang
yangditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetapibila tidak terdapat imuniti
yang adekuat, penyebaranini akan menimbulkan keadaan cukup gawat
sepertituberkulosis milier, meningitis tuberkulosa,typhobacillosis Landouzy. Penyebaran
ini juga dapatmenimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya,misalnya tulang, ginjal,
anak ginjal, genitalia dansebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkinberakhir
dengan :Sembuh dengan meninggalkan sekuele(misalnya pertumbuhan terbelakang
pada anaksetelah mendapat ensefalomeningitis,tuberkuloma) ataumeninggal.
Gambar 2.3: Skema Patogenesis Infeksi Primer Tb paru
Tuberkulosis Post-Primer (Sekunder)
Tuberkulosis postprimer akan muncul bertahun-tahun kemudian setelah tuberkulosis
primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis postprimer mempunyai nama yang
bermacam-macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis
menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang terutama menjadi masalah kesehatan
masyarakat, karena dapat menjadi sumber penularan. Tuberkulosis postprimer dimulai dengan
sarang
dini, yang umumnya terletak di segmen apikal lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini
ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumoni kecil. Sarang pneumoni ini akan mengikuti salah
satu jalan sebagai berikut(Amin & Bahar, 2014; PDPI, 2006):
Diresopsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat. Sarang tersebut akan meluas dan
segera terjadi proses penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan
terjadi pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sarang tersebut dapat
menjadi aktif kembali dengan membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila
jaringan keju dibatukkan keluar.
Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti akan
muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis,
kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik). Kaviti tersebut akan menjadi:
Meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoni baru. Sarangpneumoni ini akan
mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan di atas.
Memadat dan membungkus diri (enkapsulasi), dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma
dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan
menjadi kaviti lagi.
Bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh
dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil Kemungkinan berakhir sebagai kaviti
yang terbungkus dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped).

Gambar 2.4: Skema perkembangan sarang tuberculosis post primer dan


perjalanan penyembuhannya
Isoniazid
Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang sering disingkat dengan INH. Hanya satu
derivatnya yang diketahui, menghambat pembelahan kuman tuberkulosis, yakni iproniazid, tetapi
obat ini terlalu toksik untuk manusia. (Farmakologi dan Terapi FK UI, 2009)
Efek Antibakteri
Isoniazid secara in vitro bersifat tuberkulostatik dan tuberkulosid dengan KMH (kadar
hambatan minimum) sekitar 0,025-0,05 g/ml. pemebelahan kuman masih berlangsung 2 sampai
3 kali sebelum dihambat sama sekali. Efek bakterisidnya hanya terlihat pada kuman yamg
sedang tumbuh aktif. Mikroorganisme yang sedang istirahat mulai lagi dengan pembelahan
biasa bila kontaknya dengan obat dihentikan. Di antara mikrobakteria atipik biasanya hanya M.
kansasii yang peka terhadap isoniazid, tetapi sensitifitasnya harus selalu diuji secara in vitro
karena kuman ini memerlukan kadar hambat yang lebih tinggi. Pada uji hewan, ternyata aktivitas
isoniazid lebih kuat dibandingkan streptomisin. Isoniazid dapat menembus ke dalam sel dengan
mudah. (Farmakologi dan Terapi FK UI, 2009)
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja isoniazid belum diketahui, tetapi ada beberapa hipotesis yang diajukan,
di antaranya efek pada lemak, biosintesis asam nukleat dan glikolisis. Ada pendapat bahwa efek
utamanya ialah menghambat asam mikolat (mycolicic acid) yang merupakan unsur penting
dinding dinding sel mikrobacterium. Isoniazid kadar rendah mencegah perpanjangan rantai asam
dan menurunkan jumlah asam lemak yang terekstasi oleh methanol dari mikrobakterium. Hanya
kuman peka yang menyerap obat ke dalam selnya, dan ambilan ini merupakan proses aktif.
(Farmakologi dan Terapi FK UI, 2009)
Resistensi
Petunjuk yang ada memberikan kesan bahwa mekanisme terjadinya resistensi
berhubungan dengan kegagalan obat mencapai kuman atau kuman tidak menyerap obat.
Pengobatan dengan INH ini juga dapat menyebabkan timbulnya timbulnya strain baru yang
resisten. Perubahan sifat dari sensitive menjadi resisten biasanya terjadi dalam beberapa minggu
setelah pengobatan dimulai. Waktu yang diperlukan untuk timbulnya resistensi berbeda pada
kasus yang berlainan. (Farmakologi dan Terapi FK UI, 2009)
Farmakokinetik
Isoniazid mudah di absorbsi pada pemberian oral mapun parental. Kadar puncak dicapai
dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral. Di hati, isoniazid terutama mengalami asetilasi dan
pada kecepatan metabolism ini dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna
mempengaruhi kadar obat dalam plasma dan waktu paruhnya. Asetilator cepat didapatkan pada
orang-orang Eskimo dan Jepang, asetilator lambat terutama pada orang Skandavia, Yahudi dan
Afrika Utara. Asetilasi cepat merupakan fenotip yang dominan heterozigot dan homozigot. Pada
penderita yang tergolong asetilator cepat, kadar isoniazid dalam sirkulasi berkisar antara 30-50%
kadar pada penderita dengan asetilasi lambat. Masa paruhnya pada keseluruhan populasi antara 1
sampai 3 jam. Masa paruh rata-rata pada asetilator cepat hamper 80 menit, sedangkan nilai 3 jam
adalah khas untuk asetiltor lambat. Masa paruh obat ini dapat menunjang jika terjadi insufisiensi
hati. Perlu ditekankan bahwa kecepatan asetilasi ini tidak berpengaruh pada efektivitas atau
toksisitas isoniazid bila obat inni diberikan setiap hati. Tetapi, bila penderita tergolong asetilator
cepat dan mendapat isoniazid seminggu sekali maka penyembuhannya mungkin kurang baik.
Isoniazid mudah berdifusi ke dalam sel dan semua cairan tubuh. Obat terdapat dengan
kadar yang cukup dalam cairan pleura dan cairan asites. Kadar dalam cairan serebrospinal kira-
kira 20% kadar dalam cairan plasma. Isoniazid mudah mencapai material kaseosa. Kadar obat ini
pada mulanya lebih tinggi dalam plasma dan obtot daripada dalam jaringan yang terinfeksi,
tetapi kemudian obat tertinggal lama di jatingan yang terinfeksi dalam jumlah yang lebih dari
cukup sebagai bakteriostatik.
Antara 75-90% isoniazid disekresi melalui urin dalam waktu 24 jam dan seluruhnya
dalam bentuk metabolit. Eksresi terutama dlam bentuk asetil isoniazid yang merupakan metabolit
hasil proses asetilasi, dan asam nikotinat yang merupakan metabolit proses hidrolisis. Sejumlah
kecil diekskresi dalam bentuk isonikotinil glisin dan isonikotinil hidrazon dan dalam jumlah
yang kecil sekali berupa N-metil-isoniazid. (Farmakologi dan Terapi FK UI, 2009)
Efek Samping
Reaksi hipersensitivitas mengakibatkan demam, berbagai kelainan kulit berbentuk
morbiliform, makulopapular dan urtikaria. Reaksi hematologik dapat juga terjadi seperti
agranulositosis, trombositopenia, dan anemia. Vaskulitis yang berhubungan dengan antibodi
antinuclear dapat juga terjadi selama pengobatan, tetapi menghilang bila pemakaian obat
dihentikan. Gejala arthritis juga dapat terjadi seperti sakit pinggang; sakit sendi interfalang
proksimal bilateral; atralgia pada lutut, siku dan pergelangan tangan.
Neuritis perifer paling banyak terjadi dengan dosis isoniazid 5 mg/kgBB/hari. Bila
pasien tidak diberi piridoksin frekuensinya mendekati 2%. Bila diberikan dosis lebih tinggi, pada
sekitar 10% sampai 20% pasien dapat terjadi neuritis perifer. Profilaksis dengan pemberian
piridoksin mencegah terjadinya neuritis perifer dan juga berbagai gangguan sistem saraf yang
mungkin terjadi termasuk akibat pengobatan yang berjangka sampai 2 tahun.
Perubahan neuropatologik yang berhubungan dengan efek samping antara lain
menghilangnya vesikel sinaps, membengkaknya mitokondria dan pecahnya akson terminal.
Biasanya juga terjadi perubahan pada ganglia di daerah lumbai dan sacrum. Pemberian
piridoksin sangat bermanfaat untuk mencegah perubahan tersebut. Pada pemberian isoniazid,
eksresi piridoksin meningkat dan konsentrasinya dalam plasma menurun sehingga member
gambaran seperti difisiensi piridoksin.
Isoniazid dapat mencetuskan terjadinya kejang pada pasien dengan riwayat kejang.
Neuritis optic dengan atropi dapat juga terjadi. Gambaran ialah kedut otot, vertigo, ataksia,
parestesia, stufor dan ensefalopati toksis yang dapat berakhir fatal. Kelainan mental dapat juga
terjadi selama menggunakan obat ini diantaranya euphoria, kurangnya daya ingat sementara,
hilangnya pengendalian diri dan psikosis. Sedasi yang berlebihan atau inkoordinasi dapat muncul
jika isoniazid diberikan bersama fenitoin karena isoniazid menghambat parahidroksilasi
antikonsulvan tersebut. Efek samping ini hanya terjadi pada penderita asetilator lambat.
Isoniazid dapat menimbulkan ikterus dan kerusakan hati yang fatal akibat terjadinya
neksrosis multilobular. Penggunaan obat ini pada penderita yang menunjukan adanya kelainan
fungsi hati kaan menyebabkan bertambah parahnya kerusakan hati. mekanisme . peranan alcohol
juga dipertanyakan. Umur merupaka factor yang sangat penting untuk memperhitungkan resiko
efek toksik pada hati. Kerusakan isoniazid pada hati jarang terjadi pada penderita yang berumur
di bawah 35 tahun. Makin tinggi umur seseorang makan sering ditemui kelainan ini. Kalianan
yang paling banyak ditemui ialah meningkatnya aktivitas enzim transaminase. Penderita yang
mendapat INH hendaknya selalu diamati dan dinilai kemungkinan adanya gejala-gejala hepatitis,
kalau perlu diperiksa aktivitas enzim serum glutamic-oxal-acetic transminase (SGOT). Hepatitis
karena pemberian isoniazid ini terjadi antara 4-8 minggu setelah pengobatan dimulai. Pemberian
isoniazid pada penderita dengan riwayat penyakit hati harus dilakukan dengan hati-hati.
Efek samping lain yang terjadi adalah mulut terasa kering, rasa tertekan pada ulu hati,
methemoglobinemia, tinnitus dan retensi urin. Bila penderita sebelumnya telah mempunyai
predisposisi defisiensi piridoksin, pemberian INH dapat menimbulkan anemia. Pengobatan
dengan vitamin B6 dosis besar akan menyebabkan gambaran darah normal kembali.
Dosis isoniazid yang berlebih misalnya karena usaha bunuh diri dapat menyebabkan
koma, kejang-kejang, asidosis metabolik dan hiperglikemia. Piridoksin digunakan sebagai
antidotnya dengan dosis sesuai dengan besarnya dosis INH yang ditelan. (Farmakologi dan
Terapi FK UI, 2009)
Status Dalam Pengobatan
Isoniazid masih tetap merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati semua tipe
tuberkulosis. Efek samping dapat dicegah dengan pemberian piridoksin dan pengawasan yang
cermat pada penderita. Untuk tujuan terapi, obat ini harus digunakan bersama obat lain; untuk
tujuan pencegahan dapat diberikan tunggal. (Farmakologi dan Terapi FK UI, 2009)
Sediaan dan Posologi
Isoniazid terdapat dalam bentuk tablet 50, 100, 300 dan 400 mg serta sirup 10 mg/mL.
Dalam tablet kadang-kadang telah ditambahkan vitamin B6. Isoniazid biasanya diberikan dalam
dosis tunggal per orang tiap hari. Dosis biasa 5 mg/kgBB, maksimum 300 mg/hari. Untuk
tuberkulosis berat dapat diberikan 10 mg/kgBB, maksimum 600 mg/hari, tetapi tidak ada bukti
bahwa dosis demikian besar ini lebih efektif. Anak dibawah 4 tahun dosisnya 10 mg/kgBB/hari.
Isoniazid juga dapat diberikan secara intermitten 2 kali seminggu dengan dosis 15
mg/kgBB/hari. Piridoksin diberikan dengan dosis 10 mg/hari. (Farmakologi dan Terapi FK UI,
2009)
Terapi Farmakologis

Obat Efficacy Safety Suitability Cost


Isoniazid +++ + + +++
FD: Menghambat ES: Mual, muntah, KI: Drug Rp 23.000/ 120
asam mikolat konstipasi; neuritis induced liver mL x 1 Sir
(mycolicic acid) yang perifer dengan dosis disease (obat s/d
merupakan unsur tinggi (diperlukan dapat Rp 237.000/
penting dinding profilaksis menginduksi 100 Tab Forte
dinding sel piridoksin), neuritis timbulnya
mikrobacterium. optik, konvulsi, penyakit hati).
Isoniazid kadar rendah episode psikosis, Hipersensitivitas
mencegah vertigo; reaksi terhadap
perpanjangan rantai hipersensitivitas isoniazid atau
asam dan menurunkan termasuk demam, komponen lain
jumlah asam lemak eritema multiforma, dalam sediaan ;
yang terekstasi oleh purpura; gangguan penyakit hati
methanol dari darah termasuk akut, riwayat
mikrobakterium. agranulositosis, kerusakan hati
FK: A: pada anemia haemolitik, selama terapi
pemberian oral mapun anemia aplastik; dengan
parental. Kadar hepatitis (terutama isoniazid
puncak dicapai dalam umur diatas 35
waktu 1-2 jam setelah tahun); syndrom like-
pemberian oral. systemic lupus
D: ke dalam sel dan erythematosus,
semua cairan tubuh. pellagra, hyper
Obat terdapat dengan reflexia,
kadar yang cukup hiperglikemia dan
dalam cairan pleura dilaporkan
dan cairan asites. ginekomastia
Kadar dalam cairan
serebrospinal kira-kira
20% kadar dalam
cairan plasma.
Isoniazid mudah
mencapai material
kaseosa.
M: Melalui hati
dengan penurunan
kecepatan
metabolisme
tergantung pada tipe
asetilator. Asetilator
cepat : 30-100 menit ;
asetilator lambat : 2-5
jam; terjadi
perpanjangan pada
pasien dengan
kerusakan hati dan
ginjal yang berat
E: Antara 75-90%
isoniazid disekresi
melalui urin dalam
waktu 24 jam dan
seluruhnya dalam
bentuk metabolit.
Komunikasi Terapi
Informasi Penyakit
- Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium Tuberculosis). Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2, yaitu
umum seperti: demam, lemas, keringat malam, penurunan nafsu makan yang
menyebabkan berat badan menurun. Dan gejala khusus (pada pernapasan): batuk 3
minggu, batuk darah, sesak napas, nyeri dada.
- Beberapa cara untuk mendiagnosis penyakit ini, antara lain: Rontgen dada, tes Mantoux,
tes darah, tes dahak.
- Pengobatan yang dibutuhkan adalah dengan mengonsumsi beberapa jenis antibiotik
dalam jangka waktu tertentu. Dan langkah utama untuk mencegah TB adalah dengan
vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Vaksin ini wajib dan diberikan sebelum bayi
berusia 2 bulan.
- Apabila tidak diobati, bakteri TB dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan berpotensi
mengancam jiwa pengidap. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah: nyeri
tulang punggung; meningitis; kerusakan sendi; gangguan hati, ginjal, atau jantung.
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Z., & Bahar, A. (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I : Tuberkulosis paru (6
ed.). Jakarta Pusat: Interna Publishing: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Istiantoro, Yati H. dan Setiabudy, Rianto 2009. Tuberkulostatik dan Leprostatik. Dalam:
Ganiswarna, Sulistia G, editor. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; hal. 613-616.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. (2006). Tuberkulosis. Perhimpunan Diagnostikdan
Penatalaksanaan Tuberkulosis Indonesia.