Anda di halaman 1dari 20

TUGAS TEORI AKUNTANSI

Chapter 8

Liabilities and owners equity

Kelompok 2 :

Cornelia Putri W 150422012

Christoporus Dika Adiatma 150422013

Natalia Putri Candra 150422118

Devita Amalia 150422403

UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA 2017


Perusahaan memiliki aset karena pemiliki atau pihak lain tealah memasok dana untuk
mengakuisisi aset. Ada dua macam klaim: dari kreditur ( liabilitas) dan dari pemilik ( ekuitas
pemilik). Hak pemilik dan kreditur itu berbeda. Liabilitas adalah kewajiban saat ini suatu entitas,
sedangkan ekuitas pemilik adalah kepentingan residu atau klaim, namun bukan kewajiban untuk
transfer aset.

LO 1 : TEORI HAK MILIK DAN ENTITAS

Ada dua teori yang dikemukakan untuk membantu memahami teori akuntansi, yaitu: Teori
Hak Milik, teori yang didasarkan pada ide bahwa pemilik menjadi pusat perhatian, dan Teori
Entitas, mengemukakan bahwa suatu bisnis merupakan sebuah entitas terpisah dan akuntansi
mencatat transaksi entitas.

Teori Hak Milik

Kepemilikan (proprietorship/P) menggambarkan kekayaan bersih suatu bisnis, disajikan


dalam persamaan berikut:

P=A-L

P menunjukkan kekayaan bersih pemilik bisnis. Sprague menyatakan bahwa:

Neraca kepemilikan adalah penjumlahan dari seluruh elemen pada beberapa waktu tertentu
yang merupakan kekayaan beberapa orang atau kelompok orang ... Tujuan keseluruhan
perjuangan suatu bisnis adalah peningkatan kekayaan, yaitu peningkatan hak milik.
Assets menjadi milik pemilik, dan liabilities menjadi kewajiban pemilik pula.
Berdasarkan keterangan ini, tampak bahwa tujuan akuntansi adalah untuk menentukan kekayaan
bersih pemilik.

Pendapatan dihasilkan dan beban dikeluarkan akibat dari keputusan dan perilaku pemilik.
Akun pendapatan dan beban merupakan subsidiary account (akun pembantu/ turunan) dari P,
yang dipisahkan sementara untuk menentukan keuntungan pemilik. Pendapatana dalah
penambahan kepemilikan; beban adalah pengurangan kepemilikan. Vatter menjelaskan:

Teori double entry (pembukuan berganda) didasarkan pada ide bahwa akun beban dan
pendapatan memiliki karakteristik algebra yang sama dengan kekayaan bersih, misalnya: akun
yang cenderung meningkatkan kekayaan bersih ditambahkan pada sisi kredit, akun yang
cenderung menurunkan kekayaan bersih ditangani secara sebaliknya (menambah sisi debit).

Sehingga, laba bersih merupakan kenaikan kekayaan pemilik selama periode tertentu. Jika
hal ini merupakan apa yang digambarkan sebagai pendapatan, maka harus mencakup seluruh aspek
yang memengaruhi perubahan kekayaan bersih pemilik selama periode tersebut. Contoh: nilai
intrinsik dari judul surat kabar bisa jadi bertambah dan dapat menarik premi signifikan kepada
pemilik jika terealisasi (terjual)

Kebanyakan, praktik akuntansi saat ini berdasarkan pada teori kepemilikan. Dividen lebih
dianggap sebagai distribusi keuntungan ketimbang beban, karena merupakan pembayaran kepada
pemilik. Bagi pemilik tunggal maupun persekutuan, gaji yang dibayarkan dibayarkan kepada
pemilik yang juga bekerja pada perusahaan tidak dianggap sebagai beban, Karena pemilik dan
perusahaan merupakan entitas yang sama tidak dapat membayar dirinya dan menguranginya
sebagai biaya. Metode ekuitas untuk investasi jangka panjang mengakui kepemilikan atau
kepentingan hak dari perusahaan investor. Hal ini, mengizinkan perusahaan investor untuk
mencatat persentase bagian laba investasi sebagai profit.

Pandangan modal keuangan lebih tepat menganut teori kepemilikan (ketimbang modal
fisik). Pandangan modal keuangan memperluas investasi keuangan pemilik; pandangan modal
fisik berfokus pada kemampuan perusahaan untuk mempertahankan tingkat operasi fisiknya (tanpa
memperhatikan klaim kepemilikan). Jika perusahaan membutuhkan sumber daya tambahan, dana
dapat diperoleh dari sumber daya pribadi pemilik.

Modal = jumlah kas yang diinvestasikan pemilik + keuntungan (yang diinvestasikan oleh
simpanan). Banyak orang mengadopsi pandangan keuangan atas modal, dan hal itu juga menjadi
praktik akuntansi konvensioal tradisional.

Pandangan kepemilikan dalam akuntansi dikembangkan saat bisnis masih kecil (saat masih
berbentuk milik pribadi/persekutuan). Dengan munculnya perusahaan, teori ini tidak cukup
menjadi dasar untuk menjelaskan akuntansi perusahaan.. Perusahaan (bukan pemegang saham)
menguasai aset dan menanggung kewajiban bisnis. Tidak hanya perusahaan memikul kewajiban
bisnis, namun dengan adanya ciri kewajiban terbatas, logis jika pemegang saham
bertanggung jawab atas kewajiban perusahaan. Akuntabilitas (pertanggungjawaban)
terhadap pemilik merupakan fungsi signifikan dari suatu perusahaan besar, karena adanya gap
antara manajemen dengan pemegang saham. Bagi perusahaan kecil, pemilik mengetahui status
keuangan bisnisnya gagasan tentang akuntabilitas/ stewardship tidak begitu berarti. Sebaliknya,
pada perusahan, kontak antara pemegang saham dengan urusan terkait perusahaan sangat minim.

Teori Entitas

Teori entitas dirumuskan sebagai respon atas kekurangan dari pandangan kepemilikan tentang
status hukum terpisah dari suatu perusahaan. Teori ini melampaui asumsi entitas akuntansi
mengenai pemisahan urusan bisnis dan pribadi. Martin menguraikan dua asumsi terkait yang
diwujudkan dalam gagasan sebuah entitas akuntansi, yaitu:

1. Pemisah untuk tujuan akuntansi, perusahaan dipisahkan dari pemiliknya.


2. Sudut pandang prosedur akuntansi, dilakukan dari sudut pandang entitas.

Meski teori entitas secara khusus cocok untuk akuntansi perusahaan, pendukungnya percaya
teori ini dapat diterapkan pada organisasi milik perseorangan, persekutuan, bahkan nirlaba,
apabila:

akun dan transaksi diklasifikasikan dan dianalisis dari sudut pandang entitas sebagai
sebuah unito perasi;
prinsip dan prosedur akuntansi tidak dirumuskan dalam hal kepentingan tunggal, seperti
pada organisasi milik perseorangan

Paton menyatakan, untuk setiap perusahaan bisnis:

Ini adalah bisnis dengan sejarah keuangan di mana petugas pembukuan dan akuntannya
sedang mencoba mencatat dan menganalisis; buku dan akun merupakan catatan bisnis;
laporan periodik operasi dan posisi keuangan merupakan laporan bisnis.

Entitas bukanlah seseorang dan tidak dapat bertindak dengan sendirinya. Ia adalah sebuah
institusi, meski demikian ia merupakan suatu hal yang sangat nyata, menurut Paton.
Keberadaannya nyata dan terukur, bahlan memiliki kepribadian sendiri. Bagi sebuah
perusahaan, sekali modal sahamnya diterbitkan, kehidupan perusahaan tidak bergantung pada
kehidupan pemegang sahamnya. Dari sudut pandang akuntansi, entitas setiap area kepentingan
ekonomi yang keberadaannya terpisah dari pemiliknya (entitas sebagai unit independen).

Dalam sudut pandang ini, tujuan akuntansi boleh jadi untuk stewardship atau akuntabilitas.
Interpretasi yang lebih baru memandang entitas seperti berbisnis untuk dirinya sendiri dan tertarik
pada kelangsungan hidupnya sendiri.

Meskipun kedua versi focus kepada unit independen, pandangan tradisional mengatakan
bahwa pemilik entitas rekan bisnis, pandangan yang lebih baru pemilik orang luar. Keduanya
membuat muatan informasi laporan keuangan untuk pengambilan keputusan (yang mana telah
ditekankan dalam beberapa tahun terakhir) dapat dicerna dengan mudah.

Dalam teori ini, fokus persamaan akuntansinya adalah aset dan ekuitas. Kekayaan bersih
pemilik tidak menjadi konsep yang berarti, karena entitaslah yang menjadi pusat perhatian.
Pemilik dan kreditor keduanya dipandang secara sederhana sebagai pemilik ekuitas, penyedia
dana. Persamaan akuntansinya :

Assets = Equities

Neraca menggambarkan aset entitas, di mana Paton merujuknya sebagai penyajian


kembalilaporan langsung mengenai nilai entitas, dan ekuitas ia sebut sebagai ungkapan tidak
langsung dari total yang sama. Aset merupakan milik perusahaan, dan liabilitas merupakan
kewajiban perusahaan, bukan pemilik. Setelah menerima dana dari pemilik ekuitas, perusahaan
menginvestasikan dana tersebut dalam bentuk aset. Untuk aset-aset nonmoneter, nilainya
sebesar harga pembelian aslinya. Sayangnya, akuntabilitas tidak memandang perlu pelacakan nilai
asli investasi. Pemilik ekuitas juga tertarik terhadap perubahan nilai investasi mereka. Current
value advocates (nilai pendukung saat ini) menunjukkan teori entitas berasumsi bahwa investor
tidak begitu dekat dengan bisnis untuk membuat sendiri penyesuaian nilai. Sehingga, akuntabilitas
meyiratkan bahwa penyesuaian tersebut (yakni perubahan nilai) harus dilaporkan. Dapat
dikatakan, entitas perlu mengetahui nilai kini asetnya untuk membuat keputusan yang tepat.

Dalam pandangan entitas, pendapatan arus masuk aset karena transaksi yang dilakukan
oleh perusahaan; beban biaya aset dan pelayanan lain yang dikeluarkan perusahaan untuk
menghasilkan pendapatan pada periode ybs (mengurangi kekayaan aset entitas). Konsep
kepemilikan berkonsentrasi pada variabel P pada persamaan akuntansi. Konsep entitas berfokus
pada sisi lain dari persamaan tersebut, yaitu A. Hal ini karena aset dipandang sebagai sesuatu yang
nyata dikelola oleh perusahaan, sedangkan ekuitas lebih abstrak, yang berkaitan dengan klaim
atas aset suatu cara tidak langsung(sebagaimana disebutkan Paton) dalam memandang nilai
aset.

Aset dan beban pada dasarnya bersifat sama; keduanya menyediakan jasa. Muncul
pertanyaan sederhana, apakah jasa tersebut langsung habis atau disisakan untuk penggunaan di
masa depan. Karakteristik dasar pendapatan adalah menghasilkan lebih banyak aset,
sedangkan beban pada akhirnya mengurangi aset:

Dengan demikian, teori akuntansi mestinya menjelaskan konsep pendapatan dan


beban dalam hal perubahan aset perusahaan, bukan meningkat/menurunnya ekuitas milik
pemegang saham.

Laba bersih terutang pada perusahaan. Jika demikian, mengapa laba bersih tersebut ditutup
ke saldo laba, seolah-olah milik pemegang saham? Paton dan Littleton berpendapat bahwa
pemegang saham memiliki klaim residu kontraktual atas aset, dan hal ini menjadi alasan mengapa
laba bersih ditempatkan pada laba ditahan. Interpretasi yang lebih baru: akun laba ditahan
ekuitas perusahaan/investasi dalam dirinya sendiri. Pembayaran untuk penggunaan uang
merupakan beban (karena kreditor maupun pemegang saham dianggap sebagai pihak eksternal).
Sehingga, beban bunga, dividen, maupun pajak pendapatan merupakan beban bisnis, karena
mengurangi nilai ekuitas milik entitas itu sendiri.

Kesimpulan: teori kepemilikan maupun teori entitas keduanya berpengaruh dalam praktik.
Teori akuntansi konvensional berdasarkan pada konsep entitas, dan laporan keuangan
mencerminkan pandangan entitas (fokusnya pada dividen dan earnings per share). Perusahaan
memperdagangkan sahamnya sendiri menunjukkan pasar menerima bahwa mereka adalah entitas
yang terpisah. Meskipun demikian, pandangan kepemilikan juga berpengaruh, misal: (berdasarkan
konsep kepemilikan) beban bunga dianggap sebagai expense dan dividen sebagai distribusi
keuntungan

LO 2 : DEFINISI KEWAJIBAN
Kewajiban adalah elemen kunci dalam akuntansi. Bagaimana mendefinisikan bagaimana
pengakuan dan pengukuran kewajiban dalam akuntansi.
IASB Kerangka Definisi ayat 49 (b) mendefinisikan kewajiban adalah:
Kewajiban dimasa kini atas perusahaan yang timbul dari peristiwa masa lalu, dimana ketika jatuh
tempo dapat mengakibatkan arus keluar atas sumber daya dari perusahaan yang mempunyai suatu
manfaat ekonomis
Definisi tersebut mengandung dua komponen arti:
- Kewajiban sekarang, membutuhkan penyelesaian di masa mendatang
- Hasil dari transaksi masa lampau atau kejadian masa lalu lainnya.
Kewajiban Kini (Present Obligation)
Definisi dari Kerangka Kerja (The Framework) menegaskan bahwa kewajiban akan
mengurangi manfaat ekonomis. Definisi ini berfokus pada kejadian dimasa depan seperti
pengorbanan yang belum dilakukan. Definisi ini serupa dengan aset yang berfokus pada peristiwa
masa depan. Dengan demikian,pengorbanan sebenarnya belum dilakukan. Pertimbangan yang
mendasarinya adalah bahwa sebuah kewajiban berkaitan dengan pengorbanan di masa
depan.Misalnya,hutang merupakan kewajiban lancar yang timbul dari penyediaan layanan
(kejadian masa lalu oleh pihak luar) pemeliharaan yang direncanakan dapat menjadi kewajiban
jika ada kewajiban saat ini kepada pihak eksternal (yaitu kontrak) untuk menyelesaikan
pemeliharaan. Suatu rencana untuk menyelesaikan pemeliharaan di masa depan tanpa komitmen
kepada pihak eksternal tidak akan menimbulkan kewajiban sekarang.
Berdasarkan paragraf 62 dari kerangka kerja (The Framework) menyatakan bahwa
"Penyelesaian" dari kewajiban kini dapat terjadi dalam berbagai cara:
(1) Pembayaran Tunai
(2) Transfer Asset Lainnya
(3) Penyediaan Jasa
(4) Penggantian/Replacement Kewajiban dengan Kewajiban Lainnya
(5) Konversi dari Kewajiban ke Ekuitas
(6) Kreditur Menghapuskan Kewajiban tersebut.
Dari metode penyelesaian kewajiban diatas, hanya poin 1 dan 2 yang melibatkan arus keluar
atas aset yang diakui oleh entitas. Misalnya,hutang dagang akan diselesaikan secara tunai (arus
keluar aset) sedangkan kewajiban untuk pendapatan diterima dimuka (pendapatan dibayar dimuka)
diselesaikan oleh penyedia barang dan jasa.
Transaksi Masa Lalu (Past Transaction)
Syarat dari sebuah kewajiban adalah keharusan bahwa kewajiban tersebut merupakan hasil
dari transaksi di masa lalu memastikan bahwa hanya kewajiban muncul di masa kini-lah yang
dicatat,bukan kewajiban yang muncul di masa depan. Tetapi, kondisi dari kejadian di masa lalu
mungkin sulit ditafsirkan. Sehingga perusahaan menempatkan pemasok untuk membeli
persediaan,peraturan ini menentukan bahwa kewajiban adalah barang yang diterima. Kontrak
pelaksana sepenuhnya memberikan kasus yang menarik untuk menfsirkan istilah kejadian di masa
lalu. Sehingga menimbulkan pertanyaan, apakah penandatanganan kontrak menimbulkan
munculnya liabilitas? Dengan asumsi bahwa pembeli harus melakukan pembayaran terlepas dari
apakah produk atau layanan tersebut diterima,kewajiban untuk mengorbankan manfaat ekonomi
masa depan (oleh entitas lain tanpa syarat sejak penandatanganan kontrak) kewajiban pembelian
dengan penandatangan merupakan tanggungjawab,yang timbul dari masa lalu. Salah satu
contohnya yaitu berkaitan dengan skema reward maskapai penerbangan. Apakah frequent flyer
points menimbulkan pertanggungjawaban bagi industri penerbangan? Kita harus
mempertimbangkan apakah pemberian poin menciptakan kewajiban sekarang untuk
mengorbankan keuntungan di masa depan. Kita dapat membantah bahwa hal itu terjadi dan bahwa
peristiwa masa lalu adalah tindakan membeli tiket dan berpergian. Setelah penerbangan,poin
penghargaan maskapai penerbangan,yang menciptakan kewajiban untuk diselesaikan di masa
depan dengan menyediakan jasa layanan (memberikan tempat duduk gratis kepada pemegang
poin)
Pengakuan Kewajiban (Liability Recognition)
Saat definisi kewajiban terpenuhi, akuntan membutuhkan peraturan (rules) sebagai dasar
dalam penentuan atas pengakuan kewajiban tersebut. Jenis rules yang telah diterapkan di masa lalu
sama dengan yang diterapkan dalam pengakuan aset.
4 rules yang digunakan adalah:
- Kepercayaan pada hukum yang berlaku
- Penentuan substansi ekonomis atas suatu event
- Kemampuan untuk mengukur nilai kewajiban tersebut
- Penggunaan prinsip konservatif.
Jika ada klaim yang berkekuatan hukum resmi, tidak ada keraguan bahwa terdapat sebuah
kewajiban didalamnya. Walaupun equitable or constructive obligation ( kewajiban yang adil dan
konstruktif) terdapat di dalam definisi kewajiban, kebanyakan kewajiban tersebut ditentukan atas
dasar klaim yang sah terhadap entitas yang wajib memenuhi kewajiban tersebut.
Kriteria kedua mensyaratkan bahwa harus ada pertimbangan substansi ekonomis atas suatu
transaksi. Apakah muncul kewajiban yang nyata ? seberapa penting pencatatan dan penyajian
event atas kewajiban didalam Balance Sheet kepada user ? kita mengambil contoh dari Perusahaan
Hardie James menemukan bahwa sebagian karyawan dan keluarganya terserang penyakit sebagai
konsekuensi dari adanya penambangan dan karena tinggal di antara asbes pada kawasan
Wittenoom di Western Australia. Perusahaan memahami bawa mereka harus memberikan
kompensasi bagi penderita penyakit tersebut. Para pemegang saham dan investor prihatin dengan
besarnya arus keluar manfaat ekonomi yang terkait dengan pengaturan kompensasi,sementara
karyawan dan keluarga mereka peduli dengan jumlah yang telah disediakan perusahaan untuk
memenuhi kebutuhan mereka saat ini dan prospek potensial di masa depan. Dalam beberapa tahun
terakhir,banyak pemangku kepentingan (seperti pemegang saham kreditor,karyawan dan
masyarakat) menjadi prihatin dengan perusaahaan sehubungan dengan dampaknya perubahan
lingkungan.
Kriteria ketiga terkait dengan penentuan nilai kewajiban. Untuk beberapa kewajiban, nilai
kewajiban ditentukan berdasarkan contract price, seperti jumlah kas yang dibayarkan untuk
barangdan jasa yang diterima. Tetapi, nilai kewajiban mungkin berbeda dengan nilai nominalnya.
Sebagai contoh, jika kewajiban jatuh tempo lebih dari 12 bulan, kita harus
mempertimbangkan time value of money. Oleh karena itu, perhitungan nilai kewajiban harus
berdasarkan present value dari expected future cash flow, bukan berdasarkan nilai nominalnya.
Berdasarkan sejarah, akuntan menggunakan pedekatan konservatif untuk mengakui aset
dankewajiban. Secara umum, kewajiban seringkali dicatat terlebih dahulu daripada aset karena
lebih aman apabila aset understated daripada kewajiban yang understated.
Kerangka IASB 8
Kerangka IASB memberikan panduan terkait dengan pengakuan elemen-elemen yang terdapat
di dalam neraca dan laporan laba rugi.
Paragraf 82 menyatakan bahwa item yang memenuhi definisi harus diakui jika:
1. Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa depan berkaitan dengan item yang akan
mengalir ke dalam entitas
2. Item memiliki cost atau nilai yang dapat diukur dengan andal.
Paragraf 91 memberikan pedoman khusus tambahan. Ini menyatakan bahwa kewajiban
diakui di neraca apabila kemungkinan besar tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang
memiliki manfaat ekonomi yang muncul atas hasil dari penyelesaian kewajiban dimasa sekarang
dan jumlah penyelesaian kewajiban tersebut dapat diukur dengan andal. Isu kunci yang harus
dipertimbangkan terkait pengakuan kewajiban yaitu:
(a) Terdapat kemungkinan arus keluar atas suatu manfaat ekonomis
(b) Keandalan pengukuran kewajiban
Mungkin sulit untuk mengaplikasikan kedua isu kunci tersebut di dunia nyata. Sebagai
contoh,apa maksud dari terdapat kemungkinan? tetapi, mungkin terdapat perbedaan individu
dalam memperkirakan terdapat kemungkinan atas suatu event, yang akhirnya mengarah kepada
inkonsistensi dalam pengukuran kewajiban. Apa yang dimaksud dengan andal?
Kerangka menyatakan pengukuran yang dapat diandalkan adalah bebas dari kesalahan
material dan bias; selanjutnya item diukur sedemikian rupa sehingga mewakili apa yang
dimaksudkan (paragraf 31) yang menyatakan kerangka kerja ini secara khusus bahwa kewajiban
yang tidak dapat disertakan jika mereka tidak dapat diukur dengan andal (paragraf 86). Salah satu
contohnya adalah tindakan hukum. Jika kerusakan yang harus dibayar tidak dapat diestimasi secara
andal maka barang tersebut tidak dapat dikenali sebagai liabilitas. Dalam contoh tindakan hukum
menggambarkan perdagangan yang dibuat antara relevansi dan reliabilitas. Kemungkinan
keuntungan di masa depan dari manfaat ekonomi terkait dengan tuntutan hukum tersebut adalah
informasi yang relevan namun tidak diketahui jumlah yang salah dapat menyesatkan pengguna
informasi keuangan. Beberapa orang berpendapat bahwa pengukuran yang andal berarti
pengukuran yang dapat diverifikasi bahwa pengukuran dan pertanggungjawaban dapat dikaitkan
dengan bukti objektif seperti jumlah kontrak atau nilai pasar. Namun dalam banyak kasus akuntan
harus menggunakan keputusan untuk membuat estimasi terbaik atas suatu kewajiban.
Pertimbangkan misalnya klaim garansi kewajiban. Akuntan menggunakan data masa lalu yang
relevan (seperti tingkat klaim sebelumnya) dan informasi yang diprediksi (seperti tingkat
penjualan) untuk memperkirakan kewajiban. Jika estimasi cukup dapat diandalkan (uang hanya
akan diketahui di masa depan) maka informasinya akan juga relevan bagi pengguna informasi
keuangan.
LO.3 PENGUKURAN LIABILITAS

Petunjuk untuk melakukan pengukuran liabilitas yang sesuai dengan definisi dan kriteria
pengakuan di dalam kerangka konseptual jumlahnya sangat sedikit. Di dalam IFRS,
metode pengukuran liabilitas yang paling umum digunakan adalah biaya historis (atau biaya
historis yang modifikasi). Pengukuran dengan nilai wajar digunakan pada pengukuran awal untuk
transaksi liabilitas yang berhubungan dengan IAS 17 Lease, IAS 39 Recognition and
Measurement of Financial Instruments, IFRS 2 Share-based Payment, dan IFRS 3 Business
Combinations.

Liabilitas yang berhubungan dengan financial lease diakui di awal berdasarkan nilai wajar
leasing (dalam hal ini dapat berupa harga pasar dari properti leasing) atau nilai sekarang
dari pembayaran leasing jika lebih rendah. Pada tahun-tahun selanjutnya, liabilitas diukur
berdasarkan metode amortisasi biaya, yaitu biaya pada pengukuran awal (nilai pasar atau nilai
sekarang, jika lebih rendah) disesuaikan setiap tahun untuk menggambarkan estimasi nilainya saat
ini. Saldo liabilitas yang masih beredar berdasarkan metode suku bunga efektif untuk
amortisasinya. Pada financial lease, standar yang ada menjelaskan secara detail nilai dari liabilitas
leasing.

Biaya historis adalah metode yang paling umum digunakan untuk pengukuran kewajiban
setelah pengukuran awal. Dua contoh penggunaan nilai wajar untuk pengukuran setelah
pengukuran awal adalah kewajiban setelah berakhirnya masa kerja, seperti pensiun, dan provisi
jangka panjang. Kedua liabilitas ini bersifat jangka panjang dan sangat dipengaruhi oleh nilai
waktu uang.

Employee Benefits-pension (superannuation) plans

Di banyak negara, pensiun digunakan oleh perusahaan untuk menyediakan manfaat bagi
pekerja yang sudah tidak bekerja kembali. Perusahaan membayar dana pensiun kepada suatu
lembaga hokum terpisah yang memegang aset yang nantinya akan digunakan sebagai pembayaran
kepada pekerja yang pensiun.
Pensiun dapat bersifat contributory ( pekerja dan perusahaan berkontribusi untuk dana
pensiun) dan non-contributory (hanya pekerja yang berkontribusi). Untuk defined benefit fund,
jumlah dana yang dibayarkan kepada pekerja setidaknya merupakan sebagian kecil dari gaji rata-
rata atau gaji terakhir yang bersangkutan. Sedangkan pada defined contribution (atau accumulated
benefit)jumlah yang dibayarkan kepada pekerja sama seperti jumlah yang telah dikontribusikan
sebelumnya.

Tabel 8.1
Pengukuran Liabilitas dalam laporan keuangan konsolidasi IFRS
Dasar pengukuran yang diperbolehkan oleh
IFRS dan diadopsi dalam praktik Fair value option*
Non current liabilities
Long-term borrowings Amortisasi cost Tidak
Finance lease obligations Amortisasi cost Tidak
Nilai sekarang dari pembayaran yang
Defined benefit post
diharapakan lebih rendah daripada nilai wajar
employment obligation
perencanaan aset Tidak
Deffered tax Expected payment Tidak
Nilai sekarang dari pembayaran yang
Long-term provisions
diharapkan Tidak
Current Liabilities
Trade paybles Amortisasi cost Tidak
Derivatives Nilai Wajar -
Short-term borrowings Amortisasi cost Tidak
Current portion of long-
term borrowings Amortisasi cost Tidak
Other financial liabilities Amortisasi cost Ya
Current tax payble Expected payment Tidak
Short-term provisions Expected payment Tidak
Sumber: Cains 2007
*Fair Value option boleh digunakan hanya saat ada "ketidakcocokan perhitungan akuntansi" atau
saat liabilitas diatur dan dievaluasi dalam basis fair value dalam pencatatan dengan pencatatan
strategi resiko
Dana pensiun dapat berupa:

1. fully funded
2. partially funded, atau unfunded.

Karena pensiun dikelola oleh entitas legal yang terpisah, maka dapat diasumsikan jika unfunded
commitment dari rencana bukan merupakan liabilitas dari perusahaan yang membayar kepada
lembaga pengelola pensiun tersebut.

Provisions (Ketentuan) and Contingencies (Kontinjensi)

Paragraf 10 IAS 37/AASB 137 menyebutkan bahwa liabilitas kontijensi sebagai:

a. Kemungkinan kewajiban yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya dapat
dipastikan hanya dengan terjadinya atau tidak terjadinya peristiwa masa depan yang tidak
dapat dikontrol sepenuhnya oleh entitas, atau
b. Kewajiban saat ini yang muncul dari peristiwa masa lalu tetapi tidak diakui karena:
i. Tidak mustahil jika ada arus keluar dari sumber daya
ii. Jumlah kewajiban tidak dapat diukur dengan andal.

Paragraf 10 IAS 37/AASB 137 paragraf 14 tentang kriteria pengakuan untuk provisi sesuai
dengan kriteria pada kerangka konseptual untuk pengakuan liabilitas. Yaitu, liabilitas dan provisi
boleh untuk diakui hanya saat ada kewajiban masa kini, dimungkinkan adanya arus keluar dari
sumber daya, yang mendatangkan manfaat ekonomi, yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan kewajiban tersebut, dan jumlahnya dapat diukur dengan andal. Liabilitas
kontijensi tidak memenuhi kriteria tersebut, sehingga pada paragraf 27 disebutkan bahwa liabilitas
kontijensi tidak diakui dalam laporan keuangan. IAS 37 menjadi salah satu hal yang dibahan oleh
IASB dalam Liabilities project, dengan usulan untuk menghilangkan istilah provisi dan
liabilitas kontijensi dan menggantinya dengan non-financial liability.
IAS 37 membatasi penggunaan dari provisi. Contoh yang dapat dijumpai di perusahaan
antara lain provisi untuk kerugian yang tidak diasuransi (uninsured loss), provisi untuk
kemungkinan kerugian (possible loss), dan provisi untuk penataan kembali (restructuring).

Owners Equity / Ekuitas pemilik

Ekuitas pemilik adalah konsep dasar akuntansi ketiga yang tergambar dari persamaan
akuntansi, yang menggambarkan aset netto (aset-liabilitas) entitas (P=A-L). Sehingga ekuitas
pemilik merupakan hak pemilik pada aset netto entitas, dimana entitas sudah tidak memiliki
kewajiban saat ini yang harus dibayar.

Pertanyaan mendasar terkait jumlah ekuitas adalah apakan sebuah item merupakan liabilitas atau
ekuitas bagi entitas, sehingga untuk membedakannya dapat dilihat dari:

a. Hak para pihak yang berkepentingan (the rights of the parties)

b. Substansi ekonomi

Hal menurut hukum menjadi pertimbangan yang sangat penting, tetapi bukan satu-satunya dasar
pembeda kreditur dan pemilik.

a) Rights of the Parties

Salah satu hak yang diberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, baik berdasar hokum
maupun kebijakan perusahaan, berkaitan dengan hak prioritas untuk pembayaran (kembali)
jika perusahaan bangkrut. Dalam teori akuntansi, apapun bentuk hukum dari organisasi, entitas
diakui sebagai sebuah unit akuntabilitas atau pertanggungjawaban. Dengan demikian, kreditor
memiliki hak atas entitas, terutama atas asetnya.

Kreditur memiliki hak-hak berikut:

a. Penyelesaian atas hak mereka pada tanggal yang telah ditetapkan melalui transfer aset

(barang atau jasa)

c. Prioritas diatas pemilik pada penyelesaian hak saat likuidasi


b) Substansi Ekonomi

Baik liabilities maupun owners equity sama-sama menggambarkan klaim terhadap entitas.
Semua yang menuntut entitas menanggung risiko kerugian, tetapi karena kreditor berhak
melakukan klaim lebih awal, risikonya tidak sebanyak pemilik. Kunci perbedaan hak tersebut
terletak pada kreditor memiliki hak penyelesaian, sedangkan pemilik memiliki hak untuk
berpartisipasi dalam profit (residual profit). Perbedaan keduanya menggambarkan risiko ekonomi
dan metode pengembalian, kreditor menanggung lebih sedikit risiko dan menerima pengembalian
tetap relatif (relatively fixed return) dalam bentuk bunga dan pengembalian pokok. Secara umum,
pemilik mendelegasikan sebagian besar tanggung jawab dan kontrol tersebut kepada direktur dan
manajer.

Konsep Modal

Akuntansi untuk shareholders equity dipengaruhi oleh ketentuan hukum. Hal ini tercantum
dalam UU perusahaan Inggris, terutama dalam pasal keharusan untuk memelihara modal (capital
maintenance). UU ini menuntut perusahaan untuk memelihara secara utuh modal awal dan modal
berikutnya (dari keuntungan). Adapun kerangka akuntansi menjelaskan bahwa fungsi kegiatan
pemeliharaan modal tidak hanya dapat mendefinisikan modal sebagai residual interest dari entitas,
melainkan juga menjelaskan konsep modal. Modal dikonsepkan sebagai uang atau
purchasing power yang diinvestasikan (financial capital) atau sebagai kapasitas produksi entitas
(physical capital). Lebih lanjut, modal dapat diukur sebagai nominal mata uang ataupun skala riil
(purchasing power). Tujuan lainnya dari keharusan pemeliharaan modal adalah untuk melindungi
kreditor dengan menyedakan bemper.

Klasifikasi Dalam Owners Equity

Perbedaan antara nilai yang diinvestasikan (contributed capital-CC) dan nilai yang dire-
investasikan (earned capital-EC) dianggap sangat bermanfaat bagi akuntan. Rasionalisasi
dari pemisahan tersebut adalah CC terkait transaksi pembiayaan, sedangkan EC berasal dari
akifitas profit.

Laba ditahan (retained earnings/unappropriated profits) menjadi bagian dari EC. Retained
earnings mungkin tidak dibatasi/dicadangkan untuk tujuan khusus (karena retained earnings
bukanlah aset dan bukan ditujukan untuk aset tertentu). Namun, pada tahun 1950, Komite AAA
(American Accounting Association) menjelaskan tiga tujuan dari pembatasan retained earnings
sebagai berikut:

1.Didesain untuk menjelaskan kebijakan manajerial terkait re-investasi laba;

2.Dimaksudkan untuk membatasi dividen yang diwajibkan oleh hukum/kontrak; dan

3.Menyediakan cadangan untuk mengantisipasi kerugian.

LO 3 : TANTANGAN UNTUK PENGATURAN STANDAR

IASB memiliki beberapa proyek arus yang akan mempengaruhi definisi, pengakuan dan
pengukuran kewajiban, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kerangka konseptual, instrumen
keuangan, ketentuan, dan hak karyawan karyawan. Dewan menyetujui amortisasi IAS 37 / PSAK
55, Kewajiban Kontinjensi dan Aktiva Kontinjensi dan IAS 19 Imbalan Kerja sebagai bagian dari
proyek kewajiban. Tujuan dari proyek ini adalah untuk melakukan konvergensi standar IASB
dengan US GAAP dan memperbaiki standar yang berlaku terkait identifikasi dan pengakuan
liabilitas.

Tantangan yang dihadapi oleh penyusun standar dapat dijelaskan dalam tiga topic utama, yaitu :

1. Perbedaan antar klasifikasi item-item liabilitas dengan ekuitas.

2. Penghilangan liabilitas.

3. Menguji pembayaran berbasis saham dan mempertimbangkan efeknya terhadap liabilitas


dan ekuitas.

Perbedaan Utang Dan Ekuitas

Berdasarkan kriteria definisi dan pengakuan yang dibahas dalam bab ini, kita dapat
menyepakati bahwa saham yang diterbitkan kepada investor merupakan bagian dari ekuitas dan
pinjaman dari kreditor adalah kewajiban. Namun, dari pernyataan tersebut muncul pertanyaan dari
instrument campuran (hybrid) yang memiliki karakteristik keduanya (ekuitas dan liabilitas),
misalnya, saham preferen yang dicatat sebagai modal (menjadi bagian dari owners equity ) namun
juga memiliki karakteristik seperti liabilitas, yaitu:

1. mereka adalah klaim tetap.


2. mereka mungkin tidak berpartisipasi dalam dividen selain pada tingkat yang telah
ditentukan sebelumnya (serupa dengan bunga).

3. mereka memiliki prioritas atas saham biasa dalam pengembalian modal (seperti halnya
kewajiban).

4. mereka umumnya tidak memiliki hak suara.

Meskipun mereka disebut saham, kemungkinan mereka kadang-kadang memenuhi definisi


kewajiban, dan harus digolongkan sebagai kewajiban.

komentar: IAS 32 / AASB 132 ayat 18

Substansi instrumen keuangan, bukan bentuk hukumnya, mengatur klasifikasi ... substansi
dan bentuk hukum biasanya bersifat biasa. tapi tidak selalu. Beberapa instrumen keuangan
mengambil bentuk hukum dari ekuitas tetapi kewajiban secara substansi dan lainnya dapat
menggabungkan fitur yang terkait dengan instrumen ekuitas dan fitur yang terkait dengan
kewajiban keuangan.

Sesuai dengan definisi teoritis dari definisi, IAS 32 / AASB 132 mewajibkan klasifikasi
instrumen keuangan berdasarkan pada substansi ekonomi mereka dari pada bentuk hukumnya.
Akibatnya, saham preferen yang dapat ditukarkan dengan opsi pemegang diklasifikasikan sebagai
liabilitas. Misalnya penerbit convertible notes, yang menyediakan hak bagi pemegangnya untuk
mengkonversi hutang menjadi saham, masing-masing memiliki komponen liabilitas dan ekuitas
di dalamnya. Oleh karena itu, pengembalian kepada pemegangnya diklasifikasikan sebagai bunga
atau dividen dengan basis pro tata tergantung proporsi surat berharga yang didefinisikan sebagai
hutang maupun saham. .

Tujuan membedakan antara pemilik ekuitas dan kewajiban adalah untuk meningkatkan
kegunaan informasi untuk pengambilan keputusan. Pertanyaan menarik muncul tentang
bagaimana investor melihat apa yang disebut sebagai efek hibrida, yang menggabungkan fitur
hutang dan ekuitas seperti catatan konversi, saham preferen yang dapat ditukar dan hutang
subordinasi
Penyelesaian Utang

Hutang dapat diselesaikan dengan cara lain selain dengan pembayaran langsung atau
pemberian uang kepada kreditor. Misalnya, utang mungkin 'dimaafkan' oleh kreditur, sehingga
melepaskan debitur untuk melakukan pengorbanan di masa depan. Kemungkinan debitur untuk
menghapus hutang dari neraca dan melaporkan aset atau kewajiban keuangan bersih hanya jika
entitas memiliki hak legal yang berlaku saat ini untuk menetapkan jumlah yang diakui, dan
bermaksud untuk :

(a) menyelesaikan secara bersih atau

(b) mewujudkan aset dan menyelesaikan liabilitas secara simultan.

Substansi ekonomi dari transaksi yang melibatkan penempatan asset bebas risiko (seperti
sekuritas pemerintah) atau kas pada irrevocable trust (misalnya wali amanat) untuk tujuan
pembayaran utang di kemudian waktu, dapat diseterakan dengan penyelesaian utang. Walau
begitu, perusahaan (debitur) secara hukum masih memliki kewajiban sehingga menghapus
kewajiban dari neraca dengan meng-offset-kan aset atau kas pada irrevocable trust berpotensi
membuat pengguna laporan keuangan mengalami bias.

Sebagai contoh perusahaan memiliki hutang obligasi sebesar $ 10 000 000, yang dijual
awalnya setara dengan tingkat bunga yang disebutkan 8% dan umur 10 tahun yang tersisa. Saat
ini, karena suku bunga lebih tinggi, nilai pasar obligasi lebih rendah dari nilai jatuh tempo.
Perusahaan A akan membeli obligasi pemerintah dengan nilai nominal $ 10 000 000,
menyatakan tingkat bunga 8 persen dan umur 10 tahun tersisa, seharga $ 7 500.000. Ini akan
ditempatkan dalam kepercayaan yang tidak dapat dipulihkan untuk tujuan melunasi hutang
perusahaan. hutang obligasi. entri berikut akan dibuat:

Investasi dlm Obligasi Pemerintah $7.500.000

Kas $7.500.000

Utang Obligasi $10.000.000

Investasi dalam surat utang $7.500.000

Untung Ut. Obligasi $ 2.500.000


Keuntungan perusahaan adalah:

hutang dihapus dan oleh karena itu, rasio hutang terhadap ekuitas meningkat

Keuntungan untuk tahun berjalan meningkat dengan jumlah keuntungan

Untuk tujuan perpajakan, keuntungan tersebut tidak dikenali karena perusahaan


masih diwajibkan membayar obligasi secara hukum

Untuk tujuan pajak, bunga obligasi pemerintah akan diimbangi dengan beban
bunga obligasi perusahaan

penghapusan memungkinkan perusahaan untuk mengelola sisi kewajiban lembaran


berjangka karena akan sekuritasnya dapat dipasarkan di sisi aset

Kekurangan dalam substansi menimbulkan pertanyaan: kapan seharusnya sebuah kewajiban


dihentikan untuk dikenali? Definisi kerangka dari suatu kewajiban menyiratkan bahwa hal itu
diselesaikan ketika aset atau layanan telah dialihkan ke entitas lain. Di sisi lain, meskipun suatu
kewajiban dapat dihapus dari rekening, pertanggungjawaban tersebut mungkin benar-benar
dikembalikan ke debitur. Pertanyaannya tetap mengenai apa yang akan terjadi jika wali amanat
terbukti tidak dapat diandalkan dan asetnya hilang atau disalahgunakan. Dalam kasus seperti itu,
debitur harus mengembalikan tanggung jawabnya. seperti yang jelas dari contoh ini. Terkadang
ada banyak variasi transaksi dan peristiwa yang menantang struktur teoritis standar akuntansi.

Saham Karyawan (pembayaran berbasis saham)

Pembayaran berbasis saham IFRS 2 / AASB 2 membedakan antara pembayaran berbasis


saham yang diselesaikan secara tunai dan ekuitas diselesaikan. Bila barang dan jasa diterima atau
diperoleh dalam transaksi pembayaran berbasis saham, entitas mencatat barang yang tercatat saat
barang atau jasa diterima. Jika barang atau jasa diterima dalam transaksi pembayaran berbasis
saham yang disetor ekuitas, sisi kredit masuk adalah ekuitas pemilik. Sebaliknya, jika barang atau
jasa diterima dalam transaksi yang akan diselesaikan secara tunai (misalnya sejumlah uang sama
dengan nilai saham entitas pada saat pembayaran dilakukan), entri kredit yang sesuai adalah
dengan kewajiban.
Isu untuk auditor

Kelengkapan kewajiban yang diakui di neraca dan catatan pengungkapan tentang


kontinjensi dan kewajiban lainnya merupakan masalah utama auditor. mereka diharuskan
mengumpulkan bukti bahwa hutang dagang, akrual, dan kewajiban lainnya mencakup semua
jumlah yang terpenuhi oleh entitas tersebut kepada pihak lain.

Penyesuaian oleh manajer dari kewajiban entitas, seperti kewajiban kontinjensi, jaminan
pinjaman, atau komitmen berdasarkan berbagai perjanjian kontraktual, mengurangi kewajiban dan
menciptakan kesan solvabilitas yang lebih besar bagi perusahaan

Pengenalan IFRS 2 / AASB 2 Pembayaran berbasis saham telah meningkatkan panduan


otoritatif bagi auditor saat menilai kewajaran nilai wajar yang ditetapkan pada transaksi berbasis
ekuitas. Standar tersebut menyatakan bahwa nilai wajar dapat ditentukan baik oleh nilai saham
atau hak atas saham yang diberikan, atau atas nilai barang atau jasa yang diterima, tergantung pada
jenis pembayarannya. Standar serupa merupakan bagian dari US GAAP.